Pukulan Naga Sakti Jilid 18

 
Jilid 18

Sikap Ciu Tin tin yang begitu memperhatikan dirinya membuat anak muda itu teringat pula akan sikapnya terhadap Ciu Tin tin dimasa lalu, rasa malu dan menyesal segera timbul dalam benaknya membuat anak muda itu pelan pelan menurunkan kembali sepasang telapak tangannya.

Baru saja amarahnya sirap, pintu gerbang kembali dibuka orang, lalu muncullah Bu naynay dengan wajah dingin dan kaku serunya :

“Budak Tin menjadi kehilangan semangat gara gara aku melarang berbicara denganmu, demi dia terpaksa aku akan mengijinkan kalian untuk bertemu sekali lagi.”

Begitu mengetahui kalau dia boleh berjumpa sekali lagi dengan Ciu Tin tin dan ia tahu bila sampai bertemu dengan gadis itu berarti dia dapat mencari tahu kabar tentang Si toan kim khong, Thi Eng khi menjadi girang sekali.

Tidak menanti Bu naynay menyelesikan kata-katanya, dia segera menjura sambil ujarnya :

“Boanpwe ucapkan banyak terima kasih atas kebaikan locianpwe ini.”

Dengan langkah lebar dia lantas berjalan masuk ke dalam ruangan kuil Sam sim an. Mendadak Bu naynay membentak lagi :

“Lelaki tak boleh memasuki kuil ini, Tin tin akan keluar untuk menjumpai dirimu disini, tunggu saja di tempat!“

Berada di bawah kekuasaan orang, terpaksa Thi Eng khi harus menerima semua perintah, sahutnya dengan cepat :

“Baik!“

Diatas wajahnya, ia sama sekali tak berani memperlihatkan rasa tak senangnya. Untung Ciu Tin tin tidak menyuruhnya menunggu terlalu lama, hampir bersamaan waktunya dengan mundurnya Bu naynay dari situ, gadis tersebut telah muncul pula di depan pintu. Dalam pertemuan kali ini, tanpa menunggu Ciu Tin tin bersuara, Thi Eng khi segera berkata lebih dulu :

“Enci Tin, siaute merasa bersalah kepadamu!“

Airmata bercucuran membasahi wajah Ciu Tin tin, dia tertawa hambar.

“Adik Eng, kau jangan terlalu menyalahkan dirimu, kau toh tidak berbuat apa-apa terhadap enci.”

Setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh :

“Adalah Si toan kim khong yang adik Eng kehendaki, enci betul betul tidak mampu untuk mendapatkannya.“

“Kenapa? Apakah sinni tak mau menolong jiwa orang?“ teriak Thi Eng khi dengan cemas. Dibalik perkataan itu, lamat lamat dia sertakan pula nada menegur.

Ciu Tin tin lantas membeberkan ........

Page 6 – 7 (missing)

Oleh sebab itu, dengan membawa keyakinan pasti berhasil dan tak boleh sampai gagal, dia mundur ke tepi puncak dimana terdapat sebuah tanah lapang yang datar. Kemudian hawa sakti Sian thian bu khek ji gi sin kangnya dikerahkan mencapai dua belas bagian, diiringi suara yang amat nyaring, kesepuluh jari tangannya yang disertai tenaga penuh langsung menerjang ke tengah telaga.

Berbicara menurut tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi sekarang, sekalipun selembar lempengan besi baja pun mungkin tak akan sanggup menahan serangan yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga itu.

Waktu itu, tubuhnya masih melayang di tengah udara, meski jaraknya hanya beberapa tombak namum membawa suara desingan yang memekikkan telinga, dari sini bisa diketahui betapa dahsyatnya tenaga serangan yang disertakan dalam serangan tersebut. Ketika Thi Eng khi menerjang sampai di tepi telaga, mendadak terjangannya yang dahsyat itu seolah olah terhadang oleh selapis tenaga tak berwujud yang besar sekali, jangankan maju lebih depan bahkan di kala badannya terhenti muncullah suatu tenaga pantulan yang sangat kuat melemparkan badannya ke belakang.

Cepat nian tenaga lentingan tersebut, dalam sekejap mata tubuhnya sudah terlempar sejauh beberapa kaki lebih dari tempat semula. Merasa tubuhnya dilemparkan keluar tebing, Thi Eng khi sama sekali tidak gugup atau panik, pikirnya:

“Di bawah awan putih sana, paling cuma tebing tebing bukit belaka apanya yang perlu kutakuti?”

Dia lantas menghimpun tenaga dalamnya lalu menggunakan ilmu bobot seribu untuk mengerem tenaga lentingan tersebut, sehingga badannya lurus jatuh ke bawah jurang. Beberapa kaki permulaan, hatinya masih tenang sekali, bahkan dia berencana begitu mencapai tanah maka dia akan mencobanya sekali lagi.

Siapa tahu daya luncur tubuhnya kian lama kian bertambah cepat, bahkan permukaan tanah yang ditunggu tunggu tak kunjung datang. Dalam waktu singkat, ia telah menembusi beberapa lapis awal tebal, bahkan meluncur terus ke bawah.

Dengan cepat, dia melongok ke bawah, begitu menyaksikan jurang yang menganga dibawah sana, terkesiaplah hatinya, ia merasa sukma serasa melayang meninggalkan raga.

Rupanya tempat dimana Thi Eng khi mulai dengan terjangannya tadi justru merupakan tepian yang paling ujung dekat jurang namun oleh karena awan amat tebal, sulit untuk melihat keadaan di bawah, akibatnya terjadilah kesalahan yang fatal.

Thi Eng khi sudah mempunyai pengalaman dua kali tercebur kedalam jurang, rasa kaget hanya melintas sesaat dalam benaknya untuk kemudian menjadi tenang kembali.

Mula-mula dia himpun dulu semua perhatiannya menjadi satu, lalu keempat anggota badannya direntangkan lurus kedepan berbentuk seperti burung sedang terbang kemudian sambil mengerahkan tenaganya untuk menggembungkan pakaiannya, dia mencoba untuk menggerem daya luncur badannya sehingga jauh lebih lamban.

Sementara itu sepasang matanya yang tajam menyapu sekejap sekeliling tempat itu untuk mencari tempat untuk berpijak. Tiba-tiba dia berpekik panjang, tubuhnya segera menukik kesamping dan meluncur ke atas sebatang pohon siong lebih kurang tiga empat kaki di hadapannya.

Ketika menimpa batang pohon yang pertama, oleh tenaga tekanan yang kuat pohon itu segera patah menyusul kemudian batang pohon kedua secara beruntun dia menumbuk lima batang pohon sebelum daya luncurnya yang kuat itu sudah terpunahkan sebagian besar.

Berada dalam keadaan begini, kembali dia berpekik nyaring, sambil menekuk pinggang badannya segera melayang turun diatas batang pohon yang terakhir, waktu itu daya luncurnya sudah hampir hilang, sehingga ketika mencapai diatas dahan, daya luncurnya sudah tidak mirip dengan orang yang terjatuh dari ketinggian lagi.

Baru saja badannya berdiri tenang dan siap melompat keatas permukaan tanah, mendadak ia mendengar suara helaan napas lirih berkumandang datang dari samping kirinya. Dengan cepat pemuda itu meluncur ke arah mana berasalnya suara itu, sementara dalam hati ia berpikir :

“Bila disini ada orang, berarti jalan menuju ke lembah pasti ada, biar kumohon petunjuk darinya .“

Tiba di tempat tujuan, ternyata tempat itu adalah sebuah dinding batu yang besar, datar dan licin, namun tak nampak sesosok bayangan manusiapun. Baru saja dia kan memanggil, mendadak suara itu berkumandang lagi dari arah lain, dengan cepat dia menerjang ke sana, tapi suara tersebut telah berpindah lagi ke arah yang lain, begitu seterusnya, Thi Eng khi harus menubruk kesana menubruk kemari tanpa berhasil menemukan orangnya..... Merasa dirinya dipermainkan, timbul rasa gusar dalam dada anak muda itu, dia segera bertolak pinggang dan berteriak keras :

“Jika punya kepandaian, hayolah keluar untuk beradu tiga buah pukulan denganku, jika kau main sembunyi terus, aku segan untuk menggubris dirimu lebih jauh.”

Dari empat delapan penjuru segera berkumandang pula suara yang sama. Terdengar orang itu menjawab :

“Kau tak usah berlagak dulu, kalau punya kepandaian coba temukan lohu, jangan toh baru tiga buah pukulan, seratus pukulan pun tak menjadi soal.”

Menyusul kemudian suara yang sebentar di timur sebentar di barat berkumandang kembali di sisi telinga Thi Eng khi. Thi Eng khi benar benar tak sanggup menahan rasa mendongkolnya, dengan cepat dia kerahkan ilmu Thian liong sin hoat untuk melacaki sumber dari suara itu.

Lambat laun diatas wajah Thi Eng khi segera muncul rasa kaget dan tercengang yang sangat tebal, tapi kemudian suatu sikap seperti memahami akan sesuatu menyelimuti wajahnya, dengan cepat badannya mulai menari kian kemari mengikuti bergemanya suara yang melambung tak menentu.

Rupanya sudut arah berasalnya suara itu selalu tertentu, waktunya bergema pun tetap dan sangat berirama, hal ini dengan cepat menimbulkan suatu ilham bagi Thi Eng khi untuk mengikuti arah suara dan irama tadi dengan seksama.

Karena dengan cepat dia mengetahui kalau gerak perpindahan badan itu sesungguhnya adalah serangkaian ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, bahkan kedahsyatannya jauh melebihi ilmu Thian liong sin hoat dari Thian liong pay.

Sejak Thi Eng khi menyelesaikan pelajaran silat aliran Thian liong pay, sikap kakunya untuk tidak mempelajari ilmu silat aliran lain sudah mulai mengalami perubahan, maka dalam keadaan seperti itulah diam diam ia terima kebaikan orang tersebut. Ketika untuk ketiga kalinya orang itu mewariskan ilmu gerakan tubuhnya yang sangat lihay dengan ilmu petunjuk suara, Thi Eng khi telah berhasil menguasai segenap kepandaian itu secara sempurna.

Menghadapi bakat yang begitu bagus dari Thi Eng khi, orang itu segera menghela napas panjang, katanya :

“Aaai. kau benar benar berbakat bagus, akhirnya ilmu Hu kong

keng im (cahaya kilat lintasan bayangan) lohu ini berhasil juga mendapatkan pewarisnya!”

Mungkin saking girangnya mendapatkan pewaris yang pandai, orang itu jadi teledor, helaan napas tersebut sama sekali tidak disampaikan dengan ilmu Hwe ing to siang (gema suara mengacaukan arah) sehingga Thi Eng khi segera dapat mengenalinya berasal dari tengah pohon dimana dia berada semula.

Thi Eng khi segera menggunakan ilmu Hu kong keng im yang baru dipelajarinya untuk menyelinap kedepan pohon besar itu sebelum orang tadi menyelesaikan kata-katanya, sambil menjura dia lantas berkata :

“Boanpwe Thi Eng khi dari Thian liong pay mengucapkan banyak terima kasih atas pelajaran ilmu sakti dari locianpwe!”

Orang itu benar benar sangat aneh, mendengar ucapan terima kasih itu, dia malah berkata dengan dingin :

“Kau tak usah berterima kasih kepadaku, lohu tidak memberikan kebaikan apa apa kepadamu, hal ini hanya bisa dianggap sebagai jodohmu yang baik ”

Thi Eng khi segera mendongakkan kepalanya, lebih kurang satu kaki diatas pohon itu terlihatlah sebuah lubang kecil, ditengah lubang itu muncullah seraut wajah yang warnanya hampir persis dengan warna kulit pohon, seandainya dia tidak memiliki sorot mata yang tajam sehingga memancing perhatian orang, sulit rasanya untuk menemukan raut wajah orang itu.

Thi Eng khi saling bertatapan mata sekejap dengan orang dalam pohon itu. Dia merasa sorot mata orang itu tidak sedingin nada suaranya, baru saja ia merasa bingung apa yang musti diutarakan, tiba tiba dengan senyuman dikulum orang itu telah berkata lagi :

“Apakah kau dipantulkan oleh tenaga pantulan yang terpancar dari telaga diatas bukit sana?”

“Dari mana locianpwe bisa tahu?” seru Thi Eng khi keheranan. “Lohu adalah orang yang sudah berpengalaman, tentu saja dapat

menebaknya dengan tepat, cuma nasib lohu tidak sebaik nasibmu,

boleh juga dibilang tenaga dalam lohu pada enam puluh tahun berselang tidak sesempurna tenaga dalammu sekarang, sehingga akhirnya aku jadi mati tidak hiduppun tidak.”

“Locianpwe menderita luka?”

“Bukan hanya terluka saja, seandainya tidak ada pohon Ciang siong ini, lohu sudah tewas semenjak enampuluh tahun berselang.”

“Jadi pohon siong ini adalah pohon Ciang siong?”

Perlu diketahui, Ciang siong adalah sejenis pohon siong yang mengandung bau harum seperti kayu cendana, kasiatnya luar biasa dan dapat melanjutkan kehidupan manusia sakit atau lemah, boleh dibilang pohon itu termasuk sebatang pohon aneh.

Thi Eng khi pernah membaca keterangan tentang pohon ini dari kitab pertabiban milik Kwik Keng thian, tak heran kalau dia berseru kaget dan heran.

“Sewaktu terjatuh kemari, nadiku sudah putus tiga bagian,“ kata orang dalam pohon itu, “coba kalau tak ada pohon Ciang siong ini, bayangkan saja, apakah aku bisa hidup sampai kini?”

“Walaupun luka yang locianpwe derita amat parah, setelah melalui pengobatan selama puluhan tahun, tentunya lukamu itu sudah sembuh bukan?”

Orang itu segera tertawa getir. “Dengan kasiat pohon Ciang siong, semestinya lukaku sudah sembuh dan kini sudah meninggalkan lembah ini, sayang nasib lohu memang jelek, justru sesaat sebelum latihanku selesai, jalan darah Jin tiong hiatku kena dipatuk oleh seekor burung sehingga usaha lohu selama ini gagal total, jangankan meninggalkan lembah untuk keluar dari pohon pun tak mampu.”

Thi Eng khi tahu akan kasiat pohon Ciang siong yang dapat menyambung hidup manusia, sekalipun kakek itu tidak makan tidak minum diatas pohon karena ia mendapat saluran hawa dan sari makanan dari pohon tersebut, sepanjang hidup ia tak perlu murung atau kuatir kelaparan.

Hanya saja untuk menyembuhkan luka memang dibutuhkan kekuatan sendiri untuk mengobatinya.

Dewasa ini, Thi Eng khi sudah merupakan seorang tabib sakti, selain itu, diapun masih memiliki sebutir pil Toh mia kim wan, dengan wataknya sudah barang tentu dia tak akan sayang untuk mengorbankan sebutir Toh mia kim wan guna menolong kakek dalam pohon itu, apalagi dia sudah menerima kebaikan lebih dulu, sudah barang tentu dia tak akan sayang untuk mengorbankannya.

Sambil menarik napas panjang, Thi Eng khi segera melompat naik ke atas pohon, tanpa menerangkan alasannya, dia segera menjejalkan sisa pil Toh mia kim wan yang dimiliknya itu ke mulut kakek, kemudian telapak tangannya ditempelkan diatas jalan darah pek hwee hiat kakek itu dan menyalurkan hawa murninya.

Sepertanak nasi kemudian Thi Eng khi baru melayang turun kembali ketempat semula, katanya sambil tersenyum :

“Silakan locianpwe coba mengerahkan tenaga, coba periksalah apakah lukamu telah sembuh?”

Kakek dalam pohon itu segera bersemedi beberapa saat, mendadak ia berpekik nyaring, menyusul kemudian dari balik pohon berkelebat lewat sesosok tubuh yang putih bersih dan menyelinap masuk ke dalam hutan. Kiranya kakek itu sudah terkurung selama delapan puluh tahun lamanya dalam pohon Ciang siong, pakaian yang dikenakan sudah hancur dan rusak, dia merasa sungkan pula untuk berjumpa dengan Thi Eng khi dalam keadaan telanjang, maka untuk sementara waktu dia menyembunyikan dirinya.

Tak lama kemudian, kakek itu muncul kembali dengan bagian vitalnya tertutup dedaunan, begitu muncul dari hutan, dengan wajah berseri karena gembira katanya:

“Lohu masih bisa lolos dari bencana, kesemuanya ini adalah pemberian dari Thi sauhiap, mulai sekarang ”

Ketika didengarnya nada suara orang itu kurang beres, dia kuatir ucapan orang itu melampaui batas sehingga akhirnya sukar diatasi, buru buru dia menggoyangkan tangannya berulang kali sambil menukas.

“Tadi locianpwe telah mewariskan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im kepada boanpwe, apa pula arti dari sebutir pil Toh mia kim wan? Bagaimana kalau kita berdua sama sama tidak berhutang?”

Lama sekali kakek itu mengawasi wajah Thi Eng khi yang tampan berbicara, akhirnya dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.

“Haaahhhh...... haaahhhhh..... haaahhh bagus, bagus, bagus,

suatu keputusan yang bagus sekali, kalau begitu marilah kita berteman saja.”

“Kalau toh locianpwe begitu memandang tinggi diri boanpwe, lebih baik tak usahlah bertindak kelewat sungkan ”

“Bagus sekali, kalau memang begitu kita berteman, tolong lepaskan dulu satu stel pakaianmu agar bisa kukenakan.”

“Aaah maaf kalau boanpwe lupa akan hal itu!” Thi Eng khi

tertawa. Cepat dia meloloskan jubahnya dan diberikan kepada kakek itu. “Hei, kalau toh kita sudah berteman apalagi mengikat tali persahabatan yang akrab, janganlah menyebut aku sebagai locianpwe, locianpwe terus, tak sedap rasanya didengar,” kata kakek itu lagi, “aku lihat lebih baik kau memanggil lo kian kepadaku dan aku memanggil Thi lote kepadamu, bagaimana?”

Pengalaman yang diperoleh Thi Eng khi selama ini sudah bertambah banyak, dia tahu bila bersahabat dengan manusia manusia aneh dalam dunia persilatan, paling baik kalau bersikap blak blakan dan tanpa disertai segala adat kesopanan, maka kemudian sahutnya : 

“Jika Lo kian berkata begitu, biarlah Eng khi menurut!” Lo kian manggut manggut sambil tertawa.

“Bagus, bagus, akupun sungkan untuk meributkan soal sebutan lagi, Lo kian atau Kian lo keduanya sama saja, sekarang mari kita berusaha mencari akal untuk keluar dari lembah ini.”

Waktu itu Thi Eng khi sendiripun tak sempat menanyakan asal usul dari Lo kian lagi, tapi tanpa disengaja justru dia bersahabat dengan seorang asli yang bakal membantu usahanya dalam menanggulangi keganasan kaum iblis dikemudian hari.

Begitulah, mereka berdua segera berputar putar di bawah lembah itu untuk mencari jalan keluar, setengah harian sudah lewat, namun empat penjuru hanya bukit yang menjulang ke angkasa, pada hakekatnya tiada jalan yang ditemukan untuk keluar dari lembah tersebut.

Thi Eng khi masih teringat akan usahanya untuk mendapatkan Si toan kim khong tanpa terasa serunya dengan cemas :

“Benarkah sudah tak ada jalan keluar dari lembah ini?”

Mendadak Lo kian menepuk kepala sendiri sambil berseru : “Aah, aku telah mempunyai sebuah harapan yang dapat dicoba.” Dengan cepat dia lari menuju kebelakang sebuah batu besar di kaki tebing sana, tak lama kemudian terdengar ia bersorak gembira :

“Thi lote, cepat kemari! Disini benar benar terdapat hal yang mencurigakan.”

Mendengar teriakan itu, dengan cepat Thi Eng khi lari menghampirinya, tiba di belakang batu ia saksikan munculnya sebuah gua kecil diatas dinding bukit, dari dalam gua itulah suara Lo kiankembali berkumandang keluar :

“Thi lote, cepat masuk!”

Tanpa sangsi lagi Thi Eng khi segera menerobos kedalam gua kecil itu, matanya segera terasa silau, ternyata ruangan di dalam gua itu tinggi dan lebar, suasanapun terang benderang bagaikan di tengah hari bolong saja.

Waktu itu Lo kian sedang berdiri ditepi sebuah kolam ditengah gua, matanya terbelalak lebar dengan mulut melongo, lama sekali dia berdiri termangu mangu. Thi Eng khi segera lari menghampirinya tapi apa yang kemudian terlihat olehnya membuat pemuda itu pun menjerit kaget :

“Si toan kim khong!”

Saking gembiranya untuk beberapa saat diapun tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Ternyata di tengah kolam kecil yang dikelilingi pagar kemala putih tumbuh sekelompok Si toan kim khong yang hijau dan subur, tumbuhan itu nampak jauh lebih segar dan besar bila dibandingkan dengan Si toan kim khong yang berada di puncak Sam yang hong.

Yang lebih menggembirakan lagi adalah di tengah rumpun Si toan kim khong itu, terdapat pula sebiji buah Tiang kim ko. Thi Eng khi yang sudah kenyang membaca buku pelajaran ilmu pertabiban milik Kwik Keng thian, begitu melihat bentuk buah Tiang kim ko, dia segera tahu kalau sast masak sudah hampir tiba, kenyataan ini membuat hatinya kembali bergolak keras. Ia menaruh perasaan menyesal yang amat mendalam terhadap Ciu Tin tin, oleh karena itu, timbul hasratnya untuk memetik buah Tiang kim ko itu dan menghadiahkan kepada Ciu Tin tin.

Sementara itu terdengar Lo kian sedang menghela napas panjang, lalu gumamnya :

“Aaai, sudah terlambat, sudah terlambat, bila segala sesuatunya berlangsung pada enam puluh tahun berselang, ooooh, betapa indahnya waktu itu ”

“Lo kian, darimana kau bisa tahu kalau didalam ini terdapat sebuah gua ?” mendadak Thi Eng khi bertanya dengan

keheranan.

“Sudah lama aku tersekap dalam batang Ciang siong, meski orangnya tak dapat bergerak, namun pandanganku bisa mencapai tempat yang sangat luas, aku masih ingat setiap sepuluh tahun sekali pasti ada sepasang monyet putih yang berjalan keluar dari batuan di belakang sana, setelah melakukan pemeriksaan sebentar disekeliling tempat ini, merekapun pergi dengan begitu saja. Aku lihat di hari hari biasa sepasang monyet itu tak pernah munculkan diri, dari sini dapat ditarik kesimpulan kalau mereka datang dari tempat luar, tapi kalau dipikirkan lagi tempat yang dimasuki monyet itu, bisa kuduga kalau dibelakang batu pasti terdapat sebuah lorong yang berhubungan langsung dengan tempat lain, sungguh tak kusangka ternyata disini terdapat Si toan kim khong.”

Thi Eng khi kembali menuding kearah kolam yang dipagari dengan batu kemala putih itu kemudian ujarnya :

“Jika dilihat dari pagar batu kemala putih di tempat ini, bisa diketahui kalau si toan kim khong tersebut ada pemiliknya, sekarang tuan rumah tak ada di sini, bila kita harus mengambil barangnya tanpa permisi, rasanya hal ini kurang sesuai, tapi jauh jauh siaute datang kemari tujuannya adalah untuk mendapatkan Si toan kim khong tersebut, aaai. kenyataan ini benar benar membuat siaute

jadi serba salah.”

Mendengar perkataan itu, Lo kian segera tertawa terbahak bahak. “Haaahhhh..... haaahhhh..... haaahhhhh Thi lote, kau betul

betul kelewat displin, seandainya benda ini ada pemiliknya, masa tiada orang yang menjaga disini?”

“Kalau benda itu tiada pemiliknya, apakah pagar batu kemala putih itu merupakan barang ciptaan alam?”

“Mungkin saja Si toan kim khong tersebut ada pemiliknya dimasa lalu, tapi sekarang sudah merupakan benda tanpa tuan.”

“Apa maksud Lo kian berkata begini?”

“Sudah enam puluh tahun lamanya lohu tinggal disini, seandainya tuan rumah masih ada, masa dia tak pernah keluar dari gua tersebut walau hanya satu kalipun?”

Thi Eng khi berpikir sebentar, dia segera merasa kalau ucapan Lo kian ada benarnya juga, namun hatinya belum lega, maka dia pun berteriak memanggil pemilik gua. Siapa tahu suasana tetap sepi dan tak seorang manusia pun yang munculkan diri, kenyataan ini segera membuat anak muda tersebut menjadi lega hati.

Ia sudah pernah merasakan kelihayan dari Leng swan ceng khi, mau tak mau dia harus mempercayai ucapan Ciu Tin tin maka kali ini dia mengikuti caranya dengan menempelkan ranting diatas kolam sambil menantikan tibanya waktu.

Siapa tahu sewaktu dicoba, diatas permukaan kolam itu tidak diliputi oleh kabut leng swan ceng khi. Dengan begitu, berarti Si toan kim khong bisa diambil setiap saat bilamana dibutuhkan.

Thi Eng khi bukan seorang yang terlalu kemaruk dengan benda mestika, apalagi harus memburu waktu pulang, dia tak sempat untuk menunggu sampai masaknya buah Tiang kim ko lagi.

Ujung kakinya segera menutul permukaan tanah lalu melejit ke udara, begitu badannya mencapai tiga depa diatas kolam, tangannya segera menyambar daun Si toan kim khong. Apa yang terjadi? Ketika tangannya menyentuh daun Si toan kim khong, ternyata benda itu hancur menjadi bubuk, secara beruntun Thi Eng khi mencabut lagi beberapa batang, tapi kenyataannya begitu semua.

Hal mana membuat anak muda itu menjadi tertegun, sehingga tanpa terasa tangannya menyentuh buah Tiang kim ko yang belum matang. Anehnya, begitu buah Tiang kim ko tersentuh, mendadak dari dasar tanah berkumandang suara gemuruh yang amat keras.

Pada saat itulah, Lo kian berteriak keras :

“Thi lote, cepat kembali, semua benda dalam gua ini aneh sekali, jangan kelewat gegabah.”

Tidak menanti ucapan Lo kian selesai diutarakan, Thi Eng khi telah melayang kembali ke samping tubuh Lo kian.

“Daun Si toan kim khong itu palsu ” serunya tertahan.

Belum habis dia berkata, dinding gua di seberang mereka telah bergerak turun ke bawah, lalu muncullah sebuah pintu dibalik itu suasana gelap gulita, tampaknya dalam sekali.

Pada saat itulah, tiba tiba dari dalam pintu memancar keluar kilatan cahaya tajam, kemudian muncul sebuah kereta dari balik pintu, diatas kereta duduk seorang kakek berbaju pendeta yang tersenyum simpul.

Begitu sampai di depan pintu, kereta itu segera berhenti.

Berhubung kereta itu bergerak dan berhenti secara otomatis tanpa ada yang mendorong, kedua orang itu sama sama merasa keheranan.

Tangan kanan tosu tua diatas kereta itu lurus kedepan dada dengan gaya mendorong tapi tangan itu sudah kaku tanpa bergerak. Thi Eng khi maupun Lo kian dapat membaca, diatas telapak tangan tosu tua itu tertera beberapa huruf yang berbunyi :

“Pintu Thio Biau liong!” Thi Eng khi tak tahu siapakah Thio Biau liong itu, sebaliknya paras muka Lo kian segera berubah serius setelah membaca tulisan itu, sambil menarik tangan Thi Eng khi serunya :

“Thi lote, kita telah bertemu dengan seorang locianpwe.”

Dengan cepat dia memberi hormat lebih dulu sambil berkata : “Angkatan muda dari dunia persilatan Kian kim siang menjumpai

Thio locianpwe.”

Melihat Lo kian sudah memberi hormat, Thi Eng khi merasa walaupun dirinya seorang ciangbunjin, namun usianya masih muda meski terhadap ketua partai lain dia bersikap sama sederajat, namun berbeda halnya bila berhadapan dengan seorang bu lim cianpwe.

Maka diapun segera turut memberi hormat sambil berkata : “Boanpwe Thi Eng khi memberi hormat.”

Baru saja kedua orang itu membungkukkan badannya memberi hormat tiba tiba terdengar suara senjata rahasia berkelebat lewat tepat dari atas kepala mereka. Andaikata mereka tidak lagi membungkukkan badan untuk memberi hormat, niscaya tubuh mereka akan menjadi sasaran senjata rahasia.

Menyusul kemudian terdengar senjata rahasia itu menghajar diatas semacam benda besi dibelakang tubuh mereka dan menimbulkan tujuh kali suara dentingan nyaring. Ternyata senjata rahasia itu semuanya berjumlah tujuh batang.

Sudah barang tentu dengan kepandaian silat yang mereka miliki sekarang, jangankan baru tujuh batang senjata rahasia, sekalipun lebih banyak juga jangan harap bisa melukai mereka sekalipun tak bisa ditangkap paling tidak, akan terpukul rontok.

Namun bila sampai benar benar terjadi demikian, keadaannya akan menambah runyam. Sebab asal senjata rahasia itu ada sebatang saja yang tidak mengena diatas lempeng besi dibelakang situ, maka Thi Eng khi dan Kian Kim siang jangan harap bisa keluar lagi dari dalam gua tersebut. Ternyata disitu telah dipasang semacam alat rahasia yang amat lihay, seandainya Thi Eng khi dan Kian Kim siang tidak mempunyai niat untuk menghormati angkatan tua, maka berarti pula mereka tak tahu sopan santun. Seseorang yang tak tahu sopan santun tentu akan menganggap senjata rahasia yang menyambar lewat sengaja ditujukan kepada mereka.

Maka serta merta mereka akan merontokkan senjata rahasia itu.

Bila senjata rahasia itu tak bisa menghajar lempengan besi dibelakang mereka, maka hal ini akan berakibat alat rahasia berikutnya yang jauh lebih lihay tak dapat dikendalikan.

Jadi sesungguhnya, justru karena sopan santun mereka itulah, tanpa disadari mereka berdua telah berhasil meloloskan diri dari suatu bencana besar. Begitu ketujuh kali dentingan tersebut berkumandang lewat, Thio Biau liong menarik tangan kanannya dan meluruskan telapak tangan kirinya.

Diatas telapak tangan itu tertera pula dua patah kata yang berbunyi :

“Silakan masuk!”

Menyusul kemudian, kereta itu secara otomatis mundur kembali kebalik pintu. Thi Eng khi tidak tahu akan asal usul dari Thio Biau liong, maka ia tidak turut maju, kedepan Kian Kim siang segera bisiknya :

“Lo kian, Thio locianpwe ”

“Thio locianpwe adalah seorang tokoh sakti pada ratusan tahun berselang,” sela Kian Kim siang dengan wajah serius, “mari kita ikuti dia orang tua masuk ke dalam lebih dulu, urusan lain kita bicarakan belakangan ”

“Dia orang tua menggunakan tulisan sebagai pengganti kata, betul betul aneh sekali,” kembali Thi Eng khi berkata.

“Manusia aneh, kejadian aneh banyak sekali di dunia ini. Thi lote, kau jangan sembarangan menerka.” Sementara mereka bercakap cakap, Thio Biau liong yang berada diatas kereta telah mengundurkan diri ke dalam ruangan. Thi Eng khi dan Kian Kim siang segera bersama sama masuk ke dalam ruangan, setelah mengitari sebuah penyekat yang terbuat dari batu kemala hijau, dihadapan mereka terbentang sebuah ruangan besar yang amat lebar dan beralaskan batu kemala putih.

Di tengah ruangan diatas pembaringan yang terbuat dari batu kumala, Thio Biau liong telah duduk bersila disitu menantikan kedatangan mereka. Thi Eng khi dan Kian Kim siang bersama sama menuju ke hadapan Thio Biau liong, kemudian setelah memberi hormat, katanya :

“Entah ada persoalan apakah locianpwe mengundang boanpwe sekalian berkunjung kemari?”

Lagak dari Thio Biau liong waktu itu sungguh amat besar, terhadap pembicaraan mereka berdua ternyata tidak menggubris maupun menanggapi. Berulang ulang mereka berdua menyampaikan kata katanya, namun Thio Biau liong tetap tidak menggubris, hal ini membuat mereka jadi tersipu sipu dan kehilangan muka.

Dengan cepat Thi Eng khi berpikir :

“Kau pun terhitung seorang tokoh persilatan, tidak sepantasnya bersikap begitu tak tahu adat kepada orang lain?”

Dengan perasaan tak puas dia lantas berpaling kepada Kian Kim siang, lalu katanya:

“Lo kian, siaute merasa tak punya jodoh untuk tinggal lebih lama disini, biarlah aku mohon diri lebih dulu.”

Dia lantas membalikkan badannya siap berlalu dari sana.

Sebenarnya Kian Kim siang sendiripun sudah curiga, tapi berhubung ia merasa pertemuannya dengan manusia seperti Thio Biau liong jarang bisa terjadi, apalagi mereka toh sampai disitu, apa salahnya menunggu beberapa saat lagi?

Tapi, dihadapan Thio Biau liong, diapun merasa kurang leluasa untuk memanggil Thi Eng khi, terpaksa sambil membalikkan badannya dia menghadang jalan pergi si anak muda itu. Sementara itu, Thi Eng khi telah berubah ke arah lain, ia saksikan pintu depan telah tertutup secara otomatis, sedang diatas pintu tertera sebaris tulisan yang berbunyi :

“Setelah memasuki gua ini berarti kau berjodoh, mengapa tidak menanti sejenak lagi?”

Dalam keadaan begini, sekalipun hendak pergi juga tak mungkin bisa pergi. Tidak menanti Kian Kim siang buka suara, Thi Eng khi telah berkata lebih dulu :

“Tampaknya Thio locianpwe sudah melakukan persiapan disemua bidang, agaknya kita tak bisa berbuat sekehendak hati.”

Terpaksa mereka berdua balik kembali ke depan pembaringan Thio Biau liong. Waktu itu pikiran dan perasaan mereka sudah jauh lebih tenang, dengan seksama mereka mulai memperhatikan keadaan disekeliling tempat itu.

Kian Kim siang yang berpengalaman dengan cepat dapat melihat bahwa Thio Biau liong jauh berbeda dengan manusia hidup biasa.

Betul wajahnya mirip orang hidup, namun sama sekali tidak membawa unsur kehidupan.

Agaknya Thi Engkhi pun berhasil menjumpai sesuatu yang tak beres, dengan suara lirih dia lantas berbisik :

“Jangan jangan Thio locianpwe yang berada di pembaringan itu adalah loyannya setelah meninggal?”

Kian Kim siang manggut manggut.

“Ketajaman mata lote memang mengagumkan, betul, Thio locianpwe yang berada diatas pembaringan memang sudah meninggal cukup lama.”

Thi Eng khi berpikir sebentar, lalu ujarnya lagi :

“Tampaknya Thio locianpwe selain lihay dalam ilmu silat, dia pasti lihay pula didalam ilmu alat jebakan serta senjata rahasia.?”

“Dari mana lote bisa tahu?” Kian Kim siang bertanya keheranan. “Bukankah Thio locianpwe yang berada diatas kereta itupun hanya orang orangan?”

Kian Kim siang mengangguk, secara ringkas dia menceritakan kisah yang menyangkut tentang Thio Biau liong. Ternyata Thio Biau liong sudah termashur namanya semenjak dua ratusan tahun berselang, ia tersohor karena lihay dan tiada manusia yang bisa mengalahkan dirinya.

Ilmu silat yang dimilikinya lihay bukan kepalang, diapun lihay dalam ilmu pertabiban, ilmu bintang, ilmu alat rahasia, ilmu bangunan serta pelbagai macam kepandaian lainnya.

Jangan dilihat dia berdandan sebagai tosu padahal sama sekali bukan anggota Sam cing kau, sepanjang hidupnya dia selalu berbuat kebajikan, berbudi luhur dan tak pernah banyak bertingkah, sehingga orang persilatan baik dari golongan putih maupun golongan hitam menghormatinya sebagai Cu sim ci cu (manusia polos berhati merah).

Sebenarnya rasa hormat Thi Eng khi terhadap Thio Biau liong boleh dibilang cuma rasa hormat biasa, tapi setelah mendengar penjelasan dari Kian Kim siang, apalagi setelah mendengar julukan sebagai si hati merah yang mulia, dari itu ia dapat menarik kesimpulan bagaimanakah watak orang tersebut, tanpa terasa rasa hormatnya segera meningkat berlipat ganda.

Di dalam ruangan besar berbatu kemala itu tidak ditemukan bekas bekas pintu, di sini pun tidak nampak ruangan lainnya. Di bawah dinding gua sebelah timur terdapat sebuah rak kemala sebanyak dua buah, yang satu besar dan yang lain kecil.

Kalau dirak besar bertumpuk aneka buku yang berisi pelajaran ilmu aneh, maka diatas rak kecil terletak berbagai macam bentuk botol kemala yang besar kecil tak menentu, isinya jelas adalah obat mestika semuanya. Waktu itu, Thi Eng khi buru buru ingin mendapatkan Si toan kim khong maka ia tidak tertarik untuk memperhatikan kitab kitab pusaka tersebut sebaliknya dia sangat menaruh perhatian pada tumpukan botol porselen berisi obat, karena ia berharap bisa menemukan obat Si toan kim khong sehingga apa yang diharapkan dapat terpenuhi. Oleh karena perhatiannya segera ditujukan ke arah rak kecil yang berisi obat obatan tersebut.

Setelah mencari sekian lama, akhirnya dia menemukan sebuah botol yang berisikan Kim khong giok lok wan. Tak terlukiskan rasa kejut dan girang Thi Eng khi setelah berhasil menemukan obat tersebut, buru buru dia masukkan kim khong giok lok wan tersebut ke dalam sakunya, sedang terhadap obat obatan lainnya ia sama sekali tidak tertarik. Sebaliknya Kian Kim siang sedang dibuat kesemsem oleh sejilid kitab yang sedang dibaca isinya.

Perlu diketahui, kemujaraban obat Kim khong giok lok wan yang berhasil didapatkan oleh Thi Eng khi itu beratus kali lipat lebih hebat daripada buah Tiang kim ko, setetes saja sudah cukup untuk membuat orang awet muda, bayangkan saja sampai dimanakah rasa gembira Thi Eng khi sekarang.

Kini satu satunya yang diharapkan olehnya adalah menemukan pintu keluar dari gua tersebut. Tapi empat penjuru ruangan besar itu merupakan dinding yang datar dan licin, bagaimanapun dia untuk berusaha untuk mencari dan memeriksa dengan seksama namun tiada suatu tanda pun yang berhasil dijumpai, terpaksa ia menghela napas panjang dan menghentikan usahanya.

Mendadak ia menemukan cahaya yang memancar dalam ruangan itu makin lama semakin redup bahkan warnanya turut berubah ubah. Kalau cahaya yang memancar membawakan satu warna, maka cahaya itupun menyorot kesuatu sudut arah tertentu, dari sana iapun menyaksikan banyak sekali garis garis lekukan yang tertera diatas dinding, ia menganggap garis garis tersebut pasti menyimpan rahasia pintu keluar, maka dengan perasaan gembira dia melakukan pemeriksaan kembali. Tapi akhirnya kembali anak muda itu dibikin kecewa. Menyusul kemudian, dia seperti berhasil menemukan sesuatu di balik garis garis yang melengkung tak karuan itu, dengan cepat ia seperti orang gila saja, menari dan mencak mencak tiada hentinya sehingga seluruh ruangan itu seakan akan dipenuhi dengan bayangan tubuhnya.

Perubahan cahaya yang berwarna warni itu dari melamban kini semakin cepat, akhirnya perubahannya sedemikian cepatnya sehingga tak bisa diraba lagi. Sebaliknya bayangan tubuh dari Thi Eng khi pun seolah olah telah membaur dengan cahaya warna warni itu sehingga tidak nampak pula bayangan tubuhnya.

Waktu itu, Kian Kim siang sedang terbuai oleh kitab pusaka yang sedang dibaca, terhadap apa yang dialami Thi Eng khi ternyata sama sekali tidak merasakan.

Menanti ia selesai membaca kitab itu dan menutupnya kembali, ia baru menyaksikan Thi Eng khi dengan wajah merah membara sedang berdiri di tengah ruangan tanpa bergerak. Kian Kim siang menjadi terkejut sekali, segera ia menegur :

“Thi lote, kenapa kau?”

Untuk sesaat lamanya, Thi Eng khi tidak memberikan reaksi apa- apa, karena itu kakek itu segera menarik tangannya. Siapa tahu belum lagi telapak tangannya menyentuh tubuhnya Thi Eng khi, mendadak dirasakan olehnya seluruh badan Thi Eng khi panas sekali bagaikan kobaran api, pada hakekatnya sama sekali tak bisa didekati.

Kian Kim siang termasuk seorang jago persilatan yang sudah lama termashur namanya dalam dunia persilatan, ketika menyaksikan kejadian itu tanpa terasa timbullah keinginannya untuk mencari menang sendiri maka dia lantas menghimpun tenaga dalamnya kedalam tangan dan kemudian ia mencoba sekali lagi untuk menyentuh anak muda tersebut.

Setelah tenaga dalamnya disalurkan kedalam lengan, jangankan baru menyentuh barang yang panas membara, sekalipun suhu panasnya beberapa kali lebih hebat pun tak bakal sampai melukai dirinya.

Tapi kenyataan berbicara lain, ketika tangan yang dipenuhi tenaga dalam itu mendekati tubuh Thi Eng khi, panas yang seharusnya makin berkurang kini justru beberapa kali lipat lebih menghebat. Dalam keadaan seperti ini tanpa terasa dia lantas menjerit tertahan :

“Sam kui cing hwee”

Dengan cepat dia menarik kembali tangannya dengan wajah kaget bercampur tercengang. Tak lama kemudian, dari tempat Thi Eng khi berpijak muncul asap berwarna hijau yang makin lama semakin tebal, lalu batu kumala yang diinjak oleh anak muda itu mencair dan musnah, dari tempat itulah tiba tiba muncullah sebuah gua besar.

Sebaliknya tubuh Thi Eng khi yang berdiri masih tetap berdiri mengambang pada posisi semula, dia tidak menjadi lebih rendah badannya karena punahnya batu kemala tadi.

Setelah menyaksikan tenaga dalam Thi Eng khi yang sempurna, Kian Kim siang tidak tahu haruskah merasa terkejut ataukah memuji, dia hanya merasa bila dirinya dibandingkan dengan pemuda itu sekarang maka keadaannya seperti rembulan dan kunang kunang, kendatipun dia berhasil menguasai kepandaian silat yang baru dipelajarinya dari kitab pusaka, belum tentu kemampuannya bisa menyusul kemampuan anak muda itu.

Padahal, darimana dia bisa tahu kalau keberhasilan Thi Eng khi barusan diperoleh sewaktu tubuhnya menari-nari tadi. Ternyata mengikuti perubahan cahaya yang berlangsung dalam ruangan itu, diatas garis garis pada dinding yang disoroti secara bergantian itulah tercantum intisari tenaga dalam yang dimiliki Thio Biau liong.

Dasar Thi Eng khi memang seorang pemuda yang cerdas, maka hal mana segera menimbulkan satu ingatan cerdik dalam benaknya dan membuat simhoat tenaga dalam itupun segera dipelajari sampai selesai. Perlu diketahui, simhoat tenaga dalam milik Thio Biau liong merupakan sejenis tenaga dalam yang amat lihay dengan keistimewaan yang lain daripada yang lain. Inti sari dari tenaga dalam itu merupakan ketenangan yang diimbangi dengan gerakan, oleh sebab itu didalam saat saat latihan, dia harus menari-nari dan mencak mencak bagaikan orang gila.

Betul dengan cara seperti ini, orang sukar untuk memahaminya tapi justru lebih mudah untuk dipelajarinya, tak heran kalau kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi sekarang boleh dibilang merupakan nomor satu di dunia. Mengenai hal ini, Thi Eng khi pribadi pun belum mengetahuinya.

Begitulah, semakin tebal asap hijau yang mengepul keluar dari bawah kaki Thi Eng khi semakin besar pula gua yang muncul diatas permukaan lantai ruangan itu. Tak lama kemudian, dibawah sana telah muncul kembali sebuah ruangan batu lainnya.

Saat itulah, Thi Eng khi baru berpekik panjang dan menarik kembali tenaga dalamnya. Dengan wajah berseri, ia lantas berseru :

“Akhirnya kita berhasil juga menemukan jalan untuk keluar dari gua ini.”

“Thi lote, sebenarnya apa yang telah terjadi? Aku benar benar telah kau bikin kebingungan,” seru Kiam Kim siang.

Dengan sejujurnya Thi Eng khi lantas menceritakan apa yang berhasil ditemukannya barusan. Mendengar perkataan itu, Kiam Kim siang menghela napas tiada hentinya sambil memuji. Menyusul kemudian, Thi Eng khi pun berkata lebih jauh :

“Thio locianpwe telah meninggalkan surat yang menyatakan ilmu Heng kian sinkang berhasil dikuasai maka dengan meleburnya dinding batu kumala kita bisa memasuki ruang penghubung rahasia di bawah ruangan ini untuk menemukan jalan keluarnya.”

“Seandainya Thi lote tidak berhasil menguasi ilmu Heng kian singkang, apakah kita tak akan berhasil menemukan jalan keluarnya?” Thi Eng khi segera tertawa.

“Waah aku rasa kecuali kita mengikuti Thio locianpwe untuk

berdiam disini selama hidup sudah tiada kemungkinan lagi untuk bisa keluar dari gua ini.”

Sambil bergurau, kedua orang itupun melompat masuk ke ruang rahasia lain dibawah tanah. Luas ruangan batu itu cuma satu kaki, diatas dinding penuh bergantungan batuan berwarna merah hijau yang berwarna warni, sedangkan pada dinding lainnya penuh tergantung lukisan peta.

Ternyata peta peta tersebut melukiskan perut dari gua tersebut, tampaknya ruangan itu bukan hanya dua buah saja, sedangkan batu batu berwarna warni diatas dinding lain adalah kunci untuk membuka pintu rahasia menuju ke ruangan lain. Sedang pada dinding sisanya yang satu, tidak terdapat benda apa apa sedangkan lainnya berisikan penuh dengan tulisan.

Pada kalimat yang pertama dicantumkan tulisan yang berbunyi demikian :

“Barang siapa dapat memasuki ruangan ini, dialah pemilik baru dari gua ini, segala benda yang berada di gua ini dihadiahkan kepada penemu tersebut. Kemudian diterangkan pula orang yang berjodoh itu tak perlu mempunyai ikatan hubungan sebagai guru dan murid dengan Thio Biau liong, tapi dilarang pula membocorkannya kepada orang lain. Pemilik gua baru boleh mengambil benda apa saja yang berada dalam ruangan itu, daripada barang barang tadi tidak terpakai.”

Apa yang dipikirkan Thi Eng khi sekarang adalah berusaha secepatnya meninggalkan gua itu dan menyelamatkan jiwa si Pendendam raja akhirat Kwik Keng thian serta Pek leng siancu So Bwe leng yang terluka. Dia tidak ingin membuang waktu untuk menyelidiki gua lainnya, maka dengan suatu gerakan yang cepat dia segera menekan ke delapan puluh satu butir batu yang berada di atas dinding itu. Sedemikian cepatnya gerakan tangan itu, membuat Kian Kim siang yang begitu lihaypun tak sempat mengikuti gerakan tangannya itu. Ketika Thi Eng khi selesai menekan kedelapan puluh satu buah batu warna warni tadi tampaklah dinding yang kosong tadi tenggelam kebawah dan muncullah sebuah lorong rahasia.

Tanpa membuang waktu lagi Thi Eng khi segera melompat masuk kedalam lorong rahasia tadi. Kian Kim siang ragu ragu sejenak, dengan berat hati dia berpaling dan memandang sekejap seluruh isi ruangan itu akhirnya dia pun mengikuti di belakang Thi Eng khi dan menelusuri lorong rahasia tadi.

Begitu mereka berdua sudah tiba dalam lorong tersebut, dinding batu tadi secara otomatis menutup kembali seperti sedia kala.

Bentuk lorong rahasia itu menukik keatas setiap puluhan langkah terdapat sebutir mutiara yang menerangi tempat itu.

Dengan tenaga dalam yang dimiliki kedua orang ini, tidak sulit bagi mereka untuk melambung naik keatas udara, begitulah setelah melakukan perjalanan berat selama satu jam lebih, lorong itu baru berubah menjadi datar.

Kembali mereka berjalan berbelok-belok sekian lama sebelum tiba di ujung lorong dimana terdapat sebuah dinding batu menyumbat jalan pergi mereka. Thi Eng khi segera melepaskan tiga sentilan keatas langit langit gua tersebut, mendadak diatas dinding batu itu muncul sebuah gua kecil yang luasnya Cuma beberapa depa.

Segulung hawa dingin yang amat tajam segera berhembus lewat dan menyegarkan badan. Thi Eng khi segera melongok kebalik gua itu, tenaga dalamnya dihimpun dan memandang keluar dengan sorot mata yang tajam, ternyata di luar gua merupakan sebuah sumur yang sangat dalam, mulut gua itu berada tiga kaki diatas permukaan air tapi masih ada sepuluh kaki dari mulut permukaan sumur bagian atas.

Beberapa butir bintang berkelip kelip di mulut gua sana, tampaknya waktu itu hari sedang malam. Dengan menggunakan ilmu Sut kut sinkang (ilmu mengecilkan tulang) mereka menerobos keluar dari gua kecil itu, kemudian Thi Eng khi menekan tombol rahasia untuk menutup kembali mulut gua tadi, setelah itu bersama Kian Kim siang, ia baru melompat keluar dari sumur tadi.

Waktu itu rembulan sudah condong kesebelah barat, bayangan kuil Sam sin an berada didepan mata. Ternyata sumur itu letaknya berada di kebun belakang kuil Sam sin an. Disisi sumur tadi berdiri sebuah tugu peringatan yang bertuliskan :

“Bu sim cing”

Setitik cahaya lentera yang amat lirih memancar keluar dari balik kuil, secara lamat lamat terdengar suara isak tangis berkumandang keluar memecahkan keheningan.

Tak usah dipikirpun Thi Eng khi sudah tahu kalau orang yang sedang menangis adalah Ciu Tin tin, mungkin gadis itu mengetahui kalau dia tercebur ke dalam jurang maka dengan sedihnya menangis tersedu sedu. Thi Eng khi segera merasakan hatinya menjadi panas, tubuhnya segera bergerak ke depan.

Sebenarnya dia hendak menghibur gadis itu, tapi kemudian kuatir kalau perjalanannya akan tertunda lagi, terpaksa sambil mengeraskan hati dia mengurungkan niat tersebut, bersama Kian Kim siang berangkatlah mereka berdua menuju kebawah gunung.

Setelah berlarian sepertanak nasi kemudian, Thi Eng khi segera berpekik nyaring tampak kuda hitamnya meringkik panjang dan segera berlarian mendekat, begitu bertemu dengan pemuda tersebut, kuda tadi segera mencak mencak kegirangan.

Oleh karena Thi Eng khi harus buru buru kembali ke rumah untuk menolong si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian, ia tak dapat melakukan perjalanan bersama Kian Kim siang, maka kedua orang itupun berjanji akan bertemu lagi di kuil Siong gak bio dibukit Siong san bahkan meminta kepadanya agar menyampaikan kepada Tiang pek lojin bahwa dia akan pulang beberapa hari lagi. Diiringi ucapan sampai jumpa, Thi Eng khi segera melarikan kudanya kencang kencang menuju ke Oulam. Sementara itu, Sam ji sinni sebenarnya ada maksud untuk memenuhi keinginan Thi Eng khi, sewaktu pemuda itu berkunjung ke puncak Sam yang hong, sebenarnya dia orang tua tidak pergi, setelah mengetahui maksud kedatangan Thi Eng khi, dia lah yang memerintahkan Bu naynay untuk mengucapkan kata kata tersebut sedang dia pergi mengambil Si toan kim khong.

Tentu saja dia berkata demikian kepada Thi Eng khi bukan lantaran maksud jahat, dia berhasrat untuk mencoba si anak muda itu. Kemudian sewaktu Thi Eng khi berangkat sendiri ke puncak Sam yang hong untuk memetik daun Si toan kim khong, Ciu Tin tin yang merasa tidak tentram hatinya secara diam diam mengikuti dari belakang.

Tapi akhirnya dia menyaksikan Thi Eng khi terjatuh ke dalam jurang tanpa mampu untuk memberikan bantuannya. Peristiwa yang berlangsung secara tiba tiba dan diluar dugaan ini tentu saja membuat Ciu Tin tin menjadi sedih sekali.

Tujuan mereka semula sebenarnya hanya ingin mencoba diri Thi Eng khi, walaupun niat tersebut kemudian berhasil tercapai, tapi akibatnya pemuda itu tercebur ke jurang, bagi Ciu Tin tin hal ini boleh dibilang merupakan suatu peristiwa yang patut disesalkan. 

Siapa sangka justru gara gara mendapat bencana, Thi Eng khi malah berhasil menemukan suatu penemuan yang luar biasa, bahkan berhasil melepaskan diri dari bahaya. Tapi oleh karena Thi Eng khi terburu buru hendak menyembuhkan luka dari Pek leng siancu, ia sampai tidak menjumpai Ciu Tin tin lebih dulu, gara gara peristiwa ini akhirnya terjadilah banyak kejadian yang memusingkan kepala dikemudian hari, tapi apa boleh buat? Mungkin itulah yang dinamakan sebagai takdir.

Dalam pada itu, Thi Eng khi dengan melarikan kudanya siang malam tanpa berhenti akhirnya pada hari kesepuluh ia berhasil tiba didepan lembah dimana si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian berdiam. Waktu itu Thi Eng khi benar benar merasa gembira sekali sehingga tanpa terasa dia mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring. Berpisah hanya sepuluh hari, tenaga dalamnya telah mendapat kemajuan yang pesat sekali, begitu pekikan tersebut berkumandang, bergemalah suara keras yang memekakkan telinga membelah angkasa.

Beberapa tebing dapat dilalui dengan cepat, akhirnya sampailah dia didepan rumah si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian.

Saking girangnya, Thi Eng khi merasakan jantungnya seolah olah hendak melompat keluar, ia menarik napas panjang panjang untuk menyegarkan pikirannya, kemudian baru melambatkan larinya kuda mendekati gua tersebut.....

Siapa tahu baru saja dia berada di beberapa kaki dari gua tersebut, mendadak dari balik gua itu terdengar seseorang membentak keras :

“Bocah keparat, licik benar kau! Jangan harap kau bisa melarikan diri lagi pada hari ini, hayo cepat turun dari kudamu dan menyerahkan diri, daripada nona harus turun tangan sendiri!”

Karena mendengar bentakan keras, Thi Eng khi serta merta berpaling kearah mana berasalnya suara bentakan itu. Ternyata nona yang sedang marah marah itu tak lain adalah nona Tin atau Tin Un yang pernah dijumpai di bukit Huan keng san tempo hari.

Di belakang tubuhnya sekarang selain berdiri sinenek yang berwajah penuh keriput, tampak juga empat orang kakek, ditinjau dari sorot mata mereka yang tajam, dapat diketahui kalau mereka memiliki tenaga dalam yang amat sempurna.

Wajah keempat orang itu penuh diliputi oleh perasaan gusar dan hawa membunuh yang tebal, dengan sorot mata yang tajam mereka sedang mengawasi Thi Eng khi tanpa berkedip.

Thi Eng khi jadi tertegun dan tidak habis mengerti, dia tak tahu dalam hal apakah telah menyalahi nona Tin Un sehingga begitu benci dan marahnya nona itu kepadanya. Dia segera melompat turun dari kuda hitamnya, kemudian sambil menjura ia berkata:

“Aku adalah Thi Eng khi, nona Tin mungkin kau telah salah melihat orang?”

“Hmmm, sampai menjadi abu pun nonamu tetap bisa mengenal kau sebagai Thi Eng khi,” jawab si nona Tin dengan suara dingin, ”sungguh keji hatimu! Kau kau adalah manusia keparat yang

membalas air susu dengan air tuba ”

Ketika berbicara sampai disitu, meledaklah isak tangisnya dengan amat sedih. Thi Eng khi yang didamprat menjadi semakin termangu dan tidak habis mengerti, dia tidak mengerti apa gerangan yang sebenarnya terjadi.

Ketika si nenek itu menyaksikan Tin Un menangis dengan amat sedihnya, cepat cepat dia menghibur :

“Nona Un, jangan sedih, inilah kesempatan yang baik bagimu untuk menuntut balas, kau seharusnya gembira, kenapa sekarang malah menangis? Kalau kau merasa sedih, keparat itu pasti akan makin gembira.”

Kemudian dengan wajah bengis dan penuh perasaan dendam, ia membentak kearah Thi Eng khi :

“Manusia bermuka orang berhati binatang, tunggu saja pembalasan dari kami nanti, sekarang hayo masuk ke dalam!”

Thi Eng khi melongo dan merasa tidak habis mengerti, dia tidak tahu apa yang telah berlangsung disana, hanya pikirnya :

“Aah, setelah bertemu dengan si pendendam raja akhirat Kwik cianpwe, duduknya persoalan pasti akan menjadi terang kembali, buat apa aku musti banyak berbicara sekarang?”

Maka tanpa membantah atau mengucapkan sepatah katapun dia lantas membalikkan badan dan berjalan masuk ke dalam gua. Tin Un, si nenek dan keempat orang kakek itu segera mengikuti dari belakang Thi Eng khi seolah olah sedang mengiringi buronan saja. Walaupun Thi Eng khi tidak takut dituduh melakukan sesuatu tapi dengan berlangsungnya peristiwa ini, maka semua rasa gembira yang semula menyelimuti hatinya kini hilang lenyap tak berbekas.

Gua yang berapa li jauhnya itu terasa begitu jauh dan tak habis habisnya untuk dilalui dalam perasaan gundah seperti ini. Ketika mereka hampir keluar dari gua tersebut, si nenek yang berada dibelakangnya segera bersuit nyaring, seakan akan sedang memberi tanda rahasia kalau mereka telah kembali.

Betul juga, baru saja Thi Eng khi keluar dari gua dan memasuki kebun bunga tampaklah Hwee cun siucay Seng Tiok sian telah munculkan diri dengan langkah cepat. Thi Eng khi segera merasakan hatinya lega sekali setelah melihat Hwee cun siucay Seng Tiok sian juga berada disana, sekalipun perkenalannya dengan orang itu cuma sebentar tapi dia merasakan suatu kecocokan dengannya membuat ia menaruh pandangan lain terhadap orang she Seng ini.

Maka diapun lantas berseru.

“Saudara Seng, kebetulan sekali kalau kaupun berada disini, siaute sengaja mencarikan obat untuk gurumu dan sekarang telah kudapatkan, tapi entah mengapa ternyata nona Tin menaruh kesalahan paham terhadap diriku, harap saudara Seng bersedia untuk menjelaskannya.”

Ucapan hangat dari Thi Eng khi ini hanya disambut dengan dengusan dingin dari Seng Tiok sian, malah kemudian dia berkata ketus ;

“Kau tak usah menguatirkan keadaan luka yang diderita oleh guruku lagi.”

Ucapan mana segera membuat Thi Eng khi tertegun, dia segera salah mengartikan perkataan itu, maka kembali ucapnya :

“Bagaimana dengan keadaan Kwik locianpwe? Siaute sampai datang terlambat.”

“Guruku telah sembuh!” Hwee cun siucay Seng Tiok sian mendengus dingin. Ia tidak banyak berbicara, jelas terhadap Thi Eng khipun sudah menaruh kesalahan paham. Bagaimanapun Thi Eng khi adalah seorang yang angkuh dan tinggi hati, setelah pembicaraannya terasa tidak cocok, maka dia pun tidak banyak bicara lagi, dengan langkah lebar pemuda itu melangkah masuk kedalam rumah gubuk.

Didepan pintu tampak si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian berdiri disitu. Dengan luapan gembira, Thi Eng khi segera berteriak :

“Kwik locianpwe   ”

Tapi sikap maupun mimik wajah dari si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian segera menyumbat kata kata berikutnya. Tampak si pendendam raja akhirat Kwik Keng thian berkelit ke samping, kemudian katanya :

“Kebetulan sekali Thi tayhiap datang kembali kesini, silahkan!”

Ternyata nada pembicaraannya pun tidak bersahabat.

Diperlakukan secara kasar berulang kali, berubah juga paras muka Thi Eng khi, dengan hati mendongkol dia segera melangkah masuk kedalam rumah gubuk itu.