Pukulan Naga Sakti Jilid 33

 
Jilid 33

“Tapi Sim ji loni tidak tahu diri, disaat menjelang akhir usianya berbuat jahat dengan menggabungkan diri dengan pihak Ban seng kiong, seperti juga dengan kau si setan tua, membuat orang tak dapat menghormati dirimu saja. Bukan saja kalian adalah musuh lohu, bahkan merupakan pula musuh umum dari setiap umat persilatan di dunia ini. ”

Bu im sin hong Kian Kim siang yang dituding orang sambil dicaci maki habis habisan cuma bisa berdiam diri belaka, namun pandangan terhadap Bu Im juga turut berubah. Hanya sayang keadaan yang sebenarnya tak dapat diterangkan kepadanya maka sambil menuding ke arah Thi Eng khi katanya :

"Kalau begitu, dalam hati kecilmu sudah menuduh lohu berdua sebagai musuhmu? Tapi dia adalah Thi Eng khi, Thi sauhiap, ciangbunjin dari Thian liong pay saat ini, dalam pandanganmu dia adalah seorang teman? Ataukah seorang musuh?”

Bu Im mengira Bu im sin hong Kian Kim siang ada maksud untuk membohonginya, dengan gusar dia lantas berseru : "Thi ciangbunjin ada seorang enghiong hohan, mana mungkin dia akan melakukan perjalanan bersamamu? Bila kau berani bersikap kurang hormat lagi terhadap lohu, jangan salahkan kalau lohu akan membinasakan dirimu lebih dulu!”

Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa.

“Entah dia adalah Thi ciangbunjin atau bukan, bila kau berani turun tangan keji kepadanya, maka bisa diketahui sampai dimanakah watakmu yang sebenarnya!”

Bu Im menjadi semakin gusar sehingga mencak mencak, sekali lagi dia menerjang ke arah Bu im sin hong Kian Kim siang keras keras.

“Untuk membereskan dirimu lebih dulu pun sama saja!” “Weeesss!” sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke tubuh

Bu im sin hong Ki¬an Kim siang. Dengan cekatan Bu im sin hong Kian Kim siang berkelit ke samping, pada saat itulah dia menyaksikan ada dua sosok bayangan tubuh sedang meluncur datang, segera bentaknya keras keras :

“Jangan bertarung dulu, ada orang datang!”

Belum habis dia berseru, Bu Im telah membalikkan badan sambil menyongsong kedatangan ke dua orang tersebut, terdengar dia berseru dengan amat girang :

“Nona Ciu, Cici! Setelah bertemu dengan kalian, siaute pun merasa berlega hati, kuil Sam sim an kalian apakah telah dibakar oleh setan tua she Kian ini?”

Rupanya yang datang adalah nenek Bu dan Ciu Tin tin, nenek Bu memandang sekejap ke arah Bu Im, kemudian sambil menghela napas katanya :

“Adik Im, jangan bersikap kurangajar terhadap Kian cianpwe!"

Kemudian sambil menggape ke arah Bu Im, dia berjalan menghampiri Bu im sin hong Kian Kim siang serta Thi Eng khi. Sementara kakak beradik itu sedang bertanya jawab, Ciu Tin tin sudah melihat bagaimana Thi Eng khi berdiri menyendiri dibelakang tubuh Bu im sin hong Kian Kim siang.

Ketika menyaksikan gadis itu muncul, mendadak saja dia melengos ke samping, dia tak tahu kalau Thi Eng khi berbuat demikian karena merasa menyesal kepadanya, dianggapnya pemuda itu malu untuk berjumpa dengannya karena pemuda itu tidak dapat memahami perasaannya. Padahal selama ini dia tak dapat melupakan Thi Eng khi barang sekejap mata pun, maka setelah berjumpa muka sekarang, diapun terpaksa harus mengeraskan kepalanya untuk melayang turun dihadapan Thi Eng khi kemudian panggilnya dengan sedih :

"Adik Eng !”

Kemudian setelah hening sejenak, terusnya lagi : "Apakah kau belum bersedia memaafkan diriku?”

Dari balik biji matanya yang jeli segera meleleh keluar dua titik air mata, Thi Eng khi menjadi terharu dan malu setelah menyaksikan hal tersebut, serunya agak tergagap :

"Enci Tin! Aku merasa bersalah kepadamu sudikah kau untuk

memaafkan aku?”

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ciu Tin tin, serunya kejut bercampur girang :

“Adik Eng, apa kau bilang?”

“Dalam peristiwa yang lampau, akulah yang salah, aku mohon kau sudi memaafkan diriku!" jawab Thi Eng khi dengan nada bersungguh sungguh.

Sebetulnya Ciu Tin tin adalah seorang gadis yang alim dan tenang, akan tetapi sesudah mendengar perkataan dari Thi Eng khi, tanpa merasa malu lagi, dia segera menubruk ke pelukan Thi Eng khi. Siapa tahu lantaran tenaga terjangannya kelewatan besar, apalagi tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi sudah punah bagaimana mungkin dia bisa menahan terjangannya itu “Blaaamm...!" tidak ampun lagi ke dua orang tersebut segera jatuh terjungkal ke atas tanah. Mendengar suara benturan itu, Bu Nay nay, Bu Im dan Bu im sin hong Kian Kim siang sama sama melompat mendekat dengan perasaan terperanjat.....

Sambil memayang bangun tubuh Thi Eng khi, Ciu Tin tin segera menegur dengan wajah penuh tanda tanya :

“Adik Eng, kenapa kau!”

Thi Eng khi kuatir kalau Ciu Tin tin merasa amat sedih setelah mengetahui tenaga dalamnya punah, maka dengan wajah memerah dia segera menyahut :

“Aaah, tidak apa apa, siaute lah yang kurang waspada, aku tidak menyangka "

Paras muka Ciu Tin tin berubah menjadi merah padam karena jengah, kuatir kalau pemuda itu melanjutkan kata katanya sehingga membuat posisinya bertambah rikuh, buru buru dia menukas :

"Adik Eng, mari kuperkenalkan seorang cianpwe kepadamu!"

Dia segera memperkenalkan dia kepada Bu Im. Nama besar Thi Eng khi sudah menggemparkan seluruh dunia persilatan, tentu saja Bu Im pernah mendengar namanya dan menjadi amat girang setelah saling bertemu muka. Mendadak ia teringat akan peristiwa tadi, dimana Thi Eng khi selalu digendong Bu im sin hong, dia segera merasa kalau di balik kesemuanya itu pasti ada hal hal yang tidak beres, maka dengan perasaan ingin tahu dia bertanya :

“Thi sauhiap, kau tidak dapat berjalan sendiri, apakah "

"Aaah, tidak apa apa, tidak apa apa!”

Cepat cepat Thi Eng khi menukas dengan perasaan jengah. Saking gugupnya ternyata dia sampai tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Ciu Tin tin paling menguatirkan keadaan dari Thi Eng khi, apalagi bila teringat Thi Eng khi segera roboh begitu tersentuh olehnya tadi, kesemuanya itu membuat dia semakin curiga. Maka sambil menarik tangan Thi Eng khi serunya :

"Adik Eng, ada persoalan apakah yang sengaja kau kelabui diriku ?" "Tiii...tidak ada apa apa...tidak ada apa apa ,” sahut Thi Eng

khi.

Dia segera melontarkan sorot mata mohon bantuan kepada Bu im sin hong Kian Kim siang. Tentu saja Bu im sin hong Kian Kim siang tidak mengetahui mengapa Thi Eng khi tak mau menceritakan kenyataan yang sedang dialaminya itu kepada orang lain, tapi lantaran orang lain berbuat demikian dan tentunya mempunyai suatu maksud tertentu, maka dia segera membantu Thi Eng khi untuk berbohong.

“Ooooh, persoalan begini, sewaktu lohu dan saudara cilik datang kemari dan menyaksikan kuil Sam sim an telah terbakar, saudara cilik segera menguatirkan keselamatan diri nona Ciu, siapa tahu karena kurang berhati hati dia telah dipagut oleh ular berbisa. Disaat dia sedang mengerahkan tenaganya untuk memaksa keluar bisa tersebut, Bu lote telah datang, lohu kuatir Bu lote melukai saudara cilik, maka aku pun segera membopong saudara cilik untuk bertarung melawan Bu lote, sungguh tak disangka kecermatan Bu lote telah mengundang kecurigaan hatimu ”

Kemudian ia sengaja berpaling ke arah Bu Im sambil bertanya lebih lanjut :

"Bu lote, bukankah demikian?"

Bu Im tidak memberikan pertanyaan apa apa, dia tidak membenarkan juga tidak menyalahkan melainkan cuma mendengus. Dengan memutar biji matanya yang jeli, tiba tiba Ciu Tin tin berseru keheranan :

"Tapi disini sama sekali tiada ular berbisa?"

Bu im sin hong Kian Kim siang maupun Thi Eng khi sama sama merasa terperanjat, pikirnya hampir bersama :

“Aduuuh celaka!"

Tapi belum habis ingatan tersebut, terdengar Bu Nay nay sudah tertawa berbahak bahak. "Haaahhh... haaah... haaahhh... kawanan iblis itu mampu untuk melakukan pekerjaan apapun, kemungkinan besar mereka telah melepaskan ular beracun disini!”

Sehabis mendengar perkataan itu, Bu im sin hong Kian Kim siang maupun Thi Eng khi sama sama menghembuskan napas lega.

Semua kecurigaan Ciu Tin tin juga segera menjadi hilang lenyap tak berbekas, dengan perasaan kuatir katanya kepada Thi Eng khi:

"Adik Eng, bagaimana keadaan mu sekarang? Tidak membahayakan bukan...?"

Walaupun Thi Eng khi tidak terbiasa berbohong, tapi setelah peristiwa berkembang menjadi begini rupa, terpaksa dia pun mengikuti kisah cerita dari Bu im sin hong Kian Kim siang tadi sembari menjawab :

"Aaaah, hanya seekor ular beracun saja, bagaimana mungkin bisa melukai siaute? Harap enci Tin jangan kuatir, sebentar kemudian siaute juga akan sembuh kembali seperti sedia kala!”

Bu im sin hong Kian Kim siang kuatir kalau kelewat banyak bicara bisa membocorkan rahasia mereka, cepat cepat dia mengalihkan pokok pembicaraannya ke soal lain, ujarnya :

"Siapa yang telah menghancurkan Sam sim an?”

Kontan saja Bu Nay nay melototkan sepasang matanya bulat bulat, sahutnya penasaran:

"Siapa bilang kalau kami tidak becus? Coba kalau bukan nona Tin tak ingin membunuh kelewat banyak, aku ingin sekali membasmi mereka sampai tumpas semua!”

Ternyata peristiwa itu berlangsung pada dua malam berselang, waktu itu Bu Nay nay dan Ciu Tin tin sedang bersemedi didalam kamar, mendadak muncul belasan orang manusia berkerudung, ketika Ciu Tin tin berdua memburu ke depan pintu, mereka berdua sudah dikepung rapat rapat oleh kawanan manusia berkerudung tersebut.

Berhubung belasan orang itu munculnya sangat mendadak dan lagi belum diketahui apa maksud kedatangan mereka, maka Ciu Tin tin yang berbelas kasihan, menasehati Bu Nay nay agar jangan melukai orang di tempat suci itu sehingga merusak peraturan dari gurunya. Maka itulah dalam pertarungan mereka tak berani bertindak kelewat ganas dan kejam. Ditambah pula belasan orang itu hampir semuanya merupakan jago lihay kelas satu dari dunia persilatan, disaat bertarung pun mereka seakan akan lupa akan mati hidup sendiri, setelah bertarung sekian waktu, akhirnya hampir saja mereka tak mampu mempertahankan diri.

Disaat yang kritis itulah terpaksa Bu Nay nay harus bertidak keji dengan melukai salah seorang diantara mereka, sebelum dia dan Ciu Tin tin berhasil meloloskan diri dari ancaman. Mereka berdua pun segera bersembunyi ditempat kegelapan, mereka saksikan bagaimana orang orang itu turun tangan membakar kuil Sam sim an, kemudian bagaimana melemparkan orang yang terluka parah itu ke dalam lautan api.

Sebenarnya Bu Nay nay ingin keluar dari tempat persembunyiannya untuk beradu jiwa lagi namun usaha tersebut segera dicegah oleh Ciu Tin tin :

"Siapa yang berhutang, dia harus membayar, aku lihat mereka hanya manusia manusia yang diperalat untuk membunuh, apa gunanya harus membunuh mereka. Lebih baik kita catat saja hutang ini di dalam hati dan lain kali memperhitungkannya kembali dengan orang orang dari pihak Ban seng kiong.”

Saat itulah Bu Nay nay baru terpaksa menahan diri dan membiarkan orang orang itu berlalu dari sana. Ketika berbicara sampai di situ, dengan wajah keheranan Bu Im segera berseru :

“Bukankah Sim ji sinni telah menjadi salah seorang diantara Toa tongcu dari Ban seng kiong? Mengapa dia tak mampu untuk melindungi kuil Sam sim an nya sendiri?”

Ternyata Bu Nay nay harus membeberkan bagaimana Hian im Tee kun mengurus orang untuk menyaru sebagai ke empat tokoh silat tersebut kepada Bu Im. Setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya, Bu Im menjadi malu bercampur menyesal buru buru dia minta maaf kepada Bu im sin hong Kian Kim siang, rasa hormatnya terhadap Bu im sin hong dan Sim ji sinni pun segera pulih kembali seperti sedia kala. Kemudian Bu Nay nay segera bertanya kepada Bu Im :

"Apakah racun yang mengeram dalam tubuhmu telah pulih kembali? Mengapa tidak sering sering datang menjenguk kami?"

“Terima kasih banyak atas buah Tiang kim ko dari nona Ciu, kini semua racun yang mengeram di dalam tubuh siaute telah punah sama sekali. Cici, bukankah kau bisa saksikan bagaimana paras mukaku telah pulih kembali seperti sedia kala.”

Kemudian dengan kening berkerut segera sambungnya lebih jauh

:

"Sebenarnya bakat dari siaute amat terbatas, ilmu Hua lik sinkang

yang kumiliki hanya mencapai enam bagian saja sulit rasanya untuk maju selangkah lagi."

Bu im sin hong Kian Kim siang segera mendorong dengan memberi semangat dari samping :

“Lote, kau tak boleh putus asa, tiada persoalan yang sukar di dunia ini, yang penting ada niat atau tidak? Asal kau bersedia untuk berjuang lebih jauh, sudah pasti akhirnya akan sukses!"

Sementara berbicara, dengan matanya dia mengerdip ke arah Thi Eng khi, sudah jelas ucapan tersebut sesungguhnya ditujukan untuk Thi Eng khi.....

Bu Im menghela napas panjang, tiba tiba ia berkata :

"Padahal, sekalipun ilmu Hua lik sin kang yang kumiliki bisa dilatih hingga mencapai sepuluh bagian pun, tak nanti bisa menjadi nomor satu di dunia, sebaliknya kendatipun aku hanya mempunyai enam bagian tenaga murni, rasanya juga sudah merasa puas."

"Apa maksud dari perkataanmu itu?” tanya Bu Nay nay dengan perasaan heran.

“Apabila Hua lik sinkang digunakan untuk menghadapi seorang jagoan lihay yang memiliki tenaga dalam lebih sempurna, maka bila pertarungan tersebut berlangsung terlampau lama, maka yang bakal rugi adalah sipemakai ilmu Hua lik sinking itu sendiri, sebab tenaga dalamnya pasti akan punah. Atau dengan perkataan lain, ilmu Hua lik sinkang membantu yang tangguh tidak membantu yang lemah, jikalau orang yang tangguh mempelajari ilmu Hua lik sin kang ini maka keadaannya ibarat macam tumbuh sayap. Sebaliknya bila orang yang lemah mempelajari ilmu Hua lik sin kang tersebut, keadaannya ibarat memanggul bukit Thay san, bukan memperoleh keuntungan justru banyak kerugian yang akan didapatkan.”

"Kalau toh kau sudah memahami akan teori tersebut, mengapa kau harus pertaruhkan jiwamu untuk mempelajari ilmu Hua lik sinkang tersebut?"

"Teori ini baru kupahami ketika aku berhasil menguasai ilmu Hua lik sinkang, apa lagi sehabis bertarung melawan Kian cianpwe barusan, aku semakin dapat mem¬buktikan akan kelemahan dari ilmu Hua lik sinkang tersebut, jikalau secara beruntun Kian cianpwe melepaskan puluhan serangan berantai dengan sepenuh tenaga kepadaku maka lama kelamaan aku pasti tak akan mampu menghadapinya dan terakhir akan tewas juga….."

Kendatipun tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi sudah punah, namun pengetahuannya tentang ilmu silat masih tetap ada, mendadak dia menimbrung :

"Belum tentu demikian!"

Bu Im segera mendengar kalau dibalik ucapan tersebut masih ada ucapan lain, dengan girang dia segera berseru :

"Harap Thi sauhiap suka memberi petunjuk."

"Tenaga dalam Kiu coan hian kang dari Tiang pek lojin So yaya bisa digunakan secara beruntun tanpa ada tanda kehabisan tenaga mesti harus bertarung lama, jikalau bisa dikombinasikan dengan ilmu tersebut sekalipun tak bisa dikatakan tiada tandingannya dikolong langit, namun lebih dari cukup untuk melindungi diri.”

Mendengar perkataan tersebut, Bu Im hanya menghela napas saja tanpa mengucapkan sepatah katapun, tentu saja dia tak berani menyimpan harapan tersebut. Menyaksikan kecemasan Bu Im, Thi Eng khi segera berkata lebih jauh : "Boanpwe yang menyaksikan locianpwe sewaktu mengerahkan tenaga dalam tadi, kusaksikan kalau jalan darah Ing tong hiat mu mencekung ke dalam, keadaan mana menunjukkan kalau nadi Jin dan tok mu belum bisa ditembusi, itulah yang menjadi sebab utama mengapa tenaga dalammu tak bisa berkembang lebih maju."

Bu lm menjadi kagum sekali sesudah mendengar perkataan tersebut, serunya cepat :

“Pengetahuan dari Thi sauhiap benar benar sangat mengagumkan dan tertuju pada sasaran secara tepat, apakah ada cara untuk menolong keadaan seperti ini?”

Thi Eng khi menjadi lebih bersemangat untuk berbicara sehingga lupa kalau tenaga dalam sendiri telah punah, katanya dengan cepat

:

“Ilmu Pek hwe tiau yang dari partai kami dapat menyempurnakan kekurangan dari locianpwe tersebut."

Bu Im segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Bu Nay nay, dia merasa sangat terharu, namun tidak berani untuk memohon secara langsung kepada Thi Eng khi. Sambil tertawa Ciu Tin tin berkata :

"Setelah adik Eng mengucapkan sendiri hal tersebut, tentu saja dia berniat untuk membantumu Bu locianpwe!”

Sekarang Thi Eng khi baru merasakan hatinya bergetar keras, dia tahu telah salah berbicara sehingga mendatangkan kesulitan baginya. Kalau dihari hari biasa, sekalipun Ciu Tin tin tidak membuka suara pun, dia akan memenuhi keinginan dari Bu Im, tapi sekarang, tenaga dalamnya telah punah, sekalipun dia berniat, sayang kekuatannya tak ada, untuk sesaat dia menjadi tersipu sipu dan membungkam dalam seribu bahasa.

Tidak berbicara tentu saja tidak menyanggupi. Sesungguhnya kakak beradik Bu memang tidak mempunyai hubungan apa apa dengan Thi Eng khi, apalagi semua orang juga tahu kalau membantu orang untuk menembusi Jin meh dan tok meh merupakan suatu pengorbanan tenaga yang cukup besar, jarang sekali ada orang persilatan yang bersedia untuk melakukan pengorbanan tersebut. Tentu saja Bu Im berdua juga memahami akan hal ini, sehingga penolakan mana sama sekail tidak mereka pikirkan didalam hati.

Hanya Ciu Tin tin yang mengetahui kalau Thi Eng khi bukan manusia semacam itu, sehingga dia lantas menghubungkan persoalan tersebut dengan masalah lain, dia mengira Thi Eng khi masih menaruh perasaan tak senang terhadapnya sehingga sengaja membuat kesulitan baginya.

Tak ampun lagi sepasang matanya menjadi berkaca kaca dan hampir saja menangis tersedu sedu. Padahal Thi Eng khi mempunyai kesulitan yang tak bisa diutarakan dengan sedih dia berseru :

"Enci Tin!"

Ciu Tin tin yang sedang mendongkol sama sekali tidak menggubris suara panggilan tersebut. Bu Im yang paling rikuh diantara orang orang itu, dia merasa tak enak untuk berdiam terlalu lama disana, maka dengan cepat dia mengambil sebuah kotak putih dari sakunya, membuka penutup kotak tersebut dan didalamnya terdapat sebutir buah kuning sebesar mata uang dengan sembilan buah garis hijau, garis hijau tadi membagi buah tersebut menjadi sepuluh bagian. Karena gampang untuk dibedakan, lagi pula semua yang hadir di arena juga merupakan jago jago persilatan maka tanpa penjelasan dari Bu Im, semua orang sudah tahu kalau buah itu merupakan buah Hian ko yang dapat mengumpulkan kembali hawa murni yang telah membuyar.

Tak kuasa lagi semua orang segera berseru tertahan. Terutama sekali Bu im sin hong Kian Kim siang, dia paling emosi, setelah memandang sekejap ke arah Thi Eng khi yang sementara itu masih tetap bersikap tenang, hampir saja dia hendak melompat ke depan untuk merampasnya. Tapi bagaimana juga dia adalah seorang tokoh silat yang berilmu tinggi, bagaimanapun emosinya dia namun hal mana tidak sampai diutarakan keluar.

Thi Eng khi yang pernah menpelajari ilmu pertabiban, tentu saja dia juga tahu kalau buah Hian ko tersebut bisa memulihkan kembali tenaga dalam yang punah. Tapi, bagaimana mungkin dia bisa mengutarakan hal tersebut? Terpaksa dia ha¬nya membungkam diri dalam seribu bahasa. Bu Im membawa buah Hian ko itu ke hadapan Ciu Tin tin, kemudian ujarnya :

"Untuk membalas jasa atas budi kebaikan nona Tin yang telah menghadiahkan buah Tiang kim ko tersebut kepadaku, harap nona sudi menerima pembalasan budiku ini dengan buah Hian ko tersebut.”

Tentu saja Ciu Tin tin tak mau menerima kebaikan itu, dia segera menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menampik :

"Buah ini sangat langka dan berkasiat luar biasa, boanpwe tidak berani menerima kebaikan tersebut, apalagi bila locianpwe yang menelan buah tersebut akan menambah tenaga dalammu, siapa tahu tanpa bantuan dari luar pun nadi jin meh dan tok meh mu bisa ditembusi?”

"Tidak, lohu bermaksud baik dan aku telah memberikan buah ini untuk nona, justru apabila nona Tin tak mau menerima buah tersebut, lohu akan menyesal sepanjang masa," paksa Bu Im lagi dengan kukuh.

Bu Nay nay segera menerima buah Hian ko tersebut dan diberikan kepada Ciu Tin tin, katanya :

"Terimalah pemberian ini, semuanya ini tumbuh atas dasar hati yang jujur, harap nona Tin jangan menampik kebaikan orang, jika kau tak mau menerimanya, tentu aku jadi turut marah."

Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa Ciu Tin tin mengucapkan terima kasih kepada Bu Im dan menerima buah Hian ko tersebut. Pada saat itulah, sekulum senyuman baru menghiasi wajah Bu Im. Pada saat inilah mendadak Thi Eng khi mempunyai satu ingatan aneh, dia merasa apabila Ciu Tin tin sudah menelan buah Hian ko, kemudian dia mewariskan ilmu Heng kian sinkang tersebut kepadanya, mungkin gadis itu bisa menggantikan kedudukannya untuk membasmi kaum laknat dari muka bumi dan menegakkan kembali keadilan dan kebenaran bagi umat persilatan.

Seperti apa yang diketahui, dia merasa berhutang budi terhadap Ciu Tin tin maka dia berharap bisa menciptakan gadis itu sebagai seorang jagoan yang amat tangguh. Maka dia lantas berkata kepada Ciu Tin tin.

"Enci Tin, setelah kau telan buah Hian ko tersebut, siaute akan mewariskan ilmu Pek hwe tiau yang tersebut kepadamu, dengan demikian kaupun bisa membantu Bu Im cianpwe untuk menembusi Jin meh dan tok meh nya, hal ini merupakan suatu persoalan yang amat bagus sekali, cepatlah kau makan!"

Tatkala Ciu Tin tin mendengar setelah makan buah Hian ko tersebut dapat membantu Bu Im untuk menembusi Jin meh dan tok meh nya, dengan cepat hatinya tergerak. Tapi teringat bagaimana Thi Eng khi suruh dia mempelajari ilmu Pek hwe tiau yang tayhoat tersebut, sebenarnya dia merasa tak ingin mempelajarinya, sebab yang dia cintai adalah Thi Eng khi nya, bukan ilmu Pek hwe tiau yang tayhoatnya.

Karena timbul perasaan curiga, maka untuk beberapa saat dia menjadi sangsi dan tidak berani menelan buah Hian ko tersebut. Tampaknya Thi Eng khi dapat menembusi suara hati Ciu Tin tin, dengan wajah memerah dan memberanikan diri, dia segera berkata

: “Semua perkataan siaute itu muncul dari hati yang tulus, harap enci Tin suka mempercayai diriku, aku sama sekali tidak mempunyai maksud tujuan lain.”

“Lantas mengapa kau tidak turun tangan sendiri untuk menembusi jalan darah Jin meh dan tok meh dari Bu cianpwe?”

“Siaute mempunyai kesulitan yang tak bisa diutarakan, harap enci Tin jangan tanya lagi, selain itu harap jangan dulu marah kepadaku.”

Wajahnya yang bersungguh hati ketika mengucapkan perkataan itu, membuat siapa saja tak akan menaruh curiga lagi kepadanya, maka Ciu Tin tin juga tidak banyak berbicara lagi. Sekarang, sekalipun Thi Eng khi berbohong kepadanya, dia juga tak akan tidak mempercayai perkataannya.

Ciu Tin tin segera mengeluarkan buah Hian ko tersebut dan siap ditelan. Dalam keadaan demikian Bu im sin hong Kian Kim siang tak mampu menahan diri lagi. Dengan suara keras segera bentaknya : “Nona Tin, kau tak boleh makan buah Hian ko tersebut!"

Karena diutarakan dengan suara panik, maka semua orang jadi tertegun dan tidak memahami apa maksud sebenarnya. Bu Im yang pertama tama menunjukkan perasaan tak senang, serunya dengan segera :

"Kian cianpwe apakah kau menganggap di dalam buah Hian ko tersebut terdapat racunnya?"

Sebetulnya Bu im sin hong Kian Kim siang tidak mempunyai tujuan apa apa diapun tidak mempersiapkan alasan apapun, maka oleh perkataan dari Bu Im tadi, dia menjadi tertegun dan tak mampu memberi penjelasan lagi.......

Sementara itu Ciu Tin tin sudah berkata sambil tertawa : "Boanpwe tidak takut obat beracun!”

Dengan cepat dia memasukkan buah Hian ko tersebut ke dalam mulutnya,,...

Dengan parasaan cemas, sekali lagi Bu im sin hong Kian Kim siang berseru :

“Cepat kau tumpahkan keluar buah itu!"

Ciu Tin tin bukannya memuntahkan buah tadi sebaliknva sambil tertawa malah menelan buah Hian ko tersebut ke dalam perut. Bu im sin hong Kian Kim siang menyaksikan peristiwa tersebut menjadi sangat gusar, dia segera menampar wajah Thi Eng khi sambil mengumpat :

“Bedebah! Sebenarnya kau sedang bermain gila apa?"

Thi Eng khi yang kena ditampar oleh Bu im sin hong Kian Kim siang itu hanya bisa meraba wajahnya sambil tertawa getir :

“Kian tua, siaute mempunyai rencana lain, harap kau jangan marah marah ”

Tapi Bu im sin hong Kian Kim siang hanya bisa mencaci maki tiada hentinya dengan perasaan gusar. Ciu Tin tin menjadi kebingungan menyaksikan peristiwa tersebut, segera tegurnya : “Kian locianpwe, sebenarnya kesalahan apakah yang diperbuat adik Eng? Mengapa membuat kau orang tua marah marah besar?”

Bu im sin hong Kian Kim siang melotot sekejap ke arah Ciu Tin tin dengan gusar, lalu serunya mendongkol :

“Kau benar benar telah menelan buah Hian ko tersebut?"

Pertanyaan tersebut sesungguhnya suatu pertanyaan yang berlebihan, karena di dalam gusarnya dia hanya bisa mengajukan pertanyaan itu saja.....

“Boanpwe toh tidak dapat melakukan permainan sulap? Tentu saja sudah kutelan,” jawab Ciu Tin tin.

Bu im sin hong Kian Kim siang benar benar merasa amat putus asa, dia tak mampu bertindak lain kemudian menghentakkan kakinya ke atas tanah sambil menghela napas. Thi Eng khi yang menyaksikan hal ter¬sebut, sambil tersenyum dia lantas berkata :

"Harap Kian tua suka membantunya agar dia dapat menghisap semua sari dari Hian ko itu secepatnya!”

Bu im sin hong Kian Kim siang segera menengok ke arah Ciu Tin tin, kemudian serunya dengan dingin :

"Cepat bersila dan atur napas, lohu akan membantumu!”

Ciu Tin tin memandang sekejap ke arah Thi Eng khi, ketika dilihatnya paras muka si anak muda itu diliputi emosi, dia tidak berbicara lagi dan segera menurut untuk duduk bersila mengatur pernapasan. Bu im sin hong Kian Kim siang segera menempelkan telapak tangannya ke atas jalan darah Pek hwee hiat ditubuh Ciu Tin tin, tenaga dalam yang amat sempurna pun segera mengalir masuk ke dalam tubuh gadis tersebut.

Waktu itu Jin meh dan tok meh dari Ciu Tiu tin sudah tembus apalagi memperoleh bantuan tenaga dalam dari Bu im sin hong, tidak selang berapa saat kemudian dia telah berhasil menghisap semua intisari buah Hian ko tersebut ke dalam tubuhnya sehingga membuat hawa murninya memperoleh kemajuan yang amat pesat. Thi Eng khi yang menyaksikan Ciu Tin tin berhasil mendapatkan penemuan tak terduga itu turut merasa gembira, hatinya terasa terhibur sekali atas keberhasilannya untuk memenuhi harapan hatinya. Tidak selang berapa saat kemudian, mereka berdua segera menarik kembali tenaga masing masing.

Akan tetapi paras muka Bu im sin hong Kian Kim siang masih saja diliputi oleh perasaan tak senang. Menyaksikan hal ini, Ciu Tin tin segera bertanya :

“Locianpwe, apakah kau benar benar masih marah dengan diri boanpwe?”

Bu im sin hong Kian Kim siang menghela napas panjang. “Aaaai, aku sedang marah kepada adik Eng mu itu!” sahutnya. “Kesalahan apakah yang telah dilakukan oleh adik Eng sehingga

membuat kau menjadi gusar sekali?"

"Adik Eng mu telah melakukan suatu perbuatan yang tidak bertanggung jawab terhadap dunia persilatan."

Ciu Tin tin menjadi tertegun, serunya kemudian : "Aaaah, masa sedemikian seriusnya?"

Dengan sorot mata yang tajam dia segera mengawasi wajah Thi Eng khi, kemudian ujarnya dengan wajah bersungguh sungguh :

"Adik Eng! Sebenarnya kau telah melakukan perbuatan tidak bertanggung jawab apa?"

Tentu saja Thi Eng khi menjadi rikuh untuk memberi penjelasan, dia hanya menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas, tak sepatah kata pun yang diutarakan. Ciu Tin tin merasakan hatinya hancur dan remuk rendam, mendadak dia menutupi wajah sendiri dan menangis tersedu sedu.

Bu im sin hong menjadi gugup setelah melihat gadis itu menangis, serunya sambil menghentakkan kakinya berulang kali :

“Aaaai. aku toh belum menyelesaikan perkataanku!" Ciu Tin tin segera mengangkat kepalanya lagi untuk mendengarkan perkataan dari Bu im sin hong Kian Kim siang lebih jauh. Sebenarnya Thi Eng khi ingin mencegah Bu im sin hong Kian Kim siang untuk membeberkan kalau tenaga dalamnya telah punah, tapi setelah berpikir lebih jauh, apalagi sejak kini diapun akan berkumpul dengan Ciu Tin tin, bila akhirnya rahasia tersebut sampai terbongkar, justru keadaannya akan bertambah rikuh maka dia pun membiarkan Bu im sin hong berkata lebih jauh.

Setelah menghela napas panjang, Bu im sin hong Kian Kim siang baru berkata :

"Aaaai, sebetulnya tenaga dalam yang dimiliki adik Engmu sudah punah, ia justru sangat membutuhkan buan Hian ko tersebut untuk memulihkan kembali tenaga dalamnya!”

Ucapan tersebut bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong saja, kontan membuat semua orang merasa terkesiap. Sekarang Bu Im dan Bu Nay nay baru mengerti apa sebabnya Thi Eng khi tidak bersedia membantu Bu Im untuk menembusi jalan darah Jin meh dan tok meh nya. Ternyata penolakan tersebut bukan dikarenakan si anak muda tersebut tak mau membantu orang lain, sebaliknya karena dia sudah tidak berkemampuan lagi, hal mana menunjukkan kalau dia telah salah menuduh anak muda tersebut.

Ciu Tin tin yang paling sedih dan menyesal, untuk sesaat dia menjadi tertegun seperti orang yang kehilangan pikiran, lama kemudian ia baru menarik tangan Thi Eng khi sambil menangis tersedu sedu serunya :

"Kau...mengapa tidak kau katakan sejak tadi? Aku...aku benar benar amat menyesal!”

Sembari terisak dia segera menjatuhkan diri ke dalam pelukan Thi Eng khi. Sementara itu, sikap Thi Eng khi masih tetap tenang seperti air dengan suara yang lembut katanya:

"Enci Tin, kau jangan bersedih hati, kedatangan siaute ke puncak Sam yang hong pun tanpa mengetahui jika disini akan bertemu dengan buah Hian ko tersebut, jadi ada tidaknya buah Hian ko sama sekali di luar perhitungan kami, padahal soal pulih tidaknya tenaga dalam siaute sudah ada perhitungan lain, jadi bukan berarti sama sekali tiada harapan lagi, kau harus menguatkan hati dan membantu siaute untuk melepaskan diri dari kesulitan ini!”

Tadi Ciu Tin tin menjatuhkan diri ke dalam pelukan Thi Eng khi, hal ini dilakukan oleh dorongan emosi, sekarang setelah perasaannya menjadi tenang kembali, tim¬bul perasaan rikuh dalam hatinya, maka dengan wajah merah dia mendorong tubuh si anak muda tersebut dan berseru dengan mendongkol :

"Siapakah yang telah mencelakai dirimu sehingga kehilangan tenaga dalam? Aku tidak akan mengampuni orang tersebut dengan begitu saja !”

“Aku rasa kau tak akan berani mengusik orang itu!" kata Bu im sin hong Kian Kim siang sambil tertawa.

"Hmmm, sekalipun sri Baginda sendiripun, aku tetap akan menghadiahkan sebuah pukulan ke tubuhnya!"

Dengan wajah serius, Bu im sin hong Kian Kim siang segera berkata :

"Orang yang melukai adik Eng mu itu bukan orang lain, dia adalah Hian im Tee kun, si gembong iblis yang menganggap sudah tiada tandingannya dikolong langit!”

Mendengar perkataan itu, semua orang menjadi tertegun dan berdiri melongo. Secara ringkas Bu im sin hong Kian Kim siang segera menceritakan bagaimana Thi Eng khi bertarung melawan Hian im Tee kun. Dia pun bercerita bagaimana dalam keadaan luka parah, Thi Eng khi mengorbankan tenaga dalamnya untuk menggertak mundur Hian im Tee kun demi menyelamatkan jiwa para jago silat yang hadir disitu.

Mendengar kesemuanya itu, Ciu Tin tin berhenti menangis tapi air matanya masih mengembang dalam kelopak matanya, ditatapnya wajah si anak muda itu dengan termangu, kemudian serunya gemetar :

"Adik Eng! Adik Eng!" Untuk sesaat lamanya dia sampai tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Bu Nay nay serta Bu Im juga berdiri dengan wajah serius, terhadap Thi Eng khi pun mereka menaruh sikap yang jauh lebih hormat dan kagum...

Sambil tertawa hambar Thi Eng khi segera berkata : "Kejadian yang sudah lewat biarkan saja lewat kita tak usah

membicarakannya lagi justru siaute merasa malu dan menyesal karena tak mampu membunuh Hian im Tee kun, sekarang siaute mempunyai suatu permintaan dan mohon persetujuan dari enci Tin, apakah enci Tin bisa menyetujuinya?"

"Apa yang kau katakan pasti akan enci Tin turuti, nah katakanlah

...!” ujar Ciu Tin tin dengan suara amat pedih.

Thi Eng khi termenung sejenak, kemudian ujarnya dengan suara amat nyaring :

"Sebelum tenaga dalam yang siaute miliki pulih kembali, harap enci Tin suka memikirkan keselamatan umat persilatan di dunia ini dengan memikul tanggung jawab untuk mengendalikan ulah dan kebuasan dari Hian im Tee kun!”

“Asalkan aku mempunyai kemampuan tersebut, permintaanmu itu pasti akan kukabulkan!” jawab Ciu Tin tin tegas.

“Enci Tin tak usah kuatir, kau telah makan buah Hian ko, maka tidak sulit bagimu untuk melatih diri dan memiliki kepandaian sakti untuk menaklukkan Hian im Tee kun!”

Ciu Tin tin termenung sambil berpikir sejenak, kemudian serunya keras :

"Adik Eng, rupanya kau memang bermaksud untuk membantuku!”

Thi Eng khi tidak menjawab, namun sekulum senyuman dengan cepat menghiasi raut wajahnya, dia berpaling ke Bu im sin hong Kian Kim siang dan berkata :

"Kian tua, lebih baik kau saja yang membawaku turun ke bawah!" Bu im sin hong Kian Kim siang memandang sekejap ke arah Bu Nay nay dan Bu Im tanpa menjawab, dia pun tidak membopong Thi Eng khi, jelas terlihat kalau dia masih sangsi. Tentu saja Thi Eng khi mengetahui sebab musabab keraguan dari Bu im sin hong Kian Kim siang tersebut, mungkin dia masih teringat dengan pesan Cu sim ci cu Thio Biau liong yang melarang untuk membocorkan tempat pertapaannya itu kepada orang lain, maka dia pun enggan mengajak dua bersaudara Bu untuk turut memasuki gua tersebut. Maka katanya kemudian sambil tertawa :

“Siaute adalah majikan baru dari gua tersebut, tentu saja aku berhak untuk menerima tamuku. Kian tua, kau tak usah kelewat kolot lagi, harap membawa aku turun ke dalam gua!"

Kemudian sambil berpaling ke arah dua bersaudara Bu, terusnya

:

“Di dalam sumur Cu sim cing adalah gua pertapaan dari Cu sim ci

cu Thio Biau liong, silahkan locianpwe berdua ikut masuk ke dalam dan menjadi tamu agung dari boanpwe."

Mula mula dua bersaudara Bu itu menunjukkan paras kejut bercampur gembira, menyusul kemudian mereka berbisik bisik merundingkan sesuatu sampai setengah harian lamanya, dan akhirnya Bu Nay nay menggelengkan kepalanya seraya berkata :

"Biarlah maksud baik sauhiap, aku si nenek dan adikku menerima di dalam hati saja, biar kami melindungi mulut sumur ini dari atas !”

Thi Eng khi tahu kalau kedua orang tua ini berusaha untuk menghilangkan kecurigaan orang, maka ujarnya kemudian kepada Ciu Tin tin sambil tertawa :

"Enci Tin, kau pun terhitung separuh majikan, tamu yang tak mampu diundang oleh siaute terpaksa harus mohon bantuanmu."

Ketika Ciu Tin tin mendengar Thi Eng khi menyebutnya sebagai separuh majikan bahkan segala maksud dan arti yang mendalam tersimpul di dalam kata kata tersebut, kontan saja raut wajahnya berseri seri, kepada Bu Nay nay katanya kemudian dengan manja :

"Bila Nay nay tak mau pergi, Tin ji pun tidak akan turut turun kebawah!” Setelah melihat kesungguhan hati dari Thi Eng khi dan Cui Tin tin, sedang dia pun tak ingin tidak mengurusi si nona, akhirnya dia pun manggut manggut. Maka Bu im sin hong Kian Kim siang membopong tubuh Thi Eng khi masuk lebih dahulu ke dalam gua Cu sim cing dan membuka pintu rahasia, kemudian menyambut kedatangan Ciu Tin tin sekalian masuk ke dalam lorong tersebut, setelah menutup pintu barulah mereka bersama sama melangkah turun kebawah lorong.

Setiap sepuluh langkah dalam lorong rahasia itu terdapat sebutir mutiara Ya beng cu sebagai penerangan, lebih kurang setelah berjalan satu jam lebih, sampailah mereka didasar lorong itu.

Dengan pengalaman dari Thi Eng khi dan Bu im sin hong Kian Kim siang berdua, seharusnya mereka sudah sampai di pintu depan ruangan batu bawah tanah. Terutama sekali Bu im sin hong Kian Kim siang, sewaktu keluar dari gua tempo hari, dia telah memperhatikan daerah di sekeliling tempat itu dengan seksama.

Tapi sekarang, bagaimanapun mereka telah berusaha untuk mencari pintu gua itu, nyatanya gua tersebut belum berhasil juga ditemukan.

Tapi, pada saat ini ternyata mereka tak berhasil menemukan pintu masuk menuju ke dalam gua itu. Sampai setengah harian lamanya ke dua orang itu mencari, namun mulut gua belum juga ditemukan, kejadian ini dengan cepat membuat Thi Eng khi maupun Bu im sin hong Kian Kim siang berdua menjadi kebingungan setengah mati.

Namun dibawah lorong sana masih terdapat jalan tembus menuju ke bawah, bahkan nampaknya masih cukup panjang. Terpaksa Bu im sin hong Kian Kim siang dan Thi Eng khi harus berjalan lebih ke bawah mengikuti lorong tersebut.

Entah berapa saat kemudian mendadak semua orang mengendus bau udara segar, mereka lantas mempercepat langkah kaki nya dan tembus di mulut gua yang lain. Keluar dari gua itu, tampak bintang bertaburan di angkasa, kabut malam menyelimuti permukaan tanah, ternyata mereka sudah tiba didasar lembah dimana Bu im sin hong Kian Kim siang tersekap dulu.

Sungguh aneh sekali, padahal mereka belum melalui kamar rahasia dari Cu sim ci cu Thio Biau liong, bagaimana mungkin bisa tiba didasar lembah tersebut?

Kemana perginya ruang rahasia dari Cu sim ci cu Thio Biau liong. ?

Persoalan tersebut hanya bisa dipecahkan mereka dengan satu jawaban yakni ada orang lain yang berhasil pula menemukan rahasia dari gua tersebut, kemudian menggunakan alat rahasia di dalam gua untuk merubah lorong rahasia di dalam sini sehingga mereka tak berhasil menemukan ruang rahasia tersebut, melainkan tiba didasar lembah. Maka Bu im sin hong Kian Kim siang membalikkan badan dan segera lari menuju ke jalan semula.

Tak selang berapa saat kemudian, tampak dia berjalan kembali lagi dengan wajah murung dan sedih. Tidak menanti sampai dia membuka suara, Thi Eng khi telah menegur dengan wajah serius :

"Kian tua, apakah kau telah menyaksikan kalau jalan tembusnya sudah hilang?”

"Darimana kau bisa tahu?”

“Aku hanya menduga saja, kalau toh ada orang yang membohongi kita turun, tentu saja orang itu tidak akan membiarkan kita pergi dari tempat ini. "

Bu im sin hong Kian Kim siang segera memhela napas sedih. "Aaaai, sudah puluhan tahun lamanya lohu tersekap di dalam

lembah ini, sungguh tak kusangka kalau memang beginilah nasibku, akhirnya aku toh menceburkan diri lagi ke dalam perangkap alam ini.”

Ciu Tin tin segera menghibur semua orang, katanya : “Aku lihat kalian tak usah gelisah lebih dulu, tunggu saja sampai terang tanah nanti, kita baru pelan pelan mencari akal untuk mengatasi persoalan ini!"

Mendadak dia teringat akan satu hal segera tanyanya kepada Thi Eng khi :

"Adik Eng, sewaktu kau masuk ke dalam gua tempo hari bagaimana caramu menemukan pintu gua tersebut?"

Otak Thi Eng khi sesungguhnya tidak lebih lamban daripada Ciu Tin tin, setelah mendengar pertanyaan tersebut, dia pun segera memahami maksud hatinya, maka sahutnya kemudian dengan kening berkerut :

"Siaute berhasil menemukan cara keluar dari gua tersebut melalui selembar peta situasi gua yang terdapat disana, waktu itu kami ingin cepat cepat meninggalkan gua sehingga tak sempat mempelajari seluruh situasi dengan lebih seksama, mungkin hanya akan mengecewakan enci Tin saja ”

“Tak ada salahnya untuk dicoba, siapa tahu kalau kita akan berhasil menemukan sesuatu?”

"Moga moga saja demikian!"

Ciu Tin tin itu segera membimbing Thi Eng khi menuju ke belakang tebing yang bisa digunakan untuk berteduh dari hujan dan angin, kemudian membenahi tempat tersebut untuk tempat tidur sang pemuda tersebut. Sebab tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi sekarang telah punah, ia sudah tidak berkemampuan lagi untuk melawan hawa dingin, maka dilepasnya jubah luar dan ditutupkan diatas badan Thi Eng khi, sementara dia sendiri duduk disisinya.

Sambil duduk bersila untuk mengatur napas, telapak tangannya ditempelkan ke atas ubun Thi Eng khi dan pelan pelan menyalurkan hawa murninya untuk membantu Thi Eng khi mengusir hawa dingin. Berada dalam keadaan seperti ini, Thi Eng khi tentu saja tak bisa tidur, disamping memikirkan kebaikan dan kasih sayang Ciu Tin tin kepadanya selama ini dia pun teringat akan perbuatan perbuatannya selama ini yang telah membuatnya sedih. Disamping itu juga dia berusaha untuk mengingat ingat kembali peta situasi yang pernah dilihat dalam gua tersebut tapi akhirnya dia tak berhasil menemukan apa apa, bahkan fajar pun sudah mulai menyingsing....

Saking lelahnya pula, tanpa terasa pemuda itu pun terlelap tidur dengan nyenyaknya. Menanti dia sadar kembali, siang hari telah menjelang tiba. Kabut didalam lembah tersebut sangat tebal, sinar matahari sukar untuk menembusi tempat itu, namun didasar lembah ini pun tidak terlampau gelap, hanya tak akan secerah diatas bukit sana.

Selama ini, Ciu Tin tin berada di sisi Thi Eng khi terus tanpa bergeser, maka menyaksikan si anak muda itu bangun dari tidurnya, sambil tertawa dia lantas menegur:

"Adik Eng, kau sudah berpikir semalaman apakah berhasil menemukan sesuatu gejala?”

Hanya Thian yang tahu apa saja yang telah dipikirkan Thi Eng khi sepanjang malam, tanpa menjawab dia hanya tertawa dan menggelengkan kepelanya berulang kali. Sementara itu Bu im sin hong Kian Kim siang telah berjalan mendekat dari luar sana, begitu sampai dia lantas berkata :

"Saudara cilik, aku sudah melakukan pencarian hampir setengah harian lamanya dibelakang batu besar dimana pintu gua itu terdapat, kenyataannya gua kecil itu tak kutemukan, nampaknya kita benar benar sudah terkurung di sini."

Thi Eng khi melakukan pencarian lagi dibantu yang lain, namun hasilnya nihil, pintu tersebut belum juga ditemukan. Terpaksa mereka harus mencari sebuah gua dan berdiam untuk sementara waktu disana, sambil berusaha terus untuk menemukan gua pintu masuk menuju tempat pertapaan Thio Biau liong. Thi Eng khi pun mencoba untuk memahami situasi dalam gua dan mewariskan ilmu Sian thian bu khek ji gi sinkang dari Thian liong pay dan heng kian sin kang dari Thio Biau liong kepada Ciu Tin tin. Sebelum Thi Eng khi berhasil menemukan sesuatu cara untuk memasuki gua itu, ilmu Sian thian bu khek ji gi sinkang dan Heng kian sinkang yang dipelajari Ciu Tin tin sudah mencapai beberapa bagian kesempurnan.

Sebagaimana diketahui Ciu Tin tin memang memiliki bakat alam yang sangat baik, ditambah lagi nadi jin meh dan tok meh nya sudah tembus, dibantu lagi oleh pengaruh Hian ko, keberhasilan dari Ciu Tin tin sekarang boleh dibilang sama sekali diluar dugaan. Dalam waktu singkat tiga bulan sudah lewat, ilmu Heng kian sin kang dari Ciu Tin tin pun telah memperoleh kemajuan yang amat pesat, keberhasilannya sekarang boleh dibilang hanya selisih dua bagian saja daripada tenaga dalam yang pernah dimiliki Thi Eng khi sebelum lenyap dahulu.

Tapi kesempurnaan yang dimiliki sekarang sudah cukup membuat orang merasa terkejut bercampur kagum. Sebaliknya bagi Thi Eng khi sendiri, waktu selama tiga bulan ini benar benar telah terbuang dengan percuma, bukan saja usahanya untuk memulihkan kembali tenaga dalamnya tidak memperoleh kemajuan apa apa, bahkan berhubung dia harus mengajarkan ilmu silatnya kepada Ciu Tin tin, kelelahan yang melampaui batas membuat tubuhnya makin lama semakin lemah, membuat setiap orang menjadi kuatir.

Ciu Tin tln sendiripun cukup mengetahui akan hal tersebut, namun kuatir akan mempengaruhi perasaan Thi Eng khi, maka rasa murung dan sedihnya tak pernah diperlihatkan dengan terus terang, seringkali dia hanya menangis bila tiada orang lain.

Sementara semua orang merasa bingung dan murung, siapa pun tak ada yang menyangka kalau buah cemara yang mereka makan selama ini sebetulnya memiliki kasiat khusus terhadap kesehatan badan Thi Eng khi. Dengan mengandalkan buah cemara ini lah, Bu im sin hong Kian Kim siang telah mempertahankan hidupnya selama puluhan tahun lebih, sesungguhnya dia sendiri telah melupakan kasiat dari buah cemara itu, sesungguhnya hal ini boleh dibilang amat tragis. Hari ini, setelah selesai melatih ilmu Heng kian sinkang nya seorang diri, Ciu Tin tin berdiri sambil menengok gua pertapaan dari Thio Biau liong itu dengan pandangan termangu mangu. Kemudian, entah sejak kapan tiba tiba saja dia sudah hilang lenyap tak berbekas.

Waktu itu tiada orang yang menaruh perhatian kepadanya, sebab selama beberapa waktu ini semua orang sedang sibuk melatih ilmu silat masing masing, maka satu dua jam tidak nampak batang hidung seseorang, boleh dibilang hal mana merupakan suatu kejadian yang lumrah.

Kabut makin lama semakin bertambah tebal, tak lama kemudian haripun menjadi gelap. Namun Ciu Tin tin belum juga nampak disana, saat itulah semua orang baru merasa gelisah. Mula mula mereka mencari dahulu diseluruh dasar gua, namun tidak nampak juga jejak Ciu Tin tin. Menyusul kemudian mereka mulai berpikir kearah yang jelek : Jangan jangan Ciu Tin tin telah disergap oleh pendatang dalam gua dan kini tersekap dalam gua tersebut?

Sebab cara berpikir semacam ini memang kemungkinan besar bisa berubah menjadi suatu kenyataan. Rasa murung dan kuatir yang amat tebal akhirnya membangkitkan rasa marah dihati masing masing. Dengan penuh kegusaran Bu im sin hong Kian Kim siang segera menghantam ke atas batu besar didepan mulut gua itu keras keras.

Apa yang sebenarnya telah terjadi?

Rupanya sewaktu Ciu Tin tin sedang berlatih ilmu Heng kian sinkang tadi, tanpa disengaja dia menyaksikan ada sesosok bayangan putih menyelinap ke belakang batu besar di depan pintu gua pertapaan Thio Biau liong kemudian lenyap tak berbekas.

Menanti dia menyusul ke depan gua besar tersebut, tak sesosok bayangan pun yang terlihat lagi. Dia merasa agak curiga, jangan jangan saking tegangnya pikiran ketika itu sehingga timbul suatu pemandangan yang bukan bukan. Maka setelah berdiri termangu mangu beberapa saat didepan batu besar itu, akhirnya dia menghela napas panjang, dan siap membalikkan badan untuk meninggalkan tempat itu.

Mendadak dari bawah tanah sana berkumandang suara nyaring disusul munculnya sebuah kejadian aneh. Rupanya pada dinding batu setinggi dua depa, dimana menurut Thi Eng khi dan Bu Iim sin hong Kian Kim siang sebagai letak mulut gua tersebut tahu tahu melesak ke dalam dan muncul sebuah gua kecil.

Ciu Tin tin ragu sejenak, untuk sesaat dia tak tahu haruskah masuk sambil menyerempet bahaya ataukah memanggil semua orang untuk masuk bersama sama?

Pada saat itulah, dari balik mulut gua tersebut muncul sebuah tangan kecil berwarna putih yang menggapai ke arahnya. Atas kejadian mana, Ciu Tin tin tidak sangsi lagi, dia segera meluncur masuk ke dalam gua kecil itu. Ternyata dalam gua itu terdapat sebuah ruang besar yang lebar dan luas serta terang benderang bagaikan ditengah hari saja.

Apa yang disaksikan olehnya sekarang, memang persis dengan apa yang dituturkan oleh Thi Eng khi. Di dalam girangnya dia lantas membalikkan badan siap memberitahukan berita gembira ini kepada Thi Eng khi sekalian, siapa tahu apa yang kemudian terlihat membuat hatinya amat terperanjat. Ternyata mulut gua yang kecil tadi, kini sudah hilang lenyap tak berbekas.

Sebaliknya terdapat sepasang monyet kecil berbulu putih sedang menjura dihadapannya dengan amat hormat, kesemuanya ini membuat hatinya menjadi amat keheranan. Kemudian, dia memahami akan hal tersebut, segera gadis itu menduga kalau bayangan putih yang tarlihat olehnya tadi sudah pasti salah satu diantara mereka. Kalau toh mereka dapat membuka pintu untuk mengundangnya masuk, tentu saja dapat pula membukakan pintu untuk mengundang kedatangan Thi Eng khi sekalian.

Ciu Tin tin tidak tahu apakah mereka mengerti ucapan manusia atau tidak, maka katanya pelan pelan : "Bukakan pintu gua, aku akan mengundang teman temanku untuk masuk kemari!”

Siapa tahu sepasang monyet putih itu seperti mengerti maksud perkataannya, mereka goyangkan tangannya berulang kali, berteriak dan melompat lompat. Jelas mereka seperti hendak menyampaikan sesuatu kepada gadis tersebut. Sayang sekali nona tersebut tidak mengetahui apa yang dimaksudkan oleh kera kera itu.

Lama kelamaan Ciu Tin tin menjadi gelisah sekali, teriaknya keras keras :

"Cepat membuka pintu gua!”

Di samping itu, dia sudah bersiap sedia turun tangan untuk membekuk salah satu diantara monyet monyet itu dan memaksa nya untuk membukakan pintu gua.

Ketika monyet monyet putih itu menyaksikan hawa amarah sudah menyelimuti wajah Ciu Tin tin, mereka nampak semakin gelisah lagi hingga mencak mencak tak karuan sambil berlari menghampiri gadis itu, mereka menarik ujung baju si nona dan menyeretnya masuk ke dalam gua.

Ciu Tin tin memang seorang gadis yang cerdik, dengan cepat dia menyadari kalau tingkah laku monyet monyet putih itu pasti mempunyai maksud tertentu maka dia urungkan niatnya untuk memaksa mereka membukakan pintu dan berjalan menuju ke dalam sebuah ruangan batu kecil.

Diatas langit langit ruangan tersebut terdapat sebutir Ya beng cu sehingga ruangan tersebut menjadi terang benderang. Ruangan itu kosong melompong tiada sesuatu benda apapun tapi diatas dinding ruangan yang mengelilingi ruangan tersebut terukir beribu ribu patah tulisan yang kecil kecil.

Sepasang monyet putih itu berkaok kaok tiada hentinya, kemudian salah seekor di antaranya melompat dan menuding kearah sebuah huruf yang tertera diatas dinding tersebut, kemudian menuding huruf yang lain secara bergantian. Dengan cepat Ciu Tin tin menyadari apa gerangan yang sebenarnya terjadi, rupanya monyet monyet itu tak pandai berbicara namun bisa menggunakan huruf untuk menyampaikan maksud hatinya, dari sini bisa diketahui betapa pintarnya monyet monyet itu, tapi yang hebat tentu saja pemilik monyet tersebut, karena nyatanya ia bisa mendidik mereka untuk mengenal tulisan.

Ketika Ciu Tin tin berhasil merangkai tulisan yang ditunjuk monyet tersebut, maka terbacalah kalimat tersebut sebagai berikut :

“Kami bernama Siau soat dan Siau pek, yang mempunyai tahi lalat merah di telinga sebelah kiri bernama Saiu soat, yang bertahi lalat merah di telinga sebelah kanan bernama Siau pek.”

“Majikan tua telah meninggalkan pesan agar kami menjaga gua ini, bila dikemudian hari ada yang berhasil mempelajari Ilmu Heng kian sinkang, dialah majikan baru dari gua dan kami berdua.”

"Kau pandai ilmu Heng kian sinkang, kau adalah majikan baru kami semua "

Sesudah memahami maksud hati mereka, dengan cepat Ciu Tin tin menggoyangkan tangannya berulang kali sambil berseru :

"Aku tak bisa terhitung sebagai majlkan baru gua ini, majikan baru kalian adalah adik Eng!”

Siau soat kembali menunjuk huruf huruf diatas dinding dan merangkainya lagi menjadi sebuah kalimat :

"Bukan kau yang memasuki gua ini tempo hari?”

Ciu Tin tin segera tertawa :

“Benarkah aku atau bukan, masa kalian tak tahu? Kalian sedang menjaga gua apa?”

Siau pek dan Siau soat segera menggaruk garuk mukanya, setengah harian lamanya dia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Kembali Ciu Tin tin mendesak lebih jauh :

"Apakah kalian telah mencuri bermain ke luar?" Siau pek segera mendorong dorong Siau soat, agaknya dia menyuruh Siau soat yang menjawab. Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Siau soat menuding huruf huruf diatas dinding dan merangkainya menjadi satu kalimat :

"Tempo hari kami sedang mengejar seekor kelinci, tatkala balik kembali baru kuketahui kalau ada orang yang telah berkunjung kemari dan berhasil mempelajari ilmu Heng kian sinkang. Maka kami pun menunggu sampai majikan balik kembali."

Selama ini mereka selalu menyebut Ciu Tin tin sebagai majikan.

Ciu Tin tin segara bertanya :

"Kalau toh kalian sedang menunggu kami, mengapa tidak melepaskan kami masuk sedari tadi?"

Siau soat menuding huruf dan menjawab :

"Sebab pada waktu itu majikan tidak menggunakan ilmu Heng kian sinkang, maka kami tidak tahu kalau majikan telah kembali."

"Aku sudah tiga bulan lamanya berlatih ilmu Heng kian sinkang dalam lembah ini,apakah sampai hari ini kalian baru mengetahuinya?" seru Ciu Tin tin dengan mendongkol.

Melihat Ciu Tin tin marah, cepat cepat Siau soat menuding huruf dan menjawab :

"Majikan tua telah berpesan, kami hanya boleh keluar dari gua ini setiap sepuluh tahun sekali, dihari hari biasa dilarang berada di luar, harap majikan jangan marah.”

“Mengapa hanya mengijinkan kepada kalian untuk keluar dari gua setiap sepuluh tahun sekali?”

Kali ini monyet putih itu tidak menuding huruf lagi, mereka hanya menggelengkan kepalanya berulang kali sebagai tanda kalau tidak mengetahui sebab musabab yang sebenarnya. Ciu Tin tin juga tidak mendesak lebih jauh tapi dia menerangkan kepada mereka kalau Thi Eng khi lah yang berkunjung ke sini tempo hari, karena terkena pukulan orang jahat sehingga kehilangan tenaga dalam maka ilmu Heng kian sinkang tersebut diwariskan kepadanya, itulah sebabnya Thi Eng khi lah yang seharusnya disebut majikan baru dari gua ini. Sepasang monyet kecil itu bercuit cuit beberapa lama setelah mendengar perkataan dari Ciu Tin tin itu, akhirnya mereka menerima usul dari Ciu Tin tin untuk menyambut Thi Eng khi masuk ke dalam gua. Namun mereka pun bersikeras untuk menjaga peraturan dari majikan tua dan melarang mereka yang tidak mempelajari ilmu Heng kian sinkang untuk memasuki gua dimana jenasah majikan tuannya tersimpan.

Ketika Ciu Tin tin menyaksikan monyet monyet itu begitu lincah, bahkan amat setia terhadap majikan tuanya, terpaksa dia mengabulkan dan bersama sama keluar dari gua untuk menyambut kedatangan dari Thi eng khi sekalian.

Sementara itu malam yang gelap sudah tiba diluar gua, tampak diluar gua tempat tinggal Thi Eng khi terdapat sebuah api unggun besar, ditengah api unggun nampak bayangan manusia berkelebat kesana kemari, seakan akan telah terjadi suatu peristiwa besar. Agar orang lain tahu kalau dia sudah kembali, Ciu Tin tin berpekik nyaring lebih dulu, kemudian baru mengajak Siau pek dan Siau soat mendekati gua tersebut.

Munculnya kembali Ciu Tin tin disana seharusnya disambut semua orang dengan gembira. Tapi rasa girang diwajah orang orang itu hanya terlintas sebentar saja kemudian lenyap kembali, bahkan wajah semua orang diliputi oleh rasa murung dan sedih yang amat tebal. Ciu Tin tin menjadi terkesiap, dia seperti memperoleh firasat jelek, kepada Bu Nay nay segera tegurnya :

"Nay nay, apa yang telah terjadi?"

"Kau telah pergi ke mana?” Bu Nay nay balik bertanya.

Kemudian tidak menanti Ciu Tin tin menjawab, sambil menggelangkan kepala dia sudah menambahkan :

"Agaknya Thi sauhiap sudah tak bisa dipertahankan lagi!"

Ciu Tin tin menjadi terperanjat setengah mati hingga paras mukanya berubah menjadi pucat pias, dengan cepat dia meluncur masuk ke dalam gua. Tampak paras muka Thi Eng khi berubah menjadi merah padam seperti orang mabuk, napasnya lemah dan udara yang keluar lebih banyak daripada yang masuk.

Dalam kagetnya Ciu Tin tin segera menempelkan telapak tangannya di atas pusar si anak muda itu, kemudian mengerahkan hawa murninya dan menyalurkan ke tubuh Thi Eng khi. Tenaga dalam yang dimiliki Ciu Tin tin saat ini amat sempurna, orang yang hampir mati pun nyawanya akan diserobot separuh bila berhasil disaluri hawa murninya.

Namun Thi Eng khi sama sekali tidak bereaksi atas saluran hawa murni yang menyusup ke dalam tubuhnya itu. Bukan saja Thi Eng khi tidak nampak berubah malahan Ciu Tin tin merasakan hawa murninya yang disalurkan ke dalam tubuh si anak muda itu seakan akan batu besar yang tercebur di tengah samudra saja, lenyap tak berbekas dengan begitu saja. Tujuan Ciu Tin tin sekarang hanyalah menolong orang, dia tidak ambil perduli apakah harus menderita rugi dalam tenaga dalamnya atau tidak, segera disalurkan hawa murni tiada hentinya ke dalam tubuh si anak muda tersebut.

Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan kejadian itu, dengan wajah lesu segera memperingatkan :