Rahasia 180 Patung Emas Jilid 01

 
Jilid 01 

Wi-ho-lau, Wisma Bangau Kuning, sebuah gedung terletak di tepi sungai Yang-tse, provinsi Oh-lam, Tiong-kok Tengah, sebuah tempat tamasya yang termashur.

Oleh karena kota Bu-jiang dan Wi-ho-lau banyak terdapat tempat yang menimbulkan kenang-kenangan masa lampau, maka banyak pula pelancong dari golongan sastrawan dan seniman yang suka pesiar ke situ, terutama pada wisma Bangau kuning tersebut, malahan banyak pula orang persilatan juga suka ngendon di situ.

Di antara beberapa tempat minum di depan wisma Bangau Kuning itu justru terdapat sebuah rumah minum yang khusus sering menjadi tempat berkumpulnya orang persilatan, yaitu Bu-lim-teh-co, artinya warung minum orang persilatan.

Pemilik Bu-lim-teh-co bernama Wi-ho Lo-jin, si kakek bangau kuning, dulu juga seorang tokoh persilatan yang kini sudah purnawirawan alias pensiun.

Ilmu silat yang dikuasai Wi-ho Lo-jin tergolong tidak tinggi, tapi juga tidak rendah. Selama beberapa puluh tahun berkecimpung di dunia kang-ouw, dia satu-satunya tokoh yang disukai baik oleh golongan putih maupun oleh kalangan hitam (kaum penjahat), sebab dia tidak pernah bersengketa dengan siapa pun, sebaliknya ia sangat suka menjadi juru damai. Setiap kali bila terjadi pertengkaran di antara golongan putih dan golongan hitam, bilamana ia pandang urusannya dapat didamaikan, maka dia lantas tampil ke muka untuk melerai.

Mungkin karena caranya menjadi juru damai sangat pandai, maka setiap kali bila ia turun tangan selalu membuat kedua pihak sama puas dan gembira, lama-lama orang persilatan memandang si kakek Bangau Kuning ini seakan-akan semacam bumbu masak yang tidak boleh berkurang bagi dunia persilatan.

Beberapa tahun yang lalu, dalam perjamuan ulang tahunnya yang ke 80, di depan umum ia menyatakan mengundurkan diri dari dunia persilatan, tempat tirakatnya bukan di pegunungan sunyi atau lautan terpencil melainkan hendak berusaha sebuah rumah minum di Wi-ho-lau, diharapkan agar para kawan dunia persilatan sudi mampir sekedar pelepas dahaga di Wi-ho-lau bilamana kebetulan lalu.

Lantaran itulah, pada hari pembukaan Bu-lim-teh-co, suasana menjadi sangat ramai dikunjungi sobat andal, bahkan sampai sekarang keramaian pengunjung itu tidak pernah surut.

Sebenarnya, menurut adat umum, tempat berkumpulnya orang persilatan sukar terhindar dari percekcokan dan perkelahian. Hanya Bu-lim-teh-co saja harus dikecualikan.

Para pengunjung rumah minum ini, baik dari golongan putih maupun dari kalangan hitam, semuanya dapat berkumpul dengan damai dan sopan-santun, padahal para pengunjung sesungguhnya juga terdiri dari aneka ragam golongan dan aliran, mereka datang dari berbagai penjuru, ada yang cuma kebetulan lalu dan sengaja istirahat melepas lelah di situ, ada yang khusus berkumpul di rumah minum ini untuk membicarakan urusan bisnis, ada yang cuma berjanji untuk mengobrol saja di situ.

Selain itu masih banyak pengunjung dari berbagai kalangan, seperti tukang obat, tukang nujum, tukang sayur, pedagang keliling dan macam-macam lagi.

Terkadang, bilamana lagi iseng, Wi-ho Lo-jin sendiri juga suka duduk di tengah para pengunjungnya dan ikut mengobrol, terutama bercerita mengenai peristiwa menarik di dunia persilatan umumnya.

Dasar Wi-ho Lo-jin memang berbakat mendongeng, setiap kali dia duduk bersama para tetamunya tentu dia dikerumuni orang banyak, seperti kawanan anak kecil yang ribut minta dia bercerita atau berkisah.

Suatu hari, sehabis tidur siang, karena iseng kembali Wi-ho Lo-jin muncul pula di rumah minumnya.

Ia duduk di suatu tempat yang luang, pelayan bernama Su-Jit yang masih muda cepat membawakan sebuah mangkuk minum dan menuangkan semangkuk penuh air teh. Melihat cara Su-Jit menuang air teh yang cekatan, cepat lagi tepat tanpa tercecer setetes pun, sering orang suka bersorak memujinya dan banyak pula yang percaya pelayan muda itu pandai kung-fu. Setelah Su-Jit menuangkan air teh bagi Wi-ho Lo-jin, segera ada beberapa orang persilatan mengerumuni lagi kakek itu, seorang di antaranya lantas menyapa, "Lo-jin, kisah apa yang akan engkau ceritakan hari ini?"

"Tidak ada, hari ini aku cuma ingin menikmati teh saja, " jawab Wi-ho Lo-jin dengan tertawa sambil menggeleng kepala.

Seorang tamu yang merupakan langganan rumah minum ini segera menukas "Harap berceritalah seadanya, sedikitnya 50 tahun Lo-jin berkecimpung di dunia kang-ouw, engkau dikenal sebagai tokoh tertua yang masih ada di dunia persilatan sekarang, apa yang lo-jin lihat dan dengar pasti jauh lebih banyak daripada orang lain, aku yakin pasti masih banyak kisah simpananmu yang belum pernah diceritakan."

"Tidak ada lagi, sudah habis!" ujar Wi-ho Lo-jin sambil menggeleng."Segenap isi perutku sudah lama dikuras habis oleh kalian."

"Haha, setiap kali Lo-jin selalu berkata demikian, akhirnya setiap kali pula engkau tetap berkisah lagi sesuatu kejadian yang menarik, " seru orang itu dengan tertawa.

"Kalian tidak tahu, kisah-kisah itu sebagian besar hanya karangan kosong belaka, " ujar si kakek dengan tersenyum.

Orang pertama tadi menukas, "Karangan Lo-jin juga cukup menarik, apa pun mohon engkau sudi berkisah lagi."

Wi-ho Lo-jin mengusap jenggotnya yang putih bagai perak, sejenak kemudian ia berdehem lalu berkata, "Kisahnya, sesungguhnya memang sudah terkuras habis. Biarlah sekarang kita bicara hal-hal yang terjadi di dunia persilatan paling akhir ini."

"Memangnya apa yang terjadi di dunia persilatan akhir-akhir ini?" tanya orang itu.

"Aku sendiri tidak begitu jelas, " ujar si kakek, "cuma aku dengar banyak tokoh dunia persilatan, baik golongan putih maupun kalangan hitam, semuanya lagi mencari jejak sepasang suami-istri, konon antara suami-istri itu, yang lelaki adalah seorang cacat badan, dan yang perempuan justru seorang nyonya muda yang sangat cantik"

"Oo, bagaimanakah kisahnya?" desak orang itu.

"Aku pun tidak begitu jelas. Cuma selama setengah tahun terakhir ini pernah beberapa kawan Bu-lim datang mencari kabar padaku tentang sepasang suami-istri itu, sebab itulah aku tahu ada peristiwa demikian."

"Apakah kawan-kawan Bu-lim yang mencari keterangan kepada Lo-jin itu semuanya tokoh kalangan hitam dan golongan putih?"

"Betul."

"Wah, siapakah mereka?"

"Untuk ini, maaf, tidak dapat aku beritahukan."

"Engkau tidak tanya apa maksud tujuan mereka mencari keterangan suami-istri itu?" "Aku tanya, tetapi mereka tidak mau menjelaskan."

"Wah, aku kira pada suami-istri itu pasti terdapat sesuatu benda mestika atau barang berharga yang sangat menarik, " ujar orang tadi.

"Aku kira tidak, " kata Wi-ho Lo-jin."sebab beberapa orang yang mencari keterangan padaku itu, dua di antaranya terhitung tokoh terhormat dan bersih, dengan kedudukan dan nama baik mereka, mutlak tidak mungkin mereka ikut campur dalam gerakan berebut benda mestika atau harta karun segala."

"Jika begitu, sungguh aneh sekali, " kata orang tadi.

"Apakah tidak mungkin bahwa suami-istri itu adalah sampah masyarakat dunia persilatan dan setiap orang Bu-lim ingin menumpasnya?" tukas kawannya.

"Mungkin juga tidak, " ujar Wi-ho Lo-jin."Sebab menurut kabar, yang lelaki itu cacat badan berat, yaitu buntung kaki dan tangannya, untuk makan nasi saja harus disuapi oleh istrinya. Jika dibilang dia adalah barang rongsokan dunia persilatan, buat apa pula orang mesti menumpas manusia yang sudah cacat total itu?"

"Betul, seorang yang sudah buntung kedua kaki dan tangannya, keadaannya boleh dikatakan lebih baik mati dari pada hidup, buat apa lagi membunuhnya?"

Waktu itu, belasan orang tamu yang duduk di sekitar sana ikut tertarik juga oleh cerita Wi-ho Lo-jin ini sehingga beramai ramai mereka pun ikut berkerumun.

Si kakek minum seteguk air teh yang masih hangat itu, ia pandang sekeliling orang banyak lalu bertanya dengan tersenyum, "Apakah ada di antara hadirin ini tahu lebih jelas peristiwa ini?"

Tiba-tiba seorang tua berusia 50-an dengan golok tergantung di pinggang menanggapi dengan wajah serius, "Aku kira, sebaiknya kita jangan membicarakan urusan ini!"

"Oo, sebab apa?" tanya Wi-ho Lo-jin dengan melengak.

Si kakek baju hijau seperti menguatirkan sesuatu, ia celingukan ke sana-sini, habis itu baru menghela napas perlahan, akhirnya berkata dengan sikap yang tetap serius dan prihatin, "Aku datang dari Jiang an, sepanjang jalan aku dengar cerita dari dua orang temanku di tempat yang berbeda, baru saja mereka mulai bercerita tentang kedua suami-istri itu, kontan mereka terbunuh oleh am-gi (senjata rahasia) yang tidak jelas dilakukan oleh siapa."

"Hah, bisa terjadi begitu?" seru Wi-ho Lo-jin.

Si kakek baju hijau mengangguk, katanya, "Betul terjadi begitu. Pertama kali terjadi di Cip-eng-lau, kota Liong-ki. Seorang kawan bernama Ji-Kiat berjuluk Te-ling-kui (setan bumi cerdik) sedang minum arak dengan beberapa teman, setelah menegak beberapa mangkuk arak, langsung ia menyerocos bercerita tentang suami-istri yang aneh itu. Ketika dia bicara bahwa ia tahu asal-usul kedua suami-istri itu, mendadak ia jatuh terjungkal dari tempat duduknya. Kemudian beberapa temannya menemukan sebatang jarum berbisa di punggungnya."

Ia berhenti sejenak, sesudah celingukan lagi kian kemari, kemudian ia menyambung ceritanya, "Kejadian yang kedua juga di rumah minum, di kota Siang-yang. Yang berkisah adalah Hu-Jiu-hong, berjuluk

Tiang-ci-siu-cai, si sastrawan lidah panjang alias cerewet. Dia juga sedang mengobral ceritanya mengenai suami-istri aneh itu kepada beberapa sahabatnya. Ketika dia menyatakan ia melihat sendiri kedua suami-istri aneh dan kenal sang suami itu adalah ... Pada saat ia hendak mengucapkan nama orang, kontan ia pun roboh terjungkal, senjata yang membinasakan dia juga sebatang jarum berbisa."

Rupanya keterangan kakek baju hijau ini membuat para pendengarnya merasa tegang, air muka hadirin yang berkerumun itu sama berubah pucat dan merinding, mereka sama berpaling dan menoleh kian kemari, seperti kuatir mereka pun akan terbunuh oleh jarum berbisa yang entah akan menyambar dari jurusan mana.

Seketika suasana rumah minum itu berubah sunyi dan mencekam.

Suasana sunyi itu berlangsung hingga cukup lama, akhirnya si pelayan Su-Jit yang memecahkan kesunyian, dia menaruh teko tembaga yang besar itu dengan keras, lalu berseru, "Hadirin yang terhormat, apakah boleh hamba ikut menimbrung sepatah kata?"

Wi-ho Lo-jin menoleh dengan tercengang, katanya, "Su-Jit, kau mau bicara apa, silakan bicara!"

Dengan sungguh-sungguh Su-Jit berkata, "Mengenai kedua suami-istri aneh itu, menurut pendapat hamba sudah bukan sesuatu rahasia lagi. Maksud tujuan orang yang membunuh si setan bumi cerdik Ji- kiat dan si Siu-cai cerewet Hu-Jin-hong jelas adalah untuk menghilangkan saksi hidup."

"Apa ... apa katamu?" seru Wi-ho Lo-jin dengan melengong.

Bahwa seorang pelayan rumah minum yang tidak paham ilmu silat ikut bicara kisah rahasia dunia persilatan sudah merupakan kejadian aneh, sekarang dia malahan menyatakan kisah itu bukan lagi suatu rahasia, tentu saja hal ini membuat semua orang melengak heran. Begitulah semua orang sama memandang Su-Jit dengan tercengang, sebaliknya Su-Jit memberi hormat kepada Wi-ho Lo-jin dan berkata dengan serius, "Lo-ya (tuan besar), apa yang hamba katakan itu ada dasar buktinya dan bukan cuma bualan belaka."

"Oo, dari mana kau tahu?" tanya Wi-ho Lo-jin heran."

"Hamba dengar dari seorang hwe-sio tua, " tutur Su-Jit. "Kemarin dulu hwe-sio tua itu minum teh di sini dan menceritakan semua kejadian itu kepadaku ..."

"Mengapa hwe-sio tua itu mau menceritakan kisah misteri dunia persilatan kepadamu?" tanya Wi-ho Lo- jin.

"Dia bilang umumnya orang kuatir rahasia akan bocor, dia justru tidak takut, dia malah minta hamba untuk menceritakan pula kepada setiap orang yang minum teh di sini agar setiap orang persilatan sama tahu peristiwa ini."

"Coba jelaskan, bagaimana ceritanya?" tanya pula Wi-ho Lo-jin dengan cepat.

"Dia bilang yang lelaki itu adalah ..." baru bicara sampai di sini, mendadak Su-Jit mendongak, wajahnya penuh mengunjuk rasa kaget dan bingung, lalu sinar matanya mulai buram, tubuh pun perlahan terkulai dan akhirnya roboh terjengkang, binasa.

"Jarum berbisa! ... Jarum berbisa!" "Dia juga terkena jarum berbisa!"

Seketika suasana rumah minum itu menjadi kacau-balau, semua orang sama menyurut mundur sehingga beberapa meja tertumbuk dan terjungkir balik dengan suara gemuruh pecahnya mangkuk piring.

Inilah peristiwa malang pertama yang terjadi di Bu-lim-teh-co selama beberapa tahun menjadi tempat berkumpulnya orang persilatan. Tentu saja Wi-ho Lo-jin terkejut dan juga gusar. Cepat ia angkat jenazah Su-Jit, dengan mata melotot dan penuh emosi ia pandang para pengunjung yang berdiri melengong itu, lalu berkata dengan tersenyum pedih, "Sesungguhnya sia ... siapakah sahabat yang sengaja mencoreng mukaku yang tua bangka ini?"

Hadirin yang berdiri termangu di sekitar situ sama bermuka pucat dan saling pandang belaka tanpa ada yang bersuara.

Kulit muka Wi-ho Lo-jin tampak berkerut-kerut, dengan melotot ia pandang orang banyak dan berkata pula, "Silakan sahabat tampil ke depan, biar belajar kenal dulu dengan diriku yang tua bangka ini ...

Silakan tampil!"

Tapi semua orang tampak berdiri kaku, tiada seorang pun bergeser dari tempatnya.

Wi-ho Lo-jin mendengus gusar, tiba-tiba ia berkata kepada dua kakek di sebelahnya, "Kedua sahabat Sin dan Ko, mohon kalian bantu menjagakan pintu, siapa pun dilarang keluar."

Habis berkata, ia pondong jenazah Su-Jit dan dibawa ke ruang dalam.

Di belakang rumah minum itu masih ada lagi beberapa rumah yang bergandengan dengan rumah minum bagian depan, itulah tempat tinggal pribadi Wi-ho Lo-jin. Ia bawa Su-Jit menuju ke sebuah kamar yang terletak paling belakang, setelah merapatkan pintu kamar dan dipalang, ia taruh Su-Jit di tempat tidur.

Pada saat itu juga Su-Jit yang dibaringkan di tempat tidur itu mendadak melompat bangun dengan perkasa, ia tanya si kakek dengan suara lirih, "Siapa yang menyerang dengan senjata rahasia?"

"Seorang lelaki setengah umur berbaju hijau, dia membawa golok, pada kiri dahinya ada bekas luka sepanjang dua-tiga senti, kini masih berbaur di tengah para tetamu, lekas engkau menyamar dan mengeluyur ke luar dari pintu belakang, " jawab si kakek Bangau Kuning dengan tersenyum.

Cepat Su-Jit mendekati almari pakaian, ia keluarkan sebuah rangsel dan mulai menyamar di depan cermin perunggu almari.

Lebih dulu ia tempelkan kumis pendek di atas bibir, alisnya juga ditempel dengan lebih tebal, kemudian ia ganti pakaian sehingga berwujud seorang lelaki setengah baya dengan wajah kereng. Melihat anak muda itu sudah selesai menyamar, segera Wi-ho Lo-jin membuka pintu kamar, ia melongok dulu keluar, habis itu baru menoleh dan memberi tanda kepada Su-Jit, "Aman, boleh berangkat sekarang!"

Su-Jit berhenti di samping pintu, katanya dengan hormat kepada Wi-ho Lo-jin, "Paman Wi, kepergianku ini mungkin tidak leluasa untuk putar balik lagi ..."

Wi-ho Lo-jin menepuk bahu anak muda itu katanya dengan tersenyum, "Tidak apa, Bila bertemu dengan gurumu, sampaikan saja salamku."

Su-Jit mengangguk, setelah yakin di luar kamar tiada orang lain, cepat ia menyelinap keluar. Ia buka pintu pagar tembok belakang, setelah mengitari beberapa rumah, sampailah dia di halaman depan Bu- lim-teh-co.

Pada waktu itu juga Wi-ho Lo-jin pun sudah keluar lagi di sana, melihat kemunculan si kakek, orang banyak yang sedang ribut membicarakan kejadian tadi seketika diam. Segera kakek she Sin yang diminta bantuannya untuk menjaga pintu tadi bertanya, "Bagaimana anak muda itu, Wi-heng?"

Wi-ho Lo-jin menggeleng kepala, sahutnya sedih, "Jarum berbisa itu sangat jahat, sukar ditolong lagi!"

Ia menghela napas panjang, lalu berkata pula sambil menatap orang banyak, "Hadirin sekalian, dulu sebelum aku buka warung minum ini, berulang pernah aku mohon para kawan kang-ouw agar jangan bikin perkara di sini, akan tetapi hari ini toh terjadi juga ... Ai, bilamana Su-Jit seorang persilatan, maka kematiannya masih bisa dimengerti. Namun dia justru tidak paham ilmu silat apa segala, malahan dia anak tunggal keluarga miskin..."

Habis berucap, kembali ia menghela napas menyesal tak terhingga.

"Sekarang silakan Wi-lo-cian-pwe mulai menggeledah, coba siapa yang kedapatan membawa jarum berbisa serupa, maka jelas dia itulah si pengganasnya, biarlah beramai-ramai kita membinasakan dia!"

Yang bicara ini adalah seorang lelaki setengah berbaju hijau, golok tampak tergantung di pinggangnya dan bagian kiri dahi ada bekas luka panjang.

Wi-ho Lo-jin memandangnya sekejap diam-diam ia mendengus, namun lahirnya ia berlagak setuju katanya dengan mengangguk, "Betul, memang begitulah maksudku, cuma aku kuatir akan membuat susah para sahabat ..."

Orang berbaju hijau itu menukas dengan sikap penasaran, "Jiwa manusia maha penting, masa harus kuatir bertindak secara tegas. Pendek kata, barang siapa yang hadir di sini saat ini tentu juga patut dicurigai, untuk membebaskan diri dari tuduhan harus siap untuk digeledah tubuhnya."

"Betul, silakan Wi-ho Lo-jin menggeledah saja, kami akan menerimanya dengan baik."

"Benar, setiap orang harus memperlihatkan barang yang dibawanya, satu persatu harus digeledah!"

Begitulah beramai-ramai orang banyak sama menyatakan setuju untuk digeledah, sampai akhirnya, tanpa disuruh sebagian besar orang sudah mendahului mengeluarkan segenap barang bawaan masing- masing dan ditaruh di atas meja.

Maka dengan lagak cermat Wi-ho Lo-jin memeriksa setiap benda yang tertaruh di atas meja, dan lantaran tidak menemukan jarum berbisa, lalu sasaran penggeledahan dilaksanakan atas tubuh setiap orang. Padahal tahu jelas tak akan menemukan sesuatu, namun caranya menggeledah tetap dilakukan dengan teliti. Dengan sendirinya, hasilnya tetap nihil.

Wi-ho Lo-jin menghela napas, katanya kepada orang banyak, "Baiklah, maaf jika telah aku ganggu hadirin, bagi mereka yang ada urusan dan tidak dapat tinggal lama di sini boleh silakan pergi dengan bebas."

"Hai, mana boleh jadi, kan pengganasnya belum ditemukan?" seru si kakek she Sin.

"Dari pemeriksaan tadi, para kawan yang hadir di rumah minum ini tidak terdapat membawa jarum berbisa apa pun, mana bisa aku temukan lagi si pembunuh?" ujar Wi-ho Lo-jin dengan tersenyum getir. Ia menghela napas, lalu menyambung, "Tentang kematian Su-Jit, biarlah nanti aku beri santunan pantas kepada ayah-bundanya, hanya ada suatu harapanku yaitu semoga selanjutnya para kawan yang mau minum di sini jangan lagi membikin onar." Habis berkata ia lantas memohon diri dan masuk lagi ke ruangan belakang.

Karena itulah orang persilatan yang minum teh pun sama membayar dan tinggal pergi, hanya beberapa orang saja yang masih duduk di situ.

Pada saat para tamu sama meninggalkan rumah minum itu, si lelaki baju hijau tadi justru masuk ke ruangan belakang bersama Wi-ho Lo-jin.

Su-Jit yang mengawasi di luar rumah minum segera merasakan gelagat tidak enak. Ia pikir jika pembunuh itu ikut masuk ke dalam rumah Wi-ho Lo-jin tentu dia mempunyai rencana sesuatu pula, dirinya harus cepat masuk ke sana untuk membantu si kakek. Begitu timbul pikiran demikian dapat ia masuk ke rumah minum dan langsung menuju ruang belakang.

Para tamu beramai-ramai sedang meninggalkan tempat minum itu, para pelayan juga sibuk membersihkan barang pecah belah yang berserakan di lantai, sebab itulah si lelaki baju hijau dan Su-Jit yang sudah menyamar itu dapat masuk ke ruangan dalam tanpa diperhatikan orang lain.

Untuk mencapai ruangan belakang, lebih dulu harus melalui sebuah serambi kecil, ketika Su-Jit sampai di serambi dilihatnya lelaki berbaju hijau sedang berdiri di situ dan lagi bicara dengan Wi-ho Lo-jin, melihat keadaan itu, cepat Su-Jit menyurut mundur beberapa langkah dan berdiri di balik daun pintu serta berlagak mengangkat sebuah cangkir dan pura-pura minum.

"Mengganggu Wi-lo-cian-pwe pada saat demikian, sungguh tidak pantas, " kata si lelaki baju hijau. "Tidak apa, " ujar Wi-ho Lo-jin."Siapakah nama adik yang terhormat?"

"Cai-he Ih-Wan-hui, berjuluk si tulang besi, Pok-Hong-tai dari Soa-sai adalah guruku."

"Oo, kiranya adik ini murid Pok-tai-hiap. Gurumu terkenal berjiwa luhur dan berhati baik, hal ini sama dikagumi setiap orang persilatan. Dahulu pernah beberapa kali bertemu dengan gurumu. Entah ada urusan apa adik mencari diriku sekarang?"

"Aku dengar tabib sakti dunia persilatan Sai-hoa-to (si duplikat Hoa-To) Sim-Tiong-ho mengasingkan diri di sekitar Wi-ho-lau sini, entah Wi-lo-cian-pwe tahu tidak tempat tinggalnya?"

"Eh, ada urusan apa adik mencari Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho?"

"Soalnya beberapa tahun yang lalu, dalam perjalanan ke arah selatan yang masih liar, sungguh sial guruku ketularan penyakit beracun sehingga sekarang masih terbaring dan belum sembuh. Konon Sai- hoa-to Sim-Tiong-ho mahir mengobati penyakit darah panas, maka sengaja aku datang mengundangnya untuk mengobati guruku. Bila Wi-lo-cian-pwe tahu tempat tinggal, tolong memberi tahu padaku, sungguh Cai-he akan sangat berterima kasih."

"O, kiranya begitu. Apabila Lau-te (adik) ingin bertemu dengan Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho, mungkin perlu kau tunggu lagi satu dua hari ..."

"Mengapa harus tunggu lagi satu-dua hari?"

"Kau tahu, watak Sim-lo-ji (Sim tua) sangat aneh, suka menyendiri, meski dia tinggal di sekitar sini namun alamatnya yang jelas juga tidak aku ketahui. Cuma ..."

"Cuma apa?"

"Sim tua juga sering minum teh di sini, bila Lau-te datang kemari besok atau lusa mungkin akan dapat bertemu dengan dia."

"Apakah hari ini dia takkan datang kemari."

"Ya, biasanya tiga atau lima hari dia datang sekali, kemarin dulu dia baru datang ke sini, maka paling cepat besok atau lusa baru datang lagi."

"Jika begitu ..."

"Malam ini Lau-te boleh bermalam dulu di kota, coba datang lagi besok. Jika Lau-te ada urusan lain, silakan meninggalkan alamatmu, bila Sim tua datang, segera aku kirim kabar kepadamu." "Ah, biarlah besok saja aku datang lagi."

"Boleh juga. Hari ini aku pun harus mengurus jenazah Su-Jit dan tidak dapat melayani Lau-te, sungguh kurang hormat."

"Tidak apa, banyak terima kasih atas petunjuk Wi-lo-cian-pwe, biarlah aku mohon diri saja sekarang."

Bicara sampai di sini, si baju hijau lantas memberi hormat kepada Wi-ho Lo-jin dan memutar tubuh serta lewat di sisi Su-Jit serta meninggalkan Bu-lim-teh-co.

Su-Jit ikut keluar rumah minum dan mengawasi kepergian orang hingga jauh, lalu ia masuk lagi ke dalam, dilihatnya Wi-ho Lo-jin masih berada di serambi, segera ia mendekatinya sambil menyapa dengan tertawa, "Paman Wi, ucapan si pembunuh itu sudah aku dengar seluruhnya."

"Tampaknya kamu berubah pendirian?" ujar Wi-ho Lo-jin dengan tertawa.

Su-Jit mengangguk, "Ya, jika dia ingin mencari Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho, biarlah sementara ini tidak perlu aku buntuti dia."

"Kau lihat dia murid Ban-hoa-to Pok-Hong-tai atau bukan?"

"Tentu saja bukan, " jengek Su-Jit."Tapi dia mencari Sai-hoa-to memang tidak dusta."

Wi-ho Lo-jin tersenyum."Aku tahu kau dengarkan di belakang pintu tadi, juga tahu pendirianmu pasti akan berubah setelah mendengar ceritanya. Sekarang kau keluar lagi sana, akan aku tunggu di pintu belakang, mari kita pergi bersama mencari Sim tua."

Su-Jit mengiakan dan segera keluar melalui pintu depan rumah minum itu, lalu mengitari ke pintu belakang. Wi-ho Lo-jin memang sudah menunggu di situ. Keduanya lantas berangkat ke Wi-go-san dengan langkah cepat.

Wi-go-san umumnya dikenal sebagai Coa-san alias gunung ular, diberi nama ini karena lereng pegunungan itu membentang panjang serupa ular, di bawah gunung terletak sungai Yang-tse dan di tepi sungai berdiri Wi-ho-lau dengan megahnya yang terletak di pangkal gunung. Jalan yang di ambil kedua orang itu justru bagian ekor dari pegunungan itu.

Setelah melintas lereng gunung dan menyusur hutan beberapa li jauhnya, akhirnya kedua orang itu sampai di depan sebuah rumah gubuk di tepi sungai.

Rumah gubuk itu sudah tua dan bobrok, tapi pemandangan sekitarnya yang indah menandakan penghuni rumah gubuk itu pasti bukan manusia biasa.

Saat itu, tidak jauh di depan rumah gubuk itu terdapat seorang kakek berbaju rombeng sedang berjongkok di tepi sungai, agaknya asyik mengail.

Ketika mendengar suara langkah orang, kakek itu berpaling, demi melihat Wi-ho Lo-jin, kakek itu berseru perlahan, "Aha tumben! Angin apakah yang membawa Wi-ho Lo-jin ke sini?"

Meski nadanya rada jenaka, namun air mukanya kaku, sekali pandang saja akan tahu kakek ini pasti seorang yang berwatak ketus dan angkuh. Wi-ho Lo-jin tergelak, katanya, "Haha, tidak ada urusan tentu tidak masuk istana. Sim tua, hendaknya simpan dulu pancingmu."

Kiranya si kakek inilah tabib sakti dunia persilatan, si duplikat Hoa-To (seorang tabib maha sakti di jaman Sam-Kok) Sim-Tiong-ho.

Dia tidak mengangkat pancingnya seperti di minta Wi-ho Lo-jin, ia cuma tersenyum hambar dan menjawab, "Ada urusan apa kan sama saja dibicarakan di sini."

"Boleh juga." ucap Wi-ho Lo-jin, bersama Su-Jit mereka lantas mendekat ke sana.

Su-Jit memberi hormat kepada Sim-Tiong-ho sambil menyapa, "Sim-lo-cian-pwe, terimalah hormatku."

Mestinya Sim-Tiong-ho telah menoleh kembali ke sana untuk memeriksa pancingnya, demi mendengar ucapan Su-Jit, agaknya merasa di luar dugaan, ia berpaling dan memandang Su-Jit dengan heran, katanya, "Eh, rasanya sudah aku kenal suaramu." "Coba ingat ingat, mirip siapa suaranya?" tanya Wi-ho Lo-jin.

Sai-hoa-to diam sejenak, tiba-tiba ia berseru, "Aha, ingat sekarang. Kamu mirip Su-Jit si pelayan rumah minum itu."

"Betul, " tukas Wi-ho Lo-jin dengan tertawa."Dia memang Su-Jit yang sering kau puji dan pernah ada maksudmu menerimanya sebagai ahli-warismu."

"Haah!" Sai-hoa-to melengak dan bersuara heran, "mengapa dia menyamar begini?"

"Ceritanya panjang." ujar Wi-ho Lo-jin."Apa bila Sim tua mau mengorbankan beberapa kali arak, bagaimana kalau kita bicara sambil makan di rumahmu?"

Dengan suka ria Sai-hoa-to menyatakan setuju, ia angkat alat pancingnya dan berkata, "Mari, siang tadi aku masak tiga ekor belut dan belum habis aku makan, kebetulan dapat kita gunakan sebagai teman minum arak."

Ke tiga orang lantas masuk ke rumah gubuk, Sai-hoa-to mengeluarkan arak dan santapan yang tersedia serta menyilakan duduk Wi-ho Lo-jin dan Su-Jit, sembari makan minum ke tiga orang lantas asyik mengobrol.

"Teringat pada tiga bulan yang lalu waktu anak Su-Jit ini baru datang di Bu-lim-teh-co ..." demikian Wi- ho Lo-jin mulai bicara dan diseling dengan minum seteguk arak, lalu menyambung sambil menatap Sai- hoa-to dengan tertawa, "ketika itu Sim tua pernah bilang anak ini sangat berbakat dan menyatakan sayang anak ini sampai bekerja sebagai pelayan, betul tidak?"

Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho mengangguk "Betul! Memangnya aku salah lihat?"

Wi-ho Lo-jin tidak menjawab, ia meneruskan ucapannya, "Kemudian, kau katakan pula bilamana aku berkenan, kau mau menerima dia sebagai murid, betul tidak?"

"Betul, dan sekarang engkau setuju?" Sai-ho-to menegas.

"Tidak, " Wi-ho Lo-jin menggeleng dengan tertawa."Hari ini hendak aku katakan terus terang padamu, Su-Jit si anak ini memang sudah menguasai kung-fu yang bagus."

Seketika Sai-hoa-to merasa kurang senang, dengusnya, "Hm, jika begitu, mengapa tidak kau katakan sejak dulu?"

"Waktu itu, berhubung sesuatu alasan, tidak leluasa aku beri tahu kan duduknya perkara, dan sekarang sudah boleh, " ujar Wi-ho Lo-jin.

"Yang jelas gurunya bukan dirimu toh?" ucap Sai-hoa-to dengan hambar. "Memang bukan, gurunya ialah Kiam-ho Lok-Cing-hui, " jawab Wi-ho Lo-jin.

Kiam-ho Lok-Cing-hui, si jago pedang sakti terhitung tokoh dunia persilatan nomor dua pada jaman ini, tergolong tokoh sakti yang jarang ada bandingannya, biarpun watak Sai-hoa-to biasanya dingin dan angkuh, tidak urung ia terkejut juga oleh keterangan Wi-ho Lo-jin itu, serunya dengan terbelalak, "Oo, jadi anak ini murid Kiam-ho Lok-Cing-hui?"

"Betul, aslinya bernama Su-Kiam-eng!" tutur Wi-ho Lo-jin dengan tertawa.

Dengan tercengang Sai-hoa-to memandangi Su-Kiam-eng, kemudian pandangannya beralih pada wajah Wi-ho Lo-jin, tanyanya dengan tidak mengerti, "Lantas, sebab apa Kiam-ho Lok-Cing-hui menyuruh muridnya bekerja sebagai pelayan rumah minum?"

"Yang menjadi pelayan adalah Su-Jit dan bukan Su-Kiam-eng!" kata Wi-ho Lo-jin.

Segera Sai-hoa-to paham maksudnya, kembali ia pandang Su-Kiam-eng dan bertanya, "Apa maksud tujuan gurumu menyuruhmu menjadi pelayan rumah minum?"

"Mencari seorang Su-heng, " Jawab Su-Jit alias Su-Kiam-eng. "Ada seorang su-heng mu kehilangan jejak?" Sai-hoa-to menegas. "Betul, " Su-Kiam-eng mengangguk."Su-heng bernama Gak-Sik-lam, tiga tahun yang lalu atas perintah su-hu menuju ke daerah liar di selatan untuk mencari sejenis bahan obat, yaitu Jian-lian-hok-leng (bahan obat berumur ribuan tahun) ..."

Sampai di sini ia merandek sejenak, dengan tersenyum kemudian meneruskan, "Sim-lo-cian-pwe adalah tabib sakti dunia persilatan yang tiada bandingannya, tentu engkau tahu khasiat Jian-lian-hok-leng."

"Ya, jian-lian-hok-leng adalah benda mestika yang sukar dicari" ucap Sai-hoa-to. Jika bahan obat mujarab itu diminum orang yang belajar ilmu silat, maka kekuatannya akan bertambah sekali lipat. Padahal lwe-kang gurumu jelas sudah mencapai puncaknya, untuk apa lagi mencari bahan obat itu?"

"Bukan maksud su-hu hendak menggunakan obat itu untuk menambah tenaga melainkan hendak digunakan sebagai campuran obat untuk menyembuhkan daya ingat seorang nona, " tutur Su-Kiam-eng.

"Oo, memulihkan daya ingatan?" Sai-hoa-to menegas dengan tercengang.

"Betul, " sahut Su-Kiam-eng."Apakah Sim-lo-cian-pwe masih ingat peristiwa malapetaka yang menimpa ke-18 tokoh bu-lim di Hwe-liong-kok lima tahun yang lampau itu?"

"Masih ingat. Tahun itu ke-18 tokoh bu-lim sekaligus dibunuh orang secara keji di Hwe-liong-kok, tapi siapa pengganasnya justru tidak diketahui dan sampai kini masih tetap merupakan perkara buntu yang belum terpecahkan. Memangnya nona yang kau katakan itu ada sangkut-paut apa dengan peristiwa berdarah di Hwe-liong-kok?"

"Nona ini adalah putri salah seorang dari ke-18 tokoh bu-lim yang terbunuh itu, yaitu putri Bu-tek-sin- pian (si ruyung sakti tanpa tandingan) In-Giok-san, namanya In-Ang-bi, usianya sekarang 18 tahun, tapi pada lima tahun yang lampau, setelah ayahnya tertimpa nasib malang, daya ingatan nona In lantas terganggu dan sampai sekarang belum lagi sembuh."

"Mengapa dia bisa kehilangan daya ingatan?" tanya Sai-hoa-to.

"Entah, " jawab Su-Kiam-eng."Akan tetapi ketika terbunuhnya ke-18 tokoh Bu-lim di Hwe-liong-kok, diketahui nona In juga berada di sekitar lembah itu. Maka menurut pendapat guruku, jika daya ingat nona In dapat disembuhkan, bila jadi akan diketahui siapa pengganas di Hwe-liong-kok itu."

Sai-hoa-to mengangguk, "Ya, mungkin nona In itu menyaksikan sendiri ketika ayahnya terbunuh, saking sedih dan terguncang perasaannya sehingga kehilangan daya ingat. Tapi di antara tokoh yang tertimpa malang itu ada 12 orang pimpinan atau ketua berbagai aliran dan perguruan, jika ingin mengusut si pengganas, itu kan urusan berbagai aliran dan perguruan mereka, mengapa gurumu perlu mengirim su- heng mu jauh-jauh ke daerah liar di selatan sana untuk mencari Jian-lian-hok-leng yang amat sukar ditemukan. Ini kan agak ..."

"Sebabnya guruku mau ikut campur urusan ini, " tukas Su-Kiam-eng dengan tertawa, "pertama, karena Bu-tek-sin-pian In-Giok-san adalah sahabat karib guruku. Kedua, banyak kawan Bu-lim menyatakan Kiam-ong (raja pedang) Ciong-Li-cin dan guruku adalah jago nomor satu, dan nomor dua dunia persilatan sekarang, adalah pantas bila mereka tampil ke muka untuk bantu mengusut siapa pembunuh itu. Namun Kiam-ong Ciong-Li-cin dikenal sebagai orang yang suka ketenangan dan tidak suka bergerak, maka guruku memutuskan tampil untuk ikut campur urusan ini.

"Ke tiga, kami guru dan murid sama berpendapat, apabila daya ingatan In Ang-bi dapat disembuhkan dan tetap tidak sanggup menerangkan siapa si pengganas di Hwe-liong-kok itu, hal ini pun tidak menjadi soal, yang penting kewarasan seorang nona dapat dipulihkan juga sesuatu amal kebaikan. Aku kira Sim- lo-cian-pwe pun sependapat dengan kami."

Habis berkata ia angkat poci dan menegak arak.

Muka Sai-hoa-to tampak merah, ia angkat bahu dan menjawab, "Mungkin kau benar. Coba teruskan lagi!"

Su-Kiam-eng menaruh kembali cangkir araknya dan menyambung, "Su-heng ku itu tahun ini berusia 32 tahun, sejak kecil hingga tiga tahun yang lalu ketika dia berangkat ke daerah selatan, selama itu ia gemar memelihara burung merpati, sering ia membawa burung dara piaraannya dalam perjalanannya dan dilepaskan dari tempat jauh agar burung-burung itu terbang pulang ke rumah. Ketika ia berangkat ke daerah liar di selatan itu dengan sendirinya kesempatan itu tidak di-sia-sia-kan, sekaligus ia bawa enam ekor burung dara piaraannya. Ia meninggalkan pesan, katanya bila menemukan Jian-lian-hok-leng, lebih dulu ia akan mengirim berita melalui burung merpatinya."

Sampai di sini ia mengeluarkan dua helai kertas surat penuh bekas lipatan, lalu berumur pula, "Delapan bulan kemudian, melalui burung merpatinya kami menerima suratnya yang pertama.

Tapi surat ini ternyata bukan surat pertama yang ditulisnya melainkan surat ke tiga, atau dengan lain perkataan suratnya yang kedua dan ke tiga yang dikirim melalui merpatinya tidak kami terima, bisa jadi burung merpatinya tersesat di tengah jalan.

"Surat ke tiga ini tertulis demikian, 'Te-cu sudah tiba di Mo-pan-san, cuma sampai di sini Te-cu pun menghadapi jalan buntu. Tiga kuli pemikul yang aku sewa di Teng-ciong sama takut binatang pegunungan dan sama kabur di tengah malam, rangsum yang aku bawa juga sudah habis beberapa hari yang lalu, sekarang Te-cu hidup dari makan buah-buahan liar atau daging binatang. Cuaca di sini pun berubah tidak menentu, sebentar dingin lain saat panas, malam pun sukar pules. Mestinya Te-cu dapat putar balik, namun perjalanan sudah sejauh ini, sebelum menemukan Jian-lian-hok-leng rasanya tidak rela. Apalagi aku tahu Su-hu dan Su-te sedang menantikan kepulanganku dengan membawa Jian-lian- hok-leng, maka semoga Thian memberkahi agar selekasnya dapat aku temukan obat mujarab tersebut

..."

"Dari surat itu barulah kami tahu Su-heng mengalami penderitaan di daerah liar itu dan setiap saat jiwanya bisa amblas. Selang sebulan pula, kembali kami menerima sepucuk suratnya. Tapi surat ini ada tanda 'enam', rupanya sebelum surat ke enam ini kembali ada dua ekor burung merpatinya tersesat pula dan tidak pernah pulang ke rumah.

"Surat ke-enam itu tertulis. 'Aku tahu tangan elmaut yang dingin itu tidak lama lagi akan meraba mukaku, pada detik terakhir ini harapanku hanya semoga peta bumi yang dibawa merpati ke-lima itu akan sampai di tangan Su-hu dengan selamat, dengan damikian Su-hu atau Kiam-eng akan tahu di mana letak Kim-sia, Kota Emas yang terpendam selama ribuan tahun ini sungguh megah dan cemerlang sehingga sukar untuk dipercaya di dunia ada bangunan sehebat ini. Di kota emas ini ada istana emas murni dan gedung megah yang dibangun dengan balok batu raksasa, yang paling berharga adalah ke 180 patung emas yang aku ceritakan dalam suratku yang ke lima, yaitu mengandung sejurus ilmu pedang yang tidak ada taranya. Sayang ajalku sudah dekat, sukar bagiku untuk mempelajarinya, semoga Su-hu atau Kiam-eng Su-te tidak lama lagi dapat datang kemari, dengan demikian jerih-payahku takkan tersia-sia dan mati pun aku akan tentram' ..."

Habis membaca isi surat, Su-Kiam-eng memandang Sai-hoa-to dengan tersenyum getir, katanya, "Sekarang Sim-lo-cian-pwe tentu paham duduknya perkara."

Dengan penuh rasa heran Sai-hoa-to bertanya, "Jadi maksudmu di tengah hutan belukar di daerah selatan sana su-heng mu menemukan sebuah kota purba?"

"Begitulah, " Su-Kiam-eng mengangguk."Cuma sayang peta bumi yang dikirim melalui merpati ke-lima itu tidak pernah kami terima."

Makin menjadi rasa heran Sai-hoa-to, gumamnya sambil menatap Wi-ho Lo-jin, "Istana emas? 180 patung emas? Cara bagaimana menilai harta benda sebanyak itu? Apa lagi di dalam ke-180 patung emas itu tersembunyi pula sejurus ilmu pedang yang tiada taranya? Masya Allah!"

"Hm, tampaknya Sim tua juga tergelitik?" ucap Wi-ho Lo-jin dengan tersenyum. "Mengapa tidak?" seru Sai-hoa-to bersemangat.

"Jika dapat membawa pulang emas sebanyak itu, bukankah akan lebih kaya daripada negara, bahkan dapat menjadi seorang ahli pedang tiada tandingan sejagat."

"Hm, biar aku beri tahukan padamu, " jengek Wi-ho Lo-jin."Saat ini sudah banyak tokoh dari berbagai kalangan yang berkepandaian jauh lebih tinggi daripada dirimu sedang mengincar kota emas itu, tokoh semacam Sim tua kalau ikut-ikutan hendak berebut harta karun, aku kira sama dengan mengantar kematian belaka."

"Oo, jadi rahasia ini sudah tersiar?" Sai-hoa-to menegas dengan air muka berubah.

Wi-ho Lo-jin mengangguk, katanya kepada Su-Kiam-eng, "Coba ceritakan lanjutannya, nak!"

Su-Kiam-eng menghela napas perlahan ucapnya, "Setelah kami menerima surat terakhir su-heng itu, sungguh rasa cemas kami sukar dilukiskan, tapi lantaran kami tidak tahu persis tempat su-heng menghadapi bahaya, pula dari nada isi suratnya, agaknya dia sudah tiba sampai di titik yang sukar dipertahankan lagi, jangankan dalam waktu singkat tidak mungkin kami menuju ke Mo-pan-san yang terletak beribu li jauhnya, seumpama dapat mencapai tempatnya juga sukar menemukan su-heng di tengah hutan belukar seluas itu. Sebab itulah terhadap nasib su-heng yang sedang menghadapi maut itu terpaksa aku tidak mampu berbuat apa pun.

"Dengan sendirinya pernah aku mohon agar Su-hu mengizinkanku pergi ke Mo-pan-san untuk mencari su-heng, waktu itu su-hu pun bermaksud meluluskan, tapi pada saat itu juga tiba-tiba kami dengar ada orang menemukan sepotong Jian-lian-ho-siu-oh (bahan obat Ho-siu-oh berumur ribuan tahun) di Tong- pek-san, su-hu menganggap Ho-siu-oh sebagus itu juga dapat menyembuhkan penyakit In-Ang-bi, maka su-hu lantas mengajak wan-pwe menuju ke sana. Siapa tahu setiba di Tong-pek-san, baru diketahui berita tentang ditemukannya Ho-siu-oh itu cuma isyu belaka, tentu saja kami sangat kecewa. Lantaran itu kami telah membuang waktu tiga bulan dengan percuma, maka su-hu lantas mengutamakan menyuruh wan-pwe mencari jejak su-heng di Mo-pan-san sekaligus juga mencari Jian-lian-hok-leng.

Akan tetapi ketika kami pulang dari Tong-pek-san, sampai di rumah kami justru menemukan sesuatu peristiwa aneh."

"Peristiwa aneh apa?" cepat Sai-hoa-to menegas.

"Kami menemukan tulisan yang ditulis su-heng di dinding kediaman kami." "Hah, maksudmu su-heng mu tidak meninggal?" seru Sai-hoa-to.

"Betul, " tutur Su-Kiam-eng dengan prihatin."Cuma tulisan di dinding itu bukan tulisan tangan su-heng melainkan diuraikan oleh su-heng dan ditulis oleh seorang perempuan."

"Oo, jadi tulisan itu palsu?" tanya Sai-hoa-to.

"Tidak palsu, meski tulisan di dinding itu bukan ditulis sendiri oleh su-heng, namun pada akhir tulisan itu ada kode istimewa, kode itu hanya diketahui oleh kami bertiga antara guru dan murid. Sebab itulah dapat dipastikan tulisan itu asli diuraikan oleh su-heng dan ditulis oleh seorang lain."

"Mengapa su-heng mu tidak menulis sendiri?" tanya Sai-hoa-to.

"Sebab su-heng sudah berubah menjadi seorang cacat buntung kaki dan tangan!" "Hahh, mengapa bisa begitu?"

"Begini bunyi tulisan di dinding itu. 'Su-hu tentu tidak menyangka te-cu dapat pulang ke rumah dengan hidup? Ya, bilamana tidak ditolong oleh Kalana yang berbudi, tentu te-cu sudah terkubur di tengah hutan belukar daerah liar sana. Hari ini, dengan penuh rasa gembira te-cu dapat pulang kemari, namun ternyata Su-hu dan Kiam-eng Su-te tidak berada lagi di sini, aku yakin kalian pasti menerima surat dan peta bumi yang aku kirim pulang itu dan sekarang telah berangkat ke sana untuk mencari ... bukan?' ..."

"Mencari apa lanjutannya?" tanya Sai-hoa-to.

"Dengan sendirinya Kota Emas yang dimaksud, cuma kedua huruf itu sudah dihapus orang!" "Oo, siapa yang menghapusnya!"

"Entah. Pada akhir tulisan su-heng itu diberi tanggal 28 bulan 11, sedangkan kami pulang sampai di rumah adalah tanggal 2 bulan 12. Itu berarti empat hari sesudah su-heng meninggalkan tulisan itu kami lantas sampai di rumah juga. Dan di dalam empat hari itu pasti ada orang persilatan masuk juga tempat hunian kami dan menghapus kata-kata yang penting pada tulisan su-heng itu. Apa yang diperbuat orang itu tentunya sengaja membuat kami guru dan murid tidak tahu bahwa su-heng menemukan kota emas dengan harta karunnya."

"Hm, jika begitu, peta bumi yang dikirim su-heng mu itu pasti telah didapatkan oleh orang itu." "Ya, aku pun berpikir begitu."

"Apakah cuma begitu saja tulisan di dinding itu?"

"Tidak, ada lanjutannya, begini tulisnya 'Sungguh bagus sekali, asalkan kalian mencarinya menurut peta, pasti ... itu akan ditemukan dan juga Jian-lian-hok-leng yang te-cu simpan di ... itu, dengan demikian tidak sia-sia pengalaman pahit te-cu.'" "Su-hu, bilamana engkau dan Kiam-eng pulang dari ... dan membaca tulisan di dinding ini, tentu kalian akan merasakan tulisan ini bukan tulisan tangan te-cu. Memang betul, tulisan ini memang ditulis oleh Kalana, yaitu lantaran sesuatu sebab, te-cu kini sudah berubah menjadi orang cacat buntung tangan dan kaki, karena itulah te-cu sudah putus asa, tapi lantaran cinta Kalana yang teguh dan murni membuat te- cu tidak sanggup meninggalkan dia, maka selanjutnya te-cu akan menyambung sisa hidup di bawah perawatan Kalana."

"Untung juga ... yang kami bawa dari ... ini rasanya cukup untuk bekal selama hidup kami. Tentu Su-hu sangat ingin tahu sebab musabab cacatnya te-cu. Namun te-cu tidak ingin memberi tahukan hal ikhwal ini, pula te-cu tidak ingin bertemu lagi dengan kalian, Kalana sudah memutuskan akan membawa te-cu mengasingkan diri ke suatu tempat yang terpencil, harap Su-hu menganggap te-cu sudah meninggal saja!' ..."

Sampai di sini tanpa terasa air mata Su-Kiam-eng bercucuran, duka luar biasa. "Sudah habis?" tanya Sai-hoa-to.

"Ya, cuma sekian, " Kiam-eng mengangguk.

"Dan kamu lantas mulai mencari su-heng mu Gak-Sik-lam ke mana-mana?"

Kembali Kiam-eng mengangguk, "Ya, sebab pada hakikatnya kami tidak pernah menerima peta bumi yang dikirim su-heng itu, dengan sendirinya kami pun tidak mampu menemukan kota emas itu, sebab itulah wan-pwe bertekad menemukan kembali su-heng, dengan sendirinya tujuan kami bukan mengenal kota emas dan ilmu pedang sakti, kami cuma menghendaki Jian-lian-hok-leng yang ditinggalkan su-heng di kota emas itu. Kami menganggap membuat pulih kesehatan In-Ang-bi jauh lebih berharga dari pada mendapatkan kota emas itu."

Sai-hoa-to manggut-manggut, katanya dengan gegetun, "Ya jiwa luhur kalian guru dan murid sungguh membuatku malu dan juga kagum. Tapi kedatangan Su-lau-te menemuiku ini, jika maksudmu meminta aku obati penyakit anak perempuan itu maaf, terpaksa harus aku katakan aku pun tidak sanggup. Sebab seperti apa yang dikatakan gurumu, penyakit anak perempuan hanya dapat disembuhkan dengan obat campuran Jian-lian-hok-leng atau Ho-siu-oh."

"Eh, jangan terburu-buru, Sim tua, " tukas Wi-ho Lo-jin dengan tertawa. "Yang diminta adalah bantuanmu untuk mencari su-heng nya dan bukan minta tolong mengobati anak perempuan she In itu."

Sai-hoa-to melengak, "Minta bantuanku mencari su-heng nya?"

"Betul, entah sebab apa, misteri tentang su-heng nya menemukan kota emas di tengah rimba purba dan pulangnya dia ke Tiong-goan mulai diketahui orang luar. Karena itulah banyak tokoh dari berbagai kalangan lama ingin mencari su-heng nya dan memaksa dia menceritakan di mana letak kota emas.

Malahan melihat gelagat akhir-akhir ini, sangat mungkin su-heng nya telah jatuh dalam cengkeraman seorang tokoh tertentu ..."

"Tapi aku kau tidak tahu su-heng nya berada dalam cengkeraman siapa, cara bagaimana dapat aku bantu dia?" ujar Sai-hoa-to dengan bingung.

"Sim tua, engkau dapat membantunya, jika mau cukup engkau mengangguk saja, " ujar Wi-ho Lo-jin dengan tersenyum.

******

Lewat lohor esoknya, Bu-lim-teh-co yang terletak di depan Wi-ho-lau itu kembali ramai lagi serupa rumah minum yang lain.

Satu-satunya perbedaan antara Bu-lim-teh-co dengan rumah minum lain adalah tamu Bu-lim-teh-co kebanyakan terdiri dari tokoh bu-lim, maka langganan tetap tidak banyak, yang masuk keluar hampir seluruhnya berwajah asing.

Akan tetapi dalam pandangan pelayannya hari ini justru ada sebuah wajah yang cukup dikenalnya. Dia bukan lain daripada orang yang kemarin juga datang minum, orang yang membunuh Su-Jit dengan jarum berbisa, kemudian mencari keterangan alamat Sai-hoa-to kepada Wi-ho Lo-jin dan mengaku sebagai murid Ban-hoa-to Pok-Hong-tai serta memperkenalkan namanya sebagai Ih-Wan-hui itu. Pagi-pagi dia sudah datang di Bu-lim-teh-co, setelah tegur sapa dengan Wi-ho Lo-jin segera ia ambil tempat duduk di suatu sudut sana dan berlangsung sampai sekarang.

Wi-ho Lo-jin sendiri, seperti biasa, setelah tidur siang, kembali ia muncul lagi di ruang depan rumah minumnya serta menegur sapa dengan kawan bu-lim yang menjadi langganannya. Akhirnya ia mendekati Ih-Wan-hui yang berjuluk Thi-kut alias tulang besi, tanyanya dengan tertawa, "Apakah sudah makan siang?"

Ih-Wan-hui menjawab dengan hormat, "Sudah, tentu Wi-lo-cian-pwe juga sudah makan."

Wi-ho Lo-jin mengangguk, ia pandang keluar rumah minum, katanya, "Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho yang kau tunggu itu biasanya muncul pada waktu seperti sekarang ini, bilamana sebentar lagi tidak datang ... aha, itu dia, baru datang ... Lihat, itu orang tua yang berbaju tambalan itu."

Benar juga, si tabib sakti Sim-Tiong-ho saat memang sedang memasuki rumah minum. Ia seperti sudah mempunyai tempat duduk yang tetap, begitu masuk langsung ia menuju ke sebuah meja yang terletak bagian dalam di sebelah kanan.

Cepat Wi-ho Lo-jin berseru, "Hei, Sim tua, duduklah kemari!" Sai-hoa-to berpaling dan bertanya, "Ada urusan apa?"

Wi-ho Lo-jin menuding Ih-Wan-hui yang duduk bersamanya, "Ih-lau-te ini hendak mencarimu, dia sudah menunggu sejak kemarin."

Sai-hoa-to memandang Ih-Wan-hui sekejap, lalu mendekat sambil menanggalkan caping dan ditaruh di atas meja, dipandangnya pula Ih-Wan-hui, lalu memandang juga Wi-ho Lo-jin, tanyanya, "Ada urusan apa mencari diriku?"

Lebih dulu Wi-ho Lo-jin memperkenalkan mereka berdua, lalu berkata kepada Sai-hoa-to, "Menurut cerita Ih-lau-te ini, gurunya Pok-tai-hiap, terserang penyakit gas racun, maka hendak minta pertolonganmu untuk mengobatinya, sejak kemarin ..."

"Tidak, letak Soa-sai terlalu jauh, aku tidak dapat pergi ke sana, " potong Sai-hoa-to sebelum ucapan Wi- ho berakhir.

"Eh, biasanya Sim tua terkenal lebih unggul daripada tabib lain, baik ilmu pertabiban maupun cara pelayanannya. Mengapa sekarang kau tolak menolong orang?" ujar Wi-ho Lo-jin.

Dengan santai Sai-hoa-to menjawab, "Letak Soa-sai hampir ribuan li jauhnya, pergi-pulang sedikitnya diperlukan waktu sebulan. Coba pikir, dalam waktu sebulan bukankah dapat aku tolong orang sakit terlebih banyak di sini?"

"Sin-lo-cian-pwe, " mohon Ih-Wan-hui dengan sangat, "kedatanganku dari jauh ini, bila tidak berhasil mengundang Sim-lo-cian-pwe ke sana, sungguh Cai-he malu untuk pulang lagi ke rumah. Maka sedapatnya mohon Sim-lo-cian-pwe suka mengingat sedikit kebaktianku terhadap guru ini, apa pun juga mohon Sun-lo-cian-pwe sudi berangkat ke Soa-sai untuk mengobati penyakit guruku, sungguh budi kebaikanmu tentu takkan kami lupakan, tentang biaya pasti juga akan kami tanggung sepenuhnya."

Sai-hoa-to melirik Wi-ho Lo-jin sekejap, katanya kemudian, "Ehmm, umpama dapat aku sembuhkan penyakit gurumu, kira-kira kau berani bayar berapa?"

"Silakan Lo-cian-pwe menyebutkan saja jumlahnya, " kata Ih-Wan-hui.

"Ucapanmu agak kurang jelas, " ujar Sai-hoa-to. "Lebih baik kita pastikan saja honorarium yang harus kau bayar."

"Jika begitu, hendaknya Sim-lo-cian-pwe jangan sungkan, silakan mengatakan jumlahnya, " kata Ih- Wan-hui.

"Coba katakan dulu, gurumu terkena penyakit gas racun apa?" tanya Sai-hoa-to.

"Hal ini pernah kami minta keterangan beberapa tabib setempat, ada yang bilang racun ini dan ada yang mengatakan racun itu, tapi obat yang diberikan tidak ada yang manjur. Sebab itulah sesungguhnya terkena gas racun apa sukar untuk aku katakan." Sai-hoa-to manggut-manggut dan berpikir sejenak, aku tanya kemudian, "Wah, tentu gas racun yang sangat lihai. Begini saja, gurumu juga tokoh bu-lim yang dihormat dan disegani, mengingat sesama kaum, biarlah aku hitung agak ringan, boleh kalian bayar saja seribu tahil perak."

"Baik, " jawab Ih-Wan-hui tanpa ragu sedikitpun, "asalkan penyakit guruku dapat disembuhkan, biarpun tambah lagi sedikit juga tidak menjadi soal."

"Dan, dari jumlah tersebut harus dibayar separuh lebih dulu, " sambung Sai-hoa-to.

Segera Ih-Wan-hui mengeluarkan lima potong emas murni dan disodorkan kepada Sai-hoa-to, katanya, "Ke lima potong emas ini kalau di nilai dengan perak tepat berjumlah 500 tahil, harap lo-cian-pwe menerimanya."

Tanpa sungkan Sai-hoa-to menerima ke lima potong emas itu dan disimpan dalam baju, lalu ia tanya pelayan yang datang menuang teh, "Li-Hok, mengapa hari ini tidak aku lihat bocah Su-Jit itu?"

"Kiranya Sim-lo-ya-cu belum tahu, Su-Jit sudah mati dianiaya orang kemarin, " tutur si pelayan bernama Li-Hok dengan sedih.

"Hahh, apa betul?" seru Sai-hoa-to kaget dan memandang Wi-ho Lo-jin.

"Betul, " jawab Wi-ho Lo-jin dengan menghela napas duka. "Begini peristiwanya ..." Lalu ia ceritakan apa yang terjadi kemarin.

Sai-hoa-to menggeleng kepala penuh penyesalan, ucapnya, "Ini namanya penyakit masuk melalui mulut, petaka timbul dari mulut. Jika kalian dapat meniru diriku, setiap hari selain mengobati orang dan mencari duit, terhadap urusan lain tidak perlu tahu, kan segalanya menjadi aman tentram?"

Tampaknya Ih-Wan-hui tidak tertarik untuk membicarakan kejadian kemarin, segera ia menukas, "Sim- lo-cian-pwe, ada suatu permohonanku yang kurang pantas ..."

"Urusan apa?" potong Sai-Hoa-To.

"Penyakit guruku terasa sudah gawat, apakah lo-cian-pwe sudi segera berangkat bersamaku?" Sai-hoa-to tertawa, "Paling cepat kan juga perlu tunggu selesai aku minum teh dulu?"

Ih-Wan-hui tidak berani banyak omong lagi, ia mengangguk, "Ya, tentunya lo-cian-pwe juga perlu pulang dulu untuk bebenah."

"Tidak perlu, sepanjang tahun selalu beginilah pakaianku, bilamana mengobati orang juga aku laksanakan di tempat, obat kan terdapat di mana-mana, maka tidak pernah aku bawa peti obat segala."

Segera Wi-ho Lo-jin menukas, "Begitulah tabib sakti kita ini memang punya kepandaian sejati, sama sekali berbeda daripada tukang obat dunia kang-ouw umumnya, untuk ini Ih-lau-te tidak perlu kuatir."

"Betul, " sambung Ih-Wan-hui, "sudah sering aku dengar Sim-lo-cian-pwe sanggup menghidupkan orang mati, terlebih dalam hal mengobati keracunan bahkan sukar ada tandingannya ..."

Sampai di sini, ia pandang Sai-hoa-to dan bertanya, "Apakah waktu muda Lo-cian-pwe dahulu pernah mengunjungi daerah selatan yang masih liar itu?"

Sai-hoa-to mengangguk, jawabnya dengan pongah, "Ya, malahan pernah aku tinggal di sana selama sepuluh tahun hingga cukup memahami segala macam gas racun."

"Wah, dapatkah Lo-cian-pwe memberi sedikit petunjuk, sesungguhnya gas racun itu benda macam apa?" tanya Ih-Wan-hui dengan rasa kagum.

Sai-hoa-to minum teh seceguk, lalu bertutur, "Gas racun artinya hawa beracun sangat banyak ragamnya dan kebanyakan ditemui di hutan belukar daerah panas. Dari berbagai macam gas racun itu terbagi pula gas racun berwujud dan tidak berwujud. Yang berwujud dapat berbentuk serupa kabut atau mega, yang tidak berwujud adalah sejenis bau busuk atau bau harum yang tersebar di udara dan menyerang orang tanpa dapat dijaga. Ada lagi sejenis gas racun maha lihai, ketika mula-mula berjangkit di tengah hutan belukar akan terpancar cahaya emas dan tersebar di udara bagai hujan, lalu tercerai-berai dan memancarkan cahaya aneka warna dengan bau harum merangsang, barang siapa mencium bau harum itu seketika akan keracunan, kalau berat bisa binasa seketika."

Ih-Wan-hui tampak sangat kagum oleh cerita tabib sakti itu, tanyanya pula, "Gas racun seperti apa yang digambarkan Lo-cian-pwe itu apakah tidak dapat ditangkal dengan obat?"

"Dapat, " jawab Sai-hoa-to. "Dahulu waktu aku tinggal di daerah selatan, pernah juga aku buat beberapa macam pil penangkal gas racun. Cuma obat ini hanya berguna bagi orang yang kenal berbagai jenis gas racun itu, bagi orang yang tidak tahu, biarpun aku beri obat penangkal racun itu juga percuma, sebab jenis gas racun itu tidak kau kenal, tentu kau pun tidak tahu harus menggunakan obat penangkal yang mana maka kendati kau bawa obat penangkalnya juga sama saja seperti tidak ada."

"Minum saja satu biji setiap macam obat penangkal itu, kan jadi?" kata Ih-Wan-hui. "Hm, enak saja kau bicara, " jengek Sai-Hoa-To.

"Setiap macam obat penangkal racun adalah obat berkadar keras, bila diminum seperti gagasanmu itu, sebelum kau mati kena gas racun sudah mati lebih dulu keracunan obat yang kau minum itu."

Ih-Wan-hui menjulurkan lidah, katanya, "O, kiranya demikian, Cai-he memang tidak paham soal obat- obatan, kalau tidak ada penjelasan Lo-cian-pwe sekarang, bisa jadi ... Eh, lo-cian-pwe, aku kira kira dapat berangkat sekarang?"'

Sai-hoa-to menghabiskan isi mangkuknya, ia ambil capingnya dan dipakai, lalu berbangkit dan berkata, "Baik mari berangkat!"

Segera Ih-Wan-hui mengucapkan terima kasih kepada Wi-ho Lo-jin dan membayarkan rekening minum Sai-hoa-to, habis itu baru mereka meninggalkan Bu-lim-teh-co.

Setelah meninggalkan rumah minum itu, segera Sai-hoa-to bertanya, "Ih-lau-te, cara bagaimana perjalanan kita ke Soa-sai ini?"

"Apakah Lo-cian-pwe biasa naik kuda?" tanya Ih-Wan-hui.

"Boleh juga, naik kuda akan jauh lebih enak daripada berjalan kaki, " ujar Sai-hoa-to.

"Jika begitu, setelah kita menyebrang sungai segera kita membeli kuda, " kata Ih-Wan-hui. Begitulah sambil bicara mereka terus meninggalkan Wi-go-san, setelah beberapa li menuju ke utara,

sampailah mereka di suatu jalan sunyi. Tiba-tiba Ih-Wan-hui menuding hutan tidak jauh di sebelah kiri sana dan berkata, "Lo-cian-pwe, marilah kita istirahat dulu di hutan sana."

"Hei, usiamu baru 40-an, terkenal sebagai murid Pok-Hong-tai yang disegani itu, mengapa baru menempuh perjalanan sekian jauh lantas merasa lelah?" tanya Sai-hoa-to.

"Ah, bukan lantaran lelah melainkan kemarin malam aku mondok di kelenteng bobrok dalam hutan sana, ada sesuatu barangku tertinggal di sana dan sekarang hendak aku ambil, " tutur Ih-Wan-hui jangan tertawa.

"Jika begitu, bolehlah sekalian kita istirahat dulu baru lewat lohor, panas sinar matahari memang menyengat, " Sai-hoa-to menyatakan setuju.

Masuk ke dalam hutan, benar juga terlihat sebuah biara bobrok, segera Ih-Wan-hui mendahului masuk ke situ, dari bawah meja sembahyang dikeluarkannya sebuah bungkusan. Lalu duduk di lantai, mengeluarkan handuk untuk mengusap keringat yang membasahi dahinya.

"Lo-cian-pwe tidak tampak berkeringat, suatu bukti memiliki lwe-kang luar biasa sungguh sangat mengagumkan, " katanya dengan tertawa.

Sai-hoa-to ikut duduk di lantai, jawabnya dengan tersenyum, "Ah, tidak berkeringat bukan lantaran lwe- kang ku tinggi melainkan karena ketenangan batin menjadi tubuh pun sejuk."

"Apakah dahulu Lo-cian-pwe pernah bertemu dengan guruku?" tanya Thi-kut Ih-Wan-hui, si tulang besi.

Sai-hoa-to menggeleng, "Belum pernah bertemu. Nama kebesaran gurumu sudah lama aku dengar, cuma sayang tidak sempat berkenalan langsung." Ih-Wan-hui memandang kanan-kiri beberapa kejap tiba-tiba ia tertawa dan berkata pula, "Ada suatu urusan hendak aku katakan terus terang, mohon nanti Lo-cian-pwe jangan marah."

"Oo, urusan apa?" Sai-hoa-to menegas dengan terbelalak.

"Begini, " ucap Ih-Wan-hui dengan tersenyum, "sesungguhnya cai-he bukan murid Ban-hoa-to Pok- Hong-tai dari Soa-sai, apa yang aku katakan di rumah minum itu semuanya cuma karangan belaka."

Seketika berubah air muka Sai-hoa-to dan serentak ia berdiri, katanya, "0, kiranya begitu. Memangnya antara kita pernah ada sesuatu sengketa?"

"Tidak pernah, hendaknya Sim-lo-cian-pwe jangan salah paham, " sahut Ih-Wan-hui sambil goyang- goyang kedua tangan.

"Jika tidak pernah bersengketa apa pun, mengapa kau tipu diriku ke sini, apa tujuanmu?" tanya Sai-hoa- to dengan gusar.

"Cai-he ingin membicarakan sesuatu urusan dengan Sim-lo-cian-pwe harap duduk saja agar dapat bicara dengan baik."

Sai-hoa-to mendengus, perlahan ia duduk kembali, dengan sikap bermusuhan katanya, "Jika kamu bukan murid Pok-Hong-tai, rasanya perlu aku belajar kenal dulu dengan namamu yang terhormat."

"Nama dan julukanku tidak palsu, cai-he memang benar Thi-kut Ih-Wan-hui adanya." "Tentunya juga kawan dari segolongan?" tanya Sai-hoa-to dengan ketus.

"Boleh juga dikatakan demikian. Tapi mohon Lo-cian-pwe percaya padaku, sama sekali tidak ada maksud jahat aku ajak Lo-cian-pwe ke sini."

"Baik, silakan bicara saja, sesungguhnya urusan apa yang hendak kau bicarakan denganku?"

"Kami ingin mengundang Lo-cian-pwe berangkat bersama ke suatu tempat dalam batas waktu setengah tahun, untuk itu kami sediakan honorarium 10 kati emas murni. Entah bagaimana pendapat Lo-cian- pwe?" tutur Ih-Wan-hui.

Sai-hoa-to terbelalak mendengar honorarium 10 kati emas murni itu, serunya tanpa terasa, "Hah, kau bilang 10 kati emas murni?"

"Betul, Lo-cian-pwe bersedia atau tidak?" Ih-Wan-hui mengangguk dengan tertawa.

Sampai sekian lama Sai-hoa-to termangu-mangu dengan terbelalak, katanya kemudian dengan ragu, "Kalian membayar honorarium sebanyak itu, memangnya urusan apa yang perlu aku kerjakan?"

"Mengobati kami, " jawab Ih-Wan-hui. "Apabila kami sakit, hendaknya Lo-cian-pwe mengobati kami, selain itu tiada pekerjaan lain lagi"

"Sungguh aku tidak paham, " Sai-hoa-to menggeleng kepala.

"Biarlah aku tuturkan terlebih jelas. Soalnya kami merencanakan menuju ke suatu tempat tertentu, tempat itu sangat berbahaya, sangat mudah terjangkit penyakit dan membuat orang mati. Sebab itulah kami merasa perlu membawa seorang tabib ternama dalam perjalanan bersama kami."

"Kalian hendak pergi ke mana?" tanya Sai-hoa-to.

Ih-Wan-hui menggeleng, "Hal ini baru akan aku beri tahukan apabila Lo-cian-pwe sudah menerima permintaan kami."

"Apa maksud tujuan kalian mendatangi tempat itu?"

"Begini, sebabnya kami mau membayar 10 kati emas murni sebagai honorariummu, maka ini pun merupakan suatu syarat, yaitu diharap Lo-cian-pwe jangan tanya urusan di luar tugasmu mengobati orang sakit. Tidak peduli apa yang Lo-cian-pwe lihat atau dengar, hendaknya dianggap tidak pernah lihat dan tidak pernah mendengar."

Kening Sai-hoa-to berkerenyit, "Hm, jelek-jelek aku pun cukup ternama, memangnya kalian ingin ..." "Jika kami tambah lima kati emas murni, Lo-cian-pwe bersedia atau tidak?" potong Ih-Wan-hui. "Bilamana tidak aku terima, lalu bagaimana?" tanya Sai-hoa-to.

Ih-Wan-hui tidak langsung menjawab, ia cuma tertawa dan berkata, "Dengan hati setulusnya aku harap Lo-cian-pwe jangan menolak."

"Jika aku diharuskan membuta dan bertuli, rasanya 15 kati emas murni menjadi tidak banyak ..." gumam Sai-hoa-to.

"Kalau aku tambah lagi lima kati, bagaimana?" Ih-Wan-hui menegas.

Sai-hoa-to mengusap jenggotnya sambil berpikir, jawabnya kemudian, "Lantas kapan kalian akan membayar 20 kali emas murni padaku?"

"Begitu genap jangka waktu setengah tahun, kontan kami bayar!" "Tapi kalau tiba saatnya kalian ingkar janji, lantas bagaimana?"

"Mutlak takkan terjadi demikian, " ujar Ih-Wan-hui dengan tertawa. "Meski kami tidak berani tepuk dada dan mengaku sebagai ksatria sejati tapi pasti juga kami bukan manusia yang tidak pegang janji. Bila lo- cian-pwe merasa sangsi, biarlah aku beri lagi 500 tahil perak dan menuliskan sehelai surat perjanjian."

Sai-hoa-to mengangguk perlahan, katanya "Tunggu sebentar, biar aku pertimbangkan dulu." Ih-Wan-hui tampak tidak sabar, terpaksa menjawab, "Baik, hendaknya lekas ambil keputusan."

Setelah termenung sejenak, tiba-tiba Sai-hoa-to berkata, "Begitu tiba jangka waktu setengah tahun, kalian yakin sanggup menyediakan 20 kati emas murni."

"Pasti dapat!" Ih-Wan-hui tegas.

Sai-hoa-to tersenyum, "Jika begitu, rasanya aku mulai paham urusannya. Tentu tempat yang hendak kalian datangi bersamaku itu, meski sangat berbahaya, tapi juga akan mendatangkan keuntungan yang sukar dinilai. Mungkin 20 kati emas murni yang hendak kalian bayar padaku itu cuma sekelumit saja daripada hasil yang akan kalian keduk itu. Betul tidak?"

"Ingat, Lo-cian-pwe, " ucap Ih-Wan-hui dengan serius. "20 kati emas murni bukan jumlah kecil. Jika kami tidak menemuimu, satu peser pun engkau tidak dapat. Pendek kata, kami berharap engkau menerima undangan kami. Paham tidak, Lo-cian-pwe?"

"Aku paham, " Sai-hoa-to mengangguk. "Dan engkau setuju tidak?"

"Tidak."

Berubah air muka Ih-Wan-hui, ia menegas dengan tertawa seram, "Apa pun engkau tidak mau terima?"

"Tidak, " jawab Sai-hoa-to dengan santai. "Aku hanya mau terima bilamana persyaratannya sudah disetujui kedua pihak."

Mendadak Ih-Wan-hui menggebrak lantai, teriaknya dengan gusar, "Apa? Memangnya 20 kali emas murni masih kau anggap sedikit?"

Ia menepuk lantai tidak terlalu keras, akan tetapi ubin lantai serupa dipukul dengan palu dan hancur seketika.

Namun Sai-hoa-to tidak gentar sedikit pun, jawabnya dengan tersenyum, "Betul, 20 kati emas murni bagiku terasa terlalu sedikit."

Air muka Ih-Wan-hui menampilkan nafsu membunuh, tampaknya hendak menggunakan kekerasan, tapi entah teringat apa, akhirnya tidak jadi berdiri, ia hanya mendengus saja, "Hm, jika begitu berapa kau minta?" "Ingin aku tahu lebih dulu, seluruhnya kalian berjumlah berapa orang?" "Tiga, selain beberapa orang kuli."

"Baik begini syaratku Kalian harus mengakui diriku sebagai salah seorang anggota, keuntungan yang akan diperoleh dibagi empat. Selain itu kalian juga harus beritahukan lebih dulu padaku tempat yang akan didatangi dan barang yang dicari."

Belum lenyap suaranya, mendadak di luar kelenteng ada orang membentak, "Jangan turun tangan dulu, Sam-te!"

Cepat orang itu bersuara, namun gerakan Ih-Wan-hui terlebih cepat, terlihat tangan kanannya terayun ke depan, sebatang jarum hitam sudah menyambar ke depan tenggorokan Sai-hoa-to.

Namun Sai-hoa-to sempat sedikit mendoyong ke belakang, sambil mendongak mulut pun mengap "krak", jarum hitam yang menyambar tiba dapat digigitnya terus ditumpahkan ke lantai, katanya dengan tertawa, "Ai, Ih-lau-te, hendaknya jangan terlalu keji begitu!"

Ih-Wan-hui hanya mendengus saja dan tidak menyerang pula, sebab pada saat itu juga dari pintu samping kanan-kiri telah menyelinap masuk dua orang.

Kedua pendatang ini yang seorang berusia 50 an, alis tipis dan jenggot pendek, perawakan kurus kecil, memakai jubah warna kelabu agak kedodoran sehingga kelihatan lucu. Seorang lagi berumur 46 47 tahun, alis tebal dan mata elang, muka lebar dan hidung pesek. Bertubuh kekar kuat, berbaju ringkas ketat, sepasang tumbak pendek terselip di punggungnya, sikapnya gagah dan garang.

Begitu melihat kedua orang ini, seketika hati Sai-hoa-to terkesiap, ia pandang si kakek berjubah longgar itu dan menyapa, "Hei, bukankah anda ini ketua Hing-ih-bun, Coa-hun-jiu Bun-In-tiok?"

Memang benar, orang tua ini memang betul ksatria perguruan Hing-ih-bun bernama Bun-In-tiok dan berjuluk Coa-hun-jiu, si tangan peraih awan.

Menurut pandangan dunia persilatan umum nya, apa yang disebut Ciang-bun-jin atau ketua ke-12 perguruan besar, yaitu Siau-lim, Bu-tong, Hoa-san, Cong-lam, Khong-tong, Go-bi, Jing-sia, Tiang-pek, Tiam-jong, Thai-kek dan Hing-ih-bun, tiada seorang pun di antaranya tergolong tokoh jahat.