Pukulan Naga Sakti Jilid 41

 
Jilid 41

Dalam anggapan orang orang Ban seng kiong, tenaga dalam yang dimiliki kawanan jago persilatan itu sudah punah dan tidak berdaya lagi untuk melawan, untuk menghindari umpatan serta caci maki mereka, maka kawanan iblis itu bersama sama mundur dari gua dan hanya berjaga di mulut gua saja. Dengan demikian mereka sama sekali tidak mau tahu terhadap kejadian yang berlangsung dalam gua tersebut. Sepanjang jalan, Thi Eng khi sama sekali tidak memberitahukan kepada Ciu Tin tin ataupun So Bwe leng dan Bu Nay nay kalau ilmu silatnya sudah pulih kembali. Tak heran kalau mereka merawat dan melayani kebutuhan Thi Eng khi dengan hangat dan penuh kasih sayang, justru karena itu pula kawanan iblis dari Ban seng kiong semakin percaya kalau Thi Eng khi benar benar sudah kehilangan kepandaian silatnya. Itulah sebabnya mereka mengurungnya bersama sama kawanan jago persilatan lainnya, dengan demikian banyak membantu Thi Eng khi sehingga bisa bertindak lebih leluasa.

Setelah kawanan gembong iblis dari Ban seng kiong mengundurkan diri, Pit tee jiu Wong Tin pak dan Ngo liu sianseng Lim Biau lim dari Thian liong pay, mereka datang mendekati terali besi dan menjumpai ciangbunjinnya. Thi Eng khi tidak leluasa untuk mengucapkan sesuatu terhadap mereka, maka setelah berbincang bincang sebentar, dengan alasan lelah karena menempuh perjalanan jauh, dia menitahkan kepada mereka agar mengundurkan diri.

Dengan kejadian ini maka ketua Siau lim pay Ci long siansu dan ketua Bu tong pay Keng hian totiang yang sebenarnya ingin datang menghibur, menjadi mengurungkan niatnya, mereka hanya menyapa dari kejauhan sebagai adat kesopanan saja.

Dengan disekapnya Thi Eng khi bersama para jago lainnya, tanpa diberi penjelasan lagi semua kesalah pahaman orang terhadap dirinya hilang lenyap dangan sendirinya. Dalam gua tiada penerangan maka setelah larut malam, suasana ditempat itu menjadi gelap gulita. Sebagaimana diketahui, jalan darah dari kawanan jago persilatan itu sudah tertotok, dengan demikian kepandaian mereka untuk melihat dalam kegelapan pun tak dapat digunakan, tak heran kalau mereka macam terkena buta ayam saja, tak dapat melihat siapa siapa. Bahkan tidak terkecuali pula dengan Ciu Tin tin, Pek leng siancu So Bwe leng serta Bu Nay nay.

Satu satunya orang yang tidak mengalami keadaan tersebut hanyalah ketua Thian liong pay Thi Eng khi, meskipun dia terkena totokan pula oleh orang lain, tapi dengan kemampuan tenaga dalamnya yang sempurna, bila bukan Hian im Tee kun yang turun tangan sendiri, maka hakekatnya tiada orang yang mampu untuk menguasahi dirinya.

Dengan tenang dia memeriksa sejenak keadaan disekeliling tempat itu, kemudian setelah manggut manggut katanya :

“Sekarang, aku tak dapat berpura pura terus.”

Dia memandang sekejap ke arah Ciu Tin tin yang sedang tidur bersandar diatas dinding, timbul perasaan menyesal dalam hatinya, kemudian dengan ringan dia berkelebat ke depan, ternyata Ciu Tin tin tidak merasakan hal ini. Thi Eng khi segera menutupi bibir Ciu Tin tin dengan tangannya, ketika gadis itu tersadar dan hendak berteriak, ia sudah tak mampu bersuara lagi, pada saat itulah dia mendengar suara bisikan Thi Eng khi yang

dipancarkan dengan ilmu menyampaikan suara :

“Enci Tin, sesungguhnya ilmu silat yang siaute miliki sudah pulih kembali sejak semula, tapi oleh karena aku hendak menciptakan suatu kesempatan yang dapat membuat Hian im Tee kun gugup dan gelagapan maka termasuk enci sendiri pun kutipu sampai sekarang, harap kau sudi memaafkan.”

Meskipun Ciu Tin tin tak dapat berbicara, setelah mendengar kabar gembira tersebut gemetar keras seluruh tubuhnya karena girang, dia segera menggenggam lengan Thi Eng khi kencang kencang. Sementara air matanya bagaikan hujan gerimis jatuh bercucuran tiada hentinya. Harapannya muncul kembali, semua kesedihan dan kepedihan yang mencekam perasaannya selama inipun hilang lenyap tak berbekas.

Thi Eng khi menunggu sampai gejolak perasaan dari Ciu Tin tin menjadi tenang kembali, kemudian dia baru berkata lebih lanjut :

“Enci Tin, harap kau jangan berbicara dulu, siaute hendak membebaskan jalan darahmu dan memulihkan kembali tenaga dalammu…..”

Sembari berkata, dia menarik kembali tangannya yang dipakai untuk menutupi mulut Ciu Tin tin itu. Berhubung Ciu Tin tin tidak mengetahui sampai dimanakah kemajuan yang dicapai Thi Eng khi dalam kepandaian silatnya, tanpa terasa satu ingatan melintas dalam benaknya :

“Adik Eng, mampukah kau?”

Belum habis ingatan tersebut melintas, angin jari yang dipancarkan Thi Eng khi sudah menotok tujuh buah jalan darah kematiannya secara beruntun menyusul kemudian pemuda itu menempelkan telapak tangannya diatas jalan darah Pay sim hiatnya. Segulung hawa murni yang segar dan hangat dengan cepat menembusi badannya. Ciu Tin tin merasakan bagian jalan darahnya yang tertotok itu menimbulkan suara nyaring, seakan akan batu yang menyumbat jalan darahnya itu sedang dicukil orang, menyusul kemudian peredaran hawa murninya menjadi segar dan lancar kembali, hawa murninya mengumpul dan mengikuti petunjuk dari Thi Eng khi berputar tiada hentinya secara teratur.

Setelah mengatur napas tiga kali, tenaga dalam yang dimiliki Ciu Tin tin telah pulih kembali seperti sedia kala. Sekarang dia sudah dapat mengajak Thi Eng khi untuk berbicara dengan ilmu menyampaikan suara. Pertama tama dia tertawa dulu, kemudian baru serunya :

“Adik Eng, enci memang sangat bodoh padahal ketika kau membantu Bu Im cianpwe untuk menembusi urat nadi Jin dan tok mehnya, aku sudah seharusnya dapat menduga kalau tenaga dalammu sudah pulih kembali seperti sedia kala.”

Thi Eng khi tersenyum.

“Oleh sebab enci terlalu memperhatikan dan percaya kepada siaute maka kau tidak membiarkan kecurigaanmu itu berkembang menjadi besar, siaute sangat berterima kasih kepadamu, hanya gara gara kejadian ini maka enci Tin lah yang susah!”

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia menyambung lebih jauh : “Namun bila kau benar benar tak tahu kalau siaute berhasil

mendapatkan kembali kepandaianku, sudah pasti dalam sikap maupun gerak gerikmu tadi mudah untuk mengendalikan diri secara wajar, siapa tahu gara gara hal itu usahaku akan menjadi sia sia dan berantakan tak karuan.” Ciu Tin tin tersenyum.

“Kau memang selalu punya alasan... ”

Kemudian setelah berhenti sejenak sambil cemberut, katanya lagi kepada Thi Eng khi :

“Tentunya kau tak akan membiarkan adik Leng menderita terus bukan ”

Semu merah selembar wajah Thi Eng khi oleh perkataan tersebut, ia segera berkata :

“Tentang Bu Nay nay, terpaksa aku mesti merepotkan diri enci. ”

“Aku belum pernah mempelajari ilmu membebaskan jalan darah !”

Thi Eng khi segera menerangkan kepada Ciu Tin tin bagaimana caranya membebaskan pengaruh totokan, kemudian dia baru membantu Pek leng siancu So Bwe leng untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan. Tak terlukiskan rasa gembira Pek leng siancu So Bwe leng setelah mendengar kenyataan tersebut, dengan ilmu menyampaikan suaranya dia lantas mengomeli si anak muda itu panjang lebar. Thi Eng khi harus membujuk Pek leng siancu So Bwe leng sampai setengah harian lamanya sebelum dapat membuatnya menjadi tenang kembali.

Kemudian Thi Eng khi menyuruh mereka tetap tinggal dalam ruangan batu untuk menanti, sedang dia sendiri mendekati pintu berterali besi, mengerahkan hawa murninya dan mengorek gembokan diatas pintu baja tadi. Bagaikan sedang bermain sulap saja tanpa menimbulkan cedera atau pun suara, kunci itu berhasil dibongkar.

Dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi sekarang, sekalipun jago jago silat yang berada dalam gua itu belum kehilangan tenaga dalamnya pun, jangan harap mereka berhasil mengetahui gerak geriknya. Sekarang, tentu saja dia semakin dapat bergerak leluasa diantara orang orang tersebut. Mendadak dia mempercepat gerakan tubuhnya, sepasang tangannya digerakkan ke kanan ke kiri, dalam waktu singkat dari dua puluh sembilan jago lihay yang berada dalam gua, sudah ada dua puluh delapan orang diantaranya yang tertotok jalan darah tidurnya.

Sekarang yang masih tetap sadar hanya ketua Bu tong pay, Keng hian totiang seorang. Thi Eng khi segera menghentikan gerakan tubuhnya persis di hadapan ketua Bu tong pay Keng hian totiang, setelah itu bisiknya lirih :

“Totiang! Totiang! Eng khi berada di sini!”

Seperti diketahui, ketua Bu tong pay Keng hian totiang sudah kehilangan daya penglihatannya dalam kegelapan semenjak tenaga dalamnya dipunahkan, ketika mendengar bisikan Thi Eng khi secara tiba tiba, ia nampak terkejut sekali dan segera membuka matanya lebar lebar. Tapi berhubung gua itu sangat gelap maka sulit baginya untuk melihat wajah Thi Eng khi.

Setelah menghela napas panjang, dia pun bergumam, “Mungkinkah pinto sedang bermimpi?”

Thi Eng khi terharu sekali menyaksikan seorang ciangbunjin dari suatu partai besar harus mengalami nasib yang begini tragis, agak emosi dia berkata :

“Baik baikkah ciangbunjin selama ini? Thi Eng khi berdiri dihadapanmu!” Sembari berkata dia memegang bahu Keng hian totiang.

Gemetar keras sekujur badan Keng hian totiang menghadapi kejadian ini, dia segera membentak lirih :

“Kau betul betul adalah Thi ciangbunjin?”

Oleh karena dia tidak mempersiapkan batinnya secara baik, walaupun mendengar suara dari Thi Eng khi, namun dia masih tidak percaya kalau orang yang sedang berdiri di hadapannya adalah Thi Eng khi yang asli. “Aku benar benar adalah Thi Eng khi!” kembali pemuda itu berkata sambil menghela napas.

Keng hian totang segera mengangkat tangannya bersama sama memegang lengan Thi Eng khi yang sedang memegang bahunya itu, sementara rasa haru membuatnya menjadi gemetar :

“Sungguh tak nyana kita menjadi tawanan semua pada hari ini, Thi ciangbunjin. Baik baikkah kau selama ini? Bukankah kepandaian silatmu aaaai! Setelah terjatuh ke tangan orang orang Ban seng

kiong, tentu saja kaupun kehilangan semua tenaga dalammu, pinto pertanyaan pinto betul betul terlalu bodoh."

“Terima kasih banyak atas perhatian totiang, tenaga dalamku telah pulih kembali seperti sedia kala!” bisik Thi Eng khi dengan suara lirih.

Keng Hian totiang yang mendengar ucapan tersebut menjadi tak terlukiskan girangnya dia sampai berseru tertahan :

“Kau ”

Dengan cepat Thi Eng khi menutup mulut Keng hian totiang dengan tangannya, kemudian menjawab :

“Harap totiang jangan berisik,jangan sampai mengecutkan orang orang Ban seng kiong.”

Kemudian selesai berpesan dia menarik kembali tangannya. Keng hian totiang benar benar diliputi oleh emosi, apalagi setelah tahu kalau ilmu silat Thi Eng khi masih utuh, sambil melompat bangun dan mencengkeram bahu si anak muda itu, serunya dengan gembira 

:

“Terima kasih langit! Terima kasih bumi, akhirnya kami tertolong juga ”

Tapi setelah berhenti sebentar, tiba tiba dia menghela napas sedih seraya berkata :

“Sayang sekali kami semua telah tertotok jalan darah Hian ki dan Khi bun hiat oleh Hian im li Cun Bwee dengan ilmu Kok kiong ting meh jiu hoat (ilmu melewati nadi memantek urat) sehingga kepandaian silat kami punah, kami tak dapat membantu ciangbunjin lagi...”

Urat nadi Keng hian totiang sudah cukup lama tertotok, ditambah pula dia harus menempuh perjalanan yang cukup jauh, kesemuanya ini membuat badannya menjadi lemah. Setelah berbicara dengan terburu napsu, napasnya mulai tersengkal sengkal macam orang yang kehabisan tenaga.

Lama sekali dia harus berhenti untuk mengatur napas kemudian ujarnya kembali :

“Thi ciangbunjin, walaupun tenaga dalammu sangat hebat, namun satu tangan sukar menghadapi tiga lengan, menurut pendapat pinto, lebih baik kau menyelamatkan diri lebih dahulu, terjanglah keluar dari sini, kemudian kumpulkanlah segenap orang ga¬gah dari berbagai perguruan untuk membalaskan dendam bagi kami!”

“Totiang, harap kau jangan berbicara lagi,” seru Thi Eng khi dengan suara dalam.

“Sekarang aku hendak memulihkan dahulu tenaga dalammu sebelum kita berbincang lebih jauh!”

“Hian im kok kiong ting meh jiu hoat merupakan ilmu yang beracun yang tiada taranya didunia ini,” kata Keng hian totiang tidak percaya, “konon ilmu ini tak bisa dibebaskan siapapun, Thi ciangbunjin...”

“Aku tak berani rnengatakan pasti bisa, tapi aku bersedia membantu totiang,” tukas Thi Eng khi tersenyum.

“Terima kasih banyak Thi ciangbunjin!”

Dia lantas duduk bersila, merapatkan sepasang matanya dan siap menunggu Thi Eng khi turun tangan. Berbicara soal ilmu Hian im kok kiong ting meh jiu hoat dan Hek sin thian kang ci, bila kedua ilmu tersebut dibandingkan maka yang muka jauh lebih lihay. Hian im kok kiong ting meh jiu hoat tersebut selain ganas lagipula beracun sekalipun ada jago lihay dapat memunahkan ilmu ting meh jiu hoat tersebut, tidak gampang untuk menghapuskan hawa dingin yang sudah terlanjur merasuk ke dalam badan. Bukan begitu saja, selain tak dapat memulihkan kembali hawa murninya, bisa jadi malah akan membuatnya cacad seumur hidup ....

Seandainya Thi Eng khi tidak memperoleh penemuan aneh sekali lagi, mungkin dia sendiripun tidak mampu untuk memberikan pertolongan, tapi sekarang sekalipun ilmu Hian im kok kiong ting meh jiu hoat lebih ganas dan beracun pun, hal mana tak akan sampai menyulitkan dirinya.

Tampak dia mengerahkan tenaga dalamnya ke ujung jari tengah dan telunjuknya dengan senyuman dikulum, kemudian setelah berputar mengitari Keng hian totiang sebanyak tiga kali, dia menotok sebuah jalan darah Keng hian totiang, ketika berputar dua puluh tujuh lingkaran, Thi Eng khi sudah habis menotok jalan darah Pek hwee hiat, Pi liang hiat, Jin tiong hiat, Jit kan hiat, In thian hiat, Tui ko hiat, Pay sim hiat dan Wi ciau hiat, sembilan buah jalan darah penting.

Selesai menotok ke sembilan buah jalan darah tersebut, dengan tenaga dalam yang begitu sempurna dari Thi Eng khi pun tak urung berubah juga paras mukanya menjadi semu merah. Ia menarik napas panjang lalu duduk bersila dibelakang tubuh Keng hian totiang, telapak tangannya segera ditempelkan diatas jalan darah Pay sim hiat dipunggung Keng hian totiang.

“Sekarang aku hendak mempergunakan ilmu Tun yang cing kik untuk membantu totiang dalam usaha mengusir keluar sisa racun hian im tok dari tubuhmu!”

Seusai berkata, segulung hawa murni yang amat panas segera menyusup masuk ke dalam tubuh Keng hian totiang. Tenaga dalam yang dimiliki Keng hian totiang memang sangat sempurna, di bawah petunjuk dari Thi Eng khi, tidak sampai setengah perminum teh kemudian seluruh sisa racun hian im tok yang bersarang dalam tubuhnya sudah dapat diusir keluar semua. Kedua orang itu serentak menarik kembali tenaganya bersama sama sambil melompat bangun, kemudian sembari menggenggam tangan Keng hian totiang berdiri dengan sepasang mata berkaca kaca, dia benar benar terharu sekali.

“Sangat beruntung aku dapat mewujudkan keinginan totiang tanpa melesat,” kata Thi Eng khi kemudian sambil tertawa, “sekarang aku harus membantu Ci long siansu ketua Siau lim pay...”

Kali ini Thi Eng khi membebaskan dahulu totokan dari ketua Siau lim pay Ci long siansu sebelum membebaskan totokan pada jalan darah tidurnya. Begitu tersadar dari tidurnya, ketua Siau lim pay Ci long taysu menyaksikan ada dua sosok bayangan manusia berdiri di hadapannya, karena kaget hampir saja dia bersuara. Tapi ketua Bu tong pay, Keng hian totiang segera mencegahnya dengan berbisik :

“Siansu, jangan berisik dulu, aku adalah Keng hian dan Thi ciangbunjin!”

“Thi ciangbunjin ,” bisik ketua Siau lim pay Ci long siansu

gugup, “bukankah dia disekap di ruangan yang lain?”

“Aku telah melakukan kesalahan besar sehingga membuat siansu banyak menderita, oleh sebab itu kami sengaja datang kemari untuk minta maaf!” sela Thi Eng khi cepat.

“Oooooh ” belum sempat ketua Siau lim pay Ci long siansu

berkata lebih jauh, ketua Bu tong pay Keng hian totiang sudah menyela kembali :

“Siansu tak perlu banyak curiga, sekarang Thi ciangbunjin telah membantu siansu untuk terlepas dari pengaruh totokan, asalkan sari racun Hian im tok yang bersarang dalam tubuhmu sudah terusir keluar, niscaya tenaga dalammu akan pulih kembali seperti sedia kala.”

“Harap siansu mengerahkan hawa murnimu, aku akan membantu siansu dari belakang,” kata Thi Eng khi cepat.

Tanpa membuang banyak waktu lagi, dia lantas menempelkan telapak tangannya diatas jalan darah Pay sim hiat di punggung Ci long siansu. Ketika tenaga dalam yang dimiliki ketua Siau lim pay Ci long siansu dapat dipulihkan kembali, Thi Eng khi merasakan wajahnya menjadi panas, jelas perbuatan ini banyak mengorbankan tenaga dalamnya. Hanya saja keadaan tersebut sama sekali tidak diketahui oleh ketua Bu tong pay Keng hian totiang maupun ketua Siau lim pay Ci long siansu.

Selanjutnya Thi Eng khi turun tangan pula memulihkan tenaga dalam dari Manusia aneh bermata sakti Ku Kiam ciu dari bukit Tay pek san, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, si unta sakti Lok It hong, Tiang cun siusu Li Goan, ketua Kay pay si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, Hui cun siucay Seng Tiok sian, Giok koay popo Lo ko ci, Soh sim tocu si Bidadari penyebar bunga Leng Cay soat, Ci tiok an cu Beng seng suthay, ketua Hoa san pay si sastrawan berbaju putih Cu Wan mo sekalian sepuluh orang.

Setelah menyembuhkan kesepuluh orang ini, Thi Eng khi benar benar merasakan kepalanya pening dan matanya berkunang kunang, dia merasa hawa murninya tak mampu dikerahkan lagi. Terpaksa dia harus mengatur napas dan bersemedi beberapa saat lamanya sebelum dapat meneruskan pekerjaannya menolong Phu thian toa tiau Kay Poan thian.

Saat itu yang mengikuti di belakang Thi Eng khi hanya ketua Siau lim pay Ci long siansu, ketua Bu tong pay Keng hian totiang, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po dan Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong berempat. Lainnya atas nasehat dari Thi Eng khi telah mengatur napas dan bersemedi sebagai persiapan menghadapi pertarungan besok pagi .....

Ketua Siau lim pay Ci long siansu, ketua Bu tong pay Keng hian totiang, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sekalian bertiga memang menaruh kesan baik terhadap Thi Eng khi, mereka bersikeras hendak mendampingi pemuda tersebut kemana pun dia hendak pergi.

Dulu Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong pernah menaruh banyak prasangka terhadap Thi Eng khi, prasangka semacam ini membuat dia menaruh perasaan yang sinis terhadap pemuda ini. Atau dengan perkataan lain, entah berapa pun besarnya pengorbanan Thi Eng khi terhadap umat persilatan, dalam pandangan Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, dia tetap menganggap Thi Eng khi tidak melakukan apapun.

Tapi sejak dia dipulihkan kembali tenaga dalamnya oleh Thi Eng khi, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong seolah olah baru merasa matanya menjadi melek, dia benar benar memahami kebesaran jiwa serta ketulusan hati pemuda ini.

Terbentuk dari dasar liangsimnya, waktu itu dia tidak mengutarakan rasa terima kasihnya, melainkan berkata begini :

“Thi ciangbunjin, dengan sikapku di masa lampau terhadapmu, banyak berbicara pun sama sekali tak ada gunanya, yang jelas setelah hari ini dalam hati kecilku hanya ada kau seorang.”

Maka dia pun bersikeras mengikuti Thi Eng khi kemanapun anak muda tersebut pergi, bagaimana Thi Eng khi membujuk dan menasehatinya, dia tetap menguntil dibelakang anak muda itu.

Akhirnya atas pertolongan Thi Eng khi dengan sepenuh tenaga, Phu thian toa tiau Kay Poan thian pun berhasill memperoleh kembali tenaga dalamnya. Baru sekarang Thi Eng khi menunjukkan tanda tanda kelelahan, dan gejala itupun tak pernah dapat mengelabuhi orang orang yang mengikutinya. Sebenarnya Cang ciong sin kian Sangkoan

Yong merupakan musuh bebuyutan dari Thi Eng khi, tapi sejak dia takluk kepada pemuda tersebut, penampilannya kelihatan luar biasa besarnya.

Dengan semangat yang menyala nyala tiba tiba dia berseru : “Bagaimana kalau sisanya yang lain serahkan saja kepada lohu

sekalian untuk menolong?”

“Saudara Thi, ” ucap si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po pula, “cepat beritahu kepada kami bagaimana caranya membebaskan pengarih totokan tersebut!” Thi Eng khi merasa serba salah, dia tak tahu bagaimana mesti menjawab pertanyaan dari kedua orang itu, sebab tenaga dalam yang dimiliki Hian im li Cun Bwee jauh lebih lihay daripada mereka, sekalipun mereka mengetahui cara membebaskan jalan darah tersebut, belum tentu sanggup untuk membebaskan pengaruh totokan dari Hian im li Cun Bwee.

Thi Eng khi termenung sebentar, lalu ujarnya :

“Boleh saja siaute utarakan bagaimana caranya membebaskan pengaruh totokan tersebut, Cuma ..... Cuma tak usah

merepotkan kalian semua.”

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong maupun pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sama sama tertegun setelah mendengar ucapan tersebut, katanya kemudian hampir berbareng :

“Apakah kau hendak memeras tenaga sampai mampus?”

Thi Eng khi sungkan untuk menyatakan bahwa tenaga dalam yang mereka miliki belum memadai sehingga tak mampu banyak membantu, tapi diapun tak dapat menemukan cara yang tepat untuk mengutarakan isi hatinya, dengan wajah murung dia menjadi kelabakan sendiri. 

Pada saat itulah mendadak dari belakang tubuhnya bergema suara dari Ciu Tin tin :

“Adik Eng, menurut kau apakah tenaga dalamku cukup untuk membebaskan jalan darah mereka?”

Rupanya Ciu Tin tin yang menyaksikan Thi Eng khi yang pergi sudah begitu lama belum juga kembali, meski dia tahu pemuda itu sedang membantu rekan rekan yang lain memulihkan kembali tenaganya, toh gadis itu merasa kuatir. Sampai Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong dan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po mengucapkan kata ‘kau hendak memeras tenaga sampai mampus’, dia baru menyadari bahwasannya Thi Eng khi tentu sudah banyak mengorbankan tenaga dalamnya. Dalam kuatirnya, ia tak bisa menahan diri lagi dan segera berjalan keluar dari ruang batu. Dengan diutarakannya kata kata tersebut, Thi Eng khi semakin rikuh lagi untuk berbicara. Sekarang Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong dan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po baru mengerti kalau tenaga dalam yang mereka miliki belum memadai untuk membantu, maka kedua orang itu pun tidak berbicara lagi.

Thi Eng khi memperkenalkan Ciu Tin tin kepada semua orang, kemudian sambil manggut manggut dia berkata ;

“Enci Tin, besok kaulah yang merupakan kekuatan utama dalam menghadapi Hian im Tee kun, hari ini kau tak perlu mengorbankan tenaga dengan percuma.”

Dengan perkataan dari Thi Eng khi ini, berarti nilai dari Ciu Tin tin pun meningkat beberapa kali lipat, sebab dengan kemampuannya menghadapi Hian im Tee kun, mau tak mau ketua Siau lim pay sekalipun memandang lain kearahnya.

Dipandang seperti ini oleh semua jago, Ciu Tin tin menjadi rikuh sendiri, katanya kemudian sambil tertawa ;

“Adik Eng, bagaimana dengan kau? Kau ingin mungkir? Aku bukan tandingan dari Hian im Tee kun!”

“Sekarang siaute sudah banyak membuang tenaga dalamku, kekuatan yang tersisa sudah tidak cukup untuk menghadapi Hian im Tee kun lagi. Enci Tin, sekalipun dewasa ini kau belum mampu mengungguli Hian im Tee kun, namun sudah cukup untuk bertarung ratusan gebrakan melawannya, bila ditambah dengan yaya sekalian, sudah pasti kemenangan berada di pihak kita.”

Setelah Thi Eng khi mengungkapnya soal Keng thian giok cu Thi Keng sekalian dengan nada begini, bukan cuma ketua Siau lim pay sekalian dibikin melongo, bahkan Ciu Tin tin sendiripun ikut tertegun dibuatnya. Tanpa terasa pembicaraan merekapun beralih keatas masalah Keng thian giok cu Thi Keng sekalian.

Kini Thi Eng khi sudah merasa kalau saat untuk menentukan siapa menang siapa kalah sudah tiba, sedang waktu yang dinantikanpun sudah matang, dia tak ragu lagi untuk mengungkapkan keadaan yang sesungguhnya, bahkan dengan nada membangkitkan semangat semua orang, dia menerangkan bagaimana Keng thian giok cu Thi Keng berempat membenamkan diri dalam lumpur dengan tujuan hendak menyelamatkan dunia persilatan dari kehancuran.

Keterangan ini bukan saja mengharukan semua jago termasuk Ci long siansu sekalian yang berada di sekitar itu, bahkan mereka lebih menaruh hormat lagi kepada Keng thian giok cu Thi Keng sekalian. Bukan begitu saja, malah kawanan jago lihay yang baru saja pulih kembali tenaganya berkat pertolongan dari Thi Eng khi pun tanpa terasa menghentikan semedi masing masing untuk datang mengucapkan beberapa kata kagum sebelum balik dan melanjutkan kembali semedinya.

Sampai disini, pembicaraanpun beralih kembali pada usul Ciu Tin tin untuk membantu para jago lainnya memulihkan kembali kekuatan yang dimiliki. Ciu Tin tin nampak agak keras kepala, dengan cepat dia berkata lagi :

“Untuk menghadapi Hian im Tee kun, aku rasa hal ini merupakan tugasmu, pokoknya aku hendak membantumu untuk memulihkan kembali kekuatan mereka.”

Ucapan ini hanya dapat mewakili perasaan sayang dan kuatir gadis ini terhadap kekasihnya, tidak diikuti maksud maksud lainnya.....

Thi Eng khi tidak tega untuk menampik maksud baik gadis itu, dia lantas memutar otak, kemudian sambil tertawa ujarnya kemudian kepada pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po :

“Engkoh tua, masih ada berapa orang lagi yang belum dapat memulihkan kekuatannya?”

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menghitung sebentar, kemudian menyahut

“Kami semua berjumlah dua puluh sembilan orang, yang berhasil memperoleh kembali kekuatan baru tiga belas orang, berarti masih ada enam belas orang yang belum pulih.”

Thi Eng khi lantas bergumam : “Kecuali Wong tianglo dan Lim tianglo dari partai kami, masih ada empat belas orang yang perlu memperoleh kembali tenaga dalamnya ...”

Dia sudah menyatakan kalau kekuatan yang dimilikinya amat terbatas sehingga untuk sementara waktu terpaksa harus mengesampingkan dahulu orang sendiri. Mendengar ucapan mana, tanpa terasa ketua Siau lim pay Ci long siansu dan ketua Bu tong pay Keng hian totiang saling berpandangan sekejap. Kemudian Ketua Bu tong pay Keng hian totiang berkata :

“Dua orang sute kami Keng it dan Keng ning tak perlu Thi ciangbunjin pikirkan di dalam hati!"

Menyusul kemudian ketua Siau lim pay Ci long siansu berkata pula :

"Ci kay dan Ci liong sute dari partai kami pun tak usah Thi ciangbunjin risaukan."

Thi Eng khi cukup memahami keterbatasan kekuatan yang dimilikinya maka dia pun tidak sungkan sungkan lagi, kepada kedua orang ciangbunjin tersebut katanya dengan nada menyesal :

“Ciangbunjin berdua harap maklum dan untuk kesediaan ini kuucapkan banyak terima kasih.”

Lalu sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, dia berkata lagi kepada Ciu Tin tin:

“Sekarang tinggal sepuluh orang, dengan tenaga dalam yang dimiliki enci paling banter hanya bisa membantu lima orang, bagaimana dengan lima orang lainnya?”

Dari ruang dalam secara beruntun muncul Bu Nay nay dan Pek leng siancu So Bwe leng, dengan cepat dia menyela :

“Bagaimana kalau sisanya kami yang kerjakan?”

“Waaah, kalau sampai begitu maka kita tak punya panglima perang lagi,” seru Thi Eng khi sambil berkerut kening.

Walaupun ucapan tersebut kelewat berat untuk didengar, namun memang merupakan suatu kenyataan, bila tiada Thi Eng khi, Ciu Tin tin, Bu Nay nay dan Pek leng siancu So Bwe leng sekalian, mungkin dari perguruan besar lainnya tak akan mampu untuk menandingi Hian im ji li sekalipun.

Oleh karena semua orang menyadari hal ini, maka tak seorang pun yang memberi komentar. Setelah menghela napas panjang, Ciu Tin tin berkata :

“Apakah kau masih mempunyai kekuatan untuk memulihkan kembali kekuatan dari kesepuluh orang tersebut?”

“Harap kalian semua sudi membantu kekuatan kepadaku, dengan begitu rasanya masih dapat memulihkan kembali kekuatan dari kesepuluh orang tersebut. Kini waktunya sudah tidak banyak lagi, selesai memulihkan tenaga dalam kesepuluh orang itu, siaute perlu bersemedi kembali, dengan begitu aku baru memiliki kemampuan untuk menghadapi pertarungan esok pagi.”

Selesai berkata dia berjalan menuju kehadapan Im tiong hok Teng Siang dan mengerahkan tenaga untuk membebaskan jalan darahnya, tatkala telapak tangannya menempel diatas jalan darah Pay sim hiat di tubuh Im tiong hok Teng Siang, Pek leng siancu So Bwe leng segera menyelinap datang dan menempelkan telapak tangannya ke atas jalan darah Pay sim hiat di punggung Thi Eng khi

....

Sambil tertawa Thi Eng khi berpaling dan berkata :

“Adik Leng, kau bersama enci Tin dan Bu Nay nay tetap berada di belakang saja untuk membantuku!”

Pek leng siancu So Bwe leng memahami apa yang dimaksudkan Thi Eng khi, dia menghendaki orang yang bertenaga dalam paling sempurna berada di barisan terbelakang untuk membantunya, dan sekarang masih belum membutuhkan bantuan mereka. Sambil tertawa mereka lantas mundur dari situ. Sudah barang tentu para jago lainnya dapat memahami maksud hati dari Thi Eng khi tersebut.

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong segera menggantikan kedudukan dari Pek leng siancu So Bwe leng, telapak tangannya dengan cepat ditempelkan diatas jalan darah Pay sim hiat pada punggung Thi Eng khi, serunya : "Biar lohu maju duluan!"

Demikianlah dengan mempergunakan kemampuan yang terbesar, pengorbanan yang paling besar, bahkan berada dalam keadaan hampir saja menghancurkan diri sendiri, Thi Eng khi membantu sepuluh orang yang terakhir untuk memulihkan kembali tenaga dalamnya...

Tapi setelah pekerjaan berat itu, Thi Eng khi sudah kehabisan tenaga sehingga wajahnya berubah menjadi pucat pias seperti mayat, suara untuk berbicara pun lemah sekali. Oleh Ciu Tin tin dan So Bwe leng, dia segara dibimbing kembali ke kamar untuk beristirahat, selain itu, pintu terali besi dikunci kembali seperti sedia kala.

Atas peristiwa tersebut, semua jago pun benar benar merasa terharu sekali atas pengorbanan dari Thi Eng khi, mereka semakin menaruh hormat terhadap jago muda tersebut. Seandainya pada saat ini ada orang mengucapkan kata yang tak menguntungkan bagi Thi Eng khi, mungkin segera akan muncul manusia yang beradu jiwa dengannya.

Lambat laun, suasana dalam gua pun pulih kembali dalam keheningan. Semua orang sama sama beristirahat sambil mengatur napas guna menyongsong datangnya pertarungan yang akan berlangsung besok...

Keesokan harinya, pagi sekali, suara gemuruh yang keras membangunkan semua orang dari tidurnya. Ternyata pintu besar di mulut gua sudah dibuka orang, serentetan cahaya matahari pagi mencorong masak ke dalam gua dan menerangi seluruh ruangan tersebut. Menyongsong datangnya cahaya matahari nampak Hian im ji li munculkan diri dengan senyuman dikulum. Mereka muncul dengan langkah yang santai dan membawa suasana yang ramah, begitu masuk ke dalam gua, sambil tertawa merdu serunya lantang :

“Engkoh tua dan enci sekalian, siaumoay berdua datang menjenguk kalian!"

"Hmmmm! Hmmm! Hmmm " Dengusan dingin bergema tiada hentinya dari hidung para jago sebagai pertanda rasa muak dan benci mereka yang meluap luap. Hari ini Hian im ji li menunjukkan watak yang jauh lebih baik, bukan saja berlagak tidak mendengar, bahkan senyuman mereka jauh lebih lembut dan hangat.

“Engkoh tua dan enci tua sekalian,” demikian gadis itu berkata, “benarkah kalian tidak dapat memaafkan siaumoay sekalian?”

Dua orang nona dengan perawakan tubuh yang indah itu segera berdiri tegak di tengah ruang gua. Setelah memandang sekeliling tempat itu dengan sorot mata yang jeli, Cun Bwee segera berkerut kening sambil tertawa dingin. Suara tertawa dinginnya ini dengan cepat menimbulkan perasaan benci dan kesan buruk dalam hati semua orang, bahkan ada diantara mereka segera berpikir :

“Hmm, jika kau berani berlagak sok lagi, hari ini pasti akan kujagal kau sampai hancur berkeping keeping.”

Ternyata Cun Bwee tertawa dingin bukan terhadap mereka, melainkan terhadap rekannya Ciu Lan. Terdengar dia sedang menegur dengan wajah keren :

“Ji moay, beginikah cara kita orang orang Ban seng kiong dalam melayani tamu?”

"Yaa, betul, aku memang benar benar bodoh sehingga membuat malu kita orang orang Ban seng kiong saja, biar siaumoay bertanya siapa yang bertugas disini, nanti orang itu harus dijatuhi hukuman yang setimpal.”

Sembari berpaling ke luar, segera teriaknya keras keras : “Mana petugas disini?"

Suara mengiakan bergema menyusul munculnya seorang lelaki berpakaian ringkas berwarna hitam, sambil membungkukkan badan memberi hormat orang itu berkata : “Hamba Hek bin bu pah (raja bengis berwajah hitam) To Thi gou siap menerima perintah dari Seng li!" “Kaukah yang bertugas melayani kebutuhan dari para tamu agung ini?” tegur Ciu Lan dengan kening berkerut.

Raja bengis berwajah hitam To Thi gou adalah manusia yang termashur namanya di dalam dunia persilatan belakangan ini, dia berdarah panas dan kasar. Tapi sekarang, dihadapan Ciu Lan boleh dibilang mati kutunya, bernapas keras keras pun tak berani.

“Hamba tidak tahu perbuatan salah apakah yang telah dilakukan, mengapa Seng li marah marah besar?” katanya sambil merendahkan suaranya.

Ciu Lan tertawa dingin.

“Heehhhh..... heeehhhh.... heeehhh... percuma manusia macam kau dijadikan petugas menerima tamu, mengapa tidak memakai otak untuk berpikir, tempat sekotor ini mana boleh dipakai untuk menyambut tamu agung kita? Kau tahu mereka adalah para ciangbunjin dan jago kenamaan dalam dunia persilatan dewasa ini. Hmmm, perbuatan mu sungguh membuat kami orang orang Ban seng kiong kehilangan muka!”

Sebagai orang kasar tentu saja Raja bengis berwajah hitam To Thi gou tak dapat berpikir dengan menggunakan akalnya, ketika mendengar teguran tersebut dia nampak tertegun, kemudian serunya agak tergagap :

"Soal ini... tentang soal ini...”

"Apa ini itu?” bentak Ciu Lan semakin gusar, “kau sudah berani menyiksa tamu agung kami, apakah kau belum sadar kalau salah?”

Sudah barang tentu Raja bengis berwajah hitam To Thi gou tak dapat menebak maksud hati dari Hian im ji li. Oleh karena dia merasa memperoleh perintah untuk bertugas demikian, kontan saja amarahnya meledak. Dengan mata melotot besar dan muka merah membara, teriaknya keras keras :

"Hamba tidak bersalah!”

Ji li Ciu Lan semakin marah, kembali dia membentak : "Manusia bedebah yang bernyali besar berani amat bersikap kurang ajar kepadaku? Hmmm, apabila aku tidak menjatuhi hukuman yang setimpal kepadamu, orang pasti akan memandang rendah Ban seng kiong!”

Sembari berkata lantas membalikkan jari tangannya dan langsung menyodok ke bawah ketiak si Raja bengis berwajah hitam To Thi gou. Pada dasarnya si Raja bengis berwajah hitam To Thi gou adalah seorang lelaki yang berdarah panas, tapi karena salah langkah dia berhasil ditarik Huan im sin ang Ui Sam ciat untuk bergabung dengan Ban seng kiong, atas hal mana dia sudah lama merasa menyesal. Sekarang Hian im ji li ada maksud untuk mengorbankan dirinya, serangan yang dilancarkan pun keji dan tidak kenal ampun. Dalam keadaan yang tak siap dan sama sekali tak menduga, bagaimana mungkin Raja bengis berwajah hitam To Thi gou dapat menghindarkan diri dari desakan jari tangan Ciu Lan. Tak ampun lagi dia telah terhajar telak dadanya dan tewas seketika itu juga.

Selesai menghabisi nyawa Raja bengis berwajah hitam To Thi gou, Ciu Lan tertawa cerah, setelah memberi hormat kepada para jago katanya :

"Menyesal sekali orang kami tak becus sehingga membuat kalian harus tersiksa semalaman suntuk, atas kesalahan mana siaumoay telah menghukum mati orang kami, harap kalian sudi memakluminya."

Membunuh orang dalam suasana begini sebagai jago kawanan yang banyak pengalaman dalam dunia persilatan tentu saja para jago dapat menebak maksud dan tujuannya. Maka ada diantara mereka yang tidak bisa menahan amarahnya lagi, beberapa orang diantaranya segera tertawa dingin.

Dengan kening berkerut, Hiam im li Ciu Lan berlagak seakan akan tidak mendengar, tiba tiba teriaknya kearah luar gua itu :

“Bawa masuk hadiah yang telah dipersiapkan!”

Seseorang mengiakan dari luar gua dan menggotong masuk sejumlah barang kemudian meletakkan sebuah bungkusan dihadapan setiap orang. Empat bungkus yang terakhir dibawa oleh seseorang langsung menuju ke ruang batu berterali besi yang dihuni Thi Eng khi sekalian.

Hian im ji li berlagak seakan akan tidak mengetahui apa yang terjadi, mereka berjalan menuju ke pintu terali besi dan melongok ke dalam, kemudian sambil menjerit kaget mereka membukakan pintu dan minta maaf tiada hentinya kepada Thi Eng khi bahkan menyerahkan sendiri keempat buntalan tersebut kehadapan mereka.

Dengan suara dingin Pek leng siancu So Bwe leng segera menegur :

"Ciu Lan kau masih kenal dengan nonamu?"

Tanpa terasa Ciu Lan tertawa rikuh, kemudian sahutnya : "Enci harap kau sudi memaafkan adikmu, dalam kejadian yang

sudah lewat memang akulah yang bersalah, sekarang kita sudah sekeluarga, sekalipun harus melayani kau sepanjang hiduppun adik rela."

Melihat ketidak tahuan malu orang itu, Pek leng siancu So Bwe leng menjadi kehilangan napsunya untuk bersilat lidah dengannya, sambil melengos dia berseru :

"Huuuh, siapa yang kesudian satu keluarga denganmu?

Hmmmm. !"

Hian im li Ciu Lan sama sekali tidak acuh terhadap ejekan orang bahkan marah pun tidak. Hian im li Cun Bwee segera bertepuk tangan dua kali, kemudian serunya :

"Apakah setiap orang memperoleh satu bungkusan?"

"Memangnya matamu robek tidak bisa melihat sendiri?" umpat seseorang.

Kemudian suara tertawa dingin ber¬kumandang tiada hentinya dari sana sini. Hian im li Cun Bwee sedikit pun tidak mempersoalkan masalah tersebut, kembali ujarnya sambil tertawa :

"Tampaknya engkoh tua sekalian ku¬rang tidur dan makan tak enak selama dua hari belakangan ini maka api napsunya kelewat besar. Yaa, pertanyaan siaumoay memang terlalu berlebihan, su¬dah seharusnya siaumoay memeriksa sendiri!"

Sorot matanya yang tajam segera menyapu sekejap sekeliling tempat itu, kemudian sambil mengangguk katanya lagi :

"Didalam menempuh perjalanan jauh kemari, Tee kun kuatir pakaian yang kalian kenakan menjadi kotor atau robek, maka beliau sengaja mengutus siaumoay untuk menghadiahkan satu stel jubah dan sepasang sepatu untuk saudara sekalian, harap kalian sudi menerimanya dengan senang hati!"

Giok koay popo Li Ko ci adalah perempuan tua yang paling jelek wataknya, sejak semula dia sudah mendongkol sekali, agaknya dia lupa kalau tenaga dalam yang dimilikinya sudah pulih kembali, tanpa mempertimbangkan lagi bagaimanakah akibatnya, pertama tama dia yang tak sabar lebih dulu.

Sambil menendang bungkusan yang berada di hadapannya, dia berteriak keras keras :

"Siluman rase berwajah tertawa, siapa yang kesudian menerima hadiahmu itu!"

Kena tendangannya bungkusan tersebut segera menggelinding sejauh empat lima kali dan mencapai satu kaki lebih.

"Ooooh" Hian im li Ciu Lan berseru tertahan, "taci, aku lihat si nenek ini sangat mencurigakan."

Setelah berbuat Giok koay popo Li Ko ci baru menyesal atas keberangasan sendiri, bila mereka sampai tahu kalau tenaga dalam nya telah punah kembali, kendatipun berhasil membunuh kedua orang perempuan Hian li ini, tapi rencana semua orang un¬tuk menyusup ke dalam istana Ban seng kiong akan hancur berantakan. Jika rencana tersebut sampai gagal total, berarti dialah yang mesti memikul tanggung jawabnya.

Berpikir sampai disini, tanpa terasa peluh dingin bercucuran membasahi tubuhnya, sedang selembar wajahnya turut berubah pula menjadi pucat pias seperti mayat. Dengan sorot mata yang tajam Hian im li Cun Bwee mengawasi Giok koay setengah harian lamanya kemudian sambil tertawa ujarnya :

“Jimoay tak banyak curiga, enci tua ini menendang dengan sepenuh tenaga, kalau bisa menendang sebuah bungkusan sejauh satu kaki, lantas apalah artinya?”

Sembari berkata dia lantas bergerak ke depan dan langsung mendekati Giok koay popo Li Ko ci. Semua orang yang menyaksikan kejadian ini menjadi ikut tegang, mereka sadar nasib dunia persilatan selanjutnya tergantung pada tindakan yang akan dilakukan Giok koay popo berikut ini.

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong paling gelisah, dengan berdasarkan hubungannya yang akrab di hari hari biasa, dia lantas memperingatkan Giok koay popo Li Ko ci dengan ilmu menyampaikan suaranya :

“Hei nenek, lebih baik bersabarlah diri, jika kau bertindak secara sembarangan, harapan kita semua akan pudar sampai di sini saja!”

Sementara itu Giok koay popo Li Ko ci sedang menyaksikan Hian im li Cun Bwee sedang menerkam kearahnya lalu mendengar pula peringatan dari Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, satu ingatan segera melintas dalam benaknya, dia menghela napas di hati dan mengambil keputusan untuk pasrah dengan nasib.

Dengan cepat Hian im li Cun Bwee sampai di hadapan tubuhnya, ujung jarinya yang runcing sudah berada diatas jalan darah Jit kan hiat pada dadanya, bila jalan darah tersebut sampai tertotok, niscaya dia akan mati. Sesungguhnya Giok koay popo masih mempunyai kemampuan untuk berkelit, tapi sekarang dia tak mungkin bisa menghindarkan diri lagi.

Tatkala serangan maut sudah berada di depan mata, diam diam ia berpekik di hati :

“Habis sudah riwayatku!”

Sambil memejamkan matanya rapat rapat dia bersiap sedia menerima kematian. Serangan yang dilakukan oleh Hian im li Cun Bwee ini dilakukan dengan gerakan yang tidak cepat, karena tujuannya yang terutama adalah untuk menyaksikan dari Giok koay popo dalam menghadapi ancaman bahaya maut.

Setelah Giok koay popo memejamkan matanya siap menerima kematian, tentu saja Hian im li tak dapat sungguh sungguh menotok jalan darahnya, dengan cepat hawa murninya dibuyarkan, dia hanya bermaksud menowel ujung kulitnya saja tanpa menimbulkan luka pada sang korban. Giok koay popo hanya merasakan tubuhnya agak kaku, namun sama sekali tidak merasakan gejala lain.

Selesai menutul badan Giok koay popo, Hian im li Cun Bwee melayang kembali ke posisinya semula, lalu katanya sambil tertawa :

"Nah jimoay, kau masih curiga?"

Dengan kening berkerut Hian im li Ciu lan menyahut :

"Sewaktu toaci turun tangan tadi, Cang ciong sin kiam Sangkoan tayhiap mengkomat kamitkan bibirnya, entah dia sedang memberi peringatan entah mengapa?"

Bergetar keras seluruh tubuh badan Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong sesudah mendengar perkataan itu, pikirnya dengan perasaan terkejut.

“Budak ini sungguh lihay, ternyata dia teliti dan sukar ditipu, tampak lohu harus mengorbankan diri ...”

Berpikir demikian, diapun berseru :

“Omong kosong, untuk menguatirkan keselamatan Li tayhiap saja tak mampu ...”

“Bila ada yang mencurigakan maka kecurigaan tersebut tak boleh dibiarkan begitu saja,” tukas Hian im li Cun Bwee sambil tertawa, “aku harus melakukan penyelidikan sejelas jelasnya ...”

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong segera berteriak keras : “Tenaga dalam lohu sudah dikuasai, aku tak punya kemampuan

untuk melawan, yaa, terserah apa pun yang ingin kau katakan...” Hian im li Cun Bwee tertawa. “Tee kun pernah mewariskan semacam ilmu jari kepadaku, barang siapa tertotok maka kesadaran otaknya akan punah dan dia akan mandah diperintah. Tapi sayangnya kepandaian ini mempunyai kekurangan, yakni bila orang yang hendak ditotok jalan darahnya itu menghimpun dulu tenaga dalamnya untuk melindungi jalan darah Sam im ciau, hap kok can Tiong kek, totokan itu akan mengalami kegagalan total."

Sudah jelas perkataan tersebut dimaksudkan oleh Hian im li Cun Bwee untuk memberitahukan kepada Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, asal dia melindungi sam im ciau, Hap kok dan Tiong kek tiga buah jalan darah penting, maka dirinya akan bebas dari pengaruh totokan tersebut.

Perlu diketahui, bagi umat persilatan yang berpandangan luas, soal mati atau hidup dapat ditentukan dengan cepat, tapi kalau dia diharuskan mati tidak hiduppun tidak, hal itu jelas tak akan bisa ditahan oleh siapapun. Adapun maksud tujuan Hian im li Cun Bwee sekarang adalah hendak mempergunakan gertakan tersebut untuk mencoba reaksi dari Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong.

Waktu itu Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong sudah ketakutan setengah mati, wajahnya pucat pias dan keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya. Para jago lainnya pun sama sama menunjukkan sikap marah, apalagi menyaksikan kekejaman dan kebuasan hati dari Hian im li tersebut, mereka bertekad apabila ada kesempatan maka kedua orang perempuan tersebut akan dibunuh lebih dulu.

Thi Eng khi sendiripun merasa gusar sekali, dengan ilmu menyampaikan suara serunya kepada Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong :

“Hian im li berhati kejam dan buas, Sangkoan tayhiap tak usah melakukan pengorbanan yang tak berarti, yang terpenting sekarang adalah melindungi keselamatan sendiri."

Dengan sepasang mata berkaca kaca Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong memandang sekejap kearah Thi Eng khi dengan perasaan berterima kasih, tapi sambil menggertak gigi dia menyahut dengan ilmu menyampaikan suara :

“Masalah ini menyangkut kejadian yang amat besar, terpaksa lohu akan pasrah kepada nasib!”

Sementara itu jari tangan Hian im li Cun Bwee sudah menotok beberapa buah jalan darah penting di tubuh Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong. Dengan cepat paras muka Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong berubah menjadi bimbang dan kosong, agaknya kesadaran orang ini berhasil dikendalikan oleh Hian im li Cun Bwee. Mencorong sinar kemerah merahan dari balik mata Thi Eng khi, dia berhasil melihat jelas gerakan tangan dari Cun Bwee.

Sebagai orang yang mahir ilmu pertabiban, ditambah pula pernah memperoleh seluruh ilmu silat dan kepandaian sakti dari Cu sim ci cu Thio Biau liong, boleh dibilang ilmu yang dipergunakan Hian im li Cun Bwee itu sama sekali tak berhasil menakuti hatinya. Dia tertawa hambar, kemudian dengan ilmu menyampaikan suara, ujarnya kepada para jago :

“Harap saudara sekalian suka bersabar dan menahan diri, kepentingan yang lebih besar harus diutamakan, untuk itu Thi Eng khi mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian semua. Soal ditotoknya jalan darah Sangkoan tayhiap, hal mana tak akan menyusahkan diriku, jadi saudara sekalian tak usah kuatir.”

Setelah mendengar perkataan itu, kemarahan para jago baru mulai mereda. Dengan kening berkerut, Hiam im li Cun Bwee segera berseru kembali :

“Sangkoan loji, bunuhlah Thi Eng khi sekarang juga!”

Sekali lagi para jago merasakan hatinya bergetar keras, rasa gelisah dan cemas menyelimuti wajah setiap orang. Sementara itu, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong sudah menerima perintah dan bergerak menghampiri Thi Eng khi. Thi Eng khi sama sekali tidak mengerahkan tenaga dalamnya, malah sambil tertawa ujarnya lantang :

“Walaupun tenaga dalamku sudah punah, aku bukan manusia yang gampang digertak orang, tenaga dalam yang dimiliki Sangkoan tayhiap pun sudah kalian kendalikan, kau anggap dia mampu untuk membunuh diriku?"

Hian im li Cun Bwee tertawa.

"Kau memang pintar sekali, padahal aku hanya bermaksud menakut nakuti semua orang saja."

Kemudian sambil berpaling, serunya lagi kepada Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong :

"Sangkoan loji, kau tak perlu turun tangan lagi terhadap Thi Eng khi!"

Ternyata Cang cong sin kiam Sangkoan Yong menuruti perkataannya dan segera mundur kembali ke tempat semula. Sekarang para jago baru dapat menghembuskan napas panjang, namun rasa bencinya terhadap Hian im li Cun Bwee pun semakin merasuk ke tulang sumsum.

Dengan wajah serius Hian im li Cun Bwee berkata kepada para jago :

"Bagaimana? Kalian bersedia memberi muka dengan menerima hadiah dari Tee kun?”

Para jago saling berpandangan sekejap, ternyata tak seorang pun yang mengemukakan pendapatnya. Sambil menuding ke arah ketua Bu tong pay Keng hian totiang, Hian im li Cun Bwee segera menegur

:

"Ayo cepat jawab, kau menerima hadiah dari Tee kun atau tidak...?"

Ketika dilihatnya semua orang tidak menjawab, lagipula diapun kurang leluasa untuk turun tangan dengan kekerasan, maka pertanyaan pun diajukan satu persatu kepada mereka yang bersangkutan.

“Bu liang siau hud!” bisik ketua Bu tong pay Keng hian totiang pelan, “maksud hati nona sudah terutarakan, tapi sayang pinto bukan manusia yang takut menghadapi kematian, kecuali Thi ciangbunjin setuju untuk menerima hadiah ini, kalau tidak, sulitlah untuk memaksa pinto menerima hadiah tersebut.”

Sementara Hian im li Cun Bwee tertegun dan ragu, ketua Siau lim pay Ci long siansu sudah berseru pula :

“Omitohud! Lolap pun akan mengikuti keputusan yang diambil oleh Thi ciangbunjin!”

Hian im li Cun Bwee mengalihkan sorot matanya ke wajah Thi Eng khi, namun ucapannya tetap ditujukan kepada ketua Siau lim pay sekalian :

“Mengapa sih kalian begitu takluk dan percaya kepada dirinya

...?”

“Diantara sekian jago persilatan yang berada di dunia ini, hanya Thi ciangbunjin seorang yang memiliki kemampuan untuk melawan kelaliman Hian im Tee kun, pinceng sekalian tidak percaya kepada Thi ciangbunjin lantas mesti percaya dan takluk kepada siapa?”

Serentak para jago lainnya berseru bersama :

"Kami semua akan mendukung setiap keputusan yang diambil oleh Thi ciangbunjin."

Sambil tersenyum Hian im li Cun Bwee segera berpaling ke arah Thi Eng khi sembari berkata :

“Thi ciangbunjin, mati hidup semua orang sudah berada ditanganmu sekarang, semuanya tergantung pada keputusan yang bakal kau ambil."

Thi Eng khi tersenyum.

“Inilah kegagahan serta kebanggaan semua orang dalam persatuan dan persekutuan dalam menghadapi Tee kun sekalian.”

“Tak usah banyak berbicara lagi,” tukas Hian im li Cun Bwee dengan kening berkerut, “jawab saja sekarang, hadiah dari Tee kun ini kau terima atau tidak?”

Dengan wajah serius Thi Eng khi berkata : “Aku harus mengetahui lebih dahulu mengapa Tee kun kalian memberi hadiah kepada kami?”

“Karena beliau hendak mengundang kalian makan siang bersama...”

“Untuk itu aku akan mengajukan satu syarat, kalau tidak, lebih baik mati saja daripada menerimanya.”

Menyaksikan kegagahan Thi Eng khi yang tak sudi tanduk pada keadaan, tanpa terasa Hian im li Cun Bwee manggut manggut, katanya kemudian :

“Apa syaratmy itu? Coba katakan dahulu!”

“Syaratku sangat sederhana, cukup asal Tee kun kalian bersedia turun gunung dan menyambut sendiri kedatangan kami semua ...”

Tanpa berpikir panjang, Hian im li Cun Bwee segera menyahut : “Kami adalah orang kepercayaan dari Tee kun, baik, syarat ini

akan kuterima.”

“Kau dapat mengambilkan keputusan?” terlintas kecurigaan dalam hati kecil Thi Eng khi.

Hian im li Ciu Lan segera tertawa.

"Toaci kami mempunyai kedudukan yang istimewa sekali dalam istana Ban seng kiong, dia dapat mengambilkan setiap keputusan yang penting, jadi kau tak usah kuatir."

Thi Eng khi tidak berbicara lagi, dia membungkukkan badannya membuka buntalan tersebut dan mengenakan jubah baru yang berada dalam buntalan tadi.

Jilid 42

Setelah Thi Eng khi bertindak, maka semua orangpun mengikuti jejaknya dengan mengenakan pakaian baru pemberian dari Hian im Tee kun. Ketika Hian im ji li melihat begitu tunduknya semua jago kepada Thi Eng khi maka sikap mereka terhadap Thi Eng khi pun semakin menghormat lagi.

Thi Eng khi memandang sekejap ke arah Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong yang masih dikuasai kesadarannya, kemudian berkata ketus :

“Sekarang tentunya nona sudah bisa membebaskan pengaruh totokan pada diri Sangkoan tayhiap bukan?”

“Apakah ini pun terhitung syarat yang kauajukan?” tanya Hian

im li Cun Bwee.

“Ini termasuk tata kesopanan yang perlu diperhatikan pihak Ban seng kiong ka¬lian terhadap kami sebagai tamu, jadi bukan merupakan permintaan atau syaratku.”

Hian im li Cun Bwee termenung dan berpikir sejenak, kemudian dia baru mengangguk : “Baiklah! Aku akan memberi muka lagi untukmu, cuma akupun berharap agar kau tahu diri.”

Thi Eng khi tertawa, dengan perhatian khusus dia memperhatikan bagaimana cara Hian im li Cun Bwee membebaskan pengaruh totokan dari tubuh Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong. Begitu Hian im li Cun Bwee selesai membebaskan pengaruh totokan dari tubuh Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, kepada Hian im li Ciu Lan ujarnya sambil tertawa :

“Jimoay, lebih baik kita bersikap lebih terbuka lagi dengan mengembalikan senjata mereka, dengan begini kehadiran mereka dalam upacara pun akan kelihatan lebih angker dan mentereng….” Hian im li Ciu Lan segera mengiakan dan melaksanakan perintah tersebut.

Tiba tiba Thi Eng khi berseru sam¬bil tertawa dingin :

“Kalian toh mengetahui bahwa tenaga dalam kami telah punah, sekalipun ada senjata juga tak mampu banyak berkutik, huuh terhitung perbuatan macam apakah itu? Jikalau kalian benar benar ingin berjiwa besar bebaskan pula totokan pada tubuh kami semua.”

Hian im li Cun Bwee segera tertawa :

“Sekarang kau tak usah memanasi hatiku dulu, asal kalian berkemauan baik dan bersedia untuk bekerja sama, bukan cuma jalan darah kalian saja yang akan dibebaskan, bahkan tenaga dalam Thi ciangbunjin yang berhasil dibuyarkan oleh getaran Tee kun kami pun akan dipulihkan kembali.”

“Waah, kalau sampai demikian adanya aku pasti akan

berterima kasih sekali kepadamu!”

“Kau benar benar akan berterima kasih kepadaku?” Hian im li

Cun Bwee memutar sepasang biji matanya.

“Aku yakin apa yang kuucapkan pasti akan kuwujudkan!”

Hian im li Cun Bwee segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Thi Eng khi dan memandangnya lekat lekat, setelah itu serunya :

“Baik! Kita tetapkan dengan sepatah kata ini, soal mendapatkan kembali tenaga dalammu serahkan saja tanggungjawabnya keatas pundakku!”

Sementara itu senjata tajam milik para jago telah dibawa kemari oleh kawanan iblis dari Ban seng kiong dan dibagikan kepada pemiliknya. Menerima kembali senjata tajam andalan masing masing, para jago merasakan jantungnya berdebar keras sekali sehingga hampir saja mau melompat keluar lewat mulut.

Tiba tiba Hui cun siucay Seng Tiok sian tampil ke depan sambil berseru :

“Mana kuda hitamku?”

“Waaah, kau sungguh pelit sekali,” seru Hian im li Cun Bwee sambil tertawa, “masa kedua ekor kuda itu untuk kami dua bersaudara pun keberatan!”

Dengan wajah gelisah bercampur murung, Bu im sin hong Kian Kim siang serta Sam ku sinni menunggu selama sehari semalam, menjelang fajar menyingsing mereka baru menyaksikan si pencuri sakti Go Jit pulang dengan tangan hampa. Sambil melepaskan topeng kulit manusia wajahnya, si pencuri sakti Go Jit menghela napas dan menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Sudah puluhan tahun boanpwe berkelana dalam dunia persilatan tapi belum pernah kualami kegagalan total seperti hari ini,” keluhnya sedih, “jangan lagi mencuri kitab Hian im kui goan keng milik Hian im Tee kun, untuk menemukan tempat rahasia untuk menyimpan kitab tersebut pun tak berhasil, aaaai. mulai hari ini malu aku memakai sebutan si

pencuri sakti lagi.”

Dalam keadaan yang sama sama kecewanya, dengan kedudukan Bu im sin hong Kian Kim siang dalam dunia persilatan mau tak mau dia mesti tersenyum guna menghibur hati si pencuri sakti Go Jit :

“Hian im Tee kun adalah manusia yang paling tangguh dalam dunia persilatan dewasa ini, gagal ditangannya bukan merupakan sesuatu kejadian aneh, jadi tidak termasuk suatu peristiwa yang memalukan. Kau sudah sehari semalam tanpa istirahat, sekarang beristirahatlah dahulu, dengan begitu kita dapat selekasnya sampai di istana Ban seng kiong.”

“Boanpwe sedang kalut percuma bersemedi, toh aku tak bisa menenangkan pikiranku dengan sempurna, lebih baik sekarang juga kita berangkat ke istana Ban seng kiong...”

“Langkah selanjutnya adalah langkah yang penting sekali artinya,” sela Sam ku sinni cepat, “lebih baik Go tayhiap memulihkan dulu kondisi badanmu yang penat, agar dengan begitu kita tak usah mengalami kegagalan lagi.”

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa si Pencuri sakti Go Jit harus menguasai gejolak perasaannya dan mulai bersemedi mengatur pernapasan. Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, si pencuri sakti Go Jit telah selesai bersemedi dan melompat bangun dari atas tanah.

Tatkala Bu im sin hong Kian Kim siang melihat rekannya baru dapat memulihkan tujuh delapan bagian kesegaran badannya, dia sebenarnya berniat untuk menyuruhnya bersemedi kembali, tapi oleh karena wajah si pencuri sakti diliputi perasaan gelisah dan tak sabar, akhirnya niat tersebut diurungkan.

Mereka bertiga segera mengenakan kembali topeng kulit manusia masing masing kemudian dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh, berangkatlah menelusuri jalan raya menuju ke istana Ban seng kiong. Untung saja pada saat itu muncul banyak sekali jago persilatan yang berbondong bondong berangkat ke istana Ban seng kiong, dengan mencampurkan diri di antara mereka, dengan cepat ketiga orang itu berhasil masuk ke dalam istana dengan selamat.

Semenjak pihak Ban seng kiong berhasil menjaring semua inti kekuatan dari dunia persilatan, mereka sudah tidak memandang sebelah mata lagi terhadap kawanan jago lainnya. Mereka menganggap di kolong langit dewasa ini sudah tiada manusia lagi yang dapat melawan kekuasaan mereka, itulah sebabnya mereka tidak memandang sebelah matapun terhadap para jago persilatan yang hadir di sana.

Bukan hanya tidak dibatasi jumlahnya, bahkan merekapun diperbolehkan masuk keluar dengan semaunya sendiri, agaknya hal ini sengaja dilakukan untuk mencerminkan kebesaran jiwa orang orang Ban seng kiong. Justru karena itulah, Bu im sin hong Kian Kim siang sekalian dapat bergerak ke sana kemari dengan lebih leluasa la¬gi tanpa kuatir gerak geriknya itu akan mengundang kecurigaan orang lain terhadap mereka.

Pukul delapan sudah menjelang tiba, lapangan luas di depan pintu gerbang Ban seng kiong sudah penuh dengan manusia yang berkumpul dari seantero penjuru dunia, mereka sedang menunggu saat munculnya tokoh persilatan yang amat lihay itu. Sementara semua orang sedang menanti dengan perasaan gelisah, dari atas ruangan istana tiba tiba berkumandang suara tambur dan genta yang dibunyikan bertalu talu.

Menyusul suara genta tersebut, dari balik pintu berjalan keluar seorang kakek berwajah kemala yang memakai jubah kebesaran, gayanya dibuat buat dan gerak geriknya sangat menjemukan. Sementara semua orang masih mengawasi orang tadi, entah darimana munculnya suara tertawa kegelian, menyusul kemudian terdengar seseorang berseru : “Huuuuh, monyet kesiangan juga diberi pakaian kebesaran,

sungguh menggelikan hati!”

“Siapa sih orang itu?” segera ada yang bertanya.

Setelah tertawa sinis orang itu menyahut lagi :

“Siapa lagi? Dia tak lain adalah Sau tee bun su (sastrawan penyapu lantai) Lu toaya, masa kalian tidak kenal?”

Tampaknya si sastrawan penyapu lantai Lu Put ji ini mempunyai nama besar yang cukup termashur, buktinya walaupun tidak banyak yang pernah menjumpainya, namun sedikit sekali yang tidak mengetahui tentang dia. Tatkala para jago mendengar kalau orang yang menampilkan diri adalah sastrawan penyapu lantai Lu Put ji, kontan saja semua orang menjengek sinis.

“Huuuhhh, dasar setan hidup.”

Dengan gaya yang dibuat buat, Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji berdiri di depan pintu gerbang, kemudian setelah mendeham beberapa kali, dengan suara lantang dia berseru: “Siaute hendak menyampaikan sebuah kabar gembira untuk saudara sekalian, untuk menunjukkan rasa hormat Tee kun, beliau telah berangkat ke tengah bukit Wang swan tay untuk menyambut sendiri kehadiran para jago dari perguruan perguruan kenamaan yang kali ini sengaja hendak menyatakan takluk mereka kepada istana kami!”

“Grrrr !”

Suasana menjadi gempar dan semua orang bersama sama berdesakan menuju ke Wang swan tay untuk menyaksikan peristiwa itu. Pencuri sakti Go Jit turut berebut mencari tempat yang strategis. Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan kejadian tersebut segera berkata :

“Go lote, jangan terburu napsu, Hian im Tee kun adalah manusia licik yang banyak tipu muslihatnya, kita jangan gampang tertipu oleh akal bulusnya, sekalipun hendak kesana, kita harus menunggu sampai gembong iblis tua itu menampakkan diri...”

Dalam pada itu, Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji telah berteriak kembali dengan suara lantang :

“Tee kun tiba, harap saudara sekalian bertepuk tangan sebagai

pernyataan hormat!”

Dengan cepat dia menyingkir ke samping lalu menunjukkan sikap yang hormat kearah balik ruangan bahkan kemudian sambil mengerahkan tenaga dalamnya dia bertepuk tangan keras keras....

Para penonton keramaian yang berkumpul di sekitar lapangan segera turut ketularan dengan bertepuk tangan pula keras keras, ditambah pula para gembong iblis Ban seng kiong yang sudah menyusup ke balik kerumunan orang banyak membuat suara tepuk tangan yang bergema makin bertambah nyaring.

Bu im sin hong Kian Kim siang, Sam ku sinni dan pencuri sakti Go Jit sama sama memperlihatkan juga sikap yang jahat. Di tengah suara tepuk tangan yang gegap gempita, sambil tertawa dan manggut manggut kepalanya, Hian im Tee kun tampil di depan pintu gerbang. Dibelakang gembong iblis tersebut mengikuti Keng thian giok cu Thi Keng, Tiang pek lojin So Seng pak dan Sim ji sinni. Di paling belakang adalah kawanan manusia yang merupakan kerabat kerabat Hian im Tee kun. Sikap maupun gerak gerik Keng thian giok cu Thi Keng sekalian yang berpandangan kosong macam orang yang tak sadar, membuat Bu im sin hong Kian Kim siang semua merasa amat sedih. Bahkan si pencuri sakti Go Jit merasa kuatir sekali bila tiada kesempatan untuk turun tangan, ia merasa sangat tegang dan hatinya berdebar keras.

Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyadari keadaan rekannya itu segera memperingatkan berulang kali :

“Go lote, kau harus menenangkan hatimu, tolong sampaikan pula kepada Cu Ngo sekalian agar jangan turun tangan secara sembarangan sebelum ada tanda rahasia dariku!”

Pencuri Sakti Go Jit termasuk jago kawakan yang sudah berpengalaman sangat luas, dalam situasi semacam ini seharusnya ia dapat mengendalikan diri, tapi kenyataannya dia seolah olah telah kehilangan ketenangan hatinya. Hal ini menandakan kalau pengaruh dari Hian im Tee kun cukup membuat para jago merasa keder hatinya.

Pencuri sakti Go Jit segera menerima perintah dan berlalu dari situ untuk menyampaikan kepada Ban li tui hong Cu Ngo serta Siu Cu. Sedangkan Bu im sin hong Kian Kim siang segera menarik tangan Sam ku sinni dan bersama sama mendesak ke barisan paling depan....

Setelah menyaksikan Hian im Tee kun membawa anak buahnya berjalan lewat dari hadapannya, Bu im sin hong segera mengerahkan ilmu menyampaikan suaranya memberi bisikan kepada Keng thian giok cu Thi Keng sekalian bertiga. Siapa tahu bisikan tersebut sama sekali tidak memperoleh tanggapan dari Keng thian giok cu Thi Keng sekalian, yang membuatnya lebih putus asa adalah tindakan selanjutnya dari Keng thian giok cu Thi Keng yang melaporkan isi bisikan tadi kepada Hian im Tee kun. Tapi Hian im Tee kun cuma tertawa hambar belaka sama sekali tidak menanggapi dengan serius.

Sikap hambar dan mcmandang rendah dari Hian im Tee kun itu segera ditanggapi Bu im sin hong Kian Kim siang sekalian sebagai suatu penghinaan yang luar biasa. Untung sekali Bu im sin hong Kian Kim siang bukan seorang manusia berangasan bukan menjadi marah sebaliknya dia malahan meningkatkan kewaspadaan sendiri.

Menyusul di belakang kawanan iblis dari Ban seng kiong mengikuti serombongan besar para penonton keramaian yang bersama sama berangkat manuju ke Wang swan tay. Yang dinamakan Wang swan tay adalah sebuah tanah perbukitan kecil yang terletak diujung tikungan sebuah bukit dipunggung gunung, jaraknya dari istana Ban seng kiong cuma sepuluh li. Walaupun sangat dekat, namun oleh karena permukaan tanah yang tinggi rendah tak menentu, maka walaupun orang berdiri di atas Wang swan tay, istana Ban seng kiong tidak nampak dalam pandangan mata.

Di dekat bukit itu terbentang sebuah sungai dengan arus yang amat deras, air mengalir turun ke bawah tebing dengan arus yang amat derasnya, benar benar suatu pemandangan yang sangat indah. Di sekeliling tanah perbukitan itu sudah penuh berdiri kawanan jago yang menonton keramaian, karenanya sisa tempat untuk tuan rumah menjadi sempit sekali.

Tak lama setelah Hian im Tee kun sekalian tiba di Wang swan tay, dari kejauhan nampak serombongan manusia pelan pelan bergerak naik ke atas bukit. Yang berjalan di paling depan adalah Hian im ji li, Cun Bwee serta Ciu Lan. Menyusul dibelakangnya adalah Thi Eng khi beserta sekalian jago kenamaan dari dunia persilatan. Pada barisan yang paling belakang mengikuti kawanan iblis dari istana Ban seng kiong.

Tatkala para jago hampir tiba di Wang swan tay, Hian im ji li segera melesat ke depan dan naik ke Wang swan tay lebih dulu, kemudian tampak Cun Bwee membisikkan sesuatu di sisi telinga Hian im Tee kun.

Selesai mendengar bisikan tersebut, Hian im Tee kun segera tertawa terbahak bahak, serunya:

“Setelah terjadi pertarungan antara lohu melawan Thi ciangbunjin da¬ri Thian liong pay, dimana untuk membalas budi kebaikan dari lohu yang telah mengampuni jiwanya, dia telah membujuk para ciangbunjin dari berbagai perguruan besar serta jago jago termashur dari kolong lanqit untuk bersama sama menggabungkan dengan kami, untuk kesediaan mereka ini harap kalian sudi bertepuk tangan sebagai tanda hormat!”

Suara tepuk tangan yang gegap gempita pun segera berkumandang memecahkan keheningan. Di tengah tepuk tangan yang gegap gempita pun, Thi Eng khi dan sekalian jago bersama sama memasuki Wang swan tay.

Bu im sin hong Kian Kim siang yang membaurkan diri diantara kerumunan orang banyak dapat menyaksikan disebelah kanan Thi Eng khi berdiri Ciu Tin tin, disebelah kirinya berdiri Pek leng siancu So Bwe leng, sedangkan dibelakangnya adalah Bu Nay nay. Dibelakang Bu Nay nay mengikuti pula seorang sastrawan muda yang gagah, namun Bu im sin hong Kian Kim siang tidak mengenal siapakah dia. Barulah dibelakang sastrawan muda itu menyusul ketua Siau lim pay Ci long siansu serta ketua Bu tong pay Keng hian totiang …..  Yang paling aneh adalah Ci kay dan Ci liong taysu dari Siau lim pay, Keng ik dan Keng ning totiang dari Bu tong pay, Pit tee jiu Wong Tin pak dan Ngo liu sianseng Lim Biau lim dari Thian liong pay, bukannya mengikuti dibelakang ketua masing masing mereka malah membaurkan diri diantara kawanan jago lainnya.

Beberapa kali Bu im sin hong hendak menyapa Thi Eng khi dengan mempergunakan ilmu menyampaikan suara, bahkan hendak memberitahukan kepada Thi Eng khi kalau kakeknya Keng thian giok cu Thi Keng sekalian sudah dikuasai kesadarannya oleh Hian im Tee kun.

Akan tetapi, ketika teringat olehnya akan nama baik Keng thian giok cu sekalian serta teringat akan tindakan yang bakal dilakukan olehnya, dia merasa lebih baik jangan berterus terang dengan si anak muda. Padahal kecuali kata kata tersebut, dia merasa tiada persoalan lain yang perlu dibicarakan lagi.

Maka Bu im sin hong Kian Kim siang segera membatalkan niatnya untuk berbicara dengan Thi Eng khi.

Sementara itu, Thi Eng khi bersama Ciu Tin tin, Pek leng siancu So Bwe leng, Bu Nay nay dan si sastrawan muda yang mengikuti di belakang Bu Nay nay telah meninggalkan rombongan mendekati Wang swan tay. Sekarang jarak Hian im Tee kun dengan mereka tinggal beberapa kaki saja. Berdiri tegak didepan musuhnya Thi Eng khi nampak gagah, perkasa dan penuh berwibawa.

Dia menjura lebih dulu sebagai tata kesopanan, kemudian baru menyapa :

“Hian kun !” Nada suaranya sama sekali tidak menunjukkan sikap kehormatan.....

Sambil berkerut kening, Hian im ji li (dua gadis Hian im) tertawa getir. Nyatanya Hian im Tee kun sama sekali tidak menggubris akan sikap lawannya, malahan sambil tertawa terbahak bahak dia berkata :

“Haaahhh.... haaahhh.... haaahhhh jauh jauh Thi Sauhiap

berangkat kemari untuk membaktikan diri dengan istana kami, tujuan dan maksudmu benar benar patut dikagumi untuk itu lohu akan menghormati tiga cawan arak kepadamu sebagai pertanda sambutan hangat dari istana kami.”

Bersama dengan selesainya perkataan itu muncul seorang gadis berbaju hijau yang membawa sebuah baki kemala putih, diatas baki terletak tiga cawan arak, perempuan itu langsung berjalan menuju ke hadapan Hian im Tee kun.

Dengan sikap yang bersungguh sungguh Hian im Tee kun memenuhi sendiri ketiga cawan tersebut dengan arak, kemudian kepada Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng pak sekalian yang berada di belakangnya dia menitahkan :

“Harap tongcu bertiga sudi mewakili diriku untuk

menghormati secawan arak untuk Thi sauhiap!”

“Hamba terima perintah!” sahut Keng thian giok cu Thi Keng

sekalian dengan sikap yang hormat sekali.

Hian im Tee kun segera melirik sekejap kearah Thi Eng khi, seolah olah dia hendak melihat bagaimanakah perubahan mimik wajah si anak muda tersebut. Seandainya ketiga cawan arak itu diberikan sendiri oleh Hian im Tee kun, maka sebagai tamu Thi Eng khi pasti akan menerimanya tanpa ragu. Tapi dengan sikap Hian im Tee kun yang menyuruh anak buahnya mewakili dia, hal ini sama artinya dengan menganggap Thi Eng khi sebagai anak buahnya pula. Itu berarti penghormatan arak ini bukan hormat seorang tuan rumah terhadap tamunya, melainkan arak pujian seorang atasan terhadap bawahannya. Ditambah lagi orang yang menghormati arak kepadanya adalah Keng thian giok cu Thi Keng bertiga, menurut aturan Thi Eng khi harus meneguknya juga. Tapi bila ketiga cawan arak itu benar benar diteguk olehnya, bila Thi Eng khi hendak menyangkal kalau dia adalah anak buah Hian im Tee kun dikemudian hari, hal mana jelas tak akan mudah.

Menghadapi situasi yang serba rikuh ini, bukan Thi Eng khi yang mesti mengatasinya, melainkan Keng thian giok cu sekalian, karena saat ini sudah mencapai saat yang paling kritis dimana pertarungan tak dapat dihindari lagi. Thi Eng khi segera mengalihkan sorot matanya kearah Keng thian giok cu Thi Keng sekalian bertiga, ketika dilihatnya ketiga orang itu sama sekali tidak bermaksud turun tangan terhadap Hian im Tee kun, diam diam dia menghela napas panjang, pikirnya : “Sudah pasti ketiga orang tua itu telah mengira ilmu silatku punah, demi keselamatan jiwaku mereka tak tega melakukan tindakan yang memalukan ini. aai mengapa aku tidak

mengatakan hal yang sebenarnya kepada mereka agar mereka

dapat turun tangan menghadapi Hian im Tee kun?”

Begitu ingatan tersebut melintas di dalam benaknya, dengan ilmu menyampaikan suara dia lantas berseru :

“Yaya!”

Keng thian giok cu Thi Keng nampak tertegun, sorot matanya segera dialihkan ke wajah Thi Eng khi. Sebelum pemuda itu berkata lebih jauh, Hian im Tee kun telah berkata lagi: “Tongcu bertiga, kalian harus menyampaikan salam hormat tiga cawan arak ini kepada yang berkepentingan!” “Bila hamba tak mampu melaksanakan tugas ini, kami rela menerima hukuman berat,” sahut Keng Thian giok cu Thi Keng dengan cepat. Kemudian dia maju mendekati Thi Eng khi dengan langkah lebar...

Thi Eng khi yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi sangat gelisah, saking cemasnya dia sampai lupa menggunakan ilmu menyampaikan suara, teriaknya cepat :

“Yaya, sekarang adalah saat bagi kita untuk turun tangan....

“Turun tangan? Apa maksudmu?” Keng Thian giok cu Thi

Keng berseru kembali tanpa menghentikan langkahnya.

Dengan suara lantang Thi Eng khi berteriak :

“Kepandaian silat yang cucunda miliki belum hilang, harap

kalian bertiga bertindak sesuai dengan rencana semula.”

Siapa tahu Keng thian giok cu Thi Keng menjadi gusar sekali setelah mendengar perkataan itu, dengan suara keras dia berteriak :

“Kau jangan mengaco belo secara sembarangan, apakah kau senang menyaksikan yayamu disebut orang yang tidak bersetia kawan ”

Thi Eng khi semakin tertegun lagi, dia belum sempat mengartikan ucapan dari Keng thian giok Thi Keng, ketika secara tiba tiba gadis berbaju hijau yang membawa baki itu sudah mengayunkan tangannya dan melemparkan baki tersebut ke wajah Thi Eng khi. Menghadapi serangan yang mengancam tiba itu, dengan cekatan Thi Eng khi berkelit ke samping. Tapi sebelum si anak muda itu bertindak lebih jauh, gadis berbaju hijau itu sudah menempelkan telapak tangannya diatas jalan darah Pay sim hiat dipunggung Keng thian giok cu Thi Keng, kemudian kepada Thi Eng khi bentaknya keras keras :

“Thi Eng khi, kau berani turun tangan?”

Thi Eng khi merasakan hatinya bergetar keras, benar juga dia tak berani menitahkan kepada Ciu Tin tin untuk turun tangan. Dengan cepat gadis berbaju hijau itu membawa Keng thian giok cu Thi Keng sekalian bertiga kembali ke hadapan Hian im Tee kun. Kemudian baru menarik kembali telapak tangannya yang menempel diatas jalan darah Pay sim hiat dipunggung Keng thian giok cu Thi Keng dan menyingkir ke samping.

Keng thian giok cu sekalian bertiga segera memberi hormat kepada Hian im Tee kun sembari berkata :

“Hamba sekalian tak mampu melaksanakan tugas secara baik, harap Tee kun sudi melimpahkan hukuman kepada hamba sekalian…..”

Dengan cepat Hian im Tee kun mengulapkan tangannya.

“Kejadian ini berlangsung diluar dugaan dan sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan kalian, sekarang menyingkirlah lebih dahulu sambil menantikan perintah selanjutnya!”

Keng thian giok cu Thi Keng, Sim Ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng pak segera mengundurkan diri ke samping dengan sikap yang menghormat sekali. Kejadian tersebut membuat Thi Eng khi semakin kebingungan dan tidak habis mengerti.

Hian im Tee kun segera tertawa seram :

“Heeeehhh.... heeeehhh...... heeeehhh   Thi Eng khi, kau

jangan berbicara yang bukan bukan, lohu tidak percaya kalau kau mampu melepaskan diri dari pengaruh ilmu Hek sin thian kang ci ….” Sambil mengerahkan tenaga dalamnya Thi Eng khi tertawa terbahak bahak, kemudian serunya :

“Coba dengarkan baik baik, berapa bagian tenaga dalamku yang telah pulih kembali!”

Mendengar gelak tertawa orang, dengan wajah tertegun Hian im Tee kun segera berpaling ke arah kakek Oh Yun yang berdiri dibelakangnya, kemudian menegur ketus :

“Oh Yun, bukankah kau melaporkan sudah menotok jalan darah Ki tong hiatnya dengan ilmu jari Hek sin thian kang ci?”

Dengan gugup dan ketakutan setengah mati kakek she Oh itu menyahut :

“Betul, hamba sendiri yang turun tangan dan tidak bakal salah

lagi….”

“Mengapa dia dapat memperoleh kembali kepandaian silatnya ?” tegur Hian im Tee kun dengan suara

menggeledek.

“Soal ini..... soal ini..... hamba….”

Thi Eng khi segera tertawa tergelak, tukasnya :

“Aku mempunyai kemampuan untuk membebaskan sendiri pengaruh totokan tersebut, sekalipun kau yang turun tangan sendiripun tak nanti bisa menyusahkan aku.”

Hian im Tee kun segera tertawa dingin :

“Lohu tidak percaya dibalik kesemuanya ini, sudah pasti

terdapat hal hal yang tidak beres!”

Sekali lagi Thi Eng khi tertawa bahak bahak. “Haaaahhh.... haaaahhh... haaahhh iblis tua, masih banyak

persoalan yang tidak dapat kau percayai!”

Sembari berkata dia lantas bertepuk tangan tiga kali dan berpekik nyaring lebih dahulu. Menyusul kemudian pekikan demi pekikan nyaring bergema keluar dari mulut para jago yang dalam anggapan kaum iblis Ban seng kiong sudah kehilangan ilmu silatnya itu. Di dalam waktu singkat suara pekikan nyaring sudah menggema memenuhi angkasa dan menggetarkan seluruh bukit Wu san tersebut....

Berubah hebat paras muka para iblis yang berkumpul di Wang swan tay, mereka dibuat gelagapan setengah mati, jelas perubahan yang sama sekali diluar dugaan ini telah memberikan pukulan batin yang cukup berat bagi mereka semua. Hian im Tee kun segera berpaling kearah Hian im li Cun Bwee sambil memperdengarkan suara tertawa dingin yang amat sinis, kemudian jengeknya :

“Kaulah yang harus memikul tanggung jawab ini!”

Dengan gemas Hian im li Cun Bwee melotot sekejap kearah Hian im Tee kun, kemudian serunya pula : “Hmmmmmm kau sendiripun tak akan terlepas dari

tanggung jawab ini!”

Dari pembicaraan tersebut dapat didengar kalau mereka sedang saling melemparkan tanggung jawab sehingga bagi yang tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, hal ini tentu saja kedengarannya agak mengherankan. Untung saja perkataan tersebut tidak sampai kedengaran orang lain, karena pada saat itu suara pekikan nyaring dari para jago telah menutupi seluruh ruangan disekitar sana sehingga tentu saja tiada seorang manusiapun yang memperhatikan kejadian kecil ini. Suara pekikan yang menggetarkan seluruh jagad ini berlangsung kurang lebih setengah perminum teh lamanya sebelum berhenti dan sirap kembali. Disaat berakhirnya suara pekikan itu dan tatkala perhatian semua orang belum terpusatkan menjadi satu, mendadak dari sisi Wang swan tay melayang keluar tiga sosok bayangan manusia yang segera menerkam ke arah Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng pak bertiga.

Berhubung ketiga orang itu muncul dari arah belakang dan disaat para iblis dari istana Ban seng kiong terpecah perhatiannya maka terjangan tersebut menimbulkan kepanikan bagi semua iblis bahkan setelah ketiga sosok bayangan manusia tersebut sudah hampir tiba disisi tubuh Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng pak, mereka baru menyadari. Tapi pada saat itulah tiga sosok bayangan manusia yang berhasil membekuk Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni, Tiang pek lojin So Seng pak telah menerjang kehadapan Thi Eng khi dengan gerakan cepat.

Ciu Tin tin, Pek leng siancu So Bwe leng dan Bu Nay nay melompat kemuka membiarkan ketiga orang itu lewat.

Kemudian mereka bertiga sama sama melancarkan serangan yang maha dahsyat untuk membendung serbuan para iblis dari belakang. Bersamaan waktunya dari arah samping muncul kembali dua sosok bayangan manusia yang bersama sama tiga orang yang berhasil menyambar tubuh Keng thian giok cu Thi Keng sekalian tadi melayang turun dihadapan Thi Eng khi.

Thi Eng khi dan Hui cun siucay Seng Tiok sian yang berada dibelakangnya segera mengira kedua orang itu sebagai kaum iblis Ban seng kiong yang hendak melakukan pengejaran, dengan cepat mereka mengayunkan telapak tangannya melancarkan serangan dahsyat untuk menyongsong kedatangan mereka.

Baru saja Thi Eng khi melancarkan serangan, tampak orang itu sudah berkelit ke samping dengan ilmu Hu kong keng im, kenyataan ini membuat Thi Eng khi merasa terkejut sekali.

Dengan cepat pendatang itu melepaskan topeng kulit manusianya sembari berseru :

“Saudara cilik, aku yang datang!”

“Oooh, rupanya Kian tua!” seru Thi Eng khi dengan penuh

kegembiraan.

Sementara itu dipihak lain Hui cun siucay Seng Tiok sian telah beradu pukulan satu kali dengan Sam ku sinni, akibat dari bentrokan tersebut Seng Tiok sian terdorong mundur sejauh tiga langkah lebih. Sementara dia hendak melancarkan tubrukan kembali, Thi Eng khi sudah berteriak keras : “Saudara Seng, cepat hentikan seranganmu, kita adalah orang sendiri.”

Hui cun siucay Seng Tiok sian segera miringkan badan dan menghentikan gerakan tubuhnya. Sam ku sinni pun segera melepaskan topeng kulit manusia yang dikenakan. Dalam suasana yang serba kacau ini Ban li tui hong Cu Ngo, si pencuri sakti Go Jit serta Siu Cu telah melepaskan pula topeng kulit manusia masing masing dan menotok jalan darah Keng thian giok cu Thi Keng sekalian bertiga sebelum mendudukkan mereka keatas tanah.

Sungguh tak pernah disangka oleh Thi Eng khi kalau Ban li tui hong Cu Ngo sekalian dapat menguasai kakeknya bertiga, kenyataan ini membuatnya tertegun. “Hei, apa yang sebenarnya telah terjadi,” tegurnya kemudian

keheranan.

Bu im sin hong Kian Kim siang menghela napas panjang.

“Aaai sesungguhnya kakekmu semua sudah kehilangan kesadaran dan kepandaian silatnya, jalan pikiran mereka sudah dikendalikan oleh Hian im Tee kun, seandainya saudara cilik tidak menyatakan kalau kepandaian silatmu telah pulih kembali, hampir saja engkoh tua mu hendak melakukan perbuatan yang mungkin akan kusesali sepanjang masa.”

Menyusul kemudian dia lantas menuturkan bagaimana mereka berencana hendak membunuh ketiga orang tokoh persilatan itu guna melindungi nama baik mereka dari aib. Thi Eng khi yang mendengar penjelasan tersebut menjadi terkejut bercampur terharu, untuk beberapa saat lamanya dia sampai tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Ternyata Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan Thi Eng khi sudah berhasil memperoleh kembali kepandaian silatnya, dengan cepat mengambil keputusan untuk merubah rencananya semula. Diam diam dia mengirim berita kepada Ban li tui hong Cu Ngo bertiga agar merebut Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng pak dari cengkeraman musuh.

Oleh karena peristiwa itu berlangsung sangat tiba tiba, maka mereka pun berhasil memperoleh kesuksesan yang sama sekali diluar dugaan. Baru saja dipihak sini para jago berhasil merobohkan Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng pak, pertarungan yang berlangsung antara Ciu Tin tin, Pek leng siancu So Bwe leng dan Bu Nay nay melawan para iblis pun telah berakhir karena hardikan Hian im Tee kun, masing masing pihak telah balik ke posisi masing masing.

Terdengar Hian im Tee kun tertawa seram tiada hentinya, kemudian membentak keras :

“Anjing kecil, tempat ini terlampau sempit dan kurang leluasa untuk dijadikan anjang pertarungan, beranikah kau naik ke gunung untuk mengadakan pertemuan di istanaku?”

Thi Eng khi tertawa nyaring.

“Haaahhh... haaahhh..... haaahhh... hari ini adalah saat kiamatnya Ban seng kiong kalian, apa salahnya untuk melepaskan kau agar bisa melakukan persiapan terlebih dulu?”

“Baik!” kata Hian im Tee kun kemudian sambil tertawa dingin, “aku akan segera mempersiapkan upacara terakhir bagi kalian semua ”

Dengan membawa begundal begundalnya, dia lantas mengundurkan diri dari tempat itu. Sementara itu para penonton keramaian mulai sadar kalau keramaian yang bakal berlangsung dalam istana Ban Seng kiong kali ini bukan permainan biasa, mereka yang bernyali kecil segera membubarkan diri dan pulang ke rumah masing masing. Hanya mereka yang bernyali besar dan menganggap dirinya sebagai jagoan persilatan saja yang tetap berada di tempat semula, mereka telah bersiap sedia mengikuti rombongan Thi Eng khi untuk melangsungkan pertarungan mati matian melawan para iblis.

Setelah para gembong iblis dari Ban seng kiong berlalu, maka pertama yang hendak dilakukan Thi Eng khi adalah memulihkan dulu kesadaran dari Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni serta Tiang pek lojin So Seng pak. Seperti diketahui, dalam gua Yang Sing tong milik Cu sim ci cu Thio Biau liong, Thi Eng khi berhasil mempelajari semua kepandaian sakti milik tokoh persilatan tersebut, bahkan dari kitab kitab pusaka yang disimpan disana, dia peroleh pengetahuan yang luar sekali. Tidak heran kalau Thi Eng khi cukup menguasai tentang ilmu menotok jalan darah dan bagaimana menguasai kesadaran seseorang.

Sekalipun demikian, oleh sebab pelbagai ilmu mempunyai ciri yang berbeda, otomatis cara pengobatannya pun berbeda, maka bilamana seseorang salah bertindak atau salah memberi pengobatan, salah salah orang yang ditolong akan menjadi orang yang bodoh atau lemah ingatan. Itulah sebabnya Thi Eng khi sengaja membiarkan Hian im li Cun Bwe menotok jalan darah Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, kemudian menyadap cara Cun Bwee membebaskan pengaruh totokan tersebut.

Coba kalau tiada petunjuk tersebut mungkin si anak muda ini pun tak berani turun tangan secara sembarangan guna menolong Keng thian giok cu Thi Keng bertiga. Sekarang Thi Eng khi sudah menguasai penuh cara pengobatan yang pernah digunakan Hian im li Cun Bwee, dikombinasikan pula dengan pengetahuan yang dimilikinya, dia segera bertindak dengan cepat. Tampak tubuhnya berputar bagaikan roda kereta dalam waktu singkat dia sudah menotok dan menguruti semua nadi penting ditubuh ketiga orang tokoh persilatan tersebut. Tidak sampai dua perminum teh, Keng thian giok cu Thi Keng bertiga sudan berhasil memperoleh kembali kesadaran otaknya.

Secara beruntun Thi Eng khi, Ciu Tin tin dan So Bwe leng maju menghunjuk hormat kepada kakek dan gurunya masing- masing... Pit tee jiu Wong Tin pak serta Ngo liau sianseng Lim Biau lim juga segera maju ke depan menjumpai guru serta susioknya.

Menyusul kemudian Bu im sin hong Kian Kim siang menuturkan semua peristiwa yang telah terjadi selama ini kepada ketiga orang tua tersebut.

Mendengar penuturan itu, ketiga orang tua itu saling berpandangan dengan wajah tertegun, sementara harinya berdebar keras seakan akan baru saja memperoleh sebuah impian yang sangat buruk. Seakan akan kehilangan sesuatu, Keng thian giok cu Thi Keng menghela napas panjang, kemudian ujarnya :

“Kian lote, kepandaian silat kami bertiga sudah hilang, terpaksa rencana kita untuk mengerubuti Hian im Tee kun harus diserahkan kepada angkatan muda muda untuk menyelesaikannya, walaupun kalau dipikir kembali sungguh membuat hati orang tak puas ”

Bu im sin hong Kian Kim siang hanya bisa mengeluh sebab dia sendiripun tak berhasil menemukan kata yang tepat untuk menghibur hati mereka.

“Yaya!” kata Thi Eng khi tiba tiba dengan kening berkerut, “serangan gelap apa sih yang telah dilancarkan Hian im Tee kun terhadap kalian.”

Kembali Keng thian giok cu Thi Keng menghela napas panjang, sahutnya sambil tertawa getir :

“Anak Eng, sekalipun kau sudah memperoleh warisan dari seluruh kepandaian Cu sim ci cu Thio locianpwe, rasanya tidak gampang untuk menolong yayamu sekalian.” “Coba yaya utarakan dan kita bisa merundingkan bersama sama, kalau dibilang sudah tidak ada cara lagi, hal ini mustahil ”

Ketua Bu tong pay Keng hian totiang berbicara :

“Dalam semalaman saja, Thi ciangbunjin berhasil memulihkan tenaga dalam kami semua, kejadian ini cukup membuat Hian im Tee kun merasa terkejut, bila kita bisa membantu cianpwe bertiga lagi untuk memulihkan kembali kepandaian silatnya, kemudian dengan kerja sama cianpwe bertiga dengan Kian tua, Hian im Tee kun sudah pasti akan menderita kekalahan total dan pertarungan yang berlangsung hari ini pun pasti akan kita menangkan secara keseluruhan.”

Dengan suara dalam Keng thian giok cu Thi Keng segera berkata :

“Kami bertiga telah terkena racun Hua kang san dari Hian im Tee kun, anak Eng, apakah kau punya akal?”

Thi Eng khi termenung sambil berpikir sebentar, kemudian tanyanya lagi :

“Sudah berapa lama yaya terkena bubuk racun Hua kang san tersebut?”

Keng thian giok cu Thi Keng menghitung sebentar harinya, kemudian menyahut :

“Sampai hari ini baru tiga hari!”

“Untung Seng heng hadir disini, Eng ji bisa mencoba dengan paksakan diri!”

Keng thian giok cu Thi Keng menjadi gembira sekali setelah mendengar perkataan tersebut, serunya dengan cepat :

“Kalau begitu cepatlah pergunakan caramu itu untuk menolong kami, hari ini bila yaya tak mampu membunuh Hian im Tee kun, rasanya sukar untuk melenyapkan rasa benci dari dalam hatiku...”

Thi Eng khi mengeluarkan sembilan butir pil Kim khong giok lok wan dan dibagikan kepada ketiga orang tua tersebut.

Kemudian meminta kepada Bu im sin hong Kian Kim siang, Sam ku sinni dan ketua Bu tong pay Keng hian totiang untuk menggunakan tenaga dalamnya membantu ketiga orang tua tersebut.

Setelah itu, dia menarik Hui cun siucay Seng Tiok sian ke samping dan mengajaknya berunding.

“Nanti siaute akan mempergunakan hawa murni sam wi cing hui untuk melumerkan sari racun Hua kang san yang berada dalam tubuh ketiga orang tua tersebut, harap saudara Seng dengan mempergunakan ilmu Ban hong ki lun (selaksa lebah mengelilingi putik) menusuk tiga puluh enam buah jalan darah penting di tubuh mereka, dengan berbuat demikian maka tidak sulit buat kita untuk menghilangkan pengaruh racun Hua kang san tersebut ”

Hui cun siucay Seng Tiok sian adalah seorang yang ahli pula dalam ilmu pertabiban, setelah mendengar perkataan dari Thi Eng khi tersebut, dia lantas berkata dengan kening berkerut : “Saudara Thi, untuk membantu semua orang dalam memulihkan tenaganya kembali, kau sudah mengorbankan banyak sekali hawa murnimu, apakah kau masih mempunyai sisa tenaga untuk membantu ketiga orang tua ini?”

“Sebelum dimulai, harap saudara Seng menusuk jalan darah Ki juan hiat dan Thian yu hiat ditubuhku dengan jarum emas, dengan begitu akan merangsang sisa tenaga yang siaute miliki, aku pikir kekuatan tersebut masih cukup dipakai menyembuhkan sisa racun yang mengeram ditubuh ketiga orang tua tersebut.”

Hui cun siucay Seng Tiok sian mengerutkan keningnya makin kencang :

“Saudara Thi, tahukah kau apa akibatnya dengan berbuat

demikian ini?”

Thi Eng khi tertawa bangga.

“Siaute telah mempertimbangkan baik baik ”

Oleh sebab Hui cun siucay Seng Tiok sian tidak mengetahui sampai dimanakah taraf tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi, maka secara khusus dia memperingatkan pemuda itu lagi : “Saudara Thi, dengan berbuat demikian kau akan menghancurkan seluruh tenaga dalam yang dimiliki!”

Thi Eng khi kembali tertawa.

“Bagi siaute cukup beristirahat satu bulan saja, semua tenaga

dalam yang kumiliki akan pulih kembali seperti sedia kala ”

Hui cun siucay Seng Tiok sian mengira ucapan dari Thi Eng khi tersebut hanya bermaksud menghibur hatinya, dia beranggapan Thi Eng khi hendak mengorbankan diri untuk mewujudkan harapan ketiga orang tua tersebut, maka tanpa terasa ujarnya jauh :

“Tapi dalam pertarungan hari ini, musuh lebih banyak daripada kita, kau tak boleh sampai ketinggalan!”

“Setelah membantu semua orang memulihkan tenaga

dalamnya, kekuatan yang kumiliki sekarang sudah tak sanggup untuk menandingi Hian im li sekalipun bertambah dengan aku seorang tak bisa dianggap banyak, kekurangan aku seorangpun tak bisa dihitung kurang, sebaliknya bila kubantu memulihkan kembali kekuatan dari ketiga orang tua tersebut, sekalipun kehilangan aku seorang, tapi akan bertambah tiga orang jago lihay yang jauh mengungguli Hian im li, bukankah hal ini jauh lebih untung bagiku.”

Hui cun siucay Seng Tiok sian benar benar dibikin takluk, dia menghela napas panjang kemudian ujarnya :

“Saudara, siaute benar benar mengagumi watakmu, baiklah,

aku akan turut perintah!”

Thi Eng khi segera mengajak Seng Tiok sian balik kembali ke hadapan ketiga orang tua itu, pikirnya kemudian :

“Bila aku menolong kakekku lebih dulu, bisa jadi kakek akan tak senang hati ”

Maka dia lantas menuju ke belakang punggung Sim ji sinni dan duduk bersila disitu, dia menyuruh Hui cun siucay Seng Tiok sian menusuk jalan darah Khi juang hiat dan Thian yu hiatnya untuk merangsang tenaga sisa yang dimiliki, kemudian telapak tangannya ditempelkan diatas jalan darah Pay sim hiat di punggung Sim ji sinni.

Tindakan Thi Eng khi dalam menggunakan Sam wi ceng hui untuk melebur racun dalam tubuh Sim ji sinni itu memang tak dapat disaksikan dengan mata telanjang, maka dari perhatian semua orang sekarang dialihkan ke wajah Hui cun siucay Seng Tiok sian. Hui cun siucay Seng Tiok sian sebagai ahli waris dari Tabib nomor wahid dikolong langit dewasa ini, si Pembenci raja akhirat Kwik Keng thian memiliki kemampuan yang lihay sekali, kecuali Thi Eng khi boleh dibilang tiada orang yang bisa menandingi dirinya lagi. Cuma tiada orang yang mengetahui akan hal ini, siapapun tidak menyangka kalau pemuda tersebut memiliki ilmu pertabiban yang luar biasa. Waktu itu dalam genggaman tangannya penuh dengan jarum emas sementara sepasang mata yang tajam mengawasi terus perubahan wajah Sim ji sinni tanpa berkedip. Pada mulanya, di bawah leburan hawa sakti Sam wi ceng hui dari Thi Eng khi, paras muka Sim ji sinni berubah menjadi merah membara dan dadanya naik turun amat keras, napasnya tampak susah dan sesak. Kemudian paras muka Sim ji sinni makin lama berubah semakin merah, napas

pun makin lama semakin memburu dan tersengkal sengkal,

seakan akan sudah hampir putus napas saja …..

Waktu itu Hui cun siucay Seng Tiok sian berdiri dihadapan Sim ji sinni, peluh sebesar kacang kedelai bercucuran pula membasahi seluruh wajahnya, jelas dia pun merasa sangat tegang sekali….

Sudah barang tentu rasa tegangnya ini dikarenakan dia harus menggunakan jarumnya pada saat yang paling tepat, salah yang kecil pun bukan saja akan menghancurkan Sim ji sinni bahkan Thi Eng khi sendiripun akan turut musnah…..

Sekarang paras muka Sim ji sinni sudah berubah merah darah, dari tenggorokannya pun mulai bergema suara gemerutuk yang sangat aneh. Ketika suara tersebut berkumandang untuk ketiga kalinya, suara sudah kedengarannya lemah sekali, atau dengan perkataan lain sudah mencapai saat orang hendak menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Di saat seperti inilah Hui cun siucay Seng Tiok sian mengayunkan sepasang tangannya bersama sama, selapis cahaya tajam yang berwarna keemas emasan menyebar di seluruh angkasa, tahu tahu kedua puluh tiga batang jarum emas tersebut sudah menancap pada kedua puluh tiga buah jalan darah penting ditubuh Sim ji sinni (kecuali jalan darah pada alat kelaminnya).

Dalam sekali sambitan dua puluh tiga batang jarum emas dilancarkan bersamaan, sasaranpun amat tepat, hal tersebut membuat puluhan jago yang hadir di arena sama sama menghela napas panjang. Selesai melancarkan ke dua puluh tiga batang jarum emas tersebut, Hui cun siucay Seng Tiok sian menghembuskan napas panjang dan menyeka keringat yang membasahi wajahnya. Kemudian dia mengeluarkan kembali dua belas batang jarum emas dan digenggam dalam tangannya.

Sementara itu paras rnuka Sim ji sinni dari warna merah sudah berubah menjadi semu merah lalu berubah menjadi pucat pias, akhirnya wajahnya benar benar menjadi pucat pasi. Lama, lama kemudian dari warna semu berubah kembali menjadi warna tua dan akhirnya pulih menjadi merah.

Sekali pun demikian, dengusan napas Sim ji sinni meski masih agak memburu namun jauh lebih enteng dan lega. Pada kesempatan yang selanjutnya, kembali Hui cun siucay Seng Tiok sian mengayunkan tangannya untuk melancarkan kedua belas batang jarum emas yang berada ditangannya. Sebenarnya Hui cun siucay Seng Tiok sian berdiri saling berhadapan dengan Sim ji sinni, tapi jarum emas yang dilancarkan olehnya justru berkelebat diantara kilauan cahaya emas dan bersama lama menancap diatas dua belas jalan darah penting dipunggung Sim ji sinni

Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan kejadian tersebut tanpa terasa memuji :

“Benar benar suatu gerakan Hui hong hui hong (Pelangi terbang angin berpusing) yang hebat!” Mendadak hatinya bergetar keras cepat tanyanya lagi :

“Sobat cilik, apakah kau pelajari ilmu tersebut dari si Pembenci

raja akhirat Kwik Keng thian?”

“Dia orang tua adalah guru boanpwe!” jawab Hui cun siucay

Seng Tiok sian dengan wajah serius.

Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa terbahak bahak.

“Haaaahh... haahhhh haaahhhh.. tahukah kau siapakah aku?”

“Dari nada pembicaraan tadi boanpwe sudah mengetahui tentang locianpwe hanya belum sempat memberi salam saja.”

Kemudian sambil menjura kepada Bu im sin hong Kian Kim siang, katanya :

“Boanpwe Seng Tiok sian menjumpai locianpwe.”

Belum habis dia berkata, tiba tiba badannya menerjang maju ke muka, buru buru Bu im sin hong Kian Kim siang mengayunkan tangannya melepaskan sebuah pukulan tanpa wujud untuk mengangkat badannya dari atas tanah.

“Apakah kau sudah banyak mengorbankan tenaga dalammu?”

katanya penuh perhatian.

Paras muka Hui cun siucay Seng Tiok sian berubah menjadi semu merah, sahutnya cepat :

“Tenaga dalam boanpwe memang cetek, ditambah lagi sedang merasa tegang, aku merasa rada pusing.”

Bu im sin hong Kian Kim siang segera menempelkan telapak tangannya keatas bahu Hui cun siucay Seng Tiok sian, segulung aliran hawa panas segera menyusup ke dalam tubuh Hui cun siucay Seng Tiok sian, pesannya kemudian : “Cepat kau salurkan hawa murni untuk mengelilingi seluruh badan, hari ini jika kau sudah membantu saudara cilik Thi untuk memulihkan kembali tenaga dalam dari ketiga orang locianpwe tersebut sehingga memberikan kebanggaan untuk

sahabat sahabat persilatan yang berada di wilayan Im kui siang juan, supek pasti akan baik baik memberi hadiah untukmu.”

Kemudian setelah berhenti sejenak dia berkata lebih jauh : “Bersediakah kau mempelajari ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im milik supekmu ini?”

Mendengar perkataan tersebut Hui cun siucay Seng Tiok sian menjadi terkejut bercampur girang, hampir saja dia berhenti bersemedi, buru buru serunya :

“Terima kasih banyak supek!”

Perlu diketahui, Hu kong keng im adalah ilmu gerakan tubuh andalan dari Bu im sin hong Kian Kim siang, padahal sudah puluhan tahun lamanya Bu im sin hong Kian Kim siang termashur dalam dunia persilatan. Bisa dibayangkan betapa gembiranya Hui cun siucay Seng Tiok sian setelah mendengar kalau Bu im sin hong Kian Kim siang hendak mewariskan ilmu andalannya itu kepadanya.

Sementara itu Thi Eng khi menyelesaikan pertolongannya dan membantu Hui cun siucay Seng Tiok sian mencabut keluar jarum emas dari tubuh Sim ji sinni. Ciu Tin tin yang amat sayang kepada gurunya, dengan cepat menempelkan kembali telapak tangannya diatas tubuh Sim ji sinni, dia berharap gurunya bisa memperoleh kembali tenaga dalamnya secepat mungkin. Tak lama kemudian Hui cun siucay Seng Tiok sian telah berhasil memulihkan kembali kekuatannya. Sedangkan Thi Eng khi atas bantuan dari jarum emas, dalam waktu singkat berhasil pula menyembuhkan luka dari Tiang pek lojin So Seng pak dan Keng thian giok cu Thi Keng.

Namun dalam pengobatan itu, berhubung Hui cun siucay Seng Tiok sian memiliki tenaga dalam terlampau cetek, maka dia harus menerima bantuan dari Bu im sin hong Kian Kim siang untuk menyelesaikan tugas itu.

Begitulah, setelah ketiga orang tokoh persilatan tersebut berhasil mendapatkan kembali tenaga dalamnya, mereka lantas bersemedi untuk mengatur pernapasan. Akibat dari kejadian ini, semua orang mulai menganggap Thi Eng khi bagaikan dewa saja.

Pada saat itulah, Hui cun siucay Seng Tiok sian siap hendak mencabut keluar jarum emasnya dari atas jalan darah Khi juang hiat dan Thian yu hiat ditubuh Thi Eng khi. Tapi pemuda itu segera menggelengkan kepalanya sembari berkata :

“Tunggu dulu! Bila jarum emas ini dicabut keluar maka siaute akan segera roboh lemas tak berkekuatan lagi, keadaanku nanti seperti orang mati saja, bukan saja hal tersebut tak akan bisa membantu semua orang di istana Ban seng kiong nanti, malahan akan merepotkan semua orang untuk mencabangkan pikiran dan melindungiku, ini jelas tidak leluasa untuk kalian semua, menurut pendapat siaute, lebih baik jarum emas ini dicabut keluar setelah kita menyapu rata seluruh istana Ban seng kiong nanti!”

Dengan perasaan sangat kuatir Hui cun siucay Seng Tiok sian berkata cepat :

“Saudara Thi, aku percaya ilmu pertabibanmu jauh lebih lihay daripada siaute, rasanya siaute pun tak usah memberi peringatan lagi kepadamu, tapi bagaimanapun juga kau harus memikirkan juga masa depan dari semua umat persilatan yang ada di dunia ini.”

Namun Thi Eng khi hanya menggelengkan kepalanya berulang kali dan bersikeras menampik untuk mencabut keluar jarum emas dari tubuhnya. Hui cun siucay Seng Tiok sian menjadi amat gelisah, dia lantas memberitahukan hal tersebut kepada Bu im sin hong Kian Kim siang. Mendengar kabar ini, Bu im sin hong Kian Kim siang segera melotot ke arah Thi Eng khi sambil menegur :

“Saudara cilik, benarkah kau ingin menyaksikan semua sahabat dunia persilatan bersedih hati untukmu?”

Thi Eng khi tertawa getir :

“Kau tak usah kuatir Kian tua, siaute cukup tahu diri, sekali pun diperpanjang setengah atau sehari pun tak bakal menghancurkan siaute, saudara Seng tidak mengetahui tentang penemuan aneh yang siaute terima di gua Yang sim tong, Kian tua kau harus percaya kepadaku.”

Bu im sin hong Kian Kim siang menjadi ragu ragu :

“Saudara cilik, bukannya engkoh tua tidak percaya kepadamu, melainkan tak berani percaya kepadamu, kau tak boleh sembarangan mengacau!”

Dia segera turun tangan menotok jalan darah Thi Eng khi. Setelah membantu ketiga tokoh persilatan itu memperoleh kembali hawa murninya. Thi Eng khi mengalami kerugian yang besar sekali, sekalipun dia ingin berkelit sayang kemampuannya sudah tidak memadai lagi. Dalam sekali ayunan tangan saja, tampaknya jari tangan Bu im sin hong Kian Kim siang tersebut akan segera mencabut keluar jarum emas ditubuhnya.

Mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara dari Keng thian giok cu Thi Keng :

“Kian lote, apa sih kesalahan anak Eng? Tolong berilah muka

untuk siaute dan ampunilah dia untuk kali ini!'”

Sambil menghela napas panjang, Bu im sin hong Kian Kim siang menarik tangannya, lalu berkata :

“Dia sendiri yang pingin mampus, coba bayangkan bikin hati orang menjadi dongkol atau tidak?”

Walaupun kepandaian silat yang dimiliki Keng thian giok cu Thi Keng baru saja pulih, namun kegagahan serta kewibawaannya sama sekali tidak menjadi kurang, dengan langkah lebar dia menghampiri Thi Eng khi, lalu ujarnya : “Eng khi, kau anggap setelah memiliki tenaga dalam yang tinggi maka boleh berbuat menurut kehendak sendiri?”