Pukulan Naga Sakti Jilid 05

 
Jilid 05

Thi Eng khi segera merasakan pergolakan emosi yang luar biasa sekali dengan sorot mata yang tajam dia awasi hwesio itu lekat- lekat, sebab dia tahu orang ini adalah salah satu diantaranya Ayahnya dan Ciu Cu giok ....

Makin bercerita, Huang oh siansu semakin lancar lagi sambungnya lebih jauh :

“Secara terbuka mereka saling mewariskan ilmu pedang dan simhoat tenaga dalamnya kepada yang lain, ternyata akibat dari perbuatan tersebut, mereka saling menaruh hormat kepada yang lainnya, tapi siapakah lebih lemah, ingatan tersebut belum pernah hilang dari benak mereka.

Maka pada dua puluh tahun berselang, mereka berjanji untuk melakukan pertandingan selama tujuh hari tujuh malam didalam sebuah hutan yang jauh dari keramaian manusia, dalam pertarungan selama tujuh hari tujuh malam itu, ternyata terbukti bahwa kekuatan mereka adalah seimbang dan sukar diketahui siapa yang menang dan siapa yang kalah.”

Dalam benak Thi Eng khi segera terlintas satu bayangan ....

dalam sebuah hutan yang terpencil, dua orang kerabat yang masih muda melangsungkan pertarungan selama tujuh hari tujuh malam dalam keadaan letih, mereka masih bertarung terus dengan serunya

.....

Tak tahan lagi dia segera menghela napas panjang, katanya : “Padahal apa perlunya berbuat begini?”

Huang oh siansu mendesah sedih.

“Aaai betul seandainya pada waktu itu kami bisa mempunyai

perasaan seperti siau sicu sekarang, tak akan terjadi peristiwa yang amat tragis itu”

Thi Eng khi segera merasakan hatinya bergetar keras, apalagi bila teringat dengan pesan terakhir dari kakeknya, bisa diduga akhir dari pertarungan itu sudah pasti adalah suatu akhir yang amat tragis, kemungkinan besar yang menjadi korban adalah ayahnya sendiri.

Meski kejadian ini sudah berlangsung pada belasan tahun berselang, tapi dalam perasaannya seakan-akan kejadian itu berlangsung didepan mata, tanpa terasa lagi dengan perasaan tegang, serunya :

“Ooooh akhirnya apakah mereka berhasil menentukan siapa

yang menang dan siapa yang kalah?” Huang oh siansu tertawa getir.

“Betul, akhirnya salah seorang diantaranya berhasil menang setengah jurus, sedangkan yang lain dikalahkan setengah jurus.”

Thi Eng khi sangat berharap kalau yang kalah bukan ayahnya, buru-buru ia bertanya:

“Siapa yang dikalahkan setengah jurus?” Huang oh siansu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak, tapi gelak tertawa itu membawa nada sedih yang luar biasa, lama, lama sekali dia baru berkata:

“Siauceng menyebut diriku sebagai Huang oh (lupa diri sendiri), bahkan tentang aku sendiripun sudah lupa, mana mungkin aku masih ingat siapa yang menang dan siapa yang kalah!”

Seluruh wajah Thi Eng khi telah dibasahi oleh air mata, dengan suara rendah katanya :

“Apakah cerita tersebut berakhir sampai disini saja?”

“Akhirnya orang yang kena dikalahkan itu berhubung merasa malu terhadap perguruannya, lagipula pikirannya tak bisa terbuka, dengan membawa malu dia menggorok leher sendiri bunuh diri, sedangkan yang lain lagi karena sedih kehilangan teman akrabnya, segera mencukur kepalanya menjadi hwesio!”

Mendengar sampai disitu, Thi Eng khi segera merasakan kepalanya pusing tujuh keliling, hampir saja dia tak sanggup untuk berdiri tegak lagi, sambil memegang ujung jubah dari pendeta itu serunya :

“Siapakah kau orang tua yang sebenarnya?”

Dia masih berharap orang yang bunuh diri itu bukan ayahnya, maka dia telah mengubah panggilannya dari siansu menjadi “kau orang tua”

Setitik cahaya aneh memancar keluar dari balik mata Huang oh siansu, dengan suara tegas, sahutnya :

“Siauceng adalah Huang oh!”

Thi Eng khi merasakan sekujur badannya gemetar keras, dengan cepat dia menarik kembali tenaga yang mencengkeram diatas jubah Huang oh siansu tersebut, kemudian sambil memegangi kepalanya sendiri dia merasa murung sekali.

Dia berusaha untuk menyakini bahwa Huang oh siansu yang berada di hadapannya adalah ayahnya sendiri, tapi bagaimanapun dia mencoba untuk membayangkan ternyata sama sekali tidak menemukan setitik alasanpun sebagai tempat berpijak.

Terutama sekali wajahnya yang kurus dan sayu itu, pada hakekatnya sama sekali tidak cocok dengan gelarnya sebagai seorang lelaki yang sangat tampan.

Padahal darimana dia bisa tahu kalau kesayuan wajah Huang oh siansu itu adalah akibat dari usahanya untuk mengobati luka yang dideritanya, karena terlalu banyak mengorbankan tenaga dalamnya maka begitulah jadinya.

Menyusul kemudian diapun mencoba untuk membayangkan Huang oh siansu sebagai Gin san kiam kek Ciu Cu giok.

Pertama, ia mengetahui Pek hui tiau yang tayhoat yang dimilikinya berasal dari seorang temannya dari Thian liong pay, maka itu berarti dia bukanlah ayahnya sendiri, kalau dia bukan ayahnya itu berarti orang itu adalah Ciu Cu giok.

Kedua, didalam berbincang-bincang sikapnya selalu ragu dan risau, jelas inilah penampilan dari semacam kejiwaan karena menyesal kepada keturunan rekannya yang telah tiada.

Ketiga, dia hendak mewariskan ilmu simhoat tenaga dalam Pek hui tiau yang tayhoat serta Thian liong kiam hoat kepadanya, sudah pasti hal ini dimaksudkan untuk mengurangi beban perasaannya yang terlampau menyiksa.

Atas ketiga hal tersebut diatas, Thi Eng khi lantas memutuskan kalau Huang oh siansu sudah pasti bukan ayahnya melainkan seorang dari Bu lim siang giok yaitu Gin san kiam kek Ciu Cu giok.

Perasaannya saat itu kalut sekali, pendeta yang berada di hadapannya sekarang pernah menjadi sahabat karib ayahnya, dan kini adalah tuan penolong yang telah menyelamatkan jiwanya, tapi ayahnya justru mati ditangannya, sehingga boleh dibilang dia adalah musuh besar pembunuh ayahnya. Berpikir demikian, hampir saja dia tak sanggup mempertahankan diri, perasaannya betul-betul menjadi amat kalut.

Untung saja, pemuda ini sudah kenyang belajar ilmu sastrawan dan berjiwa amat besar, setelah dipikirkan lebih seksama lagi, dia merasa Gin san kiam kek Ciu Cu giok sebetulnya juga tidak berdosa, malah musibah yang dialaminya hampir tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami ayahnya.

Andaikata kedudukan kedua orang itu berbalikan, apakah dia bisa menuduh ayahnya telah melakukan suatu kesalahan? Sedang arwah ayahnya di alam baka, tentu tidak mengijinkan pula dirinya untuk bersikap demikian.

Begitu pendapat tersebut melintas dalam benaknya, dia segera merasakan dadanya menjadi lapang, rasa sedih menjadi hilang dan kobaran api dendam yang memancar dari balik matanya banyak yang luntur .....

Selama ini Huang oh siansu mengawasi terus perubahan wajah Thi Eng khi dengan perasaan berat, ketika dilihatnya mimik muka anak muda itu berubah menjadi tenang kembali, diam-diam ia baru menghembuskan napas lega, diam-diam pujinya:

“Nak, kau berjiwa besar dan pandai menimbang berat ringannya persoalan, kau lebih hebat daripada ayahmu dulu!”

Pelan-pelan Thi Eng khi mendongakkan kepalanya, dengan sorot mata yang tajam tapi tulus, ia menatap wajah Huang oh siansu, kemudian ujarnya pelan :

“Siansu, boanpwe telah tahu siapakah dirimu, meski ayahku telah kalah setengah jurus sehingga bunuh diri, boanpwe tak berani membuat keonaran atas dasar kejadian itu apalagi membalas dendam, tapi kekalahan setengah jurus itu akan kurenggut kembali disuatu saat. Sekarang ilmu silat yang boanpwe miliki belum jadi, sulit bagiku untuk bertanding denganmu, maka berilah waktu selama dua tahun, sampai waktunya boanpwe pasti akan minta petunjukmu lagi disini!” Sebenarnya Huang oh hwesio sedang bergirang hati karena kebesaran jiwa pemuda itu tapi keningnya segera berkerut setelah mendengar perkataan dari Thi Eng khi itu, diam-diam ia menghela napas dan berpikir :

“Nak, mengapa dalam hal inipun pikiranmu tak bisa dibuka?”

Tapi diluaran ia tetap menjawab :

“Baik, dua tahun kemudian siauceng pasti akan menunggu kedatanganmu disini!”

Setelah berhenti sebentar, terusnya :

“Sekarang sudah seharusnya siauceng mewariskan ilmu simhoat Pek hui tiau yang dan Thian liong kiam hoat dari partai Thian liong pay itu kepada siau sicu.”

Tadi sebenarnya terlintas dalam benak Thi Eng khi untuk meminta petunjuk kepada Huang oh siansu tentang bagaimana caranya membebaskan pengaruh totokan dari Jit sat ci, tapi sekarang bukan saja ingatan tersebut sudah dilupakan, bahkan ingatan untuk minta belajar ilmu sakti Thian liong pay pun diurungkan, bahkan ia semakin bertekad untuk tidak pulang ke Huay im untuk sementara waktu.

Sebab dia hendak menemukan kembali kitab Thian liong pit kip yang telah hilang bersama lenyapnya kakeknya itu, lalu dengan mengandalkan kekuatan sendiri untuk menegakkan kembali nama besar Thian liong pay serta membalaskan sakit hati dari ayahnya.

Iapun bertekad untuk menampik maksud baik dari Huang oh siansu tersebut, maka dengan sopan dia berkata :

“Budi kebaikan siansu pasti akan kubalas, boanpwe ingin mohon diri lebih dahulu!”

Setelah menjura, dia lantas membalikkan badan dan beranjak pergi dari sana.

Tidak menjawab pertanyaan yang diajukan, berarti penawaran itu telah ditampik, Huang oh siansu segera tertawa paksa katanya : “Siau sicu amat gagah dan perkasa, dikemudian hari pasti akan berhasil dengan sukses, cuma contoh didepan mata sudah jelas, aku harap sicu suka berpikir tiga kali lebih dulu sebelum mengambil keputusan.”

Thi Eng khi merasakan hatinya bergetar keras, dia berhenti seraya berpaling, serunya :

“Boanpwe menerima nasehat itu!”

Dalam waktu singkat, dia sudah berada hampir satu kaki jauhnya dari tempat semula.

Tiba-tiba tampak sesosok bayangan manusia berwarna perak muncul dari belakang sebuah batu, kemudian dengan cepat menghadang jalan pergi Thi Eng khi.

Thi Eng khi sendiri hanya merasakan ada selapis kabut putih melayang didepan matanya, tanpa terasa dia mundur selangkah ketika mendongakkan kembali kepalanya, dia menjadi terbelalak dengan wajah berubah menjadi merah.

Ternyata orang yang menghadang jalan perginya itu adalah seorang gadis muda yang cantik jelita, rambutnya yang panjang terurai sebahu, bajunya perak berkibar terhembus angin, kecantikannya ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan.

“Thi siauhiap!” terdengar gadis itu berseru sambil berkerut kening, “harap tunggu sebentar, siau li ingin mengucapkan beberapa patah kata kepadamu!”

Kemudian sambil melintas dari samping Thi Eng khi, dia menyelinap ke hadapan Huang oh siansu dan menubruk ke dalam pelukannya.

“Oooh ayah!” pekiknya sedih, “sungguh rindu anakmu Ting-ting!”

Dengan cepat Huang oh siansu mendorong gadis itu sambil berseru dengan gugup : “Nona, jangan salah melihat orang, pinceng adalah Huang oh, sama sekali tidak kenal denganmu!”

Noan berbaju perak itu agak tertegun, kemudian sambil menubruk kembali ke pelukan pendeta itu, serunya :

“Ooh ayah! Semua percakapanmu dengan Thi siauhiap telah kudengar, apakah kau benar-benar sudah lupa dengan putrimu sendiri Ting-ting ?”

Oleh karena suatu alasan, Huang oh siansu tidak mau mengakui asal-usulnya dengan Thi Eng khi, sedang terhadap gadis yang bernama Ting-ting inipun dia merasa amat rikuh, sebab dia sudah tahu putri siapakah dia, padahal berbicara dari situasi yang sedang dihadapinya itu, mustahil baginya untuk menyangkal.

Maka dengan perasaan apa boleh buat, pendeta itu cuma manggut-manggut belaka.

Melihat itu, Ciu Ting ting segera berseru :

“Ibu telah memberitahukan segala sesuatunya kepada Ting ji, ketika kau orang tua meninggalkan rumah, Ting ji baru dilahirkan dua bulan, tentu saja kau orang tua tak akan kenal dengan Ting ji. Tapi sekarang Ting ji telah berhasil mempelajari ilmu pedang Liu soat kiam hoat milik kau orang tua, bila Ting ji sudah memainkan ilmu pedang tersebut, kau orang tua pasti akan yakin jika Ting ji bukan cuma mengaku –ngaku saja !”

Dalam keadaan begini ternyata Ciu Ting-ting masih bisa berpikir secermat itu, dari sini dapat diketahui bahwa dia memang seorang gadis yang luar biasa.

Begitulah, seusai berkata dia lantas meloloskan pedangnya, setelah memberi hormat kepada pendeta itu, diapun mainkan ilmu pedang Liu soat kiam hoat itu satu jurus demi satu jurus.

Selapis cahaya keperak-perakan dengan cepat membungkus seluruh tubuhnya yang langsing itu. Hawa pedang menderu-deru, angin tajam menyapu keempat penjuru. Thi Eng khi dipaksa tak kuat berdiri tegak sehingga tanpa terasa dia mundur beberapa langkah.

Sepasang mata Huang oh siansu berkedip-kedip seakan-akan dari tubuh Ciu Ting ting, ia terbayang kembali bayangan tubuh dari sobatnya yang telah tiada itu, sambil menghela napas dia lantas bergumam :

“Terpaksa aku harus bersikap demikian!”

Dengan cepat, ia mengambil suatu keputusan aneh.

Ketika menyelesaikan ke delapan puluh satu jurus ilmu pedang Liu saot kiam hoat itu, paras muka Ciu Ting ting masih tetap tenang, napasnya tidak memburu, mukanya tidak merah, seakan-akan ia tak pernah melakukan sesuatu apapun.

Huang oh siansu tidak menyangkal, juga tidak mengakui, dia hanya tersenyum dengan mulut membungkam.

Tapi justru melihat senyuman tersebut, perasaan Ciu Ting ting menjadi sangat lega, dengan cepat dia membaringkan diri dalam pelukan pendeta itu.

Dengan lemah lembut, Huang oh siansu membelai rambutnya yang lembut, kemudian katanya sambil tertawa :

“Pinceng Huang oh, panggillah aku dengan sebutan Huang oh siansu saja!“

“Baik!“ jawab Ciu Ting ting sambil tersenyum, “pendeta memang tak boleh punya anak, kemudian hari aku akan memanggil ayah sebagai Huang oh siansu.“

Thi Eng khi yang menyaksikan adegan pertemuan ayah dan anak itu kemudian membayangkan nasib yang menimpa dirinya sendiri, tanpa terasa timbul rasa sedih dalam hatinya, ia merasakan pandangan matanya menjadi kabur dan setetes air mata jatuh berlinang. Padahal mana ia sangka kalau Huang oh siansu sesungguhnya adalah ayahnya sendiri, Ciu Ting ting yang sekarang sedang mengecap kebahagiaan itulah baru seorang anak yang benar-benar patut dikasihani.

Dengan senyuman dikulum Ciu Ting ting berjalan ke hadapan Thi Eng khi, kemudian setelah memberi hormat katanya :

“Siaumoy Ciu Ting ting benar-benar ikut berduka cita atas kematian empek Thi, selain itu juga memohonkan maaf bagi ayahku atas perbuatannya di masa lalu!“

Sikapnya supel, ucapannya bersungguh-sungguh dan cukup membuat orang merasa terharu.

Cepat-cepat Thi Eng khi menyeka air mata yang membasahi wajahnya, kemudian sambil tertawa paksa, sahutnya :

“Ucapan Ciu lihiap terlampau serius, siaute sama sekali tidak bermaksud untuk membenci ayahmu.“

“Sungguh?“ seru Ciu Ting ting sambil berkenyit alis. “Siaute berbicara dengan sejujurnya.”

“Kalau begitu kau akan membatalkan juga perjanjianmu untuk bertemu pada dua tahun kemudian?”

“Sebagai anak sudah seharusnya menjunjung nama baik orang tua, pertemuan dua tahun kemudian tak berani siaute lupakan.” Jawab Thi Eng khi tegas.

Dengan wajah bersungguh, Ciu Ting ting segera berseru : “Siaute justru ingin minta petunjuk dari Thi siauhiap mengenai

persoalan ini.”

Thi Eng khi agak tertegun.

“Dalam hal apakah siaute telah berbuat tidak sepantasnya?” “Thi siauhiap, tolong tanya apa yang sebenarnya hendak kau buktikan di dalam pertemuan dua tahun kemudian?”

Thi Eng khi belum pernah berbicara dengan kaum gadis, jangan dikata mukanya sudah memerah sedari tadi, bahkan kekosenannya entah mengapa juga turut lenyap tak berbekas, dia hanya bisa menggerakkan bibirnya tanpa sepotong perkataanpun yang bisa diucapkan.

Dengan wajah sedih kembali, Ciu Ting ting berkata : “Ayahmu dan ayahku disebut orang Bu lim siang giok,

sesungguhnya hubungan persahabatan mereka sangat karib. Buktinya, akibat dari kematian ayahmu, ternyata ayahku juga telah meninggalkan anak bininya untuk hidup mengasingkan diri sebagai seorang pendeta, dari sini bisa diketahui betapa dalamnya rasa sedih yang mencekam perasaannya.”

Setelah berhenti sebentar, kembali dia berkata :

“Hanya dikarenakan ingin menangnya sendiri, kedua orang tua kita telah menciptakan keadaan yang begini tragis, sedang sekarang Thi siauhiap ingin melanjutkan kembali tragedi itu dengan kejadian lain, siaumoy yang bodoh jadi ingin bertanya, sesungguhnya apa maksud dan tujuan siauhiap yang sebenarnya?”

Thi Eng khi merasakan pikiran maupun perasaannya menjadi sangat kalut, untuk sesaat lamanya ia menjadi gelagapan dan tak tahu bagaimana harus menjawab ucapan tersebut.

Terdengar Ciu Ting ting kembali berkata :

“Bila siauhiap bersikeras ingin membuktikan kalau ilmu silat aliran Thian liong pay melebihi kepandaian ayahku, bagaimana seandainya siaumoy mewakili ayahku mengaku kalah …..? Kalau tidak, aku mohon dengan sangat agar kau bersedia memandang pada hubungan persahabatan kedua orang tua itu untuk menghapuskan masalah tersebut sampai disini saja!”

Paras muka Thi Eng khi berubah agak memucat, ia merasa setiap perkataan dari Ciu Ting ting sangat masuk akal sekali, sehingga pikiran sendiripun terasa menjadi ikut goyah. “Thi siauhiap, apakah kau menganggap ucapan siaumoy itu tidak bisa diterima dengan akal sehat?” terdengar Ciu Ting ting kembali berseru dengan lantang.

Thi Eng khi adalah seorang lelaki yang berjiwa besar, bukan saja ia mau tahu keadaan orang juga berani mengakui kesalahannya sendiri.

Ia lantas tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…… haaahhh….. haaahhh……. terima kasih banyak nona Ciu atas nasehatmu yang telah membebaskan aku dari kebimbangan, terimalah hormat dari siaute!“

Dengan sungguh-sungguh dia lantas menjura dalam-dalam.

Menyusul kemudian, dia pun memberi hormat kepada Huang oh siansu sembari berkata :

“Siansu dan ayahku adalah sahabat karib bila boanpwe telah bertindak kurang sopan tadi, harap siansu pun bersedia untuk memaafkan.“

Huang oh siansu menjadi girang setengah mati, sebentar dia memandang kearah Ciu Ting ting, sebentar kemudian memandang ke arah Thi Eng khi lalu katanya sambil tertawa :

“Pinceng benar-benar merasa banyak berhutang kepada kalian!“ Sekali lagi Thi Eng khi memberi hormat.

“Boanpwe ingin mohon diri lebih dulu!”

Dengan langkah lebar, dia lantas menuruni bukit.

Dengan cepat, Ciu Ting ting memburu ke depan seraya berseru : “Thi siauhiap, kalau memang kau sudah menyadari, mengapa

tidak mempelajari Pek hui tiau yang dan Thian liong kiam hoat lebih dahulu sebelum pergi!” Thi Eng khi tidak berbicara apa-apa lagi, tanpa berpaling dia melanjutkan perjalanannya ke depan, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Melihat itu, Ciu Ting ting segera bergumam :

“Aaai …. dia ….. dia pergi juga sambil mengeraskan hatinya!”

“Seandainya Thi siauhiap tetap tinggal di sini, pinceng juga tak akan mewariskan apa-apa kepadanya,” ujar Huang oh siansu, “kepergiannya ini justru merupakan pilihan yang paling tepat, pinceng malah merasa kagum sekali kepadanya!”

“Dia bakal ke mana?” tanya Ciu Ting ting dengan perasaan agak kuatir.

“Bila dugaan pinceng tidak salah, kemungkinan besar dia sedang pergi mencari kitab pusaka Thian liong pit kip perguruannya.”

Sesungguhnya Huang oh siansu memang menaruh rasa sesal terhadap keturunan sahabat karibnya ini, maka ketika dilihatnya gadis itu seperti menaksir putranya, sekulum senyuman riang segera tersungging diujung bibirnya.

Dengan gerakan yang amat cepat Thi Eng khi menuruni bukit Thi san dan melanjutkan perjalanannya dengan menelusuri sungai Tiang kang.

Sepanjang perjalanan, pelbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya, ia merasa bisa jaya atau tidaknya partai Thian liong pay tergantung pada berhasil atau tidaknya ia menemukan kembali kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut.

Sedang satu-satunya kemungkinan untuk berhasil mendapatkan kembali kitab pusaka Thian liong pit kip adalah menuju keluar perbatasan dan mengunjungi Tiang pek lojin yang diminta kakeknya untuk menyampaikan pesan terakhirnya itu ……

Maka diapun bertekad untuk berangkat keluar perbatasan dan untuk sementara waktu tidak kembali ke kota Huay im. Pengalaman pahit di perkampungan Ki hian san ceng serta mara bahaya yang dialaminya di bukit Bong soat hong, membuat pengetahuan serta pengalamannya semakin bertambah.

Sepanjang jalan dia selau berusaha untuk bertindak hati-hati dan menghindari segala kejadian yang tak diinginkan, benar juga, dengan lancar akhirnya tibalah dia di Si hong ko.

Asal dia sudah melampaui tembok besar maka wilayah tersebut sudah disebut sebagai luar perbatasan.

Pada saat yang bersamaan dengan tibanya Thi Eng khi di kota So hong ko, seorang pendeta dan seorang tosu yang mencurigakan gerak-geriknya bermunculan pula di sekitar pemuda itu sambil diam- diam menguntit perjalanan anak muda tersebut.

Thi Eng khi langsung mencari rumah penginapan untuk beristirahat, seusai makan malam dia memanggil pelayan untuk mencari keterangan tentang luar perbatasan serta seseorang yang bernama Tiang pek lojin.

Ternyata Tiang pek lojin mempunyai nama yang amat tersohor di luar perbatasan, hampir setiap orang mengetahui namanya dan setiap orang tahu siapakah dirinya.

Mengetahui akan hal itu, Thi Eng khi menjadi tidak kuatir kalau tak sampai bertemu dengan Tiang pek lojin, maka saking girangnya semalaman ia hampir tak bisa tidur.

Keesokan harinya. sebelum fajar menyingsing, ia sudah melangkahkan kakinya di luar perbatasan.

Perasaannya waktu itu selain agak terpengaruh emosi, juga merasa agak kuatir.

Emosi karena tujuannya hampir sampai dan kabar berita tentang kitab pusaka Thian liong pit kip juga segera akan terungkap. Ia kuatir karena tak tahu manusia macam apakah Tiang pek lojin itu? Apakah dia juga seperti orang kenamaan yang pernah dijumpainya dalam perkampungan Ki hian san ceng, meski bernama besar tapi sombongnya bukan kepalang, andaikata memang demikian, itu berarti tipis harapan baginya untuk bisa mendapatkan kembali kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut.

Begitulah, dengan perasaan yang gundah dan pikiran yang kalut, entah beberapa jauh ia sudah melanjutkan perjalanannya.

Mendadak terdengar seseorang menegur dengan suara yang serak tua :

“Siauhiap memakai jubah baju biru dan menyoren pedang Thian liong kim kiam, apakah kau adalah anak murid Thian liong pay?“

Mendengar teguran itu, Thi Eng khi merasa terperanjat, ia tidak segera menjawab melainkan mengamati orang tersebut dengan sinar mata yang tajam.

Tampak olehnya orang yang berbicara itu berperawakan tinggi besar, berwajah merah bersinar dan berambut memutih semua, matanya tajam bagai sembilu, jelas merupakan seorang jago silat yang berilmu tinggi .....

Dengan cepat, Thi Eng khi menjawab :

“Aku adalah ketua Thian liong pay Thi Eng khi, tolong tanya siapakah nama lotiang?“

Mencorong sinar tajam dari balik mata kakek tersebut setelah mendengar perkataan itu, dengan kejut bercampur girang, serunya tertahan :

“Oooh rupanya kau adalah Thi ciangbunjin dari partai Thian

liong pay yang namanya menggetarkan daratan Tionggoan, aku si orang tua adalah Tam ci toa tiau (rajawali besar bersayap tunggal) Ting Tian yu ! Maaf bila aku bersikap kurang hormat!“

Sikapnya segera berubah menjadi amat serius. Thi Eng khi menjadi agak curiga, dia merasa tingkah laku dari Tam ci toa tiau Ting Tian yu terlampau berlebih-lebihan, sebab menurut pengalamannya, tak mungkin orang akan bersikap begitu hormat terhadap seorang ketua dari Thian liong pay yang sudah daluwarsa.

Maka diapun tidak berbicara apa-apa lagi selain mendengus dingin.

Siapa tahu, wajah Tam ci toa tiau Ting Tian yu segera menunjukkan sikap yang amat gelisah, buru-buru tanyanya lagi :

“Cianbunjin, persoalan apa yang membuatmu tak senang hati?“

Sikapnya tampak malah semakin menaruh hormat lagi, seakan- akan kuatir kalau sikapnya itu kurang hormat.

“Ting tayhiap, apakah kau sedang bermain sandiwara dihadapanku?“ tegas Thi Eng khi dengan wajah dingin.

Tam ci toa tiau Ting Tian yu adalah seorang anak buah Tiang pek lojin yang mempunyai kedudukan yang cukup tinggi. Selain itu, dia juga memiliki iman yang tebal. Dengan cepat dia sadar bahwa Thi Eng khi terlalu banyak curiga.

Maka sambil menghela napas katanya :

“Semua jago persilatan yang berada di luar perbatasan hampir sebagian besar menaruh hormat kepada partai anda, puluhan tahun bagaikan sehari aaai! Harap siauhiap jangan salah paham, aku

sama sekali tidak mempunyai maksud lain!“

Thi Eng khi menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, katanya kemudian :

“Kalau didengar dari perkataan Ting tayhiap, rupanya kalian sudah mengetahui jelas atas semua musibah yang menimpa partai kami di wilayah Tionggoan?“

“Tangcu kami sangat menaruh perhatian terhadap situasi dalam dunia persilatan, oleh sebab itu seringkali kami mengutus orang untuk mencari tahu situasi dalam dunia persilatan, akulah yang sebenarnya ditugaskan untuk menyambut kedatangan Thi ciangbunjin.“

Mencorong sinar aneh dari balik mata Thi Eng khi yang terbelalak besar katanya :

“Siapakah Tangcu kalian? Mengapa dia menaruh perhatian khusus kepadaku?“

“Tangcu kami adalah orang yang hendak dikunjungi Thi ciangbunjin dalam perjalanan kali ini.“

Dengan cepat Thi Eng khi berpikir :

“Jangan-jangan Tiang pek lojin sudah mengetahui akan maksud kedatanganku? Maka dia sengaja menggunakan cara begini untuk menyumbat dulu mulutku sehingga aku merasa sungkan untuk meminta kembali kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut? Hmmm! Kali ini aku tak akan mempedulikan soal peraturan dunia persilatan.”

Padahal dia sama sekali tidak memahami peraturan dunia persilatan, apa yang terpikir olehnya sekarang tak lebih hanya suatu reaksi belaka .....

Setelah termenung sebentar, katanya kemudian :

“Ooh ! Rupanya Ting tayhiap adalah orang yang diutus Tiang

pek lojin untuk menyambut kedatanganku, sungguh membuat hatiku terharu sekali.“

“Tangcu kami lebih dikenal orang luar perbatasan sebagai It tek ang, sedangkan sebutan Tiang pek lojin sudah jarang sekali dipergunakan lagi,“ Tam ci toa tiau Ting Tian yu menerangkan.

Terhadap manusia yang bernama It tek ang ini Thi Eng khi boleh dibilang tidak begitu mengerti, tapi menggunakan julukan “It tek“ (budi luhur) sebagai julukannya sesungguhnya dirasakan sebagai sesuatu takabur, maka dalam hati kecilnya segera timbul perasaan antipatik hingga tanpa banyak berbicara lagi, dia melanjutkan perjalanan dengan langkah lebar. Si rajawali besar bersayap tunggal Ting Tian yu juga tidak berkata apa-apa lagi, dengan kencang dia mengikuti dibelakangnya.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, perjalanan sudah dilakukan cukup jauh, tapi sepatah katapun mereka tidak berbicara.

Mendadak dari kejauhan sana tampak debu membumbung tinggi ke angkasa, menyusul kemudian tampak seekor kuda dilarikan kencang melaju ke arah mereka.

Dalam waktu singkat, ia sudah berada di depan Thi Eng khi berdua, belum lagi kudanya berhenti, sesosok bayangan manusia sudah melompat meninggalkan pelana, kemudian dari tengah udara terdengar seseorang berseru dengan nyaring :

“Paman Ting, bocah muda inikah orangnya?“

Ternyata yang muncul adalah seorang nona yang berwajah cantik tapi binal, wajahnya yang keras menunjukkan bahwa dia seorang gadis yang tidak takut langit tidak takut bumi.

Mendengar dirinya dipanggil “Siaucu“ Thi Eng khi merasa mendongkol sekali, dengan kening berkerut dia lantas melengos kearah lain dan enggan bertemu dengannya.

Tam ci toa tiau Ting Tian Yu membuat muka setan kepada nona itu, lalu menggerakkan tangan memberi kode, setelah itu dengan suara berat sengaja serunya :

“Bocah perempuan, makin lama semakin tak tahu adat, Thi siauhiap adalah seorang ketua dari suatu partai persilatan, berani betul kau bersikap kurang ajar!“

Karena didengarnya nona itu sudah ditegur, Thi Eng khi merasa rikuh sendiri, maka buru-buru ia berpaling sambil bersiap-siap hendak menjumpainya.

Tampak nona binal itu telah berseru sambil menarik muka :

“Di luar perbatasan, sebutan “Siaucu“ masih lebih terhormat dan hangat daripada sebutan tayhiap. Hei! Menurut kau, lebih baik kusebut dirimu sebagai siauhiap atau Siaucu?“ Agaknya Thi Eng khi tidak menyangka kalau pihak lawan begitu terbuka dan terang-terangan, untuk sesaat dia menjadi gugup sendiri dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Setelah tertegun dengan perasaan apa boleh buat, dia baru berkata :

“Aku ....... aku terserah pada nona sendiri mau menyebut apa

kepadaku “

Ketika dilihatnya Thi Eng khi mendapat malu, Tam ci toa tiau Ting Tian yu segera tertawa terbahak-bahal.

“Thi ciangbunjin, mari kita perkenalkan.” Sambil menarik nona itu, terusnya :

“Dia adalah cucu kesayangan Tangcu kami, orang menyebutnya Pek leng siancu So Bwe Leng, nona So!”

Tidak menunggu Tam ci toa tiau Ting Tian yu memperkenalkan Thi Eng khi, dengan cepat Pek leng siancu So Bwe leng telah berseru lebih dahulu :

“Kau adalah cucunya Keng thian giok cu Thi yaya dari partai Thian liong pay, anaknya paman Thi dan ketua partai saat ini Thi Eng khi Thi siauhiap! Betul bukan?”

Di tengah gelak tertawa merdunya, dia lantas melompat naik keatas kudanya dan membedalnya kencang-kencang.

“Paman Ting!” terdengar ia berseru keras “Kau tak boleh sampai kurang hormat terhadap tamu, aku akan berangkat duluan!”

Dalam waktu singkat, bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Tam ci toa tiau Ting Tian yu segera menuntun dua ekor kuda yang dibawa oleh si nona tadi, kemudian sambil menyerahkan seekor kuda berbulu hitam kepada Thi Eng khi, katanya : “Kuda ini kuda mestika Meh giok poo be milik tangcu kami, mari kita lanjutkan perjalanan siauhiap!”

Sikapnya terhadap pemuda itu tampak lebih akrab lagi.

Thi Eng khi bukanlah seorang yang mengerti soal kuda, dia mengira ucapan dari Tam ci toa tiau Ting Tian yu hanya merupakan suatu penampilan bahwa Tiang pek lojin amat menaruh hormat kepadanya.

Dasar pemuda itu memang sudah menaruh benih curiga, sebelum bersua sendiri dengan Tiang pek lojin, dia enggan banyak bicara, maka tanpa banyak basa basi lagi dia melompat naik keatas kuda Meh giok poo be yang dibilang mestika itu.

Benar juga, Thi Eng khi segera merasa bahwa kuda itu dapat bergerak dengan cepat dan enteng sekali, untuk mengimbangi kecepatan lari kudanya itu, ternyata kuda yang ditunggungi Tam ci toa tiau Ting Tian yu harus dilarikan sekencang-kencangnya.

Setelah ada bukti tersebut, walaupun Thi Eng khi tidak memiliki pengetahuan tentang kuda, dia dapat juga mengetahui kalau kuda itu memang benar-benar bukan kuda sembarangan.

Tanpa terasa segera pujinya :

“Sungguh seekor kuda jempolan yang sangat hebat!”

Sambil tertawa Rajawali besar bersayap tunggal Ting Tian yu berkata lagi :

“Siauhiap, bila kau ada minat, apa salahnya untuk melarikan kuda itu secepat-cepatnya untuk mencoba sampai dimanakah kehebatan kuda mestika ini?”

Thi Eng khi menjadi sangat tertarik, dengan cepat dia menghempit kakinya kencang-kencang dan mencemplak kudanya, diiringi suara ringkikan panjang dengan cepat kudanya membedal ke depan dengan amat cepatnya.

Setelah dicoba, ia baru kaget bercampur kagum, serunya dihati : “Ooooh ternyata yang dinamakan kuda mestika yang bisa lari

seribu li dalam sehari bukan cuma kata-kata bualan didalam buku bacaan saja ”

Setelah dilarikan sekian waktu, bayangan tubuh Tam ci toa tiau Ting Tian yu yang berada di belakang ternyata sudah lenyap dari pandangan mata.

Thi Eng khi segera menarik tali les kudanya dan memperlambat lari kuda itu, maksudnya hendak menunggu kedatangan Tam ci toa tiau Ting Tian yu.

Siapa tahu sekalipun sudah ditunggu sekian waktu, yang ditunggu-tunggu belum nampak juga sementara bayangan kota sudah kelihatan di depan sana, maka diapun melarikan kudanya menelusuri jalan raya kota itu.

Waktu itu adalah saat ramai-ramainya orang berlalu lalang dalam kota tadi, entah kenapa secara tiba-tiba suasana menjadi sangat hening, semua orang yang berada disekeliling tempat itu menunjukkan sikap yang amat menghormat sekali, sementara mereka yang kebetulan berada ditengah jalan segera menyingkir kesamping sambil membungkukkan badan memberi hormat.

Thi Eng khi mengira dari belakangnya muncul seorang pembesar, buru-buru dia berpaling, tapi disana tak nampak seorang manusiapun.

Dengan perasaan bingung, ia lantas berpikir :

“Mungkinkah mereka menunjukkan sikap menghormat karena aku adalah seorang ketua dari Thian liong pay? Mungkinkah nama Thian liong pay meskipun dicemooh didaratan, tapi masih dihormati oleh orang-orang luar perbatasan?“

Ia merasa hal ini mustahil, sehingga tanpa terasa menggelengkan kepalanya berulang kali.

Mendadak ia seperti menyadari akan sesuatu, segera berpikir lebih jauh : “Aah! Benar, Meh giok poo be adalah kuda tunggangan It tek ang! Tampaknya kedudukannya It tek ang di luar perbatasan selain disanjung dalam dunia persilatan, juga dihormati oleh setiap penduduk.”

Dia tak ingin membonceng ketenaran orang maka buru-buru dia melompat turun dari kuda dan berjalan sambil menuntun kuda tunggangannya itu.

Setelah menembusi sebuah jalan raya, sampailah pemuda itu didepan sebuah rumah makan, sementara ia sedang mempertimbangkan apakah akan menunggu kedatangan Tam ci toa tiau atau tidak, tiba-tiba sesosok bayangan manusia berkelabat lewat.

Tahu-tahu So Bwe leng sudah muncul di depan matanya, dengan serius dia lantas berseru :

“Thi ciangbunjin, silahkan masuk ke dalam untuk beristirahat!”

Seorang pemuda baju hijau segera muncul untuk menyambut kuda Meh giok poo be itu.

Thi Eng khi tak enak untuk menampik, maka dia lantas masuk kedalam rumah makan itu.

Dalam rumah makan tersebut telah disiapkan hidangan yang lezat sekali.

Thi Eng khi dipersilahkan untuk duduk di kursi utama, sementara So Bwe leng menemaninya di samping.

Kali ini So Bwe leng sangat jarang berbicara, bukan saja sopan santun, sikapnya juga amat menaruh hormat, bagaikan sikap seorang dayang terhadap majikannya.

Thi Eng khi merasa canggung sekali dalam suasana begini, ia merasa gerak geriknya menjadi tidak bebas.

Untung saja pada saat itulah Tam ci toa tiau Ting Tian yu berjalan masuk, terdengar ia tertawa terbahak-bahak. “Haahhh…. Haaahhh…. haahhh…. Hian titli kalau yayamu sampai tahu kalau kau sedang mempermainkan Thi siauhiap, jangan salahkan aku jika kau dicaci maki habis-habisan!”

Sambil berkata dia lantas berjalan ke samping meja dan duduk disitu.

“Aah, dia kan seorang ketua dari suatu perguruan besar,” seru So Bwe leng dengan cepat, “kalau aku tidak menaruh hormat kepadanya, apakah ia tidak akan mentertawakan orang persilatan diluar perbatasan yang pasti dibilangnya tak tahu sopan santun.”

Seraya berkata, dengan sepasang biji matanya yang jeli, dia awasi Thi Eng khi lekat-lekat.

Menghadapi situasi semacam ini, Thi Eng khi menjadi amat rikuh.

Katanya kemudian smabil tertawa :

“Entah kesalahan apakah yang telah kuperbuat terhadap nona?

Harap nona suka memberi petunjuk, lain kali pasti akan kuperhatikan secara baik-baik.”

Sambil mengerdipkan sepasang matanya yang besar, So Bwe leng segera berkata :

“Kecuali kalau dengan tulus iklas kau bersedia dipanggil sebagai Siaucu (bocah keparat) olehku, kalau tidak, aku akan selalu menganggap kau bagaikan malaikat!“

Rupanya dia masih dikarenakan rasa dongkolnya di tengah jalan tadi, atau mungkin saja dia memang mempunyai tujuan lain.

Tampaknya Thi Eng khi benar-benar merasa takut dengan permainan nona itu, terpaksa katanya sambil tertawa :

“Jika nona So lebih suka memanggil Siaucu kepadaku, panggillah dengan sebutan Siaucu!“

So Bwe leng menjadi girang sekali ketika dilihatnya pemuda itu sudah takluk, katanya sambil tertawa :

“Tidak berani, tidak berani “ Tam ci toa tiau Ting Tian yu kuatir nona itu menggoda lebih jauh, buru-buru dia mengambil mangkok dan sumpit seraya berkata :

“Hayolah bersantap dulu! Kita masih harus melanjutkan perjalanan jauh!“

Sambil tertawa terbahak-bahak So Bwe leng segera menghadiahkan sepotong babi gemuk kepadanya.

“Silahkan! Silahkan!“ serunya .

Selama hidup Thi Eng khi paling tidak doyan babi. Tapi sekarang mau tak mau dia mesti telan babi itu dengan kening berkerut sekalipun.

Ia sudah pernah merasakan kelihayan nona cilik itu, dia tak berani mencari gara-gara lagi dengannya.

Begitulah, sepanjang jalan Thi Eng khi harus selalu bersikap hati- hati, apalagi menghadapi So Bwe leng yang sering menggodanya.

Sepuluh hari perjalanan kemudian, akhirnya sampai juga mereka di tempat tujuan.

Benteng keluarga So bukan suatu kota yang terlampau besar, tapi kedudukannya diluar perbatasan hampir setaraf dengan kedudukan Bu tong pay dan Siau lim pay didaratan Tionggoan.

Sebab disinilah tempat tinggal It tek ang (Tiang pek lojin) So Seng pak yang merupakan pemimpin umat persilatan di luar perbatasan.

Benteng keluarga So letaknya di luar kota sebelah barat daya, waktu itu benteng terbuka lebar, beratus orang anggota benteng berbaris rapi dikedua belah sisi jalan.

Thi Eng khi sekalian dengan melewati sambutan yang meriah langsung menuju ke pintu benteng dan turun dari kuda. Seorang kakek berusia lima puluh tahunan dengan senyuman dikulum segera menyambut kedatangan mereka.

“Ayah!” teriak So Bwe leng sambil memburu ke depan,”aku telah menyambut kedatangan Thi siauhiap!”

Tak usah disinggung lagi, kakek itu bukan lain adalah ayah So Bwe leng, Na im siusu (sastrawan penggaet awan) So Ping gwan adanya.

Thi Eng khi segera memburu ke depan beberapa langkah, setelah memberi hormat katanya :

“Sikap dari empek sungguh membuat boanpwe merasa malu sendiri!”

Ternyata di dalam perjalanan sepuluh hari ini, Thi Eng khi telah mendapat tahu kalau It tek ang So Seng pak adalah sahabat karibnya Keng thian giok cu selama puluhan tahun, ketika mengetahui dunia persilatan mencemooh partai Thian liong pay yang hancur, So Seng pak merasa mendongkol sekali.

Oleh sebab itu, semua kecurigaan yang semula mencekam perasaannya seketika tersapu lenyap.

Sementara Na im siusu So Ping gwan sambil menggandeng tangan Thi Eng khi segera berseru dengan senyuman dikulum :

“Silahkan masuk siauhiap, ayahku sedang menantikan kedatanganmu dalam ruang dalam!”

Sambil berkata dia lantas membalikkan badan dan berjalan duluan.

Setelah masuk ke dalam ruangan, Thi Eng khi menyaksikan diatas kursi kebesaran duduk seorang kakek berambut putih yang berperawakan tinggi besar dan berwajah keren.

Ketika kakek itu menyaksikan kedatangan Thi Eng khi, dengan perasaan tergetar keras segera bangkit berdiri. Buru-buru Thi Eng khi maju ke depan sambil memberi hormat, serunya dengan pelan :

“Boanpwe Thi Eng khi menjumpai So yaya!”

It tek ang So Seng pak segera menahan bahu Thi Eng khi dan tidak membiarkannya menyembah, setelah mempersilahkan duduk dan mengamati wajahnya beberapa saat, tiba-tiba ia menghela napas panjang, katanya :

“Meski Thi lo gagah perkasa, sungguh tak nyana pada akhirnya dia telah melakukan juga suatu kesalahan besar. “

“Kakekku telah melakukan kesalahan apa?” tanya Thi Eng khi dengan perasaan terkejut.

It tek ang So Seng pak segera tertawa.

“Maksud lohu, bila ia tahu kalau cucunya sehebat ini, maka seharusnya dia tidak merasa putus asa ’

Thi Eng khi baru memahami maksud kakek tersebut, setelah mendengar perkataan itu buru-buru katanya :

“Boanpwe bodoh dan tak becus, tidak pantas mendapat pujian dari kau orang tua, sesungguhnya ketika kakek meninggalkan rumah, boanpwe belum dilahirkan ”

“Aaah rupanya begitu!”

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya :

“Jauh-jauh siauhiap datang kemari, apakah kau ingin menyaksikan masalah kakekmu?”

“Benar!” jawab Thi Eng khi sambil mengangguk, “menurut wasiat kakek, boanpwe tidak seharusnya terjun kembali ke dunia persilatan ”

“Itulah kesalahan kakekmu,” sela It tek ang So Seng Pak, “seandainya waktu itu dia tahu kalau dirinya bakal mempunyai cucu seperti kau, sudah pasti tindakan yang diambilnya akan berbeda.” Secara ringkas Thi Eng khi lantas menceritakan apa yang dialaminya bersama Thian liong ngo siang, bagaimana dia diangkat menjadi ketua, bagaimana menemukan kitab Thian liong pit kip telah dibawa kakeknya dan lain-lain.

Mendengar cerita tersebut, It tek ang So Seng pak segera tersenyum, katanya :

“kalau begitu, selain mencari tahu kabar berita kakekmu, kau juga bermaksud untuk mencari kitab pusaka Thian liong pit kip yang hilang itu ?”

“Benar!” Jawab Thi Eng khi berterus terang, “boanpwe memang datang karena persoalan itu, mohon So yaya suka memberi petunjuk kepada diri boanpwe ”

It tek ang So Seng pak segera menghela napas panjang, katanya

:

“Thi siauhiap, tahukah kau akan hubungan lohu dengan kakekmu

itu ”

Ketika Thi Eng khi mendengar It tek ang berulang kali memanggilnya dengan sebutan siauhiap lama kelamaan ia merasa canggung juga, tak tahan segera tukasnya :

“So yaya, bila kau tidak memandang asing diriku, harap memanggil boanpwe dengan sebutan nama saja.”

It tek ang segera tertawa tergelak.

“Haahhh..... haaahhhh.... haaahhh kalau kau sendiri selalu

menyebut diri sebagai boanpwe, bagaimana mungkin aku bisa memanggil dirimu dengan sebutan yang lebih rapat?”

Thi Eng khi merasa perkataan itu ada benarnya juga, maka dengan wajah memerah buru-buru serunya minta maaf.

“So yaya, Eng ji tahu salah!”

Baru saja dia minta maaf, So Bwe leng tahu-tahu sudah menyelonong masuk ke dalam ruangan sambil menubruk ke dalam pangkuan kakeknya dia berseru manja : “Yaya, diapun selalu menganggap diriku sebagai orang luar!” It tek ang segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh.... haaahhh.... haaahhhh budak ingusan, kau

pandainya cuma menggoda orang, kenapa kau tidak memanggil engkoh dulu kepadanya?”

Mendengar perkataan itu, Thi Eng khi tak ingin kurang hormat lagi, maka buru-buru serunya :

“Adik Leng”

Buru-buru So Bwe leng memberi hormat seraya memanggil pula dengan merdu :

“Engkoh Eng!”

Sambil memegangi tangannya kakeknya dia mengawasi wajah pemuda itu, sedang sikapnya juga secara tiba-tiba menjadi alim dan sopan santun .....

It tek ang segera tertawa kepada Thi Eng khi ujarnya lebih jauh : “Ketika lohu baru terjun ke dunia persilatan aku telah berkenalan

dengan kakekmu dikota Hang ciu, karena saling mengagumi, kami melakukan pertandingan ilmu silat selama sepuluh kali dan mengikat diri menjadi sahabat. Kemudian lantaran lohu mengagumi ilmu silat kakekmu yang lebih lihay setingkat daripada kepandaian lohu, secara sukarela aku mengundurkan diri keluar perbatasan dengan harapan bisa berjuang di sana, puluhan tahun perjuangan akhirnya menghasilkan seperti apa yang kuperoleh sekarang selama

sepuluh tahun ini hubungan persahabatan kami masih berlangsung dengan akrab dan hangat ”

Sesudah menghela napas panjang, terusnya :

“Dua puluh tahun berselang, lohu mendapat kabar kalau kakekmu tiba-tiba pergi meninggalkan rumah tanpa diketahui sebab musababnya, baru saja aku akan mengutus orang untuk menyelidiki peristiwa ini, mendadak datang seorang penduduk disekitar tempat ini yang menyerahkan sebuah bungkusan, ketika kubuka bungkusan tersebut, ternyata isinya adalah barang peninggalan dari kakekmu

....”

“So yaya, jadi kau sama sekali tidak berjumpa dengan kakekku?” sela Thi Eng khi.

It tek ang menghela napas panjang, katanya lagi : “Kakekmu menyuruh penduduk asli tersebut menyampaikan

pesan yang meminta lohu menghantar bungkusan tersebut kembali ke partai Thian liong pay didaratan Tionggoan, waktu itu aku segera berangkat bersama penduduk asli itu untuk menuju ke tempat pertemuan mereka dengan harapan bisa membereskan jenasahnya, siapa tahu kakekmu tidak nampak ada di situ, lohu menjadi sedih sekali, aku mengira jenasahnya mungkin sudah dilarikan binatang buas, maka dengan perasaan sedih akupun berangkat ke daratan Tionggoan untuk menyerahkan bungkusan itu kepada kalian.

Mengenai apa isi bungkusan tersebut, lohu tidak membukanya maka juga tidak tahu, masa dia tidak mengembalikan kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut?”

Thi Eng khi telah mengalihkan perhatiannya pada penduduk asli tersebut, dengan cepat dia berkata :

“Kalau begitu, sekarang kita cuma bisa mendapat keterangan dari penduduk asli itu!”

It tek ang menghela napas panjang.

“Setelah kejadian, berulang kali lohu sudah menanyai orang- orang itu, tapi dia tak lebih cuma menjalankan pesan orang saja dan soal lain tidak diketahuinya, lagi pula orang itu sudah meninggal pada tiga tahun berselang.”

Thi Eng khi segera merasakan kepalanya menjadi pusing tujuh keliling, segenap harapannya terasa musnah dan lenyap tak berbekas.

It tek ang cepat-cepat menghibur. “Ing ji, kau tak usah terlalu bersedih hati, terbayang ketika sepuluh kali aku beradu kepandaian dengan kakekmu meski kalah sedikit namun selisihpun tidak terlalu banyak, aku yakin pasti dapat membuatmu menjadi seorang jagoan yang termashur dalam dunia persilatan dan membangun kembali nama besar Thian liong pay.

Dengan bakatmu itu, aku rasa dalam dua tahun saja seluruh kepandaian silat yang kumiliki sudah dapat kau pelajari, apakah kau memiliki kesabaran itu?”

Thi Eng khi tahu kalau It tek ang mempunyai maksud baik terhadapnya, tentu saja kakek tersebut tidak menduga kalau ia sudah bertekad untuk mempelajari ilmu silat perguruannya lebih dulu sebelum mempelajari ilmu silat aliran yang lain.

Maka dengan perasaan minta maaf katanya :

“So yaya berhasrat mendidikku menjadi orang, seharusnya Eng ji merasa bergembira hati, tapi bagaimanapun juga Eng ji adalah seorang ketua dari Thian liong pay, orang bisa menertawakan diriku seandainya dalam bertempur nanti ilmu silat yang kupergunakan adalah ilmu silat bukan aliran Thian liong pay. Oleh sebab itu, terpaksa Eng ji harus menampik maksud baik kau orang tua.”

Mendengar perkataan itu, It tek ang segera tertawa terbahak- bahak.

“Haaahhh.... haaahhh.... haaahhhh bagus! Bagus! Bocah, kau

punya semangat! Besok akan kuajak dirimu untuk melakukan penyelidikan lagi di sekitar tempat kakekmu mendapat musibah, coba kita lihat bagaimanakah kemujuranmu.”

Thi Eng khi menjadi girang sekali, buru-buru ia bangkit berdiri dan mengucapkan terima kasih kepada It tek ang.

Sementara itu, dari luar pintu berjalan masuk seorang centeng yang segera membisikkan sesuatu ke sisi telinga It tek ang.

Mendengar itu, It tek ang segera berpaling ke arah Thi Eng khi sembari bertanya : “Eng ji, sepanjang jalan kemari, tahukah kau kalau ada seorang hwesio dari Siau lim pay dan Tosu dari Bu tong pay yang menguntil dirimu secara diam-diam?”

Terbayang kembali akan kebaikan dari Keng hian totiang dan Ci kay taysu, Thi Eng khi lantas mengira kalau hwesio dan tosu itu adalah dua orang jago yang diutus Siau lim pay serta Bu tong pay untuk melindungi keselamatan jiwanya, maka sambil tersenyum dia menjawab.

“Siau lim pay maupun Bu tong pay sangat bersahabat dengan Eng ji, boleh jadi kedua orang itu memang diutus untuk melindungi Eng ji secara diam-diam, So yaya! Harap kau jangan menyusahkan mereka.”

It tek ang manggut-manggut, kepada centeng itu pesannya : “Hwesio dan tosu itu bukan orang jahat, baik-baik layani

mereka.”

Centeng itu mengiyakan dan segera mengundurkan diri.

Hari itu juga Thi Eng khi dapat merasakan pelayanan paling ramah yang pernah dialaminya semenjak meninggalkan rumah, apalagi dilayani So Bwe leng yang binal dan pandai berbicara, membuat seluruh kemurungan dalam hatinya dapat diusir keluar dari benaknya.

Malam itu, Thi Eng khi dihantar menuju ke sebuah bangunan mungil ditengah kebun, menurut orang tua itu, bangunan tersebut dulunya khusus dipakai untuk menyambut kedatangan kakeknya Keng thian giok cu.

Dari sini dapat diketahui betapa tulusnya persahabatan It tek ang dengan kakeknya tanpa terasa Thi Eng khi merasa terharu sekali.

So Bwe leng berbicara terus tanpa hentinya, ada saja bahan cerita yang muncul dari benaknya hingga larut malam dia baru berpamit dari kamar Thi Eng khi dengan perasaan berat, sebelum pergi dia sempat berpesan dengan sungguh-sungguh, “Engkoh Eng, bila besok kau akan pergi bersama yaya, jangan lupa memanggil aku ya!”

Sepeninggalan So Bwe leng, Thi Eng khi segera naik ke tempat tidur dan memejamkan matanya, untuk pertama kali dalam hidupnya dua bayangan tubuh gadis cantik muncul bersama di dalam benaknya. Dia berusaha untuk membanding-bandingkan kedua gadis itu tapi kenyataannya makin dibandingkan pikirannya semakin bingung.

Belum lagi hasilnya diperoleh, tahu-tahu ia sudah mulai terlelap tidur.

Mendadak dari luar pintu berkumandang suara ketukan lirih, Thi Eng khi merasa terkejut dan segera sadar kembali dari tidurnya, buru-buru ia turun dari atas ranjang.

Dari luar jendela terdengar seseorang berbisik dengan suara yang rendah dan berat:

“Setan tua itu jahat dan licik, ia bermaksud busuk kepadamu Thi siauhiap! Cepat bangun dan buka pintu, lolap ada rahasia penting hendak disampaikan kepadamu.”

Untuk sesaat lamanya Thi Eng khi tak bisa membedakan apakah berita itu benar atau tidak, dia lantas membuka pintu dan berjalan keluar.

Tampak seorang hwesio berdiri di tengah halaman, ketika melihat pemuda itu munculkan diri, segera ia menggapenya sambil berseru :

“Cepat kabur!”

Disambarnya tangan Thi Eng khi kemudian dengan melompati dingin pekarangan kabur menuju ke arah pegunungan di belakang benteng sana.....

Di satu pihak hwesio itu menyeret Thi Eng khi meninggalkan kamarnya, di pihak lain muncul seorang tosu dalam ruangan itu, ia mengeluarkan dua benda dan segera diletakkan diatas meja, kemudian ditekan kuat-kuat sehingga diatas permukaan meja itu muncul bekas dari dua macam benda tersebut.

Kemudian ia baru melompat keluar dari kamar dan kabur dari tempat tersebut.

Keesokan harinya, suasana dalam benteng keluarga So menjadi sangat gempar ketika mengetahui lenyapnya Thi Eng khi.

It tek ang So Seng pak segera memburu kekamar Thi Eng khi, begitu melihat dua buah bekas di meja baca itu, kontan saja hawa amarahnya berkobar.

So Bwe leng dengan perasaan ingin tahu segera bertanya : “Yaya, bekas apakah ini? Apakah engkoh Thi sudah dilarikan oleh

mereka?”

“Kurang ajar benar orang-orang Siau lim pay dan Bu tong pay,” seru It tek ang So Seng pak dengan marah, “berani betul tidak pandang sebelah mata kepadaku dan membuat keonaran disini, kalau tidak kuberi sedikit pelajaran, malu aku menjadi seorang jagoan dari luar perbatasan!”

Sambil berpaling dan melotot ke arah So Bwe leng, serunya : “Budak, cepat panggil kemari ayahmu!”

Sambil menjulurkan lidahnya So Bwe leng mengiakan, segera dia lari keluar dari kamar.

Tak lama kemudian Na im siusu So Peng gwan sudah diajak menuju kamar itu.

Begitu melihat kedatangan Na im siusu It tek ang segera berseru dengan nyaring :

“Siau lim pay dan Bu tong pay sungguh terlalu menghina orang, berani benar mereka menculik orang dari dalam benteng kita.

Segera turunkan tanda perintah Mek yu ciam leng dan kumpulkan Tiang pek sam nio (tiga burung dari bukit Tiang pek), Hek san cap pwe khi (delapan belas penunggang kuda dari Hek san), Pek sui su kui (empat setan dari Pek sui) dan Boan san siang koay (sepasang siluman dari Boan san) untuk mengikuti aku menuju ke daratan Tionggoan. Kemudian kau kumpulkan lagi segenap jago nomor wahid di luar perbatasan dan didalam setengah bulan kemudian menyusul aku didaratan! Hmm! Akan kulihat, dengan mengandalkan apakah sehingga mereka begitu berani berani berbuat kurang ajar!”

Na im siusu So Peng gwan membuka mulut ingin berbicara, tapi segera dicegah It tek ang sambil katanya :

“Keputusanku sudah bulat, urusan lain aku masih bisa menerimanya, tapi kalau ada orang berani menghina dan menganiayanya Thian liong pay, aku tak bisa berdiam diri saja!”

Sekalipun It tek ang sudah tua usianya, namun wataknya masih berangasan, apalagi kalau sudah marah, keputusan yang telah diambil untuk mencoba kekuatan Siau lim pay dan Bu tong pay tak bisa diurungkan lagi.

So Bwe leng yang berada disampingnya dengan cepat membakar hati kakeknya, serunya :

“Betul yaya, jika kau tidak bisa membalas dendam buat engkoh Eng, percuma menjadi jagoan disini!”

“Budak sialan!” Na im siausu So Peng gwan segera membentak, “siapa yang suruh kau banyak usul disini? Hayo cepat enyah dari tempat ini!”

So Bwe leng segera menarik wajahnya menunjukkan wajah yang pantas dikasihani, pelan-pelan dia melangkah keluar dari situ, sementara sepasang matanya dialihkan kearah kakeknya minta bantuan.

It tek ang memang paling sayang dengan cucu perempuannya itu, dia segera mendengus :

“Nak, bereskan juga barangmu, besok ikut yaya berangkat ke daratan Tionggoan untuk menambah pengalaman!”

So Bwe leng segera membuat muka setan kepada ayahnya, kemudian cepat-cepat melompat pergi. Na im siusu So Peng gwan yang menyaksikan keadaan ini cuma bisa menggelengkan kepalanya belaka, diapun segera beranjak pergi untuk melaksanakan tugasnya.

Thi Eng khi diseret oleh hwesio itu menuju keluar benteng, tak lama kemudian mereka sudah menelusuri tanah perbukitan, satu jam sudah mereka melakukan perjalanan, namun hwesio tersebut belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Lama-kelamaan Thi Eng khi menjadi curiga, ia merasa heran kenapa hwesio itu menyeretnya pergi sejauh itu. Maka sambil menghentikan larinya dia lantas berseru:

“Siansu, ada urusan apakah kau? Kalau ingin berbicara, lebih baik di tempat ini saja!”

Mendadak hwesio itu berhenti dan tertawa seram.

“Heeehh.... heeehh.... heeehhh begitupun boleh juga, bagus,

bagus, Thi ciangbunjin! Coba kau teliti dulu siapakah lolap?”

Sambil berkata dia membalikkan badan dan maju mendekat si anak muda itu.

Dengan sinar mata yang tajam, Thi Eng khi mengawasi wajahnya, kemudian jeritnya kaget :

“Huan im sin ang! Rupanya kau ”

Huan im sin ang segera tertawa terkekeh-kekeh.

“Heeehhh.... heeehhh.... heeehhh jangan kau anggap setelah

lolos dari kematian di puncak Bong soat hong, maka kau sudah dapat meloloskan diri dari cengkeramanku.”

Pelan-pelan Thi Eng khi dapat menenangkan kembali hatinya, sambil tertawa dingin, ia berkata :