Pukulan Naga Sakti Jilid 37

 
Jilid 37

Sikap mengalah seperti ini, seharusnya dapat merubah suasana tegang menjadi suasana yang lebih santai dan damai, tapi entah maksud tujuan apa yang sedang direncanakan Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, ternyata dia mulai mengutak atik kembali perkataan yang baru saja diutarakan ketua Bu tong pay Keng hian totiang tersebut.

Akhirnya setelah diadakan pembicaraan yang ramai diantara komplotan mereka, orang orang itu berkesimpulan kalau ucapan yang diutarakan Keng hian totiang barusan jelas berarti sebaliknya yakni secara diam mengumpat mereka, sebagai pengacau yang sengaja mencari gara gara dan tidak tahu pentingnya kerja sama.

Anggapan semacam itu segera ditanggapi sebagai suatu penghinaan yang mencoreng moreng wajah mereka, oleh sebab itu mereka bersikeras menuntut kepada Keng hian totiang untuk mencabut kembali perkataan yang telah diutarakan. Ci long siansu, ketua dari Siau lim pay ini menjadi repot untuk mendamaikan kembali ke dua belah pihak, namun sekarang diapun dapat merasa bahwa Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong sekalian sesungguhnya lagi mencari gara gara.

Akhirnya dia berkata sesudah termenung sejenak :

"Harap saudara sekalian sudi memberi muka kepadaku, setelah persoalan ini beres kita semua harus membicarakan kembali pangkal persoalan yang sesungguhnya!"

Sambil tertawa dingin, Giok koay popo segera menegur : “Toa ciangbunjin, apa kau sudah tak sabar lagi?"

Nada suaranya amat tidak bersahabat. Begitu mendengar perkataan dari Giok koay popo tersebut, bergidik hati Ci long siansu, ketua dari Siau lim pay ini, segera pikirnya dengan cepat :

"Aduuuh celaka, rupanya mereka pun sudah menaruh..."

Belum selesai dia berkata, Phu thian toa tiau Kay Poan thian telah maju selangkah ke muka sambil berkata :

"Kembali ke pangkal persoalan bukan masalah sepihak saja, entah apa maksud dari perkataan ciangbujin ini? Tampaknya kau hendak melimpahkan semua tanggung jawabnya dipihak kami? Hmmmm, bila siansu memang berpendapat demikian maka perkataan selanjutnya lebih baik tak usah dilanjutkan!”

Terbukti sekarang kalau mereka pun mempunyai pandangan negatif terhadap ketua dari Siau lim pay ini.

“Eeeehhh... eeehh harap kalian jangan salah paham!" buru

buru Ci long siansu menggelengkan kepalanya berulang kali, “aku minta kalian jangan salah menanggapi perkataanku, lolap sama sekali tidak mempunyai maksud lain!"

Soh sim tocu dewi penyebar bunga Leng Cay soat segera tertawa melengking :

“Hwesio tua, aku percaya kalau kau tidak berpikiran untuk lebih condong ke satu pihak!”

Berhubung dia sudah cukup lama menjadi pendeta, lagi pula termasuk salah seorang yang tercantum gambarnya dalam lukisan Kun eng siang, maka caranya berbicara pun berlagak sok tua.

Walaupun Ci long siansu merasa lagak berbicaranya kelewat besar, toh ia sempat menghembuskan napas lega juga setelah mendengar perkataan itu, katanya kemudian :

"Siancu mau tahu tentang keadaan lolap hal ini sungguh membuat lolap merasa lega hati!”

"Tapi" kembali si Dewi penyebar bunga Leng Cay soat berseru keras, "percaya tak dapat menggantikan kenyataan, semua orang telah menitipkan semua pengharapannya atas dirimu, semoga kau dapat memikirkan kepentingan diri segenap umat pesilatan dan melenyapkan pertikaian hari ini.”

Untuk sementara waktu, Ci long siansu tidak dapat menduga apa maksud dan tujuan dari perempuan tersebut berkata demikian, ia menjadi tertegun kemudian baru ujarnya:

“Lolap hanya berharap kalian semua jangan bentrok sendiri hanya dikarenakan urusan sepele, tentang soal ini siancu tak usah kuatir. ”

"Kalaucmemang begitu, aku hendak mengajukan sebuah usul untuk menyelesaikan pertikaian hari ini, asalkan kau dapat menundukkan perasaan mereka, aku tanggung kami semua tak akan menaruh curiga lagi terhadap pihak mereka.”

"Lolap akan berusaha dengan segala kemampuan" kata Ci long siansu serius. “bila ada persoalan harap siancu utarakan secara terang terangan saja, daripada waktu yang larut akan menimbulkan ingatan jahat dari pihak Ban seng Kiong.”

Tiba tiba Hian im li Cun Bwee yang berada diatas tebing ikut menimbrung sambil tertawa:

“Siansu tak usah kuatir, kalau aku mah tak akan seperti kalian, apa maksud tujuan kedatangan kalian kemari pun sama sekali tidak diketahui.”

Ucapannya sangat menyakitkan hati, membuat siapa pun yang mendengar segera merasakan rendah diri. Soh sim tocu, si Dewi penyebar bunga Leng Cay soat sama sekali tidak menggubris terhadap ejekan dari Hian im li Cun Bwee, sambil menebalkan muka dia berkata :

"Aku rasa untuk menyelesaikan pertikaian ini, satu satunya jalan adalah serahkan semua benda mustika yang berhasil mereka peroleh kembali itu agar kusimpankan untuk sementara waktu, dengan begini bukan saja dapat membuktikan kebersihan dan kejujuran mereka, lagipula dapat pula melenyapkan kecurigaan kami, Hwesio tua, bagaimana menurut pendapatmu?” Ci long siansu, ketua dari Siau lim pay itu harus berkerut kening setelah mendengar perkataan tadi, mau tertawa ia tak bisa, mau menangis pun sungkan, dia sama sekali tak menyangka kalau tokoh persilatan perempuan tersebut bisa bisanya punya muka untuk berkata demikian, pada hakekatnya hal ini benar benar melupakan suatu tindakan yang kelewat memojokkan posisi orang dan sama sekali tak tahu adat. Namun, usul perempuan tersebut dengan cepat mendapatkan dukungan sepenuhnya dari segenap anggota komplotan.

Padahal, sebelum perkataan tersebut disampaikan oleh Ci long kepada rekan rekan lainnya, Keng hian totiang sekalian sudah dapat mendengar sendiri perkataan tersebut dengan amat jelasnya, tentu saja mereka menjadi naik darah.

Pit tee jiu Wong Tin pak menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas, tiba tiba dia menarik Ngo Liu sianseng Lim Biau lim ke samping, kemudian diajaknya berunding :

“Lim sute, menurut pendapatmu bagaimana kalau kita serahkan saja lukisan Kun eng siang tersebut?"

Penyerahan ini jelas merupakan suatu tindakan pengorbanan diri, dia berharap dengan diserahkannya lukisan Kun eng siang tersebut, maka pertikaian ditubuh mereka sendiri dapat segera teratasi.

Akan tetapi, berhubung tindakannya ini menyangkut pamor serta nama baik Thian liong pay di masa mendatang, maka dia tak berani mengambil keputusan sendiri. Ngo liu sianseng Lim Biau lim segera tersenyum, katanya dengan cepat :

"Suheng, silahkan saja kau yang mengambil keputusan, siaute akan mendukung setiap keputusanmu."

Airmata segera jatuh berlinang membasahi wajah Pit tee jiu Wong Tin pak saking terharunya, dia segera mengenggam sepasang tangan Ngo liu siauseng Lim Biau lim setelah itu serunya dengan suara gemetar :

"Terima kasih banyak atas dukungan dari sute, semoga saja tindakan yang ih heng lakukan sekarang sama sekali tidak keliru!” "Apa yang pernah dilakukan ciangbunjin dulu, demi keselamatan umat persilatan pada umumnya kita boleh melakukan sekali lagi, toh tindakan seperti ini bukan suatu aib bagi perguruan," hibur Ngo liu sianseng Lim Biau lim sambil membakar semangat rekannya, "jikalau pertikaian pada hari ini benar benar bisa dipunahkan dengan tindakan kita ini siapa bilang kalau kita telah melakukan perbuatan yang salah...?”

Pit tee jiu Wong Tin pak segera merasakan semangatnya berkobar kembali, sambil tertawa nyaring dia berjalan menuju kedepan Ci long siansu yang sedang mengalami kesulitan tersebut, dengan langkah lebar kemudian sambil menyerahkan lukisan Kun eng siang tersebut kepada sang pendeta, katanya :

"Aku bersedia menyerahkan lukisan Kun eng siang ini untuk menunjukkan kebersihan hati kami, harap siansu menerimanya dan diserahkan kepada tayhiap tersebut untuk menyimpannya sementara waktu."

Tindakan tersebut bukan saja sama sekali di luar duga Soh sim tocu Dewi penyebar bunga Leng Cay soat, seluruh jago yang hadir di situ pun turut berubah wajahnya, semacam perasaan yang tak terlukiskan dengan kata kata segera muncul didalam hati kecil mereka. Tindakan yang sama sekali tidak memperdulikan nama dan kedudukan, bersedia mengorbankan diri demi kepentingan orang lain ini ternyata telah dilakukan oleh Pit tee Jiu Wong Tin pak, seorang murid Thian liong pay, hal mana segera menimbulkan reaksi yang luar biasa bagi kawanan jago lainnya.

Seketika itu juga banyak yang dibikin terharu oleh peristiwa tersebut, mereka mulai memeriksa diri sendiri apakah tindakan yang telah dilakukannya barusan betul atau salah. Sementara itu, Ci long siansu dari Siau lim pay telah menggoyangkan tangannya berulang kali seraya serunya :

“Wong tayhiap, lebih baik kita rundingkan kembali persoalan ini secara baik baik lolap...lolap….”

Berbicara sesungguhnya sudah sejak lama Soh sim tocu si Dewi penyebar bunga Leng Cay soat menaruh minat untuk mengangkangi lukisan Kun eng siang tersebut, sudah barang tentu dia tak akan melepaskan kesempatan tersebut dengan begitu saja. Sambil mengulumkan senyuman palsunya dia segera berkata :

“Siapa yang bias menyesuaikan diri dengan keadaan dialah seorang pendekar sejati, kita tak boleh menyia nyiakan pengorbanan dari Wong tayhiap ini, baiklah, untuk sementara waktu biar aku saja yang menyimpan lukisan ini untukmu!”

Seraya berkata dia lantas mengulurkan tangannya siap menerima lukisan Kun eng siang tersebut dari tangan Pit tee jiu Wong Tin pak. Mendadak..., pada saat itulah terdengar seseorang membentak keras :

“Tunggu sebentar!”

Dari kumpulan para jago muncul Hong ceng gi siu (kakek aneh penggetar angin) Siang Thong dari bukit Mong san, kemudian sambil tertawa terbahak bahak katanya :

“Haaahhh…. haaahhhhh…. haaahhhh…. Wong tayhiap, berdasarkan kesetiaan kawanmu ini, memangnya kau anggap kami benar benar menghendaki lukisan Kun eng siang milikmu ini? Aaaah, jangan suruh orang persilatan menertawakan kami saja! Harap kau simpan kembali lukisan Kun eng siang tersebut!”

Kemudian setelah berhenti sejenak, dengan wajah serius dia berkata lebih jauh :

“Mari kita bersama sama menghilangkan prasangka yang bukan bukan terhadap mereka, entah bagaimanakah menurut pendapat kalian semua...?”

Sebenarnya lukisan Kun eng siang tersebut sudah hampir berpindah ke tangan si Dewi penyebar bunga Leng Cay soat, tapi setelah diganggu oleh Si Kakek aneh penggetar angin Siang Thong dari bukit Mong San ini, usahanya kontan saja mengalami kegagalan total, serunya kemudian dengan mendongkol :

“Siang tayhiap, kau... ”

Belum habis dia berkata, sudah kedengaran banyak jago yang menyetujui serta mendukung usul dari kakek aneh penggetar angin Siang Thong tersebut, suasana menjadi hiruk pikuk sekali : “Pendapat Siang tayhiap tepat sekali, bila keributan ini harus dibiarkan berlangsung terus, pastilah kita akan kehilangan sifat persatuan diantara kita semua.”

"Yaa, betul! kita harus bersatu padu kembali, dengan demikian kita semua masih bisa mempertahankan diri!”

“Asal kita bisa bersatu padu kembali musibah hari ini baru dapat kita tanggulangi bersama.”

“Yaa, pihak Ban seng kiong sudah jelas mempunyai maksud jelek, kita semua harus menyadari akan kebusukan serta kelicikan mereka.”

Begitulah, ucapan demi ucapan segera bermunculan kembali, liang sim dan kebenaran seolah olah bangkit kembali dalam hati kecil mereka. Dewi penyebar bunga Leng Cay soat tahu kalau pendapat umum tak boleh dilawan maka ucapannya yang baru sampai setengah jalan itu buru buru dirubah :

“Siang tayhiap, kau….. kau memang pandai menebak suara hatiku, aku pun hanya bermaksud untuk mencoba ketulusan hati Wong tayhiap saja!”

Menyusul kemudian ia perdengarkan suara tertawa terbahak bahak yang terlampau dipaksakan. Kelompok manusia yang semula terpecah belah, kini pun telah bersatu kembali. Namun secara diam diam terdapat tiga orang yang kabur keluar lembah tanpa mengeluarkan sedikit suara pun jua. Ci long siansu yang menyaksikan kejadian mana segera menghela napas panjang, gumamnya :

“Aaaaai, Sangkoan tayhiap benar benar berpikiran picik!”

Belum habis dia berkata, mendadak dari arah mulut lembah situ berkumandang suara ledakan yang amat memekikkan telinga…..

“Blammmmmm!” asap hitam yang amat tebal membubung tingggi ke angkasa, menyusul kemudian tampak tiga sosok bayangan manusia melompat mundur kembali dari balik asap tebal dalam keadaan yang amat mengenaskan. Tampak pakaian mereka compang camping, wajahnya penuh debu sudah jelas baru saja menderita kerugian besar.

Dibelakang Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong mengikuti Phu thian toa tiau Kay Poan thian serta Im tiong hok Teng siang. Dari kejauhan sana, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong telah meraung dengan penuh kegusaran :

“Ban seng kiong, kalian benar benar berhati keji dan licik, mengapa kalian menyumbat mati mulut lembah tersebut?”

Hian im li Cun Bwee yang berada diatas tebing segera tertawa cekikikan berulang kali, jengeknya kemudian :

“Aku lihat kalian sudah cukup lelah bercecok, sekarang silahkan untuk beristirahat dulu.”

Kemudian sambil menuding ke arah berbagai macam benda mestika diatas dinding bukit itu, kembali dia berkata :

“Perkataan dari orang orang Ban seng kiong bisa dipercaya, syaratnya juga tidak berubah, silahkan kalian mencoba kemampuan sendiri! Cuma sayangnya siau moay sudah tidak punya waktu untuk menemani kalian lagi.”

Perempuan itu sama sekali tidak bergeser dari posisinya semula, tampak tebing yang menonjol keluar tersebut pelan pelan bergerak meluncur masuk kebalik dinding bukit. Sambil tertawa nyaring, Giok koay popo Li Ko ci segera membentak keras :

“Budak setan, setelah mengadu domba kami, apakah kau hendak kabur dengan begitu saja?”

Toya kemalanya membentuk gerakan lingkaran besar diatas kepalanya, lalu dengan menggunakan kekuatan dari perputaran tersebut tubuhnya langsung menerjang naik ke atas dinding tebing tersebut. Sambil tertawa dingin, Hian im li Cun Bwee tersebut :

“Walaupun kalian terhitung jago jago yang memimpin suatu perguruan atau daerah tertentu, namun berbicara soal tenaga dalam, belum tentu kalian sanggup untuk mengungguli nonamu.”

Telapak tangannya segera diayunkan ke depan dan melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke arah si nenek. Dengan cepat Giok koay popo menghentikan gerakan tubuhnya sambil berjumpalitan meluncur ke bawah katanya kemudian sambil menghela napas panjang :

“Aaaaaaai, tenaga dalam yang dimiliki budak setan itu benar benar amat sempurna, aku tak mampu untuk menembusinya.”

Orang lain bertenaga dalam sempurna, mendapat keuntungan lagi dari keadaan medan, sekalipun yang hadir disana rata rata berilmu tinggi, namun siapa saja jangan harap bisa menerjang ke atas. Di dalam waktu singkat inilah, tampak Hian im li Cun Bwee sudah menyelinap masuk ke dalam gua tersebut, sementara tonjolan batu karang tadi persis menutupi mulut gua tersebut.

Dari jauh memandang, diatas dinding bukit tinggal tergantung berbagai macam benda mestika dari pelbagai perguruan yang belum mampu diperoleh kembali, karena tiada tempat untuk berpijak, maka orang harus mampu mendaki setinggi tiga puluhan kaki bila ingin mendapatkan kembali semua benda mestika tersebut. Dinding tebing setinggi tiga puluhan kaki boleh dibilang merupakan suatu ketinggian yang tak mungkin bisa dicapai oleh jago silat dari mana pun meski memiliki kepandaian yang melebihi batas batas kemampuan, sebab siapa pun jangan harap bisa mencapai ketinggian seperti ini dengan kekuatannya.

Soal mendapatkan kembali mestika tersebut bisa diselesaikan belakangan, tapi kalau dilihat dari keadaan situasi yang terbentang didepan mata sekarang, untuk keluar dari lembah ini pun sudah bukan merupakan masalah yang gampang. Mendekati tengah hari, cahaya matahari telah mencorong ditengah angkasa dan memancarkan sinarnya yang amat terik, rasa haus mulai menghantui semua jago, menyusul kemudian perut terasa lapar sekali......

Di dalam keadaan begini, semua orang hanya bisa saling berpandangan satu sama lainnya. Kau memandang ke arahku, dan aku pun memandang ke arahmu, mereka semua mulai nampak gelisah, murung dan sedih. Bila keadaan begini harus dialami sampai berapa hari, apa pula yang akan terjadi? Waktu itu jangankan tenaga untuk melakukan perlawanan, untuk bangkit berdiri saja mungkin akan sulit. Bila hal ini sampai terjadi bukankah pihak Ban seng kiong akan membekuk mereka semua dengan mudah?

Hasil terbesar yang diperoleh Thi Eng khi dari dalam gua Yang sim tong milik Thio Biau liong dibawah puncak Sam yang hong bukanlah segenap kepandaian silat dari Thio Biau liong melainkan keteguhan imam serta batinnya. Sehingga hal ini membuat penampilannya nampak lebih halus, lebih saleh dan sederhana.

Tenaga dalam yang dimiliki Ciu Tin tin pun tak akan memperoleh kemajuan lagi dalam waktu singkat, kemampuan yang berhasil dicapainya sekarang, bagi pandangan jago silat pada umumnya sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, apabila dilanjutkan maka taraf kemampuannya akan mencapai suatu tingkatan yang tak berwujud.

Bu im sin hong Kian Kim siang telah pergi dan tak kembali lagi, sehingga sampai dimanakah kekacauan yang diperbuat pihak Ban seng kiong boleh dibilang sama sekali tak jelas. Thi Eng khi sangat memikirkan keselamatan dunia persilatan ketika dilihatnya keberhasilan yang dicapai setiap orang dalam gua Yang sim tong telah peroleh kemajuan pesat, dia pun tidak berhasil untuk berdiam lebih jauh disitu.

Suatu dorongan dengan semangat berkobar mendesaknya untuk muncul kembali di dalam dunia persilatan, melenyapkan bencana dalam dunia dan membangun kembali nama baik Thian liong pay. Ciu Tin tin sangat menguatirkan keadaan Thi Eng khi yang dianggapnya masih belum berhasil memulihkan tenaga dalamnya, dia sangat tidak menyetujui usal dari si anak muda tersebut. Namun dia tak dapat melawan Thi Eng khi yang menggunakan semua kitab obat obatan dan kitab ilmu pertabiban dari Thio Biau liong sebagai bukti yang menunjukkan kalau kehadirannya terus di gua Yang sim tong tak akan memperoleh kemungkinan untuk mendapatkan tenaga dalamnya kembali. Dia pun menganjurkan kepada gadis itu untuk lebih baik bekerja sama saja membuat suatu pekerjaan besar bagi umat persilatan.

Dalam keadaan demikian, terpaksa Ciu Tin tin harus mengabulkan permintan dari Thi Eng khi, maka berempat berangkatlah meninggalkan gua Yang sim tong untuk terjun kembali ke dunia persilatan.

Selama ini, Thi Eng khi masih tetap menunjukkan sikapnya seolah olah dia masih kehilangan tenaga dalamnya dan segala sesuatunya membutuhkan perlindungan dari Ciu Tin tin serta kakak beradu Bu. Tapi penampilannya dipihak lain justru sangat luar biasa, hal ini membuat kakak beradik Bu tak berani mengurangi rasa hormatnya kepada pemuda tersebut karena ia kehilangan tenaga dalamnya.

Sepanjang jalan, mereka memakai kereta untuk menggantikan perjalanan dengan berjalan kaki. Berapa hari kemudian,mereka telah muncul kembali diwilayah Kang siok...

Saat itu, kendatipun merupakan saatnya orang orang Ban seng kiong menyebar ke dalam dunia persilatan untuk mencari jejak Thi Eng khi, namun mereka justru berhasil meloloskan diri dari pengintaian mata mata Ban seng kiong. Tentu saja kesemuanya ini berkat pengalaman yang matang dari kakak beradik Bu yang pandai melihat situasi serta tindakan Thi Eng khi sendiri yang telah merubah dandanannya.

Tapi keadaan yang sesungguhnya adalah pihak Ban seng kiong hanya menggunakan usahanya untuk menemukan jejak Thi Eng khi sebagai tipu muslihat guna menutupi rencana busuknya dimana segenap kekuatan utamanya telah dialihkan ke bukit Cian san guna menjebak para jago lihay dan pelbagai perguruan.

Dalam keadaan seperti itulah, Thi Eng khi sekalian berhasil lolos memasuki daerah Kang siok tanpa diketahui siapa pun. Sepanjang jalan mereka tidak menjumpai hadangan hadangan dari orang orang Ban seng kiong, bagi Thi Eng khi pribadi hal ini justru sebaliknya membuatnya kecewa bercampur terkejut. Dengan perasaannya yang tajam, secara lamat lamat dia dapat merasakan kalau pihak Ban seng kiong sedang melaksanakan suatu rencana busuk yang amat besar. Maka dengan mempercepat perjalanan, mereka segera kembali ke gedung Bu lim tit it keh di kota Hway im.

Yap Siu ling yang menyaksikan putranya pulang dengan selamat, kendatipun tenaga dalamnya belum pulih kembali, segera menyambut mereka dengan kegembiraan yang meluap, paling tidak baginya putra tunggalnya ini bisa pulang dengan selamat. Di saat Thi Eng khi mendapat tahu tentang kabar berita mengenai Pek leng siancu So Bwe leng, dia segera mengajak Ciu Tin tin sekalian untuk melanjutkan perjalanan lagi menyusul ke arah kota Tin kang.

Jalanan yang mereka tempuh menuju ke kota, sangat kebetulan tidak melalui arah perjalanan yang dijaga oleh Pek leng siancu So Bwe leng, karenanya mereka tidak bersua muka.

Di kota tersebut, mereka memilih sebuah rumah penginapan yang sepi dan terpencil untuk tinggal disitu. Thi Eng khi tetap tinggal di rumah penginapan, sementara Ciu Tin tin dan dua bersaudara Bu bertugas melakukan pencarian terhadap jejak Pek leng siancu So Bwe leng.

Bu Nay nay maupun Bu im belum pernah bersua muka dengan Pek leng siancu So Bwe leng, mereka mencari orang hanya berdasarkan gambaran dari Thi Eng khi, bisa dibayangkan betapa sulitnya pencarian tersebut dilakukan. Hal ini mengakibatkan mereka sekalipun sudah bertatapan muka dengan Pek leng siancu So Bwe leng, namun kedua orang itu tak dapat mengenalinya.

Ciu Tin tin sudah pernah bertemu sekali dengan Pek leng siancu so Bwe leng, tapi pertemuan tersebut terjadi tidak saling bertatapan muka, waktu itu Pek leng siancu So Bwe leng masih sebagai kiongcu dari istana Ban seng kiong dan sedang diperalat oleh Huan im sin ang untuk memaksa Tiang Pek lojin bergabung dengannya. Setelah berpisah sekian lama, dia pun tak tahu berapa tinggikah gadis tersebut kini? Apakah paras mukanya mengalami perubahan?

Dalam pikiran Ciu Tin tin, dia sendiripun tidak begitu yakin apakah dalam sekilas pandangan saja ia sudah dapat mengenali dirinya. Di saat Ciu Tin tin sedang berjalan seorang diri ditengah jalan, dengan paras mukanya yang cantik serta sikapnya yang anggun, siapa pun tak akan menduga kalau gadis tersebut sesungguhnya adalah seorang Kwan im penolong umat persilatan yang memiliki kepandaian silat sangat tinggi.

Namun disaat dia melakukan perjalanan bersama dua bersaudara Bu, berhubung paras muka kakak beradik she Bu itu mengerikan, terutama sekali sorot mata mereka yang tajam dan menganggap gadis itu bagaikan tuan putri, pandangan orang lain terhadapnya segera turut berubah pula.

Kini, mereka bertiga telah memasuki sebuah rumah makan yang terletak ditempat paling ramai dari lalu lintas kota. Tamu yang berada disitu kebanyakan adalah manusia manusia kasar, sudah barang tentu kehadiran seorang gadis cantik macam bidadari dari kahyangan ini segera menimbulkan suasana gempar disitu. Tatkala ia naik ke atas loteng, mula mula berkumandang suara jeritan kaget, lalu semua orang seolah olah dibikin tertegun. Rakyat rakyat biasa yang hadir disana segera dibikin kegelagapan dan tak tenang oleh keanggunan gadis tersebut, mereka merasa rendah diri hingga akhirnya satu per satu ngeloyor pergi dari situ. Yang masih tertinggal sekarang hanyalah manusia manusia dari dunia persilatan.

Tak bisa dikatakan kalau orang orang itu mempunyai sesuatu ambisi terhadap Ciu Tin tin, kehadiran mereka di sana tak lebih hanyalah ingin menarik perhatian gadis itu saja..

Maka orang orang itu pun berusaha menampilkan segala tingkah laku yang menurut anggapan mereka bisa menarik perhatian orang. Disamping itu terdapat pula tiga orang dengan enam matanya melalui tiga arah yang berbeda mengawasi Ciu Tin tin sekalian tanpa berkedip....

Ciu Tin tin yang bermata jeli segera dapat menangkap keadaan tersebut, dengan ilmu menyampaikan suara dia lantas berbisik kepada dua bersaudara Bu :

“Apakah kalian berdua memperhatikan ke tiga pasang mata yang mencurigakan itu?”

Bu Nay nay melototkan matanya bulat bulat lalu berseru : “Aku hendak mengorek sepasang mata mereka!”

Sumpit yang berada ditangannya segera digetarkan keras keras, sayur yang kebetulan lagi disumpit olehnya itu segera patah menjadi tiga bagian dan meluncur ke tiga arah yang berlainan. Oleh karena perkataannya tadi diutarakan dengan suara keras hal mana segera meningkatkan kewaspadaan ke tiga orang tersebut, namun mereka bertiga sama sekali tak menyangka kalau Bu Nay nay bisa memotong sayur tersebut menjadi tiga bagian lalu digetarkan ke tiga arah yang berlainan.

Menanti mereka merasakan datangnya cahaya tajam didepan mata, untuk menghindari sudah tak sempat lagi. “Ploook!” tak ampun batok kepala mereka terhajar telak. Kekuatan yang disertakan dalam serangan itu sesungguhnya tidak besar lagipula tak sampai melukai mereka, namun suara yang nyaring cukup menggetarkan pendengaran semua tamu yang berada dalam ruangan rumah makan itu.

Berpuluh pasang mata serentak dialihkan ke arah ketiga orang itu, buat mereka jadi malunya setengah mati. Merasa kehilangan muka dengan geramnya ketiga orang itu berpekik nyaring kemudian dari tiga arah yang berlawanan mereka berjalan menghampiri meja yang ditempati Ciu Tin tin itu.

Dengan wajah berubah dua bersaudara Bu mengebutkan ujung bajunya siap melukai orang. Buru buru Ciu Tin tin mencegah perbuatan mereka dengan ilmu menyampaikan suara :

“Hanya badut badut kecil, buat apa mesti digubris?”

Mendengar itu, Bu Im berdua segera mengurungkan niatnya dan membiarkan ketiga orang itu muncul di depan meja mereka. Usia ketiga orang itu tidak terlalu besar, kurang lebih berumur dua puluh tahunan, berbaju perlente dan tampaknya merupakan satu rombongan, tapi entah mengapa mereka jadi duduk saling berpencar tempat….

Kini mereka bertiga berdiri berjajar kalau dilihat dari langkah mereka yang sigap, jelas kalau orang orang itu merupakan jagoan lihay dari kaum muda, hanya sayang sekali bila dibandingkan dengan Ciu Tin tin, mereka masih selisih jauh sekali. Walaupun sudah dipecundangi orang, ketiga pemuda tersebut belum nampak puas hal ini memperlihatkan kalau mereka kurang berpengalaman atau sesuatu yang mereka andalkan sehingga nyalinya menjadi lebih besar.

Yang lebih aneh lagi adalah meski serangan tersebut dilakukan Bu Nay nay, namun mereka justru melotot Ke arah Bu Im sambil menegur :

“Go Jit! Tengah malam nanti, kuil Thian che bio diluar kota menantikan laporanmu!”

Bu Im tertegun. Bu Nay nay juga terperana, segera tegurnya : “Siapa yang bernama Go Jit?”

Tiga orang pemuda tersebut hanya tertawa dingin, tanpa menjawab lagi mereka segera membalikkan badan dan mengundurkan diri dari tempat tersebut. Dengan gusar Bu Nay nay segera membentak :

“Bila kalian tak menjelaskan perkataan tadi, jangan harap bisa pergi dari sini!”

Dia lantas menyentilkan jari tangannya dan menotok jalan darah ke tiga orang pemuda tersebut. Tapi dengan cepat Ciu Tin tin mengebaskan tangannya untuk memunahkan totokan tersebut, kemudian serunya :

“Nay nay biarkan mereka pergi, kita hadir saja di situ seperti yang dijanjikan, bukankah hal ini jauh lebih baik daripada menahan mereka sekarang?”

Dengan perasaan bingung, Bu Nay nay menggelengkan kepalanya berulang kali :

"Aneh, benar benar sangat aneh, mengapa mereka dapat menganggap adik Bu sebagai Go Jit?"

Dengan kening berkerut Ciu Tin tin berpikir sejenak, kemudian sahutnya : “Sam ku sinni, nona So dan Go Jit melakukan perjalanan bersama, sedangkan kita pun kebetulan bertiga juga, kemungkinan besar mereka telah salah melihat orang.”

“Yaa, bagaimana juga dia toh tidak seharusnya menganggap diriku sebagai Sam ku sinni!” kata Bu Nay nay sambil tertawa.

“Cici, pengalaman mereka terlalu cetek,” sela Bu Im sambil tertawa pula, “mungkin kau dianggapnya sebagai pendeta yang memelihara rambut, bukankah keadaan tersebut bukan suatu yang aneh di dalam dunia persilatan?”

“Yaa, tampaknya kita memang harus berpendapat demikian saja,” Ciu Tin tin segera berguman lagi :

“Kepandaian silat yang dimiliki Sam ku sinni dan nona So cukup tangguh, tapi mereka begitu berani melakukan tantangan, rupanya mereka telah melakukan persiapan. Malam nanti kita tak boleh bertindak kelewat gegabah, apalagi menganggap enteng mereka.”

Dia lantas menyuruh Bu Nay nay dan Bu lm untuk kembali dulu ke rumah penginapan dan menyampaikan hal tersebut kepada Thi Eng khi. Tentu saja Thi Eng khi setuju kalau mereka pergi memenuhi janji tersebut.

Ciu Tin tin kuatir Thi Eng khi menjumpai hal hal yang tak diinginkan didalam rumah penginapan, maka dia lantas meminta kepada Bu Nay nay untuk menjaga anak muda tersebut, sementara dia sendiri bersama Bu Im berangkat ke kuil Thian che bio sebelum kentongan ke tiga...

Bila Ciu Tin tin dibandingkan dengan Pek leng siancu So Bwe leng, maka cara kerja gadis ini lebih teliti dan penuh perhitungan yang matang. Sebelum memenuhi janji, dia melakukan pemeriksaan lebih dulu disekitar kuil Thian che bio, hal ini membuktikan akan ketelitiannya.

Kuil Thian che bio merupakan sebuah kuil bobrok yang sudah banyak tahun terbengkalai tiada orang yang berziarah ke sana lagi, itulah sebabnya sekeliling kuil tersebut penuh dengan tumbuhan ilalang setinggi manusia. Biasa tumbuhan ilalang liar yang lebat merupakan tempa t penyergapan yang paling baik, berhubung Ciu Tin tin berniat melakukan penyelidikan, maka dia mengajak Bu lm untuk merundingkan persoalan tersebut lebih dulu. Akhirnya ditetapkan gadis itu akan menyusul masuk lebih dulu, sedang Bu Im memasuki kuil tersebut melalui jalan raya pada tengah malam nanti.

Ciu Tin tin segera menggunakan ilmu gerakan tubah Ku kong keng im ajaran Thi Eng khi untuk berkelebat meninggalkan tempat tersebut, dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimilikinya, apalagi ditengah kegelapan malam pada hakekatnya tiada orang yang sampai melihat jelas gerakan tubuhnya itu. Paling bantar orang hanya akan merasakan ada sepulung angin lembut yang berhembus lewat saja.

Dengan kemampuan seperti ini, sekali pun dia berkelebat melalui atas kepala penjaga, belum tentu mereka akan menyadari akan hal tersebut. Bu Im sendiripun baru pertama kali ini menyaksikan dia bergerak dengan sepenuh tenaga, dengan kemampuan yang dimiliki Bu Im saja dia hanya merasakan angin berhembus lewat dan tahu tahu kehilangan jejaknya, apa lagi orang lain, tentu saja tak usah dikatakan lagi.

Dengan tanpa membuang tenga yang kelewat banyak Ciu Tin tin telah berhasil menyelundup masuk ke dalam kuil Thian che bio.

Ruang tengah kuil tersebut sudah disapu amat bersih, empat penjuru dipasang obor yang membuat suasana dalam ruangan menjadi terang benderang. Dibelakang sebuah meja altar terdapat tiga buah kursi utama, sementara di sisi kiri dan kanan masing masing terdapat pula empat buah kursi utama.

Waktu itu, di dalam ruangan hanya terdapat delapan orang pemuda, tiga pemuda yang pernah berjumpa dengan Ciu Tin tin di rumah makan pun hadir pula disana, hanya saja tindak tanduk mereka sangat tidak leluasa.

Agaknya kedelapan orang itu mempunyai hubungan yang baik sekali. Terdengar seorang pemuda berusia dua puluh empat lima tahunan yang paling tua diantara sekian pemuda, sedang menghibur mereka dengan kata lembut.

“Lak te, jit te, sekalipun kalian salah mengundang orang, itu pun bukan suatu yang luar biasa, dengan kedudukan kita berdelapan didepan Tee kun, memangnya Kian tongcu bisa mengatakan kita semua? Apalagi kita toh sama sekali tidak melepaskan sasaran yang sesungguhnya, membunuh tiga orang lebih banyak pun bukan sesuatu yang luar biasa!"

Dengan perasaan sungkan dan rikuh, tiga orang pemuda itu berkata :

"Toako jangan berkata begitu, bila kita benar benar didamprat oleh Kian tongcu, kita bersaudara akan kehilangan muka, yang paling menguatirkan siaute adalah Tee kun belum pernah mengutus kita melakukan pekerjaan, bila baru pertama kali di tugaskan sudah melakukan kesalahan, bukankah hal ini akan mengecewakan Tee kun?"

Sang toako menghela napas panjang.

Pengalaman sesungguhnya tak bisa disamakan dengan kepandaian silat, aku pikir Tee kun tak akan menganggap entah kita semua asalkan penampilan kita semua baik dan hari ini membuat pahala, aku pikir tiada persoalan lagi untuk kita semua."

Ketiga orang pemuda tersebut tak dapat berkata apa apa lagi, terpaksa mereka hanya mengucapkan terima kasih kepada toako mereka sambil membangkitkan kembali semangatnya.

Pada saat itulah dari luar ruangan berkumandang suara langkah kaki manusia yang ramai. Menyusul kemudian dari balik pintu berjalan masuk serombongan manusia…

Orang yang berjalan dipaling depan amat menyolok sekali, dia adalah Bu im sin hong Kian Kim siang. Sedangkan dua orang yang berada di belakangnya merupakan kakek kakek yang berusia hampir setaraf dengan Kiam Kim siang. Di paling belakang mengikuti pula delapan orang kakek yang paling muda berusia lima puluh tahunan. Bu im sin hong Kian Kim siang duduk dikursi utama disebelah tengah, dua orang dibelakangnya duduk di kiri dan kanannya.

Sedangkan delapan orang kakek lainnya duduk dikursi yang berderet di kedua belah sisi ruangan. Sementara delapan orang pemuda tersebut berdiri berderet dibelakang Bu im sin hong Kian Kim siang.

Ciu Tin tin mengetahui kalau Bu im sin hong Kian Kim siang terdiri dari yang tulen dan gadungan, namun ia tak mampu untuk membedakan mana yang benar dan mana yang gadungan. Untuk sesaat hatinya terasa kalut, dia kuatir menganggap yang asli sebagai palsu, bila urusan sampai menjadi runyam, bisa dia akan ditertawakan oleh adik Eng. Sementara ia masih termenung memikirkan persoalan tersebut, mendadak terdengar Bu im sin hong Kian Kim siang berseru:

"Hadapkan Siau Cu!"

"Hadapkan Siau Cu!" dari luar ruangan terdengar seseorang berseru nyaring.

Suasananya waktu itu seperti dalam suasana pengadilan, namun tidak seserius pengadilan sesungguhnya. Dari luar pintu nampak seorang gadis berjalan masuk, wajahnya sayu dan sepasang tangannya terkulai lemas ke bawah, sudah jelas jalan darahnya tertotok sehingga tak mampu bergerak.

Setelah berada di dalam ruangan, tubuh si gadis tersebut gemetar semakin keras lagi, jelas kalau dia sedang merasa ketakutan setengah mati. Bagaimana pun juga, dia masih melanjutkan langkahnya menuju ke depan meja altar. Bu im sin hong Kian Kim siang manggut manggut, maka kakek berusia lima puluh tahunan yang duduk dikursi utama paling ujung kiri bangkit berdiri dan menepuk punggungnya Siu Cu untuk membebaskan jalan darah yang tertotok.

Saat itulah Siu Cu baru berkata dengan nada memohon : "Harap Tongcu sudi menghadiahkan kepuasan bagi hamba!"

Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan, mungkin karena terkena getaran suara tertawanya yang keras, cahaya lilin dalam ruangan itu sampai bergetar dan seolah olah hendak padam. Setelah tertawa setengah harian lamanya disaat suasana dalam ruangan hampir menjadi gelap gulita, mendadak suara tertawa itu terhenti ditengah jalan bahkan sedikit suarapun tidak tertinggal lagi.

Demonstrasi ini menunjukkan betapa sempurnanya tenaga dalam yang dimilikinya, tapi justru meninggalkan kesan sesat dan memuakkan bagi Ciu Tin tin. Setengah harian sudah Bu im sin hong Kian Kim siang berhenti tertawa, namun suasana dalam ruangan tersebut masih tetap sunyi senyap tak kedengaran sedikit suara pun tak tampak ada orang yang berani berbicara dan Kian Kim siang sendiri pun tetap membungkam.

Lama kelamaan semua orang mengira telah kedatangan tamu tak diundang, maka serentak mereka berpaling ke arah pintu gerbang namun hasilnya tidak ditemukan sesuatu apapun. Ditengah keheningan yang mencekam seluruh ruangan inilah, Bu im sin hong Kian Kim siang kembali tertawa, ujarnya:

"Baik! Baik! Asal kau bersedia menjawab beberapa buah pertanyaanku secara jujur, maka lohu tak akan memberi siksaan hidup kepadamu, bahkan akan memberikan kepuasan bagimu!"

Siu Cu adalah anggota lama dari istana Ban seng kiong, tentu saja dia pun tahu akan hebatnya siksaan hidup, tanpa ragu segera jawabnya :

"Tongcu kalau ingin bertanya, hamba pasti akan menjawab!"

"Akan kau jawab semuanya?" sambung Bu im sin hong Kian Kim siang cepat.

"Benar!"

Dengan wajah berubah amat keren, Bu im sin hong Kiam Kim siang bertanya :

"Bagaimanakah hasil pertarunganmu dengan Pek leng siancu So Bwe leng didalam hutan?"

"Hamba menderita kekalahan!" "Mengapa budak tersebut bersedia melepaskan kau dengan begitu saja ?" tanya Bu im sin hong Kian Kim siang lagi.

"Hamba pernah menjadi budaknya Pek leng siancu !"

"Hmmmm, panggil budak itu!" dengus Bu im sin hong Kian Kim siang dengan cepat.

"Benar! Benar! Hamba pernah menjadi pelayannya budak tersebut, mungkin budak itu memandang pada hubungan kami dimasa lalu sehingga tak sampai menyusahkan hamba."

Mencorong sinar tajam dari balik mata Bu im sin hong Kian Kim siang, ditatapnya wajah Siu Cu lekat lekat, kemudian katanya :

"Dengan watak dari budak tersebut, mungkinkah hal ini bisa terjadi. "

"Hamba berbicara dengan sejujurnya?"

Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa seram :

"Kalau begitu, memandang pada hubungan kalian dimasa lalu, tentunya kau juga memberitahukan sesuatu rahasia kapada budak tersebut bukan ?"

Siu Cu kuatir menerima siksaan keji dari pihak Ban seng kiong daripada mati setelah disiksa, lebih baik mati secepatnya dengan berterus terang, apalagi mau dirahasiakan pun tak mungkin bisa, karenanya dia lantas berkata secara terus terang :

"Hamba memberitahukan kepada budak itu, besar kemungkinannya pertemuan besar para jago persilatan dari golongan lurus yang diselenggarakan Tee kun ada disekitar bukit Cian san "

"Mungkin berada di bukit Cian san?" Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa kering, "mengapa tidak kau beritahukan saja tempat yang sebenarnya secara lengkap?"

Siu Cu sungguh ketakutan sekali. "Hamba benar benar tidak mengetahui letak yang setepatnya" dia berseru.

Bu im sin hong Kian Kim siang segera manggut manggut. "Seandainya kau mengetahui alamat lengkap, sudah pasti alamat

tersebut telah kau sampaikan kepadanya bukan." "Hamba...hamba...tidak tahu."

Paras muka Bu im sin hong Kian kim siang berubah hebat, dengan setengah meraung teriaknya :

"Soal ini bahkan lohu "

Sebenarnya dia hendak mengatakan "soal ini bahkan lohu sendiripun tak tahu", tapi setelah ucapan mana sampai diujung bibir, mendadak teringat olehnya kalau dia sedang berperan sebagai salah seorang dari empat toa tongcu, aneh bila seorang toa tongcu tidak mengetahui alamat yang sebenarnya dari pertemuan itu. Maka setelah berhenti sejenak, dia pun berkata lagi :

"Siapa yang memberitahukan hal ini kepadamu?"

Pucat pias paras muka Siau Cu, agak gemetar sahutnya : "Tiada... tiada orang yang ... yang memberitahukan kee kepada

hamba "

Setelah bertanya setengah harian lebih, Bu im sin hong Kian Kim siang baru sempat menangkap sebuah titik kelemahan dari Siu Cu, sambil tertawa lebar dia lantas berseru :

"Kau kuatir merempet sampai ke orang lain bukan?"

Siu Cu semakin ketakutan lagi, sukma serasa melayang meninggalkan raganya.

"Benar!" jawabnya tanpa sadar. Tiba tiba dia merasa salah menjawab, maka buru buru serunya lagi dengan cepat :

"Bukan!" Dari jawaban Siu Cu yang mencla mencle, Bu im sin hong Kian Kim siang tahu kalau pertanyaan diajukan lebih gencar, maka tak sulit baginya untuk mengungkap keadaan yang sebenarnya, saking gembiranya dia tertawa terbahak bahak.

"Haaaaah...haaaahhh...haaaahhh kalau begitu, siapa

orangnya? Ayo cepat jawab dengan sejujurnya, mungkin lohu bisa memberi kematian yang lengkap untukmu!"

Siu Cu tahu bahwa dosa yang dilanggar olehnya cukup untuk menerima hukuman mati, dia tahu mustahil Bu im sin hong Kian Kim siang akan mengampuninya dengan begitu saja. Mendadak dari luar ruangan terdengar ada orang tertawa cekikikan kemudian menyambung :

"Benar benar seorang mannsia yang tidak tahu diri, benarkah kau mempunyai kekuasaan sebesar ini?"

"Siapa yang berada di luar?" Bu im sin hong Kian Kim siang segera berseru dengan terkejut.

"Tak usah gugup, aku bukan anggota Ban seng kiong, aku pun tak bakal mencari pahala dari majikan kalian itu!"

Dari luar pintu segera menyelinap masuk tiga sosok bayangan manusia....

Sam ku sinni berjalan dipaling depan, Pek leng siancu So Bwe leng berada ditengah sedangkan si Pencuri sakti Go Jit berada di paling belakang. Orang yang barusan berbicara dengan suara yang merdu dan nyaring itu tentu saja tak lain adalah Pek leng siancu So Bwe leng. Tapi setelah mereka bertiga memasuki ruangan dan melihat jelas siapa gerangan orang yang sedang berbicara, serentak ketiga orang itu berseru kaget : "Ooooh, rupanya kau!"

Mimpipun mereka tidak menyangka bakal bertemu dengan Bu im sin hong Kian Kim siang disitu. Terutama sekali Pek leng siancu So Bwe leng yang teringat bahwa Thi Eng khi telah dilarikan orang ini setelah terluka parah tempo hari, tak terlukiskan rasa girang dalam hatinya. Sembari maju selangkah ke depan, dia tuding Bu im sin hong Kian Kim siang yang duduk di kursi utama sembari berseru :

"Thian memang punya mata akhirnya nonamu berhasil juga menemukan kau!"

Bu im sin hong Kian Kim siang tidak menjawab pertanyaan dari Pek leng siancu So Bwe leng, dia segera mengulapkan tangannya agar Pat cun yang berdiri dibelakangnya segera tampil ke depan dan menggusur pergi Siu Cu dari situ. Dua orang dari Pat cun tersebut segera melompat ke hadapan Siu Cu dan siap mencengkeramnya.

Mendadak terasa bayangan manusia berkelebat lewat, tahu tahu Pek leng siancu So Bwe leng telah mendahului mereka dengan menarik pergi Siu Cu dari situ. Kemudian dia mengebaskan ujung bajunya melancarkan sebuah pukulan yang dahsyat ke arah dua diantara delapan manusia gagah tersebut.

"Siapa yang berani mendekat?" hardiknya

Sesungguhnya Seng kiong pat cun merupakan delapan orang jago muda yang dilatih Hian im Tee kun secara khusus, ibaratnya anak macan yang tidak takut kepada siapapun, apalagi Pek leng siancu So Bwe leng masih lebih muda daripada mereka meski sudah lama mendengar nama besarnya, namun mereka tidak memikirkan hal tersebut didalam hati. Menyaksikan datangnya kebasan ujung bajunya itu, serentak mereka mengayunkan pula telapak tangannya melancarkan balasan.

"Budak, kau pingin mampus" hardiknya serentak.

Begitu tiga gulung tenaga pukulan saling membentur ditengah udara, Pek leng siancu So Bwe leng merasakan sepasang bahunya bergoncang keras, sebaliknya dua pemuda dari Seng kiong Pat cun itu tergetar mundur sejauh satu langkah lebih. Ternyata kebasan ujung baju Pek leng siancu So Bwe leng berhasil menekan dan melenyapkan tenaga serangan dahsyat dari Seng kiong Pat cun tersebut. Sekalipun demikian Pek leng siancu So Bwe leng pribadi pun diam diam merasa terkejut sekali, dengan mengandalkan tenada dalam yang dimilikinya ternyata dia hanya mampu mendepak mundur dua pemuda tersebut sejauh selangkah, dari sini dapat diketahui kalau kepandaian silat yang dimiliki Seng kiong Pat cun bukan sembarangan. Seandainya ke delapan orang itu sampai maju bersama sama, sudah pasti dia tak akan berhasil meraih keuntungan apa apa.

Dengan cepat Pek leng siancu So Bwe leng memutar biji matanya, kemudian berpikir lagi :

"Hari ini, aku tak boleh menunjukkan kelemahanku, kalau tidak, sudah pasti sukar untuk mengundurkan diri dari sini dengan selamat."

Berpikir demikian, sambil berkerut kening dan melototkan sepasang matanya bulat bulat dia awasi kedua orang pemuda tersebut tanpa berkedip....

Kedua orang pemuda itu sendiri menunjukkan pula sikap tak puas, tampaknya mereka pun bersiap sedia melancarkan serangan lagi. Namun berhubungan mereka sedang menjalankan perintah untuk menggusur pergi Siu Cu, maka kedua orang pemuda tersebut tak berani melayani Pek leng siancu So Bwe leng secara gegabah.

Diam diam mereka mengerlingkan matanya ke arah Bu im sin hong Kian Kim siang sambil meminta petunjuknya. Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa seram, kemudian berseru dengan lantang :

"Lebih baik kalian mengundurkan diri! Tak menjadi soal, toh mereka tak akan lolos dari sini!"

Dua orang pemuda tersebut segera mengundurkan diri dari lapangan dan kembali ke rombongannya. Sedangkan Pek leng siancu So Bwe leng juga menyerahkan Siu cu kapada gurunya Sam ku sinni, kemudian sambil berpaling memandang wajah Bu im sin hong Kian Kim siang dengan hawa pembunuh yang menyala, bentaknya :

"Tua bangka celaka, kau telah melarikan engkoh Eng ku ke mana ?" Bu im sin hong Kian Kim siang tertegun sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu paras muka jago-jago lainnya telah menunjukan sikap tercengang, bahkan bersama sama berpaling ke arahnya.

Perlu diketahui, ketika Hian im Tee kun mengutus orang untuk menyaru sebagai empat tokoh sakti dunia persilatan dna menjabat sebagai empat Toa tongcu sekalian, Hian im ji li serta Huan im sin ang saja yang mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, orang orang yang lain sama sekali tidak mengetahui akan hal ini, karenanya semua orang jadi tercengang juga setelah mendengar ucapan tersebut.

Bu im sin hong Kian Kim siang sendiri pun tidak tahu kalau Thi Eng khi telah tertolong, dengan kebingunggn dia berseru :

"Budak ingusan, kau tak usah mengaco belo, siapa yang telah menculik Thi Eng khi sibocah Keparat itu?"

Pek leng siancu So Bwe leng tertawa dingin.

"Sekalipun menyangkal juga tak ada gunanya, pokoknya jika kau tidak serahkan kembali engkoh Eng kepadaku hari ini, kalau bukan kau yang mampus tentu aku lah yang tewasl"

Ditinjau pembicaraan yang sedang berlangsung, Ciu Tin tin yang bersembunyi ditempat kegelapan segera mendapat tahu kalau Bu im sin hong Kian Kim siang yang berada dihadapannya sekarang adalah Kian Kim siang gadungan.

Untuk sementara waktu tidak berkutik ataupun melakukan suatu tindakan apa apa, dia hendak menunggu sampai datangnya waktu yang lebih menguntungkan untuk membantu Pek leng siancu So Bwe leng melepaskan diri dari ancaman bahaya maut. Sementara itu, Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan telah berpikir sebentar, kemudian dia mendapat kesimpulan bahwa Thi Eng khi telah ditolong oleh Kian Kim siang asli. Penemuan ini merupakan suatu kabar berita yang berharga sekali, sebab dengan mengandalkan berita ini, dia dapat menuntut pahala dari Hian im Tee kun. Kini diapun tidak menyangkal lagi, dengan berganti nada pembicaraan katanya :

"Kau berani melindungi murid penghianat dari perkumpulan kami, dosanya tak terlukiskan besarnya, kau anggap masih bisa lolos dari sini dalam keadaan selamat?"

Waktu itu Pek leng siancu So Bwe leng hanya menguatirkan keselamatan jiwa Thi Eng khi seorang, bahkan dia pun sudah melupakan persoalan tentang bukit Cian san. Terdengar gadis itu sedang berseru lagi dengan penuh bernapsu :

"Ayo jawab, kau telah menculik engkoh Eng ke mana?"

Bukan saja Pek leng siancu So Bwe leng tak mau melepaskan kesempatan itu bahkan kawanan kakek yang hadir dalam ruangan pun ada pula yang berseru dengan ilmu menyampaikan suara :

"Bukankah pihak kita sedang mencari jejak Thi Eng khi?

Terhadap perkataan dari budak ini harap tongcu suka melakukan penjelasan daripada menimbulkan kerugian bagi orang banyak".

Diam diam Kian Kim siang gadungan tertawa dingin, kemudian dengan ilmu menyampaikan suara bisiknya dulu kepada rekan rekannya itu :

"Persoalan ini sudah diatur sendiri segala sesuatunya oleh Tee kun, lohu kurang leluasa untuk memberi penjelasan, harap kalian jangan menanyakan masalah itu lagi."

Dengan mencatut nama Hian im Tee kun benar juga, serentak semua orang membungkam dalam seribu bahasa. Memandang paras muka semua orang yang hadir diarena, diam diam Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan menunjukkan wajah bangga, namun didalam waktu singkat rasa bangga telah lenyap kembali.

Kepada Pek leng siancu So Bwe leng, serunya kemudian dengan suara yang menyeramkan :

"Tidak sulit bila kau ingin mengetahui jeiak dari Thi Eng khi, cukup asal kau mengikuti aku menuju ke istana Ban seng kiong, tanggung kau tak bakal kecewa di situ!" Waktu itu, Pek leng siancu So Bwe leng mempunyai jalan pemikirannya sendiri, setelah kebasan ujung bajunya yang sanggup memukul mundur kedua orang pemuda tersebut, hal itu menimbulkan perasaan terkejut didalam hatinya, dia pun tahu jika sampai berkobar pertarungan, sudah pasti dia tak akan memperoleh keuntungan apa apa.

Tapi oleh karena dia sangat menguatirkan keselamatan jiwa dari Thi Eng khi, maka timbullah satu ingatan aneh dalam hati kecilnya, secara berani sekali dia mengangguk: "Baik! Aku akan mengikuti kau menuju ke istana Ban seng kiong, cuma saja... "

Mimpi pun Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan tidak menyangka kalau Pek leng siancu So Bwe leng benar benar akan menyanggupi permintaannya untuk mengunjungi istana Ban seng kiong.

Tidak menanti hingga dia menyelesaikan kata katanya, dengan gembira tukasnya : "Cuma kenapa?"

Siam ku sinni yang menyaksikan hal itupun segera berseru dengan amat gelisah :

"Leng ji, kau sudah edan rupanya?"

"Suhu" kata Pek leng siancu So Bwe leng dengan wajah sedih, "bagi tecu asal dapat bersua muka dengan engkoh Eng, biar mati pun rela, aku tahu kalau mereka mempunyai maksud tidak baik, tapi aku tetap ingin pergi ke situ!"

Nada suaranya tegas, ini membuktikan kalau tekadnya telah bulat. Sam ku sinni cukup memahami watak dari So Bwe leng ini, semua keputusan yang telah diambil olehnya tak mungkin bisa dirubah lagi meski didesak oleh bapaknya sendiri. Diapun tak tega untuk mencegah niat muridnya ini karena dia kuatir hal tersebut malah akan menimbulkan gelak tertawa serta cemoohan dari orang orang Ban seng kiong.

Begitulah, dengan wajah serius Pek leng siancu So Bwe leng berkata lagi kepada Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan : "Cuma, aku mempunyai sebuah syarat!" "Apa syaratmu?"

"Kau harus mengijinkan guruku untuk membawa pergi Gi tayhiap dan Siu Cu dari sini!"

"Aaaah, kalau cuma soal itu mah gampang, tapi bagaimna dengan kau sendiri ? Apakah Kau tak akan mengingkar janji?" seru Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan sambil manggut manggut.

"Kau anggap nonamu menyesal?"

"Bagus sekali, kalau memang begitu, mari kita bertepuk tangan sebagai ikatan janji!"

Sambil berkata dia lantas melepaskan sebuah pukulan ke arah Pek leng siancu So Bwe leng dari tempat kejauhan. Pek leng siancu So Bwe leng sama sekali tidak berkerut kening, dia pun melepaskan sebuah pukulan ke depan untuk menyambut datangnya serangan lawan.

Belum sempat dua gulung angin pukulan tersebut saling membentur satu sama lain, mendadak dari luar ruangan meluncur masuk seseorang dan melepaskan sebuah pukulan ke udara untuk membuyarkan kedua gulung angin pukulan tersebut. Setelah itu sambil melayang turun ke hadapan Pek leng siancu So Bwe leng katanya sambil tertawa :

"Nona, kau jangan percaya dengan obrolannya. Thi sauhiap tidak berada di dalam istana Ban seng kiong!"

Pek leng siancu So Bwe leng seperti merasa terkejut bercampur gembira untuk sesaat dia seperti tertegun :

"Lotiang, sungguh perkataanmu itu? Sekarang, dia berada di mana !"

"Nona tak usah kuatir," orang itu manggut manggut, "lohu jamin kau akan peroleh seorang engkoh Eng yang utuh!" Pada hakekatnya Pek leng siancu So Bwe leng merasa girangnya setengah mati, untuk berapa saat dia sampai tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Sementara itu, Bu im sin hong Kian Kim siang telah menggebrak meja sambil membentak penuh kegusaran:

"Siapa yang datang?"

Dengan sinis dan pandangan menghina, pendatang itu menatap wajah Bu im sin hong Kian Kim siang, lalu katanya :

"Kau benar benar tidak mengetahui siapakah lohu? Tak heran kalau kau setelah pergi tak pernah kembali lagi, rupanya kau telah merasakan banyak keuntungan dari Hiam im Tee kun!"

Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan menjadi marah sekali, bentaknya keras :

"Lohu tidak kenal kau, aku lebih tak mengerti atas obrolan edan mu itu."

Pendatang tersebut segera tertawa terbahak bahak : "Haaahhhh…. Haaahhhh…. Haahhhh….. tampaknya hebat sekali

permainan sandiwaramu itu, tapi bagi lohu mah tidak kuatir untuk memberitahukan namaku sekali lagi, nenek moyangmu bernama Bu Im!"