Pukulan Naga Sakti Jilid 12

 
Jilid 12

SETELAH bersantap malam, menelusuri cahaya matahari senja, mereka berjalan ditepi sungai sambil menikmati keindahan alam.

Jalan punya jalan, tiba tiba Thi Eng khi berkerut kening dan menghela napas tiada hentinya, Ciu Tin tin mengerti apa yang menjadi beban pikiran Thi Eng khi, maka dengan lembut, katanya :

"Adik Eng, lagi lagi kau tak senang hati?"

Thi Eng khi tidak berbicara apa apa, dia hanya tersenyum belaka. Tiba tiba Ciu Tin tin berkata lagi :

"Adik Eng, sekarang Ih heng hendak memberitahukan suatu

kabar gembira kepadamu, besok kita sudah akan mencapai ditempat tujuan.”

"Sungguhkah itu?" jerit Thi Eng khi dengan gembiranya. “Kapan sih toakomu pernah membohongi dirimu?” jawab Ciu Tin tin sambil tersenyum.

Thi Eng khi segera menggenggam tangan Ciu Tin tin dan berseru

:

''Oooh toako.... toako aku tak tahu bagaimana harus

berterima kasih kepadamu?”

Agak merah sepasang mata Ciu Tin tin, ujarnya kemudian : "Asal kau tidak merasa muak atau bosan kepada toako, toako

sudah merasa puas sekali."

Tentu saja Thi Eng khi tak akan mengerti akan rasa cinta Ciu Tin tin kepadanya, melihat sepasang matanya menjadi merah, dengan perasaan tak tenang ia berseru :

“Toako, kau.... kau "

Ciu Tin tin segera memaksakan diri un tuk tertawa, tukasnya. “Aku tidak apa apa, cuma mataku kemasukan debu saja "

Pada saat itulah, dari depan sana muncul seorang lelaki kekar, ketika berpapasan muka kebetulan Ciu Tin tin mendongakkan kepalanya dan menengok sekejap ke arahnya.

Mendadak dengan paras muka berubah hebat, dia menjerit tertahan.

Thi Eng khi tak tahu apa yang telah terjadi, dengan perasaan kuatir dan ingin tahu dia lantas menegur :

''Toako kenapa kau?"

Ciu Tin tin segera membentur tubuh Thi Eng khi dengan bajunya, kemudian menjawab :

“Aduuh hiyung. giginya sakit lagi!"

Dengan cepat Thi Eng khi mengerti pasti ada sesuatu yang tak beres, tapi dia menahan diri dan membungkam diri dalam seribu bahasa. Menanti lelaki itu sudah pergi jauh, Ciu Tin tin baru menuding bayangan tubuh lelaki itu sambil berkata :

"AdiK Eng, tahukah kau siapa gerangan orang tadi?“

“Siaute belum lama terjun kedalam dunia persilatan, orang yang kukenalpun masih terbatas sekali, toako tak usah mengetes diriku lagi."

“Dia tak lain adalah Hek bin bu pa (raja lalim bermuka hitam) To Thi gou, salah seorang diantara Cap sah Tay poo yang per¬nah kau sebutkan kepada kami."

Berbicara sampai disitu, biji matanya segera diputar, mendadak dia menjerit tertahan.

"Aduh celaka! Adik Eng, kita tak bisa berdiam lebih lama lagi di Kang im ini!"

Kemudian sambil menarik tangan Thi Eng khi, dia segera mengejar ke arah mana Hek bin bu pa To Thi gau melenyapkan diri tadi.

Dalam waktu singkat kedua orang itu berhasil mengejar si raja lalim bermuka hitam To Thi gou, tampak orang itu memasuki rumah suatu keluarga miskin.

Dengan suara lirih Thi Eng khi segera berbisik.

“Toako, mari kita menyelinap kesana, coba kita lihat apa yang sedang ia lakukan di sana?"

Ciu Tin tin segera menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya.

"Tak usan dilihat lagi, Ih heng sudah dapat menebak garis besarnya.“ “Darimana kau bisa menduganya? Coba terangkan kepada siaute."

Sambil memperketat larinya sehingga tubuhnya meluncur kedepan secepat sambaran kilat, Ciu Tin tin berkata :

"Sekarang aku tak sempat memberikan keterangan, nanti saja, setelah berjumpa dengan Pek bo, kau akan tahu dengan sendirinya!"

Mendengar kalau perjalanan itu menuju ke rumah ibunya, Thi Eng khi menjadi girang sekali, diapun tidak bertanya apa apa lagi, dengan suatu gerakan cepat dia turut meluncur ke depan.

Setelah melakukan perjalanan sekian waktu akhirnya muncullah sebuah bukit kecil didepan sana, dikaki bukit terdapat beberapa buah rumah petani, sambil menuding ke arah salah satu rumah gubuk berdinding batu yang berdiri sendiri didepan sana, Ciu Tin tin berkata :

“Pek bo berada didalam rumah gubuk itu."

Ternyata dia hapal sekali dengan jalanan ditempat itu, seakan akan sedang kembali ke tempat yang dikenal saja, hal mana segera menimbulkan kecurigaan dalam hati Thi Eng khi, dengan cepat dia menegur :

“Toako, tampaknya kau sudah pernah datang kemari?" Ciu Tin tin segera tertawa.

“Kali ini kau berhasil menebaknya de¬ngan jitu, benar, memang akulah yang menghantar pek bo sekalian datang kemari!"

Tak terlukiskan rasa haru Thi Eng khi menghadapi kenyataan ini, tiba tiba serunya dengan tercengang :

"Toako, sebenarnya siapakah kau?”

Ciu Tin tin tidak langsung menjawab pertanyaan itu, sebaliknya hanya bergumam seorang diri :

“Setelah Ing heng menghantar Pek bo sekalian datang kemari, akupun pergi mencari kabar tentang dirimu, diluar dugaan kutemukan surat yang ditinggalkan Pek bo telah terjatuh ke tangan Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji.”

“Maka toako pun menukar kertas surat itu dengan giok bei milikku?” sambung Thi Eng khi sambil menghela napas panjang.

Setelah berhenti sejenak, dengan kening berkerut dia melanjutkan :

"Lantas, mengapa toako tidak memberitahukan hal itu kepada siaute semenjak dulu?“

Paras muka Ciu Tin tin berubah agak merah, sahutnya dengan segera :

"Tentu saja dibalik kesemuanya itu masih ada alasan lain yang....

yang tak dapat diberitahukan kepadamu!“

Sementara pembicaraan masih berlangsung kedua orang itu sudah sampai didepan pintu rumah gubuk.

Ciu Tin tin segera menyingkir ke samping memberi jalan lewat untuk Thi Eng khi.

Sebelum masuk kedalam rumah, Thi Eng khi telah berteriak berulang kali.

"Ibu! Ibu! Eng ji telah pulang....... anak Eng telah pulang. "

Dia langsung menyerbu masuk kedalam.

Tiba dalam ruangan tampak ibunya sedang berdiri diruang tengah dengan wajah termangu, sepasang matanya terbelalak lebar, sekujur tubuhnya gemetar keras, jelas saking terkejut dan girangnya ia sampai gelagapan dibuatnya.

Kecuali ibunya, dalam ruangan itu tidak tampak Thian liong ngo siang lainnya. Berhadapan dengan ibunya, Thi Eng khi belum sampai berpikir ke soal lain, deng¬an cepat dia memburu ke depan dan menjatuhkan diri berlutut,katanya de¬ngan air mata bercucuran :

"Ibu.... ananda telah kembali. “

Yap Siu ling segera sadar kembali dari lamunannya dan menahan air matanya yang hampir meleleh keluar.

Kemudian dengan wajah dingin seperti es katanya :

“Sewaktu pergi dulu, kau nampak gagah dan perkasa, apakah sekarang kau pulang kembali dengan tiada suatu perubahanpun!"

Oleh karena pada mulanya dia menolak Thi Eng khi berlatih silat maka akibatnya sekarang dia menginginkan anaknya bisa cepat cepat menjadi seorang pendekar yang luar biasa.

Dengan ketakutan Thi Eng khi berseru :

"Ananda sama sekali tidak mengecewakan harapan kau orang tua, ananda telah berhasil menemukan kembali kitab pusaka Thian liong pit kip."

“Oooh....oohhh " Yap Siau ling berseru tertahan, ia segera

menarik tubuh Thi Eng khi dan memeluknya erat erat, katanya sambil melelehkan air mata karena girang.

"Oooh anakku, oooh anakku! Betul betul aku telah

menyusahkan dirimu "

Kini Thi Eng khi sudah berusia dua puluh tahun, dia telah menjadi seorang pemuda tanggung malah tubuhnya jauh lebih tinggi dari tubuh ibunya, tentu saja ia merasa rikuh dalam pelukan ibunya terutama sekali berada dihadapan seorang toakonya yang hingga kini belum diketahui namanya.

Maka setelah menenangkan hatinya, diapun berkata kepada ibunya dengan suara lembut.

"Ibu, kita masih ada tamu " Kemudian sambil berpaling, teriaknya :

“Toako…..”

Siapa tahu bayangan tubuh dari toakonya yang masih belum diketahui namanya itu sudah lenyap tak berbekas.

Yap Siu ling semenjak tadi berdiri didepan pintu, kecuali Thi Eng khi, boleh dibilang ia belum menyaksikan ada orang kedua yang memasuki ruangan itu, maka dengan keheranan tanyanya :

“Toako apa?"

Thi Eng khi sampai kini masih belum mengetahui siapa nama "toako” nya itu, mendapat pertanyaan tersebut, pipinya berubah menjadi merah padam, katanya agak tersipu.

"Toako adalah si manusia bermantel perak yang telah mengatur kau orang tua untuk menetap ditempat ini."

"Oooh…. rupanya dia (perempuan), apakah dia juga turut datang kemari?”

"Atas petunjuk dari toakolah, ananda baru berhasil sampai disini.” "Apa toako, toako?'' tegur Yap Siu ling sambil berkerut kening, “Eng ji, usiamu sudah tidak muda lagi. Kenapa dalam hal sopan

santun makin lama semakin berkurang? Orang lain telah berjuang mati matian demi keluarga Thi kita, sedang kau...”

Belum habis dia berkata, mendadak dari balik ruangan muncul seorang nona berbaju putih yang segera menukas pembicaraan itu.

“Pek bo, Tin tin mengucapkan selamat kepadamu atas keberhasilan kau orang tua berjumpa kembali dengan putramu!”

Yap Siu ling segera meninggalkan Thi Eng khi dan maju ke depan memeluk Ciu Tin tin, katanya sambil membelai tubuh gadis itu dengan penuh kasih sayang : “Nak Pek bo tak tahu bagaimana caranya untuk berterima kasih kepadamu...?"

“Oooh Pek bo, kau…. kau orang tua terlalu baik kepada keluarga Ciu kami!”

Agaknya Yap Siu ling merasakan pula kepedihan yang dalam namun diluaran dia bersikap seperti amat riang, katanya :

“Nak, jangan kau pikirkan persoalan yang lain, apalagi siapapun tidak bersalah, hanya nasib kita semualah yang kurang baik.”

Dia lantas berpaling bermaksud untuk memperkenalkan Thi Eng khi tapi dijumpainya pemuda itu sedang berdiri tertegun disana tanpa berkutik sedikitpun juga, seakan akan sedang merasa sedih dan murung.

"Heran, kenapa dengan bocah ini?“ demikian Yap Siu ling berpikir.

Dengan cepat dia lantas menegur :

"Anak Eng, kenapa kau hanya termangu mangu saja?"

Dengan cepat Thi Eng khi tersentak bangun dari kagetnya, untuk sesaat lamanya dia tak tahu bagaimana caranya untuk menghadapi situasi yang serba rikuh ini.

Ketika ia berjumpa dengan "toako"nya untuk pertama kali dulu walaupun terasa olehnya kalau wajah orang itu pernah dikenalnya, namun ia tak mengira orang itu adalah Ciu Tin tin, setelah melihat Ciu Tin tin mengenakan pakaian perempuan, ia baru menyadari keadaan yang sesungguhnya.

Ia bukan seorang pemuda yang bodoh, terbayang kembali apa yang dialaminya di sepanjang jalan sudah barang tentu dapat diduga olehnya apa gerangan yang dipikirkan Ciu Tin tin.

Dia cukup memahami posisi Ciu Tin tin, lebih lebih menambah simpatik terhadap sikap gadis itu, tapi ia telah salah menganggap terhadap perasaan nona yang sebenarnya. Ia menggangap gadis itu membaiki dirinya dan selalu membantu usahanya karena dia ingin menebus dosa ayahnya, sebagai seorang lelaki sejati mana mungkin dia dapat menerima pelampiasan cinta yang bukan timbul dari dasar hati yang jujur ini?

Tentu saja kalau dibilang ia sama sekali tidak menaruh perasaan tertarik dan kagum terhadap gadis cantik dan pintar seperti Ciu Tin tin ucapan itu hanya perkataan bohong namun dia mempunyai jalan pemikirannya sendiri, ia boleh saja tidak mempersoalkan pertikaian antara Gin san kiam kek dengan keluarganya, akan tetapi dia enggan untuk menerima pembalasan yang tidak menurut jalan yang sebenarnya itu.

Oleh karenanya, dia harus mengelabuhi perasaan sendiri, juga mengesampingkan perasaan Ciu Tin tin kepadanya.

Pelbagai pikiran segera berkecamuk dalam benak pemuda ini, pikir punya pikir, dia menjadi agak terlena.

Setelah ditegur oleh ibunya, dia baru cepat cepat menyahut : "Aaah tidak apa apa!”

Yap Siu ling sendiripun merasa tidak leluasa untuk mendesak anaknya dihadapan Ciu Tin tin, maka sambil tersenyum dia lantas berkata :

"Anak Eng, coba lihat bukankah enci Tin adalah toakomu? Nak, kau benar benar terlalu gegabah!"

Thi Eng khi tak sempat menghindarkan diri lagi, terpaksa dia menjura lalu ujarnya dengan nada yang tak leluasa :

''Aku menjumpai nona Ciu!"

Sikapnya semakin menjauh dan seakan akan berusaha untuk memberikan suatu jarak tertentu.

Ciu Tin tin tampak agak sedih, tapi dia pun membalas hormat tanpa mengucapkan sepatah katapun. Yap Siu ling yang merasa tidak leluasa menyaksikan keadaan itu, kepada Thi Eng khi segera tegurnya :

“Kini sang kakak telah berubah menjadi enci, anak Eng, kau seharusnya menyebut enci Tin kepadanya!“

Thi Eng khi memang seorang anak yang berbakti ia tak berani membangkang perintah ibunya, terpaksa dengan nada kaku panggilnya :

"Enci Tin!"

Ciu Tin tin merasakan hatinya amat gundah, getir dan pahit terasa bercampur aduk dalam hatinya, diapun berseru :

"Adik Eng!"

Dia merasa usahanya selama ini hanya sia sia belaka, tak terlukiskan rasa sedih yang mencekam hatinya kini.

Tapi dia tetap mempertahankan sikapnya yang terbuka dan supel sambil memaksakan sebuah senyuman, katanya kepada Yap Siu ling

:

"Pek bo, setelah berjumpa dengan anakmu, sudah pasti banyak persoalan yang hendak kalian bicarakan, biarlah titli mohon diri lebih dulu untuk sementara waktu, sekalian menyiapkan hidangan untuk adik Eng."

Selesai berkata dia lantas mengundurkan diri dari situ.

Yap Siu ling segera menemukan suatu kekakuan dan ketegangan diantara kedua orang ini tapi berhubung Thi Eng khi baru pulang, dia merasa kurang leluasa untuk menekannya terlalu hebat, terpaksa masalah itu disimpan dalam hati sambil mencari kesempatan lain untuk dibicarakan lebih jauh.

Yap Siu ling mengawasi Thi Eng khi beberapa saat lamanya, kemudian sambil menghela napas panjang katanya :

“Eng ji, cepat ceritakan kisah pengalamanmu selama setahun lebih ini kepada ibu.” Thi Eng khi segera manggut manggut, diapun menceritakan apa yang dialaminya selama ini dengan seksama.

Yap Siu ling mendengarkan dengan serius, adakalanya dia merasa berdebar dengan perasaan tercekat, kemudian kejut bercampur girang sampai lama kemudian ia baru menghembuskan napas panjang, katanya :

“Terima kasih langit, terima kasih bumi, rupanya Kong kong dia orang tua masih hidup sehat didunia ini.”

Thi Eng khi manggut manggut, katanya :

"Oleh karena ananda berhasil mempelajari kitab pusaka itu lebih awal dua bulan dari waktu yang ditentukan, maka ananda bermaksud untuk menunggu saat untuk berjumpa dengan dia orang tua, tapi kemudian setelah kutemukan pesan dari dia orang tua ada urusan harus pergi dan bisa menunggu lebih jauh, terpaksa dengan perasaan kecewa ananda kembali kedaratan Tionggoan."

Menyusul kemudian, Yap Siu ling pun mengisahkan pengalamannya sampai pindah ketempat itu kepada Thi Eng khi.

Ternyata sejak kepergian Thi Eng khi setiap hari Yap Siu ling dan Thian liong su siang merasa kuatir dan tak tentram.

Semenjak terluka oleh ilmu jari Jit sat ci dari Huan im sin ang, makanan sehari hari dari Thian liong su siang harus disediakan oleh Yap Siu ling, sudah barang tentu tak mungkin bagi mereka untuk pergi mencari kabar berita diluaran.

Sebaliknya Yap Siu ling sendiripun tak lebih hanya seorang perempuan yang belum pernah keluar rumah, soal dunia persilatan sama sekali tidak dipahami olehnya, tentu saja lebih lebih tak mungkin baginya untuk mengadakan kontak dengan dunia luar.

Maka, semua orangpun terpaksa hanya tinggal di "rumah" sambil menahan rasa gelisah yang makin hari makin meningkat.

Masa masa selama ini bagi mereka boleh dibilang merupakan masa masa yang paling berat, ketika ditunggu sampai tujuh delapan bulan lamanya tetap tak nampak Thi Eng khi balik kembali, saking cemasnya hampir saja mereka menjadi gila.

Suatu hari, ketika malam telah tiba, ruangan Thian liong Tong hanya diterangi oleh sebuah lentera kecil.

Waktu itu Yap Siu ling sedang menyiapkan hidangan didalam dapur, sedangkan Thian liong su siang ngobrol diluar.

Pada saat itulah tiba tiba tampak sekilas cahaya perak berkelebat lewat, tahu tahu seorang yang bermantel perak telah melayang turun didepan pintu ruang Thian liong tong.

Mantel berwarna kuning perak merupakan ciri khas dari Gin san kiam kek (jago pedang berbaju perak) Ciu Cu giok, sebagai sahabat karib ayah Thi Eng khi yakni Thi Tiong giok, tentu saja Thian liong su siang mengetahui dengan jelas tentang hal ini.

Itulah sebabnya begitu melihat mantel berwarna perak muncul disana tanpa berpikir panjang lagi mereka lantas mengira Gin san kiam kek Ciu cu giok telah datang kesana.

Sejak Thian liong pay mengalami musibah, Gin san kiam kek Ciu Cu giok tak pernah berkunjung lagi ke gedung Bu lim tit it keh ini, oleh karena itu didalam pandangan Thian liong su siang, ia sudah bukan sahabat karib partai Thian liong pay lagi.

Sin lui jiu (si tangan geledek) Kwan Tin say yang paling berangasan kontan saja tertawa dingin tiada hentinya, kemudian tegurnya :

"Hey orang she Ciu, kau masih ingat kalau dirimu adalah sahabat Thian liong pay.“

Ciu Tin tin merasa amat terkejut, sama sekali tak disangka olehnya kalau pihak lawan menegurnya seperti itu.

Untuk sesaat dia menjadi tertegun dan berdiri kaku didepan pintu, untuk beberapa saat lamanya ia tak berani masuk kedalam ruang sin tong. Melihat orang itu berhenti dan tidak berani masuk, sekali lagi Sin liu jiu Kwan Tin say menegur dengan suara dalam :

“Ciu Cu giok, partai kami tidak membutuhkan teman seperti kau, lebih baik kembali saja!“

Sekarang Ciu Tin tin baru tahu kalau orang telah menganggap dia sebagai ayahnya maka dia lantas melangkan masuk ke da¬lam ruangan Sin tong.

Tatkala Thian liong su siang berhasil melihat jelas raut wajahnya, tanpa terasa mereka menjerit tertahan, kemudian tegurnya :

"Nona, siapakah kau? Ada urusan apa datang kemari?”

Ciu Tin tin berusaha keras berbicara dengan nada seramah dan selembut mungkin, katanya :

“Boanpwe bernama Ciu Tin tin, ayahku bernama Ciu Cu giok, sengaja ayah mengutus aku datang kemari untuk menyambangi locianpwe, sekalian hendak menyampaikan suatu persoalan penting."

San tian jiu (Si tangan kilat) Oh Tin lam mendengus dingin. "Hmm, kalau toh ayahmu sudah tak sudi lagi melangkah masuk

ke gedung ini, buat apa dia menyuruh kau datang kemari?"

Ciu Tin tin sama sekali tidak mengubris suasana ditempat itu, katanya lagi dengan lembut :

“Sejak sembilan belas tahun berselang ayahku telah mencukur rambut menjadi pendeta, bahkan rumah sendiripun belum pernah pulang satu kali, mana mungkin ia berkunjung ke tempat lain? Bukan berarti beliau telah melupakan cianpwe sekalian."

Mendengar perkataan itu, Thian liong su siang menjadi tertegun, hampir pada saat yang bersamaan mereka berseru :

"Oooh rupanya ayahmu telah menjadi pendeta, kalau begitu

kami telah salah menegurnya." Sam ciat jiu (si Tangan sakti) Li Tin tiong segera tertawa getir, katanya :

“Kami berempat telah terluka parah dan tidak leluasa untuk berjalan, terpaksa kami mempersilahkan nona Ciu untuk duduk disembarangan tempat, bila pelayanan kurang baik, harap nona suka memaafkan."

Ciu Tin tin memandang sekejap sekeliling ruangan, menyaksikan dinding ruangan yang kotor dan penuh sarang laba laba, kejut juga perasaannya, ia lantas mencari sebuah kursi dan duduk.

Menanti nona itu sudah duduk, Pit tee jiu (Tangan sakti penutup tanah) Wong Tin pak baru berkata :

“Boleh aku tanya ada urusan apakah nona Ciu datang kemari hari ini. ?"

Dengan berterus terang Ciu Tin tin segera membeberkan maksud kedatangannya.

“Dalam dunia persilatan tersiar kabar yang mengatakan kalau Thi sauhiap, ciangbunjin angkatan kesebelas dari Thian liong pay telah dibekuk orang di Benteng keluarga So di luar perbatasan, Tiang pek lojin So locianpwe telah menuduh perbuatan ini hasil pekerjaan dari Siau lim dan Bu tong dua partai besar. Kini ia telah membawa jago jago dari luar perbatasan datang mencari keadilan disini, sekarang mereka telah saling bersitegang dengan pihak partai Siau lim pay.”

Mendengar kabar tersebut, Thian liong su siang merasa terperanjat sekali sehingga tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Dari luar pintu kedengaran suara mangkuk yang terjatuh ke lantai dan pecah lalu nampak Yap Siu ling, ibu Thi Eng khi lari masuk kedalam ruangan dengan wajah pucat pias, dengan suara yang tak jelas serunya tergagap.

“Apa kau bilang? Kenapa dengan anak Engku?" Begitu gelisah dan cemasnya menguatirkan keselamatan Thi Eng khi sehingga dia tak sempat memberi hormat kepada Ciu Tin tin.

Mendengar dari ucapan tersebut, Ciu Tin tin segera mengetahui siapa gerangan perempuan ini, buru buru ia memayang Yap Siu ling sambil sahutnya :

“Menurut kabar yang tersiar dalam dunia persilatan, konon Thi sauhiap telah ditawan oleh pihak Siau lim dan Bu tong pay, aku rasa tak mungkin ada bahaya yang mengancam keselamatan jiwanya, pek bo, kau harus baik baik menjaga kesehatan tubuhmu, jangan sampai karena memikirkan yang bukan bukan berakibatkan kau orang tua menjadi jatuh sakit.“

Yap Siu ling adalah seorang perempuan yang berpengetahuan luas, sesudah tenang hatinya maka sikappun pulih kembali seperti sedia kala, kepada Ciu Tin tin ujarnya sambil tersenyum :

“Aku terlampau dipengaruhi emosi, harap kau jangan menertawakan."

Sesudah berhenti sejenak ditatapnya wajah gadis itu lekat lekat, kemudian ujarnya lebih lanjut :

“Tadi nona memanggilku sebagai Pek bo entah ”

Buru buru Ciu Tin tin menerangkan :

"Ayahku dan Empek Thi adalah sahabat karib, itulah sebabnya titli sudah sepantasnya memanggil Pek bo kepadamu!“

“Ayahmu adalah ?" Yap Siu ling kelihatan ragu.

Diam diam Ciu Tin tin menyumpahi dirinya yang berbicara tidak jelas sehingga tidak menerangkan asal usulnya lebih dulu.

Dengan wajah merah padam lantaran jengah, dia lantas berkata : “Boanpwe she Ciu bernama Tin tin, ayahku bernama Ciu Cu giok,

dengan empek Thi dibuat orang persilatan sebagai Bu lim siang giok (sepasang kemala dari dunia persilatan), masih ingatkah Pek bo?"

Sekulum senyuman segera menghiasi wa¬jah Yap Siau ling, cepat cepat serunya : “Oooh rupanya Ciu Hian titli, silahkan duduk! Silahkan

duduk !"

Ciu Tin tin segera membimbing Yap Siu ling duduk dikursi yang lain, sedangkan dia sendiri berdiri disamping perempuan itu, setelah mengulangi kembali apa yang dikatakan tadi, sambungnya lebih lanjut :

“Pihak Siau lim dan Bu tong pay tidak mau mengakui kalau pihak merekalah yang telah menculik Thi sauhiap, maka semua orang beranggapan hanya setelah Thi sauhiap ditemukan maka kesalahan paham ini baru dapat terselesaikan, kini akan berdatangan pelbagai manusia untuk mencari kabar dari para locianpwe sekalian."

“Bagaimanakah keadaan yang sesungguhnya, dari mana kita bisa tahu?“ kata Yap Siu ling.

Sin lui jiu Kwan Tin say berseru pula dengan suara keras :

"Kami akan menutup pintu dan menolak untuk berjumpa dengan siapapun….!”

Dengan kening berkerut, Ciu Tin tin segera menambahkan : “Menurut hasil penyelidikan titli dan ayahku, dapat diketahui

kalau masih ada kelompok manusia yang sebetulnya sedang menciptakan kekacauan dalam dunia persilatan walaupun mereka tahu kalau locianpwe sekalian tidak tahu tentang jejak Thi sauhiap akan tetapi sengaja mereka susun rencana busuk untuk mencelakai kalian semua agar pihak siau lim dan Bu tong disatu pihak semakin menaruh kesalahan paham terhadap Tiang pek lojin dilain pihak."

Mendengar perkataan itu Yap Siu ling sekalian menjadi amat terperanjat, buru buru serunya :

“Aaaah, masa telah terjadi peristiwa semacam ini?"

"Ayahku telah melihat dan mendengar dengan mata kepala sendiri, sudah barang tentu berita ini dapat dipertanggungjawabkan!”

Tergerak hati sam ciat Li Tin tiong setelah mendengar ucapan ini, tiba tiba muncul kewaspadaan dihatinya, dia lantas berseru cepat : “Kalau toh berita ini diperoleh ayahmu, mengapa ia tidak datang sendiri kemari? Sedang menurut perkataan nona Ciu tadi, semenjak menjadi pendeta ayahmu belum pernah pulang ke rumah, lantas darimana nona Ciu bisa mengetahui akan persoalan ini?"

Rasa sedih segera menyelimuti wajah Cui Tin tin, sahutnya : “Dalam kenyataan sudah dua puluh tahun lamanya ayahku

meninggalkan rumah, setengah tahun berselang, titli mendapat perintah dari ibuku untuk mencari jejak ayahku, sampai akhirnya berhasil kujumpai secara tak terduga di bukit Wu san, selama setengah tahun ini, titli selalu melangsungkan hubungan kontak dengan ayahku, itulah sebabnya kali ini ayahku telah menitahkan kepada titli untuk datang menyampaikan kabar, sekalian mengaturkan tindakan yang harus cianpwe sekalian ambil.”

Yap Siu ling dan Thian liong su siang berpandangan sekejap, kemudian termenung dan membungkam dalam seribu bahasa, untuk sesaat lamanya mereka tak dapat mengambil keputusan.

Untuk berlomba dengan waktu, Ciu Tin tin segera mengeluarkan sebilah pedang pendek dari dalam sakunya, lalu diserahkan kepada Yap Siu ling, ujarnya :

“Sebelum meninggal dunia dulu, empek Thi telah menyerahkan pedang pendek ini kepada ayahku sambil berpesan untuk melindungi keselamatan Pek bo, setelah Pek bo memeriksa pedang ini, tentunya akan mengetahui kalau perkataan titli bukan kosong belaka."

Pedang pendek itu merupakan tanda pengenal dari Thi Tiong giok selama berkelana didalam dunia persilatan, menyaksikan benda tersebut Yap Siu ling menjadi teringat kembali dengan pemiliknya, tak tahan lagi ia menangis tersedu sedu.

“Apakah ayahmu telah menyaksikan sendiri kematian dari empek Thimu?“ katanya.

Ciu Tin tin cukup mengerti, seandainya ia membeberkan keadaan yang sesungguhnya sudah pasti hal mana akan berakibat timbulnya keadaan yang tidak diinginkan, terpaksa jawabnya : “Persoalan ini panjang sekali kalau dibicarakan, dikemudian hari pasti akan titli ceritakan, sekarang harap pek bo sekalian percayai diri titli untuk "

Dengan menggunakan kerlingan matanya Yap Siu ling minta pertimbangan dari Thian liong su siang, kemudian katanya dengan wajah serius :

“Titli jauh jauh datang kemari dengan maksud baik, masa aku akan menaruh curiga kepadamu!”

Ciu Tin tin segera menghembuskan napas panjang katanya : “Titli sengaja datang kemari untuk mengajak Pek bo sekalian

mengungsi ke suatu tempat yang aman guna menghindarkan diri dari bencana besar ini.“

Yap Siu ling segera menggelengkan kepalanya berulang kali. “Aku rasa kami tak bisa pergi dari sini," katanya, “selain itu,

kamipun tak bisa pergi sebab seandainya Eng ji sampai balik kemari

dia harus pergi kemana untuk mencari kami sekalian."

“Demi Thi sauhiap, Pek bo sekalian sekalian sepantasnya kalau segera mengungsi sebab andaikata Pek bo sekalian sampai ketimpa sesuatu musibah, apakah Thi sauhiap bisa hidup dengan hati yang tentram?“

Setelah perundingan dilakukan akhirnya Yap Siu ling memutuskan untuk meninggalkan sepucuk surat buat Thi Eng khi dan pada malam itu juga dipimpin oleh Ciu Tin tin mereka berangkat ke bukit Hong san dekat kota Kang im untuk menetap.

Kemudian ke empat orang dari Thian liong ngo siang yang terluka parah, tahu tahu pada suatu tengah malam telah diobati seseorang sehingga luka dalam yang mereka derita sembuh sama sekali.

Selesai mengobati mereka, orang itu pun telah meninggalkan catatan tentang beberapa macam kepandaian sakti aliran Thian liong pay, untuk mempelajari kepandaian tersebut, kini mereka telah berpindah kesuatu tempat lain yang lebih sepi dan terpencil. Ciu Tin tin sendiri membutuhkan waktu selama hampir satu bulan lebih untuk menarik kesan baik dari Yap Siu ling, kemudian ia baru membeberkan kisah sedih yang telah menimpa keluarga Ciu serta keluarga Thi.

Mendengar kisah sedih itu, sudab barang tentu Yap Siu ling merasa sedih sekali tapi dia adalah seseorang yang cukup mengetahui tentang keadaan, lagipula kejadian sudah berlangsung, bukan saja dia tidak menyalahkan Ciu Tin tin ataupun ayahnya Ciu Cu giok, malahan dia merasa terharu sekali oleh semangat serta pengorbanan yang diberikan Ciu Tin tin selama ini, hal mana membuatnya semakin menyayangi gadis itu dan menganggapnya sebagai putri kandung sendiri.

Demikianlah, ketika Yap Siu ling dan Thi Eng khi sedang saling menuturkan pengalaman yang telah mereka alami, mendadak dari luar pintu sana kedengaran Ciu Tin tin sedang membentak keras :

“Siapa disitu? Berhenti!“

Thi Eng khi sangat terkejut, dengan cepat dia melompat ke depan pintu pula untuk memeriksa.

Tampaklah seorang pengemis tua yang berpakaian compang camping dan berwajah dekil, berambut kusut sedang melompat mendekat dengan kaki tunggalnya.

Pengemis berkaki tunggal itu sudah tua, bila dilihat dari kemampuannya untuk melompat mendekat, bisa diketahui kalau tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna sekali.

Dalam sekilas pandangan saja Thi Eng khi dapat mengenalinya sebagai kakak seperguruan dari ketua Kay pang sekarang, si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang bernama To kak thi koay (kaki tunggal tongkat baja) Li Goan gwee atau dengan perkataan lain salah seorang diantara Cap sah tay poo ciptaan Huan im sin ang. Memandang atas hubungan pengemis berkaki tunggal ini dengan si pengemis sakti bermata harimau tanpa terasa Thi Eng khi berkerut kening dan menunjukkan keragu-raguannya.

Sementara Thi Eng khi masih termenung sikaki tunggal bertoya baja Li Goan gwee telah berhenti dihadapan Ciu Tin tin dan membuka suara untuk berbicara.

Suaranya keras dan lantang ibarat guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong.

Terdengar ia berkata dengan sikap yang amat menghormat : “Lohu adalah To kak thi koay (kaki tunggal toya baja) Li Goan

gwee dari Kay pang boleh aku bertanya kepada nona, apakah ketua Thian liong pay Thi sauhiap, saudara kecil Thi tinggal disini?“

Didalam dunia persilatan si Kaki tunggal tongkat besi Li Goan gwee mempunyai nama yang amat termashur, tentu saja Ciu Tin tin juga mengetahui akan hal ini, tapi oleh kerena dalam hatinya masih ada urusan, maka dia tak berhasil mengenalinya tadi.

Tapi setelah mendengar pihak lawan menyebutkan namanya, diam diam ia baru berseru dalam hati kecilnya :

"Sungguh memalukan!“

Sambil tersenyum, dia lantas menyahut :

"Ooooh... rupanya Li locianpwe yang telah datang, boanpwe Ciu Tin tin telah bersikap kurang hormat, harap locianpwe memakluminya!“

To kak thi koay, Li Goan gwee memperhatikan beberapa kejap ke arah mantel berwarna perak yang dikenakan Ciu Tin tin itu, kemudian dengan wajah tercengang serunya lagi :

“Nona mengenakan mantel berwarna perak milik Gin san kiam keh Ciu lote, entah apa hubungan nona dengannya?“

"Dia orang tua adalah ayah boanpwe," jawab Ciu Tin tin cepat sambil menundukkan kepalanya. To kak thi koay Li Goan gwee semakin gembira lagi, serunya dengan cepat :

"Aku sipengemis tua adalah sahabat karib ayahmu dimasa lalu, sudah sepantasnya bila aku menyebutmu sebagai Hian titli (keponakan perempuan)!“

“Sudah hampir dua puluh tahun lamanya ayahmu tak pernah muncul didalam dunia persilatan, apakah belakangan ini dia berada dalam keadaan baik baik?“

Sikap Ciu Tin tin berubah menjadi amat sopan sekali, dia lantas memanggil pengemis itu sebagai empek Li.

“Empek Li!“ sahutnya, “ayahku telah merasa jemu dengan kehidupan keduniawian, maka sekarang beliau sudah menjadi seorang pendeta semenjak dua puluh tahun berselang!"

Mendengar itu, si kaki tunggal bertongkat besi Li Goan gwee menghela napas panjang.

“Aaai. dimasa mudanya dulu ayahmu adalah seorang pendekar

yang sangat lihay sungguh tak disangka dia adalah seorang yang berjodoh dengan kaum Buddha!"

Menyusul kemudian sambil menepuk kaki tunggal sendiri dan menunjukkan wajah menyesal, lanjutnya :

“Tempo dulu, seandainya aku si pengemis ini tidak memperoleh pertolongan dari ayahmu, mungkin kaki tunggalku ini berikut selembar nyawa tuaku juga turut melayang, aaai. kalau teringat

oleh kegagahan ayahmu dimasa lampau, aku merasa amat sedih sekali."

Pengemis tua itu hanya ribut dengan perasaan sendiri, ternyata dia telah melupakan tugasnya datang ke situ.

Thi Eng khi yang menyaksikan kejadian itu diam diam lantas berpikir : “Entah rencana busuk apakah yang sedang dipersiapkan olehnya?

Aku tak boleh membiarkan dia untuk mengembangkannya lebih lanjut, bisa amat berbahaya nantinya!“

Berpikir sampai disitu, dia lantas berpekik nyaring dan melangkah keluar pintu dengan tindakan lebar.

Ciu Tin tin segera menyingkir kesamping sambil memperkenalkan

:

“Empek Li, dialah Thi sauhiap kita!"

Si Kaki tunggal bertongkat besi Li Goan gwee segera mendongakkan kepalanya dan terbahak bahak.

“Haaaahhh.... haahhh.... haaahhhh   pangcu pernah

membicarakan tentang kelihayan saudara cilik serta keberanian yang luar biasa, hal mana sungguh membuat aku si pengemis tua merasa kagum sekali!”

Sembari berkata dengan sepasang telapak tangannya yang besar dia siap menepuk bahu anak muda itu.

Dengan cekatan Thi Eng khi mundur selangkah kebelakang dan menghindarkan diri dari tepukan sepasang tangannya itu, Si Kaki tunggal bertongkat baja Li Goan gwee agak tercengang tapi kemudian ia tertawa tergelak kembali :

"Haaahh.... haaahhh..... haahhh.... saudara cilik ”

Belum lagi ucapan tersebut selesai diucapksn, Thi Eng khi kembali telah berkata :

"Belum berapa lama aku pulang ke rumah, cepat benar kabar berita yang kalian peroleh!”

Untuk kesekian kalinya si kaki tunggal bertongkat baja Li Goan gwee dibuat tertegun kemudian dia merasa rikuh sekali.

Dari pada pembicaraan si anak muda itu, Ciu Tin tin segera mendapat tahu kalau Thi Eng khi telah menyamakan si kaki tunggal bertongkat baja Li Goan gwee sebagai satu komplotan dengan Hek bin bu pa To Thi gou sekalian, buru buru dia menjelaskan : “Empek Li adalah kakak seperguruan dari ketua Kay pang Cu locianpwe !”

"Aku tahu, julukannya adalah To kak thi koay!” tukas Thi Eng khi dengan cepat. Dia memang amat membenci akan segala macam kejahatan, terutama sekali terhadap tindak tanduk Cap sah tay poo ciptaan Huan im sin ang, apalagi sejak Lak bin wangwee melepaskan serangan yang mematikan, timbul perasaan bencinya terhadap orang orang itu.

Maka dari itu, ucapan yang kemudian diutarakan pun amat ketus sekali, sedikitpun tidak bersahabat.

Ciu Tin tin tidak tahu kalau Thi Eng khi sudah mempunyai pandangan jelek terhadap si Kaki tunggal bertongkat baja Li Goan gwee, disangkanya pemuda itu memang sengaja hendak menyusahkan dirinya, tanpa terasa dia mundur selangkah dengan wajah sedih, sementara air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Si pengemis berkaki tunggal itupun kontan melototkan sepasang matanya bulat bulat dengan kemarahan yang berkobar ia mendengus dingin berulang kali.

Kemudian setelah mendengus, dia menggunakan kesabaran yang paling besar ia mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring untuk melampiaskan semua kemarahan yang mencekam perasaan hatinya sekarang.

Setelah hening beberapa saat kemudian, ia berkata pelan : "Anak murid kay pang tersebar diseluruh kolong langit gerak

gerik sauhiap tak bisa lolos dari pandangan mata anggota perkumpulan kami, itulah sebabnya aku si penge¬mis tua dapat segera menemukan dirimu di tempat ini. ”

“Sekarang kau sudah menemukan aku, ada urusan apakah yang hendak kau sampaikan?” Si pengemis berkaki tunggal Li Goan gwee benar benar merasa tidak tahan menghadapi keketusan dan keangkuhan Thi Eng khi tersebut, dengan wajah gusar dia menjawab :

"Aku si pengemis tua mendapat perintah dari pangcu kami untuk menyampaikan sesuatu!”

“Akan kudengarkan dengan seksama!” jawab Thi Eng khi dengan nada suara yang jauh lebih lunak.

"Pangcu kami telah bertemu dengan Tiang pek lojin So locianpwe, atas pesan dari So locianpwe, dipersilahkan Thi cianbunjin berangkat kebukit Siong san untuk bersama sama menyusun rencana guna menolong keselamatan nona Bwe leng!"

Thi Eng khi memang senang sekali akan kepolosan serta kelincahan So Bwe leng, itulah sebabnya diapun sangat memperhatikan keselamatan jiwanya, mendengar perkataan itu, dia menjadi tertegun, kemudian serunya :

"Mengapa dengan adik Leng?"

Sikap yang amat menaruh perhatian ini segera menimbulkan perasaan sedih dalam hati Ciu Tin tin.

“Lohu hanya menyampaikan kabar saja, keadaan yang sebenarnya kurang begitu jelas!” ucap Li Goan gwee segera.

Tiba tiba tergerak hati Thi Eng khi, se¬gera pikirnya :

“Jangan jangan hal inipun merupakan siasat busuk yang disusun oleh Huan im sin ang?"

Setelah mempunyai ingatan semacam itu dia tak ingin banyak berbicara lagi dengan Li Goan gwe, sambil menjura katanya kemudian :

"Terima kasih banyak atas pemberitahuanmu itu!"

Bukan saja tiada niatnya untuk mempersilahkan tamunya masuk, bahkan jelas sekali kalau dia sedang mengusir tetamunya. Si pengemis berkaki tunggal bertongkat baja Li Goan gweed segera menghentakan kaki tunggalnya keatas tanah, sepasang matanya melotot besar karena gusar, sambil mendengus dingin serunya :

"Lohu akan mobon diri lebih dahulu!"

Dengan gaya ikan lehi melentik, tubuhnya segera mencelat sejauh beberapa kaki, kemudian didalam beberapa kali lompatan saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Memandang bayangan pungungnya itu, Thi Eng khi menghela napas panjang, gumamnya :

“Aku sih tak akan termakan oleh siasatmu itu!”

Gumamnya itu amat lirih lagipula tidak jelas ucapannya, Ciu Tin tin tidak sempat mendengarnya dengan jelas, sehingga tak tahan dia bertanya pula keheranan :

“Nona So cantik jelita dan cerdik sekali, bila dia sampai terjatuh ketangan Huan am sin ang hal mana benar benar mencemaskan sekali hati orang, apa rencana adik Eng selanjutnya?”

Dengan ucapannya itu sesungguhnya dia ingin menyelidiki sejauh manakah perasaan Thi Eng khi terhadap So Bwee leng.

Sebagai seorang pemuda yang cerdas su¬dah barang tentu Thi Eng khi dapat menangkap maksud Ciu Tin tin yang sesungguhnya, mendadak satu ingatan melintas didalam benaknya.

“Lebih baik kuutarakan saja beberapa patah kata yang mesra dan hangat terhadap Leng, agar diapun bisa memadamkani niatnya untuk menebus dosa ayahnya "

Berpikir sampai disitu, dia segera berlagak amat menguatirkan keselamatan gadis tersebut, sahutnya :

“Pikiran dan perasaan siaute sekarang amat kalut, terpaksa akan kusampaikan kepada ibuku untuk segera melanjutkan perjalanan."

Ciu Tin tin menundukkan kepalanya rendah rendah, dia segera membalikkan badannya dan lari masuk keruangan dalam. Dari kejauhan Thi Eng khi masih sempat mendengar suara isak tangisnya, hal mana justru melegakan hati pemuda ini.

“Sekarang tentunya kau akan mengurungkan niatmu itu!“ demikian dia berpikir.

Kemudian dengan kening berkerut, dia rnenghela napas panjang, gumamnya lagi :

"Aaaai. enci Tin, seandainya diantara kita tidak terdapat

peristiwa yang memedihkan hati itu, hal mana sungguh baik sekali!“

Jelas terhadap Ciu Tin tin, sesungguhnya diapun menaruh perasaan cintanya....

Dalam keadaan demikian, Thi Eng khi merasa segan untuk kembali ke ruangan dalam, ia tak ingin menimbulkan kerikuhan pada diri Ciu Tin tin, maka ia lantas berjalan jalan disekitar rumah gubuk itu.

Tanpa terasa, dia telah berjalan sejauh puluhan kaki dari tempat semula.

Mendadak ia teringat kembali akan sebab musabab dia dan Ciu Tin tin sampai memburu pulang ke rumah, waktu itu adalah dikarenakan bertemu dengan Hek bin bu pa To Thi gou, itu berarti Huan im sin ang telah berhasil mengetahui tempat persembunyian ibunya dan bermaksud untuk mencelakai ibunya itu.

Padahal dia sudah balik ke rumah sekarang, mengapa tidak ia laporkan hal ini kepada ibunya agar mereka dapat mempersiapkan diri untuk menyingkir dari tempat tersebut?

Berpikir sampai disitu, diam diam dia lantas memakai diri sendiri : "Aku benar benar semberono!”

Ia lantas membalikkan badannya siap berjalan balik. Siapa tahu baru saja dia membalikkan badannya, tampaklah enam orang kakek berwajah menyeringai menyeramkan telah menghadang jalan perginya.

Dalam kagetnya dia segera berpaling ke aran depan sana, tampaklah puluhan manusia lainnya telah mengurung rumah gubuk itu rapat rapat.

Dalam cemasnya pemuda itu segera meloloskan pedang Thian liong kim kiam dari sarungnya, kemudian sambil menuding ke aran ke enam orang kakek tadi serunya :

"Harap kalian menyingkir dari sini!”

Bunga pedang menggulung di udara dan langsung menerjang ke muka.

Ke enam orang kakek itu tetap berdiri tak berkutik ditempat semula, salah seorang diantaranya berkata sambil tertawa dingin :

“Anak muda, kau membawa pedang Thian liong kim kiam, rupanya engkaulah yang bernama Tni Eng khi?”

Sembari berkata, dia menggerakkan sepasang senjata kaitannya untuk menangkis datangnya ancaman tersebut.

Tujuan Thi Eng khi pada saat ini hanyalah berusaha untuk menerjang pulang ke rumah gubuk itu, dia sama sekali tidak berniat untuk terlibat dalam pertarungan melawan mereka.

Oleh sebab itu secara beruntun dia lancarkan tiga buah serangan berantai yang memaksa kakek bersenjata kaitan itu terdesak mundur sejauh tiga langkah dari tempat semula.

“Tahan!” mendadak seorang kakek lainnya membentak keras.

Thi Eng khi segera menarik kembali serangannya, kemudian bertanya dengan suara dingin :

"Kalau ingin berbicara, mari kita berbicara didepan rumah gubuk sana ” Kakek itu segera tertawa licik, sahutnya :

“Tak usah kuatir Thi sauhiap, sebelum mendapat tanda perintah lohu, mereka tak akan bertindak kurang sopan terhadap ibumu.”

Setelah berhenti sebentar, dia berkata lagi :

“Thi Sauhiap, tahukah kau siapa lohu sekalian? Ada urusan apa datang kemari?”

“Hmmm... paling paling juga kaki tangan Huan im sin ang, aku merasa tak perlu un¬tuk mengetahui nama nama kalian!"

Kakek bersenjata kaitan itu menjadi gusar sekali, segera bentaknya keras keras :

“Omong kosong! Siapa yang kesudian menjadi kaki tangannya Huan im sin ang.”

Ketika dilihatnya orang orang itu menyangkal diri mereka sebagai komplotannya Huan im sin ang, Thi Eng khi tampak agak tertegun juga, katanya kemudian :

"Lantas siapakah kalian semua?" Suaranya juga jauh lebih lunak.

“Lohu sekalian adalah Yan san lak kiat (enam orang gagah dari bukit Yan san)!” jawab kakek kedua.

Setelah berhenti sejenak, dia memperkenalkan dirinya satu persatu :

“Lohu adalah Sin kou (kaitan sakti) Tio Yan kim!“

Kemudian yang lainpun menyusul :

“ Lohu adalah Pak cui (Palu maut) Tio Yan Im!" “Lohu adalah Im to (golok dingin) Tio Yan ci!”

“Lohu adalah Yang cay (tombak panas) Tio Yan sang!” “Lohu adalah Tong tang (borgol tembaga) Tio Yan leng!” “Lohu adalah Tong huan (gelang temba¬ga) Tio Yan siau!"

Thi Eng khi tidak begitu mengetahui tentang asal usul Yan san lak kiat tersebut terpaksa katanya :

"Selamat berjumpa!"

Dengan menegur, si kaitan sakti Tio Yan kim segera berkata : "Sauhiap, pandai benar kau mencari kesenangan sendiri dengan

menyusahkan orang lain! Tahukah kau bahwa para jago dari daratan Tionggoan dan luar perbatasan sudah siap melangsungkan pertumpahan darah gara gara hilangnya dirimu?"

Dengan nada menyesal Thi Eng khi menyahut :

“Aku merasa menyesal sekali terhadap terjadinya kesalahan paham diantara sahabat sahabat persilatan atas terjadinya ini, sekarang aku memang bermaksud untuk berangkat ke bukit Siong san untuk memberikan penjelasan agar sahabat dari luar maupun dalam perbatasan bisa bersatu padu untuk bersama sama menghadapi musuh kita yang sebenarnya.”

Sin kau Tio Yan kim kembali tertawa dingin :

"Kalau memang sauhiap ada maksud un¬tuk memunahkan kesalah pahaman itu kenapa kau tidak cepat cepat berangkat ke bukit Siong san untuk melerainya, sebaliknya bersikeras hendak menunggu sampai diselenggarakannya pertemuan besar itu?"

Thi Eng khi segera dibikin terbungkam dalam seribu bahasa.

Seharusnya ia memang musti berangkat dulu ke bukit Siong san untuk menjelaskan duduknya persoalan kemudian baru menyelesaikan persoalan lainnya.

Sayang pengalaman yang dimiliki anak muda ini masih amat cetek, dia hanya memikirkan keselamatan ibunya serta ke empat orang susioknya yang terluka oleh pukulan Jit sat ci, oleb karenanya hal mana telah mengesampingkan persoalan yang sebenarnya maha penting itu.

Dengan perasaan tidak tenang dia lantas bertanya : “Apakah Tio tayhiap berharap agar aku berangkat ke bukit Siong san sekarang juga?"

“Benar! Kami mendapat perintah dari ketua Siau lim dan ketua Bu tong untuk mengundang kehadiranmu."

"Baik!” kata Thi Eng khi kemudian de¬ngan wajah serius, “sekarang juga aku akan berangkat bersama kalian!”

Sambil berkata dia lantas melangkah maju kedepan dengan maksud menembusi ke punggung Yan san lak kiat untuk mengajak ibunya bersama sama berangkat kebukit Siong san.

Siapa tahu.. meskipun dia sudah maju beberapa langkah, namun Yan san lak kiat masih tetap berdiri ditempat semula tanpa maksud untuk menyingkir kesamping.

Thi Eng khi mengira mereka tidak memahami maksudnya, maka segera ujarnya :

“Harap kalian mau menunggu sebentar, setelah urusan kuselesaikan, kita segera berangkat."

Menanti Yan san lak kiat belum juga menyingkir kesamping, Thi Eng khi baru curiga pikirnya :

"Engkoh tua pengemis telah berangkat ke bukit Siong san untuk menyampaikan pesanku kepada ketua Siau lim pay dan Bu tong pay, agaknya mereka tidak perlu mengirim orang lagi untuk menjemputku, sekalipun mereka mengirim orang juga tak akan bersikap seakan akan menghadapi mnsuh besar saja, apalagi mengirim orang dalam jumlah begini banyak... yaaa, dibalik kesemuanya ini pasti ada sesuatu yang tak beres, aku tak boleh bertindak terlalu gegabah.”

Sementara kedua belah pihak masih saling berhadapan dengan suasana tegang, mendadak dari balik rumah gubuk itu terdengar seseorang menjerit keras, menyusul seseorang melompat keluar dari balik rumah gubuk tersebut. Waktu itu malam sudah menjelang tiba, walaupun Thi Eng khi dapat melihat ada sesosok bayangan manusia melompat keluar dari balik rumah gubuk itu namun ia tak sempat melihat jelas siapa gerangan orang tersebut.

Tercekat perasaan hatinya, dia tahu sesuatu kejadian telah berlangsung dalam rumah tersebut, sambil mengangkat pedang Thian liong kim kiamnya dia membentak gusar :

“Hampir saja aku tertipu oleh siasat kalian, enyah kalian semua dari sini!"

Tubuhnya merendah lalu tubuh berikut pedangnya dengan menciptakan serentetan cahaya tajam langsung menerjang kearah Yan san lak kim kiam kiat.

Bagaimana keadaan Thi Eng khi selanjutnya yang gagal mendekati ruangan gubuk tersebut untuk sementara kita tinggalkan dulu.

Dalam pada itu, Ciu Tin tin telah balik ke dalam ruangan dengan hati yang hancur luluh semakin dipikirkan dia merasa semakin sedih, sehingga akhirnya sambil menggertak gigi sambil menulis surat perpisahan yang ditinggalkan kedalam kamarnya.

Ia merasa lebih baik cepat cepat menyingkir saja dari situ daripada dirinya makin la¬ma dirinya makin terperosok kedalam kesalah pahaman yang makin melebar. Bila sampai mengakibatkan kerugian bagi kedua belah pihak jelas hal ini tak diinginkan.

Ciu memang seorang gadis yang cerdik dan cukup mengerti duduknya persoalan, dia lebih suka mengorbankan diri daripada membiarkan Thi Eng khi bersedih hati karena kejadian itu.

Baru saja tubuh melompat keluar dari pintu gerbang mendadak dilihatnya ada sekelompok lelaki kekar yang berjumlah empat lima orang sedang berjalan mendekati rumah gu¬buk tersebut.

Dalam pada itu Thi Eng khi juga baru saja berjumpa dengan Yan san lak kiat, pemuda itu hanya menyaksikan ada puluhan orang jago persilatan mengurung rumah tadi, ia tak tahu kalau sesungguhnya ada beberapa orang diantaranya yang telah berhasil menyusul masuk ke dalam.

Ciu Tin tin segera balik kembali kedalam ruangan, ketika diawasinya orang orang itu, tampak Hek bin bu pa To Thi gou terdapat diantaranya.

Dengan kehadiran orang itu maka persoalannya menjadi jelas, dapat diketahui pula siapa yang menjadi dalang dalam pengepungan ini serta apa maksud kedatangan mereka.

Dengan suatu gerakan cepat, Ciu Tin tin meloloskan pedangnya sambil menghadang di depan pintu ruangan, dia kuatir pendatang itu melukai ibu Thi Eng khi, maka sambil mempersiapkan senjata dia membentak gusar :

“Ada urusan apa kalian menyerbu masuk kemari?”

Tampaknya Hek bin bu pa To Thi gou adalah pemimpin dari rombongan tersebut, sambil tertawa terbahak bahak sahutnya :

“Haaahhhh… haaahhh…. Haaahhhh….. dihadapan orang yang jujur tak perlu berbohong, siapakah kami dan apa tujuan kami datang kemari masa tidak kau ketahui?”

Setelah berhenti sejenak dan mendengus dingin, lanjutnya : “Kau bukan anggota keluarga Thi, kami pun tidak bermaksud

mengusikmu, asal kau serahkan ibu dari Thi Eng khi si bocah keparat itu, kami akan mengampuni selembar jiwamu!”

Air muka Ciu Tin tin segera berubah menjadi dingin seperti es, sahutnya ketus :

“Selama aku Ciu Tin tin masih bisa bernapas, tak akan kubiarkan kalian membawa pergi Thi pek bo.”

“Nak, menyingkirlah kau, biar kutanyakan kepada mereka, sebenarnya apa maksud mereka mendesak diriku terus menerus.”

Rupanya dia menampakkan diri setelah mendengar suara ribut- ribut diluar rumahnya. Jangan dilihat Hek bin bu pa To Thi gou bertubuh kasar seperti kerbau, sesungguhnya dia berakal licik sekali, dengan wajah tersenyum simpul segera katanya :

“Hujin, apakah kau adalah ibu Thi ciangbunjin? Aku Hek bin bu pa To Thi gou memberi hormat untukmu!”

Selesai berkata dia benar-benar merangkap tangannya sambil memberi hormat.

Yap Siu ling adalah seorang perempuan yang berpendidikan, ketika dilihatnya orang lain memberi hormat dengan sopan, tentu saja diapun enggan memperlihatkan sikap kasarnya, maka sambil memberi hormat dia¬pun menjawab :

"To tayhiap tak usah sungkan sungkan, silahkan duduk dulu untuk minum teh!"

“Terima kasih banyak harap Thi hujin tak usah repot repot, aku datang untuk melaksanakan tugas, sedang majikan kami masih menantikan kabar beritanya!"

Dengan kening berkerut Yap Siu ling segera menukas :

"To tayhiap bila ada persoalan utarakan saja berterus terang dan blak blakan!“

Paras muka Hek bin bu pa To Thi gou segera berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus, dia merasa semua perkataan yang telah disusun menjadi perkataan dan tak mampu digunakan lagi, terpaksa diapun berkata apa adanya :

“Majikan kami adalah Lo sancu dari istana Ban seng kiong, oleh karena amat mengagumi Thi sauhiap maka sengaja mengutus kami untuk mengundang kehadiran hujin untuk berkunjung keistana Ban sen kiong.“

Diam diam tercekat juga hati Yap Siu ling setelah mendengar perkataan itu, dia tahu Huan im sin ang hendak menggunakan dirinya sebagai sandera agar Thi Eng khi bisa diperalat olehnya. Untuk sesaat lamanya dia menjadi tertegun dan tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan tadi.

Hek bin bu pa To Thi gou segera tertawa kering, lalu ujarnya : "Bagaimanakah maksud hujin? Majikan kami sedang menantikan

jawabannya "

Pada waktu itu pikiran dan perasaan Yap Siu ling merasa sangat kalut, ia tahu bila mana dirinya sampai terjatuh ke tangan Hu¬an im sin ang, maka jangan harap Thi Eng khi bisa melepaskan diri dari cengkeraman Huan im sin ang untuk selamanya, itu berarti jangan harap ia bisa membangun kembali kejayaan partai Thian liong pay.

Walaupun selama tahun tahun belakang ini diapun mulai belajar silat di bawah petunjuk dari keempat orang suhengnya, namun bagaimanapun juga karena waktu yang terbatas membuat keberhasilannya tidak memuaskan, sudah barang tentu diapun bukan tandingan dari musuh musuhnya itu.

Maka walaupun sudah dipikirkan pulang pergi, dia belum berhasil juga untuk menemukan suatu cara yang baik.

Akhirnya setelah termenung sekian lama dia bertekad untuk menghabisi nyawa sendiri seandainya tidak berhasil meloloskan diri dari cengkeraman musuhnya nanti, asal dia mati maka akan musnahlah harapan Huan im sin ang untuk menyandera dirinya serta memperalat Thi Eng khi demi kepentingannya.

Begitulah, tatkala Hek bin bu pak To Thi gou mengulangi kembali perkataan itu untuk kedua kalinya, dia telah mengambil keputusan dalam hatinya, maka dengan wajah bersungguh sungguh jawabnya :

"Maksud baik Sancu kalian sungguh mengharukan hatiku, sayang aku tak lebih hanya seorang perempuan lemah, aku rasa kurang leluasa bagiku untuk berangkat ke istana Ban sen kiong, lebih baik To tayhiap sampaikan saja rasa terima kasihku!"

Dengan cepat Hek bin bu pa To Thi gou mengerutkan sepasang alis matanya yang tebal, betul dia adalah salah satu diantara cap sah tay poo dibawah pimpinan Huan im sin ang, namun berhubung wataknya memang tidak termasuk keji atau kejam, lagipula dia merasa mencelakai seorang perempuan lemah hanya akan merusak nama baiknya saja, maka untuk sesaat dia menjadi ragu dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Pada saat itulah, tiba tiba kedengaran seorang lelaki yang berada dibelakangnya menegur sambil tertawa seram :

“Heeehhh... heeehhh... heehhh To tay¬hiap, jangan lupa

dengan perintan dari Sancu!”

Hek bin bu pa To Thi gou nampak agak terkesiap, kemudian buru baru serunya :

“Hujin, bila kau menampik untuk berangkat ke istana Ban seng kiong, terpaksa aku harus bertindak keras kepadamu!"

Mendadak dia mementangkan telapak tangannya yang besar dan segera mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan Yap Siu ling.

Ciu Tin tin yang berada disampingnya segera menggerakkan pedangnya sambil melangkah ke depan, dengan jurus Sia ci im khi (awan miring menutupi panji) dia menggulung tubuh Hek bin bu pa.

Dari serangan mencengkeram, buru buru Hek bin bu pa merubah ancamannya menjadi sebuah pukulan telapak tangan yang langsung menghajar ke tubuh pedang Ciu Tin tin, sementara tangannya yang lain dengan jurus Kim si cian wan (serat emas membelenggu tangan) mencengkeram tubuh Yap Siu ling.

Serangan yang dilancarkan tersebut telah disertakan tenaga dalam yang amat dahsyat, ternyata pedang Ciu Tin tin kena ditangkis sehingga tergetar keras dan mencelat setinggi beberapa depa keudara.

Walaupun tangkisan tangan tanan Hek bin bu pa To Thi gou berhasil menggetarkan pedang Ciu Tin tin, akan tetapi tangan kirinya yang mencengkeram tubuh Yap Siu ling telah mengenai sasaran yang kosong Ternyata walaupun Yap Siu ling belum memiliki pengalaman dalam menghadapi suatu pertarungan, tenaga dalam yang dimilikinya juga masih jauh bila dibandingkan dengan kemampuan Hek bin bu pa, namun ilmu silat aliran Thian liong pay merupakan suatu kepandaian yang maha sakti, dalam pandangan remeh Hek bin bu pa yang tidak memandang sebelah matapun terhadapnya, dengan gampangnya dia berhasil menghindarkan diri dari cengkeraman musuhnya itu.

Begitu Hek bin bu pa To Thi gou gagal mencengkeram korbannya, Ciu Tin tin telah mengembangkan permainan ilmu pedang Liu soat kiam hoat perguruannya.

Cahaya perak segera menyelimuti seluruh angkasa, untuk kedua kalinya dia melancarkan serangan dahsyat kedepan.

Ciu Tin tin adalah seorang gadis yang berbakat bagus, tenaga dalam yang dimilikinya sekarang jauh melebihi kemampuan Hek bin bu pa setelah memperoleh tambahan dari Huan im sin ang, apalagi setelah mengembangkan permainan ilmu pedang liu soat kiam hoat yang maha dahsyat itu…. kontan saja Hek bin bu pa kena dikurungnya rapat rapat sehingga tak mampu lagi untuk mengusik Yap Siu ling.

Mengetahui kalau kemampuannya masih belum cukup untuk mengalahkam Ciu Tin tin, dengan cepat Hek bin bu pa To Thi gou memberi perintah kepada ke tiga orang lelaki lainnya dengan kata kata sandi untuk membekuk Yap Siu ling.

Berbicara yang sebenarnya ketiga orang lelaki itu merupakan jago jago yang termashur pula didalam dunia persilatan walaupun tenaga dalamnya masih jauh dibandingkan dengan Hek bin bu pa To Thi gou, namun dengan kemampuan mereka bertiga untuk menangkap Yap Siu ling boleh dibilang gampangnya seperti merogoh barang didalam saku sendiri.

Itulah sebabnya tak sampai dua tiga gebrakan keadaan Yap Siu ling sudah kritis sekali. Agaknya Yap Siu ling cukup mengerti kalau dia sudah tiada harapan untuk meloloskan diri lagi,dalam repotnya menghindari serangan lawan segera serunya kepada Ciu Tin tin.

"Nak, aku serahkan anak Eng kepadamu, semoga kau bisa baik baik menjaga dirinya selain itu, beritahu kepadanya kalau ibunya minta dia ingat terus untuk menegakkan keadilan dan kebenaran sebagai tanda kebaktiannya kepadaku!”

Selesai berkata dia lantas membalikkan telapak tangan kanan menghantamnya keatas ubun ubun sendiri.

Siapapun tidak menyangka kalau perempuan itu akan mengambil keputusan pendek untuk bunuh diri.

Tentu saja keadaan tersebut bukan keadaan yang diharapkan oleh anak buah Huan im sin ang, untuk sesaat ketiga orang lela¬ki yang mengurungnya menjadi gugup dan berubah muka dalam kaget dan tercengangnya mereka sampai lupa untuk memberi pertolongan.

Ciu Tin tin serta Hek bin bu pa To Thi gou yang sedang bertarung juga sama sama menerjang kearah Yap Siu ling dengan harapan bisa mencegah niatnya untuk bunuh diri.

Tapi sayang, secepat cepatnya gerakan tubuh mereka, tak akan lebih cepat daripada gerakan tangan Yap Siu ling.

Dalam waktu singkat telapak tangannya itu sudah berada beberapa inci di atas ubun ubun perempuan itu.

Di saat yang amat kritis inilah mendadak terdengar suara bentakan nyaring berkumandang memecahkan keheningan, lalu tampak sekilas cahaya perak menyambar jalan darah Ci ti hiat diatas tubuh Yap Siu ling, kontan saja semua tenaga yang dimiliki Yap Siu ling punah tak berbekas, walaupun akhirnya telapak tangan itu menyentuh juga diatas ubun ubun, namun sama sekali tidak menimbulkan luka apa apa.