Pukulan Naga Sakti Jilid 14

 
Jilid 14

PARAS muka Ciu Tin tin kembali berubah menjadi amat sedih sekali sahutnya : “Sebenarnya ananda mempunyai maksud untuk membuat pahala bagi keluarga Thi guna menebuskan dosa ayah, tapi rupanya adik Eng mengetahui akan hal ini dan ia tidak bersedia menerima kebaikan ananda!"

Dengan kening berkerut Cay hong sian ci Liok Sun hoa termenung beberapa saat lamanya, kemudian berkata :

“Nak, kalau begitu hal ini tak bisa disalahkan Thi Eng khi, seandainya dia menerima pembalasan semacam ini, bukankah hal ini akan membuatnya menjadi semakin murung?”

Ciu Tin tin menundukkan kepalanya rendah rendah, kemudian katanya dengan lirih :

“Ananda bukan bermaksud menyalahkan keadaannya, cuma saja…. cuma saja…. isi hati anda…..”

Tiba tiba pipinya berubah menjadi merah dan tak sanggup untuk dilanjutkan lagi, Cay hong sian ci Liok Sun hoa segera tertawa. “Tak usah kuatir nak” katanya, “bagaimanapun juga kita harus mencari sebuah cara yang baik untuk mengulangi persoalan ini, sekarang mari kita pergi mencari ayahmu, dia berada di mana?”

"Ayah tinggal di pagoda Ci hong kek di bukit Si soat!"

Maka kedua orang itupun segera berangkat menuju ke bukit Si soat san.

Pagoda Ci hong kek terletak dipungggung bukit sebelah barat, sepanjang jalan menuju ke kuil itu terdapat undak undakan batu yang berjumlah ratusan banyaknya. Disebelah barat dan timur bangunan terdapat serambi, diserambi sebelah timur saling berhadapan dengan bukit Cian hud nia yang banyak terdapat batuan cadas. Sedangkan serambi bagian barat menghadap bukit barat, puluhan kaki didepannya terdapat sumber mata air yang dinamakan Tin cu swey.

Waktu itu adalah bulan delapan musim gugur yang dingin, daun merah memenuhi permukaan tanah seperti sinar diwaktu senja pemandangan indah dan menawan hati. Diatas permukaan tanah berlapiskan dedaunan merah itu, tampaklah dua sosok bayangan manusia sedang bergerak dengan kecepatan tinggi.

Yang berjalan didepan adalah Ciu Tin tin, sedangkan dibelakangnya mengikuti seorang perempuan setengah umur, tentu saja dia tak lain adalah Cay hong sian ci Liok Sun hoa.

Setelah melakukan perjalanan sekian waktu, akhirnya sampailah mereka dibawah bukit Ci hong cay. Ciu Tin tin segera membuat muka setan kepada ibunya sambil berbisik :

“Ibu, tunggulah aku disini, ananda akan rnengundang ayah datang kemari, agar dia merasa terkejut bercampur gembira.”

“Ciss kau lagi lagi menjadi nakal!” desis Cay hong sian ci Liok

Sun hoa. Tapi ia toh menyelinap pula kebelakang setumpukan daun merah dan menyaksikan Ciu Tin tin melanjutkan perjalanannya menuju ke kuil. Ia merasa jantungnya berdebar amat keras, wajahnya tanpa terasa berubah pula menjadi merah padam.

Dengan suatu gerakan yang amat enteng Ciu Tin tin langsung mendekati jendela kamar sebelah barat, lalu mengintip kedalam. Ditangannya membawa sebatang ranting kering, dia bermaksud untuk mengajak ayahnya bergurau.

Siapa tahu, apa yang kemudian terlihat olehnya membuat dia bergetar keras dan menjadi ragu. Dalam kamar itu bukannya tak ada orang, yang berada disana tidak mirip ayahnya, orang itu duduk dengan membelakangi jendela, walaupun kepalanya juga gundul akan tetapi perawakan tubuhnya jauh lebih kecil daripada Huang oh siansu.

Ciu Tin tin menjadi keheranan setengah mati, pikirnya kemudian : “Jangan jangan ayah sudah pindah ke tempat lain?”

Sementara dia masih ragu dan tak tahu apa yang musti dilakukan, mendadak orang yang berada dalam kamar itu telah membalikkan badannya berikut kursi yang didudukinya, cepat sekali gerakan tubuh orang itu, Ciu Tin tin hanya merasakan pandangan matanya menjadi kabur dan orang itu sudah berdiri dihadapannya.

Ternyata dia adalah seorang nikou kecil berusia tujuh delapan belas tahunan, sambil manggut manggut ke arah Ciu Tin tin seraya berkata :

“Apakah nona Ciu yang berdiri diluar jendela? Pinni sudah lama sekali menantikan kedatanganmu!”

Ciu Tin tin tidak mengira kalau nikou kecil itu kenal dengannya, dengan wajah tercengang karena keheranan, tegurnya :

“Sau suhu, tolong tanya siapa namamu?”

Tiba tiba nikou kecil itu tertawa tergelak, katanya :

“Pinni Sim ji, apakah nona Ciu juga pernah mendengar namaku disebut orang... ” Ciu Tin tin harnpir saja tidak percaya dengan apa yang didengarnya, dengan cepat mengulangi lagi pertanyaannya : “Oooh jadi sau suhu adalah muridnya Sim ji Sinni?“

"Pinni lah Sim ji!“ jawab Sim ji sinni sambil tersenyum.

Melihat wajah yang serius, Ciu Tin tin mengira nikou itu sedang berlagak hendak menggunakan nama besar dari Sim ji sinni untuk menggodanya, maka kontan saja dia tertawa terpingkal pingkal.

"Sau suhu, kau jangan menggertak orang walaupun siaumoay belum pernah bersua dengan Sim ji sinni dia orang tua, namun aku juga tahu kalau kau telah melanggar pantangan untuk berbohong."

Perlu diketahui, Sim ji sinni adalah seorang nikou saleh yang sudah termashur hampir seratus tahun lamanya, kepandaian silat yang dimilikinya amat lihay dan tiada taranya didunia ini, seandainya belum mati, usianya juga berada diatas seratus tahun, mana mungkin dia bisa berwujud seorang nikou berumur tujuh delapan yang berada dihadapan matanya sekarang?

Oleh karena itu, Ciu Tin tin lantas menuduh nikou muda itu telah melanggar pantangan berbohong. Sim ji sinni yang berada didalam kamar hanya tersenyum belaka, ia sama sekali tidak membantah lagi.

Tapi pada saat itulah dari belakang tubuh Ciu Tin tin telah terdengar suara Cay hong sian ci Liok Sun hoa yang sedang menegur :

“Anak Tin, mengapa kau tak tahu sopan santun? Setelah berjumpa dengan Sim ji locianpwe kenapa belum juga memberi hor¬mat?“

Rupanya Cay hong sian ci Liok Sun hoa tidak sabar untuk menunggu terlalu lama, maka diapun menyusul ke sana.

Menanti Ciu Tin tin membalikkan kepalanya, dia saksikan ibunya sudah menyembah dihadapan nikou itu sembari berkata : "Boanpwe Liok Sun hoa beserta putri boanpwe Ciu Tin tin menghunjuk hormat buat locianpwe."

Setelah menyaksikan ibunya pun turut menyembah, Ciu Tin tin tak berani banyak berbicara lagi, buru buru dia turut berlutut sambil berkata dengan ketakutan :

“Boanpwe masih muda dan cetek pengetahuannya, harap Lo sutay bersedia memaafkan kesalahanku.“

Baru selesai perkataan itu diutarakan, Ciu Tin tin dan Liok Sun hoa merasakan tubuhnya menjadi enteng, entah kepandaian apakah yang telah dipergunakan oleh Sim ji nikou, tahu tahu mereka sudah ditarik masuk ke dalam kamar, bahkan posisi mereka yang sedang berlutut tadi kinipun menjadi berdiri.

Semua kesangsian yang semula masih menyelimuti benak Ciu Tin tin dengan cepat berubah menjadi kekaguman yang tak terhitung, dengan termangu mangu dia hanya bisa mengawasi wajah Sim ji sinni tanpa berkedip.

Sim ji sinni segera mengalihkan pandangan matanya ke wajah Cay hong sian ci Liok Sun hoa, kemudian ujarnya sambil tertawa : ''Nona Liok, mungkin sudah ada tiga puluh lima enam tahunan

kita tak pernah saling bersua bukan, aku masih ingat ketika itu kau masih berumur sepuluh tahun, masih merupakan seorang nona cilik yarg nakalnya bukan alang kepalang."

Mendengar kalau Sim ji sinni masih teringat dengannya, Cay hong sian ci Liok Sun hoa menjadi amat gembira sekali, serunya dengan penuh rasa hormat :

“Tahun ini boanpwe berusia empat puluh delapan tahun, kalau dihitung me¬mang sudah ada tiga puluh delapan tahun lamanya tak pernah bersua dengan kau orang tua, sungguh tak nyana wajah kau orang tua masih seperti sedia kala, bahkan semangatnya masih nampak segar, benar benar membuat malu kami yang menjadi boanpwe saja."

"Aaah... hanya tanpa sengaja pinni berhasil makan buah Tiang kim ko yang bi¬sa membuat orang awet muda, itu mah tidak terhitung seberapa, aku lihat putrimu justru berbakat bagus, sungguh membuat pinni merasa kagum sekali."

Sambil berkata dengan sepasang matanya yang jeli dan tajam dia awasi Ciu Tin tin tak berkedip, membuat gadis itu menjadi serba salah dan rikuh sekali. Cay hong sian ci Liok Sun hoa segera menyadari apa maksud dari perkataan ni¬kou itu, kejut dan girang membuatnya menjerit tertahan :

"Kau…kau orang tua Apakah kau orang tua menganggap Tin

tin masih bisa dididik?“

Dalam gembiranya, dia sampai lupa memberi tanda kepada Ciu Tin tin. Sambil menjatuhkan diri berlutut, serunya :

"Terima kasih banyak atas kesediaan locianpwe untuk menerimanya!”

Sim ji sinni segera tertawa, tukasnya :

“Nona Liok, yang harus memberi hormat bukan kau melainkan putrimu.”

Segulung tenaga yang amat besar segera membimbing tubuh Cay hong sian ci untuk bangkit berdiri. Cay hong sian ci Liok Sun hoa menjadi tersipu sipu, sambil tertawa dan menggelengkan kepalanya berulang kali, dia berkata :

"Setelah mendengar kabar gembira dari locianpwe, hampir saja boanpwe menjadi lupa diri."

''Aku lihat putrimu mempunyai pandangan lain, belum tentu dia bersedia menjadi murid pinni."

Cay hong sian ci Liok Sun hoa segera berpaling kearah putrinya sambil berseru :

“Tin tin, apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa tidak cepat cepat memberi hormat kepada suhu?”

Betul juga, Ciu tin tin segera menggelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang. “Aaai. ayah pernah berkata kepada boanpwe, dia hendak

mencarikan seorang suhu yang baik untuk boanpwe dan boanpwe telah meluluskan permintaan dia orang tua, atas kebaikan hati locianpwe yang memandang diriku, boanpwe merasa berterima kasih sekali, tapi boanpwe tak ingin sembarangan mengangkat guru tanpa persetujuan ayah, karena itu harap locianpwe sudi memaafkan.“

“Tahukah kau siapakah yang hendak dicarikan oleh Huang oh siansu untuk dijadikan gurumu?“ tanya Sim ji sinni.

Semestinya, Sim ji sinni harus membasahi 'Huang oh sinni' sebagai ’ayahmu' cuma hal tersebut sama sekali tidak menarik perhatian Ciu Tin tin berdua. Dengan wajah yang terang, gadis itu segera menggeleng.

“Ayahku tidak memberi keterangan apa-apa,“ sahutnya.

Dengan suara yang tegas Sim ji sinni lantas berkata : ''Pinni bertanya andaikata aku adalah orang yang diundang

Huang oh siansu untuk menjadi gurumu, apakah kau mengakuinya?“

Dihadapkan pada pertanyaan yang sangat aneh ini, pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benak Ciu Tin tin sekalipun dia merasakan pertanyaan itu kurang wajar namun belum terpikirkan olehnya kalau Huang oh siansu sebetulnya bukan ayahnya. Maka sahutnya kemudian :

“Huang oh siansu adalah ayahku, perkataan dari Huang oh siansu sama dengan ucapan dari ayahku!“

“Andaikata perkataan dari Huang oh siansu tak dapat melambangkan maksud hati dari ayahmu?“ tanya Sim ji sinni tiba- tiba dengan wajah amat serius.

Cay hong sian ci Liok Sun hoa lantas menimbrung : “Walaupun suamiku telah menjadi seorang pendeta, namun

terhadap istri dan anak sendiri tidak seharusnya memandang asing, ucapan dari locianpwe itu sungguh membuat boanpwe sekalian merasa tidak habis mengerti.“ Sim ji sinni menggelengkan kepalanya berulang kali dengan kening berkerut ujarnya :

“Apakah kalian berdua masih menganggap Huang oh siansu sebagai Gin ih kiam kek (jago pedang baju perak) Ciu Cu giok?“

Mendengar pertanyaan itu, paras muka Ciu Tin tin dan Liok Sun hoa berubah sangat hebat serunya tergagap :

“Apakah dia .... apakah dia “

Untuk sesaat mereka tak berani melanjutkan kembali kata katanya.

Sambil menghela napas panjang Sim ji sinni mengangguk, sahutnya pelan :

“Yaa, Huang oh siansu bukan orang la¬in, dia adalah Lan sin cu tok (pemuda tampan berbaju biru) Thi Tiong giok yang angkat nama bersama sama Gin ih kiam khek!“ Suara yang berat dan kata kata yarg mengejutkan betul betul menggetarkan perasaan.

Dalam keadaan sama sekali tidak siap, kabar berita itu cukup membuat Ciu Tin tin berdua merasakan pukulan batin yang sangat berat, tanpa bisa membendung gejolak perasaan mereka lagi, kedua orang itu saling berpelukan sambil menangis tersedu sedu. Sim ji sinni membiarkan mereka berdua menangis sepuas puasnya sampai semua kepedihan yang mencekam perasaan mereka terlampiaskan keluar, kemudian dengan suara lembut, ia baru berkata :

"Dalam peristiwa yang menyangkut soal keluarga Ciu dan keluarga Thi, berbicara yang sebenarnya, Thi Tiong giok sama sekali tidak salah, kalian tak boleh terlampau menyalahkan dirinya.“

Ciu Tin tin menjadi teringat kembali dengan nasehat yang dilontarkan kepada Thi Eng khi ketika pada waktu itu dia mengira Thi Tiong giok sebagai ayahnya, sungguh tak disangka perkataan itu sama halnya dengan menasehati diri sendiri.

Kini,dia tak dapat berkata apa apa lagi, dengan suara yang amat sedih ia lantas berseru:

“Ibu...oooh, ibu..... empek Thi….. dia ” Belum selesai dia berkata, Cay hong sian ci Liok Sun hoa telah menyeka air matanya dan berkata dengan serius :

“Nak, kau tak usah kuatir, ibu masih bisa memandang persoalan ini jauh lebih luas. Ketika itu pihak keluarga Thi pun bisa melupakan soal dendamnya terhadap keluarga Ciu, bahkan menganggap kau sebagai putri sendiri. Apakah keluarga Ciu kita tak dapat pula berbuat seperti apa yang dilakukan keluarga Thi? Aku pasti akan menganggap pu¬la engkoh Engmu itu sebagai anakku sendiri. Kalau harus disalahkan maka nasib kita yang jeleklah yang harus disalahkan, akupun tak akan berkata lebih banyak dari sepatah kata itu saja.”

Sim ji ji Sinni yang mendengar perkataan itu menjadi terharu sekali, tak tahan dia lantas menghela napas sambil memuji :

“Kalian keluarga Ciu dan keluarga Thi bisa sama sama berjiwa besar dan bersikap dewasa, hal ini benar benar merupakan suatu contoh yang patut diikuti oleh umat persilatan lainnya, loni turut bergembira sekali atas kejadian ini, moga moga saja apa yang telah kalian lakukan hari ini akan mempengaruhi pula keadaan dalam dunia persilatan pada umumnya!”

Setelah menghela napas panjang, nikou itu berkata lebih jauh : “Berbicara kembali tentang peristiwa pada waktu itu pinni boleh dibilang merupakan satunya satunya orang yang ikut menyaksikan

satu musibah tersebut.”

“Apakah waktu itu locianpwe juga hadir disana?” tanya Ciu Tin tin dan Liok Sun hoa hampir bersama.

“Pinni telah datang terlambat, waktu itu ayahmu telah meninggal dunia …..”

Setelah berhenti sebentar, terusnya :

“Sedangkan Lan sin cu tok Thi Tiong giok berlutut disamping jenasah ayahmu sambil menangis tersedu-sedu, melihat itu pinni lantas menyembunyikan diri, aku ingin melihat bagaimanakah sikapnya menghadapi peristiwa tersebut. Setelah menangis sampai air matanya mengering dan jatuh pingsan beberapa kali, Lan sin cu tok Thi Tiong giok baru menggali sebuah liang dan mengubur jenasah ayahmu, kemudian dicarinya dua buah batu bongpay, pada batu bongpay yang pertama diukir nama ayahmu sedangkan pada batu bongpay yang lain dituliskan kata ‘Tempat bersemayan Thi giok’, setelah itu dia menggali sebuah liang lagi, memasang batu nisan itu dan membaringkan diri ke dalam liang, lalu dengan ilmu tenaga dalamnya dia hisap tanah pasir itu ke atas tubuhnya dengan tujuan menguburnya hidup hidup agar bisa mengiringi kematian temannya.” 

Mendengar sampai disitu, Liok Sun hoa serta Ciu Tin tin menjadi terkejut sekali sehingga tanpa terasa berseru tertahan kemudian mereka memuji bersama :

“Empek Thi memang merupakan seorang lelaki yang luar biasa didunia ini!”

Sim ji sinni tertawa pelan, katanya lagi :

“Setelah menyaksikan orang yang begitu perkasa dan setia kawan, tentu saja Pinni tak dapat membiarkan dia mati dengan begitu saja, maka pinnipun menampakkan diri dan mencegah keinginannya untuk bunuh diri, setelah menasehatinya selama tiga hari tiga malam ia baru bersedia mengurungkan niatnya untuk mati dan masuk menjadi pendeta.”

Setelah mendapat keterangan dari Sim ji sinni ini, Ciu Tin tin dan ibunya baru mengerti bahwa kebesaran Thi Tiong giok serta kesetia kawannya jauh melebihi apa yang mereka bayangkan semula.

Terdengar Sim ji sinni berkata lebih lanjut :

“Untuk mendidik anak Tin menjadi seo¬rang pendekar, Huang oh siansu sengaja meminta kepada pinni untuk menerimamu menjadi murid, pinni dapat merasakan kebesaran jiwanya itu, maka akupun tidak menampik keinginannya tersebut. Selain daripada itu, Huang oh siansu telah menyerahkan kepada pinni beberapa macam obat obatan mestika yang berhasil dikumpulkan selama banyak tahun ini untuk digunakan oleh anak Tin!“ Makin berbicara Sim ji sinni berkata semakin keras, sehingga akhirnya karena terharu Ciu Tin tin dan Liok Sun hoa sampai mengucurkan air matanya.

Pada saat itu dari luar pintu ruangan berkumandang suara pujian kepada sang Buddha :

“Omimohud!“

Kemudian seseorang berkata :

“Sinni terlalu memuji, siauceng tidak berani menerimanya.”

Seorang hwesio muda pelan pelan berjalan masuk ke ruangan dan menuju ke hadapan Ciu Tin tin berdua. Pendeta itu tak lain adalah Huang oh siansu. Setibanya dihadapan kedua orang itu, dia lantas merangkap tangannya didepan dada sembari berkata :

“Terima kasih banyak atas kesediaan enso dan Hian titli untuk memaafkan dosa dosaku.”

Paras muka Cay hong sian ci Liok Sun hoa berubah hebat, tapi sejenak kemudian telah pulih kembali menjadi sedia kala bahkan sambil balas memberi hormat sahutnya :

“Empek Thi amat setia kawan dan berjiwa besar, kami keluarga Ciu merasa terima kasih ”

Diam diam Ciu Tin tin menarik ujung baju Cay hong sian ci Liok Sun hoa, walaupun ia tidak berkata apa apa, namun hubungan batin antara ibu dan anak memang biasanya erat sekali. Dengan cepat ia memahami apa yang dimaksudkan putrinya itu maka sambil tersenyum dia manggut manggut.

Ciu Tin tin segera maju kehadapan Huang oh siansu, kemudian ujarnya :

“Ayah, Tin tin menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam dalamnya kepada kau orang tua, dimana kau telah melindung kami. ”

Mendengar Ciu Tin tin masih menyebut ayah kepadanya, Huang oh siansu nampak agak tertegun menyusul kemudian katanya setelah menghela napas panjang: “Nak, panggilanmu itu memang tepat sekali dan pinceng menerima panggilanmu itu padahal aku memang sudan lama menganggap dirimu sebagai anakku sendiri!”

Dari perkataan itu, tak bisa disangkal lagi kalau dia mengartikan bahwa Ciu Tin tin telah dianggap sebagai anak menantunya.

Perlu diketahui, perkawinan pada jaman itu tidak sebebas sekarang, waktu itu perkataan dari orang tua jauh lebih bernilai daripada hubungan cinta kasih secara pribadi, sedang kaum pemudanya waktu itu juga tak berani membangkang perintah dari orang tuanya. Oleh sebab itu, setelah ada janji dari Huang oh siansu, tak nanti Thi Eng khi bisa lolos dari cengkeraman Ciu Tin tin lagi.

Tentu saja Ciu Tin tin maupun Liok Sun hoa memahami akan hal ini, diam diam perasaan merekapun menjadi sangat lega. Walaupun dalam perkataannya Huang oh siansu telah menyampaikan maksud hatinya namun didalam sopan santun, dia masih tetap harus melaksanakan cara meminang yang berlaku pada waktu itu.

Maka sambil menjura lagi kepada Cay hong sian ci Liok Sun hoa, dia berkata :

“Pinceng atas nama anakku Eng khi hendak meminang putri enso untuk dijadikan istrinya, apakah enso tidak merasa keberatan?”

Cay hong sian ci Liok Sun hoa segera tertawa.

“Anak Tin tidak cantik, ilmu silatnya cetek lagi bodoh, kuatirnya tidak cocok untuk mendampingi putra anda.”

Tentu saja itupun hanya kata sopan santun belaka, padahal sesungguhnya pinangan tersebut telah diterima. Sim ji sinni yang berada disampingnya segera menimbrung sambil tertawa lebar :

“Siapa yang berani mengatakan kalau murid pinni tak pantas untuk rnendampingi seorang bocah berandal?”

Kembali Huang oh siansu menjura kepada Sim ji sinni seraya berkata : “Pinceng memohon kepada Sinni agar bersedia menjadi mak comblang untuk perkawinan ini.”

“Baik, sampai waktunya pinni pasti akan melaksanakan tugas ini,” sahut Sim ji sinni sambil tertawa, “nah, anak Tin, mari ikut pinni pulang ke gunung sekarang juga.”

Ciu Tin tin berdua tidak menyangka kalau Sim ji sinni secepat itu akan pergi. Mereka sudah lama hidup bersama,kini harus hidup berpisah beberapa tahun rasa berat hati muncul juga dalam hati mereka.

Sementara itu Huang oh siansu telah merangkap tangannya sambil berkata :

“Semoga sinni selamat sepanjang jalan!”

Tak disangkal lagi dia hendak memberitahukan kepada Ciu Tin tin dan ibunya agar mengeraskan hatinya dan membiarkan Ciu Tin tin mengikuti Sim ji sinni pergi memperdalam ilmunya.

Ciu Tin tin amat menguatirkan keadaan Thi Eng khi, tak tahan dia lantas berbisik kepada ibunya :

“Ibu, jika adik Eng datang mencariku, kau harus berpesan kepadanya agar dia mau bersabar dalam menghadapi setiap persoalan.”

Penampilan rasa cinta yang amat mendalam segera nampak pada mimik wajahnya itu. Sim ji sinni yang melihat keadaan itu segera tertawa geli, katanya dari samping.

“Emas murni tidak takut api, buat apa mesti kau cemaskan?”

Merah padam selembar wajah Ciu Tin tin karena jengah, dia lantas membalikkan badannya sambil berseru manja :

“Aaah, suhu…. ”

“Hayo berangkat!” tukas Sim ji sinni. Sambil menarik tangan Ciu Tin tin, tanpa menimbulkan sedikit suarapun tahu tahu kedua orang itu sudah lenyap dari pandangan mata.

Sekalipun Huang oh siansu dan Cay hong sian ci memilik kepandaian silat yang sangat lihai, ternyata kedua orang itu tidak berhasil melihat jelas bagaimana caranya nikou sakti itu berlalu dari sana.

Dengan perasaan kaget bercampur kagum Cay hong sian ci Liok Sun hoa menghela napas panjang, gumamnya :

“Tidak kusangka dia orang tua yang telah berusia seratus tahun lebih masih tetap segar bugar seperti orang muda saja. Aaai... mungkin nasib anak Tin memang lagi mujur. ”

“Hatinya yang penuh welas kasih bagaikan hati pousat itulah yang membuat ia bersedia untuk mengabulkan permintaan pinceng. Yaaa, dia memang seorang yang mengagumkan.”

Berbicara sampai disitu, Huang oh siansu mengambil keluar sebilah pedang antik bersarung perak dan diserahkan kepada Cay hong sian ci sambil katanya :

“Inilah pedang Gin kong liu soat kiam milik saudara Cu giok, harap enso bersedia untuk menerimanya kembali, maaf pinceng harus mohon diri lebih dahulu.”

Menyebut kembali pedang Gin kong liu soat kiam milik mendiang suaminya, Cay hong sian ci Liok Sun hoa merasakan hatinya amat kecut sehingga tanpa terasa air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, tak tahan dia lantas melengos ke arah lain.

Menanti dia berpaling kembali, bayangan tubuh Huang oh siansu telah lenyap dari pandangan mata. Untuk sesaat dia berdiri tertegun dengan perasaan sedih yang bercampur aduk dalam hati sampai lama, lama kemudian dia baru beranjak pergi dan menuruni bukit Si soat san.

Tatkala Thi Eng khi sadar kembali, dia merasakan dirinya dimasukkan orang ke dalam sebuah peti mati, suasana gelap gulita, keempat anggota badannya lemah tak bertenaga dan sedikitpun tak mampu untuk bergerak.

Telinganya sempat mendengar suara bentakan bentakan diluar serta bunyi roda kereta yang melindungi, dia telah menyadari sekarang bahwa dirinya sedang diangkut orang menuju kesuatu tempat tertentu.

Diam diam dia lantas mencoba untuk menghimpun kembali tenaga Sian thian bu khek ji gi sin kang yang dimilikinya, namun hasilnya nihil, sekalipun telah berusaha sekian lama, tiada hasil apapun yang berhasil didapatkan.

Ternyata jarum Tong thian si kut ciam mempunyai keistimewaan untuk membuyarkan hawa murni jang berada dalam tubuh seseorang, barang siapa kena tertusuk maka bila tidak berlatih lagi selama seratus hari dengan tekun, jangan harap tenaga dalamnya bisa dihimpun kembali seperti sedia kala.

Thi Eng khi baru tertusuk dua tiga hari masih amat lama, sudah barang tentu dia tak mampu untuk menghimpun kembali tenaga dalamnya. Sedangkan mengenai tangan dan kaki Thi Eng khi tak bisa berkutik, lantaran secara beruntun dia telah ditotok jalan darah tidur dan lemasnya, setelah melewati waktu yang cukup lama, sekujur tubuhnya menjadi kaku dan hilang rasa.

Thi Eng khi bukan seorang yang rela menyerah dengan begitu saja, kendatipun hatinya merasa amat kecewa namun semangatnya tidak luntur, setelah melewati percobaan demi percobaan yang dilakukan berulang kali untuk menggerakkan kembali ta¬ngan kakinya lama kelamaan sepasang tangannya dapat digerakkan juga, hanya bagaimana pun juga dia berusaha untuk menyalurkan tenaga, tiada sedikit kekuatanpun yang dimilikinya.

Dalam keadaan demikian, terpaksa dia harus memutar otak untuk mencari akal guna menyelamatkan diri. Banyak sudah akal yang didapatkan namun semuanya tidak mendatangkan hasil apa apa, akhirnya dia teringat dengan Pil Toh mia kim wan yang dimiliki Thian liong pay turun temurun. Konon obat mustika itu memiliki kemampuan untuk menghimpun kembali tenaga orang yang sudah hampir mati, cuma tidak diketahui apakah obat itu masih berada dalam sakunya atau tidak?

Setelah diperiksa isi sakunya, entah karena kecerobohan orang atau memang nasibnya lagi mujur, ternyata sakunya sama sekali tidak diperiksa, semua benda miliknya masih berada disana. Dengan tekad untuk mencoba semua kesempatan yang ada, dia segera mengambil sebutir pil Toh mia kim wan dan ditelan sebutir.

Berbicara tentang Toh mia kim wan milik Thian liong pay, Keng thian giok cu Thi Keng sebenarnya hanya memiliki tiga butir, Kay thian jiu Gui Tin tiong telah menggunakan sebutir untuk menolong jiwa Ban li tui hong Cu Ngo, itu berarti seharusnya ada dua butir lagi, tapi dalam pesan terakhirnya Kay thian jiu Gui Tin tiong mengatakan pil mestika Toh mia kim wan masih ada tiga butir, hal ini berarti menjadi kelebihan satu butir, lalu bagaimana sebenarnya?

Kenyataan yang sebetulnya, Keng thian giok cu Thi Keng memang hanya meninggalkan tiga butir pil Toh mia kim wan, setelah digunakan untuk menolong Ban li tui hong Cu Ngo sebutir maka sisanya tinggal dua butir lantas kenapa dalam pesan terakhirnya Kay thian jiu Gui Tin tiong mengatakan masih ada tiga butir?

Rupanya jauh sebelum Keng thian giok cu Thi Keng pergi meninggalkan rumah dulu, ia pemah menghadiahkan sebutir pil mesti¬ka Toh mia kim wan untuk Kay thian jiu Gui Tin tiong namun pil tersebut tak pernah digunakannya, hingga menjelang saat kematiannya, dia hadiahkan pula pil itu untuk Thi Eng Khi, dengan begitu jumlahnya menjadi tiga butir.

Sampai detik ini Thi Eng khi telah memakai dua butir yakni satu butir diberikan Huang oh siancu kepadanya ketika berada dibukit Bong soat hong, dan kini menelan sebutir lagi, berarti sisa yang berada dalam sakunya kini benar benar tinggal sebutir.

Dalam itu pula ketika Thi Eng khi telah menelan pil Toh mia kim wan, dia segera merasakan dari pusarnya muncul kekuatan yang melonjak lonjak sewaktu dia tarik napas panjang, ternyata hawa murninya telah meluncur kembali ke seluruh anggota badannya, bagaikan gulungan ombak samudera dalam waktu singkat segenap tenaga dalam yang dimilikinya telah pulih kembali seperti sedia kala.

Dalam girangnya dia menggerakkan telapak tangannya siap menjebol peti mati dan memberi hajaran kepada si peramal buta yang mencelakainya itu, namun setelah telapak tangannya menempel di atas tutup peti mati itu, mendadak satu ingatan lain melintas dalam benaknya, dia lantas berpikir lebih jauh.

”Kenapa aku tidak menggunakan siasat untuk melawan siasat? Akan kulihat permainan busuk apakah yang hendak mereka lakukan terhadap diriku..?”

Setelah ingatan tersebut melintas lewat, dia segera menarik kembali tenaga serangannya dan mengatur pernapasan dengan tenang sambil menantikan datangnya kesempatan baik.

Dua hari sudah lewat, dalam dua hari ini ternyata tiada orang yang menggubris dirinya, tak ada pula yang menggubris soal makan dan minumnya, untung saja tenaga dalam yang dimiliki pemuda itu amat sempurna hingga meski kelaparan ia sanggup untuk mempertahankan diri. Tapi setelah rasa lapar mengusik pikirannya, dia tak sanggup lagi untuk bersemedi dengan baik.

Akhirnya kereta itu seperti berhenti dalam sebuah halaman besar menyusul kemudian ada orang yang menggotong turun pe¬ti mati itu dan dihantar masuk kedalam ruangan dalam. Sebelum penutup peti mati itu dibuka, terdengar suara dari Pek leng siancu So Bwe leng sedang berteriak teriak keras :

”Kalian semua terlalu kejam, mengapa ka¬lian sekap dia dalam peti mati? Mana dia tahan?"

Menyusul kemudian terdengar Huan im sin ang menjawab : "Bocah muda ini sangat buas dan tak ta¬hu diri, seandainya tidak

diberi pelajaran, darimana dia bisa merasakan penderitaan dan kesungguhan hatimu kepadanya?" "Cepat kalian buka penutup peti mati itu, dia bisa tak tahan?" seru Pek leng Siancu lagi gelisah.

Tatkala Thi Eng khi mendengar ucapan dari Pek leng siancu So Bwe leng tersebut, diam diam ia menghela napas dan merasa terharu sekali. Menyusul kemudian, ia mendengar ada su¬ara bisikan selirih suara nyamuk berkumandang disisi telinganya.

"Bocah keparat, sebelum kau keluar, ada beberapa persoalan hendak lohu pesankan kepadamu :

Pertama, So Bwe leng telah kulukai urat sim kengnya dengan menggunakan ilmu Jit sat hian im ceng khi, jika ia tidak mempelajari ilmu silat lohu, tak sampai satu tahun nadinya akan membeku yang berakibat kematian,itu berarti mati hidupnya hanya tergantung pada pemikiranmu sendiri sampai waktunya jangan kau salahkan lohu tidak memberi peringatan.

Kedua, setelah terkena jarum Tong thian ti kut ciam milik lohu tenaga dalammu telah buyar, dalam seratus hari mustahil bagimu untuk menghimpun kembali kekuatan yang kau miliki, maka lohu peringatkan kepadamu, jika kau masih menginginkan selembar jiwamu, setelah keluar nanti ikuti semua perkataan yang kusampaikan kalau tidak, lohu akan menyuruh kau merasakan kelihayanku.

Ketiga, untuk membuat So Bwe leng mendengarkan semua perkataanku dengan tenang aku pernah mengutus orang untuk menyaru sebagai kau dan disekap dalam ruang batu dibukit Ci sia san, bulan berselang lohu pernah mengajaknya ke sana untuk menengok orang itu, maka dalam pembicaraanmu nanti, kau harus perhatikan hal ini baik baik, jangan biarkan dia sampai menaruh curiga.

Pokoknya, bila kau sampai memporak porandakan persoalan lohu maka lohu tak akan membiarkan kau merasakan kebaikan apapun. Aku harap kau bisa memahami persoalan ini dengan sebaik- baiknya."

Mendengar semua perkataan itu, Thi Eng khi merasa geli sekali, tapi untuk berlagak seolah olah tenaga dalamnya memang belum pulih kembali, terpaksa ia musti berlagak pilon dengan menuruti kata katanya. Tak selang berapa saat kemudian, penutup peti mati dibuka dan Thi Eng khi diseret keluar dari dalam peti mati. Ketika memandang kehadiran Huan im sin ang yang berdiri dihadapannya, timbul juga perasaan mendongkol didalam hatinya dengan suara mengejek, sindirnya :

"Terima kasih banyak atas perlayanan yang amat bagus untuk siauseng selama ini!"

Huan im sin ang tertawa terbahak bahak. "Haaahhh....haaahhh ..... haaaahhh saudara cilik tak usah

sungkan, seandainya Bwe leng si bocah ini tidak rindu kepadamu tiap hari, jangan harap kau bisa keluar dari dalam ruangan batu itu "

Huan im sin ang segera berkelit ke samping dan memberi jalan lewat untuk So Bwe leng, segera tampak sesosok bayangan hijau berkelebat lewat dihadapan orang banyak ternyata gadis itu memeluk Thi Eng Khi erat-erat sambil menangis terisak.

"Oooh engkoh Eng, akhirnya kau lolos juga dari kurungan!"

''Adik Leng, aku sungguh merasa berterima kasih sekali kepadamu!" terpaksa Thi Eng khi harus berlagak dengan membohongi gadis itu.

Pek leng siancu So Bwe leng bersandar mesra dalam rangkulan Thi Eng khi sekian lamanya dia bersandar sama sekali tidak berniat untuk meninggalkan rangkulan itu. Thi Eng khi merasa terharu sekali oleh cinta kasihnya, diapun merasa enggan un¬tuk mendorongnya, maka ia biarkan gadis itu bersandar dalam pelukannya sambil melelehkan air mata.

Lama kelamaan Huan im sin ang tidak tahan juga, dengan kening berkerut lantas berseru :

"Anak leng, kita harus segera melanjutkan perjalanan!" Setelah mendengar teguran itu So Bwe leng baru mendongakkan kepalanya dan berkata kepada Huan im sin ang :

"Aku ingin naik kereta bersama engkoh Eng!''

"Boleh saja," jawab Huan im sin ang sambil tertawa seram, "Tapi kau tak boleh nakal, kau harus tahu, tanpa bantuan da¬ri lohu, jangan harap tenaga dalam yang dimiliki engkoh Eng mu bisa pulih kembali seperti sedia kala."

Thi Eng khi tidak tahu cerita bohong apakah yang telah diciptakan oleh Huan im sin ang untuk membohongi Pek leng siancu, oleh karena dia sudah mempunyai suatu tujuan tertentu, lagipula kuatir Pek leng siancu tak bisa memegang rahasia maka pemuda itu bertekad untuk merahasiakan hal itu dihadapan So Bwe leng, sebaliknya terhadap Huan im sin ang dia tertawa dingin tiada hentinya.

Pek leng siancu So Bwe leng segera mengajak Thi Eng khi naik keatas sebuah kereta besar berwarna hijau, diiringi dua puluh empat orang lelaki berpakaian ringkas, berangkatlah rombongan itu menelusuri jalan raya. Ditengah jalan, Thi Eng khi berbisik kepada Pek leng siancu So Bwe leng :

"Adik Leng, kita akan berangkat ke mana?"

"Menuju ke bukit Siong san untuk menghadiri pertemuan besar.'' "Adik Leng mengapa kau bersedia diperalat olehnya? Apakah kau

tidak kuatir So yaya menjadi marah?"

"Tapi aku toh tak bisa tidak menggubris dirimu!" jawab Pek leng siancu SO Bwe leng dengan wajah serius. Thi Eng khi makin terharu sehingga tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Dinding istana Ci bu ciat berada di sebelah barat loteng istana Tay si ciat, selisih jaraknya antara tiga li dan disebut Say ciat, dinding loteng istana itu didirikan oleh Raja Han pada tahun Siang kong kedua. Bentuk dinding istana ini menyerupai pintu gerbang dan terbuat dari batu cadas. Pertemuan besar para jago kali ini diselenggarakan diatas sebuah tanah lapang yang luas. Ci bu ciat menjadi pintu gerbang pertemuan tersebut....

Di tengah tanah lapang itu dibuat sebuah lingkaran seluas puluhan kaki dari batu kapur putih, bagian luar lingkaran tersebut tepatnya menghadap ke arah pintu gerbang telah tersedia puluhan buah meja, agaknya tempat itu sengaja dipersiapkan bagi kawanan jago persilatan yang termashur dalam dunia persilatan sebaliknya tempat yang tidak tersedia meja ditujukan bagi kawanan jago persilatan lainnya untuk berdiri.

Biasanya mereka yang tidak ternama justru merupakan penonton yang paling bersemangat, tidak berbeda pula dengan keadaan kali ini, belum lagi tengah hari tiba tempat berdiri disekeliling arena pertemuan sudah penuh dengan lautan manusia.

Tengah hari tepat, dengan dipimpin oleh pihak Siau lim pai dan Bu tong pay, kawanan jago masuki arena pertemuan dan menempati kursi yang tersedia dibagian kiri.

Tak lama kemudian serombongan jago lagi muncul disana dibawah pimpinan Tiang pek lojin dan menempati kursi kursi bagian kanan.

Seketika itu juga suasana dalam arena menjadi tegang, semua orangpun merasakan napasnya menjadi memburu cepat. Tapi bagi mereka yang teliti dan lebih tenang, dengan cepat menemukan beberapa hal yang mencurigakan pada wajah kedua belah pihak yang bertentangan itu, seakan akan sifat dari pertemuan itu sudah mengalami perubahan besar.

Dalam kenyataan, sifat dari pertemuan tersebut memang benar benar telah mengalami perubahan yang besar sekali. Adapun sebab utama dari perubahan sifat pertemuan itu tentu saja berkat diplomasi ketua Kay pang si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang mondar mandir kesana kemari membicarakan masalan yang terjadi itu. Tapi yang menjadi pokok utama dari perubahan suasana tersebut adalah gagalnya Huan im sin ang di dalam melaksanakan rencana buruknya. Dia tidak seharusnya mengatur perjanjian yang tidak mendatangkan hasil ketika itu sehingga hal mana membuat Tiang pek lojin mulai melakukan pengecekan terhadap semua yang telah dilakukannya sekarang serta menyadari akan munculnya pihak ketiga yang berusaha untuk memancing di air keruh.

Setelah mempertimbangkan kembali semua keadaan dan situasi yang dihadapinya, bukan saja dia segera sadar kalau impian indahnya sukar terwujud, dan lagi diapun sadar kalau semua peristiwa ini timbul karena permainan busuk seseorang, Huan im sin ang lah yang menjadi dalang dari semua kericuhan yang terjadi sekarang.

Sebagai seorang yang berpengalaman apalagi dengan usianya yang sudah menanjak tua, kenyataan kenyataan baru ini segera menyadarkan dia dari impian.

Tujuan Tiang pek lojin memasuki wilayah Tionggoan memang tak terlepas dari kobaran ambisinya, cuma dia adalah seorang kakek yang keras dan berpendirian teguh, yang dimaksudkan sebagai ambisi tak lain adalah ingin menggunakan alasan demi keadilan Thi Eng khi, dia hendak menanamkan pengaruhnya pada pelbagai partai yang ada dalam dunia persilatan, jadi sama sekali tidak terlintas ingatan dalam benaknya untuk merajai kolong langit dan berbuat semena mena.

Oleh karena itu setelah pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menyampaikan pesan dari Thi Eng khi, maka diapun merasa tidak leluasa lagi untuk melanjutkan cita-citanya.

Dengan mengendornya sikap Tiang pek lojin dan melunaknya desakan itu, sudah barang tentu pihak Siau lim pay dan BU tong pay tidak banyak berbicara lagi. Maka pemimpin dari kedua belah pihak mulai memikirkan jalan mundurnya serta menarik kembali sikap permusuhan antara kedua belah pihak. Sekarang asal Thi Eng khi munculkan diri maka secara resmi perdamaian bisa diwujudkan kembali dan secara otomatis penggabungan dari kedua golongan yang semula saling bertentangan ini akan dialihkan menghadapi Huan im sin ang.

Kedatangan To kak thi koay dan Thi Eng khi menuju ke bukit Siong san disampaikan oleh murid Kay pang. Kedua belah pihak dengan kesabaran yang ditekan berharap harap kedatangan Thi Eng khi secepatnya.

Itulah sebabnya walaupun jago jago dari kedua belah telah berdatangan semua namun tiada tanda tanda yang menunjukkan kalau perselisihan akan segera dilangsungkan, tak heran kalau setiap orang dapat merasakan perubahan sifat dari pertemuan ini.

Sementara semua orang sedang memperbincangkan persoalan ini, tiba tiba tampak ketua Kay pang, si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po berjalan mendekat mula mula ia berbisik disisi telinga Tiang pek lojin, dengan wajah berubah Tiang pek lojin segera menjawab pula dangan beberapa patah kata, setelah itu ketua Kay pang itu berpindah lagi ke pihak Siau lim pay dan Bu tong pay untuk membicarakan sesuatu. Jelas dia sedang menjadi duta damai bagi kedua belah pihak.

Tapi sebelum hasil perundingan damai itu memberikan hasil, mendadak terdengar seseorang berseru lantang :

“Ban seng kiong tiba!"

Maka semua orangpun mengalihkan sorot matanya kearah depan pintu gerbang sebaliknya perundingan perdamaian antara pihak Tiang pek lojin dengan pihak Siau lim pay dan Bu tong pay pun terhenti sampai ditengah jalan.....

Tampak puluhan orang manusia dengan rnengiringi seorang pemuda, seorang gadis dan seorang kakek menerobos Ci bu ciat dan berjalan mendekat.

Setiap orang yang pernah berkunjung ke perkampungan Ki hian san ceng segera mengenali kakek itu sebagai Huan im sin ang dan pemuda itu sebagai Thi Eng khi, tentu saja juga ada yang mengenali gadis itu sebagai cucu kesayangan Tiang Pek lojin, Pek leng siancu So Bwe leng.

Ternyata kali ini So Bwe leng tidak mengenakan topeng kulit manusia, sehingga ada orang yang mengenalinya.

Seketika itu terdengar suara berbisik bisik memecahkan keheningan, beratus pasang mata bersama sama dialihkan ke wajah Tiang pek lojin, semua orang mengira hal ini merupakan permainan busuk dari Tiang pek lojin.

Bahkan pihak Siau lim pay dan Bu tong pay pun menaruh pula perasaan curiganya terhadap Tiang pek lojin.

Seketika itu juga terdengar suara tertawa dingin berkumandang memecahkan keheningan. Tiang pek lojin yang menyaksikan cucu kesayangannya dan Thi Eng khi datang bersama Huan im sin ang pun ikut merasa terkejut bercampur keheranan, sebab dilihat dari keadaan yang terbentang didepan mata sekarang, jelas apa yang dikatakan ketua Kay pang Cu Goan po sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan.

Oleh karena itu, timbul juga perasaan mendongkol dalam hatinya, dia merasa seakan akan sudah tertipu oleh Cu Goan po dan orang orang Siau lim serta Bu tong pay.

Tiada orang yang menyapa rombongan dari Ban seng kiong tersebut, merekapun membawa kursi sendiri, begitu tiba, serentak mereka mengambil tempat duduk dibagian tengah.

Dengan sorot mata membara karena gusar, Tiang pek lojin segera membentak keras :

“Bwe leng, kemari!”

Pek leng siancu So Bwe leng mengerutkan kulit wajahnya sambil mengeraskan hati dan tidak menjawab panggilan dari kakeknya itu. Dengan perasaan amat sedih, sekali lagi Tiang pek lojin memanggil dengan suara gemetar : “Bwe leng, kemari!”

Pek leng siancu So Bwe leng belum menjawab juga. Huan im sin ang yang berada di sampingnya segera berkata :

“Sekarang Bwe leng adalah tuan putri Ban seng kiong, aku minta So lo jangan mencampuri urusan pribadi dengan urusan dinas!”

Jelas kata-kata itu bersifat mengadu domba, seakan akan menerangkan kepada semua hadirin bahwa Tiang pek lojin dengan pihak Ban seng kiong sesungguhnya telah melebur diri menjadi satu.

Tiang pek lojin menjadi teramat gusar wajahnya sampai memucat dan untuk beberapa saat lamanya, dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Na im siusu (pelajar penggaet awan) So Ping gwan yang berada di sampingnya segera menghibur dengan suara lembut.

“Kau orang tua tak usah marah-marah dulu, siapa tahu anak leng memang mempunyai kesulitan sendiri? Tidakkah kau lihat sepasang matanya berkaca kaca?”

Tiang pek lojin sama sekali tidak menggubris hal itu, dia hanya merasa perbuatan So Bwe leng telah membuatnya kehilangan muka. Dengan penuh kegusaran, serunya :

"Seandainya dia adalah anak cucu keluarga So, kendatipun mempunyai kesulitan, sekalipun harus mati ditempat, tidak seharusnya dia perlihatkan sikap macam begitu hingga membuat keluarga So kehilangan muka."

Kemudian sambil mendengus kembali dia berkata :

"Thi Eng khi si bocah keparat itupun bukan manusia baik baik, tak kusangka kalau dia akan bergabung pula dengan pihak Ban seng kiong, aaai kali ini aku benar benar telah kehilangan muka."

Karena tak bisa menghibur ayahnya, terpaksa Na im siusu So Ping gwan menghela napas panjang katanya :

''Ayah, Leng ji dan Eng khi bukan manusia macam begitu, mari kita tenangkan dulu pikiran dan perasaan, kita hadapi semua perubahan yang kemungkinan akan terjadi." "Tidak bisa!" teriak Tiang pek lojin sambil menggebrak meja, "nama baik lohu selama puluhan tahun tak bisa dibiarkan hancur berantakan oleh ketidak baktian budak Leng!"

Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, wajahnya kelihatan amat sedih dan menderita sekali. Sebenarnya Na im siusu So Ping gwan bermaksud untuk menghibur hati ayahnya tapi setelah menyaksikan keadaan orang tua tersebut, tiba tiba ia mengeraskan hatinya seraya berseru :

"Kalau begitu, biar ananda membunuhnya sekarang, daripada kau orang tua merasa sedih."

Dia lantas melangkah maju ke depan siap terjun ke arena.

Tiang pek lojin So Seng berkerut kening, mendadak ia berseru : "Ping gwan, kemari dulu, aku mempunyai rencana lain!"

"Baik, ayah!" sahut Na im siusu So Ping gwan dengan hormat, kemudian mengundurkan diri ke belakang tubuh ayahnya. Ketika melirik ke samping, dilihatnya wajah orang tua itu diliputi oleh tekad dan rasa sedih yang mendalam. Sikap semacam ini belum pernah dijumpai sebelumnya, ia tak tahu apa yang sedang dipikirkan ayahnya sekarang.

Tiang pek lojin menghela napas panjang, pelan pelan ia bangkit berdiri kemudian sambil menjura ke arah para jago Tionggoan yang bergabung dipihak Siau lim pay dan Bu tong pay, ia berkata :

"Lohu tak tahu duduk persoalan yang sebenarnya sehingga gara gara urusan Thi Eng khi telah menyalahkan teman teman sekalian. Sekarang aku mohon maaf kepada kalian atas kesalahanku ini semoga teman teman semua bersedia memberi kesempatan kepada lohu untuk menebus dosa dan menyumbangkan sedikit tenaga bagi umat persilatan untuk bersama sama menghadapi Huan im sin ang."

Dengan kedudukan Tiang pek lojin dalam dunia persilatan ternyata mengucapkan kata kata semacam itu, boleh dibilang belum pernah hal semacam ini terjadi dalam dunia persilatan. Akan tetapi nyatanya hal itu tidak mengurangi kewibawaannya malahan segera memperoleh tampik sorak dan pujian yang amat gegap gempita. "Bagus!"

"Benar benar sikap jantan seorang ksatria."

Ci long taysu dari Siau lim pay dan Keng hian totiang dari Bu tong pay mengagumi juga atas kebesaran jiwa Tiang pek lojin, diam diam mereka manggut manggut. Tampaknya semua umat persilatan akan segera memaafkan kesalahan yang telah dilakukan Tiang pek lojin selama ini.

Mendadak, dari kerumunan orang banyak berkumandang suara seruan dingin yang bernada sinis :

"Hmm... So Seng pak adalah seorang manusia licik yang berhati busuk! la pandai bermain sandiwara, semua harus berhati hati, jangan sampai kena terjebak oleh persekongkolan mereka."

Ucapan yang bernada hasutan ini segera menimbulkan pelbagai pikiran lagi dalam benak pikiran setiap orang, semakin dipikir mereka makin curiga, bahkan orang orang yang semula mengagumi Tiang pek lojin pun membungkam dalam seribu bahasa. Bukan begitu saja, ketua Siau lim pay dan Bu tong pay pun ikut menjadi sangsi, merekapun tidak memberikan pernyataan yang bernada menyambut lagi.

Tiang pek lojin menjadi berdiri kaku di tempat semula, dia benar benar kehilangan muka dan tak dapat melepaskan diri dari situasi yang serba runyam itu. Pukulan batin ini membuat kegagahannya sama sekali rnenjadi runtuh, dengan wajah tersipu akhirnya dia duduk kembali ke tempat semula.

Para jago dari luar perbatasan serta para jago wilayah Tionggoan yang setia kepada Tiong pek lojin kontan saja berubah wajah, dengan muka hijau membesi dan sorot mata berapi api karena gusar, mereka bersiap sedia melakukan gerakan. Huan im sin ang memang pandai memanfaatkan kesempatan baik tiba tiba ia tertawa tergelak, lalu berkata :

"Tua bangka So, sudah kau lihat jelas keadaan disekelilingmu?

Sebaik baiknya hatimu paling banter kau cuma dibuat sebagai umpan untuk anjing, menurut penglihatanku, lebih baik kau memimpin istana Ban seng kiongku saja."

Tiba tiba Tiang pek lojin rnelompat bangun kemudian sambil tertawa dingin katanya :

"Hmm. Ban seng kiong masih belum pantas untuk menarikku!"

Tiba tiba dia mengangkat tangannya ke atas memberi tanda, dengan airmata bercucuran serunya :

"Anak anak, kita mundur dari sini!"

Dalam keadaan demikian, mau tak mau dia memang harus mengundurkan diri dari situ. Serentak para jago dari luar perbatasan serta para jago Tionggoan yang simpatik kepadanya bangun berdiri dari tempat duduk. Tampaknya mereka sudah menaruh rasa benci dan dendam terhadap umat persilatan yang mencurigai orang tanpa memeriksa lebih dulu dan rasa benci itu tampak jelas dibalik sorot mata mereka.

Sejak masuk ke dalam arena, walaupun paras muka Thi Eng khi dan Pek leng siancu So Bwe leng telah memperlihatkan perubahan hebat, namun mereka tidak mengucapkan sepatah katapun, suasana yang begini hening ini tentu saja merupakan salah satu rencana dari Huan im sin ang.

Beberapa kali Pek leng siancu So Bwe leng ingin tidak menggubris peringatan da¬ri Huan im sin ang untuk lari ke hadapan kakeknya dan mengemukakan kesulitannya, namun dia selalu memikirkan pula keselamatan Thi Eng khi, hingga untuk sesaat dia menjadi sangsi dan tak dapat mengambil keputusan apa-apa.

Thi Eng khi sendiri walaupun ilmu silatnya telah pulih kembali seperti sedia kala namun diapun tak bisa tidak menggubris ancaman dari Huan im sin ang tersebut, terutama setelah dia tahu kalau Pek leng siancu bersedia menuruti perkataan Huan im sin ang lantaran dia, hal tersebut membuatnya menjadi amat terharu. Oleh karena itu, dia dipaksa untuk melepaskan rencananya semula dan tak berani turun tangan untuk menghadapi Huan im sin ang. Dalam keadaan serba salah itu, dia mendengar pula pekikan sedih dari Tiang pek lojin, hal mana menimbulkan suatu bentrokan batin dalam benaknya antara bertahan dengan pendiriannya semula atau jangan.

Sementara itu Tiang pek lojin sudah bersiap siap meninggalkan arena karena malu, kejadian ini membuatnya jadi nekad. Tiba tiba ia menggenggam tangan Pek leng siancu So Bwe leng sebagai pernyataan rasa menyesalnya, kemudian sambil bangkit berdiri dia berkata:

"So yaya, harap tunggu sebentar, Eng khi hendak mengucapkan sesuatu kepadamu."

Mendengar Thi Eng khi berbicara, pertama tama yang menjadi terperanjat lebih dulu adalah Pek leng siancu So Bwe leng, segera jeritnya lengking :

"Engkoh Eng khi, kau.... kau.... kau   jangan berbicara!"

Pada saat yang bersamaan, Huan im sin ang berseru pula sambil tertawa dingin :

"Keparat, rupanya kau sudah makan hati beruang nyali macan sehingga berani membantah perintahku!"

Sebaliknya Tiang pek lojin So Seng pak tertawa seram, serunya penuh rasa gusar :

"Siapa yang menjadi So yaya mu? Kau masih punya muka untuk bertemu dengan aku?"

Dengan langkah lebar dia beranjak lebih dulu meninggalkan tempat duduknya. Setelah buka suara berarti Thi Eng khi sudah mempunyai keputusan didalam hatinya, dalam keadaan demikian terpaksa dia harus mengutamakan kepentingan umum lebih dulu daripada kepentingan pribadi, maka terhadap jeritan Pek leng siancu So Bwe leng dan peringatan Huan im sin ang sama sekali tidak ambil peduli, sekali melompat dia sudah tiba di hadapan Tiang pek lojin.

Thi Eng khi dapat melompat ke depan, hal ini membuktikan kalau ilmu silatnya belum hilang. Seketika itu juga kejadian ini menggirangkan Pek leng siancu So Bwe leng dan mengejutkan Huan im sin ang. Pek leng siancu So Bwe leng segera melejit ke udara dan meluncur ke muka, dia tak perduli lagi dengan segala ancaman Huan im sin ang, sebab dirasakan bahwa dirinya sudah bebas merdeka sekarang.

Siapa tahu belum sampai berapa kaki, mendadak ia merasakan punggungnya menjadi kencang, tahu tahu tubuhnya sudah kena dicengkeram oleh Huan im sin ang, menyusul kemudian jalan darah siau yau hiatnya menjadi kaku dan ia diseret kembali ke tempat semula.

Setelah berhasil mencengkeram tubuh Pek leng siancu So Bwe leng, Huan im sin ang tertawa seram.

"Thi Eng khi! Bila kau sudah tidak perdulikan keselamatan So Bwe leng lagi, silahkan kau berbicara sekehendak hatimu!"

Sebenarnya Tiang pek lojin tak ingin menggubris ucapan dari Thi Eng khi lagi, akan tetapi perubahan situasi yang kemudian berlangsung membuat sadar kembali bagaimanakah posisi Thi Eng khi dan cucu kesayangannya ketika itu, hal ini membuktikan pula kalau kedua orang bocah itu sama sekali tidak bersalah.

Setelah tertegun sebentar, diapun segera berhenti. Sorot matanya yang tajam segera dialihkan kewajah Thi Eng khi kemudian katanya dengan suara dalam :

"Perkataan apakah yang kau hendak ucapkan? Sekarang boleh diutarakan keluar, tak usah perdulikan mati hidup Bwe Leng la¬gi, So yaya tidak doyan dengan ancaman semacam itu!"

Thi Eng khi membalikkan badannya menghadap kearah Huan im sin ang, kemudian hardiknya:

"Apa yang hendak kau lakukan terhadap dirinya?"

"Heeehhh.... heehhhh...... heeehhh tentang soal ini, tak perlu

kau urusi,'' sahut Huan im sin ang sambil tertawa seram.

Pek leng siancu So Bwe leng melompat lompat, berusaha untuk melepaskan diri, kemudian teriaknya : "Engkoh Eng, kau tak usah mengurusi diriku, lakukanlah apa yang harus kau lakukan! Aku tidak takut kepadanya, aduuh... aduuuh "

Agaknya Huan im sin ang telah rnelancarkan serangan berat kearahnya ketika ia sedang berbicara lagi. Mencorong sinar mata membara dari balik mata Thi Eng khi sambil menuding ke arah Huan irn sin ang teriaknya :

"Bajingan tua yang tak tahu malu cara kerjamu itu benar benar rendah dan terkutuk!"

Setelah berteriak beberapa kali, agaknya rasa sakit dalam tubuh So Bwe leng sudah jauh berkurang, dengan wajah merah membara katanya dengan keras :

"Engkoh Eng kau tak usah mengurusi aku."

"Baik, adik Leng maafkan aku, jika bajingan tua itu berani bertindak keji kepadamu, aku pasti akan membalaskan dendam bagimu, bila gagal membalaskan dendam aku akan menyusulmu kealam baka."

Melihat ancamannya tidak mendatangkan hasil Huan im sin ang menjadi amat tegang tapi ucapannya masih tetap keras :

"Lohu akan suruh dia mampus dengan sengsara heehh...

heeehh... heeehh sekarang juga aku akan menyuruh dia rasakan

siksaan hidup yang pertama."

Begitu tangannya diayunkan, terdengar Pek leng siancu So Bwe leng menjerit keras dan jatuh tak sadarkan diri. Peristiwa ini terjadi dihadapan para jago dari pelbagai perguruan besar yang berkumpul disana, akan tetapi tak seorang manusiapun yang mencegah atau turut campur, malahan beberapa diantara mereka tertawa dingin tiada hentinya, seakan akan menyindir kalau permainan sandiwara Thi Eng khi dan So Bwe leng cukup hidup.

Para jago dari luar perbatasan juga tak ada yang berani turun tangan secara sembarangan.. sebab Tiang pek lojin sendiripun tidak melakukan tindakan apa apa. Dengan wajah hijau membesi Tiang pek lojin segera berseru : “Eng ji sekarang kau boleh mengatakan apa yang hendak

kausampaikan kepadaku!”

Dengan menahan rasa sedih Thi Eng khi segera mengutarakan pengalamannya serta bagaimana diancam Huan im sin ang untuk menghadiri pertemuan besar ini, sebagai akhir kata dia menambahkan.

“Huan im sin ang sengaja berbuat demikian, tujuannya tak lain adalah ingin mengadu domba sesama umat persilatan agar saling gontok gontokan dan membunuh, bila keadaan sudah lemah maka bajingan tua berusaha mewujudkan ambisinya untuk menguasai seluruh dunia persilatan!”

Setelah mendengar penjelasan dari Thi Eng khi tadi, maka sebagian besar diantara kawanan jago itu menjadi paham kembali. Tiang pek lojin segera mencekal tubuh Thi Eng khi erat erat sambil berseru :

“Nak, kalau begitu yaya telah salah menuduh diri titli.”

Ketua Kay pang, Si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po pun turut melompat kemuka, dengan wajah merah membara katanya :

“Saudara cilik, kau benar benar membuat engkoh tua menjadi kebingungan setengah mati.”

Keng hian totiang, ketua partai Bu tong juga ikut maju ke depan sambil berkata :

“Pinto mewakili perguruan kami meminta maaf kepada Thi ciangbunjin.”

Tak menanti Thi Eng khi menjawab, Tiang pek lojin telah tertawa terbahak bahak, katanya :

“Tak menjadi soal, Eng ji tak akan menyalahkan semacam itu

....!”

Mendadak terdengar Ci kay taysu dari Siau lim pay berteriak keras : “Harap saudara sekalianpun perhatikan, jangan lepaskan orang orang dari Ban seng kiong!”

Tiang pek lojin segera memburu kedepan dan menerjang ke arah Huan im sin ang (kakek sakti bayangan setan), kemudian bentaknya

:

“Tua bangka, kau masih ingin mencoba untuk melarikan diri?”

Huan im sin ang sama sekali tidak menyangka kalau satu langkah saja dia salah bertindak mengakibatkan semua rencananya menjadi berantakan, untuk mewujudkan apa yang diinginkan jelas sudah tak mungkin bisa terpenuhi lagi.

Untung saja Pek leng siancu So Bwe leng tidak sampai lolos dari cengkeramannya, di kemudian hari dia masih bisa menggunakan gadis itu untuk mencari kesempatan. Maka dikala perhatian semua orang tertuju ke tubuh Thi Eng khi, diam diam ia pimpin anak buahnya untuk melarikan diri dari situ.

Siapa tahu perbuatannya itu kembali diketahui oleh Ci kay taysu dari Siau lim pay sehingga menyebabkan datangnya terjangan dahsyat dari Tiang pek lojin. Cepat cepat Huan im sin ang mengangkat tubuh pek leng siancu So Bwe leng sebagai tameng, kemudian sambil memandang kearah Tiang pek lojin, ia tertawa seram.

"Tua bangka she So, mau apa kau sekarang?" ejeknya.

Tiang pek lojin merasa amat terkejut, setelah memandang sekejap kearah So Bwe leng, dia segera berhenti. Bagaimanapun dia telah mengeraskan hatinya untuk mendengarkan perkataan Thi Eng khi tadi, tapi setelah dihadapkan pada kenyataan sekarang, dia tak sanggup lagi untuk mengeraskan hatinya. Untung saja Thi Eng khi yang menerjang datang pula segera berseru :

“Asalkan kau tinggalkan orang itu pun ciangbunjin bersedia untuk meminta kesudian rekan rekah lainnya untuk melepaskan kau pergi. Selewatnya hari ini, dimana kita berjumpa disitu pula kita bikin perhitungan." Huan im sing ang mencoba untuk memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, dia segera menyadari walaupun dia pribadi masih memiliki kemampuan untuk meloloskan diri dari kepungan, namun kekuatan yang telah dibina dan dipupuknya selama banyak tahun dengan mengorbankan banyak pikiran dan tenaga itu niscaya akan mengalami kehancuran dan kemusnahan sama sekali dalam pertempuran ini. Tentu saja dia enggan mencari kerugian yang jelas berada didepan mata.

Maka setelah mempertimbangkan sejenak keadaan yang terbentang didepan mata, dia bertekad akan melepaskan So Bwe leng untuk menjamin keselamatan bagi rombongannya. Kendatipun dihati ia berpikir demikian, namun dimulut ia sama sekali tak mau mengalah, katanya :

“Huuuh, hanya mengandalkan kemampuanmu juga bisa mengambil keputusan?”

Thi Eng khi menjadi tertegun, dengan mengandalkan kedudukannya sekarang, dia memang tak berani mengucapkan kata sebesar itu. Sebab orang yang benar-benar bisa mengambil keputusan pada saat ini selain Tiang pek lojin, mungkin hanya ketua Siau lim pay dan ketua Bu tong pay saja yang dapat melakukannya.

Tentu saja Tiang pek lojin tak akan berbuat banyak dalam keadaan begini, sebab cucunya yang menjadi penyebab.

Pada saat itulah, Ci long taysu ketua Siau lim pay dan Keng hian totiang ketua Bu tong pay telah melompat datang sambil berseru lantang :

“Asal kau meninggalkan nona So disini, hari ini kau boleh pergi meninggalkan tempat ini.”