Pukulan Naga Sakti Jilid 28

 
Jilid 28

Dalam keadaan demikian, terpaksa dia harus merengek dengan nada memohon :

“Thi lohiap, kau adalah seorang pendekar yang berjiwa besar, apakah hari ini kau akan bertindak keji dengan menghabisi selembar jiwaku? Ampunilah selembar jiwaku ini.”

Puluhan tahun berselang, ketika Keng thian giok cu Thi Keng masih aktif membasmi kaum penjahat dari muka bumi, dia selalu berjiwa besar dan berperasaan halus terhadap lawan pun dia selalu berbelas kasihan dan tak pernah melakukan pembunuhan. Bahkan ada kalanya dia sengaja mengalah agar lawannya tak sampai kehilangan muka di depan umum.

Atas perbuatannya itu, banyak sekali musuh musuhnya yang kemudian berubah menjadi sahabatnya sehabis pertarungan berlangsung, karena mereka merasa terharu dan berterima kasih kepadanya. Tapi ada pula sementara orang yang tidak mau tahu perasaan Keng thian giok cu, mereka mengira dirinya hebat karena menghadapi Keng thian giok cu tanpa menderita kekalahan.

Dalam keadaan seperti inilah, seringkali Keng thian giok cu baru terpaksa mengeluarkan ilmu sesungguhnya untuk merobohkan lawan. Toan bun ciat jiu ciang Ki Seng cukup memahami watak lawannya ini, maka sekarang ia hendak menggunakan taktik tersebut untuk memohon belas kasihan dari lawan.

Siapa tahu Keng thian giok cu Thi Keng memang sudah bertekad untuk menanggulangi keadaan dunia persilatan yang kacau, dia tak sudi mengampuni pengacau masyarakat yang kerjanya hanya membuat keonaran belaka. Maka dengan wajah serius dia lantas berseru :

“Hari ini lohu tak sampai mengampuni dirimu, karena aku harus memikirkan keselamatan umat persilatan lainnya, kehadiranmu di dunia ini hanya akan menimbulkan banyak kesusahan, oleh sebab itu silahkan kau segera berangkat menuju ke alam baka!”

Selesai berkata, hawa murninya segera dikerahkan keluar dengan hebatnya. Sementara itu tenaga dalam Toan bun ciat jiu ciang Ki Seng sudah berkurang lima bagian, bagaimana mungkin dia sanggup menahan terjangan hawa pukulan dari Keng thian giok cu tersebut? 

Tampak sepasang matanya terbelalakan lebar lalu setelah mendengus tertahan tubuhnya mundur beberapa langkah ke belakang, akhirnya ia terjerumus ketanah dan tewas seketika.

Keng thian giok cu Thi Keng membungkukkan badan melepaskan jubah biru yang dipakai Ki Seng itu dan dikenakan ditubuhnya, setelah itu dia baru menyentilkan jari tangannya membebaskan jalan darah Pit tee jiu Wong Tin pak yang tertotok. Selama jalan darahnya tertotok tadi, meski Pit tee jiu Wong Tin pak tak bisa berbicara, tubuhnya tak bisa bergerak namun kesadarannya masih tetap utuh.

Terhadap kejadian yang baru saja berlangsung, ia dapat mengikutinya dengan jelas, sekarang dia baru mengerti mana gurunya yang asli dan mana yang gadungan, tak terlukiskan rasa gembira yang bergelora dalam dadanya.

Begitu jalan darahnya dibebaskan dia segera melompat bangun dan menjatuhkan diri berlutut di depan Keng thian giok cu Thi Keng serunya dengan gembira :

“Insu! Kau orang tua benar benar membuat kami rindu setengah mati !”

Air mata pun bercucuran membasahi wajah Keng thian giok cu Thi Keng, sambil membimbing bangun Pit tee jiu Wong Tin pak dari atas tanah, katanya agak gemetar :

“Gara gara pikiranku yang kelewat cupat, akibatnya kalianlah yang menjadi korban!”

Pit tee jiu Wong Tin pak tak ingin pertemuan mereka diawali dengan kesedihan, maka dia berusaha keras untuk menghindari pembicaraan yang menjurus ke soal yang memedihkan. Sambil tertawa gembira, katanya kemudian :

“Suhu, akhirnya kau pulang juga, biar tecu memanggil mereka semua agar menyambangi kau orang tua.”

“Tidak usah,” tampik Keng thian giok cu, “Aku mempunyai rencana lain, aku harap kemunculanku ini jangan kau beritahukan kepada siapapun, mulai sekarang laksanakan saja semua tugas seperti apa yang kuperintahkan. Sekarang, kau sembunyikan dulu jenasah Toan bun ciat jiu ciang Ki Seng secara baik baik, lalu ikuti aku keluar, sebentar mereka akan kembali keruang tengah.”

Seperti minum sebutir obat penenang yang amat mujarab saja, Pit tee jiu Wong Tin pak merasakan hatinya amat lega, dia menurut dan segera menyembunyikan jenasah dari Ki Seng.

Setelah itu, Keng thian giok cu Thi Keng berpesan pula beberapa persoalan kepada Pit tee jiu Wong Tin pak yang disambut dengan riang gembira, kemudian mereka baru bersama sama melangkah keluar dari dalam ruangan Thian liong Sin tong. Sementara itu, Yap Siu ling yang menyaksikan ji suhengnya mengajak kongkongnya memasuki ruangan Thian liong Sin tong, dia lantas tahu bahwa mereka ada persoalan yang hendak dirundingkan dan tak mungkin akan muncul dalam waktu singkat, maka secara diam diam dia pun mengundurkan diri kembali ke halaman belakang.

Terbayang kembali sikap maupun tindak tanduk Keng thian giok cu Thi Keng yang aneh, seakan akan berubah menjadi orang lain, apalagi teringat suaminya yang telah tiada dan putranya yang hilang, dia merasa sedih sekali.

Terutama sekali ketika dilihatnya partai Thian liong pay sudah berada di ambang pintu kehancuran, dia merasa menyesal sekali telah mengambil keputusan yang salah. Ia merasa tidak seharusnya membiarkan Thi Eng khi belajar silat hingga seandainya sampai terjadi keadaan seperti ini, paling tidak mereka berdua masih bisa melewati kehidupan sederhana jauh dari urusan dunia persilatan.

Kembali ke dalam kamar, dia menutup pintunya rapat rapat, kemudian mencari sesuatu kain putih dan diikatnya diatas tiang rumah, tampaknya ia bermaksud mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri.

Tenaga dalam Sian thian bu khek ji gi sinkang yang dimilikinya sekarang sudah mencapai enam tujuh bagian, dibawah bimbingan keempat orang suhengnya, diapun memperoleh kemajuan pesat dalam hal ilmu silat, hingga dengan begitu untuk mempersiapkan tali diatas tiang rumah dekat langit langit ruangan bukanlah masalah yang sulit baginya.

Memandang tali putih yang siap dipakai untuk mengakhiri hidupnya, Yap Siu ling merasa sedih sekali. Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, dia merasa sudah sepantasnya untuk meninggalkan beberapa kata untuk Thi Eng khi sebelum mengakhiri hidupnya, berpendapat demikian diapun balik kembali ke kamar tulisnya. Dia pun mengambil secarik kertas tapi baru menulis ‘Eng ji’ dua patah kata, mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara teguran yang amat merdu :

“Kalau ingin mengakhiri hidup, lebih baik lakukan secepatnya, apalagi yang mesti dipikirkan? Sekarang bila kau tidak mampus, sebentar lagi kau tak akan memperoleh kebebasan untuk mengakhiri hidup!”

Yap Siu ling merasa terperanjat sekali setelah mendengar teguran itu, dengan cepat dia berpaling. Tampak ditengah kamarnya, dibawah angkin putih yang dipersiapkan untuk menggantung diri telah berdiri seorang nikou muda, wajahnya mirip sekali dengan Sim ji sinni, salah seorang tamu agung yang berada di tengah ruangan.

Padahal pintu maupun jendela berada dalam keadaan tertutup rapat, bagaimana caranya memasuki ruangan itu? Rasa tegang segera mencekam seluruh benaknya, rasa ingin mati yang semula mencekam perasaannya kini berubah menjadi amarah yang membara.

“Sinni, kau adalah tokoh suci,” tegurnya tak senang hati, ”bukannya mencegah orang agar jangan mati, mengapa kau justru mendesak orang agar cepat bunuh diri?”

Sim ji sinni tetap tersenyum tanpa sedikit hawa amarahpun yang menghiasi wajahnya, kembali dia berkata sambil tertawa :

“Kaum Buddha mencari mereka yang berjodoh, kau dan pinni tidak berjodoh, buat apa pinni mesti mengurusi urusanmu? Pinni menganjurkan kepadamu agar cepat mati karena kematianmu yang lebih awal justru amat membantu pinni, kalau toh kau sudah ingin mati, masa berbuat kebaikan dengan memenuhi harapanku pun tak ingin kau lakukan.”

“Sesungguhnya apa tujuan kalian mendatangi partai kami?” bentak Yap Siu ling marah.

“Melenyapkan badai bencana dalam dunia persilatan!” senyuman yang menghiasi wajah Sim ji sinni semakin menebal. “Hmmm, kalian tak lebih cuma membohongi masyarakat dengan cita cita yang kosong, hmm sebelum mati akhirnya aku

mengetahui juga wajah kalian yang sebenarnya, sekarang aku baru menyesal atas perbuatan dan sikapku dimasa lampau. Baik, biar aku segera memenuhi keinginanmu itu ”

Sambil tertawa, Sim ji sinni mundur lima langkah kebelakang, ketika ia menyaksikan Yap Siu ling sudah mengikat tengkuknya dengan angkin putih tersebut, mendadak ia melepaskan sebuah totokan untuk menotok urat nadi perempuan itu dan melindungi segulung hawa murninya agar jangan membuyar. Setelah itu, sambil lari keluar dari dalam kamar teriaknya keras keras :

“Siu ling sukoh telah menggantung diri!”

Dalam sekilas kelebatan saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan. Teriakan itu kontan saja menggemparkan anggota Thian liong pay lainnya, buru buru mereka menerjang kedalam kamar dan menolong Yap Siu ling dari atas tiang penggantungan, kemudian cepat cepat mereka mengirim orang ke ruang tengah untuk memberi kabar.

Berada dalam keadaan seperti ini, Sim ji sinni, Tiang pek lojin, Kian Kim siang sekalian bertiga mau tak mau harus menunjukkan simpatiknya dengan beranjak dari ruangan dan menuju ke halaman belakang. Justru karena mereka sudah meninggalkan ruangan tengah maka suara gaduh yang kemudian terjadi dalam ruangan Thian liong Sin tong tak sampai terdengar mereka.

Sesungguhnya Yap Siu ling belum putus nyawa, dibawah bantuan dari Sim ji sinni, dia segera sadar kembali dari pingsannya. Ketika dilihatnya orang yang menolongnya sekarang lagi lagi Sim ji sinni, dia nampak agak tertegun dan tidak habis mengerti permainan setan apakah yang sedang dilakukan oleh nikou tersebut.

Dasar hatinya sudah mendongkol sekali tanpa sungkan sungkan lagi dia segera menegur:

“Hei, mengapa kau harus menyelamatkan jiwaku?” Sim ji sinni yang ini tentu saja tidak mengetahui pengalaman yang dialami Yap Siu ling tadi, dia menganggap ucapan perempuan tersebut sebagai ucapan yang bermaksud dalam. Pada dasarnya dia memang bukan nikou asli, tentu saja dia pun tak bisa memberi jawaban sesuai dengan ajaran Buddha. Dalam keadaan demikian, terpaksa dia harus berpura pura menundukkan kepalanya sambil merangkap tangannya di depan dada.

“Omitohud!” bisiknya, “sebagai orang beragama yang diutamakan adalah welas kasih, masa pinni harus berpeluk tangan belaka membiarkan kau mati? Yap sicu, mengapa kau berkata begini?”

Sam ciat jiu Li Tin tang yang menyaksikan Yap Siu ling berbicara kasar dan sama sekali berbeda dengan kelembutan serta kehalusan budinya di masa masa lampau, segera menduga kalau perempuan itu belum sadar kembali secara normal.

Kuatir kalau perkataannya akan menyinggung perasaan orang, buru buru selanya dari samping :

“Sumoi, buat apa kau bersikap demikian? Sekalipun menghadapi persoalan yang sukar dipecahkan, semestinya harus bersabar demi anak Eng, bila kau berbuat nekad, bukankah kita semua yang akan bertambah sedih dan susah.”

Orang ini memang cerdik, dia sengaja menyinggung soal Thi Eng khi dengan harapan hatinya tersentuh. Betul juga, Yap Siu ling seakan akan baru sadar dari impian buruk, rasa sesalnya kontan menyelimuti benak dan perasaannya, api amarah yang membara dalam dadanya pun turut menjadi padam.

Setelah menghela napas sedih, katanya kemudian : “Perkataan suheng memang benar, selanjutnya siaumoay

memang harus bersikap lebih tabah!”

Ketika Sam ciat jiu Li Tin tang mempersilakan semua orang kembali lagi ke ruang tengah, kebetulan ia saksikan gurunya bersama sama ji suhengnya Pit tee jiu Wong Tin pak sedang berjalan keluar dari dalam ruang Sin tong. Keng thian giok cu Thi Keng segera mengalihkan matanya dan memandang sekejap wajah Yap Siu ling, lamat lamat dari balik sorot matanya itu memancarkan sinar kasih sayang yang tebal.

Walaupun Sam ciat jiu Li Tin tang dapat merasakan juga akan hal itu, namun peristiwa mana justru membuat hatinya semakin kebingungan. Diam diam ia berpikir :

“Entah ji suheng telah mempergunakan cara apa untuk mengetuk hati suhu? Mungkin dia telah mengurungkan niatnya untuk menggabungkan diri dengan pihak Ban seng kiong.”

Belum habis ingatan tersebut, Keng thian giok cu Thi Keng telah memanggil Pit tee jiu Wong Tin pak sambil berkata :

“Coba kau sampaikan maksud hati suhumu kepada semua orang!”

Paras muka Pit tee jiu Wong Tin pak sekarang sudah tidak diliputi rasa murung atau sedih lagi, apa yang dikatakan pun semakin membuat paras muka Sam ciat jiu Li Tin tang berubah merah padam, perasaannya betul betul bercampur aduk.

Tampak Pit tee jiu Wong Tin pak memperlihatkan sinar mata yang jeli dengan wajah berseri, katanya dengan suara lantang : “Insu kami cukup menyadari keadaan situasi dunia persilatan

sekarang terutama menyangkut kekuatan dari perguruan kami, untuk menyelamatkan diri dari kepunahan itulah sebabnya kami memutuskan untuk bergabung saja dengan pihak Ban seng kiong, sebab dengan tindakan ini bukan saja seluruh perguruan kita bisa terhindar dari kepunahan, kemudian hari pun ada kemungkinan untuk menjadi besar dan termashur kembali dalam dunia persilatan. Aaai. pokoknya banyak sekali manfaat yang dapat kita raih dengan

tindakan tersebut, oleh sebab itu, aku harap sekalian anggota Thian liong pay bisa tahu diri, kesempatan baik ini tak mungkin bisa dijumpai lagi di kemudian hari. Kita semua harus berusaha dan berjuang sekuat tenaga agar tidak menyia nyia kan harapan dari cousu kita selama ini.”

Dengan ucapan mana, tentu saja para anggota Thian liong pay lainnya tak mampu berkata kata lagi. Akan tetapi ucapan mana semakin mendatangkan perasaan tak senang bagi Sam ciat jiu Li Tin tang, tapi berhubung ia sangat menghormati gurunya dan tak berani membantah secara terang terangan, terpaksa ia mengambil keputusan untuk mengembara saja daripada tetap tinggal di rumah.

Setelah memutar otak berapa waktu, akhirnya berhasil mendapatkan suatu alasan yang tepat. Setelah memberi hormat kepada Keng thian giok cu Thi Keng ujarnya :

“Tecu hendak mengucapkan sesuatu, harap insu memberi ijin….!” Keng thian giok cu Thi Keng tersenyum.

“Aku telah memberi pengumuman kepada semua anggota, jika kau ingin mengucapkan sesuatu, katakan saja berterus terang.”

“Keponakan murid Eng khi merupakan satu satu harapan penguruan kita, ia sudah lama mengembara dan hingga kini belum kembali. Oleh sebab itu, tecu yang tak becus sangat berharap agar suhu memberi ijin kepada tecu untuk mencari kembali Eng khi sutit, agar ia dapat dibina pula oleh Tee Kun, entah bagaimana pendapat suhu?”

Keng thian giok cu Thi Keng manggut manggut, sambil berpaling kearah Sim ji sinni katanya :

“Perkataan ini memang sangat masuk diakal, entah bagaimana menurut pendapat kalian?”

Sambil tertawa Tiang pek lojin menjawab :

“Tee kun amat menyukai Eng khi asal dia bisa ditemukan kembali, sudah pasti hal ini merupakan suatu jasa besar, usul muridmu itu memang boleh dituruti.”

Melihat ada kesempatan baik, Yap Siu ling segera berseru pula : “Kongkong!”

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya : “Anak menantu sangat rindu dengan Eng ji, makan sampai tak enak, tidur tak nyenyak, harap kongkong suka mengijinkan kepada anak menantu untuk pergi bersama sama Sam suheng.”

“Kau hendak keluar rumah untuk mencari Eng ji sudah tentu saja hal ini patut, cuma lain waktu tak boleh melakukan perbuatan bodoh lagi, mengerti?” kata Keng thian giok cu tertawa.

Oleh ucapan tersebut, Yap Siu ling segera menundukkan kepalanya rendah rendah dengan wajah memerah jengah, tanpa banyak berbicara lagi ia segera berjalan menghampiri Sam ciat jiu Li Tin tang.

Ketika Sim ji sinni gadungan menyaksikan Keng thian giok cu Thi Keng mengijinkan Yap Siu ling pergi, buru buru dia berbisik dengan ilmu menyampaikan suara :

“Saudara Ki, mengapa perempuan itupun kau lepaskan?”

“Adik Oh, perempuan itu sangat teliti,” jawab Keng thian giok cu Thi Keng cepat dengan ilmu menyampaikan suara pula, “seandainya penyaruanku sampai ketahuan dan bocor, bukankah hal ini bakal berabe? Biarkan saja dia pergi, bukankah kita bisa bertindak lebih leluasa?”

Sim ji sinni tertawa, dia segera menyetujui pendapat tersebut dan tidak berbicara lagi. Keng thian giok cu Thi Keng memang benar benar seorang manusia yang mempunyai tujuan tertentu, buktinya nama asli dari beberapa orang gembong iblis yang sedang penyaruanpun telah berhasil diselidiki olehnya sampai jelas, membuat mereka sama sekali tidak menyangka kalau Keng thian giok cu Thi Keng yang mereka hadapi sekarang sudah bukan gadungan lagi melainkan Thi Keng yang sesungguhnya.

Sam ciat jiu Li Tin tang dan Yap Siu ling segera mohon diri untuk mempersiapkan perbekalan. Sementara itu, Ngo liu sianseng Lim Biau lim juga maju ke depan sambil berkata kepada Keng thian giok cu :

“Belakangan ini tecu repot sekali, di rumah pun meninggalkan banyak pekerjaan yang belum diselesaikan, kini keamanan perguruan kita sudah terjamin, harap supek sudi mengijinkan siautit ayah dan anak untuk pulang ke rumah, jika perguruan membutuhkan orang lagi, kami pasti akan kembali untuk berbakti.”

Permintaan ini pun segera disanggupi oleh Keng thian giok cu Thi Keng …..

Tidak selang beberapa saat kemudian, mereka berempat masing masing membawa buntalan dan berpamitan kepada Keng thian giok cu. Menghadapi keberangkatan murid muridnya, Keng thian giok cu Thi Keng sengaja menghela napas lalu berkata dengan suara yang amat dingin dan hambar :

“Kalian boleh berangkat!”

Ketika Pit tee jiu Wong Tin pak menyaksikan rekan rekan seperguruannya satu per satu mengajukan alasan dan pergi meninggalkan tempat itu, hatinya segera merasa sedih sekali, tanpa terasa dia menengok kearah gurunya, namun paras muka gurunya masih tetap tenang tanpa perubahan apapun. Dia tahu, sikap gurunya ini sengaja ditunjukkan kepada ketiga orang jago gadungan tersebut padahal dalam kenyataan dia pasti merasa amat sedih dan menderita.

Dengan kedudukan dan nama besar dia orang tua dalam dunia persilatan, ternyata ia mengorbankan segala sesuatunya demi menyelamatkan dunia persilatan dari badai pembunuhan, kesucian hatinya dan keagungan jiwanya benar benar mengagumkan sekali.

Bila ia harus dibandingkan dengan orang tua tersebut, pada hakekatnya dia bukan seorang manusia yang berarti apa apa. Berpikir demikian, tiba tiba saja dia merasa dirinya lebih tabah dan imamnya teguh, dia segera menarik kembali perasaan sedihnya dan tidak ditampilkan diatas wajahnya.

“Suheng ….. ” terdengar Sam ciat jiu Li Tin tang dan Yap Siu ling berbisik lirih, “sepeninggal kami, harap suheng yang melayani makan dan minum dan kebutuhan insu.” Menyaksikan kesedihan yang menyelimuti wajah Sam ciat jiu dan Yap Siu ling, kembali Pit tee jiu Wong Tin pak merasakan hatinya amat sedih, dia tak sanggup untuk mengeraskan hatinya lagi, dengan berkata :

“Kalian hendak pergi jauh, biar kuhantar kalian sampai di depan sana …..”

“Kamipun akan menghantarmu!” seru San tian jiu Oh Tin lam serta Sin lui jiu Kwan Tin say pula.

Mereka serombongan manusia berjalan menuju ke depan pintu gerbang, tampak jalan raya di depan situ terbentang lurus kedepan dan lenyap dibalik kabut yang tebal sana. Tiba tiba saja Pit tee jiu Wong Tin pak merasakan pandangannya menjadi buram, dua tetes airmata jatuh bercucuran membasahi pipinya. Dia seperti sudah tak tahan untuk memberitahukan keadaan yang sebenarnya kepada mereka.

“Kalian bertiga ….”

Tapi sebelum ucapan tersebut sampai dilanjutkan, mendadak terdengar suara Keng thian giok cu telah berbisik dengan ilmu menyampaikan suara :

“Kepandaian silat yang dimiliki Hian im Tee kun sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, kami semua sudah pasti bukan tandingannya. Kali ini kami sengaja memasuki neraka, berhasil atau kalah masih sukar diduga, dengan kepergian mereka dari sini justru akan meninggalkan keturunan bagi perguruan kita dikemudian hari. Kau jangan sekali kali membocorkan rahasiaku ini sehingga mempengaruhi perasaan mereka dan membongkar rencana kami yang sebenarnya.”

Sementara itu Ngo liu sianseng Lim Biau lim, Sam ciat jiu Li Tin tang serta Yap Siu ling telah berpaling, ketika dilihatnya paras muka Pit tee jiu Wong Tin pak berubah tak menentu sedangkan dia yang seperti hendak mengatakan sesuatu mendadak mengurungkan maksudnya dan cuma memanggil ‘sute’ dan ‘suheng’ saja, maka dengan cepat mereka berseru :

“Kami hendak pergi, kau harus baik baik menjaga diri!” Pit tee jiu Wong Tin pak menghela napas panjang.

“Aaai…. Semoga kalian akan selalu teringat akan kebesaran jiwa insu, percayalah kepadanya, dia bukan manusia pengecut seperti apa yang kalian bayangkan sekarang!”

Sam ciat jiu Li Tin tang menjadi tertegun, sebenarnya dia hendak mencari keterangan atas ucapannya itu, namun Pit tee jiu Wong Tin pak sudah keburu menjura seraya berkata :

“Maaf kalau kami tak bisa menghantar kalian lebih jauh, semoga kalian akan selamat sepanjang jalan!”

Seusai berkata, dengan mengajak Sin lui jiu dan San tian jiu, mereka balik kembali ke dalam gedung. Sepeninggal ketiga orang itu, Ngo liu sianseng Lim Biau lim baru memandang kearah Sam ciat jiu Li Tin tang serta Yap Siu ling yang sedang termangu, kemudian bisiknya :

“Benarkah kalian hendak mencari kembali keponakan Eng dan menyerahkannya kepada Hian im Tee kun?”

Dengan cepat Sam ciat jiu Li Tin tang yang menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Kepergian siaute kali ini adalah kepergian untuk mengembara, tadi aku hanya membohongi suhu, justru menurut keinginan siaute, akan kucegah keponakan Eng agar jangan pulang ke rumah. Dia akan dipaksa melakukan perbuatan yang bertentangan dengan pikiran dan perasaan, bagaimana pun juga kita harus menjaga keutuhan dan keadilan bagi perguruan kita.”

Dengan nada yang amat sedih, Yap Siu ling segera berkata : “Seandainya anak Eng mendengar berita ini, dia pasti akan

memburu kembali, tapi entah jalanan yang manakah yang dia tempuh? Jika bertemu dengan mereka, waah bisa berabe.”

Ngo liau sianseng Lim Biau lim manggut manggut. “Ya, nasib perguruan kita selanjutnya hanya tergantung pada kemampuan keponakan Eng. Sebetulnya Ih heng memang tak ada urusan, akupun tak perlu pulang ke rumah, baik aku akan berangkat bersama kalian saja untuk mencari jejaknya.”

“Menurut pendapat ananda, paling baik kalau kita berjaga jaga secara terpisah, dengan begitu urusan baru tak sampai terbengkalai,” kata Lim Pak sian cepat.

“Ehmmm, begitupun ada baiknya, Pak ji, kau boleh menunggu di sekitar kota Lian sui, sedang aku bertugas untuk wilayah sekitar Su yang. Sumoay belum punya pengalaman, kurang baik untuk melakukan perjalanan sendirian, biar Li sute saja yang menjadi pendampingnya, sasaran kita sekarang adalah mencegah Eng ji pulang ke rumah, setelah itu, kita baru menyusun rencana selanjutnya.”

Sam ciat jiu Li Tin tang maupun Yap Siu ling merasa pembagian tugas ini sangat baik dan tepat. Setelah merundingkan kode rahasia untuk berkumpul, masing masing pun segera berlalu untuk melaksanakan tugas masing masing.

Kota Poo eng tidak jauh letaknya dari kota Hay yang, dalam seharian perjalanan kemudian Sam ciat jiu Li Tin tang beserta Yap Siu ling sekalian telah tiba di situ.

Disebelah utara kota mereka memilih sebuah rumah penginapan yang paling sepi dan tenang untuk menginap. Yang mereka pesan adalah dua buah kamar yang luas diatas loteng, hingga sekalipun tak usah keluar rumah, semua pemandangan dari kota itu masih dapat terlihat jelas.

Yap Siu ling sepanjang hari berada di dalam kamar sambil memperhatikan jalanan, dia tak perlu harus turun tangan sendiri menelusuri kota dan mencari berita kemana mana. Sebaliknya Sam ciat jiu Li Tin tang lebih sering bergerak di luar rumah, sebentar ke timur sebentar lagi ke barat sambil menantikan kedatangan Thi Eng khi. Secara beruntun lima hari sudah lewat, akan tetapi bayangan tubuh Thi Eng khi belum juga nampak, padahal besok adalah hari peresmian Thian liong pay untuk bergabung dengan pihak Ban seng kiong. Dalam keadaan demikian, secara diam diam terpaksa mereka kembali, diam diam menerima rasa malu tersebut di dalam hati.

Sesudah berunding sebentar, akhirnya diputuskan meski Yap Siu ling mempunyai kemajuan yang besar dalam ilmu silat, namun bagaimanapun jua dia adalah seorang perempuan yang tidak terbiasa melakukan gerakan bawah tanah, apalagi kuatir pula jejaknya kurang berhati hati malah akan ketahuan lawan maka diputuskan dia tetap tinggal di Poo eng, sementara Sam ciat jiu Li Tin tang berangkat pulang seorang diri.

Sam ciat jiu Li Tin tang tidak pandai ilmu menyaru muka, terpaksa dia hanya berganti dandanan dan mengenakan sebuah topi lebar yang dikenakan rendah rendah untuk menutupi sebagian besar wajahnya, dengan demikian paras mukanya tak akan sampai menarik perhatian orang banyak ....

Ketika menjelang senja, ia sudah sampai kembali di kota Hway im, setelah mencari sebuah rumah penginapan kecil, ia mendekam dalam kamar dan tidak berani keluar rumah lagi.

Hway im adalah pusat dari partai Thian liong pay, dengan kedudukannya dalam partai maka dalam kota Hway im boleh dibilang ia cukup dikenal orang. Untuk menghindari gara gara yang tak diinginkan terpaksa dia hanya menyembunyikan diri terus.

Sampai menjelang kentongan kedua, ia baru ngeloyor pergi ke perkampungan nomor satu dalam dunia persilatan.

Tampak olehnya, perpisahan yang singkat selama empat lima hari telah membuat ’Bu lim tit it keh’ ini berubah sangat besar sekali. Semenjak dari tempat kejauhan, dia sudah melihat kalau Bu lim tit it keh telah dihiasi oleh beratus ratus buah lentera hingga terang benderang bermandikan cahaya apalagi setelah makin mendekat, Sam ciat jiu Li Tin tang merasakan hatinya semakin pedih. Seluruh Bu lim tit it kek telah dihiasi sangat indah, diatas tiang bendera didepan rumah tampak berkibar sebuah panji besar berwarna putih, enam belas buah lentera dipasang diseputarnya menyinari panji putih itu dan menerangi dengan jelas tulisan yang tertera disana.

Diatas panji itu, terbacalah beberapa huruf besar yang tertera sangat jelas, tulisan itu berbunyi begini :

“Ciangbunjin angkatan kesembilan dari Thian liong pay Thi Keng dengan segenap anggota perkumpulan siap menyambut kedatangan Tee kun.”

Sam ciat jiu Li Tin tang merasakan hatinya menjadi kecut dan hampir saja air matanya jatuh bercucuran. Dia tak berani melihat semua persiapan yang dilakukan itu, cepat cepat tubuhnya menyelinap ke kebun belakang. Sudah puluhan tahun lamanya dia berdiam di Bu lim tit it keh ini, setiap benda yang ada disitu boleh dibilang sangat dikenal olehnya, maka tanpa membuang banyak tenaga, dia berhasil melampaui pos pos penjagaan dan menyusup masuk ke dalam ruangan.

Kini dia bersembunyi dibawah wuwungan rumah dibalik kegelapan untuk mengintip suasana di dalam sana. Waktu itu suasana didalam ruangan sangat ramai, lampu lentera bergelantung di sana sini, manusia hilir mudik tiada hentinya, suasana diliputi riang gembira.

Gurunya didampingi oleh Sim ji sinni, Tiang pek lojin dan Bu im sin hong duduk diruang tengah dengan wajah berseri, mereka sedang berbincang bincang sambil tertawa. Ji suhengnya Pit tee jiu Wong Tin pak sedang berdiri di belakang gurunya dengan senyuman dikulum, nampaknya dia pun merasa gembira sekali ....

Su sute San tin jiu Oh Tin lam dan ngo sute Sian tian jiu Kwan Tin say sedang sibuk sekali, sebentar mereka nampak lari kemuka, sebentar lagi kebelakang. Sementara Sam ciat jiu Li Tin tang sedang merasa amat pedih hatinya dan diam diam mengucurkan air mata, mendadak ia menyaksikan gurunya Keng thian giok cu Thi Keng mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak, kemudian katanya :

“Haaahhhhh..... haaahhhhh..... haaahhhh kedatangan saudara

sekalian memang tepat sekali, sudah lama lohu sekalian menantikan kedatangan kamu semua!”

Baru selesai dia berkata, tampak bayangan manusia berkelebat lewat, dalam ruangan telah muncul serombongan manusia. Orang yang berjalan di paling muka adalah seorang pendeta dan seorang tosu, Sam ciat jiu mengenali meraka sebagai tulang punggung bagi dunia persilatan dewasa ini, ketua Siau lim pay dan ketua Bu tong pay, Ci long siansu dan Keng hian totiang.

Menyusul kemudian dibelakang mereka berdua adalah :

Ketua Kay pang, si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po Ketua Hoa san pay, Peh ih siusu (sastrawan berbaju putih) Cu

Wan mo

Kepala kuil Cu tiok an cu Beng sun sut hay Ketua Cing sia pay Ting Kong ci

Ketua Tiong lam pay Ku tiok siu (kakek kurus kering) Yap Han san

Sin tou (si bungkuk sakti) Lok It hong.

Dan pada bagian yang paling belakang adalah Ci hay taysu dan Ci liong taysu dari Bu tong pay.

Dari dua belas orang jago yang baru hadir, kalau bukan seorang ketua dari suatu perguruan besar, mereka adalah jago jago kenamaan dari dunia persilatan.

Keng thian giok cu Thi Keng bersama Sim ji sinni, Tiang pek lojin serta Bu im sin hong Kian Kim siang ternyata bersikap angkuh dengan tetap duduk tak bergerak dari posisi semula, bahkan bangkit untuk menyamnbut kedatangan tamunya pun tidak.

Pada mulanya kawanan pendekar itu nampak agak tertegun dan merasa sedikit berada di luar dugaan, menyusul kemudian hawa amarah segera menyelimuti seluruh wajah mereka. Sambil menahan gejolak emosi dalam hatinya, ketua Bu tong pay Keng hian totiang berkata : “Bu liang siu hud, pinto sekalian datang secara gegabah, harap Thi lo sudi memaafkan kesalahan kami ini!”

“Omitohud!” Ci long siansu, ketua dari Siau lim pay turut berbicara, adapun kedatangan pinceng sekalian adalah mewakili umat persilatan didunia ini, harap Thi lo sudi memberi tempat duduk buat kami sehingga dapat dilangsungkan pembicaraan yang lama, tentunya Thi lo tidak merasa keberatan bukan?”

Walaupun mereka adalah ketua dari suatu perguruan besar, namun berhubung tingkat kedudukan Keng thian giok cu Thi Keng dalam dunia persilatan setingkat dengan guru mereka, selain itu dimasa yang lalu dia telah menegakkan keadilan bagi umat persilatan sehingga berjasa amat besar. Oleh karena itu, dalam pembicaraan mau tak mau mereka tetap bersikap amat menghormat sekali kepada orang tua ini.

Keng thian giok cu Thi Keng segera mengulapkan tangannya seraya menyahut :

“Silahkan duduk!”

Sementara dia sendiri masih tetap duduk tak bergerak dari tempatnya semula. San tian jiu Oh Tin lam dengan cepat berteriak pula keluar ruangan :

“Siapkan tempat duduk!”

Dua belas orang anggota Thian liong pay yang bertubuh kekar segera menggotong masuk dua belas kursi yang setengah tinggi, agaknya kursi tersebut sudah dipersiapkan untuk mereka dan dibagi menjadi dua rombongan yang diletakkan saling berhadapan dengan Keng thian giok cu Thi Keng sekalian.

Berbicara dari sikap semacam ini maka boleh dibilang sikap mana amat menghina tamunya, kalau tidak bisa dibilang seperti bawahan yang berbicara dengan atasan. Dua belas orang jago persilatan yang menyaksikan kejadian ini kontan saja berubah muka dan sama sama mendengus dingin. Bagi mereka, perlakuan semacam ini tak ubahnya sebagai suatu penghinaan yang tak tertahankan. Dengan mulut terbungkam, semua orang segera berdiri tegak tanpa berkutik, agaknya mereka tak sudi menerima perlakukan semacam ini. Keng thian giok cu sendiripun tidak berbicara ataupun berkutik, seakan akan dia tidak melihat sikap tamu tamu nya itu.

Dengan ilmu menyampaikan suara Ci long siansu dari Siau lim pay segera berbisik kepada Keng hian totiang, ketua dari Bu tong pay :

“Kita datang dengan membawa sesuatu maksud, menurut pendapat lolap lebih baik kita menerima keadaan saja.”

Tampaknya ketebalan imam Keng hian totiang dari Bu tong pay tidak berada di bawah Ci long siansu dari Siau lim pay, dengan cepat dia menyahut :

“Kalau yang kecil tak bisa ditahan, urusan besar pasti akan terbengkalai, menurut pinto, pendapat siansu memang tepat sekali, kita harus lebih mementingkan keselamatan dunia persilatan daripada masalah penghinaan semacam ini.”

Maka ketua dari Siau lim pay Ci long siansu segera berseru : “Omitohud! Pinceng mengucapkan banyak terima kasih.”

Dia lantas duduk di kursi tengah bagian depan. Menyusul kemudian Keng hian totiang dari Bu tong pay turut duduk pula di kursi sebelah kiri Ci long siansu dari Siau lim pay. Setelah dipelopori oleh kedua orang itu, yang lain pun terpaksa harus menahan diri dengan ikut mengambil tempat duduk.

Di balik paras muka Keng thian giok cu Thi keng yang serius terlintas juga rasa menyesal dan kagum yang luar biasa, tapi demi merebut kepercayaan dari Hiam im Tee kun, mau tak mau dia harus mengorbankan nama baiknya dengan melakukan sandiwara tersebut.

Oleh sebab itulah tanpa mengungkapkan perasaan apapun dia menatap kedua belas orang tamunya yang sedang marah dan sedih itu lekat lekat, kemudian berkata dengan dingin :

“Maksud kedatangan kalian semua sudah kuketahui dengan jelas

....” Ci long siansu dari Siau lim pay kuatir kalau dia mengucapkan kata kata yang keras sehingga menghilangkan kesempatan bagi mereka untuk membicarakan persoalan itu, sebelum ucapan mana sempat diselesaikan, dengan cepat dia menyela :

“Omitohud, Thi lo adalah seorang manusia yang cerdas dan luar biasa, ternyata kau sudah dapat menduga keinginan kami, lolap rasa sudah pasti kaupun dapat melihat kalau Hiam im Tee kun ada maksud untuk memperbudak seluruh umat persilatan. Bahkan diapun hendak menguasai seluruh jagad, haaai. sungguh

merupakan suatu ketidak beruntungan bagi umat persilatan.”

Keng thian giok cu Thi Keng berpaling dan memandang sekejap ke arah Sim ji sinni, Tiang pek lojin serta Bu im sin hong bertiga, kemudian sambil menunjukkan wajah bersungguh sungguh katanya

:

“Betul, lohu memang mempunyai rencana baik untuk menghadapi Hian im Tee kun!”

Setelah mendengar ucapan mana, paras muka semua orang berubah amat serius, semua ketidak gembiraan yang mereka alami tadi kini sudah tersapu lenyap hingga tak berbekas. Mereka semua memasang telinga baik baik untuk mendengarkan Keng thian giok cu menerangkan caranya dalam menghadapi Hian im Tee kun.

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po merasa punya hubungan yang paling akrab dengan pihak Thian liong pay, setelah celingukan sebentar ke sana ke mari, tak tahan dia segera mengemukakan kembali pendapatnya.

“Thi lo adalah bintang penolong bagi dunia persilatan,” demikian ia berkata, “tampaknya barusan kau cuma ingin mencoba ketulusan hati kami belaka Thi lo, harap kau jangan menyia nyiakan kita

semua.”

Pelan pelan Keng thian giok cu Thi Keng berkata :

“Menurut pendapat lohu, untuk menghilangkan bencana besar dari dunia persilatan, satu satunya cara adalah bekerja sama dengan Hian im Tee kun untuk membentuk satu persekutuan. Asal semuanya telah bergabung menjadi satu keluarga besar, bukankah dunia akan menjadi amam dan badai perbunuhan bisa dihindari?”

Beberapa patah kata itu diucapkan dengan sangat lambat sekali, oleh karena itu kekecewaan yang dirasakan semua orang dan pelan pelan semakin bertambah, belum sampai ucapan mana selesai diutarakan, semua orang sudah dibuat marah sekali hingga badannya pada menggigil.

Keng thian giok cu Thi Keng dengan senyum dimulut pedih dihati berkata kembali :

“Lohu sampai memutuskan untuk menggabungkan Thian liong pay dengan pihak Ban seng kiong, tujuannya yang terutama tak lain adalah untuk mengejar masa depan lebih baik, bila saudara sekalian bisa menerima pendapat dari perguruan kami ini dan tertarik untuk mengikuti jejakku, dengan senang hati lohu akan menjadi perantara untuk kalian semua, entah bagaimana menurut pendapat kalian?”

Sebelum orang orang dari pelbagai perguruan itu menyampaikan maksud kedatangannya, dengan ketajaman mulutnya dia malah berbalik memberi anjuran kepada semua orang. Berada dalam keadaan seperti ini, sekalipun orang orang dari pelbagai perguruan mempunyai banyak persoalan yang sedang disampaikan pun, seketika itu juga mulut mereka serasa dibuat bungkam dalam seribu bahasa.

Dengan sedih Ci long siansu, ketua dari Siau lim pay berkata : “Thi sicu telah menempuh perjalanan yang salah dan aku lihat

sudah sukar untuk diajak berpaling kembali ke jalan yang benar. Kalau memang begitu, terpaksa kami harus mohon diri terlebih dahulu.”

“Siansu adalah seorang pendeta agung dari kaum Buddha, mengapa kau harus mengucapkan perkataan sedih macam begitu? Kalau memang sudah munculkan diri di depan umum tapi tidak memiliki kesabaran bagaimana mungkin urusan bisa diselesaikan?” “Omitohud!” Ci long siansu segera berbisik memuji keagungan Buddha, “dosa, dosa! Pinceng tak pandai berbicara, semoga lo sicu berpaling kembali ke jalan yang benar. ”

Selesai berkata, dua belas orang jago itu serentak bangkit berdiri, kemudian dipimpin oleh ketua Siau lim pay dan Bu tong pay, mereka berlalu dari situ dengan wajah sedih. Mendadak Keng thian giok cu mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak bahak, kemudian serunya :

“Harap saudara sekalian jangan keburu pergi dulu, lohu ingin mengucapkan sesuatu kepada kalian.”

Tanpa terasa kedua belas jago dari dunia persilatan itu menghentikan langkah mereka dan segera membalikkan badan.

“Apakah Thi lo telah berubah pikiran?” tanya Keng hian totiang kemudian.

Keng thian giok cu Thi Keng segera tertawa :

“Lengan belalang membawa kereta, telur diadu dengan batu, apakah kalian anggap cukup berkemampuan untuk melawan kemampuan dari Hian im Tee kun ….?”

Mendadak dia melepaskan sebuah pukulan udara kosong ke tengah angkasa, angin pukulan segera menderu deru diseluruh ruangan membuat cahaya lentera yang ada disitu tertekan menjadi kerdipan api kecil oleh sapuan angin pukulannya itu, akan tetapi tak sebuah pun yang menjadi padam oleh hembusan tadi.

Kemudian secara tiba tiba Keng thian giok cu Thi Keng membentak lagi :

“Bangun!”

Deruan angin tajam segera terhenti dan cahaya lentera pulih kembali seperti sedia kala, menerangi seluruh ruangan menjadi terang benderang. Demonstrasi pukulan It ciang poan im yang (pukulan sakti membedakan im yang) dan tenaga sakti Khi mi lap hap sinkang yang baru saja diperlihatkan benar benar merupakan serangkaian kepandaian silat yang luar biasa sekali. Tanpa terasa Sim ji sinni segera memuji.

“Saudara Ki, hanya beberapa puluh tahun tak bersua, tak nyana kalau tenaga dalammu sudah mencapai tingkatan yang begitu dahsyat, sungguh membuat siau moay malu sendiri!”

Keng thian giok cu memandang sekejap kearahnya lalu tersenyum, kepada para jago yang masih hadir dalam ruangan, segera ujarnya lagi :

“Asal salah seorang diantara kalian ada yang sanggup mendemonstrasikan kemampuan seperti apa yang kulakukan, sekarang juga lohu akan mengurungkan niatku untuk bergabung dengan Ban seng kiong!”

Para jago segera terbungkam dalam seribu bahasa, sebab tak seorang pun diantara mereka yang mampu berbuat demikian.

Kembali Keng thian giok cu Thi Keng berkata :

“Tenaga dalam yang dimiliki Hian im Tee kun berkali kali lipat lebih hebat daripada kepandaian yang kumiliki, sekembalinya dari sini aku harap kalian suka berpikir lagi beberapa kali, moga moga saudara sekalian mau menyadari kekuatan sendiri dan suatu ketika akan bekerja sama dengan lohu.”

Dalam mendemonstrasikan kehebatan tadi, sebetulnya Keng thian giok cu Thi Keng bermaksud menghimbau para jago persilatan agar mereka lebih mawas diri dan jangan bertindak secara sembarangan sehingga mengakibatkan kerugian bagi diri sendiri.

Akan tetapi, bagaimana mungkin para jago itu bisa memahami maksud hatinya yang mendalam itu?

Dengan membawa perasaan hati yang gusar dan mendongkol, mereka segera mengundurkan diri dalam gedung Thian liong pay. Baru saja orang orang itu lenyap dibalik pintu, mendadak terdengar Sim ji sinni berteriak kaget :

“Saudara Thi, ada orang yang menyembunyikan diri disini!” Dia mengangsurkan secarik kertas ke tangan Keng thian giok cu Thi Keng, kemudian tubuhnya melejit ke udara dan meluncur keluar ruangan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.

Pada mulanya Sam ciat jiu Li Tin tang mengira jeritan kaget dari Sim ji sinni itu ditujukan kepadanya, peluh dingin segera bercucuran keluar saking tegangnya, dia mengira jejak persembunyiannya sudah ketahuan lawan.

Menanti Sim ji sinni melambung ke udara, melewati samping tubuhnya dan menuju keluar perkampungan, dia baru menghembuskan napas panjang sambil diam diam mentertawakan dirinya yang kelewat tegang.

Menyusul kemudian, terdengar suhunya tertawa nyaring kemudian berkata pula :

“Mungkin si pokok pembicaraan kita sudah datang, harap kalian berdua suka duduk dulu di sini, lohu akan pergi membantu sinni.”

Dia pun berkelebat pergi dengan melalui sisinya. Mendadak terasa olehnya sepasang mata gurunya yang tajam berpaling dan menatap sekejap ke tempat persembunyiannya, kemudian di sisi telinga berkumandang suara bisikan lirih :

“Murid murtad, mau apa kau kembali lagi kemari? Ayo, kenapa tidak cepat cepat pergi dari sini?”

Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu tahu bayangan tubuhnya sudah lenyap dari depan mata. Tegurankah? Atau perhatian? Atau mungkin mempunyai suatu maksud yang lain?

Ucapan mana terasa mempunyai maksud yang sangat mendalam, sedemikian dalamnya sehingga untuk sesaat sulit bagi Sam ciat jiu Li Tin tang untuk memahami arti yang sesungguhnya dari ucapan tersebut.

Dengan perasaan sangsi, dia bermaksud untuk mengejar ke depan, tapi dia sudah kehilangan jejak mereka berdua. Akhirnya dia menghela napas dengan perasaan tak mengerti, hatinya benar benar terasa bimbang. Berbicara tentang Sim ji sinni, sebenarnya apa yang telah terjadi sehingga dia melakukan pengejaran terhadap musuhnya? Ternyata sewaktu Keng thian giok giok cu Thi Keng menggunakan tenaga dalam Khi mi lap hap khikang untuk menggetarkan perasaan para ketua dari partai besar, pada saat yang bersamaan pula Sim ji sinni merasa tubuhnya ditimbuk seseorang dengan ilmu memetik daun melempar bunga.

Ternyata benda yang digunakan sebagai timpukan adalah segulung kertas, ketika kertas tadi diperiksa ternyata tercantumkan beberapa huuf yang berbunyi begini :

“Pergilah sepuluh li ke arah timur, akan kutunggu di tepi kolam Kiu ci Tong!”

Surat itu ditimpuk kearahnya, itu berarti ada orang yang sedang mencari gara gara dengannya. Sebagai seorang gembong iblis yang menganggap dirinya paling unggulan, sudah barang tentu dia tak sanggup menahan gejolak emosi di dalam dadanya. Maka tanpa berpikir panjang lagi dia segera berangkat menuju ke kolam Kiu ci tong sepuluh li dari situ.

Dengan kecepatan gerakan tubuhnya, sepuluh li dapat ditempuh dalam waktu sekejap mata. Yang dimaksud sebagai kolam Kiu ci tong adalah sebuah kolam berlumpur yang amat besar, di tepi kolam penuh tumbuh pohon yang liu.

Jika dilihat dari kejauhan, empang tersebut nampak sangat indah, tapi kalau didekati maka orang akan merasa kecewa, sebab bau lumpur dari empang tersebut amat menusuk hidung.

Setibanya di tepi empang tersebut, Sim ji sinni segera menegur dengan suara dingin :

“Pinni telah datang, siapa yang mengundangku kemari? Ayo cepat jawab!”

“Lohu yang mengundangmu kemari, tidak kau sangka bukan!” suara tersebut berasal dari belakang tubuhnya, membuat pendeta tersebut segera membalikkan tubuhnya dengan kaget. Tapi ia segera menjadi tertegun, lalu tegurnya :

“Ki toako, masa kau?”

Di tempat yang tiada orang ketiga, dia memanggil nama asli Ki Seng tanpa sangsi.

“Lohu bukan manusia yang bernama Toan bun ciat jiu ciang Ki Seng, kau jangan salah menduga!”

“Lantas siapakah kau?” Sim ji sinni kelihatan agak gugup dan gelagapan.

“Kecuali bukan sebagai Toan bun ciat jiu ciang Ki Seng, wahai Kiu wi yau hu (siluman rase berekor sembilan) Oh Bi nio, menurut pendapatmu siapakah lohu?”

Tiba tiba siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio menjadi sangat terperanjat :

“Jadi kau, kau benar benar adalah Keng thian giok cu?”

Keng thian giok cu Thi Keng segera tertawa nyaring : “Haaahhhh..... haaahhhh..... haaahhhh lohu tak suka kalau

ada orang menyaru sebagai diriku hanya untuk melakukan perbuatan jahat belaka, menurut pendapatmu, apakah lohu akan membiarkan Toan bun ciat jiu ciang Ki Seng tetap mencatut namaku untuk melakukan perbuatan terkutuk?”

Siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio segera merasakan betapa seriusnya persoalan itu, walaupun dia merasa punya kepandaian, tapi terhadap Keng thian giok cu Thi Keng tak berani berbuat seenaknya, sebab dia tahu kemungkinan baginya untuk meraih kemenangan kecil sekali.

Apalagi kalau ditinjau dari perbuatan Keng thian giok cu Thi Keng yang sengaja memancingnya ke situ, dapat diketahui kalau pihak lawan mempunyai suatu maksud tertentu. Walaupun dia sudah dapat menduga apa yang hendak dilakukan Keng thian giok cu Thi Keng, akan tetapi dia belum mau percaya terhadap dugaan sendiri, maka tak tahan dia bertanya lagi :

“Mau apa kau sekarang?”

Dengan wajah amat serius Keng thian giok cu Thi Keng berkata : “Untuk melenyapkan bibit bencana bagi dunia persilatan,

terpaksa aku harus bertindak keji kepadamu!”

Siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio cukup mengetahui ketegasan Keng thian giok cu Thi Keng. Biasanya apa yang diucapkan tak pernah diingkari lagi, maka dengan perasaan terkesiap buru buru teriaknya :

“Jadi kau hendak turun tangan kepadaku?”

“Yaa, aku hanya mengharapkan kesadaranmu untuk menyerahkan nyawamu itu!” jawab Keng thian giok cu Thi Keng tegas.

Tiba tiba siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio tertawa terbahak bahak.

“Haaahhh..... haaahhhh..... haaahhhh Thi Keng, apakah kau

sudah membayangkan bagaimana akibat dari perbuatanmu itu?”

Dengan wajah yang sama sekali tak berubah, Keng thian giok cu Thi Keng menjawab :

“Segala sesuatunya sudah lohu pikirkan masak masak, aku rasa tak mungkin akan mengakibatkan sesuatu yang tidak menguntungkan bagi diriku ”

Ditekan oleh ketenangan serta ketegasan Keng thian giok cu Thi Keng, Siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio menjadi gelagapan sendiri.

“Hari ini, jika kau membinasakan aku, mungkin di dalam upacara besok kau tak akan bisa mempertanggungjawabkan diri kepada utusan khusus dari Ban seng kiong.” “Soal itu sudah lohu perhitungkan sebelumnya, jadi kau tak usah terlampau merisaukan akan hal ini, tentu saja ada orang lain yang akan menggantikan kedudukanmu itu.”

Selesai berkata, dia lantas menunjuk ke belakangnya sambil berkata lagi :

“Coba kau lihat, siapakah yang berdiri di belakangmu itu?”

Siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio adalah seorang yang amat mudah curiga, dia mengira Keng thian giok cu Thi Keng sedang mempergunakan akal muslihat untuk membohonginya agar berpaling, kemudian menyergapnya. Dengan cepat dia menghimpun segenap tenaga dalamnya kedalam telapak tangan, kemudian serunya cepat :

“Peduli siapakah dia, aku tak akan termakan oleh tipu muslihat itu.”

Keng thian giok cu Thi Keng segera tertawa terbahak bahak. “Haaahhh.... haaahhhh..... haaahhh jadi kau menganggap lohu

adalah seorang manusia yang suka menyergap orang dikala orang

lain tidak siap. ? Tak usah kuatir, berpaling saja dengan berlega

hati.”

Ada kalanya, terhadap diri sendiripun siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio tidak percaya, bagaimana mungkin dia akan mempercayai perkataan orang lain? Maka sambil tertawa dingin katanya :

“Thi Keng, kuanjurkan kepadamu agar tak usah menggunakan akal muslihat untuk membohongi aku, kalau ingin turun tangan, pergunakan saja kepandaian aslimu.”

Mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara pembicaraan seseorang :

“Itu namanya menilai seorang yang bijaksana dengan pikiran seorang siaujin, Bi nio! Seandainya kami berniat menyergapmu cukup dengan sebuah pukulan saja, kau sudah mampus sedari tadi.” Suara itu berkumandang amat nyaring, dipancarkan dari tiga depa saja di belakang tubuhnya. Dengan perasaan amat terkesiap, siluman rase berekor sembilan melayang ke arah lain sehingga berdiri dalam posisi segitiga lalu dengan wajah berubah hebat dia mendongakkan kepalanya, tapi dengan cepat seluruhnya tubuhnya menggigil keras, wajahnya berubah semakin memucat, lama, lama kemudian dia baru dapat menyapa dengan suara rendah.

“Cici!”

Rupanya orang yang berdiri di belakang tubuhnya sekarang bukan lain adalah Sim ji sinni pribadi. Sebelum menjadi pendeta dulu, nama awam Sim ji sinni adalah Oh Kim sian, dengan siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio adalah kakak beradik tong ....

Dari kakak beradik itu, yang satu berhati saleh dan menjadi seorang sinni nomor wahid di dunia, sementara yang lain berbuat jahat sehingga menjadi seorang gembong iblis yang banyak melakukan kejahatan.

Untuk menyadarkan adik tong nya ini, banyak waktu dan tenaga yang telah dikorbankan Sim ji sinni, tapi sayang adik tong nya itu tetap berkeras kepala. Akhirnya siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio sengaja menyingkir dari hadapan Sim ji sinni, daripada tiap hari dinasehati terus sehingga membuat hatinya menjadi amat kesal.

Dalam waktu singkat, puluhan tahun sudah lewat, siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio telah mendapatkan Hian im Tee kun sebagai tulang punggungnya, dengan mengandalkan kekuatan tersebut dia mulai berani melawan dan memusuhi Sim ji sinni secara terang terangan.

Hari ini, dia dapat berjumpa dengan Sim ji sinni, sesungguhnya kejadian ini tidak diluar dugaan, dia hanya tak menyangka kalau perjumpaan tersebut dilangsungkan justru disaat dia berada dalam posisi yang terjepit.

Sekalipun posisi siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio sekarang amat berbahaya, namun jika dipandang dari sudut lain, siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio merasa beruntung juga dengan kemunculan dari Sim ji sinni itu.

Dengan mengandalkan hubungannya selama ini dengan Sim ji sinni, sekalipun Keng thian giok cu Thi Keng bersikap lebih keji pun tak mungkin akan tega untuk turun tangan kepadanya.

“Cici!” siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio segera berseru, kemudian selangkah demi selangkah berjalan mendekati Sim ji sinni, bahkan ketika berjalan maju, dia sempat mengerling sekejap ke arah Keng thian giok cu Thi Keng, seakan akan dia seperti bilang begini : “Coba sekarang, akan kulihat kau bisa berbuat apa kepadaku!”

Siapa tahu sebelum siluman rase berekor sembilan sempat mendekati, Sim ji sinni pendeta perempuan itu sudah keburu membentak keras lebih dahulu :

“Berhenti! Kau tak boleh berjalan mendekat.”

Agaknya siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio sudah cukup memahami watak Sim ji sinni yang lemah lembut, meski sudah dibentak akan tetapi dia tak pernah berhenti, bahkan wajahnya segera mengulumkan sekulum senyuman yang tebal.

Dengan langkah lemah gemulai, setindak demi setindak dia berjalan mendekati Sim ji sinni, kemudian katanya :

“Aduuuh mengapa sih cici bersikap begini galak? Siapa suruh

aku menjadi adikmu sekalipun dimaki atau dihantam, aku tak berani untuk membalas.”

“Omitohud!” Sim ji sinni berbisik lirih, “demi kepentingan umum terpaksa pinni harus mengorbankan saudara sendiri, adik Bi, maafkan aku.”

Diam diam dia menghimpun tenaga dalamnya kemudian diayunkan kemuka, selapis hawa sakti segera menghadang gerak gerik maju dari siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio.

Sikap tegas dari Sim ji sinni itu sama sekali tidak disangka oleh siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio, begitu melihat gelagat tidak menguntungkan, dia tak rela untuk menyerah dengan begitu saja, sambil menghimpun tenaga dalamnya dan melakukan tubrukan kemuka, teriaknya sambil menangis tersedu :

“Oooh enci, kau benar benar amat keji, adik mau mati saja, biar kalau mati, mati ditanganmu sendiri, oooh cici, penuhilah

harapanku ini. ”

Dia bermaksud untuk menggunakan kata kata yang memelas untuk meluluhkan hati encinya, dalam anggapannya Sim ji sinni tak akan melukai dia. Oleh sebab itu, hatinya merasa sangat lega.

Berbicara soal ilmu silat, tenaga dalam yang dimilikinya sekarang sudah terhitung luar biasa, kenyataannya tujuh bagian tenaga dalam Boan yok sinkang yang dipancarkan Sim ji sinni belum berhasil membendung gerak terjangannya yang menggunakan tenaga dalam sebesar sepuluh bagian, bahkan ia berhasil mendekati sampai jarak sejauh lima depa lebih .....

Karena terlampau didesak, dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Sim ji sinni harus meningkatkan tenaga dalamnya hingga mencapai sepuluh bagian lagi, dengan kekuatan sedemikian besar itulah, akhirnya dia berhasil memaksa siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio mundur sejauh lima langkah lebih.

Setelah itu, sambil memejamkan matanya rapat rapat dia berbisik lagi lirih :

“Omitohud! Bukan pinni kelewat keji, jika hari ini kulepaskan selembar nyawamu maka seluruh dunia persilatan akan terjatuh ke dalam cengkeraman iblis dan tak pernah akan bangkit kembali, adik Bi! Sesudah bencana ini bisa dilewatkan, pinni akan mengurung diri selama sepuluh tahun untuk menebus dosaku hari ini.”

Setelah berhenti sejenak, akhirnya dia berkata lebih jauh dengan nada tegas :

“Silahkan Thi sicu mewakili pinni untuk melaksanakan hukuman ini ”

Sekalipun dia bersedia mengorbankan saudara sendiri demi ditegakkannya keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan, kalau dia disuruh turun tangan sendiri, bagaimana pun toh tetap tidak tega.

Agaknya Keng thian giok cu Thi Keng cukup memahami kesulitan yang dihadapi Sim ji sinni, dia segera melompat ke depan dan melayang turun berapa depa di depan tubuh siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio. Setelah itu sambil melepaskan sebuah pukulan katanya :

“Untuk melenyapkan bibit bencana bagi umat persilatan, terpaksa lohu harus melakukan pembunuhan ini!”

Angin pukulan yang amat keras dengan cepat meluncur ke depan dan menghantam tubuh siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio.

Melihat usahanya merengek rengek tidak mendatangkan hasil, siluman rase berekor sembilan segera memutar biji matanya untuk mencari jalan guna melarikan diri. Mendadak sepasang telapak tangannya diayunkan ke depan melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Tatkala sepasang tangan saling beradu, menggunakan kesempatan itulah dia melayang mundur sejauh tiga kaki, kemudian menutulkan kaki kedepan dan melayang sejauh lima kaki lagi.

“Lonio tak bisa memenangkan kalian berdua, oleh sebab itu terpaksa harus memohon diri lebih dulu!” serunya sambil tertawa nyaring.

Perempuan licik itu ternyata mengambil langkah seribu sejak pada jurus gebrakan yang pertama, agaknya tindakan ini sama sekali diluar dugaan Sim ji sinni maupun Keng thian giok cu Thi Keng. Sudah barang tentu Keng thian giok cu Thi Keng tak akan membiarkan musuhnya melarikan diri, dia segera membentak nyaring :

“Kau tak bakal bisa lolos dari cengkaramanku!”

Tubuhnya melejit enam tujuh kaki ke tengah udara, lalu dengan mengembangkan jurus Im liong kiu coan (naga sakti berputar sembilan kali) dia melambung ke udara sambil melakukan tubrukan. Walaupun siluman rase berekor sembilan lihay, bagaimana mungkin dia bisa menangkan kelihayan dari Keng thian giok cu yang memiliki tenaga dalam satu tingkat lebih sempurna darinya?

Baru saja dia melarikan diri sejauh sepuluh kaki, Keng thian giok cu Thi Keng sudah melayang diatas kepalanya, kemudian segulung tenaga tekanan yang sangat dahsyat langsung menindih keatas kepalanya.

Siluman rase berekor sembilan Oh Bi nio tertawa dingin, dari dalam pinggangnya dia mengeluarkan sebuah angkin dan segera diayunkan kearah tubuh Keng thian giok cu Thi Keng.