Pukulan Naga Sakti Jilid 32

 
Jilid 32

Dari ucapan mana bisa disimpulkan bahwa bukan orang yang berkhianat saja yang akan dijatuhi hukuman mati, bahkan semua orang yang berada bersamanya akan turut mengalami nasib tragis yang sama. Selesai membacakan pasal peraturan itu, dengan wajah yang amat sedih si pencuri sakti Go Jit berkata lebih jauh :

"Aku si pencuri tua tak ingin menyusahkan rekan-rekan sekalian, harap kalian sudi memaafkan!”

Kembali dia melanjutkan perjalanannya kearah Hian im ji li berdua. Thi Eng khi tahu kalau keputusan tersebut terpaksa diambil oleh pencuri sakti Go Jit demi keselamatan rekan rekannya, apalagi setelah menyaksikan keteguhan hatinya itu, anak muda tersebut sadar bahwa rekannya ini tak mungkin bisa dibujuk dengan sepatah dua patah kata saja apalagi saat itu memang tiada banyak waktu untuk mengajaknya banyak berbicara, maka sambil tertawa terbahak bahak katanya :

"Haaahhh. ..haaahhh....haaahhh Go tayhiap, selama aku Thi

Eng khi masih berada di sini, jangan harap rencanamu untuk mengorbankan diri bisa terwujud seperti apa yang kau inginkan!”

Belum selesai dia berkata, tampak bayangan manusia berkelewat lewat, tahu tahu pencuri sakti sudah kena dicengkeram oleh Thi Eng khi dan dilemparkan kearah Keng it totiang dari Bu tong pay.

“Harap lindungi keselamatan Go tayhiap dengan barisan Jit seng kiam tin perguruan kalian!”

Selesai berkata, dia sudah melayang balik ketempat semula. Hian im Tee kun sama sekali tidak berkutik dari posisinya semula meskipun dia menyaksikan Thi Eng khi mencengkeram orang dan dilemparkan kedalam barisan Jit seng kiam tin. Menanti si anak muda itu sudah balik kembali ke tempatnya semula, dia baru berkata sambil tertawa :

“Patung lumpur hendak menyeberang jalan, untuk melindungi keselamatan sendiri pun tak mampu, masih ingin menyelamatkan jiwa orang Hmmm! Thi sauhiap, apakah kau tidak kuatir kalau

tindakanmu itu akan menimbulkan bencana bagi orang orang Siau lim pay dan Bu tong pay?”

Mendengar perkataan tersebut, Thi Eng khi menjadi tertegun, kemudian pikirnya :

“Kalaupun aku sendiri tidak memikirkan persoalan ini, memang tidak seharusnya menyeret orang lain dalam keadaan seperti ini. Yaa, tindakan yang kuambil sekarang memang kelewat ceroboh!”

Perasaan menyesal segera timbul dalam hati kecilnya, baru saja dia akan berpaling untuk minta maaf kepada rekan rekan dari Siau lim pay dan Bu tong pay, mendadak terdengar Keng hian totiang, ketua dari Bu tong pay sudah terkata dengan ilmu menyampaikan suara. “Suatu persahabatan sejati tidak memperhitungkan soal untung rugi, apalagi musuh tangguh berada didepan mata sekarang, harap Thi ciangbunjin jangan memecahkan perhatian sehingga situasi kena ditunggangi musuh.”

Dari ucapan mana sudah jelas terdengar kalau mereka semua siap sedia untuk menghadapi bencana bersama sama, disamping memperingatkan kepada Thi Eng khi untuk meningkatkan kewaspadaannya.

Thi Eng khi menjadi amat terperanjat, dengan cepat dia berusaha untuk menenangkan pikirannya, kemudian menghimpun te¬naga dalamnya untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan, setelah itu dengan sikap tak acuh katanya sambil tertawa hambar :

“Aku tidak kuatir untuk menghadapi banyak persoalan, lihat saja nanti akan hasilnya.”

Hian im Tee kun betul betul gusar sekali, namun diluar dia tetap bersikap lembut dan lunak, kembali dia berkata :

“Thi ciangbunjin memang seorang enghiong hohan, pun Tee kun paling suka dengan pemuda seperti kau, lebih baik tak usah kita bicarakan lagi tentang masalah yang memuakkan hati itu, bagaimana kalau kita berbincang kembali dari awal untuk mencoba menjajaki suatu kerjasama diantara kita berdua?"

Dengan cepat Thi Eng khi menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tiada persoalan yang dibicarakan lagi diantara kita berdua, aku bersedia menerima petunjuk dari Tee kun!”

Meledaklah amarah dalam hati Hian im Tee kun, dia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.

“Haaahhh…. haaahhh... haaahhh…. kau, kau…., kau anggap kepandaian yang kau miliki itu sudah mampu untuk menandingi pun Tee kun? Pada seratus tahun berselang pun Tee kun sudah pernah mencoba kehebatan dari ilmu Heng kian sinkang tersebut akhirnya yang mampus bukan pun Tee kun melainkan pihak lawan. Huuuh, dengan mengandalkan hasil latihanmu selama dua puluh tahun, sekalipun balik pada seratus tahun berselang pun paling banter hanya bisa bertarung seimbang denganku, tapi hari ini …. hmmm, kuanjurkan kepadamu, lebih baik janganlah keblinger oleh kata kata pujianku tadi sehingga tak tahu diri!"

Paras muka Thi Eng khi berubah pula menjadi amat serius, katanya dengan wajah bersungguh sungguh :

"Selama kebenaran berada ditanganku, tak akan kuhindari semua kenyataan yang ada, sekalipun harus mempertaruhkan selembar jiwa pun. Kini hanya sebuah jalan yang bisa kita tempuh, yakni kalau bukan kau yang mampus, akulah yang binasa.”

Seusai berkata, dia memandang sekejap ke arah dua orang perempuan Hian im tersebut, lalu terusnya :

"Mereka semua bukan tandinganku, apabila Tee kun merasa jeri untuk melangsungkan pertarungan, aku pun bersedia untuk memberi kelonggaran dengan memberi kesempatan bagi kalian pada hari ini untuk kembali ke istana Ban seng kiong.”

Senyuman yang semula menghiasi ujung bibir Hian im Tee kun segera lenyap tak berbekas, serunya cepat :

“Kau benar benar seorang manusia yang tak tahu diri, aku akan mengalah tiga jurus untukmu!”

Dengan cepat Thi Eng khi melepaskan tiga pukulan ke tengah udara, lalu menyahut :

"Mengingat usiamu sudah lanjut, tiga jurusmu itu sudah kuterima…..”

Bayangan tubuh berkelebat, dia sudah menerjang ke depan, pedang Thian liong kim kiamnya dicabut keluar dan menggunakan jurus Tiang hong koan jit (pelangi panjang menutupi matahari) langsung menusuk jalan darah Hu ciat hiat di lambung Hian im Tee kun. Menghadapi musuh yang demikian tangguhnya ini, Thi Eng khi masih belum mengerti apakah kemampuannya sanggup untuk menghadapi lawan atau tidak, maka dia tak berani bertindak gegabah.

Untung saja dia berusia lebih muda daripada musuhnya sehingga tak usah lagi menjaga nama dan kedudukan, itulah sebabnya begitu turun tangan dia lantas mencabut keluar pedang Thian liong kim kiamnya. Maju sembari mencabut pedang, berkelebat sambil melancarkan serangan, keempat gerakan itu dilakukan berbarengan waktunya, membuat orang tak sempat untuk melihat jelas gerakan tersebut. Seandainya musuhnya bukan Hian im Tee kun mungkin jarang sekali ada yang mampu untuk menyambut serangannya itu. Sebab gerakan tubuhnya terlampau cepat bagaikan sambaran petir saja, tahu tahu ujung pedangnya sudah berada dua inci saja diatas jalan darah Hu ciat hiat dari Hian im Tee kun.

Hian im Tee kun memang bukan manusia sembarangan, menyaksikan datangnya tusukan pedang Thian liong kim kiam dari Thi Eng khi tersebut, dia segera tertawa dingin kemudian jengeknya

:

"Gerakan tubuhnya mah cukup bagus, sayang sekali dalam pandangan pun Tee kun hal itu masih belum terhitung seberapa!”

Dia segera membalikkan telapak tangan kirinya dan menggunakan sisi telapak tangannya dia sambut datangnya ancaman pedang dari Thi Eng khi tersebut. Segulung tenaga pukulan yang amat kuat dengan cepat menggerakkan pedang Thi Eng khi sehingga miring ke samping dan menusuk ke tempat yang kosong disamping kanan pinggangnya. Dalam keadaan demikian, terpaksa Thi Eng khi harus melayang pergi dari situ.

Hian im Tee kun sama sekali tidak berkutik, tapi nyatanya dia telah berhasil meloloskan diri dari serangan pertama Thi Eng khi. Di dalam bentrokan mana, Thi Eng khi memang tidak berniat untuk melakukan tindakan untung untungan, kegagalannya untuk menusuk tubuh Hian im Tee kun juga sudah berada dalam dugaannya semula, maka dia tidak merasa apa apa. Hanya disadari bahwa kesempurnan tenaga dalam yang dimiliki Hian im Tee kun benar benar mengerikan sekali. Berbeda sekali dengan apa yang dirasakan oleh Hian im Tee kun, walaupun ia sudah tahu kalau Thi Eng khi memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, toh dia masih menilai musuhnya terlampau rendah. Dia tidak menyangka kalau kelihayan si anak muda itu jauh diatas apa yang di duganya semula, bahkan dengan dia sendiri pun tidak terpaut banyak, bayangkan saja bagaimana mungkin hatinya tidak merasa terperanjat sekali?

Sekarang, dia sudah tak berani bertindak secara gegabah lagi, sembari memutar sepasang telapak tangannya, dia berseru :

“Nah, kau pun boleh mencoba kelihayan dari pun Tee kun!”

Bahu tanpa bergoyang, badan tanpa bergerak, entah dengan cara bagaimana dia bergerak, tahu tahu sudah mendesak kehadapan Thi Eng khi, bahkan telapak tangan nya segera diayunkan ke depan langsung menghantam keatas dada si anak muda itu. Serangan mana dilancarkan dengan kecepatan luar biasa dan sama sekali tidak membawa desingan suara, namun keganasan dan kelihayan benar benar luar biasa.

Thi Eng khi yang lihay segera dapat menangkap bahwa serangan kilat tersebut meski disertai dengan angin pukulan yang dahsyat tapi yang berbahaya justru adalah deru angin dingin yang menusuk tulang dibalik ancaman mana. Thi Eng khi tak berani menghadapi ancaman tersebut secara gegabah, hawa murninya segera dihimpun dari Tan tian untuk melindungi seluruh rongga dadanya agar hawa dingin itu tak sampai menyusup kedalam tubuhnya.

Setelah itu dia berputar cepat menggunakan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im yang disertai dengan gerakan Thian liong coan sin, tangan kirinya dari serangan pukulan berubah menjadi serangan cakar untuk mencengkeram pergelangan tangan lawan, sementara pedang Thian liong kim kiam ditangan kanannya menyapu keluar dengan jurus Tha yang jut seng (matahari baru terbit).

“Sebuah serangan yang sangat bagus!” seru Hian im Tee kun sambil tertawa seram. Sepasang telapak tangannya segera berputar, dalam waktu singkat telapak tangan maupun pedangnya sudah melancarkan tiga belas jurus serangan dahsyat.

Dalam pada itu, jarum Hian im ciam yang bersarang ditubuh Pek leng siancu So Bwe leng telah berhasil diangkat keluar oleh Sam ku sinni, apalagi telah menelan pil Kim Khong giok lek wan pemberian Thi Eng khi, pada hakekatnya racun keji tersebut berhasil dipunahkan dan keselamatan jiwanya juga tidak terancam lagi.

Setelah mengatur pernapasan beberapa saat lamanya, gadis itu telah menjadi segar kembali.

Ketika dia membuka matanya dan menyaksikan Thi Eng Khi sedang bertarung melawan seorang kakek berjubah hijau, bahkan pihak lawan dengan mengandalkan tangan kosong telah berhasil menahan serangan pedang Thian liong kim kiam dari Thi Eng khi, dengan perasaan terperanjat pemudi ini menjerit lengking :

“Suhu, siapakah dia? Begitu sempurna tenaga dalam yang dimilikinya !”

Sam ku sinni segera mencegah Pek leng siancu So Bwe leng untuk berteriak serunya :

“Leng ji, jangan keras keras! Hati hati kalau sampai memecah perhatian dari Thi sauhiap, orang itu adalah Hian im Tee kun!”

Pek leng siancu So Bwe leng menarik napas dingin, dia mengenggam tangan sendiri kencang kencang dan mengikuti jalannya pertarungan itu dengan melotot, saking tegangnya dia sampai tak mampu bernapas. Bukan cuma gadis itu saja, bahkan semua jago yang mengikuti jalannya pertarungan itupun seakan akan melupakan keselamatan sendiri, seluruh perhatian mereka telah dicurahkan ketengah arena dan menonton jalannya pertarungan dengan hati berdebar.

Dalam pemunculannya yang terakhir di dalam dunia persilatan, semua orang memang sudah tahu kalau kepandaian silat yang dimiliki Thi Eng khi telah memperoleh kemajuan yang amat pesat tapi sampai dimanakah kemajuan tersebut, orang masih bertanya tanya dalam hati. Sekarang orang baru tahu kalau pemuda itu amat tangguh, terutama sekali dalam pertarungannya melawan Hian im Tee kun, baik serangan maupun pertahanan di luar secara bagus sekali, bahkan kekuatan serangan yang dipergunakan juga dahsyat, ditinjau dari keadaannya sekarang, sudah jelas kalau kekuatan mereka berdua seimbang.

Sam ku sinni dan Pek leng siancu So Bwe leng yang menjumpai hal ini benar benar merasa gembira serta memuji tiada hentinya. Apalagi Sam ciat jiu Li Tin tang, saking terharunya air mata sampai jatuh bercucuran dengan derasnya. Di tengah pertarungan, tampak kedua orang yang sedang bertarung cepat itu, sekarang mulai melambankan gerakan masing masing dan saling mundur sejauh satu kaki lebih, gerakan yang digunakan pun amat lamban.

Pertarungan jarak jauh ini sepintas lalu tampak seperti mainan saja, sedikitpun tak nampak berbahaya. Padahal pertarungan itu sudah meningkat pada tahap yang paling berbahaya, mati hidup mereka berdua justru akan ditentukan dari hasil pertarungan ini.

Waktu itu, pedang Thian liong kim kiam dari Thi Eng khi sedang diputar sembari melakukan tusukan, serentetan cahaya tajam yang menyilaukan mata segera memancar keluar dari balik ujung pedang itu dan langsung menyerang ke hadapan Hian im Tee kun.

Sebaliknya Hian im Tee kun mengerahkan tenaganya tanpa menimbulkan sedikit suarapun, akan tetapi ditengah udara secara lambat lambat terlihat selapis hawa berwarna hijau keputih putihan yang menggulung kemuka.

Tampak kedua belah pihak sudah meningkatkan pertarungan itu menjadi suatu pertarungan beradu tenaga dalam. Tampak Sam ciat jiu Li Tin tang menjerit kaget bercampur gembira, kemudian sambil menari nari gumannya :

“Aaaah.... aaah   ini dia jurus Jit tin tiong thian (Matahari tepat

di tengah angkasa) dari Thian liong kiam hoat, ternyata dia telah berhasil mencapai ke tingkatan melukai orang dari seratus langkah

....

Oooh, mungkin suhu dia orang tua pun akan merasa kagum setelah menyaksikan peristiwa ini.”

Menyusul kemudian sambil menghela napas panjang terusnya : “Aaai. iblis tua ini memang sangat lihay, dengan ilmu Jit tin

tiong thian yang begitu hebat pun ternyata tak mampu untuk melukai dirinya!"

Perlu diketahui dalam hal tenaga dalam Thi Eng khi telah memperoleh kemajuan berkat ilmu Heng Kian sin kang peninggalan Cu sim ci cu Thio Biau liong tapi berhubung waktu yang amat singkat, hal ini membuat pemuda tersebut belum berhasil menemukan kepandaian kepandaian lain di balik ilmu tersebut. Tapi berhubung dia pintar, maka ilmu Heng kian sinkang tersebut telah dileburnya menjadi satu dengan ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang dari Thian liong pay sehingga kekuatannya menjadi makin bertambah. Akan tetapi, dalam setiap pertarungan yang berlangsung, dia belum dapat memisahkan diri dari ilmu silat aliran Thian liong pay serta ilmu meringankan tubuh Hu kong keng im dari Bu im sin hong Kian Kim siang ......

Berbicara soal tenaga dalam, Thi Eng khi memang masih kalah dengan Hian im Tee kun, tapi berhubung dia mengandalkan Thian liong kim kiam yang memancarkan hawa pedang untuk melawan Hian im Tee kun yang bertangan kosong, maka untuk sementara waktu perlawanan masih bisa diberikan secara ketat.

Dalam waktu singkat, kedua belah pihak telah bertarung sampai duaratus gerakan lebih. Meski dua ratus gerakan sudah lewat, kenyataannya Hian in Tee kun belum juga berhasil menguasai keadaan sebaliknya Thi Eng khi dengan cahaya emas melingkari tubuhnya, selalu berhasil mengimbangi musuhnya tanpa memperlihatkan gejala akan kalah. Padahal Hian im Tee kun adalah seorang jagoan yang menganggap dirinya nomor wahid dikolong langit, dengan kedudukan dan kemampuan yang dimilikinya, jangankan kalah ditangan Thi Eng khi, sekalipun bertarung dalam keadaan seimbang pun sudah cukup membuat dia kehilangan muka.

Tentu saja diapun dapat mengetahui kalau alasan yang menyebabkan Thi Eng khi tidak sampai kalah adalah tajamnya pedang Thian liong kim kiam tersebut. Sekalipun begitu, diapun merasa rikuh dan malu untuk mencabut senjata tajamnya dalam keadaan seperti ini. Apalagi didalam perjalanannya kali ini menelusuri dunia persilatan, dia selalu menganggap ilmu silatnya tiada tandingan dikolong langit sehingga senjata andalannya Hian im kui jin telah diserahkan kepada Hian im ji li. Maka walaupun dia tidak kuatir ditertawakan orang pun, tak mungkin baginya untuk mencabut senjatanya lagi.

Keadaan yang membuatnya kehilangan muka ini kontan saja membangkitkan kemarahan yang luar biasa dari gembong iblis tersebut, dia mulai berpekik dengan kerasnya mengikuti pergolakan emosi yang membara dalam dadanya, paras mukanya pun berubah dari putih menjadi hijau, lalu dari hijau berubah menjadi merah, kini dia sudah mengerahkan tenaga dalam Hian im ceng lek nya hingga mencapai dua belas bagian.

Thi Eng khi ibaratnya anak macan yang baru turun gunung, dia tidak jeri barang sedikit pun menghadapi lawannya, setelah mempunyai pengalaman bertarung sebanyak dua ratus gebrakan, rasa jeri yang semula mencekam dadanya, lambat laun berhasil dikendalikan kembali. Maka sewaktu dilihatnya paras muka Hian im Tee kun telah berubah hebat, sadarlah dia kalau pihak lawan sudah bersiap siap untuk mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk membunuh dia.

Pemuda ini cukup tahu diri, ia mengerti kemampuannya untuk bertahan sebanyak dua ratus gebrakan pun boleh dibilang telah mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya, kalau dibilang apakah dia masih mampu untuk membendung serangan Hian im Tee kun yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga itu, rasanya harapan mana tipis sekali. Walaupun tahu kalau bukan tandingan lawan, apakah dia harus menyerah kalah dengan begitu saja?

Tidak! Thi Eng khi bukan seorang manu¬sia yang gampang menyerah dengan begitu saja, dia mempunyai tekad yang amat teguh dan niat yang tak akan berubah sekalipun tak akan mampu menahan serangan dari Hian im Tee kun, dia tetap akan memberikan perlawanan dengan sekuat tenaga. Apabila dipaksakan suatu pertarungan yang berakibat sama sama terluka, tentu saja hal ini lebih baik lagi kalau tidak dia pun harus merontokkan kewibawaan dan rasa percaya pada diri sendiri dari lawannya, sehingga dengan begitu, pengorbanannya menjadi sama sekali tidak sia-sia.

Maka dia pun mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya hingga mencapai pada puncaknya. Namun justru karena dia sudah mempunyai tekad untuk memaksa musuhnya sama sama terluka, maka sewaktu mengerahkan tenaga dalam pun dia dapat mengatur tenaganya secara tepat. Atau dengan perkataan lain, dia berusaha untuk melukai musuhnya separah mungkin dan menghindarkan diri dari luka yang seringan mungkin sehingga tak sampai Kehilangam nyawa.

Kini, kedua belah pihak sama sama telah menghentikan pertarungan, empat mata saling bertatap pandang, mulut membungkam, badan tak berkutik, tapi begitu bergerak maka sudab pasti akan terjadi suatu pertarungan yang amat luar biasa.

Sam ku sinni segera dapat menangkap situasi yang tidak beres maka dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara, dia berbisik kepada ketua Siau lim pay, ketua Bu tong pay dan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po.

"Pertempuran yang berlangsung saat ini sangat berpengaruh atas nasib dunia persilatan dimasa mendatang, menurut pendapat pinni, walaupun tenaga dalam yang dimiliki Thi sauhiap sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, namun apabila diadu dengan gembong iblis tua tersebut maka dia masih kalah dalam pengalaman, pinni kuatir segala sesuatunya akan berlangsung di luar dugaan. Sekarang aku minta kepada ciangbunjin berdua dan Cu pangcu untuk melepaskan pikiran kalian untuk mencegah larinya musuh, cepat himpun segenap kekuatan yang ada ikuti gerakan dari pinni.

Bilamana perlu kita harus mengorbankan diri, yang terpenting adalah selamatkan Thi sauhiap dari ancaman bahaya!”

Ketua Siau lim pay, ketua Bu tong pay dan Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera mengiakan, mereka tahu bila usaha mereka untuk menyelamatkan Thi Eng khi gagal, maka segenap kekuatan mereka akan tumpas disini pada hari ini juga. Menyusul kemudian barisan Siao kit tan goan Lo han tin dari Siau lim pay dan Jit seng kiam tin dari Bu tong pay dan Ngo heng ngo kay dari pihak Kay pang bersama sama mengikuti Sam ku sinni untuk merapat ke belakang tubuh Thi Eng khi.

Tiba tiba Pek leng siancu So Bwe leng bertanya kepada Sam ku sinni dengan suara lirih :

“Suhu, mengapa kau nampak kegitu tegang?”

Sekalipun Pek leng siancu So Bwe leng memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, namun berhubung kekurangan pengalaman, maka dia masih belum dapat menyaksikan ancaman bahaya maut yang berada didepan mata.

Dengan ilmu menyampaikan suara, Sam ku sinni segera memperingatkan kepada Pek leng siancu So Bwe leng :

“Leng ji, apabila terjadi sesuatu yang di luar dugaan dalam pertarungan nanti, bawa tubuh Thi Eng khi dan menyelamatkannya dari sini merupakan tugasmu."

Pek leng siancu So Bwe leng segera merasakan pula betapa seriusnya situasi yang mereka hadapi, maka dengan ilmu menyampaikan suara pula, dia segera bertanya :

"Bagaimana dengan kalian?"

“Kau tak usah mencampuri urusan kami, pokoknya kau harus ingat, menyelamatkan Thi sauhiap berarti menyelamatkan seluruh umat persilatan dari ancaman bahaya maut, asal Thi sauhiap bisa hidup, sekalipun kau sendiri harus mengorbankan diri juga tak mengapa, pokoknya yang paling penting dia harus tetap hidup.”

“Suhu, kau tak usah kuatir" sahut Pek leng siancu So Bwe leng dengan kening berkerut, "bagi anak Leng, aku dan engkoh Eng hanya terdiri dari selembar nyawa!"

"Bagus sekali! Kau ”

Belum sempat Sam Ku sinni menyelesaikan perkataannya, terdengar Hian im Tee kun sudah membentak keras :

"Bocah keparat, lihat serangan!” Mendadak tubuhnya meluncur ketengah angkasa setinggi dua kaki enam tujuh depa lalu dengan gerakan Cong eng phu toh (burung elang menubruk kelinci) dengan membawa segulung hembusan angin dingin menerkam keatas kepala Thi Eng khi, pada saat itulah sepasang telapak tangannya baru didorong kemuka melepaskan sebuah pukulan dahsyat yang mengerikan sekali keadaannya.

Disaat Hian im Tee kun dengan gerakan burung elang menubruk kelinci, Thi Eng khi telah membuang pedang Thian liong kim kiamnya ke samping kiri dimana tak nampak manusia, lalu dengan telapak tangan kosong menyongsong datangnya serangan maut itu.

Thi Eng khi tahu kalau tenaga dalamnya sukar untuk melawan serangan dari Hian im Tee kun yang dilepaskan dengan sepenuh tenaga itu, apalagi baru saja dia membuang pedangnya dengan mempergunakan ilmu pedang terbang, halmana membuat tenaganya untuk membela diri semakin bertambah lemah. Tapi Thi Eng khi tidak merasa gentar, dengan suatu tekad yang membawa kecerdasan dan keberanian yang luar biasa, sambil mengerahkan tenaganya untuk melindungi jantung, dia pun turut melejit ke udara menyambut datangnya tubrukan dari Hiam im Tee kun tersebut, bahkan kehebatannya sama sekali tak kalah jika dibandingkan dengan gerakan Hian im Tee kun tersebut.

Sewaktu dua sosok bayangan manusia itu saling membentur ditengah udara, dua gulung kekuatan yang maha hebat pun segera saling membentur satu sama lainnya. Thi Eng khi mendengus tertahan dan terjatuh kembali ke tanah, sepasang kakinya menancap sampai sedalam beberapa depa, wajahnya berubah dari hijau menjadi merah darah, tapi sekulum senyuman dingin masih tetap menghiasi ujung bibirnya, sehingga hal ini membuat orang tak bisa menduga apakah luka yang dideritanya itu berat atau ringan.

Hian im Tee kun juga segera memperdengarkan suara tertawa yang menyeramkan. Disaat Thi Eng khi melayang turun ke tanah dalam keadaan terluka dan Hian im tee kun baru saja tertawa seram inilah, pedang Thian liong kim kiam yang dilontarkan Thi Eng khi ke arah sebelah kiri itu sudah berputar satu lingkaran ditengah udara dan menyambar datang dari arah belakang tubuh Hian im Tee kun. Belum habis Hian im Tee kun tertawa seram, tubuhnya sudah terpercik darah segar ia segera berpekik seram, dengan jurus Im li huan sin (membalikkan badan di tengah mega) melayang balik keposisinya semula. Ketika telapak tangan kirinya diperiksa, darah sudah membasahi seluruh lengannya ternyata lengan itu sudah terpapas hilang separuh bagian. Sementara itu pedang Thian liong kim kiam itu pun sudah melayang kembali ke tangan Thi Eng khi.

Dengan tangan kanannya Hian im Tee kun menotok jalan darah di tangan kirinya untuk menghentikan aliran darah dan rasa sakitnya, awan hitam seakan akan menyelamati seluruh wajahnya, sambil memperdengarkan suara tertawa dingin yang mengerikan selangkah demi setangkah dia berjalan mendekati Thi Eng khi.

Sam ku sinni dan Pek leng siancu So Bwe leng sekalian berada dibelakang Thi Eng khi kontan saja menjadi kacau balau tak karuan, mereka segera melaksanakan rencana semula dan bersama menerjang ke depan, yang bertugas menghadang musuh segera menghadang musuh dan menolong orang.

Siapa tahu pada saat itulah Thi Eng khi membentak keras: “Berhenti!”

Suaranya amat nyaring dan penuh dengan hawa murni, ternyata keadaannya tidak mirip dengan orang yang sedang terluka parah.

Mendengar bentakan tersebut, tanpa terasa Sam ku sinni sekalian segera menghentikan langkah masing masing dna berkumpul kembali di belakang Thi Eng khi. Hian im Tee kun juga kelihatan tertegun, rasa kaget menyelimuti wajahnya, ternyata dia tak berani maju lagi.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Thi Eng khi, dengan gagahnya dia berdiri dengan pedang Thian liong kim kiam ditangan lalu sambil menuding ke arah Hian im Tee kun, bentaknya :

"Iblis jika kau berani maju selangkah lagi aku akan menggunakan sisa kekuatan yang kumiliki untuk beradu jiwa denganmu?” Paras muka Hian im Tee kun berubah berulang kali, tampaknya dia dibikin keder juga oleh keangkeran Thi Eng khi sehingga rasa percaya pada dirinya sendiri menjadi goyah. Apalagi setelah menyaksikan telapak tangan kirinya yang terpapas separuh oleh bacokan pedang Thian liong kim kiam tersebut, dia nampak semakin ragu ragu lagi. Akhirnya dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.

“Haaahh...... haaahhh.... haaahhhh sejak terjun ke dunia

persilatan, belum pernah ada orang yang mampu menerima seranganku dengan sepenuh tenaga, beruntung sekali kau tak sampai mampus. Dengan kedudukan lohu sekarang, masa aku akan turun tangan lagi kepadamu? Hari ini aku mengampuni jiwamu, setiap saat kunantikan kedatanganmu di istana Ban seng kiong, saat itulah kita boleh menentukan lagi siapa yang lebih jagoan diantara kita.”

Selesai berkata, dia lantas melompat naik keatas sebuah kuda kosong dan perintahnya kepada Hian im ji li :

“Memandang diatas wajah Thi sauhiap panggil kembali empat toa tongcu, kita urungkan dulu masalah Thian liong pay!”

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Hian im ji li melompat pergi meninggalkan tempat itu.

"Ayo berangkat!” Hian im Tee kun segera membentak keras sambil mengebaskan ujung bajunya. Debu beterbangan keangkasa, Hian im Tee kun diiringi para begundalnya segera berlalu dari situ.

Thi Eng khi masih tetap berdiri tegap bagaikan bukit karang, mendadak saja paras mukanya berubah menjadi kaku, lalu terlihat darah kental mengucur keluar dari bibirnya dan mengotori pakaian yang dikenakan...

Menanti Hian im Tee kun sudah pergi jauh, semua orang baru menghembuskan napas panjang, mereka segera berpaling dan siap siap memberi hormat kepada Thi Eng khi. Akan tetapi setelah menyaksikan keadaan dari Thi Eng khi tersebut semua orang baru merasa terperanjat dan tercengang sehingga untuk beberapa saat lamanya mereka membungkam dalam seribu bahasa.

“Engkoh Eng, kenapa kau?" teriak Pek leng siancu So Bwe leng sambil menubruk tubuh Thi Eng khi.

Begitu tubuh Thi Eng khi kena ditubruk oleh Pek leng siancu So Bwe leng, pedang emasnya segera terlepas dari cekalan dan terjatuh ke atas tanah, tubuhnya turut terjengkang pula kebelakang dan roboh ke atas tanah. Untung Sim ku sinni bertindak cepat, dia segera menyelinap kedepan dan menyanggah badannya, kemudian setelah memeriksa sebentar denyutan nadinya dia berkata :

"Dengan luka dalam yang parah rupanya Thi sauhiap telah mengerahkan sisa kekuatan yang dimiliki untuk membuat kabur Hian im Tee kun, tapi justru gara gara perbuatan itu, dia telah melenyapkan harapan sendiri untuk melanjutkan hidup, pengorbanan ini benar benar mengagumkan dan patut dikagumi.”

“Uhu …..” Pek leng siancu So Bwe leng segera berseru dengan amat sedih, “Kau mengatakan engkoh Eng akan….. akan pergi? Aku

….aku …..”

Belum habis berkata, dia sudah jatuh tak sadarkan diri. Sam ku sinni harus menahan tubuh Thi Eng khi, maka melihat Pek leng siancu So Bwe leng jatuh tak sadarkan diri, dia menjadi gelisah sampai mendepak depakkan kakinya berulang kali sambil mengomel panjang lebar :

“Thi sauhiap belum lagi putus nyawa, bocah ini sudah tak mampu menahan diri. Aaaai…. benar benar keterlaluan.”

Padahal dia sama sekali tidak menyangka kalau beberapa patah katanya tadi betul betul membuat kecewanya hati orang. Sam ciat jiu Li Tin tang segera menerima tubuh Thi Eng khi sembari berkata :

“Harap locianpwe menyadarkan nona Leng lebih dahulu, kemudian kita baru berupaya untuk merundingkan pertolongan ini dengan para ciangbunjin ”

Sam ku sinni memandang sekejap kearah Thi Eng khi kemudian menggelengkan kepalanya berulang kali dengan perasaan sedih, akhirnya dia menyingkir untuk mengurusi Pek leng siancu So Bwe leng.

“Omitohud!” Ci long taysu, ciangbunjin dari Siau lim pay memuji keagungan Sang Buddha, “Ci kay sute, kau segera pulang ke bukit Siong san dan bawa pil Tay tham wan yang terakhir menuju ke gedung Bu lim tit it keh!”

“Baik!” sahut Ci kay taysu dengan cepat. Dia segera membalikkan badan dan berlalu dari situ.

Sementara itu Keng hian totiang, ketua dari Bu tong pay telah mengeluarkan sebuah botol porselen dan mengambil sebutir pil berwarna hijau, sambil diletakkan di atas telapak tangannya, ia berkata :

"Pil ini merupakan pil Ci kim wan dari partai kami, harap Li tayhiap segera memasukkan ke dalam mulut Thi ciangbunjin!”

Sam ciat jiu Li Tin tang menjadi girang sekali sesudah mendengar perkataan itu, se¬gera ujarnya :

“Ci kim wan merupakan pil mestika, pil pelindung nyawa bagi ciangbunjin partai kalian, bagaimana bagaimana, mungkin partai

kami.... boleh boleh menerimanya!”

Sekalipun dimulut ia berkata demikian, namun toh segera membuka geraham Thi Eng khi untuk menjejalkan obat tersebut ke dalam mulut pemuda itu. Perlu diketahui, pil Ci kim wan merupakan obat mestika yang tiada nilainya bagi aliran Bu tong pay, sekalipun daya kerja obat tersebut tak bisa dibandingkan dengan Tay tham wan dari Siau lim pay atau Toh mia kim wan dari Thian liong pay, namun obat tersebut memang merupakan obat penyembuh luka yang amat mustajab dalam dunia persilatan....

Di dalam partai Bu tong pay sekarang pun tinggal sebutir saja yang selalu digembol ciangbunjin sebagai obat pelindung nyawa. Biasanya, kendatipun anak murid sendiri yang terancam bahaya maut pun mereka tidak berhak untuk menikmati pil mana. Tapi sekarang Keng hian totiang dari Bu tong pay tak segan mengorbankan Ci kim wannya, dari sini bisa diketahui betapa pentingnya Thi Eng khi buat mereka. Lagipula, ketika Ci kim wan tersebut terjatuh ke tangan Keng hian totiang, jumlahnya tinggal sebutir saja, hanya sama sekali tidak mengetahui akan hal ini.

Setelah Thi Eng khi menelan pil Ci kim wan dari Bu tong pay itu, ternyata paras mukanya belum juga menunjukkan perubahan apa apa. Sementara itu, Pek leng siancu So Bwe leng sudah sadar kembali, tapi ia menangis dan tertawa silih berganti hal Ini membuat semua orang merasakan pikirannya menjadi kalut, ternyata semua orang lupa kalau dalam saku Thi Eng khi masih terdapat obat kim khong giok lok wan yang hebat.

Seandainya obat Ci kim wan digabungkan dengan pil Kim khong giok lok wan tersebut maka kendatipun luka yang diderita Thi Eng khi lebih parah pun, seharusnya selembar jiwanya tak akan sampai terancam oleh bahaya maut. Tapi sayangnya, justru pada waktu itu tak seorang manusia pun yang teringat akan hal ini.

Awan kelabu segera menyelimuti seluruh bukit tersebut, terpaksa semua orang memutuskan untuk membawa Thi Eng khi untuk balik dulu ke Gedung Bu lim tit it keh sebelum menyusun rencana lebih jauh.

Thi Eng khi dipayang oleh Sam ciat jiu Li Tin tang berjalan didepan, sedang dibelakangnya mengikuti sebaris jago jago silat yang semuanya diliputi oleh perasaan sedih dan berat. Tatkala semua orang baru saja turun dari tebing dan memasuki sebuah hutan, mendadak dari sisi hutan tersebut melayang keluar sesosok bayangan manusia yang bergerak menggunakan ilmu Hu kong keng im.

Dia menyambar lewat melalui samping tubuh Sam ciat jiu Li Tin tang yang tak pernah menduganya itu. Didalam sekali gebrakan saja, bayangan manusia tersebut telah berhasil menyambar tubuh Thi Eng khi dari tangan Sam ciat jiu Li Tin tang, kemudian sekali berkelebat sudah berlalu dari sana.

Peristiwa ini berlangsung amat cepat dan sama sekali diluar dugaan siapa pun, selain dari pada itu tenaga dalam yang dimiliki orang itu sangat lihay, terutama sekali ilmu meringankan tubuhnya, boleh dibilang tiada orang yang dapat melampauinya. Belum sempat Sam ciat jiu Li Ti tang melihat jelas paras muka serta bentuk badan orang itu, tahu tahu tubuh Thi Eng khi telah berpindah tangan.

Saking kagetnya, dia jatuh tak sadarkan diri. Hanya Sam ku sinni seorang yang sempat melihat jelas paras muka orang itu, dia segera berteriak keras :

“Aaaaah, dia adalah Bu im sin hong (angin sakti tanpa bayangan) Kian tayhiap!”

Menanti dia hendak melompat ke depan untuk melakukan pengejaran, orang tersebut sudah berada puluhan kaki jauhnya dari tempat semula, untuk menyusulnya jelas sudah tak mungkin lagi.

Saking gemasnya dia sampai mendepak depakkan kakinya berulang kali, tapi apa pula yang bisa dilakukan?

Pada saat itulah, terdengar Bu im sin hong Kian Kim siang berkata dengan ilmu menyampaikan suara :

"Sekarang, lohu butuh untuk menyelamatkan jiwa orang, tak ada waktu untuk ribut lagi dengan kalian, terpaksa segala sesuatunya tak bisa diterangkan lagi!”

Di dalam kenyataan, semua orang tidak ada yang tahu kalau sebetulnya Bu im sin hong Kian Kim siang hanya dicatut namanya oleh pihak Ban seng kiong untuk dijadikan salah seorang dari ke empat Toa tongcu, dalam keadaan demikian, sekalipun dia memberi keterangan sampai lidahnya putus pun, jangan harap semua orang bisa dibikin percaya dan menyerahkan Thi Eng khi untuk dibawanya pergi. Itulah sebabnya, terpaksa dia harus mempergunakan cara seperti ini untuk mencapai maksudnya.

Sementara Sam ku sinni masih berdiri tertegun, Pek leng siancu So Bwe leng sudah menjerit lengking, kemudian tanpa memperdulikan persoalan apapun melakukan pengejaran ke depan.

“Leng ji!” Sam ku sinni segera berteriak keras.

Dia pun ikut lari ke depan untuk menyusul Pek leng siancu So Bwe leng yang sedang kabur didepan. Sesungguhnya ilmu meringankan tubuh Hu kong keng im yang dimiliki Bo im sin Hong Kian kim siang memang tiada duanya di kolong langit dewasa ini, ditambah pula tenaga dalamnya jauh lebih sempurna jika dibandingkan dengan Pek leng siancu So Bwe leng maupun Sam ku sinni, bayangkan saja bagaimana mungkin ke dua orang itu dapat menyusulnya?

Tidak sampai empat lima li kemudian, kedua orang itu sudah kehilangan jejaknya. Dalam keadaan begini, Pak leng siancu So Bwe leng segera berhenti mengejar dan menangis tersedu sedu, untuk sementara waktu dia tak tahu apa yang mesti dilakukannya. Sam ku sinni segera maju menghampiri dan menghiburnya dengan beberapa patah kata. Akhirnya dengan susah payah dia dapat juga mengajaK Pek leng siancu So Bwe leng untuk kembali ke gedung Bu lim tit it keh....

Rencana Thian liong pay untuk bergabung dengan pihak istana Ban seng kiong pun menjadi batal dan berakhir sampai disitu. Ke empat toa tongcu yang dikirim pihak Ban seng kiong ke partai Thian liong pay pun mendapat perintah untuk meninggalkan partai Thian liong pay. Ternyata Hian im Tee kun memang cukup dapat dipercaya perkataannya, dia membuktikan untuk tidak menyulitkan anak murid partai Thian liong pay lagi.

Keng thian giok cu Thi Keng merasakan peristiwa itu datangnya sangat mendadak bahkan tidak sempat memberi petunjuk kepada Pit tee jiu Wong Tin pak lagi, bersama Hian im ji li, mereka segera mengundurkan diri dari situ. Pit tee jiu Wong Tin pak lebih kebingungan lagi, dia merasa seakan akan sedang mendapatkan sebuah impian buruk. Menanti Sam ciat jiu Li Tin tang bersama para jago dari Siau lim pay, Bu tong pay dan pihak Kay pang sudah sampai semua di gedung Bu lim tit it keh, semua orang baru mengetahui sebab musabab pihak Ban seng kiong menarik diri dari situ. Tapi setelah mengetahui kalau Thi Eng khi terluka patah dan dilarikan orang, seluruh anggota partai Thian liong pay terjerumus kembali dalam suasana yang sedih dan murung.

SEMENTARA itu, setelah Bu im sin hong Kian Kim siang berhasil meloloskan diri dari pengejaran Pek leng siancu So Bwe leng dan Sam ku sinni, dia segera mencari sebuah gua dan mengeluarkan botol berisi Kim khong giok lok wan dari sakunya, sekaligus dia memberi tiga butir pil ke dalam mulut Thi Eng khi serta mengerahkan tenaganya untuk menguruti sekujur tubuhnya.

Tak selang berapa saat kemudian, Thi Eng khi telah berhasil disadarkan kembali. Kemudian sambil menempelkan telapak tangannya diatas jalan darah Tan tian hiat dipusar Thi Eng khi, Bu im sin hong Kian Kim siang berkata lagi :

"Saudara cilik, sekarang cobalah untuk mengatur napas, lohu akan membantumu."

Segulung hawa panas segera mengalir masuk ke dalam tubuhnya. Selang beberapa saat kemudian, Thi Eng khi menggelengkan kepalanya dan menghela napas ucapnya :

"Percuma! Aku tak dapat mengumpulkan kembali segenap tenaga dalamku...!"

Sebenarnya dia tidak seharusnya mengerahkan sisa kekuatan yang dimiliki untuk menghardik Hian im Tee kun sehingga kabur karena takut, sebab tindakannya itu sudah melanggar pantangan yang paling besar bagi seorang jago persilatan. Sekarang walaupun ada obat mustika yang membantu dirinya dan menyelamatkan jiwanya namun hawa murninya juga turut putus bersamaan dengan bentakan tadi.

Di dalam hal ilmu silat maupun ilmu pertabiban, Thi Eng khi mempunyai pengetahuan yang amat luas, dia bukannya tidak mengetahui bahaya dari perbuatannya itu, namun dia terpaksa harus berbuat demikian sebab apabila ia tak mau mengorbankan diri, besar kemungkinan kalau peristiwa tersebut akan memancing datangnya bencana yang jauh lebih besar dan jauh lebih mengerikan lagi.

Apakah Hian im Tee kun dapat melepaskan mereka semua? Sudah jelas hal itu tak mungkin bisa terjadi. Namun Thi Eng khi tetap bersikap amat tenang, dia sama sekali tidak merasa sedih karena hawa murninya tak dapat terhimpun kembali, malah sembari mengawasi Bu im sin hong Kian Kim siang, dia bertanya sambil tertawa hambar : “Kian tua, kau tak usah membuang tenaga dengan percuma, aku tahu kalau harapanku bisa sembuh tipis sekali. Tapi begini pun boleh juga, bisa memulihkan kembali bentuK asliku yang tidak pandai silatpun dapat membuat hatiku menjadi lega!"

Bu im sin hong Kian Kim siang segera menarik kembali tenaga dalamnya, mula mula dia menggeleng dulu, kemudian ujarnya dengan wajah bersungguh sungguh :

“Aku tahu kalau kau tak akan berlega hati, apakah kau lupa akan keadaan kakekmu bersama kami beberapa orang tua bangka?"

Satu ingatan dengan cepat terlintas dalam benak Thi Eng khi katanya kemudian sambil tertawa :

"Kalau begitu, kau benar benar adalah Kian tua!"

Ternyata dia masih menaruh perasaan curiga terhadap Bu im sin hong Kian Kim siang dan sekarang kecurigaan tersebut telah berhasil dihapus, karena bila dia bukan Kian Kim siang yang sebenarnya, dari mana bisa mengetahui keadaan dari ke empat orang tua tersebut?

Bu im sin hong Kian Kim siang memandang sekejap ke arah Thi Eng khi, lalu sambil tertawa dan manggut manggut katanya :

"Kau sekarang lebih berpengalaman, lagi aku ingin bertanya kepadamu, tahukah kau akan tugas dan tanggung jawab sekarang?"

"Sekalipun tahu, apalah gunanya?"

Dengan wajah bersungguh sungguh kembali Bu im sin hong Kian Kim siang berkata :

“Kalau toh kau sudah mengetahui akan tugas dan tanggung jawabmu, lohu menginginkan kau untuk membangkitkan kembali se¬mangatmu!"

Thi Eng khi segera tertawa getir. “Sekarang apa lagi yang bisa kulakukan?"

“Aku menghendaki kau pergi mengadu nasib, jangan lupa akan gua tempat tinggal dari Cu sim ci cu Thio locianpwe!" Begitu menyinggung tentang gua pertapaan Thio Biau liong, dalam benak Thi Eng khi segera terlintas kembali berbagai obat obatan dan kitab pusaka yang tersimpan di situ, hatinya segera tergerak, pikirnya kemudian :

“Tiada jalan buntu didunia ini, dengan kemampuan yang dimiliki Thio locianpwe, siapa tahu kalau dia mempunyai suatu kemampuan untuk menolong keadaanku?"

Maka dia pun tidak memberikan pernya¬taan apa apa lagi sebagai pertanda kalau dia sudah menyetujui. Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa terbahak bahak sambil membopong tubuh Thi Eng khi, dia lantas mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan bergerak menuju bukit Bu gi san.

Sepanjang jalan Thi Eng khi merasa amat rikuh karena harus minta digendong terus, dia mengusulkan agar berganti memakai kereta saja tapi usul tersebut segera ditolak oleh Bu im sin hong Kian Kim siang. Dikatakan olehnya bahwa waktu pada saat ini amat berharga sekali bagaikan emas, bagaimana mungkin kecepatan lari kuda bisa dibandingkan dengan kecepatan larinya dengan ilmu meringankan tubuh Hu kong keng im.

Ia bersikeras untuk membopong Thi Eng khi melanjutkan perjalanannya menuju ke bukit Bu gi san. Menyaksikan kehangatan dan kerelaan orang tua untuk berkorban, terpaksa Thi Eng khi hanya menurut saja. Perjalanan tak mungkin bisa ditempuh dalam sehari saja, namun semua waktu waktu yang penuh kesulitan tersebut berhasil mereka atasi dengan sebaik-baiknya.

Akhirnya bukit Bu gi san pun muncul di depan mata. Melihat tempat tujuan mereka sudah berada didepan mata, Bu im sin hong Kian Kim siang segera mempercepat larinya ke depan. Dalam waktu singkat mereka sudah memasuki daerah pegunungan tersebut dan tidak lama kemudian telah berada dibawah bukit Sam yang hong .....

Setelah berunding sebentar, mereka memutuskan untuk masuk kedalam gua melalui sumur Cu sim cing di kebun belakang kuil Sam sim an..... Thi Eng khi tahu kalau didalam kuil Sam sim an tinggal Ciu Tin tin, cuma dalam keadaan seperti ini dia tak ingin bersua muka dengannya. Pertama, hal ini disebabkan dia tak ingin Ciu Tin tin merasa sedih setelah menyaksikan keadaannya sekarang. Ke dua, dia sudah terlalu banyak berhutang budi kepadanya, maka ia merasa agak rikuh untuk berjumpa muka dengannya.

Tampaknya Bu im sin hong Kian Kim siang juga kuatir kalau kehadiran Ciu Tin tin bisa mempengaruhi perasaan Thi Eng khi, oleh sebab itu dia setuju kalau Thi Eng khi jangan bertemu dahulu dengan gadis tersebut untuk sementara waktu. Maka mereka pun mencari suata tempat yang tersembunyi untuk beristirahat sambil menunggu datangnya malam hari untuk berangkat ke kebun belakang kuil Sam sim an.

Tapi sewaktu mereka tiba di kuil Sam sim an, apa yang terlihat membuat perasaan mereka tertegun dan amat sedih, sampai setengah harian lamanya kedua orang itu tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Ternyata kuil Sam sim an telah terbakar sampai habis.

Memandang puing puing yang berserakan serta asap yang masih mengepul, bisa diduga kalau peristiwa kebakaran tersebut baru berlangsung dua hari berselang. Sedangkan sumur Cu sim cing di kebun belakang pun sudah dihantam orang sampai ambruk separuh. Disamping itu, batang pohon dan daun yang rontok telah bercerai berai melapisi permukaan tanah, ini menunjukkan kalau di sana telah berlangsung suatu pertarungan sengit.

Dalam keadaan demikian, mau tak mau Thi Eng khi harus memikirkan kembali keselamatan jiwa dari Ciu Tin tin, dia merasa wajib untuk menye!idiki keadaan ini sampat jelas.

Bu im sin hong Kian Kim siang segera mengabulkan permintaan Thi Eng khi untuk mencari jejak si nona. Dia menurunkan anak muda itu dan melakukan pencarian dibalik reruntuhan kuil yang telah mengarang tersebut, akhirnya dia berhasil menemukan sesosok mayat yang telah terbakar menjadi arang.... “Orang ini sudah terbakar hingga hancur sama sekali, bagaimana mungkin bisa diketahui siapakah dia?" kata Bu im sin hong Kian Kim siang kemudian.

Dengan jantung berdebar keras Thi Eng kbi berseru :

“Di dalam kuil itu hanya berdiam Bu nay nay dan enci Tin berdua, mungkinkah mayat ini adalah salah satu diantara mereka berdua?"

Tentu saja dia berharap mayat tersebut bukan salah satu diantara mereka berdua. Dengan kening berkerut Bu im sin hong Kian Kim siang berkata kemudian :

“Bila disaksikan dari keadaan yang ter¬bentang didepan mata sekarang, sudah pasti nenek Bu dan nona Ciu dipaksa berada dibawah angin, kalau tidak tak mungkin kuil Sam sim an bisa dibakar orang sehingga ludas menjadi begini rupa, moga-moga saja mayat ini bukan mayat mereka."

Kedua orang itu terbungkam beberapa saat, perasaan mereka amat sedih dan siapa pun tidak tega untuk meninggalkan tempat tersebut. Mendadak mencorong sinar mata yang amat tajam dari balik mata Bu im sin hong Kian Kim siang, dia berpaling ke arah sebelah kiri, kemudian bentaknya keras keras :

"Siapa disitu? Ayo cepat menggelinding keluar!"

Bersama dengan bentakan tadi, dari sepuluh kaki disisi arena nampak sesosok bayangan manusia berkelebat keluar dari tempat persembunyian dan langsung meluncur ke muka. Orang itu mengenakan baju serba hitam tapi berwajah putih, begitu bertemu dengan Bu im sin bong Kian Kim siang dan Thi Eng khi, agaknya kemarahan orang itu sudah tak terkendalikan, tanpa mengucapkan sepatah katapun, sepasang tangannya segera dipisahkan ke samping, kemudian dengan jurus Coo yu kay kiong (Kiri kanan mementang busur) dia lepaskan dua pukulan dahsyat ke tubuh Bu im sin hong Kian Kim siang dan Thi Eng khi.

Tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi sudah punah, tentu saja dia tak mampu menahan serangan orang, untung saja ilmu meringankan tubuh Hu kong keng im dari Bu im sin hong Kian Kim siang sudah amat sempurna, dengan cepat dia menyelinap ke depan Thi Eng khi kemudian melepaskan sebuah pukulan untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.

Bu im sin hong Kian Kim siang merasa gusar kepada orang itu karena tanpa mengucapkan sepatah katapun sudah melancarkan serangan untuk melukai orang, dia berniat untuk memberi peringatan kepadanya, maka serangan yang dilepaskan itu dilancarkan dengan tenaga sebesar enam bagian.....

Tenaga pukulan yang dilancarkan Bu im sin hong Kian Kim siang dengan tenaga sebesar enam bagian ini benar benar luar biasa sekali, kekuatannya benar benar hebat dan tidak kalah dengan seorang jagoan lihay. Tapi begitu ke dua gulung tenaga pukulan itu saling membentur satu sama lainnya, Bu im sin hong Kian Kim siang segera merasakan tenaga pukulannya menjadi ringan seakan akan batu yang tenggelam di tengah samudra, hilang lenyap dengan begitu saja.

Sebaliknya tenaga pukulan orang itu masih sempat menyambar tiba dan menghantamnya sampai seluruh tubuhnya bergoncang keras. Untung saja tenaga pukulan orang itu sudah berkurang banyak karena benturan dengan pukulan Bu im sin hong Kian Kim siang tadi, dengan demikian tak sampai pula melukai tubuhnya.

Namun keadaan tersebut sudah cukup membuat Bu im sin hong Kian Kim siang merasa amat terperanjat, tanpa berpikir panjang lagi dia segera menggunakan tenaga sebesar sepuluh bagian untuk melepaskan sebuah pukulan dahsyat :

“Kau pun harus merasakan juga sebuah pukulanku ini!"

Sebuah pukulan yang disertai dengan tenaga yang amat dahsyat langsung menggulung ke arah orang tersebut. Orang itu segera tertawa dingin.

“Heeehh... heeehhh... heeehh sekali pun tenaga pukulanmu

tidak lemah, sayang tak akan mampu untuk berbuat banyak terhadap lohu!"

Sepasang telapak tangannya diputar lalu menghisap, desingan angin tajam segera terhenti dengan begitu saja dan tenaga serangan yang dipancarkan Bu im sin hong Kian Kim siang pun segara tersapu lenyap hingga tak berbekas. Bu im sin hong Kian Kim siang adalah seorang jago tua yang berilmu tinggi, begitu menyaksikan gerakan melingkar sambil menghisap yang dilakukan orang itu, dengan perasaan terkejut segera serunya :

“Aaaah, inilah hua lik sin kang (ilmu sakti pemunah tenaga), siapakah kau?"

Orang itupun nampak agak tertegun setelah menyaksikan Bu im sin Hong Kian Kim siang berhasil menyebutkan nama dari ilmu silatnya secara tepat, sahutnya kemudian :

“Lohu adalah Bu Im, hari ini akan kusuruh kalian kawanan manusia laknat merasakan dahsyatnya ilmu pukulan Hua lik sin kang ku ini "

“Weeess !" sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan

ketubuh Bu im sin hong Kian Kim siang. Agaknya Bu im sin hong Kian Kim siang mengetahui betapa lihaynya tenaga pukulan Hua lik sinkang tersebut, sekalipun ilmu pukulan yang dimilikinya jauh lebih hebat pun, jangan harap bisa melukainya, bila dia harus bertarung melawannya maka lebih banyak dipukulnya daripada memukul, maka tidak menanti serangan mana mencapai sasaran, dengan ilmu langkah Hu kong keng im segera mundur selangkah, kemudian sambil membopong tubuh Thi Eng khi meloloskan diri dari pengaruh pukulan lawan ......

Ketika serangan yang dilancarkan oleh Bu Im itu tidak berhasil mengenai tubuh Bu im sin hong Kian Kim siang, dengan membawa desingan angin pukulan yang amat dahsyat langsung menghantam diatas sebuah batu cadas. Seketika itu juga batu cadas tersebut hancur menjadi empat lima bagian. Menyaksikan serangannya tidak melukai Bu im sin hong Kian Kiam siang, dengan cepat Bu Im melanjutkan dengan serangkaian serangannya, seketika itu juga angin pukulan dan bayangan telapak ta¬ngan beterbangan kian kemari, secara beruntun dia lancarkan tujuh delapan buah pukulan ke arah Bu im sin hong Kian Kim siang. Tapi semua ancaman tersebut berhasil dihindari secara mudah dan cepat oleh gerakan tubuh Hu kong keng im yang digunakan Bu im sin hong Kian Kim siang tersebut. Dengan cepat Bu Im pun dapat merasakan akan kelihayan dari gerakan tubuh Hu kong keng im yang dipergunakan oleh Bu im sin hong Kian Kim siang tegurnya :

''Siapakah kau? Mengapa bisa mempergunakan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im?"

Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa terbahak bahak. "Haaahh... haaahh..... haaahhh Hu kong keng im merupakan

mereka terdaftar dari lohu, bila kau mengetahui ilmu gerakan tersebut, tentunya bisa menduga bukan siapakah diriku ini. ?"

“Ooooh, jadi kau adalah Bu im sin hong?"

Bu im sin hong Kian Kim siang manggut manggut. "Betul! Lohu adalah Kian Kim siang."

Bu Im nampak agak tertegun, mendadak dengan wajah berubah menyeringai seram bentaknya :

"Kaki tangan Ban seng kiong, lohu akan beradu jiwa denganmu!"

Sepasang telapak tangannya segera diayunkan dan melancarkan tubrukan Ke arah Bu im sin hong Kian Kim siang. Ternyata, seperti apa yang diketahui, Bu Im telah memperoleh hadiah buah mestika Tiang kim ko dari Ciu Tin tin sehingga berhasil menghilangkan racun yang mengeram dalam tubuhnya, meski kemudian dia telah menghadiahkan ilmu Hua lik sin kang tersebut untuk Ciu Tin tin, namun dia tetap merasa kalau tindakannya itu belum dapat membayar budi kebaikan dari gadis tersebut.

Maka dia lantas teringat ketika mencari obat mujarab untuk mengusir racun dulu, pernah menemukan sebuah buah Hian ko yang bisa menghimpun tenaga dalam seseorang. Tapi berhubung buah tersebut belum masak waktu itu, maka daripada merusak kasiat buah tadi, hingga kini dia baru mengambilnya dan ingin dihadiahkan kepada Ciu Tin tin sebagai hadiah yang terbaik untuk gadis tersebut. Itulah sebabnya dia lantas meninggalkan bukit Sam yang hong mengunjungi lembah tersebut dengan bersusah payah dan mempertaruhkan jiwa raganya, buah yang dicari itu berhasil didapatkan. Pada saat inilah dengan amat gembira dia lantas berangkat kembali ke kuil Sam sim an. Siapa tahu belum lagi dia mencapai tempat tujuan, jejaknya telah diketahui oleh Bu im sin hong sehingga terpaksa harus munculkan diri, kemudian diapun menyaksikan kuil Sam sim an telah dibakar orang, dia lantas menduga perbuatan ini sudah pasti merupakan hasil karyanya dalam keadaan gusar dia pun segera turun tangan terhadap mereka.

Ilmu Hua lik sin kang milik Bu Im tersebut berhasil mencapai sedikit keberhasilan berkat bantuan dari obat obatan, tapi berhubung terbentur pada soal bakat, sulit baginya untuk mencapai ketingkatan yang paling tinggi. Oleh sebab itu, ketika bertarung melawan Bu im sin hong Kian Kim siang, oleh sebab tenaga dalam lawan lebih sempurna, tenaga pukulannya berat dan dahsyat, maka dia pun terpaksa harus menggunakan tenaga dalam yang besar untuk melancarkan serangan kilat.

Akhirnya setelah melihat Bu im sin bong Kian Kim siang menggunakan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im dan mengetahui asal usul diri lawannya itu, dia baru semakin terperanjat, tapi rasa benci dan gusarnya pun makin menjadi jadi. Sebab berita tentang bergabungnya empat tokoh besar dunia persilatan sebagai empat Toa tongcu dari istana Ban seng kiong telah tersebar luas di seluruh dunia persilatan tentu saja Bu Im juga sudah mendengar tentang hal ini.

Padahal dia pun tahu kalau orang orang Ban seng kiong adalah kawanan manusia keji yang bisa melakukan perbuatan apa saja, sekalipun Sim ji sinni juga merupakan salah satu diantara ke empat Toa tongcu tersebut mengapa tidak mungkin lantaran encinya dan nona Ciu tak mau bergabung dengan pihak Ban seng kiong, akhirnya mereka berdua ditewaskan juga oleh perbuatan keji mereka.

Itulah sebabnya tanpa berpikir panjang lagi, dia bertekad hendak beradu jiwa, diterjangnya Bu im sin hong Kian Kim siang secara ganas..... Bi im sin hong Kian Kim siang sendiri, lantaran dirinya dimaki sebagai kaki tangan Ban seng kiong, ia benar benar dibikin mau menangis tak bisa mau tertawa pun tak dapat. Cuma, diapun segera tahu kalau Bu Im bukan musuh dari pihak kuil Sam sim an. Kalau bukan musuh, tentu saja tidak ada kepentingan untuk beradu jiwa, dia harus berusaha untuk mencari kesempatan dan menguraikan masalahnya sampai jelas.

Itulah sebabnya dengan langkah Hu kong keng im, dia segera menyelinap sambil menghindarkan diri, bentaknya sambil menggoyangkan tangannya berulang kali.

“Tunggu sebentar, lohu ada persoalan yang hendak diutarakan!"

Bu Im segera tertawa dingin, sambil menghentikan gerakan tubuhnya dia mengejek :

“Kaupun terhitung seorang manusia ternama, masa takut menghadapi kematian?"

Bu im sin hong Kian Kim siang kembali tertawa terbahak bahak. “Haaahhh.... haahhh..... haahhh ilmu pukulan Hua lik sin kang

mu itu kurang sempurna, untuk sementara waktu sudah pasti bukan tandingan lohu, apakah benar demikian atau tidak, tentunya kau jauh lebih memahami dari pada lohu sendiri bukan?"

Bu Im menjadi terkesiap sesudah mendengar perkataan itu, dengan suara keras segera bentaknya :

"Hmmm! Kau jangan terlalu yakin dengan kemampuanmu sendiri!"

Meskipun di mulut dia berkata demikian namun semangat tempurnya sudah jauh berkurang. Bu im sin hong Kian Kim siang melirik sekejap kearah Bu Im, kemudian sambil menurunkan kembali Thi Eng khi, katanya sambil tersenyum.

"Aku ingin bertanya kepadamu, sebetulnya kau adalah sahabat Sam sim an atau musuh?" “Yaa teman! Yaa lawan!"

Bu im sin hong Kian kim siang menjadi tertegun setelah mendengar perkataan ini, serunya kemudian :

"Kalau berbicara harap yang lebih jelas, lohu tidak memahami perkataanmu itu!"

Bu Im berkerut kening.

“Ciu Tin tin adalah tuan penolong lohu yang telah menghadiahkan obat mestika kepadaku, boleh dibilang dia adalah sahabat lohu"

Setelah berhenti sejenak, sambil mendengus sambungnya :