Pukulan Naga Sakti Jilid 04

 
Jilid 04 

Sedangkan Pu thian toa beng Kay Poan thian adalah seorang manusia yang berambisi bsear sekali, dia tidak termasuk salah seorang dari kawanan jago yang turut serta didalam pertemuan besar empat puluh tahun berselang, diapun tidak terhitung seorang jagoan lihay dalam dunia persilatan dewasa ini, apa mau dikata ia justru merupakan seorang manusia yang tak tahu diri, tak senang berdiam diri dan suka menonjolkan diri, dimanapun dan dalam persolan apapun, dia selalu menampilkan dirinya agar diperhatikan orang.

Disamping itu masih ada pula mereka yang leluhurnya tidak turut serta dalam deretan lukisan itu, munculnya lukisan tadi tanpa terasa segera menimbulkan kesan jelek dihati mereka terhadap pemuda itu, apalagi setelah menyaksikan Thi Eng khi dipersilahkan menempati kursi utama lantaran mengandalkan lukisan leluhur tersebut, mereka merasa semakin tidak puas lagi.

Diantara sekian banyak orang, Hong im siu Sang Thong dari Bukit Bong san tak usah dikatakan lagi, setiap patah kata maupun setiap tindakan orang ini selalu merupakan bagian-bagian yang penting didalam rencana busuknya, atau dengan perkataan lain ia memang berniat menimbulkan kesan jelek Thi Eng khi terhadap umat persilatan agar niat pribadinya bisa terwujudkan.

Itulah sebabnya dalam keadaan seperti ini, tak mungkin buat Thi Eng khi untuk merebut simpatik hanya mengandalkan beberapa patah kata saja.

Baru selesai dia berkata, Pu thian toa beng Kay Poan thian sudah tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh Thi ciangbunjin seandainya

kau tak sanggup menghilangkan rasa curiga kami terhadap dirimu maka sekalipun kami semua menaruh perasaan kagum terhadap kegagahan dan kehebatan partai Thian liong pay dimasa lalu, bagi kepentingan umat persilatan mau tak mau terpaksa kita musti mempersilahkan ciangbunjin untuk menyingkir lebih dulu dari ruangan ini.” “Pendapat saudara Kay memang tepat sekali, “ seru Hong im siu Sang Thong dengan cepat “siaute nomor satu yang merasa setuju lebih dulu.”

Lainnya pasti tidak buka suara namun kalau dilihat dari mimik wajahnya itu dapat diketahui bhawa mereka semua merasa amat setuju dengan pendapat dari Kay Poan thian tersebut.

Betapa kecewanya Thi Eng khi ketika menyaksikan maksud baiknya malah disambut dengan cemoohan serta penghinaan dari orang lain, dia memandang sekejap kearah Bu tong pay, tapi ketika dilihatnya Keng hian totiang pun menunjukkan sikap apa boleh buat, dia menjadi sedih sekali.

Setelah menghela napas panjang, katanya dengan suara gemetar

:

“Kalau toh kalian semua berpendapat demikian, terpaksa aku

harus mohon diri lebih dulu, tapi akupun berharap kalian jangan melupakan kejadian hari ini.“

Berbicara sampai disitu, dia lantas beranjak dan mendekati dinding ruangan siap menurunkan lukisan tadi dan dibawa pergi meninggalkan tempat itu.

Tiba-tiba sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, San hoa siancu Leng Cay soat tahu-tahu sudah melayang turun dihadapannya.

“Thi ciangbunjin, harap tunggu sebentar!“ cegahnya, “aku masih ada persoalan yang hendak dibicarakan!“

“Apa lagi yang tdiak benar dengan diriku!“ tegur Thi Eng khi dengan kening berkerut.

“Aku mempunyai suatu perintah yang tak pantas, harap Thi ciangbunjin bersedia untuk mengabulkannya!“ Thi Eng khi tidak bisa menduga persoalan apakah yang dinggap begitu penting oleh San hoa siancu Leng Cay soat, terpaksa sambil mengendalikan hawa amarahnya dia berkata :

”Leng siancu ada urusan apa? Aku bersedia untuk mendengarkannya!”

“Sauhiap, tolong serahkan lukisan Enghiong to ini kepadaku, agar akulah yang menyimpankan untukmu.“

Semakin membara sepasang mata Thi Eng khi setelah mendengar ucapan tersebut, teriaknya :

“Dengan dasar apa kau berkata begitu?“

“Dulu kakekmu Thi tayhiap pernah memimpin segenap jago lihay yang ada didalam dunia persilatan untuk melenyapkan suatu bencana dari dunia persilatan, setelah kejadian itu, untuk memperingatkan kejadian tersebut maka dipilihlah sembilan orang pentolan dunia persilatan waktu itu, masing-masing telah melukis wajahnya sendiri sebagai kenangan.“

“Aaah !“ tiba-tiba seorang berseru, “kalau begitu para

locianpwe yang gambarnya terpampang diatas lukisan itu merupakan hasil karya mereka sendiri?“

Soh sim tocu San hoa siancu Leng Cay soat mengenang kembali kejadiannya dimasa lampau, kemudian dengan bangga dia menyahut :

“Betul, padahal dari sekian banyak jago yang mengikuti berlangsungnya peristiwa waktu itu, yang bisa dianggap sebagai seorang enghiong yang memimpin dunia cuma tiga puluhan orang, tapi yang betul-betul berhak untuk mencantumkan lukisannya diatas lukisan tersebut cuma delapan sembilan orang saja, orang-orang itu bisa kalian lihat yang lukisannya terpampang disitu.“

Sekali lagi semua orang menikmati lukisan tersebut beberapa saat lamanya, akhirnya mereka baru melihat bahwa lukisan tersebut bukan berasal dari lukisan satu orang. Suara pembicaraan Soh sim tocu San hoa siancu Leng Cay soat makin lama semakin keras, kembali serunya :

“Waktu itu, Thi locianpwe adalah pemimpin dari seluruh umat persilatan maka semua orang menyerahkan lukisan itu untuk disimpan oleh dia orang tua.“

“Sudah sepantasnya kalau kakek kami yang menyimpan lukisan itu,“ timbrung Thi Eng khi tiba-tiba.

Pelan-pelan San hoa sinacu Leng Cay soat dari pulau Soh sim to itu manggut-manggut.

“Yaa, kalau berbicara dari kejadian waktu itu, tindakan tersebut memang paling tepat, tapi keadaan pada hari ini jauh berbeda.“

Berbicara sampai disitu, Thi Eng khi segera memahami kearah manakah tujuan pembicaraan tersebut, kontan saja matanya melotot besar.

“Oooh mengerti aku sekarang,“ serunya, “jadi berbicara

sekian lama dan berputar ayun kian kemari, tujuannya tak lain ingin mengangkangi lukisan tersebut.“

San hoa siancu tertawa dingin.

“Aku adalah salah seorang peserta dari peristiwa dimasa lalu lukisanku juga tertera dalam lukisan itu, tidak berhak kah bagiku untuk menyimpan lukisan itu?“

“Ucapan dari siancu itu tepat sekali,“ Hong im siu Sang Thong dari bukit Bong san segera menyela, “oleh karena Pek ih siusu Cu ciangbunjin dari partai Hoa san tidak datang, maka dewasa ini memang cuma Leng siancu seorang yang berhak menyimpan lukisan tersebut.“

“Aku juga berpendapat demikian,“ sambung Pu thian toa beng Kay Poan thian pula, “lukisan tersebut memang sepantasnya kalau disimpan oleh Leng siancu.“ Menyusul kemudian, kembali ada beberapa orang yang menyatakan dukungannya atas keputusan dari Leng siancu tersebut.

Hanya ketua dari partai Bu tong, Keng hian totiang yang tidak berpendapat demikian, segera serunya :

“Menurut pendapat pinto “

Baru saja ucapan itu keluar dari mulutnya, mendadak terdengar ada seseorang yang mencegahnya dengan ilmu menyampaikan suara.

“Ciangbunjin ingin turut berbicara demi keadilan, lolap merasa kagum sekali, tapi menurut pendapat lolap biarkan saja kejadian itu berlangsung agar menambah pengetahuan dan pengalaman Thi ciangbunjin terhadap kebusukan hati manusia. Sekarang Thi ciangbunjin masih muda, bakatnya sangat bagus, masa depannya cemerlang, bila kita terlalu melindunginya maka hal ini malah akan mencelakai dirinya, lebih baik biar hatinya mendapat sedikit pukulan agar merangsang kecerdasannya makin bekerja “

Mendengar bisikan tersebut, Keng hian totiang lantas berpaling kearah Ci kay taysu dan tersenyum kemudian :

“Pinto pikir Thi ciangbunjin memang harus mempertimbangkan kembali persoalan ini.“

“Tapi lukisan tersebut merupakan warisan dari leluhur kami, aku bersumpah akan mempertahankannya dengan jiwa dan raga, aku tak akan membiarkan orang lain menyentuhnya sekehendak hatinya sendiri.“

Dengan ilmu menyampaikan suara, Keng hian totiang segera berbisik.

“Jika manusia sudah dipengaruhi oleh sifat kemaruk, maka memperebutkan bukan suatu tindakan yang menguntungkan, Thi ciangbunjin kau bersemangat tinggi dan masih muda memangnya kau kuatir tiada kesempatan lagi dikemudian hari untuk mendapatkan kembali benda tersebut? Harap kau suka berpikir tiga kali sebelum bertindak.“ Thi Eng khi segera menjadi paham sekali, segera berpikir : “Buat seorang toa enghiong, seorang toa hau kiat, yang

dipikirkan adalah keberhasilan dimasa mendatang, bukan keuntungan di depan mata, suatu ketika jika ilmu silatku telah berhasil, memangnya tak bisa kucuci semua penghinaan ini?”

Berpikir sampai disitu, kemarahannya segera mereda, dengan nada pedih dia berkata :

“Baik, untuk kali ini aku akan menuruti kehendak kalian! Cuma akupun hendak berkata dulu, suatu ketika lukisan tersebut pasti akan kuminta kembali!“

“Siapa yang tahu keadaan, dia adalah orang yang bijaksana, aku akan selalu menantikan kunjungan dari Thi ciangbunjin!“ sahut San hoa siancu Leng Cay soat sambil tertawa.

Thi Eng khi segera bangkit berdiri dan mendongakkan kepalanya, dengan lantang dia berseru :

“Cukup banyak petunjuk yang telah kuperoleh dari kalian semua, budi ini tak akan kulupakan untuk selamanya, aku akan mohon diri lebih dulu “

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong segera menitahkan Sangkoan Gi untuk membuka pintu ruangan, serunya :

“Silahkan Thi ciangbunjin, maaf kalau aku tidak akan menghantar lebih jauh lagi!“

Sewaktu datang tadi, Thi Eng khi membawa semangat yang tinggi, tapi yang diperoleh cuma kepedihan dan penghinaan, sekarang dia baru menyadari apa sebabnya kakeknya menutup perguruan Thian liong pay dulu.

Thi Eng khi telah pergi, menyusul kepergian pemuda itu, Keng hian totiang dari Bu tong pay menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas, katanya kemudian :

“Peristiwa yang terjadi hari ini merupakan suatu peristiwa yang sama sekali mengabaikan keadilan dan kebenaran, pinto merasa menyesal sekali, lebih baik akupun mohon diri!“ Dengan membawa kedua orang sutenya, mereka segera beranjak dan meninggalkan tempat itu.

Menyusul kemudian, Ci kay taysu dari Siau lim pay, Hou bok sin kay Cu Goan po dari Kay pang serta Sin tuo Lok It hong juga enggan tinggal lebih lama disitu, serentak mereka beranjak dan mohon diri.

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong hanya merasa menyesal di hati, dia menghela napas dan tampak murung sekali.

Sebaliknya Pu thian toa beng Kay Poan thian tampak paling berseri wajahnya, dengan suara lantang dia segera berseru :

“Partai Siau lim pay dan Bu tong pay selalu menganggap dirinya sebagai suatu perguruan besar, mereka paling tidak pandang mata kedada orang lain, kepergiannya justru kebetulan sekali, Cu lo hoacu si pengemis busuk ini bertulang kere dan pandainya cuma menjilat pantat orang, memang pantas sekali kalau selalu mengekor, sudah lama aku ingin mencari gara-gara dengannya, si bungkuk itu .....

Huhh! Lebih tak ada harganya untuk dibicarakan, mana otaknya bebal, goblok lagi, dia tak perlu diajak untuk berkompromi.“

Semua orang cuma memandang sekejap kearahnya dan tak seorangpun yang menjawab, jelas orang-orang itu telah merasakan ketukan suara hati sendiri.

Sayang sekali, ketukan suara hati itu munculnya sangat lemah, sehingga dengan cepat tersapu kembali oleh ucapan dari Hong im siu Sang Thong dari bukit Bong san.

Terdengar Hong im siu Sang Thong dari bukit Bong san tertawa kering, kemudian katanya dengan suara yang aneh :

“Leng siancu, siaute merasa bahwa tekadmu ingin menyimpan lukisan Enghiong to tentunya dikarenakan sementara alasan yang tak bisa dikatakan kepada orang lain bukan?“ Seakan-akan ucapan tersebut langsung menyentuh rahasia hatinya, kontan saja paras muka San hoa siancu dari pulau Soh sim to itu berubah hebat, serunya sambil tertawa dingin :

“Saudara Sang, mungkin kaupun menganggap aku tidak lebih cuma manusia seperti Thi Eng khi yang tak becus itu? Hmm, kuanjurkan kepadamu ada baiknya jangan terlalu gunakan akal busukmu daripada kita harus saling cekcok sendiri!“

Hong im siu Sang Thong segera tertawa seram : “Heeehhh.... heeehhh.... heeehhh Leng tocu apabila

tindakanmu ini ibaratnya menyeberangi sungai merusak jembatan, maka perbuatanmu itu semakin menyalahi bantuan dari sobat semua!“

Saking gusarnya, paras muka San hoa siancu Leng Cay soat telah berubah menjadi hijau membesi, teriaknya :

“Sang Thong, bila sedang berbicara didepan pun siancu, lebih baik sedikitlah berhati-hati!“

Hong im siu Sang Thong juga berteriak dengan lantang : “Selamanya siaute selalu berbicara sepatah tetap sepatah, kalau

memang Leng tocu begini tidak sungkan, aku Sang Thong juga merasa tidak berkewajiban untuk menyimpan rahasia itu!“

“Kurang ajar! Sekali lagi kau berani bicara sembarangan, aku tak akan berlaku sungkan-sungkan lagi kepadamu!“

Tampak ujung bajunya berkibar terhembus angin bagaikan segumpal awan hitam tahu-tahu ia sudah melayang melewati meja bundar dan melayang turun dihadapan Hong im siu Sang Thong, tangannya langsung diayunkan untuk menampar muka Sang Thong.

Perempuan ini memang tak malu menjadi salah seorang yang muncul diatas lukisan Enghiong to tersebut, tubuhnya yang melayang ke depan enteng bagaikan segulung angin, sedemikian cepatnya sehingga sukar buat orang lain untuk mengikuti bayangan tubuhnya. Kelihatannya Hong im siu Sang Thong segera akan kena digampar oleh ayunan tangannya itu.

Tapi kejadiannya kemudian justru tampak aneh sekali, tidak melihat bagaimana Hong im siu Sang Thong menghindarkan diri juga tidak melihat bagaimana caranya dia melancarkan serangan balasan, tahu-tahu San hoa siancu Leng Cay soat telah menarik kembali tangannya sambil melompat mundur sejauh beberapa depa, wajahnya diliputi oleh rasa kaget dan tercengang untuk setengah harian lamanya dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, jelas ia sudah terkena sergapan gelap ......

Perlu diketahui, pada empat puluh tahun berselang, dikala San hoa siancu masih perawan dulu, namanya sudah menggemparkan dunia persilatan, itulah sebabnya dia baru termasuk juga salah seorang dari sembilan wajah tyang tercantum dalam lukisan tersebut.

Kehidupannya selama empat puluh tahun tentu saja bukan suatu kehidupan yang sia-sia saja tenaga dalamnya selain sempurna, ilmu silatnya juga luar biasa hebatnya, tak seorangpun diantara kawanan jago yang hadir disana memikirkan masalah lainnya.

Selain daripada itu, semua orangpun tahu kendatipun Hong im siu Sang Thong adalah jago kelas satu dalam dunia persilatan, tapi bila dibandingkan dengan San hoa siancu Leng Cay soat, dia masih ketinggalan jauh sekali.

Oleh karena itu, reaksi yang diperlihatkan perempuan itu membuat semua orang merasa terkejut bercampur tercengang, mereka betul-betul merasa tidak habis mengerti.

Hong im siu Sang Thong segera tertawa dingin, katanya : “Jika dalam hatimu tak ada setannya, kenapa takut orang lain

berbicara ?“

San hoa siancu Leng Cay soat mengerang marah, teriaknya : “Bangsat, kau berani melukai orang dengan senjata rahasia,

kubacok dirimu sampai mampus.” Sekali lagi dia siap menubruk kemuka.

Dengan suara yang keras menggelegar Hong im siu Sang Thong segera membentak keras :

”Lohu akan memperingatkan dirimu, kau sudah terkena jarum sakti Hua hiat sin ciam bila tidak segera memusatkan pikiran dan menutup ketujuh buah jalan utamamu kemudian menelan obat penawarku, dalam tiga jam mendatang sekujur badanmu akan berubah menjadi darah dan tewas, bila sampai demikian keadaannya, jangan salahkan lohu tidak memberi peringatan lebih dulu.“

Tangannya segera diayunkan kedepan, sekilas cahaya kuning segera meluncur keluar dari balik pakaiannya dan meluncur ke tangan San hoa siancu Leng Cay soat.

”Cepat telan obat itu, kemudian sembuhkan sendiri luka yang kau derita itu!“

Hua hiat sin ciam merupakan sejenis senjata rahasia beracun yang sudah amat tersohor namanya dalam dunia persilatan, paras muka semua orang yang berada dalam ruangan itu kontan saja berubah sangat hebat.

Dengan kemampuan yang dimiliki San hoa siancu Leng Cay soat pun ternyata tak berani berrtindak gegabah, dengan wajah sedih dia lantas menelan pil pemberian Hong im siu Sang Thong dan segera duduk bersila untuk mengobati lukanya.

Pelan-pelan Hong im siu Sang Thong menyapu sekejap sekeliling ruangan itu, lalu berkata :

”Menurut apa yang lohu ketahui, dilapisan paling dalam lukisan itu masing-masing tercantum tiga jurus ilmu silat yang paling sempurna dari orang-orang yang lukisannya terpampang diatas lukisan tersebut, barang siapa bisa mempelajari semua jurus yang tercantum disana, maka kepandaiannya tiada tandingan lagi di dunia ini!“ ”Haaahh... !“ seruan tertahan menggema di seluruh ruangna, suasana disana kontan saja berubah menjadi sangat gaduh.

Sekulum senyuman aneh segera menghiasi ujung bibir Hong im siu Sang Thong, katanya lagi :

”Lukisan tersebut hanya ada selembar, siapakah yang akan mendapatkannya, ini tergantung pada kepandaian silat siapa yang paling sempurna diantara kalian semua!“

Seusai berkata dia lantas melayang naik keatas meja bundar itu dan sambil berpeluk tangan , ia menjadi seorang penonton yang baik.

”Ilmu silat yang maha sakti“ benar-benar merupakan suatu pancingan yang besar sekali pengaruhnya, kawanan jago yang dihari-hari biasa selalu menganggap tinggi dirinya itu segera menunjukkan sinar kerakusan yang amat besar, serentak mereka bergerak maju menghampiri lukisan tersebut.

Mendadak ada orang berteriak keras :

”Lebih baik kita jangan saling bertengkar dulu, tanya yang jelas lebih dahulu apa benar terdapat kejadian seperti ini, kemudian kita baru mengandalkan kepandaian masing-masing untuk menentukan siapakah yang lebih berhak untuk mendapatkan lukisan tersebut.“

Dengan cepat, ada yang bertanya kepada San hoa siancu Leng Cay soat :

“Harap Leng siancu bersedia untuk membuktikan kebenaran dari itu!”

Dengan wajah yang murung Sna hoa siancu Leng Cay soat menghela napas dan manggut-manggut.

“Benar,“ sahutnya.

Seketika itu juga seluruh ruangan dipenuhi oleh cahaya golok bayangan pedang, angin pukulan dan bacokan telapak tangan, suasana menjadi gaduh dan kalut tidak karuan. Sambil berpeluk tangan, Hong im siu Sang Thong berdiri diatas meja bundar dan menyaksikan pertarungan massal yang sedang berlangsung didalam ruangan itu, senyuman bangga yang sangat aneh, semakin menghiasi wajahnya.

Mendadak terdengar seseorang membentak keras : “Semuanya tahan!“

Suaranya keras bagaikan geledek yang menyambar disiang bolong, bentakan tersebut membuat semua merasa terperanjat dan serentak menghentikan serangannya.

Orang yang berteriak dengan mempergunakan ilmu auman singa itu tak lain adalah Sangkoan cengcu dari perkampungan Ki hian san ceng.

Setelah menghentikan serangan, semua orang yang untuk sesaat terpengaruh oleh ketamakan itu segera menjadi sadar kembali, dengan cepat mereka tahu kalau sudah tertipu orang, segera meja bundar itu dikepung kemudian melotot gusar kearah Hong im siu Sang Thong yang masih berdiri diatas meja sambil berpeluk tangan dan tersenyum itu.

Tiba-tiba Hong im siu Sang Thong mengusap wajahnya sendiri, kemudian sambil menekuk pinggang dan menghembuskan napas panjang dalam waktu singkat telah muncul kembali dengan wajah aslinya yakni seorang kakek berkepala botak.

Tampaknya kakek botak itu sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap kawanan kjago yang berada disekeliling tempat itu, sambil tertawa terbahak serunya:

“Haaahhh.... haaahhh... haaahhh lohu adalah Huan im sin ang

(kakek tua bayangan setan) aku juga yang telah melukai puluhan orang jago yang mengerubuti diriku! Aku juga orang yang hendak kalian hadapi dalam pertemuan kali ini! Haahhh... haaahhh hari ini

memang aku sengaja hendak mengajak kalian bergurau, ingin kulihat manusia macam apakah yang dikatakan sebagai jago–jago dari golongan lurus haaahhhh.... haaahhh tak tahunya cuma

begitu saja, sungguh membuat hati lohu amat gembira. Sebenarnya aku hendak menghadiahkan kalian sebatang jarum Hua hiat sin ciam untuk setiap orang, tapi mengingat pertarungan yang kalian lakukan barusan bersungguh hati dan membuat lohu puas maka untuk sementara waktu aku akan melepaskan kalian semua dengan selamat.

Cuma lukisan tersebut untuk sementara waktu akan lohu bawa pergi, jika kalian merasa punya kepandaian, silahkan datang sendiri ke bukit Thian tay san pada bulan enam tanggal enam nanti untuk memintanya kembali, cuma bila waktunya sudah lewat jangan salahkan jika lohu akan mengambil keputusan lain tentang lukisan itu.“

Dari sekian banyak jago lihay yang berkumpul dalam ruangan ini, ternyata tak seorangpun yang berkutik atau mengucapkan sepatah katapun, mereka membiarkan Huan im sin ang mengucapkan kata- katanya sampai selesai tanpa ada yang mengganggu.

Hal ini mereka lakukan sebab barusan titik kelemahan mereka semua telah teruar keluar, tanpa sebab mereka harus bertarung sendiri mati-matian, kejadian itu menimbulkan rasa malu dihati masing-masing hingga siapapun enggan juga untuk melakukan sesuatu tindakan.

Menunggu Huan im sin ang telah menyelesaikan kata-katanya, rasa permusuhan dalam hati mereka semua harus meledak.

Pertama-tama Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong yang berteriak lebih dulu dengan lantang :

“Keteledoran yang kita lakukan hari ini sungguh memalukan sekali, mari kita bekerja sama untuk menumpas gembong iblis itu, jangan membiarkan dia pergi dengan begitu saja “

Huan im sin ang segera menyeringai dan tertawa seram. “Heeehhh... heeehhh.... heeehhhh lohu justru ingin sekali

melihat kalian ditertawakan orang, kalau tidak, buat jiwa anjing kalian musti diampuni?“ Ujung bajunya segera dikebaskan ke depan melancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat, sedemikian hebatnya serangan itu membuat meja bundar disitu bergetar keras dan para jagoan merasakan kuda-kudanya tergempur, tak kuasa lagi mereka mundur ke arah dinding ruangan dengan sempoyongan .

Menyusul kemudian tangannya digapai, lukisan yang tergantung diatas dinding itu segera otomatis melayang sendiri ke tangannya.

Sementara semua orang masih tertegun bercampur kaget, sambil tertawa terbahak-bahak orang itu sudah membuka pintu baja dan melangkah keluar dari situ.

Dalam waktu singkat, bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Sementara itu, Thi Eng khi dengan membawa rasa gusar bercampur sedih melangkah keluar dari pintu gerbang perkampungan Ki hian san ceng, kemudian sambil berpaling dan melotot beberapa kejap ke arah perkampungan itu dengan gemas dan menggertak gigi, diam-diam sumpahnya di dalam hati.

“Suatu ketika, sekalipun kalian menggunakan tandu besar yang digotong delapan orang untuk menjemputku pun, belum tentu aku mau datang kemari!“

Mendadak ia menyaksikan ada enam sosok manusia keluar dari perkampungan itu, ternyata mereka adalah ketua Bu tong pay, beserta Keng leng dan ik totiang, Ci kay taysu dari Siau lim pay, Hou bok sin kay Cu Goan po serta si bungkuk sakti Lok It hong.

Thi Eng khi merasa cocok sekali dengan Keng hian totiang, dengan cepat dia membalikkan badan seraya memberi hormat katanya :

“Terima kasih banyak atas bantuan ciangbunjin selama ini aaai!

Cuma sayang   “

“Thi ciangbunjin harap kau jangan berkata begitu, “tukas Keng hian totiang dengan lantang. “Pinto merasa menyesal sekali tak bisa mewujudkan keadilan karena itu kami berkeputusan lebih baik mengundurkan diri saja.“

“Omitohud!“ Ci kay taysu pula dari Siau lim pay, “agaknya kepandaian silat Thi ciangbunjin belum memperoleh warisan langsung dari ilmu sakti Thian liong pay entah apa sebabnya bisa demikian?“

Thi Eng khi segera menghela napas panjang.

“Aaai. kitab pusaka Thian liong pit kip telah dibawa pergi oleh

kakekku dan tidak diketahui kabar beritanya, oleh sebab itu aku tak bisa mempelajari semua kepandaian perguruanku.“

Secara ringkas, ia lantas menceritakan apa yang telah dialaminya selama ini.

Ci kay taysu segera berkerut kening, setelah berpikir sejenak katanya kemudian :

“Ketika Thi locianpwe masih hidup dulu, beliau merupakan sahabat karib mendiang guruku, suatu hari ketika sedang pulang dari bersiar di bukit Tay san, tanpa sengaja telah menemukan sejilid kitab Hua tin liok, yang hingga kini masih tersimpan dalam pagoda penyimpan kitab partai kami, apakah Thi ciangbunjin bersedia untuk mengunjungi Siau lim si dan mempelajari dulu ilmu silat dalam kitab Hua tin liok sebelum berkelana dalam dunia persilatan sambil mencari jejak dari kitab pusaka Thian liong pit kip?“

Jelas, Ci kay taysu bermaksud untuk menariknya ke kuil Siau lim si dan menghadiahkan semua kitab ilmu silat yang pernah dimilikinya selama ini untuk Thi Eng khi serta membantunya menjadi lihay.

Tapi berhubung Thi Eng khi adalah seorang ketua dari partai Thian liong pay maka Ci kay taysu pun menggunakan kata yang lebih halus dan manis untuk menyampaikan maksud hatinya itu.

Keng hian totiang dari partai Bu tong segera tertawa terbahak- bahak. “Haaahhh.... haaahhh..... haaahhh perkataan dari Ci kay taysu

ada benarnya juga, sudah sepantasnya kalau Thi ciangbunjin mempertimbangkan kembali.“

Usul ini meski sangat menggetarkan hati Thi Eng khi tapi setelah dipikirkan berulang kali dia merasakan enggan untuk menerimanya sebab dia sebagai seorang ketua dari partai Thian liong sepantasnya kalau memperkembangkan ilmu silat Thian liong pay, sebelum kepandaian itu dikuasai sepenuhnya dia tidak berniat meminjam kepandaian aliran lain untuk menjaga nama baik Thian liong pay.

Itulah sebabnya keinginan dan pemikirannya menjadi saling bertentangan, alis matanya berkernyit kencang dan lama sekali tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Tampaknya Hou bok sin kay Cu Goan po dari Kay pang dapat menebak isi hatinya sambil tertawa tergelak segera bujuknya :

“Semua ilmu silat yang ada di dunia ini sumbernya adalah sama, justru karena perkembangan dari setiap orang berbeda, maka jadilah perbedaan antara satu dengan lainnya, harap Thi siauhiap jangan terlalu memikirkan soal perbedaan aliran.“

Semua perkataan itu mengandung arti yang benar dan cukup menimbulkan kesadaran orang yang dalam.

Sejak kecil Thi Eng khi memang sudah banyak membaca, kebesaran jiwanya pun boleh dipuji, sudah barang tentu dia bukan seorang yang kolot dan berpikiran pendek.

Tapi hari ini dia mempunyai alasan untuk bersikap kolot, sebab orang lain terlalu menghina dan mencemooh dirinya, ilmu silat aliran Thian liong pay juga mendapat pandangan yang sinis dimata orang lain, kesemuanya ini membuat dia hampir saja sukar untuk menahan diri.

Oleh sebab itu dia lantas bertekad untuk melaksanakan jalan pemikirannya kecuali mengalami kegagalan total dikemudian hari, kalau tidak ia bersumpah akan mengangkat nama partainya dengan mengandalkan ilmu silat dari aliran Thian liong pay sendiri. Oleh sebab itu, akhirnya ia tetap menggelengkan kepalanya seraya berkata :

“Terima kasih banyak atas kebaikan taysu, aku sekarang harus segera berangkat ke puncak Bon soat hong di bukit Wu san untuk memenuhi janji, bila kesempatan dikemudian hari telah tiba, pasti akan kukunjungi Siau lim si untuk menambah pengetahuan, sekarang maaf kalau aku berangkat lebih dulu!“

Sambil mengeraskan hati ia tamapik kesempatan yang sangat baik ini dan sambil membalikkan badannya berlalu dengan langkah lebar.

Menyaksikan kepergian dari pemuda itu, tiga orang tousu, seorang pendeta, seorang pengemis dan si bungkuk menjadi tertegun sampai lama sekali mereka masih berdiri termangu-mangu.

Lama, lama sekali Hau bok sin kay Cu Goan po baru mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak, serunya :

“Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh selama ini pihak Siau lim

paling pelit siapa tahu kesupelannya tidak mendatangkan hasil haaahhh.... haaahhh kejadian ini sungguh menggembirakan

sekali, sungguh menyenangkan sekali, aku si pengemis tua tak akan melepaskan diri dari persoalan ini lagi.“

Tanpa menyapa orang lain lagi dia membalikkan badan dan segera berlalu dari situ.

Si bungkuk sakti Lok It hong yang selama ini cuma membungkam tanpa mengucapkan sepatah katapun itu, sekarang juga manggut- manggut lalu berlalu dari situ.

Keng hian totiang dari Bu tong pay dan Ci kay taysu dari Siau lim pay saling berpandangan sekejap sambil tertawa, kemudian mereka segera berangkat untuk pulang ke gunung.

Sepanjang jalan Thi Eng khi melanjutkan perjalanannya, setelah bertanya sana sini maka beberapa hari kemudian sampai juga ia di bukit Wu san..... Bukit Wu san terletak di sebelah tenggara keresidenan Wu san sian yang termasuk dalam bilangan propinsi Suchwan dengan pengunungan Pa san sebagai bukit yang paling tinggi, sungai Tiang kang yang lebar membelah bukit tersebut serta menciptakan tiga buah selat yang sangat berbahaya, salah satu diantaranya selat Wu sia.

Konon di atas bukit Wu san semuanya terdapat dua belas buah puncak, masing-masing adalah puncak Bong soat, Cui peng, Tiau im, Song luan, Ki sian, Ki hok, Keng tam, Sang sin, Ki im, Hui hong dan Teng liong.

Puncak Bong soat hong terletak disebelah utara bukit Wu san, tinggi menjulang kjeangkasa dan megah sekali.

Suatu hari, diatas puncak Bong soat hong di bukit Wu san muncul seorang sastrawan baju biru yang kelihatan sangat letih, orang itu bukan lain adalah Thi Eng khi dari partai Thian liong pay.

Sejak memangku tugas berat dalam partai Thian liong dan pengalamannya di dalam perkampungan Ki hian san ceng, membuat Thi Eng khi banyak mengenali wajah yang sebenarnya dari kawanan jago persilatan dari dunia persilatan saat ini, cuma dia tidak menjadi putus asa karena kejadian tersebut, malah sebaliknya makin menyadari bahwa tugas yang berada di atas bahunya tidak enteng.

Sekarang bukan saja dia harus membangun kembali nama baik dari Thian liong pay, bersama itu pula dia hendak merubah keadaan dalam dunia persilatan.

Kedatangannya ke bukit Wu san kali ini adalah demi penyakit yang diderita oleh keempat orang supek dan susioknya, tapi ia tidak menaruh harapan yang terlalu besar akan hal itu, terhadap kakek botak yang mengundang kedatangannya itu dia merasa muak sekali, dan menganggap orang itu tidak mempunyai maksud baik.

Waktu itu dia sudah berdiri diatas puncak Bong soat hong, untuk pertama kalinya dia mengerahkan ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang untuk berpekik nyaring dan melampiaskan semua kemurungan yang mengeram didalam tubuhnya selama ini.

Baru selesai dia berpekik, bagaikan sukma gentangan itu tiba-tiba kakek botak itu sudah muncul didepan matanya, dia tertawa seram beberapa kali untuk menarik perhatian, kemudian katanya :

“Thi siauhiap benar-benar seorang yang bisa dipercaya, sungguh membuat lohu merasa amat gembira.“

Thi Eng khi tertawa terpaksa.

“Aku dipaksa oleh keadaaan jadi mau tak mau aku harus datang juga untuk memenuhi janji!“

Kakek botak itu kembali tertawa terbahak-bahak :

“Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh aku lihat siauhiap berwajah

masam dan tak sedap dilihat, rupanya kau telah menaruh salah paham terhadap maksud hatiku yang sebenarnya?“

“Dari Huay im sampai bukit Wu san bukan perjalanan yang bisa ditempuh dalam satu hari,“ kata Thi Eng khi dengan kening berkerut, “seandainya lotiang tidak bermaksud menyusahkan orang, mengapa kau menggunakan keselamatan dari keempat orang susiok dan supekku sebagai sandera untuk memaksa kedatanganku kemari?“

Dengan wajah yang ramah dan lembut, kakek botak itu segera berkata :

“Siapa yang bersedia menderita, dia akan menjadi lebih dewasa, tindakan yang kuambil ini sesungguhnya bermaksud untuk melatih semangat siauhiap, apakah siauhiap tak dapat memahaminya?“

Karena memikirkan keadaan dari Supek dan susioknya, terpaksa Thi Eng khi harus menahan rasa dongkolnya di hati.

“Urusan yang lewat tak usah dibicarakan lagi, tolong tanya lotiang sudi memberitahukan kepadaku cara pengobatan tersebut.“

Kakek botak itu mengerdipkan matanya :

“Setelah lohu mengundang kedatangan sauhiap tentu saja akupun dapat memenuhi janjiku, cuma ilmu pengobatanku itu harus dilakukan dengan tenaga Im kang, padahal tenaga Im kang bukan bisa dipelajari dalam satu dua hari saja, kebetulan lohu tinggal tak jauh dari sini, bagaimana kalau kupersilahkan siauhiap berkunjung kesana, tanggung didalam tiga bulan mendatang kau bisa pulang dengan hati yang puas.“

Thi Eng khi sesungguhnya bercita-cita untuk mengangkat nama perguruannya dengan mengandalkan kepandaian silat dari Thian liong pay, sebelum kepandaian dari perguruannya berhasil dipelajari, dia enggan untuk mempelajari kepandaian lainnya, sungguh tak disangka dia harus dihadapkan kembali dengan suatu persoalan yang menyulitkan, hal ini membuat pemuda itu menjadi tertegun.

Sebentar ia teringat kembali akan nasib dari supek dan susioknya, tapi sebentar kemudian dia memikirkan perjuangannya serta keinginannya untuk membangun kembali nama besar perguruan Thian liong pay, ia tahu jika sampai dirinya terpaksa belajar ilmu kepada lawan untuk mengobati supek dan susioknya, belum tentu hal ini akan memenuhi keinginan mereka.

Berpikir sampai disini, tanpa terasa ia menjadi menyesal sekali mengapa harus melakukan perjalanan ini.

Oleh karena pelbagai ingatan berkecamuk didalam benaknya, lama sekali dia tidak mengucapkan sepatah katapun.

Menyaksikan keadaan dari pemuda itu, dengan wajah serius kakek botak itu segera berkata :

“Seandainya Thi siauhiap ingin memunahkan pengaruh totokan jit sat ci ditubuh supek dan susiokmu itu inilah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh dan tiada jalan lain lagi, harap siauhiap jangan menyia-nyiakan kesempatan baik ini!“

Mencorong sinar tajam dari balik mata Thi Eng khi katanya : “Siauseng ingin mengajukan suatu pertanyaan harap lotiang sudi

menjawab dengan sejujurnya.“

Kakek botak itu segera tertawa terbahak-bahak : “Haaahhh.... haaahhh bukankah kau ingin bertanya apa

tujuanku yang sebenarnya mengundang kedatanganmu diatas puncak Bong soat hong ini?“

“Benar!“ Thi Eng khi mengangguk “Sebenarnya apa tujuanmu?“

Kakek botak itu memperhatikan Thi Eng khi beberapa saat lamanya kemudian menjawab :

“Ketika berada dalam perguruanmu tempo hari, aku sudah mengetahui kalau kau berbakat bagus dan pantas mewarisi ilmu sakti yang tercantum dalam kitab Jit sat hian im keng itulah sebabnya kitab pusaka Thian liong pit kip yang sudah jatuh ke tanganku pun kukembalikan kepadamu. Adapun maksudku mengundang kedatanganmu adalah bertujuan untuk menyempurnakan kau, inilah maksud lohu yang sebenarnya, dengan kecerdasan yang kau miliki apakah tidak bisa kau lihat bahwa kesempatan ini merupakan kesempatan yang paling baik sekali?

Mengapa kau tidak segera berlutut dan mengangkat diriku sebagai gurumu? Apalagi yang hendak kau nantikan?“

Thi Eng khi segera melotot besar.

“Siauseng adalah anggota partai Thian liong pay, tidak mungkin aku disuruh berganti perguruan lagi.“

Kakek botak itu segera tertawa terbahak-bahak : “Haaahhh... haaahhh..... haaahhh selama melakukan

perjalanan dalam dunia persilatan aku mempunyai suatu tujuan yang besar sekali, maka asal kau bersedia mengangkat diriku menjadi gurumu, jangan toh baru menjadi ketua Thian liong pay asal kau bercita-cita besar, lohu pun bisa membantumu untuk menjadi ketua dari seluruh perguruan dan partai yang berada dalam dunia persilatan saat ini!“

Selama ini Thi Eng khi terus menerus memperhatikan mimik wajah lawan, mendadak timbul suatu kecurigaan dalam hatinya sehingga tanpa terasa ia memandang orang itu semakin lekat-lekat, seakan-akan pikirannya terurai dalam lamunan. Itulah sebabnya dia tidak mendengar kata si kakek yang didepan, tapi hanya mendengar kata yang terakhir saja.

Kontan saja paras mukanya berubah menjadi dingin bagaikan es, katanya lantang :

“Kau hendak menjadi ketua dari semua partai dan perguruan yang ada di dunia ini? Kalau begitu kau juga pembunuh yang telah melukai serta membinasakan jago-jago lihay dari pelbagai perguruan?“

Mula-mula kakek botak itu agak tertegun kemudian sambil menarik muka sahutnya :

“Lohu tak ingin menjadi orang kedua dikolong langit dewasa ini, apa pula salahnya bila kugunakan ilmu silatku yang lihay untuk menakut-nakuti mereka? Hei, sudah tahu begitu, apalagi yang hendak kau pertimbangkan ? Bila tahu diri cepat berlutut dan

mengangkat diriku menjadi gurumu, lohu sudah merasa agak tak sabar!“

Paras muka Thi Eng khi sama sekali berubah, katanya : “Siauseng tidak bernasib sebaik itu, maaf, selamat tinggal!“

Dia lantas membalikkan badannya dan berlalu dari situ.

Kakek botak itu segera menggapaikan tangannya, segulung tenaga hisapan tak berwujud yang sangat dahsyat segera menghisap tubuh Thi Eng khi untuk balik kembali ke tempat semula, serunya dengan gusar :

“Lohu dengan maksud baik ingin mendidik kau, tak kusangka kalau kau begitu tak tahu diri!“

“Yaa, tiap orang mempunyai cita-cita yang berbeda, siapa yang bisa memaksanya?“

Napas kakek botak itu tersengkal-sengkal keras, jelas kemarahannya sudah memuncak, tapi alis matanya berkenyit dan akhirnya berhasil menahan diri, dia mendongakkan kepalanya lalu tertawa terbahak-bahak. “Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh apakah kau lupa dengan

luka parah yang diderita Thian liong ngo siang akibat totokan dari ilmu jari Jit sat ci?“

“Thian liong ngo siang berbeda dengan orang biasa, sedangkan siauseng pun hanya tahu jalan lurus dan berdiri tegak, sekalipun selama sepuluh tahun tidak mampu menyembuhkan luka mereka, tak nanti mereka akan menyalahkan diri siauseng.“

“Apakah kau juga lupa dengan penghinaan yang kau derita sewaktu berada di perkampungan Ki hian san ceng?“ teriak si kakek botak itu keras-keras, “asal kau bersedia mengangkat diriku menjadi gurumu, tanggung didalam setahun mereka semua akan berlutut dihadapanmu sambil minta ampun!“

Menyinggung kembali soal perkampungan Ki hian san ceng, timbul kembali secara tiba-tiba api kemarahan yang berkobar didalam dadanya.

Terdengar si kakek botak itu berkata lebih jauh :

“Tidak tahukah kau bahwa mereka semua adalah jago-jago kenamaan didalam dunia persilatan? Tidak takutkah bagaimana wajah mereka yang sebenarnya ? Aku rasa kesemuanya itu sudah

kau saksikan sendiri, tentunya kau berpikir sendiri bukan.“

Thi Eng khi semakin emosi, sepasang alis matanya sampai berkenyit setelah mendengar perkataan itu.

Kakek itu semakin emosi, dengan memperkeras suaranya dia berkata lebih jauh :

“Dengan mengingkari liang-sim, mereka telah merampas lukisan Enghiong to milikmu, kemudian demi ilmu silat yang berada di balik enghiong to tersebut mereka saling membunuh, heeehhh.....

heeehhh.... heeehhh    itulah tampang-tampang yang sebenarnya

dari kaum lurus dalam dunia persilatan, heeehhh..... heeehhhh   “

Thi Eng khi merasa hatinya makin bergolak keras, mendadak teriaknya keras-keras :

“Sekarang lukisan Enghiong to ku itu sudah dirampas siapa?“ Kakek botak tersebut tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh lohu selalu hanya

memikirkan dirimu, maka lukisan Enghiong to tersebut pun telah kurampas kembali. Baik, anggap saja sebagai hadiah pertempuran dari suhu untukmu, terimalah kembali lukisan itu!“

Dari balik sakunya dia lantas mengeluarkan gulungan lukisan tersebut....

Lukisan itu bagaikan ada sukmanya saja, setelah berputar satu lingkaran ditengah udara segera melayang ke tengah Thi Eng khi.

Dengan cepat Thi Eng khi menyambut lukisan itu, lalu katanya emosi :

“Kalau begitu, Hong im siu Sang Thong adalah penyaruan darimu!“

Inilah kecurigaan yang selalu tertanam di hati Thi Eng khi, sekarang dia ingin mendapatkan jawaban yang sebenarnya.

“Lohu bergelar Huam im sing ang, soal ilmu menyamar mah urusan sepele, asal kau bersedia mengangkat diriku menjadi gurumu, akupun bisa menghadiahkan kitab pusaka Huan im poo liok tersebut untukmu.“

“Aku tidak percaya? Aku tidak percaya!“ seru Thi Eng khi sambil menggeleng, “Hong im siu Sang Thong berperawak tinggi besar, soal perawakan tak mungkin bisa dilakukan hanya dengan jalan menyaru saja.“

Huan im sin ang tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh.... haaahhh..... haaahhh jika ilmu sakti yang

tercantum di dalam kitab pusaka Jit sat hian im cing keng telah berhasil dilatih dengan sempurna, maka soal merubah badan bisa dilakukan sekehendak hati sendiri, jika kau tidak percaya aku akan membuktikannya di hadapanmu ‘ Sambil membungkukkan badannya, tiba-tiba terdengar bunyi gemerutuknya tulang yang amat keras bergema di angkasa, lalu tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi lebih tinggi beberapa kali lipat.

Senyuman segera menghiasi bibirnya, dia mengira kali ini Thi Eng khi tak akan menaruh curiga lagi dan murid yang baik inipun pasti akan diperoleh.

Siapa tahu Thi Eng khi segera tertawa dingin tiada hentinya : “Semua tingkah laku dan perbuatan lotiang selama menjadi Hong

im siu sudah banyak yang siauseng saksikan, begitu banyak jago lihay yang berada di dalam perkampungan Ki hian san ceng juga tak seorangpun yang sanggup mengalahkan dirimu, itu menunjukkan kalau ilmu silat yang lotiang miliki benar-benar luar biasa sekali, cuma kau bilang mereka lupa akan keadilan dan kebenaran dengan berbuat semena-mena, tolong tanya bagaimana pula dengan perbuatan yang telah kau lakukan sendiri selama ini!“

Huan im sin ang merasa kecewa sekali dia tidak menyangka kalau Thi Eng khi bakal memutar balikkan pembicaraan hanya bertujuan untuk memakinya.

Kontan saja timbul ingatan jahat dalam hatinya, sambil menyeringai seram katanya:

“Keparat cilik baik-baik kuberi arak kehormatan kepadamu, kau tak mau, arak hukuman malahan yang dipilih, baik! Hari ini aku akan memaksamu untuk mengangkat diriku menjadi gurumu, kau tidak mau juga harus mau, kalau tidak maka jangan harap bisa tinggalkan puncak Bong soat hong dalam keadaan selamat.“

“Hmm! Siauseng tidak takut dengan ancaman sekalipun kau hendak membacokku sampai mati, aku juga tidak akan mengangkat dirimu menjadi guruku!“

Tak terlukiskan kemarahan Huan im sin ang sesudah mendengar perkataan itu, segera bentaknya:

“Bocah keparat, kau pingin mampus!“ Sepasang tangannya segera disentilkan bersama kedepan, sepuluh gulung desingan angin tajam segera mengurung seluruh jalan darah penting di tubuh Thi Eng khi.

Keadaan Thi Eng khi waktu itu ibaratnya seekor domba yang siap disembelih, jangankan melarikan diri, bahkan ingatan tersebut belum lagi melintas dalam benaknya dia sudah roboh terkapar diatas tanah.

Seluruh tubuh Thi Eng khi menjadi terbelenggu dan tak mampu berkutik lagi, setelah menghela napas panjang, ia pejamkan mata dan pasrah kepada nasib.

Begitu berhasil menguasai Thi Eng khi, Huan im sin ang masih tetap berusaha untuk melunakkan hati pemuda itu, katanya dengan lembut :

“Orang yang sudah mati tak bisa bangkit kembali kalau kau tetap keras kepala semacam begini maka hasilnya hanya akan menambah setan penasaran saja di akhirat, sekali lagi lohu memberi kesempatan yang terakhir kepadamu, jawabanmu akan mempengaruhi mati hidupmu!“

Thi Eng khi tetap membungkam dalam seribu bahasa, tak sepatah katapun yang diucapkan.

Dengan suara keras, Huan im sin ang segera membentak : “Sudah kau dengar belum ucapan dari lohu itu?“

Thi Eng khi masih tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Huan im sing ang menjadi gusar sekali, kembali dia mengayunkan jari tangannya, segulung desingan angin tajam segera meluncurkan ke depan dan menghajar bahu kanan Thi Eng khi.

Sekujur badan pemuda itu segera menggigil keras, bagaikan tercebur ke dalam gudang es saja, kontan saja seluruh badannya menjadi kaku.

Akan tetapi dia masih tetap menggertak gigi menahan diri, tak sepatah katapun yang diucapkan. Huan im sing ang bertambah gusar lagi sehingga sekujur badannya gemetar keras, sebuah pukulan kembali dilontarkan membuat tubuh Thi Eng khi segera terlempar sejauh beberapa kaki dari tempat semula.

Tubuh Thi Eng khi terkena serangan Jit sat ci dari Huan im sin ang lebih dulu, kemudian termakan oleh pukulan tersebut, halmana membuat napasnya menjadi lemah dan tak sanggup untuk merana kembali.

Melihat kejadian ini, Huam im sin ang tertawa terbahak-bahak, serunya kembali :

“Barang siapa terkena ilmu jari Jit sat ci dari lohu maka jiwanya tak akan tertolong lagi, ditambah kalau terkena pukulan Im hong tou kut ciang sekalipun ada dewa yang turun dari kahyangan juga tak akan bisa menolong jiwamu, nah , silahkan saja kau rasakan penderitaan itu!“

Seusai berkata, dia lantas membalikkan badannya dan berlalu dari tempat itu.

Tak lama setelah bayangan tubuh Huan im sin ang lenyap dari pandangan mata, dari atas sebatang pohon siong ditepi puncak bukit itu melayang turun seorang hwesio berusia pertengahan, dengan gerakan tubuh yang cepat bagaikan sambaran kilat dia sudah tiba disisi tubuh Thi Eng khi.

Tampak airmata hwesio itu jatuh bercucuran dengan derasnya, sedang mulutnya berguman tiada hentinya :

“Bocah wahai bocah, seandainya tidak kuturuti jejakmu sepanjang jalan, mana mungkin kau masih bisa hidup terus?“

Dengan cepat dia membuka baju yang dikenakan Thi Eng khi, mengeluarkan sebuah botol porselen berwarna biru, mengeluarkan tiga butir pil dan secara berhati-hati sekali memasukkan sebutir diantaranya kemulut Thi Eng khi, sedang dua lainnya dimasukkan kembali kedalam botol porselen itu kemudian dimasukkan kembali ke saku Thi Eng khi. Kemudian dia membopong pemuda itu menuju kedalam sebuah gua dibawah bukit dan membaringkannya diatas tanah.

Dengan suatu gerakan yang cepat dan memusatkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, dia mengayunkan kesepuluh jari tangannya untuk menotok tiga puluh enam buah jalan darah penting disekujur badan Thi Eng khi.

Selesai menotok ketiga puluh enam buah jalan darah tersebut, sinar mata si hwesio setengah umur yang semula bercahaya tajam kini menjadi amat redup, tampaknya dia sudah banyak mengorbankan tenaga dalamnya.

Akan tetapi ia tidak berhenti sampai disitu saja, setelah mengatur sebentar tenaga dalamnya dan kekuatan itu sudah pulih kembali, dengan cara yang sama kembali dia lancarkan totoknya disekujur badan pemuda itu.

Keadaan itu secara beruntun dilakukan tujuh kali, mukanya yang semula segar kini sudah menjadi pucat pias dan sayu, seakan-akan dalam waktu singkat ia telah menjadi tua beberapa puluh tahun, sedangkan air mata yang berada di sudut matanya tak pernah mengering kembali.

Sungguh aneh dan mencurigakan sekali gerak-gerik dari hwesio tersebut ?

Perhatian serta cinta kasihnya kepada Thi Eng khi sudah jelas melebihi perhatian dan cinta kasih seorang pendeta terhadap umatnya.

Apalagi jika dilihat dari tindakannya yang merogoh ke saku Thi Eng khi serta mengeluarkan pil mestika Toh mia kim wan jelas sekali terhadap keadaan dari pemuda tersebut.

Hwesio setengah umur yang sebenarnya gagah dan segar, setelah mengalami banyak pengorbanan tenaga dalam berubah menjadi lemas dan sayu sekali. Akan tetapi ketika dilihatnya paras muka Thi Eng khi berubah menjadi segar kembali, airmata sekali lagi berderai membasahi pipinya, sementara sekulum senyuman lega menghiasi bibirnya.

Ia mendongakkan kepalanya dan memperhatikan sekejap sekeliling gua itu, kemudian sambil berkerut kening gumamnya :

“Tempat ini bukan suatu tempat yang cocok untuk merawat luka, tampaknya terpaksa aku harus membopongnya turun gunung.“

Maka diapun membopong Thi Eng khi dan diam-diam menuruni bukit Bong soat hong.

Di sebuah mulut selat Wu sia, dia mencari sebuah kuil kecil yang jauh dari keramaian manusia, lalu dibuatkan sebuah pembaringan kecil dari bambu dan membaringkan Thi Eng khi diatasnya.

Setelah otot tubuhnya dilukai oleh Huan im sin ang dengan ilmu totokan Jit sat cinya, kemudian termakan sebuah pukulan dahsyat lagi, sebetulnya Thi Eng khi sudah tidak berharapan untuk melanjutkan hidupnya, untung saja dia menyimpan obat mestika Toh mia kim wan dalam sakunya, ditambah lagi tenaga dalam hwesio setengah umur itu amat sempurna dimana ia berhasil menembusi otot-otot ditubuh pemuda yang tersumbat mati oleh totokan Jit sat ci, maka selembar jiwa pemuda itupun berhasil ditolong dari jurang kematian.

Begitulah, dibawah perawatan yang teliti selama tujuh hari lamanya pemuda itu baru berhasil memulihkan kembali kesadarannya.

Akan tetapi si hwesio setengah umur itupun sudah banyak kehilangan tenaga dalamnya sehingga berubah menjadi kurus kering bagaikan kulit pembungkus tulang.

Sewaktu Thi Eng khi membuka matanya untuk pertama kalinya, hwesio setengah umur itu kelihatan emosi sekali sehingga matanya yang sayu tiba-tiba mencorong kembali sinar tajam. Thi Eng khi segera melompat bangun dan duduk, sapanya dengan wajah kebingungan :

“Mengapa aku bisa berada disini?”

Hwesio setengah umur itu segera membaringkan kembali pemuda itu agar tetap tiduran, lalu bisiknya :

“Siau sicu, lukamu terlampau parah, lebih baik berbaringlah dulu selama tiga hari sebelum boleh turun dari pembaringan!”

Thi Eng khi segera teringat kembali kejadian di bukit Bong soat hong tersebut, tak kuasa lagi dia segera bertanya :

“Siansu kah yang telah menyelamatkan selembar jiwaku?”

Dengan wajah berseri hwesio setengah umur itu berkata :

“Jasa itu bukan berada di tangan siauceng sebab yang sebetulnya menolong jiwamu adalah obat mestika yang siau sicu bawa sendiri.”

Thi Eng khi segera tertawa dengan penuh rasa terima kasih, katanya dengan cepat :

“Sekalipun siauseng membawa obat mestika seandainya bukan siansu yang membantuku untuk memasukkan pil itu kedalam mulutku, selembar jiwaku juga akan tetap melayang. Itulah sebabnya budi kebaikan dari siansu tak akan kulupakan untuk selama-lamanya.”

Kembali hwesio setengah umur itu tertawa.

“Aaaah... hanya secara kebetulan saja kita bersua dan membantumu, harap siau sicu jangan terlalu memikirkannya didalam hati, sekarang cepat atur pernapasanmu satu kali, coba periksalah seluruh badanmu apakah ada yang masih tidak sehat, kalau ada, cepat katakan kepada siauceng, agar bisa diusahakan pengobatannya.”

Baru saja Thi Eng khi hendak berkata lagi dia segera dicegah oleh hwesio setengah umur itu sambil tersenyum.

Terpaksa dia memejamkan matanya dan mengerahkan Sian thian bu khek ji gi sin kang untuk mengelilingi seluruh nadi penting dan jalan darah didalam tubuhnya setelah mengitari satu kali seluruh badannya, dia segera merasa bahwa tenaga dalamnya amat segar dan malahan bertambah hebat beberapa kali lipat dibandingkan sebelum terluka dulu.

Kenyataan ini segera menggirangkan hatinya, sambil melompat bangun dia lantas menjura seraya berseru :

“Siansu benar-benar sangat lihay, bukan saja siauseng merasakan seluruh tubuhku menjadi segar kembali, bahkan tenaga dalamku lebih sempurna beberapa kali lipat daripada sebelum terluka dulu ”

Sekilas rasa kaget bercamput tercengang melintas diatas wajah hwesio setengah umur itu, kemudian sambil berseru tertahan dia pegang urat nadi dari Thi Eng khi dan memeriksanya, dengan suara lirih dia berbisik :

“Siau sicu, coba aturlah tenaga dalammu mengelilingi seluruh badan, akan siauceng periksa keadaanmu.”

Thi Eng khi menurut dan segera melakukan seperti apa yang dikatakan itu.

Dengan cepat hwesio setengah umur itu memegang urat nadinya dan memeriksa sebentar, tiba-tiba sekulum senyuman menghiasi bibirnya dia lantas berkata :

“Siau sicu, kau pasti pernah menerima suatu kemukjijatan atau pernah makan obat aneh yang bisa membantu menambah tenaga dalammu, oleh pengaruh tenaga dalam yang sianceng salurkan ke dalam tubuhmu, obat itu sudah mulai menunjukkan reaksinya dan menyebar ke seluruh badan bila kau melatih lagi tenaga dalammu selama beberapa hari maka menunggu daya kerja obat itu sudah mulai menyebar keseluruh badan, tenaga dalam siau sicu akan memperoleh kemajuan yang luar biasa pesatnya, terlebih dahulu siau ceng mengucapkan selamat untukmu.”

Berkedip sepasang mata Thi Eng khi setelah mendengar perkataan itu, setelah menatap hwesio itu beberapa saat lamanya, diapun manggut-manggut. “Keempat orang supek dan susiokku pernah memberikan empat macam obat mestika kepadaku, tapi sayang berhubung tenaga dalamku belum cukup sempurna maka tak sanggup membuyarkan kerja tenaga obat tersebut, tapi menurut keempat orang supek dan susiokku, untuk bisa menyebarkan daya kerja keempat macam obat itu hingga meresap ke seluruh badan, maka harus dipakai ilmu Pek hui tiau yang tayhoat, apakah kepandaian yang dipergunakan siansu adalah ”

“Yaa, betul! Ilmu yang siauceng pergunakan memang ilmu Pek hui tiau yang tayhoat!”

Thi Eng khi semakin tercengang lagi, serunya :

“Pek hui tiau yang tayhoat adalah sinhoat tenaga dari aliran Thian liong pay, darimana siancu bisa mempelajarinya ?”

Paras muka hwesio setengah umur itu agak berubah, agaknya ia sedang merasakan gejolak perasaan yang luar biasa sekali, akhirnya setelah mengucapkan puji syukur keagungan Sang Buddha. “Omitohud!” dengan wajah hambar katanya :

“Seorang sahabatku dari Thian liong pay telah mewariskan ilmu Pek hui tiau yang tayhoat kepada siauceng, sungguh tak disangka puluhan tahun kemudian siauceng kembali mempergunakan ilmu Pek hui tiau yang tayhoat untuk menolong siau sicu sebagai ciangbunjin dari partai Thian liong pay, tampaknya segala sesuatu telah diatur menurut takdirnya, betul bukan siau sicu?”

Thi Eng khi termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia bertanya :

“Siausu darimana kau bisa tahu kalau siauseng adalah ketua dari partai Thian liong pay?”

Menghadapi pertanyaan tersebut, hampir saja hwesio setengah umur itu hendak membeberkan kejadian yang sesungguhnya, tapi akhirnya ia berhasil menahan diri, katanya sambil menghela napas panjang. “Thian liong kim kiam adalah pedang dari seorang ketua Thian liong pay, siau sicu membawa pedang tersebut berarti kau pastilah seorang ketua dari perguruan itu!”

“Aaah! Betul, siauseng memang goblok sehingga musti mengajukan pertanyaan tersebut.”

Sementara itu, hwesio setengah umur itu telah bertanya kembali. “Siau sicu, apakah kau she Thi bernama Eng khi?”

Sekali lagi Thi Eng khi dibikin kebingungan setengah mati, akhirnya sambil menatap hwesio itu lekat-lekat tanyanya :

“Siansu, sebenarnya siapakah kau?”

Hwesio setengah umur itu mengenyitkan alis matanya dan menjawab.

“Siauceng bergelar Huang oh!”

“Tolong tanya siansu, kenapa kau bisa mengetahui begitu jelas tentang diri siau seng?”

Huang ho siansu juga tertawa dan tidak menjawab.

Setelah termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba Huang ho siansu berkata lagi :

“Siauceng bersedia menghadiahkan ilmu tenaga dalam Pek hui tiau yang tayhoat dan ilmu pedang Thian liong kiam hoat kepada siau sicu, apakah siau sicu bersedia untuk mempelajarinya?”

Tekad Thi Eng khi memang sebelum menjayakan nama Thian liong pay dengan ilmu silat aliran perguruannya, dia tak akan mempelajari kepandaian aliran yang lain, ketika mendengar kalau Huang oh siansu bersedia mewariskan ilmu silat aliran Thian liong pay kepadanya, ia merasakan jantungnya berdebar keras.

Tapi sebelum mengucapkan sesuatu, satu ingatan lain segera melintas dalam benaknya, ia berpikir : “Siansu yang telah menyelamatkan jiwaku ini berbicara kurang leluasa dan banyak hal yang mencurigakan sekali, sebelum mengambil keputusan aku harus menanyakan dulu keadaannya sampai jelas.”

Berpikir sampai disitu, ia lantas menatap wajah Huang ho siansu lekat-lekat, kemudian ujarnya dengan serius :

“Walaupun siauseng telah menerima jabatan sebagai ketua dari partai Thian liong pay tapi berhubung aku masuk perguruan agak lambat, tidak banyak yang kuketahui tentang kejadian Thian liong pay dimasa lampau, barusan siansu bilang ada hubungan dengan cianpwe dari partai kami, apakah kau bersedia memberi penjelasan lebih dahulu tentang masalah ini?”

Huang oh siansu berkerut kening dan termenung beberapa saat lamanya, kemudian berkata :

“Kejadian ini sudah berlangsung pada dua puluh tahunan berselang, untuk sesaat sulit bagiku untuk memulai kisah ceritanya, begini saja, bagaimana kalau siau ceng menceritakan suatu kisah cerita saja kepadamu?”

Thi Eng khi segera mengangguk.

“Siauseng siap mendengarkan ceritamu itu.”

Huang oh siansu termenung sebentar seperti membayangkan kembali kejadian di masa lalu, kemudian dengan suara berat katanya

:

“Dua puluh tahun berselang, dalam dunia persilatan muncul dua orang yang berbakat bagus, kedua orang itu sama-sama berilmu tinggi dan sama-sama gagahnya, berhubung antara nama mereka sama-sama memakai tulisan giok maka mereka disebut sebagai Bu lim siang giok (sepasang kemala dari dunia persilatan).”

Berbicara sampai disitu, dia melirik sekejap kearah Thi Eng khi kemudian melanjutkan :

“Yang seorang adalah ayahmu yang bernama Lan ih cu tok (pangeran berbaju biru) sedangkan yang satunya lagi bernama Gin san kiam kek (pendekar pedang baju perak) Ciu Cu giok. Kedua orang itu mempunyai cita-cita yang sama serta semangat yang sama pula, kemana mereka tiba kaum sesat segera terbasmi dan nama besar mereka makin meningkat, sehingga akhirnya jadilah manusia yang paling kosen diantara angkatan muda.

Tetapi walaupun kedua orang itu bersahabat akrab, tapi kedua belah pihak sama-sama tinggi hati, maka dalam hal ilmu silat, kedua belah pihak sama-sama merasa tidak puas dan tidak takluk.

Rupanya kedua orang itu tahu bahwa hal mana merupakan penghalang dari persahabatan mereka, maka secara berterus terang kedua belah pihak sama-sama mengutarakan isi hatinya, bahkan untuk menghilangkan perintang tersebut, kedua belah pihak secara terbuka saling bertukar ilmu silatnya masing-masing, Lan ih cu tok mewariskan ilmu Pek hui tiau yang tay hoat dan ilmu pedang Thian liong kiam hoat kepada Gin san kiam kek Ciu Cu giok, sedangkan Gin san kiam kek mewariskan ilmu sakti Ban liu kui tiong serta ilmu pedang Liu soat kiam hoatnya kepada Lan ih cu tok Thi tiong giok.”