Pukulan Naga Sakti Jilid 26

 
Jilid 26

Belum habis dia berkata, Thi tan kim wan Yu Ceng hui telah berteriak keras :

“Saudara Yu, saudara Yu ……, hmmm, kau anggap sebutan saudara Yu boleh kau gunakan seenaknya? Sewaktu lohu termashur di kolong langit, dalam dunia persilatan belum ada namamu.”

Kemudian setelah mendengus berat, ujarnya lagi : “Barusan lohu telah berkunjung ke kuil Siau lim sim, sudah

kuketahui kalau pil Tay tham wan yang disimpan dalam teratai emas Jit kiau kim lian tersebut sudah diambil oleh kalian manusia manusia penghianat sahabat dan pencari pahala yang tak tahu malu. Akupun tahu bahwa kalian telah mengganti pil itu dengan sebatang paku Pek hou toan hun ting milik Tiang pek lojin, kini kenyataan sudah berada di depan mata, apalagi yang hendak kalian ucapkan?”

Dengan diutarakannya perkataan itu, bukan saja ia telah mencaci maki si pencuri sakti Go Jit, bahkan ucapan mana seolah olah khusus ditujukan kepada Thi Eng khi, agar Thi Eng khi turun tangan membunuh pencuri sakti Go Jit untuk melampiaskan rasa mendongkolnya.

Diam diam pencuri sakti Go Jit mengeluh, serunya kemudian : “Yu cianpwe, jangan marah dulu, kesemuanya ini sudah diatur

oleh Tee kun sendiri, kau jangan menyalahkan aku berbuat demikian.”

Thi tan kim wan Yu Ceng hui yang berada di luar pintu kembali tertawa dingin.

“Heeehhh..... heeehhhh..... heeehhhh Sun popo saja diikut

sertakan dalam rencana ini, apakah lohu tak mampu melebihi dirinya

....?”

Jelas dia makin marah lagi dibuatnya. Buru buru Sun popo menjelaskan :

“Rencana bagus ini diatur sendiri oleh Tee kun, dikemudian hari saudara Yu pasti akan menjadi tahu dengan sendirinya, harap kau sudi membantu kami untuk meloloskan diri dari kesulitan di depan mata, kemudian kami baru akan berterima kasih kepadamu, bagaimana?”

Thi tan kim wan Yu Ceng hui adalah seorang manusia yang amat licik, walaupun dalam hati kecilnya, dia bermaksud membantu mereka untuk meloloskan diri dari ancaman mara bahaya, akan tetapi di luaran dia tetap membungkam, bahkan menjawabpun segan.

Tentu saja sikap semacam ini membuat pencuri sakti Go Jit dan Sun popo menjadi sangat tak tenang. Sebaliknya Thi Eng khi juga sedang memutar otak untuk mencari jalan penyelesaian sebaik baiknya. Mendadak terdengar pencuri sakti Go Jit berseru dengan tegang :

“Saudara Yu Yu cianpwe, kau sudah pergi?”

“Kenapa aku harus pergi?” jawab Thi tan kim wan Yu Ceng hui dengan suara sedingin es, “aku hendak menunggu untuk menyelesaikan urusan terakhir kalian!”

Pencuri sakti Go Jit dan Sun popo saling bertukar pandangan sekejap, berhubung dalam hati kecil mereka sudah ada kesepakatan, maka Thi Eng khi yang berada di hadapan mereka pun tidak tahu kalau kedua orang lawannya sudah saling bertukar pendapat.

Terdengar pencuri sakti Go Jit berkata dengan suara lantang : “Pil Tay tham wan berada dalam keranjang ini, kami akan segera

menyerahkannya kepadamu, sekarang tentunya kau boleh berlega hati bukan ?”

Dia siap berbuat demikian, tentu saja dibalik kesemuanya itu karena mempunyai tujuan lain, diantaranya :

Pertama, tentu saja ingin memancing perhatian dari Thi Eng khi, dia ingin memberitahukan kepada Thi Eng khi bahwasannya pil Tay tham wan tersebut benar benar berada dalam keranjang itu hingga Thi Eng khi mengalihkan sasarannya dengan melepaskan diri mereka berdua.

Kedua, tentu saja dia bermaksud membalas dendam terhadap Thi tan kim wan Yu Ceng hui, dengan niat mengalihkan bencana tersebut kepadanya ....

Tergerak juga perasaan Thi Eng khi, betul juga, dia segera mengalihkan segenap perhatiannya ke atas keranjang tersebut, sementara tenaga dalamnya dipersiapkan untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan ....

Akan tetapi Thi tan kim wan Yu Ceng hui yang berada di luar pintu bukan manusia sembarangan, sudah barang tentu dia dapat menebak maksud dan tujuan orang untuk melimpahkan bencana kepadanya. Maka sambil tertawa dingin, katanya : “Lemparkan dulu keranjang tersebut ke depan pintu setelah lohu periksa barangnya baru akan berunding lagi dengan kalian.”

Tangan kiri dengan kelima jari tangannya dipentang lebar lebar, masing masing digunakan untuk menjepit empat biji peluru emas Thi tan kim wan, tindakannya itu bukan dimaksudkan untuk menyelamatkan mereka dari mara bahaya, sebaliknya mempersiapkan diri untuk dirinya melarikan diri nanti.

Si pencuri sakti Go Jit sengaja berkerut kening, lalu dengan perasaan apa boleh buat berkata :

“Baiklah, aku akan menuruti perkataanmu itu!”

Dia lantas mengayunkan tangannya dan melemparkan keranjang tersebut keluar pintu. Berbareng itu juga ia membentak keras :

“Mundur!”

Telapak tangannya dibalik, menghajar ke dinding.....

“Blaaammm!” sebuah lubang besar segera ternganga diatas dinding ruangan tersebut. Bersama sama Sun popo, pencuri sakti Go Jit segera melompat keluar dari dinding ruangan dan melarikan diri.

Sementara itu Thi Eng khi sudah mengerahkan tenaga dalamnya sambil mempersiapkan diri, begitu dilihatnya pencuri sakti melemparkan keranjang tersebut ke depan, dia segera membentak keras :

“Kemari!”

Telapak tangan kanannya membentuk suatu gerakan tipuan, segulung hawa sakti tak berwujud segera menggulung keatas keranjang tersebut. Sementara tubuhnya sendiri masih berdiri tak berkutik disamping badan Kwik toanio berdua.

Sebenarnya keranjang itu dilemparkan si pencuri sakti dengan sepenuh tenaga, gerak luncurnya selain cepat juga amat kuat, dalam perkiraan pencuri sakti itu andaikata Thi Eng khi ingin mendapatkan keranjang tersebut, paling tidak dia harus menubruk ke depan. Di samping itu, diapun dapat berpikir bila Thi Eng khi menguatirkan keselamatan dari Kwik toanio berdua, untuk sementara waktu, bisa jadi dia tidak akan mengejar keranjang yang dilemparkan ke depan itu.

Itulah sebabnya dia lantas menyuruh Sun popo menjebol dinding dan melarikan diri, maksudnya agar Thi Eng khi tak usah menguatirkan datangnya ancaman dari belakang, dengan begitu anak muda tersebut tentu akan menubruk keranjang itu dengan perasaan lega.

Andaikata apa yang direncanakan itu menjadi kenyataan, maka siasat sekali timpuk dua ekor burungnya akan mendatangkan hasil yang diharapkan. Siapa sangka tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi terlampau hebat, sekalipun tanpa bergerak, dengan mengandalkan gapaian tangan kananya saja, dia mampu menghisap keranjang tersebut ketangannya tanpa harus bersusah payah mencari gara gara dengan manusia seperti Thi tan kim wan Yu Ceng hui.

Kenyataan tersebut, sudah barang tentu saja sama sekali diluar dugaan pencuri sakti Go Jit. Namun justru karena Thi Eng khi harus mencabangkan pikirannya untuk menghisap keranjang tersebut, maka anak muda itu tak sempat menghalangi mereka berdua untuk melarikan diri. Dalam pandangan mereka, hal ini sudah merupakan suatu keberuntungan dibalik ketidak beruntungan.

Oleh karena itu, setelah lolos dari dalam rumah, bagaikan ikan yang terlepas dari jaring, segera melarikan diri menuju ke luar kota. Setelah berlarian sekian lama, akhirnya mereka membelok masuk ke dalam sebuah hutan bambu yang lebat.

Dari bagian akar sebatang bambu, Sun popo berhasil membuka sebuah pintu rahasia yang tampaknya memang telah dipersiapkan jauh sebelumnya ....

“Mari kita bersembunyi dulu disini, setelah mara bahaya lewat kita baru berbicara lagi,” usul Sun popo. Pencuri sakti Go Jit manggut manggut.

“Begitu pun boleh juga, kau silahkan masuk dulu!”

Sun popo berjalan menuju ke samping pintu kecil, sebelum masuk mendadak ia berhenti sambil bertanya :

“Saudara Go, benarkah kau telah melemparkan pil Tay tham wan itu kepada Thi tan kim wan lo Yu?”

“Kau anggap aku begitu bodoh?” sahut pencuri sakti Go Jit sambil tertawa terkekeh kekeh dengan bangga.

“Tapi aku tidak melihat kau mengambil keluar pil Tay tham wan tersebut dari keranjang!”

Pencuri sakti Go Jit tertawa terbahak bahak dengan gembira. “Haaahhh..... haaahhhhhh.... haaahhhhh itulah sebabnya aku

terkenal sebagai pencuri sakti dalam dunia persilatan ”

Mendadak ia berhenti berbicara, lalu sambil membalikkan badan bentaknya keras keras :

“Siapa di situ?”

Thi tan kim wan Yu Ceng hui melangkah keluar dari dalam hutan dengan langkah lebar, serunya sambil tertawa seram :

“Heeehhhh..... heeehhhh...... heehhhhh pencuri kecil sia sia

belaka usahamu selama ini, tenaga iwekang yang dimiliki bocah itu kelewat hebat, dia telah mempergunakan ilmu menghisap barang untuk menghisap keranjang tersebut di tengah jalan dan hasilnya keranjang tersebut kosong melompong. Hmmm. kau anggap lohu

tidak tahu akan siasat licikmu itu?”

Setelah berhenti sebentar, dengan wajah membesi dia mengayunkan tangan kanannya dimana empat biji peluru besinya telah dipersiapkan, kemudian membentak nyaring.

“Bawa kemari!” Berbicara soal kepandaian silat, dengan tenaga gabungan dari si pencuri sakti Go Jit serta Sun popo, sebenarnya tidak sulit bagi mereka berdua untuk memukul mundur Thi tan kim wan Yu Ceng hui, akan tetapi mereka tahu bahwa peluru sakti yang kini sudah dipersiapkan lawan tak boleh dianggap remeh.

Sebagaimana diketahui, peluru sakti Thi tan kim wan dari Yu Ceng hui diisi dengan bahan peledak yang daya penghancurnya mencapai dua kaki persegi, peluru tersebut khusus dipakai untuk mematahkan pertahanan hawa khikang orang, yang paling lihay diantaranya adalah sejenis bubuk beracun yang larut bila terkena angin.

Barang siapa yang mengendus bubuk beracun itu, kecuali makan pil penawar buatannya, kalau tidak jangan harap bisa hidup lebih jauh. Didesak dalam keadaan seperti ini, pencuri sakti Go Jit segera memberi tanda kepada Sun popo sambil serunya :

“Mari kita bekerja sama membereskan dia!”

Siapa tahu Sun popo segan menempuh bahaya, bukan maju dia malahan mundur sejauh beberapa kaki sambil menyahut :

“Kalian berdua sama sama adalah sahabatku, berdiri sebagai rekan persilatan, aku tak akan memihak kepada siapapun!”

Dalam bahaya menghianati teman, sikap yang diambil nenek tersebut benar benar diluar dugaan. Pencuri sakti Go Jit terhitung pula seorang jago kawakan dalam dunia persilatan, ia sendiri pun sering kali mencelakai orang dengan menggunakan siasat licik, namun dia yakin bahwa dirinya tak akan sudi mengucapkan kata kata semacam itu dalam keadaan begini.

Kontan saja sepasang matanya melotot besar karena mendongkol, tapi kemudian setelah menghela napas panjang, katanya :

“Aaaai, nampaknya aku si pencuri tua benar benar sudah buta sepasang mataku!”

“Heeehhhh.... heeehhhh...... heeehhhhh matamu memang

benar benar sudah buta,” jengek Yu Ceng hui sambil tertawa dingin, “kau anggap si nenek manusia macam apa? Hanya mengandalkan dua puluh empat butir mutiara saja kau sudah ingin membeli nyawa si nenek!”

“Dua puluh empat butir mutiara itu merupakan benda mestika yang tak ternilai harganya, tidak gampang lohu mendapatkan benda tersebut, tahukah kau sudah berapa banyak nyawa jago persilatan yang melayang gara gara benda itu?”

“Huuuhh besarnya baru sebuah kelengkeng, berapa sih

nilainya?” jengek Sun popo sinis, “sekalipun besarnya melebihi telur ayam, paling paling juga hanya sebuah benda mati saja, apakah nilainya bisa lebih berharga daripada nyawa manusia?”

“Bagus sekali!” Thi tan kim wan Yu Ceng hui membentak keras. “Asal Sun popo bersedia menjaga peraturan dunia persilatan, dikemudian hari lohu pasti akan memberi muka pula kepadamu.”

“Terima kasih saudara Yu, aku si nenek akan berangkat selangkah lebih dahulu!”

Seusai berkata dia segera melejit ke udara dan meluncur keluar dari hutan bambu itu, tak selang berapa saat kemudian bayangan tubuhnya telah lenyap tak berbekas. Sekali lagi Thi tan kim wan Yu Ceng hui membentak keras :

“Kini Sun popo sudah tahu diri dan melarikan diri, nah pencuri kecil, mengapa kau tidak serahkan pil Tay tham wan tersebut kepadaku? Apakah hendak menanti sampai lohu turun tangan sendiri?”

Seraya berkata, tangan kirinya segera disusupkan kembali keatas pinggangnya, senjata Thi tan kim wan yang diandalkan itu agaknya sudah disimpan kembali.

“Hmm, untuk menghadapi seorang pencuri kecil, biar lohu pergunakan sepasang telapak tangan saja, toh itupun lebih dari cukup,” jengeknya sinis. Dicemooh seperti itu, pencuri sakti Go Jit tak sanggup menahan diri lagi, dia segera meloloskan pedang pendeknya kemudian sambil menggetarkan pergelangan tangannya ia melepaskan sebuah tusukan kilat ke tubuh Thi tan kim wan Yu Ceng hui.

“Tidak usah ngomong besar dulu, lihat pedang!” hardiknya. “Hei, pencuri kecil,” Thi tan kim wan Yu Ceng hui tersenyum,

“aku lihat serangan pedangmu itu memang sudah mencapai dua

bagian kesempurnaan….!”

Sembari berkata, telapak tangan kirinya menyambar ke muka dengan jurus Hun im po gwat (memisah awan menyingkap rembulan), dari pukulan ia merubah serangannya menjadi totokan jari, lalu berbalik mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan pencuri sakti Go Jit yang menggenggam pedang.

Sementara telapak tangan kanannya dengan jurus Tui san tian hay (mendorong bukit membendung samudera) melepaskan sebuah pukulan dahsyat menyapu ke pinggang lawan. Serangan kiri sebenarnya hanya gerak tipuan belaka, serangan yang sesungguhnya justru berada pada telapak tangan kanannya.

Pedang pendek yang dipergunakan pencuri sakti Go Jit sekarang sesungguhnya merupakan pedang Hi cong po kiam yang termasuk salah satu senjata ampuh dalam dunia hanya dengan sebuah getaran pedang saja ia telah berhasil mematahkan serangan yang dilancarkan Thi tan kim wan Yu Ceng hui dengan tangan kirinya.

Namun serangan dahsyat yang dilepaskan dengan tangan kanannya itu sangat dahsyat. Pencuri sakti Go Jit mengerti bahwa sulit baginya untuk membendung ancaman itu, andaikata dia menyambut dengan kekerasan, sudah pasti ia sendiri bakal terluka, maka dengan mengerahkan San tian biau hong (hembusan angin sambaran petir) suatu ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi ia mengegos lima langkah ke samping kiri.

Begitu mundur pencuri sakti Go Jit segera menerjang maju kembali, pedang Hi cong po kiamnya berputar kencang menciptakan bayangan tajam yang memenuhi angkasa, mengimbangi gerakan tubuh san tian biau hong nya, dia malang melintang kian kemari sambil melepaskan serangkaian ancaman dahsyat ....

Thi tan kim wan Yu Ceng hui mendengus dingin, dia tetap berdiri tegak di tempat semula, terhadap bayangan pedang yang menyelimuti angkasa boleh dibilang ia berlagak tidak melihat.

Selama ini dia hanya menjaga perubahan gerak dari musuhnya sambil menghimpun tenaga siap melepaskan pukulan maut.

Sesungguhnya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki pencuri sakti Go Jit sekarang terhitung salah satu kepandaian yang hebat bahkan keampuhan ilmu San tian biau hong tersebut hanya sedikit dibawah kelihayan ilmu Hu kong keng im dari Bu im sin hong Kian Kim siang.

Tak heran kalau Thi tan kim wan Yu Ceng hui tak sanggup menandingi kehebatannya. Walaupun dalam hal ilmu meringankan tubuh Thi tan kim wan Yu Ceng hui tak mampu melebihi pencuri sakti Go Jit namun pukulannya tetap berat dan mantap, ditambah lagi dia memang sudah terlatih untuk bertarung secara mantap, sepasang matanya yang tajam dengan seksama mengikuti setiap gerakan lawan, agaknya ia memakai taktik dengan tenang mengatasi gerak.

Lama kelamaan gelisah juga pencuri sakti Go Jit setelah menyaksikan pertahanan dari Thi tan kim wan Yu Ceng hui sangat ketat dan kokoh, akan tetapi keadaannya sekarang ibarat menunggang di punggung harimau, mau turun tak bisa, tetap duduk pun sungkan.

Dalam keadaan demikian, terpaksa dia mengubah gerakan tubuhnya menjadi gerakan Thian gwa hui hong (pelangi terbang dari luar angkasa), setelah berputar satu lingkaran, pedang pendeknya merendah kebawah lalu menusuk ke wajah Thi tan kim wan.

Menghadapi ancaman itu, Thi tan kim wan Yu Ceng hui miringkan kepalanya ke samping untuk meloloskan diri dari sergapan pencuri sakti, tangan kanannya segera menghadang lengan kiri si pencuri sakti itu sementara tangan kirinya menyambar ke atas dengan jurus Yap teh tau to (mencuri buah tho di bawah daun).

Dengan cepat kedua orang itu melangsungkan suatu pertarungan jarak dekat yang sangat ramai, cahaya pedang bayangan telapak tangan saling bergumul menjadi satu. Makin bertarung kedua orang itu bergerak makin cepat, tak selang berapa saat kemudian tampak bayangan manusia berkelebat lewat, begitu terpisah kedua orang itu segera bergumul kembali dan saling bertarung dengan serunya.

Di tengah berlangsungnya pertempuran yang amat seru itu, tiba tiba terdengar suara tertawa dingin disusul dengusan tertahan, berbareng itu pula dua sosok bayangan manusia yang sedang bertarung sengit itu tahu tahu saling berpisah. Tampak Thi tan kim wan Yu Ceng hui melintangkan sepasang telapak tangannya di depan dada, ia berdiri di tempat tanpa menderita luka sedikit pun jua,

Sebaliknya pencuri sakti Go Jit harus mundur sejauh tujuh langkah lebih sebelum dapat berdiri tegak. Lengan kanannya yang menggenggam pedang kini terkulai lemas, baru saja tubuhnya berhenti bergerak, pedang pendek yang berada di tangannya sudah terlepas dan menancap di tanah.

Rupanya sebuah pukulan dahsyat dari Thi tan kim wan Yu Ceng hui telah melukai tangan kanannya. Dengan langkah lebar Thi tan kim wan Yu Ceng hui menghampiri si pencuri sakti Go Jit, lalu bentaknya keras keras :

“Bawa kemari!”

Sebelum terluka tadi pencuri sakti Go Jit sudah bukan tandingan Thi tan kim wan, apalagi saat ini, namun sampai matipun dia enggan menyerah kalah, mendengar ucapan itu dia segera balik bertanya :

“Apanya yang bawa kemari?”

“Tay tham wan!” Thi tan kim wan Yu Ceng hui tertawa dingin.

Mendadak tangannya berkelebat lewat dan melepaskan sebuah totokan kilat keatas tubuh pencuri sakti Go Jit. Totokan tersebut dilancarkan secara tiba tiba dan menggunakan kecepatan yang luar biasa, ternyata pencuri sakti Go Jit tak sanggup menghindarkan diri, dia segera terkena totokan, sambil mendengus tertahan tubuhnya segera roboh terkapar di tanah.

Secara kasar Thi tan kim wan membalikkan tubuh pencuri sakti Go Jit kemudian menggeledah seluruh saku bajunya, akhirnya dia berhasil menemukan sebuah botol kecil berwarna putih, dari dalam botol itu dia mengeluarkan sebutir pil berwarna merah. Setelah diendus sebentar, dengan kening berkerut tegurnya :

“Obat apakah itu?”

Walaupun jalan darah pencuri sakti Go Jit sudah tertotok sehingga dia kehilangan kekuatan untuk melawan namun kesadarannya masih tetap utuh, ia bisa berbicara bisa pula mendengar. Akan tetapi saat ini dia hanya menggigit bibirnya kencang kencang, bukan cuma membungkam saja, bahkan wajahnya menunjukkan senyuman dingin yang sinis dan penuh ejekan.

Dengan mendongkol bercampur marah Thi tan kim wan Yu Ceng hui segera melepas sebuah pukulan dahsyat di samping tubuhnya membuat pasir dan debu beterbangan di angkasa. Kontan saja seluruh badan pencuri sakti Go Jit menjadi kotor karena terkena pasir dan debu.

“Keparat, jika kau tak mau berbicara lagi, terpaksa lohu akan menggunakan ilmu pemisah otot untuk menyiksa dirimu!” akhirnya dia mengancam dengan geram.

“Bukankah Tay tham wan itu sudah berada ditanganmu, apa yang harus kukatakan lagi?” sahut pencuri sakti Go Jit dingin.

“Apakah pil ini adalah pil Tay tham wan yang asli? Mengapa sama sekali tidak terendus bau harumnya?”

Pencuri sakti Go Jit segera tertawa terbahak bahak, dia bermaksud mempermainkan lawannya untuk melampiaskan rasa mangkel dalam hatinya, dia berkata : “Baik, kau maupun aku belum pernah melihat bagaimanakah bentuk pil Tay tham wan yang asli, mana yang asli dan mana yang palsu, siapa yang tahu? Jika kau memang bernyali datang saja sendiri ke kuil Siau lim si dan tanyakan kepada hwesio hwesio itu!”

Ucapan tersebut segera membungkamkan Thi tan kim wan Yu Ceng hui sampai beberapa saat lamanya dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Akhirnya dengan mendongkol dan geram, dia mendamprat :

“Bajingan, kau memang pantas mampus!”

Sambil mengambil pil Tay tham wan tersebut, wajahnya nampak tersipu sipu….

Tiba tiba pencuri sakti Go Jit berguman seorang diri : “Pengetahuan untuk membedakan sejenis obat saja tak punya,

hmmm, kalau sampai memperoleh sebutir Tay tham wan yang palsu, itu baru lucu namanya ….”

“Bangsat, kau tak usah mengejek lohu, bisa kumampusi dirimu!” teriak Yu Ceng hui marah.

Pencuri sakti Go Jit segera tertawa dingin.

“Heeehhh….. heehhhh…… heehhhh…… sebenarnya gampang sekali bila kau ingin mengetahui asli atau tidaknya obat Tay tham wan tersebut ….”

Berbicara sampai di tengah jalan mendadak ia berhenti, kemudian sambil memandang kearah Thi tan kim wan dia hanya tertawa dingin tiada hentinya ….

Mencorong sinar tajam dari balik mata Thi tan kim wan Yu Ceng hui, segera serunya:

“Asal kau dapat membuktikan asli atau tidaknya pil Tay tham wan in, lohu bersedia pula mengampuni selembar jiwamu.”

Pencuri sakti Go Jit berlagak seolah olah serius, katanya kemudian : “Silahkan kau menghamtan lohu satu kali lagi, tinggalkan segulung hembusan napas bagiku, kemudian berikan pil Tay tham wan tersebut kepadaku, asal aku bisa sembuh kembali, terbukti kalau obat itu asli, sebaliknya kalau aku tak sembuh, maka terbukti kalau obat itu palsu!”

Mula mula Thi tan kim wan Yu Ceng hui agak tertegun kemudian tangannya langsung melayang menampar wajah pencuri sakti itu beberapa kali, teriaknya :

“Sialan, kau anggap aku tidak mengerti dengan caramu itu?”

Pencuri sakti Go Jit tak mau mengalah, kembali serunya dengan tertawa dingin :

“Lohu toh bersedia mengorbankan selembar jiwaku, masa kau tak rela mengorbankan sebutir pil palsu?”

Thi tan kim wan Yu Ceng hui benar benar dibikin menangis tak bisa tertawa pun tak dapat oleh perkataan itu, rasa bencinya terhadap orang ini boleh dibilang sudah merasuk sampai ke tulang sumsum, akan tetapi dia tak bisa berbuat banyak.

Cuma saja, kalau didengar dari maksud kebalikan perkataan itu, dia dapat mendengar kalau kemungkinan besar pil Tay tham wan itu tidak mungkin palsu. Setelah termenung beberapa saat, ia masih juga belum merasa lega hati, maka dengan suara menggeledek bentaknya :

“Lebih baik kau tak usah bergurau dengan lohu, ketahuilah nyawamu itu sesungguhnya tidak ada nilainya sama sekali, lohu pun tak akan membiarkan kau mampus dengan puas.”

Sambil berkata, dia lantas memperlihatkan gerakan seperti hendak menggunakan ilmu pemisah otot untuk menghadapi pencuri sakti Go Jit. Berada dalam keadaan seperti ini, pencuri sakti Go Jit baru berkata dengan wajah serius :

“Tidak sulit bila kau menginginkan aku berbicara sejujurnya tapi kau harus memberi jaminan dulu kalau selembar nyawaku kau ampuni.”

Thi tan kim wan Yu Ceng hui segera tertawa terbahak bahak. “Haaahhhh..... haaahhhh..... haaahhhh jaminan macam

apakah yang kau hendaki?”

Pencuri sakti Go Jit termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, lalu menyahut :

“Kau harus mengangkat sumpah dulu dihadapan langit sebelum lohu bersedia mempercayai perkataanmu itu.”

Sambil tertawa dingin Thi tan kim wan Yu Ceng hui mengangkat sumpah yang mengutuk dirinya sendiri bila mengingkari janji. Saat itulah pencuri sakti Go Jit baru berkata dengan serius :

“Tay tham wan adalah sebutir obat yang dibuat pada ratusan tahun berselang, andaikata tiada cara penyimpanan yang istimewa, mungkin sari obatnya sudah punah semenjak dulu dan menjadi sebutir benda yang tak berguna. Orang persilatan pun tak akan menghargai sekali kehebatan obat itu.”

Begitu buka suara dia lantas menguraikan teori yang menjurus soal pengetahuan, mau tak mau hal ini membuat Thi tan kim wan Yu Ceng hui harus percaya. Diam diam pencuri sakti Go Jit tertawa dingin, sambungnya lebih jauh :

“Oleh sebab itu, setelah pil Tay tham wan itu selesai dibuat maka benda itupun dibungkus lapisan luarnya dengan empedu katak berusia seribu tahun agar daya kerja obatnya tetap utuh, itulah sebabnya bau harum obat itu tidak terendus. Jika kau tidak percaya, silahkan saja untuk segera mencoba sendiri!”

“Bagaimana caranya untuk mencoba?”

“Heeehhhh….. heeehhhh….. heeehhh cara yang sedemikian

sederhananya pun tak bisa kau pikirkan, buat apa kau melakukan perjalanan dalam dunia persilatan dan berlagak sebagai seorang enghiong?” jengek pencuri sakti sambil tertawa dingin.

Thi tan kim wan Yu Ceng hui memang lemah dibidang sastra, terpaksa dia harus menggunakan kekerasan untuk mempertahankan kewibawaan sendiri. Dengan sepasang mata melotot besar, segera bentaknya keras keras : “Bila kau tidak menjelaskan perkataanmu itu, jangan salahkan kalau lohu akan menarik kembali sumpahku tadi.”

“Huuuh, goblokmu tampaknya tak ketolongan lagi,” ejek si pencuri sakti Go Jit dengan nada sinis, ”asal kau pergunakan sebatang jarum dan menusuknya sampai berlubang, bukankah bau obat itu akan segera tersiar keluar….?”

Diam diam Thi tan kim wan Yu Ceng huo memaki kebodohannya sendiri :

“Aku memang benar benar tolol! Masa cara yang begini sederhana pun tak bisa kutemukan.”

Dia kuatir setelah obat itu berlubang inti sarinya akan hilang, pil tersebut akan kehilangan daya gunanya, maka dia mempercayai saja ucapan dari pencuri sakti Go Jit dan tidak melakukan pembuktian.

Padahal asal dia benar benar menusuk obat itu untuk melakukan pembuktian maka bualan dari si pencuri sakti Go Jit pasti akan terbongkar semua.

Dengan rasa puas dan gembira Thi tan kim wan Yu Ceng hui menyimpan pil Tay tham wan itu kedalam sakunya, lalu dari sakunya dia mengeluarkan sebutir pil kecil berwarna kuning kemudian sambil menekannya sampai merekah mendadak benda tersebut dilemparkan ke sisi tubuh pencuri sakti Go Jit, katanya sambil tertawa seram :

“Heeehhh..... heeehhhh..... heehhhh ... jika lohu sampai memberikan kematian yang memuaskan bagimu, aku tak akan dipanggil sebagai Thi tan kim wan lagi!”

Sambil tertawa tergelak gelak, dia segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Mendadak pil berwarna kuning emas itu meledak dan menyemburkan segulung asap kuning. Dengan kecewa pencuri sakti Go Jit berteriak keras :

“Bajingan keparat, sampai matipun lohu tetap akan mengejar nyawa anjingmu itu!”

Dengan jurus sin liong sip sue (naga sakti menghisap air) tadi, bukan saja Thi Eng khi berhasil memunahkan tenaga sambitan dari pencuri sakti Go Jit, bahkan dengan mengandalkan tenaga dalamnya yang sempurna ia berhasil pula menghisap keranjang tersebut hingga berganti arah dan meluncur kearahnya.

Demontrasi kepandaian saktinya ini kontan saja membuat Kwik toanio dan putranya berdiri membelalak dengan mulut ternganga lebar, mereka mengira Thi Eng khi sedang mendemontrasikan ilmu sihir. Sampai setengah harian lamanya mereka masih saja berdiri termangu mangu seperti patung.

Thi Eng khi juga malas mengejar jago jago tersebut setelah berhasil menghisap keranjang itu, dia lantas menyingkap kain penutupnya dan mencari pil itu. Tapi dengan cepat paras mukanya berubah hebat, buru buru ia membongkar seluruh isi keranjang itu dan dicari dengan seksama, nyatanya pil Tay tham wan yang dicari sama sekali tidak ditemukan.

Dengan perasan mendongkol akhirnya dia membentak keras : “Pencuri tua itu telah bermain setan dengan kita semua, kita

sudah ditipunya mentah mentah!”

Kwik toanio merasa menyesal sekali, dia hanya bisa menundukkan kepalanya rendah rendah. Melihat itu, Thi Eng khi berkata sambil menghela napas :

“Kalian berdua tak usah bersedih hati, dalam hal ini kalian tak bersalah, sedang pengalamanku pun terlalu cetek sehingga gampang ditipu orang. Sekarang harap kalian berdua segera berangkat ke kuil Siau lim si untuk mengungsi sementara waktu, aku akan menyusul mereka.”

Selesai berkata, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dia mengejar keluar rumah. Sementara itu, malam telah menjelang tiba, ditambah lagi awan tebal menyelimuti angkasa, langit tiada bintang, tiada rembulan, suasana di luar kota hanya diliputi oleh kegelapan.

Kendatipun ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im yang dimiliki Thi Eng khi sudah mencapai puncak kesempurnaan, akan tetapi berhubung dia telah salah arah maka tiada sesuatu hasil yang berhasil ditemukan.

Semenjak meninggalkan kuil Siau lim si hingga sekarang, satu jam sudah lewat dengan cepat, berarti bila setengah jam kemudian ia gagal menemukan pencuri sakti Go Jit dan mendapatkan kembali pil Tay tham wan itu, sulit rasanya untuk menyelamatkan Pek leng siancu So Bwe leng dari ancaman bahaya maut.

Dengan mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya dia segera berputar di sekeliling kota Phu thian tanpa tujuan. Mula mula disekitar kota kemudian makin lama semakin jauh dan mengembang terus keluar, akhirnya dia memeriksa sampai di tepi hutan bambu.

Waktu itu pencuri sakti tergeletak disana, sedang merintih dan mengerang kesakitan akibat serangan kabut beracun dari Thi tan kim wan melalui pil berwarna kuningnya. Tatkala Thi Eng khi mendengar suara rintihan berasal dari dalam hutan bambu, dia segera menerobos masuk ke dalam. Segera terlihat olehnya pencuri sakti Go Jit sudah tersiksa hingga tak mirip manusia lagi. Cepat pemuda itu menempelkan telapak tangannya ke atas jalan darah Jit kan hiat di dada pencuri sakti itu dan menyalurkan hawa murninya.

Tak selang berapa saat kemudian, pelan pelan pencuri sakti Go Jit sadar kembali dari pingsannya. Melihat orang itu sudah sadar, buru buru Thi Eng khi bertanya :

“Dimanakah pil Tay tham wan itu?”

Berhubung dia menyaksikan pencuri sakti Go Jit sudah terluka maka diapun menduga pil Tay tham wan itu sudah pasti telah dirampas orang lain, itulah sebabnya dia mengajukan pertanyaan tersebut.

“Aku terkena racun keji dari Thi tan kim wan, aku tak bisa hidup lagi ….” Pencuri sakti Go Jit hanya mengucapkan beberapa patah kata itu, kemudian kepalanya terkulai dan kembali jatuh tak sadarkan diri. Jawaban yang tidak mirip jawaban tersebut dengan cepat menimbulkan setitik harapan dalam hati Thi Eng khi, kini didalam sakunya tersedia pil Kim khong giok lok wan, sebutir pil yang sanggup mengusir pelbagai serangan beracun. Maka tanpa sangsi lagi dia menjejalkan sebutir pil Kim khong giok lok wan tersebut ke mulut pencuri sakti Go Jit, kemudian ditambah pula saluran hawa murninya lewat jalan darah Jit kan hiat, tak selang berapa lama kemudian semua racun yang mengeram dalam tubuh Go Jit telah tersapu lenyap, sedang orangnya segera tersadar kembali dari pingsannya.

Ketika mengetahui bahwa orang yang menyelamatkan jiwanya tak lain adalah Thi Eng khi, pencuri sakti Go Jit menjadi malu sekali hingga tak berani mengangkat kepalanya. Lama, lama kemudian dia baru menghela napas panjang, ujarnya :

“Sauhiap tanpa mengingat ulah lohu dulu ternyata bersedia menyelamatkan selembar jiwaku, peristiwa ini sungguh membuat lohu merasa malu sekali ….”

Melihat ucapan tersebut diutarakan dengan jujur dan tulus, Thi Eng khi jadi agak rikuh untuk mendamprat lagi, maka ujarnya kemudian sambil tertawa :

“Waktu begitu penting sekali artinya, harap beritahu kepadaku kemanakah Thi tan kim wan telah pergi, aku harus merebut kembali pil Tay tham wan tersebut dari tangannya. Sebab jika sampai terlambat, aku tak akan berhasil menyelamatkan jiwa sahabatku.”

Paras muka pencuri sakti Go Jit berubah beberapa kali, kemudian ujarnya dengan serius :

“Berhargakah temanmu itu sehingga kau harus menggunakan pil Tay tham wan untuk menyelamatkan jiwanya?”

Didengar dari ucapannya itu seakan akan dia tidak percaya kalau Thi Eng khi bersedia mengorbankan sebutir pil Tay tham wan hanya digunakan untuk menolong nyawa orang lain. Thi Eng khi agak tertegun, lalu serunya :

“Bukankah obat mujarab yang ada di dunia ini bertujuan untuk dipakai menolong sesama manusia? Kalau toh pil Tay tham wan adalah benda untuk menolong manusia, mengapa kita mesti sayang untuk mempergunakannya? Jika lotiang yang kebetulan menderita luka parah dan luka tersebut hanya bisa disembuhkan dengan Tay tham wan, sedang kebetulan pil tersebut berada di tanganku, sudah pasti aku bersedia mengorbankan pula pil Tay tham wan itu untuk menyelamatkan jiwa lotiang.”

Perkataan itu diucapkan dengan sungguh sungguh, tegas dan sejujurnya, membuat siapa pun merasakan hatinya terharu jadinya. Pencuri sakti Go Jit benar benar merasa menyesal sekali, menyesal bercampur malu, ujarnya kemudian :

“Bolehkah aku tahu pil mujarab apakah yang telah digunakan sauhiap untuk menyelamatkan jiwaku tadi?”

Thi Eng khi tidak terbiasa berbohong, maka jawabnya dengan terus terang :

“Aku menggunakan pil Kim khong giok lok wan.”

Pengetahuan yang dimiliki pencuri sakti Go Jit cukup luas, mendengar nama itu, ia segera berteriak dengan suara kaget bercampur tercengang :

“Sauhiap, kau maksudkan pil Kim khong giok lok wan peninggalan dari Thio locianpwe?”

Tampaknya dia seperti kurang percaya dengan pendengaran sendiri. Sambil tertawa Thi Eng khi mengeluarkan botolnya dan berkata :

“Bila lotiang menganggap sebutir obat masih tak cukup, aku bersedia memberi sebutir lagi.”

Belum pernah pencuri sakti Go Jit menjumpai orang yang berjiwa begini besar, kontan saja hatinya semakin menyesal dan malu, dalam keadaan begini tentu saja dia tak berani mempunyai pikiran kemaruk. Maka sambil menggoyangkan tangannya berulang kali, dia berseru :

“Ooh, cukup, cukup, sudah cukup! Sebutir saja sudah cukup bagi lohu seumur hidup, terima kasih atas kebaikan sauhiap.”

Perlu diketahui, Kim khong giok lok wan adalah sejenis obat mujarab yang berkasiat luar biasa, bila seseorang telah menelan pil tersebut maka dalam sepuluh tahun mendatang dia tak perlu kuatir terkena obat beracun lagi.

Sementara itu, Thi Eng khi ingin buru buru menyusul Thi tan kim wan Yu Ceng hui dan merampas kembali pil Tay tham wan tersebut, dengan agak gelisah kembali serunya :

“Lotiang, harap kau suka memberitahukan kepadaku kemanakah perginya Thi tan kim wan? Aku akan berterima kasih sekali kepadamu.”

Sebenarnya pencuri sakti Go Jit bukan seorang manusia jahat, dia adalah seorang jago persilatan yang amat setia kawan. Dia bisa secara diam diam menyusun rencana untuk mencuri pil Tay tham wan, sesungguhnya hal ini dikarenakan ia mendapat pesan dari seorang temannya untuk menolong seseorang.

Ketika ia menerima budi kebaikan dari Thi Eng khi, lalu menyaksikan pula kegagahan dari pemuda tersebut, sifat baiknya segera muncul kembali, mendadak katanya :

“Sauhiap, kau tak usah pergi mencari Thi tan kim wan Yu Ceng hui lagi, biar siau loji yang menghadiahkan sebutir pil Tay tham wan untukmu ….!”

“Sebenarnya kau mempunyai berapa butir pil Tay tham wan sih?” seru Thi Eng khi tertegun.

Pencuri sakti Go Jit tertawa :

“Di dalam teratai emas Jit kiau kim lian hanya terdapat sebutir pil Tay tham wan, tapi barang yang sudah berada di tanganku, bila aku tak rela menyerahkan sendiri, jangan harap ada orang yang berhasil merampasnya dari tanganku. Nah, pil ini aku telah memberikannya kepadamu, harap sauhiap suka menerimanya.”

Dia lantas menutupi telinga kanannya dengan tangan, setelah itu mengerahkan tenaga dalamnya menepuk dari telinga yang lain …..

“Pluuuk!” dari dalam lubang telinganya segera melompat keluar segumpal kapas, ketika kapas itu dibuka maka tampak sebutir pil berwarna merah kekuning kuningan. Dengan cepat pil tersebut diangsurkan ke hadapan si anak muda tersebut…..

Peristiwa ini benar benar diluar dugaan, untuk sesaat lamanya Thi Eng khi merasa terkejut bercampur gembira, dia benar benar tidak menyangka akan terjadinya peristiwa seperti ini.

Perlu diketahui, ilmu mencopet yang dibutuhkan adalah kecepatan gerak serta kecepatan beraksi. Oleh sebab itu, seseorang yang ingin termashur sebagai pencopet, selain harus memiliki akal yang cerdas, diapun mesti lincah dan gesit.

Go Jit termashur sebagai pencuri sakti di kolong langit, sudah barang tentu kecerdasan otaknya sukar ditandingi oleh siapapun. Sebagai seorang pencuri sakti, diapun harus dibekali dengan pengetahuan yang luas, di hari hari biasa, ia selalu menaruh perhatian khusus terhadap pelbagai bentuk benda mestika yang berada di dunia ini. Karenanya terhadap bentuk pil Tay tham wan, besar kecilnya, bobotnya, warnanya, serta bau obatnya boleh dibilang dia memiliki pengetahuan amat mendalam. Tentu saja diantaranya dia harus memahami caranya membuka teratai emas Jit kiau kim lian.

Semenjak pencuri sakti Go Jit mendapat perintah untuk bekerja sama dengan Thi tan kim wan Yu Ceng hui untuk mencuri Jit kiau kim lian milik kuil Siau lim si cabang Phu thian, waktu itu ia sudah timbul niatnya untuk mengangkangi sendiri pil tersebut. Maka untuk melengkapi rencananya ini, dia telah mempersiapkan sebutir pil palsu yang akan digunakan untuk menipu orang lain, termasuk diantaranya Hian im Tee kun pribadi.

Oleh sebab itu, setelah dia mendapatkan Jit kiau kim lian dan mengambil pil Tay tham wan yang asli, dia sengaja memberitahukan hal ini kepada Sun popo lalu menyerahkan pil Tay tham wan yang palsu itu kepadanya agar ia menghantarnya ke istana Ban seng kiong.

Tapi kemudian terjadi perubahan yang tak terduga, maka dia pun menggunakan pil Tay tham wan yang palsu itu untuk menyelamatkan jiwanya, bahkan sempat membohongi Yu Ceng hui sehingga Thi tan kim wan tersebut mengira pil yang diperolehnya itu merupakan pil Tay tham wan yang asli.

Cuma saja tindakan keji yang dilakukan Thi tan kim wan Yu Ceng hui paling akhir sungguh diluar dugaan, bukan saja hal tersebut membuat rencananya nyaris berantakan bahkan jiwanya nyaris ikut melayang.

Sekarang ia benar benar sudah terpengaruh oleh kebesaran jiwa Thi Eng khi maka ia bertekad untuk menyerahkan pil Tay tham wan tersebut kepada anak muda itu, kendatipun pada akhirnya dia harus menerima hukuman yang berat.

Tampaknya dia telah bertekad untuk melepaskan jalan yang sesat dan kembali ke jalan yang benar. Ketika dilihatnya Thi Eng khi masih sangsi untuk menerima pemberian pil mestika tersebut, mendadak pencuri sakti Go Jit mengangkat kepalanya dan tertawa terbahak bahak.

“Haaahhhh….. haaahhhh….. haaahhhh…. Aku tahu sauhiap berlapang jiwa, apakah kau masih menaruh kecurigaan terhadap seseorang yang bersedia untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar ini?”

Merah padam selembar wajah Thi Eng khi karena jengah, buru buru serunya :

“Aaaaih, mana mana! Aku hanya merasa pil Tay tham wan itu diperoleh dengan cara yang tak mudah, oleh sebab itu …..”

Akhirnya dengan sikap yang sangat hormat dia menyambut pemberian pil Tay tham wan tersebut. Sambil tersenyum kembali, pencuri sakti Go Jit berkata :

“Sauhiap anggap pil Tay tham wan ini diperoleh dengan cara yang gampang? Sekalipun Thi tan kim wan Yu Ceng hui hampir saja merenggut nyawaku toh ia tak berhasil mendapatkannya!”

Thi Eng khi benar benar merasa berterima kasih sekali, serunya kemudian : “Lotiang benar benar bersikap baik sekali terhadap boanpwe.”

“Sikap sauhiap yang bijaksana dan terpuji telah menggugah hatiku yang selama banyak tahun ini terlelap dalam impian buruk, coba kalau sauhiap tidak memiliki kebesaran jiwa yang mengagumkan, mungkin sampai sekarang loji masih tetap berbuat kejahatan terus, jadi kalau dibicarakan yang sebenarnya, tidak gampang bagi sauhiap untuk memperoleh pil Tay tham wan ini.”

“Ucapan lotiang terlalu serius, boanpwe tak berani menerimanya!”

Oleh karena dia sangat menguatirkan keselamatan jiwa dari Pek leng siancu So Bwe leng, maka sambil menjura sambungnya :

“Terima kasih atas budi kebaikanmu, budi tersebut tak akan boanpwe lupakan untuk selamanya, maaf, terpaksa aku harus mohon diri terlebih dahulu ….”

Seusai berkata dia lantas melejit ke udara dan meluncur keluar dari hutan bambu itu. Mendadak pencuri sakti Go Jit berteriak keras

:

“Sauhiap, harap tunggu sebentar, bersediakah kau membawa serta diriku ini?”

Sambil berseru dia segera mengejar ke depan. Gerakan tubuh Thi Eng khi cepat sekali, waktu itu dia sudah berada puluhan kaki jauhnya dari hutan bambu, ketika mendengar seruan mana dia segera memperlambat larinya menanti pencuri sakti Go Jit menyusulnya, baru mereka berangkat bersama menuju ke kuil Siau lim si.

Sementara perjalanan ditempuh, pencuri sakti Go Jit menerangkan pula kebulatan tekadnya untuk kembali ke jalan yang benar, dia bilang bersedia untuk menjual tenaganya bagi Thi Eng khi selain untuk menebus dosanya di masa lampau.

Bagi Thi Eng khi penilaiannya terhadap seseorang lebih banyak keluar dari perasaan daripada pikiran. Dia cukup memaklumi kalau ucapan pencuri tersebut benar benar timbul dari hati sanubari yang sebenarnya, besar kemungkinan dikemudian hari dia akan menjadi seorang pembantu yang baik baginya.

Maka uluran tangannya yang tulus itu disambut dengan sepasang tangan yang terbuka, diiringi jabatan tangan yang erat, mereka mengikat diri dalam suatu ikatan persahabatan yang akrab.

Pencuri sakti Go Jit amat mengagumi watak maupun ilmu silat yang dimiliki Thi Eng khi, ketika dilihatnya pemuda itu selalu membahasai diri sebagai angkatan yang lebih muda dia merasa malu sendiri, maka diusulkan agar Thi Eng khi merubah panggilannya dengan menyamakan derajat kedudukan mereka berdua.

Gerakan tubuh yang dimiliki kedua orang ini cepat sekali, tak selang berapa lama kemudian mereka telah tiba di kuil Siau lim si. Hutan lebat yang luas dan terbentang di balik kegelapan malam terasa begitu hening, sepi dan menyeramkan.

Suasana dalam kuil pun diliputi kegelapan, tidak nampak setitik cahaya lenterapun, hal mana mendatangkan perasaan berat yang menekan dan terasa amat tidak sedap. Baru saja mereka berdua munculkan diri di muka hutan pohon siong di depan kuil, dari kegelapan segera bergema suara seruan berat :

“Omitohud!”

Dari kiri dan kanan jalan segera berlompatan keluar empat pendeta berbaju abu abu. Rupanya setelah dikacau Thi tan kim wan tadi, kini kuil Siau lim si berada dalam kesiap siagaan penuh, bahkan pos penjagaan pun ditambah dan semakin diperketat. Tidak menanti hwesio itu buka suara, Thi Eng khi telah berseru lebih dulu dengan lantang :

“Aku Thi Eng khi telah berhasil menemukan pil Tay tham wan!”

Melihat orang yang muncul disitu benar benar adalah Thi Eng khi, keempat orang pendeta itu segera merangkap tangannya di depan dada sambil berseru :

“Silahkan, Thi ciangbunjin!” Thi Eng khi sudah hapal dengan jalanan disitu, ia segera mengajak pencuri sakti Go Jit langsung menuju ke kamar istirahat Pek leng siancu So Bwe leng. Di luar kamar tampak kelima orang pendeta dari angkatan Ci sedang berjaga jaga dengan kesiapan penuh, wajah mereka amat murung, jelas terlihat kalau perasaan hatinya pun berat.

Walaupun mereka menyaksikan kemunculan Thi Eng khi, namun pendeta pendeta itu hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa getir, sama sekali tidak nampak rasa gembira barang sedikit pun jua. Sampai akhirnya mereka menyaksikan kemunculan pencuri sakti Go Jit yang berjalan di belakang Thi Eng khi, kelima orang pendeta itu baru berseru dengan nada kaget :

“Sauhiap, kau datang bersama Go tayhiap, tampaknya kau telah berhasil dengan usahamu?”

Thi Eng khi hanya mengangguk pelan. Dengan wajah berseri karena gembira, kelima orang tianglo dari Siau lim si ini segera mengiringi anak muda tersebut menuju kedalam kamar.

Sementara itu, napas Pek leng siancu So Bwe leng sudah makin lemah, dia berada dalam keadaan tak sadar, Sam ku sinni dan Ci kong taysu, ketua dari Siau lim si duduk menanti disisinya. Tatkala Thi Eng khi munculkan diri, mereka berdua segera melompat bangun sambil berseru :

“Bagaimana hasil perjalanan sauhiap kali ini?”

“Untung tak sampai gagal!” sahut Thi Eng khi dengan wajah gembira.

Ia segera menyerahkan pil Tay tham wan tersebut kepada Ci kong taysu, hongtiang dari kuil Siau lim si, sementara dia sendiri lari ke sisi Pek leng siancu So Bwe leng dan memeriksa denyutan nadinya.

Setelah berhasil menemukan kembali pil Tay tham wan, Thi Eng khi tidak langsung memberikan kepada Pek leng siancu So Bwe leng sebaliknya malah diserahkan kepada Ci kong taysu, hal ini menunjukkan kebesaran jiwanya serta sikap hormatnya terhadap ketua Siau lim si itu.

Sebab pil Tay tham wan adalah pil mestika dari Siau lim si, kendatipun ketua Siau lim si telah menghadiahkan pil Tay tham wan tersebut untuk Pek leng siancu So Bwe leng, namun dalam tata sopan santun, sudah sewajarnya bila obat mestika itu diserahkan dulu kepada pihak Siau lim si, kemudian ketua Siau lim si lah yang memberikan pil tersebut kepada Pek leng siancu So Bwe leng.

Sesungguhnya hal ini hanya sebuah masalah yang kecil sekali, namun meski kecil masalahnya justru amat besar artinya. Sam ku sinni yang menyaksikan kejadian itu segera manggut tiada hentinya, diam diam ia memuji akan kebesaran jiwa pemuda itu. Sedangkan ketua Siau lim si sendiri beserta kelima orang tianglonya benar benar merasa kagum dan berterima kasih.

Pil Tay tham wan dari Siau lim si kalau bisa diberikan kepada orang lain lewat tangan pendeta Siau lim si sendiri, hal ini boleh dibilang merupakan suatu kehormatan dan suatu kebanggaan bagi kuil Siau lim si.

Kehilangan muka yang mereka alami selama ini pun kini berhasil direbut kembali lewat tangan Thi Eng khi, bayangkan saja betapa terharu dan berterima kasihnya mereka terhadap Thi Eng khi.

Ci kong taysu dengan tangan gemetar membawa pil Tay tham wan itu dan memasukkan sendiri ke mulut Pek leng siancu So Bwe leng, kemudian setelah mundur tiga langkah, ia memimpin kelima orang saudara seperguruannya bersama sama memanjatkan doa agar penyakit gadis itu cepat sembuh.

Thi Eng khi segera duduk bersila disisi pembaringan So Bwe leng, sepasang tangannya dijajarkan sejajar dada, kemudian mengerahkan tenaga Heng kian sinking. Tampaklah dua gulung hawa murni yang berwarna merah membara memancar keluar dari balik telapak tangannya dan seperti dua ekor ular sakti langsung menerobos masuk lewat lubang hidung Pek leng siancu So Bwe leng…. Hal ini dikarenakan Thi Eng khi merasa dia telah berulang kali mendatangkan kesulitan bagi Pek leng siancu So Bwe leng sehingga timbul rasa sesalnya dalam hati. Dia ingin memanfaatkan kasiat dari pil Tay tham wan tersebut lalu dengan mengorbankan tenaga murni yang dimilikinya, dia akan mempergunakan ilmu Yong cian hua kut kay ti (melebur otot merubah tulang) untuk membantu Pek leng siancu So Bwe leng, agar setelah sembuh nanti tenaga dalamnya akan mencapai tingkat kelas satu dalam dunia persilatan.

Ilmu yong cian hua kut kay tit ay hoat tersebut sulit dilakukan terhadap seseorang, karena orang yang melakukan kepandaian itu harus memiliki tenaga dalam paling tidak seratus tahun hasil latihan.

Menurut kemampuan ilmu Heng kian sinking yang dilatih Thi Eng khi sekarang, semestinya hal ini mustahil bisa dilaksanakan, tapi dahulu dia pernah makan empat macam obat obatan langka atas bantuan dari Thian liong ngo siang. Dengan bantuan dari ke empat macam obat obatan itulah membuat tenaga dalam hasil latihannya berhasil mencapai seratus tahun hasil latihan.

Enam orang hwesio Siau lim si dan pencuri sakti Go Jit yang berada di dalam kamar tidak begitu kaget atau tercengang oleh tindak tanduk yang dilakukan Thi Eng khi sebab mereka tidak mengetahui rahasia yang sebenarnya.

Berbeda dengan Sam ku sinni yang merupakan seorang ahli ilmu silat, berhubungan sudah lama hidup di dunia ini, usianya telah mencapai seratus tahun lebih, maka terhadap penampilan tenaga dalam yang dilakukan Thi Eng khi itu pada mulanya bingung. Tapi setelah memahami apa yang terjadi, dia benar benar merasa kaget, tercengang dan terharu. Ia tidak habis mengerti bagaimana mungkin ilmu sakti dari Thio locianpwe bisa dipelajari oleh Thi Eng khi.

Tak selang sepertanak nasi kemudian, kasiat obat Tay tham wan sudah mulai bekerja, penyakit yang diderita Pek leng siancu So Bwe leng segera sembuh kembali. Namun Thi Eng khi masih saja mengerahkan tenaga dalamnya, lebih kurang dua jam kemudian, seluruh tubuhnya telah basah kuyup, uap putih membumbung keluar dari ubun ubunnya, kemudian sambil berpekik nyaring, dia menarik kembali telapak tangannya lalu berputar dan bergerak kian kemari di dalam ruangan tersebut.

Pelan pelan Pek leng siancu So Bwe leng mendusin dari pingsannya, begitu buka mata dia segera berteriak :

“Engkoh Eng, mengapa aku telah sembuh kembali?”

Thi Eng khi segera menghentikan gerakannya, bukan saja ia nampak lelah malah wajahnya nampak cerah dan segar bugar. Ia berdiri di sisi So Bwe leng sambil berseru :

“Adik Leng …..”

Saking emosinya, dia sampai tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Setelah Pek leng siancu So Bwe leng sembuh dari penyakitnya, semua orang pun merasa kurang leluasa untuk tinggal terus dalam kuil Siau lim si. Malam itu ketua Siau lim si segera menyiapkan empat buah kamar dalam sebuah halaman di luar kuil untuk tempat tinggal mereka.

Thi Eng khi dan Pek leng siancu So Bwe leng yang sudah lama berpisah, kini saling melepaskan rindunya dengan berbincang bincang terus tiada habisnya. Sam ku sinni dan pencuri sakti Go Jit merasa tidak leluasa untuk mengganggu mereka, masing masing lantas pergi mengatur napas.

Walaupun Pek leng siancu So Bwe leng baru sembuh dari penyakit parah, tapi berhubung ia sudah dirubah badannya oleh Thi Eng khi dengan ilmu Yong cian hua kut kay ti tayhoat, bukan saja tenaga dalamnya bertambah, tubuhnya segar dan sama sekali tak nampak lelah.

Thi Engkhi sendiripun telah mengerahkan ilmu Heng kian singkang (ilmu berjalan cepat) dengan mengitari sekeliling kuil Siau lim si untuk memulihkan kembali kekuatannya. Begitulah mereka berbincang bincang dari malam sampai fajar menyingsing keesokan harinya. Kiranya setelah permainan Pek leng siancu So Bwe leng yang pura pura jadi sungguhan, dimana mereka malah dijebak oleh siasat Ciu Lan hingga Thi Eng khi pergi meninggalkannya, dalam keadaan sedih akhirnya dia dihantar oleh kakeknya untuk berguru kepada Sam ku sinni.

Sam ku sinni amat menyayangi muridnya ini, dia bertekad hendak menciptakan gadis itu sebagai jagoan yang paling tangguh di dunia ini, maka dia lantas teringat dengan sahabatnya Ci Sui sutay yang tinggal di gua Tiau ing tong di Lam hay untuk meminjam mestikanya Im yang siang ciat guna membantu tenaga dalam dari muridnya.

Di tengah jalan secara kebetulan mereka menyaksikan gerak gerik Thi tan kim wan sekalian yang mencurigakan, maka di bawah petunjuk Sam ku sinni, So Bwe leng bertindak merampas kembali teratai emas Jit kiau kim lian itu. Gara gara dia terhajar oleh pukulan Thi Eng khi bukan saja akhirnya ia berhasil mendapatkan kembali engkoh Eng nya, bahkan tanpa meminjam im yang siang ciat milik Ci Sui sutay di Lam hay, tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan yang amat pesat.

Secara ringkas Thi Eng khi juga mengisahkan pengalamannya kepada Pek leng siancu So Bwe leng. Ketika ia mendengar kalau kakeknya, Tiang pek lojin, Sim ji sinni, Bu sim sin hong sekalian berempat telah menjadi empat orang tongcu dari Ban seng kiong, rasa sedih dan murung dengan cepat menyelimuti wajah mereka.

Pek leng siancu So Bwe leng pernah mengikuti Huan im sin ang, dia cukup memahami sekali taktik busuk dari gembong iblis itu, dengan segala kemampuan yang dimilikinya ia berusaha menghibur Thi Eng khi agar dia jangan mempercayai berita angin. Dia pun berharap pemuda itu mempercayai jiwa dari keempat orang tua bahwa mereka tak bakal melakukan perbuatan yang begitu memalukan.

Tapi Thi Eng khi pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri perbuatan dari Bu im sin hong Kian Kim siang serta Tiang pek lojin So Seng pak, luka dalam hatinya itu serasa sulit untuk dilenyapkan, karenanya rasa malu dan marah yang mencekam dalam hatinya pun sama sekali tidak berkurang ….

Dalam pada itu Sam ku sinni dan pencuri sakti Go Jit telah muncul pula di dalam ruangan dan turut serta di dalam perbincangan tersebut. Oleh karena tindakan Ban seng kiong yang mengangkat empat orang tongcunya itu berlangsung belum lama, berita itu belum sampai tersebar luas dalam dunia persilatan, maka Sam ku sinni juga belum mendengar tentang berita itu. Kepada pencuri sakti Go Jit, dia lantas minta penjelasan.

“Aku lihat terpaksa Go sicu harus memberi petunjuk kepadaku tentang persoalan ini!”

Pencuri sakti Go Jit baru dijaring oleh Hian in Tee kun setelah istana Ban seng kiong berganti pemilik, pengetahuannya tentang masalah dalam istana pun terbatas sekali, tapi dia telah memberitahukan tentang asal usul dan riwayat hidup Hian in Tee kun tersebut kepada mereka.

Selain itu, diapun membuktikan bahwa Keng thian giok cu sekalian berempat benar benar telah menjadi tongcu di dalam istana Ban seng kiobg. Di samping itu, pencuri sakti Go Jit telah memberitahukan pula dua kabar kepada mereka, yakni :

Pertama, Hian im Tee kun telah mengirimkan banyak jago jago lihaynya untuk mencuri dan merampas benda benda mestika yang ada di pelbagai perguruan besar serta tempat tempat terkenal lainnya. Dimanakah letak maksud tujuannya tidak jelas.

Kedua, Hian im Tee kun telah mengumumkan niatnya untuk menggabungkan perguruan Thian liong pay dibawah panji istana Ban seng kiong ….

Dalam persoalan yang pertama, maksud Hian im Tee kun sukar diduga, meskipun perbuatannya menakutkan sekali, namun keadaan tersebut tak bisa ditolong lagi, apalagi mencegah terjadinya peristiwa tersebutnya … Persoalan kedua lah yang benar benar membuat Thi Eng khi merasa kaget bercampur ngeri, andaikata kakeknya Keng thian giok cu benar benar berniat untuk melebur perguruan Thian liong pay dibawah panji kekuasaan istana Ban seng kiong, maka posisinya sekarang menjadi benar benar mengenaskan …..

Sementara Thi Eng khi masih merasa gelisah dan memutar otak untuk menanggulangi masalah itu, mendadak pendeta Siau lim si yang menjaga di luar pintu telah muncul sambil membawa Kwik toanio dan putranya.

Rupanya sepeninggal Thi Eng khi, berhubung Kwik toanio berdua kuatir mereka akan berjumpa dengan Sun popo sekalian di tengah jalan, maka mereka tak berani berangkat langsung menuju ke kuil Siau lim si.

Kedua orang itu menyembunyikan diri semalam di rumah seorang sahabat di kota, setelah fajar menyingsing dan orang yang berlalu lalang makin banyak, mereka baru berani memunculkan diri dan buru buru berangkat ke situ, sebab menurut pendapat mereka, di tengah hari bolong apalagi dihadapan orang banyak, tak mungkin Sun popo sekalian berani berbuat sesuatu terhadap mereka …..

Setelah mendengar penuturan dari Kwik toanio berdua, semua orang segera memuji akan kecerdikan mereka. Selama ini Thi Eng khi hanya selalu bermuram durja, mukanya murung dan keningnya selalu berkerut, terhadap Kwik toanio berdua pun sikapnya menjadi sedikit hambar.

Masih untung Kwik toanio adalah seorang perempuan yang berjiwa besar, dia sama sekali tidak menganggap peristiwa itu sebagai suatu peristiwa besar. Berbeda dengan Kwik Yun yang masih muda dan berdarah panas, sikap Thi Eng khi itu segera disalah artikan lain, ia jadi naik darah, sambil menarik ujung baju ibunya, ia berkata:

“Ibu! Thi siangkong sudah mendapatkan kembali pil Tay tham wan tersebut, sedang Sun popo sekalian mungkin juga tak berani muncul lagi di sekitar tempat ini, mari kita pulang saja!” “Seandainya mereka mencari gara gara lagi terhadap kita di tengah malam buta, bagaimana dengan nasib kita?”

“Ibu, mati hidup sudah digariskan oleh takdir, apakah kita harus mengandalkan pelindungan orang sepanjang hidup?”

Kwik toanio menggenggam tangan Kwik Yun kencang kencang, maksudnya dia hendak mencegahnya berpikir yang bukan bukan. Siapa tahu Kwik Yun makin naik darah, kembali teriaknya :

“Ibu!”

Saking mangkelnya dua baris air mata segera jatuh bercucuran. Waktu itu Thi Eng khi hanya memikirkan persoalan sendiri, dia tak menyangka kalau sikapnya itu telah menimbulkan perasaan tak senang dari Kwik Yun.

Sam ku sinni dan pencuri sakti Go Jit meski merasakan pula keadaan yang kurang beres terhadap sikap Kwik toanio berdua, namun mereka tak berhasil menebak apa gerangan yang menyebabkan mereka demikian.

Cuma Pek leng siancu So Bwe leng seorang yang mengetahui sebab ketidak gembiraan Kwik Yun, apalagi setelah dilihatnya sorot mata Kwik Yun selalu tertuju ke wajah Thi Eng khi setiap kali berbicara, dia lantas menduga kalau sumber ketidak senangan bocah itu adalah disebabkan sikap Thi Eng khi.

Dia adalah seorang gadis yang suka blak blakan, maka sambil tertawa nyaring serunya :

“Engkoh Eng, kau telah menyakiti hati orang lain!”

“Apa?” seru Thi Eng khi dengan wajah tertegun, dia seperti tidak mengerti apa gerangan yang telah terjadi.

“Kwik siaute marah dan hendak pergi!”

Sekarang Thi Eng khi baru merasa kalau sikapnya terlalu hambar dan menyinggung perasaan mereka berdua, dengan perasaan tak tenang ia lantas menjura kepada Kwik toanio, katanya : “Bila aku telah bersikap kurang menyenangkan hati kalian, harap sudi dimaafkan, maklumlah aku sedang dirundung banyak persoalan sehingga pikiranku menjadi sangat kalut.”

“Aaai, sauhiap terlalu sungkan,” buru buru Kwik toanio membalas hormat, “aku tak berani menerimanya, apalagi putraku masih muda, harap sauhiap jangan berpikir yang bukan bukan.”

Menyusul kemudian Pek leng siancu So Bwe leng segera menerangkan persoalan yang menyebabkan Thi Eng khi bingung dan banyak pikiran ….

Setelah mendengar penjelasan tersebut, Kwik Yun baru tahu kalau ia telah salah mengartikan sikap orang, dengan pandangan menyesal dan minta maaf dia lantas memandang sekejap kearah Thi Eng khi dan minta maaf.

Setelah itu, sikapnya ternyata menjadi lincah kembali, dia mulai banyak berbicara dan banyak bergurau. Tiba tiba terdengar dia berseru :

“Paman Thi, bagaimana kalau kuberi sebuah jalan untuk meringankan beban pikiranmu itu?”

Kwik toanio yang mendengar perkataan itu, buru buru membentak :

“Yun ji, kau mengerti apa? Siapa yang membutuhkan idemu itu?”

Dengan membelalakkan matanya lebar lebar, Kwik Yun berseru : “Yun ji hanya ingin memperingatkan paman Thi saja!”