Pukulan Naga Sakti Jilid 30

Jilid 30

Setelah menjura, kepada Sam ciat jiu Li Tin tang katanya : “Mari kita segera berangkat!”

“Thi ciangbunjin, kau harus ikut kami menuju ke Thio kong si!” ketua dari Cing sia pay Ting Kong tetap bersikeras dengan pendiriannya semula.

Dengan sorot mata yang tajam Thi Eng khi segera memandang sekejap kearah enam orang itu, kemudian serunya :

“Apakah kalian hendak main kerubut?”

Didengar dari ucapan mana, seakan akan dia hendak berkata begini : Jika kalian harus bertarung satu lawan satu, maka siapaun tak akan berhasil menangkan aku.

Cuma dari keenam orang tersebut, kalau bukan sebagai seorang ketua dari suatu perguruan besar tentulah seorang jago lihay yang sudah mempunyai nama besar dalam dunia persilatan, bila orang orang itu diharuskan main kerubut, sudah barang tentu tak seorang pun diantara mereka yang bersedia untuk melakukannya.

Tapi kalau diharuskan bertarung satu lawan satu, Unta sakti Lok It hong merupakan contoh yang paling jelas, apalagi mereka semua pun mempunyai perhitungan sendiri, kalau Lok It hong saja tidak mampu, apalagi yang lain?

Sayangnya, Thi Eng khi mengucapkan perkataan itu dengan perasaan gusar sehingga tak bisa dihindari, kata kata yang dipergunakan kasar sekali, rupanya kata kata yang kasar inilah yang menyebabkan semua orang tak tahan. Beberapa orang jago itu segera saling berpandangan sekejap, sementara hawa amarah telah menyelimuti wajah mereka. Keadaan benar benar terjerumus dalam suasana serba rikuh yang menegangkan.

Di saat yang amat kritis inilah, mendadak terlihat sesosok bayangan manusia berkelebat lewat. Sungguh tajam pandangan mata orang itu, dari kejauhan sudah kedengaran dia berseru keras :

“Thi siauhiap, kau jangan berbincang bincang terus dengan para ciangbunjin di tempat ini, tahukah kau kalau ibumu sudah menghadapi musibah dan lenyap tak berbekas?”

Thi Eng khi menjadi amat terperanjat setelah mendengar perkataan itu, untuk sesaat dia berdiri tertegun. Sementara itu, orang tersebut sudah meluncur datang dengan kecepatan luar biasa. Dengan cepat para ciangbunjin dari pelbagai perguruan besar itu mengenali orang tadi sebagai Sam ku sinni, dengan perasaan terperanjat dan tidak mengerti, mereka berseru :

“Locianpwe, apa maksudmu?”

Sementara itu, Thi Eng khi sudah mendepak depakkan kakinya berulang kali sambil berseru dengan gemas :

“Aaai. gara gara kalian aku jadi begini!”

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia segera berkelebat meninggalkan tempat itu, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata. Menyaksikan Thi Eng khi berlalu dengan terburu buru sebelum ia sempat menyelesaikan kata- katanya, dengan cepat Sam ku sinni berkata lagi dengan ilmu menyampaikan suara :

“Go Jit dan muridku juga ikut datang, sekarang mereka sedang menantimu dalam kuil dewa gunung sepuluh li di depan sana, kau berangkatlah selangkah duluan, pinni akan segera menyusul.”

Sewaktu berlalu tadi, Thi Eng khi telah menggunakan ilmu gerakan tubuh yang lihay sekali, jangankan para ciangbunjin itu bermaksud menghalanginya, dengan gerakan tubuh apakah dia berlalu ternyata tak diketahui pula oleh mereka. Sekarang kawanan jago lihay dari dunia persilatan ini baru sadar, rupanya selama ini Thi Eng khi masih mengalah terus, seandainya dia benar benar akan turun tangan keji, kendatipun mereka maju bersama pun belum tentu akan berhasil.

Sementara itu Sam ku sinni telah menegur dengan perasaan tercengang dan tidak habis mengerti :

“Apakah antara kalian dengan Thi siauhiap telah terjadi suatu perselisihan yang mengakibatkan kedua belah pihak sama sama tak enak hati ?”

Secara ringkas Sam ciat jiu Li Tin tang segera menceritakan kembali apa yang telah terjadi barusan. Selesai mendengar penuturan tersebut, dengan wajah serius Sam ku sinni segera berseru :

“Aaaai. bagaimanapun juga kalian toh seorang dedengkot silat

yang sudah mempunyai nama ”

Sebenarnya dia bermaksud untuk menegur para ciangbunjin tersebut dengan kata kata yang bernada keras, tapi setelah perkataan sampai diujung bibir, dia segera berubah niat, katanya lagi sesudah menghela napas panjang :

“Thi siauhiap adalah bintang penolong bagi dunia persilatan, dia bukan manusia seperti apa yang kalian bayangkan sekarang, lama kelamaan juga akan ketahuan mana yang baik dan mana yang jelek, kalian aaaaaai!”

Setelah menghela napas lagi, dia berpaling ke arah Sam ciat jiu Li Tin tang dan berkata lagi :

“Li tayhiap, kaupun tak boleh berdiam kelewat lama disini!”

Tanpa membuang waktu lagi, dia membalikkan badan dan segera berlalu dari situ. Dengan gerakan tubuh yang dimiliki Sam ciat jiu Li Tin tang, bagaimana mungkin dia sanggup menyusul Sam ku sinni? Apalagi sekarang lagi menderita luka parah maka sejak beranjak dia sudah ketinggalan di belakang .... Untung saja Sam ku sinni telah menerangkan tempat tujuan mereka, sehingga dia tidak kuatir salah mencari. Si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang selama ini membungkam tiba tiba menyusul di belakang Sam ciat jiu Li Tin tang seraya berkata :

“Li tayhiap, aku si pengemis tua akan melakukan perjalanan bersama dirimu!”

Yang pergi, kini telah pergi. Di tempat semula tertinggal lima sosok bayangan manusia yang tetap berdiri kaku di tempat semula, wajah mereka diliputi rasa bimbang dan tidak habis mengerti, lama kemudian orang orang itu baru menghela napas panjang.

Kuil dewa bukit yang terletak sepuluh li diluar kota merupakan tempat yang sering kali dikunjungi Thi Eng khi semasa kecil dulu, sekalipun sambil memejamkan mata, dia dapat menemukan tempat tersebut dengan tepat. Sekarang dengan menggunakan ilmu gerakan tubuh yang paling tinggi ia meluncur ke depan, jarak sejauh sepuluh li hanya ditempuh olehnya dalam waktu beberapa saat.

Setelah menikung disuatu kaki bukit, didepan sanalah terletak kuil dewa bukit itu.

Ketika ia sedang mendongakkan kepalanya, mendadak dari depan muncul sesosok bayangan manusia yang meluncur ke arah yang sama dengan kecepatan tinggi. Saat ini, anak muda tersebut sedang diliputi perasaan mendongkol, menyaksikan ada orang sedang meluncur dengan kecepatan tinggi, dia segera berpekik rendah, gerakan tubuhnya meluncur semakin cepat lagi.

Dengan suatu gerakan Im li huan sin (membalikkan badan di balik awan), dia segera melejit melalui atas kepala orang itu dan menghadang jalan perginya. Gerak penghadangan yang dilakukan oleh Thi Eng khi sama sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun, hanya dalam waktu sedetik tahu tahu dia telah melayang turun di depan orang tersebut.

Pemunculan yang sangat mendadak dan sama sekali tidak terduga ini kontan saja membuat orang itu menjerit kaget dengan peluh dingin jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. “Siapa?” jeritnya kaget.

Secara tiba tiba dia menghentikan gerak maju tubuhnya lalu mundur sejauh lima langkah, sepasang telapak tangannya disilangkan di depan bersiaga menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Sekarang Thi Eng khi baru dapat melihat jelas raut wajah orang itu, ketika empat mata saling bertemu, kedua orang itu sama sama berseru tertahan :

“Ooooooh!”

Menyusul kemudian orang itu menjura kepada Thi Eng khi seraya berkata :

“Tecu menghunjuk hormat kepada ciangbunjin!”

Sedangkan Thi Eng khi segera berseru dengan suara penuh dengan rasa haru :

“Ji susiok!”

Di balik perkataan itu, mereka berdua sama sama merasa amat pedih dan murung. Selesai memberi hormat, dengan sepasang mata berkaca kaca Pit tee jiu Wong Tin pak berkata :

“Sungguh tak disangka kita akan bersua di tengah jalan, dengan begitu akupun tak usah membuang waktu lagi.”

“Apakah susiok ada urusan hendak bertemu denganku?” Pit tee jiu Wong Tin pak mengangguk.

“Keponakan Eng, ikutlah aku!”

Dia membalikkan badan siap berlalu dari situ, namun tidak menerangkan persoalan apakah yang hendak mereka bicarakan. Dengan kening berkerut Thi Eng khi segera berseru :

“Sekarang keponakan masih ada urusan penting ….. mengapa kita tidak berbincang bincang dalam kuil dewa bukit di depan sana? Keponakanpun masih mempunyai banyak persoalan yang hendak ditanyakan kepada susiok …..” “Sebenarnya kami tak tahu kalau kau sudah pulang, ibumu yang mengatakan demikian, oleh sebab itu, paman mendapat perintah untuk mencarimu.”

Dengan perasaan bergetar keras dan penuh amarahm Thi Eng khi segera berseru :

“Bagus sekali! Rupanya kalian ”

Dengan paras muka sama sekali tak berubah, Pit tee jiu Wong Tin pak berkata :

“Keponakan Eng, jangan berpikir terlalu banyak, mari kita memotong jalan saja!”

Terpaksa Thi Eng khi mengikuti di belakang Pit tee jiu Wong Tin pak berangkat menuju ke rumah. Sepanjang jalan kedua orang itu sama sama merasakan hatinya berat, sekalipun terdapat banyak persoalan yang ingin dibicarakan, tapi mereka pun tidak tahu harus dibicarakan mulai dari mana.

Tak lama kemudian, bayangan gedung Bu lim tit it keh pun sudah muncul di kejauhan sana. Tiba tiba Pit tee jiu Wong Tin pak berkata dengan suara lirih :

“Kita masuk melalui pintu kebun belakang saja, jangan sampai diketahui siapa pun!”

Thi Eng khi kembali merasa antipatik, pikirnya :

“Aku toh pulang ke rumah sendiri, mengapa tak boleh melalui pintu gerbang? Tampaknya dunia benar benar sudah terbalik!”

Sekalipun dalam hati kecilnya merasa tak ingin, akhirnya perasaan tersebut toh berhasil dikendalikan juga, dia membungkam dalam seribu bahasa dan mengikuti Pit tee jiu Wong Tin pak masuk melalui kebun belakang.

Pit tee jiu Wong Tin pak meminta kepada Thi Eng khi untuk menunggu dulu diluar dinding, sedangkan dia memancing pergi anak muridnya yang berjaga di pintu tersebut, kemudian dia baru mengajak Thi Eng khi masuk kedalam. Menyaksikan kesemuanya itu, sambil tertawa hambar, Thi Eng khi segera berkata :

“Tak usah susiok risaukan, siautit percaya masih mempunyai kemampuan agar tidak sampai diketahui orang banyak, katakan saja kepadaku kita akan bersua dimana.”

Sampai lama sekali Pit tee jiu Wong Tin pak mengawasi wajah Thi Eng khi, ketika dilihatnya pemuda itu menunjukkan keyakinan yang besar, diapun tidak memaksa lebih jauh, bisiknya lirih :

“Kalau begitu mungkin aku akan menunggumu di pesanggrahan Cian liong piat su, tapi kau mesti berhati hati!”

Kemudian dia membalikkan tubuh dan berlalu lebih dulu. Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Thi Eng khi, segera pikirnya :

“Jangan jangan kalian hendak menyekapku disini? Tapi, kalau kalian sampai berpikiran demikian, maka kalian akan merasa kecewa sekali ”

Dengan mengandalkan kepandaian sakti yang dimiliki Thi Eng khi sekarang, pesanggrahan Cian liong pat su dari gedung Bu lim tit it keh memang belum mampu untuk mengurungnya. Thi Eng khi memang lihay sekali, sedari berada di luar dinding pekarangan tadi, dia telah mengerahkan ilmunya untuk menyelidiki tempat penjagaan dari anak murid yang melakukan perondaan di dalam kebun.

Tampak dia menggerakkan tubuhnya dengan kecepatan yang luar biasa, hanya di dalam sekali kelebatan saja dia sudah menyusup ke dalam kebun belakang dan langsung menuju ke tempat masuk ruang Cian liong pat su.....

Rupanya yang dimaksud sebagai Cian liong pat su adalah sebuah ruang bawah tanah yang dahulu digunakan Keng thian giok cu Thi Keng untuk bersemedi, tempat masuknya terletak di tengah sebuah gardu persegi delapan yang berada di sebelah barat kebun.

Di hari hari biasa, tempat itu merupakan tempat terlarang bagi anggota Thian liong pay, siapapun dilarang memasuki tempat tersebut. Sejak Thi Eng khi dilahirkan, walaupun pamor Thian liong pay semakin merosot tapi wilayah diseputar tempat itu masih tetap diperlakukan sebagai daerah terlarang.

Walaupun Thi Eng khi belum pernah berkunjung ke sana, tapi dari mulut Thian liong ngo siang dia mengetahui akan hal tersebut dengan sangat jelas. Semenjak Thian liong ngo siang kembali ke gedung Bu lim tit it keh, mereka telah membenahi kebun sebelah barat ini hingga kembali ke wujud semula. Pepohonan yang rendah ditanam disana sini, sebuah kolam dan sebuah gardu persegi delapan terletak disekeliling pepohonan rendah tersebut.

Tempat itu tidak dijaga orang, Thi Eng khi dengan mengerahkan ilmu sakti Thian liong pay segera menembusi barisan Ciang liong tin yang sengaja dibuat disekitar hutan kecil itu. Bagi siapa pun yang tidak mengenal ilmu barisan tersebut, jangan harap bisa menembusi tempat itu dalam keadaan selamat.

Thi Eng khi sudah memahami ilmu barisan itu secara matang, maka tanpa ragu-ragu dia melangkah masuk ke hutan tersebut dan bergerak kesana kemari secara leluasa, dalam waktu yang singkat sampailah dia di gardu persegi delapan di sisi kolam tersebut.

Di dalam gardu inilah, dia saksikan Pit tee jiu Wong Tin pak baru saja menyelinap datang. Tampaknya Pit tee jiu Wong Tin pak tidak menyangka kalau Thi Eng khi bakal tiba lebih dulu disana, setelah tertegun sesaat, dia segera berseru sambil tertawa gembira :

“Ciangbunjin, tampaknya tenaga dalammu benar benar telah memperoleh kemajuan yang pesat, sungguh suatu kejadian yang menggembirakan, benar benar pantas digembirakan!”

Thi Eng khi mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang.

“Aaaai. perguruan kita sudah tertimpa aib, sekalipun memiliki

tenaga dalam yang lebih sempurna pun apa gunanya!”

Pit tee jiu Wong Tin pak tak berani menanggapi ucapan tersebut, dia segera meraba ke bawah meja berkaki delapan dalam gardu itu dan menekan tombol rahasianya. Pelan pelan meja tersebut bergerak naik ke atas dan muncullah sebuah pintu rahasia dibawah meja itu. Pit tee jiu Wong Tin pak mempersilahkan Thi Eng khi masuk, sedangkan dia sendiri segera berlalu dari situ.

Tanpa ragu Thi Eng khi berjalan menuruni anak tangga dan menembusi sebuah lorong rahasia yang tidak terlampau panjang, diujung sana merupakan sebuah ruangan batu, pintu ruangan terbuka lebar dan cahaya mutiara menyinari tempat itu bagaikan di siang hari saja.

Empat dinding di sekeliling ruang batu itu merupakan rak rak buku yang berisikan beberapa ribu jilid kitab, sebuah meja baca yang besar terletak di tengah ruangan, kecuali sebuah kursi, dalam ruangan itu tidak tersedia bangku lain.

Waktu itu Thi Eng khi sedang merasa pikirannya kalut, dia tak tahu bagaimana harus menghadapi kenyataan tersebut. Kini ia dihadapkan antara tugas dan cinta hubungan kekeluargaan serta keadilan, manakah yang harus dia utamakan lebih dulu?

Persoalan itu serasa memenuhi seluruh benaknya, membuat dia pusing dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Dengan perasaan yang amat gundah, dia berjalan bolak balik dalam ruangan itu, makin dipikir perasaannya makin kalut, dia kuatir kalau peristiwa yang tak diharapkan segera akan muncul menjadi suatu kenyataan.

Mendadak suara langkah manusia berkumandang memecahkan keheningan Thi Eng khi merasakan seluruh tubuhnya gemetar

keras, badannya menjadi lemas tak bertenaga, hampir saja tak mampu berdiri lagi.

Yang akan tiba, akhirnya tiba juga. Dari depan pintu muncul seorang kakek berbaju biru dan berperawakan tinggi besar berjenggot warna perak dna berwajah penuh welas kasih .....

Begitu kakek tersebut munculkan diri di depan pintu, rasa tak tenang yang semula mencekam perasaan Thi Eng khi tiba tiba saja tersapu lenyap hingga tak berbekas. Hal ini bukan dikarenakan Thi Eng khi sudah mengambil suatu keputusan yang tegas dalam hatinya, melainkan merupakan suatu kemampuan untuk mengendalikan perasaan sendiri menjelang terjadinya suatu pertarungan besar.

Keng thian giok cu Thi Keng berdiri di depan pintu dengan rambut dan jenggot bergetar keras, menatap wajah Thi Eng khi, dia merasakan suatu pergolakan emosi yang besar.

Thi Eng khi juga sedang mengamati wajah kakeknya yang pernah ia jumpai selagi berada di luar perbatasan tempo hari, wajahnya masih tetap seperti sediakala, malah ia kelihatan lebih segar dan lebih bersemangat hidup. Kenangan lama segera melintas kembali didalam benaknya, dia tak sanggup mengendalikan perasaannya lagi, air mata segera jatuh bercucuran dengan amat derasnya, dengan suara terharu teriaknya :

“Yaya!”

Ia segera menjatuhkan diri berlutut di atas tanah. Keng thian giok cu Thi Keng sendiripun merasakan airmatanya jatuh bercucuran, dia segera mengayunkan tangannya, ingin membimbing bangun anak muda tersebut. Siapa tahu begitu angin pukulannya menyapu ke depan, ia segera merasakan tubuh Thi Eng khi berat sekali, usahanya untuk menghalangi pemuda itu memberi hormat segera mengalami kegagalan total.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Keng thian giok cu Thi Keng, tenaga dalamnya segera dihimpun sampai dua belas bagian, akan tetapi seolah olah tidak merasakan apa apa, Thi Eng khi tetap memberi hormat sebanyak tiga kali kepadanya.

Baru saja kakek dan cucu saling bertemu, mereka berdua telah saling mencoba kekuatan masing masing secara diam diam. Dengan cepat Keng thian giok cu Thi Keng merasakan hatinya amat terkejut, sedangkan Thi Eng khi sendiripun merasa kagum juga atas kesempurnaan tenaga dalam yayanya, padahal dia sudah menggunakan tenaga dalamnya hingga mencapai delapan bagian, coba kalau tidak begitu, mungkin ia sudah kena dibangunkan oleh kakeknya. Selesai memberi hormat, Thi Eng khi mengangkat kepalanya mengamati wajah kakeknya, namun bagaimanapun dipandang, kakeknya sama sekali tidak mirip seorang yang berdosa terhadap partai Thian liong pay.

Akhirnya setelah mengerdipkan matanya, dia menghela napas sedih, untuk sesaat dia tak tahu apa yang mesti diucapkan. Keng thian giok cu Thi Keng tertawa nyaring, sambil tertawa dia berjalan menuju ke tempat kursi dan duduk, kemudian ujarnya :

“Eng ji, berdirilah disamping Yaya, Yaya ada persoalan yang akan dibicarakan denganmu!”

Dengan kening berkerut Thi Eng khi agak tertegun, kemudian sahutnya cepat :

“Bukankah cucunda berdiri sangat baik disini? Bila yaya ada persoalan silahkan saja kau utarakan!”

Dia masih tetap berdiri di tempat semula dan sama sekali tidak bergerak. Keng thian giok cu Thi Keng agak tertegun, kemudian berkata lagi :

“Eng ji, apakah kau merasa tidak puas terhadap yaya mu ?”

Setelah mendengar yayanya langsung menyinggung persoalan pokok, Thi Eng khi pun segera menjatuhkan diri berlutut dihadapan kakeknya, kemudian keluhnya :

“Eng ji tidak berbakti dan tak tahu diri, ada beberapa persoalan hendak kuucapkan kepada yaya, semoga yaya sudi memakluminya!”

Paras muka Keng thian giok cu Thi Keng amat tenang, sedikitpun tiada pancaran hawa amarah, sahutnya sambil tersenyum :

“Tak usah banyak berbicara lagi, yaya dapat memahami akan maksud hatimu itu!”

Kemudian sambil mengawasi Thi Eng khi beberapa saat lamanya, tanyanya lagi dengan serius :

“Yaya juga ingin mengajukan suatu pertanyaan kepadamu, bila yaya tidak menerima permintaanmu itu, apa yang hendak kau lakukan terhadap yaya ?” Thi Eng khi tertegun, dia sama sekali tidak menyangka kalau yaya nya bakal mengajukan pertanyaan tersebut, sekian lamanya dia menjadi tergagap dan tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Menyaksikan keraguan cucunya, dengan wajah kurang senang Keng thian giok cu Thi Keng serunya :

“Sebagai seorang lelaki sejati berani berpikir berani berkata berani bertanggung jawab, yaya mu sudah tua memang watakku mungkin bertambah aneh, tapi bila kau hendak mengucapkan sesuatu silahkan saja diutarakan!”

Sekali lagi Thi Eng khi menjura kepada Thi Keng, kemudian dengan pelan :

“Kalau begitu Eng ji akan bertindak kurang sopan!”

Keng thian giok cu Thi Keng tidak menukas lagi, dengan tenang dia mendengarkan Thi Eng khi berkata :

“Terpaksa Thi Eng khi akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencegah usaha yaya sehingga tak pernah akan berhasil. Aku akan berbuat demikian sampai yaya bertobat dari kesalahan.”

“Jadi kau hendak bermusuhan dengan yaya.”

“Yaa, apa boleh buat, Eng ji tidak punya pilihan lain lagi!”

Kulit wajah Keng thian giok cu Thi Keng berkerut kencang, entah apa yang sedang dipikirkan didalam hatinya. Sesudah termenung beberapa saat lamanya, dia baru bertanya kembali :

“Seandainya kau tidak mampu untuk mencegah perbuatan dari yaya mu ?”

“Terpaksa Eng ji harus mempersilahkan yaya untuk pulang ke gua Thian liong tong thian di luar perbatasan dan menyesali dosa dihadapan Thian liong cousu!”

Keng thian giok cu Thi Keng segera tersenyum.

“Tampaknya pendapatmu ini tak pernah akan berubah kembali?” katanya kemudian. "Yaa, cucunda tak akan merubah pendirian!”

Mendadak Keng Thian giok cu Thi Keng menggebrak meja keras keras sambil melompat bangun, serunya :

“Bagus! Bagus! Bagus sekali!”

Thi Eng khi mengira Keng thian giok cu Thi Keng hendak turun tangan terhadapnya, maka sementara hawa murninya dipersiapkan, dia masih tetap berlutut tak berkutik, katanya lagi dengan gagah.

"Bila cucunda tidak memikirkan keselamatan umat persilatan dan kejayaan Thian liong pay, aku rela mati diujung telapak tangan yaya sebagai rasa bakti cucunda terhadap yaya, akan tetapi kini cucunda sudah bertekad untuk menyelamatkan seluruh umat persilatan dari jurang kehancuran, aku tak ingin mengorbankan jiwa orang banyak gara gara soal berbakti saja, oleh karena itu harap yaya sudi memaafkan."

Dengan sepasang mata melotot besar, Keng thian giok cu Thi Keng mengawasi wajah Thi Eng khi tanpa berkedip, lalu serunya dengan penuh emosi :

"Eng ji, kau bagus sekali! Sekarang bangun, yaya tidak akan menyalahkan dirimu, yaya percaya kepadamu, sekarang aku harus memberitahukan hal yang sebenarnya kepadamu!"

Thi Eng khi benar benar dibikin kebingungan setengah mati dan tidak tahu apa yang menjadi tujuan yayanya, tapi bagaimanapun juga persoalan telah berkembang menjadi begini, terpaksa diapun harus mengeraskan kepala untuk bangkit berdiri dan mengucapkan terima kasih kepada kakeknya.

Keng thian giok cu Thi Keng duduk kembali ke kursinya, lalu menitahkan kepada Thi Eng khi agar duduk didepan meja bacanya, setelah itu dia berkata :

"Eng ji, yayamu bukan orang bodoh, apakah kau mengira yaya benar benar sudah menjual diri untuk memperoleh penghargaan dan kedudukan ..?" Thi Eng khi tidak memahami apa gerangan yang telah terjadi maka selain membungkam dia tak mampu berbuat lain. Terpaksa dia hanya mendengarkan Keng thian giok cu Thi Keng membeberkan keadaan yang sesunggubnya.

Dengar punya dengar, airmata mulai mengembang dan membasahi wajah anak muda tersebut, dia merasa yaya nya seperti makin lama semakin tinggi, semakin tinggi tak bisa dilukiskan lagi dengan kata kata, malahan dia merasa dirinya yang justru makin lama semakin kecil.

Rupanya sesudah diselenggarakan pertemuan di puncak Sam yang hong di bukit Bu gi san antara Keng thian giok cu Thi Keng dengan Sim ji sinni, Tiang pek lojin So Seng pak dan Bu im sin hong Kian Kim siang, keempat orang tokoh sakti segera menyusun rencana dengan melakukan siasat melawan siasat untuk menghadapi Hian im tee kun.

Empat orang tokoh silat ini tak segan segan menjual diri dan merusak nama, sebenarnya tujuan yang terutama adalah untuk melenyapkan keempat manusia gadungan yang telah dipersiapkan oleh Hian im tee kun tersebut, kemudian mereka akan menggantikan kedudukan mereka yang gadungan dan menyelundup ke sisi Hian im tee kun dengan harapan suatu ketika bisa membunuh gembong iblis itu dan melenyapkan ancaman bencana bagi dunia persilatan.

Mereka cukup mengetahui akan kemampuan Hian im tee kun, bahkan dewasa ini tiada orang yang sanggup menandinginva, kecuali mereka berempat bekerja sama, mungkin siapapun jangan harap bisa melenyapkan dia dari muka bumi.

Untuk menghindari kecurigaan dari Hian im tee kun, maka diputuskan agar Keng thian giok cu Thi Keng dan Sim ji sinni berdua menceburkan diri lebih dulu, karena munculnya kembali Keng thian giok cu Thi Keng masih belum diketahui oleh Hian im tee kun.

Sebaliknya Sim ji sinni selalu berdiam di bukit Bu gi san dan sangat jarang mencampuri urusan dunia persilatan, maka kendati pun di dalam dunia persilatan tidak nampak jejak dari kedua orang ini, Hian im tee kun juga tak bakal curiga. Hanya Tiang pek lojin dan Bu im sin hong harus seringkali munculkan diri dalam dunia persilatan untuk memancing perhatian dari Hian im tee kun, dengan demikian keselamatan dari Keng thian giok cu Thi Keng dan Sim ji sinni baru terjamin. Tentu saja, apabila kesempatan yang sangat baik telah tiba, Tiang pek lojin dan Bu im sin hong akan segera berusaha keras untuk turut serta didalam gerakan tersebut.

Tindakan manyelundup kedalam sarang harimau ini bukan hanya mempertaruhkan keselamatan jiwa dari tiap orang itu sendiri, lagipula nama baik mereka pun dijadikan taruhan, salah salah bukan cuma jiwa sendiri menjadi korban, bahkan orang bisa mengumpat dan menyumpahinya sepanjang masa....

Kalau dibicarakan, mungkin semangat untuk mengorbankan diri ini kedengarannya amat sederhana, tapi pelaksanaannya sukar sekali, sebab dibutuhkan kerelaannya untuk berkorban yang besar sekali. Tatkala Thi Eng khi sudah memahami duduknya persoalan, dia benar benar merasa malu bercampur hormat terhadap kakeknya ini.

“Yaya!” katanya kemudian dengan perasaan malu bercampur menyesal, "Kau orang tua terlalu agung!”

Dia segera maju ke depan mendekati tubuh Keng thian giok cu Thi Keng......

"Nak, sekarang kau boleh pergi" ucap Keng thian giok cu Thi Keng sambil menepuk nepuk bahu Thi Eng khi, “cuma ingat baik baik, jangan kau beritahu persoalan ini kepada siapa pun!”

“Eng ji harus pergi kemana?” tanya Thi Eng khi dengan perasaan terrtegun.

"Nak!" kata Keng thian giok cu Thi Keng dengan wajah bersungguh sungguh, “kau harus berusaha keras untuk melupakan apa yang yaya ungkapkan tadi, dengan dasar pikiranmu semula, usahakanlah untuk melakukan perlawanan sebisa mungkin terhadap usaha yaya sekarang ini, tapi kau harus mengerti, sandiwara ini harus dimainkan secara bersungguh sungguh dan jangan sampai diketahui orang.”

Begitu memahami tugas apakah yang harus dilakukan sekarang, Thi Eng khi segera menjura dalam dalam kepada Keng thian giok cu Thi Keng sembari berkata :

“Eng ji akan pergi dulu harap yaya sudi bertindak lebih hati hati, jaga keselamatan baik baik!”

Sewaktu Thi Eng khi sudah hampir melangkah keluar dari ruangan batu itu, mendadak Keng thian giok cu Thi Keng berseru kembali :

“Semula yaya bermaksud membiarkan ibumu pergi saja dari sini, makin jauh meninggalkan tempat ini semakin baik, siapa tahu dia cuma berada di sekitar tempat ini saja. Itulah sebabnya yaya menjadi kuatir dan menitahkan kepada ji susiokmu untuk menjemput pulang, dia sebagai seorang perempuan kurang cocok untuk melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, biarkan saja dia tinggal di rumah.”

Kembali Thi Eng khi merasakan hatinya menjadi lega, segera dia menjawab :

“Baik!”

Kemudian dengan membawa perasaan riang dan gembira, dia melayang keluar dari gedung Bu lim tit it keh dan langsung berangkat ke kuil dewa tanah yang terletak sepuluh li dari situ.

Malam sudah lewat dan kini fajar sudah hampir menyingsing.

Ketika hampir tiba di depan kuil dewa tanah, ia menyaksikan banyak orang telah berkumpul di depan kuil itu, sambil tertawa dingin pemuda itu segera mempercepat langkahnya ke depan.

Sementara itu, Sam ku sinni yang tiba di kuil dewa tanah dan tidak melihat Thi Eng khi berada di situ, dengan kening berkerut segera tanyanya :

“Apakah Thi sauhiap belum sampai disini?” Belakangan ini, walau pun Pek leng siancu So Bwe leng sudah berubah menjadi sangat penurut, tidak bertindak mengikuti suara hati sendiri, tapi hatinya entah sudah terbang sampai dimana.

Seandainya Sam ku sinni tidak kembali lagi, mungkin dia pun akan merasa habis sudah kesabarannya. Tatkala menyaksikan gurunya pulang, dia mengira Thi Eng khi pasti akan mengikuti di belakangnya, baru saja menyambut dengan tertawa, siapa tahu gurunya mengajukan pertanyaan tersebut, hal ini membuat wajahnya tertegun.

“Apakah suhu telah bertemu dengan engkoh Eng?” dia balik bertanya.

Dari ucapan mana, Sam ku sinni segera tahu kalau Thi Eng khi belum sampai disitu. Maka secara ringkas Sam ku sinni segera mengulangi kembali apa yang telah terjadi tadi. Selesai mendengarkan kisah tersebut, tanpa berpikir panjang lagi Pek leng siancu So Bwe leng segera berseru :

“Kalau begitu engkoh Eng pasti telah menemukan jejak ibunya dan sekarang sedang melakukan pengejaran.”

“Moga moga saja demikian!” terpaksa Sam ku sinni harus ikut menghibur dengan suara lembut.

Sementara mereka berdua masih berbincang bincang, si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po dan Sam ciat jiu Li Tin tang juga telah sampai disana. Ketika pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menyaksikan Pek leng siancu So Bwe leng berada di sana, dengan perasaan terkejut segera serunya :

“Aaaah, ternyata nona So benar benar telah datang pula kemari!”

Rupanya dia teringat akan peristiwa si Unta sakti Lok It hong yang kena dihajar sekali oleh Pek leng siancu So Bwe leng maka diapun lantas mengucapkan kata kata tersebut. Sebagai seorang gadis yang pintar, tentu saja Pek leng siancu So Bwe leng dapat menangkap maksud lain dibalik ucapan mana, kontan saja keningnya berkerut.

“Empek Cu, apa maksudmu berkata demikian?” tegurnya. Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera tertawa terbahak bahak.

“Haaahhh….. haaahhhhh….. haahhhh… apa maksudnya? Barusan bukankah kau sudah menghadiahkan sebuah pukulan untuk si Unta Lok It hong? Seandainya engkoh Eng mu tidak menarik tangannya dengan cepat, niscaya kejadian tersebut akan mengakibatkan pecahnya bencana besar, kau benar benar binal tak tahu diri!”

Pek leng siancu So Bwe leng semakin tertegun lagi dibuatnya. “Empek Cu, kau memang pandai sekali bergurau, sejak suhu

pergi, aku belum pernah melangkah keluar dari ruang kuil ini barang

setengah langkahpun!”

Mendadak pencuri sakti Go Jit melompat keluar juga dari balik kegelapan, kemudian bentaknya kepada pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po :

“Selama ini, aku si pencuri sakti dan nona So belum pernah saling berpisah, kau si pengemis tua yang sembarangan menuduh orang dihadapan sinni ….”

“Mungkin Cu tayhiap menemukan kekeliruan didalam peristiwa ini,” kata Sam ku sinni pula sambil tertawa, “hari ini Leng ji amat jujur, dia tidak melakukan kesalahan apa apa.”

Terpaksa secara ringkas pengemis sakti bermata harimau harus membeberkan kembali peristiwa yang telah menimpa Unta sakti Lok It hong tadi, sebagai akhir kata serunya :

“Masa ada dua orang nona So?”

Pek leng siancu So Bwe leng yang mendengar ucapan tersebut segera mendepak depakkan kakinya berulang kali dengan mendongkol, teriaknya sambil menahan geram :

“Aku tahu siapakah dia, sudah pasti budak busuk itu lagi, aku harus mencarinya sampai dapat!” Seusai berkata dia siap menerobos keluar dari pintu untuk melakukan pengejaran. Sam ku sinni yang menyaksikan peristiwa itu segera berseru :

“Anak Leng, kau tak boleh bertindak secara sembarangan! Kalau kau sampai berbuat demikian, bukankah hal ini sama artinya dengan menambah kesulitan untuk engkoh Eng mu? Urusan ibunya belum lagi beres, apakah kau ingin semakin mengalutkan suasana.”

Pek leng siancu So Bwe leng memang kelewat banyak mendatangkan kesulitan buat Thi Eng khi, dia sangat takut kalau sampai mendatangkan kesulitan lagi buat Thi Eng khi, maka sehabis mendengar perkataan itu, dia cuma bisa mendengus sambil mendepak depak kakinya berulang kali tapi tak berani melanjutkan perbuatannya untuk membuat keonaran…..

Memanfaatkan kesempatan inilah, Sam ku sinni segera membeberkan pengalaman yang belum lama dialami oleh Pek leng siancu So Bwe leng. Ketika mengetahui duduknya persoalan, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po baru merasa menyesal dan segera minta maaf kepada Pek leng siancu So Bwe leng So Bwe leng.

Berbareng itu juga, diapun memahami perasaan Thi Eng khi maka dengan perasaan menyesal katanya :

“Padahal aku si pengemis tua sudah cukup lama bersahabat dengan saudara cilik Thi, tapi nyatanya aku tidak mempercayainya kali ini, aaaaai….. Kalau dibicarakan sungguh menyesal sekali lain kali aku si pengemis tua tidak akan berani bersikap curiga lagi terhadap saudara Thi sebagai penebus dosaku hari ini.”

Mereka pun lantas membicarakan soal hilangnya Yap Siu ling, untuk sesaat mereka terlibat dalam perdebatan yang amat sengit tapi siapa pun tidak menyangka perempuan itu sudah mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya dari Pit tee jiu Wong Tin pak dan diundang pulang ke rumah.

Sementara perundingan berlangsung, dari luar pintu kuil kedengaran suara langkah manusia, disusul kemudian tampak ketua Siau lim pay Ci long taysu dan ketua Bu Tong pay Keng hian totiang berjalan masuk ke dalam …..

Sedang lainnya, berhubung kuil itu terlampau kecil, maka mereka hanya menunggu di luaran saja.

Kedua orang ciangbunjin itu menyapa Sam ku sinni lebih dahullu, kemudian baru memandang sekejap sekeliling ruang kuil. Yang dimaksud sebagai kuil dewa tanah ini adalah sebuah bangunan kuil pada umumnya, ruangan yang sempit dengan sebuah patung malaikat merupakan ciri yang khas.

Kendatipun demikian kuil itu bisa menampung enam sampai tujuh orang untuk mengadakan pertemuan bersama. Ketika Keng hian totiang, ketua dari Bu tong pay tidak menyaksikan kehadiran Thi Eng khi disitu, dia nampak tertegun dan merasa sedikit di luar dugaan, kemudian tegurnya :

“Tolong Tanya apakah Thi sauhiap sedang keluar?”

Sejak mendengar kalau ciangbunjin Cing sia pay datang kesitu untuk mencari gara gara dengan Thi Eng khi, Pek leng siancu So Bwe leng sudah merasa amat tak senang hati, kini dia pun tidak ambil peduli apa maksud kedatangan mereka. Sambil tertawa dingin segera tegurnya :

“Entah di dalam persoalan apakah engkoh Eng ku telah menyalahi kalian? Benarkah kalian tak akan melepaskan dia dengan begitu saja?”

Buru buru Sam ku sinni membentak :

“Anak Leng, jangan bersikap kurang hormat!”

Walaupun kemudian Pek leng siancu So Bwe leng tidak berani berbicara lagi, tapi hidungnya mendengus berulang kali, jelas dia merasa sangat tidak puas terhadap sikap ketua dari pelbagai partai itu.

Dengan kening berkerut kembali Sam ku sinni hendak menegur Pek leng siancu dengan beberapa patah kata, tapi Ci long taysu ketua Siau lim pay sudah buka suara lebih dulu. “Omitohud! Pinceng sekalian khusus datang kemari untuk minta maaf kepada Thi sauhiap atas peristiwa tadi. Selain itu, ada persoalan yang hendak dirundingkan dengannya, harap nona So jangan menaruh banyak curiga.”

Kini Pek leng siancu So Bwe leng diam membungkam dan tidak berkata lagi. Sambil menghela napas panjang, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po berkata :

“Hingga kini Thi ciangbunjin belum juga datang, kami semua sedang merisaukan keselamatan jiwanya.”

Kedua orang ciangbunjin itu saling berpandangan sekejap dengan wajah amat kecewa, mereka segera membalikkan badan siap memohon diri. Pada saat itulah, mendadak dari luar pintu terdengar suara Thi Eng khi sedang menyapa :

“Selamat berjumpa ciangbunjin berdua.”

Bayangan manusia berkelebat lewat, tahu tahu Thi Eng khi telah menjura kepada mereka. Perlu diketahui, semenjak pertemuan di Siong san antara Thi Eng khi dengan ketua Siau lim pay maupun ketua Bu tong pay telah terjalin suatu hubungan persahabatan yang amat akrab, terutama sekali dengan Keng hian totiang, boleh dibilang mereka sudah saling bertemu semenjak di perkampungan Ki hian san ceng. Oleh sebab itu, bagi mereka berdua boleh dibilang selalu bersikap saling hormat menghormati.

Dua orang ciangbunjin itu segera tertawa tergelak, kemudian menyahut hampir bersama :

“kedatangan Thi ciangbunjin memang tepat sekali, kami khusus datang kemari untuk minta maaf sekalian mohon petunjuk untuk beberapa persoalan …. ”

Sejak tahu kalau kakeknya berjiwa luhur dan bersedia mengorbankan diri demi kepentingan orang banyak, apalagi jejak ibunya juga sudah ditemukan, Thi Eng khi boleh dibilang merasakan dadanya terbuka dan wajahnya menjadi cerah. Pada hakekatnya ia sudah tidak memikirkan persoalan tadi dalam hatinya. “Aaah, kalau cuma persoalan itu mah tak usah ciangbunjin berdua pikirkan, kalau masih ada persoalan, silahkan saja segera diutarakan keluar….”

Keng hian totiang, ketua Bu tong pay itu segera tertawa terbahak bahak.

“Haaaahhh…… haaahhh…. haaahhhh…. Pinto tahu kalau Thi ciangbunjin adalah seorang yang bijaksana dan berjiwa besar, sudah pasti masalah tadi tak akan kau pikirkan lagi didalam hati, sekarang pinto sekalian mempunyai satu persoalan yang hendak minta petunjuk dari Thi ciangbunjin, apabila ada hal hal yang bersifat lancang, harap kau sudi memaafkan.”

“Totiang terlalu sungkan!”

Dengan wajah bersungguh sungguh, ketua Bu tong pay Keng hian totiang segera berseru :

“Tengah hari nanti, kakekmu akan memimpin segenap anggota partai untuk secara resmi menggabungkan diri dengan pihak Ban seng kiong, maka kini pinto dan Ci siansu mewakili segenap ketua dari pelbagai partai dan orang gagah yang ada di luar kuil memohon ketegasan dari ciangbunjin, sesungguhnya kau akan berpihak ke mana?”

Waktu itu, Thi Eng khi sudah mempunyai pendirian yang mantap untuk berpihak kepada kaum pendekar, akan tetapi apabila dia memberikan jawabannya kepada ketua Bu tong pay pada saat ini maka hal tersebut akan menunjukkan betapa lemahnya dia sebagai ciangbunjin, apalagi bila diingat kalau ucapan mana bernadakan menggertak.

Sesungguhnya dia bukan seorang yang berpandangan picik, akan tetapi untuk memperjuangkan kedudukan Thian liong pay di mata umat persilatan, mau tak mau dia harus bertindak tegas.

Setelah termenung beberapa saat lamanya dia lantas berseru : “Ciangbunjin berdua, dapatkah kuberikan jawabanku setelah aku

pergi ke Thio kong si melakukan persembahannya?” Keng hian totiang, ketua dari Bu tong pay segera saling berpandang sekejap dengan Ci long taysu, ketua dari Siau lim si, kemudian kedua orang itu saling tersenyum, katanya kemudian :

“Kalau begitu pinto sekalian akan menantikan kehadiran Thi ciangbunjin, sekarang aku hendak memohon diri lebih dahulu!”

Seusai mengucapkan pernyataan itu, kedua orang ciangbunjin itu segera membalikkan badan dan berjalan keluar dari kuil tersebut dengan langkah lebar. Kemudian tanpa banyak bicara, mereka pun memimpin kawanan jago persilatan lainnya untuk bersama sama pergi meninggalkan tempat itu.

Menanti semua orang sudah pergi, pengemis sakti bermata harimau baru berjalan mendekat sambil berkata :

“Saudara cilik, engkoh tua memang kelewat pikun sehingga tadi aku telah salah menuduh kau ”

Sewaktu mengucapkan perkataan itu, wajahnya nampak malu bercampur menyesal. Dengan cepat Thi Eng khi menggenggam lengan pengemis sakti bermata harimau, kemudian sahutnya :

“Engkoh tua, mengapa kau mengucapkan kata kata seperti ini? Hubungan kita sudah amat akrab, seharusnya dalam segala hal kita harus berbicara secara blak blakan, siaute menyesal tak bisa memberi keterangan sejelasnya kepadamu, dikemudian hari harap engkoh tua sudi selalu memberi petunjuk.”

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po memandang sekejap ke arah Thi Eng khi, kemudian menghela napas panjang.

“Aaaai, kau sedang berada dalam posisi yang serba sulit, aku tahu dalam hati kau pasti merasa sedih sekali, seharusnya aku berusaha untuk meringankan bebanmu itu ”

Demikianlah, kedua orang itu saling berbincang bincang saling berkata, tampaknya banyak sekali persoalan yang belum habis mereka utarakan keluar .... Dengan perasan gelisah Pek leng siancu So Bwe leng segera menukas :

“Harap kalian berdua jangan mengoceh terus, engkoh Eng, aku ingin bertanya kepadamu, kalau ada persoalan mengapa tidak kau utarakan secara blak blakan di hadapan mereka? Mengapa kau bersikeras hendak pergi ke Thio kong si?”

Thi Eng khi memandang sekejap ke arah Sam ku sinni tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sambil tersenyum dan manggut manggut Sam ku sinni segera berkata kepada Pek leng siancu :

“Andaikata engkoh Eng mu memenuhi permintaan mereka di sini, bukankah hal ini akan terasa berbau suatu paksaan? Berbeda sekali jika dia datang ke Thio kong si, dengan bertindak demikian, dia baru akan menunjukkan seluruh semangat dan jiwa ksatrianya yang benar benar muncul dari hati yang bersih ”

“Oooh ” Pek leng siancu So Bwe leng manggut manggut, lalu

setelah mengerling sekejap kearah Thi Eng khi, lanjutnya :

“Aku masih menganggap dia sebagai orang jujur, rupanya akal bulusnya jauh lebih banyak daripada aku!”

Thi Eng khi yang mendengar perkataan itu menjadi rikuh sendiri

..... Sam ciat jiu Li Tin tang sangat menguatirkan keselamatan Yap Siu ling, dengan perasaan murung dia lantas bertanya :

“Eng ji, apakah soal ibu mu sudah ada kabar beritanya?”

Tentu saja Thi Eng khi merasa kurang baik untuk membeberkan rencana besar Keng thian giok cu kepada semua orang, kuatirnya bila berita itu sampai bocor maka akan berakibat terbengkalai masalah besar, maka jawabnya singkat :

“Dia orang tua telah dijemput pulang oleh yaya!”

Setelah mendengar ucapan itu, tentu saja Sam ciat jiu merasa kurang leluasa untuk banyak bicara lagi, dan lagi apa pula yang bisa dia katakan. Sekalipun dia amat tidak setuju dengan perbuatan gurunya, tentu saja dia pun merasa kurang leluasa untuk mengeritik dan membicarakan soal kejelekan guru sendiri dihadapan orang lain. Thi Eng khi sendiripun tidak membicarakan soal ibunya lagi, dia lantas mengemukakan niatnya untuk mengajak Pek leng siancu So Bwe leng berangkat ke kuil Thio kong si. Pek leng siancu So Bwe leng menjadi girang sekali setelah mendengar perkataan itu, segera serunya :

“Hanya kita berdua?” Thi Eng khi tertawa.

“Kedudukan kita berdua sekarang sama. Kita perlu untuk memberikan suatu jaminan kepada mereka.”

Sam ciat jiu Li Tin tang meski meninggalkan gedung Bu lim tit it keh karena tidak setuju dengan cara kerja gurunya, tapi dia sendiri pun tak ingin bentrok dengan gurunya, maka dia sengaja mengutarakan maksudnya kepada Thi Eng khi agar si anak muda itu mempertimbangkan lebih jauh .....

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po juga merasa kuatir untuk membiarkan Thi Eng khi dan So Bwe leng pergi sendiri, dia bersikeras hendak mendampingi mereka. Karena desakan yang berulang kali, terpaksa Thi Eng khi harus menyanggupi.

Setelah keluar dari kuil tersebut, Thi Eng khi segera berkata : “Mari kita percepat perjalanan kita, paling baik kalau baru saja

mereka tiba, kita pun menyusul pula sampai di sana.”

Belum lama berselang, karena bencana gadis ini mendapat rejeki dan memperoleh sebutir Tay tham wan ditambah pula dengan saluran hawa murni dari Thi Eng khi yang menembusi delapan nadi penting dalam tubuhnya, tenaga dalam yang dimilikinya sekarang boleh dibilang sudah melampaui kemampuan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po.

Terlihatlah gerakan tubuhnya makin lama semakin cepat, tak selang berapa saat kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata. Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po dan Thi Eng khi segera mengejar dari belakang karena harus mendampingi kecepatan dari pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, terpaksa Thi Eng khi harus mengurangi kecepatannya.

Dengan demikian jarak mereka pun kian lama kian bertambah jauh, hal mana membuat pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po hanya bisa menghela napas berulang kali. Thi Eng khi kuatir Pek leng siancu So Bwe leng sampai duluan dan menerbitkan keonaran, terpaksa dia menarik lengan kanan pengemis sakti bermata harimau dan serunya :

“Engkoh tua, kita tidak boleh membiarkan adik Leng sampai lebih dahulu dan membuat keonaran, mari kita mengejar dengan lebih cepat lagi ”

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po hanya merasakan dari tangan Thi Eng khi muncul segulung aliran hawa panas yang membuat tenaga dalamnya bertambah beberapa kali lipat, tubuhnya terasa jauh lebih ringan lagi. Tidak selang beberapa saat kemudian, mereka telah berhasil menyusul Pek leng siancu So Bwe leng.

Ketika pengemis sakti bermata harimau menyaksikan Thi Eng khi bisa mengajaknya menempuh perjalanan jauh tanpa berubah wajah, seakan akan sama sekali tak pernah mengeluarkan sedikit tenaga pun, sambil menghela napas sedih segera ujarnya :

“Aaaa, ombak belakang sungai tiang kang memang selalu mendorong ombak yang berada dibelakangnya, engkoh tua memang selisih kelewat jauh bila dibandingkan dengan kepandaian yang dimiliki saudara Thi.”

Thi Eng khi hanya tersenyum, sambil menuding kearah Thio kong si yang berada di depan sana, segera serunya :

“Coba lihat, engkoh tua, mereka pun baru saja sampai.”

Dengan mempercepat langkahnya, mereka bertiga segera melayang turun dihadapan kuil Thio kong si. Diluar kuil itu nampak anggota dari Siau lim pay dan Bu tong pay sedang melakukan perondaan.

Empat orang murid dari angkatan ’Gho’ dalam partai Siau lim melakukan penjagaan di depan pintu, sewaktu pertemuan di bukit Siong san, mereka sudah pernah berjumpa satu kali sehingga boleh dibilang tidak terhitung orang asing. Sambil menjura Thi Eng khi segera berkata :

“Harap taysu sudi memberi laporan ke dalam, katakan saja aku datang berkunjung!”

Siapa pun tidak menyangka kalau kedatangan Thi Eng khi bisa sedemikian cepatnya, padahal para ketua dari pelbagai partai itu baru saja sampai dan belum sempat merundingkan apa tindakan yang harus mereka ambil untuk menghadapi keadaan tersebut.

Belum sempat mereka berbicara, Thi Eng khi dan Pek leng siancu So Bwe leng sudah berjalan masuk ke dalam ruang tengah. Thi Eng khi memandang sekejap wajah tercengang dari semua orang, kemudian sambil tersenyum dan menjura katanya :

“Thi Eng khi sengaja datang untuk menjumpai kalian semua!”

Pek leng siancu So Bwe leng yang berada di samping Thi Eng khi segera menjura pula kepada semua orang sambil berkata :

“So Bwe leng datang untuk berkunjung, terimalah hormat dariku

.... ”

Dia tak mau menyebut dirinya sebagai boanpwe, hal ini menunjukkan kalau dia tak ingin melemahkan kedudukan sendiri di hadapan orang sehingga nantinya bisa berbicara dengan tingkat kedudukan yang sama. Berhubung munculnya Thi Eng khi sangat cepat, pelbagai ketua partai pun tak sempat merundingkan langkah bersama mereka berikutnya, ada diantara mereka yang segera berdiri untuk membalas hormat, tapi ada juga yang masih tetap duduk berdiam diri saja berlagak sebagai seorang ketua dari suatu perguruan besar.

Ci long taysu, ketua Siau lim pay dan Keng hian totiang, ketua Bu tong pay segera tertawa terbahak bahak dan bangkit bersama, kemudian mempersilahkan Thi Eng khi dan Pek leng siancu So Bwe leng untuk memasuki ruangan tengah. Setelah mengambil tempat duduk, mereka baru bertanya sambil tertawa : “Thi ciangbunjin benar benar seseorang yang pegang janji, kedatanganmu cepat sekali, tentunya kabar baik yang hendak disampaikan kepada kami bukan?”

“Ya, aku dan Pek leng siancu So Bwe leng bersedia mendampingi kalian untuk bersama sama memperjuangkan keadilan dan kebenaran bagi umat persilatan!”

“Thi ciangbunjin benar benar berpandangan luas, inilah keberuntungan buat umat persilatan,” seru Keng hian totiang kemudian sambil tersenyum ramah.

“Omitohud!” seru Ci long taysu pula dengan cepat, “tindakan dari Thi ciangbunjin ini benar benar merupakan suatu keberuntungan untuk dunia persilatan, lolap amat memuji!”

Keputusan dari Thi Eng khi dan Pek leng siancu So Bwe leng untuk bergabung dengan para pendekar sejati dengan cepat disambut pula dengan gembira oleh setiap orang. Tapi setelah berbicara sampai ke masalah bagaimanakah kerja sama itu harus dilakukan, maka berbagai pendapat segera diusulkan.

Ada yang mengusulkan agar Thi Eng khi menampilkan diri untuk mencegah kerja sama yang akan diselenggarakan pihak Thian liong pay dengan Ban seng kiong tengah hari nanti. Ada pula yang mengusulkan agar Thi Eng khi menghindari pertemuan tengah hari nanti sehingga pihak partai partai besarlah yang akan munculkan diri untuk mencegah diselenggarakannya pertemuan mana.

Ting Kong, ketua Cing sia pay yang pada mulanya berniat untuk menyandera Thi Eng khi dan digunakan untuk memaksa Keng thian giok cu Thi Keng membatalkan kerja samanya dengan pihak Ban seng kiong, kini bangkit berdiri sambil berkata lagi:

“Menurut pendapatku, kalau toh Thi ciangbunjin bersedia untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, mengapa kita tidak meminta kepada Thi ciangbunjin untuk berlagak seakan akan sudah ditangkap oleh kita agar Thi tua bisa dipaksa untuk membatalkan niatnya itu?” Mendengar perkataan tersebut, Pek leng siancu So Bwe leng segera mendengus dingin, wajah memperlihatkan perasaan tak senang hati. Thi Eng khi segera mengerling sekejap memberi tanda kepada Pek leng siancu So Bwe leng agar tetap menahan sabar, sedangkan dia sendiri tetap tersenyum belaka, seakan akan berlagak seperti tidak mendengar perkataan itu.

Ketika Keng hian totiang mendengar perkataan dari Ting Kong, ketua Cing sia pay itu, dengan cepat dia mengemukakan pendapatnya :

“Apa yang dipikirkan Ting ciangbunjin memang amat sempurna dan seharusnya pinto ikut mendukung usulmu itu, sayang sekali pinto masih ada dua hal lain yang perlu memohon petunjuk dari kalian semua.”

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan :

“Pertama, Thi sauhiap merupakan seorang ciangbunjin dari suatu perguruan besar, bila kita harus bersikap seakan akan berhasil menawannya, hal ini bisa jadi akan menyebabkan timbulnya amarah dari segenap anggota Thian liong pay lainnya sehingga akibatnya akan muncul suatu kejadian yang justru kebalikan dari apa yang kita harapkan.

Kedua, kita sebagai jago jago persilatan yang mengutamakan keterbukaan dan kejujuran, apakah tindakan semacam ini tak akan menodai kejujuran kita semua? Aku harap kalian sudi mempertimbangkan kembali akan persoalan ini.”

“Siaute setuju dengan pendapat dari Keng hian toheng ini!” seru pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po cepat.

Ketua Tiong lam pay, Ku tiok siu Yap Han san segera berkata pula :

“Menurut aku, pendapat dari Keng hian toheng itu sudah kuno dan kurang mencerminkan suatu ketegasan yang kita butuhkan, aku rasa paling baik kalau kita gunakan cara yang diusulkan oleh Ting ciangbunjin saja, selain daripada itu ….” Sorot matanya dialihkan ke atas wajah Thi Eng khi dan Pek leng siancu So Bwe leng, kemudian membungkam dalam seribu bahasa. Keng hian totiang sama sekali tidak menjadi gusar oleh ucapan ketua Tiong lam pay, Ku tiok siu tersebut, tanyanya sambil tertawa :

“Saudara Yap, selain daripada itu kenapa lagi?”

Ku tiok siu Yap Han san nampak agak tersipu, setelah termenung beberapa saat kemudian, dia baru minta maaf lebih dahulu kepada Thi Eng khi sembari berkata :

“Apabila ucapanku nanti kurang sedap didengar, harap Thi ciangbunjin sudi memakluminya.”

Thi Eng khi tertawa.

“Apabila Yap ciangbunjin ingin mengucapkan sesuatu, silahkan saja diutarakan, aku tidak akan tersinggung oleh perkataan itu …”

Sekali lagi Ku tiok siu Yap Han san mendeham pelan sebagai pernyataan bahwa perkataan tersebut amat sulit untuk diutarakan keluar, akhirnya sesudah termenung beberapa waktu, dia baru berkata lagi :

“Pepatah kuno bilang : Meskipun kita tak boleh mempunyai pikiran jahat, tapi pikiran jahat orang lain tak bisa tidak harus kita cegah. Berhubung Thi lo dan So lo mempunyai hubungan yang luar biasa dengan mereka berdua, maka aku rasa perlu buat kita untuk sedia payung sebelum hujan. Bila Thi ciangbunjin bersedia menerima usul dari Ting ciangbunjin, hal ini baru mencerminkan kesungguhan hatimu untuk bekerja sama dengan kita semua.”

Pek leng siancu So Bwe leng menjadi mencak mencak saking gusarnya, segera teriaknya :

“Bila kau tak percaya dengan kami, sekarang juga aku akan pergi dari sini!”

Thi Eng khi jauh lebih berjiwa besar, sambil tersenyum katanya kepada gadis tersebut :

“Adik Leng, jangan menimbrung dulu, Ci long siansu hendak berbicara…..” Dengan wajah bersungguh sungguh Ci long siansu segera berkata :

“Pinceng jamin Thi ciangbunjin seia sekata lahir maupun batin, ia benar benar memiliki jiwa yang besar untuk melawan kakeknya sendiri…..”

Kalau didengarkan sesungguhnya, maka perkataan dari ketua Siau lim pay, Ci long siansu ini terlalu menyakinkan bahkan Thi Eng khi sendiri pun merasakan nyalinya terlampau besar, namun dia juga merasa terharu sekali sehingga tanpa terasa melemparkan pandangan penuh rasa terima kasih kepadanya.

Sementara itu para lainnya sudah berseru tertahan dan bersama sama mengalihkan pandangan matanya kearah pendeta itu dengan harapan ia bisa menjelaskan lebih jauh. Setelah tersenyum kepada Thi Eng khi, ketua Siau lim pay Ci long taysu baru berkata lagi.

“Tindak tanduk yang dilakukan Thi ciangbunjin dalam kuil kami di kota Phu tian, oleh sute lolap Ci Kong telah dilaporkan kepadaku dengan memakai ilmu menyampaikan berita tercepat. Menurut surat Ci kong sute, tenaga dalam yang dimiliki Thi ciang bunjin sudah mencapai tingkat yang luar biasa dan mampu menanggung tanggung jawab untuk melawan Hian im tee kun, entah ucapan ini benar atau tidak?”

Sambil tertawa Thi Eng khi segera membungkukkan badannya menjura kemudian serunya :

“Ci kong taysu terlalu memuji, aku benar benar tidak berani menerimanya ….!”

Untuk menghilangkan kecurigaan semua orang, secara ringkas Ci long taysu lantas menceritakan semua tindak tanduk yang telah dilakukan Thi Eng khi sewaktu berada di kuil Siau lim si cabang Phu tian di propinsi Hok-kian.

Setelah mendengar semua kisah itu, semua orang baru membungkam dalam seribu bahasa, pandang mereka terhadap Thi Eng khi pun secara otomatis mengalami perubahan yang sangat besar. Sesungguhnya mereka tidak menaruh pandangan apa apa terhadap Thi Eng khi, kecurigaan mereka terhadap si anak muda itupun tanpa dasar. Untung saja mereka semua adalah jago jago persilatan yang punya nama maka perbedaan pendapat tadi pun segera menjadi lenyap dan masing masing pihak pun tidak kukuh lagi terhadap tuntutan masing masing.

Si Unta sakti Lok It hong segera melompat bangun, kemudian sambil mencengkeram sepasang tangan Thi Eng khi serunya :

“Lolap bersikap kurang hormat kepada mu selama ini, harap Thi ciangbunjin sudi memaafkan!”

Menyusul kemudian, Ting kong ketua dari Cing sia pay, Ku tiok siui Yap Han san ketua dari Tiong lam pay dan Cu Wan mo ketua Hoa san pay sekalian datang meminta maaf. Gara gara peristiwa itu, hubungan mereka semua pun terasa jauh bertambah akrab.