Pukulan Naga Sakti Jilid 25

 
Jilid 25

Ketika tangannya meraba di belakang telinga Pek leng siancu So Bwe leng, terasa olehnya kulit disana halus dan lembut ternyata tidak menunjukkan pertanda kalau mengenakan topeng kulit manusia

Bukti itu membuat sang pemuda tak bisa menahan diri lagi, segera dipeluknya Pek leng siancu So Bwe leng kencang kencang dan serunya dengan amat pedih :

“Adik Leng! Oooh kau benar benar adik Leng! Kau benar

benar adalah adik Leng!”

Tiba tiba dia mendekap tubuh Pek leng siancu So Bwe leng kencang kencang, setelah itu serunya sambil menangis tersedu sedu

:

“Oooh Thian! Sebetulnya aku Thi Eng khi telah melakukan perbuatan apa ?”

Sementara itu kesadaran Pek leng siancu So Bwe leng telah menjadi terang kembali, dari nada pembicaraan Thi Eng khi, diapun mendengar kalau anak muda itu telah menaruh kesalahan paham terhadapnya, diam diam ia menjadi menyesal, ia merasa gurauan yang dilakukannya selama ini sesungguhnya kelewat batas.

Kalau nasi sudah menjadi bubur, menyesal pun tak ada gunanya, sekarang apa yang bisa digunakan olehnya hanya memberitahukan kepada pemuda itu bahwasannya dia benar benar Pek leng siancu So Bwe leng pribadi.

Sambil menggerakkan tubuhnya, ia pun berbisik : “Engkoh Eng, peluklah aku erat erat!”

Thi Eng khi segera memeluk Pek leng siancu So Bwe leng kencang kencang .... Kembali Pek leng siancu So Bwe leng berkata :

“Engkoh Eng, pada mulanya apakah kau mengira aku bukan adik Leng mu ?”

Thi Eng khi menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya dengan wajah bingung :

“Aku tidak tahu!”

Apa yang sebenarnya dimaksudkan dengan perkataan itu? Dia sendiripun tidak tahu, sebab ia sudah tidak mempunyai rasa percaya lagi pada alam sekitarnya.

“Engkoh Eng, tempelkan telingamu kemari!” bisik Pek leng siancu So Bwe leng kemudian sambil menyusupkan badannya ke dalam pelukan hangat Thi Eng khi. Anak muda itu segera menunduk.

“Perkataan apa yang hendak kau katakan?” sahutnya.

Pek leng siancu So Bwe leng mendongakkan kepalanya, tapi sebelum berbicara mukanya sudah merah lebih dulu. Thi Eng khi mengira itulah pertanda saat terakhir gadis itu sudah tiba, buru buru ia menempelkan telapak tangannya ke atas dada So Bwe leng, kemudian menyalurkan hawa murninya kedalam tubuh gadis itu.

Setelah itulah ia baru bertanya :

“Apa yang hendak kau katakan?”

Pek leng siancu So Bwe leng memejamkan matanya seperti lagi mengenang kembali kejadian lama, setelah itu dia baru tersenyum dan berkata dengan nada malu malu :

“Suatu hari ..... suatu tengah malam, di     dibawah sinar

rembulan, aku .... aku telah mencubit sekali pa....pahamu    masih

..... masih ingat   ”

Thi Eng khi menjadi amat pedih hatinya sesudah mendengar perkataan itu, tanpa terasa dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya. Padahal sekalipun So Bwe leng tidak mengungkap kejadian itu, ia sudah percaya kalau gadis yang berada dalam pelukannya adalah Pek leng siancu So Bwe leng yang asli.

Apalagi setelah gadis itu menyinggung kembali kenangan manis yang pernah mereka alami bersama dulu, anak muda tersebut tak sanggup mengendalikan diri lagi, ia benar benar amat terharu.

Tatkala titik air mata jatuh bercucuran membasahi wajah So Bwe leng, dengan terkesiap gadis itu menengadah.

“Engkoh Eng, kau menangis?” tegurnya.

Thi Eng khi segera berpaling kearah lain, diam diam ia menyeka air matanya, kemudian sambil tertawa paksa ujarnya :

“Adik Leng, kau jangan sembarangan bicara, siapa bilang aku sedang menangis?”

“Engkoh Eng, jangan membohongi aku, aku mengerti hidupku tak lama lagi...”

Ucapan gadis tersebut diutarakan dengan nada datar, tenang dan sama sekali tanpa emosi. Sesungguhnya luka yang diderita Pek leng siancu So Bwe leng sekarang bukannya sama sekali tak tertolong lagi, seandainya Thi Eng khi masih mempunyai sebutir pil Toh mia kim wan dari Thian liong pay, niscaya jiwa gadis itu akan tertolong.

Namun sisa empat butir Toh mia kim wan yang dimiliki Thi Eng khi sudah habis terpakai, meskipun ilmu pertabibannya lihay dan di dunia ini masih terdapat bahan obat obatan lainnya yang dapat menyembuhkan luka parah yang diderita Pek leng siancu So Bwe leng, namun nyawa Pek leng siancu So Bwe leng sekarang sudah berada di ujung tanduk, lagipula bahan obat obatan tersebut sukar diperolah, kenyataan tersebut membuat anak muda itu menjadi kehabisan daya.

Teringat soal obat obatan, Thi Eng khi segera teringat kembali dengan gua pertapaan dari Cu sim ci cu Thio Biau liong, bukankah disana tersedia berbagai macam obat obatan mujarab? Siapa tahu selembar nyawa So Bwe leng masih ada harapan untuk diselamatkan?

Berpikir sampai disitu, Thi Eng khi ingin sekali kalau bisa segera sampai di gua pertapaan Thio Biau liong. Cepat ia menunduk dan berbisik kepada gadis itu :

“Adik Leng, aku akan mengajakmu menuju ke suatu tempat, disana lukamu itu pasti akan sembuh!”

Habis berkata, dia membopong tubuh si nona dan siap menuruni tanah perbukitan itu. Sudah barang tentu Thi tan kim wan Yu Ceng hui sekalian tidak rela membiarkan Thi Eng khi pergi dari situ dengan membawa teratai emas Jit kiau kim lian tersebut, meski mereka tahu bukan tandingan anak muda tersebut, namun prinsip mati demi harta mendorong mereka untuk berbuat nekad.

Serentak ketiga orang itu menampilkan diri dan menghadang jalan pergi Thi Eng khi.

“Bocah keparat, tinggalkan teratai emas Jit kiau kim lian itu lebih dulu sebelum meninggalkan tempat ini!” bentak nenek itu keras keras.

Dalam pada itu, semua pikiran dan perhatian Thi Eng khi telah dicurahkan seratus persen diatas tubuh Pek leng siancu So Bwe leng, berbicara soal tenaga dalamnya, meski dia harus membopong So Bwe leng, juga tak akan pandang sebelah matapun terhadap ketiga orang musuhnya.

Akan tetapi, bagaimanapun juga suatu pertarungan membutuhkan waktu, dia enggan membuang waktu dengan percuma, maka timbullah niatnya untuk serahkan teratai emas Jit kiau kim lian tersebut kepada mereka bertiga, daripada menimbulkan keributan yang tak perlu.

Sebagai pemuda yang berjiwa besar, ia tidak kelewat menaruh pandangan serius terhadap benda yang ada di dunia ini. Selain daripada itu, dia pun mempunyai suatu pikiran sendiri, selama gunung nan hijau, dia tak kuatir tiada kayu bakar. Dalam anggapannya menyelamatkan jiwa So Bwe leng jauh lebih penting artinya daripada kehilangan sebuah teratai emas Jit kiau kim lian, apalagi seandainya gara gara peristiwa itu menyebabkan si nona ketimpa musibah, bukankah kejadian ini akan membuatnya menyesal sepanjang masa?

Toh hari ini teratai emas itu diserahkan kepada mereka, besok ia masih mempunyai kesempatan untuk merebutnya kembali.

Pemikiran semacam ini bukan baru sekali melintas dalam benaknya, berapa tahun berselang, dikala ia meninggalkan lukisan para jago di perkampungan Ki hian san ceng, dimana kemudian lukisan tersebut direbut oleh Huan im sin ang, anak muda ini pun berpendapat demikian.

Begitu keputusan diambil, dia lantas mengambil teratai emas Jit kiau kim lian tersebut dan siap diangsurkan kepada musuh, yang kurang hanya maksud tersebut belum diutarakan. Mendadak So Bwe leng yang berada dalam pelukannya berpekik :

“Jangan ”

Karena ucapan tersebut diutarakan kelewat buru buru, dia merasa hawa murni dalam dadanya bergolak, tak ampun darah segar mengucur keluar lewat ujung bibirnya sementara orangnya sudah jatuh tak sadarkan diri ....

Thi Eng khi paling memahami watak So Bwe leng, ia tak berani menentang keinginannya, maka tangan yang sudah diulurkan ke depan segera ditarik kembali, sepasang matanya yang tajam menggidikkan pun dialihkan ke wajah tiga orang lawannya.

Sikap penuh kewibawaan dari pemuda itu kontan mengejutkan ketiga orang lawannya sampai sampai mereka tertegun dan bergidik, tanpa disadari masing masing orang mundur selangkah ke belakang. Thi Eng khi segera menghimpun tenaganya bersiap siaga, seakan akan tidak menganggap kehadiran mereka, ia menerjang pergi dari situ dengan langkah lebar. Ternyata Thi tan kim wan Yu Ceng hui sekalian bertiga tak berani turun tangan menghadang jalan perginya. Dalam waktu singkat Thi Eng khi sudah berada beberapa kaki jauhnya dari tempat semula.

Pada saat itulah, dari depan sana meluncur datang sesosok bayangan manusia dengan kecepatan tinggi tatkala orang itu menyaksikan Pek leng siancu So Bwe leng yang berada dalam bopongan Thi Eng khi, mendadak ia menghentikan gerakan tubuhnya dan segera menghadang jalan pergi anak muda itu.

“Omitohud!” seru orang itu, “harap sicu segera membaringkan nona itu keatas tanah!”

Thi Eng khi mengalihkan sorot matanya ke depan, ternyata pendatang tersebut adalah seorang nikou tua yang berwajah segar, ketika itu dengan wajah tak senang hati ia menatap Pek leng siancu So Bwe leng yang berada dalam pelukannya dengan pandangan tajam.

Kebetulan pula Pek leng siancu So Bwe leng sedang berada dalam keadaan tak sadarkan diri, darah kental meleleh menodai ujung bibirnya, keadaan yang sangat mengenaskan itu kontan saja menimbulkan kobaran hawa amarah dalam dada nikou tua itu.

“Nona So yang berada dalam pelukanmu itu terluka ditangan siapa?” segera tegurnya dingin.

Tentu saja pertanyaan itu ditujukan kepada Thi Eng khi, akan tetapi Thi tan kim wan Yu Ceng hui segera memburu kemuka, dia menjura lebih dulu kepada nikou tua itu, lalu berseru :

“Sinni, tepat sekali kedatanganmu, nona ini terluka ditangan bocah keparat tersebut.”

Nikou itu segera berpaling kembali kearah Thi Eng khi, setelah itu bentaknya :

“Betulkah apa yang diucapkan Yu sicu itu?”

Kalau didengar dari nada pembicaraan mereka, tampaknya nikou tua itu sudah lama kenal dengan Thi tan kim wan Yu Ceng hui. Sebenarnya Thi Eng khi tergesa gesa hendak berlalu dari situ karena dia kuatir luka yang diderita Pek leng siancu So Bwe leng bertambah buruk, namun mendongkol juga hatinya setelah mendengar teguran tersebut, dia segera berseru :

“Kalau nona So memang terluka ditanganku, mau apa kau?”

Nikou tua itu sama sekali tidak menyangka kalau Thi Eng khi bakal menjawab dengan ucapan sekasar itu, untuk sesaat dia menjadi tertegun. Tapi sejenak kemudian sambil tertawa keras lantaran gusar, serunya :

“Aku tahu kepandaian silat yang sauhiap miliki sangat lihay, apalagi begitu turun tangan lantas bisa melukai parah orang lain, biarlah pinni yang tak tahu diri mohon beberapa petunjuk darimu!”

“Apa salahnya jika kalian berempat maju bersama?” jengek Thi Eng khi dengan kening berkerut, “akan kusambut kalian semua!”

Ia menganggap nikou tua itu sebagai anggota komplotan dari Thi tan kim wan sekalian, sebab itu sikapnya terhadap si nikou tua sedikitpun tidak sungkan sungkan. Nikou tua itu merupakan seorang tokoh silat yang berkedudukan tinggi, belum pernah ada orang bersikap begitu kurang ajar kepadanya, sambil tertawa dingin ia lantas berseru :

“Besar amat caramu berbicara, sayang kau telah salah melihat orang, pinni tak akan sungkan sungkan lagi kepadamu.”

Seusai berkata, segera bentaknya :

“Cepat baringkan nona So keatas tanah, kemudian datang menyambut kematianmu!”

“Membaringkan nona So ke atas tanah atau tidak merupakan urusan pribadiku sendiri, bila kau ingin turun tangan, silahkan saja segera turun tangan!”

Nikou tua itu benar benar dibikin gusar hingga sepasang alis matanya berkenyit, sepasang telapak tangannya disiapkan, begitu melangkah kemuka, dengan jurus Yau koh thian bun (mengetuk pintu langit dari jauh) ia melepaskan sebuah serangan dahsyat. Segulung angin pukulan yang maha dahsyat langsung menerjang kearah batok kepala Thi Eng khi.

“Sebuah serangan yang bagus!” seru Thi Eng khi.

Lengan kanannya diayunkan pula ke depan, dengan jurus Tiu juang wang gwat (mendorong jendela melihat rembulan) telapak tangannya didorong keatas melepaskan pula sebuah pukulan.

Berhubung Thi Eng khi harus membopong tubuh seseorang dalam pelukannya, maka dia bermaksud untuk menyelesaikan pertarungan itu secepatnya, tak heran kalau begitu turun tangan, dia telah menggunakan tenaganya sebesar delapan bagian.

Begitu sepasang telapak tangan saling bertemu, terjadilah ledakan keras yang menimbulkan desingan angin berpusing yang membumbung tinggi ke angkasa. Akibatnya nikou tua itu terdorong mundur sejauh lima langkah, sebaliknya Thi Eng khi sama sekali tidak bergeming.

Tak terlukiskan rasa kaget nikou tua itu menghadapi kenyataan yang berada di depan mata, tanpa terasa tegurnya :

“Siapa kau?”

“Aku adalah Thi Eng khi, ciangbunjin dari Thian liong pay!”

Nikou tua itu nampak agak tertegun, keningnya kembali berkerut kencang ......

Kebetulan So Bwe leng yang berada dalam bopongan Thi Eng khi sadar kembali dari pingsannya setelah terkena pengaruh benturan angin pukulan kedua orang itu, sambil menengadah memandang wajah pemuda itu, serunya :

“Engkoh Eng, kau sedang bertarung melawan siapa?” “Dengan seorang nikou tua yang tak tahu diri.”

Pek leng siancu So Bwe leng segera berpaling, begitu melihat wajah nikou tua itu, segera jeritnya tertahan :

“Oooh suhu suhu!” Jeritan So Bwe leng itu segera membangkitkan semangat nikou tua itu untuk melindungi muridnya, tanpa menggubris kelihayan dari Thi Eng khi lagi, ia menubruk kembali dari arah depan sambil serunya penuh kegusaran :

“Jika kau tidak menurunkan kembali anak Leng, pinni akan beradu jiwa denganmu!”

Walaupun ia tidak memperhatikan hubungan antara Thi Eng khi dengan So Bwe leng namun Thi Eng khi sudah tahu kalau nikou tua yang berada di hadapannya adalah guru gadis itu, tentu saja dia segan untuk melanjutkan pertarungan itu.

Dengan menggunakan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im, dengan cekatan si anak muda itu menghindarkan diri dari ancaman nikou tua tersebut, buru buru serunya :

“Locianpwe, kau salah paham, harap dengarkan dulu penjelasan boanpwe !”

Bersamaan itu pula, Pek leng siancu So Bwe leng juga berteriak keras :

“Suhu! Oooh suhu! Engkoh Eng adalah orang sendiri, kau tak

boleh melukainya.”

Sekarang nikou tua itu baru percaya kalau ia sudah menaruh prasangka jelek terhadap pemuda tersebut, padahal kejadian mana hanya suatu kesalahan paham belaka, serentak dia menarik kembali serangannya sambil mundur ke belakang.

“Sesungguhnya apa yang telah terjadi?” Tanyanya kemudian kebingungan.

So Bwe leng tidak langsung menjawab pertanyaan gurunya, melainkan berbisik kepada Thi Eng khi :

“Cepat mohon maaf kepada guruku!” “Siapa sih gurumu ini?”

“Kau belum pernah mendengar tentang Sam ku sinni?” “Oooh ! Rupanya dia orang tua!” Thi Eng khi manggut manggut

dengan wajah serius.

Perlu diketahui, Sam ku sinni dan Sim ji sinni disebut orang sebagai Siang hiap sinni (sepasang pendekar nikou), kedudukannya amat tinggi didalam dunia persilatan, selama ini Thi Eng khi hanya pernah mendengar namanya, tak kenal orangnya, itulah sebabnya ia telah bersikap kurang sopan terhadapnya tadi.

Dengan cepat, ia maju kedepan dengan langkah lebar, masih tetap membopong tubuh Pek leng siancu So Bwe leng, dengan wajah merah padam karena jengah, serunya kepada Sam ku sinni :

“Berhubung boanpwe sangat menguatirkan keselamatan dari adik Leng hingga perasaan tegang menyelimuti diriku, akibatnya boanpwe telah bersikap kurang hormat kepada sinni barusan. Harap locianpwe sudi memandang diatas wajah adik Leng dan memaafkan kesalahanku tadi.”

Sam ku sinni memperhatikan Thi Eng khi beberapa saat lamanya, mendadak ia menghela napas panjang.

“Aaai. , ombak belakang sungai Tiangkang mendorong ombak

didepannya, orang baru memang harus menggantikan orang lama, sauhiap! Sempurna amat tenaga dalammu!”

Kemudian sambil mengulurkan tangannya menyambut tubuh Pek leng siancu So Bwe leng, ia menambahkan :

“Sebenarnya apa yang terjadi? Sungguh bikin sinni kebingungan setengah mati.”

Di bawah persetujuan Pek leng siancu So Bwe leng, Thi Eng khi segera menuturkan apa yang barusan terjadi hingga dia salah melukai gadis tersebut, sebagai akhir kata dia menambahkan :

“Setelah boanpwe salah melukai adik Leng, sebenarnya aku bermaksud berangkat meninggalkan tempat ini untuk mengobati lukanya, tak nyana locianpwe telah datang.” Tiba tiba Sam ku sinni memperhatikan sekejap teratai emas Jit kiau kim lian yang berada di tangan Thi Eng khi lalu ujarnya :

“Tak usap kuatir sauhiap, luka anak Leng serahkan saja kepada pinni !”

“Omitohud,” bayangan manusia kembali berkelebat lewat, Ci kong taysu dari Siau lim si beserta ke lima orang sutenya telah melayang datang ke tengah arena. Begitu menyaksikan kehadiran Sam ku sinni di sana, Ci kong taysu segera merangkap tangannya memberi hormat seraya berkata :

“Terima kasih banyak atas kebaikan budi sinni dan Thi ciangbunjin yang telah membantu partai kami untuk merebut kembali teratai emas Jit kiau kim lian!”

Sembari berkata sepasang matanya yang lembut dan halus dialihkan ke atas teratai emas Jit kiau kim lian yang berada dalam genggaman Thi Eng khi ....

Dalam pada itu, Thi tan kim wan Yu Ceng hui sekalian entah sejak kapan telah ngeloyor pergi secara diam diam.

“Ucapan taysu kelewat serius,” Thi Eng khi membalas hormat sambil tertawa. “Teratai emas Jit kiau kim lian berada di sini, harap taysu sudi menerimanya kembali.”

Dengan membawa teratai emas Jit kiau kim lian tersebut, ia berjalan menghampiri Ci kong taysu. Dengan serius pula, Ci kong taysu menyambut benda mestika tadi. Ci wan taysu yang berada di belakangnya segera menyelinap kedepan dan menerima pula mestika itu dari tangan ketuanya. Ci tin taysu, Ci san taysu, Ci bi taysu dan Ci sin taysu serentak berdiri diempat penjuru dan melindungi Ci wan taysu.

Ci wan taysu yang membawa teratai emas Jit kiau kim lian tak dapat memberi hormat kepada Thi Eng khi untuk menyampaikan rasa terima kasihnya, akan tetapi air matanya telah jatuh bercucuran karena terharu.... Perlu diketahui, teratai emas Jit kiau kim lian hilang sewaktu berada di tangannya, bila benda mestika ini tidak berhasil ditemukan kembali, maka dia akan menjadi orang yang paling berdosa dalam perguruannya, bisa dibayangkan betapa terharu dan terima kasihnya pendeta ini terhadap Thi Eng khi.

Namun, kalau berbicara yang sesungguhnya, teratai emas Jit kiau kim lian itu berhasil dirampas oleh Pek leng siancu So Bwe leng dari tangan pencuri sakti Go Jit hingga jasa yang sebetulnya tidak berada di tangan Thi Eng khi.

Di bawah sorot mata para pendeta dari Siau lim si yang diliputi rasa haru dan terima kasih, Thi Eng khi merasa amat tak tenang hatinya. Selembar wajahnya turut berubah menjadi merah padam karena jengah, buru buru ia berseru :

“Berbicara sebetulnya, teratai emas Jit kiau kim lian partai anda sebetulnya direbut kembali oleh Pek leng siancu So Bwe leng, murid dari Sinni ini, sedang aku sendiri sama sekali tidak membuat pahala apa-apa.”

Seusai berkata, ia lantas memperkenalkan Pek leng siancu So Bwe leng kepada Ci kong taysu. Setelah mendengar penjelasan Thi Eng khi, Ci kong taysu serta kelima orang sutenya bersama sama mengalihkan sorot matanya ke wajah Pek leng siancu So Bwe leng.

Luka yang diderita Pek leng siancu So Bwe leng sangat parah, waktu itu dia sedang bersandar dalam pelukan Sam ku sinni dengan napas yang sangat lemah, kematian sudah berada di ambang pintu.

Ci kong taysu sekalian merupakan jago jago persilatan yang berilmu tinggi, dalam sekilas pandangan saja mereka dapat melihat kalau keselamatan jiwa Pek leng siancu So Bwe leng berada di ujung tanduk, tak terlukiskan rasa kaget mereka serentak menegur :

“Apakah nona So menderita luka parah?”

Sam ku sinni menghela napas panjang :

“Aaaai. isi perut muridku sudah bergeser dari tempatnya,

nadinya sudah putus sebagian, kecuali aaai.“ Agaknya dia merasa kurang leluasa untuk melanjutkan perkataan selanjutnya, maka setelah menghela napas dia menghentikan perkataan selanjutnya.

Tujuan Thi Eng khi semula adalah mengajak Pek leng siancu So Bwe leng menuju ke gua pertapaan Cu sim ci cu Thio Biau liong untuk beradu nasib. Setelah terjadi peristiwa mana banyak waktu sudah terbuang lagi dengan percuma, maka begitu Sam ku sinni menyinggung kembali, dia semakin gelisah lagi, buru buru ia meminta gadis tersebut dari bopongan gurunya.

Namun Sam ku sinni segera menggelengkan kepalanya sembari berkata :

“Bocah ini mengenaskan sekali nasibnya, biarkanlah dia berbaring dalam pelukanku dengan tenang!”

“Tapi boanpwe hendak menghantar adik Leng menuju ke bukit Bu gi san untuk mencari penyembuhan harap locianpwe suka menyerahkan kembali adik Leng kepada boanpwe!” seru Thi Eng khi lagi dengan gelisah.

“Apakah kau hendak mencari Sim ji sinni?” “Tidak, boanpwe mempunyai tujuan tempat lain!”

“Tahukah kau berapa jauhkah jarak dari tempat ini sampai ke bukit Bu gi san?“

Thi Eng khi agak tertegun setelah mendengar perkataan itu, sahutnya kemudian :

“Sekarang jaraknya ribuan li dari sini, boanpwe percaya suatu ketika pasti akan sampai juga di tempat tujuan.”

“Apakah anak Leng bisa selamat dari hari ini?” kembali Sam ku sinni bertanya.

Thi Eng khi merasa hatinya gugup sekali, dengan perasaan bingung dan tanpa berpikir panjang lagi, dia berseru : “Boanpwe akan berusaha dengan sekuat tenaga mungkin perjalananku akan lebih cepat dua jam lagi!”

Thi Eng khi berbicara menurut kemampuan yang dimilikinya, namun setelah masuk ke telinga orang, mereka segera memperlihatkan perasaan tidak percaya. Perlu diketahui, bagi orang awam biasa jarak sejauh ribuan li hanya bisa dicapai setelah melakukan perjalanan selama setengah bulan lamanya. Bagi jago lihay dari dunia persilatan, kendatipun sudah mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, paling tidak mereka pun membutuhkan waktu selama empat lima hari.

Bukankah ucapan dari Thi Eng khi barusan kelewat dibesar besarkan? Sam ku sinni adalah satu satunya orang yang sama sekali tdiak memperlihatkan rasa kaget atau tercengang, dengan sikap yang amat tenang, dia berkata :

“Pinni sudah mengetahui kalau tenaga dalam yang sauhiap miliki sangat tangguh, bahkan boleh dibilang merupakan tokoh yang termasyur dalam dunia persilatan, ditambah pula ilmu gerakan Hu kong keng im dari Bu im sin hong Kian Kim siang, pinni percaya percaya kau memiliki kecepatan gerak seperti apa yang kau ucapkan, namun sayangnya nyawa anak Leng sukar untuk diperpanjang dua jam lagi. Kendatipun kau bisa menempuh perjalanan dengan kecepatan luar biasa, juga tak ada kegunaannya dalam persoalan ini!”

Sam ku sinni tak malu disebut jagoan lihay masa kini, hanya dalam sekali bentrokan saja, ia sudah mengetahui sampai dimanakah taraf tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi, bahkan dari gerakan tubuhnya, ia pun dapat melihat kalau ilmu gerakan tubuh yang dipakai pemuda tersebut adalah Hu kong keng im, ajaran Bu im sin hong Kian Kim siang.

Begitu ucapan tersebut diutarakan, serentak semua orang dibikin amat terperanjat. Bahkan Thi Eng khi sendiripun merasa sangat kagum sekali atas ketajaman matanya untuk menilai kepandaian yang digunakan. Karena tidak bisa menjawab, maka diapun membungkam. Sementara itu, paras muka ketua Siau lim si Ci kong taysu telah berubah beberapa kali, akhirnya dengan wajah serius dia berkata :

“Sinni cianpwe, untuk sementara waktu boanpwe ingin mohon diri lebih dahulu!”

“Silahkan taysu!” sahut Sam ku sinni sambil tersenyum. Ci kong taysu segera mengebaskan ujung bajunya, lalu kepada Ci wan taysu sekalian berlima, ia berseru :

“Sute berlima, kemarilah! Aku ada persoalan yang hendak dirundingkan dengan dirimu!”

Enam orang pendeta itu melayang turun meninggalkan bukit tersebut dan akhirnya lenyap di balik hutan sana. Sepeninggal ke enam orang pendeta itu, dengan perasaan yang tak tenang Thi Eng khi segera berkata :

“Locianpwe, bagaimanakah pendapatmu tentang luka yang diderita adik Leng …? Barusan, bukankah kau orang tua mengatakan kalau urusan itu akan kau tanggung?”

“Bila kesempatan tidak tersedia, pinni pun tak bisa berbuat apa apa, untuk menolong anak Leng, kita harus melihat dulu kebesaran jiwa ketua Siau lim si.”

Thi Eng khi termenung beberapa saat lamanya, kemudian dengan kening berkerut, ia menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Sungguh menyesal, boanpwe tidak dapat memahami maksud dari ucapan locianpwe itu.”

“Apa yang pinni ucapkan adalah suatu kenyataan, sebentar kau bakal tahu sendiri.”

Karena nikou tua itu sudah berkata begitu, Thi Eng khi agak sungkan untuk bertanya lebih jauh, namun setelah ditunggunya selama sepertanak nasi lamanya, selain merasa membuang waktu dengan percuma, tiada sesuatu apa pun yang terjadi.

Ia tak habis mengerti penantian semacam ini bisa memberi bantuan apa terhadap keselamatan Pek leng siancu So Bwe leng? Thi Eng khi menjadi gelisah sekali seperti semut dalam kuali panas, dia berjalan bolak balik tanpa tujuan, main berjalan makin cepat hingga seperti orang gila saja. Beberapa kali dia ingin mengerahkan ilmu tenaga dalamnya untuk menyadap pembicaraan Ci kong taysu sekalian, dia ingin mencari tahu persoalan apakah yang sedang mereka rundingkan, apa sebabnya dia belum juga kembali ….”

Akan tetapi, sebagai manusia yang jujur, dia merasa perbuatannya itu memalukan sekali, sehingga dia menahan diri dan tak berani melakukan perbuatan tersebut. Sementara itu, paras muka Sam ku sinni juga diliputi oleh kemurungan, tiada hentinya dia menengok ke bawah bukit sana.

Setengah harian lamanya kembali sudah lewat. Thi Eng khi sudah hampair gila saking gelisahnya, mendadak serunya dengan suara lantang :

“Boanpwe tak dapat menunggu lebih lama lagi, lebih baik kita membawa adik Leng pergi ke bukit Bu gi san saja!”

Tiba tiba sikap murung yang semula menyelimuti wajah Sam ku sinni segera berubah menjadi cerah kembali, serunya cepat :

“Coba kau lihat, bukankah mereka telah kembali? Lagipula wajah mereka nampak amat saleh, sudah pasti nyawa anak Leng bakal tertolong.”

Belum selesai dia berkata Ci kong tasyu ketua dari Siau lim si dengan membawa kelima orang sutenya telah muncul kembali disitu. Dengan sekuat tenaga Thi Eng khi segera berusaha menahan diri.

Dengan wajah amat serius, Ci kong taysu tersenyum, sesudah merangkap tanganya di depan dada ia berkata :

“Pinceng mewakili ratusan anggota Siau lim si cabang Phu thian mohon kepada sinni , Thi ciangbunjin dan nona So berkunjung ke kuil kami, kami akan berusaha untuk mengobati luka yang diderita nona So!” Dengan perasaan terkejut, Thi Eng khi membelalakkan matanya lebar lebar saking tercengangnya, dia sampai lupa memberi hormat, serunya keras keras :

“Maksud taysu, kau dapat menyembuhkan luka yang diderita nona So ?”

“Dalam kuil kami terdapat sebutir pil yang bernama Tay tham wan,” Ci kong taysu menerangkan, “kami bersedia menghadiahkan pil mestika itu untuk nona So sebagai rasa terima kasih kami atas kebaikan hati nona So yang telah merebut kembali teratai emas Jit kiau kim lian tersebut.”

Thi Eng khi tahu kalau pil Tay tham wan dari Siau lim si merupakan salah satu pil mestika di kolong langit, khasiatnya hampir sejajar dengan pil Toh mia kim wan dari Thian liong pay. Maka sambil menghembuskan napas panjang ujarnya :

“Mengapa taysu tidak mengatakan sejak tadi?”

Ucapan tersebut diutarakan dalam keadaan cemas dan sama sekali tidak bermaksud apa-apa, namun paras muka Ci kong taysu segera berubah menjadi merah padam, sikapnya agak tersipu sipu.

Sambil tertawa Sam ku sinni berkata :

“Pil Tay tham wan dari Siau lim si sudah dibuat pada ratusan tahun berselang, konon turun temurun hingga sekarang pil mestika itu hanya sisa tiga butir saja, sedangkan dalam kuil Siau lim si cabang Phu thian hanya memiliki sebutir saja, harap Thi sauhiap jangan salah paham.”

“Omitohud,” buru buru Ci kong taysu merangkap tangannya memberi hormat, “dalam kuil kami memang cuma mempunyai sebutir Tay tham wan, pil tersebut tersimpan dalam teratai emas Jit kiau kim lian, harap sinni suka membawa nona So menuju ke kuil kami dan menerima pil mestika itu.”

Thi Eng khi masih ingin bertanya lebih jauh, bukankah teratai emas Jit kiau kim lian berada di sini? Mengapa tidak segera diberikan kepadanya? Namun Sam ku sinni sudah keburu memberi tanda dengan kerdipan mata, maka dia pun mengurungkan pertanyaan tersebut.

Sam ku sinni segera membopong tubuh So Bwe leng kemudian berkata :

“Taysu rela menghadiahkan mestika kuil kalian untuk menyelamatkan jiwa anak Leng, pinni merasa berterima kasih sekali atas kebaikan kalian itu ”

Ujung bajunya berkibar, dengan membopong Pek leng siancu So Bwe leng, dia segera menuruni tanah perbukitan itu lebih dulu.

Orang persilatan yang menerima budi, biasanya mereka tak pernah mengutarakan rasa terima kasihnya dengan kata kata, melainkan menyimpannya dalam batin. Oleh karena itu, wajah mereka sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa-apa.

Begitulah, serentak mereka kembali ke kuil Siau lim si dan membaringkan Pek leng siancu So Bwe leng dalam ruangan. Dalam ruang tengah Tay hiong poo tian, kuil Siau lim si segera diselenggarakan upacara besar membuka teratai. Sekarang Thi Eng khi baru tahu apa sebabnya teratai emas Jit kiau kim lian itu tidak dibuka sembarangan tempat, ternyata mereka begitu taat dengan segala adat istiadat dan peraturan yang berlaku.

Diam diam anak muda itu menyesal juga akan perbuatannya yang bertindak tanpa berpikir panjang. Sesudah bersembayangan didepan meja pemujaan, Ci kong taysu dengan membawa teratai emas Jit kiau kim lian tersebut berjalan menuju ke sebuah ruang kecil yang sementara waktu diberikan untuk Pek leng siancu So Bwe leng.

Ruang kamar itu tidak besar, kecuali Sam ku sinni dan Thi Eng khi yang berada dalam kamar tersebut, hanya Ci kong taysu yang masuk pula ke dalam ruangan. Ci wan taysu, Ci tin taysu, Ci bi taysu dan Ci san taysu berdiri di luar ruangan sambil bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan. Dalam pada itu, Pek leng siancu So Bwe leng telah pulih kembali kesadarannya, memandang wajah Ci kong taysu dengan suara rendah dan lemah, katanya kepada Thi eng khi :

“Engkoh Eng, apakah hwesio tua ini khusus datang untuk mendoakan arwahku? Aku .... aku aku tak akan menyalahkan

kau kau tak usah sedih, enci Tin pasti akan bersikap baik

kepadamu!”

Rupanya dia telah salah paham dan mengira Ci kong taysu diundang untuk membacakan doa pemberangkatan arwahnya kealam baka. Kecut rasanya perasaan Thi Eng khi setelah mendengar perkataan itu, sambil menggenggam tangan Pek leng siancu kencang kencang, serunya :

“Adik Leng, harap kau jangan sembarangan berbicara, taysu ini datang untuk menyembuhkan lukamu!”

Sesungguhnya Pek leng siancu So Bwe leng pun tak ingin mati dengan begitu saja, semangatnya segera berkobar setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan wajah berseri :

“Sungguhkah itu?”

“Harap li sicu tenangkan hatimu,” ujar Ci kong taysu pula serius, “pinceng khusus datang kemari untuk menghantar obat bagimu!”

Sembari berkata, jari kelingking tangan kirinya yang memegang dasar teratai emas itu mendadak ditekannya ke dasar teratai dengan tenaga Kim kong cinya yang sakti hingga melesak sedalam lima hun, sementara tangan kanannya pelan pelan menekan diatas keempat lebar putik teratai itu kebawah, kemudian mengembalikan lagi keempat lebar putik teratai tadi ke posisi semula.

Cara semacam itu dilakukan sebanyak tiga kali, akhirnya dia baru menggengam teratai emas tersebut erat erat menggunakan jari kelingking menekan lagi dasar teratai dengan ilmu kim kiong cinya hingga melesak sedalam lima hun lagi.

“Kraaakkk !” diiringi bunyi nyaring, putik teratai emas itu

mendadak merekah dan terbelah. “Omitohud!” Ci kong tasyu segera berbisik , “harap siau sicu membuka mulut lebar lebar!”

Sembari berkata dia mengarahkan bagian teratai emas yang merekah tadi kearah mulur Pek leng siancu So Bwe leng, kemudian hawa murninya dikerahkan kedepan, serentetan cahaya putih langsung meluncur keluar dari balik putik bunga dan menyusup kemulut si nona.

Akan tetapi Ci kong taysu yang menyaksikan benda yang meluncur keluar ternyata adalah cahaya putih, dia segera merasakan sesuatu yang tak beres, dengan cepat teriaknya :

“Aduh celaka!”

Saking kagetnya, dia menjadi gugup dan kelabakan setengah mati, untuk sesaat dia tak tahu apa yang harus dilakukan. Thi Eng khi memiliki pengetahuan ilmu pertabiban yang sangat lihay, pengetahuannya tentang obat obatan jauh melebihi orang lain, sudah barang tentu dia pun mengetahui seharusnya berwarna apakah pil Tay tham wan tersebut.

Begitu menyaksikan cahaya putih yang memancar keluar dari balik putik teratai, ia segera menyadari apa gerangan yang telah terjadi. Sebagai seorang jagoan yang berilmu tinggi dan bermata tajam, sebelum Ci kong taysu sempat menjerit kaget, telapak tangannya sudah diayunkan kedepan menghadang didepan mulut So Bwe leng.

Walaupun cahaya putih itu meluncur keluar dengan kecepatan luar biasa, nyatanya toh terlambat setindak, benda itu segera menusuk di atas telapak tangan Thi Eng khi, tanpa sempat melukai Pek leng siancu So Bwe leng.

Thi Eng khi segera kesakitan sampai keningnya berkerut, ternyata cahaya putih itu merupakan sebatang paku pendek sepanjang satu inci yang terbuat dari besi baja, mempunyai kegunaan khusus untuk mematahkan perlindungan hawa khikang orang, hebatnya bukan kepalang. Akan tetapi, anak muda tersebut tak sempat menggubris luka yang dideritanya lagi, dia segera maju ke depan, tangan kanannya menyambar ke muka dan mencengkeram bahu Ci kong taysu, bentaknya keras keras :

“Hwesio gundul, sungguh keji hatimu, kalau kau tidak bersedia memberikan pil Tay tham wan tersebut, yaa sudahlah! Mengapa kau begitu tega hendak mencelakai jiwanya?”

Dengan tenaga sebesar lima bagian dia segera menekan bahu pendeta tersebut, membuat Ci kong taysu tak sanggup menahan diri dan mundur sejauh tiga langkah.

“Kraaak... ” persendian tulangnya berbunyi nyaring dan terlepas dari engselnya, kontan saja Ci kong taysu menjerit kesakitan.

Bagaimanapun juga dia memang tak malu menjadi ketua kuil Siau lim si cabang Phu thian, setelah menjerit keras, ia segera mengendalikan diri dengan sekuat tenaga, ujarnya dengan suara lembur :

“Harap sauhiap jangan salah paham, pinceng sama sekali tak berniat mencelakai orang!”

Sesungguhnya tindakan yang dilakukan oleh Thi Eng khi itu hanya terdorong perasaan hatinya yang amat gelisah, padahal dia cukup memahami perasaan orang. Dengan cepat dia merasa kalau tindakannya kelewat gegabah, dengan cepat ia cengkeram lengan Ci kong taysu dan mendorongnya ke depan, tulang yang terlepas dari engselnya tadi dengan cepat tersambung kembali.

Kemudian sambil melejit ke depan pintu dan menghadang jalan pergi orang, serunya :

“Aku berharap taysu suka memberi keadilan buat kami!”

Ci kong taysu merasa kebingungan setengah mati, peristiwa tersebut benar benar diluar dugaannya sehingga untuk sesaat dia tak tahu apa yang mesti diucapkan. Sementara itu, Ci wan taysu yang berada di luar pintu telah melompat mendekat sesudah mendengar suara ribut ribut didalam kamar, segera tegurnya :

“Thi ciangbunjin, ada sesuatu yang tak beres?” “Hmmm, lebih baik tanyakan sendiri kepada hongtiang kalian!” sahut Thi Eng khi dingin.

Dia menyingkir ke samping dan memberi jalan lewat buat Ci wan taysu memasuki ruangan. Begitu masuk kedalam ruangan Ci wan taysu segera dapat merasakan suasana yang tak beres disitu, terkesiap hatinya, dengan perasaan tak habis mengerti, dia menegur

:

“Hongtiang. ”

Ci kong taysu mengulapkan tangannya mencegah dia berbicara lebih jauh, tukasnya :

“Undang keempat sute masuk kedalam kemari!”

Thi Eng khi memang tak memandang sebelah matapun terhadap pendeta pendeta dari Siau lim si, sambil tertawa dingin, ia berseru :

“Suruh saja mereka masuk semua, memang lebih baik begitu!”

Ia membiarkan keempat pendeta yang berada di luar kamar itu masuk kedalam ruangan, sedang dia sendiri tetap berjaga di depan pintu. Dengan perasaan bimbang dan tak habis mengerti, Ci kong taysu segera menuturkan semua peristiwa yang telah terjadi. Ci wan taysu sekalian berlima menjadi tertegun, jelas mereka nampak terkejut sekali.

Seandainya mereka berlima benar benar tidak mengetahui duduk persoalan yang sesungguhnya, memang sulit menyuruh mereka memperlihatkan sikap yang bersamaan. Pengalaman Thi Eng khi dalam dunia persilatan masih amat cetek, dia tak dapat menemukan hal tersebut secara jitu, berbeda dengan sekali dengan Sam ku sinni yang sudah banyak pengalaman. Begitu melihat paras muka kawanan pendeta tersebut, ia segera tahu kalau mereka memang benar benar tidak mengetahui akan kejadian yang sebenarnya.

Kepad Thi Eng khi, segera ujarnya :

“Asal anak Leng sehat walfiat, Thi sauhiap juga tak perlu mengumbar emosi, budi atau dendam suatu ketika toh akan menjadi jelas dengan sendirinya, lebih baik tenangkan dulu hatimu sekarang, emosi tidak akan membantu duduk persoalan!” Thi Eng khi sendiri sesungguhnya adalah seorang yang amat cerdik, dorongan emosi lah yang membuatnya terburu napsu, maka begitu pikirannya menjadi tenang, ia lantas berjalan kembali ke sisi Pek leng siancu So Bwe leng, sementara paku kecil tadi masih tetap menancap diatas telapak tangannya.

Dalam kenyataan, Thi Eng dibikin sibuk oleh berapa kejadian yang kemudian menyusul, tentu saja ia tak sempat untuk mencabut paku itu. Memandang paku kecil yang menancap diatas telapak tangannya, Thi Eng khi segera berkata kepada Sam ku sinni :

“Apakah locianpwe kenal dengan paku ini?”

Dia segera mengerahkan tenaga untuk mencabut paku kecil itu lalu disentilkan kearah Sam ku sinni. Sam ku sinni menyambutnya dan diperiksa sebentar kemudian, dengan kening berkerut dia berkata :

“Benar ini adalah Pek hou toan hun ting (paku terima putik pemutus sukma) dari Tiang pek lojin So Sen pak!”

Sembari berkata dia lantas menyerahkan paku kecil itu ketangan Ci kong taysu sekalian. Ci kong taysu sekalian memeriksanya beberapa saat, lalu menyerahkan kembali paku Pek hou toan hun ting tersebut kepada Sam ku sinni katanya :

“Pinceng pernah mendengar namun belum pernah melihatnya, harap sinni suka memberi petunjuk!”

“Walaupun paku Pek hou toan hun ting merupakan benda milik Tiang pek lojin So tayhiap, namun sejak ia termashur sampai diluar perbatasan, tak pernah kudengar ia pernah memakainya lagi, entah bagaimana keadaan yang sesungguhnya?”

Thi Eng khi merasa amat tak sabar ketika menyaksikan mereka hanya memperbincangkan soal paku Pek hou toan hun ting belaka, seakan akan keselamatan Pek leng siancu So Bwe leng sudah dilupakan sama sekali.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, dia segera berpikir : “Jangan jangan pil Tay tham wan tersebut sudah dicuri oleh pencuri sakti Go Jit.”

Makin dipikir dia merasa semakin masuk diakal, maka sembari menjura kepada Sam ku sinni, katanya :

“Harap locianpwe sudi merawat adik Leng, boanpwe akan pergi dulu, sebentar akan balik lagi kemari.”

Dengan suatu gerakan cepat, dia melompat keluar dari ruangan meninggalkan kuil Siau lim si. Dalam perjalanan pemuda itu berpendapat untuk bisa menemukan jejak Pencuri sakti Go Jit, satu satunya jalan adalah mencari ke rumah sinenek tersebut, maka dia pun berangkat ke rumah nenek tersebut.

Keadaan rumah itu masih tetap seperti sedia kala, setiap benda yang ada disitu tiada yang berubah, akan tetapi dalam ruangan itu tak nampak sesosok bayangan manusia. Sambil tertawa getir, Thi Eng khi segera berpikir :

“Betapa bodohnya orang itu, tak mungkin dia akan kembali lagi kemari, mengapa aku tidak berpikir sampai ke situ? Pikun, bodoh, aku benar benar bodoh!”

Untuk sesaat dia tak punya pegangan lagi, ia tidak tahu harus pergi kemanakah untuk mencari pencuri sakti Go Jit? Ia menjadi sangsi untuk beberapa saat lamanya, kemudian sambil mendepak depakan kakinya ke tanah dia bergumam :

“Setelah berhasil, mereka pasti melarikan diri, bila kulakukan pengejaran, siapa tahu kalau akan berhasil menyusul mereka?”

Baru saja akan meninggalkan rumah kosong itu, mendadak dari luar pintu terdengar suara seseorang menegur dengan nada yang merdu :

“Sun popo, kau orang tua berada di rumah?”

Ketika Thi Eng khi merasa suara tersebut sekan akan pernah didengarnya, dengan cepat dia menyelinap ke samping untuk menyembunyikan diri. Menyusul kemudian terdengar ada orang membuka pintu dan masuk kedalam, bahkan terdengar pula suara seorang bocah sedang berkata : “Ibu! Rumah ini tiada orang lain, kita tak usah masuk kedalam

....”

Mendadak Thi Eng khi teringat akan seseorang, tampaknya orang itu adalah Kwik toanio dan putranya. Sebenarnya dia hendak maju untuk menyongsong, namun tiba tiba pikirnya lagi :

“Sebenarnya manusia macam apakah ibu dan anak itu? Mengapa mereka kenal dengan Sun popo?”

Karena curiga, dia segera merubah niatnya semula. Dalam pada itu, Kwik toanio sudah masuk ke dalam rumah sambil melangkah kedalam, ia masih bergumam :

“Mendapat titipan orang merupakan suatu perbuatan amal, kita harus bertanggung jawab. Nak, inilah prinsip hidup seorang manusia, bukankah aku pernah mengatakan hal ini denganmu?”

Lama sekali Kwik Yun tetap membungkam, tampaknya ia tidak setuju dengan apa yang diucapkan ibunya. Terdengar Kwik toanio berkata lagi :

“Bukankah di hari hari biasa Sun popo amat menyukai dirimu?

Mengapa kau tidak mempunyai niat untuk membalas budi?”

Kwik Yun menjadi gelisah sekali, sahutnya cepat cepat : “Hmmm, siapa yang kesudian berhubungan dengan manusia

seperti itu? Hmmm. seandainya ibu tidak bilang, setelah belajar

silat maka tiada orang yang akan mengganggu kita, aku mah tak akan sudi menggubris dirinya.”

“Apalagi orang yang titip pesan kepada kita itu, Huuuuhh....

gerak geriknya mencurigakan, sudah pasti diapun bukan orang baik- baik!”

Kwik toanio menghela napas panjang.

“Aaai. kalau toh orang yang dicari tak berhasil ditemukan,

lebih baik kita pergi saja!” Begitu mendengar mereka akan pergi, Thi Eng khi tak sempat banyak berpikir lagi, dia segera menyelinap keluar dari tempat persembunyiannya dan berseru :

“Entah ada persoalan penting apakah kalian Ibu dan anak berdua datang kemari mencari Sun popo?”

Kwik toanio dan putranya sama sekali tidak menyangka kalau Thi Eng khi bakal muncul dari balik kamar, kedua duanya merasa amat terperanjat sekali, untuk setengah harian lamanya mereka sampai tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Beberapa saat kemudianm perempuan itu baru berseru tertahan : “Ooooh, rupanya Thi siangkong!”

Kwik Yun juga segera menegur dengan suara ketus : “Oooph, engkau pun kenal dengan Sun popo?”

Thi Eng khi tidak terbiasa berbicara bohong, maka dengan berterus terang katanya :

“Aku tidak kenal dia, tapi aku memang datang kemari untuk mencari dirinya.”

“Ada urusan apa kau datang mencarinya?”

Nada suaranya amat tidak bersahabat, bahkan kedengaran sekali kalau dia tidak memandang sebelah mata pun terhadap Thi Eng khi. Ditinjau dari sini, Thi Eng khi dapat melihat kalau bocah itu tidak percaya terhadap Sun popo maupun terhadap sahabat sahabatnya, ketidak sungkanan dari bocah itu terhadap dirinya pun kemungkinan besar disebabkan ia telah salah menduganya sebagai teman Sun popo.

Thi Eng khi berpikir lagi, kalau toh mereka kenal dengan Sun popo, siapa tahu dari mulut kedua orang ini bisa ditemukan suatu titik terang yang bisa dipakai untuk pelacakan?

Maka dia mengambil keputusan dalam hatinya untuk melakukan suatu penyelidikan. Maka secara ringkas dia lantas mengisahkan apa yang telah terjadi di kuil Siau lim si sehingga terpaksa ia datang ke rumah itu ....

Belum habis dia berkata, Kwik yun sudah tak tahan dan berseru : “Ibu! Benarkah kita hendak membantu mereka?”

Dengan diutarakannya perkataan itu maka tak bisa disangkal lagi bahwasannya kedatangan mereka ada sangkut pautnya dengan persoalan ini. Thi Eng khi merasakan hatinya bergetar keras, namun ia tak berani mengemukakan perasaan itu, dengan penuh pengharapan ia menantikan keputusan dari Kwik toanio.

Kwik toanio menghela napas panjang, kemudian berkata : “Aaai. ! Terlepas bagaimanakah watak Sun popo, yang jelas ia

sering membantu kami berdua untuk mengatasi kesulitan ekonomi yang kita hadapi, ia selalu melindungi dan menyayangi kami, aku tak dapat melupakan budi kebaikan orang dan menghianatinya, harap Thi siangkong dapat memahami kesulitan ini.”

Thi Eng khi merasakan hatinya dingin separuh, ia tak sanggup menyalahkan perempuan itu, sebab apa yang dikatakan memang masuk diakal. Sebab kesetiaan kawan merupakan sesuatu yang patut dikagumi oleh setiap umat persilatan, tentu saja Thi Eng khi tak dapat hanya memikirkan kepentingan sendiri.

Selain itu, dia sebagai ketua dari suatu partai besar tak ingin turun tangan terhadap perempuan dan memaksanya untuk membeberkan suatu berita. Di saat Thi Eng khi masih serba salah dibuatnya, mendadak tampak Kwik Yun berkata dengan wajah bimbang :

“Ibu! Bila kita membantu orang jahat, bukankah kitapun akan menjadi orang jahat? Ibu! Bukankah seringkali kau menerangkan bahwa kita harus bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Ananda benar benar tidak habis mengerti, dalam keadaan yang bagaimanakah kita harus membedakan mana yang benar dan mana yang salah? Dan disaat apa pula kita tidak seharusnya membedakan mana yang benar dan mana yang salah?” Lega juga perasaan Thi Eng khi sesudah mendengar pertanyaan itu, diam diam pekiknya “Sebuah pernyataan yang bagus sekali!”

Sebaliknya Kwik toanio menjadi tertegun tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

“Ayo ibu, jawablah, apakah ananda telah salah bertanya lagi?” desak Kwik Yun.

Setelah ragu ragu sejenak, akhirnya dengan wajah serius, Kwik toanio berkata :

“Nak, pertanyaanmu memang tak salah, ibulah yang tak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah!”

Kemudian dengan kepala tertunduk, ujarnya lebih jauh dengan suara amat sedih :

“Tapi kita pun tak dapat mengingkari janji, apalagi menunjukkan sikap ketidak setia kawanan!”

“Di hari hari biasa Toanio sering mendapat bantuan dan perhatian dari Sun popo, bila hari ini kau melakukan pula sedikit pekerjaan baginya, hal mana merupakan suatu tindakan yan lumrah, aku memang tidak bisa berkata apa-apa lagi,” sambung Thi Eng khi kemudian, berbicara sampai disitu, wajahnya segera diliputi rasa murung dan sedih.

“Ananda tidak habis mengerti!” sela Kwik Yun bingung.

Tampaknya ia masih tetap tidak habis mengerti oleh nasehat yang pernah diterima dari ibunya tempo hari. Melihat sikap putranya, Kwik toanio merasakan hatinya diliputi oleh kabut kemurungan, contoh salah semacam ini, kuatirnya akan mendidik bocah itu menjadi manusia yang tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, mana yang benar dan mana yang keliru.

Pada dasarnya, dia memang seorang perempuan yang bisa mengambil keputusan dengan cepat, begitu ingatan tersebut melintas dalam benaknya, dengan kening berkerut dia lantas termenung. Pikir punya pikir akhirnya peluh dingin jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, diam diam ia berpikir di hati :

“Oooh, sungguh memalukan, membedakan mana yang benar dan mana yang salah merupakan dasar dari sikap hidup seorang manusia, bila aku tak bisa membedakan mana yang betul dan mana yang salah sekarang, apa pula artinya memegang janji atau kesetiaan kawan? Tindakanku ini benar benar merupakan suatu tindakan yang tidak bisa dibenarkan, untung bocah tersebut berkata demikian, kalau tidak bukankah aku akan menjadi seorang manusia yang sangat berdosa.”

Berpikir sampai di situ, dia lantas membelai bahu Kwik Yun dan berkata dengan nada menyesal :

“Nak, ucapanmu memang benar, ibu memang tak boleh mempersoalkan sedikit budi yang pernah kuterima lantas menjadi seorang manusia yang tak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.”

Lalu denga wajah rikuh ujarnya pula kepada Thi Eng khi : “Thi siangkong, kau tak akan menertawakan diriku bukan!”

“Aaaai... perkataan macam apakah itu?” seru Thi Eng khi dengan wajah serius, “perempuan yang cerdas bijaksana seperti toanio pada hakekatnya jarang sekali kujumpai di dunia ini.”

Kwik toanio yang menyaksikan hari sudah hampir gelap segera menghela napas, katanya :

“Saat ini Sun popo sedang berada dirumahku, menunggu kamu ibu dan anak pulang ke situ!”

“Hanya dia seorang diri?” tanya Thi Eng khi dengan wajah tegang.

“Tidak, masih ada seorang lelaki tua yang berwajah suram, orang itu berada bersamanya di rumah.”

“Kalau begitu orang itu pasti si pencuri sakti Go Jit, kebetulan aku memang sedang mencari dia, terima kasih toanio.” Dengan langkah cepat dia segera memburu keluar dari pintu ruangan tersebut. Melihat anak muda itu hendak pergi, buru buru Kwik toanio berseru :

“Thi siangkong, jangan pergi dulu, aku masih ada persoalan hendak disampaikan kepadamu.”

Thi Eng khi segera berhenti di depan pintu, lalu serunya : “Toanio, kau masih ada persoalan apalagi? Sekarang aku sedang

buru buru hendak mencari si pencuri sakti Go Jit untuk menyelidiki masalah pil Tay tham wan dari Siau lim si, pil tersebut kubutuhkan untuk menolong nyawa nona So.”

“Tadi aku datang kemari dengan alasan hendak mencari Sun popo, sesungguhnya hal itu cuma alasan belaka, yang benar kami datang untuk mengambil sebuah benda milik Sun popo, seandainya pil Tay tham wan itu disimpan disitu, bukankah Thi siangkong tak usah repot repot lagi?”

Dengan cepat Thi Eng khi mengundurkan diri kembali ke dalam ruangan, serunya dengan girang :

“Terletak dimanakah benda yang hendak toanio ambil itu?

Bolehkah aku memeriksanya lebih dulu?”

Kwik toanio segera menuding kearah sebuah keranjang bobrok yang tergantung di atas dinding itu, sahutnya :

“Keranjang itulah yang hendak kuambil.”

Tatkala Thi Eng khi menyaksikan keranjang itu penuh dengan debu, seolah olah tak pernah dijamah orang, bahkan tergantung di tempat yang menyolok, dia merasa tak mungkin pil Tay tham wan itu disimpan di situ. Itulah sebabnya dia menjadi sangsi dan tidak segera mengambil keranjang yang dimaksud.

Terdengar Kwik toanio berkata lagi :

“Dari pembicaraan Sun popo dengan kakek tersebut, kudengar mereka menaruh perhatian yang serius terhadap keranjang tersebut, itulah sebabnya aku bisa berpendapat demikian. Thi siangkong, apa salahnya jika kau periksa dulu isinya?” “Perkataan toanio memang ada benarnya juga!”

Baru saja dia hendak melompat kedepan mengambil keranjang tersebut, mendadak dari luar pintu telah menyerbu masuk sesosok bayangan manusia. Begitu menerjang masuk kedalam, ia segera menghantam tubuh Kwik toanio sambil dampratnya dengan gusar :

“Perempuan rendah yang tak tahu budi, ternyata dugaanku tak salah, kau telah menghianati Lo nio!”

Kwik toa nio tidak mengerti ilmu silat, bagaimana mungkin dia sanggup menahan serangan dahsyat dari jago lihay macam Sun popo? Berada dalam keadaan demikian, Thi Eng khi lebih mengutamakan menolong orang, tanpa menggubris keranjang tersebut lagi, ia sambar tangan Kwik toanio dengan tangan kirinya dan menyeretnya ke tepi dinding, sementara telapak tangan kanannya menyambut datanganya ancaman lawan dengan jurus Wan hong tiau yang (burung menghadap matahari).

Bagaimana mungkin tenaga pukulan dari Sun popo bisa menandangi kemampuan dari Thi Eng khi?

“Blaaammmm. !” ditengah bentrokan keras yang memekikkan

telinga, tubuh nenek itu tergetar keras sampai kuda kudanya tergempur, nyaris ia jatuh terjerambab keatas tanah. Pada saat bersamaan itulah, tampak sesosok bayangan manusia menerjang kearah keranjang tersebut.

Padahal waktu itu, Thi Eng khi sedang beradu pukulan, tentu saja ia tak berkesempatan lagi untuk mengurusi pendatang tersebut.

Sekilas pandangan saja, Thi Eng khi dapat mengenali orang itu sebagai si pencuri sakti Go Jit, segera teriaknya :

“Bagus sekali kedatanganmu, aku memang sedang mencarimu!”

Dengan suatu lompatan cepat dia menubrik kearah tubuh si pencuri sakti Go Jit. Sambil tertawa dingin, Sun popo segera berseru

:

“Perempuan rendah, mampus kau hari ini!” Nenek itu tahu kalau kepandaiannya tak sanggup menandingi Thi Eng khi, tapi dia tahu kalau serangannya ini pasti akan memaksa pemuda itu memberikan pertolongannya, maka serangan yang dilancarkan kali ini tidak mempergunakan ilmu pukulan melainkan mengayunkan toyanya menghantam kepala Kwik toanio.

Serangan toya tersebut sedemikian dahsyatnya hingga membawa desingan angin serangan yang mengerikan. Dengan perasaan terkejut, Kwik Yun segera menjerit :

“Ibu!”

Dia segera menubruk ke atas tubuh Kwik toanio. Thi Eng khi merasa si pencuri sakti Go Jit pasti tak akan lolos dari serangannya itu, siapa tahu usaha mana dibikin berantakan oleh serangan toya dari Sun popo, tentu saja ia tak bisa membiarkan ibu dan anak dua orang itu mati lantaran dia, apalagi dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan kedua orang itu terancam mara bahaya.

Terdesak oleh keadaan, dia segera menghentikan gerakan tubuhnya, dengan jurus Thian ong tou ta (Raja langit menyungging pagoda) sebuah pukulan dilepaskan untuk mementalkan toya Sun popo dan menyelamatkan jiwa Kwik toanio berdua.

Sementara tubuhnya turut menyusul pula kemuka menghadang dihadapan Kwik toanio berdua, dengan sorot mata yang tajam dia mengawasi Sun popo dan pencuri sakti Gio Jit tanpa berkelip.

Posisi yang mereka berdua tempati sekarang justru merupakan sudut posisi yang teramat sulit bagi Thi Eng khi. Bila Thi Eng khi hendak menghadapi Sun popo, maka pencuri sakti Go Jit akan mempunyai kesempatan untuk melarikan diri lewat pintu.

Sebaliknya bila Thi Eng khi siap menghadapi pencuri sakti Go Jit, maka Kwik toanio berdua niscaya akan terluka di ujung toya Sun popo. Sesungguhnya Thi Eng khi memiliki kemampuan untuk membinasakan mereka berdua tapi ia tak berani sembarangan bergerak. Sebab baik jiwa Kwik toanio berdua maupun keranjang yang berisi pil Tay tham wan, kedua duanya sama pentingnya bagi sianak muda itu....

Sebaliknya pencuri sakti dan Sun popo juga tak berani sembarangan turun tangan karena mereka cukup mengetahui kelihayan dari Thi Eng khi. Maka ketiga orang itu membentuk suatu posisi yang berimbang, untuk sesaat kedua belah pihak tak berani sembarangan berkutik, mereka hanya saling menatap sambil berusaha mencari kesempatan untuk bertindak lebih dulu ....

Pada saat itulah dari luar pintu mendadak muncul seseorang.

Sebenarnya dia ingin masuk, akan tetapi setelah menyaksikan keadaan dalam ruangan tersebut, dengan cepat dia mundur lagi ke luar ruangan, kemudian serunya sambil tertawa terbahak bahak.

“Haahhh.... haaahhhh...... haaahhhh tadi kalian berdua

menyingkirkan lohu dengan akal, sekarang justru terjatuh ketangan bocah keparat ini, kejadian tersebut benar benar membuat lohu merasa gembira sekali!”

“Harap saudara Yu jangan salah paham,” pencuri sakti Go Jit segera berseru sambil tertawa getir, “kita sama sama merupakan orang yang bekerja untuk Tee kun ”