Pukulan Naga Sakti Jilid 09

 
Jilid 09 

BAGAIMANAPUN hati mereka menggerutu, gerakan tubuh mereka sewaktu berputar dilakukan dengan kecepatan luar biasa, satu dari kiri yang lain dari kanan, serentak mereka mendekati orang itu, agaknya kuatir kalau orang itu berhasil melarikan diri lagi.

Serentetan cahaya api melancar keluar dan menyinari orang yang berbicara itu ternyata itulah wajah yang kotor dan dekil penuh dengan minyak, itupun seraut wajah jago persilatan yang cukup dikenal olehnya.

Paras muka Thian gwa hui hong Ong Put khong serta Hoo lok it cuan Ang Ceng segera berubah menjadi serius, mereka saling menyinggung lengan masing-masing sebagai tanda.

Dengan cepat Hoo lok it cuan Ang Ceng menggetarkan sepasang gelangnya lalu dipindahkan ketangan kirinya sedangkan Thian gwa hui hong Ong Put khong tidak membawa senjata, tapi serentak dia menjura sambil berseru :

"Rupanya Kay pang pangcu Cu tayhiap yang telah dating, maaf kalau kami kurang hormat."

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu, Hou bok sin kay (mata harimau pengemis sakti) Cu Goan po menatap kedua orang itu lekat-lekat, lalu bertanya dengan suara dalam :

"Rupanya kalian berdua juga tahu tentang rahasianya Thian liong pay? Sudah pasti kalian mendapat perintah dari seseorang."

Seandainya berada dihari-hari biasa sudah pasti Hoo lok it cuan Ang Ceng tak akan berani mengusik Hou bok sin kay Cu Goan po tapi keadaan yang dihadapinya pada hari ini sedikit berbeda.

Pertama, dia merasa dengan tenaga gabungan dari Thian gwa hui hong Ong Put khong dengan dirinya tidak sulit untuk mengalahkan sipengemis tua yang memuakkan itu.

Kedua, Kedatangan mereka kali ini disertai dengan suatu persiapan yang matang, asal tanda rahasia dilepaskan maka bala bantuan segera akan berdatangan sekalipun tak sampai meraih kemenangan, paling tidak tak akan menderita kerugian apa-apa. Maka dengan perasaan tak acuh mereka tertawa dingin, lalu katanya :

"Persoalan ini sama sekali tak ada sangkut paut dengan pihak kay pang mengingat kita perkenalan dimasa lalu, aku minta serahkan kembali kertas surat itu kepadaku dan urusan kita bikin selesai sampai di sini saja, kalau tidak….. Hmm! Itu berarti kau sedang membakar tubuhmu sendiri!”

Thian gwa hui hong Ong Put khong adalah seorang yang berotak licik, meski gusar dihati, senyuman terkulum diujung bibirnya, dia berkata pula :

"Kami berdua berasal dari istana Ban seng kiong, kali ini sedang bertugas atas perintah atasan kami, tidak banyak pula yang kami ketahui maka jika Cu tayhiap ada persoalan silahkan bertanya langsung kepada Sancu kami, daripada terjadi bentrokan kekerasan diantara kita, lebih baik serahkan saja surat itu kepada kami."

Mendengar perkataan itu, si pengemis sakti bermata harimau Cu Goau po tertawa terbahak bahak.

" Haaahhh……. Haaahhh…… haaahhh….. terlalu gampang jika cuma begitu, sejak tadi sampai sekarang kalian belum menjawab sepatah katapun apa yang kuajukan, sebaliknya malah mau mengancam diriku. Hmm, kenapa kalian tidak berpaling dan melihat dulu siapa saja yang berada dibelakangmu?"

Mendengar perkataan itu, Thiang gwa hui hong Ong Put khong serta Hoo lok it cuan Ang Ceng merasa amat terkejut, dengan cepat mereka berpaling……….

Tampaklah didepan pintu ruangan tengah telah berdiri tegak lima orang pengemis tua.

Mereka adalah lima orang jago lihay di bawan pimpinan Kay pang pangcu yang disebut orang Kay pang ngo heng, yaitu terdiri dari :

Kim kay (pengemis emas) Ui Hui, Bok kay (pangemis kayu) Lim Gwan, Sui kay (pengemis air) Hay In, Hwee kay (pengemis api) Hee Tam dan Toh kay (pengemis tanah) Yu Jit. Siapa pun diantaranya ke lima orang itu meksi bertarung satu lawan satu dalam lima puluh gebrakan sudah mampu untuk menaklukan mereka berdua, hal ini membuat kedua orang tersebut merasa terkesiap.

Meski keder dihati, diatas wajahnya ke dua orang itu tidak menunjukkan perasaan tersebut, tiba tiba mereka mendongakkan kepala dan berpekik panjang, dibalik pekikan itu terseliplah kode rahasia untuk memohon bala bantuan.

Begitu pekikan berkumandang, Hoo lok it cuan Ang Ceng segera berkata dengan lantang :

"Mau berduel atau main kerubut, kami berdua siap untuk menghadapinya………!”

"Menurut penglihatanku, kalian bukan tandingan kami," kata pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po dengan dingin, "tapi kalau dilihat dari sikap jumawa kalian, tampaknya disekitar sini sudah dipersiapkan bala bantuan?"

"Kalau benar mau apa?" tantang kedua orang itu dengan sikap yang amat jumawa.

"Baik, kalau memang begitu, semoga saja kalian jangan menyesal!"

Kepada ke lima orang jagoan dia memberi tanda, lalu katanya : "Kalau toh kedua orang ini bermaksud untuk merebut benda itu

dengan kepandaian rasanya kitapun tak perlu mendapat malu, segala sesuatunya dilaksanakan menurut rencana.”

Menyaksikan pihak lawan sama sekali tidak memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk mengulur waktu, dengan gugup Thian gwa hui hong Ong Put khong berseru :

"Kalian hendak mengandalkan jumlah banvak untuk meraih kemenangan, apakah tidak malu kalau berbuat ini akan ditertawakan orang?" Secepat sambaran petir kelima orang pengemis ngo heng itu sudah mengepung orang itu rapat rapat.

Sambil melepaskan sebuah pukulan, si Pengemis tua berseru : “Perkumpulan kami hanya berbicara soal peraturan dengan umat

persilatan yang berjiwa lurus, untuk menghadapi manusia macam kalian, cara macam apapun akan kami pergunakan''

"Wees….!" angin pukulan yang maha dahsyat itu dengan cepat menghantam keatas tubuh Hoo lok it cuan Ang Ceng.

Menyaksaikan datangnya ancaman tersebut, dengan cepat Ang Ceng menyingkir ke samping menghindarkan diri dari serangan itu, kemudian dengan tangan kirinya menyambut serangan lawan dengan jurus Yau cian leng coa (membacok pinggang ular sakti), tangan kanannya melancarkan sebuah serangan balasan dengan jurus Beng gwat tang tau (rembulan purnama diatas kepala).

Di tengah suara tertawa dinginnya si pengemis emas Ui Hui, berganti gaya sambil menggeser badan, lalu dengan jurus Pang seng tou gwat (memukul bintang menyungging rembulan) dia punahkan ancaman gelang lawan, menyusul kemudian dengan lima jari yang dipentangkan bagaikan cakar dia balas mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kanan Hoo lok it cuan Ang Ceng.

Jurus serangan ini dipergunakan secara jitu dan lihay, dengan cepatnya memaksa Hoo lok it cuan Ang Ceng terdesak mundur berulang kali.

Sementara itu Thian gwa hui hong Ong Put khong telah melangsungkan pertarungan seru melawan pengemis kayu Lim Gwan, sudah barang tentu dia bukan tandingan dari pengemis kayu Lim Gwan itu, ditambah lagi pengemis air, pengemis api dan pengemis tanah masing-masing berjaga di empat penjuru sambil bersiap siap melancarkan ancaman, kesemuanya itu mendatangkan tekanan kejiwaan yang besar baginya.

Tenaga dalam yang seharusnya sudah mencapai sepuluh bagian, cuma delapan bagian saja yang bisa dipergunakan secara baik, belum lagi sepuluh gebrakan lewat, dia sudah dibikin kalang kabut tidak karuan.

Sekalipun begitu, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po tidak sabar pula, tiba-tiba serunya dengan suara lantang :

“Mereka mempunyai bala bantuan yang dipersiapkan di sekitar tempat ini, kalian segera selesaikan pertarungan ini dengan secepatnya!”

“Baik!” sahut pengemis air, api dan tanah bersama.

Siapa tahu baru saja mereka menggerakkan tubuhnya, mendadak dari luar pintu bermunculan beberapa sosok bayangan manusia yang langsung menyongsong datangnya serangan dari pengemis emas, kayu, air, api dan tanah, dengan begitu Hoo lok it cuan Ang Ceng serta Thian gwa hui hong dapat mengundurkan diri.

Menyusul kemudian, dari luar ruangan muncul kembali tiga sosok bayangan manusia, salah seorang diantaranya yakni seorang kakek berambut putih dan bermata bengis berseru kepada Ang Ceng serta Ong Put khong :

“Sudah berhasil?”

“Benda itu sudah dirampas oleh Kay pang pangcu!” jawab kedua orang itu dengan hormat.

Kakek berambut putih itu segera melototkan matanya bulat bulat, kepada kedua orang rekannya dia memerintahkan :

"Lote berdua, cepat bekuk!” orang itu se¬gera berjalan kehadapan pengemis sakti bermata harimau, sambil tertawa terkekeh-kekeh katanya :

"Pengemis Cu, kau hendak menyerahkan diri dengan begitu saja?

Ataukah menunggu sampai kami dua bersaudara yang turun tangan?"

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan Po adalah seorang ketua dari perkumpulan besar, kedudukannya sangat tinggi dan sejajar dengan ketua perguruan lainnya, tentu saja tenaga dalam yang dimilikinya tidak termasuk rendah. Akan tetapi, setelah mengetahui siapa yang datang, diam-diam ia merasa terperanjat sekali.

Rupanya kedua orang itu mempunyai kedudukan yang cukup tersohor di dalam dunia persilatan, bahkan disegani oleh jago-jago baik dari golongan lurus maupun sesat.

Orang menyebut mereka sebagai Hek pek Siang bun (sepasang Siang bun hitam dan putih) yaitu Hek Siang bun Go Thian dan Pek Siang bun Go Tee.

Kedua orang itu memiliki kepandaian sakti yang tiada taranya didunia ini, terutama ilmu pukulan Si kut im hong ciang (pukulan hawa dingin penghancur tulang) yang merupakan kepandaian andalannya, barang siapa yang terkena pasti akan tewas.

Seandainya dia harus menghadapi mereka dengan satu persatu, dalam seratus gebrakan mungkin bisa menangkap salah satu diantaranya, tapi kalau kedua orang itu sampai turun tangan bersama, sudah pasti dia yang bakal kalah dalam seratus gebrakan kemudian

Dengan kedudukan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po dalam dunia persilatan, sekalipun dia sadar bahwa kepandai¬an yang dimilikinya masih bukan tandingan lawan, akan tetapi, dia pun tak dapat menunjukkan perasaan tersebut diatas wajahnya.

Maka sambil tertawa terbahak-bahak, dia merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah tongkat besi yang delapan depa panjangnya. ketika tongkat itu digetarkan maka panjangnya menjadi dua kali lipat, maka jadilah sebuah tongkat Tah kau pang yang panjangnya mencapai lima depa empat inci.

“Dua orang loheng,” demikian dia berkata, “sedari kapan kalian berdua telah menjadi kaki tangannya orang lain? Sungguh suatu perbuatan yang terpuji dan pantas diberi selamat! Tongkat penggebuk anjingku ini merupakan tandingan dari anjing-anjing kaki tangan orang lain, jika kalian tidak kuatir kena digebuk, silahkan saja untuk maju!" Hek pek siang bun tertawa dingin, kedua orang itu segera meloloskan sebuah garpu baja yang panjangnya tiga depa lima inci.

Hek siang bun berdiri disebelah kanan dengan senjata garpu ditangan kanan, sedangkan Pek siang bun berdiri di sebelah kiri dengan senjata garpu di sebelah kiri, kedua orang itu sama-sama mengangkat senjatanya tinggi ke udara, lalu sambil membentur bentaknya :

"Hajar!"

Mendadak tubuh mereka berpisah sambil menerjang ke muka, kiranya Hek siang bun yang berada disebelah kanan berputar ke samping kiri, sedangkan Pek siang bun yang berada disebelah kiri berputar ke sebelah kanan, tubuh mereka bergerak bagaikan bayangan setan, sepasang garpu ditusukkan bersama ke depan menyerang jalan darah Ciau cing hiat diatas sepasang bahu lawan.

"Serangan yang bagus," bentak Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po dengan suara keras.

Tongkat penggebuk anjingnya diangkat sejajar bahu, kemudian tubuhnya berputar membentuk satu lingkaran, lalu dengan jurus Ji long tam sam (Ji long memikul bukit) dengan meminjam gaya perputaran tersebut dia punahkan serangan gabungan dari kedua buah senjata musuh.

Seketika itu juga Hek siang bun maupun Pek siang bun merasakan tenaga serangan yang terpancar dari senjata mereka punah dengan begitu saja, sadar kalau serangannya mengalami kegagalan, dengan cepat dia merendahkan pinggang, tanpa merubah posisi senjata garpunya diangkat keatas lalu satu dari kiri yang lain dari kanan, sekali lagi mereka lancarkan sapuan kedepan.

Didalam melancarkan serangannya kali ini, hampir semua luang kosong yang berada disekitarnya tercakup didalamnya kecuali pengemis sakti bermata harimau melompat ke atas untuk menghindar, rasanya sulit untuk meloloskan diri dari ancaman tersebut. Akan tetapi, seandainya pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po benar benar melompat keatas maka pukulan Si kut im hong ciang yang dilancarkan Hek siang bun dan Pek siang bun tentu akan menyongsong kedatangannya.

Dengan demikian tubuh si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po pasti akan terjebak di tengah udara sudah pasti sulit baginya untuk menahan serangan gabungan dari kedua orang itu, akibatnya dia akan terluka oleh pukulan Si kut im hong ciang tersebut.

Sebagai seorang jago yang berpengalaman tentu saja ketua dari Kay pang ini dapat menyaksikan semua perangkap tersebut dengan amat jelasnya, tapi diapun mempunyai perhitungan sendiri.

Meski badannya sedang melambung ditengah udara, akan tetapi toya penggebuk anjingnya melesat ke depan dengan membawa segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat, dengan demikian ancaman dari Hek pek siang bun yang telah dipersiapkan secara matang itupun segera gagal total.

Bahkan oleh tenaga gabungan yang dipancarkan kedua orang tersebut, tongkat penggebuk anjing itu tiba-tiba melesat kembali ke udara.

Di tengah gelak tertawanya yang amat keras, dengan kepala dibawah kaki diatas pengemis sakti bermata harimau itu menggunakan gerakan Yan cu keng poo (burung walet terbang melesat) untuk menyambut datangnya tongkat Ta kun pang itu, menyusul kemudian badannya turut melayang kembali sejauh beberapa kaki dari tempat semula.

Mesti cuma terdiri dari tiga jurus dua gebrakan, namun cukup membuat si kakek berambut putih bermata serigala itu manggut- manggut dengan perasaan kagum, katanya :

"Nama besar sipengemis Cu memang bukan nama kosong belaka, Go lote berdua, Lo Sancu sangat mengharapkan kemampuan kalian, dapatkah kamu berdua menjadi pembantuku, tergantung sampai dimanakah penampilan yang kalian perlihatkan pada hari ini.”

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po adalah seseorang yang berpengalaman luas, tapi dia tidak mengenali siapa gerangan kakek berambut putih bermata serigala tersebut, tapi kalau didengar dari nada perkataannya, dapat diketahui bahwa kedudukan maupun tingkatannya masih dua tingkat diatas Hek pek siang bun.

Tanpa terasa sepasang alis matanya berkenyit dan wajahnya segera menunjukkan perasaan bimbang dan ragu.

Pada saat itulah Hek pek siang bun telah berkata lagi :

“Oh lo tak usah kuatir, permainan busuk pengemis Cu hanya sebanyak itu s a j a, sebentar aku pasti akan mempersiapkan suatu permainan yang lebih baik lagi didirinya.”

Oh lo ditambah dengan ''bermata serigala" dengan cepat sipengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, teringat akan seseorang sudah tiga puluh tahun lamanya orang itu lenyap dari dunia parsilatan, kalau dibilang usia seharusnya sudah mencapai delapan puluh tahunan, dia tak lain adalah seorang gembong iblis yang amat termashur didalam kalangan golongan hitam, orang menyebutnya sebagai Hek sim pa long (serigala buas berhati hitam) Oh tay kiau.

Seandainya benar benar orang itu, besar kemungkinan nasib dirinya berenam pada hari ini akan musnah ditangannya.

Ingatan tersebut hanya sebentar melintas dalam benaknya, pada saat itulah sepasang Siang bun hitam putih telah menyerang kembali kearah bahunya dengan sepasang garpu bajanya.

Pertarungan antara jago lihay seringkali hanya tergantung pada satu detik, begitu pengemis sakti bermata harimau teledor dengan cepat dia terjerumus dalam keadaan yang bahaya, tahu-tahu ancaman sudah berada di depan mata untuk menghindarkan diri tampaknya akan jauh lebih susah dari pada mendekati bukit. Untunglah disaat yang paling kritis itulah mendadak dari luar pintu berkelebat datang sesosok bayangan manusia, tampak cahaya emas berkelebat lewat tahu-tahu sepasang senjata garpu dari Hek pek siang bun sudah terhisap oleh cahaya emas itu dan tak sanggup berkutik lagi.

Menyaksikan peristiwa tersebut, sepasang siang bun hitam putih menjadi amat terperanjat, cepat-cepat mereka mundur ke belakang sambil berusaha untuk melepaskan senjatanya, namun bagaimanapun juga ia berusaha untuk menarik senjatanya, usaha tersebut selalu gagal.

Tiba tiba terdengar serigala buas berhati hitam Oh Tay ciau membentak keras :

"Bocah keparat, siapa kau?"

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat langsung menuju kedepan dan menumbuk sebilah pedang emas yang sedang menghisap sepasang senjata garpu itu.

Ketika angin pukulan itu menghantam di antara pedang emas dan garpu baja tadi, dengan cepat Hek pek siang bun menarik kembali senjatanya sambil rnengerahkan tenaga, maksud mereka senjata tersebut akan dibetot kembali mumpung ada yang membantu.

Siapa tahu pada saat itulah dari atas senjata garpu itu memancar keluar segulung tenaga pantulan maha dahsyat yang menggetarkan sepasang lengan mereka hingga menjadi linu, senjatanya tak dapat dipertahankan lagi, dengan sempoyongan mereka mundur sejauh tiga langkah.

Ketika memandang lagi kearah senjata garpu itu, maka tampaklah sepasang senjata tadi masih menempel diatas pedang emas tadi tanpa bergetar barang sedikitpun juga.

Belum lagi wajah musuhnya kelihatan, sedang senjata mereka sudah dirampas orang, kejadian ini benar benar membuat Hek pek siang bun merasa terkesiap sekali. Menanti perasaan mereka menjadi tenang kembali, kedua orang itu baru mendongakkan kepalanya.

Tampak orang yang memegang pedang emas dihadapan mukanya itu berusia dua puluh tahunan, ia mengenakan baju berwarna biru, mukanya putih dan sangat tampan.

Akan tetapi, waktu itu dengan wajab sedingin es dia sedang mendelik kearah Hek sim pa long (Serigala buas berhati hitam) Oh Tay ciau.

”Aku bernama Thi Eng khi, tuan rumah gedung ini,” kata pemuda itu memperkenalkan diri "siapakah kalian? Kenapa mendatangi rumahku ini?"

Thi Eng khi……..! Thi Eng khi… ! Ketua angkatan ke sebelas

partai Thian liong pay ternyata bisa munculkan diri dalam keadaan seperti ini, kejadian tersebut sungguh merupakan suatu peristiwa yang sama sekali tidak diduga oleh siapapun juga.

Oleh sebab itu, kelima kelompok manusia yang sedang terlibat dalam pertarungan sengit disebelah sanapun menghentikan pertarungan mereka secara otomatis. kemudian kembali kekelompoknya masing masing.

Hou bok sin kay (Pengemis sakti bermata harimau) Cu Goan po pernah bersua muka dengan Thi Eng khi sewaktu berada dalam perkampungan Ki hian san ceng tempo hari meski demikian, andaikata Thi Eng khi tidak menyebutkan sendiri namanya belum tentu ia dapat mengenalinya kembali.

Perpisahan selama setahun sesungguhnya tidak terhitung terlalu panjang, namun perubahan atas diri Thi Eng khi terlampau banyak, baik soal perawakan maupun dalam hal bersikap, seolah-olah dia dengan setahun berselang adalah dua orang yang berbeda.

Kejut dan girang Hou bok sin kay CU GOan po menyaksikan kemunculannya, sambil berseru tertahan dan mengucak matanya berulang kali, lalu dia berseru : ''Thi ciangbunjin, masih ingat dengan aku si pengemis tua?" Thi Eng khi berpaling dan manggut manggut.

''Sewaktu dalam perkampungan Ki hian san ceng tempo hari, aku telah banyak menerima budi kebaikanmu, tentu saja tak akan kulupakan. Biar siauseng menggebah pergi dulu makhluk makhluk tua tersebut, kemudian baru kuucapkan terima kasih atas kunjungan pangcu ke rumah siauseng.”

Rupanya dia mengira Cu Goan po datang kesana untuk melindungi perkampungannya.

Dalam pada itu, Hek sim pa long Oh Tay ciau telah melototkan matanya bulat-bulat, kemudian tegurnya :

"Jadi engkau yang bernama Thi Eng khi?"

Menyusul kemudian, sambil tertawa terbahak-bahak dia berkata lebih lanjut :

"Haaahhhh….. haaahhhh…. Haaahhhh……! didalam jagad sudah tiada manusia yang bernama Thi Eng khi lagi, sekalipun kau dapat menyaru sebagai Thi Eng khi namun jangan berharap bisa mengelabui lohu, Sesungguhnya siapakah kau? Hayo cepat mengaku sejujurnya!"

Pelan pelan Thi Eng khi meloloskan pedang Thian liong kim kiam yang tersoren dipinggangnya, kemudian berkata :

"Bila kau terhitung seorang tokoh persilatan yang berpengalaman dalam dunia persilatan, sepantasnya kalau pedang ini akan kau kenali, benarkah diriku adalah Thi Eng khi atau bukan, buat apa musti banyak ditanyakan lagi?"

Hek sim pa long Oh Tay ciau segera memperdengarkan lolongan serigalanya yang menyeramkan.

“Perduli kau adalah Thi Eng khi yang asli atau bukan," pokoknya kau akan kubawa pulang kegunung untuk diserahkan kepada Sancu kami." Begita selesai berkata kelima jari tangannya seperti lima buah kaitan tajam langsung mencengkeram bahu kanan Thi Eng khi.

Dengan gaya yang seenaknya dia melangkah keposisi tiong kiong kemudian melewati ang bun dan gayanya tersebut bisa diketahui bahwa ia tak pandang sebelah matapun terhadap Thi Eng khi.

Didalam anggapannya serangan cakar maut pek TOK siau hun (selaksa bisa pelenyap sukma) tersebut pasti akan berhasil mengenai sasarannya dengan telak.

Thi Eng khi membalikkan tangannya dan menyarungkan kembali pedangnya kedalam sarung kemudian badannya maju selangkah meloloskan diri dari cengkeraman “pek tok siau hun jiuan"

Mimpipun si Hek sim pa long tidak mengira kalau ilmu cengkeraman selaksa bisa pelenyap sukma yang memiliki perubahan yang tiada taranya itu bisa gagal mencapai sasaran pada tubuh lawannya.

Berubah hebat paras muka serigala buas berhati hitam Oh Tay ciau menyaksikan keadaan tersebut, sambil tertawa dingin segera serunya :

“Coba sambut sebuah cengkeram lohu ini lagi!"

Sambil bergerak ke depan, sekali lagi dia melancarkan sebuah cengkeraman kilat ke tubuh Thi Eng khi, cengkeraman maut ini dilancarkan dengan kecepatan luar biasa dan lagi dari ujung tangan segera memancar keluar lima gulung hawa aneh yang segera mengurung sekujur badan Thi Eng khi.

Thi Eng khi yang sekarang bukanlah Thi Eng khi setanun berselang, ke empat macam obat mujarab yang berada didalam tubuhnya kini sudah membaur dengan kekuatan tubuhnya, ditambah pula dia telah melatih kitab pusaka Thian liong pit kip selama setahun lamanya, nadi penting yang mempengaruhi mati hidupnya telah tertembusi, selain itu ada pula hawa khikang yang melindungi badannya, tentu saja serangan cakar maut selaksa bisa pelenyap sukma itu tak mempan terhadap dirinya. Dengan penuh kegusaran segera bentaknya :

"Aku tidak punya waktu banyak untuk rebut denganmu, cepat kau enyah dari sini!”

Dengan jurus Kim liong tam jiau (naga emas mementangkan cakar) telapak tangannya segera bergetar menembusi hawa hitam yang berlapis lapis dan langsung mencengkeram urat nadi diatas pergelangan tangan Serigala buas berhati hitam Oh Tay ciau.

Hek sim pa long Oh Tay ciau sama sekali tidak menyangka kalau serangan yang dilancarkan Thi Eng khi bisa demikian cepatnya, menanti dia berniat untuk menarik kembali tangannya, sayang keadaan sudah terlambat.

Terasa ada segulung aliran hawa panas memancar masuk ke dalam, membuat tenaga dalam hasil latihannya selama tujuh delapan puluh tahun itu sama sekali tak dapat dihimpun kembali.

Terkesiap hati Hek sim pa long Oh Tay ciau menghadapi keadaan tersebut, peluh sebesar kacang kedelai segera jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya.

Thi Eng khi segera mengebaskan tangannya sambil mengayun ke depan, dengan cepat tubuhnya dilempar keluar dari ruangan tengah.

Sesungguhnya tenaga dalam yang dimiliki Serigala buas berhati hitam Oh Tay ciau bukan terhitung sembarangan, akan tetapi kenyataannya belum sampai satu gebrakan menghadapi Thi Eng khi dia sudah dilempar ke¬luar dari dalam ruangan.

Betul hal ini sebagian besar disebabkan sikap pandang entengnya terhadap lawan, namun andaikata tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi tidak memperoleh kemajuan yang amat pesat, mustahil dia bisa melakukan hal tersebut.

Begitu serigala buas kena dikalahkan para gembong iblis lainnya semakin tak berani berkutik lagi dibawah seruan tertahan dari Serigala buas itu, kontan semua orang mengambil langkah seribu dan kabur terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po tercengang pula dibuatnya setelah menyaksikan kelihayan Thi Eng khi, untuk sesaat lamanya dia berdiri tertegun dengan mata terbelalak dan mulut melongo, tak sepatah katapun yang sanggup diucapkan.

Semenjak berhasil melatih ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka Thian liong pit kip, pekerjaan pertama yang hendak dilakukan ThiEng khi adalah pulang ke rumah untuk menengok ibunya serta menolong Thian liong su siang yang terluka oleh ilmu jari Thian sat ci.

Waktu itu dia tidak berhasrat untuk bersapa dan berbincang bincang dengan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, dengan cepat pemuda itu menjura seraya ujarnya :

"Sudah banyak tahun aku berkeliaran diluar, kali ini aku sengaja datang untuk menyambangi ibuku harap Cu pangcu tunggu sebentar.”

Seusai berkata, dia lantas melintas masuk ke ruang dalam. "Thi ciangbunjin, harap tunggu sebentar," Pengemis sakti

bermata harimau Cu Goan po segera berseru keras, “aku si pengemis tua hendak membicarakan sesuatu denganmu.''

Tapi Thi Eng khi sudah keburu menyelinap masuk ke ruangan dalam.

Sambil berlarian menuju keruangan belakang. Thi Eng khi berseru dengan penuh luapan emosi :

"Ibu.... ibu...! anak Eng sudah kembali!”

Hujan turun amat deras, malam itu tak berbintang walaupun Thi Eng khi telah melatih ilmu melihat dalam kegelapan, namun tidak ia pergunakan dalam ruang belakang yang gelap gulita itu. Terasa suasana amat sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suarapun, kesemuanya ini membuat hatinya keheranan.

“lbu!" kembali jeritnya, ''anak Eng telah kembali! Kau jangan takut, cepat keluar…"

Agaknya dia sudah mulai merasakan bahwa gelagat sedikit agak tidak beres.

Buru buru hawa murninya dikerahkan, dua rentetan sinar mata yang tajam segera terpancar keluar dari balik matanya, dia memandang seluruh ruangan itu, namun yang dijumpai hanya debu serta sarang laba laba yang memenuhi dinding dan lantai, jelas gedung ini sudah lama tidak dihuni lagi.

SEKUJUR badan Thi Eng khi gemetar keras, hatinya menjadi sedih sekali hingga air mata terasa meleleh keluar, keluhnya dengan hati yang pedih :

"Oooh….ibu! Siang malam ananda berangkat pulang dengan harapan bisa berjumpa kembali denganmu, siapa tahu kalian sudah ketimpa musibah yang tak diinginkan, sungguh membuat hatiku amat menyesal!''

Sementara itu ketua Kay pang pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po telah menyusul datang, dengan agak tersipu. Katanya :

"Thi Ciangbunjin, harap kau jangan bersedih hati, menurut penilaian aku si penge¬mis tua, kemungkinan besar ibumu sekalian enggan diganggu orang terus menerus, maka mereka telah berpindah tempat menetap."

Pikiran dan perasaan Thi Eng khi waktu itu sungguh merasa gundah sekali, tiba tiba dia membalikkan badan dan menatap wajah pengemis tua itu dengan sorot mata yang tajam, kemudian tegurnya

:

"Siapa yang telah memaksa ibuku sehingga harus menyingkir dari sini? Cepat katakan kepadaku!" Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po cukup memahami perasaan anak muda itu, ia tidak tersinggung oleh sikap kasar orang, setelah menghela napas panjang katanya :

"Panjang sekali ceritanya, mari tenangkan dulu hatimu, kita cari tempat untuk duduk kemudian baru pelan pelan memperbincangkannya kembali. "

Dalam pada itu, Ngo heng ngo kay (lima pengemis Ngo heng) dari Kay pang telah muncul sambil membawa empat batang obor lain masing masing ditancapkan diatas empat penjuru dinding ruangan itu.

Kemudian mereka juga membersihkan lapisan debu diatas lantai dan mempersilahkan Thi Eng khi serta pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po duduk saling berhadapan.

"Ciangbunjin," pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po mulai dengan pembicaraannya, “selama setahun belakangan ini kau telah pergi ke mana saja? Tahukah kau, Tiang Pek lojin dari luar perbatasan telah bentrok dan terjadi salah paham dengan umat persilatan dalam dunia persilatan gara-gara dirimu?''

Thi Eng khi merasa enggan untuk menceritakan kisah sebenarnya sehingga ia berhasil memperoleh kepandaian silatnya, maka pertanyaan yang pertama ini tidak ia jawab.

Maka sambil manggut manggut ujarnya :

"Soal Tiang Pek lojin yaya sampai bentrok dengan pihak Siau lim pay gara gara urusanku telah kudengar sepanjang perjalanan, tapi berhubung aku sudah amat rindu dengan ibuku serta menguatirkan keselamatan keempat orang susiokku yang sedang terluka parah, maka kuputuskan untuk pulang menengok rumah lebih dulu, kemudian baru berangkat ke bukit Siong san untuk menjelaskan kesalahan paham ini. Tapi, selama setahun belakangan ini siapakah yang telah memaksa ibuku sekalian sehingga harus menyingkir dari sini? Apakah pangcu bersedia memberi penjelasan kepadaku?"

Secara ringkas Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po mengisahkan apa yang telah terjadi selama ini, kemudian dia menerangkan pula lantaran semua orang tidak berhasil menemukan jejaknya, maka otomatis sasaran merekapun dialihkan ke gedung Bu lim tit it keh.

Akan tetapi ketika semua orang sampai di gedung Bu lim tit it keh, ternyata Thian liong ngo siang sekalian telah lenyap tak berbekas, tak seorangpun yang tahu kemana mereka telah pergi.

Akhirnya dia menerangkan pula kalau dirinya mendapat pesan dari umat persilatan untuk menjaga di wilayah Huay im sambil melanjutkan pencariannya terhadap orang-orang Thian liong pay.

Selain itu juga diterangkan bagaimana terjadinya peristiwa sehingga pada malam itu mereka sampai bertarung melawan orang orang dari Ban seng kiong.

Setelah itu, dia mengeluarkan gulungan kertas yang diperoleh dalam cakar Thian liong jiau itu, sambil diserahkan kepada Thi Eng khi katanya :

“Kertas ini kudapatkan dari tangan mereka, belum kubaca isinya, silahkan Thi ciangbunjin untuk memeriksanya."

Sambil mengucapkan terima kasih, Thi Eng khi menerima kertas itu dan dibaca isinya, tampak diatas kertas itu tertera beberapa huruf yang kira kira berbunyi demikian :

"Haaahhh....haaaahhh haaahhh...taktik lohu lebih tinggi setingkat dan berhasil mendahului kalian lebih dulu!”

Membaca tulisan itu, Thi Eng khi segera berkerut kening dan terjerumus dalam pemikiran yang amat mendalam.

Suatu keheningan yang cukup lama berlangsung dalam ruangan itu, tiba tiba Thi Eng khi mengangguk.

“Ehmm….. pasti ibuku telah meninggalkan pesan apa apa disitu, tapi pesan tersebut telah diambil oleh orang yang meninggalkan surat ini, besar kemungkinan dalam surat itu ibuku menerangkan arah tujuan mereka….." Kembali ia termenung beberapa saat lamanya, mendadak paras mukanya berubah hebat, sambil melompat bangun teriaknya keras keras :

"Aduh celaka! Andaikata orang yang menyabot surat itu mempunyai maksud dan tujuan yang jelek, atau dia melakukan pengejaran dengan kemampuan ibuku kaum lemah serta keempat orang susiokku yang terluka parah, mana mungkin mereka bisa menandingi kemampuan lawannya?"

Dengan perasaan cemas bercampur gelisah, dia telah bersiap- siap untuk menyerbu keluar dari pintu.

Buru buru pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menghalanginya sembari berkata:

"Harap Thi ciangbunjin berpikir tiga kali lebih dulu sebelum bertindak, jagad begini luas, kau tahu kemana dia telah pergi?"

Thi Eng khi menjadi tertegun, ia segera terbungkam dan untuk sesaat seperti kehilangan pegangan.

Kim kay (pengemis emas) Ui Hui dari ngo heng ngo koay (lima pengemis panca unsur) menatap kertas diatas tangan Thi Eng khi tersebut dengan sorot mata kaku, setelah termenung sejenak tiba tiba dia menimbrung :

“Kertas ini bukan kertas sembarangan, entah apa yang berhasil kalian perhatikan?"

Thi Eng khi membolak-balikkan kertas itu dan memperhatikannya sekejap, kemudian diberikan kepada pengemis emas Ui Hui sambil katanya :

"Pengetahuanku cetek sekali tolong berilah petunjuk untukku!"

Pengemis emas Ui Hui menerima surat tadi dan diperhatikan sejenak, setelah itu sambil diserahkan kepada pengemis kayu Lim Gwan, ia berkata :

"Loji, bagaimana menurut pendapatmu?”

Sambil memeriksa surat itu, sahut pengemis kayu Lim Gwan : "Panjang empat inci lebar dua inci berlapis emas, bergaris pohon lui di ujung kanan dengan seekor kupu kupu sedang mementang sayap disudut kiri bawah..."

"Kalau begitu benda ini semestinya berasal dari Sau tee si bun (Sastrawan penyapu lantai) Lu put ji!" kata pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sambil manggut manggut dan tertawa.

“Benar, benda ini memang merupakan sampul surat pohon liu dan kupu kupu milik sastrawan penyapu lantai Lu put ji!”

''Hayo berangkat!" seru pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po kemudian, "aku si pengemis tua akan menemani heng tay menuju ke perkampungan Tay-ji-ceng untuk mencari si Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji."

"Terima kasih atas kesediaan Cu pangcu!” seru Thi Eng khi kegirangan.

Maka serombongan bertujuh orang segera berangkat meninggalkan pintu halaman gedung Bu-lim-tit-it-keh.

Mendadak ketua dari Kay pang ini menghentikan langkahnya, belum sempat ia memberi petunjuk kepada lima pengemis panca unsur, tiba tiba terdengar suara teriakan keras berkumandang datang dari empat arah delapan penjuru, menyusul kemudian dari sekeliling gedung itu bermunculan sekelompok manusia yang segera mengurung mereka ditengah arena.

Ternyata orang-orang itu sudah lama bersembunyi disekeliling tempat itu, ketika serigala buas berhati hitam sekalian mengundurkan diri dari situ, oleh karena mereka pergi terlalu cepat, lagipula kabur melalui atas kepala mereka, maka orang orang itu tak sempat menghalangi kepergiannya.

Berbeda dengan Thi Eng khi sekalian yang berjalan keluar lewat pintu gerbang secara terang-terangan, tentu saja mereka segera terkurung di dalam kepungan. Ditengah hujan deras yang membasahi permukaan bumi malam itu, kilat menyambar-nyambar menambah seramnya suasana, diantara kilatan sinar yang memancar lamat lamat mereka saksikan kawanan manusia tersebut berbaju dekil penuh dengan lumpur sehingga keadaannya tampak mengenaskan sekali…..

Sementara itu posisi dari Thi Eng khi sekalian bertujuh adalah lima pengemis lima unsur berada didepan, sementara Thi Eng khi serta Hou bok sin kay berada dibelakang.

Tak lama setelah mereka terkepung rapat dari antara kerumunan manusia itu berjalan keluar seorang kakek berusia lima puluh tahunan, kakek ini berwajah gagah dan berwibawa agaknya merupakan pemimpin dari rombongan manusia tersebut.

Sambil menyeka air hujan yang membasahi wajahnya kakek itu berkata dengan lantang :

"Sebenarnya apa maksud dan tujuan kali¬an masuk keluar seenaknya dalam gedung Bu lim tit it keh? Cepat mengaku sejujurnya kalau tidak, jangan salahkan kalau kami akan bertindak kurang sopan"

Walaupun nada perkataannya kasar dan sama sekali tidak bersahabat, namun mereka tidak turun tangan secara sembarangan, dari sini dapat diketahui bahwa orang orang itu bukan manusia urakan yang tidak mengerti akan peraturan dunia persilatan.

Ketika emas dari Ngo kay ngo heng menyaksikan pakaian mereka dekil dan rombeng, pada mulanya mencurigai mereka sebagai angpota Kay pang, ketika menyaksikan orang orang itu begitu berani dan tekebur dihadapan pangcunya, kontan dianggapnya hal ini merupakan suatu kejadian yang memalukan sekali apalagi berada dihadapan ketua Thian liong pay, Thi Eng khi.

Maka sambil maju kemuka, segera bentaknya :

"Kalian anak murid dari aliran mana? Berada didepan pangcu juga berani bertin¬dak gegabah?" “Siapa yang kau anggap murid Kay pang?" kata kakek itu dengan wajah serius.

Segera timbul pula kecurigaan dalam hati pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, sambil berkelit kesamping segera katanya :

"Bagus sekali rupanya kalian enggan mengaku sebagai anggota Kay pang! Perbuatan yang menghianati perguruan merupakan perbuatan yang tak bisa diampuni, Ngo heng ngo kay, bunuh mereka semua!''

“Baik!” sahut ke lima orang pengemis itu berbareng.

Serentak mereka meloloskan senjata tajam yang dimilikinya dan bersiap siap untuk membersihkan perguruan dari anasir anasir yang berusaha menghianati.

Thi Eng khi sendiri, lantaran menganggap kejadian ini merupakan urusan pribadi perguruan Kay pang sendiri, maka diapun tidak banyak berbicara, dengan kening berkerut pelan pelan dia mengundurkan diri dari tempat itu.

Kakek itu makin naik darah ketika menyaksikan ke lima pengemis panca unsur telah meloloskan senjata tajamnya, dia menengadah dan segera tertawa seram.

“Haaahhh haaahhh haaahhh orang bilang peraturan dalam tubuh Kay pang amat ketat dan disiplin cara kerjanya amat menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan, siapa tahu tindak tanduk yang kalian lakukan hari ini sungguh membuat lohu merasa kecewa sekali…..

Mengandalkan kekuatan menindas kaum lemah, bukan cuma membuat keonaran saja ditempat suci perguruan Thian liong pay, bahkan berani menuduh orang yang bukan-bukan, perbuatan kalian sungguh mengenaskan hati, Hmm…! Kau anggap lohu sungguh sungguh takut terhadap kalian?”

Sambil memberi ulapan tangan, dia melanjutkan :

"Saudara saudara sekalian, hari ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk menunjukkan kebaktian kita terhadap perguruan, kita sudah tak bisa bersabar lagi, mari kita beradu jiwa lebih dulu dengan kawanan pengemis yang tak tahu akan keadilan dan kebenaran ini!"

Suara teriakan gagap gempita bergema memecahkan keheningan, kebetulan kilat sedang menyambar-nyambar dengan angin yang kencang dan hujan yang deras, kesemuanya ini menambah keseramannya suasana ketika itu.

Teguran kakek tersebut dengan cepat menggetarkan perasaan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, ia segera menyadari bahwa suatu kesalahan paham telah terjadi.

Cepat cepat dia memberi tanda kepeda kelima orang pengemis panca unsur agar menunda serangan mereka, katanya.

"Ngo heng ngo kay, harap mundur dahulu pun pangcu masih ada pertanyaan yang hendak ditanyakan."

Ngo heng ngo kay menarik kembali senjata mereka dan mengundurkan diri ke samping pengemis sakti bermata harimau Cu Goan Po.

Dalam pada itu, ketua Kay pang itu sudah maju ke depan sambil berkata dengan suara yang lebih lembut.

“Lohu adalah ketua Kay pang Cu Goan po …..”

Belum habis dia berkata, kakek tersebut sudah menukas sambil tertawa dingin :

“Siapa yang tidak tahu kalau kau adalah Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po? Di hari hari biasa kau selalu menjunjung tinggi nama dan martabatmu, tak tahu hari ini masih mencoba untuk menipu orang.”

Hou bok sin kay Cu Goan po memang memiliki kelapangan dada yang besar, ia tidak menjadi marah, sebaliknya malah berkata sambil tertawa hambar :

“Siapakah lotiang? Mengapa tidak kau sebutkan dulu nama dan julukanmu agar persoalan lebih jelas?” “Lohu adalah Thian Heng, anak murid Thian liong pay, kami datang untuk melindungi tempat suci perguruaan kami, tentunya kalian sama sekali tidak menyangka bukan!”

Bagitu mendengar ucapan tersebut, bukan cuma Hou bok sin kay Cu Goan po saja yang dibikin tertegun dengan mata terbelalak, bahkan kelima orang pengemis lima unsur pun dibikin gelagapan.

Terutama sekali Thi Eng khi sendiri, dia merasakan darah panas dalam dadanya tergolak keras, air mata membasahi wajahnya membuat pandangan matanya menjadi kabur, saking emosinya dia sampai tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Untung saja Hou bok sin kay Cu Goan po berhasil menguasai gejolak perasaannya dengan cepat, teringat kalau saat itu bukan tempat yang tepat untuk berbicara, lagipula suasana disana amat gelap sehingga pihak lawan tak dapat melihat jelas dandanan Thi Eng khi, pun

sulit membuat mereka percaya kalau Thi Eng khi adalah ciangbunjin angkatan kesebelas dari partai Thian liong pay, maka dia segera mengambil tindakan cepat.

Kepada kelima orang pengemis lima unsur segera perintahnya : "Kalian kembalilah dulu ke halaman dalam, persiapan lentera, aku

dan beberapa orang sahabat ini segera akan menyusul tiba."

Lima orang pengemis itu segera mengiakan dan mengundurkan diri terlebih dulu ke dalam halaman gedung Thian hee tit it keh.

Kemudian pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po pun menjura kepada kakek tersebut sembari berkata :

"Thian tayhiap, bersediakah kau untuk masuk kedalam dan berbincang bincang sebentar?”

"Mati saja tidak takut, memangnya kau anggap aku tidak berani?

Hayo berangkat!" "Silahkan!" Sambil menarik tangan Thi Eng khi dia lantas berjalan lebih dulu didepan.

Sementara itu, suasana didalam ruang tengah gedung Thian hee tit it keh terang benderang bermandikan cahaya lampu.

Thi Eng khi telah berdiri di tengah ruangan, sinar lentera yang terang benderang menyoroti wajahnya yang tampan, tampak jubah birunya sebagai perlambang jubah partai Thian liong pay serta pedang Thian liong kim kian yang tersoren di pinggang kesemuanya ini menambah keren dan berwibawanya pemuda itu.

Agak tertegun Thian Heng beserta segenap anggota partai Thian liong pay lainnya setelah menyaksikan keadaan itu, mula-mula mereka agak tidak percaya, tapi setelah direnungkan sebentar akhirnya mereka tidak sangsi lagi.

Dengan tubuh gemetar keras dan air mata bercucuran membasahi wajahnya, buru buru Thian Heng maju kedepan dan menjatuhkan diri berlutut diatas tanah, serunya.

“Tecu Thian Heng tidak tahu kalau ciangbunjin telah tiba, bila tindakan kami terlampau gegabah, silahkan ciangbunjin menjatuhkan hukuman kepada tecu sekalian."

Menyusul itu, segenap anggota Thian liong pay yang lain berlutut dibelakang Thian heng turut berseru pula :

“Tecu sekalian menghunjuk hormat kepada ciangbunjin!!”

Sejak peristiwa dalam perkampungan Ki hian san ceng, segenap umat persilatan telah tahu kalau Thi Eng khi adalah ciangbunjin angkatan kesebelas dari partai Thian liong pay, sudah barang tentu anggota Thian liong pay inipun sudah mendengar pula akan persoalan itu.

Sekarang setelah mereka saksikan dandanan serta potongan badan Thi Eng khi kemudian tampak pula pedang Thian liong kim kiam sebagai lambing seorang ciangbunjin tersoren pula dipinggangnya, tentu saja mereka tak akan sangsi lagi.

Thi Eng khi sendiripun sama sekali tidak menyangka kalau dalam keadaan seperti ini dapat bersua kembali dengan anggota perguruanya, apaalagi menyaksikan semangat anak buahnya yang begitu besar, ia merasa terharu sekali, tanpa terasa air matanya jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya.

Sambil balas memberi hormat, dia berseru :

"Saudara saudara seperguruan, silahkan bangun! AKU.,..."

Tiba-tiba hidungnya terasa kecut dan tenggorokannya sesenggukan, ia tak mampu melanjutkan kembali kata katanya.

Thian Heng adalah seorang yang telah lanjut usia, tentu saja dia dapat memahami perasaan dari ciangbunjinnya, namun dalam keadaan dan situasi seperti ini, lagipula hadir ketua Kay pang si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, tentu saja diapun tak berani banyak berbicara.

Terpaksa dia berusaha keras untuk mengendalikan dulu pergolakan perasaan dalam hatinya, setelah itu sambil menunjukkan sekulum senyuman paksa ia bangkit berdiri.

"Ciangbunjin, baik baikkah kau selama ini?" sapanya kemudian. Thi Eng khi memang seorang pendekar yang berjiwa besar,

walaupun usianya tidak besar, pengalamannya tidak cukup, namun dia sangat berlapang dada dan pandai mengendalikan pergolakan emosi dalam hatinya.

Sekalipun Thian Heng tidak menunjukkan senyuman paksanya, sejak tadi sekulum senyuman telah menghiasi wajahnya, apalagi sekarang wajahnya tampak jauh lebih cerah lagi.

"Atas pelindungan dari coasu, aku telah berhasil mendapatkan kembali kitab pusaka Thian liong pit kip, sejak ini aku akan bersama saudara sekalian untuk bersama sama berjuang demi masa depan perguruan kita."

Mengetahui kalau kitab pusaka Thian liong pit kip telah berhasil ditemukan kembali oleh Thi Eng khi, bukan cuma anggota Thian liong pay saja yang segera bersorak sorai menyambut berita girang itu, bahkan ketua Kay pang si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po beserta ke lima orang pengemis panca unsurpun bersama sama mengucapkan selamat kepada pemuda itu, mereka menganggap saat Thian liong pay un¬tuk muncul kembali dalam dunia persilatan sudah sampai, besar kemungkinan bencana berdarah yang melanda dunia saat ini dapat diatasi.

Kemudian, Thi Eng khipun bertanya ke¬pada Thian Heng sekitar keadaan anak murid Thian liong pay saat ini. Dengan sejelas jelasnya Thian Heng memberi keterangan semua yang diketahui olehnya.

Ternyata dibawah pencarian umat persilatan yaag berada didunia saat ini serta pembunuhan berantai yang dilakukan orang orang Ban seng kiong, pada hakekatnya posisi orang orang Thian liong pay dewasa ini sudah terjepit sekali sehingga tiada jalan untuk melarikan diri lagi.

Oleh karena mereka tidak tahu kalau tujuan dari pencarian orang orang golongan lurus hanya ingin mencari jejak Thi Eng khi dari mulut mereka, maka siapapun tak berani berhubungan dengan orang orang persilatan, mereka mengira bencana telah diambang pintu, tiap hari mereka harus hidup dalam kekuatiran dan kegelisahan.

Dalam keadaan yang tertekan dan terisolir, akhirnya anak murid Thian liong pay tak dapat menuruti perintah dari Cousunya lagi untuk mengasingkan diri, diam diam mereka mulai bersua dan berjuang menentang keadaan nasib.

Merekapun mulai melakukan hubungan dengan pelbagai anggota perguruan yang tersiar dimana mana guna bersatu dan melakukan perlawanan terakhir, diantara mereka yang tingkatnya paling tinggi adalah saudara seperguruan Thian liong ngo siang, sedangkan tingkatan yang paling rendah adalah keponakan murid Thi Eng khi.

Selain daripada itu terdapat juga sementara anggota dunia persilatan yang merasa tak senang menyaksikan pelbagai jago dari berbagai aliran dalam dunia persilatan mendatangi gedung Thian hee tit it keh sekehendak hatinya, maka mereka lantas membakar semangat juang umat Thian hong pay dengan harapan bisa menpergunakan darah dari murid-murid Thian liong pay untuk memberi peringatan kepada umat persilatan didunia ini.

Thian Heng merupakan pemimpin dari rombongan yang terakhir ini, kali ini dia sengaja memimpin anak murid Thian liong pay dengan tujuan untuk menggunakan darah segar mereka untuk memberi peringatan kepada umat persilatan, sungguh tak disangka justru dalam keadaan seperti inilah dia telah berjumpa dengan ciangbunjinnya Thi Eng khi.

Berbicara soal hubungan, maka Thian Heng adalah murid pertama dari pemimpin Thian liong ngo siang yaitu Kay thian jiu (tangan sakti pembuka langit) Gui Tin tiong, atau masih kakak seperguruan dari Thi Eng khi.

Sejak perguruan Thian liong pay menutup pintu dan mendapat perintah untuk meninggalkannya, diapun belum pernah kembali lagi kesana. Hampir dua puluh tahunan dia berkelana dan hidup mengembara di dalam dunia persilatan, tentu saja penderitaan semacam ini betul-betul memilukan hati bila dibicarakan.

Demikianlah, sementara semua saling menuturkan pengalamannya masing-masing, mendadak Thi Eng khi berkerut kening.

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang menyaksikan kejadian itu segera menegur :

“Saudara cilik apa yang telah kau rasakan?”

Thi Eng khi merasa terharu sekali atas kehangatan sikap ketua Kay pang ini terhadapnya, apalagi sejak di perkampungan Ki hian san ceng tempo hari sudah menaruh kesan baik kepadanya, dalam gejolak emosi yang meluap, tak tahan lagi dia berseru :

“Engkoh tua …..”

Tiba-tiba dia merasa panggilan itu kurang baik, baru saja akan menariknya kembali, si pengemis tua itu sudah bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak.

“Haahhhh…. Haahhhh…. Haaahhhh…. saudara cilik, panggilan tersebut sesuai dengan seleraku, lain kali kau panggil saja dengan sebutan itu, awas jangan dirubah lagi!”

“Aaah….. jangan, jangan, aku hanya salah bicara sja, harap Cu pangcu jangan menganggap serius!” seru Thi Eng khi cepat cepat sambil menggoyangkan tangannya berulang kali.

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po kontan mendelik besar, dengan nada marah dia berkata :

“Saudara cilik, kau anggap aku si pengemis tua tidak pantas menjadi engkoh tuamu? Hmmm, terlalu menghina! Baik, kalau toh kau menganggap remeh diriku, sekarang juga aku si pengemis tua akan memohon diri!”

Selesai berkata, buru-buru dia berlagak seperti akan meninggalkan ruang itu.

Walaupun Thi Eng khi juga tahu kalau pengemis tua itu hanya berlagak, bagaimanapun juga toh orang bermaksud baik, terpaksa katanya :

"Engkoh tua, jangan marah, baik, baiklah siaute akan menuruti permintaanmu itu!"

Mencorong sinar tajam dari balik mata pengemis tua itu, dia segera menggenggam tangan Thi Eng khi erat erat sembari katanya

:

“Saudara cilik, mulai sekarang, urusan Thian liong pay berarti urusan dari aku si pengemis tua pula!” Sementara mengucapkan perkataan itu, sepasang tangannya kelihatan gemetar keras jelas dia merasa terharu sekali.

“Terima kasih banyak atas cinta kasih engkoh tua!” ucap Thi Eng khi pula sambil menatap saudaranya lekat lekat.

Dengan cepat pengemis sakti bermata ha¬rimau Cu Goan po memanggil kelima pengemis lima unsurnya, lalu berpesan :

“Mari kalian menjumpai saudara cilik ini mulai sekarang kalian ini mesti menjual nyawa untuk dirinya.”

Kelima orang pengemis lima unsur itu menjadi girang sekali katanya hampir berbareng :

“Urusan saudara cilik adalah urusan Kay pang, soal ini tak usah pangcu pesankan lagi!”

Buru-buru Thi Eng khi menjura dengan perasaan terharu. “Terima kasih banyak atas cinta kasih engkoh tua sekalian

kepada siaute.”

Mendadak pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menarik wajahnya lalu dengan serius dia berkata :

“Mulai sekarang Thian liong pay telah mengikat tali persaudaraan dengan Kay pang, saudara cilik, sekarang kau harus katakan secara terus terang kepada engkoh tuamu, mengapa kau berkerut kening tadi?”

“Oooh…. Begitu hangat sikap engkoh tua kepadaku, tampaknya siaute terpaksa harus berbicara terus terang.”

“Saudara cilik, bila ingin membicarakan sesuatu, katakanlah dengan cepat, mengapa mesti mencla mencle seperti nona perawan saja, kalau begini caramu mana bisa mengerjakan suatu urusan besar?”

Merah padam selembar wajah Thi Eng khi karena jengah, sahutnya : “Siaute sedang risau karena masalah penempatan saudara- saudara kami dari partai Thian liong pay, sudah pasti penghidupan mereka merupakan suatu permasalahan yang cukup gawat, itulah sebabnya siaute merasa serba salah.”

Setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh.

“Dewasa ini, persoalan yang harus siaute kerjakan masih banyak sekali, untuk sesaat mustahil bagiku untuk membangun partai secara resmi dan selalu hidup berkumpul dengan mereka, akan tetapi akupun tak akan membiarkan mereka hidup luntang lantung terus tanpa tempat tinggal menetap, oleh karenanya ….. Engkoh tua, kau sudah banyak berpengalaman, dapatkah kau tunjukkan cara yang paling baik bagiku untuk mengatasi kesulitan ini?”

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera tertawa terbahak bahak setelah mendengar perkataan itu.

“Haahhh…. Haaahhh…. Haaahhhh….. bukankah ciangbunjin tidak tahu bagaimana cara untuk mengatasinya?”

Sesudah tertawa tergelak lagi, dia berkata lebih jauh. “Engkoh tua mah mempunyai cara yang paling baik untuk

mengatasi kesulitan ini, cuma masalahnya sekarang terpaksa musti merendahkan derajat saudara seperguruanmu itu, hingga ….. ya sulit bagiku untuk mengucapkan secara terus terang…. “

“Engkoh tua, kau tak usah sungkan-sungkan!” ucap Thi Eng khi cepat dengan mata berkilat.

“Bila saudara cilik tidak keberatan, biarkan saja saudara-saudara kalian itu menjadi tamu selama beberapa waktu dalam perkumpulan kami?”

Walaupun Thi Eng khi merasa cara ini kurang baik, namun diapun enggan menampik, setelah termenung sebentar, dia lantas berpaling kearah Thian Heng sambil bertanya :

“Thian suheng, bagaimana menurut pendapatmu?” Thian Heng turut termenung untuk sesaat dia tak sanggup mengemukakan sesuatu pendapatpun.

Maka Thi Eng khi lantas memutuskan :

“Baiklah, bagaimanapun juga hubungan kita dengan Kay pang adalah hubungan persaudaraan, sekalipun harus menumpang sementara waktu rasanya juga bukan sesuatu hal yang keliru.”

Terhadap setiap masalah, rupanya pemuda ini sudah bisa menyesuaikan diri menurut keadaan, tidak seperti setahun berselang yang begitu keras kepala dan kukuh pada pendirian.

Dengan serius Thian Heng berkata :

“Perkataan dari ciangbunjin memang benar, tecu sekalian akan turut perintah.”

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menjadi girang sekali sambil manggut manggut katanya :

“Pandai menyesuaikan diri dengan gelagat merupakan suatu tindakan yang paling tepat, murid Kay pang merasa berbangga hati sekali karena bisa menerima saudara saudara dari Thian liong pay sebagai tamu kehormatan!"

Selesai berkata, ia lantas berpaling kepada kelima orang pengemis lima unsur sambil pesannya :

"Mulai sekarang, asal berjumpa dengan saudara Thian liong pay, semuanya diundang untuk berkumpul dalam markas besat dan layani mereka sebagai tamu agung, jangan sampai keliru! Sekarang, ajaklah Thian tayhiap sekalian untuk pulang kemarkas lebih dulu, lohu dan saudara cilik akan berangkat dulu ke perkampungan Tay ji eng untuk mencari sastrawan penyapu tanah Lu Put ji.”

Sedangkan Thi Eng khi juga lantas berpesan kepada Thian Heng. "Hubungan persaudaraan Kay pang dengan Thian liong pay

sudah ibaratnya keluarga sendiri, mulai sekarang anak murid perguruan kita akan menjadi tamunya Kay pang, aku harap suhenglah yang memimpin mereka. Bila aku ada urusan pasti akan kuhubungi kalian.”

"Terima perintah!” sahut Thian Heng segera sambil membungkukkan badan memberi hormat.

Menyusul kemudian dia berseru dengan lantang :

"Menghantar dengan hormat keberangkatan ciangbunjin dan Cu pangcu untuk melakukan perjalanan!"

Serentak anak murid partai Thian liong pay bangkit berdiri dan menghantar keberangkatan Thi Eng khi dan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po keluar dari pintu gerbang.

Sekalipun dalam tubuh Kay pang sendiri tiada ucapan semacam ini, namun terpengaruh oleh perbuatan murid murid Thian liong pay ini merekapun turut berdiri dengan wajah serius.

Dalam waktu singkat Thi Eng khi dan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po telah meninggalkan gedung Thian hee tit it keh di kota Huay im, oleh karena gerakan tubuh mereka sangat cepat, maka tak sampai dua hari mereka telah sampai di wilayah perkampungan Tay ji ceng.

Sepanjang jalan, Thi Eng khi baru mendapat tahu tentang siapa dan bagaimanakah manusia yang bernama Sau tee si bun Lu Put ji tersebut dari mulut Cu Goan po.

Ternyata sastrawan penyapu lantai Lu Put ji adalah seorang jago yang berpengetahuan luas sekali, ilmu silatnya tidak jelek, paras mukanya lebih lebih sekali, mana tampan, gagah perkasa lagi.

Tapi walaupun semua prasyarat yang begitu bagus dia miliki, namun yang berhasil dia peroleh hanya julukan Sau tee si bun belaka, terhadap kedudukan maupun tingkatannya sama sekali tidak bermanfaat apa-apa.

Sebab dia memiliki sebuah watak yang amat jelek, di hari hari biasa ia gemar se¬kali bergaul dengan kaum manusia rendah diapun suka dengan uang, perbuatan apapun sanggup dia lakukan, hingga pada hakekatnya dalam benak orang ini sama sekali tidak mengenal arti kata "harga diri".

Itulah sebabnya, meskipun wajahnya tampan ilmu sastra dan ilmu silatnya tinggi, namun dia hanya memperoleh julukan sebagai Sastrawan penyapu lantai.

Yang lebih aneh lagi adalah dia sama sekali tak tahu diri malah secara khusus dia memesan semacam kertas surat pohon liu dan kupu kupu untuk berbuat semena mena dimana mana, tak seorang jago silatpun yang memandang sebelah mata terhadapnya.

Sementara itu, perkampungan Tay ji ceng telah berada didepan mata, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera menarik tangan Thi Eng khi untuk melingkari sebuah bendungan, menjauhi jalan raya setelah menelusuri jalan setapak sekian la¬ma, perkampungan Tay ji ceng kembali, mereka tinggalkan jauh dibelakang sana.

Tiba tiba pemandangan yang terbentang didepan mata terasa meluas, didepan situ muncul sebuah bendungan yang penuh tumbuh pepohonan liu, di ujung bendungan itu berdiri tiga buah bangunan rumah mungil sebuah sungai melingkari bangunan rumah tadi.

"Ehmm, tempat ini benar benar merupakan sebuah tempat yang sangat indah"' puji Thi Eng khi sambil manggut manggut.

"Yang lebih bagus lagi masih ada dibelakang!" sahut pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sambil tertawa.

Thi Eng khi hanya tertawa belaka, dia tidak berusaha untuk mendalami perkataan dari pengemis tua itu, selangkah demi selangkah dia lantas berjalan mendekati pintu gerbang bangunan rumah mungil itu.

Tiba didepan pintu dan menengadah, tanpa terasa Thi Eng khi berseru tertahan : “Bagus! Benar benar bagus sekali, tempat ini selain tiada adat kebiasaan alam semesta, hakekatnya merupakan tempat tinggal para Dewa Dewi, kalau dilihat dari keadaan disini, siaute benar benar tidak percaya kalau dia adalah seorang manusia seperti apa yang telah Engkoh tua terangkan kepadaku tadi.”

“Andaikata ia tidak tahu soal seni dan sastra, tak akan orang lain menyebutnya sebagai Sastrawan penyapu lantai!”

Kemudian dengan suara yang amat keras, dia lantas berteriak : "Pun pangcu telah datang, mengapa tia¬da orang yang

menyambut kedatanganku?"

Baru selesai dia berteriak, dari dalam pintu telah muncul seorang kakek berjenggot cabang tiba yang bermuka tampan, sambil menjura kepada pengemis sakti bermata harimau, ia berkata :

“Lu Put ji tak tahu akan kedatangan pangcu bila tak menyambut dari kejauhan, harap sudi dimaafkan.”

"Hmm, tak usah berlagak terus!" dengus Cu Goan po cepat. Menyusul kemudian, dia berkata lebih jauh :

"Lu-Put ji, kau begitu mengumpak diriku tidakkah kuatir kalau hal ini akan menodai nama baikmu sebagai seorang sastrawan penyapu lantai?”

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera tertawa terkekeh kekeh.

“Heeehh…… heeehhh… Heeehhh…… nama besar Cu pangcu telah termashur di seantero jagad, bila Lu Put ji tidak mengumpak dirimu, lantas musti mengumpak siapa?"

Tak disangka kalau oraag terhormat macam dia, ternyata sanggup mengucapkan kata kata seperti ini.

“Benarkah kau telah mengucapkan suara hatirnu?” ketua Kay pang itu menegaskan.

“Bila Put ji tidak jujur, maka aku bukan cucu Cu pangcu!" Jilid: 10

“BILA aku mempunyai cucu macam kau, sudah sedari dulu kubunuh dirimu ''

“Aaah… benar, benar, memang pantas dibunuh, memang pantas dibunuh!"

Hampir tertawa geli Thi Eng khi menyaksikan tindak tanduk orang yang menyebalkan itu, katanya :

"Kalau orang sampai memanggilnya sastrawan penyapu lantai, rasanya ucapan ini memang tepat sekali."

Dalam pada itu paras muka pengemis sakti bermata harimau kelihatan amat serius dan sedikitpun tiada senyuman yang menghiasi bibirnya dengan langkah lebar dia masuk keruang dalam sembari katanya :

"Lohu haus sekali!”

“Put ji telah menduga akan kedatangan pangcu berdua sejak tadi air teh wangi telah kupersiapkan.”

Sambil miringkan badannya, dia mempersilahkan pengemis tua itu masuk lebih dulu keruangan dalam.

Thi Eng khi segera menyusul kebelakang pengemis sakti bermata harimau tapi baru saja akan melewati pintu ruangan, mendadak sastrawan penyapu lantai Lu Put ji, menghadang dihadapannya lalu dengan sikap yang angkuh katanya ketus :

"Liu tiap cay tidak akan menerima manusia yang tidak bernama!" Sambil membusungkan dadanya Thi Eng khi segera berseru. "Aku adalah ciangbunjin dari partai Thian liong pay!"

Dalam anggapannya, bila ia telah menyebutkan kedudukannya itu sudah pasti sastrawan penyapu lantai akan berubah sikap terhadapnya. Siapa tahu sikap sastrawan penyapu lan¬tai Lu Put ji masih tetap angkuh dan ketus katanya.

"Tiga puluh tahun sungai timur tiga puluh tahun sungai barat, dalam dunia persilatan sudah tidak terdapat lagi nama partai Thian liong pay, liu tiap cai juga tak dapat melanggar kebiasaan dengan mempersilahkan kau masuk."

Mendengar perkataan itu, Thi Eng khi menjadi naik darah, dengan kening berkerut segera bentaknya :

"Kurangajar, kalau begitu aku tak akan sungkan sungkan lagi terhadap dirimu.”

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji sama sekali tidak merubah sikapnya, sambil menggulung ujung bajunya dia berseru :

"Aku selamanya tidak takut rnenghadap orang yang sedang lewat, bila kau ingin beradu kepandaian diujung senjata, aku akan melayanimu dengan senang hati.”

Paras muka Thi Eng khi waktu itu sudah dingin bagaikan salju agaknya ia telah bersiap siap untuk turun tangan.

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang menyaksikan kejadian itu buru buru tertawa tergelak.

"Haaahh…….. haaahh…….. haaahhh……. Lu Put ji adalah seorang manusia yang amat memandang tinggi soal tingkat kedudukan,” katanya, “saudara cilik, buat apa kau mesti ribut dengannya?"

Tiba tiba dia menarik muka, kemudian ujarnya kepada sastrawan penyapu lantai Lu Put ji :

"Thi ciangbunjin adalah saudaraku."

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji tak malu disebut sebagai manusia penjilat nomor wahid didunia ini, setelah mendengar perkataan itu, sikapnya segera berubah seratus delapan puluh derajat. Belum lagi pengemis sakti bermata harimau menyelesaikan kata katanya, ia telah membungkukkan badannya sambil berkata :

"Saudara cilik, silahkan masuk!"