Pukulan Naga Sakti Jilid 01

 
Jilid 01

Sebuah sungai yang beberapa kaki lebarnya terbentang dari arah bukit sampai di sekeliling sebuah bangunan kuno yang besar dan kokoh, bunyi air yang mengalir mendatangkan suasana yang amat nyaman di sekitar tempat itu.

Di depan bangunan tadi tergantung sebuah papan nama, ketika dilihat lebih teliti maka lamat-lamat masih dapat terbaca tulisannya, itulah tulisan yang berbunyi : “Bu-lim-tit-it-keh” (rumah nomor wahid di seluruh dunia persilatan)

Sebutan Bu-lim-tit-it-keh adalah suatu sebutan yang amat agung dan terhormat, tapi sayang bangunan rumah itu sudah lapuk dimakan usia, huruf-huruf yang tertera diatas papan nama itupun sudah luntur dan buram sehingga mendatangkan suasana yang menggenaskan di hati orang.

Ketika membaca lagi nama-nama yang menandatangani sebutan mulia diatas papan nama itu, maka terbacalah nama-nama dari para Ciangbunjin partai Siau Lim, partai Bu tong serta jago-jago kenamaan atau tokoh-tokoh tersohor dari dunia persilatan.

Dari sini dapat diketahui betapa anggun dan berwibawanya keluarga dari rumah tersebut.

Tapi siapakah penghuninya? Mengapa ia bisa memperoleh penghormatan yang begitu mulia dari seluruh umat persilatan? Dan sekarang, mengapa pula bisa berubah demikian menggenaskan?

Empat puluh tahun berselang, ketua angkatan ke sembilan dari partai Thian liong-pay Keng thian giok cu (tangan sakti penyungging langit) Thi Keng dengan ilmu silatnya yang maha sakti memimpin para jago dari seluruh dunia untuk menyerbu lembah Kiu im lok aun kok, dimana dengan sebilah pedang kim-soat-liong-jiau kiam ia berhasil membunuh empat puluh delapan orang jago paling tangguh, anak buah gembong iblis waktu itu Kay hui eng (elang terbang menguasai jagad) Ui It-peng. Kemudian dengan suatu pertarungan kilat berhasil membunuh Ui It-peng sendiri tak sampai lima puluh gebrakan, hingga berhasil menolong dunia persilatan dari ancaman kehancuran.

Setelah peristiwa itu, atas usulan dari ketua partai Siau lim serta partai Bu tong, bersama-sama tokoh persilatan lainnya ketika itu menghadiahkan gelar “Bu lim tit it keh” tersebut untuk Keng thian giok cu Thi keng sebagai pelampiasan rasa terima kasih dan hormatnya para jago terhadap jasa-jasanya selama ini. Waktu berlalu amat cepat, tanpa terasa dua puluh tahun sudah lewat.

Suatu ketika, mendadak dari dalam dunia persilatan tersiar kabar yang memberitakan bahwa Keng thian giok cu Thi keng serta putra kesayangannya Giok bin Coan cu (Coan cu berwajah kemala) Thi Tiong giok secara beruntun lenyap dari keramaian dunia persilatan, kemudian tak lama lagi tersiar pula berita tentang kematian mereka.

Menyusul kemudian, terjadi pula serentetan peristiwa aneh, hanya dalam semalaman ternyata Thian liong pay telah membubarkan segenap anggota perguruannya dan mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan.

Maka nama besar Thian liong pay dalam dunia persilatan pun kian hari kian bertambah merosot. Pada mulanya orang-orang masih menaruh perasaan sayang, menaruh perasaan kuatir dan kasihan atas musibah yang menimpa perguruan itu.

Tapi lambat laun, orang persilatan mulai melupakan perguruan tersebut dari benak mereka.

Hari itu, ketika senja menjelang tiba dan sang surya mulai condong kearah barat, seorang pemuda tampan berusia delapan- sembilan belas tahun sedang duduk ditepi sungai yang penuh dengan rindangnya pohon Liu sambil melamun.

Tak hentinya wajah yang tampan itu dihiasi senyuman getir, daun kering selembar demi selembar dilemparkan ke dalam sungai dan dibiarkan terbawa arus pergi ke tempat jauh.

Sudah lama dia melamun disitu, berpuluh-puluh lembar sudah daun kering yang dilemparkan ke dalam sungai.....

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, bangkit berdiri dan berguman seorang diri :

“Thi Eng khi wahai Thi Eng khi! Apakah kau rela hidup kesepian terus sepanjang masa?” Mendadak suara pekikan panjang yang amat keras berkumandang memecahkan keheningan, paras mukanya segera berubah, dengan mata yang tajam dia awasi sekeliling tempat itu, kemudian dengan langkah cepat memburu dari arah mana berasalnya suara tadi.

Peristiwa itu terjadi di sebuah jalan raya kurang lebih puluhan kaki dari gedung Bu lim tit it keh tersebut, ketika Thi Eng Khi menyusul ke tempat kejadian maka terlihatlah seorang jago persilatan yang berbaju ringkas telah tergeletak diatas genangan darah dalam keadaan yang amat kritis.

Pemuda itu menjadi tertegun dan berdiri termangu setelah menyaksikan kejadian itu, untuk sesaat dia tak tahu apa yang harus dilakukan.

Seharusnya dia adalah majikan angkatan ketiga dari gedung Bu lim tit it keh tersebut, berdasarkan asal usul serta sejarah keluarganya, bagaimanapun tidak sepantasnya kalau ia menunjukkan sikap seperti itu.

Tapi oleh karena pelbagai alasan, bukan saja ia tak dapat menikmati kejayaan serta kemuliaan yang diperoleh kakeknya, malah sebaliknya ia terikat oleh peraturan leluhurnya dan sama sekali tak mampu untuk mengembangkan sayapnya.

Ketika mendengar suara kaki dari Thi Eng khi tadi, lelaki yang terluka parah itu segera membuka matanya yang sayu dan memaksakan diri untuk berbisik :

“Soo... sobat....ber.... bersediakah kau un...untuk menolong....

see.... seorang yang hampir maa mati?”

Thi Eng Khi bukan seorang yang bernyali kecil, hatinya juga tidak dingin dan kaku, sikap gelagapan yang diperlihatkan tadi tak lebih hanya ungkapan rasa kagetnya menghadapi peristiwa semacam itu.

Tapi setelah lelaki itu memohon dengan suara terbata-bata, semangat ksatrianya segera berkobar kembali, tanpa ragu-ragu dia memayang bangun lelaki itu, membiarkan tubuh lelaki tersebut bersandar pada lengan kirinya kemudian ujarnya :

“Sobat! Siauseng….. siauseng bersedia membantumu cuma....

cuma ”

Rupanya lelaki yang terluka parah itu memahami ucapan lawan diapun tak tahu bukannya dia enggan membantu adalah dia tak tahu bagaimana harus membantu maka kembali ucapnya :

“Daa ..... dalam sakuku ter.... terdapat obat berwarna kuu....

kuning .... tolong aaam…. ambilkan dan berikan berapa bii. biji

kepadaku!“

Dengan cepat, Thi Eng khi membuka sakunya dan mengeluarkan dua buah botol obat, benar juga salah satu diantaranya berwarna kuning. Tanpa pikir panjang lagi, dia segera mengeluarkan semua obat itu dan dijejalkan ke dalam mulutnya.

Waktu itu, luka yang diderita lelaki tersebut sangat parah, tenggorokan serta lidahnya sudah mengering, bagaimana mungkin ia bisa menelan obat-obat itu? Sayang, ia tak mampu berbicara dan cuma membalikkan matanya yang sayu saja.

Thi Eng khi bukan anak bodoh, ia lantas memahami keadaan tersebut, sambil tertawa getir dia lari pulang ke rumah, mengambil semangkuk air dingin dan dilolohkan ke dalam mulut lelaki itu berikut obatnya.

Setelah menelan obat, lelaki itu mengatur pernafasan sejenak, paras mukanya pelan-pelan berubah kembali, akhirnya dengan payah dia berkata :

“Aku Ban li tui hong (selaksa li pengejar angin) Cu Ngo, terima kasih banyak atas bantuan tuan kongcu!“

Ia menyebut dahulu namanya karena dalam dunia persilatan orang ini pun mempunyai sidikit nama, dia berharap Thi Eng khi jangan sampai memandang rendah dirinya.

Siapa tahu Thi Eng khi sama sekali tidak mengerti soal dunia persilatan, setelah mendengar nama Ban li tui hong pun wajahnya tidak memperlihatkan sikap menaruh hormat hanya serunya dengan nada datar :

“Cu tayhiap, rumahku tak jauh letaknya dari sini, bagaimana kalau kubopong dirimu ke rumah untuk beristirahat dulu.“

Agaknya Ban li tui hong Cu Ngo merasa agak kecewa, ia segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Terima kasih, aku tak perlu! Aku tahu lukaku cukup parah dan tipis harapannya untuk hidup lebih jauh, menggunakan waktu yang teramat singkat ini, aku ingin menitipkan suatu persoalan besar kepada kongcu!“

“Katakan Cu tayhiap, asal siauseng sanggup untuk melaksanakannya, pasti tak akan kutampik!“

Dengan perasaan terima kasih Ban li tui hong Cu Ngo menghela napas panjang, katanya kemudian :

“Beberapa tahun belakangan ini, dalam dunia persilatan telah muncul seorang gembong iblis berhati kejam yang memiliki ilmu silat amat dahsyat, gembong iblis itu khusus memusuhi para partai besar dan jago-jago golongan lurus dalam dunia persilatan, hingga kini jago-jago yang sudah terluka ditangannya antara lain adalah Ci kong taysu dari Siau lim lo han tong, Pek soat cinjin susiok dari Hian to totiang ketua Bu tong pay, Kim kiam to liong (pedang emas pembunuh naga) Lu Bong ko dari partai Hoa san, Sam siang siansu (pelajar dari Sam siang) Tiok It hon, Wu san popo (nenek dari Wu san) Ban Hi serta puluhan orang jago lihay.“

Setelah berhenti sebentar, kembali dia bertanya :

“Kongcu pernahkah kau dengar nama-nama dari kawanan jago lihay yang baru kusebut tadi?“

Thi Eng khi segera menggelengkan kepalanya berulang kali. “Siauseng amat asing terhadap jago-jago lihay dari dunia

persilatan ,“ sahutnya.

Sekali lagi Ban li tui hong Cu Ngo menghela napas panjang. “Aaaai. kalau begitu mungkin kongu juga tidak tahu siapakah

tokoh nomor wahid dari dunia persilatan sekarang Cang ciong sin kiam (pedang sakti seantero jagad) Sangkoan Yong, Sangkoan tayhiap itu?”

Thi Eng khi cuma tertawa lirih sebagai pertanda rasa sesalnya atas ketidak mampuannya.

Ban li tui hong Cu Ngo segera berkata lebih jauh :

“Kongcu tidak mengerti soal urusan dunia persilatan, akupun tak akan menjelaskan lebih jauh, pokoknya Cang cong sian kiam Sangkoan tayhiap yang merasakan adanya ancaman berbahaya yang mengancam keutuhan dunia persilatan telah menyebarkan Bu-lim tiap (surat undangan dunia persilatan) untuk mengundang kehadiran para ketua partai besar serta tokoh-tokoh ternama dari dunia persilatan untuk bersama-sama berkumpul di perkampungan Ki hian san ceng di bukit Hong san untuk bersama-sama merundingkan siasat guna membasmi iblis tersebut dari muka bumi. Aku mendapat tugas untuk menyebar surat undangan tersebut, sungguh tak disangka ketika lewat disini mendapat disergap orang dan surat undangan dirampas olehnya ”

Belum habis dia berkata, dengan sinar mata tak berkedip Thi Eng khi telah menukas:

“Oooh ! Rupanya Cu tayhiap akan mengirim surat undangan

buat Thian liong pay. Siauseng segera akan mengundang kedatangan dari ketua Thian liong pay, empek Gui untuk menemui dirimu, harap lo siangseng beristirahat dulu disini, bila nanti ada persoalan silahkan dibicarakan sendiri kepada empek Gui.”

Thi Eng khi sudah membalikkan badan siap meninggalkan tempat itu, tapi dengan napas tersengkal Ban li tui hong Cu Ngo kembali berseru :

“Tunggu dulu kongcu! Aku belum sempat menanyakan namamu!” “Siauseng she Thi bernama Eng khi!”

Seusai berkata kembali dia beranjak pergi. Agaknya Ban li tui hong Cu Ngo tidak ingin mengganggu ketenangan ketua Thian liong pay, cepat-cepat serunya kembali :

“Ketua Thian liong pay yang dulu, Keng thian giok cu Thi keng, Thi locianpwe apakah keluarga kongcu?”

“Yaa, dia adalah mendiang kakekku!” sahut Thi Eng khi sedih.

Dengan agak tercengang Ban li tui hong Cu Ngo berseru kembali

:

“Kalau kudengar dari pembicaraan kongcu, mengapa kau seperti

bukan anggota perguruan Thian liong pay?”

Thi Eng khi segera menghela napas panjang.

“Aaai... dalam pesan wasiatnya, mendiang kakekku telah menurunkan perintah untuk melarang aku belajar ilmu silat, maka dari itu aku tidak bisa terhitung sebagai anggota perguruan Thian liong pay!”

Ban li tui hong termenung sebentar, kemudian katanya lagi : “Kalau kongcu memang bukan anggota Thian liong pay, lebih

baik tak usah merepotkan ketua Thian liong pay, Gui tayhiap lagi.”

Thi Eng khi berpikir sebentar, kemudian sahutnya :

“Baiklah, soal menghantar undangan untuk Thian liong pay, biar siauseng saja yang mewakilimu toh sama saja.“

Tiba-tiba dengan wajah rikuh Ban li tui hong Cu Ngo berkata : “Undangan yang dibagi Sangkoan tayhiap kali ini disebar oleh sekelompok orang, sedang undangan yang seharusnya kusampaikan

adalah undangan Im-gi-siu (kakek awan) Sang Thong, San locianpwe dari bukit Mong san. Maaf! Undangan buat Thian liong pay tidak berada ditanganku ”

Thi Eng khi memang tiada pengalaman sama sekali soal dunia persilatan, merasa ucapan tersebut masuk diakal juga, maka diapun tidak berkata apa-apa lagi. Siapa tahu, pada saat itulah tiba-tiba terdengar seseorang berkata sambil tertawa dingin :

“Cu tayhiap, ucapanmu itu agak kurang jujur, seandainya Thian liong pay mendapat undangan, memangnya tak bisa sekalian dibawakan kepada Cu tayhiap?”

Dengan cepat Thi Eng khi berpaling, tampak seorang kakek gemuk pendek berusia lima puluh tahunan yang berwajah merah seperti kepiting rebus, memakai jubah berwarna abu-abu yang penuh debu, jelas baru saja melakukan perjalanan jauh berdiri disana.

Setelah mengerdipkan matanya yang besar, dia lantas menjerit kaget, teriaknya :

“Empek Li, rupanya kau, Eng-ji memberi hormat kepadamu!” buru-buru ia membungkukkan badannya memberi hormat.

Ketika Ban li tui hong Cu Ngo menyaksikan kemunculan orang itu, wajahnya makin tersipu-sipu, setelah tertawa getir katanya :

“Li tayhiap, tidak diundangnya partai kalian hanya merupakan suatu kesilafan saja dari Sangkoan tayhiap, harap engkau jangan menaruh salah paham karena persoalan ini.”

Sam ciat jiu (si tangan sakti) Li Tin tang atau kakek gemuk pendek itu sesungguhnya sedang berbicara dengan wajah merah, akan tetapi setelah menyaksikan seluruh badan Ban li tui hong Cu Ngo bermandikan darah, ia menjadi tak tega dengan senyuman yang dikulum segera katanya :

“Cu tayhiap, sudah banyak tahun kita tak pernah bersua, bila ada persoalan lebih baik bicarakan nanti saja.”

Seraya berkata dia lantas maju ke depan dan secara beruntun menotok jalan darah Ki bun, Jit kan, Ciang tay, Hian ki dan Jin tiong hiat lima buah jalan darah penting di tubuh orang itu.

Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, kata Ban li tui hong Cu Ngo :

“Luka yang siaute derita teramat parah, lebih baik Li tayhiap tak usah repot-repot lagi!” “Cu tayhiap!” Sam ciat jiu Li Tin tang dengan wajah serius, “Kau menderita luka di depan pintu gerbang Thian liong pay, itu berarti Thian liong pay berkewajiban untuk menolong dirimu, sekalipun dalam dunia persilatan sudah tiada tempat lagi buat Thian liong pay kami, bukan berarti orang-orang Thian liong pay enggan menolong orang. Sekalipun harus mengorbankan keempat biji obat mustika Toh mia kim wan warisan mendiang guru kami, kami pasti akan tetap berusaha untuk menolong jiwa Cu tayhiap !”

Sebenarnya Ban li tui hong Cu Ngo beranggapan bahwa tipis harapan baginya untuk hidup lebih jauh, akan tetapi setelah mendengar nama Toh mia kim wan (pil emas perenggut nyawa), semangatnya kontan saja berkobar kembali, tak tahan tanyanya:

“Apakah partai kalian masih memiliki sisa Toh mia kim wan?

Apakah kalian bersedia untuk mengorbankan sebutir buat siaute?”

Sekaligus dia mengajukan dua pertanyaan secara beruntun, tapi dalam hatinya tidak berani menaruh harapan yang terlalu besar.

Sam ciat jiu Li Tin tang segera mengangguk sambil tertawa, sahutnya lantang :

“Cu tayhiap, jelek-jelek Thian liong pay masih memiliki jiwa seorang ksatria, tanggung kau tak bakal mati. Sekarang hayolah turut aku untuk berjumpa dulu dengan ciangbun suheng kami.”

Dia lantas melepaskan sebuah totokan lagi untuk menotok jalan darah tidur di tubuh Ban li tui hong Cu Ngo, setelah itu sambil membopong badannya, kepada Thi Eng khi katanya :

“Anak Eng, dalam pertemuan hari ini kau juga boleh turut ambil bagian, hayolah ikut aku!”

Dengan jalan berseok-seok dia lantas melangkah lebih dulu meninggalkan tempat itu.

Sudah hampir lima tahun lamanya Thi Eng khi tak pernah berjumpa dengan paman ketiganya ini, maka sewaktu dilihatnya Sam ciat jiu Li Tin tang berjalan agak terseok seok dia menjadi terperanjat sekali. “Empek Li!” segera tegurnya, “apakah kakimu terluka?”

Sam ciat jiu Li Tin tang tertawa getir.

“Cuaca berubah-ubah, apalagi nasib manusia, luka kecil di kaki itu mah tidak terhitung seberapa!”

Thi Eng khi ingin tahu sebab-sebab terlukanya Sam ciat jiu Li Tin tang, maka dengan keheranan dia bertanya :

“Empek Li, mengapa kau sampai menderita luka?”

“Panjang kalau diceritakan,” sahut Sam ciat jiu Li Tin tang sambil mengangkat bahunya. “Sekarang lebih baik kau pulang dulu, setelah menyembuhkan luka dari Cu tayhiap nanti, kami masih ada banyak persoalan yang musti dibicarakan, nanti saja akan sekalian kuberitahukan kepadamu !”

Dalam waktu singkat, mereka sudah masuk lewat pintu samping dan menuju ke ruang utama gedung Bu lim tit it keh tersebut.

Waktu itu, seorang kakek berusia enam puluh tahunan yang memakai juga baju warna abu-abu sedang memandang keluar ruangan dengan termangu-mangu, seakan-akan ada sesuatu yang sedang dinantikan olehnya.

Ketika menyaksikan kemunculan Sam ciat jiu Li Tin tang, kulit wajahnya segera mengejang keras, buru-buru disambutnya kedatangan orang itu seraya menegur :

“Samte, apa yang telah terjadi denganmu?”

Sam ciat jiu Li Tin tang langsung berjalan masuk kedalam ruang tengah dan membaringkan tubuh Ban li tui hong Cu Ngo kelantai setelah itu jawabnya.

“Ciangbun suheng kebetulan siaute baru pulang dari Lak hap dan melihat Eng ji sedang menolong Ban li tui hong Cu tayhiap yang sedang terluka maka akupun membopongnya kembali, harap ciangbun suheng bersedia memberi bantuan pengobatan sehingga Eng ji bisa melakukan tugas kebajikannya sebagai manusia.” Ternyata kakek berambut putih yang berusia enam puluh tahunan ini adalah lotoa dari Thian liong ngo siang (lima kebacikan naga sakti) dan juga merupakan ketua Thian liong pay saat ini, Kay thian jiu (tangan sakti pembuka langit) Gui Tin tiong.

Sewaktu mendengar ucapan dari Li Tin tang tadi, mula-mula keningnya berkerut, kemudian sambil menghela napas panjang dia membungkukkan badan dan memeriksa luka yang diderita oleh Ban li tui hong Cu Ngo tersebut.

Tampaknya Kay thian jiu Gui Tin tiong memiliki kemampuan yang lumayan juga dalam soal ilmu pertabiban, baru saja tangan kirinya ditempelkan diatas urat nadi Ban li tui hong, alis matanya yang putih segera berkenyit rapat sehingga membentuk satu garis lurus.

Menyusul kemudian dengan gerakan cepat dia membuka pakaian Ban li tui hong Cu Ngo serta memeriksa dadanya, betul juga diatas kulit bagian dada itu terlihat sebuah bekas telapak tangan berwarna hitam pekat.

Sambil gelengkan kepala dan menghela napas, ia lantas berkata : “Cu tayhiap telah terhajar oleh pukulan Jit sa tui hun ciang, isi

perutnya sudah bergeser dan nadinya ada delapan sampai sembilan bagian yang telah putus, maaf Ih heng (kakak yang bodoh) tak mampu memberikan pertolongan!”

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan :

“Lebih baik kita tanyakan saja kepadanya mungkin ada pesan- pesan terakhir yang hendak disampaikan.”

Sehabis berkata, dia lantas menepuk bebas jalan darah Cu Ngo yang tertotok itu.

Begitu jalan darahnya dibebaskan, Ban li tui hong Cu Ngo lantas tersadar kembali dari tidurnya, ia tidak sempat mendengar ucapan dari Kay thian jiu Gui Tin tiong, tapi sempat mendengar Sam ciat jiu Li Tin tang sedang berkata :

“Toako, apakah pil mustika Toh mia kim wan tak mampu untuk menyelamatkan jiwa Cu tayhiap?“ “Pil mustika Toh mia kim wan adalah mustika dari perguruan kita, jangan toh cu tayhiap masih bisa bernapas, sekalipun napasnya sudah berhenti, asal denyutan nadinya masih berdetak lirih, tidak sampai dua jam sesudah menelan pil tersebut, dia tentu akan segar bugar kembali seperti sedia kala.“

“Ban li tui hong mendapat luka tepat di depan pintu gerbang perguruan kita persoalan ini mempengaruhi soal gengsi dan serta martabat perguruan kita dimata umum, aku pikir ada baiknya kalau kita mengorbankan sebutir pil Toh mia kim wan untuk menyelamatkan jiwa Cu tayhiap !“

“Samte!“ kata Kay thian jiu Gui Tin tiong dengan kening berkerut, “sekalipun ucapanmu masuk diakal, tapi bagaimana dengan Eng ji? Sisa tiga butir pil Toh mia kim wan tersebut kita siapkan untuk diberikan kepadanya!“

Menyinggung soal Thi Eng khi, Sam ciat jiu Li Tin tang menjadi ragu dan tak mampu berbicara lagi.

Thi Eng khi yang kebetulan berada disana, dengan cepat lantas berseru :

“Empek Gui, Eng ji lebih cuma seorang pelajar yang lemah, apalah arti Toh mia kim wan bagiku? Lebih baik kita gunakan untuk menyelamatkan jiwa Cu tayhiap.“

Kay thian jiu Gui Tin tiong termenung dan berpikir beberapa saat lamany, tiba-tiba terlintas kebulatan tekadnya, sambil menggigit bibir sahutnya :

“Baik! Demi Eng ji, kita tak bisa mendapat makian dari orang persilatan sebagai melihat orang yang hampir mati tak mau menolong.“

Dari sakunya dia mengeluarkan sebuah botol porselen berwarna biru dan mengambil sebutir pil warna merah dari dalamnya, bau harum semerbak segera tersiar dalam ruangan itu. Kay thian jiu Gui Tin tiong membuka mulut Ban li tui hong Cu Ngo dan menjejalkan pil Toh mia kim wan tersebut kedalam mulutnya.

Pil mestika itu memang lain daripada yang lain, begitu masuk ke dalam mulut segera mencair dan mengalir masuk ke dalam perut.

Kay thian jiu Gui Tin tiong segera mendudukkan Ban li tui hong Cu Ngo, setelah itu sambil menempelkan telapak tangan kanannya diatas pusar orang ujarnya :

“Harap Cu tayhiap segera mengerahkan tenaga dalam begitu semua hawa murni terhimpun kembali, agar daya kerja obat tersebut bisa menyebar ke seluruh bagian badan.“

Segulung hawa murni segera disalurkan ke dalam tubuh Ban li tui hong melalui telapak tangannya.

Pada saat Kay thian jiu Gui Tin tiong sedang memberikan pertolongan itulah dari luar pintu kembali muncul tiga orang kakek berbaju abu-abu tua.

Salah seorang diantaranya bermata buta sebelah lalu yang seorang kehilangan tangan kirinya sedang orang yang ketiga mempunyai mulut luka yang memerah diatas wajahnya. Dari tiga orang yang munculkan diri ternyata tak seorangpun yang berada dalam keadaan utuh.

Thi Eng khi yang menyaksikan kehadiran mereka segera menjerit kaget, serunya:

“Empek Wong, empek Oh, paman Kwan, mengapa kalian?“

Belum sampai orang itu menjawab, Sam ciat jiu Li Tin tang sudah menggoyangkan tangannya sambil berbisik :

“Eng ji, bila ada urusan kita bicarakan nanti saja, sekarang empek Gui sedang memusatkan pikirannya, kita tak boleh memecahkan perhatiannya “

Kemudian kepada tiga orang di depan pintu, dia cuma manggut- manggut, menandakan betapa kuatirnya dia terhadap mereka. Tiga orang itu hanya berdiri tak berkutik didepan pintu, ketika melihat Kay thian jiu Gui Tin tiong sedang mengerahkan tenaga menolong orang , wajah mereka sama-sama menunjukkan keragu- raguan.

Tiga orang itu ditambah dengan Kay thian jiu Gui Tin tiong dan Sam ciat jiu Li Tin tang merupakan sisa anggota Thian liong pay saat ini yang disebut orang Thian liong ngo siang.

Lotoa, Kay thian jiu Gui Tin tiong adalah ciangbunjin partai Thian liong pay saat ini.

Loji, Pit tee jiu (pukulan sakti pembuka bumi) Wong Tin pak adalah kakek bermata buta sebelah yang berdiri didepan pintu itu, meskipun usianya belum mencapai enam puluh, selisihpun tidak terlalu banyak.

Losam adalah Sam ciat jiu Li Tin tang.

Losu adalah San tian jiu (pukulan halilintar) Oh Tin lam, yakni kakek yang kehilangan tangan kirinya disamping kiri Pit tee jiu, kalau dibilang usianya dia jauh lebih kecil seratus delapan hari dibandingkan dengan usia Sam ciat jiu, tahun ini genap berusia lima puluh empat tahun.

Orang yang berdiri disebelah kanan Pit tee jiu Wong Tin pak dan mempunyai lima buah bekas luka berwarna merah darah diatas wajahnya itu adalah Lo ngo, Sin lui jiu (tangan geledek) Kwan Tin see, usianya baru lima puluh dua tahunan.

Menyinggung soal Thian liong ngo siang, tanpa terasa orang akan teringat kembali dengan ketua Thian liong pay generasi yang lalu, Keng thian giok cu Thi Keng dihormati dan disegani oleh setiap manusia didunia ini.

Sesungguhnya dia tak lain adalah gurunya Thian liong ngo siang. Thi Keng bukan saja merupakan ketua yang paling kosen dan paling hebat diantara sembilan orang ketua lainnya semenjak Thian liong pay didirikan, selain itu diapun merupakan seorang jago paling tangguh dalam dunia persilatan selama seabad belakangan ini.

Terlepas dari ilmu silatnya yang luar biasa, kebajikan, kesosialan dan kemuliaan hatinya sukar ditandingi oleh setiap orang.

Pada empat puluh tahun berselang, andaikata Thi Keng tidak menampilkan diri untuk melenyapkan kaum iblis, dunia persilatan dewasa ini pasti sudah kacau balau tak karuan, sudah barang tentu kawanan jago dari pelbagai partai dan perguruan yang ada dalam dunia persilatan pun akan menjadi santapan empuk dari gembong iblis yang tersohor waktu itu, Kay ih hui eng (elang terbang menyelimuti jagad) Ui It peng.

Thian liong pay pada waktu itu sungguh perkasa, sungguh luar biasa dan mengagumkan.

Tapi apa sebenarnya secara tiba-tiba Thian liong pay bisa jatuh dalam keadaan yang begini mengenaskan?

Kalau dibicarakan kembali, sebenarnya peristiwa ini terjadi pada dua puluh tahun berselang, ketika setahun setelah putra Thi Keng yaitu Thi Tiong giok menikah, tiba-tiba lenyap tak berbekas.

Lenyapnya putra yang amat dicintai ini sungguh merupakan suatu pukulan yang berat bagi jago tua yang berilmu tinggi dan berjiwa social ini, sehingga semua semangatnya hampir rontok dibuatnya.

Dia bukan merasa kelewat sayang pada putranya, melainkan merasa kecewa bagi kejayaan Thian liong pay, sebab Thi Tiong giok mempunyai tulang yang bagus untuk berlatih silat, dialah satu- satunya tumpuan harapan dari Thi Keng untuk melanjutkan kariernya mengangkat nama baik Thian liong pay di mata umum. Lenyapnya pemuda itu bukan saja merupakan suatu berita duka bagi Thian liong pay, juga boleh dibilang merupakan suatu kerugian yang besar bagi seluruh umat persilatan.

Maka semenjak peristiwa itu, Thi Keng pun turut lenyap dari peredaran dunia persilatan.

Musibah yang menimpa partai Thian liong pay ini dengan cepat mempengaruhi ketenangan seluruh dunia persilatan, hampir setengah tahun lamanya dunia persilatan menjadi kalut dan tidak tenang. Tapi akhirnya siapapun tidak berhasil menemukan jejaknya.

Sampai lebih kurang satu bulan lebih yaitu disaat Thi Eng khi dilahirkan, persoalannya baru mendapat sedikit titik terang, seorang pendekar dari luar perbatasan Tiang pek lojin telah muncul dengan membawa tiga macam benda milik Keng thian giok cu Thi Keng yang dititipkan kepadanya.

Benda tersebut adalah satu stel baju yang penuh berpelepotan darah, sebuah lencana Thian liong leng pay dan sepucuk surat wasiat.

Pakaian berdarah itu adalah pakaian milik Keng thian giok cu Thi Keng, lencana Thian liong leng pay adalah tanda kekuasaan dari seorang ketua Thian liong pay. Setelah dua macam benda itu dihantar pulang maka terbuktilah sudah kalau Thi Keng benar-benar sudah menemui musibah.

Apalagi surat wasiat tersebut, boleh dibilang merupakan berita buruk diantara berita buruk, bukan saja menerangkan bahwa Keng thian giok cu Thi Keng telah tewas di luar perbatasan, bahkan menerangkan bahwa Thi Tiong giok juga telah tiada lagi didunia ini. 

Ada satu hal yang paling tidak bisa dimengerti adalah pesan Thi Keng dalam surat wasiatnya yang melarang anak Thi Tiong giok yang masih berada dalam kandungan, baik dia lelaki atau perempuan, semuanya dilarang belajar ilmu silat lagi. Selain itu, juga mengangkat Kay thian jiu Gui Tin tiong sebagai ketua baru serta menitahkan kepandaiannya untuk menbuyarkan perguruan serta mengasingkan diri dari keramaian dunia persilatan.

Mengapa Thi Keng sampai berpesan demikian, sekalipun tak bisa diduga secara pasti tapi ada sebagian alasan yang dapat diduga ia tahu merasa sedih yang luar biasa dan kecewa yang luar biasa sehingga mengambil keputusan untuk berbuat demikian.

Ketua yang baru Kay thian jiu Gui Tin tiong segera mengumpulkan Thian liong ngo siang dan berunding di balik pintu tertutup selama tiga hari tiga malam, akhirnya dipuaskan untuk mengambilkan semua anak muridnya pulang kedesa, tidak mengajar ilmu silat lagi dan menutup pintu perguruan.

Murid-murid Thian liong pay yang kebanyakan belum tamat belajar itu sudah barang tentu hanya bisa dianggap sebagai jago kelas dua dalam dunia persilatan, itulah sebabnya mengapa nama dan martabat Thian liong pay kian hari kian bertambah merosot.

Akhirnya ada diantara murid-murid itu yang pindah ke perguruan lain, ada pula yang terlantar dalam dunia persilatan dan menjadi bahan cemoohan umat persilatan lainnya.

Sementara itu, Thian liong ngo siang sendiri tetap tinggal dalam gedung Bu lim tit it keh, hingga Thi Eng khi berusia lima tahun.

Mereka secara diam-diam mengadakan lagi suatu rapat rahasia, hasil dari rapat itu kemudian, Kay thian jiu Gui Tin tiong tetap tinggal dalam gedung Bu lim tit it keh untuk mengurusi Thi Eng khi dan ibunya, sedangkan empat orang lainnnya pergi berkelana dalam dunia persilatan.

Cuma mereka telah menentukan bahwa setiap lima tahun sekali diadakan pertemuan dengan demikian kekuatan Thian liong pay berhasil juga tetap dipertahankan dan tak sampai musnah sama sekali.

Hari ini adalah untuk kedua kalinya Thian liong ngo siang berkumpul kembali setelah berpisah selama lima tahun, maka dari pelbagai tempat mereka berbondong-bondong pulang ke rumah. Siapa tahu dalam perpisahan selama lima tahun ini, tinggal Kay thian jiu Gui Tin tiong seorang yang masih tetap berada dalam keadaan utuh.

Suasana hening mencekam seluruh ruangan, Kay thian jiu Gui Tin tiong masih memusatkan perhatiannya untuk menyembuhkan luka yang diderita Ban li tui hong Cu Ngo.

Sekalipun Thian liong ngo siang dalam pandangan Keng thian giok cu Thi Keng bukan merupakan bakat yang bagus dan tak bisa menerima ilmu silat yang paling top dari Thian liong pay, akan tetapi keberhasilan yang berhasil mereka capai sekarang sama sekali tidak berada di bawah kemampuan jago kelas satu manapun dalam dunia persilatan.

Hanya saja oleh karena musibah yang telah menimpa perguruan mereka, kemudian masing-masing orang pun sibuk melaksanakan tugasnya masing-masing dengan perasaan berat sehingga lama sekali terputus hubungannya dengan dunia persilatan, maka dunia persilatan menaruh suatu prasangka yang keliru terhadap kemampuan ilmu silat yang mereka miliki.

Dalam pada itu tenaga dalam yang dimiliki Kay thian jiu Gui Tin tiong telah menyusup ke tubuh Cu Ngo, tak sampai sepertanak nasi kemudian luka dalam yang diderita Ban li tui hong Cu Ngo telah sembuh kembali seperti sedia kala.

Diam-diam Ban li tui hong Cu Ngo lantas mencoba untuk mengerahkan tenaga dalamnya, alhasil bukan saja luka yang dideritanya telah sembuh, bahkan tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan yang pesat, lantaran mendapat bencana dia malah berhasil mendapat untung.

Dengan cepat dia melompat bangun, semua kata-kata terima kasih yang mencekam dalam hatinya ingin diutarakan semua, akan tetapi setelah menyaksikan keadaan Thian liong pay yang begitu menggenaskan, ia menjadi tak terlukiskan harunya, sambil menetaskan air mata, katanya seraya menghela napas : “Aaaai ….. tak seorang jago silat pun dalam dunia persilatan saat ini yang tidak berbuat salah terhadap Thian liong pay.”

Keadaan Thian liong ngo siang yang mengenaskan itu sudah cukup menimbulkan rasa sedih di dalam hatinya, tapi setelah menyaksikan ruang tengah yang dulunya megah dan mentereng itu sekarang berubah menjadi begitu seram, selain sebuah meja bobrok dan tiga buah bangku, tiada benda lainnya lagi yang tampak disana.

Kesemuanya itu menambah rasa haru dalam hatinya, sehingga tanpa disadari titik air mata jatuh berlinang.

Berbicara yang sesungguhnya berada dalam keadaan yang demikian mengenaskan ternyata pihak Thian liong pay masih bersedia untuk mengorbankan sebutir pil mustika Toh mia kim wan yang dianggap benda mestika dari perguruan itu untuk menolong seorang jago silat yang sama sekali tiada hubungannya dengan mereka, kebesaran jiwa dari mereka ini sungguh membuat Ban li tui hong Cu Ngo merasa terharu sekali.

Setelah menenangkan pikirannya sebentar, Ban li tui hong Cu Ngo segera menjura dalam-dalam seraya berkata dengan serius : “Sebenarnya aku sedang ditugaskan oleh Cang ciong sin kiam

Sangkoan tayhiap untuk menyebarkan undangan bagi Hong im gi siu Sang locianpwe di bukit Mong san, kini undangan tersebut sudah dirampas orang, aai…… untuk mencegah jangan sampai terjadi hal- hal diluar dugaan yang akan merugikan dunia persilatan, aku harus buru-buru kembali ke perkampungan Ki hian san ceng di bukit Hong san untuk memberi laporan kepada Sangkoan tayhiap. Aku bersumpah akan balik lagi kemari dan menyumbangkan tenagaku bagi perguruan anda, sekalipun harus terjun ke lautan api, aku juga tak akan menolak!”

Dengan diutarakannya perkataan itu, maka ucapan yang sebenarnya hendak diutarakan Kay thian jiu Gui Tin tiong menjadi tak enak untuk dikatakan lagi, terpaksa sambil menjura ia berkata :

“Cu tayhiap tak perlu bicara demikian, bantuan yang bisa diberikan perguruan kami tidak terhitung seberapa, tak usah kau ingat terus dihati, kalau toh Cu tayhiap memang ada urusan, kami bersaudarapun tak akan menahan lagi, silahkan! Maaf kami tidak menghantar.”

Sekali lagi Ban li tui hong Cu Ngo memberi hormat keempat penjuru, kemudian baru berkelebat keluar dari ruangan.

Setelah kepergian Ban li tui hong Cu ngo, ketiga orang yang berdiri dimuka pintu itu baru masuk ke dalam ruangan dan menyapa Kay thian jiu Gui Tin tiong.

Ketua Thian liong pay Kay thian jiu Gui Tin tiong tak bisa berbicara apa-apa selain mengucurkan air mata dengan kulit wajah mengejang, jelas dia merasa sedih sekali setelah menyaksikan cacad yang menimpa keempat orang sutenya, sampai lama sekali ia masih belum mampu untuk mengucapkan sepatah katapun.

Sin lui jiu Kwan Tin see berwatak paling berangasan, dia tidak terbiasa menyaksikan sikap ketuanya yang diliputi emosi itu, bekas luka berwarna merah yang berada diatas wajahnya itu segera berubah menjadi merah tua, sambil tertawa keras katanya :

“Ciangbun suheng, kau benar-benar kelewat lemah hatinya, apalah artinya sedikit luka diatas wajah ini? Siaute toh tidak bermaksud untuk mencari isteri punya anak, peduli amat!”

Setelah menelan air liur, kembali dia berkata :

“Untung saja siaute tak sampai melalaikan tugas, Gin hu sim tau hiat (jantung kelelawar perak) telah berhasil kudapatkan, silahkan ciangbun suheng untuk memeriksanya.”

Sehabis berkata dia lantas mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru dan diangsurkan kepada Kay thian jiu Gui Tin tiong.

Sambil menerima angsuran kotak berwarna biru itu, dengan penuh perasaan terharu Kay thian jiu Gui Tin tiong berkata :

“Ngo-te, menyusahkan kau saja!“

Menyusul kemudian San tian jiu Oh Tin lam sambil mengayunkan tangan kanannya ia berkata : “Siaute selalu beranggapan bahwa ilmu pukulan halilintar lebih indah lagi jika digunakan dengan tunggal, maka lengan yang tak terpakai itu memang lebih baik kalau disingkirkan saja, Ciangbun suheng tak usah kuatir, yang lebih mujur lagi, aku pun berhasil mendapatkan empedu dari Kiu ciok kim can (comberet emas berkaki sembilan)!“

Dari sakunya, dia mengeluarkan pula sebuah kotak berwarna biru dan diserahkan ke tangan Kay thian jiu Gui Tin tiong.

Belum lagi ia sempat berbicara, Pat tee jiu Wong Tin pak sambil terbahak-bahak telah menyambung lebih jauh.

“Ciangbun suheng, siaute pun sungguh beruntung dapat melaksanakan tugas dengan baik, Jit gwat cay hong tok berhasil pula kudapatkan, seandainya mataku tidak buta sebelah mungkin untuk mengincarpun kurang tepat. Maka butanya mata ini memang paling baik dengan demikian siaute bisa mengincar benda apapun dengan lebih tepat lagi.“

Sehabis berkata diapun menyerahkan sebuah kotak biru.

Sam ciat jiu Li Tin tang dengan jalan terseok-seok maju pula kemuka, seraya menyerahkan kotak biru dia berkata :

“Ciangbun suheng, siaute yang mendapatkkan teratai salju berusia seribu tahun Cian hian soat lian ini paling mujur, aku sama sekali tidak menderita luka apa-apa, mengenai kakiku ini?

Berhubung cuaca beberapa hari ini kurang baik rhematikku kambuh maka jalanku menjadi agak terseok-seok.“

“Bagus! Bagus!“ seru Kay thian jiu Gui Tin tiong sambil memegang keempat buah kotak biru itu. “Sute berempat telah membuat pahala buat perguruan kita, ih heng merasa sangat gembira, apalagi bukankah kalian sehat-sehat semua dan bisa kembali dengan selamat?“

Selesai berkata dia lantas mendongakkan kepalanya dan tertawa sedih, suaranya amat memedihkan hati membuat orang menjadi sedih. Menyaksikan Thian liong ngo siang bertanya jawab seperti orang lagi bermain sandiwara, Thi Eng khi menjadi melongo, sekalipun ia tidak berpengalaman tapi pemuda itu juga tahu kalau masing- masing orang telah mengarang suatu cerita bohong, ia benar-benar tidak mengerti apa sesungguhnya yang telah terjadi.

Padahal, darimana dia bisa tahu kalau Thian liong ngo siang berbuat demikian tak lain adalah demi dia, cuma saja semua orang berusaha untuk mengendalikan rasa sedihnya itu sehingga tak sampai kelihatan dari luaran.

Sementara Thi Eng khi masih berdiri termangu-mangu, mendadak Kay thian jiu Gui Tin tiong berhenti tertawa lalu sambil menatap kearahnya, ujarnya dengan serius :

“Eng ji, cepat kembali ke kamar dan kabarkan kepada ibumu kalau loji, losam, losu dan longo telah pulang, harap ia datang kemari untuk bercakap-cakap.“

“Baik“ Thi Eng khi segera mengiakan dan membalikkan badan keluar dari ruangan.

Selama ini, Thi Eng khi bersama ibunya Thi hujin, Yap Siu ling berdiam di halaman paling belakang dari gedung Bu lim tit it keh tersebut.

Tak lama kemudian, pemuda itu muncul kembali seorang diri seraya berkata :

“Hari ini kesehatan ibu sedang terganggu, beliau tak bisa datang berjumpa dengan para empek dan paman tak menjadi marah!“

Bagaikan tersambar guntur, Thian liong ngo siang saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun, wajah mereka kelihatan amat sedih sekali.

Sin lui jiu Kwan Tin see tak bisa menahan diri lagi, dengan suara keras dia lantas membentak :

“Benarkah enso tak mau datang?“ Thi Eng khi menundukkan kepalanya dengan perasaan menyesal.

“Yaa, kesehatan badan ibuku memang sedang terganggu dia tak bisa datang kemari.“

“Kami berlima belum tentu bisa berkumpul seperti hari ini, bila kali ini musti dilewatkan maka kami musti menunggu lima tahun lagi, Eng ji, pulanglah ke kamarmu dan mintalah kepada ibumu sekali lagi.“

Thi Eng menjadi serba salah sehingga wajahnya kelihatan tersipu-sipu .....

Kay thian jiu Gui Tin tiong menghela napas panjang, kepada Thi Eng khi katanya :

“Tak usah mengganggu ibumu lagi, sekarang hari sudah mulai gelap, Eng ji, kau boleh pulang dulu.“

Thi Eng khi merasa tercengang dan tidak habis mengerti, tanyanya kemudian :

“Empek Gui, apakah kalian mempunyai urusan penting?“

Kay thian jiu Gui Tin tiong tertawa getir :

“Aaah tidak ada apa-apa, kau boleh pulang saja ke

kamarmu!”

Terpaksa Thi Eng khi memberi hormat dan mengundurkan diri dari ruangan itu.

Menunggu bayangan tubuh dari Thi Eng khi sudah pergi jauh, dengan marah Sin lui jiu Kwan Tin see berseru :

“Ciangbun suheng, sebenarnya apa yang terjadi? Sebenarnya sudah kau katakan belum kepada enso? Bersedia tidak ia membiarkan Eng ji menjadi anggota perguruan kita?“

Kay thian jiu Gui Tin tiong kelihatan sedih dan murung sahutnya : “Tee moy (istri adik) Yap Siu ling memegang teguh pesan suhu

dan melarang Eng ji belajar ilmu silat, sekalipun Ih heng telah berusaha dengan sedapat mungkin, nyatanya juga tidak mendatangkan hasil apa-apa aaai. aku benar-benar merasa

malu sekali kepada sute berempat.“

“Jika Eng ji tak mau belajar silat, lantas apa gunanya empedu Kiu ciok kim can? Bukankah lenganku ini hilang dengan percuma?“ teriak San tian jiu Oh Tin lam dengan suara keras.

Pit tee jiu Wong Tin pak juga berkata dengan kecewa : “Siaute seringkali memperhatikan anak murid kita yang

berkeliaran diluar, kalau dibicarakan sungguh mengenaskan sekali, oleh karena suhu telah meninggal dunia, kami berlima pun tak ada yang mau mengurusi, hakekatnya orang-orang itu bagaikan setan gentayangan dalam dunia persilatan, yang merasa punya harga diri tak malu untuk bunuh diri, adapula yang mengundurkan diri dari dunia persilatan , sebaliknya mereka yang berhati lemah, kalau tidak numpang kekuatan orang lain, keadaannya juga mengenaskan sekali. Jika Eng ji sekarang tak dapat masuk kedalam perguruan kita, tidak berbicara soal perjuangan kita yang sia-sia selama belasan tahun, bukankah partai kitapun tamat riwayatnya ?“

“Benar!“ kata Sam ciat jiu Li Tin tang, “Sekarang segala sesuatunya telah disiapkan, bagaimanapun juga tak bisa ditinggalkan di tengah jalan, ciangbun suheng, mari kita bersama-sama pergi memohon kepada Tee moay!“

Setelah mendengar perkataan dari keempat orang sutenya itu, Kay thian jiu Gui Tin tiong merasakan hatinya sedih sekali bagaikan digigit oleh beratus ratus ekor semut.

Tapi rupanya ia sudah mempunyai rencana yang matang, dengan paras muka tidak berubah, katanya :

“Sute berempat, kita tak gampang untuk berkumpul kumpul, bila ada persoalan lebih baik dibicarakan setelah memberi hormat kepada arwah Cau su nanti!“

Selesai berkata, dengan membawa empat buah kotak biru itu, dia berjalan masuk lebih dulu ke dalam ruang sin thong, sementara empat orang saudaranya mengikuti dari belakang. Ruang Sin tong dari partai Thian liong ini tidak termasuk besar, luasnya paling cuma enam kaki persegi, tapi keempat belah dindingnya dilapisi oleh kayu jati.

Di bawah sinar lentera yang berbentuk tujuh bintang sebanyak tujuh buah, suasana disana tampak amat seram dan berwibawa.

Dibagian utara meja altar, dibelakang tirai berwarna biru dan dibawah delapan buah meja abu tampak lukisan seorang kakek berjenggot panjang yang tampak sangat hidup.

Dia tak lain adalah ketua generasi kesembilan dari partai Thian liong pay, Keng thian giok cu Thi Keng, kakek Thi Eng khi.

Dengan sangat hormat, Kay thian jiu Gui Tin tiong mempersembahkan keempat buah kotak biru itu ke meja altar, kemudian ia menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat.

Dari loji ke bawah semuanya berlutut di belakang Kay thian jiu Gui Tin tiong.

Selesai memberi hormat, paras muka Kay thian jiu Gui Tin tiong segera berubah sama sekali. Dengan senyum dikulum ia mengeluarkan sepucuk surat yang rupanya telah dipersiapkan lebih dulu itu dari sakunya, kemudian sambil menyerahkan ke tangan Pit tee jiu Wong Tin pak katanya :

“Jite, bawalah ketiga orang sutemu menuju keruang belakang untuk membujuk Tee moay, seandainya dia belum juga menyanggupi permintaanmu itu, maka serahkan surat ini kepadanya, aku rasa setelah dia membaca surat ini permintaan kalian tak akan ditampik lagi.“

“Suheng “ Pit tee jiu Wong Tin pak kelihatan ragu-ragu.

Belum habis dia berkata, Kay thian jiu Gui Tin tiong telah mengulapkan tangannya seraya berseru :

“kalian cepat kembali kemari, Ih heng akan menunggu di sini!“ Terpaksa Pit tee jiu Wong Tin pak mengajak ketiga orang sutenya berangkat menuju ke halaman belakang dimana Thi Eng khi dan ibunya berdiam ......

Ketika mereka berempat tiba di halaman belakang, tampak ruangan dimana Thi Eng khi berdiam lamat lamat masih kelihatan ada cahaya lampu, dengan tenaga dalam mereka yang sempurna, dapat didengar pula suara pembicaraan kedua orang itu.

Mereka berempat adalah jago-jago yang berjiwa terbuka, mereka enggan mencuri dengar pembicaraan orang, maka suara langkah kakinya sengaja diperberat.

Suara langkah kaki yang berat itu segera terdengar oleh Thi Eng khi dan ibunya.

Terdengar Thi Eng khi menegur dari dalam ruangan : “Empek Gui kah yang berada di luar?“

“Eng ji, kami berempat sengaja datang menyambangi ibumu!“ sahut Pit tee jiu Wong Tin pak dengan cepat.

“Empek Wong kah disitu?“ sambung Thi hujin Yap Siu ling, “merepotkan kalian semua, sungguh membuat aku merasa malu.“

Pit tee jiu Wong Tin pak kuatir Thi hujin Yap Siu ling menampik kedatangan mereka, buru-buru serunya :

“Tee moay, sudah lima tahun kita tak pernah bersua, bolehkah Ih heng sekalian masuk kedalam rumah?“

Thi Eng khi keluar membuka pintu, kemudian mempersilahkan Pit tee jiu Wong Tin pak sekalian berempat masuk ke dalam ruang tamu yang bersih sekali.

Sebuah lentera tergantung diatas rumah dan menyiarkan sinar berwarna merah, suasana dalam ruangan itu terasa amat sesak dan membuat perasaan orang tidak tenang. Beberapa saat kemudian, Thi hujin Yap Siu ling baru keluar dari dalam kamarnya.

Pit tee jiu Wong Tin pak sekalian menyaksikan sepasang matanya merah lagi membengkak, agaknya baru saja menangis, mereka lantas tahu bahwa perempuan itu memaksakan diri menjumpai mereka.

Thi hujin Yap Siu ling berasal dari keluarga terpelajar, selain menguasai dalam bidang sastra dan ilmu pengetahuan, diapun amat cerdik dan halus berbudi, enam belas tahun hidup menjanda membuatnya cukup memahami watak manusia. Dia sudah menduga kalau Thian liong ngo siang tak akan melepaskan putra kesayangannya dengan begitu saja.

Pertama karena dia harus menuruti pesan dari mertuanya, kedua diapun enggan membiarkan putranya terjerumus dalam dunia persilatan, sehingga mengalami nasib yang sama dengan ayahnya maka mau tak mau dia harus mengeraskan hati untuk menampik permintaan para empek dan putranya itu.

Dengan sinar mata yang was was dia memandang sekejap ke wajah Thian liong su siang. Kemudian dengan alis mata berkenyit ia menghela napas panjang.

“Aaaai. empek Wong, apakah gunanya kau mendesak terus?“

Sesudah menghembuskan napas panjang serunya :

“Maksud hati maupun kesulitan yang kalian alami aku tak ingin ambil peduli, pokoknya aku tahu bahwa kalian sangat berhasrat untuk menarik Eng ji ke dalam perguruan Thian liong pay, sayang sekali keluarga Thi pada saat ini cuma tinggal Eng ji seorang seandainya kalian tidak mau melepaskan dirinya, dikemudian hari bagaimana pula kalian bisa mempertanggung jawabkan diri di depan gurunya yang telah tiada?“

Waktu itu sebenarnya Thi Eng khi sudah diliputi oleh kobaran semangat yang luar biasa sebesarnya untuk melanjutkan karier dari mendiang kakeknya, kalau bisa dia ingin sekali ibunya segera menyanggupi permintaan itu. Dengan waktunya yang suka bergerak, dia paling enggan untuk hidup dalam kesepian dan sampai tua melewati suatu penghidupan yang sederhana tanpa sesuatu pekerjaan.

Akan tetapi setelah menyaksikan wajah ibunya yang serius tapi diliputi rasa sedih itu, hatinya menjadi tercekat dan tak berani lagi untuk mengemukakan niatnya.

Dia cukup memahami watak dari ibunya itu, maka sekarang mau tak mau dia harus berusaha keras untuk menekan perasaan yang bergejolak didalam hatinya.

Begitu datang tadi, Thian liong su siang segera dibuat membungkam oleh perkataan Thi hujin Yap Siu ling, dengan wajah sedih mereka tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Dari perubahan paras muka mereka, Yap Siu ling bisa menangkap kekecewaan di hati Thian liong su siang.

Tanpa terasa lagi sambil menghela napas sedih katanya : “Sekarang waktu sudah cukup malam ”

Pelan-pelan ia bangkit berdiri dan berhasrat untuk menghantar tetamunya.

Paras muka Thian liong su siang berubah hebat, Sin liu jiu Kwan Tin see tak sanggup mengendalikan perasaannya lagi, dengan penuh emosi teriaknya :

“Enso, kau mengira pesan dari mendiang suhu tidak ada kemungkinan untuk diperbaiki?”

Paras muka Thi hujin Yap Siu ling menjadi pucat pasi karena mendongkol. Dengan cepat, ia duduk kembali di tempat semula.

“Ngo-te, mengapa kau bicara sembarangan?” bentak Pit tee jiu Wong Tin pak, “tindakanmu ini kurang sopan!” Paras muka Sin lui jiu Kwan Tin see berubah menjadi merah padam, sekalipun dia adalah seorang kakek yang hampir berusia lima puluh tahunan, saking malunya dia sampai tak mampu mendongakkan kembali kepalanya.

“Siaute berbicara tanpa maksud, harap enso jangan marah!” buru-buru serunya agak tergagap.

Diantara Thian liong ngo siang, Sam ciat jiu Li Tin tang adalah seorang jago yang paling pintar, meski oleh rentetan ucapan dari Thi hujin tadi ia merasa agak gelagapan tapi setelah Sin lui jiu Kwan Tin see berbicara secara berani, satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya, dengan cepat dia berseru :

“Tee moay kau toh bukannya tidak tahu bagaimana watak Ngote, dia adalah seorang yang berbicara blak-blakan, apa yang dipikirkan diucapkan tanpa tedeng aling aling, aku harap kaupun bisa baik-baik mengambil pertimbangan!”

Thi hujin Yap Siu ling bukannya tak tahu kalau Sin lui jiu Kwan Tin See adalah seorang kasar yang jujur.

Tapi apa yang dipikirkan tak lain adalah keselamatan Thi Eng khi, maka diapun tak ingin melepaskan keputusannya dengan begitu saja.

Dengan ucapan yang tajam bagaikan pisau, dia lantas berkata : “Thian liong pay makin lama semakin besar orangnya, tak tahu

aturan, tak heran kalau nama besar perguruan kian hari kian merosot dalam dunia persilatan!”

Ucapan tersebut meluncur seperti angin, menanti ia merasa kalau perkataan itu terlalu berat, untuk ditarik kembali sudah terlambat.

Paras muka Thian liong su siang segera berubah hebat, kepalanya ditundukkan rendah-rendah.

Melihat itu, Thi hujin Yap Siu ling merasa terperanjat sekali, buru- buru katanya lagi :

“Para empek dan paman, aku telah salah berbicara, aku bukan berbicara dengan maksud tertentu!” Berbicara sampai disitu, dia lantas menutupi wajah sendiri dan menangis tersedu-sedu.

“Tee moay, Tee moay!” seru Sam ciat jiu Li Tin tang berulang kali, “Kau tidak salah berbicara, kami sebagai anggota Thian liong pay memang pantas mendapat teguran ini. Cuma ... cuma....

perkataan dari Ngote agaknya bisa dipertimbangkan lagi.”

Berbicara sampai disitu, dia lantas berhenti sambil menatap wajah orang, dia berharap Thi hujin Yap Siu ling bisa memberi kesempatan kepadanya untuk berbicara lebih lanjut.

Thi hujin Yap Siu ling dengan cepat mengendalikan perasaannya yang pulih kembali dalam ketenangan, dia manggut manggut.

“Bila empek Li akan mengucapkan sesuatu, silahkan diutarakan!”

“Pesan dari mendiang suhu tidak boleh dilanggar oleh kita sebagai anggota Thian liong pay,” kata Sam ciat jiu Li Tin tang, “cuma sebelum melaksanakan pesan dari mendiang suhu, siau heng beranggapan bahwa kita harus memahami dahulu maksud yang sebenarnya dari suhu mendiang, kita tak boleh membelenggu diri dengan pelbagai masalah lain, sebab bila sampai demikian akhirnya kita akan menjadi orang yang menentang pesan suhu mendiang.”

Thi hujin Yap Siu ling cuma membungkam dan tundukkan kepalanya sambil mendengarkan dengan seksama.

Terdengar Sam ciat jiu Li Tin tang melanjutkan kembali kata- katanya :

“Dengan dalam dan saktinya ilmu silat perguruan kita, tanpa memiliki bakat yang sangat bagus seperti yang dimiliki mendiang suhu dan Tiong giok sute, tak mungkin seseorang bisa mencapai kesempurnaan. Betul Ih heng berlima adalah murid Thian liong pay, tapi lantaran bakat yang terbatas, sekalipun sudah melatih diri secara tekun atas ilmu silat aliran Thian liong pay, hasilnya juga terbatas sampai sepersatu dua saja, dalam dunia persilatan yang begitu luas sesungguhnya sulit sekali untuk menampilkan diri.” Suara pembicaraannya makin lama makin keras : “Semenjak suhu menjadi putus asa karena lenyapnya putra

tercinta, dan lagi tahu kalau api kehidupannya hampir padam, apalagi menyaksikan partai Thian liong sudah tidak ada ahli warisnya lagi, daripada membuat malu nama perguruan dimata umum, akhirnya diputuskan untuk menarik diri dari keramaian dunia persilatan, kalau berbicara dari keadaan waktu itu, tindakan suhu memang sangat tepat sekali.”

Setelah menghela napas panjang, dia melanjutkan kembali kata- katanya lebih jauh :

“Tapi keputusan yang diambil In su ketika itu adalah didasarkan pada tiadanya keturunan dalam perguruan Thian liong pay, maka diputuskan untuk menarik diri, dia orang tua tidak menyangka kalau Eng ji memiliki bakat yang bagus dan kecerdikan yang luar biasa, sesungguhnya dialah seorang berbakat bagus yang sukar dijumpai dalam seratus tahun ini, coba kalau Eng ji dilahirkan sebelum dia orang tua pergi, setelah melihat bakatnya yang bagus itu, aku pikir dia orang tua pasti tak akan mengambil keputusan begitu.”

Kembali ia berhenti sejenak untuk berganti napas lalu terusnya : “Mengenai persoalan ini, Ih heng berlima telah melakukan

penyelidikan serta pembahasan yang terperinci setelah mendapat pesan dari Insu, tapi ketika Eng ji berusia lima tahun, kami baru mendapatkan pandangan yang lain terhadap pesan Insu tersebut, bersamaan itu pula kamipun telah mengambil keputusan baru yang lain.”

Thi hujin Yap Siu ling bukannya seorang yang bodoh, perkataan dari Sam ciat jiu tersebut segera menggerakkan hatinya tapi ketika teringat kembali kalau suaminya juga seorang lelaki yang dianggap berbakat bagus, tapi justru karenanya dia kehilangan dia, paras mukanya dengan cepat berubah kembali.

Sam ciat jiu Li Tin tang memandang sekejap kearah Thi hujin kemudian melanjutkan

“Ketika Eng ji berusia lima tahun kami berempat mendapat perintah dari Ciangbun suheng untuk menjelajahi dunia persilatan guna menemukan empat jenis bahan obat yang bisa dipakai untuk mencuci tulang dan memperkuat otot, ternyata Thian tidak menyia nyiakan harapan kami, rupanya Thian liong pay memang ditakdirkan bisa bangkit kembali dari keruntuhan, akhirnya kami berempat berhasil untuk mewujudkan cita-cita tersebut ”

Demi merebut simpatik orang dengan suara yang sengaja diperkeras terusnya :

“Tapi akibat dari keberhasilan itu kami berempatpun telah berubah menjadi begini rupa, jiko kehilangan sebelah matanya, sute kehilangan sebuah lengannya, paras muka ngote berubah bentuk, yang paling beruntung adalah aku, cuma kehilangan sebuah otot kaki belaka.”

Paras muka Thi hujin kembali berubha hebat, dia berpaling dan memandang sekejap kearah Thi Eng khi yang sedang berdiri dengan air mata bercucuran itu, setelah menghela napas diapun tak tega untuk berkata lebih lanjut.

Waktu itu Sam ciat jiu Li Tin tang yang sudah merasa kehabisan bahan pembicaraan, dengan memaksa diri katanya lagi :

“Benda itu adalah Cian nian soat lian, empedu combaret emas berkaki sembilan, darah Gin hok sim tau hiat serta Jit gwe cay hong lok ”

Seraya berpaling kearah Thi Eng katanya kemudian :

“Eng ji, beberapa macam obat mestika itu tersimpan didalam empat kotak biru yang kami bawa pulang tadi, kau tentunya sudah melihat sendiri bukan?”

Sekalipun Thi Eng khi bukan orang persilatan akan tetapi sebagai seorang yang berpengetahuan luas, dia tahu bahwa bahan obat- obatan yang dimaksud itu adalah benda mestika yang bisa dijumpai tak bisa dicari, ternyata keempat empek dan pamannya dengan mengorbankan waktu hampir sepuluh tahun lamanya untuk mewujudkan suatu impian menjadi kenyataan, hal ini membuktikan betapa besarnya semangat serta tekad mereka. Pokoknya diapun terbayang kembali semua kegagahan dan kehebatan kakek dan ayahnya dimasa lalu, masakah dia harus hidup sederhana begini sepanjang masa?

Berpikir sampai disitu, darah panas dalam rongga dadanya terasa bergelora keras tanpa terasa lagi teriaknya :

“Ibu !”

Tapi dengan cepat ia terbayang kembali kasih sayang ibunya yang sudah enam belas tahun hidup menjanda itu, apa yang menyebabkan dirinya sampai menanggung derita? Bukankah karena dia?

Sekarang, jika sampai berbuat yang macam-macam, bukankah hal ini kan menusuk perasaan orang tuanya.

Sebagai seorang anak yang berbakti berpikir sampai disitu, ia menjadi tak mampu untuk melanjutkan kembali kata-katanya.

Dari perubahan mimik wajah putranya itu, Thi hujin Yap Siu ling dapat menebak jalan pikirannya. Dengan wajah sedih dia lantas berkata :

“Eng ji, Ibu bersedia mendengarkan pendapatmu!”

Thi Eng khi yang pintar sudah barang tentu bisa memahami perasaan ibunya yang menderita, ia merasa dirinya tidak menurut keinginan ibunya, maka sekalipun akhirnya dia dapat berkelana dalam dunia persilatan, selamanya hatipun tak pernah akan tenang.

Maka dengan air mata bercucuran katanya : “Ananda siap mendengarkan perintah ibu!”

“Nak,“ kata Thi hujin dengan air mata bercucuran, ”Ibu dapat memahami perasaanmu, tapi tapi akupun tak dapat memenuhi

keinginanmu itu!”

Thian liong su siang yang menghadapi kejadian ini segera merasakan keringat sebesar kacang kedelai bercucuran membasahi dahinya. Pit tee jiu Wong Tin pak merasa sangat kecewa, pikirnya : “Sekalipun kukeluarkan surat dari ciangbun suheng pada saat ini

mungkin hal ini pun akan sia-sia belaka ”

Untuk sesaat lamanya dia menjadi ragu dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Sin lui jiu Kwan Tin see sama sekali tidak menggubris masalah itu, karena sedang mangkel dia lupa kalau tadi dirinya sudah salah berbicara, dengan suara lantang teriaknya :

“Ji suheng, apakah kau sudah lupa dengan pesanan ciangbun suheng?”

Sinar mata losam dan losu pun bersama-sama dialihkan ke wajah sang loji.

Dengan perasaan apa boleh buat Pit tee jiu Wong Tin pak segera mengangsurkan surat Kay thian jiu Gui Tin tiong seraya berkata :

“Disini ada sepucuk surat dari toa suheng silahkan Tee moay untuk memeriksa!”

Thi hujin Yap Siu ling menerima surat itu dan baca sebentar, mendadak sekujur badannya gemetar keras dengan wajah berubah hebat serunya dengan hati yang pilu :

“Aaah..... empek Gui, kau .... kau.... kau “

Mendadak teringat olehnya bahwa persoalan ini harus cepat- cepat diberitahukan kepada Thian liong su siang, maka dengan wajah tegang teriaknya keras-keras :

“Cepat! Cepat kembali! Empek Gui telah bunuh diri !“

Thian liong su siang bersama-sama berpekik panjang, kemudian dengan melompat dinding lari meninggalkan tempat itu.

Dengan air mata bercucuran Thi hujin Yap Siu ling berpaling ke arah Thi Eng khi yang masih berdiri terbelalak itu seraya berseru :

“Nak, mari kita menyusul kesana!“ Ketika tiba dipintu gerbang Thian liong pay, ibu dan anak berdua tiba-tiba berhenti.

Rupanya berhubung Thi hujin dan Thi Eng khi bukan anggota perguruan Thian liong pay, sekalipun hidup bersama dengan Thian liong ngo siang, selama ini belum pernah melangkah masuk barang selangkahpun ke dalam pusat markas dari Thian liong pay itu.

Maka ketika tiba di pintu gerbang, mereka pun ragu-ragu untuk melangkah masuk kedalam ruangan itu.

Kendatipun demikian, suasana dalam sin thong tersebut dapat terlihat amat jelas.

Tampak Kay thian jiu Gui Tin tiong terkapar di depan meja altar dan sama sekali tak berkutik, sementara Thian liong su siang berdiri dikedua belah sisinya dengan wajah terbelalak dan kehilangan konsentrasi, rupanya mereka dibuat tertegun oleh musibah yang terjadi diluar dugaan ini.

Tiba-tiba Thi hujin Yap Siu ling berteriak dari pintu luar : “Bolehkah siaumoy dan Eng ji masuk kedalam?”

Dengan perasaan terkejut Thian liong su siang tersadar kembali dari lamunannya.

Tiba-tiba Pit tee jiu Wong Tin pak berguman :

“Kematian toa suheng tidak sia-sia, Thian liong pay kami akhirnya tertolong juga!”

Thian liong ngo siang adalah anggota-anggota setia dari Thian liong pay, mereka bersedia mengorbankan jiwa sendiri demi kepentingan perguruan sekalipun kematian Toa suhengnya mendatangkan perasaan yang pilu dihati masing-masing, tapi kemunculan Thi hujin didepan pintu justru mendatangkan harapan besar bagi mereka.