Pukulan Naga Sakti Jilid 40

 
Jilid 40

Sepeninggal kedua orang itu, Bu im sin hong Kian Kim siang segera mengenalkan Bu Im kepada Keng thian giok cu Thi Keng serta Tiang pek lojin So Seng pak. Semua orang adalah tokoh tokok termashur dalam dunia persilatan, berada dalam keadaan dimana waktu adalah emas, mereka tidak banyak berbicara lagi, kedua belah pihak pun saling menganggukkan kepalanya sebagai tanda perkenalan. Secara ringkas Bu im sin hong Kian Kim siang menceritakan kisah tertangkapnya Thi Eng khi kepada Thi Keng.

Mendengar penuturan tersebut, dengan kening berkerut Keng thian giok cu Thi Keng berpikir beberapa saat, kemudian katanya sambil menghela napas :

“Belakangan ini, menurut hasil laporan yang diterima di istana Ban seng kiong, jago jago kepercayaan dari gembong iblis tua tersebut berhasil menjebak kawanan jago persilatan kenamaan di bukit Cian san, bahkan tak lama lagi akan dibawa pulang ke istana bila kita ingin melaksanakan rencana pertolongan, maka yang penting adalah menolong jago jago persilatan tersebut lebih dulu, tentang cucuku, dia toh sudah kehilangan tenaga dalamnya sekali pun kita selamatkan jiwanya tak bakal bermanfaat bagi keadaan, aku rasa lebih baik biarkan saja dia ditawan.”

Begitu Keng thian giok cu Thi Keng menyelesaikan kata katanya, Bu im sin hong Kian Kim siang yang bersusah payah datang dari tempat jauh untuk menolong Thi Eng khi ini menjadi kecewa sekali. Namun berhadapan dengan manusia yang berjiwa luhur dengan mengutamakan kepentingan umum lebih dulu sebelum kepentingan pribadi, timbul juga perasaan kagum dan hormatnya. Ia merasa kurang leluasa untuk mendesak lebih jauh maka ia pun membungkam dalam seribu bahasa. Thi Eng khi adalah cucu menantu Tiang pek lojin, sudah barang tentu Tiang pek lojin pun merasa kurang leluasa untuk banyak berbicara…..

Saat inilah Bu Im segera mengusulkan.

“Menurut pendapat Bu Im, kalau toh didalam melaksanakan rencana semula cianpwe sekalian kekurangan Kian cianpwe seorang sehingga sukar dilaksanakan dengan sempurna, sedangkan usaha untuk menolong para jago kenamaan yang tertawan dibukit Cian san pun belum tentu akan berhasil dengan sukses, menurut Bu Im mengapa kita tidak manfaatkan kesempatan yang ada sekarang untuk membawa Kian lo serta Bu Im memasuki istana Ban seng kiong dan mencari kesempatan untuk menolong mereka secara

diam-diam? Entah bagaimanakah menurut pendapat kalian?”

Bu im sin hong Kian Kim siang segera bertepuk tangan memuji, serunya dengan cepat :

“Usul dari Bu lote memang dapat dilaksanakan, mengapa kita tidak manfaatkan kesempatan ini untuk menyelundup ke dalam istana Ban seng kiong? Harap Thi lo memutuskan.”

Dengan wajah berseri Keng thian giok cu Thi Keng segera berkata :

“Kalau begitu kita harus membuat dosa terhadap lote berdua... ”

Berbicara sampai disitu, dia lantas turun tangan menotok jalan darah Bu im sin hong Kian Kim siang serta Bu Im. Sambil tertawa Tiang pek lojin So Seng pak segera berkata:

“Thi toako, aku akan segera membebaskan jalan darah keempat orang itu.”

Tubuhnya berkelebat ke depan dan telapak tangannya diayunkan berulang kali, dalam waktu singkat dia telah membebaskan jalan darah dari keempat kakek berjubah kuning yang tertotok itu.

Semenjak jalan darahnya tertotok, keempat orang kakek berjubah kuning itu selalu berada dalam keadaan tak sadar. Setelah mendusin mereka pun tidak mengetahui kalau Tiang pek lojin So Seng pak yang berada dihadapan mereka sekarang bukanlah Pek hou tongcu yang tadi, begitu melompat bangun dari atas tanah, serentak mereka bertanya kepada Tiang pek lojin So Seng pak.

“Tongcu, apakah orang yang menyaru sebagai tongcu itu sudah dimusnahkan?” Tiang pek lojin So Seng pak menghela napas panjang :

“Aaaai.., hampir saja kita terkecoh hari ini, coba kalau Thi tongcu tidak datang tepat pada saatnya dan berhasil membinasakan orang yang menyaru sebagai diriku serta membekuk dua orang lainnya, entah bagaimanakah keadaannya nanti?”

Salah seorang diantara keempat kakek berjubah kuning itu segera bertanya :

“Lantas ke mana perginya jenasah dari orang yang menyaru sebagai tongcu?”

“Jenasah telah dilarikan oleh Boan san siang koay.”

Ketika satu diantara kakek berjubah kuning itu menyaksikan Bu im sin hong Kian Kim siang tergeletak ditanah, dengan perasaan tercengang ia lantas berseru :

“Hei, bukankah orang ini adalah Kian tongcu?”

“Siapa tahu? Kami tidak dapat memastikannya dengan begitu saja, terpaksa harus dibawa pulang dulu ke istana kemudian baru diselidiki lebih jauh!”

Berbicara sampai disitu, dia lantas menitahkan kepada kedua orang kakek berjubah kuning itu agar membopong tubuh Bu im sin hong Kian Kim siang dan Bu Im. Baru saja akan turun gunung, segulung angin berhembus lewat disusul munculnya seseorang.

Orang tersebut bukan lain adalah Ban li tui hong (selaksa li pengejar angin) Cu Ngo yang sudah lama tak nampak batang hidungnya, dia menuju ke hadapan Keng thian giok cu Thi Keng, kemudian agak tak tenang lapornya :

“Thi ciangbunjin serta para jago kenamaan dari berbagai partai telah sampai dalam istana harap tongcu berdua segera kembali ke istana untuk berunding.”

Keng thian giok cu Thi Keng dan Tiang pek lojin So Seng pak saling berpandangan sekejap, seakan akan mereka sedang bilang :

“Begitu cepat mereka sudah dibawa kesini!”

Suasana di atas puncak Wu san puncak Wang soat hong istana Ban seng kiong nampak diliputi kegembiraan yang meluap lu¬ap. Siapa pun tak menyangka, dunia persilatan berhasil dikuasai oleh pihak Ban seng kiong hanya didalam semalaman saja. Dalam seharian ini, secara beruntun Hian im Tee kun telah membuat tiga macam surat perintah. Surat perintah yang pertama merupakan suatu pengumuman yang menggembirakan semua anggota perguruannya, isi pengumuman tersebut adalah begini “Segenap ciangbunjin dari berbagai perguruan dan orang orang kenamaan dari seantaro jagad, besok lusa tengah hari akan datang ke istana kami untuk bergabung dengan kami semuanya, disamping itu ciangbunjin dari Thian liong pay Thi Eng khi akan berkunjung pula ke istana untuk melebur permusuhan menjadi persahabatan, kemudian bersama sama ciangbunjin dari pelbagai perguruan besar dan orang kenamaan dari seantero jagad akan melangsungkan pesta perjamuan untuk merayakan hari yang damai...”

Surat perintah kedua menitahkan kepada segenap anggota istana Ban seng kiong agar dalam dua hari selesai menghiasi jalanan sepanjang sepuluh li menuju ke istana untuk menyambut kedatangan para jago persilatan itu sebagai tamu agung, selain pula mengundang jago jago lainnya agar ikut menghadiri perayaan mana.

Sedangkan surat perintah ketiga berbunyi dalam pesta perayaan yang bakal diselenggarakan nanti akan diadakan pembagian hadiah menurut pahala yang dibuat setiap orang.

Dalam pada itu, dibagian belakang istana Ban seng kiong, dibalik sebuah ruangan yang mungil dikelilingi gunung gunungan dan kolam, duduklah dengan tenang tiga tokoh sakti dari dunia persilatan. Mereka adalah Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng pak.

Bu im sin hong Kian Kim siang dan Bu Im yang ditawan, setelah dibebaskan jalan darahnya secara diam diam oleh Keng thian giok cu Thi Keng. kemudian diserahkan kepada anggota Ban seng kiong lainnya agar disekap sambil menunggu dijatuhi hukuman. Maka Bu im sin hong Kian Kim siang dan Bu Im menjadi tawanan dari istana Ban seng kiong, mereka tak dapat hadir dalam ruangan megah bersama Keng thian giok cu Thi Keng sekalian untuk bersama sama merundingkan tindakan yang bakal diambil untuk menghadapi kejadian besar esok pagi.

Sekilas pandangan, Keng thian giok cu Thi Keng sekalian bertiga seakan akan sedang bersemedi dalam keadaan lupa segala galanya. Padahal pada saat itu, mereka sedang mempergunakan ilmu Hu hi sim ing (irama hati suara perut) yakni semacam ilmu sakti setingkat lebih tinggi dari ilmu Coan im ji mi untuk merundingkan siasat guna menolong orang dan menaklukan musuh.

Kekuatan yang dimiliki pihak Ban seng kiong benar benar diluar dugaan mereka semula. Dilihat dari hal ini, bisa disimpulkan bahwa rencana mereka untuk mengerubuti Hian im Tee kun tak akan bisa terwujud. Dari keempat kekuatan yang semula disiapkan, kini berkurang dengan Bu im sin hong Kian Kim siang seorang, berbicara soal kekuatan sudah jelas merupakan suatu pukulan yang cukup berat, mereka telah kehilangan keyakinan untuk bisa meraih kemenangan dan justru inilah merupakan salah satu alasan mengapa rencana tersebut dibatalkan.

Tapi masih ada satu alasan yang lain lagi, yakni pada hakekatnya mereka tidak pernah memperoleh kesempatan yang baik untuk mengerubuti Hian im Tee kun. Entah disaat dan keadaan apapun Hian im Tee kun tak pernah menerima mereka bersama tanpa membawa pengawal, oleh sebab itu kekuatan mereka pun tak pernah dapat terhimpun untuk mengerubuti gembong iblis tua tersebut.

Bila sedang berada dalam suatu pertemuan yang dihadiri jago, tentu saja mustahil bagi mereka untuk turun tangan, jangan dikata kelihayan dari gembong iblis itu sendiri, ke delapan kakek berjubah merah yang selalu mendamping Hian im Tee kun pun memiliki kemampuan yang tak boleh dianggap enteng.

Sekalipun kekuatan gabungan dari mereka berdelapan belum tentu bisa mengungguli empat tokoh sakti ini, namun untuk menaklukkan mereka paling tidak mereka harus bertarung sampai ratusan gebrakan lebih dahulu. Apalagi jika harus dua lawan satu, keempat orang tokoh sakti itu makin tak akan peroleh keuntungan apa apa. Dan sekarang, mereka bertiga pun tidak berhasil menemukan suatu cara yang paling baik dan paling besar kemungkinannya untuk berhasil dengan sukses.

Sekalipun mereka bisa menggabungkan Bu im sin hong Kian Kim siang dan Bu Im dengan mereka semuapun, belum tentu kemenangan bisa diperoleh secara gampang. Sementara mereka bertiga masih memutar otak mendadak seorang gadis cantik berbaju hijau munculkan diri dalam ruangan dan memotong pembicaraan mereka.

Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan, gadis berbaju hijau itu segera melapor :

“Tee kun mengundang tongcu bertiga agar masuk ke ruang semedi untuk berunding.”

Selesai berkata, gadis berbaju hijau itu segera mengundurkan diri. Sepeninggal nona berbaju hijau itu, dengan wajah berseri Tiang pek lojin segera berseru:

“Oooh, rupanya Thian masih melindungi umat persilatan untuk hidup dengan merdeka!”

“So lo sicu jangan keburu bergembira dulu,” cegah Sim ji sinni dengan cepat, “dengan mengandalkan gabungan tenaga kita bertiga dapatkah menaklukan gembong iblis tersebut, hingga kini masih merupakan suatu tanda tanya besar, apalagi siapa yang bisa menduga apakah dia telah mempersiapkan gembong iblis lainnya didalam ruang tersebut atau tidak.”

“Sebagai seorang Kun cu, yang penting adalah berusaha sedapat mungkin, soal keberhasilan atau kegagalan, hal tersebut merupakan masalah kedua,” sambung Keng thian giok cu Thi Keng dengan semangat yang berkobar kobar.

“Toako,apakah kita memerlukan bantuan dari Bu im sin hong saudara Kian dan Bu lote?” tanya Tiang pek lojin So Seng pak.

“Waktu tidak mengijinkan kita untuk berbuat sampai ke situ, untung saja aku telah membebaskan jalan darah mereka, dengan kecerdasan Kian lote, semestinya dia dapat mengusahakan suatu upaya untuk lo¬los dari kurungan, maka aku pikir lebih baik kita kerjakan dulu pekerjaan yang sedang kita hadapi.”

Kemudian tanpa berbicara lagi mereka bertiga bersama sama keluar dari ruangan dan berangkat menuju ke ruang semedi dari Hian im Tee kun. Di dalam ruang semedi, tampak Hian im Tee kun berdiri seorang diri di situ dan menyambut kedatangan mereka dengan senyuman dikulum...

Melihat hal mana dengan emosi yang bergolak ketiga orang itu segera berpekik di hati “Oooh... Thian!”

Tak terlukiskan gejolak emosi yang mereka alami sekarang, mereka mengira inilah kesempatan yang sangat baik buat mereka untuk melenyapkan Hian im Tee kun dari muka bumi. Apabila mereka bertiga berhasil menaklukan gembong iblis tua ini maka dunia persilatan pasti akan terselamatkan, atau sekalipun tak mampu mempertahankan diri, mereka masih dapat memaksakan suatu pertarungan adu jiwa.

Keng thian giok cu Thi Keng setelah melangkah masuk ke dalam ruangan segera bergerak menuju ke lima depa disisi kiri Hian im Tee kun, Sim ji sinni menuju ke kanan sedangkan Tiang pek lojin berada di tengah pintu... Dengan cepat mereka membentuk posisi mengepung dari tiga penjuru...

Hian im Tee kun berlagak seakan akan tidak melihat keadaan tersebut, bahkan dengan senyuman dikulum katanya :

“Lusa adalah hari yang paling gembira bagi istana kita karena itu sengaja kuundang kedatangan tongcu bertiga untuk membicarakan suatu masalah.”

Keng thian giok cu Thi Keng menganggap saatnya yang paling baik telah tiba, dia enggan untuk banyak berbicara lagi dengan Hian im Tee kun, setelah memberi tanda dengan kerlingan mata ke arah Sim ji sinni serta Tiang pek lojin So Seng pak, hawa murninya yang berada dalam pusar segera dihimpun. Siapa tahu baru saja hawa murninya terhimpun, mendadak nadinya terasa linu dan hawa murni yang telah berkumpul itupun membuyar secara tiba tiba...

Betapa terkejutnya Keng thian giok cu Thi Keng setelah menyaksikan kejadian tersebut, dia segera berpekik dihati:

“Aduh, celaka aku!”

Tanpa terasa dia berpaling dan memandang sekejap ke arah Sim ji sinni serta Tiang pek lojin, paras muka mereka berdua berubah menjadi pucat pias seperti mayat atau dengan perkataan lain kedua orang rekannya sama sama dicelakai orang secara diam diam.

Sambil tertawa terkekeh kekeh Hian im Tee kun berseru : “Ambilkan kursi!”

Tiga orang nona berbaju hijau muncul dari pintu luar sambil membawa tiga buah kursi, kemudian diletakkan dihadapan Hian im Tee kun, setelah itu seorang satu membimbing ketiga tokoh sakti itu untuk duduk.

Dengan suara menggeledek Keng thian giok cu Thi Keng segera berteriak :

“Lohu sekalian lebih suka mengakhiri hidup saja.”

“Thi lo, buat apa kau mesti memandang persoalan ini amat serius,” ujar Hian im Tee kun sambil tertawa licik, “seandainya lohu benar benar berniat mencelakai kalian, tak nanti akan kuperlakukan kalian sampai hari ini sebagai tamu agungku, bahkan akupun tak usah bersusah payah untuk menciptakan Hua kong san (bubuk pembuyar tenaga) untuk menghadapi kalian.”

Hua kong san adalah sejenis bubuk beracun yang tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau, barang siapa terkena racun tersebut, asal tidak mengerahkan tenaga dalam maka meski sedang bersemedi pun tak akan merasakannya. Bila didalam dua puluh empat jam setelah keracunan, sipenderita tidak mengerahkan tenaga dalam daya kerja racun itu akan punah dengan sendirinya tanpa bekas. Oleh sebab itu, dalam dua puluh empat jam setelah keracunan, si penderita tak boleh marah atau mengerahkan tenaga sehingga memancing bekerjanya racun itu.

Cara penggunaannya pun sangat sederhana, bubuk racun itu cukup diletakkan didalam ruangan, orang akan menghisapnya ke dalam tubuh tanpa sadar dan mereka pun akan keracunan tanpa terasa pula. Tak heran kalau ketiga orang tokoh sakti itu tertipu mentah mentah.

Keng thian giok cu Thi Keng bertiga belum pernah merasakan sendiri racun semacam itu, tapi mereka pernah mendengar racun itu dari cerita orang persilatan, sungguh tak nyana mereka bertiga harus merasakan sendiri hari ini. Ketiga orang itu tidak berbicara apa apa lagi, namun keenam buah mata mereka saling bertukar pandangan, mereka tahu Hian im Tee kun pasti hendak memperalat mereka untuk melalukan perbuatan yang memalukan sehingga mereka dimaki dan dicela orang lain.

Daripada mengalami nasib tragis seperti itu, mereka mengambil keputasan untuk bunuh diri agar terbebas dari segala malapetaka….

Seperti mempunyai hubungan batin yang amat erat, mereka bertiga segera menggigit lidah sendiri untuk menghabisi nyawa sendiri. Rupanya Hian im Tee kun selain waspada dan mengawasi perubahan wajah ketiga orang itu dengan seksama, baru saja Keng thian giok cu Thi Keng sekalian bertiga menggerakkan tulang gerahamnya untuk menggigit putus lidah sendiri, sambil tertawa seram Hian im Tee kun telah mengayunkan jari tangannya dan menotok jalan darah Ya si hiat mereka bertiga……

Sekarang tiada kesempatan lagi bagi Keng thian giok cu sekalian bertiga untuk menghabisi nyawa sendiri. Selesai menotok jalan darah Ya si hiat mereka, Hian im Tee kun berhenti tertawa dingin, kemudian sambil melompat bangun dan menggunakan gaya mengejek, dia berjalan bolak balik di depan Keng thian giok cu bertiga, serunya sambil tertawa bangga :

“Tahukah kalian sejak kapan lohu mengetahui jika kalian sedang menyusun rencana keji?”

Berhubung jalan darah Ya si hiat dari Keng thian giok cu bertiga sudah tertotok, mulut mereka tak dapat bergerak, otomatis merekapun tak dapat menjawab dengan jelas, namun sikap mereka tetap serius dan angker.

Memandang sikap mereka yang serius tersebut, Hian im Tee kun tahu kalau orang orang itu tak bakal menjawab pertanyaan, padahal dia memang tidak bermaksud untuk menantikan jawaban mereka, maka setelah tertawa terbahak bahak katanya sambil menuding kearah Keng thian giok cu Thi Keng serta Sim ji sinni :

“Sejak kalian berdua memasuki istana Ban seng kiong, lohu sudah tahu kalau kalian adalah orang yang sesungguhnya.”

Tergetar perasaan Keng thian giok cu Thi Keng serta Sim ji sinni, setelah mendengar perkataan itu, tanpa terasa mereka menarik napas dingin. Setelah tertawa seram Hian im Tee kun berkata lagi:

“Di atas topeng kulit manusia yang lohu kenakan pada ketiga orang yang menyaru sebagai kalian, diam diam telah kubuat kode rahasia yang tidak diketahui oleh mereka sendiri, kode rahasia itu sangat halus dan berbeda beda letaknya, bahkan jauh lebih sempurna ketimbang kode jarum perak yang kalian pergunakan dengan sangat menyolok ini.”

Sembari berkata dia melepaskan jarum perak dari pakaian Tiang pek lojin dan dibuang keluar jendela sesudah diamati sekejap, sikapnya amat sinis dan menghina. Merah padam selembar wajah Keng thian giok cu Thi Keng bertiga, mereka merasa yaa malu yaa menyesal. Setelah puas menggoda, tiba tiba Hian im Tee kun menarik wajahnya, kemudian berkata :

“Lusa adalah saat para jago dari pelbagai daerah datang bergabung dengan perkumpulan kami, sampai waktunya kalian bertiga harus bekerja dengan baik dan jangan menimbulkan urusan, kalau tidak jangan salahkan jika pun Tee kun akan menghadapi kalian dengan cara yang lebih keji lagi.”

Keng thian giok cu sekalian bertiga sama sekali tidak menggubris ocehan dari Hian im Tee kun, mereka hanya duduk tak berkutik tanpa memperlihatkan perlawanan.

“Bersediakah kalian? Kalau bersedia segera mengangguk sebagai tanda setuju,” bentak Hian im Tee kun lagi.

Tiga orang tokoh besar dari dunia persilatan itu masih saja membungkam dalam seribu bahasa. Menyaksikan hal ini, Hian im Tee kun segera memperdengarkan suara tertawa dingin yang menggidikkan hati, teriaknya menyeramkan : “Bagus! Bagus! Bagus! Tampaknya kalian memang keras kepala, tampaknya aku harus memberikan sedikit kelihayan untuk kalian rasakan ”

Selesai berkata, tiba tiba saja Hian im Tee kun mengayunkan tangannya dan menotok jalan darah Sin bun hiat, pek hwee hiat, hapi kok hiat, kwan goan hiat, heng kian hiat, lwee kwan hiat, tiong kek hiat, kau kut hiat, tay wi hiat dan Mia bun hiat sepuluh buah jalan darah penting ditubuh Tiang pek lojin.

Baik Keng thian giok cu Thi Keng maupun Sim ji sinni, kedua duanya merupakan tokoh silat dari dunia persilatan, ketika mereka saksikan jalan darah yang ditotok Hian im Tee kun sebagian besar adalah jalan darah yang menimbulkan rangsangan pada syaraf dan bagi badan mereka jalan darah tersebut tidak akan menimbulkan perubahan apa apa, untuk beberapa saat lamanya mereda tidak mengetahui permainan busuk apakah yang sedang dilakukan oleh Hian im Tee kun?

Siapa tahu belum habis ingatan tersebut melintas lewat, mereka telah menyaksikan perubahan pada wajah dan sikap Tiang pek lojin, ternyata kakek itu menunjukkan sikap yarg munduk munduk dan menghormat sekali.

Hian im Tee kun segera menotok bebas jalan darah Ya si hiat pada pipi Tiang pek lojin, kemudian ujarnya kepada Tiang pek lojin :

“Sekarang, bawa kemari Bu im sin hong Kian Kim siang!” “Baik!” sahut Tiang pek lojin dengan hormat.

Kemudian setelah memberi hormat lagi kepada Hian im Tee kun, dia membalikkan badan dan berlalu dari situ. Terkesiap sekali Keng thian giok cu Thi Keng dan Sim ji sinni setelah menyaksikan kejadian itu, paras mukanya segera berubah hebat, diam diam mereka membenci Hian im Tee kun, terutama dengan caranya bekerjanya.

Pelan pelan Hian im Tee kun berkata :

“Didalam kitab pusaka Hian im hui goan keng tercantum semacam kepandaian sakti untuk mengendalikan jalan pikiran orang, kepandaian tersebut disebut Si im ko heng (cuci otak merubah watak). Kalian berdua tidak pernah menyangka bukan?”

Setelah berhenti sejenak, dengan gembira dia berseru kembali : “Heeehhhh.... heeeehhh... heeehhhh mulai sekarang, empat

tokoh sakti dari dunia persilatan akan menjadi pelindung yang setia dari istana Ban seng kiong.” Keng thian giok cu Thi Keng dan Sim ji sinni sangat terkesiap, dalam keadaan demikian mereka hanya bisa pasrah kepada nasib. Tak lama kemudian, Tiang pek lojin telah membawa Bu im sin hong Kian Kim siang menghadap.

Bu im sin hong Kian Kim siang segera menangkap kegelisahan yang menghiasi wajah Keng thian giok cu Thi Keng dan Sim ji sinnie. Sementara dia masih tidak habis mengerti, Hian im Tee kun telah memandang kearahnya sambil tertawa seram. Sebagaimana diketahui, jalan darah Bu im sin hong Kian Kim siang yang tertotok telah dibebaskan oleh Keng thian giok cu Thi Keng secara diam diam, sesungguhnya dia berada dalam keadaan bebas kini.

Sebagai orang yang berotak cerdas, dengan cepat dia sudah melihat kurang beresnya keadaan, maka diambilnya keputusan cepat. Mendadak ia membalik telapak tangannya balas mencengkeram urat nadi Tiang pek lojin, kemudian didorongnya tubuh Tiang pek lojin kearah Hian im Tee kun. Sedang ia sendiri lantas melejit keluar dari ruangan itu dengan gerakan ikan leihi menembusi ombak. Mimpi pun Hian im Tee kun tidak menyangka kalau Bu im sin hong Kian Kim siang bakal bertindak cekatan dengan mendorong tubuh Tiang pek lojin untuk menghalangi jalan perginya, menanti dia bersiap untuk turun tangan, keadaan sudah terlambat.

Dengan perasaan mendongkol ia berpekik nyaring, dia tahu para jago lihay dari istananya pasti akan turun tangan untuk menghalangi jalan pergi Bu im sin hong. Sementara itu, Bu im sin hong Kian Kim siang telah berhasil meloloskan diri dari cengkeraman Hian im Tee kun, dia telah mengambil keputusan untuk meloloskan diri dari situ, maka ilmu meringankan tubuh Hu kong keng im nya yang lihay segera digunakan mencapai pada puncaknya.

Berada dalam keadaan demikian, dia memutuskan untuk rnenghindari pertarungan yang tak ada gunanya maka setiap peluang kosong dimanfaatkan olehnya dengan tepat. Didalam istana Ban seng kiong memang terdapat banyak jago lihay, andaikata Bu im sin hong Kian Kim siang harus menyerbu dengan kekerasan, jangan lagi seorang sepuluh orang pun jangan harap bisa lolos dari situ dengan selamat. Tapi tindakan Bu im sin hong Kian Kim siang yang kabur tanpa melayani pertarungan justru mendatangkan keuntungan baginya. Didalam situasi yang serba kalut karena kurangnya persiapan dari kawanan iblis istana Ban seng kiong, dia berhasil meloloskan diri dari Ban seng kiong dengan selamat. Kaburnya Bu im sin hong Kian Kim siang menimbulkan kekacauan yang luar biasa bagi istana Ban seng kiong meskipun Hian im Tee kun tidak senang hati namun dengan kemenangan yang sudah berada di depan mata, apalagi diapun menganggap kekuatan Bu im sin hong Kian Kim siang tak akan menjadi suatu ancaman baginya, persoalan itupun disudahi sampai disitu saja. Tapi yang paling apes adalah Bu Im, Hian im Tee kun segera mengirim orang untuk menotok jalan darahnya, membuat rencananya yang telah di susun rapi menjadi berantakan tak karuan.

Sementara itu, Bu im sin hong Kian Kim siang telah melarikan diri dari istana Ban seng kiong, dia baru menghembuskan napas lega setelah dilihatnya tiada orang yang mengejar dirinya. Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh Hu kong keng im, dia sengaja memilih jalanan yang terpencil dan curam untuk menghindari pengejaran musuh. Entah berapa saat dia sudah berjalan dan entah berapa jauh dia sudah kabur...

Menanti dia merasa sudah berada ditempat yang aman, Bu im sin hong Kian Kim siang baru mencari sebuah gua kecil untuk beristirahat. Pelan pelan gejolak perasaan hatinya dapat dikendalikan kembali....

Namun pikirannya justru menjadi amat kalut dan tak karuan bentuknya lagi. Sekarang, dia mencoba untuk membayangkan kembali keadaan di dalam kamar semedi Hian im Tee kun. Kalau dilihat dari kegelisahan yang terpancar dari wajah Keng thian giok cu Thi Keng serta Sim ji sinni, sudah jelas mereka sedang menguatirkan keselamatan jiwanya, tapi mengapa Tiang pek lojin tidak memberi bisikan terlebih dahulu kepadanya? Mungkinkah Tiang pek lojin tak berani berbicara apa apa kepadanya karena menguatirkan keselamatan jiwa dari kedua orang sahabat karibnya?

Bu im sin hong Kian Kim siang teringat kembali sewaktu dia balik mencengkeram urat nadi Tiang pek lojin dan mendorongnya untuk menghalangi Hian im Tee kun. Dia merasa Tiang pek lojin begitu lemah dan sama sekali tak bertenaga sedikitpun, hal ini tak seharusnya dijumpai dalam tubuh seorang jago silat kenamaan.

Sebab walaupun Tiang pek lojin mempunyai niat untuk mengorbankan diri dan tidak memberikan perlawanan, namun reaksi dari seorang persilatan bila menghadapi serangan seharusnya dimiliki. Tapi kenyataannya Tiang pek lojin tidak memberikan reaksi apa pun, untuk kejadian tersebut rasanya hanya bisa dijelaskan kalau kepandaian silatnya telah dipunahkan orang.

Teringat sampai disitu, diapun lantas menduga kalau Keng thian giok cu Thi Keng dan Sim ji sinni telah mengalami nasib yang sama. Berpikir sampai ke situ, Bu im sin hong Kian Kim siang lantas beranggapan bahwa keadaan dunia persilatan sudah berada dalam keadaan yang tak dapat ditolong lagi, dia menghela napas sedih.

Sekalipun ia masih tersekap dalam pohon cemara dimasa lampau pun belum pernah ia rasakan keputus asaan seperti hari ini.

Dalam keadaan kekecewaan yang besar inilah akhirnya dia tertidur didalam gua. Entah berapa lama dia sudah tertidur.

Mendadak Bu im sin hong tersentak kaget dan mendusin dari tidurnya....

Ketika membuka mata, tampak suasana dalam gua itu gelap gulita, tampaknya malam hari telah menjelang tiba. Mengikuti hembusan angin gunung, dia menangkap ada suara ujung baju yang terhembus angin lewat didepan mulut gua. Setelah mendusin dari tidurnya sekarang, Bu im sin hong Kian Kim siang merasakan kekecewaannya telah mereda, dengan semangat yang berkobar kobar dia melompat keluar dari gua itu.

Angin malam berhembus kencang, bintang bertaburan di angkasa, namun tak nampak ada manusia yang lewat disitu. Bu im sin hong Kian Kim siang termashur karena ilmu meringankan tubuhnya yang tiada bandingan didunia ini, tentu saja dia enggan menyerah dengan begitu saja, bagaikan segulung asap dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan mulai melakukan pencarian. Alhasil tidak dijumpai sesuatu apapun. Disaat dia hendak kembali ke gua kecil itu, mendadak terdengar olehnya ada orang sedang berbicara. Suara pembicaraan tersebut berkumandang dari balik semak belukar tak jauh dari gua kecil itu.

Sambil menghela napas panjang, diam diam Bu im sin hong Kian Kim siang berpikir : “Aaaa..i makin tua, aku semakin tak becus, masa badut kecilpun berani mengejek didepan hidungku.”

Dengan kepandaiannya yang tinggi, dalam beberapa kali gerakan saja dia telah mendekati semak belukar itu tanpa menimbulkan sedikit suara pun. Dipasangnya telinga baik baik untuk menyadap pembicaraan tersebut dengan cepat dia merasa kalau suara pembicaraan orang itu sangat dikenal olehnya. Tanpa terasa dia menerjang lebin ke depan lagi. Sembari meluncur ke muka, ia lantas menegur :

“Sinni, sejak kapan kau sampai disini? Lohu Kian kim siang berada di sini!”

Setelah menembusi semak belukar, disitu muncul sebuah mulut gua, karena dia yang bersuara lebih dulu maka orang yang berada dalam gua itu tidak menghalanginya untuk menerobos masuk ke dalam. Sinar obor menyoroti tiga lembar wajah yang asing sekali baginya. Bu im sin hong Kian Kim siang segera menghentikan gerakan tubuhnya dan tak berani masuk lebih ke dalam, sambil berdiri didepan pintu gua, bentaknya keras keras :

“Siapakah kalian?”

Salah seorang diantaranya segera melepaskan topeng kulit manusia yang menutupi wajahnya, lalu berseru :

“Aaaah, rupanya benar benar Kian tayhiap! Pinni adalah Sam ku…..”

Kemudian kepada dua orang lainnya dia perintahkan :

“Cepat kalian lepaskan topeng kulit manusia yang kalian kenakan itu...”

Setelah melepaskan topeng kulit manusia yang dipakai, maka diketahui kalau kedua orang itu adalah pencuri sakti Go Jit serta nona Siu Cu. Sambil tertawa Bu im sin hong Kian Kim siang menghampiri mereka semua, lalu tegurnya :

“Mengapa kalian sampai disini pula?”

“Nona Siu Cu dan Go tayhiap tak mau menyelamatkan diri untuk kepentingan sendiri, maka mengandalkan kemampuan mereka yang hapal dengan situasi disekitar istana Ban seng kiong, mereka bermaksud untuk ikut menyumbangkan tenaga demi kepentingan umum.”

Mendengar perkataan tersebut, Bu im Sin hong Kian Kim siang segera menghela napas panjang.

“Aaai, segala sesuatunya sama sekali diluar dugaan, tampaknya kita sudah tidak berdaya lagi.”

Sam ku sinni menjadi tercengang setelah medengar ucapan itu, segara tegurnya :

“Kian tayhiap, maksudmu berkata demikian?”

Bu im sin hong Kian Kim siang tidak merahasiakan apa yang telah dialaminya lagi, dia lantas membeberkan kegagalan mereka didalam usahanya menjalankan rencana baik untuk menaklukan Hian im Tee kun, siapa tahu malah kena dipecundangi oleh musuh. Selesai mendengar penuturan itu, Sam ku sinni segera bermuram durja, dengan sedih sekali dia menundukkan kepalanya rendah rendah.

Si pencuri sakti Go Jit pun berjalan bolak balik sambil menggendong tangan, tak sepatah kata pun yang diutarakan. Paras muka Siu Cu pun berubah beberapa kali, akhirnya sambil mendepakkan kakinya ke atas tanah dia berseru :

“Locianpwe bertiga harap menunggu sebentar didalam gua, boanpwe akan mencoba menyusup ke dalam istana untuk mencari kabar.”

Selesai berkata dia lantas menerobosi kegelapan dan lenyap dari pandangan mata. Sejak peristiwa yang pahit itu, dimana Bu im sin nong Kian Kim siang hampir saja tertipu oleh Hiau im Tee kun, tanpa terasa dia meningkatkan kewaspadaannya untuk menghadapi segala masalah, atas persetujuan semua orang, dia pun berpindah ke gua kecil miliknya sambil menunggu kedatangan Siu Cu. Sam ku sinni serta pencuri sakti Go Jit sangat menguatirkan pula keselamatan dari Siu Cu, maka atas persetujuan dari Bu im sin hong mereka pun ikut pindah ke gua kecil milik Bu im sin hong Kian Kim siang tersebut.

Malam berlalu dengan cepat, kini fajar pun menyingsing. Di tengah lapisan kabut pagi yang tebal, nampak dua sosok bayangan manusia meluncur ke arah gua rahasia dibalik semak belukar itu dengan kecepatan tinggi. Dari kejauhan Bu im sin hong Kian Kim siang telah melihat akan kehadiran bayangan manusia tersebut.

Dengan kening berkerut dia memberi tanda kepada Sam ku sinni serta pencuri sakti Go Jit, kemudian mereka melompat keluar dan melakukan pengepungan.

Siu Cu muncul dengan membawa seorang lelaki bertubuh kekar, begitu masuk ke dalam gua dia lantas berseru tertahan :

“Aaah, ke mana mereka pergi?”

“Nona Siu Cu,” lelaki kekar itu segera menegur, "tak nyana kalau kau masih punya kegembiraan untuk bergurau dengan aku Cu Ngo, kalau begitu jangan salahkan kalau aku Cu Ngo akan bertindak tak sungkan kepadamu.”

Ternyata lelaki kekar itu adalah Ban li tui hong Cu Ngo yang pernah ditolong oleh pil sakti Thian liong pay. Buru buru Siu cu menggoyangkan tangannya berulang kali sambil berseru :

“Harap Cu tayhiap jangan salah paham, persoalan ini….. persoalan ini. ”

“Ke mana mereka telah pergi? Masa kau tidak tahu?” Siu Cu tak dapat menjawab, namun kegelisahan dan rasa jengah telah menghiasi wajahnya. Di luar gua, Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan Siu Cu kembali sambil membawa seseorang, pun menjadi tidak habis mengerti. Sebenarnya dia hendak menampakkan diri tapi segera dicegah oleh si pencuri sakti Go Jit.

"Jangan Ban li tui hong Cu Ngo adalah sahabat karib boanpwe, biar boanpwe saja yang menampakkan diri untuk berbincang bincang dengannya kemudian locianpwe baru bertindak menurut keadaan."

Bu im sin hong Kian Kim siang dan Sam ku sinni mengangguk tanda setuju, dengan langkah lebar si pencuri sakti Go Jit segera munculkan diri dari balik gua. Suara langkah kakinya dengan cepat mengejutkan Ban li tui hong Cu Ngo serta Siu Cu, cepat mereka membalikkan badan sambil mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Setelah mengetahui kalau yang muncul adalah pencuri sakti Go Jit, Ban li tui liong Cu Ngo baru menghembuskan napas panjang dan membuyarkan tenaga dalamnya. Siu Cu lebih girang lagi, dia lantas berseru :

"Go tayhiap, kedatanganmu kebetulan sekali, hampir saja Cu tayhiap hendak menyerang diriku!"

Walaupun pencuri sakti Go Jit adalah sahabat karib Ban li tui hong Cu Ngo namun berhubung mereka berdiri pada posisi yang berbeda, maka dia tak berani bersikap terlampau dekat dengan bekas sahabatnya. Sambil tertawa hambar pencuri sakti Go Jit berkata :

"Cu tayhiap, kau ada urusan apa?"

Ucapannya ketus dan sama sekali tidak berperasaan. Meskipun ia tidak menganggap Cu Ngo sebagai musuh, namun dia pun tidak mencerminkan sikap persahabatan. Dengan wajah sedih Ban li tui hong berkata :

"Saudara Go, mengapa kau bersikap seperti ini terhadap siaute ?"

"Paling tidak kedudukan kita sekarang adalah berbeda!" "Dahulu siaute tak berani mengungkap rahasia hatiku, tapi

sekarang setelah kau berkhianat terhadap Ban seng kiong, siaute bermaksud untuk berkata secara terang terangan."

Mendengar itu, pencuri sakti Go Jit tertawa dingin, katanya : "Aku si pencuri tua menganggap lebih baik menjadi pengkhianat Ban seng kiong daripada menjadi kaki tangan Ban seng kiong!"

Ban li tui hong Cu Ngo tertawa getir.

"Saudara Go, harap kau jangan memotong pembicaraanku lebih dulu, ucapan siaute belum selesai!"

Pencuri sakti Go Jit segera mendengus dingin, dia menunggu kata kata selanjutnya dari Ban li tui hong Cu ngo. Dengan airmata berlinang, Ban li tui hong Cu Ngo berkata :

"Sejak hari pertama siaute bergabung dengan Ban seng kiong, sejak saat itu pula aku merupakan musuh dalam selimut bagi pihak Ban seng kiong, harap saudara Go suka mempercayai kesulitan siaute ini. "

Tampaknya pencuri sakti Go Jit dibikin terharu oleh ucapan Ban li tui hong Cu Ngo, dengan nada suara yang jauh lebih lembut dia berkata :

"Harap kau suka berbicara yang lebih jelas lagi!"

Secara ringkas Ban li tui hong Cu Ngo menceritakan kisahnya bagaimana dia mengirim surat undangan, terluka, ditawan Huan im sin ang dan dipaksa menuruti perintahnya dengan ancamaa mati hidup Thi Eng khi, lalu bagaimana dia terpaksa berbakti kepada pihak Ban seng kiong...

Akhirnya dengan sedih dia menambahkan :

"Siaute bersedia untuk berkawan dengan musuh karena aku ingin mencari kesempatan untuk membalas budi pertolongan dari Thi sauhiap, kini tuan muda dari Thian liong pay telah mengalami nasib yang tragis, peristiwa ini sungguh membuat siaute amat sedih, oleh karena itulah sengaja siaute datang kemari bersama nona Siu Cu untuk mengajak saudara Go sekalian merundingkan persoalan ini."

Semestinya pencuri sakti Go Jit harus percaya dengan perkataan dari Ban li tui hong Cu Ngo, tapi dia masih merasa sangsi dan merasa wajib untuk membongkar persoalan itu sampai jelas, maka kembali ujarnya :

"Tempo hari, kau menyuruh aku si pencuri tua mencuri pil Tay tham wan, sebenarnya apa tujuanmu?"

"Siaute pernah menelan pil Toh mia kim wan milik Thian liong pay, maka akupun ingin membalas kebaikan tersebut dengan menghadiahkan sebutir pil Tay tham wan untuk Thi sauhiap."

"Mengapa pula kau bisa berhubungan dengan nona Siu Cu?" kembali pencuri sakti bertanya. "Keadaan nona Siu Cu tidak jauh berbeda dengan keadaan lo heng, dia merupakan penghianat yang berhadiah besar bila dapat diringkus, oleh sebab itu tatkala siaute melihat dia menyusup kembali ke istana Ban seng kiong, maka akupun lantas mencari kabar tentang diri kalian... "

"Mengapa nona Siu Cu dapat percaya kalau kau mempunyai maksud tujuan lain?"

"Persoalan ini merupakan masalah nona Siu Cu sendiri, siautepun tak bisa menjelaskan."

Tidak menanti si pencuri sakti bertanya kepadanya, Siu Cu segera berkata cepat :

"Sesungguhnya aku tidak percaya kepadanya, maka itulah aku mengajaknya kemari dan kalianlah yang memutuskan nasibnya!"

Pencuri sakti Go Jit segera menghela napas panjang :

"Nona seandainya Cu loji meninggalkan kode rahasia sepanjang jalan, bukankah kita akan mati semua tanpa tempat kubur?" katanya.

Siu Cu menjadi amat terkesiap, serunya kemudian agak tergagap

:

"Tentang soal ini "

Tiba tiba pencuri sakti mengalihkan pembicaraan, katanya

dengan suara mantap :

"Tapi aku si pencuri tua, percaya kalau Cu Lo Ngo bukan seorang manusia yang sudi menjual teman untuk mencari pahala."

Rasa tegang yang semula menghiasi wajah Siu Cu kini mengendor kembali, dengan cepat dia menghembuskan napas lega. Dengan penuh emosi dan rasa haru Ban li tui hong Cu Ngo berseru pula keras :

"Terima kasih atas kesediaan saudara Go untuk memahami keadaanku...!"

"Sesungguhnya hal ini dikarenakan daya pengaruh dari Thi sauhiap, entah mengapa sejak kau menyinggung tentang dia, aku si pencuri pun merasakan sesuatu perasaan yang aneh, tentu saja aku harus memahami perasaanmu lebih dulu sebelum mempercayai ucapanmu."

Kemudian dia berpaling dan serunya lagi :

"Cianpwe berdua, bagaimanakah menurut kalian atas pendapat boanpwe ini?" Angin lembut berhembus lewat dari luar gua, seorang pendeta wanita dan seorang kakek munculkan diri. Begitu berjumpa dengan Bu im sin hong Kian Kim siang, dengan terkejut Ban li tui hong Cu Ngo berseru :

"Kian tongcu, kau "

Di dalam istana Ban seng kiong memang berlaku suasana yang serba misterius dan rahasia, dihari hari biasa banyak tersiar berita sensasi tentang tokoh tokoh silatnya. Cerita tentang asli dan percaya Bu im sin hong Kian Kim siang memang tersiar pula di dalam istana, namun jarang sekali ada orang yang menyaksikan dengan kepala sendiri maka dari itu tak heran kalau ia terkejut sekali menyaksikan munculnya tokoh sakti tersebut.

Mungkin terpengaruh oleh berbagai cerita kosong atau kelihayan dari Kian Kim siang, oleh sebab itu Ban li tui hong Cu Ngo pun merasa terperanjat sekali sesudah berjumpa sendiri dengan tokoh yang disegani ini. Dengan cepat Bu im sin hong Kian Kim siang menggoyangkan tangannya berulang kali mencegah Ban li tui hong Cu Ngo melanjutkan kembali kata katanya.

Kemudian dengan suara lembut dia berkata :

"Lohu bukan Tongcu dari Ban seng kiong, harap Cu tayhiap jangan menaruh curiga selain itu lohu pun tak ada waktu untuk memberi penjelasan lagi kepadamu, bila ingin tahu tanyakan saja di kemudian hari kepada Go tayhiap."

Setelah berhenti sejenak dan melihat Ban li tui hong Cu Ngo berhasil menenangkan kembali hatinya, ia baru melanjutkan kembali kata katanya :

"Dengan menyerempet bahaya Cu tayhiap datang kemari, entah rahasia apakah yang hendak kau sampaikan?"

Ban li tui hong Cu Ngo segera berkata langsung :

"Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin setelah dikuasai jalan pikirannya oleh Hian im Tee kun, besok mereka dipersiapkan untuk melakukan suatu tindakan yang bakal menghancurkan nama besar mereka."

"Perbuatan apakah yang akan menghancurkan nama besar mereka ?" tanya Bu im sin hong Kian Kim siang dengan perasaan

cemas dan tak tenang.

"Tengah hari besok, mereka bertiga akan mewakili segenap umat persilatan yang ada dikolong langit untuk mengangkat sumpah dan menyatakan kesetiaannya terhadap Ban seng kiong, bahkan akan mengalunkan pula kata kata pujian."

Berbicara sampai disitu dia menghela napas panjang, dengan wajah sedih terusnya :

"Bila hal ini sampai terjadi, maka ketiga orang locianpwe itu akan kehilangan muka untuk bertemu orang lagi, itulah sebabnya boanpwe merasa gelisah sekali, sengaja aku datang kemari untuk mengajak locianpwe sekalian merundingkan masalah ini, kita harus berupaya untuk menyelamatkan nama baik ketiga orang tua tersebut."

"Lohu telah mencoba kalau kepandaian silat mereka telah punah, tapi tidak habis mengerti dengan cara apakah Hian im Tee kun bisa menguasahi jalan pemikiran mereka?"

Ban li tui hong Cu Ngo menggelengkan kepalanya berulang kali sebagai pernyataan bahwa diapun tak tahu. Siu Cu dengan kening berkerut segera berkata :

"Suatu ketika, tanpa sengaja boanpwe pernah mendengar Cun Bwee Seng li membicarakan tentang semacam ilmu si sim ko heng (cuci otak merubah watak) yang konon tercantum dalam kitab pusaka Hian im huan goan keng. Bisa jadi ketiga orang locianpwe itu sudah terkena ilmu tersebut "

Tanpa berpikir panjang Bu im sin hong Kian Kim siang segera bertanya :

"Apakah nona Siu Cu mengetahui cara pertolongannya?" "Adakah sesuatu cara untuk menolong pengaruh tersebut,

boanpwe tak pernah mendengar Cun Bwee seng li membicarakannya."

"Sekarang keadaan sudah sangat kritis, sekalipun mengetahui cara pertolongannya lalu apa gunanya?" ujar Sam ku sinni.

"Seandainya didalam kitab pusaka Hian im hwee goan keng tersebut memang tercantum cara pertolongan, maka kita meminta bantuan Go lote untuk mendemontrasikan kelihayannya dengan mendapatkan kitab pusaka Hian im huan goan keng tersebut, asal Thi lo sekalian bisa mendapatkan kejernihan pikirannya lagi, urusan lain dapat dibicarakan belakangan."

"Belakangan ini suasana dalam keraton sangat ramai, manusia yang berlalu lalang amat kacau, memang tepat sekali untuk menyusup ke dalam istana."

Sambil bertepuk dada pencuri sakti Go Jit berseru : "Selama hidup aku si pencuri sakti memang pekerjaannya mencuri, tiap kali turun tangan tentu merugikan orang menguntungkan diri, sekarang kesempatan baik bagiku untuk berbakti kepada dunia persilatan telah tiba, meski sampai tertawan dan menerima hukuman mati, akupun rela dan pasrah.

"Andaikata dalam kitab pusaka Hian im huan goan keng tersebut tidak terdapat cara pertolongan?" tanya Sam ku sinni tiba tiba.

Bu im sin hong Kian Kim siang termenung beberapa saat lamanya, mendadak mencorong sinar tajam dari balik matanya. Semua orang mengira dia menemukan cara yang lebih baik, dengan wajah berseri mereka lantas memasang telinga dan siap mendengarkan usulnya itu. Siapa tahu ibarat bola yang kempes, dengan wajah lesu dan sedih Bu im sin hong Kian Kim siang berkata

:

"Kita tak boleh menggunakan cara seperti ini untuk menghadapi Thi lo sekalian."

"Kian lo, apa yang kau penuju? Utarakan saja secara blak blakan agar kita dapat membincangkannya bersama sama."

Dengan cepat Bu im sin hong Kian Kim siang menggelengkan kepalanya berulang kali :

"Seandainya lohu mengutarakan usulku ini berarti lohu berbuat salah kepada Thi lo bertiga."

Tentu saja Pencuri sakti Go Jit, Ban li tui hong Cu Ngo dan Siu Cu bertiga ingin mengetahui juga apa usul dari Bu im sin hong Kian Kim siang itu namun dibandingkan dengan Kian Kim siang, kedudukan mereka masih selisih jauh, Sam ku sinni saja terbentur batunya, tentu saja mereka semakin tak berkeberanian untuk buka suara lagi. Tapi wajah dan pancaran mata mereka memancarkan sinar pengharapan, perasaan tersebut terlihat jelas pada wajah mereka.

Sambil tersenyum tiba tiba Sam ku sinni berkata : "Padahal sekalipun tidak kau katakan, pinni juga sudah

menduganya sejak tadi…"

Bu im sin hong Kian Kim siang hendak tertawa tergelak, tapi Sam ku sinni kembali mencegah :

"Kian tua, hati hati kalau sampai membocorkan rahasia jejak kita

.... "

Bu im sin hong Kian Kim siang segera menyadari akan kesilafannya tapi berhubung gelak tertawanya sudah mulai, maka usahanya untuk menahan tertawa ini membuat wajahnya kelihatan lucu sekali. Tapi dalam keadaan situasi seperti ini meski semua orang dibikin geli oleh sikapnya yang lucu, rasa geli itu tak dapat melenyapkan suasana murung yang menyesakkan napas.

Setelah berhasil menahan rasa gelinya, dengan wajah serius Bu im sin hong Kian Kim siang berkata :

"Sinni, kalau toh pendapat kita sama mari kita laksanakan menurut rencana tersebut!"

Ban li tui hong Cu Ngo dibuat kebingungan setengah mati, agak tersipu dia bertanya :

"Siasat bagus apa sih yang locianpwe berdua dapatkan? Cepatlah diutarakan, agar boanpwe sekalian pun bisa turut bergembira "

Bu im sin hong Kian Kim siang, melirik sekejap orang orang itu, melihat Pencuri sakti Go Jit dan Siu Cu tersenyum dikulum seperti telah mengerti, maka kepada Siu Cu katanya sambil mengangguk :

"Nona Siu Cu, bagaimana kalau kau mewakili lohu untuk mengutarakannya keluar?"

"Tapi boanpwe tak tahu jalan pikiran boanpwe ini betul atau salah "

"Kalau kulihat dari paras mukamu, sudah tak bakal salah lagi." Maka kepada Ban li tui hong Cu Ngo, Siu Cu berkata : "Menurut pendapat locianpwe berdua, jikalau kita tak sanggup

menolong ketiga orang locianpwe itu, maka demi menjaga nama baik serta pamor mereka di mata umat persilatan, lebih baik kita cepat cepat mengirim mereka pulang ke nirwana!"

Ban li tui hong Cu Ngo sangat terperanjat setelah mendengar perkataan itu, serunya :

"Tapi. kita mana boleh turun tangan mencelakai jiwa ketiga

orang locianpwe itu.... hal ini.... hal ini tak boleh sampai terjadi. "

"Asalkan tindakan tersebut dapat melindungi nama baik ketiga orang locianpwe itu, boanpwe bersedia mewakili umat persilatan untuk melaksanakannya, biar orang memakiku tapi tindakanku ini justru akan kutujukan untuk membalas budi kepada Thi sauhiap, " seru pencuri sakti Go Jit dengan gagah.

"Go Jit, apakah kau sudah edan?" bentak Ban li tui hong Cu Ngo dengan mata melotot.

Siu Cu menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya : "Cu tayhiap, coba kau pikirkan lebih mendalam, seandainya

pelbagai usaha kita tak berhasil menolong ketiga orang locianpwe itu, sehingga membiarkan mereka lakukan perbuatan perbuatan tanpa sadar yang akan merusak nama baik mereka, apakah tindakan semacam ini mencerminkan kasih sayang kita kepada mereka? Toh lebih baik kita melindungi nama baik mereka sebagai pernyataan rasa kasih kita terhadap mereka?"

Ban li tui hong Cu Ngo adalah seorang lelaki berdarah panas, tadi ia dapat berkata begitu karena belum memahami sampai lebih mendalam, tapi setelah dijelaskan oleh Siu Cu sekarang dia menjadi paham, katanya kemudian :

"Betul! Ucapan kalian memang betul, melindungi nama baik mereka bertiga memang jauh lebih penting daripada melindungi keselamatan jiwa mereka, aku Cu lo ngo tak akan ketinggalan, biar orang lain salah paham kepadaku, akupun bersedia ambil bagian didalam rencana ini... "

"Boanpwe pun bersedia memikul tanggung jawab dan tugas yang tak nanti bisa dimaafkan orang lain ini," sambung Siu Cu pula dengan gagah perkasa.

Bu im sin hong Kian Kim siang segera manggut manggut : "Beginipun ada baliknya juga, kalian seorang bertanggung jawab

satu korban bila mana keadaan memaksa, terpaksa kita harus menempuh jalan yang memedihkan hati ini."

Maka keputusan pun segera diambil, si pencuri sakti Go Jit dan Siu Cu tetap ditugaskan untuk menyusup kembali ke istana Ban seng kiong dan berusaha bersama sama mencuri kitab Hian im huan goan keng milik Hian im Tee kun. Seandainya dalam kitab itu tidak tercantum cara pertolongan atau kitab Hian im huan goan keng tak berhasil diperoleh maka sebelum upacara dimulai besok, ditugaskan kepada Ban li tui hong Cu Ngo, pencuri sakti Go Jit dan Siu Cu untuk melakukan pembunuhan terhadap Keng thian giok cu Thi Keng, Tiang pek lojin So Seng pak serta Sim ji sinni.

Bu im sin hong Kian Kim siang dan Sam ku sinni ditugaskan sebagai penyambut atau pembantu bilamana diperlukan, seandainya salah satu diantara Cu Ngo bertiga tak mampu melaksanakan tugas dengan lancar, mereka harus membantu dari samping hingga sasarannya tercapai. Kemudian setelah mereka merundingkan kembali masalah masalah kecil yang dianggap perlu, barulah Ban li tui hong Cu Ngo mengajak si pencuri sakti Go Jit dan Siu Cu untuk bersama sama kembali ke istana Ban seng kiong.

Sebelum berangkat kembali Ban li tui hong Cu Ngo meninggalkan empat lembar topeng kulit manusia yang dibagikan kepada Bu im sin hong Kian Kim siang, Sam ku sinni, pencuri sakti Go Jit serta Siu Cu empat orang.

"Omitohud. " bisik Sam ku sinni sambil menerima topeng itu

"Cu sicu benar benar membawa persiapan yang lengkap, tidak sedikit topeng yang kau bawa rupanya."

Ban li tui hong Cu Ngo tertawa :

"Selama bertugas dalam istana Ban seng kiong, setiap saat setiap keadaan boanpwe perlu untuk menyaru muka dalam menghadapi setiap keadaan. oleh sebab itu Huan im sin ang Ui Sam ciat telah menyerahkan banyak sekali topeng kulit manusia kepadaku, sungguh tak disangka topeng topeng tersebut bermanfaat sekali untuk situasi seperti ini."

Memegang topeng kulit manusia tersebut. Saat terbayang kembali bagaimana dia harus memakai topeng untuk membohongi orang, Sam ku sinni merasa murung, sedih bercampur kesal.....

Sementara itu, Thi Eng khi bersama Pek leng siancu sekalian telah tiba pula di istana Ban seng kiong sehari sebelum upacara dimulai, karena Hian im Tee kun mempunyai maksud dan tujuan lain terhadap mereka, maka ia tidak membawa mereka secara langsung ke dalam istana Ban seng kiong. Untuk itu secara rahasia mereka ditempatkan disuatu tempat yang sepi dan terpencil dibawah bukit Wong soat hong yang jauh dari keramaian manusia.

Tatkala Ciu Tin tin bersama Pek leng siancu So Bwe leng membimbing Thi Eng khi nemasuki sebuah gua besar yang dijaga secara ketat, tampak dalam gua tersebut banyak disekap jago jago persilatan. Tak salah lagi, meraka adalah kawanan jago persilatan yang dipermainkan oleh Cun Bwee di lembah Hu liong kok bukit Cian san tempo hari. Rupanya dalam keadaan dahaga dan lapar yang luar biasa, mereka berhasil ditawan semua oleh jago jago lihay dari istana Ban seng kiong. Oleh Hian im li Cun Bwee jalan darah mereka ditotok secara khusus hingga tenaga dalamnya tersumbat dan menjadi seekor domba yang menanti dijagal.

Disaat suasana tak puas meliputi seluruh gua tersebut, dari luar gua muncul Thi Eng khi, Ciu tin tin, Pek leng siancu So Bwe leng dan Bu Nay nay. Dibawah sorotan para jago, suasana dalam gua itu semakin gaduh dan kalut. Pada mulanya ada yang menaruh salah paham dengan mengira Thi Eng khi menerima bujukan dari Keng thian giok cu Thi keng sehingga bergabung pula dengan pihak Ban seng kiong, dan sekarang mendapat tugas untuk membujuk mereka. Maka suara desisan mengejek berkumandang dari seluruh gua tersebut. Menghadapi suasana seperti ini, Thi Eng khi hanya tertawa hambar tanpa menggubris. Sedangkan Ciu Tin tin menundukkan kepalanya dengan sedih. Pek leng siancu So Bwe leng mendongkol sekali, dengan gemas diapun mendepak depakkan kakinya ke atas tanah.

Hanya Bu Nay nay seorang yang tak sanggup menahan amarahnya, dengan mata melotot segera bentaknya :

"Sungguh memalukan! Tahukah kalian demi seluruh dunia persilatan Thi sauhiap sudah banyak menderita dan tersiksa, tapi sekarang kalian menghadapinya dengan sikap demikian, hmmm! Sungguh memalukan! Sungguh memalukan! Benar benar memalukan sekali!”

Para jago persilatan itu menjadi tertegun oleh umpatan tersebut, dan suara desisan mengejek pun segera berhenti. Pada saat itulah salah seorang iblis dari Ban seng kiong yang berada dalam gua segera mengejek :

"Thi ciangbunjin, orang baik tidak memperoleh pembalasan yang baik, mereka benar benar kawanan manusia yang lapuk, percuma saja sauhiap berkorban untuk mereka.”

“Ini urusan kami sendiri, tak usah kau campuri!” umpat Bu Nay nay lagi sambil melotot gusar.

Iblis tersebut angkat bahunya sambil tertawa seram:

"Aku mah cuma tidak puas menyaksikan ketidak tahuan aturan mereka masa aku salah berbicara?"

Segera diajaknya mereka menuju ke sebelah kanan, membuka pintu berterali besi dan membawa mereka ke dalam ruang batu di dalamnya, kemudian setelah mengunci kembali pintu tersebut, mereka berlalu.