Pukulan Naga Sakti Jilid 42

 
Jilid 42

Setelah Thi Eng khi bertindak, maka semua orangpun mengikuti jejaknya dengan mengenakan pakaian baru pemberian dari Hian im Tee kun. Ketika Hian im ji li melihat begitu tunduknya semua jago kepada Thi Eng khi maka sikap mereka terhadap Thi Eng khi pun semakin menghormat lagi.

Thi Eng khi memandang sekejap ke arah Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong yang masih dikuasai kesadarannya, kemudian berkata ketus :

“Sekarang tentunya nona sudah bisa membebaskan pengaruh totokan pada diri Sangkoan tayhiap bukan?”

“Apakah ini pun terhitung syarat yang kauajukan?” tanya Hian im li Cun Bwee. “Ini termasuk tata kesopanan yang perlu diperhatikan pihak Ban seng kiong ka¬lian terhadap kami sebagai tamu, jadi bukan merupakan permintaan atau syaratku.”

Hian im li Cun Bwee termenung dan berpikir sejenak, kemudian dia baru mengangguk : “Baiklah! Aku akan memberi muka lagi untukmu, cuma akupun berharap agar kau tahu diri.”

Thi Eng khi tertawa, dengan perhatian khusus dia memperhatikan bagaimana cara Hian im li Cun Bwee membebaskan pengaruh totokan dari tubuh Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong. Begitu Hian im li Cun Bwee selesai membebaskan pengaruh totokan dari tubuh Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, kepada Hian im li Ciu Lan ujarnya sambil tertawa :

“Jimoay, lebih baik kita bersikap lebih terbuka lagi dengan mengembalikan senjata mereka, dengan begini kehadiran mereka dalam upacara pun akan kelihatan lebih angker dan mentereng….”

Hian im li Ciu Lan segera mengiakan dan melaksanakan perintah tersebut.

Tiba tiba Thi Eng khi berseru sam¬bil tertawa dingin :

“Kalian toh mengetahui bahwa tenaga dalam kami telah punah, sekalipun ada senjata juga tak mampu banyak berkutik, huuh terhitung perbuatan macam apakah itu? Jikalau kalian benar benar ingin berjiwa besar bebaskan pula totokan pada tubuh kami semua.”

Hian im li Cun Bwee segera tertawa :

“Sekarang kau tak usah memanasi hatiku dulu, asal kalian berkemauan baik dan bersedia untuk bekerja sama, bukan cuma jalan darah kalian saja yang akan dibebaskan, bahkan tenaga dalam Thi ciangbunjin yang berhasil dibuyarkan oleh getaran Tee kun kami pun akan dipulihkan kembali.”

“Waah, kalau sampai demikian adanya aku pasti akan berterima kasih sekali kepadamu!” “Kau benar benar akan berterima kasih kepadaku?” Hian im li Cun Bwee memutar sepasang biji matanya.

“Aku yakin apa yang kuucapkan pasti akan kuwujudkan!”

Hian im li Cun Bwee segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Thi Eng khi dan memandangnya lekat lekat, setelah itu serunya :

“Baik! Kita tetapkan dengan sepatah kata ini, soal mendapatkan kembali tenaga dalammu serahkan saja tanggungjawabnya keatas pundakku!”

Sementara itu senjata tajam milik para jago telah dibawa kemari oleh kawanan iblis dari Ban seng kiong dan dibagikan kepada pemiliknya. Menerima kembali senjata tajam andalan masing masing, para jago merasakan jantungnya berdebar keras sekali sehingga hampir saja mau melompat keluar lewat mulut.

Tiba tiba Hui cun siucay Seng Tiok sian tampil ke depan sambil berseru :

“Mana kuda hitamku?”

“Waaah, kau sungguh pelit sekali,” seru Hian im li Cun Bwee sambil tertawa, “masa kedua ekor kuda itu untuk kami dua bersaudara pun keberatan!”

Dengan wajah gelisah bercampur murung, Bu im sin hong Kian Kim siang serta Sam ku sinni menunggu selama sehari semalam, menjelang fajar menyingsing mereka baru menyaksikan si pencuri sakti Go Jit pulang dengan tangan hampa. Sambil melepaskan topeng kulit manusia wajahnya, si pencuri sakti Go Jit menghela napas dan menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Sudah puluhan tahun boanpwe berkelana dalam dunia persilatan tapi belum pernah kualami kegagalan total seperti hari ini,” keluhnya sedih, “jangan lagi mencuri kitab Hian im kui goan keng milik Hian im Tee kun, untuk menemukan tempat rahasia untuk menyimpan kitab tersebut pun tak berhasil, aaaai. mulai hari ini malu aku

memakai sebutan si pencuri sakti lagi.” Dalam keadaan yang sama sama kecewanya, dengan kedudukan Bu im sin hong Kian Kim siang dalam dunia persilatan mau tak mau dia mesti tersenyum guna menghibur hati si pencuri sakti Go Jit :

“Hian im Tee kun adalah manusia yang paling tangguh dalam dunia persilatan dewasa ini, gagal ditangannya bukan merupakan sesuatu kejadian aneh, jadi tidak termasuk suatu peristiwa yang memalukan. Kau sudah sehari semalam tanpa istirahat, sekarang beristirahatlah dahulu, dengan begitu kita dapat selekasnya sampai di istana Ban seng kiong.”

“Boanpwe sedang kalut percuma bersemedi, toh aku tak bisa menenangkan pikiranku dengan sempurna, lebih baik sekarang juga kita berangkat ke istana Ban seng kiong...”

“Langkah selanjutnya adalah langkah yang penting sekali artinya,” sela Sam ku sinni cepat, “lebih baik Go tayhiap memulihkan dulu kondisi badanmu yang penat, agar dengan begitu kita tak usah mengalami kegagalan lagi.”

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa si Pencuri sakti Go Jit harus menguasai gejolak perasaannya dan mulai bersemedi mengatur pernapasan. Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, si pencuri sakti Go Jit telah selesai bersemedi dan melompat bangun dari atas tanah.

Tatkala Bu im sin hong Kian Kim siang melihat rekannya baru dapat memulihkan tujuh delapan bagian kesegaran badannya, dia sebenarnya berniat untuk menyuruhnya bersemedi kembali, tapi oleh karena wajah si pencuri sakti diliputi perasaan gelisah dan tak sabar, akhirnya niat tersebut diurungkan.

Mereka bertiga segera mengenakan kembali topeng kulit manusia masing masing kemudian dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh, berangkatlah menelusuri jalan raya menuju ke istana Ban seng kiong. Untung saja pada saat itu muncul banyak sekali jago persilatan yang berbondong bondong berangkat ke istana Ban seng kiong, dengan mencampurkan diri di antara mereka, dengan cepat ketiga orang itu berhasil masuk ke dalam istana dengan selamat. Semenjak pihak Ban seng kiong berhasil menjaring semua inti kekuatan dari dunia persilatan, mereka sudah tidak memandang sebelah mata lagi terhadap kawanan jago lainnya. Mereka menganggap di kolong langit dewasa ini sudah tiada manusia lagi yang dapat melawan kekuasaan mereka, itulah sebabnya mereka tidak memandang sebelah matapun terhadap para jago persilatan yang hadir di sana.

Bukan hanya tidak dibatasi jumlahnya, bahkan merekapun diperbolehkan masuk keluar dengan semaunya sendiri, agaknya hal ini sengaja dilakukan untuk mencerminkan kebesaran jiwa orang orang Ban seng kiong. Justru karena itulah, Bu im sin hong Kian Kim siang sekalian dapat bergerak ke sana kemari dengan lebih leluasa la¬gi tanpa kuatir gerak geriknya itu akan mengundang kecurigaan orang lain terhadap mereka.

Pukul delapan sudah menjelang tiba, lapangan luas di depan pintu gerbang Ban seng kiong sudah penuh dengan manusia yang berkumpul dari seantero penjuru dunia, mereka sedang menunggu saat munculnya tokoh persilatan yang amat lihay itu. Sementara semua orang sedang menanti dengan perasaan gelisah, dari atas ruangan istana tiba tiba berkumandang suara tambur dan genta yang dibunyikan bertalu talu.

Menyusul suara genta tersebut, dari balik pintu berjalan keluar seorang kakek berwajah kemala yang memakai jubah kebesaran, gayanya dibuat buat dan gerak geriknya sangat menjemukan.

Sementara semua orang masih mengawasi orang tadi, entah darimana munculnya suara tertawa kegelian, menyusul kemudian terdengar seseorang berseru :

“Huuuuh, monyet kesiangan juga diberi pakaian kebesaran, sungguh menggelikan hati!”

“Siapa sih orang itu?” segera ada yang bertanya. Setelah tertawa sinis orang itu menyahut lagi :

“Siapa lagi? Dia tak lain adalah Sau tee bun su (sastrawan penyapu lantai) Lu toaya, masa kalian tidak kenal?” Tampaknya si sastrawan penyapu lantai Lu Put ji ini mempunyai nama besar yang cukup termashur, buktinya walaupun tidak banyak yang pernah menjumpainya, namun sedikit sekali yang tidak mengetahui tentang dia. Tatkala para jago mendengar kalau orang yang menampilkan diri adalah sastrawan penyapu lantai Lu Put ji, kontan saja semua orang menjengek sinis.

“Huuuhhh, dasar setan hidup.”

Dengan gaya yang dibuat buat, Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji berdiri di depan pintu gerbang, kemudian setelah mendeham beberapa kali, dengan suara lantang dia berseru:

“Siaute hendak menyampaikan sebuah kabar gembira untuk saudara sekalian, untuk menunjukkan rasa hormat Tee kun, beliau telah berangkat ke tengah bukit Wang swan tay untuk menyambut sendiri kehadiran para jago dari perguruan perguruan kenamaan yang kali ini sengaja hendak menyatakan takluk mereka kepada istana kami!”

“Grrrr. !”

Suasana menjadi gempar dan semua orang bersama sama berdesakan menuju ke Wang swan tay untuk menyaksikan peristiwa itu.

Pencuri sakti Go Jit turut berebut mencari tempat yang strategis. Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan kejadian tersebut segera berkata :

“Go lote, jangan terburu napsu, Hian im Tee kun adalah manusia licik yang banyak tipu muslihatnya, kita jangan gampang tertipu oleh akal bulusnya, sekalipun hendak kesana, kita harus menunggu sampai gembong iblis tua itu menampakkan diri. ”

Dalam pada itu, Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji telah berteriak kembali dengan suara lantang :

“Tee kun tiba, harap saudara sekalian bertepuk tangan sebagai pernyataan hormat!” Dengan cepat dia menyingkir ke samping lalu menunjukkan sikap yang hormat kearah balik ruangan bahkan kemudian sambil mengerahkan tenaga dalamnya dia bertepuk tangan keras keras....

Para penonton keramaian yang berkumpul di sekitar lapangan segera turut ketularan dengan bertepuk tangan pula keras keras, ditambah pula para gembong iblis Ban seng kiong yang sudah menyusup ke balik kerumunan orang banyak membuat suara tepuk tangan yang bergema makin bertambah nyaring.

Bu im sin hong Kian Kim siang, Sam ku sinni dan pencuri sakti Go Jit sama sama memperlihatkan juga sikap yang jahat. Di tengah suara tepuk tangan yang gegap gempita, sambil tertawa dan manggut manggut kepalanya, Hian im Tee kun tampil di depan pintu gerbang. Dibelakang gembong iblis tersebut mengikuti Keng thian giok cu Thi Keng, Tiang pek lojin So Seng pak dan Sim ji sinni. Di paling belakang adalah kawanan manusia yang merupakan kerabat kerabat Hian im Tee kun.

Sikap maupun gerak gerik Keng thian giok cu Thi Keng sekalian yang berpandangan kosong macam orang yang tak sadar, membuat Bu im sin hong Kian Kim siang semua merasa amat sedih. Bahkan si pencuri sakti Go Jit merasa kuatir sekali bila tiada kesempatan untuk turun tangan, ia merasa sangat tegang dan hatinya berdebar keras.

Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyadari keadaan rekannya itu segera memperingatkan berulang kali :

“Go lote, kau harus menenangkan hatimu, tolong sampaikan pula kepada Cu Ngo sekalian agar jangan turun tangan secara sembarangan sebelum ada tanda rahasia dariku!”

Pencuri Sakti Go Jit termasuk jago kawakan yang sudah berpengalaman sangat luas, dalam situasi semacam ini seharusnya ia dapat mengendalikan diri, tapi kenyataannya dia seolah olah telah kehilangan ketenangan hatinya. Hal ini menandakan kalau pengaruh dari Hian im Tee kun cukup membuat para jago merasa keder hatinya. Pencuri sakti Go Jit segera menerima perintah dan berlalu dari situ untuk menyampaikan kepada Ban li tui hong Cu Ngo serta Siu Cu. Sedangkan Bu im sin hong Kian Kim siang segera menarik tangan Sam ku sinni dan bersama sama mendesak ke barisan paling depan....

Setelah menyaksikan Hian im Tee kun membawa anak buahnya berjalan lewat dari hadapannya, Bu im sin hong segera mengerahkan ilmu menyampaikan suaranya memberi bisikan kepada Keng thian giok cu Thi Keng sekalian bertiga. Siapa tahu bisikan tersebut sama sekali tidak memperoleh tanggapan dari Keng thian giok cu Thi Keng sekalian, yang membuatnya lebih putus asa adalah tindakan selanjutnya dari Keng thian giok cu Thi Keng yang melaporkan isi bisikan tadi kepada Hian im Tee kun. Tapi Hian im Tee kun cuma tertawa hambar belaka sama sekali tidak menanggapi dengan serius.

Sikap hambar dan mcmandang rendah dari Hian im Tee kun itu segera ditanggapi Bu im sin hong Kian Kim siang sekalian sebagai suatu penghinaan yang luar biasa. Untung sekali Bu im sin hong Kian Kim siang bukan seorang manusia berangasan bukan menjadi marah sebaliknya dia malahan meningkatkan kewaspadaan sendiri.

Menyusul di belakang kawanan iblis dari Ban seng kiong mengikuti serombongan besar para penonton keramaian yang bersama sama berangkat manuju ke Wang swan tay. Yang dinamakan Wang swan tay adalah sebuah tanah perbukitan kecil yang terletak diujung tikungan sebuah bukit dipunggung gunung, jaraknya dari istana Ban seng kiong cuma sepuluh li. Walaupun sangat dekat, namun oleh karena permukaan tanah yang tinggi rendah tak menentu, maka walaupun orang berdiri di atas Wang swan tay, istana Ban seng kiong tidak nampak dalam pandangan mata.

Di dekat bukit itu terbentang sebuah sungai dengan arus yang amat deras, air mengalir turun ke bawah tebing dengan arus yang amat derasnya, benar benar suatu pemandangan yang sangat indah. Di sekeliling tanah perbukitan itu sudah penuh berdiri kawanan jago yang menonton keramaian, karenanya sisa tempat untuk tuan rumah menjadi sempit sekali.

Tak lama setelah Hian im Tee kun sekalian tiba di Wang swan tay, dari kejauhan nampak serombongan manusia pelan pelan bergerak naik ke atas bukit. Yang berjalan di paling depan adalah Hian im ji li, Cun Bwee serta Ciu Lan. Menyusul dibelakangnya adalah Thi Eng khi beserta sekalian jago kenamaan dari dunia persilatan. Pada barisan yang paling belakang mengikuti kawanan iblis dari istana Ban seng kiong.

Tatkala para jago hampir tiba di Wang swan tay, Hian im ji li segera melesat ke depan dan naik ke Wang swan tay lebih dulu, kemudian tampak Cun Bwee membisikkan sesuatu di sisi telinga Hian im Tee kun.

Selesai mendengar bisikan tersebut, Hian im Tee kun segera tertawa terbahak bahak, serunya:

“Setelah terjadi pertarungan antara lohu melawan Thi ciangbunjin da¬ri Thian liong pay, dimana untuk membalas budi kebaikan dari lohu yang telah mengampuni jiwanya, dia telah membujuk para ciangbunjin dari berbagai perguruan besar serta jago jago termashur dari kolong lanqit untuk bersama sama menggabungkan dengan kami, untuk kesediaan mereka ini harap kalian sudi bertepuk tangan sebagai tanda hormat!”

Suara tepuk tangan yang gegap gempita pun segera berkumandang memecahkan keheningan. Di tengah tepuk tangan yang gegap gempita pun, Thi Eng khi dan sekalian jago bersama sama memasuki Wang swan tay.

Bu im sin hong Kian Kim siang yang membaurkan diri diantara kerumunan orang banyak dapat menyaksikan disebelah kanan Thi Eng khi berdiri Ciu Tin tin, disebelah kirinya berdiri Pek leng siancu So Bwe leng, sedangkan dibelakangnya adalah Bu Nay nay.

Dibelakang Bu Nay nay mengikuti pula seorang sastrawan muda yang gagah, namun Bu im sin hong Kian Kim siang tidak mengenal siapakah dia. Barulah dibelakang sastrawan muda itu menyusul ketua Siau lim pay Ci long siansu serta ketua Bu tong pay Keng hian totiang …..

Yang paling aneh adalah Ci kay dan Ci liong taysu dari Siau lim pay, Keng ik dan Keng ning totiang dari Bu tong pay, Pit tee jiu Wong Tin pak dan Ngo liu sianseng Lim Biau lim dari Thian liong pay, bukannya mengikuti dibelakang ketua masing masing mereka malah membaurkan diri diantara kawanan jago lainnya.

Beberapa kali Bu im sin hong hendak menyapa Thi Eng khi dengan mempergunakan ilmu menyampaikan suara, bahkan hendak memberitahukan kepada Thi Eng khi kalau kakeknya Keng thian giok cu Thi Keng sekalian sudah dikuasai kesadarannya oleh Hian im Tee kun.

Akan tetapi, ketika teringat olehnya akan nama baik Keng thian giok cu sekalian serta teringat akan tindakan yang bakal dilakukan olehnya, dia merasa lebih baik jangan berterus terang dengan si anak muda. Padahal kecuali kata kata tersebut, dia merasa tiada persoalan lain yang perlu dibicarakan lagi. Maka Bu im sin hong Kian Kim siang segera membatalkan niatnya untuk berbicara dengan Thi Eng khi.

Sementara itu, Thi Eng khi bersama Ciu Tin tin, Pek leng siancu So Bwe leng, Bu Nay nay dan si sastrawan muda yang mengikuti di belakang Bu Nay nay telah meninggalkan rombongan mendekati Wang swan tay. Sekarang jarak Hian im Tee kun dengan mereka tinggal beberapa kaki saja. Berdiri tegak didepan musuhnya Thi Eng khi nampak gagah, perkasa dan penuh berwibawa.

Dia menjura lebih dulu sebagai tata kesopanan, kemudian baru menyapa :

“Hian kun !”

Nada suaranya sama sekali tidak menunjukkan sikap kehormatan.....

Sambil berkerut kening, Hian im ji li (dua gadis Hian im) tertawa getir. Nyatanya Hian im Tee kun sama sekali tidak menggubris akan sikap lawannya, malahan sambil tertawa terbahak bahak dia berkata

:

“Haaahhh.... haaahhh.... haaahhhh... jauh jauh Thi Sauhiap berangkat kemari untuk membaktikan diri dengan istana kami, tujuan dan maksudmu benar benar patut dikagumi untuk itu lohu akan menghormati tiga cawan arak kepadamu sebagai pertanda sambutan hangat dari istana kami.”

Bersama dengan selesainya perkataan itu muncul seorang gadis berbaju hijau yang membawa sebuah baki kemala putih, diatas baki terletak tiga cawan arak, perempuan itu langsung berjalan menuju ke hadapan Hian im Tee kun.

Dengan sikap yang bersungguh sungguh Hian im Tee kun memenuhi sendiri ketiga cawan tersebut dengan arak, kemudian kepada Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng pak sekalian yang berada di belakangnya dia menitahkan :

“Harap tongcu bertiga sudi mewakili diriku untuk menghormati secawan arak untuk Thi sauhiap!”

“Hamba terima perintah!” sahut Keng thian giok cu Thi Keng sekalian dengan sikap yang hormat sekali.

Hian im Tee kun segera melirik sekejap kearah Thi Eng khi, seolah olah dia hendak melihat bagaimanakah perubahan mimik wajah si anak muda tersebut. Seandainya ketiga cawan arak itu diberikan sendiri oleh Hian im Tee kun, maka sebagai tamu Thi Eng khi pasti akan menerimanya tanpa ragu. Tapi dengan sikap Hian im Tee kun yang menyuruh anak buahnya mewakili dia, hal ini sama artinya dengan menganggap Thi Eng khi sebagai anak buahnya pula. Itu berarti penghormatan arak ini bukan hormat seorang tuan rumah terhadap tamunya, melainkan arak pujian seorang atasan terhadap bawahannya. Ditambah lagi orang yang menghormati arak kepadanya adalah Keng thian giok cu Thi Keng bertiga, menurut aturan Thi Eng khi harus meneguknya juga. Tapi bila ketiga cawan arak itu benar benar diteguk olehnya, bila Thi Eng khi hendak menyangkal kalau dia adalah anak buah Hian im Tee kun dikemudian hari, hal mana jelas tak akan mudah. Menghadapi situasi yang serba rikuh ini, bukan Thi Eng khi yang mesti mengatasinya, melainkan Keng thian giok cu sekalian, karena saat ini sudah mencapai saat yang paling kritis dimana pertarungan tak dapat dihindari lagi. Thi Eng khi segera mengalihkan sorot matanya kearah Keng thian giok cu Thi Keng sekalian bertiga, ketika dilihatnya ketiga orang itu sama sekali tidak bermaksud turun tangan terhadap Hian im Tee kun, diam diam dia menghela napas panjang, pikirnya :

“Sudah pasti ketiga orang tua itu telah mengira ilmu silatku punah, demi keselamatan jiwaku mereka tak tega melakukan tindakan yang memalukan ini. aai mengapa aku tidak mengatakan

hal yang sebenarnya kepada mereka agar mereka dapat turun tangan menghadapi Hian im Tee kun?”

Begitu ingatan tersebut melintas di dalam benaknya, dengan ilmu menyampaikan suara dia lantas berseru :

“Yaya!”

Keng thian giok cu Thi Keng nampak tertegun, sorot matanya segera dialihkan ke wajah Thi Eng khi. Sebelum pemuda itu berkata lebih jauh, Hian im Tee kun telah berkata lagi:

“Tongcu bertiga, kalian harus menyampaikan salam hormat tiga cawan arak ini kepada yang berkepentingan!”

“Bila hamba tak mampu melaksanakan tugas ini, kami rela menerima hukuman berat,” sahut Keng Thian giok cu Thi Keng dengan cepat. Kemudian dia maju mendekati Thi Eng khi dengan langkah lebar...

Thi Eng khi yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi sangat gelisah, saking cemasnya dia sampai lupa menggunakan ilmu menyampaikan suara, teriaknya cepat :

“Yaya, sekarang adalah saat bagi kita untuk turun tangan....

“Turun tangan? Apa maksudmu?” Keng Thian giok cu Thi Keng berseru kembali tanpa menghentikan langkahnya.

Dengan suara lantang Thi Eng khi berteriak :

“Kepandaian silat yang cucunda miliki belum hilang, harap kalian bertiga bertindak sesuai dengan rencana semula.” Siapa tahu Keng thian giok cu Thi Keng menjadi gusar sekali setelah mendengar perkataan itu, dengan suara keras dia berteriak :

“Kau jangan mengaco belo secara sembarangan, apakah kau senang menyaksikan yayamu disebut orang yang tidak bersetia kawan ”

Thi Eng khi semakin tertegun lagi, dia belum sempat mengartikan ucapan dari Keng thian giok Thi Keng, ketika secara tiba tiba gadis berbaju hijau yang membawa baki itu sudah mengayunkan tangannya dan melemparkan baki tersebut ke wajah Thi Eng khi.

Menghadapi serangan yang mengancam tiba itu, dengan cekatan Thi Eng khi berkelit ke samping. Tapi sebelum si anak muda itu bertindak lebih jauh, gadis berbaju hijau itu sudah menempelkan telapak tangannya diatas jalan darah Pay sim hiat dipunggung Keng thian giok cu Thi Keng, kemudian kepada Thi Eng khi bentaknya keras keras :

“Thi Eng khi, kau berani turun tangan?”

Thi Eng khi merasakan hatinya bergetar keras, benar juga dia tak berani menitahkan kepada Ciu Tin tin untuk turun tangan. Dengan cepat gadis berbaju hijau itu membawa Keng thian giok cu Thi Keng sekalian bertiga kembali ke hadapan Hian im Tee kun. Kemudian baru menarik kembali telapak tangannya yang menempel diatas jalan darah Pay sim hiat dipunggung Keng thian giok cu Thi Keng dan menyingkir ke samping.

Keng thian giok cu sekalian bertiga segera memberi hormat kepada Hian im Tee kun sembari berkata :

“Hamba sekalian tak mampu melaksanakan tugas secara baik, harap Tee kun sudi melimpahkan hukuman kepada hamba sekalian ”

Dengan cepat Hian im Tee kun mengulapkan tangannya. “Kejadian ini berlangsung diluar dugaan dan sama sekali tak ada

sangkut pautnya dengan kalian, sekarang menyingkirlah lebih dahulu sambil menantikan perintah selanjutnya!” Keng thian giok cu Thi Keng, Sim Ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng pak segera mengundurkan diri ke samping dengan sikap yang menghormat sekali. Kejadian tersebut membuat Thi Eng khi semakin kebingungan dan tidak habis mengerti.

Hian im Tee kun segera tertawa seram :

“Heeeehhh.... heeeehhh...... heeeehhh Thi Eng khi, kau jangan

berbicara yang bukan bukan, lohu tidak percaya kalau kau mampu melepaskan diri dari pengaruh ilmu Hek sin thian kang ci ….”

Sambil mengerahkan tenaga dalamnya Thi Eng khi tertawa terbahak bahak, kemudian serunya :

“Coba dengarkan baik baik, berapa bagian tenaga dalamku yang telah pulih kembali!”

Mendengar gelak tertawa orang, dengan wajah tertegun Hian im Tee kun segera berpaling ke arah kakek Oh Yun yang berdiri dibelakangnya, kemudian menegur ketus :

“Oh Yun, bukankah kau melaporkan sudah menotok jalan darah Ki tong hiatnya dengan ilmu jari Hek sin thian kang ci?”

Dengan gugup dan ketakutan setengah mati kakek she Oh itu menyahut :

“Betul, hamba sendiri yang turun tangan dan tidak bakal salah lagi….”

“Mengapa dia dapat memperoleh kembali kepandaian silatnya ?” tegur Hian im Tee kun dengan suara menggeledek.

“Soal ini..... soal ini..... hamba….”

Thi Eng khi segera tertawa tergelak, tukasnya :

“Aku mempunyai kemampuan untuk membebaskan sendiri pengaruh totokan tersebut, sekalipun kau yang turun tangan sendiripun tak nanti bisa menyusahkan aku.”

Hian im Tee kun segera tertawa dingin :

“Lohu tidak percaya dibalik kesemuanya ini, sudah pasti terdapat hal hal yang tidak beres!” Sekali lagi Thi Eng khi tertawa bahak bahak.

“Haaaahhh.... haaaahhh... haaahhh iblis tua, masih banyak

persoalan yang tidak dapat kau percayai!”

Sembari berkata dia lantas bertepuk tangan tiga kali dan berpekik nyaring lebih dahulu. Menyusul kemudian pekikan demi pekikan nyaring bergema keluar dari mulut para jago yang dalam anggapan kaum iblis Ban seng kiong sudah kehilangan ilmu silatnya itu. Di dalam waktu singkat suara pekikan nyaring sudah menggema memenuhi angkasa dan menggetarkan seluruh bukit Wu san tersebut....

Berubah hebat paras muka para iblis yang berkumpul di Wang swan tay, mereka dibuat gelagapan setengah mati, jelas perubahan yang sama sekali diluar dugaan ini telah memberikan pukulan batin yang cukup berat bagi mereka semua. Hian im Tee kun segera berpaling kearah Hian im li Cun Bwee sambil memperdengarkan suara tertawa dingin yang amat sinis, kemudian jengeknya :

“Kaulah yang harus memikul tanggung jawab ini!”

Dengan gemas Hian im li Cun Bwee melotot sekejap kearah Hian im Tee kun, kemudian serunya pula :

“Hmmmmmm. kau sendiripun tak akan terlepas dari tanggung

jawab ini!”

Dari pembicaraan tersebut dapat didengar kalau mereka sedang saling melemparkan tanggung jawab sehingga bagi yang tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, hal ini tentu saja kedengarannya agak mengherankan. Untung saja perkataan tersebut tidak sampai kedengaran orang lain, karena pada saat itu suara pekikan nyaring dari para jago telah menutupi seluruh ruangan disekitar sana sehingga tentu saja tiada seorang manusiapun yang memperhatikan kejadian kecil ini.

Suara pekikan yang menggetarkan seluruh jagad ini berlangsung kurang lebih setengah perminum teh lamanya sebelum berhenti dan sirap kembali. Disaat berakhirnya suara pekikan itu dan tatkala perhatian semua orang belum terpusatkan menjadi satu, mendadak dari sisi Wang swan tay melayang keluar tiga sosok bayangan manusia yang segera menerkam ke arah Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng pak bertiga.

Berhubung ketiga orang itu muncul dari arah belakang dan disaat para iblis dari istana Ban seng kiong terpecah perhatiannya maka terjangan tersebut menimbulkan kepanikan bagi semua iblis bahkan setelah ketiga sosok bayangan manusia tersebut sudah hampir tiba disisi tubuh Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng pak, mereka baru menyadari. Tapi pada saat itulah tiga sosok bayangan manusia yang berhasil membekuk Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni, Tiang pek lojin So Seng pak telah menerjang kehadapan Thi Eng khi dengan gerakan cepat.

Ciu Tin tin, Pek leng siancu So Bwe leng dan Bu Nay nay melompat kemuka membiarkan ketiga orang itu lewat. Kemudian mereka bertiga sama sama melancarkan serangan yang maha dahsyat untuk membendung serbuan para iblis dari belakang.

Bersamaan waktunya dari arah samping muncul kembali dua sosok bayangan manusia yang bersama sama tiga orang yang berhasil menyambar tubuh Keng thian giok cu Thi Keng sekalian tadi melayang turun dihadapan Thi Eng khi.

Thi Eng khi dan Hui cun siucay Seng Tiok sian yang berada dibelakangnya segera mengira kedua orang itu sebagai kaum iblis Ban seng kiong yang hendak melakukan pengejaran, dengan cepat mereka mengayunkan telapak tangannya melancarkan serangan dahsyat untuk menyongsong kedatangan mereka.

Baru saja Thi Eng khi melancarkan serangan, tampak orang itu sudah berkelit ke samping dengan ilmu Hu kong keng im, kenyataan ini membuat Thi Eng khi merasa terkejut sekali. Dengan cepat pendatang itu melepaskan topeng kulit manusianya sembari berseru

:

“Saudara cilik, aku yang datang!”

“Oooh, rupanya Kian tua!” seru Thi Eng khi dengan penuh kegembiraan. Sementara itu dipihak lain Hui cun siucay Seng Tiok sian telah beradu pukulan satu kali dengan Sam ku sinni, akibat dari bentrokan tersebut Seng Tiok sian terdorong mundur sejauh tiga langkah lebih. Sementara dia hendak melancarkan tubrukan kembali, Thi Eng khi sudah berteriak keras :

“Saudara Seng, cepat hentikan seranganmu, kita adalah orang sendiri.”

Hui cun siucay Seng Tiok sian segera miringkan badan dan menghentikan gerakan tubuhnya. Sam ku sinni pun segera melepaskan topeng kulit manusia yang dikenakan. Dalam suasana yang serba kacau ini Ban li tui hong Cu Ngo, si pencuri sakti Go Jit serta Siu Cu telah melepaskan pula topeng kulit manusia masing masing dan menotok jalan darah Keng thian giok cu Thi Keng sekalian bertiga sebelum mendudukkan mereka keatas tanah.

Sungguh tak pernah disangka oleh Thi Eng khi kalau Ban li tui hong Cu Ngo sekalian dapat menguasai kakeknya bertiga, kenyataan ini membuatnya tertegun.

“Hei, apa yang sebenarnya telah terjadi,” tegurnya kemudian keheranan.

Bu im sin hong Kian Kim siang menghela napas panjang. “Aaai. sesungguhnya kakekmu semua sudah kehilangan

kesadaran dan kepandaian silatnya, jalan pikiran mereka sudah dikendalikan oleh Hian im Tee kun, seandainya saudara cilik tidak menyatakan kalau kepandaian silatmu telah pulih kembali, hampir saja engkoh tua mu hendak melakukan perbuatan yang mungkin akan kusesali sepanjang masa.”

Menyusul kemudian dia lantas menuturkan bagaimana mereka berencana hendak membunuh ketiga orang tokoh persilatan itu guna melindungi nama baik mereka dari aib. Thi Eng khi yang mendengar penjelasan tersebut menjadi terkejut bercampur terharu, untuk beberapa saat lamanya dia sampai tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ternyata Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan Thi Eng khi sudah berhasil memperoleh kembali kepandaian silatnya, dengan cepat mengambil keputusan untuk merubah rencananya semula. Diam diam dia mengirim berita kepada Ban li tui hong Cu Ngo bertiga agar merebut Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng pak dari cengkeraman musuh.

Oleh karena peristiwa itu berlangsung sangat tiba tiba, maka mereka pun berhasil memperoleh kesuksesan yang sama sekali diluar dugaan. Baru saja dipihak sini para jago berhasil merobohkan Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng pak, pertarungan yang berlangsung antara Ciu Tin tin, Pek leng siancu So Bwe leng dan Bu Nay nay melawan para iblis pun telah berakhir karena hardikan Hian im Tee kun, masing masing pihak telah balik ke posisi masing masing.

Terdengar Hian im Tee kun tertawa seram tiada hentinya, kemudian membentak keras :

“Anjing kecil, tempat ini terlampau sempit dan kurang leluasa untuk dijadikan anjang pertarungan, beranikah kau naik ke gunung untuk mengadakan pertemuan di istanaku?”

Thi Eng khi tertawa nyaring.

“Haaahhh... haaahhh..... haaahhh... hari ini adalah saat kiamatnya Ban seng kiong kalian, apa salahnya untuk melepaskan kau agar bisa melakukan persiapan terlebih dulu?”

“Baik!” kata Hian im Tee kun kemudian sambil tertawa dingin, “aku akan segera mempersiapkan upacara terakhir bagi kalian semua ”

Dengan membawa begundal begundalnya, dia lantas mengundurkan diri dari tempat itu. Sementara itu para penonton keramaian mulai sadar kalau keramaian yang bakal berlangsung dalam istana Ban Seng kiong kali ini bukan permainan biasa, mereka yang bernyali kecil segera membubarkan diri dan pulang ke rumah masing masing. Hanya mereka yang bernyali besar dan menganggap dirinya sebagai jagoan persilatan saja yang tetap berada di tempat semula, mereka telah bersiap sedia mengikuti rombongan Thi Eng khi untuk melangsungkan pertarungan mati matian melawan para iblis.

Setelah para gembong iblis dari Ban seng kiong berlalu, maka pertama yang hendak dilakukan Thi Eng khi adalah memulihkan dulu kesadaran dari Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni serta Tiang pek lojin So Seng pak. Seperti diketahui, dalam gua Yang Sing tong milik Cu sim ci cu Thio Biau liong, Thi Eng khi berhasil mempelajari semua kepandaian sakti milik tokoh persilatan tersebut, bahkan dari kitab kitab pusaka yang disimpan disana, dia peroleh pengetahuan yang luar sekali. Tidak heran kalau Thi Eng khi cukup menguasai tentang ilmu menotok jalan darah dan bagaimana menguasai kesadaran seseorang.

Sekalipun demikian, oleh sebab pelbagai ilmu mempunyai ciri yang berbeda, otomatis cara pengobatannya pun berbeda, maka bilamana seseorang salah bertindak atau salah memberi pengobatan, salah salah orang yang ditolong akan menjadi orang yang bodoh atau lemah ingatan. Itulah sebabnya Thi Eng khi sengaja membiarkan Hian im li Cun Bwe menotok jalan darah Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, kemudian menyadap cara Cun Bwee membebaskan pengaruh totokan tersebut.

Coba kalau tiada petunjuk tersebut mungkin si anak muda ini pun tak berani turun tangan secara sembarangan guna menolong Keng thian giok cu Thi Keng bertiga. Sekarang Thi Eng khi sudah menguasai penuh cara pengobatan yang pernah digunakan Hian im li Cun Bwee, dikombinasikan pula dengan pengetahuan yang dimilikinya, dia segera bertindak dengan cepat. Tampak tubuhnya berputar bagaikan roda kereta dalam waktu singkat dia sudah menotok dan menguruti semua nadi penting ditubuh ketiga orang tokoh persilatan tersebut. Tidak sampai dua perminum teh, Keng thian giok cu Thi Keng bertiga sudan berhasil memperoleh kembali kesadaran otaknya.

Secara beruntun Thi Eng khi, Ciu Tin tin dan So Bwe leng maju menghunjuk hormat kepada kakek dan gurunya masing-masing... Pit tee jiu Wong Tin pak serta Ngo liau sianseng Lim Biau lim juga segera maju ke depan menjumpai guru serta susioknya. Menyusul kemudian Bu im sin hong Kian Kim siang menuturkan semua peristiwa yang telah terjadi selama ini kepada ketiga orang tua tersebut.

Mendengar penuturan itu, ketiga orang tua itu saling berpandangan dengan wajah tertegun, sementara harinya berdebar keras seakan akan baru saja memperoleh sebuah impian yang sangat buruk. Seakan akan kehilangan sesuatu, Keng thian giok cu Thi Keng menghela napas panjang, kemudian ujarnya :

“Kian lote, kepandaian silat kami bertiga sudah hilang, terpaksa rencana kita untuk mengerubuti Hian im Tee kun harus diserahkan kepada angkatan muda muda untuk menyelesaikannya, walaupun kalau dipikir kembali sungguh membuat hati orang tak puas ”

Bu im sin hong Kian Kim siang hanya bisa mengeluh sebab dia sendiripun tak berhasil menemukan kata yang tepat untuk menghibur hati mereka.

“Yaya!” kata Thi Eng khi tiba tiba dengan kening berkerut, “serangan gelap apa sih yang telah dilancarkan Hian im Tee kun terhadap kalian.”

Kembali Keng thian giok cu Thi Keng menghela napas panjang, sahutnya sambil tertawa getir :

“Anak Eng, sekalipun kau sudah memperoleh warisan dari seluruh kepandaian Cu sim ci cu Thio locianpwe, rasanya tidak gampang untuk menolong yayamu sekalian.”

“Coba yaya utarakan dan kita bisa merundingkan bersama sama, kalau dibilang sudah tidak ada cara lagi, hal ini mustahil. ”

Ketua Bu tong pay Keng hian totiang berbicara :

“Dalam semalaman saja, Thi ciangbunjin berhasil memulihkan tenaga dalam kami semua, kejadian ini cukup membuat Hian im Tee kun merasa terkejut, bila kita bisa membantu cianpwe bertiga lagi untuk memulihkan kembali kepandaian silatnya, kemudian dengan kerja sama cianpwe bertiga dengan Kian tua, Hian im Tee kun sudah pasti akan menderita kekalahan total dan pertarungan yang berlangsung hari ini pun pasti akan kita menangkan secara keseluruhan.”

Dengan suara dalam Keng thian giok cu Thi Keng segera berkata

:

“Kami bertiga telah terkena racun Hua kang san dari Hian im Tee

kun, anak Eng, apakah kau punya akal?”

Thi Eng khi termenung sambil berpikir sebentar, kemudian tanyanya lagi :

“Sudah berapa lama yaya terkena bubuk racun Hua kang san tersebut?”

Keng thian giok cu Thi Keng menghitung sebentar harinya, kemudian menyahut :

“Sampai hari ini baru tiga hari!”

“Untung Seng heng hadir disini, Eng ji bisa mencoba dengan paksakan diri!”

Keng thian giok cu Thi Keng menjadi gembira sekali setelah mendengar perkataan tersebut, serunya dengan cepat :

“Kalau begitu cepatlah pergunakan caramu itu untuk menolong kami, hari ini bila yaya tak mampu membunuh Hian im Tee kun, rasanya sukar untuk melenyapkan rasa benci dari dalam hatiku...”

Thi Eng khi mengeluarkan sembilan butir pil Kim khong giok lok wan dan dibagikan kepada ketiga orang tua tersebut. Kemudian meminta kepada Bu im sin hong Kian Kim siang, Sam ku sinni dan ketua Bu tong pay Keng hian totiang untuk menggunakan tenaga dalamnya membantu ketiga orang tua tersebut.

Setelah itu, dia menarik Hui cun siucay Seng Tiok sian ke samping dan mengajaknya berunding.

“Nanti siaute akan mempergunakan hawa murni sam wi cing hui untuk melumerkan sari racun Hua kang san yang berada dalam tubuh ketiga orang tua tersebut, harap saudara Seng dengan mempergunakan ilmu Ban hong ki lun (selaksa lebah mengelilingi putik) menusuk tiga puluh enam buah jalan darah penting di tubuh mereka, dengan berbuat demikian maka tidak sulit buat kita untuk menghilangkan pengaruh racun Hua kang san tersebut ”

Hui cun siucay Seng Tiok sian adalah seorang yang ahli pula dalam ilmu pertabiban, setelah mendengar perkataan dari Thi Eng khi tersebut, dia lantas berkata dengan kening berkerut :

“Saudara Thi, untuk membantu semua orang dalam memulihkan tenaganya kembali, kau sudah mengorbankan banyak sekali hawa murnimu, apakah kau masih mempunyai sisa tenaga untuk membantu ketiga orang tua ini?”

“Sebelum dimulai, harap saudara Seng menusuk jalan darah Ki juan hiat dan Thian yu hiat ditubuhku dengan jarum emas, dengan begitu akan merangsang sisa tenaga yang siaute miliki, aku pikir kekuatan tersebut masih cukup dipakai menyembuhkan sisa racun yang mengeram ditubuh ketiga orang tua tersebut.”

Hui cun siucay Seng Tiok sian mengerutkan keningnya makin kencang :

“Saudara Thi, tahukah kau apa akibatnya dengan berbuat demikian ini?”

Thi Eng khi tertawa bangga.

“Siaute telah mempertimbangkan baik baik ”

Oleh sebab Hui cun siucay Seng Tiok sian tidak mengetahui sampai dimanakah taraf tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi, maka secara khusus dia memperingatkan pemuda itu lagi :

“Saudara Thi, dengan berbuat demikian kau akan menghancurkan seluruh tenaga dalam yang dimiliki!”

Thi Eng khi kembali tertawa.

“Bagi siaute cukup beristirahat satu bulan saja, semua tenaga dalam yang kumiliki akan pulih kembali seperti sedia kala ” Hui cun siucay Seng Tiok sian mengira ucapan dari Thi Eng khi tersebut hanya bermaksud menghibur hatinya, dia beranggapan Thi Eng khi hendak mengorbankan diri untuk mewujudkan harapan ketiga orang tua tersebut, maka tanpa terasa ujarnya jauh :

“Tapi dalam pertarungan hari ini, musuh lebih banyak daripada kita, kau tak boleh sampai ketinggalan!”

“Setelah membantu semua orang memulihkan tenaga dalamnya, kekuatan yang kumiliki sekarang sudah tak sanggup untuk menandingi Hian im li sekalipun bertambah dengan aku seorang tak bisa dianggap banyak, kekurangan aku seorangpun tak bisa dihitung kurang, sebaliknya bila kubantu memulihkan kembali kekuatan dari ketiga orang tua tersebut, sekalipun kehilangan aku seorang, tapi akan bertambah tiga orang jago lihay yang jauh mengungguli Hian im li, bukankah hal ini jauh lebih untung bagiku.”

Hui cun siucay Seng Tiok sian benar benar dibikin takluk, dia menghela napas panjang kemudian ujarnya :

“Saudara, siaute benar benar mengagumi watakmu, baiklah, aku akan turut perintah!”

Thi Eng khi segera mengajak Seng Tiok sian balik kembali ke hadapan ketiga orang tua itu, pikirnya kemudian :

“Bila aku menolong kakekku lebih dulu, bisa jadi kakek akan tak senang hati. ”

Maka dia lantas menuju ke belakang punggung Sim ji sinni dan duduk bersila disitu, dia menyuruh Hui cun siucay Seng Tiok sian menusuk jalan darah Khi juang hiat dan Thian yu hiatnya untuk merangsang tenaga sisa yang dimiliki, kemudian telapak tangannya ditempelkan diatas jalan darah Pay sim hiat di punggung Sim ji sinni.

Tindakan Thi Eng khi dalam menggunakan Sam wi ceng hui untuk melebur racun dalam tubuh Sim ji sinni itu memang tak dapat disaksikan dengan mata telanjang, maka dari perhatian semua orang sekarang dialihkan ke wajah Hui cun siucay Seng Tiok sian. Hui cun siucay Seng Tiok sian sebagai ahli waris dari Tabib nomor wahid dikolong langit dewasa ini, si Pembenci raja akhirat Kwik Keng thian memiliki kemampuan yang lihay sekali, kecuali Thi Eng khi boleh dibilang tiada orang yang bisa menandingi dirinya lagi.

Cuma tiada orang yang mengetahui akan hal ini, siapapun tidak menyangka kalau pemuda tersebut memiliki ilmu pertabiban yang luar biasa. Waktu itu dalam genggaman tangannya penuh dengan jarum emas sementara sepasang mata yang tajam mengawasi terus perubahan wajah Sim ji sinni tanpa berkedip. Pada mulanya, di bawah leburan hawa sakti Sam wi ceng hui dari Thi Eng khi, paras muka Sim ji sinni berubah menjadi merah membara dan dadanya naik turun amat keras, napasnya tampak susah dan sesak.

Kemudian paras muka Sim ji sinni makin lama berubah semakin merah, napas

pun makin lama semakin memburu dan tersengkal sengkal, seakan akan sudah hampir putus napas saja …..

Waktu itu Hui cun siucay Seng Tiok sian berdiri dihadapan Sim ji sinni, peluh sebesar kacang kedelai bercucuran pula membasahi seluruh wajahnya, jelas dia pun merasa sangat tegang sekali….

Sudah barang tentu rasa tegangnya ini dikarenakan dia harus menggunakan jarumnya pada saat yang paling tepat, salah yang kecil pun bukan saja akan menghancurkan Sim ji sinni bahkan Thi Eng khi sendiripun akan turut musnah…..

Sekarang paras muka Sim ji sinni sudah berubah merah darah, dari tenggorokannya pun mulai bergema suara gemerutuk yang sangat aneh. Ketika suara tersebut berkumandang untuk ketiga kalinya, suara sudah kedengarannya lemah sekali, atau dengan perkataan lain sudah mencapai saat orang hendak menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Di saat seperti inilah Hui cun siucay Seng Tiok sian mengayunkan sepasang tangannya bersama sama, selapis cahaya tajam yang berwarna keemas emasan menyebar di seluruh angkasa, tahu tahu kedua puluh tiga batang jarum emas tersebut sudah menancap pada kedua puluh tiga buah jalan darah penting ditubuh Sim ji sinni (kecuali jalan darah pada alat kelaminnya). Dalam sekali sambitan dua puluh tiga batang jarum emas dilancarkan bersamaan, sasaranpun amat tepat, hal tersebut membuat puluhan jago yang hadir di arena sama sama menghela napas panjang. Selesai melancarkan ke dua puluh tiga batang jarum emas tersebut, Hui cun siucay Seng Tiok sian menghembuskan napas panjang dan menyeka keringat yang membasahi wajahnya.

Kemudian dia mengeluarkan kembali dua belas batang jarum emas dan digenggam dalam tangannya.

Sementara itu paras rnuka Sim ji sinni dari warna merah sudah berubah menjadi semu merah lalu berubah menjadi pucat pias, akhirnya wajahnya benar benar menjadi pucat pasi. Lama, lama kemudian dari warna semu berubah kembali menjadi warna tua dan akhirnya pulih menjadi merah.

Sekali pun demikian, dengusan napas Sim ji sinni meski masih agak memburu namun jauh lebih enteng dan lega. Pada kesempatan yang selanjutnya, kembali Hui cun siucay Seng Tiok sian mengayunkan tangannya untuk melancarkan kedua belas batang jarum emas yang berada ditangannya. Sebenarnya Hui cun siucay Seng Tiok sian berdiri saling berhadapan dengan Sim ji sinni, tapi jarum emas yang dilancarkan olehnya justru berkelebat diantara kilauan cahaya emas dan bersama lama menancap diatas dua belas jalan darah penting dipunggung Sim ji sinni

Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan kejadian tersebut tanpa terasa memuji :

“Benar benar suatu gerakan Hui hong hui hong (Pelangi terbang angin berpusing) yang hebat!”

Mendadak hatinya bergetar keras cepat tanyanya lagi :

“Sobat cilik, apakah kau pelajari ilmu tersebut dari si Pembenci raja akhirat Kwik Keng thian?”

“Dia orang tua adalah guru boanpwe!” jawab Hui cun siucay Seng Tiok sian dengan wajah serius.

Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa terbahak bahak. “Haaaahh... haahhhh haaahhhh.. tahukah kau siapakah aku?”

“Dari nada pembicaraan tadi boanpwe sudah mengetahui tentang locianpwe hanya belum sempat memberi salam saja.”

Kemudian sambil menjura kepada Bu im sin hong Kian Kim siang, katanya :

“Boanpwe Seng Tiok sian menjumpai locianpwe.”

Belum habis dia berkata, tiba tiba badannya menerjang maju ke muka, buru buru Bu im sin hong Kian Kim siang mengayunkan tangannya melepaskan sebuah pukulan tanpa wujud untuk mengangkat badannya dari atas tanah.

“Apakah kau sudah banyak mengorbankan tenaga dalammu?” katanya penuh perhatian.

Paras muka Hui cun siucay Seng Tiok sian berubah menjadi semu merah, sahutnya cepat :

“Tenaga dalam boanpwe memang cetek, ditambah lagi sedang merasa tegang, aku merasa rada pusing.”

Bu im sin hong Kian Kim siang segera menempelkan telapak tangannya keatas bahu Hui cun siucay Seng Tiok sian, segulung aliran hawa panas segera menyusup ke dalam tubuh Hui cun siucay Seng Tiok sian, pesannya kemudian :

“Cepat kau salurkan hawa murni untuk mengelilingi seluruh badan, hari ini jika kau sudah membantu saudara cilik Thi untuk memulihkan kembali tenaga dalam dari ketiga orang locianpwe tersebut sehingga memberikan kebanggaan untuk sahabat sahabat persilatan yang berada di wilayan Im kui siang juan, supek pasti akan baik baik memberi hadiah untukmu.”

Kemudian setelah berhenti sejenak dia berkata lebih jauh : “Bersediakah kau mempelajari ilmu gerakan tubuh Hu kong keng

im milik supekmu ini?” Mendengar perkataan tersebut Hui cun siucay Seng Tiok sian menjadi terkejut bercampur girang, hampir saja dia berhenti bersemedi, buru buru serunya :

“Terima kasih banyak supek!”

Perlu diketahui, Hu kong keng im adalah ilmu gerakan tubuh andalan dari Bu im sin hong Kian Kim siang, padahal sudah puluhan tahun lamanya Bu im sin hong Kian Kim siang termashur dalam dunia persilatan. Bisa dibayangkan betapa gembiranya Hui cun siucay Seng Tiok sian setelah mendengar kalau Bu im sin hong Kian Kim siang hendak mewariskan ilmu andalannya itu kepadanya.

Sementara itu Thi Eng khi menyelesaikan pertolongannya dan membantu Hui cun siucay Seng Tiok sian mencabut keluar jarum emas dari tubuh Sim ji sinni. Ciu Tin tin yang amat sayang kepada gurunya, dengan cepat menempelkan kembali telapak tangannya diatas tubuh Sim ji sinni, dia berharap gurunya bisa memperoleh kembali tenaga dalamnya secepat mungkin.

Tak lama kemudian Hui cun siucay Seng Tiok sian telah berhasil memulihkan kembali kekuatannya. Sedangkan Thi Eng khi atas bantuan dari jarum emas, dalam waktu singkat berhasil pula menyembuhkan luka dari Tiang pek lojin So Seng pak dan Keng thian giok cu Thi Keng.

Namun dalam pengobatan itu, berhubung Hui cun siucay Seng Tiok sian memiliki tenaga dalam terlampau cetek, maka dia harus menerima bantuan dari Bu im sin hong Kian Kim siang untuk menyelesaikan tugas itu.

Begitulah, setelah ketiga orang tokoh persilatan tersebut berhasil mendapatkan kembali tenaga dalamnya, mereka lantas bersemedi untuk mengatur pernapasan. Akibat dari kejadian ini, semua orang mulai menganggap Thi Eng khi bagaikan dewa saja.

Pada saat itulah, Hui cun siucay Seng Tiok sian siap hendak mencabut keluar jarum emasnya dari atas jalan darah Khi juang hiat dan Thian yu hiat ditubuh Thi Eng khi. Tapi pemuda itu segera menggelengkan kepalanya sembari berkata : “Tunggu dulu! Bila jarum emas ini dicabut keluar maka siaute akan segera roboh lemas tak berkekuatan lagi, keadaanku nanti seperti orang mati saja, bukan saja hal tersebut tak akan bisa membantu semua orang di istana Ban seng kiong nanti, malahan akan merepotkan semua orang untuk mencabangkan pikiran dan melindungiku, ini jelas tidak leluasa untuk kalian semua, menurut pendapat siaute, lebih baik jarum emas ini dicabut keluar setelah kita menyapu rata seluruh istana Ban seng kiong nanti!”

Dengan perasaan sangat kuatir Hui cun siucay Seng Tiok sian berkata cepat :

“Saudara Thi, aku percaya ilmu pertabibanmu jauh lebih lihay daripada siaute, rasanya siaute pun tak usah memberi peringatan lagi kepadamu, tapi bagaimanapun juga kau harus memikirkan juga masa depan dari semua umat persilatan yang ada di dunia ini.”

Namun Thi Eng khi hanya menggelengkan kepalanya berulang kali dan bersikeras menampik untuk mencabut keluar jarum emas dari tubuhnya. Hui cun siucay Seng Tiok sian menjadi amat gelisah, dia lantas memberitahukan hal tersebut kepada Bu im sin hong Kian Kim siang. Mendengar kabar ini, Bu im sin hong Kian Kim siang segera melotot ke arah Thi Eng khi sambil menegur :

“Saudara cilik, benarkah kau ingin menyaksikan semua sahabat dunia persilatan bersedih hati untukmu?”

Thi Eng khi tertawa getir :

“Kau tak usah kuatir Kian tua, siaute cukup tahu diri, sekali pun diperpanjang setengah atau sehari pun tak bakal menghancurkan siaute, saudara Seng tidak mengetahui tentang penemuan aneh yang siaute terima di gua Yang sim tong, Kian tua kau harus percaya kepadaku.”

Bu im sin hong Kian Kim siang menjadi ragu ragu :

“Saudara cilik, bukannya engkoh tua tidak percaya kepadamu, melainkan tak berani percaya kepadamu, kau tak boleh sembarangan mengacau!”

Dia segera turun tangan menotok jalan darah Thi Eng khi.

Setelah membantu ketiga tokoh persilatan itu memperoleh kembali hawa murninya. Thi Eng khi mengalami kerugian yang besar sekali, sekalipun dia ingin berkelit sayang kemampuannya sudah tidak memadai lagi. Dalam sekali ayunan tangan saja, tampaknya jari tangan Bu im sin hong Kian Kim siang tersebut akan segera mencabut keluar jarum emas ditubuhnya.

Mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara dari Keng thian giok cu Thi Keng :

“Kian lote, apa sih kesalahan anak Eng? Tolong berilah muka untuk siaute dan ampunilah dia untuk kali ini!'”

Sambil menghela napas panjang, Bu im sin hong Kian Kim siang menarik tangannya, lalu berkata :

“Dia sendiri yang pingin mampus, coba bayangkan bikin hati orang menjadi dongkol atau tidak?”

Walaupun kepandaian silat yang dimiliki Keng thian giok cu Thi Keng baru saja pulih, namun kegagahan serta kewibawaannya sama sekali tidak menjadi kurang, dengan langkah lebar dia menghampiri Thi Eng khi, lalu ujarnya :

“Eng khi, kau anggap setelah memiliki tenaga dalam yang tinggi maka boleh berbuat menurut kehendak sendiri?”