Pukulan Naga Sakti Jilid 29

 
Jilid 29

Angkin itu tak lain adalah angkin Jit cing tay yang biasanya digunakan siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio untuk berkelana, tujuh warna warninya sudah membingungkan, apalagi yang hebat adalah asap pemabuk yang sengaja disembunyikan dibalik senjata tersebut, siapa saja yang terkena pasti akan roboh.

Sim ji sinni kuatir Keng thian giok cu Thi Keng tidak mengetahui kelihayan dari angkin Jit cing tay itu, buru buru dia memperingatkan

:

“Thi sicu, hati hati dengan obat pemabuknya!”

“Kalau hanya obat pemabuk mah tak bakalan merobohkan lohu!” sahut Keng thian giok cu Thi Keng di tengah udara.

Sewaktu tenaga pukulannya dilontarkan kebawah, siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio berikut angkin tujuh warnanya kontan mencelat sejauh satu kaki lebih. Rupanya Keng thian giok cu Thi Keng sudah berhasrat untuk melangsungkan pertarungan kilat dan segera menyelesaikannya. Oleh sebab itu, serangan serangan yang dia lancarkan semuanya tidak mengenal rasa kasihan, dengan tenaga dalam yang dikerahkan mencapai dua belas bagian, dia melancarkan serangan serangan mematikan yang sangat dahsyat. Pada dasarnya tenaga dalam yang dimiliki Kiu wi yau hu Oh Bi nio memang bukan tandingan dari Keng thian giok cu Thi Keng, apalagi dia pun berhasrat untuk mencari keuntungan dengan mengandalkan obat pemabuknya, sehingga tenaga yang dipakai pun tak pernah mencapai hingga pada puncaknya, tak heran kalau sekali hantam tubuhnya segera terluka sangat parah.

Begitu berhasil merobohkan siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio, Keng thian giok cu Thi Keng tidak melayang turun kebawah lain, dia hanya menjejakkan kakinya keatas kaki yang lain, kemudian seperti seekor burung raksasa segera melayang kembali ke belakang tubuh perempuan siluman itu. Dengan suatu sodokan kilat tahu tahu ia menotok jalan darah kematian Jit kan hiat ditubuh lawannya.

Sia sia saja siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio memiliki kepandaian silat yang sangat lihay, sebab pada hahekatnya dia tak berkesempatan lagi untuk melancarkan serangan. Dalam keadaan yang gugup dan gelagapan inilah, akhirnya dia tewas ditangan lawan.

Setelah perempuan siluman itu tewas, Sim ji sinni baru melayang mendekat dan membacakan doa kematian untuk siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio. Setelah itu, dia melepaskan pakaian dari siluman itu dan dikenakan ditubuh sendiri, angkin tujuh perasaan dan obat pemunah yang berada di saku perempuan itu juga diambil semua.

Pada akhirnya, sambil mundur lima langkah dia berkata : “Masih ada tindakan yang terakhir lagi, silahkan sicu sekalian

melakukannya!”

Keng thian giok cu Thi Keng berkerut kening, kemudian menghela napas panjang :

“Aaai. seandainya perbuatan lohu hari ini diketahui kawan

kawan persilatan, orang lain pasti akan menuduh diriku sebagai seorang manusia yang berhati keji!”

“Omitohud!” kembali Sim ji sinni merangkap tangannya di depan dada, “membasmi kejahatan dari muka bumi merupakan kewajiban dari setiap orang, ketika Thi sicu membasmi kaum iblis di masa lampau apakah kau pun pernah berhati lemah?”

Keng thian giok cu Thi Keng segera tertawa getir :

“Melenyapkan jenasah dari muka bumi atau merusak tubuh orang yang telah mati merupakan perbuatan yang dikutuk setiap orang, bagaimana mungkin lohu bisa merasa lega?”

“Omitohud! Bila urusan kecil tak bisa ditahan, masalah besar pasti akan terbengkalai, keadaan sekarang ibaratnya anak panah yang berada di atas gendewa, sekalipun tak ingin dilepaskan juga harus dilepaskan apalagi urusannya timbul karena keadaan yang mendesak, aku rasa orang pasti dapat memakluminya.”

“Aaaai, kalau begitu terpaksa lohu harus bertindak kasar!”

Sepasang telapak tangannya segera diayunkan ke atas tanah membuat sebuah liang besar. Setelah melemparkan jenasah siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio ke dalam liang kemudian menutup kembali liang kubur tersebut. Dengan mengerahkan tenaga sakti Sian thian bu khek ji gi sinkang nya dia menghantam jenasah siluman rase itu melalui atas permukaan tanah.

Termakan oleh pukulan maupun hawa sakti tersebut, jenasah siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio yang berada di dalam tanah segera terhajar sampai hancur tak berwujud rupa lagi. Dalam keadaan demikian, sekalipun ada orang menemukan jenasahnya, belum tentu akan mengenali jenasah siapakah dia.

Sekalipun Keng thian giok cu Thi Keng berbuat demikian demi kepentingan seluruh umat persilatan, akan tetapi dengan wataknya yang jujur dan bijaksana, tak urung sedih juga hatinya sesudah melakukan perbuatan tersebut.

Dengan kening berkerut, dia mengebutkan bajunya dari debu lalu sambil tertawa getir katanya :

“Moga moga saja perbuatan kita sekarang tak sampai disalah tanggapi oleh para jago dari pelbagai perguruan.” “Omitohud! Buddha pernah bilang : kalau bukan aku yang masuk neraka, siapakah yang akan masuk neraka? Asal kebenaran dan kebajikan masih tumbuh dalam hati kita, buat apa persoalan persoalan semacam itu mesti kita pikirkan sekarang?”

Keng thian giok cu Thi keng segera tertawa nyaring.

“Kalau tidak bercocok tanam, darimana bisa menarik hasil panen?

Lohu memang bodoh, mari kita pulang!”

Dua sosok bayangan manusia segera melayang kedepan dengan kecepatan tinggi, tak selang berapa saat kemudian bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan mata.

Tak lama setelah bayangan tubuh mereka lenyap, dari belakang sebatang pohon muncul seorang pemuda tampak berbaju biru langit. Orang itu menyelundup ke sana di saat Keng thian giok cu Thi Keng sedang menghajar tubuh siluman rase berekor Sembilan tadi.

Tenaga dalam yang dimiliki pemuda tampan itu masih jauh melebihi kepandaian Keng thian giok cu Thi Keng maupun Sim ji sinni, oleh sebab itu perbuatannya sama sekali tak dirasakan oleh dua orang jago lihay tersebut.

Tapi berhubung kedatangannya terlambat selangkah, dia hanya sempat menyaksikan adegan keji dimana Keng thian giok cu Thi Keng menghancurkan jenasah untuk menghilangkan jejak, dia tak sempat menyaksikan kebesaran jiwa maupun pengorbanan yang dilakukan Keng thian giok cu Thi Keng dan Sim ji sinni sebelumnya.

Dengan membawa perasaan sedih dan menderita, pemuda itu berjalan mendekati liang kuburan yang digunakan untuk mengubur jenasah siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio, kemudian dengan mengandalkan tenaga hisapan telapak tangan tunggalnya, dia telah berhasil mengeluarkan jenasah siluman perempuan itu dari dalam liang kubur.

Waktu itu, jenasah siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio telah hancur hingga tak berwujud sebagai manusia lagi, yang tersisa hanya sekumpal daging belaka, keadaannya benar benar sangat mengerikan hati.

Menyaksikan semuanya itu, dia menghela napas sedih, lalu bergumam :

“Yaya, setelah menyaksikan semua perbuatanmu dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana mungkin aku dapat memberikan pertanggung jawaban kepada liang sim ku?”

Tak usah ditanya lagi, pemuda tampan itu tak lain adalah Thi Eng khi, ciangbujin angkatan ke sebelas dari perguruan Thian liong pay. Rupanya dia yang sedang melakukan perjalanan siang malam menuju pulang bersama sama Sam ku sinni, Pek leng siancu So Bwe leng dan Pencuri sakti Go Jit telah bertemu dengan ibunya Yap Siu ling tanpa sengaja di kota Poo eng.

Perjumpaan tersebut benar benar mengharukan setiap orang, dia perkenalkan lebih dulu Sam ku sinni dan Pencuri sakti Go Jit kepada ibunya, setelah itu baru membimbing Pek leng siancu So Bwe leng untuk memberi hormat kepada ibunya.

Dari hubungan yang hangat antara Thi Eng khi dengan So Bwe leng, dengan cepat Yap Siu ling memahami apa gerangan yang terjadi, tapi pada dasarnya dia sudah menyetujui hubungan putranya dengan Ciu Tin tin maka tanpa terasa diamatinya So Bwe leng beberapa kejap.

Berbicara soal paras muka, kecantikan Pek leng siancu So Bwe leng maupun kecantikan Ciu Tin tin hampir boleh dibilang seimbang, tapi berbicara soal watak, Pek leng siancu So Bwe leng jauh lebih polos, lebih lincah dan lebih manja ketimbang Ciu Tin tin.

Itulah sebabnya, setelah Yap Siu ling berjumpa dengan gadis ini, dia merasa gadis tersebut sudah sepantasnya untuk menjadi anak menantunya pula. Maka dia tidak membiarkan Pek leng siancu So Bwe leng melanjutkan hormatnya, gadis itu dirangkul dengan hangat, kemudian diajak membicarakan berbagai persoalan. Pada dasarnya Pek leng siancu So Bwe leng memang pandai berbicara, apa saja yang dia ketahui segera diceritakan dengan lancar dan manja, hal ini membuat Yap Siu ling makin gembira hatinya.

Sepanjang perjalanan, Thi Eng khi telah menceritakan semua pengalamannya kepada Pek leng siancu so Bwe leng, karena itu anak muda tersebut tak usah bersusah payah untuk mengulangi kembali pengalamannya itu ....

Sesudah selesai bercerita, Pek leng siancu So Bwe leng baru teringat untuk menanyakan keadaan Yap Siu ling, tanpa terasa dia lantas berseru :

“Ibu ”

Tapi setelah ucapan tersebut dilontarkan, dia baru tahu kalau sudah salah menyebut, kontan saja paras mukanya berubah menjadi merah padam karena jengah, cepat cepat kepalanya disusupkan ke dalam pelukan Yap Siu ling dan tak berani membicarakan lagi.

Betapa gembiranya hati Yap Siu ling menyaksikan sikap manja dan polos dari dara tersebut, cepat cepat dipeluknya gadis itu kencang kencang, kemudian katanya pelan :

“Nak, cepat atau lambat kau toh akan memanggil ibu kepadaku, bila kau bersedia memanggilnya mulai sekarang, aku akan merasa semakin gembira ”

Ucapan mana bukan saja membuat Pek leng siancu So Bwe leng semakin tak berani mendongakkan kepalanya, bahkan Thi Eng khi sendiripun merasakan wajahnya amat panas, yaa malu, yaa berdebar.

Kehangatan meski membuat suasana menjadi riang, sayang tidak berlangsung terlampau lama, akhirnya kenyataan telah menghentikan mereka dari suasana gembira.

Ketika Thi Eng khi bertanya kepada ibunya, mengapa dia seorang diri tinggal di kota Poo eng, dengan wajah sedih Yap Siu ling segera mengisahkan semua peristiwa yang terjadi di rumah. Sebagai akhir kata, dia menambahkan :

“Nak, aku rasa untuk sementara waktu kau jangan pulang ke rumah lebih dulu, mari kita pergi ke rumah Lim supekmu lebih dulu sebelum menentukan tindakan selanjutnya!”

Tapi Thi Eng khi terlampau merisaukan keadaan dalam rumah, ditambah pula dia pun sangat menguatirkan keselamatan Sam ciat jiu Li Tin tang, karena anak muda itu bersikeras hendak berangkat ke kota Hway im pada saat itu juga.

Terpaksa untuk sementara waktu Yap Siu ling bersama sama Sam ku sinni, pencuri sakti Go Jit dan Pek leng siancu So Bwe leng tinggal di rumah penginapan, mereka membiarkan Thi Eng khi berangkat pulang seorang diri sambil mengambil tindakan menurut keadaan. 

Yap Siu ling berpesan kepada Thi Eng khi agar dia jangan menampakkan diri bilamana tidak perlu, alangkah baiknya kalau semuanya diselidiki secara diam diam.

Kali ini, Pek leng siancu So Bwe leng memperlihatkan sikap yang penurut sekali, ternyata dia tidak memohon kepada Thi Eng khi untuk mengajaknya pergi, sebaliknya melakukan perjalanan bersama sama Yap Siu ling.

Dengan kepandaian silat Thi Eng khi yang lihay, dia berhasil menyusup ke gedung Bu lim tit it keh tanpa diketahui siapapun, bahkan berhasil pula mengikuti adegan terakhir dimana Sim ji sinni dan Keng thian giok cu Thi Keng menghabisi nyawa siluman rase berekor sembilan dan menghancurkan jenasahnya.

Berhubung dia hanya menyaksikan cara kerja yayanya tanpa mengetahui alasan maupun kesulitan yayanya hingga membunuh orang, kenyataan tersebut segera membuat hatinya pedih sekali apalagi setelah dicocokan dengan apa yang didengarkan di tempat luaran, semuanya itu membuat hatinya serasa remuk rendam. Bayangan yayanya yang selalu ditempatkan dalam hatinya sebagai suatu kebenaran dan keadilan, lambat laun hal tersebut menjadi semakin hambar dan tawar. Tentu saja dia tak berani mengambil suatu kesimpulan terhadap yayanya, tapi kenyataan yang terbentang didepan mata memaksanya harus berpikir ke arah yang paling jelek.

Menghadapi persoalan paling pelik yang dijumpai sekarang dia membutuhkan suatu penegasan yang cepat. Tapi saat itu, pikirannya serasa kosong, bimbang dan tidak menentu, dia tak tahu bagaimana dia harus bertindak lebih jauh.

Pikir dan pikir terus, akan tetapi dia belum berhasil juga untuk memecahkan masalah tersebut. Di saat dia sedang berpikir dengan seksama itulah, tiba tiba muncul sesosok bayangan manusia yang berkelebat lewat dari sebelah kiri tubuhnya pada jarak sejauh dua kaki.

Mula mula bayangan manusia itu seperti tidak nampak kehadiran Thi Eng khi disana, dia baru menjumpai kehadiran pemuda itu setelah tubuhnya berada empat lima kaki jauhnya dari tempat semula.

Tiba tiba saja orang itu membalikkan badannya dengan gerakan Yau cu huan sin (burung belibis membalikkan badan). Gerakan tubuhnya yang sedang menerjang ke depan segera dihentikan, kemudian berbalik menerkam ke arah Thi Eng khi.

Berbicara soal tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi sekarang, jangankan orang itu sudah menerjang datang, sekalipun masih berada puluhan kaki jauhnya, kehadiran orang itu sepantasnya sudah diketahui. Tapi, hingga orang itu mencapai di belakang tubuhnya, ternyata anak muda tersebut masih belum merasakan apa apa, bahkan masih saja berdiri termangu mangu.

Dengan cepat sorot mata orang itu tertarik oleh gumpalan jenasah berdarah yang tergeletak di depan tubuh Thi Eng khi, selain daripada itu, agaknya dia pun tidak bermaksud untuk menyerang atau melukai pemuda itu secara diam diam. Dengan cepat dia berhenti disamping Thi Eng khi, sebetulnya berniat menghardiknya tapi setelah melihat jelas raut wajah pemuda tersebut, tiba tiba dia berseru dengan nada tercengang :

“Ooooh, rupanya saudara cilik!”

Menyusul kemudian, dengan wajah serius dia menuding ke arah gumpalan daging hancur tersebut sambil menegur :

“Apa yang sebenarnya telah terjadi?”

Thi Eng khi dibuat tertegun oleh pertanyaan orang, setelah diamati lagi dengan seksama barulah diketahui olehnya bahwa orang tersebut adalah kakak tuanya si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po.

Perasaan Thi Eng khi pada waktu itu sungguh amat sensitif, begitu berjumpa dengan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, dia merasa seolah olah bertemu dengan sanak sendiri saja, rasa sedihnya segera meluap, segera teriaknya :

“Engkoh tua ”

Tenggorokannya seakan akan tersumbat, kata kata selanjutnya tak bisa diungkapkan lagi. Sebenarnya antara pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po dengan Thi Eng khi sudah terikat dalam hubungan persaudaraan yang akrab, tapi sikapnya sekarang justru jauh berbeda seperti keadaan di hari hari biasa, dia seperti tak berani menyatakan hubungan yang kelewat akrab.

Sambil menuding gumpalan daging diatas tanah, kembali dia bertanya :

“Sebenarnya apa yang telah terjadi? Siapakah yang telah tewas?”

Thi Eng khi semakin sedih lagi setelah menyaksikan sikap pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po kepadanya makin jauh dan dingin. Dia menduga hal ini tentu disebabkan tindakan yayanya yang telah bergabung dengan pihak Ban seng kiong sehingga terhadap dirinya pun orang turut memandang hina. Thi Eng khi adalah seorang pemuda yang tinggi hati, kendatipun dia merasa sedih sekali, namun berada dalam keadaan demikian, dia tidak ingin merendahkan diri untuk mengungkapkan kepedihan hatinya kepada pengemis tersebut.

Selain itu, diapun tak ingin membicarakan kesalahan kakeknya didepan orang lain, kendatipun kakeknya telah melakukan kesalahan besar, sudah sepantasnya kalau dia sendiri yang menanggung dan dia sendiri yang menyelesaikan, orang luar tak perlu turut mengetahui kejelekan rumah tangga sendiri.

Maka dengan kening berkerut sahutnya :

“Maaf, tidak leluasa buat siaute untuk menerangkan persoalan ini

....!”

Rupanya si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po juga tidak menyangka kalau Thi Eng khi bakal bersikap demikian kepadanya, sesudah tertegun katanya :

“Saudara cilik, apakah kau sedang marah dengan engkoh tuamu ini. ?”

“Siaute tidak berani!” jawab Thi Eng khi hambar.

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menghela napas panjang, katanya kemudian :

“Penampilan kakekmu dalam dunia persilatan kali ini benar benar menunjukkan perubahan karakter yang sangat mengecewakan, kini kita berbeda tujuan dan aliran, mustahil bagi kita untuk berkawan, meskipun aku si pengemis tua merasa sayang juga dengan dirimu, tapi akupun tak ingin kau menjadi manusia yang tidak berbakti.

Aaaai. ! Hubungan kita dimasa lampau pun terpaksa harus

dibubarkan dulu untuk sementara waktu ”

Selesai berkata, tanpa berpaling lagi dia segera berlalu meninggalkan tempat itu. Berbicara yang sesungguhnya, Thi Eng khi tak dapat menyalahkan sikap si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang tidak hangat, berbicara menurut suara hatinya maka kesalahan yang sebenarnya terletak pada kakeknya yang bersikap kurang baik di hari tuanya sehingga dia mengirim Thian liong pay menuju ke lembah kehancuran.

Dia tak ingin menjadi penjahat secara membuta, diapun tak dapat melawan kehendak kakeknya secara terang terangan, tapi dia pun tak menginginkan orang orang dari golongan lurus memandang rendah sifat maupun tindak tanduknya.

Ia benar benar dibuat serba salah oleh keadaan, bagaimanapun dia memutar otak akan tetapi tidak berhasil juga untuk menemukan suatu cara yang tepat untuk mengatasi keadaan yang kritis itu.

Mendadak terdengar suara jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang secara lamat lamat dari kejauhan sana. Hatinya menjadi amat terperanjat, tidak sempat melamunkan masa depannya lagi, dia segera mengembangkan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im (cahaya kilat bayangan lintas) dan meluncur ke arah mana suara tadi berasal.

Sepanjang jalan dia masih sempat mendengar bentakan bentakan nyaring yang menggelegar angkasa, tak selang berapa saat kemudian, dari kejauhan dia saksikan ada dua sosok bayangan manusia sedang bertarung dengan amat serunya. Kecuali dua orang yang sedang bertarung sengit, di sekeliling arena masih nampak juga lima orang yang berdiri sambil berteriak teriak memberi semangat.

Tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi amat sempurna, sekalipun berada dalam kegelapan malam, akan tetapi ia masih dapat melihat setiap benda yang berada dalam jarak sepuluh kaki dengan jelas.

Dalam sekilas pandangan saja, dia sudah mengenali kalau salah satu diantara dua orang yang sedang bertarung itu adalah susioknya (paman guru) yakni Sam ciat jiu Li Tin tang.

Tampaknya Sam ciat jiu Li Tin tang telah menderita luka dalam yang cukup parah, gerak geriknya sudah tidak lincah lagi, tapi didorong oleh semangat pantang menyerah yang berkobar kobar serta prinsip lebih baik mati daripada dihina, dia memberikan perlawanan terus secara gigih dan bersemangat.

Sebaliknya, orang yang sedang melawan Sam ciat jiu Li Tin tang itu sama sekali tak dikenal oleh Thi Eng khi. Tapi dari lima orang yang sedang berteriak teriak disisi arena untuk memberi semangat itu, tiga diantaranya dikenal sekali olehnya, mereka adalah Sin tou (unta sakti) Lok It hong, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po serta Ci long taysu dari Siau lim pay.

Thi Eng khi segera merasakan hawa amarahnya berkobar dan menyusup kedalam benaknya, ia merasa sikap partai partai besar kelewat menghina orang. Dengan cepat tubuhnya melejit ke tengah udara, kemudian sambil berpekik nyaring, dia menerjang kearah dua orang yang sedang bertarung itu.

Gerakan tubuh Hu kong keng im yang dimilikinya itu benar benar cepat seperti sambaran kilat, walaupun memancing perhatian kelima orang yang menonton jalannya pertarungan tersebut, akan tetapi sama sekali tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk turun tangan menghalanginya.

Tahu tahu sebuah pukulan yang dilepaskan dari tengah udara telah memisahkan Sam ciat jiu Li Tin tang yang sedang bertarung dengan pihak lawannya, bahkan kedua belah pihak sama sama mundur sejauh lima langkah lebih.

Kemudian sambil berdiri diantara kedua orang itu, teriaknya keras keras :

“Harap berhenti dulu, dengarkan perkataanku!”

Berbicara yang sebenarnya, ilmu silat yang dimiliki orang yang sedang bertarung melawan Sam ciat jiu Li Tin tang itu dua kali lipat lebih hebat daripada Sam ciat jiu Li Tin tang, akan tetapi berhubung ia bertekad hendak menawan musuhnya dalam keadaan hidup hidup dan tak ingin mencelakai jiwanya maka untuk sementara waktu usahanya tersebut tidak mendatangkan hasil seperti yang diinginkan. Waktu itu, Sam ciat jiu Li Tin tang telah berhasil ditotok oleh sodokan jari tangannya hingga menderita luka parah, harapannya untuk membekuk musuh dalam keadaan hidup pun sudah berada didepan mata, siapa tahu disaat seperti inilah seorang pemuda tampan berbaju biru telah melibatkan dirinya.

Dengan amarah yang berkobar kobar dia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa keras.

“Haahhhh..... haaahhhh..... haaahhhhh kalau dilihat dari

dandananmu, jelas kau adalah anak murid Thian liong pay, dengan kemampuan itu ingin mencampuri urusan kami, hmmmm! Apakah kau anggap sudah cukup mampu untuk menghadapi kami?”

Baru selesai dia berkata, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang berada di samping segera memperingatkan :

“Ting ciangbunjin, dia adalah ciangbunjin angkatan kesebelas dari Thian liong pay Thi Eng khi, Thi siauhiap adanya!”

Ting kong, ketua Cing shia pay yang mendengar perkataan itu menjadi tertegun, mukanya segera berubah menjadi merah sebagian. Disaat dia masih termangu inilah, lalu ujarnya kepada Thi Eng khi :

“Saudara cilik, aku si pengemis tua bukan manusia yang menjual teman untuk mencari pahala, tapi berhubung kita berdiri dalam posisi yang berbeda maka seandainya terdapat hal hal yang tidak berkenan dihatimu, harap saudara cilik sudi memaafkan.”

Dengan puluhan patah kata itu, dia hendak mengemukakan posisi sendiri dalam peristiwa mana, namun kepedihan hatinya bisa dilihat dari sepasang matanya yang berkaca kaca itu.

Thi Eng khi adalah seorang pemuda yang mempunyai kebesaran jiwa yang amat mengagumkan, asal persoalannya sudah dijelaskan, maka dia tak akan mempersoalkan kembali.

Kalau hendak disalahkan maka yang harus disalahkan adalah kakek sendiri, seandainya kakeknya tidak melakukan perbuatan yang sukar dipahami dan diterima orang banyak ini, niscaya orang lain pun tak akan bersikap demikian pula terhadapnya.

Betul, di dalam persoalan ini dia tidak tersangkut tapi orang lain tak akan percaya dengan begitu saja atas perkataannya maka dari itulah anak muda tersebut juga tidak berniat untuk memberi penjelasan apapun terhadap mereka.

Sesudah tertawa getir, katanya :

“Engkoh tua, waktu yang makin berlarut akan memperlihatkan watak manusia yang sebenarnya, manusia macam apakah diri siaute ini, suatu hari kalian pasti akan memahami sendiri.”

Kemudian setelah memberi hormat, tambahnya :

“Untuk sementara waktu, siaute hendak memohon diri lebih dulu kepada kalian!”

“Tunggu sebentar!” hadang Ting kong, ketua dari Cing sia pay secara tiba tiba, “sewaktu berada di rumah kalian tadi, ucapan lohu sekalipun belum sempat diutarakan hingga selesai, kini aku berharap ciangbunjin sudi mengikuti lohu sekalian untuk melangsungkan pembicaraan lagi!”

Thi Eng khi sama sekali tak tahu kalau di rumah tadi telah terjadi suatu peristiwa dimana para ketua dari pelbagai partai telah diejek dan dicemooh Keng thian giok cu habis habisan, akan tetapi sebagai seorang pemuda yang pintar dia dapat segera menangkap maksud sebenarnya dari lawannya ini.

Tanpa terasa ia lantas bertanya :

“Siapakah kau?”

Ketua Cing sia pay Ting kong segera memperkenalkan diri, sedangkan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po juga segera memperkenalkan dua orang yang belum dikenal oleh Thi Eng khi itu.

Ternyata kedua orang itupun merupakan ketua dari partai besar, sastrawan berusia lanjut yang memakai jubah putih adalah ketua dari Hoa san pay, Pek in siusu (sastrawan berbaju putih) Cu Wan mo, sedangkan kakek yang jangkung kurus adalah ketua dari Tiong lam pay, ku tiok siu (kakek bambu kering) Yap Han san.

“Kalian menghendaki aku kemana?” Thi Eng khi segera menegur. Thi Eng khi termenung sejenak, kemudian katanya :

“Ting ciangbunjin, bagaimana kalau di kemudian hari saja?”

Maksud Thi Eng khi, dia hendak kembali untuk mengundang Sam ku sinni yang menampilkan diri dan melakukan pembicaraan dahulu dengan para ciangbunjin dari pelbagai aliran itu kemudian pertemuan segitiga baru diselenggarakan.

Ting Kong, ketua dari Cing sia pay memandang sekejap kearah kelima orang rekannya, kemudian bertanya :

“Bagaimanakah menurut pendapat kalian?”

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po cukup mengetahui bagaimanakah perasaan para ketua dari pelbagai partai saat ini, terutama setelah menerima cemoohan dari Keng thian giok cu tadi, bila Thi Eng khi menolak untuk mengikuti mereka pergi, bisa jadi suatu pertarungan sengit tak bisa dihindari lagi.

Maka secara diam diam dia berniat untuk melindungi keselamatan Thi Eng khi, ujarnya dengan cepat :

“Menurut pendapat siaute, lebih baik kita turuti saja kehendak Thi ciangbunjin dengan mengundurkan saat pembicaraan sampai di waktu mendatang saja.”

Dengan pandangan berterima kasih Thi Eng khi memandang sekejap ke arah pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po. Sekalipun pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sendiri tak berani saling bertatapan muka dengan anak muda tersebut tapi berhubung ia sudah mempunyai kesempatan untuk membantu Thi Eng khi dengan sepatah dua patah kata, maka sekulum senyuman segera menghiasi ujung bibirnya ....

Ku tiok siu (kakek bambu kurus) Yap Hap san, ketua dari Tiong lam pay segera menggelengkan kepalanya berulang kali katanya : “Siaute tidak setuju dengan pendapat dari saudara Cu, besok adalah saat Thian liong pay bergabung secara resmi dengan pihak Ban seng kiong, apabila kesempatan pada hari ini kita sia siakan, mungkin pembicaraan kita dengan Thi ciangbunjin di kemudian hari tak akan mendatangkan manfaat apa apa.”

Si unta sakti Lok It hong juga berteriak dengan suara lantang : “Benar, kemunculan si tua Thi akan sangat mempengaruhi kuat

lemahnya posisi dalam dunia persilatan dewasa ini, kesempatan pada hari ini siaute rasa tak boleh dilepaskan dengan begitu saja.”

“Omitohud!” Ci long taysu dari Siau lim si juga merangkap tangannya didepan dada, “setelah pertemuan dibukit Siong san, lolap merasa kagum sekali atas kebijaksanaan Thi ciangbunjin, lolap berharap kau bisa lebih mementingkan soal dunia persilatan dan jangan menampik ajakan kami ini.”

Ketika pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menyaksikan semua orang berpendapat demikian, dia jadi sungkan untuk berbicara lagi, sebab ia kuatir orang lain akan salah beranggapan tentang dirinya, maka sambil menghela napas dia menggelengkan kepalanya berulang kali, perasaan hatinya terasa amat berat.

Paras muka Thi Eng khi berubah beberapa kali, dia merasa perkataan orang orang itu memang sangat masuk diakal, tapi secara lamat lamat terasa pula nada paksaan, seakan akan bagaimanapun juga dia harus pergi mengikuti mereka.

Sementara dia sedang merasa sangsi untuk mengambil keputusan, Sam ciat jiu Li Tin tang telah mengirim suara dengan ilmu menyampaikan suaranya :

“Dengan kemarahan yang meluap luap, kurang cocok untuk memenuhi undangan mereka pada saat seperti ini, harap ciangbunjin suka mempertimbangkan diri lebih dulu sebelum mengambil keputusan.”

Sebagaimana diketahui, Thi Eng khi baru saja pulang ke rumah, sehingga dia kurang begitu paham terhadap semua yang terjadi, sekalipun pembicaraan hendak dilakukan, paling tidak ia harus memahami dahulu keadaan yang sebenarnya kemudian baru memutuskan, itulah sebabnya untuk sementara waktu pemuda itu tak tahu bagaimana harus bertindak.

Ting Kong, ciangbunjin dari Cing sia pay segera tertawa nyaring, sambil mengulapkan tangannya dia berseru :

“Thi ciangbunjin tak usah mempertimbangkan lagi, ayo silahkan!”

Diantara ulapan tangannya, terlihat bayangan manusia berkelebat lewat, kecuali pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po masih berdiri tetap berdiri di tempat semula, lima orang lainnya telah menyebarkan diri dan berdiri di sekeliling Thi Eng khi.

Ditinjau dari keadaan tersebut, jelaslah sudah kalau orang orang itu tak akan memberikan waktu buat Thi Eng khi mempertimbangkan diri, bagaimana pun juga dia harus pergi mengikuti mereka.

Thi Eng khi sebagai seorang ciangbunjin, kendatipun ada niat baginya untuk memenuhi keinginan orang, toh dalam perasaannya tindakan lawan mendatangkan juga suatu kesan yang kurang baik.

Apalagi seandainya dia tunduk di bawah paksaan orang, sedikit banyak hal mana akan mempengaruhi juga kedudukan serta pamornya sebagai ketua Thian liong pay. Sebagai anak muda yang berdarah panas, tentu saja dia tak sudi diperlakukan demikian.

Dengan kening berkerut segera serunya :

“Sayang aku masih ada urusan penting lainnya yang harus diselesaikan, hari ini aku tak bisa memenuhi harapan kalian, harap para ciangbunjin sudi memaklumi.”

Seusai berkata, lantas memberi kerlingan mata kearah Sam ciat jiu Li Tin tang kemudian berlalu dari situ dengan langkah lebar. Sam ciat jiu Li Tin tang berjalan mengikuti Thi Eng khi, tapi berhubung ia tak tahu sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki oleh anak muda itu sekarang, tak urung timbul juga rasa kuatirnya. Sedikit banyak dia mengerti kalau enam orang yang mereka hadapi adalah jago jago pilihan dari dunia persilatan, dia kuatir Thi Eng khi tak sanggup menghadapi serangan gabungan orang orang itu.

Ketua Cing sia pay Ting Kong yang menyaksikan Thi Eng khi tidak menggubris tegurannnya bahkan bersiap hendak pergi dari situ, kontan amarahnya berkobar. Dengan cepat ia menghadang di depan pemuda itu sambil berseru :

“Thi ciangbunjin, jalan ini buntu bagimu.”

Thi Eng khi segera membalikkan badan mencoba untuk melalui arah yang lain. Tapi si unta sakti Lok It hong segera menghadang pula jalan pergi Thi Eng khi sambil berkata dengan tertawa :

“Kita sudah saling bersua muka, bagaimana pun jua hari ini kau mesti memberi muka untuk kami.”

Tanpa mengucapkan sepatah katapun Thi Eng khi mengalihkan kembali arah perjalanannya ke jurusan lain. Ketua Tiong lam pay, si kakek bambu kering Yap Han san segera melintangkan senjata bambu kuningnya sambil berseru :

“Harap Thi ciangbunjin suka berpikir tiga kali lebih dulu sebelum bertindak.”

Thi Eng khi memandang sekejap kearah pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang sedang berdiri dengan wajah serba salah, karena kuatir menyusahkan engkoh tuanya ini, maka dia lantas mengalihkan diri ke jurusan lain.

Kali ini jalan perginya dihadang oleh Ci long taysu dari Siau lim pay, terdengar pendeta itu berkata :

“Harap Thi ciangbunjin suka memikirkan keselamatan orang banyak dengan mengambil tindakan bersama kami untuk menanggulangi peristiwa ini!”

Thi Eng khi telah mencoba untuk menembusi empat penjuru, tapi semua jalan telah dihadang orang, terpaksa dia dia harus kembali ke tengah arena seraya berkata dengan lantang. “Pun ciangbunjin juga mempunyai kesulitan yang sukar untuk diutarakan, harap kalian jangan mendesak orang kelewat batas.”

“Di dalam perjalanan ini, kamipun tak akan memaksa Thi ciangbunjin untuk melakukan perjanjian apa apa dengan kami,” kata si unta sakti Lok It hong dengan cepat, “kami hanya ingin mencegah kakekmu bekerja sama dengan pihak Ban seng kiong, padahal tindakan kamipun akan mendatangkan dua keuntungan, mengapa Thi ciangbunjin tidak menerimanya saja dengan senang hati? Kecuali Thi ciangbunjin memang tak memiliki jiwa ksatria seperti dulu lagi, tentu saja hal ini harus dibicarakan lain.”

Berbicara yang sebenarnya, Thi Eng khi mempunyai jiwa ksatria yang mengagumkan, jiwa tersebut seakan akan sudah tertanam di dalam harinya semenjak dilahirkan di dunia ini, bilamana keadaan terpaksa, bisa jadi dia akan melenyapkan anggota keluarga sendiri demi ditegakkannya keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan.

Tentu saja hal ini hanya dilakukan olehnya bila keadaan benar benar sudah terpaksa. Sebelum keadaan berkembang menjadi begitu kritis, dia tak nanti akan melakukan tindakan seperti itu.

Dia memang ingin membawa perguruan Thian liong pay menuju ke puncak kejayaannya, diapun ingin melenyapkan bibit bencana dalam dunia persilatan, tapi dia tak ingin melakukan suatu kesalahan terhadap kakeknya sehingga dianggap orang sebagai cucu yang tidak berbakti.

Berada dalam keadaan seperti ini, dia telah disudutkan pada pemilihan antara kebenaran dan hubungan keluarga, keputusan tentang hal ini hanya dia sendiri yang berhak untuk memutuskan, orang lain tentu saja tak dapat memaksakan kehendaknya.

Kini, si unta sakti Lok It hong menghadang jalan perginya sambil mengucapkan kata kata yang tak sedap, dengan cepat kejadian ini mendatangkan kesan antipatik di dalam hati Thi Eng khi. Kontan saja dia berseru sambil tertawa dingin :

“Lok tayhiap, jadi kau hendak menjadikan aku sebagai sandera?” Sesungguhnya usul ini bukan muncul dari benak si unta sakti Lok It hong seorang, melainkan atas persetujuan semua orang secara diam diam, itulah sebabnya pula mereka menyerang Sam ciat jiu Li Tin tang tadi.

Daripada Sam ciat jiu Li Tin tang, sudah barang tentu Thi Eng khi merupakan sandera yang paling cocok, hanya sebagai orang orang dari golongan lurus, mereka sungkan untuk menyebutkan kejadian mana sebagai suatu usaha penyanderaan.

Tapi kini Thi Eng khi telah mengungkapkan masalah tersebut secara berterus terang. Sebagai seorang ketua dari suatu perguruan besar, tentu saja kejadian ini membuat mereka merasa seperti kehilangan muka, dari malunya amarah segera berkobar dan tanpa terasa merekapun saling berpandangan sekejap.

Diantara sekian jago yang hadir, si unta sakti Lok It hong paling berangasan wataknya, ditambah pula ucapan tersebut muncul dari mulutnya, tentu saja dia tak sanggup menahan diri lagi.

Sambil mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak, kakek itu segera berseru :

“Haaahhhh..... haaahhhh...... haaahhhh perkataan Thi

ciangbunjin memang bagus sekali tapi lohu sekalian berani bersumpah di hadapan Thian, meski tindakan kami kurang mencerminkan keterbukaan serta kejujuran, namun tujuannya adalah demi kepentingan seluruh umat persilatan, demi kepentingan umum, terpaksa kami harus menyusahkan Thi ciangbunjin sebentar.”

Thi Eng khi memperhatikan keenam orang itu sekejap, lalu sambil mengangkat kepalanya dia berkata :

“Demi keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan, ciangbunjin Thian liong bersedia mewakili segenap anggota perguruannya untuk mengorbankan kepala dan darahnya tanpa pamrih, tapi bila ada orang ingin menghina partai Thian liong pay kami, Hmmm! Maaf kalau aku tak akan berpeluk tangan dengan begitu saja. Jika kalian tak mau pergi dari situ, jangan salahkan kalau aku terpaksa akan bertindak kurang ajar!” Seusai berkata, dia memberi tanda kepada Sam ciat jiu Li Tin tang sambil berkata :

“Susiok, bila ada orang berani menghalangi kita lagi, terpaksa aku akan memberikan perlawanan dengan kekerasan!”

Si unta sakti Lok It hong menjadi berkoak koak keras sesudah mendengar ucapan itu, teriaknya :

“Kegagahan Thi ciangbunjin memang mengagumkan, dan lohu yang nomor satu memujimu, tapi aku pula yang nomor satu akan merasakan kelihayan ilmu silatmu itu!”

“Akan kuiringi keinginanmu itu, Lok tayhiap silahkan!”

Agaknya anak muda tersebut tahu kalau suatu pertarungan tak dapat dihindari lagi, maka tantangan tersebut segera disambut dengan terang terangan. Sejak terjun ke dunia persilatan belum pernah si unta sakti Lok It hong menjumpai kejadian seperti ini, apalagi menjumpai manusia yang sama sekali tidak memandang sebelah mata pun kepadanya, dengan wajah merah membara teriaknya kasar :

“Thi ciangbunjin, harap kau segera meloloskan senjatamu!”

Sebenarnya Thi Eng khi ingin menghadapi lawannya dengan tangan kosong saja, tapi setelah dipikirkan kembali, dia merasa dengan begitu maka si unta sakti Lok It hong pasti akan menganggap peristiwa mana sebagai suatu penghinaan terhadap dirinya, demi melindungi nama baik orang, terpaksa dia meloloskan pedang emas naga langitnya dan disilangkan di depan dada untuk bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Unta sakti Lok It hong membentak nyaring, dari sakunya dia mengeluarkan sebuah gelang emas yang memancarkan sinar berkilauan, lalu dipecah menjadi dua dan digenggam pada kedua belah tangannya. Setelah saling membenturkan sepasang gelang emas tersebut hingga menimbulkan suara nyaring, serunya :

“Thi ciangbunjin, silahkan!” Dia tak ingin turun tangan lebih dulu. Sekalipun Thi Eng khi adalah ketua dari suatu perguruan besar tapi untuk menghormati lawan yang lebih tua usianya diapun tak sungkan sungkan lagi, pedangnya segera diayunkan kemuka menotok urat nadi pada tangan kanan si unta sakti Lok It hong.

“Kalau begitu, maafkanlah daku!” serunya.

Serangan dilepaskan tanpa menimbulkan suara, yang diarahpun bukan jalan darah yang mematikan, jelas sekali dia bermaksud mengalah untuk lawannya kendatipun harus melepaskan serangan lebih dulu.

Sambil tersenyum si unta sakti Lok It hong segera berkata : “Thi ciangbunjin tak usah sungkan sungkan!”

Tangannya diayunkan membentuk satu gerakan melingkar untuk menyongsong datangnya ancaman, bahkan dibarengi dengan gerak melangkah mundur setindak, jelas diapun menyambut serangan tersebut sebagai tata sopan santun belaka.

Thi Eng khi segera menggetarkan pedang emas naga langitnya sehingga menciptakan bunga bunga pedang, mendadak tubuhnya menerjang ke muka, pedangnya menyapu kekiri menyerang ke kanan, dalam waktu singkat dia sudah melepaskan delapan buah serangan berantai.

Kedelapan buah serangan mana semuanya menggunakan jurus sakti dari ilmu pedang Thian liong kiam hoat, dilepaskan pula secara beruntun dalam waktu singkat sekilas pandangan keadaannya mirip sekali dengan naga sakti yang terbang diangkasa, hebatnya bukan kepalang.

Si unta sakti Lok It hong tak berani bertindak gegabah, dengan cepat dia mengembangkan pula senjata gelang Im yang siang lunnya, menciptakan selapis cahaya emas, teriaknya :

“Sungguh sebuah serangan yang dahsyat!” Ke kiri melakukan tangkisan, ke kanan melakukan penghadangan, jurus disambut jurus, gerakan dipatahkan dengan gerakan, sambil berdiri tak berkutik di posisi semula secara beruntun dia menyambut kedelapan jurus serangan lawan.

Sekilas pandangan, orang akan menganggap dia menyambut ancaman tersebut dengan enteng, namun dalam kenyataan dia mempunyai kegetiran yang sukar diutarakan, rasa kagumnya terhadap Thi Eng khi pun semakin bertambah besar.

Rupanya dalam melepaskan kedelapan jurus serangan berantai itu, Thi Eng khi telah mengerahkan pula tenaga dalamnya, apalagi tenaga Iwekang yang dimilikinya pemuda ini memang masih diatas unta sakti tersebut, bisa dibayangkan betapa payah dan berat nya Lok It hong menyambut serangan serangan tersebut.

Dengan perkataan lain, ketika unta sakti Lok It hong menangkis serangan itu dengan tenaga sebesar enam bagian, serangan pedang yang dilancarkan Thi Eng khi segera meningkat setengah lebih besar dari serangan pertama, ketika si unta sakti Lok It hong telah mengerahkan tenaganya sampai mencapai dua belas bagian ternyata serangan pedang yang dilepaskan Thi Eng khi masih tetap meningkat setengah lebih hebat dari keadaan sebelumnya.

Dalam selisih tenaga sebesar setengah bagian inilah sebetulnya letak kelihayan dari anak muda itu, sebab hal mana hanya bisa dilakukan bila ia bisa mengira ngira tenaga yang bakal digunakan musuhnya sewaktu melancarkan serangan.

Terlepas apakah tenaga dalam Thi Eng khi lihay atau tidak, cukup di dalam hal ini saja, si unta sakti Lok It hong sudah dibuat amat terperanjat. Begitulah, dalam waktu singkat tiga puluh gebrakan sudah lewat tanpa terasa, selama ini Thi Eng khi tetap menghadapi serangan serangan unta sakti Lok It hong yang berkekuatan besar itu secara enteng dan semau hati sendiri.

Mendadak anak muda itu berpekik nyaring, dia melepaskan sebuah tusukan dari arah tengah. Cepat cepat si unta sakti Lok It hong mengayunkan sepasang gelang emasnya untuk menangkis, lalu kedua senjata itu berpisah, yang atas melakukan penekanan sedang yang bawah melakukan tangkisan, bersama sama menghadang datangnya pedang emas naga langit tersebut.

Di dalam serangannya ini, si unta sakti Lok It hong telah menggunakan tenaganya sebesar dua belas bagian, dia bermaksud ingin menjepit pedang emas milik lawannya. Siapa tahu, serangan pedang Thi Eng khi itu meski nampaknya sangat enteng, padahal di balik semuanya itu justru terdapat segulung tenaga yang amat besar langsung mendesak ke tubuh Lok It hong.

Ketika sepasang gelang emas Im yang siang lun yang dilancarkan unta sakti Lok It hong dengan tenaga sebesar dua belas bagian itu saling membentur dengan serangan lawan, dia segera merasakan sepasang tangannya bergetar keras, senjata Im yang kim lunnya tak sanggup dipertahankan lagi, tak ampun senjata tersebut lepas dari genggaman dan terjatuh beberapa kaki dari sisi arena.

Berbareng itu juga, dia merasakan datangnya segulung tenaga dorongan yang sangat kuat menerjang dari belakang, sedemikian dahsyatnya tenaga terjangan itu membuat dia tak mampu berdiri tegak lagi dan langsung menerjang ke atas ujung pedang lawan.

Rupanya Thi Eng khi dan si unta sakti Lok It hong baru benar benar menggunakan ilmu silatnya setelah pertarungan berlangsung melebihi tiga puluh gebrakan, suatu ketika mendadak si anak muda itu melepaskan sebuah tusukan ke arah dada lawan dan mementalkan sepasang gelang emas Im yang siang lun si unta sakti tersebut.

Siapa tahu pada saat itulah mendadak ada orang yang secara diam diam melancarkan sebuah pukulan yang memaksa tubuh Lok It hong terjerumus ke muka dan menyambut datangnya tusukan pedang dari Thi Eng khi.

Berbicara menurut tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi sekarang, paling banter si unta sakti Lok It hong hanya sanggup mempertahankan diri sebanyak lima gebrakan saja, kini Thi Eng khi bertarung sebanyak tiga puluh gebrakan lebih, hal mana sebenarnya hanya dimaksudkan untuk memberi muka kepadanya.

Dengan nama besar dan kedudukan si unta sakti Lok It hong dalam dunia persilatan, andaikata dia sampai dibikin keok di tangan Thi Eng khi sebelum lewat lima gebrakan, sudah dapat dipastikan dia akan merasa malu sekali.

Itulah sebabnya setelah lewat tiga puluuh gebrakan, Thi Eng khi baru menggetar lepas senjata si unta sakti Lok It hong, itu pun segera mengundang rasa terkejut dari para jago lainnya.

Mereka tak percaya kalau jagoan tangguh seperti Unta sakti Lok It hong ternyata tak sanggup menahan empat puluh gebrakan di tangan Thi Eng khi, dari sini bisa diketahui kalau Thi Eng khi adalah seorang jago muda yang tak boleh dipandang enteng.

Serangan terakhir yang dilancarkan Thi Eng khi pun semula tak bermaksud melukai orang, dia hanya lagi memaksa unta sakti Lok It hong agar mundur selangkah kemudian dia baru akan menarik kembali serangannya dan melepaskan musuhnya itu. Mimpipun dia tak menyangka kalau si unta sakti Lok It hong ternyata tidak takut mati bahkan menerjang maju secara kalap.

“Craaaapp!” tak ampun lagi pedang Thian liong kim kiam segera menusuk dada Lok It hong dan tembus sedalam lima hun, untung saja tak sampai melukai isi perutnya. Inipun berkat kesempurnaan tenaga dalam Thi Eng khi yang berhasil mencapai tingkatan yang luar biasa sehingga di saat yang paling kritis, ia masih sempat menarik kembali serangannya, kalau tidak, mungkin si unta sakti Lok It hong sudah tewas ditembusi tusukan pedang itu.

Dengan begitu, kejadian mana sama halnya dengan si unta sakti Lok It hong berhasil memungut kembali selembar jiwa tua nya, untuk sesaat dia jadi tertegun di tempat dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun tanpa mengetahui kejadian

yang sebenarnya, mereka semua mengira Thi Eng khi telah bertindak keji dengan menghadiahkan sebuah tusukan ke tubuh unta sakti Lok It hong. Dengan cepat peristiwa ini membangkitkan amarah bagi semua jago persilatan itu. Bunyi gemerincingan nyaring berkumandang memecahkan keheningan, masing masing jago segera meloloskan senjata andalannya, kemudian sambil membentak keras mereka memecahkan diri mengurung Thi Eng khi di tengah arena.

Ciangbunjin dari Cing sia pay, Ting kong, menggunakan sebilah pedang tipis seperti daun pohon yang liu, panjangnya tiga depa dengan lebar hanya satu inci, tubuh pedangnya lembek bagaikan cambuk, suatu jenis senjata tajam yang aneh sekali.

Sewaktu tenaga dalamnya disalurkan keluar, tiba tiba saja pedang Liu yap si kiam itu menegang keras, cahaya kehijau hijauan dengan cepat memancarkan keluar dari seluruh tubuh pedang tersebut.

Sambil menuding ke wajah Thi Eng khi bentaknya keras keras : “Sungguh hebat ilmu pedang Thi ciangbunjin, lohu yang bodoh

ingin juga memohon petunjuk satu dua jurus darimu.”

Thi Eng khi balas tertawa dingin :

“Heeehhh….. heeehhh….. heehhhh….. aku …..”

Namun sebelum perkataan itu diteruskan, dengan wajah serius si unta sakti Lok It hong telah memotong perkataan Thi Eng khi, dia berkata :

“Jangan salah paham, luka siaute ini bukan kesalahan Thi ciangbunjin …..!”

Ucapan itu segera mencengangkan semua orang, mereka tak habis mengerti apa maksud yang sebenarnya dari ucapan si unta sakti Lok It hong tersebut. Sambil membalikkan badannya dan menatap wajah Ci long taysu dari Siau lim pay, dengan sorot mata tajam, unta sakti Lok It hong segera tertawa dingin.

“Aku harap taysu suka memberi keadilan kepada lohu!” serunya. “Eeeh…. Lok tayhiap, apa maksudmu?” Ci long taysu tercengang. Unta sakti Lok It hong tertawa keras penuh amarah, teriaknya lagi keras keras :

“Apa yang telah kau lakukan, masa tidak kau pahami?”

“Tapi pinceng tidak merasa berbuat salah kepada Lok tayhiap, bagaimana mungkin pinceng bisa tahu? Harap kau sudi memberi petunjuk kepadaku…!” pinta Ci long taysu dengan wajah kebingungan.

Merah membara sepasang mata unta sakti Lok It hong dibakar amarah, teriaknya dengan gemas :

“Dendam dan sakit hati apakah yang terjalin antara lohu denganmu? Mengapa kau menghadiahkan sebuah pukulan ke punggungku dengan sebuah pukulan Peh poh sin kun? Untung saja tenaga dalam Thi ciangbunjin amat sempurna dan segera menarik kembali pedangnya hingga lohu lolos dari kematian, coba kalau lohu mampus, siapa yang bisa membongkar kedok palsumu untuk mencelakai orang? Hmmm, kini bukti sudah nyata, apalagi yang hendak kau ucapkan?”

Sekarang semua orang baru memahami akan duduk persoalan yang sebetulnya, andaikata demikianlah kejadiannya, maka luka yang diderita si unta sakti Lok It hong memang tak dapat menyalahkan Thi Eng khi, maka semua orang mulai mengalihkan sorot matanya ke wajah Ci long taysu dan mengharapkan keterangan darinya.

Setelah tertegun sejenak, Ci long taysu tertawa terbahak bahak, katanya kemudian :

“Lok tayhiap, atas dasar apakah kau berkata demikian?”

“Ilmu pukulan sakti dari Siau lim pay dapat tersohor karena dari seratus langkah bisa melukai orang, seandainya bukan kau si hwesio tak tahu malu yang melakukan perbuatan ini, siapa pula yang memiliki tenaga dalam sedemikian sempurnanya hingga mendorong lohu menerjang maju kemuka?” “Omitohud!” Ci long taysu segera mengalihkan sorot matanya ke wajah ke empat orang lainnya, “apakah ciangbunjin sekalian telah menyaksikan pinceng melakukan suatu tindakan?”

Jawaban yang diperoleh hanya kepala yang digelengkan dan mulut membungkam dalam seribu bahasa. Melihat kejadian ini, si unta sakti Lok It hong menjadi curiga, tanpa terasa dia mulai memeriksa keadaan disekeliling tempat itu.

Thi Eng khi segera mengeluarkan pula ilmu Thian si tee ting (melihat langit mendengar bumi) untuk melakukan pemeriksaan, dengan cepat dia menemukan bahwa pada jarak dua tiga puluh kaki dari situ memang ada seseorang sedang melarikan diri.

Mungkin orang inilah yang telah menyerang si unta sakti Lok It hong secara diam diam, kemudian menggunakan kesempatan dikala orang orang itu sedang ribut, dia segera melarikan diri.

Dengan tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi sekarang, seharusnya dia dapat mendengar kalau ada orang yang bersembunyi di sekitar situ tapi bagaimana pun juga pengalamannya memang kurang sehingga penyakit teledor menghantuinya, gara gara keteledorannya hampir saja suatu kesalahan paham terjadi.

Thi Eng khi turut merasa benci terhadap orang yang melakukan sergapan tersebut, dengan cepat dia melakukan pengejaran sembari berseru lantang :

“Orang itu sedang melarikan diri ke arah tenggara, aku akan segera mengejarnya kembali!”

Dengan kesempurnaan tenaga dalamnya, apa yang dapat didengar olehnya belum tentu bisa didengar orang lain, apalagi orang itu adalah manusia luar biasa yang kini sudah berada puluhan kaki jauhnya dari tempat tersebut.

Kendatipun mereka tidak merasakan sesuatu, akan tetapi mereka percaya seratus persen atas ucapan Thi Eng khi itu, mereka pun tidak lega kalau membiarkan pemuda itu melakukan pengejaran dengan begitu saja, kautir kalau ia tak kembali setelah melakukan pengejaran, bila sampai begitu, bukankah akan terjadi suatu lelucon yang tak lucu?

Oleh sebab itu, mereka tak akan membiarkan Thi Eng khi berlalu dengan begitu saja, cepat mereka memberi tanda kepada si unta sakti Lok It hong. Lok It hong segera melejit ke tengah udara, kemudian serunya :

“Orang itu telah menyerang lohu, kini lohu ingin tahu manusia macam apakah dia?

Di dalam beberapa kali kelebatan saja, bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan. Thi Eng khi tidak berbicara pula, tapi ia dapat merasakan betapa tidak percayanya orang orang itu terhadapnya, kejadian ini baginya terasa sebagai suatu penghinaan, rasa tak senang dengan cepat menyelimuti seluruh wajahnya.

Si unta sakti Lok It hong pergi dengan cepat tapi kembalipun dengan cepat juga, tak selang beberapa saat kemudian dia kembali dengan wajah hijau membesi. Melihat itu, tak tahan semua orang segera bertanya :

“Apakah saudara Lok telah pergi dengan sia sia belaka?”

Sembari berkata, sorot matanya bersama sama dialihkan ke wajah Thi Eng khi. Dengan perasaan gusar dan mendongkol, Thi Eng khi segera berteriak keras :

“Bukan saja Lok tayhiap telah bertemu dengan orang itu bahkan beradu pukulan pula dengannya!”

Ternyata Thi Eng khi telah mengerahkan tenaga sinkangnya untuk mengamati gerak gerik si unta sakti Lok It hong, apa yang terjadi telah didengar semua olehnya dengan jelas.

Ciangbunjin Tiong lam pay si kakek bamboo kering Yap Han san segera berseru dengan serius :

“Thi ciangbunjin toh tidak menyaksikan semua peristiwa dengan mata kepala sendiri lebih baik tak usah menduga semaunya sendiri.”

Berkilat sepasang mata Thi Eng khi. “Apa yang kuucapkan adalah kenyataan bila tidak percaya, tanya sendiri kepada Lok tayhiap.”

Si unta sakti Lok It hong segera menghela napas panjang. “Aaai, lohu tak sanggup mengalahkan dia, gagal kuhadang

kepergian orang itu,” Katanya.

Semua orang baru terperanjat setelah mendengar perkataan itu, serunya hampir bersama sama :

“Apakah Lok tayhiap kenal dengan orang itu?”

Kelihayan ilmu pukulan yang dimiliki si Unta sakti Lok It hong sudah amat termasyur dalam dunia persilatan, kenyataannya orang itu bisa mengungguli Lok It hong, tentu saja semua orang sama sama ingin mengetahui siapa gerangan orang tersebut.

Dengan wajah yang amat sedih si Unta sakti Lok It hong berkata

:

“Orang itu adalah seorang gadis muda, meski lohu sudah berlatih

ilmu pukulan sepanjang hidup, nyatanya toh keok juga ditangannya, aaai….. kalau dibicarakan benar benar memalukan sekali.”

Kalau didengar dari nada pembicaraannya, jelas dia mengetahui nama perempuan itu hanya merasa malu untuk mengutarakannya. Ting kong, ketua Cing sia pay segera berseru :

“Jadi saudara Lok kenal dengan perempuan itu!”

Sejak si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po mengemukakan pendiriannya kepada Thi Eng khi, dia selalu membungkam dalam seribu bahasa, kini tak tertahan lagi ujarnya :

“Saudara Lok, selama ini kau selalu bersikap terbuka, tak kusangka hari inipun tahu untuk bersikap ragu ragu.”

Merah padam selembar wajah Unta sakti Lok It hong sesudah mendengar perkataan itu, katanya kemudian :

“Baik, bicara ya bicara …..” Setelah berhenti sejenak, ia baru berkata dengan suara yang rendah dan berat :

“Orang itu adalah Pek leng siancu So Bwe leng!”

Begitu mendengar perkataan tersebut, dengan cepat Thi Eng khi mengetahui kalau orang itu bukan Pek leng siancu So Bwe leng yang sebenarnya melainkan gadis dari Ban seng kiong yang pernah menipunya dulu, tanpa terasa dia segera membantah :

“Tidak mungkin, orang itu bukan Pek leng siancu yang sebetulnya!”

“Omitohud!” Ci long taysu segera berseru memuji keagungan sang Buddha, “Tiang pek lojin adalah seorang manusia yang sukar diukur maksud hatinya, tempo hari tanpa sebab musabab dia telah mencari gara gara dengan partai kami, kemudian sewaktu berada dalam pertemuan di bukit Siong san, diapun sekali lagi membohongi para jago dari kolong langit, sekarang ketahuan juga ekor rasenya, ternyata dia adalah salah satu diantara empat tongcu dari istana Ban seng kiong. Pek leng siancu So Bwe leng adalah cucu perempuan Tiang pek lojin, begitu kakeknya pasti begitu cucunya, apalagi Pek leng siancu So Bwe leng memang sebagai kiongcu dari Ban seng kiong. Menurut pendapat lolap, apa yang dikatakan saudara Lok It hong sudah pasti tak bakal salah lagi.”

Tampaknya Ci long taysu sudah teringat kembali dengan sikap Tiang pek lojin ketika membawa para jagonya menyerbu kuil Siau lim si, sehingga tanpa terasa dia lantas menyerang dengan kata kata yang tajam.

Sebenarnya Thi Eng khi hendak menceritakan keadaan yang sebenarnya, tapi begitu teringat kalau dia sendiripun sedang dicurigai orang, sekalipun berbicara sampai mulutnya mengering pun orang tak akan mempercayainya.

Oleh sebab itu, diapun mengurungkan niatnya semula, toh emas yang murni tidak takut dibakar, demikian pikirnya, suatu ketika urusan akan menjadi jelas juga. Persoalan pun segera dikembalikan ke masalah semula. Thi Eng khi segera mengesampingkan masalah Pek leng siancu So Bwe leng, kemudian berkata : “Persoalan yang terjadi pada saat ini terlampau kalut dan tak mungkin bisa selesai hanya dalam sepatah dua patah kata saja, padahal aku masih ada persoalan lain yang harus segera diselesaikan. Maaf, dengan terpaksa aku harus memohon diri lebih dahulu.”