Rahasia 180 Patung Emas Jilid 02

 
Jilid 02 

Tapi sekarang seorang ketua Hing-ih-bun yang terkenal ternyata bersaudara dengan Thi-kut Ih-Wan-hui yang suka menggunakan jarum berbisa untuk mencelakai orang, pantas juga bilamana membuat Sai- hoa-to tercengang.

Rasa heran Sai-hoa-to itu ternyata tidak membuat Coa-hun-jiu Bun-In-tiok merasa canggung sedikit pun, ia malah memberi salam anggukan kepala kepada Sai-hoa-to dengan tertawa sewajarnya dan menyapa, "Sai-hoa-to, sungguh tidak aku sangka engkau adalah seorang licik dan licin begini."

Dengan cepat Sai-hoa-to pulih kembali ketenangannya, jawabnya dengan tertawa, "Ah, apabila aku kau katakan sebagai orang licik dan licin, maka kau sendiri Bun-ciang-bun-jin terlebih adalah seekor siluman rase."

Coa-hun-jiu Bun-Ia-tiok terbahak-bahak, ia memberi isyarat tangan kepada lelaki penyandang tumbak itu agar duduk, lalu ia sendiri pun duduk di antara Sai-hoa-to dan Ih-Wan-hui, dengan serius ia pun berkata, "Bicara dengan sungguh-sungguh, Sim-hong, bagaimana kalau aku tambah lagi 10 kati emas murni bagimu?"

Sai-hoa-to menggoyang kepala, "Tidak, tanpa diriku, kalian pasti gagal mencapai tempat yang kalian tuju dan takkan mendapatkan barangnya. Maka aku minta seperempat bagian."

Dengan kening berkerenyit Bun-In-tiok berpikir sejenak, lalu berkata dengan suara ikhlas, "Baik, tapi cara bagaimana supaya aku yakin Sim-hong benar-benar mau bersekutu dengan jujur?"

"Untuk ini, terpaksa aku gunakan ucapan saudaramu she Ih ini untuk menjawab Bun-ciang-bun-jin, " sahut Sai-hoa-to. "Yaitu, biarpun aku tidak berani mengaku sebagai lelaki sejati, tapi aku pun bukan manusia yang tidak bisa pegang janji."

"Bagus, cukup dengan ucapanmu ini, sekarang akan aku jelaskan urutannya padamu ... " "Nanti dulu, " mendadak Sai-hoa-to memotong sambil menuding lelaki penyandang tumbak itu, "hendaknya Bun-ciang-bun-jin memperkenalkan dulu saudara ini kepadaku."

"O, dia adalah ji-te (adik ke dua) Pia-mia-han Gu-Thong, " sahut Bun-In-tiok. Sai-hoa-to mengangguk dengan tertawa terhadap Pia-mia-han Gu-Thong alias si lelaki suka adu jiwa, lalu berpaling lagi dan berkata. "Baiklah, sekarang silakan Bun-heng mulai bercerita."

"Ceritanya harus dimulai dari awal, " tutur Bun-In-tiok setelah membersihkan kerongkongan dengan berdehem. "Tentunya Sim-heng tahu siapa Kiam-ho-Lok-Cing-hui, bukan?"

Sai-hoa-to mengangguk, "Kiam-ho-Lok-Cing-hui adalah tokoh nomor dua dunia persilatan jaman ini, siapa yang tidak tahu?"

"Bagus, " tukas Bun-In-tiok. "Meski kung-fu Kiam-ho-Lok-Cing-hui sedikit lebih asor daripada Kiam-ong Ciong-Li-cin, tapi kepribadiannya justru tidak dapat dibandingi oleh Ciong-Li-cin. Kira-kira tiga tahun yang lalu, di suatu tempat Lok-lo-ji (Lok tua) menemukan seorang nona gendeng yang hilang ingatan, timbul pikiran Lok tua untuk memulihkan kesehatan nona itu, maka ia suruh muridnya Gak-Sik-lam ke daerah selatan untuk mencari obat mujarab Jian-lian-hok-leng.

"Akibatnya Gak-Sik-lam tidak cuma menemukan Jian-lian-hok-leng, secara di luar dugaan dia juga menemukan sebuah kota purba di tengah rimba raya pegunungan Mo-pan-san. Konon kota itu berumur ribuan tahun di dalam kota terdapat banyak emas murni dan 180 patung yang terbuat dari emas.

"Setelah menemukan kota emas itu, Gak-Sik-lam lantas membuat sebuah peta bumi letak kota purba itu dan dikirim kembali ke Tiong-goan melalui merpati pos. Sayang merpati pos yang membawa peta pusaka itu tidak tempat pulang ke Ciok-lau-san, tempat kediaman Lok-Cing-hui, tapi ditemukan oleh seorang ... "

"Siapa orang itu?" tanya Sai-hoa-to.

"Entah, apa yang aku ceritakan ini sesungguhnya juga cuma aku dengar dari orang lain dalam perjalanan."

"Jika cuma desas-desus saja, kau percaya begitu saja?"

"Coba dengarkan ceritaku lebih lanjut, " tutur Bun-In-tiok. "Sesudah mendengar berita itu, tidak lama aku dengar pula kabar kepulangan Gak-Sik-lam ke Tiong-goan, tapi entah sebab apa, dia sudah berubah menjadi seorang cacat total, tidak punya kaki dan tangan, ia hanya didampingi seorang istri cantik yang selalu menggendongnya ke mana-mana.

"Kemudian aku dengar pula banyak orang yang sedang mencari orang yang menemukan peta bumi ini juga Gak-Sik-lam sendiri, tujuannya ingin merebut kota emas yang bernilai sukar ditaksir itu. Setelah mencari tahu lagi kian kemari dan terbukti berita itu memang betul, akhirnya aku pun ikut terjun dalam gerakan mencari kota emas.

"Tentang Mo-pan-san, pada waktu muda pernah juga aku pergi ke sana, di pegunungan itu penuh hutan purba dan rawa belaka, lereng pegunungan itu memanjang ratusan li, bahkan banyak binatang liar dan penuh gas racun, pada hakikatnya tempat yang sukar dicapai manusia. Maka kalau ingin masuk ke pegunungan itu untuk mencari kota emas, terkecuali diperlukan peta bumi dan petunjuk Gak-Sik-lam sendiri, masih diperlukan lagi persiapan yang cukup. Yang paling penting adalah cara bagaimana melawan gas racun pembunuh yang tak berwujud itu.

"Karena itulah aku lantas teringat kepada Sai-hoa-to kita, Sim-heng adalah tabib sakti dunia persilatan yang tiada bandingannya, terhadap gas racun juga mempunyai pengetahuan khusus, jika engkau ikut dalam ekspedisi kami ini, tentu segala persoalan dapat diatasi."

"Aku memang menguasai cara-cara melawan berbagai gas racun, tapi seperti apa yang dikatakan Bun- ciang-bun-jin. Lereng gunung Mo-pan-san memanjang beratus li, tanpa peta bumi dan petunjuk Gak-Sik- lam mungkin sangat sulit menemukan kota emas yang dimaksud, " kata Sai-hoa-to.

"Betul juga, namun hal ini sekarang tidak menjadi soal lagi."

"Oa, maksud Bun-ciang-bun-jin, peta bumi itu sudah didapatkan?"

"Betapa bagusnya peta kan tidak lebih bagus daripada orang yang menggambar peta itu, bukan?" "Hah, jadi Bun-ciang-bun-jin sudah menemukan Gak-Sik-lam?"

"Betul, sekarang kira-kira ada lebih ratusan tokoh persilatan sedang mencari Gak-Sik-lam dan orang yang menemukan peta bumi. Rupanya nasibku lagi mujur, pada suatu pertemuan secara kebetulan dapat aku pergoki Gak-Sik-lam."

"Dan sekarang Gak-Sik-lam berada di mana?" "Di suatu tempat yang sangat rahasia."

"Bun-ciang-bun-jin sudah berhasil memaksa dia menceritakan letak kota emas itu?"

"Belum, tapi sekarang setelah Sim-heng mau bekerja sama dapatlah kita mendesak dia mengatakan letak kota emas."

Bicara sampai di sini, serentak Coa-hun-jiu Bun-In-tiok berdiri, katanya dengan tertawa, "Mari berangkat Sim-heng, urusan tidak boleh tertunda lagi."

Sai-hoa-to ikut berdiri, tanyanya, "Apakah berada di sekitar sini?"

"Tidak, " Bun-In-tiok mendahului melangkah keluar kelenteng sambil menjawab, "tapi juga tidak terlalu jauh."

Ke empat orang meninggalkan kelenteng rusak itu. Pia-mia-han Gu-Thong memasukkan jari ke mulut dan bersuit, segera terdengar suara gemertak roda dari sebelah kanan hutan, muncul sebuah kereta kuda.

Karena itu berhenti di depan kelenteng, dengan tertawa Bun-In-tiok berkata kepada Sai-hoa-to, "Menumpang kereta kan tidak mudah diketahui orang. Silakan Sim-heng naik!"

Sai-hoa-to tersenyum dan naik ke dalam kereta disusul oleh Bun-In-tiok bertiga. Kusir kereta segera mengayun cambuknya dan menghalau kereta menerobos hutan sana terus menuju ke selatan dengan cepat.

Pembicaraan mereka di dalam kereta tetap tidak meninggalkan soal kota emas.

Dengan nada kereng Sai-hoa-to berkata, "Ini merupakan suatu pertaruhan besar. Apakah terpikir oleh Bun-ciang-bun, bagaimana akibatnya bilamana diketahui oleh Kiam-ho-Lok-Cing-hui bahwa engkau menculik muridnya?"

Bun-In-tiok tersenyum licik, "Sekarang cuma kita berempat saja yang tahu Gak-Sik-lam berada dalam tawanan kita, asalkan persekutuan kita berlangsung dengan baik, dari mana Kiam-ho-Lok-Cing-hui bisa tahu?"

"Setelah Gak-Sik-lam berhasil didesak melukiskan peta bumi letak kota emas itu, lalu cara bagaimana Bun-ciang-bun hendak membereskan dia?" tanya Sai-hoa-to.

Kembali Bun-In-tiok tersenyum licik, "Menurut pendapat Sim-heng, sebaiknya cara bagaimana membereskan dia?"

"Jika dilepaskan, tentu dia akan jatuh ke tangan kawan bu-lim yang lain dan ini akan merugikan kita ... "

"Tidak cuma begitu saja, bila kita bebaskan dia, tentu Kiam-ho-Lok-Cing-hui juga akan mengetahui kita pernah menculik muridnya, akibatnya kita bisa celaka."

"Betul", kata Sai-hoa-to, "dengan gabungan kepandaian kita berempat jelas bukan tandingan Lok-Cing- hui, melulu muridnya yang kedua, yaitu Su-Kiam-eng saja bukan lawan empuk."

"Makanya kalau menurut pendapat Sim-heng, sebaiknya cara bagaimana kita membereskan Gak-Sik- lam?" tanya Bun-In-tiok.

"Haha, aku kira Bun-ciang-bun tentu sudah mempunyai perhitungan sendiri, kita sudah tahu sama tahu, buat apa kau tanya pula?" ujar Sai-hoa-to dengan tertawa.

Bun-In-tiok tertawa, ia ganti pokok pembicaraan, "Jika segalanya lancar, esok atau lusa kita dapat berangkat, cuma Sim-heng harus menyiapkan dulu obat-obatan yang diperlukan." "Bun-ciang-bun jangan kuatir, " kata Sai-hoa-to. "Setiba di Teng-ciong, tentu akan aku beli obat-obatan selengkapnya menurut keperluan."

"Selain itu, selanjutnya sebaiknya Sim-heng mengubah sedikit wajahmu agar orang lain pangling padamu sebagai Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho, " ujar Bun-In-tiok.

Sai-hoa-to melengak, "Masa perlu begitu?"

"Pada saat ini, orang yang memenuhi syarat untuk mencari kota emas di lereng Mo-pan-san hanya ada dua kelompok saja, " tutur Bun-In-tiok dengan tertawa. "Kelompok pertama adalah rombongan kita.

Yang kedua adalah orang yang menemukan peta bumi itu. Namun orang yang memegang peta itu bila tidak mengadakan persiapan melawan gas racun dengan baik, andaikan dia dapat menemukan kota emas dengan hidup juga sukar untuk pulang lagi dengan hidup. Maka aku pikir, kelompok mereka tentu juga akan teringat kepada Sim-heng, bilamana wajah Sim-heng tidak dirias sedikit, mungkin sebelum terjadi perebutan kota emas akan terjadi dulu perebutan diri Sim-heng."

"Haha, bilamana benar aku menjadi sasaran perebutan antar kalian tentu akan sangat menarik, " seru Sai-hoa-to dengan tergelak.

"Sedikit pun tidak menarik, " jengek Bun-In-tiok. "Kau pikir, Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho hanya ada satu, bila pihak lawan gagal berebut, bukan mustahil mereka akan melakukan tindakan penghancuran total, kalau begitu, rejeki seperempat bagianmu tentu juga akan lenyap."

Sai-hoa-to tidak tertawa lagi, ia manggut-manggut, "Ya, betul juga. Biarlah nanti aku rias mukaku pada saat mau berangkat."

Roda kereta menggelinding dengan cepat, hari mulai gelap, menurut perkiraan sudah habis 30 li meninggalkan Wi-go-san. Mendadak kereta kuda membelok ke sebuah kampung, langsung masuk ke sebuah perbentengan kampung yang luas.

Perbentengan kampung itu seperti dihuni keluarga kaya, kompleks perumahannya lebih dari 50 buah, dikelilingi tembok yang tidak terlalu tinggi, di depan ada sebuah kolam ikan, sekilas pandang tidak terlihat berbau orang persilatan pada penghuni perbentengan ini."

Ketika kereta berhenti di depan perbentengan, seorang lelaki setengah baya berbadan gemuk dan berpakaian perlente dituntun oleh seorang centeng yang membawa sebuah lentera mendekati kereta.

Berturut-turut Bun-In-tiok berempat turun dari kereta, lelaki setengah baya berpakaian mewah itu cepat memberi hormat dan menyapa, "Aku kira Bun-ciang-bun baru akan tiba esok pagi, bila penyambutanku agak terlambat, mohon dimaafkan."

Bun-In-tiok mengangguk dengan tertawa, lalu diperkenalkan kepada Sai-hoa-to, "Sim-heng, inilah Ci- ceng-cu, putranya mengangkat guru padaku, kini belajar dalam perguruan kami."

Kemudian ia pun berkata terhadap Ci-ceng-cu. "Ci-ceng-cu, inilah tabib sakti Sai-hoa-to, tentu nama kebesarannya sudah kau kenal."

"Betul, betul, " seru Ci-ceng-cu sambil memberi hormat. "Nama kebesaran Sim-sian-sing sudah lama aku dengar, sungguh beruntung dapat bertemu."

Sikap Sai-hoa-to memang dingin dan angkuh, terhadap orang awam biasa tidak begitu digubrisnya, maka ia hanya mengangguk sekadarnya terhadap tuan rumah tanpa membalas hormat.

Namun Ci-ceng-cu itu pun tidak memperlihatkan rasa kurang senang, berulang ia memberi hormat lagi kepada mereka berempat dan berkata "Silakan, silakan masuk! Sudah aku siapkan perjamuan, tentunya kalian sudah lapar setelah menempuh perjalanan jauh ... "

"Eh, bagaimana dengan keadaan kedua suami istri itu?" Potong Bu-In-tiok.

"Baik, sangat baik, " jawab Ci-ceng-cu. "Segalanya telah aku kerjakan menurut pesan Bun-ciang-bun, mereka pun tinggal di lorong bawah dengan tenang."

"Bagus, sekarang biarlah kita makan dulu" kata Bun-In-tiok.

Setelah berada di ruang tamu centeng membawa air bersih, ke empat orang lantas cuci muka lalu makan minum mengelilingi meja perjamuan.

Dalam perjamuan, dari percakapan antara Bun-In-tiok dan Ci-ceng-cu dapat diketahui oleh Sai-hoa-to bahwa Ci-ceng-cu memang seorang hartawan, lantaran kekayaannya berlimpah sehingga kuatir akan mendapat incaran orang jahat, maka putranya sengaja dikirim belajar silat pada perguruan Hing-ih-bun. Apakah hasilnya baik atau tidak, yang penting asalkan orang lain tahu anaknya adalah murid Hing-ih-bun dan itu pun sudah cukup.

Agaknya Bun-In-tiok juga tahu tujuan Ci-ceng-cu, maka dia terima pelayanan yang diberikan oleh keluarga Ci tanpa merasa malu.

Habis makan malam, segera Bun-In-tiok membawa Sai-hoa-to ke ruang bawah tanah, yaitu kamar tahanan dengan maksud memaksa Gak-Sik-lam melukis peta letak kota emas.

Ruang bawah tanah itu seluas belasan meter persegi dan terbagi menjadi tiga kamar, dinding terbuat dari bata merah, mestinya digunakan sebagai gudang penyimpanan harta berharga Ci-ceng-cu, tapi sekarang kamar paling depan digunakan sebagai penjara, di situ dikurung seorang lelaki dan seorang perempuan.

Yang lelaki memang benar murid pertama Kiam-ho-Lok-Cing-hui, yaitu Gak-Sik-lam yang cacat. Dan yang perempuan adalah istrinya, Kalana.

Aslinya Gak-Sik-lam adalah seorang pemuda tampan, juga terhitung jago muda terkemuka dunia persilatan. Tapi sekarang pemuda yang rebah di atas dipan bambu itu sama sekali sudah bukan lagi Gak- Sik-lam yang dulu, wajahnya yang cakap itu jelas pernah mengalami luka berat, sekarang berubah menjadi sangat jelek dan membuat orang mengkirik, matanya satu besar satu kecil, bekas luka memenuhi kedua belah pipinya, bibir pun sumbing sehingga kelihatan baris giginya yang putih, sekilas pandang orang akan mengira dia sebagai drakula.

Selain itu, ke dua lengan baju dan lengan celananya kelihatan kosong melompong dan kempis tak berisi sehingga dia lebih mirip sebuah bola manusia.

Kalana, usianya seperti belum melebihi 20, kulit badan putih bersih laksana salju, perawakan ramping indah, rambut panjang mengkilat, mata besar dan alis lentik, mulut kecil mungil, berita yang tersiar memang bukan omong kosong, dia memang benar seorang nona cantik.

Cuma, setiap orang pun dapat mengetahuinya bahwa dia jelas bukan gadis daerah Tiong-goan, bukan bangsa Han.

Ketika Bun-In-tiok berempat menuruni ruang bawah tanah itu, secara naluri ia terus memeluk Gak-sik- lam yang menggeletak di dipan itu, sorot matanya memancarkan rasa takut dan seram.

"Tutup pintunya, " kata Bun-In-tiok kepada Gu-Thong yang masuk paling akhir, lalu langsung mendekati Gak-Sik-lam.

Dengan tenang Sai-hoa-to menyusul ketat di belakang Bun-In-tiok. Ke empat orang berhenti tepat di depan dipan Gak-Sik-lam.

Tubuh Kalana tampak gemetar dan merangkul Gak-Sik-lam seeratnya, seperti rela mengorbankan jiwanya asalkan sang suami dapat dilindunginya.

"Ka ... kalian mau apa?" tanyanya dengan suara gemetar kepada Bun-In-tiok berempat. Bun-In-tiok terkekeh beberapa kali dan tidak segera menjawab.

Sebaliknya Gak-Sik-lam yang mendahului buka suara, seperti tidak ada orang lain, ia kecup pipi Kalana dengan mesra dan menghiburnya dengan suara lembut, "Jangan takut, Kalana. Kan sudah aku katakan, dia ketua Hing-ih-bun, dia takkan mencelakai kita."

"Betul, sahabat Gak, " sambung Bun-In-tiok dengan tertawa, "asalkan kau katakan di mana letak kota emas, tidak nanti aku bikin susah kalian."

Air muka Gak-Sik-lam berubah ucapnya dengan terperanjat, "Oo, jadi sebabnya Bun-ciang-bun-jin menawan kami suami-istri ke sini adalah karena kota emas itu?"

"Betul, sebelum ini tentu tidak pernah terpikir olehmu, bukan?" "Ya, memang tidak pernah terpikir olehku, sebab engkau kan seorang ketua suatu perguruan besar yang terhormat?" jengek Gak-Sik-lam.

Sama sekali Bun-In-tiok tidak kikuk oleh sindiran Gak-Sik-lam, ucapnya dengan tertawa, "Seorang

Ciang-bun-jin juga manusia, asalkan manusia bila mendengar di Mo-pan-san ada sebuah kota emas, aku yakin hati siapa pun akan tergerak."

"Lantaran itu sehingga kulit mukamu pun tidak kau pikirkan lagi, " jengek Gak-Sik-lam dengan menahan gusar.

Bun-In-tiok tampak tersinggung, ucapnya dingin, "Dalam keadaan dan saat begini, hendaknya cara bicaramu perlu pakai aturan sedikit."

Sorot mata Gak-Sik-lam memancarkan cahaya tajam, tanyanya kemudian, "Dari mana kau tahu di lereng Mo-pan-san ada sebuah kota emas?"

"Dari cerita orang, " jawab Bun-In-tiok dengan tersenyum. "Mungkin kau sendiri belum lagi tahu bahwa peta bumi yang kau kirim pulang kepada gurumu itu telah dicegat orang lain di tengah jalan."

Terlintas rasa kaget pada sorot mata Gak-Sik-lam, tanyanya pula, "Siapa yang menemukan merpati pos itu?"

"Entah, " jawab Bun-In-tiok. "Cuma, bisa jadi orang yang menemukan merpati pos itu kurang hati-hati sehingga rahasianya bocor, saat ini ada berbagai orang persilatan sedang sibuk mencari orang yang memegang peta bumi itu dan juga sahabat Gak sendiri. Nasibku terhitung mujur dan berhasil menemukan dirimu lebih dulu."

Kejut dan juga gusar Gak-Sik-lam ia pandang Bun-In-tiok sejenak, mendadak berkata dengan tegas, "Biar aku katakan padamu, Bun-In-tiok, bilamana hendak kau paksa aku menceritakan letak kota emas, itu berarti kamu sedang mimpi!"

"Sebaiknya kau pertimbangkan lagi dengan masak, " kata Bun-In-tiok dengan tersenyum licik. "Kamu kan orang cacat, jika kau mau ceritakan letak kota emas itu, tentu keselamatan kalian suami-istri akan aku lindungi, bahkan aku jamin kehidupan kalian selanjutnya dapat berlangsung dengan menyenangkan."

"Cih, lekas enyah!" semprot Gak-Sik-lam dengan beringas. "Kamu tua bangka! Memangnya kau kira aku Gak-Sik-lam manusia takut mati dan tamak hidup?"

"Mungkin kamu tidak takut mati, tapi apakah tidak kau pikirkan diri istrimu?" tanya Bun-In-tiok sambil menuding Kalana.

"Memangnya apa kehendakmu?" teriak Gak-Sik-lam dengan muka pucat dan menggereget.

"Asalkan kau bilang satu kata tidak, segera kamu akan tahu apa yang terjadi atas istrimu, " ancam Bun- In-tiok.

Gak-Sik-lam hanya mendengus murka dan tidak menanggapi.

Bun-In-tiok tahu titik lemah lawan telah kena dipukulnya, segera ia berkata pula dengan tersenyum licik, "Bagaimana, akan kau katakan atau tidak?"

Kulit muka Gak-Sik-lam tampak berkerut-kerut, seperti ingin menelan lawan bulat-bulat, seperti juga sedang menahan bara murka sekuatnya, tapi akhirnya sukar ditahan, mendadak ia meraung dengan beringas, "Tidak, takkan aku katakan. Coba apa abamu?"

Dengan tenang Bun-In-tiok mengangguk dan menyurut mundur dua tindak serta duduk di kursi, lalu ia mengedipi Pia-mia-han Gu-Thong dan berkata, "Ji-te, bolehlah mulai!"

Gu-Thong mengangguk dan melangkah maju, terjulur telapak tangannya yang berbulu lebat, serupa elang mencengkeram anak ayam saja segera Kalana diangkatnya.

Jelas Kalana seorang nona yang tidak paham ilmu silat, ia meronta dan berteriak sekuatnya, namun betapa dia meronta tetap sukar terlepas dari cengkeraman Gu-Thong. Gak-Sik-lam juga ingin meronta bangun, tapi lantaran tidak punya tangan dan tiada kaki, hendak membalik badan saja sukar, sebab itulah biarpun urat hijau tampak menongol pada dahinya tetap tak berdaya, terpaksa ia hanya dapat meraung murka, "Lepaskan dia! Lepaskan! Kamu jahanam keparat!"

Pia-mia-han Gu-Thong menyeringai, ia malah menutuk pinggang Kalana sehingga tubuh nona itu menjadi kaku dan tidak sanggup berkutik lagi.

Ia taruh Kalana dan mengambil seutas tali, dilemparnya tali melintasi sepotong belandar, kemudian tangan Kalana diikat serta dikereknya ke atas.

Dalam keadaan begitu Bun-In-tiok yang duduk di kursi itu kembali buka suara dengan tertawa, "Nah, sahabat Gak, jika tidak ingin menyaksikan istrimu dihina, hendaknya lekas kau bicara saja."

Biarpun hiat-to kelumpuhan Kalana tertutuk, namun mulut masih dapat bersuara, mendadak ia berteriak, "Tidak, Sik-lam, jangan kau katakan, sekali-kali jangan kau beri tahu. Sekali kau katakan letak kota emas itu, segera pula mereka akan membunuhmu."

Dengan sendirinya Gak-Sik-lam juga tahu bilamana dia memberi tahukan letak kota emas, dirinya dan Kalana pasti sukar lolos dari kematian.

Sebaliknya bila menyuruh dia menyaksikan istri kesayangan dianiaya orang, hal ini pun sukar ditahannya.

Seketika ia menjadi bingung, mata merah membara dan menggertak gigi sekuatnya sehingga mulut pun berdarah.

Melihat Gak-Sik-lam tidak bicara lagi. Bun-In-tiok memberi tanda kepada Gu-Thong, "Baiklah, boleh kau copot bajunya!"

Segera Gu-Thong menanggalkan pakaian Kalana, dengan cepat baju luar Kalana telah ditarik terlepas.

Waktu itu musim panas, baik lelaki maupun perempuan tidak banyak memakai baju rangkap, maka begitu baju luar Kalana ditanggalkan, seketika kelihatan kutangnya, apabila kutang juga dilepaskan ...

Air mata ksatria Gak-Sik-lam menitik, hati terasa hancur lebur, teriaknya murka, "Lepaskan, turunkan dia! Biar aku katakan!"

"Jangan, tidak perlu kau katakan!" yang bicara ini bukan Kalana melainkan Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho.

Tentu saja Gu-Thong dan Ih-Wan-hui yang berdiri di samping sama merasa heran, mereka sama memandang Sai-hoa-to dengan tidak mengerti. Tapi sekali pandang, seketika air muka mereka berubah hebat.

Kiranya sebelah tangan Sai-hoa-to saat itu tampak mencengkeram Pek-hwe-hiat bagian ubun-ubun kepala Bun-In-tiok, sebaliknya wajah Bun-In-tiok kelihatan pucat pasi seperti mayat, rasa kejut dan takut pada wajahnya sukar dilukiskan.

Sambil memaki segera Ih-Wan-hui melolos golok dan bergaya hendak menerjang maju, bentaknya, "Orang she Sim, sesungguhnya apa maksudmu ini?"

"Tenanglah sedikit dan jangan sembarang bergerak, " jengek Sai-hoa-to. "Apakah kalian tidak menghendaki jiwa Ciang-bun-jin sendiri?"

Merasa terdesak, dengan sendirinya Ih-Wan-hui tidak berani sembarang bertindak, ia cuma dapat meraung gusar, "Keparat! Hendaknya kau tahu jika kamu ingin mengangkangi sendiri kota emas itu, betapapun tidak mungkin terjadi!"

Sai-hoa-to tidak menggubrisnya, ia memberi tanda kepada Gu-Thong, katanya, "Menyingkir ke sana, berdiri mepet dinding sana!"

Pia-mia-han Gu-Thong hanya mendelik dan tetap berdiri di tempatnya.

Sai-hoa-to tertawa, katanya kepada Bun-In-tiok, "Bun-ciang-bun, bagaimana jika kau suruh Ji-te dan Sam-te mu berdiri mepet dinding sana."

Coa-hun-jiu Bun-In-tiok merasakan tangan orang yang menahan ubun-ubunnya keras luar biasa sehingga mata pun berkunang-kunang, ia tidak berani membantah, serunya segera, "Lek ... lekas kalian berdiri di pojok sana."

Ih-Wan-hui dan Gu-Thong saling pandang sekejap, mereka tampak ragu, tapi akhirnya terpaksa menurut dan menyingkir ke pojok dinding.

Sai-hoa-to tersenyum, segera ditutuknya hiat-to kelumpuhan Bun-In-tiok, lalu menyeretnya ke depan dipan Gak-Sik-lam dan membiarkannya menggeletak di lantai serta menginjaknya dengan sebelah kaki, kemudian ia buka hiat-to Kalana dan menurunkannya, dengan tenang ia kerjakan semua itu, habis itu barulah ia mengusap muka sendiri, selapis salep perias muka dibersihkannya.

"Hai, adik Kiam-eng?" seru Gak-Sik-lam kejut-kejut girang.

"Hah, bukankah engkau ini ... si pelayan Su-Jit di Bu-lim-teh-co itu?" Ih-Wan-hui juga berteriak kaget. Hanya Gu-Thong saja yang kelihatan bingung.

Su-Kiam-eng tertawa terhadap sang su-heng, lalu berkata kepada Ih-Wan-hui, "Betul, aku memang si pelayan Su Jit, sangat diluar dugaan bukan?"

Bukan cuma di luar dugaan saja, bahkan Ih-Wan-hui terheran-heran, ia pandang Su-Kiam-eng sekian lamanya dengan melongo, akhirnya berteriak pula. "Ti ... tidak, kamu bukan Su Jit!"

Su-Kiam-eng tertawa, "Aku bekerja sebagai pelayan selama tiga bulan, masa kamu sudah pangling?"

"Engkau menyaru sebagai pelayan, tujuanmu memang menunggu aku di sana?" tanya Ih-Wan-hui dengan terkesiap.

"Betul, " jawab Kiam-eng dengan tertawa. "Beberapa bulan yang lalu aku dengar cerita orang persilatan bahwa bila ada orang bicara mengenai sepasang suami-istri aneh, seketika orang itu terbinasa oleh jarum berbisa. Aku yakin ke dua suami-istri itu pasti su-heng dan su-so (kakak ipar seperguruan), aku tahu juga mereka pasti berada dalam cengkeraman kalian. Agar rahasia kota emas itu tidak diketahui orang lebih banyak, selalu kau bunuh orang yang banyak omong itu dengan jarum berbisa. Tapi waktu itu aku tidak tahu siapa dirimu, maka aku putuskan menanti kemunculanmu di Bu-lim-teh-co, setiap kali bila ada tamu yang mencurigakan segera Wi-ho-Lo-jin pura-pura mengobrol dengan beberapa kawan mengenai 'pasangan suami-istri yang misterius' itu. Haha, coba katakan, bagus tidak perangkap yang aku atur ini?"

"Ya, memang sangat pandai, " jengek Ih-Wan-hui, ketenangannya sudah mulai pulih. "Sesungguhnya apa yang kau pakai pada tubuhmu?"

"Dari cerita orang aku tahu orang yang kau bunuh itu semuanya terkena jarum berbisa pada Leng-tai- hiat bagian punggung, sebab itulah sengaja aku pasang sepotong besi tipis di punggungku."

"Hm, dasar kamu memang bocah licin, " jengek pula Ih-Wan hui. "Dan sekarang apa kehendakmu?"

Su-Kiam-eng melolos pedang yang selalu dibawa Coa-hun-jiu Bun-In-tiok dan melangkah maju, ucapnya dengan tersenyum, "Akan aku beri kesempatan kepada kalian, apabila kalian berdua mampu membunuh aku, kalian tetap ada harapan untuk mendapatkan kota emas itu."

Terlintas rasa girang pada wajah Ih-Wan-hui, ia tanya, "Kau ingin menghadapi serangan kami berdua?"

Su-Kiam-eng menimbang-nimbang pedang yang dipegangnya, jawabnya dengan tertawa, "Betul, kalau tidak pakai cara ini, kan kurang adil bagi kalian."

Segera Ih-Wan-hui mengedipi Gu-Thong, katanya, "Ji-ko, kurang hormat rasanya kalau kita menolak kehendak Su-siau-hiap, biarlah kita belajar kenal ilmu pedang ajaran Kiam-ho yang termashur!"

Gu-Thong mengangguk, dilolosnya kedua tumbak pendek dari punggungnya, bernama Ih-Wan-hui segera mereka hendak mengerubut Su-Kiam-eng.

Su-Kiam-eng berdiri tenang dengan tersenyum, ujung pedang menjulai ke bawah, dengan mantap. Ia tunggu gerak serangan musuh.

Kiam-ho-Lok-Cing-hui disegani orang persilatan karena Ping-lui-kiam-hoat atau ilmu pedang geledek menyambar, belasan tahun yang lalu, dalam suatu pertemuan para jagoan, dengan mudah ia mengalahkan jago pedang dari berbagai aliran dan golongan, akhirnya ia bertanding sehari semalam dengan Kiam-ong atau raja pedang Ciong-Li-cin dan kalah satu jurus sehingga ke luar sebagai juara ke dua.

Walaupun begitu, dalam pandangan orang persilatan tidak ada yang menganggap dia lebih rendah daripada Ciong-Li-cin, baik Kiam-ong maupun Kiam-ho sama-sama merupakan tokoh sakti bagi orang persilatan, anak murid ke dua tokoh besar itu juga tokoh pujaan orang persilatan. Sebab itulah dua tokoh Hing-ih-bun seperti Ih-Wan-hui dan Gu-Thong harus menghadapi murid ke dua Kiam-ho yang masih muda belia itu sama sekali tidak berani meremehkan lawan."

Begitulah kedua pihak sama siap tempur, setelah saling melotot sekian lama, mendadak Gu-thong mendahului menerjang maju, ia membentak, ke dua tumbak bergerak, sekaligus ia tusuk leher dan hulu hati Su-Kiam-eng. Serangan keras dan ganas tanpa kenal ampun.

Akan tetapi sebelum kedua tumbak musuh mendekat, serentak pedang Su-Kiam-eng pun bergerak, di tengah berkelebatnya sinar pedang terdengarlah suara "trang-tring" dua kali, kedua tombak Gu-thong yang menusuk ke depan sama terguncang ke samping.

Menyusul sinar pedang masih terus menyambar ke depan, secepat kilat muka Gu-Thong terancam. Jadi Su-Kiam-eng telah menangkis serangan lawan dan sekaligus balas menyerang, hanya satu jurus saja ia sudah di atas angin.

Kung-fu Pia-mia-han Gu-Thong terhitung keras dan lihai juga, tapi begitu tombak terguncang ke samping, kedua lengan pun tergetar sakit, hal ini baru terjadi pertama kali sejak ia berkecimpung di dunia kang-ouw, keruan ia terkejut, seketika ia lupa pada julukan sendiri sebagai Pia-mia-han alias lelaki nekat. Cepat ia melompat mundur.

Untung Ih-Wan-hui keburu melancarkan sabetan goloknya ke pinggang Su-Kiam-eng dan memaksa lawan muda itu harus menjaga diri, kalau tidak, betapapun Pia-mia-han tetap sukar terhindar dari sambaran pedang Su-Kiam-eng.

Dalam pada itu, ketika pedang Su-Kiam-eng beradu dengan golok Ih-Wan-hui, sekalian ia tahan pedang ke bawah terus berputar dan menebas pinggang lawan. Jurus ini pun sangat sederhana kabagusannya terletak pada sedikit putar pedang, dan segera membuat Ih-Wan-hui menghadapi jalan buntu.

Untung juga waktu itu Gu-Thong masih berdiri di situ, melihat Ih-Wan-hui terancam bahaya, cepat ia sambitkan sebelah tombaknya dan dapat menahan sambaran pedang Su-Kiam-eng tepat pada waktunya.

"Trang", pedang menyampuk tombak dan tombak menerjang Ih-Wan-hui dan memaksanya melompat ke samping.

Setelah menimpukkan sebuah tombaknya, tombak Pia-mia-han yang lain menyusul lantas tertusuk dada Su-Kiam-eng. Sebaliknya setelah melompat mundur segera pula Ih-Wan-hui menubruk ke arah Gak-Sik- lam yang rebah di dipan.

Tujuan Ih-Wan-hui cukup jelas, dia ingin membekuk Gak-Sik-lam sebagai sandera untuk memojokkan Su-Kiam-eng supaya menyerah.

Namun Su-Kiam-eng tidak gelisah, juga tidak marah, di tengah suara tertawanya ia hindarkan tombak Pia-mia-han Gu-Thong, berbareng ia berputar dan pedang menyabat ke arah Ih-Wan-hui yang sedang menerjang ke arah Gak-Sik-lam.

Terdengar suara jeritan ngeri "ahhh", Ih-Wan-hui jatuh terjungkal dari udara, begitu menyentuh lantai, sebagian tubuhnya terpental ke kiri dan sebagian lagi tersungkur ke kanan, yang tertinggal di tengah adalah isi perut dan darah.

Pia-mia-Han Gu-Thong dan Kalana yang mendekap ketakutan di samping Gak-Sik-lam sama mengeluarkan jeritan kaget.

perlahan Su-Kiam-eng menarik kembali pedangnya dan berputar menghadapi Gu-Thong, jengeknya, "Gu-Thong, kabarnya kamu seorang lelaki keras, maka bila kau mau membawa pergi Bun-ciang-bun ... "

Mendadak teriakan orang kalap memotong ucapannya, dengan nekat Gu-thong menerjang maju dengan tombaknya.

Su-Kiam-eng menjengek sekali dan menggeser ke samping, pedang berputar dengan cepat dan sinar perak berkelebat, kembali terdengar jeritan "ahhh" yang ngeri, tubuh Gu-Thong yang kekar itu terjengkang, tombak pendek jatuh lebih dulu ke lantai, habis itu baru tubuhnya roboh dan menerbitkan suara keras.

Ternyata pada perutnya terbuka sebuah lubang dengan darah segar merembes keluar bagai air mancur.

Dengan sikap kereng Su-Kiam-eng menghela napas, lalu ia berpaling dan berseru pedih terhadap Gak- Sik-lam, "Su-heng, engkau..."

Ia tidak sanggup meneruskan ucapannya, kerongkongan serasa tersumbat.

Sungguh peristiwa yang teramat memilukan, seorang pemuda yang semula segar-bugar, gagah tangkas, setelah pergi ke daerah selatan yang masih liar itu, pulangnya sekarang sudah berubah menjadi orang cacat total, buntung kaki dan tangan, sungguh kejadian yang tragis, kejadian yang kejam.

Mengapa sang su-heng bisa cacat seperti itu? Mengapa dia tidak memberi tahukan sebab musabab kecacatannya itu? Benarkah dia menemukan sebuah kota emas purba di tengah rimba di pegunungan Mo-pan-san?

Jika benar dia sudah menemukan Jian-lian-hok-leng, mengapa obat mujarab itu tidak dibawanya pulang? Semua tanda tanya itu akhirnya akan mendapatkan jawabannya sekarang!

Sebab itulah perasaan Su-Kiam-eng sekarang di samping pedih juga ada rasa gembira. Akan tetapi pada saat dia baru menyebut "su-heng" tadi, selagi perasaannya masih belum tenang, mendadak "blang" sekali, suara daun pintu didobrak timbul di belakangnya.

Tergetar tubuh Su-Kiam-eng, secara naluri ia berjongkok dan cepat meraih kembali pedang yang dibuangnya ke lantai tadi. Sekilas pandang terlihat pintu kamar tahanan yang dijebol itu sedang terpental ke dalam, seorang berkedok dan berbaju hitam dengan perawakan tinggi kurus menyelinap masuk dengan pedang terhunus. Malahan di belakang orang ini terdapat pula dua orang berkedok dan juga berbaju hitam.

Akan tetapi hanya sekian saja yang dapat dilihat Su-Kiam-eng, apa yang terjadi selanjutnya sama sekali tidak dilihatnya lagi. Sebab begitu orang berkedok yang tinggi kurus menyelinap masuk kamar tahanan, serentak ia melemparkan sesuatu dan "blang", terdengar suara letusan dan seluruh kamar lantas penuh diliputi asap kuning. Malahan setelah mencium asap yang aneh itu, segera kepala Su-Kiam-eng terasa pusing, dunia seperti berputar dan bumi terbalik, dengan cepat ia kehilangan kesadaran ...

Entah berselang berapa lama, perlahan pikiran sehatnya mulai pulih, ketika ia membuka mata, pemandangan di depan masih samar-samar dan bergoyang-goyang, kepala terasa sakit seperti mau pecah, maka kembali ia memejamkan mata.

Tidak lama, waktu ia buka mata pula, kini semua dapat dilihatnya dengan jelas. Ia merasa dirinya masih berada di tempat semula, asap kuning tadi sudah lenyap. Baru sekarang ia teringat kepada apa yang terjadi tadi, terkesiap hatinya. Cepat ia merangkak bangun.

Waktu ia memandang sekitarnya, ternyata su-heng nya dan Kalana sudah hilang, dengan sendirinya ke tiga orang berkedok pun sudah lenyap, mayat Ih-Wan-hui, Gu-Thong dan Bun-In-tiok masih menggeletak di situ, tapi ketika pandangannya hinggap pada tubuh Bun-In-tiok, ia jadi terkejut, sebab diketahuinya pada hulu hati Coa-hun-jiu Bun-In-tiok tertancap sebilah belati.

Siapakah yang membunuh Bun-In-tiok? Ya, pasti ke tiga orang berkedok tadi.

Jelas ke tiga orang berkedok itu tentu juga lagi mengincar kota emas yang terletak di Mo-pan-san itu. Mungkin mereka mendapat kabar Coa-hun-jiu telah berhasil menawan su-heng, maka diam-diam mereka menguntit begitu melihat Ih-Wan-hui dan Gu-Thong sudah dibunuhnya, segera mereka menerjang masuk dan meledakkan granat berasap yang dapat membuat orang jatuh pingsan, habis itu lantas menculik su-heng dan su-so.

Terpikir sampai di sini, tanpa terasa Su-Kiam-eng menghela napas panjang, bukan menyesali kematian Bun-In-tiok yang merupakan seorang ketua suatu perguruan besar melainkan berduka atas nasib jelek sang su-heng dan usaha diri sendiri yang sia-sia. Selain itu juga menyesali angkara murka manusia ternyata sedemikian menakutkan sehingga bila perlu tindakan apa pun dapat dilakukannya. Teringat olehnya waktu dirinya untuk pertama kali melihat nama "kota emas" yang tertulis di surat sang su-heng itu, tatkala itu tidak timbul setitik pun hasrat ingin menguasai atau memilikinya, yang dipikir hanya ingin mengambil Jian-lian-hok-leng yang disembunyikan sang su-heng di kota emas itu agar daya ingatan In-Ang-bi dapat dipulihkan. Tapi sekarang justru ada orang sebanyak ini rela mengorbankan jiwa raga untuk berusaha mengangkangi kota emas itu ...

Ia coba mencabut belati yang menancap ulu hati Bun-In-tiok itu, setelah diperiksa dengan teliti, ternyata tidak menemukan sesuatu kode apa pun. Ia buang belati itu dan meninggalkan kamar tahanan di bawah tanah itu.

Di luar, terlihat Ci-ceng-cu juga menggeletak kaku di tengah genangan darah, dari baju yang dikenakan tuan rumah itu, jelas waktu berada dalam kamar dia mendengar pintu diketuk, begitu dia membuka pintu untuk menerima tamu, pada saat itulah dia terbunuh.

Kiam-eng coba melongok keluar halaman, suasana gelap dan sunyi, tampaknya baru lewat tengah malam, mungkin belum ada orang yang tahu sang ceng-cu terbunuh, semuanya lagi tenggelam di alam mimpi.

Kiam-eng tidak heran oleh keadaan perkampungan ini, sebab keluarga Ci-ceng-cu ini bukan orang persilatan, bilamana perkampungan mereka dimasuki orang persilatan jelas mereka takkan tahu.

Cara bekerja ke tiga orang berkedok dan berbaju hitam itu sungguh cukup bersih, sedikit pun tidak meninggalkan jejak yang dapat digunakan pengusutan. Su-Kiam-eng ragu apa yang harus dikerjakannya? Setelah berpikir sejenak, ia menyelinap keluar dan melompat ke atas rumah, secepat terbang ia lari ke luar perkampungan itu.

Setiba di depan perkampungan, segera ia bersuit. Hal ini baru saja timbul dalam benaknya, itu sesudah dia memutuskan menyaru sebagai Sai-hoa-to, lalu Wi-ho-Lo-jin mengatur lagi suatu langkah berikutnya dengan mengirim seorang membuntuti jejaknya untuk berjaga-jaga bilamana terjadi sesuatu dapat memberi bantuan seperlunya.

Orang yang disuruh membuntuti Kiam-eng itu juga langganan tetap Bu-lim-teh-co, ialah si kakek she Sin, nama lengkapnya Sin-Giok-ki, berjuluk Thi-ih-peng, si rajawali sayap besi.

Kung-fu kakek Sin itu tidak terlalu menonjol, tapi gin-kang nya sangat tinggi. Su-Kiam-eng merasa kakek Sin sangat cocok untuk membuntuti dia. Kemarin setiba di sini Bun-In-tiok tidak menemukan orang lain yang dicurigai, dapat dipercaya kakek Sin pasti sudah menguntit tiba juga dan pasti juga menyaksikan masuk-keluar nya ke tiga orang berkedok.

Sebelumnya Kiam-eng sudah berjanji dengan kakek itu untuk berhubungan dengan suara suitan, maka sekarang ia bersuit sekali.

Namun meski sudah ditunggu sekian lama, ternyata Sin-Giok-ki tidak muncul juga kendati ia bersuit lagi sekali.

Tentu saja Kiam-eng heran, pikirnya, "Malam sunyi begini, jika Thi-Ih-peng berada di sini tentu dia dengar suara suitanku. Jangan-jangan kemarin dia tidak menyusul kemari? Namun laju keretaku kemarin tidak terlalu cepat dengan gin-kang nya yang terkenal mustahil dia tertinggal? Mungkin lantaran dia melihat Gak-su-heng dibawa lari oleh ke tiga orang berkedok dan tidak terlihat aku mengejar ke luar, maka diam-diam ia membuntuti musuh?"

Berpikir demikian ia menjadi girang, sebab kalau tidak salah terka, bilamana sekarang ia pulang ke Bu- lim-teh-co untuk menunggu pulangnya Thi-ih-peng, maka ke mana diculiknya sang su-heng tentu pula akan diketahui.

Segera ia berlari pula menuju ke Wi-go-san. Akan tetapi baru saja bergerak, pada waktu lewat di bawah pohon siong yang tinggi, sekonyong-konyong terasa pundaknya tertetes oleh setitik air embun yang dingin.

Apabila benar air embun tentu takkan diperhatikan oleh Su-Kiam-eng, soalnya segera diketahuinya bahwa titik air itu bukan air embun melainkan setitik darah segar.

Terkesiap hati Kiam-eng begitu mengetahui darah, cepat ia menahan gerak lompatnya ke depan dan putar balik ke bawah pohon. Nyata di bawah pohon ada genangan darah, bahkan darah segar masih terus menetes dari atas pohon setitik ... dua titik dan terus menitik ... Begitu lihat segera Kiam-eng tahu di atas pohon ada orang mati, waktu ia mendongak, benar juga ada seorang terbaring di cabang dahan pohon dengan kaki dan tangan terjulur. Segera ia melompat ke atas pohon.

Dalam sekejap itu secara naluri sudah dapat diterkanya orang mati yang terbaring di dahan pohon itu mungkin adalah Thi-Ih-peng Sin-Ciok-ki.

Ternyata benar, begitu di atas pohon segera dapat dikenali yang mati itu memang si kakek Sin, pada punggungnya menancap sebilah belati, cuma ketika jari Kiam-eng menyentuh tubuhnya dirasakan masih ada sedikit rasa hangat, jelas napas kakek itu belum putus. Cepat ia angkat Sin-Ciok-ki dengan hati-hati, dengan ringan ia lompat turun.

Wajah si kakek Sin pucat pasi dan kehilangan kesadaran, meski tampaknya belum putus napas, namun sudah tidak jauh lagi dari kematian.

Kiam-eng tidak berani mencabut belati yang menancap di punggung si kakek, ia hanya memanggil perlahan "Sin-lo-cian-pwe", karena tidak mendapat jawaban, ia tidak berani ayal, segera ia pondong kakek Sin dan dibawa lari cepat ke Wi-gok-san.

Ia teringat pada Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho, meski diketahuinya luka Sin-Ciok-ki sangat parah dan belum tentu Sai-hoa-to sanggup menyelamatkannya, tapi kalau dapat membuatnya sadar sejenak, bisa jadi kakek Sin dapat memberi tahukan siapa ke tiga orang berkedok berbaju hitam itu.

Dari perkampungan Ci-ceng-cu sampai Wi-ho-lau di Wi-gok-san jauhnya kira-kira 40 li, naik kereta kuda saja diperlukan satu jam lebih, tapi dalam waktu setengah jam saja Su-Kiam-eng dapat mencapai Wi-ho- lau.

Waktu itu fajar belum lagi tiba, pintu Bu-lim-teh-co dan warung minum lain sama tutup rapat, Kiam-eng membawa Sin-Ciok-ki masuk melalui pintu belakang Bu-lim-teh-co dan langsung menuju kamar Wi-ho- Lo-jin.

Di luar dugaan, kamar tidur Wi-ho-Lo-jin ternyata masih ada cahaya lampu, malahan ada suara orang sedang bicara.

Baru saja Kiam-eng sampai di luar kamar, segera terdengar Wi-ho-Lo-jin menegur di dalam, "Siapa itu kawan yang datang?"

"Aku, paman Wi, " jawab Kiam-eng.

Terdengar Wi-ho-Lo-jin bersuara kaget dan cepat membuka pintu sambil berseru, "Lekas masuk, gurumu dan nona In ... Hei, siapa itu yang kau pondong?"

Seketika lenyap senyum Wi-ho-Lo-jin dan berubah heran dan terkejut.

Kiam-eng menyelinap masuk ke kamar sembari menjawab, "Dia Sin-lo-cian-pwe ... Ah, mengapa Su-hu berada di sini?"

Kiranya pada saat itu dalam kamar Wi-ho-Lo-jin ada tiga orang, yang seorang adalah Sai-hoa-to Sim- Tiong-ho, seorang lagi berusia 60-an, berwajah kereng dan berbaju biru, orang ke tiga adalah gadis berbaju putih dengan wajah cantik namun sikapnya seperti orang linglung.

Kakek berbaju biru itu memang betul Kiam-ho-Lok-Cing-hui, guru Su-Kiam-eng. Dia berperawakan tinggi kekar, wajahnya mirip Kwan-Kong di jaman Sam-kok, matanya besar dan bersinar tajam, jenggotnya panjang dan hitam gelap gagah dan berwibawa.

Jago pedang yang termashur itu tidak sempat menjawab pertanyaan Kiam-eng ketika dilihatnya yang dibawa sang murid itu adalah Sin-Ciok-ki serentak ia berdiri dan bertanya, "Bagaimana keadaannya, Kiam-eng?"

Su-Kiam-eng tidak menjawab, lebih dulu ia taruh kakek Sin di tempat tidur Wi-ho-Lo-jin, lalu berkata kepada Sai-hoa-to, "Sim-lo-cian-pwe, mohon periksa dulu keadaan Sin-lo-cian-pwe, dia belum lagi putus napas!"

Melihat belati yang menancap di punggung Sin-Ciok-ki, kening Sai-hoa-to berkerenyit rapat, ia coba mendekat dan membuka kelopak mata kakek Sin, setelah dipandang beberapa kejap, akhirnya ia menggeleng kepala dan berucap, "Percuma, sukar diselamatkan lagi!" "Jika begitu, dapatkah membuatnya sadar sebentar?" tanya Kiam-eng dengan cemas.

"Bisa, " Sai-hoa-to mengangguk, "Tapi setelah sadar segera ia akan putus napas. Adakah yang hendak kau tanya dia?"

"Ya, " jawab Kiam-eng. "Yang membunuh dia adalah tiga orang berkedok dan berbaju hitam, mungkin dia tahu asal-usul ke tiga orang berkedok itu."

Sai-hoa-to mengangguk, lalu berpaling dan tanya Wi-ho-Lo-jin, "Wi-lo-ji, sahabat Sin ini adalah kawanmu, bagaimana baiknya menurut pendapatmu?"

Wi-ho-Lo-jin juga sudah tahu luka Sin-Ciok-ki terlampau parah dan sukar dihidupkan kembali, terpaksa ia mengangguk dan berkata, "Baiklah, jika memang tak tertolong lagi, membuatnya sadar sejenak juga boleh."

Sai-hoa-to lantas memegang gagang belati yang menancap di punggung kakek Sin dan mendadak dicabutnya.

Sin-Ciok-ki yang tiarap di tempat tidur itu menjerit serupa mendadak ditikam orang, ia menoleh dengan mata mendelik, muka pun mengejang dengan hebat.

Ia tidak bicara melainkan cuma memandang Kiam-ho-Lok-Cing-hui, Wi-ho-Lo-jin, Sai-hoa-to dan Su- Kiam-eng berempat dengan air muka menderita dan merasa seram, habis itu mendadak kepala terkulai dan putus napas.

Cukup lama ke empat orang berdiri terdiam, akhirnya Kiam-eng berucap dengan kecewa, "Ai, mengapa satu patah pun tidak dia katakan?"

"Waktu dia tertikam, apakah kau hadir di tempat?" tanya Lok-Cing-hui dengan kereng. "Tidak ..." Kiam- eng menggeleng. "Jika begitu, jelas dia tertikam mendadak tanpa mengetahui apa pun, memangnya kau suruh dia bicara apa?" ujar Lok-Cing-hui.

Tanpa bersuara Wi-ho-Lo-jin membalik tubuh Sin-Ciok-ki, perlahan ia pejamkan mata kawannya yang mendelik itu dan ditutup dengan selimut, lalu tanya Su-Kiam-eng, "Nah, sesungguhnya apa yang terjadi?"

Dengan sedih dan lemas Kiam-eng menjatuhkan diri di kursi, lalu bertutur dengan menghela napas, "Begini peristiwanya. Semalam wan-pwe menyamar sebagai Sim-lo-cian-pwe dan menguntit Ih-Wan-hui meninggalkan tempat ini ..."

Begitulah ia ceritakan pengalamannya kemarin setelah meninggalkan Bu-lim-teh-co sehingga menemukan Sin-Ciok-ki terluka parah di atas pohon.

Kiam-ho-Lok-cing-hui tampak termenung, katanya kemudian, "Jika begitu, jadi meski sempat kamu berjumpa dengan su-heng mu, namun belum sempat bicara dengan dia?"

"Betul, agaknya ke tiga orang berkedok itu sebelumnya sudah menanti di luar kamar tahanan begitu mengetahui te-cu berhasil membunuh Pia-mia-han segera mereka menerjang masuk dan meletuskan granat asap yang dapat membuat pingsan itu ... "

"Kalana itu gadis macam apa?" tanya Lok-Cing-hui.

"Gadis suku asing, usianya sebaya dengan nona In, sangat cantik, " tutur Kiam-eng. "Kau lihat apakah dia sangat menyukai su-heng mu?" tanya Lok-Cing-hui pula.

"Ya, jelas dia sangat mencintai su-heng, " jawab Kiam-eng pasti.

"Kabarnya gadis suku asing di selatan sana memang berbudi, cuma su-heng mu kan sudah cacat namun dia tetap mencintainya dan mau melayaninya tanpa kenal lelah, gadis sebaik ini sungguh sukar dicari.

Aku kira ... mungkin cacat badan su-heng mu ada sangkut-pautnya dengan dia ... " Kiam-eng mengangguk sependapat dan tidak bersuara.

Lok-Cing-hui berpaling dan tanya Wi-ho-Lo-jin, "Pengalaman dan pengetahuan Wi-heng sangat luas, mungkin kau tahu siapa-siapa yang pernah menggunakan granat asap pada masa lampau?"

"Setahuku di dunia persilatan ada seorang Sam-bi-sin-ong (si kakek sakti tiga rasa) yang mahir membuat tiga macam granat tabir asap berbau harum, busuk dan pedas, " tutur Wi-ho-Lo-jin. "Tapi ke tiga macam granat tabir asap buatannya itu tidak dapat membuat pingsan orang, sedangkan senjata Sam-bi-sin-ong sendiri adalah tongkat bertangkai kepala ular dan bukan pedang, padahal selama ini tidak pernah aku dengar granat tabir asap sebagaimana dialami Kiam-eng itu ..."

"Di dunia persilatan masih ada seorang yang gemar menggunakan granat tabir asap, masa Wi-heng lupa?" tukas Sai-hoa-to.

"Yang dimaksudkan Sun-heng apakah Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing?" tanya Wi-ho.

"Betul, " Sai-hoa-to mengangguk. "Karena ke dua mata Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing buta, maka setiap kali bertempur dengan orang selalu dia pasang tabir asap dalam ruang lingkup seluas satu li agar pihak lawan terpaksa harus main raba dalam kegelapan serupa dia."

"Tapi anak buah Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing seluruhnya orang perempuan, sedang ke tiga orang berkedok yang dilihat Kiam-eng itu ... " sampai di sini Wi-ho-Lo-jin mendadak berpaling dan tanya Kiam- eng, "Nah, ke tiga orang berkedok itu lelaki atau perempuan?"

"Seperti lelaki, " jawab Kiam-eng, "Cuma wan-pwe juga tidak berani memastikan, sebab wan-pwe cuma sempat memandang sekejap lantas pingsan oleh tabir asap."

"Bagaimana perawakan mereka?" tanya Lok-Cing-hui.

"Yang seorang bertubuh tinggi kurus, dua lainnya bertubuh sedang, bisa jadi lelaki, tapi juga bukan mustahil orang perempuan ..."

Cing-hui menghela napas, kembali ia tanya Wi-ho-Lo-jin, "Apakah Wi-heng tahu di mana tempat tinggal Sam-bi-sin-ong?"

Wi-ho-Lo-jin menggeleng kepala, "Dia seorang aneh, pergi datang tidak menentu, jika ingin mencarinya mungkin sangat sulit."

"Bagaimana dengan Li-hun-nio-nio?"

"Dia tinggal di suatu pulau kecil di tengah danau Tong-ting, pulau itu diberinya nama Li-hun-to (pulau tanpa arwah), penghuni pulau tiada seorang pun lelaki, dan setiap orang perempuan yang tinggal di situ sama cacat badan."

"Cacat badan seluruhnya?" Lok-Cing-hui menegas dengan heran.

"Ya, " tutur Wi-ho-Lo-jin. "Sejak kecil Leng-Jing-jing sudah buta dan dibuang ayah-bundanya, dia sudah kenyang menderita di kang-ouw, kemudian mendapatkan ajaran kung-fu dari seorang kosen, maka dia bercita-cita hendak menolong setiap orang perempuan cacat di dunia ini, ia membawa mereka untuk tinggal di Li-hun-to agar mereka tidak lagi menderita dianiaya dan sukar mencari nafkah."

"Jika begitu, Leng-jing-jing kan seorang perempuan yang harus dihormat dan dikagumi, tidak pantas kita mencurigai dia, " ujar Lok-Cing-hui.

"Apa yang dilakukan Leng-Jing-jing itu memang harus dipuji, tapi demi untuk menghidupi ribuan orang perempuan cacat, dia tidak segan merampok harta benda. Demi merampok harta benda, akhirnya dia berubah menjadi seorang iblis perempuan yang banyak membunuh orang."

"Hal ini tidak dapat menyalahkan dia, " ujar Lok-Cing-hui. "Mereka kan orang perempuan cacat, dalam keadaan kepepet karena tidak ada bantuan, terpaksa mereka merampok untuk menyambung hidup."

Setelah berhenti sejenak, lalu ia pandang Kiam-eng dan berkata, "Anak Eng, apa bila pada suatu hari kau temukan kota emas itu, hendaknya dapat kau gunakan emas sebanyak itu untuk kesejahteraan sesamanya."

Kiam-eng mengiakan, perlahan pandangannya beralih ke wajah In-Ang-bi yang duduk linglung di samping sana, pikirnya, "Ya, termasuk nona In ini, harus aku dapatkan Jian-lian-hok-leng untuk memulihkan daya ingat nona yang harus dikasihani ini." Tiba-tiba Wi-ho-Lo-jin berdiri, katanya, "Silakan kalian bicara lagi, mumpung fajar belum tiba, biar aku kubur dulu jenazah Sin-heng ... "

Sembari bicara ia terus mengangkat mayat Sin-Ciok-ki.

"Paman Wi, biarkan wan-pwe saja yang mengerjakannya, " seru Kiam-eng.

"Tidak, kami adalah sahabat karib selama berpuluh tahun, biarlah aku saja memenuhi sekadar kewajibanku sebagai sahabat lama, " habis berkata Wi-ho-Lo-jin lantas membawa keluar jenazah si kakek Sin.

Terpaksa Kiam-eng duduk kembali, katanya kepada Sai-hoa-to, "Selanjutnya harap Sim-lo-cian-pwe waspada sedikit, bilamana tidak salah dugaanku, mungkin masih ada orang yang akan mencari setori terhadap Lo-cian-pwe"

"Memangnya ke tiga orang berkedok juga berani mencari diriku?" ujar Sai-hoa-to.

"Umpama mereka tidak berani, kan masih ada orang yang menemukan peta pusaka itu, dia tentu akan datang. Dunia persilatan jaman ini hanya Sim-lo-cian-pwe saja yang mahir mengobati gas racun, jika mereka ingin menemukan kota emas purba, mereka pasti juga akan berpikir memperalat Sim-lo-cian- pwe.

"Kalau benar begitu, kan dapat kau palsukan diriku juga, boleh kau tinggal digubukku itu untuk menantikan datangnya sasaran." ujar Sai-hoa-to dengan tertawa.

"Walaupun boleh juga, tapi orang yang dapat aku tunggu mungkin orang yang menemukan peta itu, padahal aku rasakan tugas yang paling utama sekarang harus aku selamatkan dulu su-heng ku, " kata Kiam-eng.

"Tidak, tugasmu yang utama tetap mencari kota emas purba itu dan mengambil Jian-lian-hok-leng, " tukas Kiam-ho-Lok-Cing-hui.

"Tapi... tapi bagaimana dengan Gak-su-heng?" tanya Kiam-eng dengan cemas sambil memandang sang guru.

Dengan kereng Lok-Cing-hui menjawab, "Dengan sendirinya su-heng mu juga perlu diselamatkan, tapi diantara kedua urusan, mengambil Jian-lian-hok-leng terlebih penting."

Kiam-eng merasa tidak mengerti, katanya, "Te-cu merasa seharusnya menyelamatkan Gak-su-heng lebih dulu, sebab setiap saat Gak-su-heng dan Kalana ada kemungkinan akan dibunuh musuh. Sedangkan kita juga cuma tahu Jian-lian-hok-leng disembunyikan di kota emas dan tidak tahu tempatnya yang persis, kalau tidak menyelamatkan dulu Gak-su-heng untuk dimintai keterangan yang lebih jelas, biarpun dapat menemukan kota emas juga ... "

Kiam-ho-Lok-Cing-hui memberi tanda agar Kiam-eng tidak melanjutkan, ucapnya perlahan, "Jika su- heng mu dapat menemukan Jian-lian-hok-leng di lereng Mo-pan-san sepanjang beberapa ratus li, masakah tidak dapat kau temukan Jian-lian-hok-leng di tengah kota emas kecil itu?"

Muka Kiam-eng menjadi merah, jawabnya dengan menunduk, "Teguran Su-hu memang tepat. Cuma te- cu tetap merasa menyelamatkan Gak-su-heng terlebih penting, sebab ... "

"Kiam-eng, " kembali Lok-Cing-hui memotongnya dengan menghela napas, "sekarang ingin aku tanya padamu, bagaimana pikiranmu atas perasaanku terhadap kalian su-heng dan su-te?"

"Su-hu selama ini memandang Gak-su-heng dan te-cu seperti anak kandung sendiri, sedikit pun te-cu tidak meragukan hal ini, " jawab Kiam-eng dengan hormat.

"Bagus, sekarang aku tanya lagi, pada waktu kalian mengangkat guru padaku, pernah aku tanyai kalian satu kalimat, apa pertanyaanku itu masih kau ingat?"

"Ingat, " Kiam-eng mengangguk. "Su-hu tanya kepada te-cu apa tujuan belajar silat, te-cu menjawab demi menggembleng jiwa raga, menumpas kelaliman dan membantu kaum lemah serta menegakkan keadilan bagi dunia persilatan."

"Ada lagi?" tanya Lok-Cing-hui. "Berani membela kebenaran sekalipun harus mengorbankan nyawa, " kata Kiam-eng dengan khidmat. "Tepat, " ucap Lok-Cing-hui, "makanya aku pandang mengambil Jian-lian-hok-leng terlebih penting daripada menolong su-heng mu."

Tanpa terasa Kiam-eng berpaling memandang In-Ang-bi yang duduk termenung seperti orang linglung itu, lalu memandang pula sang guru dan bertanya dengan ragu, "Apakah Su-hu berpendapat nona In ini mengetahui si pembunuh ke-18 tokoh bu-lim di Hwe-liong-kok dahulu?"

"Betul. Tadi waktu kau tiba pernah tanya sebab apa kami berada di sini, sekarang biar aku katakan padamu, sejak kau tinggalkan tempat kita, ada orang berusaha membikin celaka nona In, berulang dua kali aku dapatkan banyak ular berbisa yang berkeliaran di depan gua tempat kediaman kita, syukur dapat aku ketahui lebih dini dan segera aku bawa nona In meninggal Ciok-lau-san kita.

"Coba, mengapa orang itu ingin membunuh seorang anak perempuan yang sudah kehilangan daya ingatan? Ini mudah diterka, yaitu waktu ke-18 tokoh Bu-lim terbunuh di Hwe-liong-kok lima tahun lampau, tentu nona In ini pernah ikut menyaksikan di tempat kejadian, maka si pengganas telah menyerangnya pula dan membuatnya kehilangan daya ingat, dengan demikian pembunuh itu yakin di dunia ini tiada orang ke tiga lagi yang tahu perbuatannya. Namun tak terduga olehnya bisa timbul pikiran teguh untuk menyembuhkan In-Ang-bi maka ia menjadi ketakutan, kuatir bila kita berhasil menyembuhkan In-Ang-bi, tentu akan kelihatan belangnya, karena itu sekarang dia bertekad turun tangan untuk membinasakan In-Ang-bi."

Sampai di sini, ia berhenti sejenak, lalu menyambung dengan perlahan, "Kau tahu, di antara ke-18 tokoh bu-lim yang terbunuh itu ada 12 orang adalah ketua berbagai perguruan besar jaman ini, jelas ada maksud tujuan tertentu si pengganas itu membunuh mereka, atau dengan lain perkataan, bisa jadi hal itu merupakan langkah pertama untuk melaksanakan sesuatu ambisinya.

"Karena itulah, urusan ini merupakan kasus besar yang menyangkut seluruh dunia persilatan, padahal sampai saat ini belum lagi ada orang persilatan yang berhasil menyelidiki siapa si pengganas itu. Hal ini pun membuktikan pengganas itu adalah seorang tokoh yang maha culas, licik dan keji. Tokoh semacam ini hanya dapat dihadapi oleh Kiam-eng dan muridnya atau kita guru dan murid.

"Cuma Kiam-ong Ciong-Li-cin akhir-akhir ini selalu bersemadi dan berlatih ilmu sakti, tidak nanti berhenti setengah jalan dan tampil untuk menyelidiki peristiwa berdarah di Hwe-liong-kok itu. Maka kasus ini lantas jatuh ke tangan kita guru dan murid. Jika kita dapat lekas menyembuhkan otak In-Ang-bi, sebelum elmaut menimpa bu-lim, umumnya boleh dikata merupakan suatu pahala yang tidak ada taranya.

"Lantaran itu juga aku anggap mengambil Jian-lian-hok-leng itu jauh lebih penting daripada menolong su-heng mu. Berbareng aku pun percaya, terhadap jalan pikiranku ini, su-heng mu pasti setuju dan takkan menyesal, sebaliknya jika lebih dulu kau pergi mengambil Jian-lian-hok leng, inilah yang akan membuatnya mati pun tidak tentram."

Uraian Lok-Cing-hui yang tegas lagi berbudi inilah yang melahirkan julukannya sebagai Kiam-ho atau jago pedang berbudi luhur.

Seketika terbangkit semangat jantan Su-Kiam-eng, ucapnya sambil berdiri, "Jika demikian, sekarang juga te-cu akan berangkat ke Mo-pan-san untuk mencari Jian-lian-hok-leng.

"Tidak, tunggu bila sudah tahu persis letak kota emas itu baru kau pergi, " kata Lok-Cing-hui.

"Meski luas Mo-pan-san ada beberapa ratus li, asalkan te-cu membuang waktu beberapa bulan untuk mencarinya dengan cermat, rasanya tidak sulit untuk menemukan kota emas itu, " ujar Su-Kiam-eng.

"Soalnya, dapatkah kau pastikan kota emas itu memang terletak di sekitar Mo-pan-san?" ujar Lok-Cing- hui.

"Masa bukan?" Kiam-eng melengak.

Cing-hui tertawa, ia berpaling dan tanya Sai-hoa-to, "Dahulu Sim-heng pernah ke daerah selatan?"

"Ya, di daerah selatan yang masih liar itu banyak bahan obat-obatan, pernah tiga kali aku pergi ke sana, " jawab Sai-hoa-to.

"Adakah suku bangsa Ih yang tinggal di lereng pegunungan Mo-pan-san?" tanya Lok-Cing-hui. "Ada, namun semuanya tinggal di sekitar kaki gunung, " tutur Sai-hoa-to.

"Sekalipun tinggal di kaki gunung, bilamana di tengah gunung ada sebuah kota emas, mustahil mereka tidak tahu, " ujar Lok-Cing-hui. "Maka aku pikir kota emas itu tidak pasti terletak di tengah gunung Mo- pan-san."

"Akan tetapi menurut cerita Coa-hun-jiu Bun-In-tiok, katanya su-heng menemukan kota emas itu di pegunungan Mo-pan-san, " tukas Su-Kiam-eng.

"Su-heng mu kan belum memberi keterangan letak kota emas yang pasti, kalau Bun-In-tiok bilang kota emas terletak di Mo-pan-san, bisa jadi juga cuma kabar berita yang dia peroleh dari orang lain, " ujar Cing-hui dengan tertawa.

"Ucapan Lok-heng memang benar, " sambung Sai-hoa-to. "Mungkin muridmu memang mendapatkan Jian-lian-hok-leng di Mo-pan-san dan menemukan kota emas di pegunungan lain."

Lok-Cing-hui berkata pula terhadap Kiam-eng, "Maka dari itu, lantaran pegunungan dan hutan belukar di daerah selatan itu terlampau banyak, kalau lebih dulu tidak kau dapatkan peta bumi itu, tentu sulit menentukan kota emas. Dengan sendirinya, apabila dalam usahamu mencari peta dapat menyelamatkan su-heng mu tentu akan terlebih baik lagi."

"Maksud Su-hu, te-cu perlu menyamar sebagai Sim-lo-cian-pwe untuk menunggu di rumah gubuk beliau?" tanya Kiam-eng.

Lok-Cing-hui mengangguk, lalu tanya Sai-hoa-to dengan tertawa, "Apakah Sim-heng sudi berdiam lagi beberapa hari di tempat Wi-ho-Lo-jin ini?"

"Baik, " jawab Sai-hoa-to dengan suka hati. "Lok-heng sendiri juga hendak tinggal sementara di sini?"

"Betul. Sudah sekian tahun berpisah dengan dia, kalau tidak tinggal lagi beberapa hari, tentu dia takkan membiarkanku pergi."

"Bagus sekali, biar kita main catur dan minum teh untuk melewati waktu senggang ini, " ujar Sai-hoa-to dengan tertawa.

Paginya, "Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho" sudah pulang ke rumah gubuknya di Wi-gok-san dalam keadaan lesu dan lelah.

Ia menanggalkan capingnya dan dilemparkan ke meja, lalu berbaring di tempat tidur tanpa melepas baju lagi.

Waktu mendusin, ia merasa dirinya tidak lagi rebah di dipan bambu di rumah gubuknya itu melainkan berbaring di tempat tidur yang sangat empuk dan indah. Nyata rumahnya gubuk sudah berubah menjadi sebuah kamar tidur yang mewah.

Ia ragu apakah dalam mimpi, ia coba mencubit paha sendiri, terasa sakit juga, ia tahu bukan lagi mimpi, karena kagetnya serentak ia melompat bangun.

Pada saat itulah mendadak pintu kamar pun terbuka, seorang kakek bertongkat melangkah masuk dan menegur dengan tertawa, "Baik-baik kah selama berpisah, Sim-lo-te?"

Usia si kakek jelas di atas 80, rambutnya putih serupa perak, kedua alisnya panjang melambai di bawah ujung mata, mata bulat dan hidung besar seperti biji bawang merah, muka merah bercahaya, sikapnya ramah, berbaju perlente.

"Sai-hoa-to" menyurut mundur dengan terperanjat, serunya dengan siap siaga, "He, engkau siapa?"

Dengan santai si kakek menyandarkan tongkatnya dan duduk di sebuah bangku porselin, lalu menjawab dengan tertawa, "Ai, masa Sim-lo-te sudah pangling padaku?"

"Sai-hoa-to" berkedip-kedip dengan bingung, tiba-tiba seperti teringat, serunya. "Aha, engkau ini Hu-kui- ong Liong-Uh-kong!"

Hu-kui-ong Liong-Uh-kong atau si kakek kaya-raya, terhitung salah seorang tokoh aneh dunia persilatan, 50 tahun yang lampau dia tergolong salah seorang tokoh terkemuka. Wataknya kemaruk harta dan nama, pernah dia meninggalkan ilmu silat untuk belajar sastra, pada usia 32 tahun dia mendapat gelar sarjana muda dan diangkat menjadi bupati kota Yang-ciu. Tapi lantaran korupsi, kemudian dia dipecat. Akhirnya berkecimpung lagi di dunia persilatan.

Karena ilmu silatnya tinggi, caranya mengumpulkan harta juga mempunyai jalan tertentu, maka jadilah dia seorang hartawan dalam dunia persilatan.

Dalam usia tua, ia menjuluki diri sendiri sebagai "Hu-kui-ong" alias si kakek kaya raya dan tinggal tirakat di perkampungan Hu-kui-san-ceng, selama ini jarang bergerak lagi di dunia kang-ouw. Tapi karena namanya termashur, pula gemar berdandan, maka biarpun orang yang belum pernah melihat dia, asal bertemu dengan sendirinya dapat menduga dia inilah Hu-kui-ong Liong-Uh-kong.

Dan memang betul, kakek perlente yang muncul di depan "Sai-hoa-to" sekarang memang betul Hu-kui- ong Liong-Uh-kong adanya.

Dengan tertawa ia menjawab, "Betul, aku kira engkau tidak kenal lagi padaku!"

Rasa kejut "Sai-Hoa-To" belum lagi lenyap, mengamati sekelilingnya sekejap, lalu bertanya dengan sangsi, "Meng ... mengapa aku bisa di sini?"

"Aku lah yang sengaja mengirim beberapa anak buahku mengundangmu ke sini, " tutur Hu-kui-ong Liong-Uh-kong. "Mereka kuatir engkau menolak datang kemari dari lompat jauh, maka selagi engkau tidur ... Ah, pendek kata, tidak ada maksud jahatku mengundangmu kemari, apabila engkau tidak senang terhadap caraku mengundangmu ini, biarlah sekarang juga aku mohon maaf kepada Sim-heng."

Habis berkata berulang ia memberi hormat dan minta maaf.

Rada tenang pikiran "Sai-hoa-to" oleh keterangan itu, tanyanya kemudian, "Jadi tempat ini adalah Hu- kui-san-ceng tempat kediaman Liong-heng.

"Begitulah, " jawab si kakek kaya raya sambil mengangguk.

"Wah, jika begitu entah sudah berapa hari aku tenggelam dalam tidurku?" tanya pula "Sai-hoa-to" dengan kening berkerenyit.

"Lima hari, " jawab si kakek kaya raya. "Selama lima hari engkau tertidur pulas dan baru saja tiba di sini."

"Hm, tak tersangka aku pun diselomoti Bi-hun-hiang (dupa bius) ..." dengus "Sai-hoa-to" perlahan. "Lalu ada keperluan apa Liong-heng menculik diriku ke sini?"

Hu-kui-ong berdiri, katanya dengan tertawa, "Urusan ini biar dibicarakan nanti saja. Setelah tidur lima hari, saat ini Sim-heng sangat lapar, marilah kita makan dulu."

Sai-hoa-to berdiri, "Boleh juga, toh ingin lari pun tidak mungkin!"

"Ah, jangan omong begitu." ujar Hu-kui-ong dengan tertawa. "Marilah Sim-lo-te ikut aku." Segera ia pegang tongkatnya dan meninggalkan kamar itu.

Sai-hoa-to ikut dia ke sebuah ruang makan, di situ sudah siap satu meja perjamuan dengan aneka macam santapan yang lezat.

Hu-kui-ong menyilakan Sai-hoa-to duduk, segera ada pelayan gadis cantik menuangkan arak. Sai-hoa-to memang sudah lapar, maka tanpa sungkan lagi ia makan dengan lahapnya.

Setelah minum tiga cawan, Hu-kui-ong menghela napas dan berkata dengan gegetun, "Apakah Sim-heng masih ingat tujuh tahun yang lalu kita ... "

"Jangan bicara kejadian masa lampau, bicaralah urusan sekarang!" potong Sai-hoa-to.

"Oo, boleh juga, " kata Hu-kui-ong dengan tertawa. "Biar sekarang kita bicara urusan pokok, undanganku padamu ini adalah ingin berkongsi denganmu untuk mendapatkan satu partai harta karun."

"Hahh, satu partai harta karun?" Sai-hoa-to berlagak terkejut.

"Betul, asalkan kau mau, aku jamin tidak lebih dari setahun engkau akan berubah menjadi orang kaya!" Sai-hoa-to mengunjuk rasa tidak percaya, ucapnya dengan hambar, "Ah, masa ada pekerjaan seenak itu?"

"Benar bila, aku tidak bergurau, " ucap Hu-kui-ong dengan serius.

Sejenak Sai-hoa-to mengamati kakek kaya itu, lalu bertanya dengan tersenyum, "Jika begitu mengapa bisa timbul pikiran Liong-heng untuk bersekutu denganku?"

"Sebabnya, hanya kalau bekerja sama denganmu baru urusan ini dapat sukses." ujar Hu-kui-ong Sai-hoa-to mengangkat bahu, "Aneh, coba ingin aku dengarkan penjelasanmu."