Pukulan Naga Sakti Jilid 38

 
Jilid 38

Bu Im bukan seorang jagoan termashur dari dunia persilatan, tapi Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan tetap tertegun, agaknya dia pun tak bisa menduga asul usul lawan. Bu Im sendiripun tidak begitu mengerti tentang persoalan empat tokoh persilatan yang dicatut namanya oleh Ban seng kiong, tentu saja dia sama sekali tidak menyangka kalau Bu im sin hong Kian Kim siang yang dijumpainya sekarang, sesungguhnya bukan Bu im sin hong Kian Kim siang yang pernah dijumpai dulu, melihat sikap orang yang begitu angkuh dan tak pandang sebelah matapun terhadap dirinya, hampir saja dia muntah saking muaknya. Sementara itu Pek leng siancu So Bwe leng telah mengundurkan diri ke samping gurunya, kemudian berkata dengan pelan.

“Suhu, pernahkah kau mendengar tentang nama orang tua ini?”

Sam ku sinni mengangkat bahunya sembari menggeleng. “Usianya sudah tidak kecil, kepandaian silatnya tidak berada

dibawah kepandaian kita, namun belum pernah kudengar namanya disebut orang dalam dunia persilatan, aku benar benar dibikin kebingungan olehnya...”

Segulung angin lembut berhembus lewat, tahu tahu didalam ruangan telah bertambah dengan seorang gadis cantik berbaju putih, sambil tertawa merdu gadis itu berseru :

“Bu cianpwe, jangan kau bikin kulit perut orang jadi pecah karena mendongkol sesungguhnya orang itu adalah seseorang yang mencatut namanya dan menyaru sebagai Kian cianpwe, buat apa sih kau mesti marah kepada orang tersebut? Bukankah hal tersebut sama sekali tak ada harganya?”

Bu Im segera mengenali gadis cantik itu sebagai Ciu Tin tin, maka katanya pula sambil tertawa :

“Darimana kau bisa tahu kalau dia adalah Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan?”

Sementara itu, Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan yang berada ditengah ruangan telah menggebrak meja keras keras kemudian berseru penuh amarah :

“Omong kosong, siapa bilang kau lohu bukan Kian Kim siang?” Ciu Tin tin tertawa manis.

“Kau mengatakan kalau dirimu adalah Kian locianpwee, tapi mengapa tidak kenal dengan Bu cianpwe?”

Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan segera saja berteriak keras keras :

“Siapa bilang kalau aku tidak kenal dengannya?” Kalau didengar dari nada pembicaraan Ciu Tin tin mestinya antara Bu im sin hong Kian Kim siang dengan Bu Im mempunyai hubungan yang cukup akrab. Itulah sebabnya mau tak mau Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan harus me¬nebalkan muka dengan mengakui bahwa dia kenal dengan Bu Im.

Pek leng siancu So Bwe leng yang menyaksikan hal ini, tak tahan lagi segera mengejek sambil tertawa dingin :

“Tadi saja kau mengatakan tidak kenal dengan Bu cianpwe tersebut, sungguh tak nyana begitu cepatnya kau telah berubah pikiran, hal ini membuktikan kalau anggota Ban seng kiong terdiri dari manusia manusia yang lain dimulut dan lain dihati!”

Sekalipun Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan diperankan oleh seorang iblis tua, tak urung merah padam juga selembar wajahnya cepat dia berseru :

“Lohu sedang melaksanakan tugas khusus, mana ada waktu untuk berbincang bincang dengan Bu Im?”

Kontan saja Pek leng siancu So Bwe leng mencibirkan bibirnya yang kecil, dia seperti hendak mengucapkan sesuatu lagi nanum berhubung Ciu Tin tin telah menengok ke arahnya sambil tertawa terpaksa kata kata tersebut ditelannya kembali. Dengan senyuman masih menghiasi ujung bibirnya, Ciu Tin tin segera berkata :

“Semenjak kapan kau berpisah dengan Bu cianpwee?”

Bu Im sin hong Kian Kim siang gadungan segera menarik mukanya kemudian berseru :

“Mengapa lohu harus menjawab pertanyaanmu itu?”

Ciu Tin tin sama sekali tidak menjadi marah, kembali dia berkata

:

“Kalau kau enggan menjawab yaa sudah lah, hanya ingin

mengajukan satu pertanyaan lagi kepadamu, kenalkah kau dengan nonamu?”

Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan menjadi tertegun, untuk beberapa saat lamanya dia tak sanggup menjawab pertanyaan itu.

Bila dikatakan kenal, dia pun kuatir tak cocok dengan kenyataan, setelah termenung sekali lama dalam keadaan serba salah, akhirnya dia berkata :

“Mengapa lohu harus mengenal dirimu?”

Senyuman yang semula menghiasi ujung bibir Ciu Tin tin, kini lenyap tak berbekas, katanya kemudian :

“Kalau toh kau tidak kenal dengan nonamu, dari sini dapat diketahui kalau kau bukan Kian locianpwe, sebab belum lama Kian locianpwe berpisah dengan kami, dia tak mungkin akan pelupa seperti dirimu itu.”

Karena terpojokkan posisinya oleh keadaan, terpaksa Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan tertawa terbahak bahak.

“Haaaahhhh... haaaaahhhhh..... haaaahhh... apakah lohu kenal dengan dirimu atau tidak, apa sangkut pautnya dengan kedudukan lohu sekarang? Kalau kau sendiri yang ditipu orang, mengapa malah mencurigai diri lohu. Sungguh menggelikan sekali perbuatanmu itu, hampir pecah perut lohu saking gelinya, haaahhhh... haaaahhh....

haaahhhh ”

Ciu Tin tin membiarkan dia tertawa tergelak tiada hentinya, gadis itu bersikap acuh tak acuh dan tidak memperdulikan dirinya. Namun diantara anak buahnya ada yang mulai menaruh curiga, dengan ilmu menyampaikan suara mereka segera menegur :

“Harap tongcu suka memberi penjelasan.”

Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan terpaksa menghentikan gelak tertawanya, kemudian dergan ilmu menyampaikan suara bisiknya kepada mereka :

“Tee kun telah mempersiapkan segala sesuatunya, harap kalian jangan banyak bertanya terus, asalkan seorang pun diantara beberapa orang ini tak berhasil lolos dari sini, maka hal ini akan berpengaruh besar sekali terhadap posisi pihak kita selanjutnya, harap kalian suka turun tangan dengan sepenuh tenaga nanti.”

Sementara itu, Ciu Tin tin telah memandang kembali ke wajah Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan sambil tertawa, kemudian ujarnya lembut : “Sedang merundingkan cara untuk menghadapi kami? Sudah selesai belum perundingan itu? Kami akan segera pergi dari sini.”

Dia membalikkan badan lalu berjalan kembali ke arah Pek leng siancu So Bwe leng sekalian. Pek leng siancu So Bwe leng sama sekali tidak pernah berjumpa dengan Ciu Tin tin, oleh karena itu, dia tidak kenal dengannya. Melihat gadis tersebut berjalan menghampirinya, dengan amat gembira serunya dengan cepat :

“Cici, bolehkah aku mengetahui namamu?”

Sebenarnya Ciu Tin tin hendak menyebutkan nama sendiri, tapi dia berpikir kembali seandainya Pek leng siancu So Bwe leng menjadi mengambek setelah mengetahui namanya, bukankah urusan akan menjadi berabe? Oleh sebab itu, dia tak ingin mengambil resiko dalam keadaan seperti ini. Setelah tertawa, katanya :

“Aku mempunyai banyak persoalan yang hendak disampaikan kepadamu, sebentar akan kusampaikan semuanya kepadamu.”

“Kau tahu akan diriku?” seru Pek leng siancu So Bwe leng sembari membelalakkan matanya.

“Sekalipun kau tidak kenal dengan aku namun aku sedikitpun tidak merasa asing terhadap kau.”

Pek leng siancu So Bwe leng menjadi tertegun dan bingung sekali sehabis mendengar perkataan ini, untuk sesaat lamanya dia jadi termangu mangu. Pada saat itulah, Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan telah membentak lagi dengan suara lantang :

“Beberapa orang itu adalah buronan yang dicari oleh Tee kun, entah mati atau hidup kalian harus berusaha untuk menahan mereka di tempat ini.”

Serentak bayangan manusia berkelebatan lewat, dalam waktu singkat orang orang itu sudah menduduki posisi yang menguntungkan serta menghadang jalan pergi mereka. Setelah ditolong tadi, Siu Cu telah memperoleh bantuan dari Sam ku sinni, dengan tenaga dalamnya untuk memulihkan kembali kondisi tubuhnya, pada saat itulah Pek leng siancu So Bwe leng bertanya dengan penuh rasa kuatir :

“Enci Cu, sudah baikan kah keadaanmu?” Siu Cu merasa sangat terharu.

“Bila budak dapat meloloskan diri dari bencana pada hari ini maka kesemua ini merupakan pemberian dari nona, selama hidup kami tak akan pernah melupakannya kembali.”

“Kau tak usah mengucapkan kata kata seperti itu, persoalan yang terpenting sekarang adalah sudah pulihkan kondisi tubuhmu? Dan berapa bagian tenaga dalammu yang telah pulih kembali?”

“Budak merasa seluruhnya telah pulih kembali seperti sedia kala!” sahut Siu Cu dengan semangat yang berkobar.

Pek leng siancu segera berpaling ke arah gurunya sambil berseru

:

“Suhu, mari kita berdua bertindak sebagai pembuka jalan!”

Sebagai gadis yang terbuka, apa yang dipikirkan segera pula dilakukan, tanpa berunding dulu dengan Ciu Tin tin sekalian dia menerjang lebih dulu arah pintu gerbang. Dengan cepat Sam ku sinni berkerut kening, kemudian berpaling ke arah Ciu Tin tin dengan sorot mata minta maaf. Sambil tertawa Ciu Tin tin segera berseru :

“Pendapat adik Leng sesuai dengan pendapat boanpwe, biarlah boanpwe serta Bu cianpwe bertindak sebagai pelindung!”

Sam ku sinni segera menyusul Pek leng siancu So Bwe leng, Si pencuri sakti Go Jit dan Siu Cu berada ditengah dan Ciu Tin tin serta Bu Im berjalan dipaling belakang. Waktu itu, Sam ku sinni telah meloloskan senjata kebutan Jian si hud timnya, Pek leng siancu So Bwe leng meloloskan sebuah senjata Pek giok hud jiu, sedangkan si Pencuri sakti Go Jit meloloskan pedang mestika usus ikannya. Siu Cu tidak bersenjata karena senjata tajamnya telah disita, terpaksa dia harus bersilat tangan kosong. Ciu Tin tin dan Bu Im tidak bersenjata pula, mereka pun bertarung dengan tangan kosong belaka. Orang yang menghadang didepan pintu gerbang tak lain adalah delapan kakek yang duduk dikedua belah sisi meja altar tadi.

Kedelapan orang kakek itu sangat latah dan sombong. Dari antara mereka hanya muncul dua orang saja, seorang menghadang Sam ku sinni, sedangkan yang lain menghadang Pek leng siancu So Bwe leng. Sambil tertawa dingin Pek leng siancu So Bwe leng segera berseru :

“Mampukah kau untuk menyambut satu jurus serangan nonamu?”

Senjata Pek giok hud jiu ditangannya segera membentuk sekilas cahaya berwarna hijau dan langsung menyambar bahu kakek di hadapannya. Kakek itu tertawa hambar,

“Bila kau sudah bosan hidup, silahkan!” ejeknya.

Semula dia menghadang di depan Pek leng siancu So Bwe leng hanya bertangan kosong belaka, tapi begitu selesai ucapan tersebut diutarakan, tahu tahu dalam genggamannya telah bertambah dengan sebuah huncwee besar, disambutnya ancaman senjata Pek giok hud jiu dari Pek leng siancu So Bwe leng itu dengan sebuah totokan.

Melihat kalau jumlah musuh amat banyak, Pek leng siancu So Bwe leng telah mengambil keputusan untuk menyelesaikan pertarungan itu secepatnya. Dia pun berharap dalam satu gebrakan saja senjata huncwee kakek itu hendak digetarkan lepas dari genggaman maka sewaktu menyerang hawa murninya yang disalurkan ke tangan kanan segera ditambah dengan dua bagian lagi.

Begitu senjata huncwee tersebut saling membentur dengan senjata Pek giok hud jiu dari Pek leng siancu So Bwe leng, kedua orang itu sama sama merasakan hatinya bergetar keras. Pek leng siancu So Bwe leng tetap berdiri pada posisinya semula, namun lengannya terasa kaku dan kesemutan. Sebaliknya kakek berhuncwee itu kena terhantam sehingga mundur sejauh satu langkah. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kepandaian silat yang dimiliki Pek leng siancu So Bwe leng meski jauh lebih tinggi daripada si kakek tersebut, namun kelihayannya juga terbatas. Tanpa banyak berbicara lagi, kedua orang itu segera saling menyerang dan saling menyambar dengan sengitnya, untuk beberapa saat sulit rasanya untuk menentukan siapa yang lebih unggul.

Dipihak lain Sam ku sinni telah terlibat pula dalam suatu pertarungan yang seru, jagoan yang dihadapinya memiliki tenaga dalam yang cukup tangguh, untuk berapa saat Sam ku sinni pun dibuat kewalahan dan tak banyak berkutik.

Menyaksikan pertarungan yang berlangsung di arena, Ciu Tin tin segera berkerut kening, dia tidak mengira kalau kepandaian silat yang dimiliki orang tua orang tua itu begitu hebatnya. Dia lantas sadar bahwa pertarungan yang berlangsung hari ini tidak mungkin bisa diunggulkan dengan mudah.

Padahal, Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan pun diam diam merasa terkejut, sebagai seorang Tongcu ternyata dia mengetahui kemampuan dari anak buahnya, diapun tidak menyangka kalau anak buahnya memiliki kepandaian silat sehebat itu. Namun dari hal ini pula, dia mendapat pengertian yang setingkat lebih mendalam atas maksud dan tujuan Hian im Tee kun.

Sesungguhnya, tindakan Hian im Tee kun di dalam mengatur orang orangnya dari istana Ban seng kiong pun didahului dengan suatu pemikiran serta penyusunan yang cermat. Dengan menggunakan berbagai cara serta tindakan, ia telah memperalat berapa orang gembong iblis untuk berbakti dan menjual tenaga baginya, namun dia pun menyuruh orang orang kepercayaannya yang berilmu tinggi untuk mengawasi gembong gembong iblis tersebut.

Di hari hari biasa, tentu saja para jago diperintahkan agar tidak terlalu menonjolkan diri bahkan kedudukan yang diberikan kepada mereka pun sangat rendah serta tidak terpandang, kebanyakan disusupkan dalam cabang cabangnya dan berperan sebagai manusia manusia berilmu rendah, padahal justru orang orang inilah yang sesungguhnya merupakan kekuatan inti yang paling diandalkan. Andaikata Hian im Tee kun benar benar berhasil dengan siasatnya itu dan menjaring semua jagoan yang ada untuk berpihak kepadanya, menyapu jagad, merajai dunia persilatan bukanlah pekerjaan yang mustahil baginya.

Siapa tahu dunia persilatan dewasa ini telah menjadi kekuasaannya ?

Bila hal ini sampai terjadi, maka walau pun Thi Eng khi memiliki kepandaian silat yang hebat pun jangan harap bisa menyelamatkan dunia persilatan dari kehancuran. Untungnya saja Hian im Tee kun masih pengaruh oleh perasaan bangga dan gila nama, sehingga dia telah menyia nyiakan sebuah kesempatan yang sangat berharga.

Dengan berbagai cara dia berusaha merebut simpatik dan perhatian dari para jago golongan lurus agar mau berpaling dan berpihak kepadanya, alhasil dia telah menyia nyiakan banyak waktu diapun memperlambat usahanya untuk menguasai seluruh dunia persilatan.

Kesemuanya ini justru memberi kesempatan emas kepada Thi Eng khi untuk tumbuh semakin kuat dan pada hakekatnya dia seperti sedang memelihara seorang musuh yang menakutkan.

Sementara itu, pertarungan yang berkobar di tengah arena telah mencapai pada puncaknya. Lotoa dari Seng kiong pat cun segera menyelinap ke hadapan Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan, kemudian serunya :

“Harap diturunkan perintah kepada hamba agar menangkap penghianat Go Jit serta Siu Cu!”

Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan segera tertawa tergelak

:

“Haaahhh.... haaahhhhh....haaahhh ibaratnya barang dalam

saku, setiap saat juga dapat diambil, kenapa kita musti terburu napsu? Asal kalian mengawasi saja gerak gerik kedua orang itu sehingga tak sampai kabur sudah lebih dari cukup.” Terpaksa pemimpin dari Seng kiong pat cun membalikkan badan dan mengundurkan diri. Kepada dua orang kakek yang berada disisinya, kembali Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan berkata :

“Aku lihat manusia tak bernama Bu Im dan budak tersebut memiliki ilmu silat yang tangguh, kekuatan mereka tak boleh dipandang enteng, paling baik lagi jika kita turun tangan mendahului mereka.”

“Ucapan Tongcu memang masuk diakal!” sahut dua orang kakek itu segera.

Mereka segera menyelinap kedepan dan menerjang ke arah Bu Im dan Ciu Tin tin. Kakek yang menerjang ke arah Bu Im itu menyerbu ke depan dengan garangnya belum lagi tubuhnya mencapai sasaran, angin pukulannya sudah dilepaskan lebih dulu. Segulung argin pukulan yang maha dahsyat segera menyambar ke atas kepala Bu Im dengan hebatnya. Bu Im tidak ambil diam sambil mengerahkan ilmu Hua lek sinkang, dia lepaskan pula sebuah pukulan ke depan serta memunahkan ancaman lawan sehingga hilang lenyap tak berbekas.

Tentu saja kejadian ini sangat mengejutkan kakek tersebut, cepat dia menyelinap ke samping kanan, kemudian sambil melotot besar ke arah Bu Im serunya :

“Beranikah kau menyambut tiga jurus serangan lohu dengan kepandaian sejati?”

Rupanya dia tidak mengenali ilmu Hua lik sinkang dari Bu lm, dianggapnya Bu Im telah mempergunakan mestika atau ilmu hitam lainnya untuk memunahkan angin pukulannya. Semenjak Bu Im mempelajari ilmu pukulan Hua lik sinkang, baru pertama kali ini dia jumpai seorang lawan yang bisa dipakai untuk mencoba kemampuannya tanpa harus kuatir salah melukainya, sambit tertawa terbahak bahak karena gembira serunya :

“Manusia kecil yang berpengetahuan picik, siapa bilang kalau lohu tidak menggunakan kepandaian sesungguhnya?”

Dampratan “manusia kecil yang berpengetahuan picik” kontan saja membuat kakek itu seperti kehilangan muka, untuk beberapa saat dia seperti berdiri tertegun. Tapi kakek yang lainnya segera menyelinap ke hadapan Bu Im bagaikan hembusan segulung asap, katanya sembari menyeringai :

“Apa sih hebatnya dengan ilmu Hua lik sinkang mu itu? Lihat serangan...!”

Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke hadapan Bu Im. Agak terkejut juga Bu Im ketika menyaksikan kelihayan kakek itu, terutama kemampuannya untuk mengenali ilmu Hua lik sinkang tersebut dalam sekilas pandangan saja. Belum sempat dia berbuat sesuatu, angin pukulan musuh telah menekan ke dadanya. Cepat dia lepaskan sebuah pukulan sambil berseru :

“Anggap saja ketajaman matamu memang hebat, dan rasakan pula kelihayan ilmu Hua lik sinkang ku ini.”

Baru saja dia lepaskan pukulannya, siapa tahu kakek itu menarik kembali serangannya secara tiba tiba dan tidak melayani pertarungan kekerasan. Bukan begitu saja, bahkan dia pun segera menyelinap ke belakang punggung Bu Im sembari melancarkan sebuah pukulan lagi. Menanti Bu Im membalikkan badan untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut, kembali dia menarik ancamannya sambil berganti posisi.

Tampaknya dia berusaha agar tidak melakukan bentrokan kekerasan dengan Bu Im dalam keadaan begini, kendatipun Bu Im memiliki kepandaian Hua lik sinkang, juga tak mampu banyak berkutik lagi. Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Kakek tersebut nampaknya sangat lihay, dia selalu berputar ke sana kemari dengan lincah, membuat Bu Im bukan saja tak mampu menggunakan kelihayan Hua lik sinkangnya bahkan dibikin kerepotan juga. Untuk beberapa saat pertarungan mereka berlangsung seimbang, siapa pun tak dapat mengungguli lawannya.

Sedangkan si kakek yang semula hendak menyerang Bu Im itu sudah mengalihkan sasarannya menerjang Ciu Tin tin dan mengerubuti gadis tersebut habis habisan, apalagi setelah melihat rekannya yang bertarung melawan gadis itu kerepotan serta bukan tandingan lawan. Ternyata pada mula pertarungan itu berlangsung, Ciu Tin tin masih mengambil sikap tidak tega turun tangan keji tapi setelah menyaksikan ilmu Hua lik sinkang milik Bu Im dikenali orang, bahkan memaksa Bu Im hingga mati kutu, dia baru terperanjat dan menyesali kesilafan sendiri.

Berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan, terpaksa gadis itu harus menarik kembali sikap belas kasihannya, dengan perhitungan seorang musuh dapat dilukai berarti mengurangi sebagian penghadang, dia lancarkan jurus serangan yang mematikan.

Dengan kemampuan Ciu Tin tin yang begitu dahsyat, tak sampai dua tiga gebrakan kemudian, dia telah memaksa gembong iblis tua itu keteter hebat dan tak mampu melawan lagi. Walaupun kemudian ia dibantu rekannya, itupun hanya memberi kesempatan baginya untuk mengatur napas sebentar, sebab tenaga gabungan mereka berdua tetap masih bukan tandingan dari Ciu Tin tin.

Dari pihak Ban seng kiong, kecuali Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan, masih terdapat pula sepuluh orang kakek. Dari sekian banyak jago, sudah ada lima orang diantaranya yang terjun ke arena pertarungan. Dari kelima orang ini tampaknya kepandaian silat si kakek yang bertempur melawan Bu Im terhitung paling tinggi, dia pula satu satunya orang yang tidak terperosok pada posisi dibawah angin. Sedangkan empat kakek lainnya yang bertarung melawan Sam ku sinni, Pek leng siancu So Bwe leng dan Ciu Tin tin semuanya telah terdesak pada posisi dibawah angin. Melihat gelagat tidak menguntungkan, Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan mengulapkan tangannya, kembali ada empat kakek terjun ke arena pertarungan, seorang menyerang Sam ku sinni, seorang menyerang Pek leng siancu So Bwe leng dan dua orang menyerang Ciu Tin tin.

Tenaga dalam yang dimiliki Ciu Tin tin dahsyat sekali, kendatipun ada empat jago yang mengerubutnya, dia tetap berada pada posisi di atas angin, cuma dia sendiri pun sukar untuk melukai musuhnya di dalam waktu singkat. Berbeda keadaannya dengan Sam ku sinni dan Pek leng siancu So Bwe leng, dari posisi unggul kini malah terdesak pada kedudukan dibawah angin. Dengan kepandaiaa silat mereka semua ternyata tak mampu untuk menangkan sekawanan jago yang lebih rendah kedudukannya daripada Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan, bila persoalan ini sampai tersiar luas mungkin tiada orang yang akan mempercayainya.

Disinilah sebenarnya terletak kehebatan dari Hian im Tee kun yang patut ditakuti serta diperhitungkan, tata susunannya tersebut membuat suasana Ban seng kiong pun semakin diliputi hawa kemisteriusan. Kesemuanya ini membuat orang lain tak berani membedakan tinggi rendahnya ilmu silat anggota Ban seng kiong dari tinggi rendahnya kedudukan yang dijabat, akibatnya mereka pun tak berani turun tangan secara sembarangan.

Berkerut kening Ciu Tin tin setelah menyaksikan rekan rekannya mulai keteter dan terperosok pada posisi tidak menguntungkan, mendadak dia berpekik nyaring, Heng kian sinkangnya dikerahkan mencapai sepuluh bagian, dengan mata melotot, telapak tangan kanannya segera disapu ke depan menghajar pinggang seorang kakek yang berada disisi sebelah kanannya. Kakek itu seperti tak menyangka kalau Ciu Tin tin bakal menyerang seganas itu terhadapnya, dia mencoba menyambut ancaman tersebut dengan kekerasan......

Siapa tahu tatkala kedua gulung tenaga pukulan itu saling bertemu di angkasa, kakek tersebut mendengus tertahan, tubuhnya mencelat sejauh satu kaki, kemudian setelah muntah darah segar segera tergeletak mati di atas tanah.

Bagaimana pun juga Ciu Tin tin adalah seorang anak gadis, selama hidup belum pernah dia membunuh orang, melihat si kakek tersebut tewas akibat serangannya, tak urung timbul juga perasaan tak tega dihati kecilnya, oleh karena itu, diapun tidak manfaatkan kesempatan tersebut untuk membunuh tiga orang kakek lainnya.

Disaat ingatan berbelas kasihan itu melintas lewat, kembali ada seorang kakek menerjunkan diri ke arena dengan begitu posisi berubah lagi menjadi empat melawan satu. Keempat kakek itu menjadi hampir semuanya merupakan antek anteknya Hian im Tee kun, kelihayan tenaga dalam mereka boleh dibilang melebihi kehebatan seorang ciangbunjin dari suatu partai besar tapi masih kalah bila dibandingkan empat tokoh dunia persilatan.

Selihay lihaynya tenaga dalam yang dimiliki Ciu Tin tin, tenaga dalam Hian im Tee kun masih jauh mengungguli dirinya, apalagi diapun tidak tega untuk mengeraskan hati dan membinasakan musuhnya, maka untuk sementara waktu dia telah menyia nyiakan satu kesempatan baik untuk meraih kemenangan. Kini suasana dalam ruangan tersebut telah berubah menjadi kacau balau dan tak karuan.

Sementara semua orang sedang mencurahkan perhatiannya untuk melangsungkan pertarungan, Siu Cu dan pencari sakti Go Jit secara diam diam telah saling bertukar pandangan, kemudian dengan nekad mengadu jiwa, mendadak saja si Pencuri sakti Go Jit lari ke arah Ciu Tin tin, sedangkan Siu Cu lari menuju ke arah Pek leng siancu So Bwe leng, secara nekad mereka masing masing menyerang seorang kakek tersebut.

Dengan kemampuan yang dimiliki mereka berdua, tentu saja bukan tandingan dari kakek kakek tersebut, akan tetapi mereka pun berhasil meraih keberhasilan dari tindakannya itu. Ketika mereka sedang dilukai oleh musuh musuhnya, Pek leng siancu So Bwe leng serta Ciu Tin tin telah manfaatkan kesempatan yang ada untuk melukai seorang lawannya pula. Terutama sekali Pek leng siancu So Bwe leng dia menyerang tak kenal ampun, begitu berhasil melukai seorang musuhnya, memanfaatkan kesempatan dikala musuhnya yang lain terkejut, ia menyerang dengan jurus yang mematikan lagi menghadiahkan sebuah kemplangan dengan Giok hud jiu ke atas tubuh lawan.

Setelah berhasil dengan usahanya, tanpa berpaling lagi dia langsung menubruk ke arah dua orang kakek yang sedang bertarung sengit melawan Sam ku sinni itu. Sekarang dia sudah nekad dan mata gelap, ibarat seekor harimau kecil yang sudah kalap,diterjangnya musub musuh tersebut secara ganas, kembali senjata Giok hud jiu nya berhasil melukai seorang kakek yang sedang bertarung melawan Sam ku sinni. Semua peristiwa itu berlangsung dalam waktu singkat menanti dua orang kakek yang lain datang membantu, Pek leng siancu So Bwe leng dan gurunya telah bekerja sama memantapkan posisinya. Di pihak lain, oleh karena bantuan dari si pencuri sakti Go Jit, Ciu Tin tin berhasil pula memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melukai seorang kakek. Namun Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan segera menerjang datang menggantikan posisi tersebut, dengan demikian kedudukannya tetap merupakan empat lawan satu.

Situasi pertarungan telah berubah sekarang, dari pihak Ban seng kiong telah kehilangan seorang kakek dan empat lainnya terluka.

Dari tiga belas kakek yang ada sekarang pun tinggal delapan orang yang masih mampu bertempur.

Pihak Bu Im yang paling mantap posisinya, pertarungan masih berlangsung seimbang, menang kalah pun belum bisa diketahui. Sedang Pek leng siancu So Bwe leng dan gurunya bersama sama melawan tiga orang kakek, posisi mereka pun tetap berimbang. Sedangkan Ciu Tin tin yang harus menghadapi kerubutan empat jagoan lihay, meski nampak agak kepayahan namun tidak menunjukkan pertanda akan kalah. Padahal dia mempunyai kesempatan untuk meraih kemenangan, asal dia tega membunuh orang kesempatan baginya banyak sekali.

Sayang wataknya yang belas kasihan dan saleh itu membuatnya tak tega berbuat demikian, serangan dalam keadaan gusar tadi sehingga mengakibatkan terlukanya seorang musuh pun telah membuat kesedihan setengah hari, tentu saja dia tak tega untuk melancarkan serangan mematikan lagi. Akibatnya dia tak bisa memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menyelesaikan pertarungan itu dengan segera. Andaikata Pek leng siancu So Bwe leng mempunyai tenaga dalam seperti Ciu Tin tin, mungkin kemenangan berhasil diraihnya semenjak tadi.

Pencuri sakti Go Jit dan Siu Cu yang terluka pun telah diseret ke samping arena oleh dua orang anggota Seng kiong pat cun, bahkan menotok pula jalan darah mereka. Sebab mereka kuatir mereka membuat ulah lagi atau bunuh diri sehingga dapat menghindari pihak Ban seng kiong.

Dalam menghadapi pertarungan yang penuh resiko ini pada hakekatnya Seng kiong pat cun tidak berkesempatan untuk turut ambil bagian, karena itu mereka hanya mendapat bagian menonton dari samping arena pertarungan.

Setelah waktu berlarut makin lama akhirnya api amarah berkobar juga didalam dada Ciu Tin tin. Tenaga serangan yang digunakan pun tiba tiba saja berubah semakin dahsyat. Setelah terjadinya bentrokan maut belum lama berselang, para pengerubutnya telah mengetahui akan kelihayan Ciu Tin tin, maka dengan jantung berdebar keras karena cemas mereka hadapi serangan musuhnya dengan berhati hati.

Kali ini, nampaknya Ciu Tin tin berniat untuk menangkap pentolannya baru membasmi begundalnya, maka dia memilih Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan sebagai sasarannya. Diam diam segenap tenaga dalamnya dikerahkan ke dalam telapak tangan,

begitu kesempatan yang dinantikan tiba maka dia akan menyerang dengan sekuat tenaga serta membinasakan musuhnya yang paling tangguh itu.

Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan adalah seorang manusia licik, dari sorot mata Ciu Tin tin yang selalu ditunjukan kearahnya, dia sudah dapat menduga maksud hati gadis tersebut. Terkesiap hatinya menghadapi kejadian tersebut, oleh karena kuatir kalau terbunuh ditangan gadis itu, buru buru teriaknya dengan suara lantang :

"Kalian berhati hati lagi, budak ini akan menyerang!"

Seharusnya, setelah mengetahui akan maksud hati Ciu Tin tin, mereka harus menahan dan mengurung gadis itu semakin ketat dan gencar, sayangnya Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan takut mati. Walaupun dia berteriak gagah, padahal tujuannya yang terutama adalah memanfaatkan kekuatan orang lain untuk melindungi keselamatan sendiri, bahkan kalau bisa dia akan mencari kesempatan untuk meloloskan diri dari situ. Dengan terjadinya perubahan ini maka pertahanan serta penyerangan yang ketat dan kokoh itu segera menjadi lemah akibat keserakahan Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan yang kelewat mementingkan diri sendiri.

Ciu Tin tin segera mendapatkan kesempatan yang sangat baik untuk melaksanakan rencananya. Dengan sorot mata setajam sembilu, dia awasi terus gerak gerik dari Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan. Tatapan yang tenang dan berwibawa ini membuat Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan menjadi ngeri, semangat tempurnya hilang, peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya dan banyak kesalahan yang dia lakukan.

Sekali lagi Ciu Tin tin berpekik nyaring, tubuhnya melejit ketengah udara, kemudian telapak tangan kanannya diayunkan ke depan menghamtam batok kepala Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan. Merasa tak mampu untuk menghindar atau melarikan diri, terpaksa Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan harus mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya dan menyambut ancaman mana dengan kekerasan.

"Blaaammm. !" benturan keras yang menimbulkan amukan

angin puyuh segera melanda seluruh jagad, keadaannya sungguh mengerikan hati.

Tampak Ciu Tin tin melejit ditengah udara dan melayang turun dihadapan tiga orang kakek yang sedang bertarung melawan Sam ku sinni serta Pek leng siancu So Bwe leng, tiba tiba saja dia turun tangan menotok jalan darah seorang kakek. Sementara itu, Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan telah terlempar sejauh delapan depa akibat dari bentrokan kekerasan itu, “Blammm!” tubuhnya terbanting keras keras diatas tanah.

Wajahnya nampak pucat pias, ke empat anggota tubuhnya mengejang keras darah kental mengucur keluar amat deras, akhirnya tak selang berapa saat kemudian ia menemui ajalnya.

Dengan kematian dari Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan, serentak kawanan kakek itupun menghentikan serangannya, mereka mengundurkan diri ke depan pintu ruangan lalu mulai berunding. Sedangkan Pek leng siancu So Bwe leng sembari menyeka keringat yang membasahi tubuhnya, dia berpaling ke arah Ciu Tin tin dan berkata dengan perasaan amat kagum.

"Cici tenaga dalammu sungguh luar biasa, siau moay sungguh merasa kagum sekali.”

Mendadak dia teringat kembali akan si Pencuri sakti Go Jit serta Siu Cu, tanpa banyak berbicara lagi tubuhnya segera melejit ke udara dan menyusul ke arah Seng kiong pat cun. Dengan cepat Seng kiong pat cun merentangkan diri sambil menghadang jalan pergi Pek leng siancu So Bwe leng.

Baru saja Pel leng siancu So Bwe leng tertawa dingin dan belum sempat mengumpat, mendadak terasa angin lembut berhembus lewat, dari depan pintu melayang masuk sesosok bayangan manusia. Ketika pendatang itu menyaksikan mayat dari Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan, dia segera berseru sambil mendepak depakkan kakinya berulang kali :

"Siapa yang telah membunuhnya? Aaaai... bikin kacaunya urusan saja...”

Kemunculan orang itu segera disambut semua orang yang hadir dalam ruangan dengan seruan terkejut, rupanya pendatang tersebut adalah seorang Bu im sin hong Kian Kim siang pula.

Sebenarnya dia mempunyai kewajiban untuk menggantikan kedudukan Kian Kim siang gadungan itu untuk menyusup ke dalam istana Ban seng kiong dan menggabungkan diri dengan Keng thian giok cu Thi Keng sekalian didalam usahanya membunuh Hian im Tee kun,dengan terjadinya peristiwa ini maka dalam pertarungan mengerubuti Hian im Tee kun di sana mendatang hanya tiga orang saja yang dapat menampilkan diri.

Ketika Ciu Tin tin menyaksikan orang itu adalah Bu im sin hong Kian Kim siang, buru buru dihampirinya orang itu sembari berkata :

"Boanpwe lah yang telah membinasakan dia, apakah tindakanku ini tidak benar?" Bu im sin hong Kian kim siang seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun perkataan itu tak sampai diutarakan keluar, hanya ujarnya kemudian sambil menghela napas :

"Aaaai... perhitungan manusia memang tak bisa menangkan kemauan Thian, kalau toh dia sudah mati, yaa sudahlah."

"Kian cianpwe" Bu Im berjalan menghampiri, "setelah meninggalkan tempat tersebut mengapa kau malah melupakan kami semua?"

Bu im sin hong Kian Kim siang segera menggelengkan kepalanya berulang kali katanya: "Persoalan ini tak habis diterangkan hanya sepatan dua patah kata saja, yang penting sekarang adalah selesaikan dulu situasi yang sedang kita hadapi."

Kemudian dengan kening berkerut dia menambahkan : "Apakah kalian berdua saja yang muncul?"

"Tidak, kami keluar berempat. "

Mencorong sinar tajam dari balik mata Bu im sin hong Kian Kim siang setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan cepat :

"Apakah dia telah pulih kembali seperti sedia kala?"

"Caranya belum ditemukan, namun dialah yang bersikeras hendak muncul dari situ."

"Aaah.. kalian benar benar pikun! Mana orangnya sekarang?" seru Bu im sin hong tertegun.

"Dalam pertemuan malam ini hanya boanpwe dan Bu cianpwe yang ikut ambil bagian."

Semenjak pemunculannya, Bu im sin hong Kian Kim siang hanya berbincang bincang dengan Ciu Tin tin seorang. Sesungguhnya Sam ku sinni adalah sobat lama Bu im sin hong namun dalam keadaan begini dia tak sempat untuk turut menimbrung apalagi Pek leng siancu So Bwe leng. Selain itu, dari pembicaraan mereka pun secara lamat lamat seperti dapat menangkap sesuatu, tapi bila dipikir kembali seperti pula tak tahu apa yang sedang dibicarakan.

Akhirnya Pek leng siancu So Bwe leng tak sanggup menahan diri lagi, dia menyelinap ke depan lalu memperkenalkan diri sendiri.

“Boanpwe So Bwe leng, tolong tanya locianpwe, kau telah menghantar engkoh ku ke mana?”

Bu im sin hong Kian Kim siang memperhatikan wajah Pek leng siancu So Bwe leng berapa saat, kemudian ia tertawa terbahak bahak.

"Daripada bertanya kepadaku, lebih baik tanyakan saja kepada dia,” sambil berkata dia menuding ke arah Ciu Tin tin.

Pek leng siancu So Bwe leng jadi tertegun. "Cici, kau.. "

Belum habis dia berkata, dari depan pintu gerbang telah muncul serombongan manusia.

"Bukankah Thi Eng khi berada disini!" salah seorang diantara rombongan tersebut berseru.

Serentak semua orang berpaling, tapi apa yang kemudian terlihat membuat paras muka mereka berubah hebat. Rupanya Thi Eng khi berada dibawah cekalan dua orang lelaki bertubuh kekar yang menggusurnya masuk ke dalam rua¬ngan, di belakang mereka mengikuti tiga orang kakek.

Ciu Tin tin maupun Pek leng siancu So Bwe leng segera berteriak hampir bersama :

"Adik Eng!" ''Engkoh Eng!"

Serentak mereka menerjang ke muka. Kakek yang berada di belakang Thi Eng khi segera menempelkan telapak tangannya pada jalan darah Pek hwee hiat ditubuh sang pemuda, kemudian bentaknya keras keras :

"Tampaknya kalian sudah tidak menghendaki jiwanya lagi!"

Ancaman mana kontan membuat Ciu Tin tin serta Pek leng siancu So Bwe leng menjadi kaget dan buru buru mengundurkan diri ke posisi semula, kemudian menyingkir ke samping dan menyaksikan Thi Eng khi diseret masuk ke ruang dalam tanpa mampu berbuat apa apa.

Kelima orang itu segera menyeret Thi Eng khi masuk ke dalam ruangan, menyeret sebuah kursi dan menyuruhnya duduk. Dua orang lelaki kekar itu masih berdiri di sisi kiri kanannya, sedang kakek yang menempelkan telapak tangannya yang besar diatas jalan darah Pek hwee hiat dari Thi Eng khi pun masih tetap berdiri di belakang Thi Eng khi tanpa merubah posisinya. Bukan begitu saja, bahkan kakek lain yang berdiri disebelah kiripun tetap berjaga di posisinya semula tanpa bergeser, sementara sepasang matanya yang tajam dan jeli mengawasi seluruh ruangan dengan seksama, nampaknya penjagaan dilakukan sangat ketat.

Sebenarnya ada tiga orang kakek yang masuk bersama ke dalam ruangan itu, dua orang kakek memusatkan perhatiannya dengan mengawasi gerak gerik Thi Eng khi, sedangkan seorang kakek lain yang bertubuh jangkung, berwajah hitam seperti pantat kuali dan bertubuh kurus kering itu bertindak sebagai juru bicara.

Dia berdiri di tengah ruangan sambil mengawasi rekan rekannya yang tewas dan terluka, sewaktu sorot matanya menemukan mayat Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan yang terkapar diatas tanah, keningnya segera berkerut. Kemudian ditatapnya wajah Bu im sin hong Kian Kim siang dengan sorot mata setajam sembilu, setelah itu serunya dengan gusar :

“Siapakah kau? Berani benar menyaru sebagai Kian Tongcu dari pihak kami untuk menerbitkan keonaran disini, besar amat nyalimu!"

Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa terbahak bahak. “Haaahhhh.... haaahhh.... haahhhh mengapa kau tidak

melepaskan topeng kulit manusia dari wajah mayat itu serta memeriksa dulu paras mukanya sebelum bertanya siapakah lohu!"

Kakek itu segera membungkukkan badannya siap melepaskan topeng kulit manusia dari wajah Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan, tapi sebelum hal ini dilakukah, si kakek yang tadi bertarung melawan Bu Im itu sudah melayang kehadapannya sembari berseru:

"Tunggu dulu!"

Kemudian dia membisikkan sesuatu ke sisi telinga si kakek kurus kering tersebut, tampaknya dia sedang mengisahkan sesuatu kepadanya. Paras muka si kakek kurus kering itu berubah hebat, dia memandang sekejap ke arah Bu im sin hong Kian Kim siang lalu mendengus dingin, kemudian sambil berpaling ke arah Ciu Tin tin katanya :

"Hei budak, sekarang Thi Eng khi telah terjatuh ke tangan lohu sekalian, apa lagi yang hendak kalian ucapkan?"

Sementara itu, Ciu Tin tin sedang menggunakan ilmu menyampaikan suara berunding dengan Thi Eng khi. Sedangkan Thi Eng khi yang sedang bersandiwara harus berlagak terus, dengan menggunakan kerdipan mata dia memberikan tanggapannya.

Agaknya pendapat mereka berdua tidak seragam, oleh sebab itu, Ciu Tin tin kelihatan agak gelisah, akibatnya dia pun tidak mendengar jelas apa yang sedang dikatakan kakek kurus tersebut. Dia hanya mengiakan kemudian tidak memberikan tanggapannya lebih jauh....

Pek leng siancu So Bwe leng pun sangat menguatirkan keselamatan Thi Eng khi, bahkan rasa cemasnya tidak berada dlbawah Ciu Tin tin. Menyaksikan Thi Eng khi mengerdipkan matanya berulang kali, dia mengira pemuda tersebut sedang memberi tanda sesuatu kepadanya, dia tak tahu kalau sesungguhnya si anak muda tersebut sedang berunding dengan Ciu Tin tin. Akhirnya karena tidak mengetahui apa yang dimaksudkan, dia berteriak keras : "Engkoh Eng, jika ada persoalan mengapa tidak kau gunakan ilmu menyampaikan suara?"

Mungkin lantaran gelisah, maka gadis itu teringat untuk memperingatkan Thi Eng khi, tapi lupa kalau tidak seharusnya dia berteriak secara terang terangan.

Sementara itu si kakek kurus kering itu mendongkol karena perkataannya tidak mendapat tanggapan dari Ciu Tin tin, setelah mendengar perkataan dari Pek leng siancu, segera serunya sambil tertawa dingin :

"Tenaga dalam yang dimiliki Thi sauhiap telah punah, sekalipun dia berniat untuk berbuat demikian, sayang tenaganya tidak memadahi, teriakanmu itu bukankah hanya akan menyedihkan hatinya saja?"

Oleh karena Pek leng siancu So Bwe leng tidak tahu kalau tenaga dalam Thi Eng khi telah punah, disangkanya si kakek kurus itu telah mempergunakan siasat licik untuk mencelakai Thi Eng khi.

Amarahnya kontan saja berkobar kobar tanpa memperdulikan apa pun dia langsung menerkam kakek jangkung tersebut dan mengajaknya beradu jiwa.

Kini pihak Ban seng kiong sebagai pemegang kartu, sudah barang tentu mereka tak sudi melayani serangan gadis itu. Mendadak kakek kurus itu membentak dengan suara menggeledek :

"Barang siapa berani bertindak secara sembarangan, jangan salahkan kalau kami akan segara membacok mampus Thi Eng khi."

Sesungguhnya Pek leng siancu So Bwe leng adalah seorang gadis yang tidak takut langit tidak takut bumi tapi dia amat menguatirkan keselamatan jiwa Thi Eng khi. Mendengar ancaman tersebut, dia benar benar dibikin ketakutan setengah mati bahkan matapun tak berani melotot lagi, cepat cepat dia mundur kembali ke posisi semula.

Sebaliknya Ciu Tin tin segera berseru lantang. "Syarat apakah yang kalian kehendaki? Katakan saja, asal kami bisa mendapatkan dia kembali, syarat apapun akan kami pertimbangkan."

"Syarat?" kakek kurus itu tertawa licik.

"Thi sauhiap adalah tamu agung Tee kun kami, bila kalian ingin menginginkan pertukaran syarat, silakan saja dibicarakan dengan Tee kun kami."

Ciu Tin tin mencoba untuk mengawasi sekejap keadaan situasi yang terbentang di depan mata, dia tahu pada hakekatnya mustahil bagi mereka untuk merampas kembali Thi Eng khi dari tangan mereka, akan tetapi dia pun merasa tidak berlega hati membiarkan Thi Eng khi dikirim ke istana Ban seng kiong.

Setelah berpikir sejenak, akhirnya dia berhasil menemukan suatu cara yang ideal baginya namun sesungguhnya bukan suatu cara yang terlalu baik. Dengan kening berkerut serunya tiba tiba :

"Aku akan menemaninya pergi ke istana Ban seng kiong!"

Berhubung Pek leng siancu So Bwe leng belum pernah berjumpa dengan Ciu Tin tin, dia pun tidak kenal dengan gadis tersebut, maka hatinya menjadi tidak karuan setelah menyaksikan sikap Ciu Tin tin yang begitu hangat dan mesra terhadap Thi Eng khi semenjak kemunculan anak muda tersebut.

Ketika mendengar kalau Ciu Tin tin hendak menemani engkoh Eng nya menuju istana Ban seng kiong, tak kuasa lagi serunya dengan perasaan hati yang kecut.

"Seharusnya tugas menghantar engkoh Eng pergi ke istana Ban seng kiong merupakan tugasku meski kungfu enci ini bagus, orangnya juga baik, namun aku tak berani merepotkan kau."

Ciu Tin tin melirik sekejap ke arah Pek leng siancu So Bwe leng, tentu saja dia pun sungkan untuk menerangkan identitas sendiri di hadapan orang, maka ucapan mana membuatnya tersipu sipu dan cuma bisa tertawa getir saja. Untunglah Thi Eng khi segera memperingatkan Pek leng siancu So Bwe leng pada waktu itu : "Adik Leng, bagaimana sih kau ini? Masa begitu tak tahu aturan caramu berbicara dengan enci Tin?"

Betul, Pek leng siancu So Bwe leng belum pernah bersua muka dengan Ciu Tin tin namun paling tidak ia pernah mendengar Thi Eng khi membicarakan tentang soal ini, dia pun tahu akan watak Ciu Tin tin serta hubungannya dengan Thi Eng khi. Ciu Tin tin memang salah seorang gadis yang sudah lama ingin dijumpainya, sungguh tak nyana kalau enci yang berilmu silat jauh lebih tinggi dihadapannya sekarang adalah Ciu Tin tin.

Kalau dibayangkan kembali, Pek leng siancu So Bwe leng sungguh amat jengah, tapi dia memang sudah terbiasa mencari menangnya sendiri, dia pun tak ambil perduli di saat apa dan sedang berada dimana, apa yang dipikirkan langsung saja disampaikan.

Dengan perasaan mendongkol dia segera menegur kepada Thi Eng khi :

"Mengapa tidak kau katakan sedari tadi!"

Sikapnya yang polos, lincah dan manja ini kontan saja menimbulkan gelak tertawa dari semua orang yang hadir. Tapi gadis itu tidak memperdulikan hal hal semacam itu, sambil mendepakkan kakinya berulang kali dia berseru keras :

''Apa sih yang menggelikan?"

Kemudian sambil melompat ke hadapan Ciu Tin tin, katanya lagi : "Enci Tin, mari kita bersama sama menemani engkoh Eng menuju

ke istana Ban seng kiong!"

Sesungguhnya Thi Eng khi memang berniat untuk membiarkan pihak lawan menangkap orang orang itu semua, sebab jika Ciu Tin tin dan Pek leng siancu So Bwe leng dapat ikut pula menuju ke istana Ban seng kiong, maka hal ini akan sangat menguntungkan bagi dirinya. Namun diluarannya, dia harus menunjukkan sikap menampik, karena dengan begitu baru cocok dengan keadaan yang sebenarnya. Maka dia sengaja menghela napas, lalu katanya :

"Janganlah disebabkan kepentinganku seorang, sehingga kalian pun ikut menyerempet bahaya, kalian harus tahu diatas bahu kalianlah tergantung nasib dari segenap umat persilatan yang ada di dunia ini, kalian cepat pergi dari sini."

"Adik Eng," kata Ciu Tin tin sedih, "aku tak bisa membiarkan kau pergi ke istana Ban seng kiong seorang diri!"

"Engkoh Eng," Pek leng siancu So Bwe leng berteriak keras pula, "kalau harus mati, mari kita mati bersama sama, tanpa kau kita semua tak bisa hidup."

"Sudah, sudah cukup, kalian tak usah ribut lagi, " seru kakek kurus itu mendadak sambil tertawa seram, "segala sesuatunya lakukan saja menurut perintah lohu!"

Pek leng siancu So Bwe leng segera mendengus :

"Hmmmm! Kau ini manusia macam apa? Mengapa kami harus menuruti perkataanmu?"

Sambil menuding ke arah Thi Eng khi, kakek kurus itu berkata lagi :

"Bila kalian tidak memperdulikan mati hidupnya Thi sauhiap lagi, silahkan saja pergi sendiri, cuma... heeehhh.... heeehhh... jangan menyesal kalian pada akhirnya!"

Kendatipun Pek leng siancu So Bwe leng keras kepala, tentu saja ia tak berani menggunakan jiwa Thi Eng khi sebagai barang taruhan, maka dia membungkam dalam seribu bahasa dan tak berani banyak bertingkah lagi. Dengan sangat bangga kakek kurus itu berkata lagi :

"Bukan hanya kalian berdua saja yang harus mengikuti lohu menuju ke istana Ban seng kiong, pokoknya setiap orang yang hadir di arena sekarang harus menyerahkan diri dan menuruti perintah kami, bila tak mau menurut, jangan salahkan bila lohu akan menghabisi nyawa Thi sauhiap."

Kemudian setelah berhenti sejenak kemudian tambahnya dengan suara dalam : "Sekarang aku akan menberi waktu selama setengah perminum teh bagi kalian untuk berpikir, pertimbangkan dulu jawabanmu!” Bu im sin hong Kian Kim siang, Sam ku sinni serta Bu Im sama sama tertegun, perasaan hati mereka terasa amat berat. Ciu Tin tin mengerutkan pula dahinya, kemudian termenung dan berpikir beberapa saat lamanya. Tapi kemudian dia dapat melihat kalau kakek kurus itu cuma menggertak sambal belaka, tak mungkin dia berani melukainya secara bersungguh sungguh.

Apalagi Thi Eng khi merupakan orang yang dikehendaki Hian im Tee kun, bagaimana mungkin si kakek kurus itu berani mengganggu seujung rambutnya? Atau dengan perkataan lain asalkan semua orang tidak berusaha menolong Thi Eng khi dengan menggunakan kekerasan, sekalipun semua orang berlalu dari situpun si kakek kurus kering itu tak berani berbuat apa apa terhadap Thi Eng khi.

Begitu teori tersebut berhasil dipahami olehnya, Ciu Tin tin segera menggunakan ilmu menyampaikan suara memberitahukan hal tersebut kepada semua orang dan menyuruh mereka selekasnya pergi meninggalkan tempat itu, kalau bisa mereka pergi mencari bala bantuan untuk mengusahakan pertolongan.

Pada mulanya, Bu im sin hong Kian Kim siang dan Sam ku sinni sekalian enggan menyelamatkan diri dengan begitu saja, mereka bersikeras hendak mendampingi Ciu Tin tin dan So Bwe leng menuju ke istana Ban seng kiong. Tapi akhirnya karena tak tahan menghadapi bujuk rayu dari Ciu Tin tin, mereka bertiga baru menyetujui usul itu dengan paksa.

Saat itulah, tiba tiba Pek leng siancu So Bwe leng teringat akan nasib si pencuri sakti Go Jit dan Siu Cu yang terjatuh di tangan lawan, mengapa mereka tidak diminta dan diserahkan kepada Bu im sin hong Kian Kim siang agar terhindar dari siksaan orang orang Ban seng kiong. Berpikir demikian, dia lantas menyampaikan maksud hatinya itu kepada Ciu Tin tin dengan ilmu menyampaikan suara.

Mendengar ucapan mana Ciu Tin tin segera memuji :

"Adik Leng, kau memang hebat, sedikit kerugianpun nampaknya kau enggan derita, baiklah, akan kuturuti kehendakmu." Pek leng siancu So Bwe leng segera merasakan semangatnya bangkit kembali, dengan sepasang mata yang dibelalakkan lebar lebar, ditatapnya kakek kurus itu, kemudian ujarnya sambil tertawa :

“Nonamu paling tidak takut dengan ancaman apalagi gertak sambal, sedangkan engkoh Eng kami pun bukan seorang manusia yang takut menghadapi kematian, kau anggap kami semua adalah orang orang tolol. ? Siapa yang tidak tahu kalau kau pun tak berani

melukai engkoh Eng kami barang seujung rambut pun? Kami bersedia menemani engkoh Eng menuju ke istana Ban seng kiong karena hal ini muncul atas kemauanku sendiri, kau jangan salah menganggap, apalagi kalau sampai mengira kami jeri kepadamu!”

Suara pembicaraannya makin lama semakin keras, bahkan akhirnya ditambah dengan sebuah dengusan berat.

“Baik! Kita akan membuktikan untukmu sekarang, akan kulihat kau bisa mengapakan engkoh Eng kami!”

Dia membalikkan badan kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut....

Menyusul kemudian, Bu im sin hong Kian Kim siang turut tertawa terbahak bahak pula.

“Haaaahhh... haaaahhh.... haaaahhh nona Leng memang amat

cerdik, ucapanmu itu bagaikan membangunkan orang dari impian, hampir saja kami terkecoh olehnya."

Dengan cepat dia mengikuti dibelakang Pek leng siancu So Bwe leng dan berjalan keluar dari ruangan itu. Tak selang berapa saat kemudian, Sam ku sinni ikut beranjak keluar dan dibelakangnya mengikuti Bu Im. Sambil tertawa Ciu Tin tin berseru kemudian :

“Jika semua orang tidak jadi pergi ke Ban seng kiong, tampaknya aku pun tak bisa pergi juga."

Dia berjalan dipaling belakang. Berbicara soal kepandaian silat, jangan harap orang orang dari Ban seng kiong dapat menghalangi kepergian mereka. Kakek kurus kering itu masih saja tak tahu diri, dengan suara menggeledek bentaknya : "Jika kalian tidak berhenti lagi, jangan salahkan kalau lohu akan turun tangan keji!"

"Seandainya kau berani melaksanakan ancamanmu, sudah sejak tadi kau lakukan." kata Ciu Tin tin sambil berpaling dan tertawa.

Tiba tiba nada suara kakek kurus itu berubah melunak, katanya kemudian :

"Walaupun lohu tak berani membunuh Thi sauhiap tapi untuk menyiksanya sepanjang jalan tentu boleh bukan!"

Menyusul kemudian terdengar Thi Eng khi menjerit keras, sudah jelas ada orang sedang menyiksanya. Serentak Ciu Tin tin sekalian menghentikan langkahnya dan berpaling, tampak paras muka Thi Eng khi berubah menjadi pucat pias seperti mayat, sekujur tubuhnya gemetar keras. Sambil tertawa seram kakek kurus itu berseru :

“Lohu dapat mengetahui bahwa diantara kalian beberapa orang, paling tidak ada dua orang yang tak akan tega untuk meninggalkan tempat ini."

Pek leng siancu So Bwe leng segera membalikkan tubuhnya dan menerjang ke arah kakek kurus tersebut, saking bencinya merah membara sepasang matanya.

“Jika kau berani menyiksa engkoh Eng lagi, nonamu akan beradu jiwa dengan kau."

Tampaknya kakek kurus itu dapat mengetahui kalau Pek leng siancu So Bwe leng berwatak keras hati, dalam hati kecil dia benar benar takut bila persoalan menjadi terbengkalai. Bila sampai bentrok, sekali pun dia dapat membunuh Thi Eng khi, tapi pahalanya karena berhasil menangkapnya hidup hidup akan sia sia belaka apalagi jika ada yang melaporkan kejadian ini kepada Hian im Tee kun, bila Tee kun sampai marah, bukankah dia bakal berabe sendiri?

Oleh sebab itu, setelah menyaksikan kenekatan dari Pek leng siancu So Bwe leng, dia malah tak berani bertarung sungguh sungguh dengannya, namun diluarnya mau tak mau dia harus mempertahankan kebuasannya. Maka dengan suara menggeledek bentaknya :

"Budak, kau berani!"

"Mari kita beradu jiwa bersama sama, siapapun jangan harap bisa hidup meninggalkan tempat ini!"

Tubuhnya yang sedang melakukan gerakan tubrukan sama sekali tidak melambat. Untung saja Ciu Tin tin segera menyelinap ke depan dan menghadang dihadapan Pek leng siancu So Bwe leng, serunya :

“Adik Leng, kau jangan bertindak gegabah, bila ada persoalan marilah kita bicarakan secara pelan pelan."

Setelah berhasil membujuk Pek leng siancu So Bwe leng, Ciu Tin tin segera berpaling ke arah si kakek kurus jangkung itu dan berkata lagi dengan suara dingin :