Pukulan Naga Sakti Jilid 07

 
Jilid 07

MENYUSUL kemudian, Ci hui taysu, Ci leng taysu dan Ci nian taysu mengemukakan pula keheranan dan ketidak mengertian mereka. Ketua Siau lim pay segera menghela napas panjang, tiba-tiba serunya dengan lantang. "Dimana Go sin?"

"Tecu siap menanti perintah!" seseorang menjawab dari luar ruangan.

“Pergi kekamar Sian hong dan bawa kemari kotak bambu hijau tempat tanda pengenal!”

Tak lama kemudian, Go sin hwesio telah muncul sambil membawa sebuah kotak panjang terbuat dari bambu hijau, kemudian dengan sepasang tangannya dipersembahkan kehadapan ketuanya.

Ciangbun Hongtiang segera berpesan :

"Serahkan kepada Ci kay susiok untuk diperiksa!"

Go sin hwesio menurut dan serahkan kotak panjang bambu hitam itu kepada Ci kay taysu, kemudian mengundurkan diri dari situ.

Ketika Ci kay taysu membuka kotak itu dan diperiksa isinya, ternyata kotak itu hanya berisikan secarik kertas putih.

Dengan cepat kertas itu diambilnya, kemudian dibaca isinya, apa yang kemudian terbaca segera membuat paras mukanya berubah hebat, dengusan napasnya juga memburu.

Ciangbun hongtiang memandang sekejap ke arah Ci hui taysu, Ci leng taysu dan Ci nian taysu, setelah itu ujarnya:

"Sute bertiga belum mengetahui keadaan yang terjadi, Ci kay sute! Coba kau bacalah secara lantang isi surat tersebut!"

Ci kay taysu menurut dan segera membaca isi surat itu dengan suara lantang :

“Dengan alasan ketua partai Thian liong pay angkatan kesebelas telah ditawan oleh partai kalian dan Bu tong pay.

Tiang pek lojin So Seng pak akan datang ke kuil Siau lim si untuk menerbitkan keonaran, padahal yang benar mereka berniat menghancurkan partai kalian agar ambisinya untuk menguasahi daratan Tionggoan bisa tercapai.

Untuk menghindari segala kemungkinan yang tak diinginkan sengaja kuberi peringatan inl agar kalian bisa membuat persiapan yang diperlukan.

Tertanda: orang yang ada maksud"

Ketika Ci kay taysu selesai membaca isi surat tersebut, suasana dalam ruangan segera tercekam dalam keheningan yang luar biasa.

Akhirnya Ci kay taysu menggelengkan kepalanya berulang kali seraya berkata :

"Tak bisa dipercaya! Tak bisa dipercaya! Menurut apa yang kuketahui, Tiang pek lojin adalah seseorang yang lurus, jujur dan bijaksana, mana mungkin ia bisa mempunyai jalan pemikiran yang demikian latahnya……?”

“Tapi orang toh sudah berada didepan pintu, masa hal ini bisa suatu ceritera bohong saja!" kata Ci hui taysu.

“Menurut pendapat siaute,” kata Ci nian taysu, “lebih baik kita percaya dulu daripada tidak percaya, bersiap-siap lebih duluan toh tidak ada salahnya.”

“Tiang pek lojin memiliki kepandaian yang luar biasa sekali,” ujar Ci leng taysu serius, “aku kuatir ciangbun suheng sendiripun …..”

Mendadak ia menghentikan kata-katanya, melirik sekejap ke arah ketuanya dan tidak berbicara lagi.

Ciangbun hongtiang sekali lagi menghela napas panjang. “Aaai …. Aku masih ingat cerita orang pada puluhan tahun

berselang, dalam sepuluh kali pertarungan antara Tiang pek lojin melawan Keng thian giok cu Thi locianpwe dari Thian liong pay, akhirnya dia baru dikalahkan dalam setengah jurus. Kejadian itu membuatnya mengasingkan diri ke luar perbatasan dan membangun kekuatan baru di situ, kesemuanya itu membuktikan kalau So lo tidak mempunyai ambisi apa-apa, sungguh bikin orang tidak habis mengerti.”

“Aaaai. menurut pendapatku, kejadian ini mencurigakan sekali

dan pantas untuk dicurigai, cuma, puluhan tahun-tahun lamanya So lo selalu jujur dan bijaksana, siapa tahu kalau kemunculannya kali ini adalah bertujuan untuk melenyapkan badai pembunuhan yang mulai mengancam dunia persilatan? Yang paling menguatirkan adalah jika ada orang bermain dalam air keruh dan menunggangi keadaan tersebut demi kepentingannya.”

Mendengar perkataan itu, tiba-tiba saja Ci kay taysu teringat kembali akan perbuatan Huan im sin ang yang bermaksud mengadu domba para jago ketika berada di perkampungan Ki hian san ceng tempo hari.

Seperti serentetan hatinya, dia lantas berseru:

“Entah dimana datangnya surat itu? Apakah di ciangbun suheng bersedia memberi petunjuk?"

Ciangbun hongtiang menunduk sedih, sahutnya : "Surat ini kutemukan dalam kamarku pagi tadi."

Mendengar perkataan tersebut, ke empat orang kim kong saling berpandangan muka dan tidak berbicara apa-apa lagi.

Harus diketahui ketua dari partai Siau lim ini memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, tapi kenyataannya orang yang memberi peringatan tersebut dapat meninggalkan surat peringatan tanpa diketahui, dari sini dapat diketahui kalau kepandaian silat yang dimiliki orang itu sangat mengerikan hati.

Tanpa terasa keempat orang pendeta itu saling berpandangan dengan perasaan terkesiap.

Tiba tiba ketua dari Siau lim pay itu berpaling, kemudian serunya dengan suara lantang : “Go tong, turunkan perintah untuk mempersiapkan barisan Lo han toa tin….."

Go tong hwesio mengiakan dan segera mengundurkan diri dari tempat tersebut, ketika Ci kay taysu menyaksikan ketuanya hendak mempergunakan barisan Lo han toa tin untuk menghadapi Tiang pek lojin, dengan kening berkerut segera tegurnya :

"Ciangbun suheng, apakah tindakan ini tidak kurang baik?"

"Jika ada persiapan bencana baru dapat diatasi, So Seng pak bukan seorang jago yang gampang untuk dihadapi, sampai waktunya kita mengambil tindakan menurut keadaan saja!”

DALAM suasana tegang dan kesiagaan penuh kuil Siau lim si dapat melewati dua hari masa yang aman.

Didalam dua hari ini, mereka sendiripun tak dapat menebak gerak gerik serta kekuatan yang sebenarnya dari Tiang pek lojin.

Puluhan orang jago lihay dari luar perbatasan yang dipimpin langsung oleh Tiang pek lojin dengan terang-terangan menginap disebuah rumah penginapan yang terbesar dikota Teng hong, segala sesuatunya dilakukan secara terang-terangan, sedikitpun tidak tampak tersembunyi atau melanggar kebiasaan dunia persilatan tidak malu ia disebut sebagai seorang pemimpin dunia persilatan.

Besok adalah saat perjanjian yang telah ditetapkan.

Untuk menghadapi tantangan yang akan terjadi besok pagi segenap anggota Siang bun ia memerintahkan untuk beristirahat semenjak pagi, agar semua orang bisa memiliki tenaga yang segar untuk menghadapi peristiwa besok pagi.

Waktu sudah melewati kentongan ketiga selain penjagaan yang dilakukan dengan ketat, suasana dalam kuil itu diliputi oleh keheningan yang mencekam.

Pada saat itulah, tiba-tiba dari bawah bukit berkumandang suara pekikan nyaring yang amat memekikkan telinga, pada mulanya suara pekikan tersebut masih berada di tempat yang sangat jauh, tapi sesaat kemudian tahu-tahu sudah dekat sekali dengan kuil itu,

Meski penjagaan disekitar kuil Siau lim si amat ketat, penjagapun terdiri dari jagoan yang lihay, akan suara pekikan itu dengan mudahnya dapat bergerak langsung menuju ketengah ruangan.

Mendengar suara pekikan itu dengan terkejut Ciangbun hongtiang membuka pintu dan berjalan keluar dari ruangan, pada saat yang bersamaan pula suara pekikan itupun telah sampai disitu.

Dengan kening berkerut dia mengawasi si kakek berambut putih yang berada dihadapannya, kemudian sambil tertawa dingin katanya dengan suara dalam.

"Rupanya So tayhiap yang telah berkunjung datang, tak heran kalau tiada anggota kuil yang bisa menghalangi kedatanganmu, tolong tanya ada urasan apa So tayhiap malam-malam berkunjung kemari? Apakah kau sudah lupa dengan janji kita besok?"

Tiang pek lojin So Seng pak segera tertawa terbahak-bahak. "Haaahh……. Haaahh haaahh…. lohu bermaksud untuk

berbicara secara baik-baik lebih dulu sebelum menggunakan kekerasan sebelum pertarungan berlangsung aku ingin berbincang- bincang secara pribadi lebih dulu denganmu apakah tidak boleh?"

"Kalau memang ingin berbicara katakan saja terus terang, lolap sama saja bisa menerimanya.”

Sementara pembicaraan berlangsung, Sreet! Sreet! Sreet! Diiringi desingan angin tajam,

Ci kay taysu, Ci hui-taysu, Ci leng taysu dan Ci nian taysu telah bermunculan disana dan membentuk posisi setengah lingkaran dibelakang tubuh Tiang pek lojin.

Dengan pandangan dingin, Tiang pek lojin memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan sikap acuh tak acuh katanya

: "Lohu datang dari jauh sebagai tamu, masa kalian tidak tahu cara untuk menerima tamu?"

Sambil tertawa dingin, ia mendongakkan kepalanya dan bersikap sangat angkuh.

Ciangbun hongtiang memandang sekejap kearah keempat orang sutenya, kemudian setelah memuji keagungan sang Buddha, ujarnya dengan serius :

"Lolap kurang hormat, harap So tayhiap jangan menyalahkan, silahkan……… !"

Dia membuka pintu ruangan dan berjalan masuk lebih dahulu.

Tiang pek lojin berjalan diantara kepungan lima orang dan masuk kedalam ruangan dengan langkah lebar, tanpa menunggu ucapan orang, dia langsung mengambil tempat duduk, sikapnya angkuh, tinggi hati dan sama sekali tidak pandang sebelah matapun terhadap lawannya.

Menyaksikan perbuatan kakek itu, hawa amarah segera memancar keluar dari wajah empat orang taysu itu.

Diam-diam ciangbun hongtiang dari partai Siau lim memberi tanda kepada keempat orang sutenya agar menahan diri, ia kuatir kalau adik seperguruannya tak kuasa menahan diri sehingga melakukan perbuatan yang merugikan nama baik partai.

Pelan-pelan ciangbun hontiang dari Siau lim pay duduk dihadapan Tiang pek lojin.

Keempat orang taysu lainnya berdiri di kedua belah samping, berada di depan orang luar, mereka tak berani mengambil tempat duduk sejajar dengan ketuanya.

Pelan-pelan paras muka Tiang pek lojin berubah menjadi lembut dan tenang, ujarnya kemudian :

“Hwesio tua, dapatkah kau tebak apa maksud kedatangan lohu pada malam ini?” Dengan wajah serius sahut ketua dari Siau lim pay :

“Lolap tidak habis mengerti dengan keperluan apakah So tayhiap mengadakan janji dengan kami untuk datang berkunjung kemari?"

Sebagai seorang ketua dari suatu perguruan besar, dia enggan untuk menebak maksud kedatangan orang secara sembarangan, tapi dibalik ucapannya itu lamat-lamat mengandung nada tegoran.

Tiba-tiba Tiang pek lojin bergumam sendiri :

"Kedatangan lohu bukan pada waktunya, apakah toa hwesio merasa agak tidak senang hati?"

Ketua dari Siau lim pay itu mengerutkan dahinya, kemudian pelan-pelan menjawab :

''Kemampuan So taybiap untuk berjalan di angkasa memang tak bisa dibandingkan dengan orang, betul kuil kami kecil, tapi kemampuan untuk menahan diri masih kumiliki, harap So tayhiap jangan memikirkan yang bukan-bukan."

Tiba-tiba Tiang pek lojin menghela napas panjang, katanya lagi : "Lohu ada niat untuk membatalkan perjanjian untuk

menyambangi ke atas bukit, maka sengaja aku datang untuk mengajak toa hwesio merundingkan persoalan ini, harap toa hwesio jangan menyalahkan diriku yang telah mendatangi kuil malam- malam!”

Mendengar perkataan itu, ketua dari Siau lim pay tersebut tertawa terbahak-bahak.

"Haaah…….. haaahhhh………. Haaahhh….. kenapa So tayhiap berkata begitu, baiklah, lolap akan mendengarkan perkataanmu itu."

Tiang pek lojin memandang sekejap kearah Ci kay taysu sekalian berempat, sementara mulutnya tetap membungkam, agaknya ia ada maksud untuk mempersilahkan orang-orang itu pergi dahulu meninggalkan tempat tersebut. Siau lim Su toa Kim kong adalah orang-orang yang cukup berpengalaman dalam masalah dunia persilatan, tentu saja mereka pun memahami arti kata dari sikap musuhnya.

Ci kay Taysu termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian dengan mengajak ketiga orang sutenya memberi hormat kepada Ciangbun suhengnya seraya berkata :

"Tecu sekalian berempat akan mohon diri lebih dulu dari tempat ini…. !”

Selesai berkata rnereka telah bersiap-siap untuk mengundurkan diri dari tempat itu.

Tapi dengan cepat ketua dari Siau lim pay itu mengulapkan tangannya sembari berkata :

“Tak ada halangan buat Sute berempat untuk tetap berada disini, So tayhiap adalah seseorang yang periang dan berjiwa terbuka kalian tak usah berlagak sok pintar.”

Sesungguhnya keempat toa kim kong itu pun merasa tidak berlega hati untuk membiarkan ciangbun suhengnya berbicara empat mata dengan Tiang pek lojin, mereka kuatir ketuanya menderita kerugian, permohonan diri yang diucapkan tadi tak lebih hanya suatu sopan santun belaka dan mereka memang tidak benar- benar berniat begitu.

Maka setelah mendengar perkataan dari ciangbun suhengnya itu, merekapun segera membatalkan niatnya untuk mengundurkan diri, sambil tersenyum mereka balik kembali ke tempatnya semula.

Entah apa sebabnya, ternyata Tiang pek lojin berubah menjadi bertebal muka dan tak tahu malu, tiba-tiba katanya kembali :

“Lohu bermaksud untuk berbicara empat mata saja dengan lo hwesio……!"

Ketua dari Siau lim pay itu segera tersenyum, sahutnya : “Keempat orang suteku bukan orang luar, jika So tayhiap ingin

berbicara, lebih baik katakan saja dengan terang-terangan.” Agak memerah paras muka Tiang pek lojin karena jengah, untuk menutupi rasa malunya itu sengaja ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh...Haaahhh… Haaahhh… kalau begitu lohu akan berbicara secara blak-blakan!"

Baik ketua dari Siau lim pay maupun keempat orang Kim kong itu tetap membungkam dalam seribu bahasa, dengan tenang mereka menantikan pembicaraannya lebih jauh.

Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa Tiang Pek lojin berkata dengan serius :

"Asalkan kuil kalian bersedia untuk menyerahkan Si li cu berwarna merah kepadaku, lohu segera akan mengalihkan pasukan ke bukit Bu tong dan sejak kini tak akan mengusik kuil kalian lagi.”

Si li cu dari kuil Siau lim si semuanya terdiri dari tiga macam, yakni putih, merah dan hitam, benda itu dibentuk oleh para ciangbunjin pada generasi yang lalu.

Selama ratusan tahun belakangan ini, banyak sekali Si li cu warna putih dan hitam yang berhasil dibentuk, sedangkan Si li cu warna merah hanya berhasil dibuat oleh ciangbunjin angkatan ke lima, sebab itu Si li cu warna merah dianggap sebagai benda mustika oleh pihak Siau lim si.

Sekarang, Tiang pek lojin ternyata menghendaki pihak Siau lim menyerahkan benda tersebut, bukankah hal ini merupakan suatu pemaksaan yang sewenang-wenang?

Tak heran kalau kelima orang hwesio dari Siau lim si itu menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya.

Ketua dari Siau lim si itu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak dengan gusarnya, kemudian dengan wajah berubah serunya lantang :

"So tayhiap, apakah kau beranggapan bahwa pertemuan yang berlangsung besok pasti dimenangkan oleh pihakmu? “Hmmm….. tak perlu menunggu sampai besok sekarangpun bisa kubuktikan kenyataanya!" sahut Tiang pek lojin sambil menunjukkan sikap yang aneh sekali.

Ketua dari Siau lim si itu benar-benar dibikin naik pitam, sambil tertawa dingin katanya :

“Bagus sekali! Bagus sekali! Ci kay sute, harap kau menuju kehalaman belakang dan perintahkan orang untuk memasang lampu, kalau memang So tayhiap ada kegembiraan untuk melakukan hal ini, lolap bersedia untuk mengiringi kehendakmu!"

Ci kay taysu mengiakan dan siap berlalu dari situ.

Tapi Tiang pek lojin telah goyangkan tangannya berulang kali sambil tertawa seram katanya :

“Tidak perlu lohu tak ingin terlalu menyusahkan kalian semua, bagaimana kalau kita mencoba beberapa gebrakan ditempat ini saja?"

Soal lagaknya yang besar masih bisa ditahan, tapi sindirannya yang pedas cukup membuat orang merasa tak kuasa menahan diri.

Sebelum ciangbun suhengnya mengucapkan sesuatu Ci nian taysu sudah tak kuasa menahan diri lagi, dia segera membentak gusar:

"So Seng pak, kau benar-benar tidak memandang sebelah mata kepada kami, pertama-tama biar pinto yang meminta petunjukmu terlebih dulu!”

Tiang pek lojin melototkan matanya sambil mendengus, “Hmm….! Usiamu belum mencapai enam puluh tahun, masa

latihanmu masih sangat terbatas, tak nanti kau bisa menahan tiga buah seranganku. Lohu rasa, ada baiknya kalian suheng te berlima maju bersama-sama saja!”

Ketua Siau lim pay dan ke empat Kim kongnya mempunyai kedudukan yang amat tinggi didalam dunia persilatan, jangan dibilang lima orang mengerubuti satu orang, sekalipun secara bergilir mereka turun tanganpun tak akan dilakukan, sebab jika hal ini sampai tersiar dalam dunia persilatan, bukankah nama besar partai Siau lim akan tercoreng?

Tiang pek lojin bisa berbicara besar karena dia tahu bahwa dirinya tidak terjerumus dalam keadaan yang berbahaya, sehingga ucapan yang diutarakan pun menjadi tak sedap didengar.

Itulah sebabnya perkataan dari Tiong pek lojin dengan cepat mengorbarkan hawa amarah dari ketua Siau lim beserta ke empat Kim kongnya.

Ci nian taysu tak kuasa menahan diri lagi sambil membentak keras ia maju menyerang dengan ilmu pukulan Siau lim sin kun sambil menuju tubuh Tiang pek lojin bentaknya : "Bisa atau tidak, kita coba dulu baru berbicara kemudian!"

Tiang-pek lojin tertawa sinis, sambil mengangkat telapak tangannya keatas dan memdorongnya kemuka dia berkata :

"Jika kau tak tahu diri, jangan salahkan diri lohu lagi."

Ci nian taysu bisa menjadi salah satu dari Su toa kim kong dalam partai Siau lim karena ilmu pukulan Bu im sin kangnya sudah mencapai kesempurnaan delapan bagian dalam dunia persilatan dewasa ini boleh dibilang tidak seberapa orang yang mampu menghadapi pukulannya itu.

Selihay-lihaynya tenaga dalam yang dimiliki Tiang pek lojin tidak seharusnya dia berani memandang enteng musuhnya maka ketika semua orang menjumpai sikap acuh musuhnya itu, diam-diam mereka menjadi girang, dianggapnya dalam pertarungan pertama ini paling tidak pihak mereka akan berhasil meraih keuntungan.

Siapa tahu kenyataannya sungguh jauh di luar dugaan, mendadak sekujur badan Ci nian taysu mengejang keras akhirnya tak sanggup berdiri tegak, secara beruntun dla mundur empat lima langkah dan akhirnya muntah darah segar, jelas isi perutnya sudah mengalami luka yang tidak ringan. Ketika dua gulung angin pukulan saling membentur tadi, dalam ruangan sama sekali tidak terjadi goncangan apa-apa, dari sini bisa diketabui kalau kepandaian silat yang dimiliki kedua belah pihak benar-benar sudah mencapai tingkatan yang luar biasa.

Tampaknya Tiang pek lojin berhasil untuk membuat kejutan dengan serangannya itu, maka diantara serangan yang dipergunakan itu, diam-diam ia sertakan pula tenaga serangan Jit sat ci yang maha lihay itu.

Akhirnya bukan saja Ci nian taysu terkena serangan itu sampai luka dalam, bersama itu juga jalan Ciang bun hiat ditubuhnya juga terkena totokan.

Begitu hawa murninya tak bisa dihimpun, kontan darah segar muntah keluar dan akhirnya ia roboh tak sadarkan diri. Setelah jatuh pingsan, sudah barang tentu dia pun tak dapat menceritakan bila ia sudah kena disergap lawan secara licik.

Tiang pek lojin sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk melakukan penyelidikan, sambil tertawa tergelak serunya kemudian :

"Bagaimana hasilnya? Lohu tidak sengaja omong besar bukan?"

Ci hui taysu segera maju ke depan, kemudian katanya :

"Tak usah banyak berbicara lagi, silahkan kau menerima sebuah pukulan dari pinto ini!"

Ditengah pembicaraan tersebut, tubuhnya segera merendah ke bawah, sepasang telapak tangannya dengan disertai tenaga penuh langsung menyerang jalan darah Siau yau hiat dipinggang Tiang pek lojin dengan jurus Thian tee kay tay (langit bumi terbuka lebar).

Sesudah berhasil mengalahkan Ci nian taysu dalam satu gebrakan mengandalkan tenaga dalamnya yang sempurna, kali ini Tiang pek lojin telah merubah sistim pertarungannya ketika menghadapi Ci hui taysu, dia hendak menangkan musuhnya dengan mengandalkan jurus serangan agar musuh bisa mengetahui kemampuannya yang sebenarnya. Begitulah, sambil tersenyum dia tetap berdiri tegak ditempat semula, kemudian dengan mengandalkan tangan kirinya melancarkan serangan balasan, ia cengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kanan Ci hui taysu dengan jurus Ing kan im san (menggaet kepala memandang bukit).

Ci hui taysu segera merasakan munculnya segulung hawa dingin yang merasuk tulang langsung menyusup ke dalam nadinya, ia menjadi bergidik dan bersin beberapa kali, peluh dingin jatuh bercucuran muka menjadi pucat pias seperti mayat dan segenap tenaga dalamnya menjadi punah tak berwujud.

Melihat musuhnya telah kena dipecundangi, Tiang pek lojin tertawa terbahak-bahak katanya :

“Haaahhh…. Haaahhhh….. haaaahhhhh…. ternyata yang dinamakan Su toa kim kong dari partai Siau lim tidak lebih hanya begitu saja, hayo enyah kau dari sini!"

Ketika telapak tangannya dikebaskan kemuka, tubuh Ci hui taysu yang tinggi besar itu sudah terlempar jauh keluar jendela.

Paras muka Ci kay taysu dan Ci leng taysu segera berubah menjadi hijau membesi, tampaknya mereka sudah berniat untuk turun tangan.

Hongtiang dari Siau lim pay pun melototkan matanya bulat-bulat, ujarnya kemudian : “Sebelum partai kita berada didalam posisi antara hidup dan mati, harap sute berdua tenangkan sedikit hati kalian, hari ini kita cuma bertujuan untuk mengukur kepandaian masing-masing, dua orang yang mencobapun sudah lebih dari cukup!"

Tampaknya tujuan Tiang pek lojin telah tercapai pula, paras mukanya berubah menjadi jauh lebih lunak, lalu katanya :

"Hari ini memang bermaksud untuk menjajal kepandaian, maka kita hanya membatasi saling menutul, tapi besok dalam pertemuan resmi aku tidak akan bertindak sesungkan ini lagi, hui toa hwesio pikirkan yang matang dan besok beri aku jawaban, sekarang maaf kalau lohu tak akan menemani lebih lama lagi" Begitu ucapan yang terakhir diutarakan, tubuhnya sudah melayang keluar lewat jendela dan melompat naik keatas atap rumah.

Ci kay taysu dan Ci leng taysu berdua segera membentak keras kemudian bersiap sedia mengejar dari belakang.

"Sute berdua, kembali! Biarkan saja dia pergi!" seru ketua Sim lim pay dengan cepat.

Ci kay taysu dan Ci leng taysu segera mundur kembali kedalam ruangan, dengan wajah membesi mereka membungkam dalam seribu bahasa.

Penghinaan tersebut memberikan pukulan batin yang cukup berat bagi mereka, didalam hati kecil mereka secara lamat-lamat mulai tumbuh perasaan dendamnya terhadap Tiang Pek lojin.

Akhirnya ketua dari Siau lim pay itu menghela napas panjang, kemudian katanya :

"Tenaga dalam yang dimiliki orang itu jauh diluar dugaanku, Ci kay sute harap kau undang keluar lencana Liok giok leng dan meminta tiga malaikat untuk tinggalkan pertapaan serta siap menghadapi pertemuan besok.”

Siau lim sam sian (tiga malaikat dari kuil Siau lim) adalah saudara seperguruan ciangbunjin angkatan yang lalu, atau merupakan paman guru dari ketua yang sekarang, mereka merupakang tianglo yang berkedudukan paling tinggi dalam partai Siau lim.

Oleh karena usianya yang telah lanjut dan kedudukannya yang tinggi, mereka jarang sekali mencampuri urusan di dalam kuil.

Tapi situasi yang dihadapi partai Siau lim pada saat ini jauh berbeda, apalagi dihadapkan pada ancaman Tiang pek lojin yang maha dahsyat, mau tak mau terpaksa mereka memutuskan untuk mengundang kehadiran ketiga orang malaikat tersebut. Kepergian Ci kay taysu amat cepat, tapi kembalinya juga lebih cepat begitu melangkah masuk ke dalam kamar hontiang, dengan napas agak memburu dan suara gemetar, lapornya :

“Lapor ciangbunjin suheng, lencana leng giok leng telah hilang dicuri orang!"

"Apa?” teriak ketua dari partai Siau lim itu dengan tubuh yang bergetar keras.

"Lencana Liok giok leng telah hilang dicuri orang!” ulang Ci kay taysu sekali lagi.

Sinar sang surya yang berwarna kuning emas telah memancar ditengah lapangan luas di dalam lingkaran dinding pekarangan kuil Siau lim si. Udara sangat bersih dan cerah, tidak ada angin yang berhembus dan suasana terasa gerah dan tak tahan di badan.

Sejak tadi perasaan setiap pendeta dalam kuil Siau lim si telah bergelora dengan hebatnya, mereka serasa mendidih dengan hebatnya....

Kejadian semalam telah tersebar luas diseluruh kuil setiap anggota kuil Siau lim telah mengetahui kalau Tiang pek lojin telah mendatangi kuil mereka semalam dan melukai Ci hui taysu serta Ci nian taysu.

Peristiwa tersebut dengan cepat mengobarkan semangat dan rasa dendam segenap pendeta terhadap musuhnya.

Yaa, peristiwa ini boleh dibilang merupakan suatu penghinaan yang belum pernah dialami Kuil Siau lim si selama beberapa ratus tahun belakangan ini.

Sekalipun ketua partai Siau lim merupakan seorang pendeta yang beriman tebal, kali ini diapun sudah tak sanggup untuk mengendalikan perasaannya lagi.

Mendekati tengah hari, dari luar kuil tiba-tiba berkumandang suara derap kaki kuda yang ramai, seorang kakek bermuka merah berambut putih dengan memimpin sepasukan jago pelan pelan berjalan mendekat.

Kuda kuda itu dilarikan masuk kedalam kuil dan berhenti tepat ditengah lapangan didepan kuil Toa hian tian.

Kuda itu berjumlah dua puluh delapan ekor sedang penunggangnya hanya dua puluh enam orang, dua ekor kuda yang terakhir tidak nampak penunggangnya melainkan dipasang dengan tandu yang hijau dirubah bentuknya.

Tandu itu tidak terlalu tinggi dan tak mungkin bisa diisi orang, tapi apakah isinya.

Semua orang sudah turun dari kudanya namun dua ekor kuda bertandu itu tetap berdiri tegak disitu tiada ornag yang menghampirinya, kecuali ringkikan kuda dan depakan kaki kuda yang memecahkan keheningan.

Dalam lapangan tersebut tidak Nampak seorang pendetapun, ini menunjukkan kalau pihak Siau lim si memang sengaja hendak memandang rendah dan sinis terhadap kehadiran mereka.

Sebenarnya Tiang pek lojin sudah diliputi kemarahn apalgi setelah menyaksikan kejadian ini, amarahnya kontan saja makin memuncak, rambutnya pada berdiri semua bagaikan landak, matanya melotot besar seperti gundu. Setelah mendengus dingin, sumpahnya :

“Orang Siau lim, laknat semua kalian!”

Baru selesai perkataan itu dilontarkan, dua orang kakek berbaju hijau yang berusia lima enam puluh tahunan dan berperawakan tinggi besar telah melompat maju kedepan.

Kedua kakek berbaju hijau itu bersamaan Tam ci toa tiau (rajawali raksasa bersayap tunggal) Ting Tian yu disebut Tiang pek sam nio. Ting Tian yu adalah ketua dari ketiga burung tersebut dan merupakan lotoa sedang mereka berdua adalah loji Meh yu tok tin (Burung beracun berbulu hitam) Ko Thian lay serta losam Thi cui Wu ya (burung gagak berparuh baja) Tan Peng.

Tiang pek sam nio adalah keponakan dari Tiang pek lojin sendiri, mereka merupakan orang-orang yang paling dipercaya oleh kakek sakti tersebut.

Sementara itu loji si burung beracun berbulu hitam Ko Thian lay serta siburung gagak berparuh besi Tan Peng telah melompat kedepan.

Dengan suara keras Si burung gagak berparuh baja Tan Peng berkata lantang :

"Anjing buas cuma tunduk dengan tongkat besar, berbicara soal cengli dengan mereka sama sekali tak ada gunanya, harap kau orang tua memberi ijin kepada kami berdua untuk membalaskan dendam bagi kematian saudara kita."

Tiang pek lojin mengerutkan dahinya kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun mengangguk.

Dengan suatu gerakan cepat, burung beracun berbulu hitam Ko Thian lay dan burung gagak berparuh baja Tan Peng segera menerjang maju ke depan pintu kuil.

Setelah melewati tanah lapang yang luas, sampailah kedua orang itu dibawah undak-undakan batu didepan istana Toa hiong po tian.

Burung gagak berparuh baja Tan Peng segera berseru kepada saudaranya :

"Loji, kau tunggu saja ditempat ini, bila ada hwesio gundul yang berani kabur dari sini, diberi sedikit pelajaran agar tahu rasa.”

“Beberapa orang yang musti kurobohkan?” tanya Ko Thian lay. Si burung gagak berparuh besi memperlihatkan kedua jari tangannya, lalu baru melangkah ke atas batu undak-undakan batu itu.

Burung beracun berbulu hitam Ko Thian lay berhenti sebentar dibawah undak-undakan batu itu, tidak tampak dia melakukan gerakan apa-apa, tahu-tahu sambil tertawa dia telah berjalan balik dari tempat semula.

Sedangkan si burung gagak berparuh baja telah selesai menaiki undak-undakan batu itu dan menghampiri pintu gerbang ruang Toa hiong po tian, diam-diam hawa murninya segera dihimpun, baru saja akan menggempur pintu gerbang tersebut dengan kekerasan, mendadak pintu besar berlapiskan emas itu telah membuka dengan sendirinya.

Dibalik pintu penuh dengan kawanan hwesio yang berdiri berjejal disana... cuma anehnya, para hwesio itu tiada seorangpun yang berkutik dari tempat semula.

Paras muka burung gagak berparuh baja Tan Peng segera berubah menjadi merah padam, setelah tertawa serak dengan tersipu-sipu dia balik kembali dari situ.

Mungkin karena ia tidak memperoleh kesempatan untuk mendemostrasikan kehebatannya maka jagoan ini merasa rikuh.

Setelah pintu istana terpentang lebar, para hwesio yang berkumpul didalam ruangan sama sekali tidak berdesakan keluar.

Mula-mula terdengar dulu suara genta kemudian bergema suara tambur, menunggu suara genta dan tambur berbunyi bersama, dari ruangan baru muncul sepasang hwesio cilik berbaju kuning.

Dibelakang hwesio cilik itu adalah delapan belas orang hwesio berlhasa merah, dibelakangnya baru ketua dari Siau lim pay, sedangkan para pendeta sisanya dengan teratur sekali mengikuti dibelakang ketuanya. Andaikata persiapan semacam ini dipergunakan untuk menyambut kedatangan tamu agung, maka boleh dibilang hal ini merupakan suatu ucapan penyambutan yang besar sekali, tapi kalau digunakan untuk penyelesaian suatu pertikaian dunia persilatan maka menjadi berbeda sekali artinya.

Hal mana tak baik mengartikan bahwa ke dua belah pihak tak perlu membicarakan persoalan ini secara sungkan-sungkan lagi.

Ketika Tiang pek lojin menyaksikan cara Siau lim pay didalam menyambut kedatangannya itu, kontan saja paras mukanya berubah menjadi merah padam sambil mendongakkan kepalanya dia tertawa tergelak tiada hentinya.....

Sementara itu kedua orang hwesio cilik yang berjalan di paling muka telah menuruni undak-undakan batu, sedangkan ketua Siau lim pay juga belum jauh meninggalkan pintu ruangan.

Pada saat itulah mendadak dua orang hwesio cilik yang berada dipaling muka itu berpekik keras, kemudian secara ganas membalikkan badan dan menyerang ke delapan belas orang hwesio berbaju merah yang mengikuti dibelakangnya.

Tindakan yang sama sekali diluar dugaan ini sangat mengejutkan dua orang hwesio yang berada tepat dibelakangnya, sementara mereka masih tertegun, pukulan keras yang dilancarkan hwesio cilik itu dengan telak melukai mereka berdua hingga robohlah kedua orang itu keatas tanah.

Keadaan dari kedua orang hwesio cilik itu ibaratnya anjing yang sudah gila, begitu bertemu orang serangan segera dilancarkan dalam waktu singkat kedelapan belas orang hwesio itu menjadi kacau balau tidak karuan.

Sebenarnya kedelapan belas Lo han itu rata-rata berilmu tinggi, tapi lantaran peristiwa itu terjadinya sangat mendadak, dalam tercengangnya pendeta-pendeta itu menjadi lupa untuk membekuk kedua orang hwesio cilik yang sedang kalap tersebut. Para jago dari luar perbatasan menjadi sangat bergirang hati setelah menyaksikan kejadian itu, semua rasa mendongkol dan ketidaksenangan hati segera tersapu lenyap hingga tak berbekas.

Sebaliknya para jago dari Siau lim pay, mulai dari ketuanya sampai ke anak buahnya sama-sama berubah muka, dengan wajah hijau membesi mereka melototi musuhnya dengan penuh kegusaran.

Sepasang alis mata ciangbun hongtiang mengerut kencang, sepasang matanya merah berapi-api, dengan suara dalam bentaknya

:

"Go li, Go hian! Bekuk kedua orang itu gusur pergi dari situ "

Diantara delapan belas Lohan segera muncul dua orang hwesio setengah tua yang berusia lima puluhan tahunan seorang menghadapi seorang hwesio cilik, dengan cepat pertarungan berlangsung.

Gerak gerik kedua orang hwesio cilik itu sungguh lincah sekali, kepandaian sakti aliran Siau lim yang dipahami juga sudah mencapai beberapa bagian kesempurnaan, apalagi dalam keadaan hilang kesadarannya kemampuan yang mereka tunjukkan berlipat kali lebih dahsyat dari keadaan semula.

Akibatnya meski Go li hwesio dan Go hian hwesio sudah bertarung sebanyak lima gebrakan, mereka belum berhasil membekuk kedua orang hwesio cilik itu.

Menyaksikan kejadian tersebut para jago dari luar perbatasan segera tertawa terbahak-bahak.

Go li hwesio dna Go hian hwesio segera merasa kehilangan muka, lantaran malu mereka jadi naik darah, dengan cepat ilmu Cap Pwe lohan jiu yang maha dahsyat dipergunakan, tapi pada jurus yang kesembilan mereka baru berhasil menaklukkan kedua orang hwesio cilik itu. Begitu kedua orang hwesio tadi terbekuk, mereka segera roboh tak sadarkan diri diatas tanah, buih putih meleleh keluar tiada hentinya dari ujung bibir mereka.

Tak usah diterangkan pun semua orang sudah tahu kalau mereka kena dipecundangi orang dengan obat beracun.

Sementara itu dari dalam ruang kuil telah muncul empat orang hwesio muda yang segera menggotong ke dua orang hwesio cilik itu masuk.

Selama ini kuil Siau lim si tersohor karena peraturannya yang keras serta anggotanya yang disiplin, akan tetapi dengan terjadinya peristiwa itu, otomatis nama baik partaipun ikut tercemar.

Dengan suara dalam ketua dari Siau lim pay itu berseru : "Harap semua pendeta mengerahkan tenaga dalam untuk

melindungi badan, delapan belas Lo han berjalan dipaling depan!"

Kedelapan belas orang hwesio itu segera menyusun barisan kembali dan menuruni anak tangga batu itu dengan wajah serius.

Pada mulanya para pendeta itu masih kuatir terutama mereka yang merasa tenaga dalamnya agak cetek mereka kuatir bila sampai keracunan lagi seperti rekannya, tapi sampai segenap anggota menuruni undak-undakan tersebut ternyata tak seorangpun yang mengalami musibah lagi.

Dari sini dapat diketahui bahwa si burung beracun berbulu hitam Ko Thian lay benar-benar memiliki kepandaian yang luar biasa dalam kepandaian beracun buktinya dia bisa mempergunakannya seperti apa yang diinginkan hati kecilnya.

Dari dua tiga ratus orang anggota kuil Siau lim si, kecuali sebagian yang mendapat tugas untuk menjaga ruangan dalam, hampir seratus lima enam puluh orang anggota Siau lim pay yang hadir ditengah lapangan saat ini. Berarti hampir separuh lapangan telah dipenuhi oleh mereka. Padahal para jago dari luar perbatasan hanya berjumlah dua puluh enam orang, sudah jelas dalam hal jumlah mereka masih ketinggalan jauh, meski begitu, para jago dari luar perbatasan sama sekali tidak menunjukkan rasa jeri atau takut bahkan sama sekali tidak ambil perduli.

Menunggu para pendeta dari kuil Siau lim si telah turun semua dari undak-undakan batu, Tiang pek lojin baru mengulapkan tangannya menitahkan para jago dari luar perbatasan untuk tetap berdiri ditempat, kemudian didampingi dua orang kakek tua mereka berjalan ke tengah arena dengan langkah lebar.

Ciangbunjin hongtiang dari Siau limpay segera ulapkan tangannya pula, dengan didampingi Ci kay taysu disebelah kiri, Ci leng taysi di sebelah kanan, mereka bertiga maju ke depan menyongsong kedatangan Tiang pek lojin bertiga.

Peristiwa semalam rupanya masih mendendam dalam hati hwesio tua ini, tiada senyuman ramah yang menghiasi bibirnya, setelah mengucapkan “Omitohud” katanya kemudian :

“Lo sicu, apakah benar-benar tak mau lepas tangan?”

Sebenarnya ucapan itu merupakan kelanjutan dari pembicaraannya semalam, tapi justru gampang menimbulkan kesalahan paham yang seolah-olah mengartikan kedatangan Tiang pek lojin tersebut.

Betul juga, so Seng pak atau Tiang pek lojin segera tertawa dingin, kemudian katanya :

“Ci long, sungguh tak kusangka kau sebagai seorang ciangbunjin dari suatu perguruan besar, namun tindak tandukmu begitu rendah dan tak tahu malu!”

“Ci long, Ci long, kau anggap nama tersebut pantas kau sebut sebut!” bentak Ciangbunjin hongtiang dengan amat gusar.

Tiang pek lojin segera tertawa seram. “Heehhh..... heeehhhh.... heehhh ketika lohu bersama Tong

sian sang jin berkelana dalam dunia persilatan tempo hari, kau masih seorang bocah cilik, apa salahnya kusebut kau dengan sebutan Ci long?”

“Kau benar-benar terlalu menghina orang, lolap sudah tak tahan dibuatnya!” bentak Ci long siansu dengan amat marahnya.

Sekali lagi Tiang pek lojin tertawa seram.

"Kau mcmpermalui perguruanmu, mencari penyakit buat diri sendiri, kenapa sekarang malah menyalahkan orang lain.”

Mendadak Ci long siansu tertawa keras pula, kemudian serunya: "Lolap selalu melangkah menurut peraturan, selamanya tak

pernah melakukan suatu perbuatan yang merugikan orang, atas dasar apa kau menuduh aku telah mempermalukan nama perguruan?"

"Kurangajar, kau anggap lohu sembarangan menfitnah!" teriak Tiang pek lojin dengan teramat gusarnya.

Ci long siansu tak mau kalah, sambil tertawa dingin dia berseru pula :

"Bagaimanakah watak Suma Ciau, orang jalanpun pada tahu!

Sekalipun kau main fitnah, apapula gunanya!" "Lohu punya bukti!"

"Hmm. bukti apa? Jika hatimu sudah mempunyai maksud jahat,

sekalipun ada bukti juga tak akan bisa mengelabuhi bocah berusia tiga tahun dari daratan Tiorggoan!"

Tiang pek lojin geram sekali, sambil menggigit bibir bentaknya keras-keras :

"Ketua Thian liong pay angkatan ke sebelas Thi Eng khi telah dipaksa mengasingkan diri jauh ke luar perbatasan, ternyata kalian orang-orang Siau lim dan Bu tong tidak rela melepaskannya dengan begitu saja, bahkan diam-diam menyusup masuk kedalam benteng lohu dan menculiknya pergi. Bayangkan saja tindakan yang pantas dilakukan oleh kalian manusia-manusia yang menganggap dirinya manusia dari golongan lurus di daratan Tionggoan!”

Setelah berhenti sebentar, dengan gusar lanjutnya lebih lanjut: “Sekarang Thi Eng khi berada di mana? Cepat serahkan

kepadaku! Lohu dengan Keng Thian giok cu Thi tayhiap adalah sahabat sehidup semati aku tak bisa berpeluk tangan belaka menyaksikan kejadian ini berlangsung di depan mataku.”

"Gara-gara membelai Thi ciangbunjin sewaktu berada di perkampungan Ki hian san ceng, suteku Ci kay telah menyalahi dia, Sangkoan loji, peristiwa ini diketahui oleh setiap umat persilatan didunia ini, kini Thi ciangbunjin lenyap diluas perbatasan, atas dasar apa kalian menuduh kuil kami?”

Tiang pek lojin tertawa seram, sambil berpaling segera bentaknya

:

“Bawa kemari barang buktinya!"

Tam ci toa tiau Ting Tian yu muncul dengan langkah lebar sambil membawa sebuah meja besar, kemudian meja itu diangkat tinggi- tinggi dan permukaannya diperlihatkan kepada para pendeta tersebut.

Kemudian dengan sinar mata yang tajam seperti sembilu Tiang pek lojin mengawasi wajah ciangbun hongtiang tajam-tajam, katanya :

"Setelah menculik orang lantas meninggalkan tanda, tindakan ini sebenarnya merupakan suatu tindakan yang berani, kenapa sekarang tidak berani mengakuinya?"

Begitu menyaksikan bekas cap Liok giok leng diatas meja tersebut, paras muka Ci long siansu berubah hebat, segera bentaknya :

"Kau berani mencuri barang orang, kemudian menfitnah orang semaunya sendiri, hmm! Suatu ketika kau pasti akan memperoleh ganjaran atas perbuatanmu itu!" Rupanya ia menganggap Tiang pek lojin berambisi untuk merajai daratan Tionggoan maka sengaja mencuri lencana, meninggalkan bekasnya di meja dan dipakai sebagai bukti.

Tiang pek lojin tidak menyangka sampai kesitu, dia menganggap pihak lawan tak tahu malu dan ingin mungkir, maka sambil tertawa ia bertepuk tangan lagi tiga kali.

Setelah tiga kali tepukan tangan itu lewat, muncul dua orang sambil menuntun kuda bertandu itu menghampiri tengah arena.

"Sekarang akan kutunjukkan lagi sebuah bukti yang nyata," ujar Tiang pek lojin kemudian sambil mendongakkan kepalanya, “coba lihat, apa yang bisa kaukatakan lagi."

Menyusul kemudian, pesannya :

“Hantar mereka kepada ciangbunjin agar bisa dilihat lebih jelas, coba kita lihat apalagi yang hendak dia ucapakan!”

Dua orang segera maju dan menurunkan tandu tersebut dari punggung kuda, lalu digotong dan diletakkan didepan ciangbunjin hongtiang dari kuil Siau lim si.

Rupanya Ciangbunjin dari Siau lim si itu tidak bisa menebak permainan setan apa yang sedang dipersiapkan Tiang pek lojin, baru saja dia akan maju untuk melakukan pemeriksaan, Ci kay taysu yang berada disisinya telah berkata :

"Ciangbun suheng, kau tak boleh menyerempet bahaya, biar tecu saja yang melakukan pemeriksaan itu!"

Dengan langkah lebar dia lantas maju kedepan.

Ci kay taysu cuma maju beberapa langkah dan tidak berani terlampau dekat dengan tandu tersebut, lalu dengan mempergunakan tenaga pukulannya dia menyingkap kain yang menutupi tandu tersebut. Ternyata dalam tandu tadi tergeletak dua sosok mayat dari lelaki bertubuh kekar, mata mereka terbelalak lebar dengan mulut melongo, kematiannya benar-benar mengenaskan.

Sambil tertawa dingin, Tiang pek lojin lantas berkata :

“Coba kalian periksa, ilmu pukulan apakah yang menyebabkan kematian mereka berdua?”

Maksud dari perkataan itu, tentu saja mempersilahkan Ci kay taysu untuk melakukan pemeriksaan.

Kali ini Ci kay taysu tidak ragu-ragu lagi, dia lantas membungkuk dan menyingkap pakaian yang dipakai kedua orang lelaki itu, tapi diatas dadanya tidak Nampak luka apa-apa.

Baru saja dia hendak bertanya, Tiang pek lojin telah berkata lagi : “Lukanya berada diatas Pay sim hiat!”

Ci kay taysu segera membalikkan jenasah itu, apa yang kemudian terlihat segera membuat hatinya menjadi tertegun, hampir saja ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Sementara itu Tiang pek lojin telah berkata lagi :

"Dua orang saudara yang mati secara mengenaskan itu adalah Kim piau Gin kiam (ruyung emas pedang perak) dari delapan belas penunggang kuda bukit Hek san, mere¬ka dibunuh oleh pukulan Toa lip kim kong ciang selama dirumah penginapan Tenghong aku rasa pukulan semacam ini hanya ada didalam partai Siau lim bukan!”

Tanpa mengucapkan sepatah katapun Ci kay taysu mengundurkan diri kehadapan ciangbun suhengnya dan manggut- manggut mengakui kematian Kim pian gin kiam di atas pukulan Toa lip kim kong ciang dari partai Siau lim.

Pada mulanya ketua dari Siau lim pay itu merasa keheranan, tapi tak lama kemudian timbul satu ingatan didalam benaknya, dia menganggap kedua orang ini mungkin tewas ditangan murid-murid partainya semalam ketika kedua orang itu mengikuti Tiang pek lojin melakukan pengacauan semalam, maka sambil tertawa dingin katanya :

“Kau sendiri bisa melukai orang, mengapa murid-murid partai kami tak boleh membunuh untuk membela diri? Hmmm, sekalipun kau jelajahhi seantaro jagad, teorinya juga tetap sama semua!”

Tiang pek lojin menganggap pihak lawan lagi-lagi hendak mungkir maka hawa amarahnya kontan saja makin berkobar, dia tak mau mengalah dengan begitu saja, sambil membentak keras teriaknya :

“Sekalipun lohu telah melukai hwesio-hwesio kalian mau apa pula kau? Bila kalian tiudak segera menyerahkan Thi Eng khi kepadaku jika napsu membawa lohu sudah berkobar, hmmm! Perbuatan yang lebih kejipun masih sanggup kulakukan!”

Tentu saja orang yang melukai Ci hui taysu dan Ci nian taysu semalam bukan Tiang pek lojin asli, sedangkan orang yang membunuh Kim pian gin kiam juga bukan anak murid Siau lim pay.

Tapi siapakah yang telah melakukan kesemuanya ini? Saya rasa para pembaca pasti dapat menebah sendiri bukan?

Sayangnya kesalahan paham semacam ini justru tidak mudah untuk diselesaikan, andaikata kedua belah pihak tidak bernama besar, urusan mungkin diselesaikan lebih gampang, tapi kenyataannya kedua belah pihak sama-sama orang ternama dalam dunia persilatan, biasanya orang ternama sok gengsi dan tidak mau saling mengalah, otomatis dalam setiap perdebatan pun masing- masing pihak mempertahankan pendapatnya sendiri.

Akibatnya bukan makin beres masalahnya, sebaliknya makin lama urusan semakin bertambah runyam.

Pembicaraan masing-masing pihak makin kaku dan keras, kecerdasan mereka tertutup oleh kobaran api amarah terutama sekali Ci long siansu yang merasa nama baik partainya tercemar, lencara Liok giok lengnya tercuri, semua pertanggungan jawab yang harus dipikulnya itu membuat dia tak ingin berpikir lebih jauh lagi. Segera ketika dia mengebaskan ujung jubahnya, para pendeta yang berada dibelakangnya dengan cepat menyebarkan diri membentuk sebuah barisan yang terdiri dari tujuh puluh dua orang, sedangkan pendeta-pendeta lainnya serentak menyebarkan diri dan berjaga-jaga diruang depan Toa hong po tian.

Ci long siansu gagal meminta bantuan Siau lim sam seng untuk mengatasi kemelut tersebut, maka diapun cukup memahami kekuatan sendiri, dia tahu dengan mengandalkan kekuatan dari mereka beberapa orang, sudah pasti bukan tandingan dari Tiang pek lojin maka dia tak berani menyerempet bahaya, begitu maju barisan Lo han toa tin segera dipersiapkan.

Barisan Lo han tin merupakan salah satu kepandaian sakti dalam kuil Siau lim si, kekuatannya betul-betul luar biasa sekali. Barisan ini mengambil delapan belas orang sebagai dasar kekuatan yang diam- diam mengandung unsur cap pwe lo han jadi paling tidak harus ada delapan belas orang baru bisa berbentuk.

Tapi barisan Lo han tin yang dibentuk kali ini terdiri dari tujuh puluh dua orang, itu berarti barisan besar itu memang khusus dipersiapkan untuk menghadapi ke dua puluh enam orang musuh yang datang dari luar perbatasan, sebab menurut perhitungan Ci long taysu, kekuatan tersebut sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menghadapi kekuatan lawan......

Begitulah, setelah barisan dipersiapkan, Ci liong siansu berkata dengan dingin :

"Siau lim si telah bersiap sedia menerima petunjuk yang lihay dari kalian semua!"

Selesai berkata dia lantas mengajak Ci kay taysu dan Ci leng taysu untuk menerobosi barisan Lo han tin dan naik ke atas undak- undakan batu, rupanya mereka bermaksud untuk menonton jalannya pertempuran itu dari tempat atas.

Tiang pek lojin menjadi semakin naik pitam ketika dilihatnya sikap Ci long siansu begitu angkuh dan tak sudi turun tangan melawan dirinya, seraya mendengus ujarnya kemudian: "Hmmm! Kalau cuma barisan Lo han tin mah masih belum lohu pandang sebelah matapun, jika lohu tak mampu menerobos keluar dari barisan ini, mulai detik ini aku tidak akan menginjakkan kakiku lagi didalam daratan Tionggoan!"

"Silahkan!" Ci long siansu cuma mengucapkan sepatah kata yang amat sederhana itu. Kemudian tidak berbicara lagi. Tampaknya dia benar-benar telah mambenci Tiang pek lojin hingga merasuk kedalam tulangnya.

Meskipun perkataan Tiang pek lojin diucapkan dengan sombong dan tinggi hati, namun gerak geriknya sangat berhati hati sekali, dia memilih Boan san siang koay (sepasang manusia aneh dari bukit Boan san) Cia bersaudara, Tiang pek sam nio dan Sui pek su kui (empat setan dari Pek sui) sekalian berdelapan sebagai pembantunya.

Dengan demikian sembilan orang masuk bersama kedalam barisan Lo han tin yang terdiri dari tujuh puluh dua orang, atau de¬ngan perkataan lain mereka harus satu lawan sembilan.

Ke sembilan orang itu mengambil posisi dengan kedudukan Kiu- kiong, begitu posisi sudah diambil, Tiang pek lojin baru berpekik nyaring sambil katanya :

“Sekarang lohu sekalian telah masuk ke dalam barisan, jika ada permainan lain silahkan ditunjukkan!”

Dari dalam jubahnya ketua dari Siau lim pay itu mengeluarkan selembar panji kecil berwarna kuning, setelah diangkat tinggi-tinggi ke atas kepala, panji itu diputar tiga kali ditengah udara, barisan Lo han tin pun segera berputar pula mengelilingi Tiang pek lojin sekalian bersembilan......

Pada mulanya masih tampak gerakan bayangan manusia, tapi lambat laun gerakan itu dari lambat menjadi cepat, sehingga akhirnya bayangan manusia sukar dilihat jelas selain segulung pusaran angin puyuh yang berwarna abu-abu saja yang bergerak menekan ke tengah arena. Tiang pek lojin segera membentak keras :

“Kiu ciau lian huan!"

Ke sembilan orang itu segera saling bergandengan tanpa antara yang satu dengan lainnya kemudian membentuk sebuah lingkaran bulat yang berputar menurut arah kebalikan dari arah perputaran barisan Lo han tin.

Akibat dari gerakan itu, segera muncul juga segulung tenaga tekanan dahsyat yang mengembang ke arah luar dari membendung tenaga tekanan yang terpancar dari barisan Lo han tin ke arah dalam itu.

Begitulah, kedua belah pihak sama-sama saling beradu tenaga hampir selama sepertanak nasi lamanya, sekalipun Lo han toa tin terdiri dari tujuh puluh dua orang, nyatanya mereka tak banyak berkutik menghadapi sembilan gelang berantai Kiu ciau lian huan yang dibentuk oleh lojin bersembilan.

Ditinjau dari sini, bisa ditarik kesimpulan bahwa keberangkatan Tiang pek lojin memasuki daratan Tionggoan ini disertakan pula dengan suatu persiapan yang matang, jadi tak bisa dibilang kalau dia datang tanpa maksud tertentu.

Pertarungan kembali berlangsung setengah pertanak nasi lagi, tapi keadaan tetap seimbang dan saling bertahan, melihat itu ciangbunjin dari Siau lim pay mengerutkan dahinya rapat-rapat, kemudian menggerakkan panji kuningnya tiga kali.

Serentak ke tujuh puluh dua orang pendeta dari Siau lim si itu menghentikan gerakan tubuhnya bagaikan tujuh puluh dua buah tonggak batu mereka berdiri tak berkutik ditempat semula.

Tiang pek kiu hiong (sembilan jago dari Tiang pek san) menghentikan pula gerak perputaran mereka ditengah gelak tertawa Tiang pek lojin yang amat keras.

Setelah tergelak-gelak beberapa saat, Tiang pek lojin berkata : "Gerak pertama dari Siau lim Lo han tin yaitu Kun tun jut kay (alam semesta bara tercipta) tak lebih cuma begitu saja, lohu telah merasakan kehebatannya!"

Siau lim ciangbunjin tidak berbicara apa-apa, panji kuningnya kembali diangkat dan dikibarkan tiga kali ke kiri empat kali ke kanan.

Tujuh puluh dua orang yang berada dalam barisan Lo han tin sekali lagi melakukan perputaran.

Cuma gerakan perputaran yang mereka lakukan dengan gerakan yang lamban sekali, didalam perputaran tadi, ketujuh puluh dua orang dalam barisan tahu-tahu telah memecah diri menjadi sembilan kuntum barisan kecil yang berbentuk bunga bwe, yakni empat didalam lima diluar, masing-masing kelompok kecil itu berputar terus tiada hentinya, sambil berputar mereka melingkari terus Tiang pek lojin sekalian bersembilan.

Tiang pek lojin memperhatikan sekejab perubahan barisan lawan, kemudian segera berpekik nyaring, menysul pekikan tersebut kesembilan orang itu mendadak mempersempit lingkaran posisi mereka, dengan punggung menempel punggung mereka

Berdesakan menjadi satu hingga sepintas lalu tampak kacau seperti tiada peraturan, dalam kenyataan mereka telah membentuk sebuha barisan segi delapan yang mengandung perubahan Im yang ngo heng.

Tiang pek lojin sebagai puncak pimpinan berada di tengah, sedangkan delapan orang lainnya menempel disekitarnya, maju mundur semuanya mengambil posisi bersudut delapan.

Selain itu setiap orang berdiri dengan telapak tangan kanan dirintangkan ke depan dada, tangan kiri disembunyikan ke belakang dan saling bergandengan tangan.

Tiang pek lojin memperhatikan sekejap keadaan disekeliling sana, sepasang tangan terjulur kebawah dengan telapak tangan menghadap keluar, tiada hentinya dia memperdengarkan suara pekikan yang amat nyaring ....... Kedua kelompok kekuatan kembali saling berputar sambil menunggu kesempatan untuk melancarkan serangan, waktupun berlalu di tengah keheningan dan ketenangan.

Sekalipun diarena berkumpul ratusan orang jago, namun selain langkah kaki para hwesio yang berada dalam barisan Lo han tin tak kedengaran sedikit suarapun disana seakan-akan napas semua orang telah terhenti sama sekali.

Sekalipun demikian, semua orang tahu bisa serangan dimulai niscaya kehebatannya melebihi apapun, dapatkah Tiang pek lojin bersembilan menahan serangan berantai dari Siau lim lo han tin, hal ini masih merupakan suatu tanda tanya besar.

Mendadak panji kecil di tangan Siau lim ciangbunjin itu diayunkan ke bawah, henbusan angin pukulan yang amat dahsyat dengan cepat meluncur keluar dari tiap barisan kecil berbentuk bunga bwe itu mengarah tengah arena.

Didalam serangan itu telah terlebur segenap tenaga yang dimiliki delapan orang jago Siau lim si kedahsyatannya betul- betul mengerikan sekali.

Menanti angin pukulan itu sudah mendekati tengah arena Tam ci toa tiau Ting Tian yu yang persis berada di hadapan serangan tadi baru membalikkan telapak tangannya dan menyongsong datangnya ancaman tersebut, ternyata kekuatan kedua pihak sama-sama tangguh dan tak ada yang menang tak ada yang kalah.

Hal ini bukan dibilang tenaga dalam yang dimiliki Tam ci toa tiau Ting Tian yu sanggup menahan tenaga gabungan dari kedelapan orang jago Siau lim si, adalah segenap tenaga dalam dari Tiang pek lojin bersembilan telah digabungkan menjadi satu dan bersama- sama menerima serangan tadi.

Menyusul serangan yang pertama, sera¬ngan-serangan berikutnya segera bermunculan menghajar pusat barisan secara bergantian. Tanpa gentar sedikitpun juga, Tiang pek lojin sekalian beruntun menyambat kesembilan buah serangan itu.

Barisan Lo han tin sekali lagi berputar pukulan demi pukulan dilontarkan ke tengah arena menghajar kesembilan orang lawannya, dengan begitu kesembilan orang jago dari luar perbatasan itupun menjadi sasaran pukulan.

Tiang pek lojin yang berada ditengah arena sudah mulai mengebulkan asap putih dari kepalanya, sepasang tangan diputar dibalik berulang kali, tenaga dalamnya telah terhimpun mencapai dua belas bagian untuk menghadapi ancaman-ancaman yang datang dari delapan penjuru.

Sesudah menyambut Sembilan kali sembilan, delapan puluh satu buah pukulan, Tiang pek lojin nampak kehabisan tenaganya sehingga gerak geriknya juga menjadi lebih lamban.

Sekalipun demikian, Ci long siansu yang memegang pucuk pimpinan dari atas undak-undakan batu merasa terperanjat sekali.

Sebagaimana diketahui Siau lim Lo han tin sudah lama tersohor didalam dunia persilatan, sepanjang sejarah belum pernah barisan itu diturunkan dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya seperti sekarang ini.

Atau dengan perkataan lain, bila barisan telah bergerak didalam Sembilan pukulan yang kemudian dilancarkan itulah pihak musuh pasti terluka atau tewas.

Tapi kenyataannya sekarang Tiang pek lojin sekalian sanggup menerima delapan puluh satu buah pukulan tanpa kalah, bayangkan saja bagaimana mungkin Ci long sian¬su tidak merasa terperanjat.

Begitulah, setelah menyambut delapan puluh satu buah pukulan, mendadak Tiang pek lojin berpekik nyaring, lalu katanya :

"Kehebatan Pek tian kim kong dan Siau lim lo han tin telah lohu rasakan kehebatannya, sekarang lihatlah bagaimana kemampuan lohu untuk menjebolkan barisan ini!" Selesai berkata, kepada delapan anak buahnya dia berseru : “Air raksa tumpah ditanah!”

Seketika itu juga tampaklah Tiang pek lojin bersembilan bagaikan letupan bunga api memancar keempat penjuru dan menerobos masuk lewat celah-celah dalam barisan Lo han tin.

Melihat gerakan musuh itu, Siau lim ciangbunjin segera menggerakkan panji kuningnya, sekali lagi bentuk barisan Lo han tin mengalami perubahan dan berhenti bergerak, tujuh puluh dua orang berdiri kaku di tempat sambil menyalurkan hawa murninya membentuk selapis dinding hawa yang kuat untuk mencegah kesembilan orang yang berada dalam barisan melarikan diri dari kepungan.

Tiang pek lojin segera melambung ketengah udara dan tiba-tiba menjebolkan pertahanan ketiga dari barisan Lo han tin yang disebut Thian loo tee wang.

Begitu melayang turun diluar arena, sambil tertawa terbahak- bahak serunya :

“Lohu toh sudah lolos dari barisan!”

“Kau telah mempergunakan ilmu Hun hua sip hong (memecah belah sepuluh penjuru) untuk melepaskan diri dari kepungan dan mematahkan pertahanan barisan Lo han tin, tapi toh cuma kamu seorang yang lolos, kemampuan semacam itu belum bisa terhitung sebagai suatu kepandaian hebat!”

Sekalipun ia berkata demikian, hatinya benar-benar merasa terperanjat, sebab sekalipun hanya satu orang yang berhasil lolos, nama besar Lo han tin tetap tercoreng.

Sikap Tiang pek lojin yang berada diluar barisan ternyata santai sekali, sambil tertawa terbahak-bahak, katanya :

"Lohu tak lebih hanya keluar lebih duluan, aku ingin memberitahukan kepadamu bahwa lohu masih sanggup menjebolkan barisan Lo han tin kalian itu dengan mengandalkan tenaga murni, sedang mereka berdelapanpun mempunyai cara sendiri untuk meloloskan diri, kau si hwesio tua tak usah merisaukan keadaan mereka!"

Sehabis berkata kembali dia berpekik nyaring, baru saja pekikan itu berkumandang, suasana didalam barisan Lo han tin menjadi kacau balau tidak karuan, ternyata para pendeta itu melepaskan anak buah Tiang pek lojin dan sebaliknya malah bertarung sendiri.

Menyaksikan kejadian itu paras muka Siau lim ciangbunjin berubah hebat, dia tahu pihak lawan pasti telah berbuat sesuatu sehingga menyebabkan keadaan berubah menjadi begitu.

Buru-buru panji kuningnya dikibarkan berulangkali dengan harapan untuk memenangkan kembali suasana yang serta kalut.

Dalam detik itulah, delapan orang anak buah Tiang pek lojin telah meloloskan diri dengan selamat dari dalam barisan.

Sementara itu, ketujuh puluh dua orang nwesio yang berada dalam sebuah barisan seperti pula keadaan dari kedua orang hwesio cilik tadi, mereka kehilangan kesadarannya dan bertarung sendiri dengan hebatnya.

Menghadapi keadaan tersebut, Siau lim ciangbunjin baru benar- benar merasa agak gugup dan kelabakan, disamping harus menghadapi Tiang pek lojin yang berhasil meloloskan diri dari barisan, diapun tidak tega hati menyaksikan tujuh puluh dua orang muridnya menjadi kalap.