Pukulan Naga Sakti Jilid 21

 
Jilid 21

Mendadak sebuah tangan yang putih halus memayang tubuh Thi Eng khi. Entah sedari kapan ternyata Ciu Tin tin telah berdiri dibelakang tubuhnya.

Sementara Thi Eng khi hampir jatuh pingsan karena murung dan sedihnya, di tengah arena telah berkumandang dua kali suara dengusan tertahan, kemudian bayangan manusia saling berpisah dan seorang roboh kesebelah kiri yang lain roboh kesebelah kanan.

Ternyata Huang oh siansu yang menyaksikan Thi Eng khi telah menyerbu ke dalam istana Ban seng kiong, dia segera bertekad untuk menyelesaikan pertarungan itu secepat mungkin. Maka tanpa memikirkan lagi, Huang oh siansu segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyerang dengan tenaga sebagian, dia mainkan jurus Sin liong pay wi (naga sakti menggoyangkan ekor), didalam jurus serangan tersebut dia sengaja memperlihatkan sebuah titik kelemahannya untuk memancing serangan Huan im sin ang untuk menghajar tulang bahu kirinya.

Ketika Huan im sin ang berhasil menyarangkan serangannya ketubuh lawan sebenarnya dia sedang merasa girang, siapa tahu justru pada saat itulah Huang oh siansu telah mempersiapkan tangan kanannya yang telah disertai tenaga dalam sebesar dua belas bagian.

Kemudian dengan suatu gerakan yang datang dari suatu sudut yang tak terduga, dengan jurus Sin liong pay wi (naga sakti menggoyangkan ekor) dia hantam punggung Huan im sin ang keras keras. Dengan tekad bertarung sampai titik penghabisan, akhirnya Huang oh siansu berhasil juga menghajar Huan im sin ang sampai terluka parah, hal ini boleh apa yang diharapkan pun berhasil dicapai.

Thi Eng khi berdua segera menjerit kaget serentak mereka melompat ketengah arena untuk memberi pertolongan.

“Empek Thi!” Ciu Tin tin berteriak keras sambil menyusul ketengah arena.

Thi Eng khi segera berjongkok untuk memeriksa denyutan nadi Huang oh siansu, kemudian sambil menghembuskan napas panjang, katanya :

“Ayah, keselamatan jiwamu tidak membahayakan!”

Sekulum senyuman getir segera menghiasi wajah Huang oh siansu, katanya cepat :

“Aku ingin tahu bagaimana dengan keadaan Huan im sin ang?”

Thi Eng khi segera memeriksa pula denyutan nadi Huan im sin ang, setelah itu sahutnya:

“Sekalipun Huan im sin ang tak sampai tewas namun tenaga dalamnya akan berkurang sebanyak lima enam bagian, dia sudah tak dapat melakukan kejahatan lagi dalam dunia persilatan.”

Huang oh siansu segera berpaling kearah Ciu Tin tin, lalu sambil menyuruh mereka berjalan mendekat, katanya :

“Kalian harus baik baik hidup bersama!”

Dari ucapan tersebut, Thi Eng khi segera mendapat suatu firasat jelek, buru buru serunya :

“Ayah, kau..... kau ”

Huang oh siansu tertawa pedih, mendadak dia berbisik : “Saudara Cu giok, kedatangan siaute terlalu lambat.”

Kemudian berkata lagi :

“Nak, kalian harus baik baik menjaga diri.” Mendadak kepalanya terkulai, dia telah memutuskan nadi sendiri dan mati. Thi Eng khi segera menubruk keatas jenasah ayahnya dan menangis tersedu sedu. Ciu Tin tin juga merasa amat sedih, namun demi keselamatan Thi Eng khi dia tak berani bertindak gegabah, sambil meloloskan pedangnya dia bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Dalam pada itu, kawanan iblis dari Ban seng kiong yang menyaksikan ketua mereka terluka parah, suasana menjadi gempar, serentak mereka menyebarkan diri dan mengurung Thi Eng khi dan Ciu Tin tin rapat rapat.

Empat orang dayang cantik berbaju hijau segera muncul kearena dan menggotong Huan im sin ang masuk kedalam istana. Dalam pada itu, Thi Eng khi telah berhenti menangis, mendadak dia melompat bangun, lalu dengan wajah memerah mata melotot bagaikan orang gila, dia kebaskan sepasang tangannya seraya membentak :

“Enyah kalian semua dari sini!”

Dalam gusarnya ternyata dia telah mengerahkan ilmu sakti Heng kian sinkangnya mencapai pada puncaknya. Tampaklah segulung angin berpusing yang amat dahsyat bergulung keluar dan memancar keluar keempat penjuru.

Dalam waktu singkat kawanan jago yang berdiri disekitar arena segera tersapu oleh serangan dahsyat itu sehingga tunggang langgang dan terdesak mundur sejauh berapa kaki. Demontrasi kelihayan yang dilakukan oleh si anak muda itu kontan membuat suasana di sekeliling tempat itu menjadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, mereka semua seolah olah dibuat terperana oleh kelihayan lawannya.

Pada saat itulah dari luar pintu gerbang mendadak meluncur masuk tiga sosok bayangan manusia. Salah satu diantaranya tak lain adalah Kiongcu dari istana Ban seng kiong yang pernah berada di samping Pek leng siancu So Bwe leng dan menyaru sebagai penggantinya. Sedangkan dua orang lainnya pun pernah dijumpai Thi Eng khi sebelum kejadian ini. Ternyata mereka adalah dua orang yang pernah dijumpai Thi Eng khi sewaktu dia lolos dari kuil yang dibakar dan berlarian dalam lorong rahasia bawah tanah itu. Sebab tak lain adalah si kakek berwajah putih berjubah hijau serta si perempuan yang cantik jelita.

Begitu Kiongcu dari istana Ban seng kiong munculkan diri, suasana di arena menjadi sangat ramai, pelbagai seruan bergema memenuhi seluruh ruangan :

“Bagus ..... untung saja Kiongcu telah datang. kita tenang dulu,

nantikan perintah dari Kiongcu!”

Dengan cepat Kiongcu dari istana Ban seng kiong itu mengebaskan ujung bajunya, kemudian berkata :

“Disini tidak membutuhkan kalian lagi, sekarang juga kalian boleh kembali ke tempat masing masing, bila ada persoalan kami akan mengumumkannya nanti.”

Diantara kawanan iblis itu segera terdengar seseorang berseru keras :

“Sancu telah terluka parah, Kiongcu kau tak boleh melepaskan merek pergi!”

“Siapa suruh kalian banyak mulut?” hardik Kiongcu dari Ban seng kiong dengan wajah dingin, “hayo cepat pergi semua dari sini.”

Dalam waktu singkat kawanan jago itu segera mengundurkan diri dari dalam ruangan istana. Dalam waktu singkat didalam ruangan itu tinggal delapan orang kakek yang tidak mau menuruti perintah dari Kiongcu nya, mereka masih tetap berdiri ditempat semula dengan wajah tidak puas.

Ban seng kiongcu yang menyaksikan kejadian itu segera tertawa dingin tapi diapun tidak menggubris mereka, dengan langkah yang lemah gemulai dia berjalan ke hadapan Thi Eng khi. Kemudian setelah melirik sekejap kearah Ciu Tin tin, katanya sambil menghela napas panjang : “Tampak kematian dari Pek leng siancu So Bwe leng hanya suatu kematian yang sia sia belaka!”

Oleh karena Ciu Tin tin tidak tahu kalau Thi Eng khi pernah berjanji akan menyusul So Bwe leng ke alam baka, untuk sesaat dia menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, tanpa terasa dia mengerling sekejap ke wajah pemuda itu.

Tampak sorot mata Thi Eng khi sangat tidak tenang, dia pun tak berani menatap langsung wajah Ban seng kiongcu tersebut.

Sementara ia masih keheranan, tiba tiba terdengar Ban seng kiongcu berkata lagi dengan wajah iba :

“Aku benar benar turut merasa kasihan kepadamu, bukan saja melanggar perintah ayahmu juga melanggar permintaan isterimu

....”

Kemudian dengan wajah serius katanya lebih jauh :

“Hari ini aku tak akan menyusahkan dirimu, pergilah! Apakah kau seorang enghiong atau seorang cecunguk, kita saksikan saja dikemudian hari ”

Benarkah Ban seng kiongcu berbaik hati dengan melepaskan Thi Eng khi dengan begitu saja? Tidak, sesungguhnya dia merasa kuatir sekali dengan kepandaian silat yang dimiliki Thi Eng khi, oleh karena itu, dia ingin mempergunakan akalnya yang licik untuk menyudutkan si anak muda itu ke suatu jalan kematian sendiri.

Beberapa patah kata yang diucapkan olehnya tadi mungkin tak akan menimbulkan kesan apa apa bagi pendengaran orang lain, tapi bagi pendengaran Thi Eng khi justru jauh lebih memedihkan hatinya daripada membunuhnya sekaligus.

Ucapan tersebut artinya sama dengan memaki dia tak berbakti kepada ayah, tak berbakti kepada sahabat, buat apa kau hidup terus di dunia ini? Lebih baik mati saja.

Thi Eng khi yang mendengar perkataan semacam itu benar benar merasa malu sekali tanpa mengucapkan sepatah katapun dia segera membopong jenasah Huang oh siansu dan tanpa menyapa Ciu Tin tin lagi, tiba tiba saja membalikkan badan dan berlalu dari situ.

Waktu itu Ciu Tin tin sedang memikirkan arti dari ucapan Ban seng kiongcu tersebut, ketika ia berpaling tahu tahu Thi Eng khi telah berada puluhan kaki jauhnya dari tempat semula. Buru buru dia lantas berseru :

“Adik Eng, tunggu aku sebentar!”

Bagai sambaran petir cepatnya, dia segera menyusul dari belakangnya. Walaupun Ciu Tin tin hanya sebentar saja mengikuti Sim ji sinni untuk memperdalam ilmunya, tapi berhubung Thi Tiong giok telah membantunya dengan pelbagai obat obatan yang mujarab, ditambah pula dengan kasih sayang yang luar biasa dari Sim ji sinni, maka selain tenaga dalamnya berhasil mendapat kemajuan yang amat pesat, bahkan urat jih meh nya berhasil ditembusi.

Bagi seorang jago silat, andaikata jih meh dan toh meh nya berhasil ditembusi, itu berarti ilmu silatnya telah mencapai ketingkatan yang paling tinggi, atau dengan perkataan lain, kemajuan yang dapat diraih dalam ilmu silat akan mencapai ke tingkatan yang luar biasa.

Tak heran kalau dalam waktu singkat saja dia telah berhasil menyusul si anak muda itu sampai di depan pintu gerbang. Orang bilang diluar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada manusia lain, kecepatan gerakan tubuh Ciu Tin tin benar benar luar biasa sekali, siapa tahu justru ada orang lain yang lebih cepat daripadanya.

Baru saja dia akan melangkah dari pintu gerbang, tahu tahu seseorang telah menghadang jalan perginya. Ternyata orang itu tak lain adalah si kakek bermuka putih berjubah hijau yang muncul bersama sama Ban seng kiongcu tadi.

Ciu Tin tin enggan untuk membuang waktu, pada saat itu dia hanya bertujuan untuk menyusul Thi Eng khi, maka sewaktu dilihatnya ada orang yang menghadang jalan perginya, tanpa ditanya dulu apakah dia teman atau lawan, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke depan.

“Minggir!” bentaknya.

Sedangkan gerakan tubuhnya berbareng dengan serangan itu ikut menerjang kemuka. Dalam anggapannya, setelah jih meh dan toh meh nya berhasil ditembusi, otomatis kekuatan serangannya itu amat dahsyat sekali dan tak sulit untuk menggetarkan tubuh lawan.

Siapa tahu sewaktu angin pukulan itu menerjang diatas badan si kakek bermuka putih itu, bukan saja tidak berhasil melukainya, malahan tenaga pukulan itu segera memantul dan menghantam ketubuh sendiri.

Akibatnya, bukan saja gerakan tubuhnya terhambat, bahkan tubuhnya ikut terdesak mundur sejauh tiga langkah lebih. Dengan wajah tercengang Ciu Tin tin segera mengalihkan sorot matanya kewajah lawan, dia tahu musuh yang berada di hadapan matanya adalah seorang musuh yang amat tangguh.

Sementara itu, si kakek bermuka putih itu dengan senyum tak senyum telah berkata :

“Nona, jangan pergi dulu! Pun tee kun ada urusan hendak dibicarakan denganmu!”

Ciu Tin tin kuatir menggusarkan orang itu, terpaksa sambil menahan diri dia bertanya :

“Kau ada urusan apa?”

“Nona, tolong tanya apa hubunganmu dengan Sim ji sinni?”

Diam diam Ciu Tin tin merasa terkejut juga atas ketajaman mata kakek bermuka putih itu hanya menyaksikan dari gerakan tubuhnya saja segera asal usulnya berhasil diketahui. Ia tak berani berbohong, maka segera sahutnya :

“Dia adalah guruku!” “Bagus, bagus, bagus sekali!” seru kakek bermuka putih itu sambil tertawa kering, setelah kembali dari sini, katakanlah kepada gurumu bahwa Ban seng kiong berniat untuk memberi kedudukan Cu ciok tongcu kepadanya, kuperintahkan kepadanya dalam tiga bulan mendatang harus datang memberi laporan kepadaku!”

Selain lagaknya besar, ucapannya juga amat tak sedap didengar. Kontan saja Ciu Tin tin naik pitam dibuatnya, sambil tertawa dingin dia segera berseru :

“Aaah, kau ini adalah manusia macam apa?”

Ternyata kakek bermuka putih itu tidak menjadi gusar, sambil melemparkan sekerat tulang sepanjang satu inci, katanya :

“Benda ini merupakan tanda pengenalku. Asal gurumu sudah melihat benda tersebut, dia akan mengetahui siapakah aku, nah pergilah!”

Tidak melihat dia menggerakkan tangannya, tahu tahu Ciu Tin tin merasakan adanya segulung angin pukulan yang kuat muncul dari atas tanah dan melemparkan tubuhnya ketengah udara. Begitu berhasil melemparkan tubuh Ciu Tin tin dari situ, bagaikan bayangan setan, si kakek bermuka putih itu sudah berkelebat kembali kedepan delapan orang kakek yang membangkang perintah tadi, katanya kemudian dengan suara dingin :

“Kalian setiap orang mengutungi sebuah lengan sendiri sebagai hukuman atas pelanggaran kalian!”

Kedelapan orang kakek itu merupakan Thian lam pat koay yang diundang datang oleh Huan im sin ang dengan pembayaran tinggi, mereka semua selain berilmu tinggi juga memiliki tenaga dalam yang sempurna bahkan kemampuan mereka hanya setingkat dibawah Huan im sin ang.

Di hari biasa biasa, Ban seng kiongcu selalu memanggil mereka dengan sebutan locianpwe tapi barusan kiongcu tersebut bersikap angkuh dan jumawa terhadap mereka, hal ini segera menimbulkan rasa tak senang di hati mereka berdelapan, itulah sebabnya mereka sengaja hendak memberikan kesulitan untuk perempuan itu. Padahal mereka mana tahu kalau perubahan sikap dari Ban seng kiongcu ini justru dikarenakan ia sudah mempunyai tulang punggung yang cukup kuat untuk menunjang dirinya. Sebagai seorang manusia yang berpengalaman, sudah barang tentu kedelapan orang kakek itupun tahu kalau manusia bermuka putih itu berilmu sangat lihay, bahkan jauh lebih lihay daripada Huan im sin ang pribadi.

Tapi orang bilang, manusia punya nama pohon punya bayangan, demi gengsi dan nama sendiri, sudah barang tentu mereka enggan untuk mengundurkan diri mereka dengan begitu saja. Apalagi merekapun sangat mengandalkan ilmu kerja sama yang amat lihay dengan tenaga gabungan mereka berdelapan, orang-orang itu yakin kalau di kolong langit belum ada orang yang mampu mengalahkan mereka.

Maka dari itu, ketika si kakek bermuka putih tersebut selesai berkata, pemimpin dari Thian lam pat koay, Kim bi siu (si kakek bermuka emas) Ui Hong segera tertawa seram,

“Heeehhhhh..... heeehhhh..... heehhhh    engkau berani

berbicara sesumbar, apakah tidak tahu siapakah kami? Hmmm, lebih baik sebutkan dulu siapa namamu?”

Kakek bermuka putih itu segera mengeluarkan sekeping tulang kering dan diletakkan diatas telapak tangannya, kemudian katanya : “Kalau kuandalkan benda ini, apakah aku cukup berhak untuk

menghukum kamu semua?”

Tadi Thian lam pat koay belum melihat jelas benda tersebut, tapi sekarang setelah dapat menyaksikan benda itu dengan jelas, kemarahan mereka kontan menjadi lenyap tak berbekas, bahkan seluruh tubuh mereka menggigil keras bagaikan seseorang yang baru keluar dari gudang salju yang amat dingin.

Tiba tiba ji koay (siluman kedua) Gin tay siu (si kakek berkepala perak) Thio Beng berbisik :

“Toako, mungkin dia adalah gadungan!”

Tapi tujuh orang lainnya tetap berwajah murung, tak seorang pun diantara mereka yang penuju dengan pandangan tersebut. Sementara itu, dengan suara keras si kakek bermuka putih itu telah berkata lagi :

“Sudah selesaikah kalian berunding? Waktu yang ditetapkan tidak terlalu lama lagi!”

Si kakek bermuka emas Ui Hong seraya menghela napas panjang, tiba tiba serunya :

“Saudara sekalian mari kita pasrah pada nasib saja!”

Begitu selesai berkata, telapak tangan kanannya segera diayunkan lebih dulu untuk membacok kutung lengan kiri sendiri, kemudian dengan cepat ia menotok jalan darahnya untuk menghentikan aliran darah. Menyusul kemudian tujuh orang lainnya juga melakukan perbuatan yang sama, hanya di waktu singkat seluruh permukaan tanah telah berserakan lengan lengan yang kutung.

Dengan wajah tanpa berubah, si kakek bermuka putih itu berseru

:

“Hmm, anggap saja kalian masih tahu diri, lain kali kalau berani

lagi, jangan salahkan kalau aku bertindak keji.”

Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan masuk kedalam ruang tengah Ban seng kiong, ia sama sekali tidak menggubris kedelapan orang itu lagi. Sedangkan Thian lam pat koay pun bagaikan domba yang menurut dengan kepala tertunduk segera mengikuti di belakangnya, jangan toh membantah, untuk bernapas keras keras pun tak berani.

Tentu saja semua adegan tersebut dapat disaksikan pula oleh kawanan iblis yang lainnya. Kalau sampai Thian lam pat koay yang termashur karena kelihayannya pun tak berani membangkang, siapa lagi yang berani melawan? Maka semua iblis yang bergabung dalam istana Ban seng kiong tak berani berkutik lagi, mereka kuatir kalau sampai memancing perhatian kakek bermuka putih itu.

Setelah masuk kedalam ruangan tengah, Ban seng kiongcu segera mengangkat kursi kebesaran sendiri ke tengah ruangan, kemudian mempersilahkan kakek itu untuk duduk. Setelah itu tanpa mengucapkan sepatah katapun, bersama si gadis yang datang bersama kakek berwajah putih itu, ia berdiri dibelakangnya.

Kakek bermuka putih itupun tidak mengumumkan siapakah dirinya, begitu duduk dia lantas berseru :

“Gotong masuk Ui Sam ciat!”

Empat orang dayang cantik segera menggotong tubuh Huan im sin ang dan masuk kedalam ruangan istana. Kakek itu lantas berpaling kearah gadis yang datang bersamanya, kemudian berkata

:

“Cun ji, hari ini aku akan mencoba untuk menguji ketrampilanmu!”

Nada ucapan tersebut amat lembut sekali, walaupun bukan diucapkan kepada orang lain, tapi setiap orang ikut merasa lega hati setelah mendengar kata kata lembut itu. Si gadis yang bernama Cun ji itu segera maju kedepan dan menempelkan telapak tangannya diatas pusar Huan im sin ang, setelah itu katanya dengan alis mata melenting.

“Orangnya sih tidak bakal mati, sedang tenaga dalamnya juga bisa dipertahankan sebesar enam bagian.”

Tampaknya kelihatan dalam menganalisa keadaan Huan im sin ang masih dua tingkat lebih lihay daripada Thi Eng khi, hal ini bukan dikarenakan ilmu pertabiban yang dimiliki Thi Eng khi masih kalah kalau dibandingkannya, adalah dikarenakan aliran ilmu silat yang dimiliki Huan im sin ang sealiran dengannya, maka dia lebih jelas mengetahui keadaan tersebut.

Tampak kakek bermuka putih itu manggut manggut, kemudian katanya lagi dengan lembut :

“Kalau begitu bekerjalah!”

Gadis yang bernama Cun ji itu segera duduk bersila di samping Huan im sin ang, setelah menghimpun tenaganya mendadak sambil melompat bangun ia membentak keras. Kesepuluh jari tangannya serentak diayunkan kedepan, sepuluh jalur cahaya putih dengan cepat memancar keluar dan menotok jalan darah penting di seluruh badan Huan im sin ang.

Yang paling aneh adalah setelah dia menotok jalan darah di depan tubuh Huan im sin ang, ternyata secara otomatis orang itu bisa membalikkan badannya sendiri sehingga berbaring dengan posisi tertelungkup. Ketika jalan darah di belakang punggung juga selesai ditotok, gadis itu baru mengayunkan tangannya menghantam dada Huan im sin ang sehingga iblis itu jatuh bergulingan sebanyak sembilan kali, tapi setelah itu melompat bangun dari tanah, ternyata luka yang dideritanya itu telah sembuh kembali.

Huan im sin ang pelan pelan membuka matanya kembali, ketika mengetahui kalau orang yang telah menyembuhkan lukanya adalah seorang gadis cantik berusia dua puluh tahunan, dia hendak mengucapkan rasa terima kasihnya. Tapi sebelum dia mengucapkan sesuatu gadis itu telah mengulapkan pula tangannya sambil berkata

:

“Cepat berterima kasih dulu kepada Tee kun!”

Waktu itu, berhubung Huan im sin ang berdiri dengan panggung menghadap kedalam, maka dia tak sempat melihat si kakek bermuka putih yang duduk dibelakangnya. Setelah diperingatkan oleh gadis itu, dia baru membalikkan badannya, tapi begitu dilihatnya gaya maupun tingkah laku kakek bermuka putih itu segera timbullah perasaan tak senangnya didalam hati.

Sekalipun luka yang dideritanya berhasil disembuhkan berkat bantuan dari kakek bermuka putih itu namun tindakan lawan yang menempati kursi singgasannya itu juga merupakan suatu tindakan yang melanggar pantangan besar bagi umat persilatan.

Berbicara baginya, kejadian itu merupakan suatu aib atau penghinaan yang amat memalukan. Apalagi setelah menyaksikan Ban seng kiongcu yang belum lama diangkat olehnya itu berdiri di belakang si kakek bermuka putih dengan senyuman mengejek, hawa amarahnya kontan saja menggelora didalam dadanya. Perasaan terima kasih yang semula menyelimuti perasaannya seketika lenyap tak berbekas. Pada dasarnya dia memang seorang yang tidak kenal budi, apalagi setelah timbul perasaan tak senang dalam hatinya, tentu saja dia tak ingin kehilangan pamornya sebagai Sancu dari istana Ban seng kiong.

Maka dengan suara lantang serunya keras keras :

“Mana pengawal? Cepat ambilkan kursi buat tamu agung kita!”

Seandainya berada di masa lampau, pasti ada orang yang menyahut dan segera melaksanakan perintahnya. Tapi sekarang keadaannya telah berbeda, Thian lam pat koay merupakan suatu contoh yang jelas sekali, sebelum semua orang memahami maksud hati dari kakek bermuka putih itu, siapapun tak berani menyahut, otomatis tidak ada orang yang melaksanakan perintah itu.

Huan im sin ang merupakan seorang iblis yang licik dan cekatan, dari situisi yang terlintas dihadapannya sekarang, dengan cepat dia telah menyadari bagaimana keadaan yang sesungguhnya dari istana Ban seng kiong yang dibinanya dengan susah payah itu.

Tampaknya dia sudah bukan majikan dari istana Ban seng kiong lagi, kedudukan mana telah dirampas oleh si kakek bermuka putih. Akhirnya dengan sorot mata mohon bantuan dia mengerling sekejap kearah kawanan iblis yang dianggapnya berpihak kepadanya, pertama tama dia berpaling kearah Thian lam pat koay. Tapi si kakek bermuka emas segera menggelengkan kepalanya dengan wajah apa boleh buat.

Namun dia pantang menyerah sampai disitu saja, kembali sorot matanya memandang sekejap kawanan iblis yang lain. Ternyata semua orang berdiri dengan wajah kaku tanpa memberikan reaksi sedikitpun, melihat itu semua, dia lantas berpikir :

“Waaah, tampaknya kali ini habis sudah riwayatku ”

Tapi pikiran lain segera melintas kembali didalam benaknya: “Aaah, tidak, lohu bukan seorang yang pantang menyerah

dengan begitu saja, sekalipun mereka berani membantuku, aku yakin mereka pun tak akan menentangku, asal aku dapat menaklukkan si kakek bermuka putih ini, bukankah istana Ban seng kiong akan terjatuh kembali ke tanganku?”

Berpikir sampai disitu terasa keningnya berkerut. Kakek berwajah putih itu benar benar memiliki ketenangan yang luar biasa, ternyata dia tidak mengganggu Huan im sin ang untuk berpikir dengan jalan pikirannya. Selang sesaat kemudian, dengan suara dingin baru katanya :

“Ui Sam ciat, setelah bertemu dengan Tee kun, mengapa kau tidak tahu memberi hormat?”

Agaknya dia maksud untuk memancing kobaran hawa amarah di dalam dada Huan im sing ang. Sekali lagi Huan im sin ang mengerutkan dahinya, kemudian sambil mendongakkan kepalanya dia tertawa terbahak bahak.

“Haaahhhh..... haaahhhh.... haaahhhhh   pun sin ang sih tidak

ambil peduli orang lain mengeritikku sebagai seseorang yang lupa budi, aku hanya ingin bertanya dulu atas dasar apakah kau berani berlagak besar dengan maksud merampas kedudukanku?”

Kakek bermuka putih itu segera mendengus :

“Hmmm, jalan pemikiranmu benar benar polos dan kekanak kanakan!”

Sambil berpaling kearah Ban seng kiongcu segera katanya : “Gunakanlah kepandaian silat ajarannya untuk merobohkan dia

didalam satu gebrakan.”

Ban seng kiongcu segera mengiakan, sahutnya : “Turut perintah!”

Setibanya dihadapan Huan im sin ang, dengan nada sinis katanya lebih jauh :

“Ui Sam ciat, sekarang kau boleh melancarkan serangan lebih dahulu !” Menyaksikan tingkah laku dari Kiongcunya itu, Huan im sin ang benar benar merasa gusar sekali sampai matanya terbelalak amat besar, segera teriaknya :

“Ciu lan, kau berani?”

“Kau anggap nama Ciu lan boleh kau sebut seenaknya?” teriak Ban seng kiongcu dingin, “lihat serangan!”

Dengan suatu gerakan yang sederhana dia segera melepaskan sebuah pukulan dahsyat kedepan. Dengan penuh kemarahan Huan im sin ang melancarkan serangan balasan berbareng itu pula serunya sambil tertawa seram.

“Tampaknya kau ingin mampus.”

Belum lagi kata mampus selesai ducapakan, dia sudah merasakan tenaga pukulan yang dilancarkan Ciu lan menindih tubuhnya seperti batu karang, seketika itu juga dia kena terhajar sampai mundur sejauh tiga langkah dari posisi semula.

Waktu itu Huan im sin ang belum tahu kalau setelah sembuh dari luka dalamnya, sisa tenaga dalam yang dimilikinya tinggal enam bagian, maka dia sangat berharap bisa menangkan pertarungan tersebut. Tapi setelah terjadinya bentrokan tersebut dia baru sadar apa sebabnya orang lain memandang hina kepadanya, ternyata dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang, dia hanya bisa mencapai kedudukan kelas tiga saja disitu.

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, mendadak sekujur badannya terasa menjadi kaku tahu tahu jalan darahnya sudah kena ditotok oleh Ciu lan sehingga tak mampu berkutik lagi.

Setelah berhasil menotok Huan im sin ang dengan langkah yang lemah gemulai Ciu lan segera kembali ke belakang tubuh si kakek bermuka putih itu. Pada saat itulah, si kakek bermuka putih itu baru mengeluarkan sekerat tulang kering dan diperlihatkan ke seluruh ruangan, kemudian dengan suara dalam katanya :

“Lohu adalah Hian im Tee kun!” Sembari berkata, sorot matanya yang tajam segera menyapu sekejap sekeliling arena. Ketika semua orang yang berada di ruangan istana mendengar nama ‘Hian im Tee kun’ tersebut, kontan saja paras muka mereka berubah menjadi pucat dan tubuh mereka menggigil keras karena ketakutan.

Terutama sekali Huan im sin ang yang berdiri kaku di tengah arena, perasaan terkejut dan tercengang segera menyelimuti seluruh wajahnya. Dengan bangga sekali kakek bermuka putih itu mendongakkan kepalanya lalu tertawa terbahak bahak.

“Haaahhhh..... haaahhhh..... haaahhhh mulai hari ini, lohu

adalah pemilik istana Ban seng kiong yang baru, lohu akan bersama sama dengan saudara sekalian berjuang untuk menguasai seluruh dunia persilatan!”

Jelas sekali ucapannya itu, dia mengartikan bahwa semua iblis, yang berada disitu telah dianggapnya pula sebagai anak buah sendiri. Diantara manusia manusia yang berada disitu, mana mungkin ada seorang pun yang terhitung manusia baik? Bagi mereka mengikuti Huan im sin ang ataukah mengikuti Hian im Tee kun adalah sama saja.

Kontan saja sorak sorai yang gegap gempita berkumandang memecahkan keheningan. Pelan pelan Huan im Tee kun mengulapkan tangannya, segera suasana yang gaduh menjadi tenang kembali, kemudian dia membebaskan totokan jalan darah dari Huan im sin ang dan menantikan reaksinya.

Padahal sewaktu Hian im Tee kun mengumumkan namanya tadi, diam diam Huan im sin ang telah mengambil keputusan di dalam hatinya, bagi manusia munafik seperti dia tentu saja nyawa lebih dipentingkan daripada nama serta kedudukan maka dari itu keputusan yang diambilpun sudah barang tentu adalah ‘menyerah’.

Tapi diapun seorang manusia licik yang tahu melihat gelagat, dia tahu bahwa tindakan Hian im Tee kun yang membebaskan jalan darahnya tanpa mengucapkan sesuatu itu merupakan kunci yang menentukan mati hidupnya. Dia kuatir Hian im Tee kun mencurigai ketulusan hatinya, maka begitu jalan darahnya bebas, dengan cepat dia segera menjatuhkan diri berlutut dan berseru dengan wajah bersungguh sungguh :

“Ui Sam ciat bersedia berbakti untuk Tee kun!”

“Kau akan mendendam kepadaku?” Tanya Hian im Tee kun.

Dengan ketakutan buru buru Huan im sin ang menyahut : “Ilmu silat hamba berasal dari kitab pusaka Jit sat hian im

cinkeng, adapun tujuan mendirikan istana Ban seng kiong juga hanya ingin mengembangkan kepandaian sakti Hian im, sebaliknya Tee kun merupakan pemimpin dari perguruan Hian im bun, kalau dibicarakanpun kau masih angkatan tua ku, hamba bisa menunjukkan baktiku kepada mu hal ini sudah merupakan sesuatu yang luar biasa, bila Tee kun hendak memberikan perintah, sampai matipun hamba tak akan menampik.”

Diam diam dia menjelaskan pula hubungan diantara mereka dalam ucapan tersebut. Hian im Tee kun segera memerintahkan Huan im sin ang agar berdiri di samping. Dengan sikap yang sangat menghormat Huan im sin ang mengucapkan terima kasih, kemudian dengan munduk munduk dia baru menyingkir ke samping.

Kegagahan dan kekerenannya di masa lalu, kini sudah hilang lenyap tak berbekas.

Hian im Tee kun memandang sekejap kearah Huan im sin ang, sikapnya ternyata berubah sambil tertawa ramah, katanya :

“Sam ciat, apakah kitab pusaka Jit sat hian im cinkeng yang kau dapatkan itu berhasil kau temukan diatas batu hijau dalam sebuah lembah buntu di bukit Lay pa san pada empat puluh tahun berselang?”

Nada ucapannya sekarang ternyata amat lembut dan ramah.

Mendengar perkataan itu, dengan perasaan kaget bercampur keheranan, Huan im sin ang segera membelalakkan matanya lebar lebar, serunya dengan nada tanda tanya.

“Dari .... darimana kau .... kau orang tua bisa ..... tahu...” Dia berbicara dengan terbata bata sampai lamanya sebelum berhasil mengutarakan semua maksud ucapannya.

“Tahukah kau bahwa pun Tee kun lah yang bermaksud untuk menjadikan dirimu?” ucap Hian im Tee kun lagi.

Ucapan itu mau tak mau harus dipercayai oleh Huan im sin ang, sebab ketika secara kebetulan dia berhasil menemukan kitab pusaka Jit sat hian im cinkeng itu, tiada orang kedua yang hadir disitu, selama ini diapun belum pernah menyinggungnya kepada orang lain, apalagi kitab pusaka Jit sat hian im cingkeng memang berasal dari Hian im bun, maka setelah persoalan itu disinggung sendiri oleh Hian im Tee kun.....

Begitu ingatan tersebut melintas didalam benaknya, Huan im sin ang cepat cepat menjatuhkan diri berlutut diatas tanah sambil berseru :

“Insu, tecu ”

Belum habis dia berkata, Hian im Tee kun telah mengulapkan tangannya sembari berkata :

“Kau tidak bisa dihitung sebagai muridku, karena kitab pusak Jit sat hian im cinkeng bukan merupakan ilmu silat yang diandalkan dalam perguruan kami, kepandaian tersebut hanya bisa dikatakan sebagai suatu ilmu sampingan belaka didalam perguruanku.”

Huan im sin ang segera merasakan hawa dingin menyelinap ke dalam benaknya, dia merasa kecewa sekali. Tiba tiba Hian im Tee kun berkata lagi :

“Oleh karena aku memang berhasrat untuk menjadikan kau, maka dari itu aku menjadikan kepadamu untuk memanggil Cun Bwee dan Ciu lan sebagai Su koh (bibi guru)!”

Begitu selesai berkata, sepasang matanya yang tajam segera dialihkan ke wajah Huan im sin ang, seakan akan dia bermaksud agar Huan im sin ang segera memberi hormat. Huan im sin ang memang seorang yang luar biasa, kulit mukanya pun tebal sekali, walaupun berada di hadapan anak buahnya, ternyata dia tidak berubah muka, seakan akan pada dasarnya dia memang keponakan muridnya Cun Bwee dan Ciu lan saja, ternyata dengan sikap yang sangat menghormat ia menjalankan penghormatan besar dihadapan mereka.

“Siautit memberi hormat buat sukoh berdua, dikemudian hari harap sukoh bersedia memberi banyak petunjuk.”

Cun Bwee masih tidak merasakan apa apa, sebab dia memang sebelumnya tidak kenal dengan Huan im sin ang, dengan tanpa canggung dia menerima penghormatan tersebut. Berbeda sekali dengan Ciu lan, dahulu dia adalah muridnya Huan im sin ang, sekalipun mukanya lebih tebalpun, sekarang dia merasa amat canggung untuk menerima penghormatan dari Huan im sin ang, kontan saja dia dibikin tersipu sipu.

Hian im Tee kun segera tertawa terbahak bahak. “Haaahhh.... haaahhhh.... haahhhh Cun ji kau hanya

melaksanakan tugas belaka, jadi bukan benar benar mempunyai hubungan guru dan murid dengan dirinya, jadi sebutan sukoh tersebut, sesungguhnya pantas untuk kau terima.”

Dari ucapan tersebut, Huan im sin ang baru merasa terkesiap, sekarang ia baru tahu kalau kedudukannya sudah lama diincar orang, bahkan Ciu lan yang diterima sebagai muridnya dan diangkat menjadi Ban seng kiongcu pun tak lain merupakan mata mata yang sengaja disusupkan oleh lawan ke dalam tubuh perguruannya.

Meski begitu, dia sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa apa di atas wajahnya, malah mengikuti nada pembicaraan dari Hian im Tee kun dia berkata :

“Perkataan dari Tee kun memang benar, harap memaafkan ketidak tahuan siautit!”

Selanjutnya Hian im Tee kun berkata lagi kepada Huan im sin ang

:

“Sebenarnya pun Tee kun ada maksud untuk memupuk dirimu

untuk membangun kembali kejayaan perguruan kita, siapa sangka walaupun usia mu telah lanjut, namun cara kerjamu agak gegabah, hal ini membuat aku merasa kecewa sekali, itulah sebabnya terpaksa aku harus turun tangan sendiri untuk mengambil alih pimpinan.”

Setelah mengetahui kalau separuh hidupnya telah terjatuh didalam hitungan orang lain, Huan im sin ang tak dapat berkata apa apa lagi kecuali diam diam menghela napas panjang.

Mendadak Hian im Tee kun mengalihkan kembali pokok pembicaraannya ke soal lain, ujarnya kepada segenap anggota perguruan :

“Mulai sekarang di dalam istana Ban seng kiong sudah tidak berlaku lagi kedudukan Sancu dan Kiongcu, dibawah pun Tee kun adalah Hian im ji li (dua gadis hian im), selanjutnya terbagi dalam empat bagian yang masing masing merupakan Cing long tong, Cu ciat tong, Pek hou tong dan Han bun tong, di bawah keempat bagian tersebut pula menjadi ruang cabang, dibawah ruang cabang adalah bagian ranting, sedang sisanya merupakan anggota anggota biasa.”

Berbicara sampai disitu, sorot matanya segera dialihkan kearah Thian lam pat koay. Thian lam pat koay yang sudah patah semangat, secara tiba tiba timbul kembali harapannya, mereka berharap bisa menduduki sebuah kepala bagian atau paling tidak wakil dari kepala bagian.

Siapa sangka Hian im Tee kun hanya memerintahkan mereka berdelapan untuk berbakti kepada Huan im sin ang sebagai mencari berita atau penyampai berita atau tegasnya sebagai kurir.

Sedangkan Huan im sin ang hanya mendapatkan bagian sebagai ketua cabang dari bagian ‘kurir’ yang berada di bawah kekuasaan kedua orang nona tersebut.

Sedangkan kedudukan yang lain, untuk sementara waktu dipangku semua oleh Hian im ji li, tentu saja orang orang yang digunakan Huan im sin ang dulu, tak seorangpun diantaranya berhak memangku jabatan sebagai kepala cabang atau kepala ranting. Begitulah setelah Hian im Tee kun menunjuk Huan im sin ang sebagai kepala cabang bagian ‘kurir’, dia lantas mengeluarkan tiga ruas tulang kering dan berkata kepadanya :

“Ui Sam ciat, sekarang juga kau turun gunung dan atas nama Pek kut leng (lencana tulng putih) ku ini sampaikan kepada Keng thian giok cu Thi Keng, Tiang pek lojin So Seng pak dan Bu im sin hong Kian Kim siang untuk masing masing menduduki jabatannya sebagai ketua bagian Cing long tong, Pek hou tong dan Han bun tong, beri waktu kepada mereka untuk dalam waktu tiga hari kemudian datang melaporkan diri.”

Padahal Huan im sin ang Ui Sam ciat hanya tahu kalau Tiang pek lojin berada di kuil Siong gak bio dibukit Siong san, sedangkan mati hidup Keng thian giok cu Thi Keng serta Bu im sin hong Kian Kim siang sama sekali tidak diketahui olehnya, tentu saja untuk mencarinya bukan sesuatu yang gampang.

Tak heran kalau dia menjadi ragu sesudah menerima perintah tersebut....

Hian im Tee kun segera menyentilkan jari tangannya, dua titik cahaya putih dengan cepat terjatuh ke tangan Huan im sin ang, katanya kemudian dengan lantang :

“Laksanakan saja perintahku itu!”

Huan im sin ang tahu didalam gulungan kertas yang dilontarkan kepadanya itu pasti sudah tercantum petunjuk yang diperlukan maka tanpa membuang waktu lagi, dia segera berangkat meninggalkan tempat itu.

Begitulah, sejak Hian im Tee kun menguasai istana Ban seng kiong, situasi dalam dunia persilatan kembali terjadi perubahan besar. Tapi justru karena itu pula Thi Eng khi menjadi semakin berpengalaman dan nama besarnya makin memancar keempat penjuru.

Dalam pada itu, Thi Eng khi yang dimaki oleh Ciu lan sebagai mahkluk berdarah dingin yang tidak berbakti dan tidak setia kawan, dengan mata berkunang kunang karena malu dia berlalu dari situ. Dalam keadaan seperti itu, tentu saja tiada semangat lagi baginya untuk melangsungkan pertarungan. Sambil membopong jenasah Huang oh siansu, sekaligus dia menempuh perjalanan sejauh ratusan li sebelum akhirnya berhenti.

Pada saat itulah, dia baru membaringkan jenasah Huang oh siansu dibawah pohon siong, kemudian ia berlutut disampingnya. Rasa sedih yang menyelimuti perasaan waktu itu tak terlukiskan dengan kata kata. Diapun tak tahu berapa lama sudah dia termenung disitu, akhirnya dia baru menyembah tiga kali dihadapan jenasah Huang oh siansu sambil berguman :

“Ananda cukup mengetahui akan maksud hati dari kau orang tua, semenjak empek Ciu meninggal dunia, sambil menanggung derita kau sudah berhasrat untuk menyusulnya, tapi demi enci Ciu dan ananda, kau orang tua telah memperpanjang hidupmu selama dua puluh tahunan lagi ”

Menyinggung soal enci Ciu, satu ingatan segera melintas dalam benaknya, sesudah termenung beberapa saat, dia baru berkata lagi : “Oleh karena kau orang tua sudah berhasrat untuk mengakhiri hidupmu demi teman dan lagi bermaksud untuk melindungi putramu

maka hari ini kau orang tua baru mengambil tindakan untuk beradu jiwa dengan Huan im sin ang, tindakan ayah untuk melenyapkan bibit bencana bagi umat persilatan ini sungguh membuat ananda merasa amat kagum.”

Setelah menyembah lagi tiga kali, dengan wajah yang bersungguh sungguh dia berguman lebih lanjut :

“Kau orang tua selalu mengutamakan kesetiakawanan, kalau toh ayah memang berhasrat untuk menyusul empek Ciu, ananda dengan tulus hati menghantar keberangkatan kau orang tua!”

Setelah memberi hormat, dia baru mencari sebuah gua yang sepi untuk menyimpan jenasah ayahnya, kemudian mulut gua disumbat dengan batu besar agar tiada binatang buas yang merusak jenasahnya. Kemudian dia baru kekota untuk membeli peti mati, menyewa kereta dan berganti pakaian berkabung, untuk berangkat pulang ke tempat dimana jenasah Huang oh siansu disimpan.

Setelah semua persiapan selesai dan siap berangkat, tiba tiba Thi Eng khi baru menjerit keras. Kusir kereta itu adalah seorang kakek kecil yang memakai topi besar, ketika mendengar jeritan kaget dari Thi Eng khi, dia turut menjadi ketakutan, buru buru serunya dengan gemetar.

“Kongcu, ada urusan apa yang membuatmu kaget?”

“Aku tidak tahu jalan yang musti dilalui,” sahut Thi Eng khi tersipu sipu.

Yaa, dimanakah Ciu Cu giok disemayankan bukan saja tidak diketahui oleh Thi Eng khi, mungkin Ciu Tin tin dan ibunya juga tak tahu, maka untuk sesaat dia menjadi tidak tahu apa yang musti dilakukan.

Tentu saja si kusir kareta tak tahu urusan yang sedalam dalamnya, ia hanya merasa kongcu ini benar benar seorang manusia yang gegabah sehingga jalanan untuk pulang pun tidak diketahui.

Maka sambil menahan gelinya, diapun berkata :

“Aku sudah pernah menjelajahi seluruh kolong langit, harap kongcu katakan saja nama tempat itu, niscaya aku dapat menghantarmu sampai di tempat tujuan!”

“Aku tidak tahu!” jawab Thi Eng khi cepat.

Tentu saja yang dimaksudkan sebagai tidak tahu adalah tempat Ciu Cu giok dikubur. Tapi si kusir kereta itu salah menganggap Thi Eng khi tak tahu alamat rumahnya sendiri, dia lantas merasa kalau penyakit kongcu ini sudah tak tertolong lagi, tak kuasa lagi dia menjadi tertawa geli. Tapi begitu tertawa, dia lantas menyadari kesilapannya, buru buru pikirnya :

“Aku benar benar pikun, orang lagi kesusahan masa aku malah tertawa geli.” Untung saja, Thi Eng khi sedang diliputi persoalan pelik, sehingga tidak begitu memperhatikan perbuatan dari kakek itu. Setelah berhasil memenangkan diri dan melihat Thi Eng khi belum juga mengemukakan sesuatu sambil menghela napas, kusir itu berkata :

“Kongcu, daripada tidak tahu tempat tujuanmu, bagaimana kalau aku saja yang mengusulkan suatu tempat?”

“Harap lotiang suka memberi petunjuk!” sahut Thi Eng khi sambil sadar kembali dari lamunannya.

Sambil menunjuk ke depan sana, kusir itu berkata :

“Setelah membelok sebuah tikungan didepan bukit sana terdapat sebuah kuil yang bernama Bu tok si, lantaran tempat itu terpencil dan letaknya jarang sekali dikunjungi jemaah lagipula dalam kuil itu sering dipakai orang untuk menyimpan peti mati, andaikata kongcu tidak dapat mengambil keputusan bagaimana kalau untuk sementara waktu peti mati itu disimpan saja dalam kuil tersebut, kemudian bila tempat yang kau tuju telah ditemukan kembali, barulah diangkut kembali?”

Thi Eng khi memang tidak berhasil menemukan cara yang lain lagi, terpaksa dia menuruti perkataan dari kakek itu dan untuk sementara waktu menyimpan peti jenasah tersebut dalam kuil Bu tok si.

Mungkin dimasa lalu kuil Bu tok si adalah sebuah kuil yang sering dikunjungi orang, buktinya walaupun keadaannya sekarang sudah porak poranda, namun dekorasi didalam ruangan kuil itu masih tetap megah dan menarik. Kuil itu mencakup suatu wilayah yang amat luas, ruangan kuil pun banyak sekali, namun di dalam kuil hanya terdapat seorang hwesio tua dan seorang hwesio kecil, oleh karena itu banyak ruangan diantaranya tertutup oleh debu dan sarang laba- laba.

Dalam suasana sedih dan banyak pikiran yang berkecamuk dalam benaknya, sepanjang hari Thi Eng khi merasa murung sekali, maka untuk sementara waktu diapun berdiam di dalam kuil Bu tok si itu untuk beristirahat sambil menenangkan pikiran. Hwesio tua yang menghuni dalam kuil itu seorang pendeta yang saleh dan ramah, sedangkan si hwesio cilik itu masih bersifat kekanak kanakan, sekalipun mereka adalah pendeta, namun pergaulannya dengan manusia lain amat luwes.

Tak heran walau baru dua hari berkumpul masing masing pihak dapat berkumpul seperti sahabat yang telah berkenalan selama puluhan tahun lamanya. Malam itu, Thi Eng khi telah mengambil keputusan untuk meninggalkan kuil tersebut pada keesokan harinya.

Sungguh tak disangka olehnya, walau hanya berdiam dua hari saja didalam kuil itu, dalam hati kecilnya telah timbul suatu kesan yang amat mendalam sekali, bahkan pikirannya terasa menjadi tidak tenang. Bagi seorang yang memiliki tenaga dalam amat sempurna, namun bisa mengalami keadaan seperti ini, sesungguhnya kejadian ini boleh dibilang merupakan suatu kejadian yang aneh.

Dengan perasaan yang gundah, akhirnya dia mendorong pintu dan berjalan keluar, dia bermaksud untuk berjalan jalan disekeliling kuil tersebut. Memandang rembulan yang sudah condong kebarat, pikiran Thi Eng khi pelan pelan menjadi tenang kembali, entah berapa saat kemudian, pelan pelan iapun berjalan siap kembali kekamarnya.

Tiba tiba pada saat itulah dia menyaksikan dari dalam kuil

melayang keluar sesosok bayangan manusia yang kecil, tak disangkal lagi jelas orang itu adalah si hwesio kecil. Dengan cepat Thi Eng khi menyembunyikan diri kebalik tempat kegelapan, dia saksikan hwesio itu berputar dua kali disekitar halaman kuil, tampaknya sedang melakukan pemeriksaan apakah disekitar tempat itu terdapat jago persilatan yang menyembunyikan diri.

Untung tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi sangat lihay, kalau tidak niscaya jejaknya akan ketahuan. Akhirnya hwesio itu dengan ilmu menyambut Liu seng kan gwat (bintang jatuh mengejar rembulan) melepaskan dua biji batu kecil ke udara.

“Taaak!” ketika batu yang belakang menumbuk batu yang depan, segera terdengarlah suara benturan nyaring. Menyusul suara benturan tersebut, tampaklah si hwesio tua itu melompat keluar dari balik kuil.

Kedua orang itu segera berbisik bisik dengan suara lirih kemudian hwesio cilik itu lari kedepan sejauh beberapa kaki dari tempat semula dan berjaga jaga di sana. Sedang hwesio tua itu sekali lagi melakukan penggeledahan yang seksama atas sekeliling tempat itu.

Thi Eng khi merasa amat keheranan menyaksikan ketelitian mereka dalam melakukan pemeriksaan, apa sebenarnya tujuan mereka? Dalam pada itu, si hwesio tua telah kembali ke depan kuil dia berjalan menuju ke undak undakan batu yang keempat, lalu meletakkan telapak tangan kirinya pada batu yang ketiga dari sebelah kanan.

Setelah itu, dengan sangat berhati-hati sekali dia mengangkat batu itu setinggi beberapa depa dan meraba permukaan tanah dibawah batu itu, akhirnya dia mengeluarkan sebuah bungkusan yang disimpan kedalam sakunya dengan hati hati sekali.

Akhirnya setelah memberi tanda kepada hwesio cilik itu, berangkatlah mereka berdua menuju ke timur. Sesungguhnya Thi Eng khi menaruh kesan yang sangat baik terhadap kedua orang pendeta ini, akan tetapi setelah menyaksikan gerak gerik mereka yang mencurigakan segera timbul perasaan ingin tahu didalam hatinya, serta merta diapun melakukan pengejaran dari belakang.

Dia ingin tahu apa gerangan yang sebenarnya dilakukan oleh kedua orang hwesio itu. Sungguh lihay kepandaian silat yang dimiliki hwesio tua itu, sekalipun harus menggandeng tangan si hwesio cilik, namun kecepatan geraknya masih tetap luar biasa sekali.

Akan tetapi, bila dibandingkan dengan Thi Eng khi, dia masih selisih amat jauh. Setelah berlarian sekian lama, akhirnya sebuah sungai besar terbentang di depan mata. Kedua orang itu langsung menuju ketepi sungai, kemudian menyambitkan sebutir batu ke tengah sampan yang menggantungkan lampu berwarna kuning di tengah sungai. Sambitan itu amat tepat, mula mula batu itu jatuh diatas bumbungan ruangan perahu, setelah itu baru jatuh ke atas geladak, sehingga suara yang ditimbulkan adalah dua kali. Mungkin kode rahasia tersebut telah dijanjikan mereka sebelumnya.

Betul juga, lampu kuning yang berada diatas perahu itu, segera berubah menjadi lampu berwarna merah.

“Ada bahaya diatas perahu!” hwesio cilik itu segera berseru dengan perasaan tegang. Paras muka hwesio tua itu berubah menjadi amat serius, dia mengeluarkan bungkusan kecil itu dari sakunya dan diserahkan kepada hwesio cilik itu, kemudian memesannya agar menunggu di tepi sungai.

Setelah itu, sebelum dia berlalu pesannya lagi : “Seandainya aku menemukan sesuatu musibah yang berada

diluar dugaan, kau harus segera kembali kekuil dan memohon kepada Thi siangkong yang menginap di kuil kita itu untuk mengambil keputusan.”

“Apakah dia dapat membantu kita?” Tanya hwesio cilik itu ragu ragu.

Sambil membelai kepala si hwesio cilik yang gundul, sahut hwesio tua itu :

“Thi siangkong adalah orang yang berilmu tinggi, dia sudah pasti akan sanggup untuk membantu dirimu.”

Seandainya dia tidak bersedia membantu :

“Tidak mungkin! Walaupun Thi siangkong sedang diliputi kemurungan, namun jiwa pendekarnya amat mengagumkan, asal kau menceritakan keadaan yang sebenarnya, niscaya dia akan membantumu. Kau harus mempercayai dirinya!”

Thi Eng khi yang diam diam menyadap pembicaraan tersebut, menjadi terharu sekali setelah mendengar perkataan itu, dia merasa darah panas didalam dadanya mendidih sedang dalam hati kecilnya segera bertekad untuk mencampuri urusan ini. “Suhu!” bisik si hwesio cilik itu agak berisik, “mengapa kita tidak segera kembali untuk mengundang Thi siangkong agar membantu kita?”

“Sudah puluhan tahun lamanya aku berkelana dalam dunia persilatan, tapi belum pernah memohon bantuan orang lain, apakah kau tidak mengetahui hal ini?” seru hwesio tua itu dengan wajah bersungguh sungguh.

“Kalau memang begitu, mengapa suhu tidak menyuruh tecu saja yang pergi memohon kepadanya?”

“Hal itu merupakan urusan pribadiku sendiri, dengan kau sibocah yang masih kecil, mana mungkin bisa dibandingkan dengan diriku?”

Hwesio cilik itu tidak puas, dia segera berseru :

“Kalau memang ambisi perguruan kita amat besar, tecupun bersumpah tak akan memohon bantuan orang.”

Mula mula hwesio tua itu agak tertegun kemudian sahutnya : “Bagus! Bagus! Bagus!”

Setelah menatap hwesio cilik itu sekian lama katanya lagi sambil menghela napas :

“Kau memang tak malu menjadi murid aku Hud sim giam ong (raja akhirat berhati buddha) hanya sayang aku tak punya banyak waktu lagi untuk memberi pelajaran kepadamu!”

Dari sakunya ia mengeluarkan sejilid kitab kecil dan diserahkan kepada hwesio itu, kemudian lanjutnya :

“Di dalam kitab ini tercantum rahasia ilmu silat dari perguruan kita, baik baik kau menjaga diri.”

Tampaknya dia sudah bertekad untuk mati, hal mana mambuat Thi Eng khi beriba hati. Setelah mengebaskan ujung bajunya, hwesio tua itu segera menggunakan jurus Toa tiau tian ci (rajawali raksasa membentang sayap) melompat ke tengah sungai tanpa menimbulkan sedikit suarapun. Dengan termangu mangu hwesio cilik itu menyaksikan hwesio tua tersebut melompat naik keatas perahu, kemudian ia baru menyembunyikan diri dibalik semak belukar. Mendadak dari atas perahu berkumandang suara gelak tertawa yang memekak telinga.

“Haaahhhh..... haaahhhh..... haaahhhh rupanya kau siraja

akhirat berhati Buddha yang mengacau dari tengah!”

Begitu Thi Eng khi mendengar suara tertawa yang muncul dari atas perahu dan penuh dengan pancaran tenaga dalam yang amat sempurna itu, dalam hati kecilnya segera berpekik :

“Aduh celaka!”

Buru buru ia mengerahkan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im untuk melambung ditengah angkasa lalu dengan mengandalkan hawa murninya yang sempurna, dia langsung meluncur keatas perahu ditengah sungai tersebut.

Hwesio cilik itu masih belum tahu kalau bintang penolong telah datang, ia masih menguatirkan keselamatan dari gurunya. Waktu itu Thi Eng khi melayang turun diatas perahu, seakan akan enteng bagaikan kapas begitu entengnya gerakan tubuh itu sehingga boleh dibilang semua orang yang berada dalam ruangan sampan tersebut kena dikelabui olehnya.

Dengan cepat dia mencari tempat yang strategis didalam ruangan perahu dan mulai mengintip kedalam. Ternyata di dalam ruangan perahu itu hadir empat orang yang seorang duduk membelakanginya sedangkan tiga orang lainnya dapat terlihat wajah mereka dengan jelas.

Si hwesio yang bernama Raja akhirat berhati Buddha itu duduk dibagian tengah, di sebelah kirinya duduk seorang kakek berumur lima puluh tahunan yang berwajah bersih, sedangkan di sebelah kanannya duduk seorang sastrawan yang berusia tiga puluh tahunan.

Kedua orang itu nampak lemas sayu dan mengenaskan sekali keadaannya, jelas mereka baru saja menderita siksaan hebat. Dengan wajah penuh rasa heran dan ingin tahu, raja akhirat berhati Buddha merangkap tangannya dan menjura kepada orang yang duduk membelakangi Thi Eng khi itu, lalu katanya :

“Ooooh rupanya Bu im sin hong (angin tanpa bayangan)

Kian tayhiap yang sakti telah datang, selamat bersua, selamat bersua!”

Benarkah orang ini adalah Bu im sin hong Kian Kim siang?

Kenyataan tersebut hampir saja membuat Thi Eng khi tidak percaya dengan telinga sendiri, didalam hati :

“Pikun! Sewaktu dibukit Siong san tempo hari, kenapa aku lupa untuk mengadakan perjanjian dengannya?”

Sebenarnya dia akan turun munculkan diri untuk melerai itu tapi dengan cepat ingatan lain melintas dalam benaknya :

“Aaah, lebih baik aku menanti sebentar lagi coba kulihat kesalahan paham apakah sebenarnya telah terjadi diantara mereka barulah setelah duduknya perkara menjadi jelas, baru munculkan diri lagi untuk melerai.”

Karena berpikiran demikian, maka diapun lantas mengurungkan niatnya untuk menampilkan diri. Dalam pada itu, Bu im sin hong telah berseru sambil tertawa dingin :

“Bu kay kwesio, tak nyana kau masih ingat dengan raut wajah lohu .... benar benar tak kusangka ”

Tampaknya si raja akhirat berhati Buddha Bu kay hwesio merasa amat jeri sekali terhadap Bu im sin hong Kian Kim siang, mengikuti nada ucapannya itu buru buru dia berseru :

“Pinceng masih ingat, pada enam puluh tahun berselang, ketika pinceng mengikuti mendiang guruku mengunjungi tayhiap, berkat petunjuk tayhiap lah pinceng ”

Belum habis perkataan itu diutarakan, tiba tiba Bu im sin hong Kian Kim siang membentak keras :

“Tak usah banyak berbicara, aku harus selesaikan dulu tugas ini sebelum berbincang bincang kembali denganmu, sekarang aku ingin bertanya kepadamu, apakah barangnya sudah kau bawa kemari?” Paras muka Raja Akhirat berhati Buddha Bu kay hwesio berubah hebat, ia tak berani menjawab pertanyaan Bu im sin hong Kian Kim siang secara terang terangan, dengan sinar matanya dia memandang sekejap kearah kakek yang berada disampingnya, seakan akan ingin tahu apa saja yang telah dia ucapkan.

Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan kejadian itu hanya tertawa dingin tiada hentinya, dia sama sekali tidak bermaksud untuk menghalangi perbuatan mereka. Terpaksa kakek itu mengucapkan sepatah kata secara ringkas :

“Dia sudah tahu kalau benda tersebut berada ditangan siansu!”

Kemudian dengan wajah memerah dia menundukkan kepalanya rendah rendah. Di masa dahulu, si Raja akhirat berhati Buddha Bu kay hwesio terhitung pula sebagai seorang pendekar besar yang termashur namanya dala dunia persilatan, dia termashur karena tindakannya yang tegas seperti raja akhirat tapi berhati welas kasih bagaikan Buddha.

Pada usia tuanya meski sudah mencukur rambutnya menjadi seorang pendeta akan tetapi jiwa kependekarannya sama sekali tidak berkurang. Sambil menarik muka dia lantas berseru :

“Yu sicu, kau bukan terhitung seorang prajurit tak bernama di dalam dunia persilatan, mengapa tindakanmu justru melanggar kesetiaan kawan yang diperlukan seorang jago persilatan?”

Kakek yang ditegur itu hanya membungkam diri dalam seribu bahasa, tiba tiba dia mengayunkan telapak tangan untuk menghantam keatas ubun ubun sendiri. Serta merta Bu im sin hong Kian Kim siang mengangkat tangannya sambil menotok jalan darah kakek itu, dengan demikian niatnya untuk membunuh diri jadi tercegah.

Setelah itu sambil tertawa seram katanya :

“Heeehhh.... heeehhh.... heeehhhh sebelum urusan menjadi

jelas jangan harap kalian bisa mati dengan seenaknya sendiri, apakah kau melupakan kembali perkataan dari lohu? Kalau tidak, tak ada salahnya jika kau merasakan ilmu jari Siau hun ci hoatku sekali lagi!”

Seraya berkata dia lantas menggerakkan jari tangannya seperti siap melakukan totokan. Dengan cepat si raja akhirat berhati Buddha melompat kedepan dan menghadang dihadapan kakek itu serunya :

“Dengan nama besar Kian tayhiap dalam dunia persilatan, tak nyana kalau perbuatanmu begitu rendah, sehingga terhadap seorang angkatan muda dari dunia persilatan pun melakukan tindakan sekeji ini, kalau begitu pinceng telah salah menegur Yu sicu.”

Perlu diketahui ilmu jari Siau hun ci hoat merupakan salah satu ilmu beracun dari dunia persilatan, barang siapa yang terkena totokan tersebut, dia tak akan merasa sakit ataupun gatal, tapi akan merasa linu sekujur badannya seakan akan seluruh tulang belulangnya menjadi lepas dan sukmanya melayang meninggalkan raganya.