Pukulan Naga Sakti Jilid 36

 
Jilid 36

“Saudara sekalian hendak membicarakan soal apa dengan pinto?”

Ada orang hendak menjawab pertanyaan itu namun perhatian mereka segera tertarik oleh munculnya tiga orang pendeta yang sedang berjalan mendekat dengan langkah cepat. Kemunculan dari ke tiga orang pendeta itu kontan saja membuat pikiran semua orang bertambah kalut.

Rupanya mereka adalah Ci long siansu, ketua Siau lim pay yang datang bersama sama Ci kay taysu dan Ci liong taysu.

Aneh, mengapa si penyelenggara pertemuan tersebut baru datang pada saat para undangan telah datang. Bukankah mereka yang menyelenggarakan pertemuan ini? Mengapa mereka tidak datang lebih dulu untuk membuat persiapan disana?

Berbagai pertanyaan ini segera memancing perhatian semua orang untuk dialihkan ke wajah ke tiga orang pendeta dari Siau lim pay. Tatkala ketua Siau lim pay, Ci long siansu menyaksikan berpuluh-puluh pasang mata ditujukan bersama ke arahnya, dengan perasaan menyesal ia lantas berseru :

“Omitohud! Pinceng bertiga datang kemari dengan menuruti petunjuk dari Keng hian totiang, sebab dalam surat undangan dikatakan aku harus sampai pada permulaan kentongan ke tiga.”

Setelah mendongakkan kepalanya memandang posisi rembulan, ia berkata lebih jauh :

“Untung saja kedatanganku tidak sampai melewati saat yang telah ditentukan!”

Dengan ucapan tersebut bukan saja dia telah menyatakan kalau kedatangannya juga karena diundang, bahkan waktu tiba untuknya telah diatur orang lebih dulu. Kejadian ini segera menimbulkan perasaan bingung dan tidak habis mengerti dari semua orang. Orang pertama yang merasakan ketidak beresan didalam pertemuan kali ini adalah ketua Bu tong pay, Keng hian totiang, dengan ucapan bernada kaget ia berseru :

“Bila didengar dari perkataan siansu tampaknya kau pun merupakan orang yang telah mengundang kedatanganmu itu?”

Mendengar pertanyaan dari Keng hian totiang mengandung nada yang tak beres. Ketua Siau lim pay Ci long siansu menjadi tertegun, kemudian serunya :

“Lhoo jadi bukan totiang yang mengundang kedatangan kami?

Waaahh , aneh kalau begitu?”

Dengan wajah serius Keng hian totiang segera berkata lagi : “Sewaktu berada di gedung Bu lim tit it keh tempo hari, pinto dan

siansu memang pernah berunding untuk menyelenggarakan suatu pertemuan puncak para jago, sungguh tak nyana sebelum perundingan kita menjadi matang, ternyata ada orang yang telah memanfaatkan kesempatan yang mudah menimbulkan kesalahan paham ini untuk mengundang kita kemari, jangan jangan Hian im Tee kun yang sengaja untuk menyusun rencana busuk ini untuk menjebak kita? Hanya herannya bagaimana mungkin jalan

pikiran kita ini bisa diketahui oleh Hian im Tee kun? Kejadian ini sungguh aneh dan membuat orang tidak habis mengerti.”

Sementara pembicaraan berlangsung, sorot matanya segera dialihkan dari wajah ketua Kay pang si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po ke atas wajah Pit tee jiu Wong Tin pak dan Ngo liau sianseng Lim Biau lim dari Thian liong pay, sebelum akhirnya berbalik kembali ke wajah ketua Siau lim pay, Ci long siansu.

Orang orang yang kena dipandang oleh sorot matanya itu segera merasa kalau dirinya sedang dicurigai, apa mau dibilang mereka pun tak bisa memberikan bantahan sehingga sikapnya menjadi tersipu sipu.

Keng hian totiang dari Bu tong pay segera menarik kembali sorot matanya, kemudian setelah tertawa getir berkata lagi :

“Pinto suheng te bertiga pun tak bisa terlepas dari kecurigaan ini. !” Cang ciong sin kian Sangkoan Yong segera tertawa nyaring, katanya dengan cepat :

“Menurut pendapatku, sekarang bukan waktunya untuk menyelidiki tentang persoalan itu, tentang bagaimana mungkin peristiwa yang sedang berlangsung sekarang bisa terjadi, lebih baik kita rundingkan dikemudian hari saja, entah bagaimanakah menurut pendapat totiang dan siancu?”

“Perkataan dari Sangkoan tayhiap memang benar” sahut ketua Siau lim pay Ci long siansu cepat, “kita...”

Belum habis dia berkata, mendadak dari balik hutan sana terdengar seseorang tertawa merdu, kemudian berkata :

“Kalian semua memandang persoalan ini terlalu serius, padahal maksud Tee kun mengundang kehadiran kalian disini pun tidak mempunyai maksud jelek!”

Menyusul perkataan itu, nampak seorang gadis cantik berjalan keluar dari tempat persembunyiannya, sesudah memberi hormat kepada semua orang, dia berkata :

“Cun Bwee mendapat perintah dari Tee kun untuk mengundang para ciangbujin dan lo enghiong sekalian agar masuk ke dalam lembah!”

Para jago saling berpandangan sekejap, untuk sesaat mereka tampak ragu untuk mengambil keputusan. Hian im li Cun Bwee segera mencibirkan bibirnya dan memperdengarkan suara tertawa hambarnya yang sinis, setelah itu katanya lagi :

“Tee kun telah berpesan, apabila kalian tak berani memasuki lembah maka dia pun tak akan menyulitkan kalian semua, silahkan saja kalian untuk kembali ke rumah!”

Kebanyakan umat persilatan menghargai nama baik sendiri melebihi nyawa, apalagi mereka kalau bukan seorang ciangbunjin, tentunya merupakan pentolan dari suatu perkumpulan, bayangkan saja bagaimana mungkin mereka bisa tahan menghadapi cemoohan dan sindiran dari Hian im li Cun Bwee tersebut? Dalam keadaan demikian, jangan kan baru memasuki lembah, sekalipun harus naik ke bukit golok atau terjun ke kuali minyak pun mereka tak akan mengerutkan dahinya. Terutama sekali partai Siau lim dan partai Bu tong yang selama ini dianggap sebagai tulang punggungnya dunia persilatan, tentu saja mereka tak sudi dicemooh orang lain.

Maka ketua Siau lim pay Ci long siansu dan ketua Bu tong pay Keng hian totiang segera berseru bersamaan :

“Biar disuruh naik ke bukit golok, pinceng tak akan gentar!” “Walaupun harus terjun ke lautan api, pinto tak akan menolak!”

Ke dua orang itu segera tampil ke depan dan berdiri dimuka perempuan tersebut kemudian serunya kepada Hian im li Cun Bwee

:

“Harap nona suka membawa jalan!”

Dengan sepasang matanya yang jeli Hian im li Cun Bwee melirik sekejap ke arah mereka, kemudian serunya :

“Kalian benar benar tidak takut?”

Si unta sakti Lok It hong tertawa dingin, serunya dengan penuh kegusaran :

“Bila kau ngebacot terus, jangan salahkan kalau lohu tak akan bersikap sungkan sungkan lagi!”

Paras muka Hian im li Cun Bwee sama sekali tidak berubah, katanya lagi :

“Lok tayhiap, buat apa kau harus ribut dengan siauli? Kalau toh kalian memang tidak takut biarlah siauli akan membawa kalian menuju ke dalam lembah tersebut!”

Tidak nampak gerakan apa yang dilakukan olehnya, tahu tahu tubuhnya sudah menyelinap menuju ke dalam hutan tersebut. Ketua Siau lim pay dan Bu tong pay segera mengikuti di belakang Hian im li Cun Bwee menuju ke dalam hutan tersebut. Di belakang ke dua orang itu, mengikuti pula kawanan jago persilatan yang rata rata sudah punya nama besar itu. Pada dasarnya hutan itu memang gelap karena sinar rembulan tertutup awan namun bukan berarti suasana gelap disana sedemikian gelapnya sehingga untuk melihat kelima jari tangan sendiri pun sukar. Sekalipun begitu, andaikata mereka tidak mengerahkan tenaga dalamnya untuk mempertajam pandangan mata mereka, sulit juga untuk menelusuri hutan tersebut.

Jalanan dalam hutan itu berliku liku dan penuh dengan tikungan yang amat banyak mendadak terdengar seseorang berseru tertahan

:

“Aaaaah, jangan jangan hutan ini diatur menurut suatu posisi ilmu barisan?”

Hian im li Cun Bwee segera tertawa, sahutnya :

“Benar di dalam hutan ini memang penuh dengan alat jebakan serta barisan yang hebat bagi mereka yang ingin kembali ke tempat semula, silahkan untuk berputar ke kiri setiap melalui tujuh batang pohon dan berbelok ke kanan setiap melalui delapan batang pohon, dengan begitu kalian akan sampai di luar hutan ini.”

Perempuan tersebut memang cerdas sekali, setiap kali dia selalu menggunakan kata kata semacam itu untuk memancing gejolak perasaan dalam hati para jago, hal ini membuat orang orang tersebut menjadi nekad dan meneruskan perjalanannya dengan mempertaruhkan selembar jiwa raganya.

Sepintas lalu hutan nampaknya tidak begitu luas, namun mereka harus menghabiskan waktu selama setengah jam untuk bisa menembusinya dan tiba di mulut lembah. Sementara itu rembulan sudah muncul dari balik awan, selapis cahaya keperak perakan memancar ke empat penjuru membuat pemandangan di dalam lembah tersebut dapat terlihat secara lamat lamat.

Rupanya lembah tersebut dikelilingi oleh dinding bukit yang terjal dan menjulang tinggi ke angkasa, keadaannya mirip sekali dengan sebuah sumur.

Hian im li Cun Bwee berhenti sejenak di luar lembah tersebut, kemudian katanya : “Sekarang kita akan memasuki lembah ini !”

“Omitohud !” seru ketua Siau lim pay Ci long siansu, “nona tak usah banyak bertingkah, lebih baik kita melanjutkan perjalanan secepatnya!”

Hian im li Cun Bwee tidak banyak berbicara lagi, sambil tertawa dingin ia melanjutkan perjalanan menuju ke dalam lembah. Setelah memasuki mulut lembah tersebut maka terbentanglah sebuah selat sempit yang memanjang dan berbahaya sekali, panjangnya mencapai beberapa li, suasana di sekitar tampak gundul dan tak nampak tertumbuhan apapun.

Kecuali batuan cadas yang berbentuk aneh, boleh dibilang tiada sesuatu benda pun yang nampak di situ, hal mana mendatangkan perasaan seolah olah mereka hanya bisa pergi dan tak mungkin untuk kembali lagi. Menyusul kemudian, pemandangan yang terbentang di depan mata berubah, diantara sekeliling batu aneh tersebut nampak sebuah tanah lapang yang luasnya mencapai puluhan kaki, berapa puluh lentera menyinari tempat tersebut sehingga terang benderang.

Di tengah tanah lapang terdapat empat buah meja dengan hidangan yang masih panas, diantaranya terdapat sebuah meja perjamuan dengan hidangan yang pantang barang berjiwa, rupanya memang khusus disediakan bagi orang orang Siau lim pay dan Bu tong pay. Anehnya, tiada seorang pun yang melayani tempat tersebut.

Hian im li Cun Bwee mengajak para jago menuju ke depan meja perjamuan tersebut, kemudian dengan penuh sopan santun dia memberi hormat seraya berkata :

“Selama menempuh perjalanan, kalian tentu sudah merasa lelah sekali, malam ini silahkan bersantap seadanya lebih dulu, besok Tee kun pasti akan menyelenggarakan perjamuan yang lebih besar untuk menjamu kalian. Maaf, untuk sementara waktu siauli ingin mohon diri lebih dahulu !” Selesai berkata, dia lantas melayang ke belakang sebuah batu besar dan lenyap di situ. Berlalunya Hian im li Cun Bwee membawa pergi pula kegagahan dari para jago, yang tertinggal sekarang hanya rasa seram dan bergidik yang tiba tiba muncul didasar hati masing masing. Bahkan napas mereka pun seakan akan dibawa oleh Hian im li Cun Bwee.

Sebab suasana tenang tanpa terjadinya suatu perubahan yang terbentang dihadapan mereka sekarang, justru mendatangkan daya tekanan yang berlipat kali lebih besar daripada suasana pertarungan sengit.

Di tengah tanah lapang, kini berdiri dua puluh sembilan orang jago persilatan yang sedang diliputi perasaan kalut, bayangan tubuh mereka tertera memanjang jauh ke depan sana di bawah sorot cahaya lentera. Tiada orang yang buka suara untuk memecahkan keheningan disitu, tiada orang yang memasuki meja perjamuan untuk duduk. Mendadak dari belakang batu besar berkumandang lagi suara Hian im li Cun Bwee yang sedang berseru sambil tertawa :

“Tee kun mengundang kalian datang dengan maksud baik, hidangan yang tersedia di meja pun merupakan hidangan kenamaan bikinan koki ternama diutara maupun selatan sungai besar, silahkan kalian untuk menikmatinya dengan perasaan lega."

Si Unta sakti Lok It hong segera tertawa terbahak bahak serunya dengan nyaring :

“Pengemis Cu, setiap hari kau mengemis makanan dari rumah ke rumah, aku tahu kalau kau jarang sekali makan dengan kenyang.

Coba kau lihat begitu banyak hidangan yang sudah tersedia di sana, tak usau kau menyia nyiakan kesempatan baik ini dengan begitu saja, mari, mari! Lohu temani kau minum sampai mabuk!”

Dengan langkah lebar dia lantas menuju ke meja perjamuan sebelah kanan dan duduk. Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po tertawa terbahak bahak :

“Haaahhh... Haaahhh.. haaahh.. baiklah aku si pengemis tua akan meminjam bunga menyembah Buddha, akan kuhormati saudara Lok dengan tiga cawan arak!" Sesudah berjalan ke hadapan si Unta sakti Lok It hong, dia duduk lalu memenuhi enam cawan dengan arak wangi. Biasanya kalau sang pelopor sudah turun tangan maka yang lain pasti akan turut bereaksi. Tak selang berapa saat kemudian gelak tertawa berkumandang memecahkan keheningan, dengan cepat para jago membuang semua kerisauan dalam hatinya dan bersama sama mencari tempat duduk untuk makan minum dengan lahapnya.

Di tengah perjamuan, Keng hian totiang dari Bu tong pay segera mengerahkan ilmu menyampaikan suara untuk berunding dengan para jago yang hadir di situ katanya :

“Tenaga dalam yang dimiliki Hian im Tee kun sangat lihay, ditambah lagi Keng thian giok cu Thi Keng sekalian empat tokoh sakti membantunya melakukan kejahatan, pinto rasa pertarungan yang yang bakal berlangsung besok merupakan suatu pertarungan yang berbahaya sekali. Kendati pun kita semua bertekad untuk bertarung sampai dengan titik darah penghabisan, namun bila naga tanpa kepala, ibaratnya sebaki pasir yang tak bisa bersatu, andaikata sampai terjadi, suasana tentu kalut sehingga andaikata ingin mundur secara teratur pun bukan suatu pekerjaan gampang.”

“Pinto usulkan bagaimana kalau jika kita mengangkat ketua Siau lim pay Ci long siansu sebagai pemimpin kita yang akan memimpin kita semua dalam gerak maju atau mundur. Apabila kita dapat bersatu padu, siapa tahu kalau kekuatan gabungan kita dapat mengatasi kesulitan yang sedang dihadapi sekarang? Entah bagaimanakah pendapat kalian semua?"

Para jago yang hadir disitu segera menyatakan persetujuannya atas usul dari Ketua Bu tong pay Keng Hian totiang tersebut. Dalam keadaan gawat semacam ini, tentu saja ketua Siau lim pay Ci long siansu pun tak bisa menampik usul tersebut, Oleh sebab itu, terpaksa dia harus menerima tugas berat tersebut tanpa membantah.

Namun dia pun mengusulkan agar ketua Bu tong pay Keng hian totiang membantu usahanya itu. Sudah barang tentu Keng hian totiang pun tidak beralasan untuk menampik usul mana, maka dia pun menerima usul mana tanpa banyak berbicara lagi. Selesai bersantap semua orang duduk berkumpul, lalu dengan ilmu menyampaikan suara merundingkan berbagai cara untuk mengatasi kejadian yang berada didepan mata, kemudian masing masing baru duduk bersila untuk mengatur napas.

Sementara itu, puluhan lentera tersebut sudah kehabisan minyak sehingga kehilangan cahayanya lambat laun semakin suram sebelum akhirnya menjadi gelap gulita. Kegelapan menjelang tibanya fajar biasanya memang tak akan berlangsung terlalu lama.

Para jago memang cukup memahami situasi yang sedang dihadapi, Hian im Tee kun menganggap kepandaian silatnya sudah tiada tandingannya di dunia ini, kedudukannya amat tinggi dan terhormat, walaupun cara kerjanya agak rahasia dan misterius, namun bila kesempatan untuk memperlihatkan kelihayannya sudah tiba, tak nanti dia tak akan memberi kesempatan bagi mereka untuk turun tangan.

Oleh sebab itu, semua orang mengatur napas dengan perasaan lega, mereka berusaha untuk menghimpun tenaganya sambil bersiap sedia melangsungkan pertarungan mati matian.

Sementara itu sang surya mulai merambat naik dari balik bukit itu. Meski sinar matahari belum sempat menyorot masuk ke dalam lembah namun langit sudah terang dan suasana dalam lembah itu sudah amat cerah.

Dua puluh orang jago persilatan yang sedang duduk bersila di tengah tanah lapang sama sekali tidak menghentikan semedinya karena langit yang telah terang, dengan suatu ketenangan yang mengagumkan mereka sedang menantikan gerak gerik dari Ban seng kiong. Sikap tenang seperti ini tentu saja jauh berbeda dengan sikap gugup semalam, hal mana membuat anggota Ban seng kiong yang mengikuti gerak gerik mereka dari tempat persembunyian mereka tertarik dan amat kagum.

Pelan pelan dari belakang batu cadas itu muncul delapan orang lelaki berpakaian ringkas yang datang untuk membereskan sisa sayur dan meja kursi dari situ, mereka mengangkuti barang dengan melalui kawanan jago, namun tak seorang pun diantara kawanan jago tersebut yang menggerakkan kelopak matanya.

Hiam im li Cun Bwee berdiri di atas sebuah batu cadas ditengah dinding tebing sambil melongok ke bawah, menyaksikan keadaan mereka, ia segera tertawa dingin, jengeknya:

“Hmmm, penampilan kalian pada hari ini cukup menyakinkan!” “Omitohud. !” seru ketua Siau lim pay Ci long siansu.

Tampaklah para jago yang duduk bersila diantara itu bersama sama membuka matanya lalu bangkit berdiri, gerak gerik mereka serentak dan sangat teratur. Hian im li Cun Bwee segera berkerut kening setelah menyaksikan kejadian tersebut. Ketua Siau lim pay Ci long siansu membereskan pakaian yang dikenakan, kemudian katanya :

“Pinceng atas nama para jago mengundang Hian im Tee kun untuk berbicara!”

“Siansu mewakili para jago dan aku mewakili Tee kun, ada persoalan apa yang hendak kau sampaikan? Sampaikan saja kepadaku,” sahut Hian im li Cun Bwee.

Ci long siansu berkerut kening, kembali katanya :

“Dengan tipu daya kalian telah membawa pinceng sekalian datang kemari, tolong tanya apa maksud hati kalian yang sebenarnya?”

Hian im li Cun Bwee tertawa :

“Soal ini, meski tidak taysu tanyakan, aku juga bakal memberitahukan kepada kalian, cuma sebelum kuterangkan segala sesuatunya, terlebih dahulu kalian mendongakkan kepala dan coba memperhatikan dulu keatas dinding bukit di sebelah sana.”

Para jago bersama sama mendongakkan kepalanya dan menengok ke arah dinding bukit seperti apa yang dituding Hian im li Cun Bwee .... Apa yang kemudian terlihat, kontan saja menggetarkan hati para jago, mereka berseru tertahan dan berdiri melongo. Rupanya dua puluh kaki diatas batu dinding dimana Hian im li Cun Bwee berdiri sekarang terdapat sebuah batu hijau yang amat besar, diatas batu itulah tergantung berbagai macam benda, rupanya benda benda inilah yang merenggut ketenangan para jago.

Benda benda apakah itu sehingga begitu merisaukan hati para jago lihat itu?

Rupanya benda itu kalau bukan berupa tanda pengenal dari pelbagai perguruan atau partai, tentu merupakan benda mestika partai partai mereka, atau ada juga yang merupakan senjata kenamaan. Diantara benda benda tersebut tampak antara lain :

Lukisan Kun eng siang milik Thi Eng khi yang hilang di perkampungan Ki hian san ceng.

Lencana kemala hijau Pek giok pay dari Siau lim pay Lencana pedang baja Thi kiam leng dari Bu tong pay Pedang Cing biu kiam dari perkampungan Ki hian san ceng Peluru naga sakti milik Tay pek it khi Ku Kiam ciu

Kipas berserat perak milik Tiang cun siusu Li Goan Payung baja tulang naga milik Ciong lam pay Tusuk konde hitam milik Giok koay popo Li Ko ci

Cincin kemala Poan giok ci miliki Im tiong hok Teng siang Cawan kemala sembilan naga milik si Unta sakti Lok It hong Pakaian berbulu Cian sah yu ih milik Ciang hong wan Lentera Po lian teng milik pulau Soh to

Hiolo emas Ci kim im teng dari keluarga Tong di propinsi Szechuan

Kipas besar milik Tiang siau bi lek Kongsun Cong

Panah tangan berekor merak Ang wi to jiu ciam milik Phu tian toa tiau Kay Poan thian

Tembaga angin milik si pengembara bermata juling Nyoo Can Panji Ceng wi piau milik Tan cing kay san Chu Eng

Tongkat beruas sembilan Kiu ciat po ciang milik Kay pang Pedang Liu yap kiam milik partai Cing shia

Patung Kwan im bambu merah Ci tiok kwan im milik kuil Ci tiok

an

Kipas Cui hui giok pan dari Hong im siu Ko Thong Kaos kutang Cun go luan ka milik Raja akhirat berhati Buddha Bu kay siansu

Katak buduk kemala hijau milik Giam long heng Kwik Keng thian, serta mutiara Kiu ci thian cu milik Hoa san pay.

Boleh dibilang hampir setiap orang yang diundang ke sana pasti terdapat sebuah benda mestika miliknya yang telah terjatuh ke tangan pihak Ban seng kiong. Padahal mereka memang sudah tahu kalau benda mestika miliknya telah dirampas oleh Ban seng kiong, oleh sebab itu menyaksikan benda mestika milik mereka dipamerkan di depan mata, kendatipun hatinya agak emosi, toh sama sekali tidak merasa kaget.

Tapi ada pula diantara mereka yang sama sekali tidak tahu jika benda mestika miliknya telah hilang, maka setelah menyaksikan benda mestika miliknya itu sudah berada diatas dinding batu tersebut, rasa kaget dan marah mereka tak terlukiskan dengan kata kata.

Sebagaimana diketahui, benda benda mestika itu menyangkut nama maupun pamor dari suatu partai atau perguruan dalam dunia persilatan. Dalam keadaan demikian, kendatipun pihak Ban seng kiong membuka mulut lembah untuk mempersilahkan mereka pergipun, mungkin mereka tak akan mengangkat kaki dengan begitu saja. Sebab siapa pun ingin merebut kembali benda mestika miliknya, karena bila benda mana tak berhasil didapatkan kembali berarti mereka tak bisa menancapkan kaki kembali dalam dunia persilatan. Itulah sebabnya para jago merasa agak bimbang dan kuatir.

Ketua Siau lim pay Ci long siansu segera dapat merasakan ancaman bahaya yang berada di situ, dengan cepat dia menghimpun tenaga dalamnya dan memperdengarkan suara auman singa yang amat keras. Kontan saja para jago tersadar kembali dan buru buru menekan perasaan gusar tersebut ke dalam hati.

Sementara itu, Hian im li Cun Bwee telah berkata lagi dengan nada berat bertenaga : "Hari ini kalian semua mempunyai kesempatan yang sama untuk merebut kembali benda mestika milik sendiri!”

Sekali lagi emosi para jago terpancing sehingga bergolak kembali dengan keras ....

Buru buru ketua Bu tong pay Keng hian totiang memperingatkan semua orang dengan ilmu menyampaikan suara :

“Harap kalian jangan terlalu emosi, kendorkan pikiran dan kendorkan juga sikap tegang kalian!”

Terdengar Hian im li Cun Bwee berkata lebih jauh : “Seandainya diantara kalian ada yang bersedia untuk mengikat

tali persahabatan dengan pihak kami, tanpa bersusah payah kalian bisa mendapatkan kembali benda milik kalian itu.”

Dari gerombolan para jago segera terdengar seseorang berseru keras sambil tertawa dingin :

“Hmmm! Jangan bermimpi di siang hari bolong, bila kalian menginginkan kami berteman dengan pihak Ban seng kiong, kalian tunggu saja bila matahari bisa terbit dari langit sebelah barat!”

Hian im li Cun Bwee tertawa.

“Kalau bukan teman berarti musuh, masih ada jalan bagi kalian, yakni dibuktikan dengan kepandaian silat yang kalian miliki sekarang. ”

Dengan kening berkerut Cang ciong Sangkoan Yong maju ke depan, serunya sambil tertawa nyaring :

"Apabila ingin bertarung silahkan saja datangkan para jago lihay dari istana Ban seng kiong kalian!"

Dengan cepat Hian im li Cun Bwee menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Hari ini, pihak kami tidak bermaksud untuk mengajak kalian bertarung, semua barang telah digantungkan diatas tebing tersebut, bila kalian berniat untuk mendapatkannya kembali, silahkan saja mencoba untuk mengambilnya sendiri, aku pasti tak akan berusaha untuk menghalanginya.”

Semua orang mendongakkan kepalanya ke atas, tampak benda benda itu berada dua tiga puluh tingginya dari bawah permukaan tanah, sadarlah mereka bahwa tiada berkemampuan bagi mereka untuk menaiki tebing mana dan mengambil sendiri benda benda itu, untuk sesaat mereka jadi tersipu sipu dan tak mampu menjawab.

Hian im li Cun Bwee tertawa ringan, sambil menuding sebuah pintu batu di belakangnya ia berkata :

“Di dalam pintu terdapat tiga macam alat untuk mencoba taraf kepandaian silat kalian, apabila kalian dapat melewati ketiga alat tersebut secara baik, kami akan mengembalikan benda mestika tersebut kepada pemiliknya!”

“Lohu bersedia untuk mencoba lebih dulu!” kembali Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong berseru.

“Silahkan saja Sangkoan tayhiap!” kata Hian im li Cun Bwee dengan cepat.

Dia segera menyingkir ke samping sehingga muncullah sebuah pintu batu dibelakangnya. Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong sudah bersiap sedia untuk menerjang ke muka tapi Ciang hong wancu Lu Cing lian segera mencegah kepergiannya:

"Sangkoan tayhiap, harap kau berpikir tiga kali sebelum bertindak, tidak mungkin ada persoalan yang begitu gampang seperti apa yang dia katakan, jangan sampai kita tertipu oleh lawan sehingga terperangkap dalam jebakannya.”

“Bila hendak kesana kita harus berangkat bersama sama, jangan sekali kali kita pencarkan kekuatan yang ada.”

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong agak tertegun, akhirnya dia manggut manggut :

“Yaa, perkataan dari Wancu memang ada benarnya juga, untuk sesaat lohu tidak berpikir ke sana ” Hian im li Cun Bwee yang berada di atas bukit segera berseru lagi

:

“Sekalipun pihak kami tak punya orang pintar, tak nanti akan

kami gunakan siasat membunuh ayam mengambil telur seperti itu, apabila kalian tidak melihat keselamatan dari orang pertama yang bisa keluar lagi dengan selamat, orang kedua toh bisa saja mengurungkan niatnya!”

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong segera tertawa terbahak bahak :

“Haaahhh.... haaahhh.... haaahhhh lohu percaya dengan

perkataanmu itu!”

Tanpa membuang banyak waktu lagi, dia melompat naik ke atas dinding bukit setinggi tujuh delapan kaki itu dan masuk ke dalam pintu batu tersebut. Sementara para jago yang berada dibawah lembah menanti dengan perasaan tegang, menunggu hasil percobaan dari Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong.

Ketika tiba di depan pintu batu tersebut, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong segera menghimpun tenaga dalamnya bersiap sedia, dengan cepatnya dia melewati sebuah lorong panjang dan tiba di dalam sebuah ruangan batu. Ditengah ruangan batu itu berdiri sebuah patung ji lay yang berperut besar, di atas perut yang buncit itu terteralah beberapa tulisan yang berbunyi begini :

“Dengan sebuah pukulan atau pukulan telapak, getarkan patung Ji lay ini sehingga bergeser, bila berhasil maka berarti percobaan pertama telah berhasil!”

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong terhitung juga seorang enghiong yang berpengalaman luas, dia cukup mengetahui tentang kemahiran dari Hian im Tee kun, tentu saja dia pun tak berani memandang rendah patung ji lay yang ada. Hawa murninya segera dihimpun ke dalam tangan kanannya kemudian sambil melepaskan sebuah pukulan bentaknya :

“Kena!"

Dengan sekuat tenaga dia hantam perut buncit dari Ji lay tersebut. Termakan oleh pukulan Cang ciong sin kiam yang maha dahsyat itu, patung Ji lay tersebut bergetar keras dan bergeser ke arah kiri, dimana patung itu bersandar pada dinding batu dan tidak bergerak lagi. Dengan berpindahnya patung Ji lay tersebut maka tampaklah dibelakang patung tersebut muncul pula sebuah manusia besi yang bertangan kosong, diatas pada patung besi itu tertempel pula selembar kertas yang bertuliskan:

“Dalam tiga jurus menentukan menang kalah, pemenang boleh melewati pos kedua ini.”

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong cukup mengetahui akan kelihayan dari manusia besi tersebut, bisa jadi kelihayannya tak jauh berbeda dengan kehebatan cap pwee lo han dari ruang lo han tong di kuil Siau lim si. Sebagai seorang yang berpengalaman luas sebelum pertarungan dilakukan, terlebih dahulu ia teliti posisi patung besi itu serta kemungkinan yang bakal digunakan tangan dan kaki patung itu untuk melancarkan serangan.

Setelah melakukan penelitian yang seksama, dia menjadi terperanjat sekali. Rupanya posisi kaki dari patung besi tersebut mengandung langkah Tay khek yang sangat lihay, sehingga baik ke arah empat arah maupun delapan penjuru, patung besi itu bisa bergerak secara bebas dan leluasa .....

Ketika diteliti pula posisi tubuh dibagian atasnya, tangan kaki berada di depan dada dengan telapak tangan menghadap ke dalam, posisi ini disebut Keng thian it cu (tonggak sakti penunjang langit) sedangkan tangan kanannya diangkat sejajar alis dengan telapak tangan menghadap keatas sikut agak ditekuk ke bawah.

Posisi ini aneh sekali dan luar biasa, demikian anehnya posisi mana membuat manusia berpengalaman seperti Cang ciong sin kiam pun tidak mengetahui nama posisi itu. Pokoknya ditinjau dari posisi patung besi itu, baik atas bawah kiri kanan maupun empat arah delapan penjuru dilindungi secara rapat sekali bahkan dapat pula melancarkan serangan menuju ke berbagai arah secara leluasa.

Menyaksikan kesemuanya itu, paras muka Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong berubah hebat, jangankan bertarung, untuk turun tangan saja tak mampu. Akhirnya setelah menghela napas panjang dia mengundurkan diri dari gua tersebut dan melompat turun ke bawah.

Ciang hong wancu Li Cing lian segera menyongsong kedatangannya sambil menegur :

"Bagaimana Sangkoan tayhiap?”

Dengan wajah lesu dan murung, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong menggelengkan kepalanya berulang kali :

“Malu bagi lohu untuk menjawab pertanyaan itu, lebih baik kalian masuk ke dalam dan melihat sendiri."

Karena dia telah menjawab begitu, maka semua orang pun tidak leluasa untuk mengajukan pertanyaan lebih jauh.

“Omitohud, kalau begitu biar lolap yang naik ke atas untuk memeriksa keadaan yang sebenarnya," kata ketua Siau lim pay Ci long siansu kemudian.

Dia segera melompat naik ke atas tebing dan masuk ke dalam gua batu tersebut. Tapi tak selang berapa saat kemudian, ia telah mengundurkan kembali kebawah. Sejak masuk ke dalam gua hingga muncul kembali, pendeta itu hanya membuang waktu amat singkat, hal ini membuat semua orang merasa keheranan dan tidak tahu apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi.

Rupanya Ci long siansu dari Siau lim pay ini memahami jalan pikiran orang banyak maka sambil menghela napas panjang, katanya

:

“Lolap sebagai murid Buddha tak berani turun tangan memukul patung Jilay hud tersebut, oleh sebab itu untuk melewati pos yang pertama saja tak mampu.”

Sekalipun wajahnya diliputi perasaan menyesal namun tidak ditemukan perasaan sedih. Pit tee jiu Wong Tin pak merupakan oranh ke tiga yang tampilkan diri untuk mencoba. Wong Tin pak bergelar Pit tee jiu (pukulan sakti pembelah bumi) dengan kekuatan tenaga pukulannya yang dahsyat, tentu saja bukan masalah yang pelik baginya untuk menembusi pos pertama. Ketika dia menyaksikan posisi yang diambil oleh patung besi pada pos ke dua, dia pun tertawa penuh arti, segera pikirnya :

"Ooooh, rupanya gaya yang dipakai oleh patung besi ini adalah jurus Jigi su siang, tak heran kalau Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong tak berani untuk mencoba."

Dengan menggunakan ilmu silat dari Thian liong pay, dia segera bertarung sebanyak tiga jurus dengan patung besi itu. Oleh karena jurus serangan yang digunakan patung besi itu juga jurus serangan dari Thian liong pay, maka dengan mudah sekali dia berhasil menembusi pos kedua.

Cuma dia tidak sempat untuk berpikir lebih jauh, apa sebabnya pihak Ban seng kiong menggunakan jurus serangan dari Thian liong pay untuk menyulitkan para jago lainnya. Pada pos ketiga merupakan sebuah tempat duduk yang terbuat dari batu kemala asal orang yang duduk diatas tempat duduk tersebut dapat menekan alas duduknya sehingga rata dengan tanah, maka dia akan dianggap sebagai pemenang.

Pit tee jiu Wong Tin pak segera naik keatas tempat duduk itu lalu dengan menggunakan hawa murninya, dia gunakan ilmu bobot seribu untuk menekan alas duduk tersebut. Nyatanya walaupun dia telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki pun alas duduk tersebut belum juga berhasil ditekan sehingga sejajar dengan tanah.

Sementara dia masih kebingungan dan tak tahu apa yang mesti diperbuat, mendadak di sisi telinganya berkumandang suara bisikan yang amat lirih sekali :

"Cepat kerahkan ilmu Sian thian bu khek ji gi sinkang dengan menghimpun kekuatan ke bawah, dengan kekuatan Sian thian sinkang, alas duduk itu pasti akan tertekan ke bawah."

Oleh karena suara bisikan tersebut terlampau lirih, sehingga sulit sekali untuk mengetahui siapa gerangan yang telah membisikkan ucapan mana. Tapi kalau didengar dari nada suaranya, besar kemungkinan orang itu adalah anggota perguruannya.

Pit tee jiu Wong Tin pak mengira gurunya yang memberi petunjuk secara diam diam maka tanpa berpikir panjang ia segera melaksanakan seperti apa yang diucapkan. Aneh sekali, kasur tempat duduk batu kemala yang tak berhasil ditekan dengan ilmu bobot seribu itu, dibawah tekanan Sian thian sinkangnya segera tertekan ke bawah sehingga rata dengan permukaan tanah.

Baru saja dia menarik kembali hawa murninya sambil bangkit berdiri, dari atas langit langit gua berkumandang suara gemuruh, menyusul kemudian muncul sebuah gua kecil disana. Di balik gua itulah tampak sebuah benda terjatuh ke bawah dan meluncur ke tangannya. Begitu benda tersebut dia terima dan memeriksanya dengan seksama, dengan penuh perasaan gembira ia berteriak :

“Hooree, aku berhasil mendapatkan kembali lukisan Kun eng siang!”

Dengan cepat dia lari keluar dari ruangan itu dan melompat turun ke dasar lembah.

Ketika para jago dibawah lembah menyaksikan dinding batu dibawah lukisan Kun eng siang tersebut tahu tahu turun ke bawah dan muncul sebuah mulut gua, mereka semua sudah tahu kalau besar kemungkinannya Pit tee jiu Wong Tin pak telah berhasil melampaui ke tiga pos penjagaan tersebut.

Oleh sebab itu, disaat Pit tee jiu Wong Tin pak melompat turun dengan wajah berseri semua orang segera maju ke depan dan menyampaikan selamat kepadanya. Suara tertawa dingin segera berkumandang ditengah ucapan selamat dari para jago, tampak Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong melengos ke arah lain.

Waktu itu Pit tee jiu Wong Tin pak sedang bergembira, meski diapun menyaksikan rasa iri dari Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, namun berhubung ada banyak orang menanyakan keadaan dalam gua kepadanya, maka dia pun tidak sempat menggubris keadaan dari Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong lagi.

Dengan maksud agar para jago yang lain pun berhasil mendapatkan kembali benda mestikanya, Pit tee jiu Wong Tin pak segera membeberkan rahasia jurus silat yarg dipakainya untuk mematahkan jurus serangan dari patung besi itu kepada para jago. Dalam gembiranya, Im tiong hok Teng siang segera melompat naik ke atas tebing dan memasuki gua itu sebagai orang ke empat.

Siapa tahu tak selang beberapa saat kemudian dia sudah muncul kembali dengan tangan kosong belaka sepatah katapun tidak diucapkan, dengan wajah hijau membesi dia melihat sekejap ke arah Pit tee jiu Wong Tin pak dengan penuh kebencian. Phu thian toa tiau Rajawali raksasa penerjang langit Kay Poan thian dengan Im tiong hok (bangau dibalik awan) Teng Siang termashur dalam dunia persilatan sebagai Lak hok pak tiau (bangau selatan rajawali utara) diwaktu biasa hubungan pribadi mereka sangat akrab.

Ketika menyaksikan si Bangau dibalik mega Teng Siang pulang dengan tangan hampa dia segera bertanya dengan penuh perhatian

:

“Saudara Teng, bagaimana keadaan di dalam gua?”

“Tiada suatu yang bisa dianggap luar biasa!” sahut si Bangau dibalik awan Teng Siang dengan gusar, “hanya aku sudah terjebak oleh tipuan sobat karib kita Wong tayhiap.”

Begitu ucapan tersebut diutarakan, sorot mata semua jago bersama sama dialihkan ke wajah Pit tee jiu Wong Tin pak.

Sesungguhnya Pit tee jiu Wong Tin pak bisa berhasil karena memperoleh petunjuk orang secara diam diam, pada hakekatnya dalam hati kecil orang ini memang ada penyakitnya maka tatkala semua orang mengalihkan sorot matanya ke arahnya, kendatipun dia sebagai seorang jago kawakan dalam dunia persilatan, toh dibikin gelagapan juga.

Oleh sebab itu dengan suara rendah, dalam dan sama sekali tak bertenaga ia berkata: “Saudara Teng, apabila terjadi suatu kesalahan paham, harap diutarakan saja secara blak blakan, siaute bersedia menerima kritik petunjuk.”

Dengan berangnya si Bangau dibalik mega Teng Siang berseru : “Menurut keteranganmu, jurus serangan yang dilakukan manusia

besi itu adalah jurus Ji gi su siang dari partai kalian, bukan begitu?” “Benar!” sahut Pit tee jiu Wong Tin pak tanpa berpikir panjang. Sambil tertawa dingin si Bangau di balik awan Teng Siang memasang kuda kuda dan melakukan gerak serangan Im seng yang tong seperti apa yang diajarkan oleh Pit tee jiu Wong Tin pak tadi, kemudian kembali dia berseru :

“Bagaimana dengan jurus lm seng yang tong yang kupergunakan ini...?”

Pit tee jiu Wong Tin pak manggut manggut.

“Baik soal tenaga maupun arah sasarannya tepat sekali, jauh lebih unggul daripada siaute.”

Im tiong hok Teng Siang mendengus dingin.

“Hmmmm, tapi jurus tersebut tidak berhasil mematahkan jurus Ji gi su siang dari manusia besi itu, Wong tayhiap bagaimana penjelasanmu tentang hal ini?”

“Aaah, masa iya?” Pit tee jiu Wong Tin pak nampak tertegun.

Im tiong hok Teng Siang betul betul sangat mendongkol, tidak ambil perduli apakah perbuatannya memalukan atau tidak, tak sampai melepaskan kancing pakaiannya lagi dia segera menarik bajunya hingga robek. Segera terlihatlah lengan kirinya merah membengkak, sambil mengangkat lengannya yang terluka itu tinggi tinggi, sehingga setiap orang dapat menyaksikan dengan jelas, dia berseru lagi dengan suara keras :

“Dorongan telapak tangan dari manusia besi itu hampir saja menghancur lumatkan tulang lenganku ini, masa aku membohongimu?”

Pit tee jiu Wong Tin pak segera berkerut kening, lalu dengan wajah memerah dan tersipu sipu serunya :

“Jangan jangan manusia besi itu sudah berganti posisi dan tidak mempergunakan jurus Ji gi su siang lagi?”

Kemarahan Im tiong hok Teng siang semakin menjadi setelah mendengar ucapan tersebut, teriaknya dengan keras : “Setan alas! Kau anggap sepasang mataku sudah buta dan tak bisa melihat lagi? kenyataan tertera didepan mata, siapa pun bisa membuktikan perkataanmu itu.”

Pit tee jiu Wong Tin pak adalah seorang kakek yang jujur, sudah barang tentu dia tak bisa menangkan perkataan Im tiong hok Teng siang tersebut, ia menjadi gelagapan :

“Soal ini. soal.. ini.. ”

Sekian lamanya dia bergumam namun tak sepatah kata pun yang sanggup dikeluarkan. Ketua Kay pang, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po mempunyai hubungan yang cukup akrab dengan Thi Eng khi, tentu saja ia tak bisa membiarkan tianglo dari Thian liong pay dicemooh orang dengan begitu saja. Namun dia sendiri belum pernah memasuki gua tersebut, sehingga mau menengahi persoalan itupun tak dapat maka sambil tertawa terbahak bahak dia menarik perhatian orang lebih dulu, kemudian sambil melompat ke dalam gua serunya keras :

“Biar aku pengemis tua yang melakukan pemeriksaan untuk tayhiap berdua!”

Seusai berkata, dia sudah menyelinap masuk ke dalam ruang batu itu....

Kurang lebih seperminum teh kemudian toya mestika beruas sembilan yang tergantung diatas dinding tebing itu meluncur ke arah bawah, menyusul kemudian si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po melayang turun dari atas gua dengan wajah berseri.

“Aku si pengemis tua dengan mengikuti pentunjuk dari Wong tayhiap telah berhasil mendapatkan tongkat mestika beruas sembilan ini, kenyataan ini membuktikan kalau perkataan Wong tayhiap tidak salah.”

Kemudian setelah berhenti sejenak dia menambahkan lebih jauh

:

“Hanya untuk melewati persoalan yang ketiga, siaute telah

mempergunakan sim hoat tenaga dalam dari perguruanku sendiri.” Ucapan tersebut kontan saja disambut para jago dengan suasana yang amat gaduh. Im tiong hok Teng Siang hampir muntah darah saking gusarnya, dengan cepat dia berteriak keras :

“Apakah kalian semua tidak percaya dengan perkataanku?”

Phu thian toa tiau Kay Poan thian juga berseru dengan suara yang lantang :

“Tak usah kuatir saudara Teng, Thian liong pay punya teman, kau tak usah takut sendirian, siaute akan segera masuk ke gua untuk membuktikan sendiri!”

Sebagaimana dengan julukannya, Kay Poan thian memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat lihay, badannya yang melambung ke udara persis seperti seekor rajawali raksasa yang mementang sayapnya. Begitu badannya berputar keudara dengan suara gerakan aneh, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata...

Tak selang berapa saat kemudian, terdengar Phu thian toa tiau Kay Poa thian meraung gusar dari dalam gua :

“Perkataan saudara Teng tepat sekali, Wong Tin pak tidak jujur, si pengemis tua busuk pun berbohong!”

Belum habis perkataan tersebut diutarakan, tubuhnya sudah melayang turun dihadapan para jago dengan kecepatan luar biasa bahkan perkataannya yang terakhir ditujukan langsung ke arah pengemis tua tersebut...

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po adalah seorang ketua Kay pang, soal kedudukannya dalam dunia persilatan, ia lebih tinggi berapa tingkat dibandingkan dengan Phu thian toa tiau, sikap keras dan kurang ajar yang diperlihatkan oleh Phu thian toa tiau Kay Poan thian sekarang sudah jelas sangat merugikan pamornya didalam dunia persilatan. Sebagai seorang pemimpin yang berkedudukan tinggi didalam dunia persilatan, tentu saja pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po merasa tidak terima kalau dirinya dituding hidungnya sambii dicaci maki oleh Phu thian toa tiau Kay Poan thian. Dengan penuh amarah dia segera membentak :

“Phu thian toa tiau, kalau berbicara harus ada bukti yang jelas, aku si pengemis tua tak rela kalau diriku dicaci maki orang dengan semaunya sendiri!”

“Breeeet!” Phu thian toa tiau Kay Poan thian merobek ujung baju tangan kirinya dan memperlihatkan bekas luka yang sama dengan apa yang diderita Im tiong hok, kemudian serunya keras keras :

“Lengan kiriku yang terluka ini apakah belum cukup untuk membuktikan bahwa ucapan kalian semuanya bohong!”

Kembali si pengemis sakti bermata harimau Co Goan po mendengus dingin.

“Hmmm, perkataan dari Wong tayhiap diucapkan kepada khalayak umum, sementara apa yang aku si pengemis tua dengar juga persis seperti apa yang kau dengar, kalau kau sampai terluka pada percobaan yang ke dua, hal ini menandakan kalau tenaga dalammu yang tak becus, kau hendak menyalahkan siapa sekarang?”

“Hmmm! Hmmm! Siapa yang tidak tahu kalau kau Cu tayhiap adalah kawan Persekongkolan dari Thian liong pay.” Pau thian toa tiau Kay Poan thian balas mengumpat, “Wong tayhiap tentu saja harus melindungi dirimu dari serangan, siapa tahu kalau secara diam diam dia telah pergunakan ilmu menyampaikan suara untuk memberitahukan rahasianya kepadamu?”

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po benar benar gusar sekali sambil mendepak depakkan kakinya ke atas tanah, serunya dengan penuh kemarahan :

“Kurang ajar. Benar benar kurang ajar. Bila kau masih saja ngebacot terus tak karuan, aku si pengemis tua akan bersumpah tak ada habisnya denganmu.”

“Daripada tunggu tunggu sampai lain hari, sekarang juga aku siap menantikan petunjukmu!” seru Phu thian toa tiau Kay Poan thian lagi sambil tertawa dingin. Perselisihan antara ke dua orang ini benar benar sudah mencapai pada puncaknya, suatu pertarungan sengit nampaknya segera akan berlangsung disitu. Mendadak dari atas tebing sana berkumandang suara tertawa ringan dari Hian im li Cun Bwee, suara tertawa yang penuh dengan ejekan itu kontan saja membuat para jago merasa amat bersedih hati.

Ketua Bu tong pay, Keng hian totiang segera menyelinap ke depan dan berdiri di antara pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po dengan Phu thian toa tiau Kay Poan thian, setelah itu bujuknya ke sana ke mari :

“Harap kalian berdua suka menenangkan pikiran dan dinginkan perasaan, kita harus bersatu padu dalam keadaan seperti ini, jangan sampai musuh yang menunggangi kita dalam suasana begini, bila ada persoalan kita bisa rundingkan persoalan ini secara baik baik.”

“Benar,” kata ketua Siau lim pay Ci long siansu pula, “lolap ingin mengingatkan kepada saudara sekalian, pihak Ban seng kiong mempunyai banyak akal busuk dan tipu muslihat, kita jangan sampai termakan oleh siasat adu dombanya sehingga menyesal kemudian tak ada gunanya.”

Begitulah, setelah kata nasebat berhamburan dari sana sini, akhirnya percekcokan tersebut dapat diredakan untuk sesaat. Kendatipun suasana menjadi tenang kembali, namun secara lamat lamat terasa munculnya suatu pertentangan pendapat yang makin lama terjalin semakin meluas.

Setiap kali ada seseorang telah memasuki ruangan batu itu, perpecahan di antara para jago pun bertambah jelas. Karena kejadian yang dialami masing masing orang berbeda satu sama lainnya, hal ini membuat mereka yang mengalami kegagalan segera berprasangka yang bukan bukan. Diantara sekian jago yang hadir, mereka yang berhasil memperoleh kembali barangnya antara lain adalah :

Ketua Bu tong pay Keng hian totiang, Pit tee jiu Wong Tin pak dari Thian liong pay, Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po ketua Kay pang, Hui hong li Lu Cing lian ketua Ciang hong wan, si unta sakti Lok It hong serta Hui cun siucay Seng Tiok sian sekalian berenam.

Sedangkan sisanya mengalami kekalahan total, cuma diantara mereka yang gagal terdapat juga kawanan jago yang berpikiran lebib luas dan berhasil mengatasi rasa irinya, sikap dan tindak tanduk mereka masih tetap jujur dan terbuka.

Diantaranya adalah ketua Siau lim si Ci long siansu, ketua Hoa san pay Pek ih siusu Cu Wan ho, Hud sim giam lo Bu kay siansu, Beng siy suthay dari Ci tiok an, ketua Cing shia pay Ting Kong ci, It khi siu bok Ku Kiam ciau dari Thay pek san dan Tiang cun siusu Li Goan sekalian beberapa orang.

Sisanya dengan pimpinan oleh Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong secara terang terangan menuduh orang orang yang berhasil mendapatkan kembali barang mestikanya itu sebagai komplotan Thian liong pay sedangkan Thian liong pay bersekongkol secara diam diam dengan pihak Ban seng kiong sehingga karena hal inilah barang barang mestika mereka berhasil diperoleh kembali.

Oleh karena pandangan tersebut maka dari ke dua puluh sembilan orang yang hadir segera terbagi menjadi dua kelompok manusia yang saling bertentangan. Suatu persekutuan yang semula kokoh seperti baja, sekarang telah dibuyarkan seperti segenggam pasir.

Apa yang sebenarnya telah terjadi? Tentu saja tak lain tak bukan orang orang Ban seng kiong lah yang telah melakukan permainan busuknya di dalam ruangan batu. Dengan lihay, mereka justru menggunakan titik kelemahan para jago yang banyak menaruh curiga itu untuk mempermainkan mereka, kemudian mengendalikan secara diam diam.

Apa yang selanjutnya berkembang, hampir semuanya berlangsung seperti apa yang direncanakan pihak Ban seng kiong.

Dan kini, saat yang mereka nantikan sudah hampir mencapai pada puncaknya. Hian im li Cun Bwee yang berdiri di atas tebing sambil rnenahan rasa gelinya itu akhimya toh tertawa sesaat kemudian dia baru menghimpun tenaga dalamnya dan mendongakkan kepalanya sambil berpekik nyaring.

Begitu pekikan panjang berkumandang, hawa sakti yang terpancar keluar ibaratnya beribu ribu batang jarum yang menusuk nusuk telinga semua orang, kontan saja membuat para jago merasakan telinganya amat sakit. Dari sini dapat diketahui kalau kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki perempuan ini masih jauh diatas kepandaian yang dimiliki setiap jago di arena.

Dari sekian jago yang hadir, ada berapa diantara mereka yang hadir dalam pertarungan antara Thi Eng khi melawan Hian im Tee kun tempo hari, oleh karena itu mereka juga mengetahui akan kemampuan dari Hian im ji li, itulah sebabnya mereka tidak memperlihatkan rasa kaget maupun tercengang.

Tapi mereka yang belum pernah menyaksikan kepandaian dari Hian im ji li, rasa kagetnya benar benar tak terlukiskan dengan kata kata. Selesai berpekik nyaring, dengan senyum dikulum, kembali Hian im li berkata dengan suara yang merdu dan lembut :

“Setiap perkataan dari Ban seng kiong dapat dipercaya, bagi para tayhiap yang telah berhasil mendapatkan kembali benda mestikanya, sekarang dipersilahkan meninggalkan lembah ini, bila undangan kami kali ini kurang memadai, harap kalian sudi memaafkan!”

Lagi lagi perempuan iblis itu menyulut sumbu bom waktu yang setiap saat bisa meledak.

Betul juga, begitu perkataan dari Hian im li Cun Bwee selesai berkata, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong telah membentak dengan penuh kegusaran :

“Ada rejeki dinikmati bersama, ada bencana ditanggulangi bareng, siapa pun dilarang meninggalkan tempat ini walau hanya selangkah pun ”

Begitu selesai berkata, dia segera menyelinap ke depan dan menghalangi jalan pergi para jago lebih dulu. Menyusul kemudian bayangan manusia berkelebat lewat, mereka yang merasa iri hati segera bergerombol menutup jalan lewat menuju ke arah mulut lembah, bahkan semuanya telah meloloskan senjata sambil bersedia menghadapi terjangan orang.Padahal beberapa orang jago lihay yang berhasil mendapatkan kembali benda mestika miliknya itu sama sekali tidak berhasrat untuk pergi lebih dulu, namun setelah nenyaksikan sikap Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong sekalian yang begitu menghina orang dan bertindak semena mena, timbul juga perasaan gusar didalam hati orang orang itu....

Si Unta sakti Lok It hong paling berangasan, dia tak kuasa menahan perlakuan semacam itu, saking habis kesabarannya dia segera meloloskan sepasang senjata kapak kecil berwarna hitam yang jarang dipakainya itu kemudian sambil berjalan menuju ke mulut lembah, bentaknya keras keras :

"Lohu ingin tahu siapa yang mampu untuk menghalangiku keluar dari lembah ini!”

Giok koay popo Li ko ci segera merentangkan tongkat kemalanya di depan dada, kemudian sambil menghalangi jalan pergi si Unta sakti Lok It hong, serunya :

“Hei, setan unta, aku si nenek tua paling jemu melihat sikap seperti ini, rasain pukulan toyaku!”

Dengan jurus Thay san ya teng (bukit Thay san menindih kepala), dia hantam batok kepala si Unta sakti Lok It hong sekeras kerasnya ....

Kapak kecil ditangan kiri si Unta sakti Lok It hong segera menyapu ke arah pinggang lewat dengan jurus Go kong hu kwei (Go Kong menyerang kui). Sementara tangan kanannya dengan jurus Ki hwee sau thian (mengangkat obor membakar langit) menyambut datangnya serangan toya dari si nenek. Tapi disaat ke dua macam senjata itu hampir membentur satu sama lainnya itulah tubuhnya merendah secara tiba tiba dan kapaknya ganti membacok ke atas wajah Giok koay popo dengan jurus Ing hong long gwat (menyambut angin mengusir rembulan).

Sambil tertawa dingin Giok koay popo berseru :

“Heeehhh.... heeeehhh... heeeehh kalau cuma Sam pan hu

dari Thia Kau cim mah belum bisa mengapa apakan aku si nenek ” Toyanya membentuk satu lingkaran cahaya putih dengan jurus Pat hong hong hi (angin hujan di delapan penjuru), lalu secara beruntun menghantam ke atas sepasang kapak dari si Unta sakti Lok It hong.

"Traang. !" benturan nyaring yang memekikkan telinga segera

berkumandang memecahkan keheningan, akibatnya ke dua orang itu sama sama terdesak mundur sejauh lima langkah ke belakang.

Begitu tubuh mereka berdua saling berpisah mendadak bergema suara pujian kepada Buddha yang amat nyaring : “Omitohud!”

Ci long siansu, ketua Siau lim pay yang berperawakan tinggi besar itu sudah melayang turun diantara ke dua orang itu sambil merangkap tangannya di depan dada.

“Lolap berharap sicu berdua segera mengakhiri pertarungan ini, jangan disebabkan suatu kesalahan paham kecil saja hingga berakibat kerugian di semua pihak.”

“Tapi sikap maupun tindak tanduk mereka amat menjemukan, lohu benar benar merasa tak tahan!” kata si Unta sakti Lok It hong cepat.

Giok koay popo tak mau kalah, sambil tertawa dingin ia berkata : “Heeehhh.... heeehhh..... heeehhhh menjual teman mencari

pahala, aku si nenek paling benci dengan manusia semacam ini. !”

“Siapa yang menjual teman mencari pahala?” teriak Si Unta sakti Lok It hong dengan gusar, “Hei, kalau berbicara harap yang lebih jelas lagi.”

“Kalau yang kumaksudkan kau, mau apa kau?” tantang Giok koay popo sambil mengejek.

Kembali si Unta sakti Lok It hong siap menerjang ke muka, tapi Ci long siansu dari Siau lim pay segera mencegahnya. Dalam pada itu, Keng hian totiang dari Bu tong pay telah melompat ke depan dan menarik pula si Unta sakti Lok It hong agar mundur dari arena. Ci long siansu, ketua Siau lim pay segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya sambil menghela napas :

“Aaaai. bila kita tak dapat bersatu padu pada hari ini, mungkin

lembah Ou liong kok ini merupakan tempat untuk mengubur jenasah kita semua!”

“Yang dipentingkan bagi orang persilatan adalah solidaritas dan persatuan, buat apa kita mesti berkompromi dengan sampah masyarakat tersebut?” tukas Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong cepat.

Ci long siansu, ketua Siau lim pay segera berseru pula : “Bila kalian cekcok sendiri, mka si nelayanlah yang meraih

keuntungannya, dalam situasi seperti ini apakah kalian tak bisa berpandangan lebih terbuka?”

Tampaknya Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong dibikin terharu oleh ketua Siau lim pay tersebut, dia berkata kemudian sambil menghela napas panjang :

“Aaaai, kalau mereka dapat melepaskan ingatan yang serakah dan kelewat mementingkan diri sendiri, dengan begitu lohu baru dapat menasehati para jago agar menahan diri.”

Diam diam Ci long siansu berkerut kening, segera pikirnya : “Ucapan tersebut sudah jelas amat mengejek, orang yang tak

marah pun akan menjadi marah juga dibuatnya, aaai. lolap

sampai dibikin berabe ”

Untuk beberapa saat dia menjadi gelagapan dan bingung sendiri, ia tak tahu bagaimana harus berkata kepada Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong. Walaupun Ci long siansu dibikin serba salah, toh langkahnya bergeser juga untuk berdiri dekat dengan si Unta sakti Lok It hong sekalian....

Ketua Bu tong pay, Keng hian totiang dapat menyaksikan kesulitan yang sedang dihadapi Ci long siansu, dengan suara nyaring dia lantas berseru : “Yang penting adalah menoong keadaan, soal dicemooh orang mah boleh dipikirkan nanti saja.”

“Kebesaran jiwa kalian benar benar suatu keberuntungan bagi umat persilatan, lolap mewakili segenap umat persilatan mengucapkan banyak terima kasih kepadamu,” kata Ci long siansu kemudian dengan wajah lebih cerah.