Pukulan Naga Sakti Jilid 10

 
Jilid 10

Selama hidup belum pernah Thi Eng khi menjumpai orang yang begini tak tahu ma¬lu seperti dia, ia benar benar dibikin menangis tak bisa tertawapun tak dapat.

"Aku tak jadi masuk!" katanya kemudi¬an.

Diam diam sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera menyumpah :

"Sialan kau, memangnya kau anggap lohu memandang sebelah mata kepada dirimu?"

Namun diluaran dia tetap menjura sambil berkata : ''Saudara cilik, bila kau masih saja marah, Put ji segera akan

berlutut dihadapanmu, barusan Put ji tidak tahu kalau saudara cilik mempunyai hubungan yang erat dengan Cu pangcu, bila telah berbuat kelancangan, harap kau sudi memaafkannya."

"Hmm, siapa yang menjadi saudara cilikmu? Kalau berbicara sedikitlah berhati hati," seru Thi Eng khi amat gusar.

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji memang betul betul berkepandaian hebat, begitu ia sudah mengincar sasarannya, maka sekalipun kau menghajar atau mendamprat dirinya, ia tak akan ambil perduli, bahkan dia berusaha terus untuk melunakkan hati lawannya.

Sekarang, walaupun dalam hati kecilnya dia sedang menyumpahi Thi Eng khi dengan kata kata yang paling kotor dan keji, namun wajahnya sama sekali tidak menampilkan perasaan tak senangnya, malah sambil munduk munduk kembali dia berkata :

“Baik, baik, harap Thi ciangbunjin jangan marah, Put Ji tidak berani, Put ji tidak berani. Thian liong pay memang suatu perguruan yang amat termashur dalam dunia persilatan, Thi ciangbunjin pasti mempunyai jiwa yang besar dan tak mempersoalkan kesalahan seorang siaujin, silahkan, silahkan, Thi ciangbunjin silahkan masuk." Pinggangnya telah dibungkukkan dalam dalam, kepalanya hampir saja menempel di atas permukaan tanah.

Thi Eng khi sudah terlanjur dibuat sewot, dia sama sekali tidak menggubris perkataan lawan.

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang menyaksikan kejadian itu kembali tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh...... haaahhh...... haaahhh Put ji siauseng adalah

seorang yang terlalu memegang teguh akan sopan santun, saudara cilik, jangan lupa kalau kita masih mempunyai urusan serius, terimalah permintaan maaf dari Put Ji siauseng itu.”

Dengan langkah lebar Thi Eng khi masuk ke dalam ruangan, hanya hidungnya mendengus dingin berulang kali untuk melampiaskan rasa mendongkol dalam hatinya.

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji mengikuti dibelakangnya, setelah mempersembahkan air teh, kembali dia menjura dalam dalam sembari ujarnya :

“Cu pangcu ada petunjuk apa? Lu Put ji sudah siap sedia untuk mendengarkannya!”

“Lu Put ji, sejak kapan kau telah mendatangi gedung Bu lim tit it keh ?”

Diam-diam sastrawan penyapu lantai Lu Put ji merasa bangga sekali, pikirnya :

“Sekarang, lihat saja kehebatanku!”

Sikapnya dengan cepat berubah, mukanya juga tidak dihiasi lagi dengan senyuman yang licik dan tengik.

Setelah mendehem beberapa kali, pelan pelan dia berkata : “Yaa, memang ada kejadian demikian, soal ini ..... soal ini ” Setengah harian lamanya dia mengulangi kata katanya itu tanpa ada kelanjutannya.

Tentu saja pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po cukup mengenali kebiasaan jeleknya itu, iapun enggan untuk berkata sopan lagi, secara blak blakan tegurnya :

"Apa syaratmu?"

Meski sederhana kata katanya namun menyudutkan.

Ternyata Sastrawan penyapu lantai tidak kelihatan malu, malah dia lantas mengacungkan kelima jari tangannya,

“Yang kuning atau yang putih?" tanya pengemis itu lagi. "Aku tahu kalau perkumpulanmu adalah sebuah perkumpulan

besar, tentunya kau tak akan menganggapnya sebagai yang putih bukan?"

"Haaahh... haaahh... haaah bagus sekali, nah sambutlah apa

yang kau minta ini.“

Lima buah senjata emas dengan membawa desingan angin tajam langsung meluncur kehadapan Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji, gerakan benda itu hebat sekali.

Rupanya sewaktu menyambit benda tadi pengemis sakti bermata harimau telah menyertakan tenaganya sebesar delapan bagian.

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera tersenyum, dengan gerakan Puh hong cui im (menangkap angin membekuk bayangan) dia sambar benda tersebut, tahu tahu lima batang uang emas yang masing masing sepuluh tahil beratnya itu sudah berada ditangannya.

Dengan diperhatikannya gerakan tersebut maka dapat diketahui kalau tenaga dalam yang dia miliki sama sekali tidak berada di bawah kemampuan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po. Sekalipun dia memiliki kepandaian sehebat itu, sayang ia justru kemaruk harta malahan diapun tak segan-segannya untuk berlutut dan mengumpak pengemis tua tersebut. Sikap yang tengik dan memalukan semacam ini tak akan orang sangka bisa dilakukan oleh manusia macam dia itu.

Sesudah menyambut uang emas tersebut, Sastrawan penyapu lantai Lu put ji masih menimang nimang dulu bobotnya dan menggigit emas itu untuk memeriksa asli tidaknya. Sikap tengik macam begini, lebih lebih memuakkan siapapun yang melihatnya.

Tapi kemudian ia merasa puas sekali, sahutnya kemudian dengan singkat :

“Bulan enam tanggal tujuh belas!“

Hanya lima patah kata itu saja yang disuarakan, kemudian ia kembali membungkam.

Kalau dihitung dengan jumlah upah yang didapatkan, berarti sepatah kata bernilai sepuluh tahil uang emas.

“Apa pula yang berhasil kau temukan?“ desak Thi Eng khi lebih lanjut.

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji kembali manggut manggut lalu menggeleng, kembali dia memperlihatkan kelima buah jari tangannya.

Thi Eng khi menjadi gusar sekali, bentaknya : “Tak tahu malu “

Tapi akhirnya diapun tak mampu melanjutkan caci makinya itu. Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera tertawa,

ujarnya :

''Beginilah kebiasaan dari Lu put ji bila kita tidak menuruti harga yang dimintanya, sekalipun membunuhnya juga jangan harap bisa memaksanya mengucapkan sepatah katapun." Thi Eng khi merasa sangat tidak puas, segera ujarnya : “Siaute yakin masih sanggup untuk memaksanya berbicara!”

Dia segera bangkit berdiri dan siap sedia untuk menggunakan ilmu sakti dari partai Thian liong pay untuk menaklukkan Lu Put ji serta memaksanya berbicara.

Buru buru pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menggoyangkan tangannya mencegah :

“Saudara cilik, cara semacam itu tak ada gunanya buat Lu Put ji, lebih baik lihat saja cara engkoh tuamu.”

Dengan wajah serius dia lantas berpaling ke arah Lu Put ji sambil ujarnya :

“Lebih baik kita bicara borongan saja, kau harus menjawab semua pertanyaan yang kami ajukan, untuk itu berapa banyak yang kau minta?”

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera memperlihatkan sinar mata rakusnya, dengan perasaan seperti terpaksa, ia berkata :

“Waaah.... kalau ..... kalau main borongan , aku akulah yang

bakal rugi besar.“

Tapi kemudian sambil membusungkan dadanya, ia berkata dengan sikap yang gagah.

“Dihari hari biasa aku tak pernah menunjukkan kebaktianku untuk Cu pangcu, baiklah, untuk langganan bagaimana kalau aku minta lima ratus saja?“ Yang dimaksud sebagai lima ratus, sudah barang tentu lima ratus tahil uang emas.

Mencorong sinar mata berapi api dari balik mata Thi Eng khi, serunya sambil mendepak depakkan kakinya ke lantai :

“Hatimu terlalu hitam, cara kerjamu terlalu rendah, tengik dan terkutuk!“

Sebaliknya pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po berkata sambil tertawa : “Tidak banyak, memang tidak banyak, hari ini Lu Put ji memang cukup bersahabat!“

Selintas rasa bangga segera menghiasi wajah sastrawan penyapu lantai Lu Put ji katanya:

“Biasanya orang yang berkedudukan tinggi jadi orang lebih sosial, Cu pangcu memang memiliki kelebihan daripada orang lain, berbeda dengan Thi ciangbunjin yang terlalu memandang rendah diriku.“

Thi Eng khi hanya berkerut kening belaka, tampaknya ia tak sudi berbicara lagi dengannya.

Sementara itu, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sedang merogoh sakunya kesana kemari, biar miskin diluar ternyata sakunya tidak miskin, entah berapa banyak barang berharga yang dibawa olehnya.

Dari dalam salah satu sakunya, akhirnya dia berhasil mengeluarkan sebuah mutiara yang besar sekali dan memancarkan sinar kemerah merahan yang tipis.

“Lu Put ji“ serunya kemudian sambil mengangkat tinggi tinggi benda tersebut, “tentunya kau juga tahu barang. “Coba lihatlah, apakah mutiara ini laku lima ratus tahil?“

Begitu melihat mutiara tersebut, sepasang mata sastrawan penyaou lantai itu kontan terbelalak lebar-lebar, dengan cepat dia mengangguk berulang kali.

“Cukup, cukup!“

Tangannya segera dijulurkan kedepan siap menerima mutiara tersebut dari tangan pengemis tua itu.

Tapi Cu Goan po segera menarik kembali tangannya, dia berkata

:

“Benda itu sudah menjadi milikmu, namun kau harus

menerangkan dahulu apa yang terjadi dalam gedung Bu lim tit it keh pada bulan enam tanggal tujuh belas nanti?” Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji menelan air liurnya berulang kali, serunya cepat :

“Lebih baik lebih baik mutiara itu kau serahkan dulu kepadaku

.....”

“Memangnya kau tidak percaya dengan diriku?” bentak Cu Goan po dengan mata melotot.

“Tidak berani, tidak berani,” seru sastrawan penyapu lantai Lu Put ji sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, “memang begitulah peraturanku selama ini.”

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera tertawa seram.

“Haahhh.... haahhh.... haahhhh lohu justru akan menyaksikan

dirimu untuk merusak peraturan tersebut, tentunya kau juga tahu, nilai dari mutiara Thian hiang cu ini bukan hanya lima ratus saja, kalau tidak besok saja kita bicarakan lagi setelah kubawa uang emasnya kemari.”

Seraya berkata dia lantas masukkan kembali mutiara tersebut kedalam sakunya.

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji bukan seseorang yang tidak luas pengetahuannya, dia tentu saja mengetahui nilai dari mutiara tersebut, sepasang matanya yang kurus sudah sedari tadi mengawasi benda itu tanpa berkedip, kalau bisa dia ingin sekali cepat cepat memperoleh mutia¬ra Thian hiang cu itu.

Betul mutiara itu tidak terlampau besar, akan tetapi justru merupakan benda mestika yang tidak ternilai harganya, tentu saja dia tak ingin membiarkan benda itu disimpan kembali oleh pengemis tua itu.

Dengan perasaan gelisah dan cemas, buru buru serunya : “Berada di hadapan pangcu, apalah artinya benda itu? Jangankan

hanya sebuah peraturan kecil yang tak ada harganya untuk dibicarakan, sekalipun ada masalah yang amat besar, asal pangcu mengucapkan sepatah kata saja, aku disuruh terjun ke air, aku akan terjun ke air, suruh terjun ke api, akupun akan terjun ke api, semuanya akan kulakukan dengan segera tanpa membantah.”

“Tak usah banyak berbicara, bila kau menginginkan mutiara itu, maka ucapanku musti kau turuti!” tukas Cu Goan po cepat.

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan :

"Benda apa saja yang berhasil kau dapatkan dalam ruang Sin tong partai Thian liong pay di gedung Bu lim tit it keh?“

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji tak berani berbohong lagi dengan berterus terang sahutnya :

''Dalam ruang Sin tong partai Thian li¬ong pay, aku telah menemukan rahasia besar, maka sewaktu tombol rahasia kutekan, meja altar Thian liong pay itu mendadak tenggelam kebawah, kemudian muncul seekor naga emas yang sedang mementangkan cakarnya, dalam cakar itu tampak secarik kertas, maka kuambil kertas itu dan mengembalikan alat rahasianya seperti sedia kala."

Thi Eng khi ingin cepat cepat mengetahui isi surat itu, dengan cepat dia menimbrung : "Surat itu sekarang berada dimana?"

“Thi ciangburjin, lebih baik kau jangan turut bertanya, sebab hal ini akan kuhitung dengan tarif baru."

Thi Eng khi menjadi betul betul naik darah, bentaknya keras keras :

"Bangsat, kau benar benar seorang manusia yang tak tahu malu, lihatlah kubacok dirimu!"

"Saudara cilik “ pengemis sakti bermata harimau segera

berteriak keras.

Dengan cepat dia memberi kerdipan mata kepadanya agar mendengarkan dengan tenang, lalu tanyanya pula kepada Lu Put ji :

"Kau sendiri melakukan apa pula ditempat tersebut?" "Oooh aku cuma meninggalkan secarik surat pohon liu dan

kupu kupu dibalik cakar naga emas itu.”

“Apa yang kau tulis diatas kertas surat pohon liu dan kupu-kupu tadi “

“Aku hanya menulis begini : Hahahaha lohu lebih hebat dan

berhasil mendahului kalian!“

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po manggut manggut, dia mengakui bahwa sastrawan penyapu lantai memang tidak berbohong, maka diapun lantas bertanya lebih jauh :

“Kemana larinya surat yang asli itu sekarang?“ “Telah kujual!“

Saat itu Thi Eng khi benar-benar tidak tahan lagi, mendadak ia melejit keudara dan menubruk keatas tubuh sastrawan penyapu lantai Lu Put ji ......

Menghadapi serangan tersebut, Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji tertawa dingin, dengan cepat kakinya bergeser kekiri dan kekanan diiringi gerakan lengannya kesana kemari secara beruntun dia telah berganti lima enam tempat dengan arah yang berlainan, didalam anggapannya semula, tubrukan dari Thi Eng khi tersebut sudah pasti akan mengenai sasaran yang kosong.

Siapa sangka, gerakan tubuh dari Thi Eng khi sungguh cepat sekali, tubrukannya ibarat cacing dalam perut, entah kemanapun dia menghindar atau bergeser, ia tak pernah berhasil melepaskan diri dari incaran jari tangan Thi Eng khi.

Sekarang sastrawan penyapu lantai Lu Put ji baru tahu kalau ilmu silat yang dimiliki Thi Eng khi benar-benar lihay sekali.

Baru saja dia akan merubah taktik pertarungannya, tahu-tahu jalan darah Cian keng hiat diatas bahunya menjadi kaku, sepasang lengannya bagaikan lumpuh saja, segera kehilangan semua tenaganya dan terjulur lemas ke bawah. Sambil menekan bahu Sastrawan penyapu lantai, Thi Eng khi segera membentak keras :

“Hayo jawab, sudah kau jual kepada siapa?“

Kalau tadi sastrawan penyapu lantai Lu Put ji bersikap sungkan kepada Thi Eng khi, hal ini sebenarnya lantaran pengaruh dari Kay pang pangcu Cu Goan po.

Tapi sekarang, setelah ia kena ditaklukkan oleh Thi Eng khi secara gampang, timbul perasaan keder dalam hati kecilnya, terhadap Thi Eng khi pun ia menjadi ketakutan setengah mati.

Sedemikian takutnya dia kepada pemuda ini, bahkan sampai sepatah katapun tak sanggup diutarakan, selembar wajahnya yang tampan kini kelihatan berubah menjadi merah padam seperti babi panggang.

Hou bok sin kay Cu Goan po buru buru menyelinap datang, lalu katanya kepada Thi Eng khi :

“Saudara cilik, jangan terburu napsu, pikir yang cermat, tanya yang seksama, dengan begitu urusan baru tidak terbengkalai.“

Sesungguhnya Thi Eng khi hanya terpengaruh emosi saja sehingga melakukan tindakan tersebut tapi pada dasarmya dia cerdas maka tak usah berpikir lebih jauh diapun sadar bahwa dirinya sudah melanggar pantangan.

Gara-gara urusan sepele hampir terbengkalai urusan sebenarnya maka dengan cepat dia melepaskan si sastrawan penyapu lantai Lu Put ji dari cengkeraman.

“Lu Put ji,“ ia berkata sambil tertawa dingin, “kuharap kau menjawab dengan sejujurnya daripada aku musti memberi pelajaran lagi kepada dirimu “

Pelan-pelan ia mundur kembali ke tempat semula. Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera menggerakkan sebentar sepasang bahunya lalu sahutnya dengan ketakutan :

“Baik! Baik! Apa yang kuketahui, pasti akan kujawab dengan sejujurnya “

“Baik, coba kau terangkan kertas tersebut telah kau jual kepada siapa ?“ tanya si pengemis sakti bermata harimau kemudian.

Buru-buru sastrawan penyapu lantai Lu Put ji menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya :

“Aku betul-betul tidak tahu siapakah orang yang membeli kertas tersebut.“

“Lu Put ji!“ tegur pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sambil melotot, “kau termashur karena pengetahuanmu yang amat luas, mustahil bila kau tidak kenal dengan orang itu, hayo jawab saja siapa dia yang sesungguhnya? Daripada merasakan penderitaan yang sama sekali tak ada gunanya.“

Dengan muka hampir menangis, sastrawan penyapu lantai Lu Put ji kembali merengek :

“Bila orang itu adalah seorang manusia yang punya nama dalam dunia persilatan, sudah barang tentu aku akan mengenalnya, tapi orang itu baru berusia delapan sembilan belas tahunan, aku benar benar tak tahu dia berasal dari mana.“

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po berpikir sabentar, lalu berkata :

"Kalau begitu coba kau lukiskan saja bagaimanakah bentuk raut wajahnya itu."

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji berpikir sejenak, lalu sahutnya dengan cepat.

“Dia adalah seorang sastrawan muda yang memakai baju berwarna putih dengan mantel berwarna perak, perawakan tubuhnya sedang tidak kelewat tinggi juga tidak kelewat pendek, seraut wajahnya amat tampan, bahkan tiga bagian lebih ganteng daripada Thi ciangbunjin. Cuma sayang tidak memiliki sinar kegagahan. Waktu itu, akupun pernah menanyakan tentang asal usulnya. Tapi lantaran dia tidak menyahut maka akupun jadi segan untuk bertanya lagi ”

Tiba-tiba Thi Eng khi bertanya :

“Berapa uang kau jual kertas itu kepadanya?”

Dari dalam sakunya sastrawan penyapu lantai Lu Put ji mengeluarkan sebuah mainan Giok bei yang satu inci lebih enam panjangnya, kemudian menyahut :

“Pemuda itu persis seperti Cu pangcu dalam melakukan perjalanannya tak pernah membawa uang emas dalam jumlah banyak, maka dia membayar harga dari kertas tersebut dengan mainan kemala ini!”

“Apa yang tertulis diatas kertas itu?” sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera berkerut kening.

“Soal ini tak bisa kuberitahukan kepada kalian!” sahutnya dengan perasaan berat hati.

“Kau hendak menjual mahal lagi?” bentak Thi Eng khi dengan gusar.

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera tertawa getir lagi, ucapnya pelan :

“Bukannya aku enggan memberitahukan hal itu kepadamu, cuma aku telah terlanjur meluluskan permintaan pemuda itu untuk tidak membocorkan isi kertas tadi kepada siapapun juga. Thi ciangbunjin dan Cu pangcu tentunya tahu bukan bahwa menjadi seorang manusia harus memegang janji? Tapi bila kalian bersikeras akan memaksa aku untuk mengingkari janji, tentu saja aku tak akan berani menolak.”

Ucapan dari sastrawan penyapu lantai Lu Put ji ini diucapkan dengan amat diplomatis, tentu saja dia dapat mengingkar janji dalam keadaan terdesak, namun tanggung jawab dari tindakannya itu harus dipikul sendiri oleh Cu Goan po serta Thi Eng khi dua orang.  Padahal setiap umat persilatan mengutamakan soal pegang janji, sekalipun Cu Goan po serta Thi Eng Khi sangat ingin mengetahui isi surat yang sebenarnya, mereka tak ingin melakukan suatu perbuatan yang bisa memaksa orang lain untuk melakukan suatu perbuatan yang mengingkari janji.

Seandainya mereka adalah kawanan iblis dari kaum sesat, sudah barang tentu persoalan semacam ini tak akan diperhatikan sama sekali.

Pelan-pelan si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po mengalihkan sorot matanya ke atas wajah Thi Eng khi, setelah itu sambil menggelengkan kepalanya dan menghela napas, dia berkata :

“Saudara cilik tampaknya perjalanan kita kali ini juga sia-sia belaka…..!”

Thi Eng khi sendiripun merasa amat sedih, tapi ketika sorot matanya membentur kembali dengan mainan Giok bei yang berada di tangan sastrawan penyapu lantai Lu Put ji, tiba-tiba saja semangatnya berkobar kembali.

“Lu Put ji,” katanya kemudian, “kau jelas mengetahui kalau kami tak akan melakukan perbuatan yang menjerumuskan orang kedalam pengingkaran janji maka kau gunakan kata-kata semacam itu untuk membungkam kami, baik kuakui akan kelihayanmu tersebut dan kamipun tak akan menanyakan lagi isi surat itu kepadamu tapi kau harus menyerahkan mainan Giok bei itu kepadaku, sebab hanya inilah merupakan satu-satunya titik terang dari orang itu yang dapat kami lacaki.”

"Tidak bisa, tidak bisa," seru Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji sambil menggeleng, “mainan Giok bei merupakan pembayaran dari orang itu untuk kertas surat tersebut, bila mainan ini harus kuberikan kepada kalian sekarang, bukankah kertas itu sama artinya kuberikan kepada orang lain dengan gratis?”

Thi Eng khi sungguh tak tahu harus menggunakan kata apa untuk memaki orang itu, dia merasa dalam dunia saat ini mungkin tiada orang kedua yang memiliki watak semacam dia itu. Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera mendengus dingin.

“Hmmm. ! Lu Put ji, kau jangan terlalu memberatkan benda

mestika daripada nyawa, ketahuilah mutiara Thian hiang cu milik aku si pengemis tua masih belum dapat kuserahkan kepadamu!“

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji semakin gugup dibuatnya, namun perasaan tersebut tak berani dia perlihatkan diatas mukanya, maka katanya kemudian :

“Cu toa pangcu, apakah kau hendak mengingkari janji?“

“Tindakanku ini belum dapat dianggap mengingkari janji, karena kau tidak memberitahukan isi surat itu kepada kami, berarti kau pun tidak memenuhi syarat yang kami ajukan, yakni menjawab setiap pertanyaan yang kami ajukan kepadamu, andaikata mutiara Thian hiang cu ini harus diserahkan kepadamu, maka aku hanya bisa menyerahkan separuh saja dari benda ini.“

Mendadak Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji menggigit bibirnya menahan diri kemudian berkata :

“Baik akan kuberitahukan isi surat itu kepada kalian.“

Pengemis sakti bermata harimau segera tertawa terbahak-bahak. “Haaahhhh..... haaahhhh..... haaahhh sayang sekali kau sudah

terlanjur meluluskan permintaan orang, sekalipun kau dapat menebalkan muka untuk mengingkari janji namun pun pangcu dan Thi ciangbunjin bukan manusia semacam itu. Kami tak akan melakukan perbuatan yang mendorong orang untuk mengingkari janji. Lebih baik serahkan saja mainan Giok bei itu kepada kami sebagai alasan bahwa kau tak perlu menepati janji lagi, sedang pun pangcu akan menyerahkan mutiara Thian hiang cu itu kepadamu, dengan demikian kaupun tidak terlampau rugi dibuatnya....

bagaimana? Setuju tidak?“

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji benar-benar enggan untuk mengorbankan mainan Giok bei yang berada ditangannya itu, tapi dia lebih lebih merasa berat hati untuk kehilangan mutiara Thian hiang cu tersebut, akhirnya dia cuma bisa menghela napas, setelah menelan air liur, dengan wajah meringis, katanya :

“Setelah kuserahkan mainan Giok bei itu kepada kalian, tentunya kalian tak akan mencari alasan yang lain?“

“Omong kosong,“ bentak pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po keras-keras, “kalau kau tidak percaya, lebih baik kami minta diri saja!“

Selesai berkata dia lantas menarik tangan Thi Eng khi untuk diajak pergi meninggalkan tempat itu.

Buru-buru sastrawan penyapu lantai Lu Put ji menghadang jalan pergi mereka kemudian sambil menyerahkan main Giok bei tersebut, ujarnya agak tersipu sipu :

“Aku bersedia menyerahkan mainan Giok bei ini kepada Cu lo, harap Cu lo bersedia untuk menerimanya.“

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sama sekali tidak memandang kearahnya walaupun hanya sekejap mata setelah menerima mainan Giok bei dan masukkan kedalam saku, dia serahkan mutiara Thian hiang cu tersebut kepadanya.

“Ketahuilah, andaikata aku si pengemis tua tidak merasa enggan untuk turun tangan terhadap manusia semacam kau, aku benar- benar ingin membacokmu sampai mamapus!“ serunya keras-keras, “sebelum kuinjak injak tubuhmu, rasanya belum hilang rasa mendongkol yang menggelora dalam dadaku!“

Begitu selesai berkata, sebuah pukulan lantas diayunkan untuk mendorong Lu Put ji kesamping, kemudian bersama Thi Eng khi meninggalkan ruangan Liu tiap cay tersebut.

Tapi belakang sana masih kedengaran Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji masih berseru dengan nada yang memuakkan :

“Benar,benar, kau orang tua memang seorang jago kaum lurus, memang tidak pantas turun tangan terhadap manusia rendah seperti aku, terima kasih banyak, terima kasih banyak atas kemurahan hati kau orang tua!“

Setelah berada jauh dari tempat atai, Thi Eng khi baru menghela napas sambil bergumam.

"Engkoh tua, tak kusangka dalam dunia ini bisa terdapat manusia yang tak tahu malu semacam itu, betul-betul suatu kejadian yang luar biasa sekali “

“Walaupun sastrawan penyapu lantai Lu Put ji termashur karena mukanya yang tebal dan tak tahu malu, paling tidak dia masih mempunyai suatu kebaikan yang jauh lebih hebat daripada kebanyakan orang lainnya “

“Dia masih memiliki kebaikan apa lagi?“ tanya Thi Eng khi dengan mata terbelalak karena terkejut bercampur keheranan.

“Paling tidak ia tak pernah berbohong!“

Mendengar itu, Thi Eng khi segera menghela napas panjang. “Aaai. sekalipun sudah memiliki mainan Giok bei ini,

kemanakah kita harus mencari orang yang bermantel perak itu?“

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhhh..... haaahhhh.... haaaahhhh soal ini tak usah kau

kuatirkan, anak murid perkumpulanku telah tersebar di seluruh kolong langit, tidak sulit untuk menemukan jejak orang itu.“

Baru selesai dia berkata mendadak pengemis itu berseru tertahan lalu serunya sambil menunjuk kedepan :

“Saudara cilik, coba kau lihat itu “

Thi Eng khi turut mendongakkan kepalanya, kemudian dengan girang serunya cepat : “Aaah, dia adalah orang yang mengenakan mantel berwarna perak!“

Tanpa banyak berbicara lagi, dia lantas melompat kedepan dan mengejar kearah orang itu.

Agaknya orang bermantel perak itu sedang ada urusan penting gerakan tubuhnya cepat bagaikan sambaran kilat, dari situ dapat terlihat bahwa ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu benar benar telah mencapai pada puncak kesempurnaan.

Namun Thi Eng khi juga bukan orang sembarangan setelah melatih kepandaian sakti dari kitab pusaka Thian liong pit kip selama hampir setahun lamanya, dia telah berhasil melebur semua obat- obatan yang ada dalam tubuhnya dengan tenaga murni yang dia latih, begitu ilmu Im liong sin hoat (gerakan tubuh naga diawan) dikerahkan, kecepatan gerakan tubuhnya ternyata masih setingkat lebih hebat daripada orang bermantel perak yang berada dihadapannya itu.

Dalam waktu singkat, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sudah tertinggal entah dimana.

Selisih jarak diantara mereka makin lama semakin mendekat, dalam girangnya Thi Eng khi Eng segera menegur :

“Saudara yang berada di depan, harap tunggu sebentar, aku Thi Eng khi ada urusan hendak meminta pertunjukmu!”

Entah orang itu tidak mendengar seruan itu atau enggan menjawab, tiba-tiba berbelok searah sebuah hutan yang lebat dan menyelinap kedalamnya, dalam beberapa kali lompatan saja, bayangan tubuh sudah lenyap dari pandangan mata.

Hampir meledak dada Thi Eng khi saking mendongkolnya, dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya semakin hebat, dari kaki bukit sampai puncak bukit diperiksa dengan seksama, namun hasilnya tetap nihil.

Sekarang, anak muda itu benar-benar merasa mendongkol bukan buatan, kalau bisa dia benar benar ingin membacok tubuh orang itu dan mencincangnya menjadi berkeping sehingga rasa mendongkolnya dapat dilampiaskan.

Namun bayangan tubuh orang itu seakan akan sudah tertelan dibalik hutan belukar itu, bagaimanapun seksama penggeledahan yang dilakukan oleh Thi Eng khi, bayangan tubuhnya sama sekali tidak ditemukan lagi.

Lambat laun Thi Eng khi makin terjerumus ke tengah bukit yang makin jauh kedalam.

Bukit ini sungguh aneh sekali bentuknya, seluruh bukit penuh dengan pepohonan yang lebat tapi puncaknya justru gundul dan tiada sebatang pohon pun yang tumbuh, sekan akan sekeliling tempat itu sudah dibabat oleh pisau yang tajam.

Thi Eng khi memperhatikan sekeliling tempat itu dengan seksama

, mendadak wajahnya menjadi tertegun, lalu berseru tertahan, gumamnya kemudian dengan nada tercengang bercampur kaget :

“Bukankah dia adalah So yaya?”

Ternyata di atas puncak bukit yang gundul itu tampak Tiang pek lojin So Seng pak sedang berjalan kesana kemari sambil menggendong tangan, dia seperti lagi menantikan sesuatu.

Baru saja Thi Eng khi akan menampakkan diri untuk berjumpa dengannya, terdengar Tiang pek lojin berteriak sambil tertawa gusar

:

“Lohu sudah dua jam lamanya menantikan kedatanganmu, mengapa kau belum juga menampakkan diri!”

Baru habis suara bentakan itu berkumandang, dari arah barat laut sana muncul dua orang manusia, seorang lelaki dan seorang perempuan.

Begitu Thi Eng khi melihat orang lelaki itu, hawa amarahnya kontan berkobar dengan hebatnya, tapi setelah berpikir sejenak, dia lantas melompat naik keatas sebatang pohon besar dan menyembunyikan diri. Ternyata lelaki dan perempuan yang menampakkan diri itu tak lain adalah lo sancu dari istana Ban seng kiong, Huan im sin ang (kakek sakti bayangan semu), sedangkan yang perempuan tentu saja Pek leng siancu atau yang sekarang menjadi putri Ban seng kiong, So Bwe leng.

Dengan langkah lebar, Huan im sing ang membawa So Bwe leng menuju ke hadapan Tiang pek lojin.

Waktu itu Pek leng siancu So Bwe leng mengenakan topeng kulit manusia, sehingga Tiang pek lojin sama sekali tidak tahu kalau dia adalah cucu kesayangannya.

Sementara itu, terdengar Tiang pek lojin berkata dengan dingin : “Engkaukah orang yang telah mengundang kedatangan lohu

kemari?”

Huan im sin ang segera tertawa kering. “Benar, memang pun sancu!”

Dia takut Tiang pek lojin tidak tahu dia berasal dari bukit mana, maka sengaja tambahnya :

“Lo sancu dari istana Ban seng kiong!”

Tiang pek lojin memperhatikan beberapa saat perempuan cantik yang berada disamping Huan im sin ang, kemudian sambil menatap wajah kakek itu lekat-lekat bentaknya :

“Kemana perginya cucu perempuanku Bwe leng?”

Pek leng siancu So Bwe leng yang mengenakan topeng kulit manusia itu merasakan sekujur badannya gemetar keras, dengan cepat ia bergerak kemuka dan menubruk kedalam pelukan Tiang pek lojin.

Sementara itu mulutnya hanya berbunyi yaya…. Yaya…… belaka, tak sepatah katapun yang sanggup diucapkan. Rupanya Huan im sing ang cukup memahami perangai dari Pek leng siancu So Bwe leng, dia tahu kalau gadis itu mudah terpengaruh oleh emosi, bila selintas pikiran melintas dalam benaknya, bisa jadi dia akan mengumbar emosinya tanpa memperdulikan diri, seandainya sampai demikian, sudah pasti perjanjiannya dengan gadis itu tak akan menimbulkan keuntungan apa-apa.

Maka sebelum mereka menampilkan diri tadi, secara tiba-tiba dia telah turun tangan menotok jalan darah bisu dari Pek leng siancu So Bwe leng, kemudian dia takut gadis itu melepaskan topeng kulit manusianya, maka sepasang tangannya juga turut ditotok sekalian.

Walaupun demikian, ternyata Pek leng siancu So Bwe leng masih tetap nekad menubruk ke dalam pelukan Tiang pek lojin.

Tentu saja Tiang pek lojin tidak mengira kalau gadis cantik yang menerjang ke dalam pelukannya itu adalah cucu kesayangannya.

Dalam keadaan demikian, dengan kedudukannya dalam dunia persilatan, tentu saja ia tak akan membiarkan seorang gadis yang tidak diketahui asal usulnya menubruk ke dalam pelukannya.

Dengan cekatan ujung bajunya segera dikebaskan ke depan melepaskan sebuah angin pukulan yang cukup kuat untuk melepaskan tubuh Pek leng siancu So Bwe leng sejauh satu kaki dari tempat semula.

Begitu kena dilempar oleh tenaga sapuan dari Tiang pek lojin dengan cepat So Bwe leng menjadi sadar kembali dengan keadaan yang sedang dihadapinya, dengan cepat dia melompat bangun lalu kakinya memperlihatkan beberapa macam gerakan langkah yang sakti dan rahasia.

Beberapa macam ilmu langkah tersebut merupakan ajaran khusus dari Tiang pek lojin untuk cucu perempuan kesayangannya ini, dengan mempergunakannya pada saat ini maka sebenarnya So Bwe leng hendak menarik perhatian Tiang pek lojin agar menebak asal usulnya.

Tiang pek lojin adalah seorang jago kawakan dalam dunia persilatan yang berpengalaman luas, sejak dari gerakan tubuh yang dilakukan So Bwe leng kemudian menyaksikan bayangan tubuh dari gadis itu, apalagi setelah menyaksikan sorot mata sinona yang murung dan sedih, dia telah menaruh curiga akan asal usul gadis tersebut.

Demikianlah setelah berpikir sebentar, dia lantas maju ke depan dan mencengkeram bahu Pek leng siancu So Bwe leng sambil menegurnya :

“Siapakah kau?”

Dengan kemampuan yang dimiliki Tiang pek lojin bukan suatu pekerjaan yang sulit baginya untuk menangkap gadis itu, meski jaraknya masih ada satu kaki lebih.

Akan tetapi Huan im sin ang tidak berdiam diri belaka, dengan cekatan ia melayang kedepan menghadang dihadapan Pek leng siancu So Bwe leng.

“Tua Bangka So, “katanya sambil tertawa seram, “apa-apaan kau ini? Jika ingin bertarung lohu akan melayani dirimu!”

Sekalipun Tiang pek lojin ingin bertarung juga tak akan bertarung dalam keadaan begini, sambil tertawa dingin, dia lantas melayang mundur kembali ketempat semula.

“Sancu, kau mengundang kedatangan lohu dengan janji akan mempertemukan lohu dengan cucu perempuanku, sekarang dimana orangnya?” ia menegur dengan wajah dingin.

Huan im sin ang mengerdipkan matanya berulang kali, kemudian tertawa licik. “Heeehhh…. Heeehhh… heehh… kita sama-sama adalah orang yang telah berusia lanjut mengapa tidak tenangkan dulu hati kita masing-masing baru membincangkan pelan-pelan?”

Tiang pek lojin segera berpikir :

“Asal telah bersua muka, lohu tidak kuatir kau bisa kabur keujung langit, baiklah akan kulihat dulu permainan busuk apalagi yang akan dia perlihatkan kepadaku.”

Berpikir demikian, dia lantas menekan hawa amarahnya dan berkata dengan ketus :

“Sudah lama lohu mendengar nama besarmu, hari ini aku ingin baik-baik meminta petunjuk darimu!”

“Aaaah, mana, mana, So lo terlalu memuji,“ ucap Huan im sin ang sinis.

Kemudian setelah mundur selangkah, serunya kepada So Bwe leng :

“Nak, kemarilah, cepat member hormat kepada kakek dari So sumoaymu, Tiang pek lojin So locianpwe dari luar perbatasan!”

Sambil menahan rasa mendongkol yang berkobar-kobar dalam dadanya, terpaksa So Bwe leng harus maju ke depan dan member hormat.

Kembali Huan im sing ang berkata :

“Sejak dilahirkan bocah ini sudah menderita cacad dan tidak bisa berbicara, namun dia mempunyai hubungan yang paling baik dengan cucu perempuanmu Bwe leng.”

Dari pembicaraan Huan im sin ang tersebut, Tiang pek lojin telah mendengar bahwa cucu kesayangannya telah menjadi murid orang, hal ini sama artinya bahwa dia dengan Sancu dari Ban seng kiong telah mempunyai ikatan hubungan yang luar biasa, sebagai seorang jago kenamaan dalam dunia persilatan, tentu saja dia tahu akan pentingnya arti seorang guru. Betul, dia tak tahu bagaimana jalannya cerita sampai So Bwe leng mengangkat orang lain sebagai guru, namun dengan kedudukannya dalam dunia persilatan, tentu saja kenyataan tersebut harus diakui, apalagi sebagai pentolan dari suatu wilayah dunia persilatan, dia tak mau dicemooh orang dikemudian hari.

Demikianlah, setelah berkerut kening dan menghela napas katanya kemudian :

“Sancu, mengapa tidak kau katakan sendiri bahwa kau adalah gurunya Bwe leng? Hampir saja lohu kurang hormat kepadamu.”

Buru buru Huan im sing ang memohon maaf, sahutnya : “Setahun berselang, kebetulan lohu lewat dibukit Siong san dan

tertarik oleh bakat cucumu yang begitu baik maka aku telah menculiknya secara paksa, untuk itu kumohon maaf yang sebesar- besarnya, untung saja So lo juga terhitung umat persilatan, tentunya kau juga memaklumi bukan perasaan seorang umat persilatan bila menjumpai bakat bagus? Aku harap kau sudi memaklumi kesulitanku ini!”

Mendengar ucapan yang bergitu menarik hati, Tiang pek lojin tak dapat menarik muka lagi, dengan senyum tak senyum katanya kemudian :

“Lohu ucapkan banyak terima kasih atas kesudianmu untuk mendidik Bwe leng!”

Seraya berkata dia lantas menjura.

Huan im sin ang segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…. Haaahhhh…. Haahhh… kalau dibicarakan kembali, seharusnya akulah yang berterima kasih kepada lo enghiong!”

Dengan digunakannya kata”enghiong” jelaslah dia berusaha untuk pelan-pelan menariuk Tiang pek lojin untuk berpihak kepadanya.

Tiang pek lojin pun dari tersenyum menjadi tertawa tergelak. “Haahhhh…. Haaahhh…. Haahhh…. Sancu, apa maksud ucapanmu itu ….?”

Sambil memperlihatkan wajah yang riang, Huan im sin ang berkata :

“Bwe leng berbakat bagus sekali, belum sampai setahun dia telah menguasai segenap kepandaian silat yang kuwariskan kepadanya, kini dia sudah menjadi Ban sen kiongcu, bahkan dalam beberapa bulan saja ia sudah termashur diseluruh dunia dan banyak melakukan pahala untuk perguruannya, seandainya lo enghiong tidak memiliki cucu secerdas ini, mustahil perguruanku bisa termashur seperti sekarang ini, oleh karena itu, sudah sepantasnya jika kuucapkan banyak terima kasih kepada lo enghiong.”

Selesai berkata, dia benar-benar menjura kepada Tiang pek lojin.

Tiang pek lojin adalah orang yang telah berusia lanjut, biasanya bagi seorang yang telah lanjut usia seperti dia, lebih rela mengorbankan nama dan kedudukan sendiri daripada tidak memperhatikan kemajuan dan kesuksesan yang dihasilkan cucunya.

Seperti So Bwe leng yang telah menjadi Ban seng kiongcu misalnya, bagi Tiang pek lojin hal mana merupakan suatu kejadian yang menggembirakan sekali hingga diapun tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya.

Kemunculan Ban seng kiong didalam dunia persilatan baru berlangsung beberapa bulan, sebab itu kejahatan yang telah dilakukan pihak perguruan tersebut belum banyak yang terungkap, sebaliknya Tiang pek lojin juga tidak memikirkannya dengan bersungguh hati, maka dia hanya merasakan kegembiraannya saja.

Andaikata dia mengetahui Ban seng kiong yang sesungguhnya, mungkin untuk menangis pun tak akan dapat.

Huan im sin ang sendiripun merasa gembira sekali ketika dilihatnya hubungan antara Tiang pek lojin dengan Ban seng kiong selangkah demi selangkah makin mendekat, tanpa terasa dia tersenyum sendiri, “Kini Ban seng kiong telah dipimpin oleh cucumu,” demikian ia berkata lagi, “aku dengar, belakangan ini lo enghiong juga bentrok dengan para hwesio dari bukit Siong san gara-gara urusan Thi ciangbunjin dari Thian liong pay. Oleh karena itu, aku sengaja telah mendatangkan jago-jago terbaik dari bukit Wong soat hong di bukit Wu san guna membantu lo enghiong, cuma sebelumnya lohu ingin mengadakan kontak dulu denganmu, asal lo enghiong menganggukkan kepala, cucumu pasti akan segera berangkat untuk membantu usaha lo enghiong.”

Tergerak juga hati Tiang pek lojin setelah mendengar perkataan itu, tiba-tiba ia bertanya:

“Mengapa Bwe leng tidak datang sendiri untuk menjumpai diriku?”

Huan im sin ang segera tersenyum.

“Bwe ji kuatir lo enghiong marah kepadanya lantaran belajar silat denganku, maka ia tak berani datang kemari.”

Tiang pek lojin termenung beberapa saat lamanya, kemudian katanya lebih jauh :

“Ehmmm…. begini saja, usul kerja sama antara umat persilatan diluar perbatasan dengan pihak kalian, lohu harap bisa diperbincangkan setelah bersua dengan Bwe leng nanti, soal ini harap Sancu bersedia untuk memakluminya.”

Jelas Tiang pek lojin juga tidak gampang terkecoh, ia telah mempersiapkan jalan mundur sendiri.

“Dari pihak Ban seng kiong, aku dapat mewakilinya untuk mengambil keputusan,” kata Huan im sin ang, “jadi Leng ji datang atau tidak sudah bukan masalah lagi, apalagi lo enghiong sudah lama berpisah dengan Leng ji, bila berjumpa lagi nanti tentu banyak masalah yang harus dibicarakan, entah bagaimana menurut pendapat Lo enghiong?”

Tiang pek lojin segera manggut-manggut. “Masuk diakal juga perkataan Sancu itu.”

Belum habis dia berkata, mendadak sambil berpaling ke sebelah kiri, bentaknya :

“Siapa disitu?”

“Mungkin anak buahku …..” kata Huan im sin ang.

Tampak sekilas cahaya perak berkelebat lewat, tahu-tahu diatas puncak bukit itu telah bertambah dengan seorang pemuda bermantel perak.

Belum habis Huan im sin ang berkata, cahaya perak telah melintas lewat dan pemuda tampan bermantel perak itu sudah memunculkan diri di tengah arena.

Pemuda ini baru berusia dua puluh tahunan, wajahnya bersih dan tampan, sikapnya anggun dan berwibawa, membuat siapapun tak berani memandang remeh dirinya.

Dengan langkah yang anggun dia maju beberapa langkah ke depan, kemudian katanya kepada Huan im sin ang sambil tertawa : “Siauseng dengan Sancu bukan berasal dari satu aliran yang

sama.”

Huan im sin ang sudah rikuh karena salah melihat orang, tak tahunya pihak lawan malah mengetahui juga bahwa dia adalah seorang Sancu, dari sini dapat diketahui bahwa orang tersebut bermaksud jelek malah besar kemungkinannya ia sudah cukup lama menyadap pembicaraan yang sedang berlangsung.

Maka dengan amarah yang meluap segera tegurnya dengan dingin.

“Kalau dilihat dari dandananmu, agaknya kau seperti anak sekolahan yang mengerti sopan santun, hai, tahukah kau bahwa menyadap pembicaraan orang merupakan suatu perbuatan yang tak sopan.” Tampaknya pemuda tampan itu seorang yang pemalu, teguran tersebut seketika membuat paras mukanya menjadi merah karena jengah.

“Sebenarnya siauseng tidak berniat untuk menyadap pembicaraan kalian berdua,” katanya, “aku datang kemari karena ada persoalan yang hendak dibicarakan dengan So locianpwe!”

Tiang pek lojin So Seng pak menjadi tercengang.

“Sauhiap, darimana kau tahu kalau lohu akan munculkan diri di tempat ini?” tegurnya.

Dengan wajah serius pemuda tampan itu menjawab :

“Sebab sebelum ini siauseng sudah mendapat tahu kalau kalian berdua ada janji di sini. Oleh sebab itu …..”

“Dari mana kau mendapatkan kabar tersebut?” Tanya Huan im sin ang sambil tertawa seram.

“Maaf, hal ini tak bisa kuungkap dihadapanmu!”

Mendadak ia menuding kearah Pek leng siancu So Bwe leng, lalu ujarnya kepada Tiang pek lojin :

“Locianpwe, tahukah kau siapa nona ini?”

Belum sempat Tiang pek lojin menjawab, paras muka Huan im sin ang telag berubah hebat, bentaknya :

“Sebenarnya siapakah kau? Jika tidak kau terangkan sejelasnya, jangan salahkan kalau lohu tak akan sungkan-sungkan lagi!”

“Hey, rupanya dalam hatimu ada setannya, sudah merasa takut?” ejek pemuda tampan itu sambil tertawa nyaring.

Sebetulnya sejak tadi Tiang pek lojin memang sudah menaruh curiga terhadap gadis yang berada dihadapannya itu, sekarang kecurigaannya makin meningkat. Bagaimanapun raut wajah So Bwe leng ditutupi oleh topeng kulit manusia, namun Tiang pek lojin sudah berkumpul dengannya semenjak kecil dulu, otomatis dia mempunyai kesan yang cukup dalam terhadap tingkah laku serta potongan badan cucu perempuannya itu, apalagi setelah menyaksikan gerakan langkah yang diperlihatkan SO Bwe leng tadi, kesemuanya itu menambah kecurigaan dalam hati Tiang pek lojin makin menebal …..

Betul selama ini ia menunjukkan sikap yang lebih mengendor, bahkan berbincang secara bebas dengan Huan im sin ang, padahal rasa curiga di dalam hatinya sama sekali belum dikendorkan.

Pada mulanya dia merasa kemunculan dari pemuda tampan itu menjengkelkan, ia menganggap pemuda itu telah merusak rencana sendiri, tapi setelah mendengar perkataan orang, dengan cepat ia tertawa tergelak.

“Haaahhh…. Haaahhhh….. haaahhhh… lohu tidak percaya kalau seorang Sancu dari Ban seng kiong bisa melakukan perbuatan yang malu diketahui orang!”

Diam-diam ia telah sertakan pula sindiran yang pedas dibalik perkataan itu.

Huan im sin ang adalah manusia licik yang banyak akal muslihatnya, menjumpai keadaan tersebut, dengan cepat dia menemukan siasat bagus untuk mengatasinya.

Dari tertawa seram, ia menjadi tersenyum lembut, katanya kemudian :

“Oooh… jadi kau menganggap muridku ini adalah Leng ji?”

Bersamaan waktunya, dia memperingatkan pula kepada Pek leng siancu So Bwe leng dengan ilmu menyampaikan suara :

“Bwe leng, bila kau tak sanggup mengendalikan perasaanmu sehingga melanggar perjanjian kita, jangan harap kau dapat bersua kembali dengan Thi Eng khi, setelah kembali dari sini, lohu pasti akan mencincang tubuhnya menjadi berkeping keping, jika kau tidak percaya, silahkan saja untuk menjajalnya!” Setelah member peringatan, dengan sikap yang terbuka dia lantas menggape kearah Pek leng siancu So Bwe leng sambil ujarnya

:

“Anak Tin, mereka telah menganggapmu sebagai Leng ji, cepat maju kedepan sana agar mereka perhatikan dengan seksama.”

Dia mempunyai keyakinan penuh atas muslihatnya ini, maka diantara ulapan tangannya telah disertakan pula dengan tenaga pukulan yang lembut, dengan cepat jalan darah Pek leng siancu So Bwe leng menjadi bebas sama sekali.

Dalam pada itu, Pek leng siancu So Bwe leng telah berhasil pula untuk menenangkan hatinya, kesadarannya pulih kembali, sudah barang tentu diapun mendengar jelas semua peringatan dari Huan im sin ang tersebut.

Walaupun kini ia sudah bisa berbicara juga dapat membuka topeng kulit manusia yang menutupi wajahnya, tapi gadis itu justru tak berani memperkenalkan diri kepada Tiang pek lojin.

Sebab bagaimanapun juga dia tak ingin menyaksikan keselamatan Thi Eng khi terancam bahaya.

Bukan cuma begitu saja, malah dia memberikan suatu kerja sama yang amat bagus dengan Huan im sin ang untuk melanjutkan permainan sandiwaranya itu.

Maka sambil menahan rasa pedih didalam hati dan merendahkan suaranya untuk menutupi suara lembut dan merdunya itu, dia berkata :

“Boanpwe Cu Tin tin menjumpai So locianpwe!”

Dari jarak satu kaki dihadapan Tiang pek lojin dia menjura dalam- dalam …..

Kembali Tiang pek lojin merasa kecewa bercampur bimbang, sambil menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang, ia berguman : “Aaai…. Jangan jangan mata lohu sudah melamur?”

Pemuda tampan bermantel perak itupun agak tertegun, mendadak ia melompat kedepan sambil menerjang kehadapannya Pek leng siancu So Bwe leng, agaknya dia berhasrat untuk menaklukkan gadis yang berada di hadapannya lebih dulu, kemudian baru diperbincangkan lagi.

Siapa tahu, baru saja dia menggerakkan tubuhnya, Huan im sin ang telah datang menghadang, ejeknya sambil tertawa dingin :

“Kau sebenarnya bertujuan apa? Mengapa hendak menerkam Tin tin?”

Dari nada ucapan tersebut mengandung arti kata sekan akan pemuda itu mengandung maksud jelek terhadap sang nona ….

Pemuda tampan tu sama sekali tidak marah, malah katanya sambil tertawa hambar :

"Siauseng mengenali nona ini sebagai nona So, beranikah kau memberi kesempatan kepada siauseng untuk membuktikannya?"

Huan im sin ang segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.

“Haaahhh....haaahhh........haaahhhh Leng ji adalah cucu

kesayangan dari kakek So, bahkan kakeknya sendiri mengakui telah salah melihat orang, mana mungkin kau sibocah keparat dapat mengetahui lebih banyak daripadanya? Bocah keparat! rupanya kau memang bertujuan jelek, mempunyai niat cabul untuk mendekati Tin ji ku ini. Hmmm. dihadapan lohu pun kau berani bertindak

demikian, tampaknya nyalimu terhitung tidak kecil. "

Sembari berkata mendadak pergelangan tangannya diputar dan melepaskan sebuah pukulan sejajar dengan dada.

Huan im sin ang telah berniat untuk membunuh orang dan membungkam mulut lawan, dalam melancarkan serangannya kali ini, dia telah sertakan tenaga dalam sebesar enam bagian, dalam anggapannya tenaga pukulan sebesar itu sudah cukup untuk membinasakan pemuda tampan itu.

Kedua orang itu memang sedang berdiri saling berhadapan muka, selisih jarak kedua belah pihak hanya lima langkah saja, diantara perputaran telapak tangannya, angin pukulan yang maha dahsyat telah meluncur ke depan dada pemuda tampan itu.

Walaupun pemuda tampan tersebut telah membuat persiapan, ia tak menyangka kalau Huan im sin ang adalah manusia yang demikian liciknya, tanpa memperdulikan kedudukkannya, bahkan dihadapan Tiang pek lojin berani melancarkan serangan untuk membunuh orang.

Dengan cepat ia melejit ke samping untuk menghindarkan diri, sayang keadaan sedikit terlambat, meski jalan darah penting diatas dadanya berhasil dilindungi toh bahunya kena tersapu juga dengan telak, kontan tubuhnya mencelat ke tengah udara dan menubruk keatas sebatang pohon besar.....

Tiang pek lojin segera membentak keras dengan cepat dia melompat ke depan bermaksud untuk menolong pemuda itu.

Namun dia cepat, masih ada orang yang lebih cepat lagi, tampak bayangan biru berkelebat lewat tahu tahu dari belakang pohon telah melompat seseorang yang segera menyambut tubuh pemuda tampan itu ke dalam bopongannya.

Menyusul kemudian, dengan gerakan Cian liong seng thian (Naga sakti meluncur ke angkasa) dia melompat balik lagi kedalam hutan.

Tentu orang yang berbaju biru itu tak la¬in adalah Thi Eng khi.

Waktu itu dia amat menguatirkan keselamatan ibunya serta keempat orang susioknya, dia ingin cepat cepat mendapat tahu kabar berita tersebut dari mulut pemuda bermantel perak ini, tapi kuatir bila berjumpa dengan Tiang pek lojin nanti akan menunda waktunya, maka begitu menyambut tubuh pemuda tampan tersebut, dia segera rnengundurkan diri dari sana. Tiang pek lojin sendiri merasa girang sekali ketika dilihatnya orang yang munculkan diri adalah Thi Eng khi, dengan cepat dia menarik gerakan tubuhnya dan melayang kembali keatas tanah.

Baru saja mau menyapa, siapa tahu Thi Eng khi telah membalikkan badan dan menyelinap kedalam hutan.

Dengan gusar Huan im sin ang membentak keras : “Bocah keparat, hendak kabur ke mana kau?"

Dia melompat kemuka dan siap menerjang ke dalam hutan. “Engkoh Eng!” jerit Pek leng siancu So Bwe leng pula, diapun

bersiap menubruk ke depan.

Dalam keadaan demikian, tentu saja Tiang pek lojin tidak membiarkan Huan im sin ang pergi dengan begitu saja, tanpa berpikir panjang dia segera menghadang dihadapannya sambil berseru :

"Sancu, tunggu sebentar! Lohu ada persoalan hendak dibicarakan dengan dirimu!”

Tiang pek lojin tak ingin Huan irn sin ang berhasil menyusul Thi Eng khi, sebaliknya Huan im sin ang juga tak ingin pek leng si¬ancu So Bwe leng berhasil menyusul Thi Eng khi, maka begitu jalan perginya dihadang, dia pun segera mengambil tindakan yang cekatan.

Sambil membalikkan badannya menghadang jalan pergi pek leng siancu So Bwe leng serunya:

“Anak Leng, dia bukan Thi Eng khi yang asli, dia adalah orang yang mencatut namanya, kau jangan sampai kena tertipu!'

Tatkala pek leng siancu So Bwe leng menyaksikan Thi Eng khi masih bebas merdeka tanpa memperoleh ancaman apa apa, diapun menjadi tidak takut lagi terhadap ancaman kakek itu, serunya keras keras : "Siapa yang percaya lagi dengan obrolan setanmu itu, perjanjian kita mulai sekarang dibatalkan sama sekali!"

Huan im sin ang memang tak malu di sebut orang sebagai manusia cerdas, ternyata paras mukanya sama sekali tidak berubah, katanya dengan ketenangan yang luar biasa :

"Orang itu bukan Thi Eng khi, percaya atau tidak terserah kepadamu sendiri!”

Sementara itu, Tiang pek lojin telah berhasil membuktikan dari suara Pek leng siancu So Bwe leng bahwa dia adalah cucu perempuannya, sambil menyelinap maju untuk menarik tangannya, dia berseru :

"Nak, kau benar benar merisaukan yaya!”

Pek leng siancu So Bwe leng segera melepaskan topeng kulit manusia yang menutupi wajahnya dan menjatuhkan diri ke dalam pelukan Tiang pek lojin sambil menangis tersedu sedu.

Pertemuan antara kakek dan cucu ini telah menenggelamkan mereka berdua dalam luapan perasaan masing masing, siapapun tidak mendengar lagi apa yang dikatakan oleh

Huan im sin ang tersebut.

Huan im sin ang menyaksikan semua adegan tersebut dengan wajah berubah ubah, ada kalanya malah tertawa dingin tiada hentinya, tapi kemudian dengan suara keras teriaknya :

"Orang itu bukan Thi Eng khi, lohu berani membuktinya!"

Tiang pek lojin segera menepuk bahu So Bwe leng sambil berbisik dengan suara lembut :

"Nak, bila ada persoalan kita bicarakan lain kali saja!"

Kemudian sambil berpaling ke arah Huan Im sin ang, ujarnya : “Kau mempunyai alasan apa? Apa bukti kalau dia bukan Thi Eng

khi… ?”

Yang dikuatirkan Huan im sin ang apabila Tiang pek lojin tidak bersuara, asal orang itu sudah menjawab, maka dia tidak kuatir untuk mengandalkan ketajaman lidahnya guna menaklukan orang itu sampai terjerumus ke dalam perangkapnya.

Demikianlah sambil mengangkat bahu dia berkata :

“Lohu bukan cuma mempunyai alasan saja, bahkan alasanku bukan hanya alasan belaka!"

Pek leng siancu So Bwe leng mendongakkan kepalanya, lalu berteriak lantang :

"Bila ada persoalan katakan saja berterus terang, siapa yang kesudian banyak ribut denganmu?”

“Anak Leng, kau tak boleh bersikap kurangajar kepada lohu!” seru Huan im sin ang.

Pek leng siancu So Bwe leng segera mencibirkan bibirnya seraya mendengus dingin.

"Hmm, mau apa kau?" tantangnya. Huan im sin ang tertawa seram.

“Anak Leng, jangan kau anggap perjanjian diantara kita sudah tidak berlaku lagi," katanya.

"Heeehh…. Heehhh…. Heeehhh… kau masih ingin menggunakan engkoh Eng untuk mengendalikan diriku?” ejek Pek leng siancu So Bwe leng sambil tertawa dingin, “betul betul sedang bermimpi di siang hari bolong ….”

Suara tertawa dari Huan im sin ang semakin menyeramkan, kembali dia berkata :

“Anak Leng, aku enggan bersilat lidah denganmu, sekarang dengarkan dulu kuutarakan alasan mengapa orang itu bukan Thi Eng khi kemudian baru ambillah keputusanmu.”

Pek leng siancu So Bwe leng sama sekali tidak terpengaruh oleh perkataan itu, malah teriaknya lagi dengan gusar : "Sialan kau si tua bangka celaka, memangnya kau anggap sebutan anak Leng boleh kaugunakan semaunya sendiri. Betul, betul, tak tahu malu, kau ….. kau……

Belum habis dia berkata, Tiang pek lojin telah membentak keras : "Nak, jagalah sikapmu sebagai seorang pendekar yang sejati,

bagaimanapun juga Sancu telah memeliharamu selama satu tahun, terlepas apa maksud dan tujuannya kau tidak pantas bersikap kurangajar terhadap seorang locianpwe yang lebih tua tingkat usia nya daripada dirimu.”

"So lo, aku cukup memahami watak anak Leng, lohu tak akan menjadi marah oleh sikapnya itu!" sela Huan im sin ang segera sambil tertawa terbahak bahak.

Melihat lawannya berlagak sok berjiwa besar, Tiang Pek lojin segera mendengus dingin sebegai jawaban.

Huan im sin ang tertawa licik, kembali dia mengemukakan alasan alasannya :

"Alasan yang pertama, kepandaian silat yang dimiliki orang itu sangat lihay, pa¬ling tidak kau harus memiliki tenaga latihan selama tujuh delapan puluh tahun sebelum berhasil mencapai tingkatan tersebut, bayangkan saja tahun ini Thi Eng khi baru berumur berapa? Sekalipun dia berbakat bagus, juga mustahil bisa mencapai tingkatan seperti itu hanya didalam setahun saja."

Kembali Pek Leng siancu So Bwe leng, mendengus dingin : "Hmm, seandainya engkoh Eng berhasil menemukan suatu

kejadian aneh, tentu saja hal mana merupakan suatu pengecualian.”