Pukulan Naga Sakti Jilid 23

 
Jilid 23

Bu im sin hong Kian Kim siang dengan wajah berseri turut berseru pula dengan lantang :

“Thi tayhiap, setelah kau datang kemari, urusan akan lebih gampang untuk diselesaikan.”

Sedangkan Sim ji sinni segera merangkapkan tangan didepan dadanya sambil berbisik :

“Omitohud Thi tayhiap tak pernah berbicara sembarangan,

pinni mohon petunjuk darimu. ”

Kemunculan Keng thian giok cu Thi Keng secara tiba tiba di puncak Sam yang hong selain berhasil menghindari meletusnya suatu pertempuran besar, bahkan membuat jantung Ciu Tin tin berdebar keras sehingga hampir saja melompat keluar dari rongga dadanya. Kakek kekasih hatinya berarti pula kakek sendiri, kalau dipikirkan kembali dia menjadi tersipu sipu malu.

Keng thian giok cu Thi Keng tidak segera menjawab perkataan dari Sim ji sinni, dia hanya tertawa kemudian mengalihkan sorot matanya yang tajam keatas wajah Ciu Tin tin. Dipandang secara begini rupa, Ciu Tin tin segera merasakan tubuhnya menjadi gatal, seperti ada beribu ekor semut yang berjalan diatas tubuhnya, ia menjadi sangat tidak tenang.

Sambil tertawa Sim ji sinni segera berseru :

“Anak Tin, mengapa kau tidak segera memberi hormat kepada Thi locianpwe?”

Ciu Tin tin semakin gugup sehingga tak berani mendongakkan kepalanya tapi dia toh maju juga dan menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat kepada Keng thian giok cu Thi Keng.

“Anak Tin menjumpai Thi yaya!” bisiknya lirih. Keng thian giok cu Thi Keng menerima penghormatan dari Ciu Tin tin tersebut, kemudian entah apa yang terjadi tahu tahu muncul segulung tenaga yang amat besar membimbing gadis itu bangun.

“Apakah ayahmu adalah Gin ih kiam kek Ciu tayhiap?” tegurnya dengan mata berkaca.

“Benar!” sahut Ciu Tin tin sambil sesenggukkan menahan isak tangisnya.

Dengan penuh kasih sayang, Keng thian giok cu Thi Keng segera membelai rambut Ciu Tin tin yang halus, katanya pelan :

“Nak, kau baik sekali!”

Ciu Tin tin segera merasakan titik air mata jatuh bercucuran dengan derasnya membasahi seluruh wajahnya, dia merasa Thi yaya ini baik sekali kepadanya. Mendadak rasa malunya lenyap tak berbekas, sembari menubruk kedalam pangkuan Keng thian giok cu Thi Keng, serunya sambil tersedu :

“Yaya, adik Eng terlalu menderita!”

Keng thian giok cu Thi Keng merasa dia telah berbuat salah kepada cucu kesayangannya, maka setelah mendengar ucapan dari Ciu Tin tin tersebut untuk sesaat lamanya dia tak sanggup untuk mengeluarkan sepatah katapun.

Berbareng itu pula, suara helaan napas segera berkumandang dari empat penjuru di sekeliling tempat itu. Tampaknya hubungan mesra antara kakek dan cucu ini, membuat Tiang pek lojin menjadi teringat kembali dengan musibah yang menimpa cucu kesayangannya Pek leng siancu So Bwe leng, dia menggelengkan kepalanya berulang kali dengan perasaan amat sedih.

Sewaktu kejadian itu diketahui oleh Keng thian giok cu Thi Keng, sambil tertawa orang tua itu segera berkata :

“Saudaraku, aku sudah pernah bersua dengan Bwe leng si bocah itu, aku amat menyukainya, kau tak usah kuatir!” Ucapan itu bermaksud ganda dan amat jelas sekali artinya, kontan saja Tiang pek lojin menjadi girang dan wajahnya kembali berseri-seri......

Kemudian pelan pelan Keng thian giok cu Thi Keng mendorong tubuh Ciu Tin tin, katanya lembut :

“Nak, berdirilah dulu di samping, yaya lupa menjawab pertanyaan dari gurumu.”

Dengan berat hati Ciu Tin tin segera meninggalkan pelukan Keng thian giok cu Thi Keng dan kembali kesisi Bu naynay, sementara sepasang matanya yang jeli dan lembut tak pernah beralih sekejappun dari tubuh kakek itu.

Paras muka Keng thian giok cu Thi Keng segera pulih kembali pada sikapnya yang perkasa seperti dulu, kepada Sim ji sinni katanya sambil tertawa :

“Sinni, kau sendiripun belum lama pulang gunung, hal ini berarti kaupun wajib untuk mencuci bersih dirimu dari segala kecurigaan.”

Sim ji sinni segera tertawa, seperti memahami sesuatu diapun segera berkata :

“Thi sicu, rupanya kaupun menganggap pinni telah takluk dan bergabung dengan Ban seng kiong?”

“Lohu pernah menyaksikan keempat tongcu muncul bersama sama dalam istana Ban seng kiong.”

“Haaaah !” perkataan itu kontan saja disambut tiga orang

lainnya dengan jeritan kaget.

Ciu Tin tin juga tak kuasa menahan diri, dengan cepat diapun menimbrung dari samping.

“Maksud yaya, ada empat orang yang berwajah mirip dengan yaya sekalian telah muncul di istana Ban seng kiong?”

Keng thian giok cu Thi Keng segera manggut manggut. “Benar! Aku menjumpai mereka berempat telah menyaru dan mencatut nama kita berempat!”

Setelah berhenti sejenak, diapun menyahut lebih jauh :

“Oleh karena itu, mau tak mau kita harus berpikir dan menduga kalau salah seorang diantara kita berempat besar kemungkinan ada yang gadungan ”

Bu im sin hong Kian Kim siang tidak percaya dengan ucapan tersebut, dengan cepat dia berseru :

“Tapi untuk mencari empat orang yang berwajah agak mirip dengan kami dan menyaru sebagai kita berempat, rasanya hal ini mustahil bisa dilakukan ”

Mendengar perkataan itu, Tiang pek lojin segera tertawa terbahak bahak.

“Haaahhhh..... haaahhhh..... haaahhhh ilmu menyaru muka

yang dimilik Huan im sin ang tiada keduanya didunia ini, jangankan baru empat orang, sekalipun seratus orang juga bukan kesulitan baginya!”

Tentu saja Bu im sin hong Kian Kim siang tidak percaya dengan kenyataan tersebut, akan tetapi setelah dijelaskan pula oleh Sim ji sinni dan Keng thian giok cu Thi Keng, dia baru tak sanggup untuk berkata apa apa lagi.

Sebagaimana diketahui, dia belum lama lolos dari kurungan, tentu saja dia pun kurang mengenal terhadap kemampuan dari Huan im sin ang untuk mengubah raut wajah, tak heran kalau rekan rekan lainnya harus berbicara banyak untuk menyakinkan dirinya.

Di dalam kenyataan, empat orang tongcu yang berada dalam istana Ban seng kiong sekarang, tak seorang pun yang asli.

Berbicara yang sebetulnya, hal mana tak lebih hanya merupakan semacam siasat keji dari Hian im Tee kun belaka.

Rupanya Hian im Tee kun selain bermaksud merusak nama besar dan kepercayaan orang terhadap pamor Keng thian giok cu sekalian berempat, diapun punya rencana busuk untuk mengadu domba kaum persilatan dari golongan lurus.

Dia menitahkan kepada Huan im sin ang untuk mempergunakan ilmu menyarunya yang lihay merubah empat orang gembong iblis anak buahnya menjadi Keng thian giok cu Thi Keng, Tiang pek lojin So Seng pak, Sim ji sinni serta Bu im sin hong Kian Kim siang.

Perbuatan ini dilakukannya dengan sangat rahasia sekali, kecuali Huan im sin ang seorang, boleh dibilang kawanan iblis lainnya tak ada yang mengetahui, bahkan mereka bergembira karena mengira keempat orang tongcu tersebut benar benar dijabat oleh Keng thian giok cu Thi Keng sekalian berempat.

Perlu diketahui, nama besar Keng thian giok cu Thi Keng di dalam dunia persilatan dewasa ini amat termashur dan jarang sekali ada yang bisa menandingi, asal keempat tokoh utama ini berhasil dibereskan, maka kawanan jago lainnya bukanlah merupakan suatu ancaman yang serius.

Tindakan yang dilakukan Hiam im Tee kun kali ini memang sangat lihay sekali, kendatipun Keng thian giok cu Thi Keng sekalian tak sampai diperalat olehnya, tapi atas tindak tanduk yang dilakukan oleh penyaru penyaru tersebut, akibatnya nama besar mereka akan rusak, umat persilatan tak akan percaya lagi kepada mereka, dan akhirnya mereka tak bisa menancapkan kaki lagi dalam dunia persilatan.

Apakah hasil dari rencana yang disusun oleh Hian im Tee kun ini bisa berhasil sukses seperti apa yang diharapkan, baiklah kita nantikan perkembangan selanjutnya.

Sementara itu, ketika Keng thian giok cu Thi Keng menyaksikan Bu im sin hong Kian Kim siang sudah mempercayai apa yang dikatakan semua orang, sambil mengangguk ia baru berkata :

“Oleh karena itu, pertama tama yang harus kita lakukan adalah bagaimana membuktikan keaslian diri sendiri kemudian baru bersama sama merundingkan cara yang terbaik untuk menanggulangi musibah tersebut.” Tiang pek lojin yang pertama tama menyanggupi usul itu paling dulu, dengan cepat serunya :

“Apa yang dikatakan toako memang benar, tapi dengan cara apakah kita membuktikan keaslian kita masing masing?”

“Omitohud” bisik Sim ji sinni, “menurut pendapat pinni, bagaimana kalau kita pergunakan ilmu silat simpanan masing masing perguruan untuk membuktikan keaslian dari diri sendiri?”

“Bagus sekali,” seru Tiang pek lojin So Seng pak dengan cepat, ”kendatipun Hiam im Tee kun bisa menyaru wajah kita namun dalam hal ilmu silat mustahil mereka bisa menirukan secara persis, terutama dalam soal kematangan, bagi mata seorang ahli hal tersebut mudah untuk membedakan mana yang asli dan mana yang palsu, pendapat dari sinni ini memang tepat sekali.”

“Sinni!” ujar Bu im sin hong Kian Kim siang kemudian, “ilmu Boan yok sinkangmu sudah mencapai puncak kesempurnaan dan bisa dipergunakan menurut jalan pikiran, dalam seratus langkah dapat melukai orang tanpa berwujud. Kami sekalian akan menggunakan kesempatan ini untuk menikmati kelihayanmu itu.”

Sim ji sinni tertawa.

“Ilmu Sian thian bu kek ji gi sinkang dari Thi sicu merupakan ilmu yang maha dahsyat di dunia ini, mengapa kita tidak minta kepadanya untuk mendemonstrasikan kelihayannya agar membuka mata kita semua?”

Keng thian giok cu Thi Keng segera berkata :

“Ilmu Kiu coan hian kang dari So lote dan ilmu gerakan Hu kong keng im dari Kian tayhiap semuanya merupakan ilmu silat utama dalam dunia persilatan, sudah sepantasnya kepandaian kepandaian yang hebat lebih dulu menunjukkan kelihayannya masa lohu berani mendahului?”

Tiang pek lojin memandang sekejap kearah Keng thian giok cu Thi Keng, kemudian ujarnya sambil tertawa : “Biarlah burung yang bodoh terbang lebih dulu, siaute akan mendemonstrasikan kejelekanku lebih dulu untuk membuka upacara ini.”

Kemudian setelah berhenti sejenak lanjutnya : “Bilamana ada kesilapan harap kalian semua jangan

menertawakan.”

Setelah itu, dia lantas berjalan menuju ke sumur Bu sim cing tersebut, kemudian sambil menghadap kemulut sumur, telapak tangannya ditekan lalu diayunkan keatas sambil membentak keras :

“Naik!“

Air sumur yang berada tiga puluh kaki dibawah permukaan tanah itu diiringi pancuran yang maha dahsyat mendadak menyembur keluar dan mencapai ketinggian beberapa kaki, seakan akan ada sebuah tonggak berwarna putih keperak perakan yang menancap di tengah sumur yang menjulang keangkasa.

Bila seseorang tidak memiliki tenaga dalam yang sudah mencapai puncak kesempurnaan, jangan harap dia bisa melakukan tindakan semacam ini.

“Bagus!“ teriak semua orang.

Belum lenyap suara tersebut, Tiang pek lojin telah mengalihkan sorot matanya yang tajam keujung tonggak air tersebut, kemudian bentaknya lagi. Tampak tonggak air yang menjulang ke angkasa itu mendadak berputar memenuhi angkasa, keadaan tersebut ibaratnya naga sakti yang sedang menari nari dengan cepatnya.

Ciri khas dari ilmu Kiu coan hian kang pun segera terlihat pada sembilan perputaran yang segera tercipta ditengah udara.

“Bagus sekali,“ tiba tiba Bu im sin hong Kian Kim siang membentak nyaring, “siaute akan memeriahkan pula acara ini!“

Tampak tubuhnya melayang ke tengah udara, sekilas pandangan nampaknya amat lamban, padahal cepatnya bagaikan sambaran kilat, tahu tahu dia sudah melayang turun di atas sembilan naga yang sedang menari itu, kemudian dengan mengandalkan hawa murninya, dia berdiri tegak di ujung tonggak air tersebut sehingga seakan akan dia menjadi kepala naga yang tersumbul keluar dari balik tonggak air.

Ilmu gerakan tubuh semacam ini nampak jauh lebih hebat setingkat bila dibandingkan dengan ilmu Leng siu poh hoat. Sim ji sinni segera berkata kepada Keng thian giok cu Thi Keng sambil tertawa :

“Demonstrasi ilmu sakti yang diperlihatkan So sicu dan Kian sicu sudah membuktikan kalau mereka memang orang yang asli.

Sekarang tiba giliran pinni untuk menunjukkan kejelekanku!”

Selesai berkata dia mengangkat tangannya sambil memuji : “Omitohud!”

Kemudian sambil memejamkan matanya, dia tidak berbicara atau bergerak, tidak nampak pula sesuatu gerakan apapun. Ciu Tin tin sampai setengah harian lamanya mengawasi gurunya dengan seksama, akan tetapi dia tak berhasil menemukan dimanakah letak kelihayan dari ilmu Boan yok sinkang tersebut. Tanpa terasa dia lantas berbisik kepada Bu naynay,

“Bu naynay, Tin ji tidak mengerti!”

Bu naynay segera menggelengkan kepalanya, jelas diapun tidak lebih bodoh daripada Ciu Tin tin. Sambil tersenyum Keng thian giok cu segera berkata :

“Sinni sedang menggunakan naga air yang sedang menari sebagai sasarannya untuk mendemonstrasikan daya kekuatannya melukai orang dari jarak jauh.”

Akan tetapi Ciu Tin tin masih saja kebingungan, jelas dia tidak berhasil melihat dimanakah letak kelihayan gurunya.

“Tin ji,” Keng thian giok cu Thi Keng segera berkata, ”tidakkah kau saksikan dibalik naga air tersebut terdapat sepotong tangkai pohon berwarna hijau?” Ciu Tin tin mengerahkan tenaganya dan harus mencari sekian lamanya sebelum berhasil menemukan sebatang ranting pohon berwarna hijau yang lima inci panjangnya sedang bergerak kian kemari mengikuti gerakan air di pinggang naga air.

Mendadak ranting pohon itu terbelah menjadi empat lalu menyusul kemudian ranting pohon yang berwarna hijau itu lambat laun berubah menjadi kuning, jelas ranting tadi sudah hampir berakhir masa hidupnya.

Menyusul kemudian suatu peristiwa aneh terjadi, ranting kuning yang semula terbelah menjadi empat itu menyatu kembali secara otomatis, sementara warna kuning yang hampir layu itu pelan pelan pulih kembali menjadi hijau segar. Sekarang Ciu Tin tin baru dapat menyaksikan kelihayan ilmu sakti gurunya yang benar benar luar biasa itu.

Keng thian giok cu Thi Keng segera berpekik nyaring, baru saja suara pekikan tersebut melengking, suaranya berubah menjadi panjang seakan akan terdapat benda yang berwujud yang ikut tergulung gulung mengikuti gelombang naga air hasil ciptaan Tiang pek lojin So Seng pak.

Naga air yang semula lincah menari nari itu, mendadak menjadi lambat laun gerakannya, gulungan dan getaran pun ikut menjadi pelan. Ternyata keng thian giok cu Thi Keng telah menggunakan ilmu sian thian bu kek ji gi sinkang yang dirubah dari irama menjadi suatu kenyataan untuk beradu kekuatan dengan Tiang pek lojin.

Cuma saja serangan itu dilancarkan sekilas lewat dan tidak mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya.

Keng thian giok cu Thi Keng berpekik nyaring kemudian tertawa terbahak bahak, serunya :

“Haaahhhh..... haaahhhh.... haaahhhh saudara So harap kau

sudi memaafkan kesilapan diriku!”

Dalam waktu singkat, langit menjadi cerah dan pelan-pelan naga air itu kembali ke dalam sumur. Keempat orang tua itu bersama sama tertawa tergelak, kemudian katanya berbareng : “Sungguh beruntung diantara kita berempat tak ada yang gadungan ”

“Selanjutnya kita harus menentukan suatu kode rahasia atau kata sandi yang menentukan asal usul kita, daripada jejak kita selanjutnya dicatut orang,” kata Keng thian giok cu Thi Keng lagi.

“Tampaknya saudara Thi sudah memikirkan semua persoalan dengan seksama, harap kau suka mengutarakan sekalian usulmu,” ucap Bu im sin hong Kian Kim siang.

Dengan mengerahkan ilmu penyampaikan suara, Keng thian giok cu Thi Keng saling bertukar pandangan dan usul, akhirnya sambil tersenyum keempat orang itu tertawa terbahak bahak, sekarang mereka tak usah kuatir lagi lagi untuk menganggap temen sebagai lawan dan menganggap lawan sebagai teman.

Terutama sekali antara Tiang pek lojin So Seng pak dengan Bu im sin hong Kian Kim siang, bila teringat kesalahan paham yang berlangsung diantara mereka tadi, tak tahan lagi kedua belah pihak saling berpandangan sambil tertawa tergelak.

Sekarang asal usul mereka berempat sudah jelas, mereka tak usah kuatir lagi terhadap lawan bicaranya. Sekali lagi Bu im sin hong Kian Kim siang mengulangi kembali kecurigaannya kalau Thi Eng khi kemungkinan besar bersembunyi di dalam gua pertapaan Thio Biau liong.

Keng thian giok cu Thi Keng termenung beberapa saat lamanya, kemudian berkata :

“Biarlah dia pergi! Untuk sementara waktu kita tak usah pergi mencarinya, sebab bila sampai begitu malah dia akan merasa dirinya tersudut ”

“Eng ji pernah bersumpah akan menyusul Leng ji kealam baka,” kata Tiang pek lojin So Seng pak dengan wajah murung, “jikalau dia tidak mengetahui kalau Leng ji masih hidup dan sampai dia menghadapi hal hal yang tidak diinginkan, bagaimana jadinya?” “Eng ji mempunyai ambisi dan cita cita yang tinggi, dia pasti akan menganggap tindakan lohu menggabungkan diri dengan Ban seng kiong merupakan suatu penghinaan yang memalukan, sebelum penghinaan ini dihapus, dia tak akan mengakhiri hidupnya dengan begitu saja, itu berarti jika dia hendak menyusul Leng ji itupun akan dilakukan di kemudian hari, atau dengan perkataan lain kita masih punya kesempatan untuk menyelamatkan jiwanya, aku rasa persoalan paling penting yang sedang kita hadapi kini adalah bagaimana menghadapi rencana keji dari Hian im Tee kun!”

Keng thian giok cu Thi Keng adalah kakek dari Thi Eng khi, setelah dia mengusulkan agar jangan mengusik Thi Eng khi, tentu saja semua orang tak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya Ciu Tin tin seorang yang sangat merindukan Thi Eng khi, dengan perasaan yang tak terkendali dia lantas berseru :

“Yaya...”

“Ada apa anak Tin?” tanya Keng thian giok cu Thi Keng.

Merah padam selembar wajah Ciu Tin tin, tentu saja apa yang menjadi rahasia hatinya tak berani dikemukakan, sahutnya :

“Mengapa kalian tidak bersama sama masuk ke dalam kuil dan merundingkan persoalan ini pelan pelan?”

Sim ji sinni segera berseru pula sambil tertawa. “Aaah, pinni benar benar kurang sopan, untung Tin ji

mengingatkan, mari mari masuk!”

Mereka semua lantas bersama sama memasuki kuil Sam sim an dan mengambil tempat duduk, setelah menghidangkan air teh, Ciu Tin tin dan Bu naynay mengundurkan diri keluar dari kuil dan berjaga di empat penjuru kuatir ada orang menyadap hasil perundingan itu. 

Kurang lebih setengah pertanak nasi kemudian, Sim ji sinni baru memanggil Ciu Tin tin dan Bu naynay untuk masuk kedalam kuil. Sementara itu, dalam kuil sudah tidak nampak Keng thian giok cu Thi Keng sekalian bertiga.

Padahal Ciu Tin tin dan Bu naynay mendapat tugas untuk melindungi sekeliling tempat itu tapi nyatanya mereka tidak mengetahui sejak kapankah ketiga orang itu meninggalkan kuil, hal mana kontan saja membuatnya menarik napas dingin, pikirnya.

“Tampaknya kepandaian kami benar benar masih ketinggalan jauh sekali.”

Sim ji sinni seperti dapat memahami suara hati Ciu Tin tin, ujarnya kemudian sambil tertawa :

“Akupun hendak turun gunung untuk melakukan perjalanan, baik baiklah kau melatih diri!”

Setelah meninggalkan sejilid kitab buat Ciu Tin tin dan meninggalkan beberapa pesan kepada Bu naynay, dia turut berangkat meninggalkan bukit itu.

Bagaimana dengan Thi Eng khi?

Berbagai persoalan yang dihadapi si anak muda cukup memberantakan perasaannya, terutama sekali setelah mendengar kalau kakek yang paling dihormati dan disayangi pun telah bergabung dengan Hiam im Tee kun dan menjabat sebagai Tongcu ruang Cing liong tong dari istana Ban seng kiong. Peristiwa ini benar benar membuatnya malu dan batinnya terpukul, tanpa bisa dikuasai lagi dia segera melarikan diri sekuat tenaga tanpa arah tujuan.

Setelah berlarian sekian waktu, dan dikala tubuhnya sudah mulai penat, kesadarannya mulai pulih kembali dan perasaannya menjadi tenang. Pelbagai penghinaan dan cemoohan yang dideritanya selama ini telah membuat anak muda tersebut lebih tabah menghadapi segala perubahan, semakin besar daya tekanan lingkungan yang menggencetnya, semakin besar pula ambisinya untuk berjuang menuju ke atas. Berdasarkan pelbagai alasan tersebut, akhirnya dia mengambil keputusan untuk balik ke dalam gua yang ditinggalkan Thio Biau liong untuk memperdalam ilmu silatnya, sebagai persiapan untuk berduel melawan melawan Hian im Tee kun dan mencuci bersih penghinaan dan rasa malu yang diberikan kakeknya Keng thian giok cu Thi Keng terhadap perguruan Thian liong pay.

Begitu keputusan diambil, dia lantas berangkat menuju ke bukit Bu gi san. Peristiwa itu terjadi sebelum Bu im sin hong Kian Kim siang sekalian bertiga mengejarnya ke bukit Bu gi san.

Siapa tahu, baru saja akan memasuki wilayah bukit Bu gi san, dia telah menjumpai suatu penghadangan lagi yang sama sekali berada di luar dugaan. Tatkala Thi Eng khi berangkat kembali ke bukit Bu gi san, hari sudah malam dan angkasa diliputi oleh kegelapan.

Dengan mengerahkan segenap tenaga yang dimiliki, dalam beberapa lompatan yang lebar, dia bergerak ke depan menembusi hembusan angin bukit yang kencang. Tenaga dalamnya memang sudah mencapai puncak kesempurnaan, gerak geriknya cepat bagaikan sambaran petir.

Dalam keadaan begitulah, mendadak dia menyaksikan dua sosok bayangan manusia sedang berjalan di depannya dengan kecepatan luar biasa......

Kalau dilihat dari gerakan tubuh mereka jelas terlihat kalau tenaga dalam yang dimiliki orang itu sangat lihay, gerak geriknya sama sekali tidak menimbulkan suara apa apa, andaikata tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi tidak memperoleh kemajuan yang pesat, mungkin sulit untuk menyusul mereka.

Thi Eng khi tidak bernapsu untuk mencampuri urusan orang lain, dia ingin melewati dari sisi mereka dan langsung naik gunung. Siapa tahu pada saat itulah, terdengar salah seorang diantara kedua orang itu berkata :

“Dalam perjalanan menuju ke kuil Siau lim si kali ini, siaute benar benar merasa kuatir bagi nama besar Pencuri sakti yang kau miliki itu, apa kau yakin pasti berhasil?” Orang kedua segera mendengus dingin.

“Hmm, Phu thian meski merupakan halaman bagian belakang dari kuil Siau lim si, aku si Pencuri sakti Go Jit masih tidak memandang sebelah mata pun terhadap mereka, yang kukuatirkan justru adalah keselamatan saudara sendiri, memancing harimau tidak berhasil malahan kena terbacok hidup hidup oleh kawanan hwesio tersebut.”

Orang pertama itu segera tertawa seram.

“Haaahhhh..... haaahhhh...... haaahhhhh aku Thi tan kim

wan (lempengan baja peluru emas) Ci Ceng lui bukan lagi mengibul. Berbicara terus terang saja, jangan toh kawanan jagonya, kendatipun Ci long siansu ciangbunjin dari kuil Siau lim si sendiripun belum tentu bisa lolos dari lempengan baja peluru emasku dengan selamat.

Sementara pembicaraan masih berlangsung mereka berbelok dan berputar arah. Ternyata mereka cuma memotong jalan dengan melalui bukit Bu gi san saja.

Thi Eng khi adalah seorang pendekar yang berjiwa besar, seandainya dia tidak mengetahui persoalan ini, tentu saja tak bisa dikatakan. Sekarang setelah tahu kalau pihak Siau lim si menghadapi kesulitan, dia menjadi tak tega untuk berpeluk tangan belaka.

Dengan cepat dia kesampingkan persoalan pribadinya dan secara diam diam melakukan pengejaran dari belakang. Sekalipun dia menguntil di belakang kedua orang itu secara diam diam dan sudah melihat jelas raut wajah mereka namun sepanjang jalan tidak melakukan penghadangan apapun.

Pertama, dia kuatir menggebuk rumput mengejutkan ular sehingga membuat urusan besar terbengkalai.

Kedua, karena dia hanya tahu bahwa kedua orang itu hendak menuju ke kuil Siau lim, sedangkan apa maksud tujuannya masih belum jelas, sebab itu dia merasa enggan untuk sembarang bertindak. Begitulah seterusnya, hingga sampai di kota Lam peng, dia masih belum mengetahui jelas tujuan dari kedua orang itu.

Nampaknya mereka sangat cerdik dan cekatan, itu berarti selanjutnya akan sulit untuk menemukan suatu jejak apapun dari mereka. Berpikir demikian, dia mengambil keputusan untuk berangkat dulu ke kuil Siau lim si untuk melaporkan kejadian ini, dengan begitu pihak Siau limsi mempunyai kesempatan untuk mengatur persiapan dan tak sampai kecolongan.

Berpendapat demikian, dia lantas berangkat dulu menuju ke Phu thian .....

Tiba di kota Phu thian, hari sudah malam, terpaksa dia memperlambat langkah kakinya dengan harapan bisa menemukan sebuah rumah petani untuk menginap semalam, kemudian pada keesokan harinya baru berangkat ke kuil Siau lim si untuk memberi laporan.

Di depan sana, di balik tumbuhan bambu yang rindang terdapat tiga buah rumah petani, didepan rumah terbentang sebuah kolam dengan air yang jernih, begitu tenang suasana di situ membuat orang merasakan hatinya amat nyaman.....

Setelah menelusuri sebuah jalanan kecil, belum lagi dia sempat menyapa, mendadak dari dalam rumah melompat keluar dua ekor anjing besar dan menubruk kearahnya sambil menggonggong.

Tujuan Thi Eng khi adalah mencari tempat pemondokan, tentu saja dia segan untuk memukul anjing tersebut, terpaksa dia harus berkelit ke samping untuk menghindarkan diri.

Sementara itu dari dalam rumah muncul seorang bocah berusia sepuluh tahunan, sambil berlari keluar, dia berteriak keras keras :

“Kembali!” Kedua ekor anjing itu menurut sekali, sambil mengebaskan ekornya mereka berjalan kembali. Thi Eng khi segera maju dua langkah kemuka, kemudian sambil tersenyum disapanya bocah itu :

“Engkoh cilik, aku adalah Thi Eng khi dan ingin berbicara dengan orang tuamu.”

Sambil menengadah bocah cilik itu melototkan matanya bulat bulat, kemudian seraya mengawasi wajah Thi Eng khi dia menegur :

“Kau datang dari luar?”

Thi Eng khi merasa bocah ini bukan seorang manusia yang sederhana, karena sewaktu dia masih kecil dulu belum pernah memiliki jalan pemikiran seperti ini. Dia tidak menyangka kalau dari dandanan maupun caranya berbicara, seakan akan bocah itu bisa membaca kalau dia berasal dari luar desa.

Maka setelah mendengar pertanyaan itu, cepat cepat dia mengangguk.

“Aku adalah seorang yang sedang melakukan perjalanan.” “Ada urusan apa kau mencari orang tuaku? Katakan saja

kepadaku, toh sama saja.”

Thi Eng khi agak sungkan untuk mengemukakan keinginannya untuk mencari tempat pemondokan kepada bocah cilik itu, untuk sesaat dia menjadi termangu dan berkerut kening.

“Aku mempunyai sebuah permohonan, apakah Engkoh cilik bisa mengambil keputusan?”

Bocah cilik itu segera memperlihatkan sikap seorang dewasa sambil mengangkat kepala dan membusungkan dada dia menyahut :

“Siapa bilang kalau aku tak bisa mengambil keputusan?”

Thi Eng khi segera tertawa getir, ujarnya :

“Aku sedang kemalaman di tengah jalan, kini aku bermaksud untuk menumpang semalam saja disini, apakah engkoh cilik bersedia mengabulkan permintaanku ini?” Dengan kening berkerut, bocah itu segera menggeleng. “Soal ini aku pikir kurang begitu leluasa. ”

“Aku hanya memohon menumpang semalam sajam harap engkoh cilik sudi mengabulkan.”

Namun bocah itu kembali menggeleng,

“Tak bisa, lebih baik kau mencari tempat lain saja …. ”

Thi Eng khi tak bisa mengemukakan alasannya kepada bocah cilik itu, terpaksa dengan wajah murung dia membalikkan badan siap berlalu dari tempat tersebut. Mendadak dari dalam rumah berkumandang suara teguran seorang perempuan dengan suara halus dan lembut :

“Yun ji, kau sedang berbicara dengan siapa?”

“Ibu!” bocah itu segera berseru dan membalikkan badan berlari masuk, “ada orang hendak menumpang semalam disini, anak telah mempersilahkannya pergi.”

Tatkala Thi Eng khi mendengar didalam rumah terdapat orang dewasa, meski sudah membalikkan badan namun tidak segera pergi, dia masih tetap berdiri di tempat semula.

Benar juga dari dalam rumah segera terdengar seseorang menghela napas panjang :

“Orang yang sedang melakukan perjalanan memang sering kali menjumpai banyak kesulitan, menolong orang lain berarti menabung amal kebaikan buat diri sendiri. Nak, cepat kau persilahkan orang untuk masuk ke dalam rumah.”

Thi Eng khi segera membalikkan badannya, tampak didepan pintu sudah berdiri seorang nyonya muda berusia dua puluh lima enam tahunan, mukanya putih bersih dengan panca indra yang sempurna, pokoknya perempuan itu memiliki seraut wajah yang cantik jelita. Dengan riang gembira, bocah itu segera melangkah keluar sambil berseru keras :

“Kek koan, silahkan duduk!”

Melihat hal itu, Thi Eng khi segera berpikir :

“Mungkin ayah si bocah sedang bertani di sawah dan belum pulang. ”

Dengan langkah tegap dia lantas berjalan masuk ke dalam ruangan. Ruang tamu itu tidak begitu besar namun bersih sekali, hal ini menunjukkan kalau keluarga tersebut bukan keluarga kampungan. Nyonya muda itu segera menitah si bocah untuk menghidangkan air teh.

Thi Eng khi sendiri pun melaporkan namanya. Kepada Thi Eng khi, nyonya muda itu menerangkan kalau di rumah mereka sekarang tinggal mereka ibu dan anak, dua orang, suaminya she Kwik tapi semenjak tahun berselang tak diketahui lagi kabar beritanya, sementara si bocah bernama Kwik Yun.

Ketika Thi Eng khi mendengar Kwik toanio adalah seorang janda, dia segera merasa kalau memondok disitu memang kurang leluasa, sekarang dia baru mengerti apa sebabnya bocak cilik itu tidak bersedia menerimanya untuk memondok disitu, tapi kini dia sudah berada di dalam ruangan, jika dia bilang hendak pergi, rasanya kurang baik pula.

Untung saja Kwik toanio adalah seorang perempuan yang lemah lembut, dia segara menitahkan kepada bocah itu untuk menghantar Thi Eng khi masuk ke ruangan depan dan tidak berbicara lagi dengan Thi Eng khi, sedang makan malamnya pun dihantar oleh Kwik Yun kedalam kamarnya sehingga Thi Eng khi bisa bersantap seorang diri.

Dengan begitu Thi Eng khi baru bisa berlega hati dan menutup pintu untuk mengatur pernapasan. Tenaga dalamnya memang amat sempurna, begitu hawa murninya diatur, dia segera berada dalam keadaan lupa segala galanya. Menanti dia selesai bersemedi, rembulan sudah berada di angkasa, waktu sudah menunjukkan kentongan dua lewat. Suasana di luar sana sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, memandang rembulan yang terang dan membayangkan asal usul sendiri, tak kuasa lagi dia menghela napas.

Mendadak terdengar suara ujung baju terhembus angin berkumandang dari puluhan kaki di depan sana. Kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki sekarang sudah mencapai puncak kehebatan, apalagi berada dalam keheningan malam yang mencekam, jangankan suara manusia yang berjalan malam, sekalipun ada sebatang jarum terjatuh di wilayah sejauh sepuluh kaki dari tempat dimana dia berada pun jangan harap bisa lolos dari pendengarannya.

Yang datang berjumlah lima orang dan arah tujuan mereka adalah rumah tersebut. Tampaknya tenaga dalam yang dimiliki pendatang itupun cukup tangguh, andaikata dia tidak memperoleh penemuan diluar dugaan sehingga berhasil menguasai ilmu Heng kian sinkang, jangan harap ia dapat menemukan gerak gerik orang itu dari jarak puluhan kaki.

Dia tidak habis mengerti apa sebabnya ibu beranak dua orang yang mengenaskan itu, bisa terikat tali permusuhan dengan orang- orang persilatan?

Dalam pada itu, para pendatang telah menyebarkan diri keempat penjuru, jelas mereka tidak bermaksud membiarkan ibu dan anak dua orang itu melarikan diri atau dengan perkataan lain, mereka berniat untuk melakukan pembunuhan secara besar besaran.

Dengan kening berkerut, hawa amarahnya segera berkobar dan menyelimuti seluruh wajah anak muda tersebut. Dalam pada itu, seseorang telah berjalan mendekati pintu depan rumah tersebut. Menyusul dua kali dengusan tertahan nampaknya dua ekor anjing penjaga pintu itu sudah terbunuh.

Diikuti suara pintu depan didobrak orang dan pendatang itu sudah memasuki ruangan tamu. “Heeehhhh..... heeehhhhh........ heeehhhhh ” setelah tertawa

dingin tiada hentinya, orang itu berkata,

“Janda muda! Cu toaya khusus datang kemari untuk menghadiahkan lencana kesucian hidup menjanda selama banyak tahun, mengapa kau tidak membuka pintu untuk menyambut kedatanganku?”

Kwik toanio yang berada di dalam kamar segera menjerit kaget seperti baru mendusin dari impiannya, kemudian tanya dengan suara gemetar.

“Siapa yang datang?”

“Siapa?” Kwik Yun turut bertanya. Orang itu segera tertawa seram.

“Heeehhhh..... heeehhhhh...... heeehhhh perempuan rendah,

masa suara dari Cu toaya pun tak bisa kau kenal?”

Kemudian sambil menggebrak meja keras keras serunya dengan lantang,

“Cepat menggelinding keluar, toaya masih ada persoalan yang hendak ditanyakan kepadamu!”

Kwik toanio yang berada di dalam kamar menjadi semakin ketakutan, serunya :

“Hari ini sudah terlalu malam, kami ibu dan anakpun sudah tidur, jika Toaya ada persoalan, bagaimana kalau dibicarakan besok saja?”

Sekalipun ia berkata demikian namun terdengar juga suara orang mengenakan pakaian dan berjalan menuju ke pintu.

“Ibu!” Kwik Yun segera menjerit keras, “Kau tak boleh membuka pintu, dia bukan manusia baik baik!”

Cu toaya yang berada di luar kamar kembali berteriak keras : “Anak jaddh, tutup mulut anjingmu! Sungguh perbuatan baik

telah kalian lakukan sehingga wajah saudara Kwik turut kalian jual! Hmm, kalian berdua dapat menggelinding keluar, toaya selain hendak menangkap kalian berdua juga akan menangkap gendaknya, akan kulihat kau si janda muda bisa berbicara apa lagi!”

Rupanya perbuatan Kwik Toanio menerima Thi Eng khi untuk mondok semalam telah diketahui oleh kawanan pencoleng tersebut, mereka lantas memanfaatkan peluang ini untuk melakukan kejahatan.

Kwik Toanio segera berseru tertahan, niat untuk membuka pintu pun segera diurungkan, mati matian dia menutup pintu kamar kemudian serunya :

“Aku takkan membuka pintu!”

“Tidak akan membuka pintu?” seru Cu toaya tersebut dengan suara dingin, “memangnya kau bisa berbuat seenak hatimu sendiri?”

Dengan telapak tangannya yang besar, dia siap menghajar pintu kamar tersebut. Mendadak dari sisi telinganya terdengar seseorang menegur dengan suara yang amat berwibawa :

“Cu toaya, harap hentikan ulahmu itu!”

Dari samping muncul sebuah tangan yang segera mencengkeram persendian tulang sikut kanan Cu toaya. Sungguh cepat gerakan tangan orang itu, hakekatnya seperti sambaran petir, bukan saja tak diketahui sedari kapan dia sudah berdiri dibelakang sana bahkan jari tangan yang mencengkeram tulang persendiannya pun sangat kuat seperti jepitan baja, sakitnya sampai merasuk ke tulang sumsum .....

Cu toaya amat terperanjat, dengan cepat dia berpaling kebelakang ....

Terasa cahaya lampu menusuk pandangan mata, ternyata orang itu dengan tangan sebelah mencengkeram lengannya tangan yang lain menyulut lentera diatas meja. Diantara kilatan cahaya lampu, tampak orang mengenakan jubah berwarna biru langit dengan sebuah tali rami mengikat di pinggannya (inilah pertanda rasa berkabung Thi Eng khi atas kematian Huang oh siansu). Wajah orang itu amat tampan dan halus, hanya sayang diliputi oleh kewibawaan yang menggidikkan hati. Cu toaya mencoba untuk meronta, ternyata dia berhasil meloloskan diri dari cengkeraman, kontan saja keberaniannya memuncak, segera katanya :

“Siapakah kau? Berani benar mencampuri urusan toayamu!”

“Aku adalah Thi Eng khi dari Thian liong pay! Manusia yang hidup di dunia ini mengurusi persoalan persoalan yang tak adil di dunia ini, apalagi berbicara tentang perbuatanmu yang terkutuk, hmmm, aku sudah bertekad untuk mencampuri.”

Sekalipun nama besar Thi Eng khi sebagai ciangbunjin baru perguruan Thian liong pay bukan terangkat oleh kepandaian silat yang lihay namun semua tindak tanduk serta perbuatan yang dilakukannya selama ini sudah tersebar di seantero jagad, terlepas bagaimanakah pandangan serta penilaian orang terhadap dirinya, yang pasti dia adalah seorang manusia yang amat ternama.

Betul juga, Cu toaya agak tertegun, rupanya kejadian tersebut sama sekali diluar dugaannya.

“Kau benar benar adalah ciangbunjin dari Thian liong pay?” tegurnya kembali.

Thi Eng khi tertawa nyaring.

“Haaahhh….. haaahhhh…. Haaahhhhhh….. aku rasa, belum ada kepentingan mendesak yang memaksaku untuk bertukar nama!”

“Jadi kau berdiam di dalam rumah ini?”

Satu ingatan melintas dalam benak Thi Eng khi, sahutnya : “Mencari tempat pemondokan di rumah penduduk merupakan

sebuah kejadian yang lumrah bagi orang yang melakukan perjalanan, entah apa maksud Cu toaya bertanya demikian?”

Bukan cuma keberaniannya telah pulih kembali, agaknya Cu toaya berhasil menangkap alasan dibalik kejadian itu, sikapnya kembali jumawa dan sok, sambil dia berseru : “Huuh, mentang mentang seorang ketua dari perguruan besar, nyatanya berani tidur sekamar dengan janda muda yang masih cantik jelita, hmmm….. bagaimanakah jalan pemikiran orang lain, aku pikir tentunya kau bisa menduga sendiri bukan!”

Mendengar ucapan tersebut, kontan saja hawa amarah Thi Eng khi berkobar serunya:

“Kau jangan berbicara sembarangan, apakah kau tidak tahu kalau kami tidur berlainan kamar.”

Cu toaya kontan saja memincingkan matanya kemudian sambil menarik muka dia berkata :

“Kau berada serumah dengan janda muda, apalagi dalam suasana gelap gulita, siapa yang tahu apa yang telah kau kerjakan?”

Agak tertegun Thi Eng khi menjumpai kejadian tersebut. “Jadi Cu toaya pun tidak percaya?”

“Heeehhhh.... heeehhhhh..... heehhhh dengan mata kepalaku

sendiri toaya melihat segala sesuatunya terjadi, tentu saja aku mempercayainya seratus persen cuma..... cuma ”

Dia segera berhenti berbicara dan tidak melanjutkan ucapan selanjutnya sementara sepasang matanya melirik wajah Thi Eng khi dengan senyuman aneh menghiasi ujung bibirnya. Tercekat perasaan Thi Eng khi, buru buru dia bertanya :

“Cuma kenapa?”

Dengan langkah lebar Cu toaya berjalan kedalam ruangan dan duduk di kursi, lalu katanya :

“Thi ciangbunjin, silahkan duduk! Mari kita berunding secara pelan pelan !”

“Aku akan berdiri saja, persoalan apa yang hendak kau rundingkan?”

Sekali lagi Cu toaya tertawa kering. “Thi ciangbunjin, mari kita berbicara secara blak blakan, sebagai seorang ciangbunjin tentunya kau sayang bukan dengan kebersihan dan nama besarmu? Sedang aku aku Hoa tiong long (serigala di

tengah bunga) Cu It kay adalah orang yang menyukai keindahan bunga, bagaimana kalau kita bekerja mengikuti selera masing masing tanpa saling merugikan pihak yang lain?”

Tentu saja Thi Eng khi tak dapat menerima ucapan semacam itu, paras mukanya kontan berubah menjadi dingin membesi, katanya :

“Kau telah menganggap diriku sebagai manusia macam apa?”

“Bersedia atau tidak, terserah kepadamu,” seru Serigala di tengah bunga Cu It kay sambil melompat bangun, “buat apa sih kau marah marah? Maaf toaya mohon diri lebih dulu!”

Baru saja berjalan sejauh dua langkah, dia telah berguman seorang diri.

“Toa ciangbunjin berilmu silat sangat lihay, siapa tahu kalau kau baru saja melompat keluar dari jendela kamar si janda muda itu!

“Kau bilang apa?” bentak Thi Eng khi dengan suara keras.

Dengan suatu hisapan tenaga yang maha dahsyat dia membetot tubuh serigala di tengah bunga Cu It kay dan menariknya masuk kedalam ruangan. Serigala di tengah bunga Cu It ka hanya merasakan tubuhnya kaku dan kesemutan, jangan toh berbicara soal pertarungan, dengan mengandalkan jurus ini biarpun ada sepuluh orang serigala di tengah bunga Cu It kay juga tak akan sanggup memberikan perlawanan.

Sebetulnya dia ada niat melancarkan sergapan kilat setibanya di depan pintu nanti, tapi sekarang setelah menghadapi kejadian tersebut, dia lantas berubah pikiran, serunya sambil tertawa terbahak bahak.

“Haaahhhh.... haaahhhh...... haaahhh sungguh tak kusangka

Ciangbunjin dari Thian liong pay pun pandai melakukan perbuatan membunuh orang menghilangkan saksi, bagus! Bila kau memang mempunyai keberanian, lakukanlah perbuatanmu dengan segera. Setelah terjatuh ketanganmu, Toaya lebih baik mengaku bernasib jelek.”

Benarkah Thi Eng khi dapat melakukan pembunuhan untuk membungkam saksi? Jangankan untuk berbuat, mungkin ingatan semacam itu belum pernah terlintas dalam benaknya. Apalagi setelah serigala di tengah bunga meneriakkan ucapan tersebut. Thi Eng khi saking mendongkolnya sampai sekujur tubuhnya gemetar keras dan ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

“Kraaakk !” dalam pada itu Kwik toanio dan Kwik Yun telah

berpakaian dan keluar dari kamar. Thi Eng khi segera mengulapkan tangannya mencegah mereka untuk keluar dari kamarnya, ia berkata

:

“Harap kalian berdua menunggu dalam kamar saja, jangan keluar!”

Berdiri diambang pintu, Kwik toanio melotot sekejap kearah serigala di tengah bunga Cu It kay dengan penuh kebencian, serunya sambil menahan geram :

“Kubunuh kau! Manusia laknat macam dirimu hanya bisa melakukan kejahatan bagi umat manusia, sudah cukup penghinaan dan aniaya yang kuterima darimu, aku akan beradu jiwa denganmu kini!”

Ia bersiap siap untuk menubruk kearah serigala di tengah bunga Cu It kay .....

Sebagai seorang perempuan lemah yang tak pandai bersilat, bagaimana mungkin dia bisa menembusi hawa khikang yang disalurkan Thi Eng khi untuk melindungi tubuhnya. Bersama itu pula, Kwik Yun telah memeluk paha Kwik toanio sambil merengek :

“Ibu! Ibu “

Kwik toanio tak berdaya untuk banyak bertingkah, dia hanya bisa bersandar di pintu sambil menangis tersedu sedu. Mendadak .....

dari luar pintu bergema suara bentakan keras : “Apa yang sedang kalian lakukan di sini?” Sungguh besar wibawa pendatang itu, orang orang yang sedang berjaga di empat penjuru serentak melarikan diri terbirit birit setelah mendengar bentakan itu. Serigala di tengah bunga Cu It kay yang berada di dalam ruangan pun segera berubah muka, tapi hanya sebentar kemudian telah pulih kembali seperti sedia kala! Bahkan sekulum senyuman licik segera menghiasi ujung bibirnya.

Suara langkah kaki yang berat bergema di ruangan itu, tahu tahu seorang hwesio yang tinggi besar dan bertubuh kekar telah muncul di depan pintu. Serigala di tengah bunga Cu It kay memang betul betul licik, belum sempat pendeta itu mengucapkan sesuatu, dia sudah pura pura marah sambil berseru :

“Gho beng taysu, sungguh kebetulan sekali kedatanganmu, hampir saja Kwik toanio dinodai keparat itu!”

Gho beng taysu segera mendengus dingin.

“Hmm, kaupun bukan manusia baik baik,” serunya “cepat enyah dari sini!”

Serigala di tengah bunga Cu It kay melotot sekejap kea rah Thi Eng khi, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun segera melarikan diri meninggalkan tempat itu.

Gho beng taysu memandang sekejap kearah Thi Eng khi, baru saja pemuda itu akan memberi penjelasan, Gho beng taysu telah berpaling lagi kearah Kwik toanio sambil berkata :

“Omitohud, silahkan toanio kembali kekamar untuk beristirahat, persoalan disini biar pinceng yang selesaikan!”

Kwik toanio menundukkan kepalanya tanpa berbicara, diapun tidak masuk kembali ke kamar. Melihat itu, Gho beng taysu menggelengkan kepalanya berulang kali, ia lantas membalikkan badan kearah Thi Eng khi dan membentak lagi :

“Pinceng menyayangi jiwa manusia dan berharap umat manusia bisa berbuat kebajikan, kali ini aku akan melepaskan dirimu, cepat enyah dari sini!” Mula mula Thi Eng khi tertegun, kemudian paras mukanya berubah hebat, sepasang alis matanya kontan berkenyit kencang. Thi Eng khi yang menumpang tidur dirumah Kwik toanio, tapi telah dianggap Gho beng taysu dari Siau lim pay sebagai seorang pemerkosa bahkan mencaci maki dirinya, hal mana kontan saja membuat dia berkerut kening dan naik darah.

Perasaan malu dan gusar yang bercamput aduk membuat pemuda itu benar benar amat geram, segera serunya :

“Taysu adalah seorang pendeta beragama yang saleh, mengapa kau hanya mempercayai perkataan sepihak lantas menuduh aku sebagai manusia yang tak genah, apakah kau tidak kuatir tuduhanmu itu salah alamat?”

Walaupun Gho beng taysu adalah seorang pendeta namun wataknya sangat angkuh dan tinggi hati, dengan kedudukannya sebagai anggota Siau lim sim, ia merasa tak senang Thi Eng khi membahasai diri sebagai ‘aku’ yang menunjukkan kedudukan tinggi, hal mana segera menimbulkan perasaan antipatik dalam benaknya.

Kontan dia tertawa dingin, serunya :

“Mengapa sicu dapat munculkan diri di dalam rumahnya Kwik toanio ?”

Rupanya dia tak sudi untuk mencari tahu nama besar dari Thi Eng khi.....

Melihat sikap yang begitu kasar dari lawannya, kontan saja Thi Eng khi menarik mukanya lalu berseru :

“Apa salahnya kalau aku menumpang semalam disini?” Gho beng taysu segera tertawa terbahak bahak.

“Haaahhh..... haaahhhh..... haaahhhh sicu berwajah tampan,

gagah, masih muda lagi “

Mendadak ia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan : “Aaai,,,, perkataan selanjutnya tak ingin pinceng lanjutkan, aku

rasa kau pasti mengetahui sendiri bukan?” Bukan saja perkataan itu telah menyinggung perasaan Thi Eng khi, bersamaan itu pula telah membuat paras muka Kwik toanio berubah hebat, dengan serius dia berkata :

“Taysu sebagai seorang pendeta dari kaum beragama mengapa begitu percaya dengan perkataan dari serigala di tengah bunga Cu It kay? Perbuatanmu itu sudah keterlaluan, sekarang berani pula mengucapkan kata kata yang seolah olah menuduh aku berbuat serong. Taysu! Aku harap kau suka berbicara yang benar.”

Gho beng taysu sesungguhnya cuma kasar dan berangasan, dia bukan seorang manusia yang tak berotak, begitu salah berbicara sehingga menimbulkan protes dari Kwik toanio, kontan saja mulutnya terbungkam dalam seribu bahasa.

Ia tahu seandainya sampai terjadi percekcokan sehingga diketahui orang lain, sebagai seorang pendeta beragama, dia akan kehilangan mukanya, apalagi ribut seperti ini juga sama sekali tak ada manfaat baginya.

Setelah mendengus, segera serunya :

“Tak nyana kau memiliki selembar mulut yang tajam, pinceng segan untuk banyak ribut dengan manusia semacam kau! Hmm, hmmm. pinceng jadi ogah untuk mencampuri urusan kalian lagi!”

Sambil mengibaskan ujung jubahnya, dia lantas melompat keluar lewat jendela. Thi Eng khi benar benar merasa amat mendongkol, karena tidak tempat pelampiasan, telapak tangannya segera diayunkan kedepan menghantam ujung ruang sana.

Kwik toanio yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat, buru buru serunya :

“Thi siangkong, buat apa kau mesti marah marah? Di atas kepala kita ada roh suci yang mengawasi perbuatan manusia, asal kita bersih dan tak pernah melakukan perbuatan apa apa, mengapa mesti kuatir perkataan orang lain? Malam ini, terima kasih banyak atas bantuanmu, dan kuucapkan banyak banyak terima kasih.

Siangkong, silahkan kembali ke kamar untuk beristirahat!” Setelah menjura kepada Thi Eng khi, dia lantas menggandeng tangan Kwik Yun dan mengundurkan diri ke dalam kamarnya. Thi Eng khi tidak menyangka kalau Kwik toanio berjiwa bebitu besar, sama sekali tak kalah dengan perbuatan seorang lelaki sejati.

Perasaan hatinya segera berubah menjadi tenang kembali, katanya dengan suara lantang :

“Terima kasih banyak atas petunjuk toanio!”

Diapun segera kembali kedalam kamar sendiri. Setelah peristiwa tersebut, Thi Eng khi tak dapat tidur lagi dengan tenang, hingga keesokan harinya dia hanya duduk melamun sambil memikirkan pelbagai persoalan yang dialaminya selama ini.

Mula mula dia berpikir tentang musibah tak terlupakan yang dialaminya di istana Ban seng kiong. Waktu itu, dalam sedihnya dia merasa seperti kehilangan pikiran dan tiada ketenangan lagi dalam benaknya, apa yang dipikirkan hanyalah membawa jenasah ayahnya meninggalkan tempat kejadian,

Bukan saja dia tidak membantah terhadap dampratan dari siluman perempuan kecil itu bahkan selain melepasakan Huan im sin ang si manusia laknat itu, diapun pergi tanpa menggubris Ciu Tin tin lagi.

Kesemuanya ini membuktikan kalau dia tak cukup tangguh untuk menerima pukulan batin yang menimpa dirinya. Kemudian diapun teringat akan kekuatiran yang dibawanya dalam perjalanannya menuju ke kuil Siau lim si. Ia merasa persoalan kecil kelewat dibesar besarkan jadinya, andaikata di tengah jalan dia melenyapkan manusia manusia bermaksud jahat itu lebih dulu, mana tindakan tersebut lebih cekatan juga tak perlu membuang waktu dengan percuma sehingga maksudnya untuk mengasingkan diri dalam gua Thio Biau liong menjadi terbengkalai .....

Sekarang manusia laknat belum lagi dilenyapkan, dia sudah dituduh lebih dahulu oleh Gho beng taysu dari Siau lim si sebagai manusia cabul, kalau dipikir kembali kejadian ini benar benar tak bisa diterima dengan begitu saja. “Aaai.... perjalananku kali in sebenarnya dikarenakan apa ?”

Ingatan tersebut begitu melintas lewat, hampir saja dia segan mencampuri urusan dari pihak Siau lim si dan siap berlalu saja meninggalkan tempat itu. Tapi ingatan lain dengan cepat memperingatkan dirinya :

“Untuk menegakkan keadilan kebenaran sekalipun harus mengorbankan jiwa, perbuatan itu harus dilakukan tanpa pamrih, sebab mengurusi hal-hal yang tak adil merupakan tugas dan kewajiban dari setiap anggota persilatan di dunia ini.Tapi nyatanya sekarang kau begitu tak tahan uji, mana mungkin dengan jiwa semacam ini kau bisa membangkitkan kembali nama baik perguruan Thian liong pay dan melenyapkan segala kejahatan dan ancaman bahaya maut dari dunia persilatan?”

Terketuk hatinya oleh suara hati tersebut, dengan cepat Thi Eng khi merasa semangatnya berkobar kembali. Tatkala fajar telah menyingsing, Thi Eng khi meninggalkan sekeping uang perak disitu kemudian tanpa mengusik Kwik toanio berdua lagi, ia berangkat meninggalkan keluarga Kwik dan menuju ke kuil Siau lim si ....

Siau lim si aliran Phu thian merupakan suatu cabang Siau lim yang berpusat di bukit Siong san, anggota kuil tersebut merupakan saudara seperguruan dengan para hwesio di Siau lim si aliran bukit Siong san. Ketuanya Ci sian taysu adalah adik seperguruan ketua Siau lim si aliran bukit Siong san saat ini Ci long siansu.

Di samping itu, masih terdapat empat orang pendeta dari angkatan ‘Ci’ yang duduk dalam kuil itu mengurusi segala macam urusan kuil dan memimpin anggota lainnya. Di bawah sinar matahari fajar yang berwarna keemas emasan, dengan langkah yang amat santai Thi Eng khi melanjutkan perjalanannya naik ke atas bukit, kuil Siau lim si aliran Phu thian secara lamat lamat sudah nampak dibalik pepohonan siong di depan sana.

Sewaktu pertama kali terjun ke dalam dunia persilatan, Thi Eng khi pernah bersua muka dengan Ci kay taysu dari Siau lim pay aliran bukit Siong san diperkampungan Ki hian san ceng milik Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong.

Waktu itu hubungan mereka terasa amat cocok sekali hingga sikap anak muda tersebut terhadap kuil Siau lims si pun menaruh rasa kagum dan hormat. Tiba dihadapan hutan pohon siong, pemuda itu menghentikan sebentar langkah tubuhnya, kemudian setelah membenarkan letak pakaian, dia baru melangkah maju dengan tindakan lebar.

Sesudah melalui sebuah jalan raya beralaskan batu hijau yang menembusi hutan pohon siong, didepan situ berjajar ratusan buah undak undakan batu yang menghubungkan pintu gerbang kuil Siau lim si yang megah.

Selangkah demi selangkah Thi Eng khi berjalan menaiki undak undakan batu itu hingga habis, sekarang dia dihadapkan pada sebuah tanah lapang yang luas dimuka pintu gudang.

Setelah melewati tanah lapang itu dan siap memasuki pintu kuil, mendadak dari balik pintu terdengar suara pujian kepada sang Buddha :

“Omitohud”

Empat orang hwesio bertubuh tinggi besar berjalan keluar dari balik pintu dan menghadang jalan pergi Thi Eng khi, kemudian sambil menjura, katanya :

“Kuil kami tertutup untuk sementara waktu dari kunjungan para jemaah, entah sicu ada urusan apa datang kemari?”

Thi Eng khi memperhatikan sekejap keempat orang pendeta itu, kemudian menjawab sambil tertawa :

“Aku Thi Eng khi ciangbunjin dari partai Thian liong pay, mohon berjumpa dengan hongtiang kuil ini karena ada persoalan yang hendak dirundingkan, harap taysu sekalian bersedia melaporkan kedatanganku ini.”

Setiap umat persilatan sudah mengetahui kalau Thi Eng khi menjabat sebagai ketua Thian liong pay, meskipun ia belum pernah menampilkan ilmu silat yang luar biasa, dalam pandangan orang lainpun tidak yakin jika pemuda ini sanggup mengembalikan masa kejayaan partai Thian liong pay seperti dahulu, paling tidak dia adalah seorang ciangbunjin.

Dengan kedudukan Siau lim pay dalam dunia persilatan, tentu saja mereka tak akan menganggap enteng pihak lawannya sehingga akan mengurangi kewibawaan sebuah partai besar.

Empat orang hwesio tersebut segera saling berpandangan sekejap, lalu dengan wajah serius pendeta yang ada di sebelah kiri mengulapkan tangannya. Empat orang pendeta itu serentak menyingkir kesamping kemudian sambil membungkuk badan memberi hormat katanya :

“Silahkan Thi ciangbunjin menunggu dalam ruangan Ka Tia si, biar siauceng sekalian melaporkan kepada hongtiang sehingga dilakukan penyambutan sebagaimana semestinya.”

Thi Eng khi tersenyum, mengikuti dibelakang seorang pendeta ia melangkah masuk ke ruang tamu sebelah kiri. Tampak ruangan tersebut amat bersih, meskipun perabotnya sederhana namun terasa anggun dan sepi.

Seorang pendeta kecil muncul menghidangkan air teh, kemudian mengundurkan diri dari situ. Dalam ruangan Ka Tia si tinggal seorang hwesio yang menemani. Dua orang itu saling berpandangan sambil tersenyum. Thi Eng khi yang masih muda merasa tak tahu bagaimana mesti membuka pmbicaraan, sedangkan hwesio itupun seperti tidak terbiasa berbincang bincang, sehingga kedua belah pihak sama sama membungkam.

Selang sesaat kemudian pendeta kecil itu muncul kembali seraya berkata pelan :

“Susiok penerima tamu akan menemani Thi ciangbunjin sebentar, selesai berdoa pagi hongtiang akan menyambut sendiri kedatangan Thi ciangbunjin.”

Beberapa saat kemudian, dari luar ruangan muncul seorang hwesio setengah umur. Ketika kedua belah pihak saling bersua muka, mereka sama sama berseru tertahan. Thi Eng khi segera berpikir :

“Tampaknya kalau sudah menjadi musuh, jalanan di dunia terasa sempit, lagi lagi aku bersua denganmu.”

Sedang hwesio itupun turut berpikir :

“Huuuh, masa manusia macam kaupun bisa menjadi ketua dari Thian liong pay? Jaman sudah kacau tampaknya, banyak orang yang sengaja mengaku ngaku saja, aku tak boleh sampai tertipu, kalau tidak akan ditaruh kemanakah pamor Siau lim pay?”

Berpikir sampai disitu, dia lantas mendapatkan sebuah ide bagus. Ternyata pendeta penerima tamu itu tak lain adalah Gho beng taysu yang pernah bersua dengan Thi Eng khi sewaktu berada di rumah Toanio tempo hari.

Kedua orang itu sama sama tertegun, lalu masing masing tertawa jengah. Thi Eng khi segera menjura, katanya :

“Aku datang kemari untuk bersua dengan hongtiang kuil kalian, ada urusan penting yang hendak dibicarakan harap taysu suka memaafkan kelancanganku semalam.”

Senyuman di wajah Gho beng taysu segera lenyap tak membekas, sahutnya dingin :

“Harap sauhiap menunggu sebentar, pinceng akan segera mengundang kehadiran hongtiang!”

Diapun tidak menemani Thi Eng khi sebagaimana mestinya melainkan segera mengundurkan diri dari situ.