Pukulan Naga Sakti Jilid 31

 
Jilid 31

Tentu saja perubahan ini menunjukkan kalau semua orang amat mempercayai atas jaminan dari Ci long taysu, ketua dari Siau lim pay ini, disamping boleh dibilang hal ini pun berkat sikap Thi Eng khi yang menghadapi persoalan dengan tenang tanpa emosi, kegagahan dan kebesaran jiwanya segera mempengaruhi hasil yang akhirnya berhasil diraih.

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang merasa paling gembira, dia ada maksud agar Thi Eng khi mendemonstrasikan sedikit kepandaiannya dihadapan orang banyak agar meningkatkan tingkat kedudukan dalam dunia persilatan, maka segera usulnya :

“Aku si pengemis tua mempunyai sebuah usul agar usulku ini bisa dipertimbangkan oleh para tayhiap sekalian dari berbagai partai.”

“Cu pangcu mempunyai usul apa? Katakanlah, kami akan memasang telinga baik baik dan mendengarkan dengan seksama!” kata ketua Siau lim pay Ci long siansu sambil tertawa.

“Walaupun pertemuan hari ini disponsori oleh ketua Siau lim pay dan ketua Bu tong pay untuk bersama sama mencegah Thian liong pay bergabung dengan Ban seng kiong, namun kedua orang ciangbunjin ini sama sekali tidak menawarkan diri sebagai pemimpin para jago, bila kita merupakan sebuah rombongan tanpa kepala, menurut pendapat aku si pengemis tua rasanya kurang tepat, maka kita harus memilih seorang pemimpin yang mengatur strategis dan tindakan kita semua agar kekuatan kita terhimpun dan tak sampai tercerai berai, entah bagaimana menurut pendapat saudara sekalian?”

Begitu usul diutarakan, yang lain segera mendukung, semua orang merasa perkataan dari pengemis tua ini masuk diakal. Thi Eng khi bukan orang bodoh, tentu saja dia dapat menebak maksud hati dari engkoh tuanya itu, tapi berada dalam posisinya sekarang, sesungguhnya dia merasa ada kesulitan untuk menerima tawaran mana, maka cepat cepat dia bangkit berdiri sambil berseru :

“Ketua Siau lim pay Ci long taysu merupakan seorang tokoh persilatan yang berkedudukan paling tinggi di dalam dunia persilatan, sepantasnya bila kita pilih dia sebagai pemimpin kita semua.”

Sebelum semua orang memberikan pendapatnya, ketua Siau lim pay Ci long taysu sudah menggoyangkan tangannya berulang kali seraya berkata :

“Jangan, jangan pilih lolap, yang bisa menjadi seorang pemimpin di dalam peristiwa ini adalah mereka yang memiliki tenaga dalam dan ilmu silat yang amat tinggi, lolap pernah dikalahkan oleh Tiang pek lojin, jadi kurang cocok buat lolap untuk memangku jabatan ini, harap kalian sudi memilih orang lain saja.”

Ketua Bu tong pay, Keng hian totiang segera tertawa :

“Kalau berbicara soal tenaga dalam serta kelihayan dalam ilmu silat, maka kemampuan Thi ciangbunjin lah yang benar benar sudah mencapai ke tingkatan tersebut, bila pinto tak salah melihat tak seorang pun di antara kita yang hadir disini sekarang mampu untuk menandingi kemampuannya itu.”

Sesudah berhenti sejenak, ia melanjutkan :

“Cuma, kalau berbicara tentang masalahnya meskipun Thi ciangbunjin memiliki kecerdasan dan kepandaian yang sanggup memimpin kita semua, ditambah pula dengan semangat dan keberaniannya untuk mengorbankan cinta daripada kepentingan umum, tapi tujuan kita sekarang adalah membawa Thi tua kembali ke jalan yang benar mengingat jasa-jasanya dahulu bagi umat persilatan, tidak sepantasnya bila kita membiarkan Thi ciangbunjin melakukan suatu tindakan yang tidak berbakti dengan melawan kakeknya sendiri. Oleh sebab itu, menurut pendapat pinto, Thi ciangbunjin tidak baik kalau diserahi tanggung jawab ini, daripada Thi ciangbunjin yang harus berjuang demi menegakkan keadilan dan kebenaran, dia harus melakukan perbuatan yang justru akan membuatnya menyesal sepanjang masa, bila sampai demikian, maka hilanglah maksud kita yang sebenarnya untuk menyayangi Thi ciangbunjin.”

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po kontan saja merasa bermandikan keringat dingin, diam diam pikirnya :

“Ooooh, sungguh berbahaya, hampir saja aku memberikan sebuah rantai kematian untuk saudara cilik!”

Pada dasarnya Thi Eng khi memang menaruh perasaan yang menghormat terhadap ketua Bu tong pay, Keng hian totiang, kini setelah mendengar uraiannya yang begitu memperhatikan kepentingan serta kesulitannya, dia merasa bertambah terima kasih lagi.

Terdengar Keng hian totiang berkata lebih jauh :

“Thi ciangbunjin memiliki kepandaian silat yang amat lihay, dalam hal ini kita tak boleh melupakan kemampuannya, tapi Ci long siansu pun tak dapat menampik lagi untuk menerima tugas berat ini!”

Ucapan yang amat tepat dan bijaksana ini segera memperoleh persetujuan dan pujian dari setiap orang. Ketua Siau lim pay Ci long siansu pun merasa tak baik untuk berkata apa apa lagi, terpaksa dia harus menerima jabatan tersebut dan memimpin para jago.

Sekarang semua orang menunggu Thi Eng khi mendemonstrasikan kepandaian silatnya yang lihay. Thi Eng khi yang dihadapkan dalam posisi yang cukup pelik, seandainya dia tak mau mendemonstrasikan kepandaian silatnya, kendatipun para jago sudah bisa menghilangkan kecurigaan terhadap dia, namun bobotnya di dalam pandangan mereka masih tetap terbatas sekali.

Oleh sebab itu, dia tidak membantah lagi, dengan langkah lebar dia berjalan menuju ke ruang tengah, dibawah sorot mata para jago, dia menggunakan sekali tarikan napas untuk melambung tinggi lima depa secara pelan pelan, kemudian berhenti mengambang di tengah udara, tidak naik, tidak pula turun kebawah.

Ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi yang melambung di udara ini paling sulit justru terletak pada ketidak bergeraknya di tengah udara, kesulitan mana pada hakekatnya beberapa kali lipat lebih sulit daripada ilmu meringankan tubuh Leng khong siu tok itu sendiri.

Berbicara sampai kemampuan yang dimiliki kawanan ciangbunjin pelbagai partai yang hadir disini sekarang, jago jago tangguh seperti Keng hian totiang, ketua Bu tong pay maupun Ci long taysu, ketua dari Siau lim pay pun belum berhasil mencapai ke tingkatan ilmu Leng khong siu tok, apalagi untuk berdiri tak bergerak di tengah udara seperti apa yang dilakukan Thi Eng khi sekarang.

Semua yang hadir adalah jago jago lihay dari dunia persilatan, sudah barang tentu semuanya tahu akan mutunya suatu kepandaian silat, kontan saja tepuk sorak berkumandang memecah keheningan.

Demonstrasi Thi Eng khi tidak sampai disitu saja, ketika tepuk sorak sudah mulai mereda, dia pun berkata :

“Silahkan seorang ciangbunjin diantara kalian maju untuk melepaskan sebuah pukulan ke atas tubuhku!”

Untuk dapat berdiri tak bergerak di tengah udara, kebanyakan orang mengandalkan pada himpunan tenaga dalam yang disatukan dalam pusar, dalam keadaan begini yang merupakan pantangan terbesar adalah berbicara.

Tak heran kalau semua orang menjadi kaget bercampur tercengang sampai matanya terbelalak dan mulut pada melongo, siapa pun tak tahu sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki si anak muda tersebut. Yang membuat orang tidak habis mengerti adalah dia masih minta kepada orang lain untuk menyerangnya, entah apa yang menjadi tujuannya? Maka tak seorang pun yang berani menanggapi permintaannya itu.

Melihat semua orang pada membungkam dan tak seorang pun yang bersedia turun tangan, terpaksa Thi Eng khi berkata kepada Ci long taysu, ketua dari Siau lim pay itu :

“Ilmu pukulan peh poh sin kun dari Siau lim pay sudah lama termashur dalam dunia persilatan, silahkan ciangbunjin menghadiahkan sebuah pukulan untukku.”

Mendengar ucapan tersebut, timbul juga rasa ingin menang dalam hati Ci long taysu, disamping dia pun tidak percaya kalau Thi Eng khi sanggup menerima pukulannya dari tengah udara. Maka sambil mengebaskan ujung bajunya, pendeta itu berseru :

“Kalau begitu, biarlah lolap memperlihatkan kejelekanku!”

Dengan gaya Li san ta gou (memukul sapi dari bukit seberang), dia melepaskan sebuah pukulan ke arah Thi Eng khi dari kejauhan. Thi Eng khi segera merangkap sepasang tangannya untuk menyambut datangnya serangan dahsyat dari ketua Siau lim pay Ci long taysu, tampak dia pelan pelan mendorong sepasang tangannya itu ke depan.

Tampak dua gulung tenaga pukulan saling membentur satu sama lainnya hingga menimbulkan suara ledakan yang amat keras, segulung hawa pukulan yang amat dahsyat segera timbul akibat benturan itu dan menghamtam keatas langit langit rumah sehingga jebol dan muncul sebuah lubang yang besar sekali. Tubuh Ci long taysu, ketua dari Siau lim pay ini sama sekali tidak bergerak, akan tetapi kakinya yang berpijak ditanah telah melesak sedalam lima hun ke dalam tanah.

Ketika semua orang memandang pula kearah Thi Eng khi, tampak sikapnya amat tenang, sama sekali tidak berkutik dari posisi semula, ternyata ia sudah menerima sebuah pukulan Pek poh sin kun dari ketua Siau lim pay ini dari tengah udara. Kesempurnaan tenaga dalam yang didemonstrasikan ini benar benar luar biasa hebatnya sehingga tak terlukiskan dengan kata kata. Semua orang dibikin terperanjat sampai membelalakkan matanya lebar lebar dan untuk sesaat malah tak mampu mengeluarkan sedikit suarapun. Kembali Thi Eng khi berkelebat lewat, entah gerakan tubuh apakah yang dia pergunakan, tahu tahu tubuhnya sudah balik kembali ke tempat duduknya semula bahkan sambil menjura berulang kali dia berseru :

“Tontonan jelek! Tontonan jelek!”

Sekarang semua orang baru sadar kembali dari lamunan, tepuk sorak sekali lagi bergema memecahkan keheningan. Kini, semua orang benar benar merasa takluk dan kagumnya bukan kepalang, secara otomatis rasa kuatir mereka terhadap keampuhan Hian im Tee kun pun menjadi semakin kecil.

Pek leng siancu So Bwe leng sendiripun baru pertama kali ini menyaksikan Thi Eng khi mendemonstrasikan kesempurnaan tenaga dalamnya, dia pun bertepuk tangan dengan gembiranya, sambil tertawa terbahak bahak serunya :

“Engkoh Eng, aku lihat tenaga dalammu telah memperoleh kemajuan yang pesat sekali, bahkan jauh lebih hebat beberapa kali lipat bila dibandingkan dengan dulu!”

Sementara orang sedang memuji dan menyampaikan selamat kepada Thi Eng khi, mendadak dari depan pintu berjalan masuk seorang anggota Hoa san pay yang secara langsung mendekati ketuanya Cu Wan mo dan membisikkan sesuatu dengan suara lirih.

Begitu selesai mendengar bisikan tersebut, paras muka ketua Hoa san pay Cu Wan mo segera berubah menjadi pucat pias, gerak geriknya menjadi sangat tidak tenang. Setelah menjura kepada semua orang, buru buru katanya :

“Berhubung aku ada urusan penting, maaf kalau tak bisa menghadiri pertemuan tengah hari nanti, harap saudara, kalian sudi memaklumi!”

Dengan amat tergesa gesa dia segera mengundurkan diri dari tempat tersebut. Siapa tahu belum lama setelah ketua Hoa san pay Cu Wan mo berlalu, kembali muncul seorang anggota Tiong lam pay yang membisikkan sesuatu ke sisi telinga ketua Tiong lam pay Ku tiok siu Yap Han san.

Dengan perasaan gelisah dan cemas ketua Tiong lam pay Yap Han san pun segera mohon diri dan mengundurkan diri dari situ. Berikutnya, keadaan yang sama pun menimpa dua orang ketua partai lainnya, mereka adalah :

Ketua Cing sia pay, Ting Kong ci Ketua kuil Ci tiok an, Beng sin taysu

Mereka mengundurkan diri tanpa mengungkapkan alasannya mengapa harus mengundurkan diri, hal ini membuat mereka yang tetap tinggal menjadi bingung dan penuh diliputi tanda tanya. Yang masih tinggal di dalam ruangan sekarang tinggal ketua Siau lim pay Ci long taysu, ketua Bu tong pay Keng hian totiang, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, unta sakti Lok It hong, Ci song taysu dan Ci kay taysu dari Siau lim pay, Keng it dan Keng ning totiang dari Bu tong pay serta Thi Eng khi dan Pek leng siancu So Bwe leng.

Mendadak dari luar ruangan muncul kembali seorang pengemis tua yang berlari masuk dengan napas terengah engah. Begitu mengenali kalau pengemis tua itu adalah Kim kay (pengemis emas) Ui Hui, salah satu diantara Ngo heng kay, dengan wajah tertegun pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera berteriak keras:

“Ui sute, apa yang telah terjadi?”

Pengemis emas Ui Hui tidak menjawab, melainkan berjalan ke hadapan pengemis sakti bermata harimau, kemudian baru bersiap sedia memberikan laporannya. Sambil tertawa nyaring pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera berseru:

“Tiada persoalan yang tak boleh didengar orang, bila Ui sute ada persoalan, utarakan saja dihadapan semua orang!”

Terlintas selapis rasa malu diatas wajah pengemis emas Ui hui, dengan agak tergagap katanya :

“Lapor pangcu, toya mestika tujuh ruas Jit ciap po ciang dari perkumpulan kita telah hilang!” “Apa?” seru pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po dengan perasaan terperanjat, “Jit ciat po siang telah hilang? Apa kerja kalian semua ?”

Perlu diketahui, Jit ciat po ciang merupakan toya yang menjadi kekuasaan seorang pangcu dari Kay pang, kini benda mestika tersebut telah hilang, apabila ketua Kay pang sekarang Cu Goan po tak berhasil menemukannya kembali, bukan saja tak dapat menjadi pangcu lagi, bahkan bisa jadi akan berakibatkan dijatuhkannya hukuman yang berat terhadap dirinya.

Kontan saja datangnya berita ini membuat pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menjadi amat gugup, oleh karena itu tanpa terasa lagi dia mengumpat dan mencaci maki pengemis emas Ui Hui habis habisan ....

Dengan kepala tertunduk rendah rendah, pengemis emas Ui Hui berbisik dengan lirih:

“Yaa, tecu sekalian memang pantas untuk mati!”

Mendadak pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menghela napas panjang.

“Aku tak dapat menyalahkan kalian, aku pikir mundurnya para ciangbunjin pelbagai partai tadi juga disebabkan peristiwa yang sama, kalau begitu perbuatan ini sudah pasti merupakan hasil karya dari Hian im Tee kun…. !”

Sesudah menghela napas panjang, tiba tiba ia tertawa seram dan melanjutkan :

“Aku si pengemis tua tak dapat memikirkan banyak persoalan lagi, terpaksa kita harus berjalan selangkah diperhitungkan selangkah, sekarang saudara cilik sedang membutuhkan bantuan, aku tak bisa meninggalkan dia dengan begitu saja.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya :

“Cepat panggil Ngo heng kay untuk datang menerima perintah, sedangkan tentang hilangnya toya mestika Jit ciat po ciang kita bicarakan nanti saja.” “Baik!” jawab pengemis emas Ui Hui cepat.

Setelah memberi hormat kepada Thi Eng khi, dia segera membalikkan badan dan berlalu dari sana. Thi Eng khi benar benar merasa terharu sekali, apalagi menyaksikan kebesaran jiwa pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang bersedia mengesampingkan masalah besar partainya demi membantu dia, kehangatan dan kebijaksanaannya ini membuat emosinya meluap. Tanpa terasa dia mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring, suara pekikannya membuat seluruh jagad seakan akan bergetar keras.

Empat puluh delapan ekor kuda dan sebuah kereta yang sangat indah sedang menelusuri jalan raya yang lebar menuju ke arah gedung Bu lim tit it keh. Diatas empat puluh delalan ekor kuda itu, duduklah lelaki dan perempuan dalam jumlah yang seimbang.

Dua puluh empat lelaki kekar berpakaian ringkas warna merah bergerak dimuka membuka jalan. Dua puluh empat gadis cantik berpakaian ringkas dengan mantel warna hijau mengikuti dibelakang kereta indah tersebut. Kereta kuda itu berjalan sangat cepat dan menimbulkan suara yang gaduh, bagaikan sepasukan tentara yang bersiap siap melancarkan serbuan.

Rombongan tersebut tak lain adalah para utusan dari gedung Ban seng kiong yang dikirim ke gedung Bu lim tit it keh untuk mencaplok perguruan Thian liong pay. Kini, mereka sudah berada hanya dua puluh li saja dari gedung Bu lim tit it keh tersebut. Di depan sana merupakan sebuah bukit kecil yang menonjol dengan pepohonan yang rimbun, tempat itu merupakan sebuah kebun buah yang luasnya mencapai puluhan hektar.

Dalam waktu singkat, rombongan besar dari Ban seng kiong itu sudah sampai di atas bukit kecil tersebut. Baru saja rombongan besar itu sampai diatas bukit kecil, mendadak terdengar suara ringkikan kuda dan teriakan manusia yang ramai, disusul kemudian seluruh rombongan berhenti berjalan. Rupanya di tengah jalan telah muncul sepasang muda mudi yang tampan dan cantik menghadang jalan pergi mereka. Di belakang sepasang muda mudi ini berjajar pula sepuluh orang pendeta, sepuluh orang tosu, enam orang pengemis, seorang nikou ditambah dengan dua orang kakek berusia enam puluh tahun.

Sepuluh orang pendeta dipimpin oleh ketua Siau lim pay Ci long taysu, dengan menyusun kesembilan orang jago lihaynya, mereka membentuk sebuah barisan Siau lo han tin yang tangguh. Sepuluh tosu dipimpin oleh ketua Bu tong pay Keng hian totiang, mereka membentuk Jit seng kiam tin yang ampuh, sedangkan sisa tiga orang yang ada melakukan pelindungan dari luar untuk menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Enam orang pengemis dipimpin oleh pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, dia menitahkan Ngo heng kay untuk membentuk sebuah barisan Ngo heng tin yang tangguh. Seorang nikou, tentu saja Sam ku sinni adanya. Dua orang kakek berusia enam puluh tahunan adalah pencuri sakti Go Jit dan Sam ciat jiu Li Tin tang. Sedangkan pemuda tampan di barisan terdepan adalah Thi Eng khi, di sebelah kirinya tak lain adalah Pek leng siancu So Bwe leng.

Kini, mereka sedang berusaha untuk menghadang orang orang Ban seng kiong agar tak dapat melalui bukit tersebut. Dua puluh empat orang lelaki kekar dari Ban seng kiong itu segera memencarkan diri ke arah dua sisi, sementara dua puluh empat orang gadis cantik bermantel hijau dengan mengawal kereta indah tersebut bergerak ke ujung barisan dan berhenti dihadapan Thi Eng khi serta So Bwe leng.

Dari antara kedua puluh empat orang gadis bermantel hijau itu, segera melompat turun dua orang yang berlari ke depan kereta dan menyingkap kain tirai. Dari dalam kereta segera muncul dua orang perempuan yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan. Yang seorang berpakaian merah, sementara yang lain memakai baju hijau, Thi Eng khi mengenali mereka sebagai Hian im ji li (dua gadis Hian im) yang berada dalam istana Ban seng kiong dewasa ini. Terutama sekali Ciu Lan yang mengenakan pakaian berwarna hijau, dia pernah menyaru sebagai Pek leng siancu So Bwe leng dan pernah pula mengumpat Thi Eng khi habis habisan dalam istana Ban seng kiong sehingga hampir saja membuat pemuda itu putus asa dan menemui jalan buntu.

Begitu bertemu dengannya, pancaran sinar gusar segera mencorong keluar dari balik mata Thi Eng khi. Rasa bencinya yang membara membuat dia ingin sekali membacoknya sampai mati untuk melampiaskan rasa benci dan dendam di hati.

Ciu Lan bersikap amat tenang, sama sekali tidak menganggap sebelah matapun terhadap kegusaran Thi Eng khi, malah sambil tertawa manis sapanya :

“Thi sauhiap benar benar kelewat banyak adat, kita kan orang sendiri, mengapa kau harus menyambut kedatangan kami dari jauh? Sungguh membuat kami merasa rikuh sekali, bagaimana kalau kita meneruskan perjalanan bersama dengan naik kereta saja.”

Thi Eng khi tertegun, dia sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu mempunyai ketajaman mulut yang begitu lihay, baru buka suara sudah merebut posisi diatas angin. Setelah tertawa dingin segera tegurnya :

“Darimana kau bisa tahu kalau kedatanganku untuk menyambut kedatanganmu?”

Ciu Lan pura pura terkejut, kemudian serunya :

“Thi sauhiap, sejak kapan kau sudah meninggalkan perguruan Thian liong pay?”

Dengan gusar Thi Eng khi membentak keras :

“Akulah ciangbunjin dari Thian liong pay, siapa yang bilang kalau aku sudah melepaskan diri dari perguruan Thian liong pay?”

Ciu Lan tertawa ringan.

“Wah, ini membuat orang semakin tidak habis mengerti, bergabungnya partai Thian liong pay ke dalam lingkungan Ban seng kiong sudah menjadi masalah besar yang diketahui setiap orang, kau sebagai seorang ciangbunjin Thian liong pay bukan datang untuk menyambut kedatangan kami, tentunya sudah diusir oleh yaya mu sehingga menjadi seorang murid murtad atau cucu durhaka.”

Kemudian sesudah menghela napas panjang, terusnya :

“Aaai. aku sudah tahu kalau kau adalah seorang manusia yang

tak bisa menghormati orang tua, kalau toh sudah diusir oleh yaya mu, apakah kau anggap masih pantas untuk menyebut dirimu sebagai anggota Thian liong pay?”

Saking gusarnya, Thi Eng khi tertawa seram :

“Heeeh….. heehhh…. Heeehhh…. Kau tak usah bersilat lidah denganku lagi, aku tidak mengijinkan kalian lewat, mau apa kalian!”

Jelas amarahnya sudah memuncak sampai pada batas kemampuannya. Pek leng siancu So Bwe leng segera maju selangkah ke depan, kemudian katanya sambil tertawa :

“Engkoh Eng, jangan marah, budak siaumoy ini memang seorang manusia rendahan yang tak pernah memperoleh didikan, biar siaumoy saja yang memberi pelajaran kepadanya.”

Kemudian sambil menuding kearah Ciu Lan, serunya :

“Kau menuduh orang lain tak tahu hormat, bagaimana dengan kau sendiri? Tentunya kau mengerti tentang perbedaan tingkat kedudukan bukan? Setelah seorang budak menjumpai nonanya, mengapa kau tidak berlutut untuk menyambut kedatanganku?”

Sewaktu Ciu Lan berada di rumah Tiang pek lojin, dia telah melayani Pek leng siancu So Bwe leng sebagai seorang dayang. Jadi apa yang dikatakan sebenarnya merupakan suatu kenyataan. Ciu Lan sama sekali tidak menyangka kalau gara gara dia banyak berbicara sehingga berakibat Pek leng siancu So Bwe leng mengorek kembali borok dalam tubuhnya, kontan saja dia mendengus dingin.

“Apa yang terjadi dimasa lampau tak lebih hanya suatu taktik belaka, memangnya kau angggap sungguhan?”

Pek leng siancu So Bwe leng segera tertawa terbahak bahak. “Haaahhh…. haaahhhh…. haaahhhh….. siapa yang mengharapkan kau bersungguh sungguh? Aku tak lebih hanya ingin mempermalukan dirimu saja, terus terang kuberitahukan kepadamu sekarang bukan waktunya lagi untuk bersilat lidah, apabila kalian mempunyai kepandaian untuk menangkan kami, tentu saja kami akan lepaskan kalian pergi, kalau tidak lebih baik kalian sipat ekor dan cepat cepat kembali ke istana Ban seng kiong.”

Paras muka Ciu Lan berubah menjadi dingin seperti es, sahutnya kemudian :

“Baik! Pun kiongcu akan membacok mampus kau si budak yang bermulut tajam lebih dulu.”

Ujung bajunya segera dikibaskan dan jari tangannya yang tajam langsung mencengkeram keatas wajah Pek leng siancu So Bwe leng. Dimana serangannya dilancarkan segera terasa hawa dingin Hiam im cing khi memancarkan keluar melalui ujung jari tangannya.

Diam diam Pek leng siancu So Bwe leng merinding, coba kalau dia belum pernah menelan pil Tay tham wan dari Siau lim pay dan dibantu Thi Eng khi untuk menembusi kedelapan urat nadinya, mungkin dalam satu gebrakan saja dia sudah akan dibikin keok.

Akan tetapi Pek leng siancu So Bwe leng yang sekarang adalah seorang perempuan yang memiliki kepandaian silat ajaran dari Tiang pek lojin dan Sam ku Sin, ditambah lagi nadi Jin meh dan Tok meh nya sudah berhasil ditembusi, ilmu kiu coan hian kang dari Tiang pek lojin dan Budhi ceng lek dari Sam ku sinni juga sudah dikuasai penuh hingga tenaga dalamnya memperoleh kemajuan pesat, pada hakekatnya kepandaian silat yang dimilikinya sekarang sama sekali tidak berada di bawah kepandaian dari Sam ku sinni. Maka sambil tertawa dingin serunya :

“Budak ingusan, apabila nonamu tidak memberi pelajaran yang setimpal, rasanya kau pun pasti akan bertambah jumawa sehingga tak tahu diri!”

Diantara getaran sepasang bahunya, dia melayang maju sejauh lima depa dari posisi semula, begitu lolos dari cengkeraman Ciu Lan, dia segera membalikkan badan sambil melancarkan sebuah bacokan dengan ilmu Budhi ceng lek.

Angin pukulan yang menggulung keluar bagaikan sebuah gelombang dahsyat saja, langsung menyapu kearah pinggang Ciu Lan.

“Sebuah serangan yang amat bagus!” seru Ciu Lan sambil tertawa riang.

Ujung bajunya dikebaskan berulang kali, jari tangan dan telapak tangan dipergunakan bersama sama, dalam waktu singkat dia sudah melancarkan empat buah serangan berantai. Pek leng siancu So Bwe leng menjadi sangat terperanjat, dia sama sekali tidak menyangka kalau gerak serangannya dari Ciu Lan yang disertai dengan kobaran hawa murni Hian im cing khi tersebut nyatanya tidak berada di bawah ilmu Bu dhi ceng lek ajaran gurunya.

Padahal Ciu Lan sendiripun merasa amat terperanjat dengan kenyataan tersebut, dia mengetahui paling jelas tentang tenaga dalam yang dimiliki Pek leng siancu So Bwe leng, walaupun dalam pandangan sementara umat persilatan, perempuan itu termasuk seorang jagoan kelas satu, tapi didalam pandangannya, perempuan itu masih belum berkemampuan apa apa untuk ikut mencantumkan namanya di dalam dunia persilatan.

Tapi setelah terjadi pertarungan sekarang, dia baru merasa bahwa tenaga dalam yang dimiliki gadis tersebut bukan saja dapat dijajarkan dengan deretan nama nama jago tangguh dalam dunia persilatan bahkan selisihnya dengan apa yang dimiliki menjadi tak banyak, hal inilah yang segera membuatnya menjadi terperanjat dan kebingungan setengah mati …..

Sekali lagi kedua sosok bayangan manusia itu saling bersatu untuk melangsungkan pertarungan jarak dekat, serangkaian serangan cepat melawan cepat berkobar amat serunya dalam waktu singkat ratusan gebrakan sudah lewat, kedua belah pihak masih tetap bertahan dengan seimbang, ternyata untuk beberapa waktu sulit rasanya untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Semakin lama waktu berlarut, pertarungan yang berlangsung pun semakin mengendor dan tidak segencar tadi lagi, bayangan tubuh kedua orang itu pun lambat laun semakin kelihatan jelas. Tatkala Sam ku sinni menyaksikan muridnya bisa bertarung dengan mantap, tenaga dalamnya pun makin sempurna sehingga tidak kalah dengan kesempurnaan sendiri. Dalam gembiranya dia lantas berbisik kepada Thi Eng khi dengan ilmu menyampaikan suara :

“Keberhasilan anak Leng pada hari ini tak lain merupakan berkah dari sauhiap, pinni sungguh merasa berterima kasih sekali.”

Dengan ilmu menyampaikan suara pula Thi Eng khi menjawab : “Locianpwe, kesemuanya itu merupakan jasa cianpwe yang telah

memberi pendidikan kepadanya serta daya kasiat pil Tay tham wan dari Siau lim pay, apa yang boanpwe lakukan tak lebih hanya menyempurnakan apa yang sudah ada, harap cianpwe jangan berkata bagitu, boanpwe akan merasa malu sekali dibuatnya.”

Sementara itu, Ci long taysu ketua dari Siau lim pay dan Keng hian totiang ciangbunjin Bu tong pay yang menyaksikan pertarungan antara So Bwe leng dengan Ciu Lan, diam diam menghela napas panjang, mereka merasa semakin malu lagi.

Di samping mereka merasa sedih akan ketidak mampuan partai partai kaum lurus dalam kepandaian silat, di pihak lain mereka pun merasa putus asa sekali atas ketangguhan kekuatan pihak Ban seng kiong.

Mendadak dua orang yang sedang bertarung dengan tangan kosong ditengah arena itu saling berpisah satu sama lainnya, kemudian kedua belah pihak sama sama meloloskan senjata tajam masing masing. Pek leng siancu So Bwe leng mencabut keluar sebuah senjata Tangan Buddha kemala hijau sepanjang satu depa delapan inci, inilah senjata tajam andalan Sam ku sinni ketika masih berkelana di dalam dunia persilatan dulu, Hun hoa giok ci (jari kemala pemisah bunga) yang menggetarkan dunia persilatan. Sebaliknya Ciu Lan menggunakan sebuah senjata yang berbentuk seperti telapak tangan, seluruh benda tersebut berwarna merah darah, kelima jari bertekuk membentuk gaya mencengkeram, panjangnya satu depa dan rupanya lebih pendek delapan inci kalau dibandingkan dengan senjata Hun hoa giok ci dari Pek leng siancu So Bwe leng tersebut.

Sam ku sinni merasa terperanjat sekali setelah menyaksikan senjata telapak tangan berwarna merah yang berada di tangan Ciu Lan itu, kuatir kalau Pek leng siancu So Bwe leng tertipu, dengan suara lantang dia pun berseru :

“Leng ji, hati hati! Senjata telapak tangan berwarna merah yang berada di tangan Ciu Lan itu merupakan senjata beracun di dunia ini. Benda tersebut bernama Hian im kui jiu (tangan setan angin dingin), tampaknya cuma satu, tapi setelah dipergunakan maka setiap saat bisa memanjang sampai tiga depa lebih, selain daripada itu, pada ujung jari tangan tersebut tersimpan jarum Hian im ciam yang lembut seperti bulu kerbau, apabila tombol rahasianya di pencet maka jarum tersebut bisa meluncur untuk melukai orang. Jarum mana khusus untuk memecahkan ilmu hawa khikang pelindung badan, kau harus bertindak sangat hati hati.”

Bukan saja perkataan tersebut sengaja ditujukan kepada Pek leng siancu So Bwe leng, diapun sekalian memberitahukan hal ini kepada Thi Eng khi. Mendengar keterangan tersebut, Thi Eng khi segera berkerut kening, sepasang matanya memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan hati. Sambil mengawasi senjata Hian im kui jiu di tangan Ciu Lan, dia tak berani bertindak secara gegabah.

Sementara Sam ku sinni masih berbicara lagi, kedua belah pihak telah terlibat kembali dalam suatu pertarungan yang amat seru.

Tampak senjata Kun hoa giok ci yang berada di tangan Pek leng siancu So Bwe leng berubah menjadi segulung cahaya hijau yang bermain di tengah udara saja, segera mengurung seluruh badan Ciu Lan dan berputar tiada hentinya.

Cahaya berwarna merah yang terpancar dari balik senjata Hian im kui jiu dari Ciu Lan pun bergerak kian kemari di tengah kepungan cahaya hijau yang berlapis lapis, walaupun keampuhannya tidak melebihi cahaya hijau yang terpancar keluar dari senjata hun hoa giok ci tersebut, akan tetapi jurus serangan yang dipancarkan sedikitpun tidak kalah dibandingkan dengan pihak lawan.

Tampaknya Pek leng siancu So Bwe leng sudah dibikin tertarik sekali oleh jalannya pertarungan, dia seperti melupakan pesan dari Sam ku sinni saja, jurus serangan yang dipergunakan pun semakin ganas, dia lebih banyak meneter musuhnya untuk memaksakan suatu kemenangan dalam waktu singkat.

Sebaliknya Ciu Lan pun menghadapi desakan musuhnya dengan suatu pertarungan ganas dan sadis. Pada saat itulah Ciu Lan sedang menusuk jalan darah Khi bun hiat ditubuh Pek leng siancu So Bwe leng dengan jurus Jau ci huang swan (dari jauh menunjuk akhirat). Pek leng siancu So Bwe leng segera menjatuhkan tubuh bagian atasnya kebelakang, kemudian senjata Hun hoa giok ci nya menggunakan jurus Ban hoa eng cun untuk menyongsong datangnya serangan dari senjata Hian im kui jiu tersebut.

“Kraaak ” mendadak senjata Hian im kui jiu di tangan Ciu Lan

tersebut bukan saja telah bertambah panjang dua depa, bahkan setelah tiba ditengah jalan mendadak saja gerak serangan itu menjadi miring ke bawah dan langsung menotok jalan darah Hu ciat hiat diatas lambung Pek leng siancu So Bwe leng.

Tiba tiba saja Pek leng siancu So Bwe leng menjadi amat terperanjat, sekarang dia baru teringat dengan pesan gurunya, buru buru tubuhnya berputar sembari tarik napas panjang panjang, badannya dipaksakan untuk bergeser satu depa kesamping, nyaris sekali dia termakan oleh sodokan senjata Hian im kui jiu dari Ciu Lan.

Siapa tahu duduknya persoalan tak segampang itu saja, mendadak Pek leng siancu So Bwe leng merasakan pinggangnya menjadi kaku, entah sedari kapan rupanya Ciu Lan telah membidikkan jarum Hian im ciang yang secara telak menghantam sisi jalan darah Thian ci hiatnya. Jarum Hian im ciang tersebut bukan hanya khusus dipakai untuk mematahkan pertahanan hawa khikang belaka, bahkan mengandung racun yang sangat jahat, begitu tubuhnya kesemutan, Pek leng siancu So Bwe leng segera merasakan pandangan matanya berkunang kunang dan tubuhnya gontai, setelah itu roboh terjengkang ke belakang.

Semenjak awal pertarungan tadi, Thi Eng khi sudah berjaga jaga di samping Pek leng siancu, walaupun tenaga dalamnya amat sempurna, toh pengalamannya masih kurang. Sewaktu menyaksikan So Bwe leng berhasil meloloskan diri dari sergapan senjata Hian im kui jiu dari Ciu Lan tadi, dia menganggap ancaman bahaya untuk Pek leng siancu So Bwe leng sudah lewat, sehingga tak urung pikirannya ikut bercabang pula. Siapa tahu, pada saat itulah Pek leng siancu So Bwe leng telah termakan oleh sergapan gelap.

Di saat tubuh Pek leng siancu So Bwe leng masih gontai inilah anak muda tersebut segera melayang maju ke depan dan menyambar pinggang si gadis yang hampir roboh terjengkang ke tanah itu, kemudian tak sempat menggubris Ciu Lan, dia segera mengundurkan diri kearah belakang.

Semua gerakan tubuhnya dilakukan dengan kecepatan luar biasa, tidak sempat terlihat bagaimana dia maju, tahu tahu semua orang menyaksikan dalam bopongannya sudah bertambah dengan seseorang. Tampaknya tidak seorang manusia pun yang tahu dengan cara apakah dia telah menyelamatkan jiwa Pek leng siancu So Bwe leng dari ancaman bahaya maut.

Hian im li Ciu Lan lebih tertegun lagi, sepasang matanya sampai terbelalak lebar lebar dengan mulut melongo, untuk beberapa saat lamanya dia hanya bisa memandang kearah Thi Eng khi dengan wajah kebingungan dan tidak habis mengerti.

Sam ku sinni segera melayang kesisi tubuh Pek leng siancu So Bwe leng, kemudian dengan wajah serius katanya :

“Leng ji sudah terkena jarum Hiam im ciam, jarum Hiam im ciam amat beracun dan tiada obat penawarnya aaaai, bagaimana

baiknya sekarang?” Thi Eng khi segera menotok jalan darah Ciang bun hiat, Thian keng hiat, Kay khong hiat, Jit kan hiat, Cu cing hiat, Kwa pang hiat, dan Kay khong hiat , tujuh buah jalan darah penting di tubuh Pek leng siancu So Bwe leng. Kemudian dari sakunya dia mengambil pil Kim khong giok leng wan dan menjejalkan tiga butir ke dalam mulut Pek leng siancu So Bwe leng. Setelah menyerahkan kepada Sam ku sinni, katanya :

“Soal racun yang mengeram dalam tubuh adik Leng, kini sudah tak perlu dikuatirkan lagi, harap locianpwe berusaha untuk mencabut keluar jarum Hian im ciam tersebut dari luka mulut adik Leng.

Boanpwe akan menghadapi sendiri siluman perempuan itu!”

Selesai berkata dia lantas menerjang ke hadapan siluman perempuan Ciu Lan dan berseru gusar :

“Hatimu kelewat kejam, aku tak bisa membiarkan manusia seperti kau tetap hidup di dunia ini.”

Tidak menunggu sampai siluman perempuan Ciu Lan sempat memberikan jawabannya, dia segera turun tangan melancarkan sebuah totokan ke tubuh perempuan tersebut. Sedemikian cepatnya serangan tersebut meluncur datang, ditambah lagi Hiam im li Ciu Lan berada dalam keadaan tidak bersiap sedia, dengan gugup dia lantas menyelinap ke samping untuk meloloskan diri.

Walaupun dia berhasil menghindari sergapan terhadap jalan darah Hian ki hiat nya tersebut namun kekuatan jari tangan nya itu toh sempat menghantam jalan darah Ngo li hiatnya juga. Begitu lengannya terasa kesemutan, segenap kekuatan yang dimiliki pun menjadi punah, tak ampun lagi senjata Hian im kui jiu tersebut terlepas dari genggaman nya dan terjatuh ke tanah.

Berada dalam keadaan demikian, Ciu Lan tak berani memunggut kembali senjata Hian im kui jiu nya lagi, dengan gugup ia mengundurkan diri sejauh satu kaki lebih dari posisi semula. Thi Eng khi amat membenci terhadap senjata tajam yang keji dan berbahaya itu, dengan gemas ia menginjak Hian im kui jiu tersebut keras keras, hawa murninya segera disalurkan lewat telapak kaki dengan maksud untuk menghancurkan senjata mana. Dengan cepat dia dapat merasakan bahwa senjata Hian im kui jiu tersebut dari baja asli yang kuat sekali, pada hakekatnya sukar untuk dirusak. Pada saat itulah, Hian im li Ciu Lan segera berpaling, melihat perbuatan pemuda tersebut, dia lantas mengejek sambil tertawa dingin :

“Hian im kui jiu merupakan senjata mustika dari perguruan kami, tak nanti senjata tersebut bisa dihancurkan dengan mengandalkan kekuatan luar, aku lihat lebih baik tak usah membuang tenaga dengan percuma lagi ”

Ejekan mana sinis sekali, senyuman dan suara tertawanya juga amat menusuk pendengaran. Thi Eng khi mendengus dingin, dia sama sekali tidak menggubris perkataan orang, ujung kakinya segera mencukil senjata Hian im kui jiu tersebut hingga mencelat setinggi tiga kaki lebih, lalu tangan kanannya menggapai dan senjata Hian im kui jiu tersebut tahu tahu sudah terisap kedalam genggamannya.

Setelah itu anak muda tersebut berpekik amat nyaring, ditengah pekikan mana, hawa murninya dikerahkan sampai mencapai dua belas bagian lebih .....

Begitu selesai bersuit, dengan wajah bersungguh sungguh serunya :

“Sekarang juga aku akan menghancurkan Hian im kui jiu tersebut, apabila aku tak mampu melakukannya, kalian boleh lewat dengan sekehendak hati sendiri!”

Hian im li Ciu Lan segera tertawa terkekeh kekeh dengan suara yang tinggi melengking dan amat tak sedap didengar.

“Heeehhhh.... heehhhhh..... heeehhh Toa ci, nampaknya

waktu untuk kita tak akan akan terbengkalai!”

Mencorong sinar tajam dari balik mata Thi Eng khi, sepasang tangannya segera mencengkeram senjata Hian im kui jiu tersebut kencang kencang, lalu sambil mengerahkan tenaga dalamnya ia tekuk senjata yang terbuat dari baja asli itu sehingga patah menjadi dua bagian, setelah membuang gagang senjata, dia segera mencengkeram senjata berbentuk telapak tangan setan itu dan ditekan dengan kedua belah telapak tangannya.

Di dalam waktu singkat, senjata tersebut telah berubah menjadi segumpal besi rongsokan. Demonstrasi tenaga dalam yang demikian sempurnanya ini kontan saja membuat Hiam im ji li (dua wanita Hian im) menjadi pucat pias lantaran terperanjat, tanpa terasa peluh dingin pun jatuh bercucuran dengan amat derasnya.

Tentu saja ketua dari Siau lim pay dan ketua dari Bu tong pay yang tidak mengetahui sampai dimanakah kerasnya senjata Hian im kui jiu tersebut sama sekali tidak menunjukkan perasaan kaget yang luar biasa, mereka berdua hanya membungkam diri tanpa memberi komentar apa apa.

Selang sesaat kemudian, dua perempuan Hian im tersebut sudah berbisik bisik dengan suara lirih, nampaknya mereka sedang merundingkan situasi yang sedang dihadapi saat ini. Menyusul kemudian Hian im li Cun Bwee mengebaskan ujung baju merahnya, empat puluh delapan orang lelaki perempuan itu segera melompat turun dari punggung kuda masing masing sembari meloloskan senjata tajam.

Sedangkan Hian im li Cun Bwee juga telah meloloskan sebuah senjata Hian im kui jiu. Rupanya Hian im kui ji tersebut semuanya terdiri dari dua buah, oleh Hian im tee kun kedua senjata tersebut diberikan kepada dua orang perempuan tersebut seorang satu.

Kini Hian im li Ciu Lan telah berganti menggunakan ruyung lemas berwarna warni untuk menggantikan senjata Hian im kui jiu nya yang telah musnah. Mendadak Hian im li Cun Bwee bersuit nyaring, keempat puluh delapan orang lelaki perempuan itu segera bergerak ke depan. Empat lelaki empat perempuan berpisah membentuk satu regu dengan enam kelompok manusia yang terbagi bagi arahnya, mereka sama mendekati Thi Eng khi ...... Ketua Kay pang si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera membentak keras, dengan membawa Ngo heng ngo kay nya dia menyerbu ke hadapan Thi Eng khi, serunya kemudian :

“Saudara cilik, harap kau mundur selangkah, biar kami yang hadapi kerubutan mereka itu!”

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu Thi Eng khi memandang sekejap wajah orang orang itu, kemudian sahutnya :

“Harap engkoh tua mundur, hari ini mereka datang untuk mencari gara gara dengan Thian liong pay, sudah sewajarnya bila siaute yang menghadapi mereka, apabila aku sudah tak mampu untuk mempertahankan diri saja kalian baru menggantikan kedudukanku ini. Sekarang, silahkan saja engkoh tua dan ciangbunjin berdua menjaga mereka semua, jangan sampai ada diantara mereka yang berhasil lolos dari bukit ini.”

“Omitohud!” seru ketua Siau lim pay, Ci long taysu dari kejauhan sana, “walaupun barisan Siau kiu tan goan tin dari kuil kami tak bisa dibandingkan ketangguhannya dengan barisan Lohan toa tin, namun pinceng percaya mereka tak akan mampu untuk menerjang keluar dari kepungan kita!”

Keng hian totiang, ciangbunjin dari Bu tong pay segera menyambung pula :

"Thi ciangbunjin tak usah kuatir, barisan pedang Jit seng kiam tin dari partai kamipun bersiap sedia untuk menciduk setiap orang yang berusaha kabur dari sini.”

Dalam keadaan demikian, terpaksa pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po hanya bisa berpesan kepada Thi Eng khi :

“Kau harus berberhati hati!”

Kemudian dengan mengajak Ngo heng ngo kay mengundurkan diri ke posisinya semula. Thi Eng khi segera mengeluarkan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im untuk menerjang ke muka, tidak menunggu lelaki perempuan anggota perkumpulan lawan menyerbu datang, dia sudah melakukan tindakan lebih dahulu dengan menerjang orang orang tersebut. Gerakan tubuhnya amat cepat, diantara kelebatan tubuhnya, jari tangannya menyodok ke timur menotok ke barat, dengusan tertahan segera berkumandang silih berganti, tak selang beberapa saat kemudian kawanan lelaki perempuan itu sudah bertumbangan ke atas tanah. Jangan toh memberikan perlawanan, untuk melihat jelas wajah musuhnya pun tak sempat, tahu tahu saja tubuh mereka sudah dirobohkan oleh Thi Eng khi. Menyaksikan hal mana, sisanya menjadi ketakutan setengah mati dan bersama sama mengundurkan diri kebelakang tubuh kedua perempuan Hian im tersebut.

Thi Eng khi segera tertawa keras.

“Haahhhs….. haaahh….. haaahh….. kalau dengan mengandalkan kepandaian seperti inipun kalian ingin memperlihatkan kejelekan dihadapan Thian liong pay kami, hmm… apakah orang persilatan d dunia ini tak akan memandang rendah orang orang dari Ban seng kiong kalian?"

Padahal kedua orang perempuan Hian im itu tahu kalau keempat puluh delapan orang anggota mereka rata rata merupakan jagoan lihay yang mempunyai nama besar dalam dunia persilatan tapi berhubung jumlah mereka terlampau banyak dan kepandaian silat yang dimiliki tak mampu dikembangkan ditambah pula tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi amat sempurna, gerakan tubuhnya pun cepat bagaikan sambaran kilat, itulah sebabnya kemenangan berhasil diraih oleh si anak muda tersebut secara mudah.

Sementara itu, kedua orang perempuan Hian im tersebut sudah mulai menaruh perasaan bergidik terhadap Thi Eng khi. Jangankan dibelakang Thi Eng khi sekarang masih terdapat sepuluh orang pendeta, sepuluh orang tojin, enam orang pengemis dan seorang nikou, sekalipun hanya Thi Eng khi seorang pun mereka lebih banyak berada di pihak yang kalah daripada menang. Setelah berunding sebentar, mereka memutuskan untuk tidak mengundurkan diri dengan begitu saja.

Kedua orang perempuan Hian im tersebut segera menunjuk tujuh orang lelaki dan bersama mereka berdua, sembilan orang bersama sama terjun kearena untuk mengurung Thi Eng khi. Kepandaian silat yang dimiliki dua orang perempuan Hian im tersebut pada dasarnya memang amat lihay ditambah pula tujuh orang lelaki itu merupakan jago pilihan, dengan membentuk barisan Hian im kiu ciat tin, mereka segera mengurung Thi Eng khi rapat rapat.

Thi Eng khi tentu saja tak perlu kuatir atau takut menghadapi ilmu barisan tersebut nanum dia dapat merasakan bahwa barisan yang dibentuk oleh kesembilan orang itu sekarang, sudah pasti jauh lebih lihay da¬ripada kerubutan orang orang banyak tadi.

Ciu Lan, salah seorang dari dua perempuan Hian im tersebut segera menengok ke wajah Thi Eng khi, kemudian jengeknya :

“Thi ciangbunjin, apabila kau sanggup mengungguli ilmu barisan kami ini, hari ini kami semua akn segera menarik diri dari tempat ini!”

Sementara Cun Bwee segera memutar senjata Hian im kui jiu nya sebanyak tiga kali diatas kepala. Kemudian dengan memimpin delapan orang lainnya, mereka mulai mengurung Thi Eng khi sambil berputar mengelilinginya.

Thi Eng khi segera mendengus dingin.

"Hmmm, aku justru kuatir kalau sam¬pai waktunya, kalianlah yang tak mampu untuk meninggalkan tempat ini!”

Mereka sudah berputar sebanyak delapan lingkaran, pada saat berputaran yang kesembilan kalinya itulah barisan Hian im kui ciat tin akan segera mencapai pada puncak Kehebatannya, bila serangan dilepaskan pada saat itu maka kedahsyatannya tak akan terbendung oleh siapa saja.

Siapa sangka disaat itulah, mendadak dari kejauhan sana berkumandang seruan seseorang dengan suara yang tak begitu nyaring, tapi dapat didengar oleh setiap orang dengan jelas :

"Thi sauhiap memiliki ilmu sakti Heng kian sinkang Cu sim ci cu Thio Biau liong, kalian semua bukan tandingannya, ayo cepat mundur semua!” Berbareng dengan seruan mana, segera terlihatlah sesosok bayangan manusia yang meluncur datang dengan kecepatan luar biasa. Thi Eng khi kuatir semua orang tidak mengetahui siapa gerangan manusia yang barusan menampakkan diri itu, maka menggunakan kesempatan tersebut segera teriaknya :

“Ooooh, rupanya Hian im Tee kun, telah berkunjung sendiri kemari, tak heran kalau dalam sekilas pandangan saja kau sudah mengenali asal usul dari sinkang yang kugunakan.”

Hian im Tee kun segera mengawasi Thi Eng khi beberapa saat lamanya, kemudian tertawa terbahak bahak :

“Haaahh... haaahh haaahh… sudah seratus tahun lamanya

lohu tak pernah berkelana dalam dunia persilatan, sungguh tak kusangka dan hari ini bisa berjumpa de¬ngan seorang yang secara dipaksakan masih dapat menandingi lohu!"

Walaupun perkataannya itu bernada sa¬ngat angkuh, jumawa dan amat tekebur, namun maksud yang sesungguhnya tak lain adalah mengangkat derajat Thi Eng khi dalam pandangannya.

Sepanjang perjalanan menuju ke utara Thi Eng khi sudah banyak mendengar tentang segala sesuatu mengenai Hian im tee kun tersebut dari mulut Sam ku sinni. Diapun sadar bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang itu sudah mencapai taraf yang luar biasa sekali, mungkin dikolong langit dewasa ini sulit untuk menemukan seorang manusia pun yang mampu untuk menandingi kehebatannya.

Thi Eng khi sendiri memang berbakat bagus, dia pun sudah cuci otot dengan mempergunakan empat macam obat mestika yang dicari oleh keempat orang paman gurunya terutama setelah berhasil mempelajari ilmu Heng kian sinkang, boleh dibilang seluruh manfaat obat mestika yang masih tersisa dalam tubuhnya telah terhisap dan termanfaat semua. Semuanya itu masih ditambah lagi dengan ilmu sim hoat perguruan yang lihay, sehingga keberhasilan yang berhasil dicapainya sekarang, pada hakekatnya tidak diketahui dengan jelas oleh dirinya sendiri.

Hal ini tak bisa dikatakan ia bodoh, berhubung pelajaran itu diajarkan semasa ia masih muda, ditambah lagi kemajuan yang berhasil dicapainya pun diluar kemampuan orang biasa. Hal ini pun yang membuat dirinya tak sanggup untuk mengenali kemampuannya sendiri.

Dengan perkataan dari Hian im Tee kun sekarang, maka tak salah lagi kalau dia telah menyamakan keberhasilan yang berhasil diraih Thi Eng khi sekarang sudah hampir menghadapi taraf kemampuan sendiri. Thi Eng khi pribadi masih tidak terpengaruh oleh ucapan tersebut, namun sepuluh pendeta, sepuluh tosu, enam pengemis, seorang nikou dan Sam ciat jiu Li Tin tang serta pencuri sakti Go jit sekalian merasakan hatinya seperti terombang ambing di tengah awan, seolah olah pujian dari Hian im tee kun itu ditujukan kepada mereka. Sebab kini mereka sudah tahu kalau dalam dunia persilatan, akhirnya muncul juga seseorang yang mampu untuk menandingi kemampuan Hian im Tee kun.

Berhadapan dengan manusia buas yang berilmu tinggi ini walaupun Thi Eng khi merasa hatinya sangat tegang, na¬mun dia sama sekali tak berani gegabah, sekuat tenaga dia berusaha untuk menenangkan diri dan tak sampai membuat perhatiannya menjadi bercabang, setelah itu sahutnya dengan lantang :

"Terima kasih banyak atas pujianmu itu aku tak berani menerimanya ”

Kemudian sesudah berhenti sejenak, dengan wajah serius katanya lebih jauh :

“Cuma aku sama sekali tidak merasa bangga oleh pujianmu itu!"

Hawa amarah segera berkobar didalam dada Hian im Tee kun, namun amarah tersebut tak sampai diperlihatkan diatas wajahhya, memincingkan mata dan tertawa ujarnya :

"Belum pernah ada seorang pemuda yang berusia sebaya dengan kau berhasil menca¬pai tingkatan yang begini tinggi apalagi yang belum membuatmu merasa puas?”

"Apabila badai dan bencana yang me¬ngancam dunia persilatan dapat kuhilangkan saat itulah aku baru merasa amat bangga!” Hian im Tee kun segera tertawa terbahak bahak sesudah mendengar perkataan itu.

“Haaahh.... haaahhh haaahhh…. agaknya pendapat seorang

enghiong memang selamanya sama, apa yang menjadi cita cita Thi sauhiap tak lain adalah apa yang lohu pikirkan, apabila kita bersedia untuk bekerja sama, rasanya tak sulit untuk menghilangkan bibit bencana dari dunia persilatan, dengan demikian, bukankah apa yang kau harapkan pun akan segara tercapai?"

Apa yang dikatakan Hian im tee kun tersebut kedengaran masuk akal dan sulit sekali untuk dibantah. Untuk sesaat lamanya Thi Eng khi menjadi termenung, ia sedang menyusun kalimat untuk membongkar maksud jahat Hian im Tee kun tersebut.

Siapa sangka pencuri sakti Go Jit salah mengira Thi Eng khi sedang mempertimbangkan tawaran dari Hian im Tee kun tersebut. Sebagai seorang yang berasal dari Ban seng kiong, tentu saja dia cukup mengetahui akan rencana busuk Ban seng kiong untuk menguasai dunia persilatan. Kuatir kalau Thi Eng khi termakan oleh bujukan lawan sehingga mengalutkan rencana dan merugikan dirinya sendiri, buru buru serunya dengan suara lantang :

“Thi ciangbunjin, kau jangan mau berkomplotan dengan harimau, apalagi mendengar bujuk rayunya!”

Mencorong sorot mata tajam dari balik mata Hian im Tee kun, ditatapnya wajah si pencuri sakti Go Jit tajam tajam, kemudian dengan gusar menegur keras :

“Kaukah yang bernama pencuri sakti Go Jit?”

Seperti apa yang diketahui, jumlah anggota yang bergabung dengan Ban seng kiong banyak sekali, meskipun pencuri sakti Go Jit merupakan seorang jago tua yang amat termashur namanya dalam dunia persilatan, akan tetapi kedudukannya dalam istana tidak begitu penting, ia pun bukan seorang manusia yang mempunyai keahlian khusus. Oleh sebab itu, ditinjau dari pertanyaan yang diajukan oleh Hian im tee kun tersebut bisa diketahui kalau jarak hubungan diantara mereka amat jauh, bahkan pemimpin dari Ban seng kiong ini tidak begitu mengenal dirinya. Sewaktu sorot mata Pencuri sakti Go Jit saling berbenturan dengan tatapan mata dari Hian im Tee kun, tanpa terasa tubuhnya menjadi bergidik.

“Hamba..”

Mungkin disebabkan terpengaruh oleh kewibawaan Hian im Tee kun, maka tanpa disadari ia telah membahasai diri sebagai "hamba" kembali. Tapi begitu ucapan mana diutarakan, dia baru merasa kalau keadaan tidak benar, cepat cepat gantinya. "Yaa, betul, akulah Go Jit!”

Dengan nada suara yang amat datar kembali Hian im Tee kun berkata :

“Kau adalah orang pertama yang berani berkhianat terhadapku semenjak pun Tee kun mendirikan Ban seng kiong, hmm… tampaknya nyalimu benar benar amat besar!"

Dibalik nada suara yang datar, lamat lamat terselip hawa napsu membunuh yang benar benar menggetarkan sukma. Pencuri sakti Go Jit tak berani membantah, namun paras mukanya telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat. Kembali Hian im Tee kun berkata sam¬bil tertawa :

"Memandang diatas wajah Thi saubiap, pun Tee kun bersedia memberi pengampunan untuk kesalahanmu itu, sekarang ayo kembali ke samping Kiongcu berdua.”

"Terima kasih atas budi kebaikan Tee kun!" sahut Pencuri Go Jit dengan suara gemeter.

Sungguh aneh sekali kalau dibicarakan, ternyata dia segera bergerak maju tanpa melawan, sama sekali beda dengan peringatan yang diberikan kepada Thi Eng khi tadi. Sam ciat jiu Li Tin tang segera menarik lengannya sembari membentak keras : "Saudara Go, jangan ke situ!"

Pencuri sakti Go Jit tertawa rawan. "Inilah budi kebaikan yang dilimpahkan Tee kun kepada siaute, kalau tidak siau¬te bisa jadi akan terperosok dalam keadaan yang benar benar mengenaskan"

Hian im Tee kun yang mendengar perkataan tersebut segera tertawa, sambungnya dengan cepat :

"Kau memang menurut sekali, nanti pun Tee kun bersedia untuk mempertimbangkan kembali akan kesalahan itu!”

Pencuri sakti Go Jit segera membalikkan badan dan menjura kepada sepuluh pendeta, sepuluh tosu, enam pengemis dan seorang nikou itu, lalu katanya :

“Go Jit hanya punya awal tak ada akhir, moga moga tak sampai mengecewakan kalian semua.”

Kemudian dengan langkah lebar dia berjalan menuju ke arah Hian im ji li berdiri. Thi Eng khi segera membentak dengan suara menggeledek :

"Asal jiwa ksatria mu masih tetap ada sekalipun diancam dengan golokpun tak perlu kuatir. Go tayhiap, apa yang kau takuti.”

Pencuri sakti Go Jit menghentikan langkahnya, kemudian menyambut dengan perasaan kuatir :

“Kematianku seorang tak perlu disayangkan, tapi dengan demikian akan memancing datangnya bencana bagi semua sobat yang hampir di arena sekarang, itulah yang tidak dikehendaki oleh Go Jit!”

“Apa yang kau ucapkan tersebut sudah berada di dalam dugaanku, bila aku tak bisa turut membagi kesulitan dengan Go tayhiap buat apa aku menjadi sahabatmu selama ini.”

Kalau didengar dari nada pembicaraannya, jelas dia sudah bertekad untuk menghadapi situasi macam apapun tanpa perasaan menyesal. Pencuri sakti Go Jit benar benar merasa terharu sekali, menyusul kemudian dia pun menghela napas panjang.

“Aaaai, setelah Thi ciangbunjin berkata demikian, aku merasa semakin harus bagi diriku untuk pergi kesana!” Selesai berkata, kembali dia beranjak pergi dari situ. Thi Eng khi menjadi melongo.

“Go tayhiap,” segera teriaknya, “mengapa perkataanmu saling bertentangan satu sama lainnya? Aku benar benar dibikin kebingungan!”

Pencuri sakti Go Jit membuka mulutnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi dia pun segera merasa tidak seharusnya mengutarakan perkataan mana, akhirnya setelah mengurungkan niatnya, dengan membusungkan dada dia berjalan maju lebih jauh.

Hian im tee kun segera memanggil si pencuri sakti Go Jit, kemudian katanya :

“Pun Tee kun mengijinkan kepadamu untuk mengungkapkan peraturan dari istana kita kepada Thi sauhiap!”

Dengan suara lantang pencuri sakti Go Jit segera berseru : “Peraturan ke lima dari Ban seng kiong berbunyi : Barang siapa

berani berkhianat terhadap istana, bila tertangkap maka dia akan dijatuhi hukuman berat Ban ciat lun hui, apabila dia tak mau menyerah dan mencoba untuk melarikan diri maka segenap sahabat baiknya akan turut dijatuhi hukuman tersebut.”