Pukulan Naga Sakti Jilid 02

 
Jilid 02 

Thian liong su siang segera memisahkan diri ke samping dan menyambut kedatangan perempuan itu dengan hormat.

“Tee moay maupun Eng ji adalah keluarga langsung dari Insu, kalian tidak terhitung orang luar, silahkan masuk!” kata Pit tee jiu Wong Tin pak mewakili rekan-rekannya.

Thi hujin Yap Siu ling merasakan hatinya menjadi kecut, dengan sedih ia membimbing Thi Eng khi masuk kedalam ruangan.

Dalam pada itu Thi hujin telah mengambil suatu keputusan yang paling berat didalam hatinya, tampak perempuan itu dengan tekad yang besar berjalan ke depan jenazah Kay thian jiu Gui Tin tiong.

Setelah memberi hormat, katanya :

“Empek Gui, buat apa kau mesti berbuat demikian?”

Waktu itu dia melakukan hanya menurut suara hati sendiri, tiba- tiba dihadapan patung Keng thian giok cu Thi Keng dia berlutut dan menyembah sambil menangis, katanya :

“Ooooh     kongkong! Anak menantu berharap agar tindakanku

kali ini tidak keliru, bila toh melanggar kehendak hatimu, harap kau bersedia memandang diatas partai Thian liong untuk memaafkan anak menantumu beserta Eng ji!”

Selesai berdoa, ia menyembah tiga kali baru bangkit berdiri, cuma saat ini wajahnya telah berubah menjadi amat serius.

Ia memberi tanda agar Thi Eng khi berlutut pula didepan patung pemujaan, lalu katanya :

“Nak, mulai sekarang ibu telah menyerahkan dirimu kepada partai Thian liong. Kau harus baik-baik menuruti ucapan toa supek!”

Setelah itu dia baru membentang surat wasiat dari Kay thian jiu Gui Tin tiong dan membaca isi surat dengan lantang :

“Surat ini tertuju untuk Siu ling tee moay, Wong, Li, Oh, Kwan empat orang sute serta keponakan Eng khi ” Rupanya surat itu bukan khusus ditinggalkan buat Thi hujin Yap Siu ling seorang, melainkan meliputi segenap orang yang hadir didalam ruang sin thong tersebut.

Sementara itu, Thi Eng khi telah berlutut dihadapan ibunya, sementara Thian liong su siang juga bersama-sama menjatuhkan diri berlutut dibelakang Thi Eng khi.

Berbicara bagi mereka maka pembacaan isi surat tersebut sama halnya dengan mendengar pesan terakhir dari ciangbunjin angkatan ke sepuluh dari Thian liong pay, karena itu dengan sikap hormat mereka siap mendengarkannya.

“Perguruan kita Thian liong pay semenjak pendiriannya sampai sembilan keturunan berikutnya, semua adalah tokoh-tokoh sakti yang memiliki kemampuan melebihi orang lain, itulah sebabnya sejarah partai kita bisa berlangsung empat ratus tahun turun temurun dengan cemerlangnya.

Keponakan Eng khi merupakan manusia berbakat yang paling tepat menjadi pilihan kita untuk mendalami ilmu silat partai serta melanjutkan perjuangan untuk menekan kembali nama baik partai kita dalam mata masyarakat.

Sayang oleh karena pesan dari Insu, menyebabkan ia tak dapat memasuki partai kita lagi. Permintaan yang terlalu memaksa selain akan melanggar pesan Insu juga akan menjerumuskan Siu ling tee moay ke dalam posisi tidak terbakti, hal ini jelas jangan sampai terjadi pada anggota Thian liong pay maupun Siu ling tee moay sendiri.

Orang bilang : Untuk melepaskan keleningan, harus menyuruh orang yang mengikat keleningan itu sendiri. Maka bila kita inginkan keponakan Eng khi masuk menjadi anggota perguruan kita, satu- satunya cara adalah memohon mendiang Insu untuk menarik kembali pesannya itu!

Ih heng sudah banyak menerima budi kebaikan dari perguruan, apalagi menjabat sebagai seorang ketua, sudah sewajarnya memiliki hal serta kewajiban untuk melaksanakan tugas berat ini. Oleh sebab itu, kepergianku ini selain mempunyai tujuan, bahkan mempunyai niat yang dalam sekali untuk melenyapkan rintangan yang amat berat itu.

Setelah aku pergi, sendainya Siu ling tee moay berubah pikiran dan mengijinkan keponakan Eng khi untuk menjadi anggota perguruan kita. Itu pertanda kalau Insu telah mengijinkan permintaanku untuk mencabut kembali pesannya, maka segala tindakan lebih lanjut selain tidak melanggar pesan Insu, Siu ling tee moay juga tidak melakukan perbuatan yang tak berbakti, harap sute berempat serta Siu ling tee moay dapat memakluminya.

Ketika berbicara sampai disitu, Thi hujin Yap Siu ling tak dapat mengendalikan rasa sedihnya lagi, ia menangis tersedu-sedu.

Membaca dari surat wasiat tersebut, dapat diketahui bahwa Kay thian jiu Gui Tin tiong memang berniat untuk mengorbankan jiwanya untuk menembusi jalan buntu yang selama ini mencekam diri mereka, dari sini bisa diketahui sampai berapa dalamnya niat yang terkandung didalam hatinya.

Selang sejenak kemudian, Yap Siu ling melanjutkan kembali pembacaan surat tersebut.

“Berikut ini adalah peraturan yang harus diperhatikan untuk membawa keponakan Eng khi masuk ke perguruan.

Pertama, setelah menyembah didepan meja abu dari para sucou sekalian, dia akan menjadi anggota perguruan angkatan kesebelas dari perguruan Thian liong pay kita, anak meneruskan karier ayahnya. Kepandaian diwariskan turun temurun karena itu tak usah dilangsungkan pengangkatan guru lagi. Segera berikan keempat macam benda mestika itu untuk diminumnya, daripada malam yang panjang akan menimbulkan impian yang banyak, sehingga barang itu diincar orang dan mengakibatkan timbulnya kejadian diluar dugaan. Kedua, setelah masuk kedalam perguruan, dia diangkat menjadi ketua partai angkatan kesepuluh serta berhak untuk menyelami ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka Thian liong pit kip dan mengikuti cara Pek hui tiau yang toahoat melakukan semedi selama tiga bulan agar bisa menyerap kemujaraban keempat macam bahan obat-obatan tersebut. Meski aku menjabat sebagai ketua perguruan angkatan ke sepuluh, sayang kemampuanku sangat minim dan tak mampu berbuat apa-apa, aku tidak pantas menjajarkan namaku diantara para cousu lainnya, itulah sebabnya sejak menjabat sebagai ketua, aku tidak berani mempelajari kitab pusaka Thian liong pit kip. Sesungguhnya belum terhitung resmi sebagai seorang ketua, oleh karena itu Eng ji secara langsung menempati kedudukan ketua partai angkatan ke sepuluh agar kedudukan mana tak sampai luang.

Ketiga, tempat penyimpanan kitab pusaka Thian liong pit kip serta cara membuka tempat itu telah kusampaikan kepada jite, harap jite menyampaikan langsung kepada Eng ji untuk dilaksanakan.

Keempat, pil mustika Toh mia kim wan yang merupakan barang mustika perguruan kita masih ada tiga butir, bilamana perlu berikan kepada Eng ji untuk dimakan sehingga mempercepat kemajuan yang akan dicapai dalam tenaga dalamnya.

Kelima, sejak Eng ji berusia lima tahun aku telah mewariskan ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang kepadanya dengan maksud untuk memperkuat badannya, dengan bakat yang dimiliki Eng ji dalam sepuluh tahun latihan sudah pasti telah memberikan hasil yang baik, karena itu perlu kuberitahukan hal ini kepada sute sekalian.

Keenam, Eng ji berkewajiban membangun kembali nama perguruan kita dari puing-puing kehancuran, tugas ini tidak ringan, maka selama belajar silat, semua perhatiannya harus terpusatkan menjadi satu, kemudian setelah berkelana dalam dunia persilatan dilarang sombong dan tekebur, dengan demikian orang baru akan bersedia memberikan bantuannya. Sayang kertas terlalu pendek dan isi hatiku masih banyak, tapi singkatnya saja kita tak boleh sampai melupakan “kesetiaan, bertanggung jawab, kebajikan dan cinta kasih” sebab keempat hal ini penting sekali bagi kehidupan seorang manusia.

Tertanda “Gui Tin tiong, murid angkatan kesepuluh pada

tahun x bulan x tanggal x”

Ketika Thi hujin Yap Sui ling selesai membaca isi surat dari kepedihan Kay thian jiu Gui Tin tiong ini, seketika itu juga seluruh ruangan Sin thong diliputi suasana yang amat sedih.

Untung saja, Thian liong su siang adalah jago-jago persilatan yang cukup berpengalaman sekalipun merasa sedih atas kepergiannya saudaranya, tapi merekapun tahu akibatnya harapan bagi perguruannya untuk muncul kembali dalam dunia persilatan semakin besar.

Hal mana sudah barang tentu merupakan suatu peristiwa besar yang pantas dirayakan oleh anak murid Thian liong pay.

Oleh sebab itu, Thian liong su siang segera menyeka air mata dan menghibur Thi hujin dan Thi Eng khi agar berhenti menangis, kemudian menggotong sebuah kursi kebesaran dan diletakkan di tengah ruangan, lalu menggotong jenazah dari Kay thian jiu Gui Tin tiong untuk didudukkan pada kursi tersebut.

Selesai memberi hormat, dengan dipimpin oleh Pit tee jiu Wong Tin pak maka sebagaimana pesan Kay thian jiu Gui Tin tiong, segera dilangsungkan upacara pengangkatan Thi Eng khi sebagai ciangbunjin angkatan ke sepuluh dari perguruan Thian liong pay.

Thi Eng khi sendiri, sekalipun masih muda dan cetek pengalamannya tapi tidak sedikit buku yang pernah dibaca olehnya, diapun tidak menampik lagi maksud orang untuk mengangkat dirinya sebagai ketua perguruan yang baru.

Hanya saja terhadap surat wasiat Kay thian jiu Gui Tin tiong telah dilakukan beberapa perbaikan, antara lain : Pertama, pengorbanan serta kesetiaan Kay thian jiu Gui Tin tiong terhadap penguruan sangat agung dan mulia, sepantasnya kalau ia menjadi ketua angkatan ke sepuluh dari Thian liong pay, sementara ia sendiri hanya pantas menduduki jabatan sebagai ketua angkatan kesebelas.

Kedua, usia Kay thian jiu Gui Tin tiong cukup tua, kedudukannya tinggi dan jasanya besar bagi perguruan, dia ingin mengangkat Gui Tin tiong sebagai gurunya sebagai rasa terima kasih dan hormatnya kepada orang tua itu.

Dua hal tersebut semuanya merupakan hal-hal yang sudah sewajarnya demikian, maka Thian liong su siang juga tidak menyatakan keberatan. Bukan saja mereka tak mampu mengucapkan kata-kata keberatan, bahkan dari sini dapat terlihat betapa bijaksananya Thi Eng khi didalam menganalisa persoalan, diam-diam mereka bersyukur karena perguruan mereka akhirnya menemukan juga seorang pemimpin yang cakap.

Maka dari itu, setelah Thi Eng khi menjalankan upacara besar untuk mengangkat Kay thian jiu Gui Tin tiong sebagai gurunya, kemudian dipimpin oleh Thian liong su siang diadakan pula upacara pengangkatan Thi Eng khi sebagai ketua angkatan ke sebelas dari perguruan Thian liong pay ......

Meski sederhana sekali jalannya upacara namun mendatangkan suasana yang penuh rasa haru dan serius, semua upacara dipimpin langsung oleh Pit tee jiu Wong Tin pak.

Sambil berdiri di sebelah kiri meja altar Pit tee jiu Wong Tin pak segera berseru dengan suara lantang :

“Wujudkan kembali kecemerlangan dan kejayaan perguruan kita!”

“Nama kita akan terkenal kembali sampai dimana-mana!” sorak tiga orang lainnya dengan keras. Mereka berempat bersama-sama berkelebat keluar dari ruang Sin thong, ketika balik kembali mereka semua telah berganti dengan satu stel jubah panjang berwarna biru.

Jubah berwarna biru sebenarnya adalah baju seragam dari Thian liong pay, tapi semenjak berita kematian dari Keng thian giok cu Thi Keng tersiar datang pada dua puluh tahun berselang, anak murid Thian liong pay telah mengganti seragamnya menjadi warna abu- abu yang gelap, ini sebagai pertanda duka cita segenap anggota perguruan terhadap musibah yang telah menimpa perguruan mereka.

Kini ketua baru telah diangkat, Pit tee jiu lantas menitahkan untuk berganti baju biru hal mana sebagai pertanda bahwa mereka telah bersiap untuk memasuki kembali arena dunia persilatan serta memperjuangkan kembali nama perguruan di mata umum.

Tentu saja hal mana merupakan keinginan dan harapan dari Thian liong ngo siang, sedang mengenai berhasil atau tidaknya, hal ini tergantung pada perjuangan dari Thi Eng khi dikemudian hari.

Kini Pit tee jiu Wong Tin pak telah - missing page 15 -

Sekarang secara resmi dia telah menjadi ketua baru angkatan ke sebelas dari perguruan Thian liong pay.

Selesai upacara, Thi Eng khi duduk bersama ibunya, sementara Thian liong su siang dengan senyum dikulum dan wajah yang ringan mengiringi duduk di kedua belah sisinya.

Sambil tersenyum Sam ciat jiu Li Tin tang lantas bertanya : “Ciangbunjin telah berlatih ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang

semenjak sepuluh tahun berselang, entah sampai dimanakah keberhasilan yang telah dicapai?”

Thi Eng khi tertawa.

“Semenjak siautit mendapat pelajaran ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang, selama sepuluh tahun terakhir ini tak pernah lupa untuk melatihnya, supek, coba kau lihat, bukankah tubuhku menjadi lebih kekar dan kuat?”

Belum sempat Sam ciat jiu Li Tin tang menjawab, Pit tee jiu Wong Tin pak telah melototkan mata tunggalnya sambil menukas :

“Harap di dalam pembicaraan dengan anggota partai, ciangbunjin musti ingat kalau tingkat kedudukan ciangbunjin lebih tinggi, karena itu tak boleh menyebut diri sebagai siautit, sepantasnya jika menyebut diri sebagai Pun coh (aku yang mulia).”

Mula-mula Thi Eng khi agak tertegun, kemudian sahutnya dengan mengangguk :

“Terima kasih atas peringatan dari supek, pun coh tahu!”

Thi hujin Yap Siu ling merasakan hatinya amat sedih, apalagi teringat bahwa dengan diangkatnya Thi Eng khi sebagai seorang ciangbunjin, tanpa terasa telah memberikan bahan pikiran lagi baginya. Ini membuat hatinya menjadi amat sedih.

Dengan kening berkerut dan gelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya dengan sedih :

“Menurut pendapat siaumoay, kecuali sedang berada dalam tugas perguruan, dalam kehidupan sehari-hari lebih baik biarlah Eng ji menggunakan sebutan sebagaimana biasanya saja, dengan begitu hubungan diantara kita pun tak sampai terlalu kaku ...”

Sin lui jiu Kwan Tin see yang mendengar usul tersebut, tanpa mempedulikan lagi bagaimana pendapat dari ketiga orang suhengnya, dengan cepat ia bertepuk tangan seraya berseru :

“Ucapan enso memang tepat sekali, siaute paling benci dengan segala macam adat yang kaku, Eng ji benar bukan perkataanku ini?”

Thi Eng khi juga merasa gembira sekali, sahutnya :

“Siautit merasa amat setuju, entah bagaimana dengan pendapat supek lainnya?”

Sam ciat jiu serta San tian jiu hanya tersenyum belaka tanpa menjawab. Pit tee jiu Wong Tin pak yang merasa usul tersebut berasal darinya, tentu saja tak dapat berdiam diri belaka, sambil tertawa sahutnya :

“Jika tee moay memang berpendapat demikian, terpaksa Ih heng harus menarik kembali perkataanku tadi.”

Sam ciat jiu Li Tin tang segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaah .....haaah...... haaahh... tee moay sungguh hebat, hanya dengan sepatah kata, ia berhasil membuat berubahnya jalan pikiran loji yang kolot, sungguh susah, sungguh susah.”

Kemudian sambil mengembalikan persoalan ke pokok masalah semula, katanya lagi:

“Eng ji, tahukah kau bahwa Sian thian bu khek ji gi sin kang merupakan sim hoat tenaga dalam yang tiada keduanya dalam perguruan kita? Sejak sepuluh tahun berselang kau telah mempelajari simhoat tersebut, sesungguhnya sejak saat itu juga kau telah menjadi anggota dari perguruan kita ini.”

Thi hujin Yap Siu ling agak tertegun lalu katanya :

“Eng ji juga pernah mengajarkan ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang kepadaku sebagai ilmu untuk menyehatkan badan, apakah aku juga termasuk anggota Thian liong pay?”

Kiranya ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang adalah suatu kepandaian yang luar biasa, siapa saja yang melatih kepandaian ini, entah tenaga dalamnya masih cetek atau sudah sempurna, tiada ciri- ciri khas yang bisa dilihat dari luar seandainya tidak dikatakan sekalipun anggota perguruan sendiri juga tidak mengetahuinya.

Itulah sebabnya setelah Thi hujin Yap Siu ling berkata demikian, kontan saja Thian liong su siang tertawa terbahak-bahak karena gembira.

Pit tee jiu Wong Tin pak menghela napas dan manggut-manggut, katanya kemudian:

“Aaai tidak disangka umpama kamu selain berhasil meraih

Eng ji rupanya juga relah mendapatkan pula seorang sumoay. Kejadian ini sungguh menggembirakan sekali. Meski Thian liong ngo siang telah kehilangan seorang tapi sekarang telah mendapatkan gantinya lagi, itu berarti Thian liong ngo siang akan tetap utuh. Sumoay cepat kemari dan menyembah kepada Cousu untuk masuk ke dalam perguruan Thian liong pay !”

Mendengar perkataan itu, Thi hujin merasa terkejut, setelah termenung sbentar dia baru berkata :

“Meskipun aku tidak mengerti soal ilmu silat, tapi dapat kurasakan betapa mulianya tujuan Gui suheng didalam mengatur segala sesuatunya itu, yaa, aku memang seharusnya turut masuk kedalam tubuh perguruan Thian liong pay, sekalian bisa mengawasi Eng ji dalam latihan ilmu.”

Berbicara sampai disitu, dia lantas bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Cousu dimeja abu, dengan begitu secara resmi iapun telah menjadi anggota perguruan Thian liong pay.

Setelah bergembira sebentar, Sam ciat jiu Li Tin tang baru memegang nadi Thi Eng khi seraya berkata :

“Eng ji, coba aturlah pernapasanmu, akan kulihat sampai dimanakah taraf tenaga dalam Sian thian bu khek ji gi sin kang yang berhasil kau raih ?”

Thi Eng khi segera menghimpun tenaga dalamnya dan mengatur pernapasan, tak lama kemudian ia sudah berada dalam keadaan lupa diri.

Rupanya ilmu tenaga dalam Sian thian bu khek ji gi sin kang dari Thian liong pay memiliki ciri yang khas, yakni sewaktu mengatur pernapasan tidak selalu harus duduk bersila, dalam posisi yang macam apapun juga, latihan bisa dilakukan.

Dengan wajah terkejut bercampur keheranan Sam ciat jiu Li Tin tang memandang sekejap kearah pemuda itu, kemudian serunya :

“Benar-benar luar biasa, Suheng! Sute! Cepat kemari, coba kalian lihat diri Eng ji!” Buru-buru tiga orang lainnya datang memeriksa, kemudian mereka berempat bersama-sama mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak.

Thi hujin Yap Siu ling menjadi tertegun segera tanyanya : “Suheng sekalian, apa yang menyebabkan kalian tertawa

seringan itu ?”

Sambil tertawa sahut Sam ciat jiu Li Tin tang.

“Kesempurnaan tenaga dalam Sian thian bu khek ji gi sin kang yang dimiliki Eng ji sekarang sudah bukan tandingan dari kami suheng te lagi, bukankah kejadian ini pantas digirangkan?”

Mendengarkan itu, Thi hujin turut gembira sekali. Pit tee jiu Wong Tin pak lantas berkata pula :

“Bakat yang dimiliki Eng ji sungguh luar biasa sekali, berbicara dengan kemampuan yang dimiliki sekarang, boleh dibilang sudah jauh melampaui apa yang berhasil diraih Tiong giok sute ketika meninggalkan rumah dulu. Sebenarnya kami bermaksud untuk memberikan pil mestika Toh mia kim wan untuk menambah daya kekuatan lebih dulu, kemudian bahan obat tersebut, tapi sekarang rasanya tak perlu berbuat demikian lagi. Pil mestika Toh mia kim wan bisa disimpan untuk menolong orang dikemudian hari sedangkan keempat macam obat mestika ini boleh segera diminum, kemudian mengeluarkan kitab Thian liong pit kip dan membiarkan ia melatih diri selama tiga bulan dengan ilmu Pek hui tiau yang toahoat dalam waktu singkat tenaga dalam yang berhasil dicapainya itu pasti akan sudah mencapai puncak kesempurnaan.”

Mendengar perkataan itu, semua orang segera bersorak kegirangan.

Empat macam obat mujarab dibawa oleh keempat orang yang mendapatkannya dipersembahkan kehadapan Thi Eng khi.

Sedangkan Thi Eng khi pun segera menelan keempat macam bahan obat tersebut kedalam perut, dia merasa takarannya terlampau sedikit sehingga bagaimanakah rasanya pun tidak diketahui olehnya. Terutama sekali setelah menelan obat itu sama sekali tidak memberikan reaksi apa-apa, ia jadi curiga apakah obat tersebut benar-benar berkasiat atau cuma bernama kosong belaka.

Melihat kecurigaan orang, Pit tee jiu Wong Tin pak hanya tersenyum, setelah memberitahukan tempat penyimpanan kitab Thian liong pit kip serta cara untuk mengambilnya dia bersama sute moaynya mengundurkan diri dari sana agar Thi Eng khi bisa berlatih seorang diri.

Tapi Thi Eng khi tidak berpendapat demikian, katanya : “Para supek dan susiok, lebih baik temanilah siautit untuk

mempelajari bersama kitab pusaka Thian liong pit kip itu!”

Mendengar ucapan tersebut, dengan serius Pit tee jiu Wong Tin pak berkata :

“Sejak partai Thian liong pay didirikan hanya ciangbunjin seorang yang berhak untuk mempelajari isi kitab Thian liong pit kip, sementara murid-murid lainnya hanya mendapat pelajaran dari ciangbunjin, peraturan ini sudah berlangsung turun temurun, jadi tidak seharusnya kalau ciangbunjin melanggar kebiasaan tersebut.”

Thi Eng khi segera mengerutkan dahinya rapat-rapat, kemudian dengan wajah yang serius dia menghampiri meja abu Cousunya dan berdoa dengan wajah bersungguh-sungguh. Setelah itu, dia baru membalikkan badannya sambil berkata :

“Sekarang perguruan kita sedang berada dalam keadaan yang lemah, mara bahaya datang mengancam dari mana-mana, dalam keadaan demikian perguruan membutuhkan orang-orang yang berilmu tinggi. Itulah sebabnya aku telah berdoa di depan meja abu Cousu dan meminta perubahan untuk peraturan tersebut. Sejak dari angkatanku sekarang, setiap murid yang mempunyai kecerdasan yang baik serta bakat yang bagus diijinkan untuk mempelajari sendiri kitab tersebut!”

Setelah berhenti sejenak, kembali dia melanjutkan :

“Anggota Thian liong pay Wong Tin pak, Li Tin tang, Oh Tin lam, Kwan Tin see dan Yap Siu ling berlima sekarang juga kuperintahkan untuk turut serta dalam mempelajari kitab pusaka Thian liong pit kip, siapapun tak boleh membangkang!”

Perkataan itu diucapkan dengan wajah serius dan suara nyaring, terpancar jelas kewibawaannya sebagai seorang ciangbunjin, tak urung Thian liong ngo siang dibikin tertegun juga untuk beberapa saat lamanya.

Mereka hanya merasakan bayangan tubuh dari Thi Eng khi seakan-akan makin lama semakin membesar, sedemikian besarnya sampai menyelimuti seluruh meja altar. Mereka merasa seolah-olah perkataan itu bagaikan muncul dari mulut cousu mereka sendiri sehingga kesemuanya ini membuat mereka terkesiap.

Dengan wajah berubah hebat Thian liong ngo siang segera menjatuhkan diri berlutut.

Kata Pit tee jiu Wong Tin pak dengan lantang :

“Teecu Wong Tin pak berlima menerima perintah ciangbunjin dan mengucapkan terima kasih banyak atas kemurahan hati cousu!”

Setelah menerima penghormatan itu, dengan senyuman dikulum Thi Eng khi lantas berkata :

“Silahkan susiok sekalian bangkit berdiri! Asal kalian mau menunjang maksudku, aku merasa amat gembira sekali.”

Dengan dilepaskannya kedudukan sebagai seorang ciangbunjin, keseriusan wajahnya pun berangsur melunak kembali.

Sam ciat jiu Li Tin tang terbahak-bahak saking terharunya, ia lantas berkata :

“Ciangbun sutit, kau benar-benar hebat, dengan mengandalkan kebesaran jiwamu itu, sudah dapat dipastikan perguruan kita akan jaya kembali dalam dunia persilatan.”

“Benar!” Pit tee jiu Wong Tin pak melanjutkan, “kebesaran jiwa dan kebijaksanaan ciangbun sutit dalam mengambil keputusan sungguh mencerminkan keluhuran budi ciangbunjin, kami sekalian dapat memahami maksud hati dari ciangbunjin itu.” Mendengar kata-kata tunjangan yang diberikan para supek dan susioknya ini, sekulum senyuman dengan cepat menghiasi bibir Thi Eng khi ..................

Mendadak dengan wajah serius Pit tee jiu Wong Tin pak berkata kembali :

“Silahkan ciangbun sutit untuk segera mengambil kitan pusaka Thian liong pit kip tersebut!”

“Harap supek bersedia untuk membantu!” “Baik!” kata Pit tee jiu Wong Tin pak kemudian.

Dengan cepat badannya melambung keudara dan menerjang ke arah lentera berbintang tujuh nomor tiga dari samping ruangan kemudian ditariknya lentera itu empat kali dan mengayunnya tiga kali.

Semua gerakan tersebut dilakukan dengan tubuh melambung ditengah udara, tanpa tenaga dalam yang sempurna, mustahil bisa melakukan kesemuanya itu.

Tiba-tiba berkumandang suara gemuruh yang amat keras dari bawah meja abu tersebut, mendadak seluruh meja itu tenggelam ke bawah, menyusul kemudian tampaklah sebuah cakar raksasa naga emas muncul di depan mata.

Baru saja Pit tee jiu Wong Tin pak hendak mengambil kotak biru untuk dipersembahkan kepada Thi Eng khi, mendadak terdengar seorang tertawa riang lalu tampak sesosok bayangan manusia menyambar masuk ke dalam dan menyambar ke ruang tengah.

Tidak nampak bagaimana dia melakukan gerakan tubuhnya, tahu-tahu kotak biru berisi kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut telah berpindah ke tangannya.

Reaksi yang diberikan Thian liong su siang cukup cepat, sambil membentak keras empat sosok bayangan manusia dengan menghimpun empat gulung tenaga pukulan yang sangat dahsyat segera dihantamkan ketubuh pendatang tersebut.

Orang itu tertawa dingin, tangannya dikebaskan dan tahu-tahu sebelum Pit tee jiu Wong Tin pak berhasil menjawil ujung baju orang, jalan darah khi hay hiat ditubuh mereka sudah menjadi kaku kemudian hawa murninya membuyar dan tubuh merekapun menggeletak ditanah.

Semua peristiwa ini berlangsung dalam waktu singkat, menanti Thi Eng khi dapat melihat bahwa pendatang itu adalah seorang kakek botak yang berusia enam puluh tahunan, keadaan sudah berubah.

Kendatipun Thi Eng khi memiliki tenaga dalam Sian thian bu khek ji gi sin kang yang amat sempurna, sayang dia belum belajar secara sempurna, pada hakekatnya dia tak tahu bagaimana caranya untuk mengerahkan tenaga sambil melancarkan serangan sehingga boleh dibilang tiada kegunaannya sama sekali untuk menghadapi suatu pertarungan.

Thi hujin Yap Siu ling semakin tak bisa dibilang lagi, ia tak sampai dibikin pingsan karena kagetnya sudah termasuk untung.

Bagaimanapun juga, Thi Eng khi terhitung punya keberanian, sekalipun tidak memiliki kepandaian apa-apa, namun nyalinya tidak kecil. Dengan wajah tidak berubah, dia maju selangkah kedepan, lalu menegur dengan suara lantang.

“Lo tiang siapakah kau? Menyerobot mustika orang disaat orang tidak siap, termasuk perbuatan apakah itu.”

Mencorong sinar tajam dari balik mata kakek botak itu, dia menatap wajah Thi Eng khi tajam-tajam, kemudian tangan kanannya diangkat ke muka dan siap melancarkan serangan dahsyat untuk merobohkan lawannya. Thi Eng khi sedikitpun tidak merasa takut, sambil membusungkan dada ia maju selangkah ke depan, jaraknya dengan kakek botak itu tak lebih dari tiga langkah.

Untuk sesaat lamanya kedua orang itu saling berhadapan dengan mata melotot.

Sinar mata Thi Eng khi sama sekali tidak menunjukkan keanehan apa-apa, tapi justru dibalik kesederhanaan itu tersimpan kegagahan yang luar biasa, ini memaksa kakek botak itu menarik kembali sinar matanya.

Dengan wajah berkerut bercampur keheranan dia lantas tertawa terbahak-bahak, serunya :

“Haaahhhh............ haaaahhhh ..... haaah kalau dilihat dari

usiamu yang begitu muda, aku tahu bahwa kau masih tolol dan tak tahu keadaan yang sebenarnya. Ketahuilah lohu berhasil merebut mustika dan melukai orang, yang dipakai adalah ilmu silat murni dan cara yang jujur, siapa bilang perbuatan ini tidak mencocoki perbuatan seorang lelaki sejati? Haaahh....... haaaahh............

haahhh , anak muda, benar bukan?”

Pendapat yang demikian anehnya itu baru pertama kali ini didengar Thi Eng khi seketika itu juga paras mukanya berubah menjadi hijau membesi saking marahnya, dia menjadi lupa keadaan dan segera menerjang ke depan dengan garangnya.

“Pun ciangbunjin akan beradu jiwa denganmu!” bentaknya gusar.

Thi Eng khi belum pernah belajar ilmu silat, tubrukan tersebut boleh dibilang sama sekali tak pakai aturan.

Hampir copot gigi kakek itu saking gelinya, dia lantas berseru dengan lantang :

“Anak muda, ilmu gerakan apakah yang kau gunakan ini? Naga langit masuk sungai atau ikan belut bermain lumpur?

Haaahhhhh........ haaahhh...... haaahhh ” Bukan saja dia masih tetap berdiri dengan tenang, bahkan ucapannya juga berubah lebih santai dan lembut.

“Bakat maupun keberanianmu termasuk pilihan yang luar biasa, baiklah, memandang pada kebagusan bakatmu itu lohu tidak ingin melukai dirimu, sekarang baliklah ketempat semula dengan baik- baik!”

Thi Eng khi hanya merasakan segulung tenaga kekuatan yang sangat besar mementalkannya balik ke tempat semula, bahkan posisinya sama sekali tidak berubah, dari ini pemuda itu semakin menyadari bahwa tenaga dalam yang dimiliki kakek botak ini sudah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa.

Padahal kakek botak itu sama sekali tidak menggerakkan tangan kakinya, hanya mengandalkan pancaran hawa murni ia telah berhasil memaksa mundur Thi Eng khi ke posisi semula, peristiwa tersebut dengan cepat membuat Thi Eng khi semakin kaget dan gelagapan.

Menyaksikan pemuda itu terperana dibuatnya, dengan bangga sekali kakek botak itu mengangkat tinggi-tinggi kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut, kemudian katanya :

“Kitab pusaka Thian liong pit kip sudah berada di tangan lohu, jika kau merasa punya kepandaian, silahkan untuk merampasnya kembali dari tangan lohu!”

Thi Eng khi adalah seorang pemuda cerdik yang pandai melihat keadaan, diapun tahu sekalipun bernapsu atau nekad menerjang kakek itu juga tak ada gunanya sebab dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang masih jauh bila ingin merampas kembali kitab pusaka Thian liong pit kip itu, maka dia cepat menguasai emosi yang sedang membara dalam hatinya.

Setelah tertawa dingin, ujarnya :

“Kitab pusaka Thian liong pit kip adalah mestika dari partai kami, tentu saja pun ciangbunjin akan merampasnya kembali dari tanganmu, Cuma ilmu silat yang pun ciangbunjin miliki masih belum sempurna, maka dipersilahkan untuk kau simpan lebih dulu, dua tahun kemudian, dengan kemampuanku seorang diri pun ciangbunjin pasti akan merampas kembali kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut dari tanganmu, nah sekarang, tinggalkan nama dan alamatmu, kemudian silahkan angkat kaki dari tempat ini!”

Kehadiran kakek botak itu di dalam dunia persilatan sesungguhnya mempunyai ambisi yang besar, adapun kemunculan didalam partai Thian liong pay sekarang sebetulnya tidak berniat untuk merampas kitab pusaka Thian liong pit kip, tujuannya yang paling utama adalah untuk menyelidiki jejak dari Ban li tui hong Cu Ngo.

Kiranya orang yang berhasil merampas kartu undangan yang dibawa Ban li tui hong Cu Ngo tersebut tak lain adalah kakek ini, setelah berhasil merobohkan lawannya dan merampas kartu undangan, pada mulanya dia mengira Ban li tui hong Cu Ngo pasti sudah tiada lagi di dunia ini, cuma kemudian dia teringat akan suatu persoalan andaikata berita kematian Cu Ngo sampai tersiar luas, bukankah hal itu akan menerangkan bahwa tugas Cu Ngo belum terselesaikan, bukankah hal itu justru akan meningkatkan kesiap- siagaan pihak Ki hian san ceng?

Keadaan tersebut sesungguhnya sangat tidak menguntungkan bagi kelancaran rencana besarnya karena itu diapun memburu balik kembali ke tempat semula siap untuk melenyapkan jejak.

Siapa tahu ketika ia tiba kembali ditempat semula, jenazah Cu Ngo tidak tampak lagi, otomatis perhatiannya lantas dialihkan ke tubuh partai Thian liong pay yang berada disekitar tempat itu.

Sewaktu dia menyerbu masuk kedalam Thian liong pay, bukan saja secara jitu berhasil merampas kitab pusaka Thian liong pit kip, bahkan menemukan pula kalau Thi Eng khi adalah seorang pemuda yang berbakat baik, timbullah niatnya untuk mendapatkan pemuda tersebut sebagai muridnya.

Tapi kenyataan sudah terbentang didepan mata, ia tahu tak mungkin benda dan orangnya bisa didapatkan bersama.

Setelah pikir punya pikir, akhirnya dia merasa bahwa pemuda yang berbakat bagus itu jauh lebih berharga daripada kitab pusaka Thian ling pit kip itu, sebab dia merasa bagaimanapun mestikanya kitab pusaka itu, sesungguhnya sama sekali tidak penting bagi dirinya.

Pada empat puluh tahun berselang, tanpa sengaja dia berhasil menemukan sejilid kitab Huan im po liok dan sejilid Jit sat hian im cin keng. Setelah melalui latihan yang tekun selama empat puluh tahun,dia beranggapan bahwa ilmu yang dimilikinya sekarang sudah tiada tandingannya lagi di dunia ini.

Selain itu, diapun teringat bahwa usianya kian lama semakin bertambah tua, sekalipun Thian liong pit kip lebih tangguh dari Jit sat hian im cin keng, tapi dirinya sudah tiada waktu lagi baginya untuk berlatih kembali dari permulaan.

Ketika untuk kedua kalinya dia turun kembali, berkobar ambisi yang sangat besar didalam dadanya, dia bercita-cita untuk menaklukan segenap jago dari seluruh dunia persilatan agar nama besarnya bisa dikenang orang terus sepanjang masa.

Oleh karena itu, ketika Thi Eng khi meminta kepadanya untuk meninggalkan nama sebelum pergi, sudah barang tentu ia enggan untuk berbuat demikian.

Maka dia lantas mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak- bahak serunya :

“Haaahhh..... haaahhh...... haaahhhh mana-mana, kau

mengira lohu benar-benar tertarik dengan kitab pusaka Thian liong pit kip mu itu ?”

Thi Eng khi menjadi tertegun, dia tidak habis mengerti, kenapa orang ini sama sekali tidak tertarik oleh kitab pusaka Thian liong pit kip .............

Dengan perasaan heran, ia lantas menegur :

“Lantas ada keperluan apa kau malam-malam mendatangi Sin thong partai kami?” Kakek botak itu segera menarik kembali senyumnya, kemudian berkata :

“Lohu ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu, asal kau bersedia untuk menjawab dengan sejujurnya, lohu akan segera mengembalikan kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut kepadamu!”

“Asal pertanyaan yang kau ajukan adalah persoalan yang benar, pun ciangbunjin tentu saja bersedia untuk memberi jawaban, tapi bukan berarti pun ciangbunjin mau berada di bawah perintahmu.”

Kakek botak itu segera tertawa terbahak-bahak. “Haaahhh....... haaahhh haaahh.. sungguh seorang

ciangbunjin Thian liong pay yang hebat, hari ini lohu akan mengikat tali persahabatan denganmu, nah ambillah kembali kitab pusaka Thian liong pit kip ini!”

Tangannya didorong kemuka, kotak biru itupun pelan-pelan melayang kembali ke tangan Thi Eng khi.

Mimpipun Thi Eng khi tidak menyangka kalau pihak lawan bertindak begitu sosial, maka setelah menerima kembali kotak itu, diapun tertawa terpaksa, katanya :

“Lotiang ada urusan apa?”

“Apakah Ban li tui hong Cu Ngo telah ditolong oleh orang-orang Thian liong pay?”

“Benar!” jawab Thi Eng khi berterus terang, “Pun ciangbunjin yang telah turun tangan menyelamatkan jiwanya!”

“Aaaaah masa dengan kemampuan itu sanggup untuk

menyelamatkan jiwanya?” seru si kakek botak tidak percaya.

“Haaahhh......... haaahhh........... haaahh kau terlalu

memandang rendah partai kami!”

Kakek botak itu termenung lagi beberapa saat lamanya, kemudian agaknya dia percaya dengan perkataan dari Thi Eng khi, tanyanya lebih jauh : “Sekarang dia berada di mana?”

“Aku tahu kalau kau tidak bermaksud baik terhadap dirinya, pun ciangbunjin tak dapat memberitahukan kepergiannya!”

Kakek botak itu memang cukup licik, serunya dengan cepat : “Kalau begitu dia sudah pergi meninggalkan Thian liong pay?”

Thi Eng khi beranggapan bahwa soal ini tidak penting untuk dirahasiakan, maka diapun mengangguk.

“Ya, benar! Lukanya telah sembuh, tentu saja ia pergi meninggalkan tempat ini.”

Kakek botak itu kembali tertawa licik :

“Heeehhh...... haaahhh..... haaahhh... asal dia belum mampus, lohu percaya pasti dapat menemukan jejaknya.”

Kemudian sambil menuding kearah Wong Tin pak berempat yang menggeletak ditanah katanya lebih jauh.

“Keempat orang supekmu itu sudah terkena totokan Jit sat ci milik lohu, sekalipun lohu bersedia untuk mengikat tali persahabatan denganmu, akan tetapi tidak bisa melanggar kebiasaan, apalagi turun tangan sendiri untuk menolong mereka, bila kau berniat untuk memulihkan kembali tenaga dalam mereka, setengah tahun kemudain kau boleh menunggu lohu diatas puncak Bong soat hong di bukit Wu san, saat itu lohu pasti akan mewariskan ilmu membebaskan totokan itu kepadamu, nah jangan lupa! Heeehhh... heeehhh.... heeehhh “

Setelah tertawa penuh misterius , dia lantas meluncur keluar dari ruangan itu.

Wong Tin pak berempat yang tertotok oleh Jit sat ci hanya merasakan sekujur badannya kesemutan, hawa murninya tersumbat dan sama sekali tak mampu berkutik, sementara pendengarannya sama sekali tdiak terpengaruh, melihat kakek botak itu sudah pergi, dengan wajah murung Pit tee jiu Wong Tin pak lantas berkata: “Ciangbunjin sutit, ilmu sakti yang tercantum dalam kitab pusaka Thian liong pit kip tiada taranya di dunia ini, asal kau bisa meyakininya, untuk membebaskan totokan Jit sat ci mah bukan urusan yang susah, kau tak usah kuatir dan tak perlu tergesa-gesa.”

Thi hujin Yap Siu ling juga berhasil menenangkan hatinya, dia lantas berpesan kepada Thi Eng khi :

“Ilmu Thian liong pit kip bukan bisa diyakini di dalam sehari saja, Eng ji lebih baik kita urusi dulu diri supek dan susiok beberapa orang!”

Thi Eng khi manggut-manggut mengiakan dia lantas menyerahkan kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut kepada ibunya, kemudian menggotong datang empat buah pembaringan besar dan membopong tubuh Pit tee jiu Wong Tin pak sekalian naik keatas ranjang.

Kemudian dengan mengikuti petunjuk dari Pit tee jiu Wong Tin pak , ia membuka sebuah pintu rahasia disebelah kiri ruang Sin thong dan memasuki sebuah ruang rahasia.

Didalam ruangan itu telah siap lima buah peti mati, diujung peti mati tersebut telah tercantum nama dari Thian liong ngo siang, maka mengikuti petunjuk yang telah ada, dia membaringkan jenasah gurunya Gui Tin tiong ke dalam peti mati, kemudian menyimpan jenasah tersebut dalam ruang rahasia untuk menunggu saat yang baik setelah Thian liong pay jaya kembali nanti, dikubur dengan upacara besar.

Setelah repot seharian penuh, keesokan harinya di hadapan Pit tee jiu Wong Tin pak berempat serta ibunya, ia membuka kotak biru yang berisikan kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut.

Kotak biru itu sama sekali tidak menyolok atau memiliki sesuatu keanehan apa-pa, tapi setelah dibuka ternyata isinya adalah sebuah kotak kumala hijau , di luar kotak kemala itu terikat satuan sabuk biru, cara menyimpulkan tali itupun aneh sekali, sehingga Thi Eng khi gagal untuk membuka simpul mati tersebut dengan cara apa pun. Melihat itu Thian liong ngo siang segera saling berpandangan sambil tertawa.

Pit tee jiu Wong Tin pak segera berkata :

“Silahkan ciangbunjin mempergunakan kecerdasan otakmu untuk membebaskan tali simpul tersebut, bila simpul itu dapat dibuka, kitab Thian liong pit kip bisa diambil.”

Thi Eng khi berusaha keras untuk membuka tali simpul itu dengan pelbagai cara, tapi sama sekali tiada hasilnya, malahan semakin dibuka tali itu semakin kencang.

Satu ingatan lantas melintas dalam benaknya, sambil mendongakkan kepala dia bertanya :

“Tolong tanya supek, apakah pun ciangbunjin harus bisa membuka tali simpul tersebut baru bisa melatih ilmu yang tercantum didalam kitab pusaka Thian lion pit kip.”

“Memang demikian tujuannya!” sahut Pit tee jiu Wong Tin pak dengan kening berkerut.

Thi Eng khi lantas manggut-manggut pikirnya :

“Mungkin yang menjadi tujuannya adalah untuk mencoba kebesaran jiwa seorang ciangbunjin ”

Berpikir sampai disitu, dia lantas tertawa nyaring.

“Baik!” katanya, “Siautit tak akan membuat kecewa kalian semua

............!”

Ketika mendongakkan kepalanya, tiba-tiba tampak olehnya didinding sebelah kiri sana tergantung sebilah pedang antik, cepat dia meloloskan senjata tersebut hingga seluruh ruangan diliputi oleh cahaya keemas-emasan.

Sekalipun Thi Eng khi tak bisa membedakan mana pedang yang baik dan mana pedang yang jelek, tapi tidak sulit baginya untuk menebak bahwa pedang tersebut adalah sebilah pedang mestika. Pelan-pelan dia mengangkat pedangnya dan diayunkan ke atas tali simpul itu, tampak cahaya pedang berkelebat, tahu-tahu simpul tersebut sudah putus menjadi beberapa bagian.

Mula-mula Thian liong ngo siang menjerit kaget, menyusul kemudian mereka segera bersorak gembira.

Rupanya merekapun dapat memahami arti dari simpul mati itu.

Hanya seorang enghiong yang berjiwa besar dan bersemangat gagah baru akan mengambil tindakan demikian, sebab itulah yang diperlukan bagi seorang ketua dari Thian liong pay.

Setelah mengembalikan pedang antik itu ke tempat semula, Thi Eng khi baru membuka kotak kemala tersebut untuk diambil kitabnya.

Siapa tahu, begitu melongok ke dalam kotak tersebut, kontan saja ia menjerit kaget:

“Aaaah mana kitab pusaka Thian liong pit kipnya?”

Ternyata dalam kotak kemala itu selain secarik kertas, tidak nampak sesuatu apapun.

Paras muka Thian liong ngo sing segera berubah hebat, mereka saling berpandangn dengan wajah tertegun.

Sekalipun Thi Eng khi merasa amat kecewa namun dia masih dapat menenangkan hatinya, diambil surat itu kemudian dibaca dengan lantang :

“Anggota partai kita tiada manusia berbakat, keturunan pun tak punya, kitab pusaka Thian liong pit kip telah kubawa pergi seandainya Thian tidak menakdirkan partai kita musnah, kitab pusaka ini akan dibawa kembali oleh ciangbunjin angkatan kesebelas.”

Tertanda : Thi Keng tahun x bulan x tanggal x Waktu yang dicantumkan ternyata adalah saat dimana kakek itu pergi meninggalkan tempat tersebut.

Pit tee jiu Wong Tin pak segera menghela napas sedih, katanya kemudian :

“Dari sini bisa diketahui kalau Insu selalu murung karena memikirkan masa depan partai kita, cuma dia orang tua telah meninggal di tempat lain, dalam surat wasiatpun tidak menyinggung soal itu, sudah pasti dia mati dengan membawa sesal, entah kitab pusaka Thian liong pit kip sekarang telah terjatuh ditangan siapa?”

“Sudah pasti ditelan oleh Tiang pek lojin yang menghantar surat wasiat itu pulang” seru Sin lui jiu Kwan Tin see dengan marah bercampur dendam, “Eng ji, kau segera berangkat dan cari Tiang pek lojin sampai ketemu.”

“Jika urusan ini tidak dilihat dengan mata kepala sendiri, lebih baik jangan sembarangan menuduh,” cegah Sam ciat jiu Li Tin tang cepat. “Tiang pek lojin adalah seorang pendekar sejati, andaikata orangnya tidak bisa dipercaya, bagaimana mungkin Insu menitipkan surat wasiat itu kepadanya? Tentu saja kitab pusaka itu musti diselidiki tapi tak usah terburu napsu, yang penting sekarang adalah melatih ciangbun sutit dengan rangkaian ilmu silat perguruan yang kita pahami, agar obat mustika yang berada dalam tubuh ciangbun sutit bisa mulai bercampur baur dengan kekuatan tubuhnya, setelah itu baru kita bicarakan kembali soal kitab pusaka Thian liong pit kip.”

“Tapi harus menunggu sampai kapan?” seru Sin lui jiu Kwan Tin see.

“Paling tidak juga harus menunggu sampai lima tahun lagi!”

Pit tee jiu Wong Tin pak segera menghembuskan napas panjang, serunya dengan kesal :

“Meskipun lima tahun itu panjang tapi kalau dibandingkan dengan lima belas tahun yang sudah lewat, waktu sepanjang itu juga tidak terhitung seberapa! Lima belas tahun saja bisa kita tunggu, masakan menunggu lima tahun lagipun tak bisa?” Paras muka Thian liong ngo siang berubah menjadi amat sedih dan murung, menanti ........ menanti seakan-akan soal

menanti sudah bukan menjadi suatu masalah lagi bagi mereka.

Sementara Thian liong ngo siang merasa bersedih hati, Thi Eng khi yang baru semalam menjabat sebagai ketua Thian liong pay juga sedang berdiri memandang patung cousu nya sambil termangu- mangu, entah apa saja yang dipikirkan olehnya.

Terbayang kembali sejarah Thian liong pay di masa lalu yang begitu jaya dan mentereng, makin dipikir pemuda itu merasa tanggung jawab yang dibebankan diatas bahunya semakin berat.

Sejarah gemilang dari Thian liong pay diperoleh dari sumbangsih Thian liong pay terhadap keselamatan dunia persilatan. Atau dengan perkataan lain, kebangkitan Thian liong pay juga harus ikut bertanggung jawab pula atas ditegakkannya kebenaran dan keadilan dalam dunia persilatan.

Kalau ditinjau dari pembicaraan Ban li tui hong Cu Ngo serta disebarnya undangan Bu lim tiap oleh pihak perkampungan Ki hian san ceng dibukit Hong san, bisa diduga kalau dunia persilatan sedang terancam oleh mara bahaya.

Berpikir sampai disitu, Thi Eng khi segera mengambil keputusan di dalam hatinya, sambil memandang wajah Thian liong ngo siang, ujarnya dengan suara dalam :

“Lima tahun adalah suatu jangka waktu yang terlalu panjang, padahal ancaman dunia persilatan telah diambang pintu, untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, Thian liong pay mana boleh memisahkan diri diluar garis? Oleh karena itu, siautit bermaksud untuk berangkat besok juga, aku akan berkunjung ke perkampungan Ki hian san ceng di bukit Hong san serta ikut menyumbangkan tenaga kita bagi ditegakkannya keadilan dan kebenaran. Siautit rasa, dengan kemampuan yang kumiliki sekarang, mungkin masih bisa mengatasi segala kesulitan yang ada.”

Ucapan yang begitu gagah perkasa ini membuat Thian liong ngo siang tak mampu untuk mengucapkan kata-kata tidak setuju. Semua orang menjadi terbungkam dalam seribu bahasa, akhirnya Pit tee jiu Wong Tin pak, menghela napas panjang, katanya :

“Bila ciangbun sutit ingin mengubah kekuatan Sian thian bu khek ji gi sin kang yang berada di tubuhmu dari kekuatan yang tersimpan menjadi kekuatan sesungguhnya, caranya gampang sekali. Asal kau mengingat beberapa kata sandi yang penting ini, maka dalam latihan tiga hari saja semua kehendakmu bisa tercapai, cuma sekalipun demikian, kamu masih belum bisa beradu kekuatan dengan mereka, sebab hal ini hanya akan melemahkan kedudukan partai kita saja.”

Rupanya ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang yang diwariskan Kay thian jiu Gui Tin tiong kepada Thi Eng khi tersebut hanya cara untuk menghimpun tenaga, untuk menghindari kecurigaan Thi hujin, sengaja dia tidak mewariskan cara untuk mengerahkan tenaga, meski demikian hal tersebut sama sekali tidak mempengaruhi latihannya, asal mendapat pengerahan yang tepat maka keadaan tersebut masih bisa diatasi.

Demikian, ketika Thi Eng khi mendengar perkataan dari Pit tee jiu Wong Tin pak tadi, sambil tertawa ia lantas menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya :

“Kepergianku ke bukit Hong san kali ini hanya ingin menunjukkan solidaritas partai kita dengan partai-partai persilatan lainnya, kita hanya akan menyumbangkan kecerdasan kita, dan bukan beradu kekuatan, jadi soal ilmu silat masih belum diperlukan, harap supek tak usah kuatir...!”

Sam ciat jiu Li Tin tang mengangguk berulang kali.

“Bila ingin membangun kembali nama besar Thian liong pay, kita memang tak bisa melepaskan diri dari persoalan dunia persilatan, tindakan semacam ini memang sangat diperlukan sekali, cuma persoalannya sekarang adalah partai kita tidak memperoleh undangan ” 

“Huuuh ! Sangkoan loji itu manusia macam apa?” teriak Sin lui

jiu Kwan Tin see dengan suara lantang, “empat puluh tahun berselang, ketika mengikuti di belakang Insu hak untuk turut berteriakpun belum punya, sekarang saja lagaknya luar biasa, malah berani pandang rendah partai kita, benar-benar keterlaluan!”

San tin jiu Oh Tin lam tertawa.

“Losu tak usah marah-marah,” katanya, “sekalipun Sangkoan loji tak punya aturan, dengan mengandalkan keadaan kita yang setengah hidup setengah mati, apa yang bisa kita lakukan?”

Sin liu jiu Kwan Tin see yang dikatai demikian hanya bisa melototkan matanya lebar-lebar sambil menghela napas panjang.

“Anak Eng, ibu mendukung tindakanmu ini!” seru Thi hujin Yap Siu ling sambil tertawa.

“Asal tujuan kita tulus, peduli amat dengan sikap orang lain terhadap kita, “ucap Pit tee jiu Wong Tin pak pula. “Ciangbun sutit gagah perkasa dan, baiklah! Harap kau suka menunggu lima hari, dalam lima hari ini kami akan membantumu sebisanya.”

“Terima ksih atas kebaikan para supek dan susiok.”

Perkampungan Ki hian san ceng sesungguhnya bukan terletak diatas bukit Hong san melainkan berada di kaki bukit sebelah utara dari bukit tersebut, masuk dari mulut bukit lalu berbelok ke kanan.

Di depan pintu perkampungan terdapat sepasang patung siang yang tinggi dan besar.

Diatas pintu gerbang terpancang sebuah papan nama yang bertuliskan empat huruf besar : “Ki hian san ceng”

Empat huruf besar yang berwarna keemas-emasan.

Suasana dalam perkampungan waktu itu sangat hening dan sepi, tak kedengaran sedikit suarapun. Seorang sastrawan berbaju biru yang berwajah gagah berdiri ditengah lapangan pintu depan, sebilah pedang antik tersoren di pinggangnya, meski lemah lembut tapi kelihatan amat gagah.

Lama sekali sastrawan berbaju biru itu berjalan bolak balik di tengah lapangan akhirnya dia berhenti seraya berguman :

“Tampaknya perkampungan ini sama sekali tiada penjagaan, jangan-jangan aku telah salah mengingat waktu? Masa waktu pertemuan bukan hari ini. ?”

Mendadak terasa ada segulung angin lembut berhembus lewat dari sisi tubuhnya ketika dia coba mengamati, ternyata ada seorang kakek bungkuk sedang berjalan berjalan menuju ke dalam perkampungan.

Menyusul kemudian, dari balik perkampungan itu terdengar seseorang berseru lantang :

“Sin lo tuo (unta sakti) locianpwe telah tiba!”

Mendengar suara itu, tersenyumlah pemuda berbaju biru tersebut, segera gumannya:

“Oooh aku kelupaan bahwa pertemuan ini adalah suatu

pertemuan rahasia, tentu saja penyambutnya tidak akan berdiri diluar perkampungan sambil memasang aksi.”

Berpikir sampai disitu, dia lantas beranjak dan berjalan ke dalam perkampungan.

Di balik pintu perkampungan juga terbentang sebuah lapangan luas, dua baris lelaki kekar berdiri di kiri kanan pintu, mereka berdiri dengan senjata terhunus sehingga suasana tampak amat serius.

Disiplin orang-orang itu sangat tinggi, sekalipun berjumlah banyak tapi suasana amat hening tak kedengaran sedikit suarapun, karena itulah kalau yang berada di luar perkampungan sama sekali tak akan menyangka kalau dibalik perkampungan tersebut terdapat begitu banyak jago yang sedang berdiri dengan senjata terhunus. Baru saja sastrawan berbaju biru itu melangkah masuk ke dalam pintu perkampungan, seorang pemuda berjubah panjang segera menyambut kedatangannya dengan senyum dikulum :

“Harap cianpwe memperlihatkan undangan dari perkampungan kami, agar bisa diberikan laporan ke dalam guna penyambutan.”

Sebetulnya sastrawan berbaju biru itu akan menyambut dengan wajah dihiasi senyuman, akan tetapi setelah teringat kalau dirinya adalah ketua dari suatu perguruan besar, tiba-tiba dengan wajah serius sahutnya keren :

“Aku adalah ketua Thian liong pay Thi Eng khi, khusus datang kemari untuk menyambangi Sangkoan lo cengcu!”

Ia tidak mempunyai surat undangan, itulah sebabnya terpaksa harus mengutarakan identitasnya.

Tampaknya pemuda itu kena digertak oleh kedudukannya sebagai seorang “ciangbunjin” ia tak berani menanyakan soal undngan lagi kepada Thi Eng khi, tapi iapun tidak mempersilahkan tamunya untuk masuk, sahutnya berulang kali :

“Baik! Baik! Harap Thi ciangbunjin menunggu sebentar!”

Dengan cepat dia menyelinap masuk ke dalam pintu ruang kedua yang membentang di depan mata itu.

Tak lama kemudian, pemuda itu muncul kembali bersama seorang lelaki kekar berusia tiga puluh tahunan yang berbaju parlente.

Lelaki berbaju parlente itu memiliki sepasang mata yang tajam bagaikan sembilu, sekalipun Thi Eng khi tidak cukup berpengalaman, dia juga tahu kalau tenaga dalam yang dimiliki orang ini tidak lemah.

Lelaki berbaju parlente itu langsung berjalan ke hadapan Thi Eng khi, kemudian dengan penuh rasa hormat, katanya :

“Aki bernama Sangkoan Gi.”

Lalu sambil menuding pemuda tampan tadi , dia melanjutkan, “Dan dia adalah keponakan kami Sangkoan Beng, tolong tanya ada urusan apa Thi ciangbunjin berkunjung kemari?”

Thi Eng khi segera berpikir.

“Dengan jelas dia tahu kalau kedatanganku kemari adalah untuk menjumpai cengcu, mengapa ia musti banyak bertanya lagi?”

Pada mulanya, pemuda ini hanya seorang anak sekolahan, maka melihat orang berbicara sambil tersenyum , tentu saja dia tak bisa mencari gara-gara terpaksa dia mengulangi kembali maksud kedatangannya.

“Aku masih muda dan berpengalaman cetek, entah Sangkoan tayhiap dan Sangkoan cengcu ”

Sangkoan su kita terdiri dari Sangkoan Tiong, Sangkoan Siau, Sangkoan Jin dan Sangkoan Gi, mereka semua bukan manusia atas bernama dalam dunia persilatan, sekalipun Thi Eng khi mengajukan pertanyaan tersebut karena dia benar-benar tak pernah mendengar nama Sangkoan Su kiat, tapi dalam pendengaran Sangkoan Gi justru ucapan tersebut sangat tak sedap didengar.

Dengan kening berkerut tapi masih bsersikap sopan Sangkoan Go segera menjawab.

“Dia orang tua adalah ayahku!”

Begitu mengetahui kalau Sangkoan Gi adalah sau cengcu dari perkampungan Ki hian san ceng, Thi Eng khi menjadi girang sekali, cepat serunya.

“Harap Sangkoan tayhiap suka memberi laporan ke dalam, katakan bahwa aku ada persoalan hendak dibicarakan dengan ayahmu!”

Untuk menjaga nama baik perkampungan Ki hian san ceng dimata orang, Sangkoan Gi terpaksa menyahut. “Oooh ! Kedatangan Thi ciangbunjin sungguh sangat tidak

kebetulan, beberapa hari berselang ayahku telah turun gunung dan sampai sekarang belum pulang, entah Thi ciangbunjin tinggal dimana? Silahkan meninggalkan alamat, bila ayahku sudah pulang nanti, pasti akan kusampaikan.”

Ucapan tersebut cukup jelas, yakni perkampungan Ki hian san ceng tidak berniat untuk menyambut kedatangan ketua dari Thian liong pay ini.

Manyaksikan maksud baiknya dibalikin orang, Thi Eng khi mengernyitkan alis mata nya , kemudian dengan menahan diri serunya kembali :

“Sesungguhnya aku datang untuk mengikuti pertemuan rahasia yang sedang diselenggarakan disini, harap Sangkoan tayhiap segera masuk ke dalam untuk memberi laporan.”

Paras muka Sangkoan Gi kontan saja berubah hebat, cepat-cepat serunya :

“Perkampungan kami sama sekali tidak menyelenggarakan pertemuan apa-apa, mungkin Thi ciangbunjin telah salah mendengar!”

Pada ssat itulah, tiba-tiba dari luar pintu berjalan masuk seorang pendeta tua berjubah abu-abu, bersenjata tongkat baja dan berwajah ramah dan penuh asih.

Begitu menjumpai kemunculan pendeta itu buru-buru Sangkoan Gi meninggalkan Thi Eng khi untuk menyambut kedatangannya, setelah memberi hormat katanya :

“Ayah telah menantikan kedatangan taysu di ruang tengah, silahkan masuk ke dalam taysu!”

Tanpa memeriksa kartu undangannya lagi, dia mempersilahkan hwesio itu untuk masuk ke dalam ruangan.

Melihat kesemuanya itu, Thi Eng khi selain merasa mendongkol juga gusar, baru saja dia bermaksud untuk menerjang masuk kedalam ruangan, tiba-tiba Sangkoan Gi telah melayang kembali di hadapannya.

Terpaksa sambil menahan sabar dia menegur : “Siapakah pendeta agung tadi?”

Dengan perasaan tak sabar Sangkoan Gi menyahut : “Ci kay taysu dari partai Siau lim!”

“Tolong tanya apa kedudukan Ci Kay taysu didalam kuil Siau lim si?” kembali Thi Eng khi bertanya.

Sangkoan Gi mengira Thi Eng Khi sudah tahu pura-pura bertanya dengan maksud untuk menggodanya, sebab didalam anggapannya setiap umat persilatan pasti mengenali siapakah empat Kim kong dari kuil Siau lim si, maka sambil menarik mukanya sehingga berubah menjadi dingin bagaikan es, dia berkata :

“Salah satu seorang Kim kong dari kuil Siau lim si, kedudukannya adalah seorang huhoat!”

Thi Eng khi bertanya lebih jauh :

“Apakah dia adalah murid pertama dari ketua Siau lim pay?”

Makin didengar Sangkoan Gi merasa semakin tak karuan perasaannya, kontan saja dengan mata melotot sahutnya keras- keras :

“Empat Toa kim kong dari Siau lim si adalah sute dari ketua partai Siau lim si, Thi ciangbunjin! Jawabanku ini cukup memuaskan bukan!”

Menyaksikan jawaban Sangkoan Gi makin lama semakin tak tahu sopan santun, berkobar hawa amarah dalam hatinya, serunya kemudian dengan suara lantang :

“Aku sebagai seorang ciangbunjin apakah tidak bisa menandingi seorang huhoat dari Siau lim si? Mengapa aku tak boleh memasuki pintu gerbang perkampungan kalian? Harap Sangkoan tayhiap memberi penjelasan!” Sangkoan Gi tak mau mengalah, serunya pula keras-keras : “Sekalipun Thi ciangbunjin adalah seorang ketua dari suatu perguruan, bila tiada surat undangan dari perkampungan kami,

jangan harap bisa memasuki ruangan kami.”

Dengan mata kepala sendiri kusaksikan Ci kay taysu agaknya tak pernah mengeluarkan surat undangannya, apakah Sangkoan tayhiap sengaja hendak membuat susah diriku?”

Sangkoan Gi tertawa dingin.

“Nama besar Ci kay taysu sudah tersohor di seluruh dunia persilatan, setiap orang mengenalinya, bila Thi ciangbunjin ingin dibandingkan dengan dirinya hmm! Masih kelewat pagi.”

“Sangkoan tayhiap!” bentak Thi Eng khi dengan suara gusar, “jika kau tetap bersikeras dengan jalan pemikiranmu itu, terpaksa aku akan melangkah masuk sendiri!”

Untuk sesaat lamanya Sangkoan Gi terpengaruh oleh kewibawaannya yang amat besar itu tanpa sadar dia menyingkir ke samping untuk memberi jalan lewat.

Tapi belum sampai dia menyusul ke depan, tampak keponakannya Sangkoan Beng telah menghadang jalan pergi Thi Eng khi dengan senyuman cengar-cengir.

Usia Sangkoan Beng selisih tidak terlalu banyak dibandingkan dengan Thi Eng khi, tapi berhubung dia dibesarkan dalam lingkungan keluarga persilatan yang berpengaruh, maka sedikit banyak sikapnya agak angkuh dan tinggi hati.

Diam-diam ia menyesal mengapa tidak bisa menahan diri ketika digertak lawannya tadi sehingga dia kehilangan muka dan harus mengundang paman susioknya untuk menyelesaikan persoalan ini, dia merasa tindakannya itu berakibat dia kehilangan muka.

Maka ketika dilihatnya Sangkoan Gi agak kewalahan untuk menghalangi masuknya Thi Eng khi kedalam ruangan, cepat-cepat dia maju kedepan untuk mengatasinya. Dia telah bertekad untuk menghalangi Thi Eng khi masuk ke dalam perkampungan Ki hian san ceng, karena kalah pengaruh bila sama-sama serius, maka dia ambil sikap tertawa cengar-cengir untuk menghadapi lawannya.