Pukulan Naga Sakti Jilid 19

 
Jilid 19

Ternyata yang ikut masuk ke dalam ruangan hanya Si Pendendam raja akhirat Kwik Keng thian, Hwee cun siucay Seng Tiok sian serta Ting Un tiga orang. Dalam ruangan itu sudah ada pula dua orang kakek lainnya, sehingga berikut Thi Eng khi, kini jumlahnya mencapai enam orang.

Thi Eng khi segera dipersilahkan untuk duduk di sudut ruangan yang diapit dua belah dinding, sementara dibagian pintu dan bawah jendela ditempati kelima orang tersebut, seakan akan mereka takut kalau pemuda itu sampai melarikan diri. Lama kelamaan habis sudah kesabaran Thi Eng khi, sambil tertawa dingin segera tegurnya:

“Entah dalam hal apakah aku telah menyalahi kalian sehingga kalian bersikap begini kasar kepadaku?” Si Pendendam raja akhirat Kwik Keng thian balas tertawa dingin kemudian menjawab :

“Thi tayhiap tak usah terburu napsu, kau tidak bertanya kepada kami, kamipun akan bertanya kepadamu! Sekarang mari kuperkenalkan dulu dengan dua orang tayhiap ini, mereka berdua adalah jagoan yang bermata tajam maka didalam pembicaraan nanti kau harus berhati hati, jangan sekali kali mencoba untuk berbohong.”

Tidak menunggu Si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian memperkenalkan, kakek yang berada disebelah kiri telah menyebutkan dulu nama sendiri,

“Lohu adalah To Jit hwi….”

Sedang kakek yang berada di sebelah kanan melanjutkan : “Lohu adalah To Gwat hwi.”

Hwee cun siucay Seng Tiok sian segera menyambung lebih jauh : “Kedua orang To locianpwe ini adalah Jit gwat siang beng

(matahari dan rembulan sama terang) yang termasyur karena ketajaman matanya, setelah kau berhadapan dengan mereka maka kuanjurkan kepadamu agar berbicaralah secara terus terang saja.”

Menghadapi ucapan ucapan yang begitu bernada menuduh, Thi Eng khi tak tahan, segera teriaknya :

“Kalian telah menganggap aku Thi Eng khi sebagai manusia apa?”

Sekalipun diluar dia berkata ketus namun hatinya merasa amat tidak tenang, dia tak tahu apa yang telah menyebabkan mereka bersikap demikian kepadanya. Dia cukup mengetahui akan kelihayan Huan im sin ang, ia takut si kakek bayangan semu tersebut telah menjiplak wajahnya untuk melakukan pelbagai kejahatan.

Sebab andaikata sampai terjadi keadaan seperti itu, sekalipun ia menerangkan dengan cara apapun sulit rasanya untuk membuat persoalan menjadi jelas, maka tak heran kalau dia merasa sangat kuatir. Terdengar si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian berkata 

: “Kalau dilihat dari luarnya, kau nampak seperti jujur dan berbudi luhur, sungguh tak nyana kau adalah seorang manusia licik yang berwajah manusia berhati binatang. Bukan saja kau telah mencuri belajar ilmu pertabiban milik lohu, bahkan berani pula melakukan perbuatan yang amat keji, perbuatanmu itu benar benar tak bisa diampuni lagi.”

Baru saja Thi Eng khi ingin bertanya perbuatan keji apakah yang dituduhkan kepadanya, Kwik Keng thian telah berseru lebih dulu :

“Tiok sian, ambil keluar tanda bukti itu daripada banyak berbicara yang tak berguna.”

Hwee cun siucay Seng Tiok sian segera meminta sebuah bungkusan kecil dari tangan Ting Un dan membukanya. Thi Eng khi segera dapat menyaksikan kalau benda tersebut adalah panah pendek bermoncong tiga yang lupa dia simpan itu. Benda tersebut ia dapatkan dari tubuh mayat seorang kakek yang dijumpainya dalam rumah gubuk itu.

Begitu melihat benda tersebut, dia segera menghembus napas panjang, hatinya merasa lega sekali karena dia menganggap kesalahan paham ini dapat segera diselesaikan. Ketika To Jit hwi yang duduk di sebelah kanan menyaksikan paras muka Thi Eng khi berubah menjadi mengendor dan lega, dengan suara dalam ia segera menegur :

“Sekarang apalagi yang hendak kau ucapkan?“

Baru saja Thi Eng khi akan menjawab, To Gwat hwi yang berada di sebelah kanan berkata pula :

“Inilah yang dinamakan serapat rapatnya bangkai dibungkus, akhirnya berbau juga, seandainya kau tidak meninggalkan panah pendek bermoncong tiga yang amat beracun ini, aku pasti tidak bisa menemukan kejahatan yang kau lakukan ini.“

Belum sempat Thi Eng khi membantah, Hwee cun siucay Seng Tiok sian telah berkata pula :

“Tahukah kau, siapakah orang yang telah kau bunuh itu?“ Sambil menuding kearah Ting Un, dia melanjutkan : “Orang tua itu tak lain adalah ayahnya adik Ting, cengcu dari perkampungan Huan keng san ceng yang disebut sebagai Hau hau sianseng Ting tayhiap!“

Thi Eng khi tidak begitu mengetahui tentang nama nama jago persilatan yang ada di dunia persilatan, kini untuk sesaat dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Sambil menangis terisak terdengar Ting Un mencaci maki pula dirinya dengan penuh kebencian : 

“Bajingan keparat! Apa dosa dan kesalahan keluarga Ting kami dengan dirimu? Mengapa kau begitu tega membunuh ayahku?“

Teringat akan budi kebaikan Ting Un yang telah memberi petunjuk kepadanya sehingga ia berhasil menemukan tempat tinggal si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian, Thi Eng khi merasa amat sedih sekali, selembar wajahnya berubah menjadi merah membara.

Baru saja dia membuka mulutnya hendak berbicara, To Jit hwi telah berkata kembali:

“Tahukah kau bahwa panah pendek bermoncong tiga ini tak pernah dipergunakan oleh keluarga lain?“

Kali ini Thi Eng khi telah mempersiapkan diri, ia tak ingin melepaskan setiap kesempatan untuk berbicara maka begitu To Jit hwi selesai berkata, buru buru serunya :

“Aku tidak tahu panah pendek itu merupakan senjata rahasia dari golongan mana, memangnya merupakan senjata rahasia dari Thian liong pay?“

To Jit hwi segera menggebrak meja sambil berteriak keras : “Tepat sekali! Panah pendek ini memang merupakan senjata

rahasia khas dari Thian liong pay!“

Mula mula Thi Eng khi agak tertegun lalu sambil melompat bangun teriaknya keras-keras :

“Omong kosong, aku sebagai ketua Thian liong pay masa tidak tahu kalau senjata rahasia itu adalah senjata rahasia perguruan Thian liong pay atau bukan!” “Hmm, ucapan itu betul betul suatu ucapan yang menggemaskan,” sambung To Gwat hwi dengan segera, “didepan orang lain mungkin kau masih bisa berdebat, tapi di depan lohu bersaudara, percuma saja semua perdebatanmu itu.”

Setelah berhenti sebentar, kembali dia melanjutkan :

“Selama seratus tahun belakangan ini, Thian liong pay memang tak pernah mempergunakan lagi panah pendek bermoncong tiga ini sebagai senjata rahasia khas dari Thian liong pay, dan hal ini merupakan suatu kenyataan yang tak akan terbantahkan oleh siapapun.” 

Ketika Thi Eng khi menyaksikan orang itu sengaja membuat cerita bohong untuk menyudutkan dirinya, ia menjadi gemes sekali sambil menggigit bibirnya kencang kencang, saking marahnya ia sampai tak sanggup berkata apa apa lagi.

To Gwat hwi melirik sekejap kearah Thi Eng khi, menyaksikan paras muka pemuda itu berubah menjadi merah padam saking gusarnya, dia menjadi bangga sekali. Setelah menarik muka, kembali ujarnya :

“Sejak seratus lima puluh tahun berselang, ketika partai Thian liong pay dipegang oleh ciangbunjin angkatan ke tujuh Thian ci cu Go it, oleh karena panah pendek bermoncong tiga yang lebih dikenal sebagai Giam ong tiap (undangan raja akhirat) ini dianggap sangat keji, maka dia melarang setiap anggota perguruan untuk mempergunakannya, semenjak saat itulah Giam ong tiap baru lenyap dari dunia persilatan hingga saat ini.”

Setelah berhenti sebentar, dia berkata lebih jauh :

“Sekalipun demikian Thi tayhiap sebagai ketua Thian liong pay berani mengatakan kalau tidak tahu menahu tentang senjata rahasia beracun ini?“

Walaupun Thi Eng khi merupakan ketua angkatan kesebelas dari perkumpulan Thian liong pay, sesungguhnya ia tidak begitu paham terhadap senjata rahasia tersebut, maka setelah titik kelemahannya ini dipegang orang, ia jadi serba salah.

Mau mengaku, rasanya tidak cocok dengan kenyataan, tidak mengaku rasanya juga tidak masuk diakal, maka setelah mendengus dingin, katanya :

“Alasan apa lagi yang hendak kalian utarakan, hayo katakan semua, emas yang murni tak akan takut dengan api, akan kudengarkan semua tuduhan kalian itu!“

Ia segera memasang telinganya baik baik dengan harapan bisa menemukan titik kelemahan dari balik ucapan tersebut untuk kemudian menyerangnya balik. To Jit hwi mengelus jenggotnya dan mendehem pelan, lalu ujarnya lebih jauh :

“Atas dasar bukti bukti yang ada maka lohu pun dapat memperoleh gambaran terhadap garis besar perbuatan Thi tayhiap didalam melaksanakan pembunuhan ini, entah apa pun tujuan dari Thi tayhiap datang mencari Kwik Keng thian tapi yang pasti kau pasti menjadi kemaruk akan harta yang berada di dalam rumah ini setelah menemukan penghuninya tak ada di dalam rumah “

Melihat orang itu menodai kesucian dan kebersihan namanya, dengan kening berkerut Thi Eng khi segera berseru :

“To cianpwe, kalau berbicara harap yang jelas lagi, perbuatan tidak senonoh apakah yang telah kulakukan?“

Si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian segera menjawab dengan wajah gusar :

“Lohu telah kehilangan Pek giok cian cu yang bisa memunahkan berbagai macam racun keji!“

“Kalau kehilangan barang, apa pula sangkut paut persoalan ini dengan diriku?“

“Aku harap Thi tayhiap suka memberikan bukti yang kuat kalau perbuatan itu bukan dilakukan oleh Thi tayhiap,“ kata Kwik Keng thian lagi. “Thi tayhiap,“ tiba tiba To Jit hwi menyela, “bila ada persoalan dibicarakan nanti saja, sekarang dengarkan dulu penjelasan dari lohu!“

Suasana yang amat menyudutkan posisinya ini sungguh membuat Thi Eng khi merasa gusar sekali sehingga sekujur badannya gemetar keras. Dengan amat bangga To Jit hwi melanjutkan kembali kata katanya:

“Sewaktu Thi tayhiap mencuri Pek giok cian cu milik Kwik tua, tentunya secara kebetulan Ting tayhiap sedang berkunjung kemari, karena ia berhasil menyaksikan perbuatanmu yang tak senonoh tersebut maka dalam malu dan gusarnya kau lantas turun tangan membunuhnya, sayang Ting tayhiap tidak bersiap siaga sehingga akhirnya dia tewas oleh Giam ong tiap milikmu itu. Itulah sebabnya ketika Ting tayhiap terbunuh, disekitar tempat ini tidak dijumpai bekas bekas pertempuran coba kalau mengandalkan kepandaian yang sebenarnya, kendatipun Thi tayhiap memiliki kepandaian yang hebat pun jangan harap bisa melaksanakan perbuatan tersebut!“

Setelah menelan ludah, dia berkata lebih jauh :

“Hanya panah pendek bermoncong tiga yang dinamakan Giam ong tiap saja yang bisa mematikan Ting tayhiap tanpa memberikan kesempatan kepadanya untuk melakukan perlawanan.“

“Waaahh hebat betul To cianpwe ini, apa yang dituturkan

seakan akan seperti menyaksikan dengan mata kepala sendiri, aku merasa amat kagum atas daya berkhayalmu itu.“

To Jit hwi sama sekali tidak tersinggung oleh perkataan itu, sambil tersenyum kembali katanya :

“Selama lohu berdua dikenal orang sebagai ahli dalam menyelidik perkara pembunuhan misterius, sebab itulah orang menyebut sebagai Jit Gwan siang beng, harap Thi tayhiap jangan menertawakan.“

Kemudian tanpa mempedulikan Thi Eng khi lagi, dia berkata lebih jauh :

“Thi tayhiap memang cukup licik dan lihay, setelah berhasil membunuh Ting tayhiap, kau mencabut kembali senjata rahasia tersebut karena kuatir ada orang yang menemukan Giam ong tiap tersebut di tubuh sang korban maka senjata rahasia itu diletakkannya di samping dengan maksud setelah membereskan jenasah Ting tayhiap baru mengambilnya kembali, siapa tahu setelah selesai bekerja ternyata kau lupa mengambil kembali senjata rahasia Giam ong tiap itu sehingga akhirnya terbongkarlah rahasia pembunuhan itu!“

Bicara sampai disini, dengan yang menyakinkan dia berseru : “Thi tayhiap menurut pendapatmu benarkah apa yang kuucapkan

barusan ?”

“Apakah kalian bersedia mendengarkan pula penuturanku?” ucap Thi Eng khi dengan tenang.

Ting Un segera mencak mencak kegusaran teriaknya : “Manusia tak tahu malu, sekalipun kau bersilat lidah sampai

busuk mulutmu pun jangan harap bisa membuat nonamu percaya, kebunuh dirimu lebih dulu!”

Ia segera mencabut pedangnya dan diiringi kilatan cahaya perak, sebuah tusukan maut dilancarkan ke arah Thi Eng khi. Menyaksikan datangnya ancaman tersebut, Thi Eng khi segera berkerut kening, sebenarnya dia hendak menyentil pedang tersebut, tapi Hwee cun siucay Seng Tiok sian telah keburu menangkisnya lebih dulu dengan kipas emasnya.

“Adik Un, jangan keburu napsu,” serunya cepat, “ memangnya kita takut dia kabur ke langit? Mari kita saksikan saja sampai sejauh manakah hatinya yang busuk itu.”

Dengan gemas Ting Un menarik kembali pedangnya dan balik ke tempat semula. Secara ringkas Thi Eng khi lantas menceritakan bagaimana dia berjumpa dengan nona Ting, bagaimana menemukan rumah tinggal si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian, bagaimana menemukan jenasah seorang kakek dalam ruangan itu dan bagaimana ia mengubur jenasah kakek itu dan karena buru buru ingin mendapatkan Si toan kim khong ia lupa menceritakan hal itu kepada Kwik Keng thian.... Akhirnya setelah menghela napas panjang ia menambahkan : “Andaikata aku berniat jahat, setelah kutinggalkan Kwik

locianpwe, tak nanti aku akan balik lagi kemari.”

Sesungguhnya si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian dan Hwee cun siucay Seng Tiok sian memang menaruh kesan baik terhadap Thi Eng khi, maka setelah mendengar penjelasan tersebut, hawa amarah mereka agak reda paras mukanya pun menjadi lebih mengendor.

Hanya nona Ting Un saja yang tak mau mengampuni Thi Eng khi, dia bertekad hendak mengadu jiwa dengan pemuda itu. Sebaliknya To Jit hwi dan To Gwat hwi yang memiliki kepandaian khusus dalam menyelidiki kasus pembunuhan misterius, sebenarnya memiliki kepandaian yang tinggi, sayang mereka hanya mempunyai sebuah titik kelemahan yaitu selalu menganggap apa yang telah diuraikan merupakan suatu kejadian yang sebenarnya, mereka tak mau merubah pandangannya karena pengaruh cerita orang lain.

Oleh karena itu, mereka berdua pun segera berusaha keras untuk menemukan titik kelemahan dari balik perkataan Thi Eng khi agar bisa dijadikan sebagai bukti kalau dugaan mereka tidak salah.

Demikianlah, tiba tiba mereka berdua tertawa terbahak bahak, lalu terdengar To Gwat hwi berkata :

“Thi tayhiap, kemunculanmu kembali di sini tak lebih hanya ingin menunjukkan kepada orang lain akan kebersihanmu belaka, bukankah tadi kau telah berkata seandainya kau bermaksud jelek, kau tak akan kembali lagi kesini? Ucapanmu itu menandakan kalau kedatanganmu kemari memang sengaja berhasrat untuk menutupi kejahatan yang telah kau lakukan. Sayang kau telah bertemu dengan kami berdua sehingga usahamu itu akan sia sia belaka.”

Ternyata ucapan dari dua bersaudara To itu mempunyai bobot yang luar biasa, seketika itu juga Si Pendendam raja akhirat Kwik Keng thian dan Hwee cun siucay Seng Tiok sian dibikin sangsi kembali. Thi Eng khi sendiripun tidak berhasil mendapatkan alasan yang lebih tepat untuk membantah perkataan orang, untuk sesaat dia menjadi tersipu sipu .....

Selain daripada itu, diapun terbayang kembali keadaan Pek leng siancu So Bwe leng yang sedang meronta dalam melawan kematian, teringat akan So Bwe leng, pemuda itupun merasa dia harus cepat cepat kembali ke bukit Siong san.

Dalam keadaan begini dia tak berminat untuk ribut dengan mereka lagi, dalam anggapannya sekalipun ia terfitnah sekarang, suatu saat toh kejadian itu akan menjadi terang dengan sendirinya. Berpikir sampai di situ, perasaan tak tenang yang semula menyelimuti wajahnya pun segera tersapu lenyap.

Keningnya segera berkerut, sinar tajampun memancar keluar dari balik matanya sambil membusungkan dada ia berkata :

“Terus terang kukatakan, kemunculanku kembali ke sini dikarenakan maksud yang baik yakni menghantarkan obat buat Kwik locianpwe, tapi jika kalian menaruh kesalahan paham kepadaku, yaa apa boleh buat lagi? Untung saja luka yang diiderita Kwik Keng thian telah sembuh, daripada berdiam disini tanpa berguna, lebih baik aku mohon diri lebih dulu.”

Selesai menjura dengan langkah lebar dia segera berjalan meninggalkan tempat itu. Dia sadar bahwa persoalan yang dihadapinya sekarang tak mungkin bisa dibikin terang, sedang dia pun enggan melakukan perngorbanan yang tak berguna, sebab itu dia bertekad untuk menghadapi semua kejadian sebisa mungkin.

“Thi tayhiap, kau hendak kabur dengan begitu saja?” dua bersaudara To melompat ke depan lebih dulu menghalangi jalan perginya. Setelah Thi Eng khi mengambil keputusan untuk pergi, ia tak mau memperlihatkan kelemahannya lagi, segera sahutnya dengan kening berkerut :

“Kalau tidak pergi, buat apa aku tetap tinggal disini?”

Ting Un segera memutar pedangnya sambil melancarkan tusukan, bentaknya keras keras :

“Serahkan nyawamu.” Hwee cun siucay Seng Tiok sian mengayunkan pula kipas emas sambil berseru :

“Thi tayhiap apakah kau anggap bisa pergi dengan begitu saja dari sini?”

Walaupun serangan yang dilancarkan nona Ting Un disertai desingan angin tajam namun kalau dibandingkan kelihayan kipas emas dari Hwee cun siucay Seng Tiok sian selisihnya jauh sekali.

Oleh karena itu, Thi Eng khi sama sekali tidak ambil peduli terhadap datangnya ancaman pedang dari Ting Un, bahkan pada hakekatnya dia tidak bermaksud untuk menangkis. Sambil menghimpun hawa murninya untuk melindungi badan, ia bersiap sedia menyambut tusukannya itu agar bisa mengurangi rasa dendamnya.

Sebaliknya terhadap ayunan kipas emas dari Hwee cun siucay Seng Tiok sian, ia tak berani bertindak gegabah, tapi serangan itu pun tak sampai memaksanya untuk menggunakan pedang emas Thian liong kim kiam hanya kewaspadaannya saja yang ditingkatkan.

Di saat pedang Ting Un digetar balik oleh tenaga dalam khikang pelindung badan yang terpancar keluar dari balik tubuh Thi Eng khi, kipas emas dari Hwee cun siucay Seng Tiok sian telah membabat pula lengan kiri Thi Eng khi. Terhadap Hwee cun siuday Seng Tiok sian, Thi Eng khi menaruh kesan yang baik, maka sebelum turun tangan, ia tak lupa berkata lebih dulu :

“Siaute dipaksa oleh keadaan mau tak mau terpaksa aku akan bertindak kasar kepada saudara Seng!”

Bahunya segera direndahkan, lain dengan kelima jari tangannya yang dipentangkan seperti cakar dengan menggunakan jurus sin liong tham jiau (naga sakti mementang cakar) dalam suatu gerakan kilat ia telah mencengkeram gagang kipas lawannya.

Begitu jari tangan Thi Eng khi menyentuh kipas lawan, dia segera menekan sambil mendorong, kontan saja Hwee cun siucay Seng Tion sian dipaksa mundur sejauh satu langkah. Hwee cun siucay Seng Tiok sian termasuk satu pendekar muda yang kosen dan lihay, sejak terjun ke arena persilatan, belum pernah menjumpai musuh yang tangguh, betul dia menyadari kalau tenaga dalam Thi Eng khi sangat lihay, namun dia tidak menyangka kalau tenaga dalamnya sudah mencapai tingkatan yang begitu sempurna.

Dia hanya merasakan daya tekanan yang hebat menekan sebentar diatas senjatanya lalu ditarik kembali, jelas pemuda itu tidak berhasrat untuk melukainya. Demonstrasi penggunaan tenaga dalam yang amat sempurna ini kontan saja membuat Hwee cun siucay Seng Tiok sian menjadi tertegun.

Menanti dia mendongakkan kembali kepalanya, Thi Eng khi telah berada di depan pintu luar. Ilmu gerakan tubuh apakah yang telah dipergunakan oleh pemuda itu sehingga secara begitu mudah ia bisa meloloskan diri dari penjagaan dua bersaudara To?

Untuk beberapa saat lamanya, lima orang yang berada dalam ruangan itu menjadi tertegun dan berdiri termenung. Rupanya setelah Thi Eng khi berhasil memukul mundur Hwee cun siucay Seng Tiok sian tadi, timbul keinginannya untuk memperlihatkan sedikit kelihayan dihadapan dua bersaudara To yang menghadang di depan pintu.

Maka dia segera menggunakan ilmu cahaya lewat lintasan bayangan ajaran Kian Kim siang untuk menerobos lewat dari antara kedua orang itu. Tentu saja kepandaian semacam itu membuat dua orang jagoan itu menjadi terbelalak dengan mulut melongo, hampir saja mereka mencurigai Thi Eng khi sebagai bayangan setan.

Setelah tertegun sejenak akhirnya si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian berhasil mengenali asal usul dari ilmu gerakan tubuh tersebut, ia segera berteriak keras :

“Aaah, ilmu Hu kong keng im.”

Perlu diketahui, ilmu Hu kong keng im merupakan ilmu andalan Bu im sin hong (angin sakti tanpa bayangan) Kian Kim siang yang amat termashur dalam dunia persilatan dimasa lalu, begitu Kwik Keng thian berseru, dua saudara To pun ikut terperanjat. Kemunculan dua bersaudara To ke dalam dunia persilatan agak terlambat beberapa tahun meski mereka tak sempat menyaksikan kelihayan dari Bu im sin hong Kian Kim siang namun kegagahan pendekar itu sudah lama sekali tertanam dalam hati kecilnya.

Lebih lebih si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian, selama puluhan tahun dia dan Kian Kim siang boleh dibilang bersahabat karib tapi tiba tiba saja Kian Kim siang lenyap pada puluhan tahun berselang ia berusaha untuk menemukan kembali rekannya itu, sayang usahanya tak pernah berhasil.

Maka setelah menyaksikan Thi Eng khi menggunakan ilmu Hu kong keng im tersebut, tanpa terasa muncul perasaan kangennya dengan sobat karibnya itu. Dengan wajah serius, Kwik Keng thian segera berkata :

“Thi tayhiap, apakah kau kenal dengan Bu im sin hong Kian Kim siang Kian tayhiap? Darimana kau pelajari ilmu Hu kong keng im tersebut?”

Thi Eng khi yang menyaksikan kejadian itu segera melihat pula betapa hormatnya mereka terhadap Kian Kim siang, dengan cepat dia menyadari kalau saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk membicarakan masalahnya secara baik-baik, maka secara ringkas dia lantas menceritakan pengalamannya sewaktu bertemu dengan Kian Kim siang. Akhirnya diapun menambahkan.

“Aku dan Kian tua adalah sahabat karib, sekarang dia sedang di dalam perjalanan menuju ke bukit Siong san, entah ada urusan apa Kwik locianpwe menanyakan persoalan ini?”

Si Pendendam raja akhirat Kwik Keng thian saling berpandangan sekejap dengan Jit Gwat siang beng To bersaudara, dua orang bersaudara To manggut manggut pelan tanpa berbicara. Dari sakunya Kwik Keng thian lantas mengeluarkan sebuah benda berbentuk cangkul obat yang terbuat dari batu kemala merah sepanjang beberapa inci, sambil diserahkan kepada Thi Eng khi, katanya : “Persoalan pada hari ini, kita akhiri sampai disini dulu, bila sauhiap tak ingin bermusuhan dengan sahabat sahabat persilatan dari wilayah Im kui dan Siang cuan, harap bawalah tanda pengenal ini untuk menjumpai Bu im sin hong Kian tayhiap, lalu ajaklah bersama untuk datang kemari guna menyelesaikan persoalan ini.”

Ketika Ting Un menyaksikan Thi Eng khi akan dilepaskan, dengan gelisah ia lantas berseru :

“Jika kalian melepaskan bajingan ini, berarti kalian telah berbuat sesuatu yang menyedihkan ayahku!”

Sambil membalikkan badan sekali lagi dia menerjang ke arah Thi Eng khi sambil bersiap-siap melakukan adu jiwa. Kwik Keng thian segera memerintahkan Hwee cun siucay Seng Tiok sian untuk menghalangi gerak maju Ting Un, kemudian katanya dengan suara dalam :

“Nona Ting, jangan bertindak gegabah, asal Kian tayhiap masih hidup, persoalan ini biarlah diselesaikan oleh Kian tayhiap!”

Sekalipun Ting Un tak mau menerima dengan begitu saja, namun berada dalam keadaan seperti ini kecuali menangis apalagi yang bisa dilakukan olehnya?

Walaupun Thi Eng khi berjumpa dengan Kian Kim siang tanpa sengaja, ia benar benar tak menyangka kalau sahabatnya itu mempunyai kedudukan yang begitu tinggi di wilayah Im kui dan Siang cuan, diapun tidak menyangka kalau kesalahan paham tersebut bisa diredakan untuk sementara waktu hanya mengandalkan nama ‘Kian Kim siang’.

Betul masalahnya belum selesai tapi asal diberi waktu yang cukup, dia tidak takut persoalan tersebut tidak menjadi terang. Bagaimanapun juga Thi Eng khi adalah seorang lelaki sejati, dia bukan seorang yang tidak bertanggung jawab, sambil menjura katanya : 

“Kematian Ting cengcu memang tak terlepas dari tanggung jawabku, bila aku tak mampu menyelidiki siapakah pembunuhnya, aku bersedia untuk mati dihadapan kalian.” Dengan langkah lebar dia berjalan keluar meninggalkan tempat itu. Tapi baru beberapa langkah, mendadak ia teringat kembali dengan tujuan kedatangannya ke sana, walaupun ia tak tahu mengapa luka yang diderita Kwik Keng thian dapat sembuh kembali, tapi ia merasa kurang tenteram sebelum apa yang dijanjikan tidak dipenuhi.

Akhirnya dia mengeluarkan sebutir pil Kim khong giok lok wan dan diserahkan kepada Kwik Keng thian sambil berkata :

“Walaupun kepergian boanpwe sama sekali gagal untuk mendapatkan Si toan kim khong, namun aku berhasil mendapatkan pil Kim khong giok lok wan yang lebih besar kemujarabannya, harap locianpwe suka menerima sebutir pil ini sebagai hadiah dariku.”

Ia tak ambil peduli apakah si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian bersedia untuk menerimanya atau tidak, sambil mengerahkan tenaga dalamnya dia melemparkan pil Kim khong giok lok wan itu ke tangan orang.

Dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang, secara mudah ia dapat mengirim pil Kim khong giok lok wan itu ke tangan Kwik Keng thian tanpa bisa ditolak kembali. Selain dari pada itu, Kwik Keng thian sudah lama mengenali kasiat pil Kim khong giok lok wan tersebut, berbicara terus terang dia pun merasa rikuh untuk menerimanya.

Menanti dia hendak mengembalikan pil mustika itu kepada Thi Eng khi, pemuda itu sudah lenyap dibalik pepohonan sana. Terpaksa si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian harus bersuit panjang untuk memberi tanda kepada para penjaga gua agar membiarkan Thi Eng khi berlalu dari situ. Dengan demikian, sepanjang jalan Thi Eng khi baru tidak menjumpai halangan apa-apa.

Tapi setelah terjadinya peristiwa ini, dia pun merasa rikuh untuk menunggang kuda hitam pemberian dari Kwik Keng thian lagi, selain itu diapun tidak bertanya kenapa luka dari Kwik Keng thian bisa sembuh. Tindakannya ini boleh dibilang cukup gagah dan terbuka. Sayangnya, tanpa kuda jempolan tersebut dia pun tak bisa sampai di bukit Siong san dalam waktu singkat.

Tampaknya luka yang diderita Pek leng siancu So Bwe leng sudah tiada kemungkinan untuk ditolong lagi, setelah Tiang pek lojin So Seng pak sekalian mendesak Thi Eng khi agar pergi mencari harapan terakhir yang tipis harapannya untuk berhasil itu, mereka pun mulai mempersiapkan urusan terakhir dari gadis itu.

Bersama waktunya mereka pun mengirim orang ke pelbagai tempat untuk mencari gadis yang berwajah mirip dengan Pek leng siancu So Bwe leng sebagai persiapan untuk menggantikan kedudukan So Bwe leng yang asli, hal ini perlu dilakukan untuk mencegah tekad Thi Eng khi untuk bunuh diri.

Dengan kekayaan dan kemampuan yang dimiliki Tiang pek lojin, tak sampai belasan hari kemudian, segala sesuatunya telah selesai dipersiapkan. Bahkan gadis yang berwajah mirip dengan So Bwe leng pun berhasil ditemukan puluhan orang banyak. Diantara ada dua orang yang berwajah sangat mirip dengan wajah Pek leng siancu So Bwe leng, bahkan sampai nada suarapun hampir mirip.

Saat itulah semua orang baru bisa menghembuskan napas lega sambil menunggu tibanya saat musibah tersebut. Ternyata keadaan luka yang diderita Pek leng siancu So Bwe leng pun sangat aneh, berada dalam keadaan yang lemah dengan napas yang hampir terputus, ternyata dia dapat bertahan selama belasan hari, malah setelah itu denyut nadinya berjalan normal kembali, kesadarannya pun pulih kembali.

Ada orang berkata, gejala ini menunjukkan gejala seseorang yang sudah makin mendekati saat ajalnya. Menyaksikan keadaan seperti ini, Tiang pek lojin So Seng pak sekalian jago lihay tak sanggup menahan rasa sedihnya lagi, mereka mengucurkan air mata dengan rasa amat sedih.

Akhirnya berita ini tersiar juga sampai di kuil Siau lim si. Ketua Siau lim pay Ci long taysu dan ketua Bu tong pay Keng hian totiang dengan mengajak segenap jago golongan lurus yang belum meninggalkan bukit Siong san bersama sama mengunjungi kuil Siong gak bio.

Ternyata mereka merasa amat terharu oleh sikap Pek leng siancu So Bwe leng yang gagah berani sehingga menyebabkan rencana Huan im sin ang mengalami kegagalan dan melarikan diri dari sana.

Oleh karena itu, mereka tidak pergi meninggalkan kuil Siau lim si, hal ini sebagai petanda kalau mereka pun sangat menguatirkan keselamatan dari Pek leng siancu So Bwe leng.

Kini, dalam ruang tengah kuil Siong gak bio telah dipenuhi oleh tokoh tokoh persilatan, yang jarang dijumpai dalam dunia persilatan di hari biasa. Pek leng siancu So Bwe leng berada dalam kamar, kecuali kakeknya, dia ditunggui pula oleh ketua dari Siau lim pay, ketua dari Bu tong pay dan ketua dari Kay pang.

Mereka bertiga sedang mewakili segenap umat persilatan dari daratan Tionggoan untuk menyampaikan rasa dukanya atas musibah yang menimpa So Bwe leng. Pada saat itulah, mendadak Pek leng siancu So Bwe leng berteriak keras :

“Engkoh Eng !”

Tiang pek lojin segera membungkukkan badan mendekati wajah So Bwe leng yang kurus, lalu sahutnya :

“Nak, Eng ji sedang pergi mencarikan obat bagimu, sekarang apakah kau sudah merasa agak baikan ?”

Mencoring sinar terang dari balik mata Pek leng siancu So Bwe leng, katanya lebih lanjut :

“Leng ji akan.... akan menunggu sampai sampai engkoh Eng

pu... pulang. ”

Rasa cinta yang dalam telah membangkitkan semangatnya untuk mempertahankan hidup.

“Nak, engkoh Eng mu segera akan kembali, kau harus menunggu sampai kedatangannya!” “Yaa.... aku .... aku pasti akan me... menunggu samapai dia daa.... datang. ”

Suara pembicaraannya makin lama semakin lirih sebelum akhitnya jatuh tak sadarkan diri. Anehnya ternyata dia benar benar tidak menghembuskan napas penghapisan, ia benar benar berusaha melawan cengkeraman malaikat elmaut untuk menunggu kedatangan Thi Eng khi.

Kembali beberapa hari sudah lewat, dalam suasana sebentar baik sebentar memburuk itulah Pek leng siancu So Bwe leng menyambung hidupnya lebih jauh. Kalau dihitung kembali, ternyata Pek leng siancu So Bwe leng dapat bertahan selama belasan hari lamanya. Tapi Thi Eng khi belum juga kembali.

Suatu ketika, mendadak terdengar Tiang pek lojin yang berada dalam kamar berteriak keras :

“Anak Leng! Anak Leng!”

Nadanya gugup dan gelagapan, jelas keadaannya sangat berbahaya. Tak dapat diragukan lagi, tentunya Pek leng siancu So Bwe leng sudah tak sanggup untuk mempertahankan diri lebih jauh. Seketika itu juga, suasana dalam ruangan itu menjadi kacau balau tak karuan.

Dalam keadaan kekacauan inilah, sesosok bayangan manusia berbaju abu-abu menyelinap diantara orang banyak dan masuk ke dalam kamar tidur Pek leng siancu So Bwe leng. Waktu itu Tiang pek lojin sekalian yang berada dalam kamar sedang dibikin panik, gugup dan sedih oleh karena So Bwe leng yang semakin kritis itu. Sehingga mereka tak ada yang memperhatikan kalau dalam kamar telah muncul seorang lagi.

Tampak orang itu mengayunkan jari tangannya dan menotok jalan darah Jin tiong hiat di tubuh Pek leng siancu So Bwe leng. Ternyata tak seorang manusia pun yang berada di dalam kamar itu yang mengetahui kejadian tersebut. Setelah totokan dilepaskan, orang itu baru berkata :

“Nona So tak bakal mati!” Walaupun suaranya kecil namun bagaikan suara genta yang bergema di pagi hari, lima orang tokoh silat yang berada dalam ruangan itu segera tersadar kembali dari lamunan. Saat itulah mereka baru tahu kalau dalam kamar telah bertambah dengan seorang nikou yang muda belia.

Anehnya ternyata tak seorangpun diantara kelima orang tokoh silat itu yang mengenal dirinya. Nikou muda itu tertawa pelan kepada ketua Kay pang, Si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, katanya :

“Harap Cu pangcu ambilkan semangkuk kuah jian nian jinsom kemari!”

Si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera mengundurkan diri tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sepeninggal Cu Goan po, keempat orang lainnya juga tak mengucapkan sepatah katapun, mereka hanya merasa nikou muda itu mempunyai suatu kewibawaan yang bisa membuat orang menaruh kepercayaan sehingga sekalipun harus menyerahkan nyawa sendiri kepadanya pun mereka akan melakukannya tanpa ragu.

Tiang pek lojin datang dari luar perbatasan sebagai tempat penghasil jinsom, tentu saja jinsom yang dibawapun amat banyak, tak selang berapa saat kemudian si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po telah membawa sebuah mangkuk berisi kuah jinsom berusia seribu tahun dan diserahkan kepada nikou muda itu.

Dari dalam sakunya, nikou itu segera mengeluarkan tiga belas batang tumbuh tumbuhan hijau berbentuk seperti daun berambang dan diletakkan ke atas telapak tangannya, tidak nampak bagaimana caranya menghisap, tahu tahu kuah jinsom berusia seribu tahun dalam mangkuk itu telah berubah menjadi tiga belas buah jalur putih yang bersama sama meluncur ke dalam tumbuhan hijau tadi namun anehnya tak nampak setetes air pun yang mengalir keluar.

Tampak nikou muda itu mengayunkan telapak tangannya ketiga belas lembar tumbuhan hijau itu dengan merubah diri menjadi tiga belas jalur cahaya hijau segera menyambar kedepan menembusi jalan darah ditubuh Pek leng siancu So Bwe leng dan lenyap dari pandangan.

Setelah ketiga belas jalur cahaya hijau itu hilang, wajah Pek leng siancu So Bwe leng segera menampilkan perasaan sakit yang amat hebat. Tiang pek lojin sangat menguatirkan keselamatan cucunya, baru saja dia hendak menegur nikou muda itu sudah berkata lebih dulu,

“So tayhiap boleh menggunakan tenaga sinkangmu untuk memancing berputarnya nyawa kehidupan dalam tubuh cucumu sambil membantu daya kerja obat tersebut untuk menyebar ke seluruh badan.”

Tiang pek lojin tidak ragu ragu lagi, dia segera menempelkan telapak tangannya di atas jalan darah Pek hwe hiat di tubuh Pek leng siancu So Bwe leng dan menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam tubuh gadis tersebut.

Sementara perhatian semua orang yang sedang ditunjukkan ke atas tubuh Tiang pek lojin dan Pek leng siancu So Bwe leng, tahu tahu bayangan tubuh nikou muda itu sudah lenyap tak berbekas. Dalam pada itu, dibawah bantuan tenaga dalam dari Tiang pek lojin, obat yang berada dalam tubuh Pek leng siancu So Bwe leng mulai bekerja, tak sampai sepertanak nasi kemudian, gadis itu sudah mengeluh perlahan.

Perasaan Tiang pek lojin semakin mantap, tenaga dalam yang dikerahkan keluar pun makin deras. Kurang lebih dua jam kemudian Pek leng siancu So Bwe leng mengucapkan katanya yang pertama :

“Aku lapar!”

Tiang pek lojin segera menarik kembali telapak tangannya dan bangkit, sambil menyeka keringat yang membasahi jidatnya, ia berkata kepada Na im siansu So Ping gwan,

“Cepat siapkan secawan kuah jinsom untuk anak Leng.”

Na im siusu So Ping gwan mengiakan dan buru buru berlalu dari ruangan. Sekarang Tiang pek lojin baru teringat dengan nikou cilik yang telah menolong jiwa cucu perempuannya, dia lantas celingukan kesana kemari untuk mencarinya, namun tak ditemukan, dia lantas bertanya :

“Apakah kalian melihat kemana perginya siau suhu itu?”

Semua orang menjadi tertegun, siapapun tak tahu kapan siau suhu itu pergi dari sana.

“Biar aku mencarinya di luar!” kata si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po.

Ketua Siau lim si Ci long taysu segera berkata pula,

“Mari kita mencarinya diluar, agar nona So bisa beristirahat dengan hati tenang!”

Maka dalam kamarpun tinggal Tiang pek lojin seorang. Selesai meminum semangkuk kuah jinsom, kesegaran Pek leng siancu So Bwe leng menjadi pulih kembali. Dua hari kemudian, ia sudah dapat berbincang bincang beberapa waktu. Tampaknya luka yang dideritanya telah sembuh kembali, tapi lantaran kondisi badannya masih lemah maka kekuatan badannya belum pulih kembali seperti sedia kala.

Ketua Siau lim si dan ketua Bu tong pay segera menghadiahkan banyak sekali obat kuat penambah tenaga untuk gadis itu, ditambah lagi Tiang pek lojin memang mempunyai banyak obat mestika, maka kesehatan badan Pek leng siancu So Bwe leng dapat sembuh kembali dengan cepat.

Tak selang berapa hari kemudian, gadis itu sudah dapat turun dari pembaringan untuk berjalan jalan sambil bergurau. Begitu penyakitnya sembuh, diapun menjadi tak bisa tenang lagi. Pelbagai ingatan mulai bermunculan dari benaknya. Dari mulut orang lain, ia mendengar pula kalau Thi Eng khi telah bersumpah akan bunuh diri untuk mendampinginya, hal ini membuat hatinya amat gembira.

Tapi satu ingatan aneh pun muncul kembali dalam benaknya, dia minta kepada Tiang pek lojin agar menganggap dia sungguh sungguh sudah mati serta melaksanakan rencana semula. Oleh karena gadis itu baru saja sembuh dari sakitnya, tak heran kalau Tiang pek lojin kelewat sayang kepada cucu perempuannya ini, walaupun dalam hati kecilnya dia merasa enggan, namun toh diluluskan juga permintaan itu.

Karena orang yang dipersiapkan sudah hadir disitu, apalagi diberi petunjuk secara langsung oleh Pek leng siancu So Bwe leng, maka tak selang berapa saat kemudian dalam kuil Siang gak bio telah bertambah dengan beberapa orang Pek leng siancu So Bwe leng.

Dengan tenang mereka menantikan kedatangan dari Thi Eng khi .....

Sementara itu, Thi Eng khi terpaksa harus mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk menggantikan kuda berbulu hitamnya, dalam waktu singkat ia telah tiba di kota Lu si, menginap semalam, ia membeli seekor kuda jempolan untuk melanjutkan perjalanannya.

Masih seperti cara semula, dia larikan kudanya sekuat mungkin dan sejauh mungkin tanpa berhenti, bila kuda itu sudah tak kuat maka diapun bergantian dengan kuda lain.

Selama beberapa hari saja, ia telah menyeberangi wilayah sam siang dan tiba di kota Seh si. Seh si terletak di pantai utara sungai besar yang berada di sebelah tenggara kota Swan cong, kota itu termasuk dalam keresidenan Kang leng dan merupakan daerah penghasilan kapas, tak heran kalau suasana disana amat ramai sekali, apalagi sebagai pusat perdagangan.

Ketika Thi Eng khi berhasil menyeberangi sungai dan memasuki kota Sam si, hari sudah malam dan saat itu merupakan saat rumah rumah memasang lampu penerangan.

Ia lantas mencari rumah penginapan untuk beristirahat, setelah memesan kepada pelayan untuk memberi makan kudanya, dia pun memesan dua kati daging sapi dab hidangan kecil lainnya mengisi perut , selesai bersantap ia kembali ke kamar untuk beristirahat.

Selama ini boleh dibilang ia selalu menguatirkan keselamatan dari Pek leng siancu So Bwe leng. Selama beberapa hari terakhir ini kecuali berganti kuda siang malam dia selalu melakukan perjalanan tiada hentinya, bila sudah lelah dia hanya bersemedi sebentar untuk selanjutnya meneruskan kembali perjalanannya.

Jadi malam ini, ia baru secara resmi menginap dalam sebuah rumah penginapan setelah melakukan perjalanan sekian lama. Semenjak Thi Eng khi berhasil mendapat warisan tenaga dalam Heng kian sinkang dari Thio Biau liong, tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan yang amat pesat termasuk juga ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang miliknya sendiripun mendapat kemajuan banyak.

Sekarang dia sedang mempergunakan ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang untuk memulihkan kembali kekuatannya, baru sampai tengah malam dia selesaikan latihannya itu, kontan semua kelelahan terusir dan semangatnya menjadi berkobar kembali. Selesai bersemedi, ia tak sabar untuk menunggu sampai datangnya fajar pagi untuk melanjutkan perjalanan, dia segera membangunkan pelayan dari tidurnya, membayar rekening untuk melanjutkan perjalanannya kembali.

Selama ini belum pernah si pelayan menjumpai tamu seaneh ini, dengan wajah tak senang hati dia bangun dari tempat tidur. Thi Eng khi tahu, membangunkan orang di tengah malam buta memang sesuatu yang tak pantas, maka dia mengeluarkan setahil emas murni dan diserahkan kepada pelayan itu seraya berkata :

“Ini untuk membayar sewa kamarku, sisanya anggap saja sebagai persen untukmu!”

Setahil emas murni berarti sepuluh tahil perak, padahal menurut uang waktu itu, sepuluh tahil perak berarti bisa dipakai untuk ongkos menginap dalam rumah penginapan sekecil ini selama satu tahun lebih. Padahal Thi Eng khi cuma menginap setengah malam disana, persen yang diberikan kepadanya boleh dibilang sangat berlebihan.

Setelah diberi uang sebanyak ini, bila pelayan itu masih tak senang hati, sudah pasti otaknya kurang waras. Tapi pelayan itu memang aneh sekali, dia masih mengomel juga dengan nada tak senang : “Kongcu benar benar seorang manusia paling aneh di dunia ini, sekalipun hal ini tidak merepotkan dirimu sendiri, tapi paling tidak kau toh harus mengingat kami orang orang kecil yang sudah bekerja seharian penuh ”

Walaupun dia berkata begitu, nyatanya sisa uang tersebut pun tak pernah dikembalikan kepada Thi Eng khi. Thi Eng khi sendiri tentu saja enggan untuk mengurusi tetek bengek seperti itu, dia segera mencemplak kudanya dan pada malam itu juga berangkat meninggalkan kota Seh si.

Rembulan bersinar di tengah awang awang membuat seluruh jagad menjadi cerah. Thi Eng khi membedal kudanya kencang kencang siapa tahu ketika dia hendak menarik tali les kudanya, kuda tersebut tak mau menuruti perkataannya lagi, malah sebaliknya berlarian ke depan semakin kencang lagi. Dalam keadaan apa boleh buat, terpaksa Thi Eng khi membiarkan kuda itu berlarian sekehendak hatinya.

Dalam waktu singkat, puluhan li sudah dilewatkan, tiba tiba kuda itu menjadi lemas setelah meringkik panjang dan mengeluarkan buih dari mulutnya, binatang itu terletak di tanah dan tak bisa bangun lagi.

Menghadapi kejadian seperti ini, Thi Eng khi segera menggelengkan kepalanya berulang kali menghela napas, dia menganggap kuda tersebut tak bisa ditunggangi lagi. Dasar pemuda ini memang berhati bijak, diapun menurunkan pelananya dari punggung binatang tersebut....

Menanti pelana itu diturunkan, baru diketahui punggung kuda itu berdarah dan menderita luka yang parah. Tak heran kalau kuda itu berlarian seperti gila, rupanya pelayan itu telah berbuat jahat dengan meletakkan tiga lembar lempengan besi dibawah pelana kuda itu yang menyebabkan punggung binatang tadi terluka.

Untuk sesaat Thi Eng khi tidak habis mengerti apa sebabnya pelayan itu bersikap begitu kepadanya, terpaksa dia harus melanjutkan perjalanan sambil berjalan kaki. Berbicara soal ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Thi Eng khi saat ini, andaikata dia mau menempuh perjalanan cepat sekalipun kuda mestika berbulu hitam juga sukar untuk menandingi kecepatannya, cuma dengan begitu ia tak mampu untuk melakukan perjalanan siang malam.

Demikianlah, setelah Thi Eng khi melanjutkan perjalanannya dengan menggerakkan ilmu meringankan tubuhnya, bayangan tubuh pemuda itu seakan akan tidak terlihat lagi, misalnya ada orang yang berpapasan dengannya di tengah jalan, maka paling banter orang itu cuma merasakan ada segulung angin yang berhembus lewat saja.

Entah sudah berapa jauh dia sudah berjalan, mendadak ia mendengar suara ringkikan kuda berkumandang datang dari dalam sebuah rumah lebih kurang puluhan kaki di tepi jalan. Tergerak hati Thi Eng khi menjumpai hal tersebut, segera pikirnya :

“Bila kubeli kuda tersebut dengan harga tinggi, bukankah aku bisa melanjutkan perjalanan lagi tanpa membuang banyak tenaga.”

Begitu ingatan tersebut melintas dalam benaknya, dia segera bergerak menuju kearah mana berasalnya suara ringkikan kuda tadi. Setelah semakin dekat, ia baru tahu kalau bangunan rumah itu adalah sebuah kuil to koan. Ketika tiba didepan pintu, dia ragu ragu untuk sesaat dan tak tahu apa yang harus dilakukan, mengetuk pintu untuk berjalan masukkah? Atau lebih baik masuk dengan melompati dinding pekarangan?

Pada saat itulah mendadak dari dalam kuil berkumandang datang suara jeritan lengking dari seorang perempuan, suara itu penuh diliputi oleh perasaan putus asa dan ngeri. Tanpa berpikir panjang lagi Thi Eng khi segera melompat masuk ke dalam pekarangan.

Dari sebelah kiri ruangan kuil tampak ada cahaya lampu yang mencorong keluar, lagipula dari sana terdengar suara orang sedang meronta. Thi Eng khi merasakan darah panas bergelora didalam dadanya, dia segera menghamtam jendela kamar sambil menerobos masuk kedalam.

Tapi apa yang terlihat kemudian membuat dia menjadi tertegun dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Ternyata di dalam kamar itu terdapat sepasang muda mudi dalam pakaian dalam yang minim, perempuan tersebut sedang duduk ketakutan di sudut pembaringan dengan wajah pucat pias karena ketakutan.

Sedangkan lelaki tersebut berdiri di tanah dengan sebuah bangku sedang menindih seekor ular kecil berwarna hijau. Berhubung Thi Eng khi menyerbu masuk secara tiba tiba lelaki itu menjadi terperanjat sampai lupa untuk menekan ular hijau tersebut dengan bangkunya.

Ular kecil itu segera meronta melepaskan diri dari tindihan lalu dengan kecepatan tinggi memagut tangan sang pria yang sedang memegang bangku. Dalam keadaan begini, Thi Eng khi tak sempat untuk menyapa lelaki itu lagi, terpaksa dia harus melepaskan sentilan jari tangannya untuk membunuh ular kecil itu, kemudian baru katanya dengan wajah tersipu sipu,

“Kalian berdua kalian berdua..”

Apalagi yang bisa dia katakan? Sudah jelas orang lain menjerit karena bertemu dengan ular, sedang dia pun masuk ke kamar orang tanpa permisi, suasana semacam ini benar benar membuatnya menjadi sangat rikuh. Mendadak perempuan itu menjerit lagi dengan suara lengking :

“Tolong ..... tolong ada perampok, ada perampok!”

Keadaan seperti ini makin membuat Thi Eng khi bertambah runyam dan serba salah. Untung saja lelaki itu masih cukup bernyali. Setelah melihat dandanan dari Thi Eng khi dan juga melihat gerak geriknya yang halus, dia tahu kalau orang itu bukan orang jahat. Dia lantas menyuruh perempuan itu berhenti berteriak, lalu ujarnya kepada Thi Eng khi :

“Saudara, mungkin kedatanganmu agak salah paham.”

Dengan wajah memerah Thi Eng khi manggut manggut,

“Yaa, benar, aku mengira ada orang jahat yang sedang beraksi disini, sungguh tak nyana kedatanganku malah hanya mengganggu kalian, harap sudi memaafkan.” Tampaknya yang perempuan adalah seorang yang berjiwa sempit, dengan wajah tak senang hati dia segera mengomel :

“Dasar setan sembrono, masa kalau ingin menolong orang tidak dilihat dulu keadaannya? Bikin orang ketakutan saja!”

Thi Eng khi benar benar merasa sangat jengah, seandainya disitu ada lubang niscaya dia sudah menerobos masuk untuk menyembunyikan diri. Agaknya yang pria kuatir kalau perbuatan perempuan itu menggusarkan Thi Eng khi, buru buru dia menutupi badan perempuan tadi dengan selimut dan ia sendiri pun mengenakan baju luar.

Pada saat itulah dari luar pintu kedengaran suara langkah manusia kemudian terdengar seseorang mengetuk pintu sambil menegur :

“Kong tiong, ada apa? Mengapa berteriak teriak?”

Lelaki itu segera membuka pintu, seorang tosu tua segera berjalan masuk ke dalam ruangan. Ketika Thi Eng khi melihat tosu tua itu, dia baru teringat akan satu persoalan segera pikirnya :

“Heran, mengapa di dalam kuil To koan bisa muncul sepasang suami istri muda yang menginap bersama?”

Baru saja ingatan tersebut melintas lewat, jawabannya segera diperoleh dari lelaki itu. Terdengar lelaki tersebut menjawab :

“Paman, tadi menanti keponakan hendak turun dari ranjang, tiba tiba melihat ada seekor Jit poh kim disitu, saking kagetnya kami menjerit, rupanya jeritan kami mengundang kedatangan pendekar ini, siapa tahu dia salah paham terhadap pendekar ini dengan mengiranya sebagai penyamun sehingga akibatnya hal ini sampai

membangunkan kau orang tua.”

Tosu tua itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali. “Yaa, hal ini memang tak bisa menyalahkan kepada orang lain,

dalam tokoan ada perempuannya cara dari mana ini?”

Kemudian denga wajah tersipu dia berpaling kearah Thi Eng khi sambil melanjutkan: ”Mereka adalah keponakan dan menantu keponakan pinto yang hendak pulang dusun karena perjalanan jauh mereka ikut menumpang sehari disini, harap sauhiap jangan menertawakan.”

“Aaah, mana..... mana akulah yang gegabah sehingga

mengganggu ketenangan kalian semua, harap kalian sudi memaafkan.”

Sesudah menjura buru buru dia mengundurkan diri dari situ.

Tosu tua itu segera mempersilahkan Thi Eng khi untuk duduk didalam kamarnya. Dalam kesempatan itu Thi Eng khi lantas mengutarakan niatnya untuk membeli kuda yang didengarnya meringkik dalam kuil. Tosu tua itu bilang, kuda tersebut milik keponakan serta menantu keponakannya, jadi tak tahu apakah akan dijual atau tidak.

Mendengar itu, Thi Eng khi segera mengeluarkan sepuluh tahil emas murni, kemudian katanya sambil tersenyum :

“Agaknya kuil ini kurang banyak pengunjungnya, harap sejumlah kecil uang emas ini bisa digunakan sebagai ongkos perawatan kuil.”

Mencorong sinar terang dari balik mata tosu tua itu, buru buru dia mengucapkan terima kasih. Kemudian katanya lagi :

“Rumah mertua keponakanku hanya tinggal setengah harian perjalanan, sekalipun ditempuh dengan berjalan kaki juga tidak mengapa, bila sauhiap membutuhkan kuda, besok akan pinto rundingkan dengan keponakanku itu.”

Kembali Thi Eng khi mengeluarkan sepuluh tahil emas sambil berkata :

“Kalau begitu, kumohon bantuan dari totiang!”

Setelah menerima uang, tosu tua itu memberikan kamarnya untuk dipergunakan oleh Thi Eng khi. Menggunakan kesempatan itu, Thi Eng khi segera bersemedi untuk mengembalikan tenaganya. Tak sampai tiga kali latihan, waktu sudah menunjukkan kentongan ke empat, jaraknya dengan fajarpun tinggal satu setengah jam. Thi Eng khi segera bangkit berdiri dan bermaksud untuk keluar dari kamar untuk berlatih ilmu pukulan. Siapa tahu begitu tangannya menyentuh pintu kamar tersebut, ia menjadi tertegun, buru buru dia mengerahkan tenaganya untuk mendorong sekuat tenaga, alhasil pintu itu masih belum juga terbuka.

Lama kelamaan dia menjadi naik darah sambil mengerahkan tenaga dia menghantam dinding ruangan itu, “Blaaammm...!” dinding ruangan itupun sama sekali tidak roboh. Ternyata seluruh ruangan tersebut terbuat dari baja asli. Pada saat itulah dari luar kamar terdengar tosu tua itu berseru sambil tertawa terbahak bahak.

“Haaahhh.... haaahhhhh..... haaahhhh Thi Eng khi, kau masih

kenal dengan lohu?”

Sewaktu menyebut nama ‘Thi Eng khi’ suara tersebut masih merupakan suaranya si tosu tua tapi ketika mengucapkan ‘masih kenal dengan lohu’ suaranya telah berubah menjadi suara Huan im sin ang, musuh besarnya.

Thi Eng khi menjadi teramat gusar, sepasang matanya sampai merah berapi api karena naik pitam, segera teriaknya keras keras :

“Iblis tua, kalau kau punya kepandaian, hayo cobalah beradu kepandaian dengan diriku.”

Huan im sin ang menjengek sinis :

“Hmmm. mau bertarung mah gampang bila hari ini kau belum

mampus dibakar, besok aku pasti akan melepaskanmu keluar.”

Menyusul kemudian terdengar suara orang yang mengangkut kayu bakar serta orang menyulut api. Tak lama kemudian, asap hijau telah merembes masuk lewat lubang lubang kecil di bawah kaki dinding. Thi Eng khi segera mengerahkan ilmu Heng kian sinkang untuk melindungi badannya siapa tahu asap hijau yang terendus olehnya kontan membuat kepalanya pening dan hawa murninya buyar, segenap tenaganya seakan akan tak mampu dihimpun kembali. “Aduh celaka, dalam asap hijau tersebut ada racunnya ” diam

diam Thi Eng khi berpekik.

Buru buru dia mengeluarkan tiga butir pil kim khong giok lok wan, lalu setelah ditelan buru buru dia duduk bersila. Sementara itu api yang berkobar di luar makin lama makin membara, seluruh kuil kecil itu sudah berubah menjadi lautan api.

Pil mestika Kim khong giok lok wan memang berkasiat luar biasa, dia segera merasakan hawa segar menyebar ke seluruh bagian tubuhnya, dalam waktu singkat keempat anggota badannya menjadi segar dan nyaman, seluruh perasaan mual yang semula mencengkam perasaannya juga mulai membuyar.

Yang tertinggal sekarang hanyalah bagaimana mencari akal untuk meloloskan diri dari ancaman bahaya maut tersebut. Berbicara menurut keadaan yang berada dihadapan mata sekarang, untuk menerjang keluar bukanlah suatu pekerjaan yang tak mungkin.

Dinding baja yang membara tersebut tak nanti akan tahan menerima sabuah pukulan Heng kian sinkang miliknya, cuma dengan begitu maka kepandaian sakti yang dimilikinya akan diketahui lawan terlalu awal, hal mana justru akan semakin meningkatkan kewaspadaan Huan im sin ang terhadap dirinya sehingga keadaan tersebut justru akan semakin menyulitkan usahanya untuk membasmi kaum iblis dikemudian hari.

Tindakan yang kurang cerdas, tak ingin dilakukan bilamana keadaan tidak sangat memaksa. Maka setelah berpikir pulang pergi, tiba tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, segera dia berpikir :

“Mengapa aku tidak mengerahkan ilmu Heng kian sinkang untuk menyalurkan hawa api Sam koay cin hwee untuk menerobos ke bawah tanah? Bila aku sudah lolos nanti niscaya iblis tua itu akan menjadi kebingungan untuk menemukan aku.”

Begitu ingatan tersebut melintas lewat Thi Eng khi segera mengerahkan tenaga dalam Heng kian sinkangnya untuk memancarkan keluar hawa panas Sam koay cin hwee nya. Pelan pelan tubuhnya seperti tenggelam kedalam tanah, begitu tubuhnya masuk ketanah, dia segera mengembalikan pasir disisinya untuk menutupi permukaan tanah yang sebelah atas agar dari atas permukaan orang tak akan mengetahui kalau dia sedang menyembunyikan diri di situ.

Baru saja dia hendak menutupi kepalanya dengan tanah kemudian mengerahkan ilmu Ku si tay hoat untuk menutup pernapasannya, mendadak ia merasa kakinya menginjak tanah gembur, kemudian muncullah sebuah lubang kecil.

Dengan cepat dia mengerahkan kembali tenaga dalamnya untuk menekan kebawah.... “Brru ” tanah berguguran semakin deras,

dari sebuah lubang yang kecil itu telah berubah menjadi sebuah lubang besar, serta merta dia menerobos masuk kedalam gua itu. Masih untung kedua kakinya langsung menginjak tanah.