Pukulan Naga Sakti Jilid 43

 
Jilid 43

Sejak kecil Thi Eng khi sudah dididik secara ketat untuk menjadi seorang anak yang disiplin, sekalipun dia merasa punya banyak alasan untuk membantah, namun ia tak berani berbuat demikian dihadapan kakeknya, maka untuk sesaat dia menjadi terbungkam dan menundukkan kepalanya rendah rendah.

Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan Keng thian giok cu Thi Keng benar benar memberi nasehat kepada Thi Eng khi dia menjadi tak tega, buru buru serunya lagi:

“Thi tua, kau jangan salah menegurnya, perkataan siaute belum selesai diutarakan.” Keng thian giok cu Thi Keng sendiripun tidak tega setelah melihat keadaan dari Thi Eng khi maka setelah menghela napas, katanya :

“Moga moga saja kau tidak melakukan perbuatan salah!”

Kemudian sambil berpaling kembali, dia siap mendengarkan perjelasan dari Bu im sin hong Kian Kim siang. Secara ringkas Bu im sin hong Kian Kim siang segera menceritakan bagaimana Thi Eng khi tak segan segan mengorbankan tenaga dalamnya dengan bantuan rangsangan dari tusukan jarum emas untuk menolong orang bahkan tak mau menuruti nasehatnya dengan bersikeras hendak berangkat ke Ban seng kiong tanpa melepaskan jarum emas tersebut.

Keng thian giok cu Thi Keng adalah manusia yang berpengalaman sangat luas kecuali Hian im Tee kun, tiada orang kedua yang mampu menandinginya. Selesai mendengarkan penjelasan dari Bu im sin hong Kian Kim siang, dia baru mengerti bahwa Thi Eng khi bukanlah manusia tekebur yang suka bersikap sombong.

Maka sambil menarik muka dan airmata bercucuran karena terharu, katanya :

“Eng khi, apakah kau tak dapat beristirahat lebih awal?”

Dengan semangat berkobar Thi Eng khi segera berkata : “Jago jago yang berpihak Ban seng kiong banyak sekali,

sedangkan Hian im Tee kun adalah manusia licik yang sangat berbahaya, cucunda benar benar tak tega membiarkan mereka bertarung sendiri!”

Keng thian giok cu Thi Keng segera manggut manggut. “Walaupun ucapanmu benar, namun kau toh tak berkemampuan

lagi untuk melangsungkan pertarungan, sekalipun tak lega hati,

apapula yang dapat kau lakukan?”

“Seandainya Ban seng kiong menurunkan segenap jago lihaynya, adakah kesempatan bagi pihak jago kita untuk memperoleh kemenangan ?” Sudah cukup lama Keng thian giok cu Thi Keng mengendon dalam istana Ban seng kiong, terhadap kekuatan yang sesungguhnya dari pihak lawan boleh dibilang jelas sekali. Dia memandang sekejap ke arah wajah kawanan jago tersebut, lalu sahutnya :

“Kalau berbicara menurut kekuatan yang kita miliki sekarang, nampaknya kecil sekali harapan kita.”

Tapi setelah berhenti sejenak tiba tiba dia berkata lagi dengan lantang :

“Namun yaya berempat telah bersumpah hendak beradu jiwa dengan Hian im Tee kun, kami akan melawan terus sampai titik darah penghabisan, asal Hian im Tee kun sudah mati, walaupun kekuatan dari para jago sekarang belum mampu mengungguli mereka paling tidak kita dapat menggempur pihak Ban seng kiong sehingga terluka parah dan tidak membahayakan dunia persilatan lagi.”

“Kalau toh kita berhasrat untuk beradu jiwa dengan musuh, mengapa cucunda hidup sendiri? Dan apa pula bedanya untuk mencabut keluar jarum emas tersebut sekarang atau jauh lebih lambat beberapa saat.”

Yaa, berbicara yang sebenarnya, kalau toh mereka sudah dihadapkan pada situasi untuk adu jiwa bersama sama, kendatipun jarum emas tersebut dicabut sekarang, begitu pertarungan berkobar, diapun tidak akan lolos dari tangan keji pihak Ban seng kiong. Alasan ini sangat sederhana, sudah barang tentu Keng thian giok cu Thi Keng cukup memahaminya. Bukan hanya begitu, bahkan Ci kay taysu dan Ci liong taysu dari Siau lim pay, Keng it totiang dan Keng ning totiang dari Bu tong pay serta Pit tee jiu Wong Tin pak serta Ngo liu sianseng Lim Biau lim yang belum pulih kekuatan tenaga dalam nya tak akan lolos pula dari musibah tersebut.

Akan tetapi didalam kenyataan, Thi Eng khi bukannya belum pernah berpikir sampai ke arah kegagalan, namun setelah menyaksikan keadaan di depan mata, dia merasa kawanan jago dari kaum lurus masih mempunyai beberapa syarat baik untuk meraih kemenangan dengan andalkan jumlah yang kecil. Ditambah pula rencana matang yang telah dipersiapkan sebelumnya, dia merasa berkemampuan untuk menghajar pihak Ban seng kiong sehingga tercerai berai.

Namun berhubung tenaga dalam yang dimiliki ketiga orang tua itu sudah pulih, dengan hadirnya angkatan tua di situ, tentu saja ia merasa sungkan untuk mengambil oper kedudukan pemimpin tersebut, tentu saja diapun merasa sungkan untuk memberitahukan maksud hatinya itu.

Maka diapun memutuskan untuk menghadapi situasi menurut keadaan waktu itu, kemudian baru melakukan tindakan tindakan selanjutnya. Tapi, diapun tak bisa tidak untuk menyusun suatu alasan yang cukup kuat untuk menanggulangi situasi yang sedang dihadapnya sekarang. Tentu saja tindakan semacam ini akan sangat merugikan tenaga dalamnya yang sudah berkurang, tapi untung saja dia berhasil melatih tubuh yang kuat. Paling tidak dia hanya akan merasakan tersiksa berapa waktu, karena cepat atau lambat tenaga dalamnya toh akan pulih kembali seperti sedia kala.

Sudah barang tentu Keng thian giok cu Thi Keng bisa menduga maksud hati Thi Eng khi, setelah mendengar jawaban dari si anak muda tersebut, sambil tertawa terbahak bahak katanya :

“Kian lote, ucapan anak Eng memang benar dan hanya berbuat beginilah dia baru bisa disebut anak keturunan keluarga Thi, kau tak perlu membujuknya lagi.”

Kemudian dengan wajah serius dia berkata lagi kepada Thi Eng khi :

“Yaya lebih suka menyaksikan kau mati karena kehabisan tenaga daripada membiarkan kau hidup tanpa berbuat apa apa, walaupun kau sudah tak mampu lagi untuk bertarung melawan kaum iblis dari Ban seng kiong, namun dengan kemampuan yang kau miliki masih dapat mengawasi keadaan situasi, bahkan setiap saat kau bisa mempergunakan otakmu untuk menunjukkan kelemahan musuh, dengan memperbaiki kekurangan di pihak kita dan menunjukkan titik kelemahan musuh, pihak kita pasti akan beruntung sekali. Moga moga kau bisa baik baik mengatur diri.” Ucapan tersebut memang cocok sekali dengan tujuan utama Thi Eng khi, maka dia mengangguk berulang kali :

“Petunjuk yaya memang sangat tepat, cucunda akan melaksanakannya dengan sepenuh tenaga!”

Mendengar perkataan mana, Keng thian giok cu Thi Keng segera tertawa terbahak bahak.

“Haaahhh… haaahhh…. Haaahhh…. saudara sekalian, kita harus segera berangkat naik ke atas bukit.”

Segenap jago mengiakan dan bersama sama berangkat ke istana Ban Seng kiong di atas bukit. Tatkala semua orang sampai di depan pintu gerbang istana Ban seng kiong di puncak Wong soat hong, tanpa terasa serentak berhenti dan saling berhadapan dengan wajah tertegun. Rupanya lapangan di depan Ban seng kiong sudah dipenuhi oleh bayangan manusia yang berlapis lapis, mereka membentuk lingkaran yang meninggalkan sebidang tanah kosong tepat menghadap ke depan pintu.

Dengan demikian, apabila orang hendak memasuki pintu gerbang tersebut, maka mereka harus melalui celah sempit diantara kerumunan manusia tersebut. Ditinjau dari barisan tersebut, tampaknya bila para jago berani memasuki lingkaran manusia itu maka lebih banyak bahayanva daripada keberuntungan. Tapi jikalau para jago tak berani memasuki lingkaran manusia itu, berarti mereka sudah dibikin keder oleh orang orang Ban seng kiong, atau dengan perkataan lain mereka tak akan punya muka untuk bermusuhan lagi dengan Hian im Tee kun.

Tindakan yang dilakukan pihak Ban seng kiong ini benar benar menempati posisi yang menguntungkan sekali, baik dalam hal jumlah orang, tempatnya maupun keadaannya. Sementara para jago masih saling berhadapan dengan wajah terkejut dan tak tahu bagaimana harus menghadapi situasi semacam itu, mendadak dari depan pintu menyelinap keluar Sau tee si bun(sastrawan penyapu lantai) Lu Put ji. Dengan sepasang mata memandang ke atas dan hidungnya seakan akan dirambati ular, dia mendengus berulang kali, kemudian berkata :

“Tee kun ada perkataan yang hendak disampaikan kepada kalian, bila kamu semua beranggapan kurang kuat untuk menghadapi kami, tak ada salahnya untuk menunda pertarungan ini sampai lain waktu. Hari ini kamipun tak akan mencari keuntungan dengan jumlah yang banyak, kami bersedia memberi sebuah jalan kehidupan untuk kalian semua.”

Kalau didengar dari nada suaranya, jelas dia memandang rendah dan memandang hina terhadap para jago. Padahal kawanan jago yang berkumpul di situ kalau bukan ciangbunjin suatu partai besar, tentulah seorang enghiong hohan yang tak pernah memandang serius soal mati hidup, sebelum datang ke Ban seng kiong bahkan mereka sudah bertekad untuk tidak kembali sebelum berhasil. Tentu saja mereka tak akan mendiamkan perkataan dari Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji yang jelas jelas bernada menghina itu….

Memandang sikap tengik dari sastrawan penyapu lantai Lu Put ji, Keng thian giok cu Thi Keng tertawa dingin tiada hentinya sebelum ia sempat berbicara, Bu im sin hong Kian Kim siang telah menyelinap keluar lebih dulu.

Sebagaimana diketahui, ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im milik Bu im sin hong Kian Kim siang merupakan suatu kepandaian yang tiada tandingannya di dunia ini, apalagi waktu itu sastrawan penyapu lantai Lu Put ji sedang memandang ke atas, dia tidak menyangka kalau musuh akan mendekatinya. la baru terperanjat setelah di hadapan mukanya tahu tahu sudah bertambah dengan seorang manusia, dengan cepat dia mundur selangkah ke belakang, kemudian serunya agak gugup :

“Kau….”

Bu im sin hong Kian Kim siang tidak memberi kesempatan baginya untuk berbicara, jari tangannya segera menyodok ke muka secepat kilat menotok jalan darah bisunya. Kemudian lengannya diputar dan membanting sastrawan penyapu lantai Lu Put ji keras keras ke atas tanah, bentaknya dengan suara menggeledek : “Kau harus merangkak di muka kami!”

Sesungguhnya sastrawan penyapu lantai Lu Put ji memiliki kepandaian silat yang terhitung lumayan namun dibawah serangan Bu im sin hong Kian Kim siang yang begitu cepat, dia sama sekali tak berkesempatan lagi untuk mengeluarkannya. Begitu selembar bibirnya yang lihay terbungkam oleh serangan Bu im sin hong Kian Kim siang, kontan saja dia mati kutu, sebab kalau dia disuruh berhadapan secara laki laki, tiada kemampuan yang bisa diandalkan.

Kini, dia benar benar ketakutan, sekujur tubuhnya gemetar keras karena ketakutan bahkan air mata pun bercucuran dengan derasnya. Dengan melakukan ancaman dengan telapak tangannya, Bu im sin hong Kian Kim siang segera membentak :

“Jika kau tak ingin segera mampus, ayo cepat merangkak didepan kami!”

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji memang seorang pengecut yang takut mampus, dia benar benar kuatir jika Bu im sin hong Kian Kim siang benar benar melancarkan serangannya. Dengan gugup dia menganggukkan kepalanya berulang kali kemudian merangkak didepan para jago dan menghantar musuh musuhnya memasuki lingkaran kepungan.

Anggota Ban seng kiong ternyata membawa musuhnya masuk ke gedung dengan jalan merangkak, jelas peristiwa ini merupakan suatu penghinaan dan pukulan yang berat bagi pihak Ban seng kiong. Dalam keadaan seperti ini, kendatipun pihak Ban seng kiong berhasil membinasakan segenap jago yang hadir disitupun, kemenangan mereka sudah tidak gagah lagi.

Berbicara sesungguhnya, mungkin dari antara empat tokoh sakti yang hadir disana, hanya Bu im sin hong Kian Kim siang seorang yang bisa mempunyai ide dan melakukan hal semacam itu.

Hian im Tee kun yang menyaksikan kejadian tersebut segera mengerutkan dahinya, kemudian dengan ilmu menyampaikan suara katanya kepada kakek she Liu yang pernah bertarung mati matian melawan Bu Im itu : “Liu bun tongcu, cepat kau binasakan sastrawan penyapu lantai Lu Put ji, dia terlalu menghilangkan pamor kita, nama baik kita bisa hancur di tangannya...”

“Baik!” sahut kakek she Liu itu cepat.

Dengan langkan lebar dia segera berjalan menyambut kedatangan para jago. Thi Eng khi yang menyaksikan kejadian tersebut segera berbisik kepada Ciu Tin tin :

“Enci Tin, Hiam im Tee kun telah mengirim orang untuk membinasakan sastrawan penyapu lantai Lu Put ji.”

“Buat apa manusia semacam ini dibiarkan hidup terus di dunia ini? Biarkan saja dia mampus, apakah kematiannya patut disayangkan?”

Ciu Tin tin tertawa geli. Kembali Thi Eng khi tertawa.

“Kalau kita mempertahankan kehidupannya, maka kita pun bisa melalui dia untuk membuat malu orang orang Ban seng kiong, bahkan kalau bisa menyayat kulit muka gembong gembong iblis tersebut..”

“Adik, kau suruh aku melindungi keselamatan jiwanya?” kata Ciu Tin tin dengan kening berkerut.

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lagi : “Mengapa sih kau tidak menyuruh orang lain saja?”

Sudah jelas dia memandang hina sastrawan penyapu lantai Lu Put ji sehingga tak sudi untuk turun tangan. Thi Eng khi dapat menebak suara hati gadis itu, maka sambil tertawa dia berkata lagi :

“Saat ini diantara kita dan musuh, selain Hian im Tee kun hanya kepandaian silatmu seorang yang tiada tandingannya, aku minta kau turan tangan, bukan hanya untuk melindungi keselamatan sastrawan penyapu lantai Lu Put ji saja, yang lebih penting adalah menggunakan kemampuanmu yang lihay untuk memecahkan nyali orang orang Ban seng kiong agar mereka ketakutan dan ngeri sebelum bertarung, pukulan batin semacam ini pasti akan menguntungkan sekali pihak kita bila pertarungan massal sampai terjadi nanti.”

Mendengar ucapan tersebut, Ciu Tin tin segera tertawa.

“Adik Eng, kau tak usah mengumpak diriku, sekalipun kepandaian silatku tinggi semuanya ini berkat jasamu, kau tak usah kuatir, aku pasti akan berusaha dengan sepenuh tenaga dan tidak akan membuat kau kehilangan muka.”

Thi Eng khi tertawa.

“Siaute sudah mempunyai perhitungan yang cukup matang, bila kau bisa membuatku malu, tak nanti aku akan meminta bantuanmu.”

Ciu Tin tin segera beranjak dari tempatnya dan menyelinap ke belakang tubuh empat tokoh besar dunia persilatan itu. Dalam pada itu, kakek Liu berlagak tidak menggubris keadaan dari sastrawan penyapu lantai Lu Put ji, dia berjalan terus sehingga mendekati orang itu sampai jarak sepuluh langkah. Bu im sin hong Kian Kim siang tidak mengetahui apa maksud dari kehadiran kakek Liu tersebut, melihat dia berjalan mendekat, dengan suara lantang segera tegurnya :

“Hei, orang she Liu, kau bukan tandinganku, kalau tahu diri cepat cepatlah mengundurkan diri.”

“Lohu Kui im cu (si bayangan setan) Liu Biau, sudah lama kudengar tentang kelihayan ilmu meringankan tubuh Hu kong keng im dari kau si Kian tua, beranikah kau beradu ilmu meringankan tubuh denganku?”

Dengan mengandalkan ilmu gerakan tubuh setan gentayangan atau Kui pok sin hoat, si bayangan setan Liu Biau sudah malang melintang dalam dunia persilatan selama hampir lima puluh tahun lamanya, selama ini orang mengakui ilmu meringankan tubuhnya merupakan kepandaian yang hebat. Bu im sin hong Kian Kim siang sudah puluhan tahun lamanya terkurung di atas puncak Sam liu hong, sudah barang tentu tidak kenal dengan orang ini. Sambil tertawa dingin segera serunya :

“Kepandaianmu belum pantas untuk diadu dengan kemampuanku!”

Tentu saja si bayangan setan Liu Biau bukan bersungguh hati hendak beradu ilmu meringankan tubuh Bu im sin hong Kian Kim siang, sesungguhnya dia hendak memecahkan perbatian Bu im sin hong Kian Kim siang saja agar dia mempunyai kesempatan yang baik untuk turun tangan terhadap sastrawan penyapu lantai Lu Put ji..

Sedangkan terhadap Keng thian giok cu Thi Keng sekalian bertiga, menurut apa yang diketahuinya merupakan orang orang yang sudah kehilangan tenaga dalamnya, sehingga tak perlu dirisaukan lagi.

Oleh sebab itu, pada hakekatnya dia tidak memandang sebelah matapun terhadap ketiga orang itu. Dia tidak menjawab pertanyaan dari Bu im sin hong Kian Kim Siang, dengan mengandalkan Kui pok sim hoatnya dia berputar kencang dari kanan ke kiri. Bayangan tubuhnya segera berputar kencang mencapai delapan kaki dari permukaan tanah. kemudian dari kanan bergerak pula ke kiri, dari kiri ke kanan dengan suatu gerakan yang manis tahu tahu dia sudah balik kembali ke tempat semula. Dengan wajah tak berubah, katanya kemudian dengan suara sedingin es :

“Dengan mengandalkan kepandaian semacam ini, masa kau orang she Kian sanggup melakukannya?”

Mencorong sinar tajam dari balik mata Bu im sin hong Kian Kim siang setelah mendengar perkataan itu, katanya sembari manggut manggut berulang kali :

“Betul, gerakanmu ini bernama Im sian yang coan, memang kepandaian tersebut cukup disebut kepandaian sakti dalam dunia persilatan dewasa ini, namun tiada harganya sama sekali dalam kepandaianku.” “Setiap orang bisa berbicara mengibul, kepandaian sakti apa sih yang kau andalkan? Berani tidak kau perlihatkan kepadaku...?”

Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa terbahak bahak setelah mendengar perkataan tersebut.

“Haaahhh.... haaahhhh.... haaahhhh kau ingin menyaksikan

kepandaianku? Baik, untuk memberi muka untukmu, kau boleh mengajukan persoalan.”

Bayangan setan Liu Biau segera memutar otaknya sebentar, kemudian sambil membungkukkan badannya memungut sebutir batu, dia rnengerahkan tenaganya dan menghancurkan batu tersebut sampai dua puluhan butir, setelah dihitung sebentar, kata- nya kemudian :

“Dalam genggaman lohu sekarang terdapat dua puluh lima biji hancuran batu, dengan ilmu Boan thian hoa yu (hujan bunga memenuhi angkasa) lohu akan menyebarkan batu ini ke angkasa, bila batu tersebut sudah kusebarkan dan kau dapat mempergunakan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im untuk menangkap kembali ke dua puluh lima biji batu tadi, lohu akan mengakui dirimu sebagai jago berilmu meringankan tubuh nomor wahid di kolong langit !”

Setiap orang dapat menduga, disaat menyebarkan batu nanti si bayangan setan Liu Biau pasti akan mempergunakan segenap kekuatan yang dimilikinya dan gerakan meluncurnya pasti cepat sekali. Untuk mengejar sebutir batu saja sukarnya bukan kepalang, apalagi dua puluh lima biji sekaligus dan dipancarkan dengan ilmu Boan thian hoa yu, bisa dibayangkan betapa sukarnya untuk menangkap semua batu ini.

Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa hambar, katanya : “Silahkan kau melempar batu batu tersebut!”

Dengan demikian, bukan cuma para jago saja yang terkejut, bahkan segenap orang yang hadir di sana pun bersama sama membelalakkan matanya lebar lebar. Diantara sekian orang, hanya Ciu Tin tin seorang yang menaruh perhatiannya ke atas tubuh si Bayangan setan Liu Biau. Bayangan setan Liu Biau memang bertujuan untuk memancing pergi Bu im sin hong Kian Kim siang agar dia berkesempatan untuk turun tangan membinasakan sastrawan penyapu lantai Lu Put ji.

Sambil tertawa seram, ke dua puluh lima biji batu kecil itu segera disebarkan ke arah timur. Bersama dengan disebarkannya batuan tersebut, bayangan tubuh Bu im sin hong Kian Kim siang turut lenyap tak berbekas. Menanti semua orang memasang mata baik baik, ternyata Bu im sin hong Kian siang sudah melampaui hancuran ba¬tu itu dan menerjang balik.

Berada ditengah udara, bagaikan ular emas yang berkelebat saja, tahu tahu kedua puluh lima biji batu kecil tersebut sudah ditangkap semua. Disatu pihak, Bu im sin hong Kian Kim siang menangkapi batuan kecil tersebut, dipihak lain si bayangan setan Liu Biau telah tertawa seram sambil miringkan badannya dia menubruk ke arah jalan darah Hong yan hiat ditubuh sastrawan penyapu lantai Lu Put ji.

Sebagaimana diketahui, sastrawan penyapu lantai Lu Put ji masih merangkak di atas tanah, ketika menyadari kalau gelagat tidak baik, jari tangan bayangan setan Liu Biau sudah tinggal berapa depa saja diatas jalan darah Hong yan hiatnya. Bagaimana mungkin tenaga dalam yang dimiliki sastrawan penyapu lantai Lu Put ji bisa menandingi si bayangan setan Liu Biau? Ditambah lagi dia memang pengecut dan takut mati, saking kagetnya seluruh badannya menjadi lemas tak tertenaga untuk menghindarpun tidak bertenaga lagi.

Betapa senangnya si bayangan setan Liu Biau setelah menyaksikan rencana busuknya hampir berhasil, dari tertawa dingin dia segera tertawa terbahak bahak. Siapa tahu, baru saja gelak tertawanya berkumandang dan si sastrawan penyapu lantai Lu Put Ji belum lagi mampus, seseorang telah menegur secara tiba tiba.

“Nonamu sudah menduga akan maksud hatimu itu!”

Segulung angin serangan yang tajam langsung menerjang ke arah jalan darah Hong yan hiatnya. Walaupun bayangan setan Liu Biau mempunyai kesempatan untuk menotok mati si sastrawan penyapu lantai Lu Put ji, namun bila hal ini dilanjutkan juga niscaya dia sendiripun tak akan hidup. Tentu saja dia tak akan mengorbankan diri hanya demi mencabut nyawa sastrawan penyapu lantai Lu Put ji. Tak sempat meneruskan serangan mautnya lagi, dengan cepat dia berkelebat dan melayang mundur sejauh lima depa dari tempat semula.

Sekalipun tubuhnya sudah mundur, bukan berarti rasa kagetnya turut hilang malah sebaliknya rasa kaget dan ngerinya semakin bertambah tambah. Rupanya dia merasa orang yang menyergap dirinya itu seperti bayangan setan saja menempel terus di belakangnya sedangkan jari tangannya telah menempel diatas jalan darah Hong yan hiatnya, cuma belum sampai mengerahkan tenaga serangannya.

Ilmu gerakan tubuh Kui pok sin hoat yang diandalkan ternyata tak mampu menghindari serangan lawan, kejadian tersebut tak pernah diduga sebelumnya, tidak heran kalau rasa terkejutnya bukan alang kepalang. Pada saat itulah orang yang berada di belakang tubuhnya telah menarik kembali jari tangannya sambil berkata :

“Kau tak usah takut nonamu tak akan melukai orang secara diam diam, balikkan dulu tubuhmu, nonamu akan menyuruh kau menyaksikan kepandaian silatku yang sebenarnya?”

Bayangan setan Liu Biau menarik napas dingin, ketika membalikkan tubuhnya dan melihat Ciu Tin tin yang berada di hadapannya, berubah hebat paras mukanya :

“Ooooh, rupanya kau!”

Sampai dimanakah kelihayan Ciu Tin tin rasanya si bayangan setan Liu Biau sudah pernah menyaksikannya sendiri, sekarang bulu kuduknya pada bangun berdiri. Dengan wajah serius Ciu Tin tin berkata :

“Bila dalam tiga gebrakan kau berhasil lolos dari cengkeramanku maka nona akan mengampuni dosamu yang telah menyergap sastrawan penyapu lantai Lu Put ji secara diam diam!” Ketika bayangan setan Liu Biau mendengar Ciu Tin tin hanya menyuruh dia menerima tiga jurus serangannya belaka, dalam hati kecilnya segera berpikir :

“Walaupun tenaga dalamku masih belum mampu menandingi lawan, masa dengan gerakan Kui pok sin hoat yang kumiliki tak mampu untuk menghindari ketiga jurus serangannya?”

Berpikir demikian, keberaniannya semakin bertambah, sambil tertawa dingin katanya kemudian :

“Jangan lagi cuma tiga jurus, tiga ratus jurus pun tak akan membuat lohu menjadi jeri!”

“Bagus, kalau begitu berhati hatilah nonamu akan segera turun tangan!”

Sembari berkata pelan pelan dia mengangkat lengannya ke atas, namun tenaga serangannya tidak dilepaskan, sedangkan tubuhnya tidak pula menyerang ke depan, dia hendak menanti si bayangan setan Liu Biau menghindarikan diri lebih dahulu. Bayangan setan Lui Biau segera bergerak ke samping kiri, tapi begitu tiba di kiri dia melompat pula ke sebelah kanan. Bersamaan waktunya sambil tertawa dingin, dia berseru :

“Kau bisa mengapakan aku ”

Belum habis dia berkata, kata kata selanjutnya sudah putus sampai di tengah jalan. Rupanya telapak tangan Ciu Tin tin sudah tinggal lima inci dari depan dadanya, bagaimanapun dia menggerakkan tubuhnya, ternyata tidak berhasil meloloskan diri dari intaian Ciu Tin tin tersebut. Bukan cuma gagal meloloskan diri dari kejaran gadis tersebut, bahkan telapak tangan Ciu Tin tin yang berada di depan dadanya selalu berada lima inci saja di depan dadanya.

Cukup berbicara tentang hal tersebut, si bayangan setan Liu Biau sudah tak mampu berkata kata lagi. Kebetulan sekali waktu itu Bu im sin hong Kian Kim siang sedang berjalan balik di tengah tempik sorak yang gegap gempita, menyaksikan kejadian tersebut, serunya sambil tertawa terbahak bahak : “Haaahhh.... haaahhh.... haaahhhh coba kau rasakan sendiri,

bagaimanakah ilmu Hu kong keng im yang dipergunakan nona Ciu itu bila dibandingkan dengan gerakan tubuh Kui pok sim hoatmu?”

Sementara itu, Ciu Tin tin merasa tujuannya sudah tercapai maka dalam telapak tangannya dia hanya menggunakan tenaga dalam sebesar tiga bagian saja, dengan cepat dia berhasil menghajar tubuh si bayangan setan Liu Biau sejauh tiga kaki lebih sehingga muntah darah dan mengundurkan diri. Inipun berkat kebaikan hati Ciu Tin tin sehingga cuma melenyapkan daya kemampuannya untuk bertarung, coba kalau gadis ini lebih keji, niscaya selembar jiwa tuanya ikut melayang.

Berhasil melukai si bayangan setan Liu Biau, Ciu Tin tin segera berseru dengan lantang :

“Masih ada siapa lagi yang ingin mencabut nyawa si sastrawan penyapu lantai Lu Put ji?”

Ketika sastrawan penyapu lantai Lu Put Ji mendengar jiwanya sudah ada yang menjamin, dia lantas menyembah berulang kali dihadapan Ciu Tin tin, tapi berhubung jalan darah bisunya sudah tertotok sehingga tak mampu berbicara, terpaksa dia hanya bisa menyembah berulang kali untuk menarik rasa belas kasihan orang.

Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan kejadian tersebut segera mengerutkan dahinya rapat rapat, kemudian dengan suara nyaring bentaknya :

“Babi, mengapa tidak selekasnya menghantar kami masuk ke dalam. ?”

Kali ini sastrawan penyapu lantai Lu Put ji tak berani berayal lagi, dia segera merangkak kembali menuju ke tengah lapangan. Dalam pada itu barisan para jago yang semula kacau balau, oleh karena petunjuk dari Thi Eng khi, maka kini sudah mengalami perubahan yang sangat besar. Suatu bentuk barisan yang sangat aneh sudah terwujud dalam waktu singkat. Tapi berhubung barisan ini masih tetap mempertahankan wujud kacau balau dari bagian luarnya, maka Hian im Tee kun yang begitu lihay pun tak sempat menduga sampai ke situ. Secara garis besarnya, para jago mengambil posisi sebagai berikut :

Ciu Tin tin tetap berdiri di belakang sastrawan penyapu lantai Lu Put ji yang sedang merangkak diatas tanah. Di belakang Ciu Tin tin adalah Bu im sin hong Kian Kim siang, di belakang Bu im sin hong Kian Kim siang adalah tiga sesepuh yang berdiri berjajar, Keng thian giok cu Thi Keng berada di tengah, Sim ji sinni di sebelah kanan sedangkan Tiang pek lojin So Seng pak di sebelah kiri.Di belakang ketiga orang sesepuh tersebut adalah Sam ku sinni ditengah, Bu Nay nay di sebelah kanan dan Pek leng siancu So Bwe leng di sebelah kiri, merekapun berdiri berjajar.

Sedangkan sisanya seakan akan berdiri semaunya sendiri tanpa beraturan dengan menempatkan Thi Eng khi serta enam jago yang belum pulih kekuatannya ditengah tengah barisan.

Sejak bayangan setan Liu Biau yang diutus untuk membunuh sastrawan penyapu lantai Lu Put ji mengalami kegagalan total, Hian im Tee kun mulai jeri terhadap keampuhan Ciu Tin tin, dia tidak mengutus orang lain lagi. Berhubung Ciu Tin tin sudah menunjukkan kelihayan silatnya, maka walaupun jagoan dari pihak Ban seng kiong sangat banyak, namun bila harus bertarung satu lawan satu, kecuali Hian im Tee kun turun tangan sendiri, mungkin tiada orang yang sanggup menandingi kehebatanya.

Sementara itu, Hian im Tee kun juga sedang mempergunakan saat para jago memasuki lapangan untuk berunding dengan Hian im ji li yakni Cun Bwee dan Ciu Lan tentang bagaimana caranya menghadapi serbuan para jago. Diantara sekian jago yang hadir sekarang, yang dianggap Hian im Tee kun sebagai musuh yang tangguh tentu saja Thi Eng khi, sedang Ciu Tin tin menempati urutan kedua.

Diantara empat tokoh besar yang hadir, Hian in Tee kun menganggap tenaga dalam yang dimiliki Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng pak sudah buyar, maka hanya kekuatan Bu im sin hong Kian Kim siang seorang tidak perlu dikuatirkan. Sisanya seperti Sam ku sinni, Bu Nay nay dan Pek leng siancu So Bwe leng dikirim dua jago lihay rasanya tidak sukar untuk diatasinya ….

Sedangkan mengenai kawanan pendekar yang berhasil dibekuk Hian im li Cun Bwee itu, dengan jago jago dari Ban seng kiong yang berilmu tinggi rasanya masih dapat menandingi mereka, atau paling tidak mereka dapat meraih kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak .....

Maka dari itu, Hian im Tee kun tidak terlalu memikirkan mereka di dalam hati. Dalam pandangan Hian im Tee kun, musuh tangguh yang terutama adalah Thi Eng khi serta Ciu Tin tin. Hian im Tee kun kuatir Thi Eng khi akan bekerja sama dengan Ciu Tin tin untuk menghadapinya, maka dia tidak berniat untuk turun tangan sendiri menghadapi sepasang muda mudi itu, dia telah berencana hendak mempergunakan kekuatan dari puluhan jago lihay untuk bersama sama menghadapi Thi Eng khi dan Ciu Tin tin....

Begitu para jago memasuki ke tengah kerumunan kaum iblis dari Ban seng kiong, pintu masuk tadi segera merapat kembali dan mengurung seluruh jago di dalam kepungan. Sementara kawanan jago persilatan yang datang hanya untuk melihat keramaian semuanya tertahan di pintu luar dan harus menahan rasa kecewa.

Padahal tindakan semacam ini bukan tindakan yang keterlaluan bagi Ban seng kiong, sekalipun mereka jahat, toh bagaimana pun jua tetap sebagai manusia tentu semuanya ingin menjaga nama baik sendiri. Bagaimanapun jua tentu saja mereka tak dapat membiarkan dirinya kehilangan muka dengan membiarkan orang lain menyaksikan semua kejelekan sendiri.

Dalam arena, Bu im sin hong Kian Kim siang segera menuding ke arah sastrawan penyapu lantai Lu Put ji yang sedang berlutut di tanah lalu sambil tertawa sinis ejeknya : “Terima kasih banyak atas penyambutan yang begitu besar dari utusan kalian!”

Sembari berkata dia mengebaskan ujung bajunya dan membebaskan sastrawan penyapu lantai Lu Put ji dari pengaruh totokan. Oleh karena sastrawan penyapu lantai Lu Put ji tidak mengetahui apa maksud tujuan Bu im sin hong Kian Kim siang yang sebenarnya, maka walaupun jalan darah bisunya sudah dibebaskan, ia belum berani berdiri dari tempat semula, masih tetap berlutut dan menyembah berulang kali, katanya:

“Terima kasih banyak atas kesudian Kian tua melepaskan aku   ”

Bu im sin hong Kian Kim siang menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya kemudian sambil menghela napas :

“Enyahlah kau dari hadapanku!”

Mendengar Bu im sin hong Kian Kim siang melepaskan dirinya, tanpa membuang waktu lagi sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera ngeloyor pergi dari situ. Belum mencapai berapa kaki, mendadak Pek leng siancu So Bwe leng membentak keras.

“Lu Put ji, jangan lari dulu! Nona masih ada perkataan hendak disampaikan kepadamu!”

Waktu itu sastrawan penyapu lantai Lu Put ji sudah berapa kaki jauhnya meninggalkan para jago, dalam anggapannya para jago sudah tak mampu berbuat apa apa lagi dengannya, oleh sebab itu wajah bengisnya segera diperlihatkan kembali. Sambil menghentikan langkahnya, dia mencaci maki dengan penuh amarah :

“Kentut busuk apa yang hendak kau lepaskan? Toaya sudah tidak sabar lagi untuk menunggumu!”

Pek leng siancu So Bwe leng tidak menjadi marah, dia malahan tertawa cekikikan, katanya :

“Hei, ngapain kau pulang lagi ke istana Ban seng kiong untuk menghantar kematian?”

Setelah diperingatkan sastrawan penyapu lantai Lu Put ji baru teringat kembali akan hal itu, berubah hebat paras mukanya seketika, dengan wajah pucat pasi, bibir gemetar keras, peluh dingin segera jatuh bercucuran membasahi tubuhnya. Pek leng siancu So Bwe leng memang berniat mempermainkannya, dia berkata lebih jauh :

“Kau memang tak becus sehingga menghilangkan wajah orang orang Ban seng kiong, coba kalau enci Tin tidak menyelamatkan selembar jiwamu tadi, mungkin kau sudah dihantar pulang oleh si bayangan setan Liu Biau.”

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji memang sudah berpikir sampai disitu, apalagi disinggung kembali oleh Pek leng siancu So Bwe leng, dia semakin ketakutan setengah mati. Sambil menjatuhkan diri berlutut, serunya sambil menangis tersedu sedu :

“Nyonya muda oooh nyonya mudaku, orang yang budiman

tak akan mengingat ingat kesalahan orang rendah, bila ucapan hamba kurang sedap didengar tadi, anggaplah sebagai kentut busuk saja, harap kau sudi berbuat baik dengan mengijinkan hamba melepaskan jalan sesat kembali ke jalan yang benar, biar hamba menjadi kerbau atau kuda pun pasti akan berterima kasih tiga keturunan kepada tayhiap sekalian!”

Dengan wajah yang begitu mengenaskan, sungguh membuat siapa pun yang memandang merasa beriba hati. Di pihak lain, Hian im li Ciu Lan segera berseru pula sambil tertawa dingin :

“Manusia yang tak tahu diri, mereka adalah patung lumpur yang hendak menyeberang sungai untuk melindungi diri saja tidak mampu, sekalipun kau menjadi kerbau atau kuda mereka selama delapan belas keturunan pun tak nanti mereka dapat melindungi keselamatan jiwamu, mengapa kau tidak tahu kembali dan mohon pengampunan dari Seng li (perempuan suci)?”

“Aduuuuh celaka, mengapa aku tidak sempat berpikir ke situ ?”

pikir sastrawan penyapu lantai Lu Put ji secara diam diam.....

Berpikir sampai ke situ, dia lantas melompat bangun kemudian sambil membusungkan dada katanya kepada Pek leng siancu So Bwe leng dengan suara lantang :

“Aku Lu Put ji adalah seorang lelaki sejati, hidup sebagai manusia Ban seng kiong, setelah matipun harus menjadi setannya Ban seng kiong, aku bukan manusia pengecut yang takut mampus, Cuuuh!

Cuuuhh ! Bila suatu ketika kau sampai terjatuh ke tangan lohu,

sudah pasti lohu akan membeset kulit tubuhmu!”

Kemudian dia membalikkan badan dan lari menuju ke arah Hian im li, baru saja dia berseru : “Seng li ”

Belum habis dia berkata, Hian im li Ciu Lan sudah melepaskan sebuah totokan atas jalan darahnya. Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji menjadi sangat terperanjat, segera rengeknya :

“Seng li, bukankah kau berjanji akan mengampuni selembar jiwa hamba?”

Hian im li Ciu Lan tertawa licik.

“Aku memang pernah berkata hendak mengampuni selembar jiwamu, tapi toh tak pernah berjanji tidak akan memberi hukuman hidup untukmu?”

Luka totokan yang diderita sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera kambuh, sambil menjerit lengking dia roboh ke tanah dan berguling guling diatas tanah penuh penderitaan. Selang berapa saat kemudian dia sudah membuat sebuah lubang besar diatas tanah suara jeritannya parau dan tak sedap didengar, jelas siksaan yang dideritanya membuat dia sangat menderita sekali.

Ciu Tin tin yang menyaksikan kejadian tersebut segera berkerut kening, mendadak dari jarak dua kaki dia lepaskan sebuah pukulan udara kosong ke atas jalan darah kematian ditubuh sastrawan penyapu lantai Lu Put ji, maksudnya untuk melepaskan dia dari penderitaan.

Hian im li Ciu Lan yang menyaksikan kejadian tersebut segera tertawa merdu, serunya :

“Lu Put ji arwahmu dialam baka pasti tahu, yang tak mau mengampuni jiwamu bukanlah orang Ban seng kiang!”

Ciu Tin tin yang mendengar perkataan tersebut menjadi gusar sekali, dengan wajah membesi bentaknya keras keras :

“Perempuan siluman, ayo cepat keluar, nonamu harus memberi pelajaran dulu atas kekejianmu itu!”

Hian im li Ciu Lan mengerling sekejap ke atas kepala Ciu Tin tin dengan sikap menghina, lalu sembari mendengus katanya : “Orang bilang si pembawa bendera maju duluan, aku mah bukan si pembawa bendera, bila kau ingin bertarung, pasti akan muncul orang dari seangkatan denganmu untuk melayani kemauanmu tersebut!”

Hian im li Ciu Lan tahu kalau kepandaian silatnya masih belum mampu untuk menandingi Ciu Tin tin, tapi untuk menjaga nama baik sendiri selain untuk melaksanakan rencana pengepungan yang telah direncanakan Hian im Tee kun, maka dia sengaja memandang hina Ciu Tin tin dengan maksud untuk memberi malu anak gadis tersebut. Siapa tahu Ciu Tin tin selain berilmu tinggi, imamnya pun cukup tebal, setelah tertawa hambar katanya :

“Berbicara soal usia dan kedudukan, aku memang hanya seorang prajurit kecil dihadapan para locianpwe tapi aku jadi ingin tahu selain Hian im Tee kun, siapa sih di antara kalian manusia manusia Ban seng kiong yang sanggup menerima tiga jurus serangan nonamu?”

Dia telah mengembalikan penghinaan tersebut langsung kepada Hian im li Ciu Lan. Hian im li Ciu Lan betul betul bermuka tebal, dia segera berlagak seolah olah tidak mendengar perkataan itu, dari sakunya diambilnya selembar panji segitiga berwarna merah kemudian dikibarkan ke tengah udara serunya :

“Dimana Thian lam pat koay (delapan manusia aneh dari Thian lam)..?”

“Seng li ada perintah apa?”

Delapan kakek yang tangan kirinya telah kutung segera tampilkan diri. Ke delapan Kakek ini merupakan delapan jagoan lama dari Ban seng kiong yang kena dikutungi sebuah lengan kirinya ketika Hian im Tee kun menjajah Ban seng kiong tempo hari. Setelah peristiwa tersebut, Hian im Tee kun segera memanjakan mereka dengan cara diam diam mewariskan banyak sekali kepandaian ampuh dan serangkaian ilmu kerja sama yang tangguh.

Kemampuan ke delapan orang tersebut sekarang, dalam pandangan Hian im Tee kun kecuali dia sendiri yang mampu mengendalikan mereka karena dirinya cukup memahami titik kelemahan orang orang tersebut, sukar rasanya untuk mencari seseorang dalam dunia persilatan ini yang sanggup menandingi kerja sama kedelapan orang tersebut.

Berhubung tenaga dalam yang dimiliki Thian lam pat koay telah bertambah dengan pesat kendatipun sudah kehilangan sebuah lengan kirinya namun boleh dibilang gara gara bencana mendapat rejeki, maka rasa benci dan dendamnya kepada Hian im Tee kun pun turut memudar. Menyaksikan sikap hormat dari Thian lam pat koay, Hian im li Ciu Lan tersenyum, sambil mengangkat panji segitiga berwarna merahnya itu dia berseru :

“Hian kun ada perintah, harap kalian berdelapan segera membekuk budak tersebut!”

Baru pertama kali ini Thian lam pat koay bersua dengan Ciu Tin tin, walaupun barusan mereka dapat melihat kalau kepandaian gadis itu sewaktu menghadapi bayangan setan Liu Biau tidak lemah, namun mereka beranggapan belum cukup pantas untuk menyuruh mereka berdelapan turun tangan bersama sama.

Tidak heran kalau wajah mereka segera menunjukkan sikap acuh tak acuh. Hian im li Ciu Lan dapat menebak isi hati Thian lam pat koay, dengan ilmu menyampaikan suara segera bisiknya :

“Budak tersebut memiliki kepandaian silat yang luar biasa, jago jago lihay kita pernah merasakan kelihayannya sewaktu di kuil Thian ki bio tempo hari, harap kalian berdelapan hilangkan sikap memandang rendah musuh, yang penting harus bertindak lebih berhati hati.”

Mendengar ucapan mana, Thian lam pat koay segera tertawa terbahak bahak :

“Haaahhh...haaahhh...haaahhh... Seng li tak usah kuatir, lohu sekalian sudah tahu!”

Delapan orang itu memutar badannya bersama sama dan beranjak bersama pula, mereka maju berjajar dan berdiri dihadapan Ciu Tin tin tanpa menimbulkan sedikit suarapun, sikap mereka yang begitu angkuh dan tinggi hati membikin hati orang menjadi gemas rasanya. Ciu Tin tin masih tetap mempertahankan senyuman diatas wajahnya, pelan pelan dia berkata :

“Delapan cianpwe hendak turun tangan bersama? Ataukah hendak maju satu per satu?”

Sebutan “cianpwe” tersebut segera melenyapkan sikap ketus yang semula menghiasi wajah Thian lam pat koay, akhirnya siluman pertama berkata :

“Kau anggap dirimu sudah cukup berharga bagi kami delapan bersaudara untuk turun tangan bersama sama?”

Hian im li segara menggeleng, kepada Hian im Tee kun katanya tiba tiba :

“Seandainya harus bertarung satu lawan satu, mungkin Thian lam pat koay akan dikeokkan semuanya oleh Ciu Tin tin!”

“Budak itu tinggi hati, ucapan dari Thian lam pat koay telah membuatnya naik darah apakah kalian tidak melihat kalau keningnya telah berkerut?”

Betul juga, Ciu Tin tin segera berkata sambil tertawa nyaring : “Gabungan kalian berdelapan hanya bisa dianggap empat orang,

titik kelemahan atas gabungan inipun lebih banyak dari empat orang, jelas hal tersebut merupakan kerugian yang amat besar bagi kalian. Apalagi ilmu meringankau tubuhku berasal dari ajaran Kian locianpwe yakni ilmu Hu kong keng im, jelas ini menguntungkan sekali bagiku, aku rasa kalau ingin bertarung secara adil, lebih baik kalian berdelapan maju bersama sama saja!”

Selesai berkata, Ciu Tin tin lantas mencabut keluar senjatanya, jelas hal ini merupakan suatu tindakan memberi muka untuk Thian lam pat koay, sebab paling tidak ia tak berniat menghadapi lawan dengan tangan kosong belaka. Senjata yang dipergunakan Ciu Tin tin sekarang tak lain adalah seutas angkin atau ikat pinggang berwarna putih yang semula melilit dipinggangnya. Ikat pinggang tersebut hanya lima depa panjangnya dengan kedua ujungnya berbentuk simpul terbuat dari perak. Ketika berkibar terhembus angin, cahaya perak yang memancar keluar amat menyilaukan mata, coba kalau benda tersebut tidak diloloskan siapa pun tak akan mengira kalau benda tersebut merupakan senjata andalan Ciu Tin tin.

Sebagai anak gadis yang berperasaan halus, Ciu Tin tin memang tidak senang membawa senjata tajam apalagi semenjak tenaga dalamnya memperoleh kemajuan yang pesat, dia telah menguasai betul betul ilmu pedang Gin kong liu soat kiam (pedang cahaya perak lintasan bianglala) warisan keluarganya.

Ikat pinggangnya itu pada dasarnya bukan termasuk sejenis senjata, karena sesungguhnya merupakan hiasan saja bagi Ciu Tin tin. Dengan ujung jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya menjepit bagian tengah ikat pinggang tersebut, Ciu Tin tin segera menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam senjata tersebut. Tak selang berapa saat kemudian, ikat pinggang yang semula lemas tersebut segera menegang keras, sudah jelas tenaga dalam yang dimiliki gadis tersebut benar benar telah mencapai pada puncaknya....

Demonstrasi tenaga dalam semacam ini hanya dianggap sesuatu yang biasa tiada keanehan bagi pandangan kawanan iblis tersebut, semua orang hanya memandangnya sembari tertawa geli, terhadap Ciu Tin tin pun segera timbul perasaan memandang rendah. Siapa tahu, dalam sekejap mata inilah kedua ujung angkin bersimpul perak tadi mulai bergerak seperti ular lincah yang mencari mangsanya, simpul perak tersebut berputar ke atas bawah, kiri kanan tiada hentinya.

Sekarang orang baru dapat merasakan betapa hebatnya si anak gadis tersebut, sebab kepandaian seperti ini sepuluh kali lipat lebih sukar dilakukan daripada melakukan tindakan tadi. Sebagaimana diketahui kawanan iblis yang tergabung dalam istana Ban seng kiong rata rata adalah kawanan iblis diantara iblis, kecuali terhadap Hian im Tee kun seorang yang tampak selisih jauh sekali, boleh dibilang tenaga dalam maupun kepandaian silat mereka sudah mencapai tingkatan yang luar biasa. Sudah barang tentu mereka pun dapat menyaksikan betapa dahsyat dan lihaynya kepandaian silat Ciu Tin tin bahkan selain Hian im Tee kun seorang, tiada seorang pun yang mampu menandinginya.

Seketika itu juga paras muka mereka yang semula memandang hina dan rendah, berubah menjadi kaget dan amat terkesiap. Paras muka Thian lam pat koay berubah pula menjadi amat serius, masing masing orang meningkatkan kewaspadaan masing masing dan tak berani bertindak secara gegabah.

Tujuan Ciu Tin tin memang ingin memecahkan nyali kawanan iblis tersebut sehingga sikap mereka terhadap pihak pendengar tak memandang hina, maka setelah mendemonstrasikan kelihayannya tersebut, pelan pelan dia berjalan maju sejauh lima langkah kemudian katanya :

“Silahkan saudara!”

Sikapnya yang anggun tapi santai membuat siapapun tak berani memandang enteng dirinya lagi. Sekarang, Thian lam pat koay tak berani lagi memandang rendah Ciu Tin tin serentak mereka meloloskan senjata tajam. Empat bilah senjata yang mereka pergunakan hampir sama bentuknya, yakni sebuah huncwee yang panjangnya mencapai dua depa delapan inci. Empat siluman yang membawa senjata dan empat siluman yang bertangan kosong belaka, berdiri berselang seling, sehingga dengan demikian masing masing pihak saling mengisi kekurangan dari rekannya.....

Terdengar siluman pertama tertawa terbahak bahak, kemudian serunya dengan lantang:

“Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh tenaga dalam nona Ciu amat

sempurna, ketenanganmu bagaikan batu karang, jelas kesempurnaan tenaga dalam nona sudah mencapai tingkatan yang sangat luar biasa, rasanya kami berdelapan memang cukup berharga untuk turun tangan bersama sama.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia menyambung lebih jauh dengan suara dalam : “Saudara saudara sekalian, ayo rnaju!” Bayangan manusia berkelebat kian kemari, delapan manusia tersebut segera menyebarkan diri dengan posisi barisan Pat kwa....

Ciu Tin tin tahu bahwa orang orang itu bersikap sok tua dan jelas tak akan turun tangan lebih dahulu, maka dengan suara lantang segera bentaknya :

“Lihat serangan!”

Angkin berwarna perak yang berada di tangannya itu langsung diayunkan ke muka menyambar jalan darah Jit kan hiat di tubuh siluman pertama, ujung simpul perak tersebut membentuk seperti payung dan segera mengurung sebagian besar dada siluman pertama. Siluman pertama tidak membawa senjata apa apa, dia berdiri dengan telapak tangan disilangkan didepan dada.

Segulung angin pukulan segera dilepaskan menghantam bagian tengah dari ikat pinggang Ciu Tin tin yang sedang menyambar tiba, bersamaan waktunya dia bergeser dua depa kesamping. Diantara gerakan mana, ji koay menerobos maju ke depan secara tiba tiba, senjata huncweenya langsung dihantamkan ke ujung angkin dari gadis tersebut. Hampir bersamaan waktunya angin pukulan dari toa koay dan huncwee dari ji koay menghantam bersama diujung ikat pinggang Ciu Tin tin....

Ikat pinggang Ciu Tin tin masih tetap tenang seperti sedia kala, ia tidak berkelit pun tidak berniat untuk menghindarkan diri...

Sebaliknya Toa koay maupun ji koay sama sama terkena pentalan tenaga yang amat kuat sehingga kuda kudanya gempur dan dadanya terasa sesak. Untung saja mereka semua sedang sama sama bergerak memutar, sehingga orang lain tak sempat melihat dengan jelas, padahal dalam jurus pertama saja mereka sudah menderita kerugian yang sangat besar....

Menyusul kerugian yang dideritanya, Toa koay segera berpekik nyaring, delapan orang yang mengurung Ciu Tin tin segera mulai berputar, bahkan makin berputar semakin bertambah cepat. Ciu Tin tin masih tetap berdiri tegak ditengah arena, walaupun demikian dia dapat merasakan kalau segulung pusaran hawa serangan yang dipancarkan ke delapan manusia aneh itu makin lama menekan tubuhnya semakin berat.

Ciu Tin tin hanya tersenyum saja dengan mengerahkan tenaga sedalam enam bagian dia mencoba untuk melawan aliran hawa serangan yang menekan datang dari empat arah delapan penjuru itu.

“Kalian terlalu memandang rendah aku,” demikian ia berpikir dihati.

Belum habis ingatan tersebut lewat, mendadak terasa olehnya tenaga tekanan dari aliran udara disekeliling tubuhnya kian lama kian bertambah berat. Ciu Tin tin segera berseru tertahan, satu ingatan dengan cepat melintas didalam benaknya :

“Aduh celaka, inilah yang disebut pusaran hawa sakti penghancur jagad!”

Ciu Tin tin bukan hanya sempurna di dalam tenaga dalam, atas petunjuk Thi Eng khi, dia pun sudah banyak membaca buku buku yang disimpan dalam gua Yang sim tong sehingga pengetahuan yang dimilikinya selain Thi Eng khi, boleh dibilang tiada orang kedua yang dapat menandingi. Perlu diketahui pusaran hawa penghancur jagad merupakan suatu gejala alam yang bisa terjadi di alam jagad ini, tentu saja kekuatan yang dipancarkan luar biasa sekali.

Walaupun pusaran hawa sakti penghancur jagad yang dilakukan oleh Thian lam pat koay merupakan gejala yang diciptakan manusia, namun tidak terlepas dari gejala alam, sehingga akibat yang dihasilkan juga turut menjadi hebat.

Ciu Tin tin harus mengerahkan tenaga dalamnya mencapai delapan bagian sebelum secara berat dapat menahan aliran hawa pusaran yang mendesak ke arah tubuhnya. Saat ini, bila Thiam lam pat koay melancarkan serangan ke arah Ciu Tin tin, oleh karena bertumpuknya kekuatan maka asal mereka menambah tenaga serangannya dengan dua bagian saja, niscaya kekuatannya akan mencapai sepuluh bagian. Bila delapan manusia aneh itu baru melancarkan serangan bersama disaat pusaran hawa sakti itu sudah sempurna, maka kendatipun Ciu Tin tin memiliki kepandaian silat yang luar biasapun sulit rasanya untuk menyambut satu dua jurus serangan mereka. Tapi sayang sekali mereka tidak turun tangan pada saatnya, disaat mereka hendak turun tangan, Ciu Tin tin sudah keburu memahami rahasia dibalik kesemuanya itu sehingga berkelit dengan menggunakaa ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im bahkan berputar berlawanan arah dengan aliran pusaran tersebut.

Dengan berbuat demikian maka tekanan akibat pusaran tersebut menjadi jauh berkurang. Dengan bantuan dari tenaga pusaran yang maha sakti itulah, delapan manusia aneh tersebut sudah dapat melangsungkan suatu pertarungan keras lawan keras. Tampak bayangan manusia berputar seperti angin, debu beterbangan memenuhi angkasa, Thian lam pat koay telah bertarung seru sekali melawan Ciu Tin tin.

Dengan makin mantapnya pertarungan dipihak ini, Hian im li Ciu Lan segera tertawa licik, kemudian berseru :

“Thi Eng khi! Beranikah kau tampilkan diri untuk merasakan kelihayan dari Im kek toa tin kami?”

Lagi lagi dia hendak menggunakan jumlah orang yang banyak untuk mengerubuti Thi Eng khi. Untuk memulihkan tenaga dalam rekan rekannya, hampir boleh dibilang Thi Eng khi sudah kehilangan banyak tenaga dalamnya, sekarang dia bisa bertahan karena bantuan tusukan jarum emas, sudah barang tentu dia tidak berkekuatan lagi untuk melakukan pertarungan melawan orang lain. Dengan teriakan dari Hian im li Ciu Lan ini, sama artinya dengan menusuk langsung ke titik kelemahan para jago. Apakah Thi Eng khi harus menampilkan diri? Saat ini siapapun berkemampuan untuk membinasakan Thi Eng khi seketika. Kalau Thi Eng khi tidak menampilkan diri, hal ini tidak masuk diakal, bahkan bisa jadi Hian im li Ciu Lan akan mengetahui rahasia bahwa Thi Eng khi sudah kehilangan daya kemampuannya untuk bertarung lebih jauh. Dalam keadaan serba salah, Tbi Eng khi tertawa nyaring, sambil menampilkan diri dari rombongan serunya kepada Hian im Tee kun dengan suara lantang :

“Di dalam pertarungan kita tempo hari menang kalah belum ditentukan, bagaimana kalau kutantang dirimu sekarang untuk melanjutkan sisa pertarungan kita yang belum selesai dulu?”

Hian im Tee kun dibuat tersipu sipu oleh ucapan tersebut, namun hanya sebentar saja sudah hilang kembali, dia tertawa seram lalu berkata :

“Jago jago kami banyak tak terhitung dengan jari, kalau aku mesti melayani tantanganmu itu. Hmmm, bukankah hal ini akan menurunkan pamorku saja? Ciu Lan! Gerakan barisan Im kek toa tin untuk membekuk bajingan cilik itu!”

Hiam im li Ciu Lan segera mengibarkan panji merahnya tiga kali ke atas kepala. Empat puluh sembilan orang kakek segera munculkan diri dari empat arah delapan penjuru dan menerjang ke arah Thi Eng khi. Serentak para jago menyerbu ke depan pula serta melindungi Thi Eng khi.

Keng thian giok cu Thi Keng membentak pula dengan suara biasa.

“Tunggu dulu!”

Walaupun tenaga dalam yang dimilikinya telah pulih kembali, namun berhubung ingin merebut suatu kemenangan tak terduga sehingga memberi pukulan batin yang di luar dugaan bagi Hian im Tee kun maka hal tersebut untuk sementara waktu tetap dirahasiakan secara ketat.

Empat puluh sembilan orang yang menerjang keluar dari Ban seng kiong segera menghentikan pula gerakan tubuhnya sambil menantikan perintah terakhir dari Hian im Tee kun. Dengan cepat Hian im Tee kun mengulapkan tangannya memberi tanda kepada kawanan kakek tersebut agar menunda serangan mereka, kemudian sambil mengangkat kepalanya memandang ke arah Keng thian giok cu Thi Keng dia berseru :

“Thi Keng! Apalagi yang hendak kau katakan?”