Pohon Keramat Jilid 24

 
Jilid 24

DAN Ong Jie Hauw sudah bersiap sedia, dia memantekkan sepasang kakinya kokoh ditanah. Bek!! Diterimanya pukulan tadi tanpa reaksi.

Kut Lauw Kui mendapat tandingan lawan yang akan dihadapi bukan seorang, dan bukan untuk menghindari kerewelan, sebelum ada penerusan, karena ini dia membawa Giok Hong melarikan diri.

Giok Hu Yong mengirim satu pukulan, tapi sengkelit oleh kakek kurus kering itu, begitu cepat gerakannya, dengan membawa tubuh seorangpun dia masih dapat lari seperti terbang.

Ong Jie Hauw hendak mengejar, Pek Pek Hap segera memanggilnya.

"Saudara Ong Jie Hauw.. biarkanlah dia pergi."

"Huh.. lagi-lagi lolos dari tanganku." Ong Jie Hauw masih sangat penasaran.

”Larinya kedua orang ini akan membawa banyak kerewelan bagi kita semua." Berkata Giok Hu Yong menarik napas.

"Apa boleh buat." Berkata Pek Pek Hap. "Mari kita kembali. Tadi kulihat anakmu menderita luka yang cukup parah."

Ong Jie Hauw, Giok Hu Yong dan Pek Pek Hap kembali ke Sumur Penggantungan.

Mayat-mayat sudah dibersihkan disekitar sumur itu. Bagi pihak Istana Ratu Bunga, kecuali Giok Hong seorang, semua mati musnah, Bagi pihak Sumur Penggantungan jatuh dua orang, yaitu Tan Sang mati dan disusul oleh luka beratnya Tan Kiam Pek. Jago ini sudah terlalu tua, dia tidak dapat lagi mempertahankan jiwanya selalu, setelah memberi pesan beberapa kata, diapun menyusul arwah keponakannya.

Giok Hu Yong menangis diatas mayat putrinya.

"Oh.. Tan Sang.." Tangis seorang ibu yang menderita. "Begitu sajakah kau meninggalkan aku?"

Tan Sang terlena dengan tenang, ia tidak dapat mendengar rintihan dan keluh kesah sang ibu. Juga tak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan orang tua itu.

Lie Bwee memberi tahu akan kematian Tan Sang, Ong Jie Hauw turut bersedih.

"Ong Jie Hauw." Berkata sigadis. "Kita kurang cepat."

Ong Jie Hauw menundukkan kepala. "Ng.." dia tidak dapat memberi komentar.

Pek Co Yong bertiarap dihadapan mayat Han Thian Chiu, biar bagaimana jahatnya orang tua itu, toch adalah ayah kandungnya.

Korban perang!!

Peperangan hanya membawa malapetaka Tan  Kiam  Pek,  Tan  Sang, Han  Thian  Chiu,  Tok   Sim   Kiam. Pada permukaan tanah ditempat itu bertambah beberapa makam baru.

Inilah akibat dari tidak adanya keserasian dunia ketentraman.

Ong Jie Hauw menarik tangan Lie Bwee.

"Mari kita pulang ke gunung Pek Soat Hong." dia mengajak sang istri pulang ke gunung.

Lie bwee menggeleng-gelengkan kepala. "Aha.." Ong Jie Hauw berteriak. "Mengapa?" "Kita tidak dapat pergi begitu saja. " Lie Bwee memberi keterangan. "Sedikit banyak kita harus turut bertanggung jawab. Dimisalkan kau tidak ada ditempat ini, dan guruku datang kembali, siapakah yang dapat membendung kekuatan mereka?"

"Aha.. Kau lebih pandai dariku." Berteriak Ong Jie Hauw girang.

Dan untuk sementara Ong Jie hauw suami istri menetap didalam Sumur Penggantungan.

Pada keesokan harinya, Sumur Penggantungan mendapat kunjungan seorang gadis berbaju hitam. Tidak seorang pun yang kenal kepada gadis ini.

Pek Pek Hap memperhatikannya beberapa saat, dia mengajukan pertanyaan. "Bagaimana dengan sebutan nona?"

"Aku Kim Cui." berkata gadis itu. "datang dengan maksud berbicara dengan Tan Ciu."

"Tan Ciu tidak ada waktu." Berkata Pek Pek Hap. "apakah urusan itu? Katakan saja kepadaku. dan akan kusampaikan kepadanya."

"Kau... ibu Tan Ciu?" Kim Ciu memandang wanita itu. "Bukan.." Berkata Pek Pek Hap. "Boleh kami tahu,

urusan apa yang nona hendak sampaikan kepadanya?"

"Aku Kim Cui, putri kauwcu dari perkumpulan Kim ie kauw, pernah Tan Ciu menyebut namaku?"

Tentang hubungan Kim Cui dan Tan Ciu yang pernah terjadi dilereng Kim ie kauw sangat dirahasiakan, tidak seorang dari mereka yang tahu hal itu, kecuali Cang Ceng Ceng yang pernah ditahan Kim ie kauw. dan disaat itu, Cang Ceng Ceng tidak berada didalam Sumur Penggantungan.

"Tentunya nona membawa berita penting bukan?" Bertanya Pek Pek Hap.

"Betul!! Berita yang mempunyai hubungan dengan Ratu Bunga Giok Hong?"

"Giok Hong.."

"Ng... Setelah gagal mengadakan serangan kepada kalian. Dia meminta bantuan ayahku." Berkata Kim Cui. "juga Kut Lauw Kui. Bersama-sama dengan Giok Hong, mereka sedang membujuk ayahku untuk mengadakan persekutuan."

"Aaa, Ayahmu menerima tawaran itu?"

"Belum.."

"Maksud kedatanganmu?"

"Ayah bukan seorang yang suka peperangan. Tapi tidak luput dari sifat ketamakan seorang manusia. Dia mempunyai sejilid kitab Thian-Mo-Po-Lok yang seharusnya diwariskan kepada keluarga kami, tapi kitab tersebut jatuh ketangan Tan Ciu. inilah yang  mengakibatkan dendam permusuhan. Bila berhasil mendapatkan kitab itu, tentu tidak mau menggabungkan diri dengan kekuatan orang  luar. Lain lagi jadinya bila dia tidak berhasil  merebut pulang kitab Thian-Mo-Po-lok. Besar kemungkinannya menyatukan diri dengan Sri Ratu Bunga dan pihak Tong Hay. tiga kekuatan ini tentu menjadi suatu  persekutuan yang kuat."

"Maksudmu agar membujuk Tan ciu menyerahkan kitab Thian-Mo-Po-lok?" "Inilah yang kuharapkan. Kini ayahku sedang menuju kemari."

"Aaaa...." Pek Pek Hap harus melayani sesuatu peperangan lain.

"Dapatkah memberi tahu akan adanya rumusan ini?" Kim Siauw Cui memohon.

"Dia sedang mendapat gemblengan untuk melatih ilmu kepandaian yang tercatat dalam kitab Thian-Mo-Po-lok."

"Dapatkah mengajakya turut serta merundingkan datangnya bahaya?"

"Dia tidak boleh diganggu."

"Biar ku tunggu." Berkata Kim Ciu. Pek Pek Hap tidak keberatan.

Tidak berapa lama, datang lagi laporan yang mewartakan tibanya rombongan perkumpulan  Kim  ie kauw.

Pek Pek Hap, Co Yong, Ong Jie Hauw, Lie Bwee berembuk sebentar, dan mereka berkata kepada Kim Cui.

"Kami harus menjumpai ayahmu. Nona Kim tunggulah disini."

Kim Cui menganggukan kepala.

Pek Pek hap, Ong Jie Hauw, Lie bwee dan Pek CO Yong keluar dari Sumur Penggantungan. Diluar sumur itu sudah berbaris banyak orang. Diantaranya terdapat juga Kim Ie Mo-Jin, Kim ie lo-jin, Kim Sam Nio dan lain-lainnya.

Pek Pek Hap mewakili seorang mengajukan pertanyaan, "Kami dari perkumpulan Kie ie kauw datang dengan maksud tujuan untuk bicara beberapa kata dengan Tan Ciu." Berkata Kim Ie Mo-Jin.

"Dapatkah kauwcu menangguhkan kunjungan ini untuk beberapa hari?" berkata Pek Pek Hap dengan sikap sabar.

"Mengapa?"

"Berhubung ada sesuatu hal, Tan Ciu tidak dapat keluar untuk menemui tamu."

"Mengapa tidak dapat menerima tamu?" Kim Ie Mo-Jin mengeluarkan suara dari hidung.

"Kim ie kauwcu tidak percaya?" Pek Pek Hap tidak dapat berterus terang.

"Ha..Ha.. tentunya dia tahu akan kedatangan diriku, sebelumnya dia sudah menyembunyikan diri lebih dahulu."

Pek Pek Hap tidak dapat menerima kata-kata ini, dia masih berusaha menekan hawa amarahnya dengan sabar berkata.

"Tan Ciu bukan seorang muda yang takut mati. Tidak mungkin dia mau bersembunyi."

Keterangan ini sangat masuk diakal. Tan Ciu belum pernah takut kepada orang. Walaupun orang yang berkepandaian lebih tinggi darinya pun.

Kim Ie Mo-Jin berkata lagi. "Aku hendak bertemu dengannya. Segera!! ada urusan penting!!"

"Sudah kukatakan, bahwa Tan Ciu belum dapat menerima tamu! Dapatkah kau datang pada beberapa hari lagi?"

"Aku tidak mempunyai itu kesabaran." "Apa boleh buat, kita tidak dapat menerima kunjungan kalian."

"Menerima atau tidak, aku harus memeriksa seluruh isi Sumur Penggantungan." Sifat Kim Ie  Mo-Jin semakin sombong.

"Aha.." Ong Jie Hauw membuka suara, "hendak kulihat siapa yang berani memasuki Sumur Penggantungan."

Kim Ie Mo-Jin menolehkan kepalanya, menatap pemuda itu dan membentak. "Bocah kurang ajar, sebutkan namamu!"

"Nama dari bocah kurang ajar bernama Ong Jie Hauw." Pemuda ini membusungkan dada.

"Ong Jie Hauw?" Kim Ie Mo-Jin terus memikir lama. "Belum pernah kudengar nama ini."

"Aha.. kau belum pernah mendengar namaku. Aku pun belum pernah mendengar namamu. sama-sama..."

"Bedebah!!" Kim Ie Mo-Jin merasa tersinggung.

"Eh, memaki orang?" Ong Jie-hauw mendelikkan mata, tangannya diremas-remas kuat, dia siap mengeluarkan jotosan.

Pek Pek Hap cepat-cepat mengetengahkan perselisihan. katanya. "Saudara Ong Jie Hauw.. sabar.."

Dipandangnya Kim Ie Mo-Jin dan berkata kepada ketua perkumpulan itu. "Kim ie kauwcu, kau harus memberi waktu beberapa hari."

"Tidak mungkin." Kim Ie Mo-Jin menolak.

"Tidak percaya kepada keteranganku?" Pek Pek hap hampir naik darah. "Aku percaya, setelah memeriksa seluruh isi Sumur Penggantungan." Kim Ie Mo-Jin tak mau mengalah.

"Bila aku tidak memberi izin?"

"Lebih mudah untuk diselesaikan. Tentunya kitab Thian- mo-po-lok sudah berada didalam tanganmu. Serahkanlah kitab itu."

"Kim ie kauwcu." Berkata Pek Pek Hap. "Kau harus mengajukan tuntutanmu."

"Boleh.. Kesatu, panggil Tan Ciu keluar segera. Dan kedua, Serahkan kitab Thian-Mo-Po-Lok. Tanpa syarat. Titik. Memenuhi dua syaratku berarti perdamaian."

"Kim ie kauwcu." Pek Pek Hap tidak berhasil mengelakkan pertempuran. "Kau hendak menyerang dan kami wajib bertahan. Silahkan."

Kim Ie Mo-Jin mengulapkan tangan, itulah tanda bergerak. Kim San Nio dan Kim Ie  Mo-Jin mendekati mulut sumur.

Situasi Sumur Penggantungan tegang kembali.

Kedatangan Kim Ie Mo-Jin setengah terdesak oleh tekanan   Giok   Hong   dan    Kat    Lauw    Kui. Dikatakan oleh kedua orang itu, bahwa perkumpulan Kim Ie kauw tidak berguna. Tidak dapat meringkus seorang bocah yang mengangkangi kitab pusaka mereka. Dan dengan mulut besar. Kim Ie Mo-Jin mengatakan kepada mereka. bahwa dia pasti dapat membekuk Tan Ciu, maka kitab Thian-Mo-Po-Lok pasti dapat direbut kembali. Dia tidak membutuhkan pakta militer, Kim ie kauw tidak mau diikat oleh golongan lain.

Dia tidak akan meninggalkan Sumur penggantungan, sebelum berhasil menemui Tan Ciu untuk meminta kitab Thian-Mo-Po-Lok. Membarengi gerakan Kim Ie lo-jin dan Kim San Nio, dia pun turut bergerak kedepan.

Ong Jie Hauw mengincar Kim Ie Mo-Jin, dia membentak. "Berhenti..!"

Kim Ie Mo-Jin tidak akan menghentikan gerakannya, sebelum cita-citanya untuk menarik kitab Thian-Mo-Po-Lok terlaksana. Dia masih menggerakkan kaki, maju kearah mulut sumur.

Ong Jie Hauw mengayun tangan, memukul ketua Kim Ie Kauw.

Kim Ie Mo-Jin sudah memperhitungkan akan adanya penyerangan itu, diapun menerima penuh. Akibat dari benturan tenaga masing-masing terdorong mundur kebelakang.

Disaat yang bersamaan, Pek Pek Hap mengadu kekuatan dengan Kie ie lo-jin, Lie Bwee bergunjang dengan Kim San Nio.

Seorang bayangan kecil merayap keluar dari dalam sumur, inilah Kim Cui.

Kim Ie Mo-Jin dapat melihat adanya putri itu. Dia mengeluarkan suara kaget.

"Kim Cui!?"

"Ayah.." Kim Cui meneriaki ayahnya. "Dapatkah kau menunggu beberapa hari?"

"Tutup mulut." Kim Ie Mo-Jin membentak. "Siapa yang menyuruh kau berada ditempat ini?"

"Ayah, aku hendak meminta kitab Thian-Mo-Po-Lok itu, berilah kesempatan beberapa hari." Kim Siauw Cui memohon. "Hayo!! kau pulang! " Kim Ie Mo-Jin membentak.

Tentu saja Kim Cui tidak dapat menerima hardikan ayahnya itu. Dia mengeloyor dipinggir sumur. Kim Ie Mo- Jin marah besar, tenaganya yang tersedia  untuk menghadapi Ong Jie Hauw terayun ke tempat putri sendiri, wing... dia memukul Kim Cui.

"Pergi!" Bentaknya keras. "Hayo pulang."

Kim Cui terseret jatuh pukulan ayahnya. tidak ringan, dia masih memandang dengan sinar mata permohonan, agar ayah itu dapat memberi kelonggaran waktu.

Kehormatan Kim Ie Mo-Jin semakin tersinggung, tangannya hampir terayun lagi.

Tiba-tiba....

Satu suara yang keren membentak. "Kim Ie Mo-Jin tarik kembali tanganmu."

Disana telah bertambah seorang nenek berbaju hitam. nenek inilah yang mengeluarkan bentakan tadi.

Kim cui membuka mulut. "Suhu "

Nenek berbaju hitam itu adalah guru si gadis, dia menghampiri, mengelus rambut Kim Cui yang ikal, Menyaksikan keadaan muridnya, dia memancarakan sinar matanya yang liar.

"Siapakah yang telah melukai muridku?" dia bergeram marah.

"Aku." Berkata Kim Ie Mo-Jin.

"Kau??" suatu hal yang berada di luar dugaan nenek berbaju hitam itu. "Ng..."

"Siapa yang menyuruh kau melukainya?" "Dia berkhianat kepada Kim ie kauwcu."

"Huh... yang mana lebih penting? Putri sendiri atau perkumpulanmu?"

Kim Ie Mo-Jin diam bungkam.

"Kim Ie Mo-Jin." bentak nenek berbaju hitam. "Jawab pertanyaanku. Mau apa tidak kau menerima kesalahan putrimu?"

"Aku tidak mengerti" berkata Kim Ie Mo-Jin.

"Kukira kau lebih sayang kepada gengsi kepribadian, kau tidak membutuhkan cinta kasih putrimu."

"Terserah bagaimana penilaianmu."

"Bagus. Kau tidak mau Kim Cui. Tapi aku sebagai gurunya wajib menerima dia."

Menggapaikan tangan keraah Kim Cui, nenek itu memanggil. "Mari, kau ikut aku."

Dengan membawa tubuh Kim Cui, nenek itu meninggalkan tempat kejadian.

Nenek berbaju hitam menarik keluar Kim Cui dari persengketaan dengan Sumur Penggantungan.

Ong Jie Hauw menyengir-nyengir didepan Kim Ie Mo- Jin.

Hal ini semakin menjengkelkan hati ketua Ki ie  kauw itu, sangkanya mengejek sekali. tangannya terayun memukul kearah si Pendekar Dungu Muda.

Setelah mengalami pertempuran yang terus menerus, pengalaman Ong Jie Hauw mendapat banyak kemajuan, dimulut dia tersenyum memandang rendah, disamping itu, kekuatannya pun tidak lengah, adanya kegaiban yang memberkahi dirinya sebagai jago tanpa tandingan menjadikan Ong Jie Hauw kebal pukulan, dia telah bersiap- siap. Diterimanya pukulan Kim Ie Mo-Jin tanpa mengurangi isi kekuatan.

Lagi-lagi kedua orang ini terpisah, Benturan yang seperti itu tidak akan melukai lawan, Kim Ie Mo-Jin berpengalaman luas, Ong Jie Hauw bertenaga kebal. Mereka melanjutkan pertempuran.

Kim San Nio ingin memasuki Sumur Penggantungan. Lie Bwee tidak berpeluk tangan, dan pecahlah peperangan di front kedua.

Front berikutnya, yaitu front ketiga adalah pertempuran diantar Kim ie Lo-jin dan Pek Pek Hap. Mereka bertanding.

Pek Pek Hap pernah disegani orang, Kim ie Lo-jin adalah adik kandung Kim Ie Mo-Jin, ilmu kepandaiannya hanya terpaut sedikit dari saudaranya itu. Tentu saja tidak mudah ditundukan.

Dari ketiga kelompok itu, pertandingan Lie Bwee dan Kim san Nio berjalan tidak seimbang, Kim San Nio menduduki kursi ketiga diperkumpulan Kim ie kauw, tentu saja mempunyai keistimewaannya, dia mendesak Lie Bwee hebat.

Belasan jurus lagi, Lie Bwee tidak dapat mempertahankan diri, dia berusaha mengelakkan pukulan Kim San Nio, Tidak berhasil.

"Aduh.." dia mengeluarkan jeritan. tubuhnya jatuh kebelakang.

Ong Jie hauw meninggalkan lawannya, jadi menguntungkan si Pendekar Dungu adalah jarak pertempuran-pertempuran itu yang tidak terlalu jauh, begitu cepat Lie Bwee terjatuh, begitu cepat pula dia menyelak didepan kekasihnya.

Kim San Nio lari kearah sumur, dia siap memasuki tempat dibawah tanah itu.

Ong Jie Hauw menggerakkan tangan, hanya satu kali tarik, dia memaksa wanita itu membalikkan badan, tangannya diayun menyempong pinggang Kim San nio.

Kim San Nio bukan jago biasa, ia sudah memperhitungkan akan adanya gangguan ini. Bila berani musuhnya menarik dari belakang, dengan satu sambaran tangan, musuh itu akan dipukul mati.

Dan betul saja, Ong Jie Hauw melakukan gerakan itu. Kim San Nio memukul kebelakang, tepat sekali mengenai dada Ong Jie Hauw. Dan disaat inilah sempongan tangan si pemuda mampir dipinggangnya.

Terdengar suara jeritan Kim San Nio, tulang pinggang wanita itu patah dan remuk. Tidak sanggup mempertahankan diri dari kekuatan gaib si pemuda.

Letak kesalahan Kim San Nio adalah  kurang perhitungan untuk menambah kekuatan gaib Ong Jie Hauw. Dia berhasil mengenai dada lawannya, tapi pemuda itu tidak mengalami cedera, dan karena itulah isi pinggangnya dipukul remuk, dia mati secara mengerikan sekali.

Kim Ie Mo-Jin yang ditinggalkan oleh Ong Jie hauw berganti siasat perang, dia menang pengalaman, dia kalah tenaga kekebalan yang sangat luar biasa, untuk mengalahkan Ong Jie hauw tanpa menggunakan tipu tentu tidak membawa hasil, Kini dia melayangkan dirinya tinggi, dari atas turun kebawah, mengincar Ong Jie Hauw, dan tentu saja pemuda itu tidak takut pukulan, membiarkan dirinya dijadikan sasaran. Kim Ie Mo-Jin mengempos tenaga, dan dengan semua latihan dalam yang ada, dia memukul kepala Ong  Jie Hauw.

Hasil dari pukulan ini memang luar biasa.

Terdengar suara pukulan keras, tanah yang dipijak Ong Jie Hauw ambles berikut juga tubuh pemuda itu,  lenyap dari permukaan bumi, seluruh badan dan kepala sipemuda terpukul masuk kedalam tanah.

Hebat!!

Kim Ie Mo-Jin memang luar biasa.

Pek Co Yong dan Lie Bwee yang menyaksikan kejadian itu berteriak kaget.

Kim Ie Mo-Jin tidak banyak membuang waktu langsung mengincar Lie Bwee.

Lie Bwee dan Pek Co Yong menggabungkan tenaga mereka. sedapat mungkin bertahan dari pukulan Kim Ie Mo-Jin.

Masih tidak berhasil, Kim Ie Mo-Jin bukan jago sembarangan. Lie Bwee dan Pek Co yong terpukul jatuh.

Bluss.....

Dari dalam tanah, muncul satu bayangan. Itulah bayangan Ong Jie Hauw, ternyata pukulan Kim Ie Mo-Jin hanya dapat menenggelamkan dirinya ke dalam bumi, tapi tidak mungkin melukainya, Kini ia tampil kembali.

Kim Ie Mo-Jin tersentak kaget, baru pertama kalinya dia memukul orang tidak mati. Bahkan tempat yang dipukul adalah kepala lawan yang sangat lemah. Manusia apakah orang ini.

Ong Jie Hauw memukul Kim Ie Mo-Jin, Dia membikin pembalasan.

Kim Ie Mo-Jin menerima pukulan tadi, dengan Su liang pok Cian kim atau Tenaga kecil menggeser Benda Berat, menyampingkan inti pukulan Ong Jie Hauw. Tidak urung kedudukan jago itupun tergoyah dari tempatnya.

Ong Jie hauw sudah menjadi begitu kalap, saling susul dia mengirim hantaman-hantamannya. Kim Ie Mo-Jin makin mundur kebelakang.

Dilain pihak Kim Ie lo-jin juga tidak  dapat memenangkan pertandingan, Pek Pek Hap mendesak terlalu hebat, karena itulah Kim Ie lo-jin berusaha meminta bantuan, tentu saja dia tidak berhasil. Dua orang saudara  itu bertempur dan mundur, kemungkinan menggabungkan diri mereka.

Pek pek Hap mengundurkan serangannya. Dia tidak berani memaksa Kim Ie Mo-Jin dan Kim Ie  Lo-jin mengadu jiwa.

Ong Jie Hauw kebal senjata, tidak mempan pukulan, tidak takut terluka, si Pendekar Dungu Muda mengejar Kim Ie Mo-Jin dua saudara.

Kim Ie Mo-Jin masih banyak akal, mengingat tidak mungkin menandingi pemuda itu. Dia membalikkan badan, lari jauh. Dari sana masih mengeluarkan kata-kata tekebur.

"Jangan kalian lari,  Tunggulah pembalasan Kim ie kauw." Mengajak orang-orangnya Kim Ie Mo-Jin pulang sarang. Ong Jie Hauw masih hendak mengadakan pengejaran, tapi Pek Pek Hap sudah meneriaki pemuda itu.

"Saudara Ong Jie Hauw, jangan terlalu jauh dari Sumur Penggantungan."

Ong Jie Hauw dapat diberi mengerti. Dia membatalkan niatnya kembali kearah Sumur Penggantungan.

Lie Bwee dan Pek Co Yong terengah-engah disamping sisi Sumur Penggantungan.

"Lie Bwee, bagaimana keadaan lukamu?" bertanya Ong Jie Hauw penuh perhatian.

Gadis itu menyeringai, Lukanya tidak ringan, Beruntung dia dapat pertolongan segera, tidak sampai mengakibatkan terganggunya selembar jiwanya.

Permaisuri dari Kutub Utara Pek Pek Hap memberikan pertolongan yang secukupnya, sang Putri juga menderita luka.

Mereka kembali masuk ke dalam Sumur Penggantungan.

Tan Ciu, Si pengemis tukang ramal amatir, Tong Kay dan Giok Hu Yong baru meninggalkan tempat melatih diri, Menyaksikan keadaan beberapa orang itu penuh debu, dengan tubuh luka-luka dan rambut kusut, Mereka heran sekali.

"Eh.. apakah yang terjadi?"

"Musuh masih belum pergi." Pek Pek Hap memberi keterangan.

"Giok Hong balik kembali?"

"Bukan.. yang datang adalah rombongan Kim Ie kauw, langsung berada dibawah pimpinan Kim Ie Mo-Jin."

"Aaaa Kim Ie Mo-Jin.." "Betul. mereka sudah melarikan diri. Tidak satupun yang dapat menandingi saudara Ong Jie Hauw..."

Semua mata tertuju kepada Si Pendekar Dungu Muda. "Aha.." Tan Ciu berteriak girang. "Kau balik kembali?"

Ong Jie hauw menganggukkan kepalannya. disamping pemuda itu, menggelot seorang gadis, inilah Lie Bwee.

Dari mereka Tan Ciu mendapat keterangan tentang penyerbuan Ratu Bunga Giok Hong. Penyerangan kedua adalah dari rombongan Kim Ie kauw, entah dari mana lagi yang akan menyerang Sumur Penggantungan?

Bercerita beberapa waktu, Tan Ciu tidak dapat melihat adanya Tan Sang dan Tan Kiam Pek.

"Ibu.." Dia memandang Giok Hu Yong. "Dimanakah Tan Sang pergi?"

Giok Hu Yong meneteskan air mata. Tan Ciu terkejut.

"Eh.." Dia berteriak keras.. "Apa yang telah terjadi?"

”Dikala mendapat serangan Sri Ratu Bunga Giok Hong dan konco-konconya, kakakmu telah menjadi korban keganasan tangan mereka." Pek Pek Hap memberi keterangan.

"Aaa !"

Setelah itu, diceritakan juga akan jalan cerita, Tan Sang, Tan Kiam Pek adalah pahlawan-pahlawan Sumur Penggantungan yang gugur untuk membela keselamatan kelompok itu.

Setelah selesai bercerita, Pek Pek Hap bersandar pada dinding ruangan. Ruangan yang berada didalam Sumur Penggantungan itu sunyi senyap dan sepi. Mereka dirundung oleh kesedihan besar.

Permaisuri dari Kutub Utara Pek Pek Hap, Melati Putih Giok Hu Yong, Pengemis Tukang Ramal Amatir Tong Kay, Pendekar Dungu Muda Ong Jie Hauw, jago  muda Tan Ciu, Pek Co Yong dan Lie Bwee sedang berkumpul didalam ruangan itu. Mereka mengenang jasa-jasa  Tan Sang dan Tan Kiam Pek.

Demi menolong kawan-kawan mereka, Tan Kiam Pek dan Tan Sang mengorbankan diri mereka sendiri. Tidak ada yang lebih berharga dari pengorbanan mereka ini.

Braaakkk....

Tiba-tiba tangan Tan ciu memukul dinding ruangan.

Kemarahan si pemuda melonjak keras.

"Eh.." Pengemis Tukang Ramal Amatir Tong Kay mengerutkan alisnya, "Apa yang sedang kau kerjakan?"

"Aku harus menuntut balas." Tan Ciu mengeretek gigi.

Dia berjalan pergi.

"Hei.." Tong Kay meneriakinya lagi. "Kembali!!!"

Tan Ciu tidak menghentikan langkahnya, tekadnya sudah bulat. Tidak ada sesuatupun yang dapat membendung kemarahan itu.

Pengemis Tukang Ramal Amatir Tong Kay berteriak dari belakang.

"Bocah panas. gunakanlah pikiranmu yang dingin. Sebelum mempunyai cukup kekuatan untuk mengalahkan mereka. Jangan kau sembarangan bergerak."

Tan Ciu tidak membalas peringatan itu. Giliran Giok hu Yong yang bergerak dari tempatnya. dia menyusul larinya sang putra.

"Tan Ciu." Jago wanita ini membentak. Dia sudah kehilangan satu orang putri, Tentu saja tidak akan membiarkan putra ini dibunuh mati lagi.

Tan Ciu berdiam. Mereka ibu dan anak saling pandang. Pek Pek Hap sekalian pun sudah menyusul datang.

"Tan Ciu." Berkata Pek Pek Hap. "Bukan jaman untuk sok2an menjadi seorang jago. Balik dan rundingkanlah untuk mengatasi keadaan ini."

"Tan Ciu." Pengemis Tukang Ramal Amatir Tong Kay membuka mulut. "Kita harus mengumpulkan jago-jago kuat, meminta bantuan kawan-kawan baik. Setelah itu aku tidak akan mengganggu kau menuntut balas."

Semua orang berusaha untuk menahan Tan Ciu. Hasil dari perundingan itu adalah menarik kekuatan yang dapat membantu usaha mereka. Diantaranya kekuatan dari Guha Kematian dan jago-jago utara yang dikenal baik oleh Pek Pek Hap. Untuk menghubungi Guha Kematian, Tan Ciu mendapat tugas khusus. Dan untuk memanggil jago-jago utara, Pek Pek Hap bersedia mencalonkan dirinya.

Perundingan itupun selesai sampai disitu. Pek Pek Hap menuju kearah utara.

Tan Ciu melakukan perjalanan kearah Guha kematian.

Menyingkirkan cerita Pek Pek Hap dan mengikuti perjalanan Tan Ciu.

Seperti apa yang telah diceritakan dibagian depan Guha Kematian berada dibawah asuhan Thio Ai Kie, Dengan mendapat bantuan Thio Ai kie, tentu saja kekuatan itu bukan kekuatan biasa. Tak jauh dari Guha Kematian, berlari datang satu bayangan, langsung menghampiri Tan Ciu. Jago muda kita menghentikan langkahnya.

Dia memperhatikan orang tua yang  berada dihadapannya, tidak terlalu asing, inilah Pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap yang mempunyai dendam pembunuhan muridnya.

"Kau?" Tan Ciu menduga buruk.

Murid Sin Hong Hiap terbunuh mati dibawah tangannya. Dan atas kejadian itu, mengikuti adanya yang kasar dan yang mau menang sendiri, Sin Hong Hiap pernah bentrok dengannya.

Pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap menganggukkan kepala.

"Kau baru tiba?" dia mengajukan pertanyaan.

Tan Ciu membawakan sikap siap tempur, dahulu dia bukan tandingan si jago tua, hampir saja mati dibawah tangannya. Beruntung Thio Ai Kie memberi pertolongan, maka dia luput dari kematian.

"Sin Hong Hiap, kau hendak mengadakan tuntutan atas kematian Chio It Chong?" Tan Ciu menegur.

"Ha..Ha..Ha..." Sin Hong Hiap tertawa. "Mengapa tertawa?" bertanya Tan Ciu heran. "Aku?!"

"Hee,, apa guna menyambung permusuhan? Hampir aku menjadi korban Thio Ai Kie. Dan muridku itupun salah sendiri. Kedatanganku bukan urusan itu "

"Maksudmu?" "Kau belum tahu, bahwa drama kehancuran hampir melanda Guha Kematian."

"Bahaya kehancuran?"

"Mari kita pulang." Berkata Sin Hong Hiap. "Pulang??"

"Ng.... Aku menetap didalam Guha Kematian. Thio Ai Kie dan Thio Bie Kie melatih dan memperdalam ilmu kepandaian mereka, kurang berhati-hati, seret jalan masuk api. Aku tiba tepat pada waktunya, dikala aku masuk kedalam Guha Kematian, mereka masih kelejetan, cepat- cepat kutotok jalan darah mereka. Memberi perintah kepada Siauw Tin untuk meminta obat Thong Thian hoan. obat Thong Thian-hoan hanya berada di pulau Tong-hay, Siauw Tin pergi ke tempat itu.

"Aaaa " Tan Ciu mengeluarkan seruan kaget.

Bersama-sama dengan Sin Hong Hiap, mereka lari kearah Guha Kematian. Seperti apa yang diceritakan Thio Ai Kie dan Thio Bie Kie sangat mengkhawatirkan. Dua saudara itu salah melatih diri, hampir mati.

"Kita harus segera membantu Siauw Tin." berkata Tan Ciu.

"Mengapa?" Sin Hong Hiap belum mengerti.

"Salah satu dari tiga jago Tong-hay yaitu si kurus kering Kut Lauw Kui sudah menggabungkan diri dengan Sri Ratu Bunga, kedudukannya tentu tidak akan menguntungkan kita."

Diceritakan kejadian yang sudah terjadi di Sumur Penggantungan. "Betul." Berkata Sin Hong Hiap. Dia dapat menyetujui pendapat si pemuda. "Siauw Tin meminta obat, belum tentu dapat."

Setelah mempernahkan dua saudara Thio, Tan Ciu dan Sin Hong-hiap meninggalkan Guha Kematian. Mereka menuju kearah Pulau Thong-hay, menyusul Siauw  Tin yang meminta obat Thong thian-hoan.

Perjalanan menuju ke pulau Tong Hay dilanjutkan dengan menggunakan perahu, pengalaman-pengalaman Sie Hong hiap sangat luas, mereka menyewa perahu, menuju kelaut Timur.

Perahu yang membawa Tan Ciu dan Sin Hong Hiap meluncur dengan laju!

"Berapa lamakah melakukan perjalanan yang seperti ini?" Tan Ciu mengajukan pertanyaan.

"Kurang lebih dua hari." Sin Hong hiap memberi keterangan.

Satu hari lagi, Pulau Tong-hay sudah berada didepan mata, ternyata laju perahu berada di depan mata, ternyata laju perahu berada diluar dugaan mereka, begitu cepat berada di pulau Tong Hay.

Pulau Tong hay dijagoi oleh Kut Lauw Kui, Tay Tauw Kui dan Bu Ceng-kui, tiga akhli silat yang merajai pulau tersebut, kemudian ditempat ini sangat sepi sekali.

Tan Ciu dan Sip Hong Hiap tidak menemukan lain perahu, entah bagaimana keadaan Siauw Tin ditempat itu.

Tan Ciu dan Sin Hong Hiap mengadakan perundingan, mereka memisahkan diri, menyelidiki keadaan pulau itu secara terpisah. Sin Hong-hiap menuju ke Selatan, Tan Ciu menyelidiki bagian Utara Pulau itu. Mengikuti penyelidikan Tan ciu, tampak pemuda ini merayap naik dari sebuah tebing batu.

"Siapa?" tiba-tiba terdengar suara bentakan dari atas tebing batu itu.

"Aku.." Tan Ciu memunculkan dirinya. Ia berhadapan dengan seorang lelaki tinggi.

"Sebutkan namamu." Bentak orang itu. "Tan Ciu."

"Dengan maksud tujuan?"

"Bertemu dengan tiga jago Tong Hay." "Ada urusan apa?"

"Boleh aku bicara langsung dengan mereka?" Tan Ciu tertawa.

Laki-laki itu memperhatikan si pemuda beberapa waktu, kemudian menganggukkan kepala.

"Baiklah" Dia mengajak Tan Ciu kepada sang majikan. Tiga Jago Tong Hay, Kut Lauw Kui, Tay Tauw Kui dan

Bu  ceng Kui tinggal didalam bangunan-bangunan  batu. Itu

waktu Kut Lauw Kui masih berada di daerah tionggoan, yang ada hanya Tay Tauw Kui dan Bu Ceng-kui.

Tay Tauw Kui adalah kepala dari tiga orang itu, Tan Ciu langsung dibawa menghadap dirinya,

Didalam sebuah ruangan batu, duduk seorang pendek yang gemuk, bentuk kepalanya hampir menyamaii perutnya, inilah Tay Tauw Kui.

"Silahkan duduk.." Memandang tamunya dia membuka suara. Tan Ciu duduk ditempat yang sudah disediakan untuknya.

"Ada keperluan apa Tuan datang kemari?" Lagi-lagi Tay Tauw Kui mengajukan pertanyaan.

"Sebelumnya aku wajib memperkenalan diri." Berkata sang pemuda, "Aku Tan Ciu, datang dari daerah Tionggoan."

"Ngg "

"Kudengar hanya tiga jago dari Tong-hay yang memiliki obat Thong Thian-hoan, betulkah cerita orang yang seperti itu?"

"Thong thian-hoan?" Tay Tauw Kui menganggukkan kepala. "Kedatanganmu mempunyai hubungan dengan Obat Thong THian-hoan?"

"Sedikit banyak mempunyai hubungan." berkata Tan Ciu.

"Thong Thian-hoan khusus untuk menyembuhkan orang yang salah melatih diri, siapakah yang menderita luka itu?"

"Dua kawan yang pernah menolong jiwaku?"

"Dan kedatangan tuan untuk meminta obat Thong thian- hoan?"

"Pertama-tama aku mengharapkan bantuanmu untuk membagi dua butir obat itu." berkata Tan ciu. "Dan urusan kedua adalah tentang seorang gadis yang bernama Siauw Tin."

"Seorang gadis yang bernama Siauw Tin?"

"Ng Tuan pernah mendapat kunjungannya bukan?"

"Kau orang mengatakan bahwa ada seorang gadis yang bernama Siauw Tin pernah berkunjung ke arah pulau ini." Kata-kata yang di ulang oleh Tay Tauw Kui menandakan bahwa Siauw Tin belum sampai di pulau tersebut.

"Mungkinkah dia belum sampai?" Tan Ciu menduga buruk, tentunya perahu siauw Tin mengalami sesuatu, Maka dia tidak dapat melihat gadis itu.

Tay-tauw Kui memandang salah satu orangnya, dia bertanya kepada orang itu. "Ada seorang gadis yang datang ke pulau ini?"

Laki-laki yang ditanya juga tertegun. "Belum ada." Dia memberikan jawaban.

"Betul-betul tidak ada seorang gadis yang hendak bertemu dengan aku?" Tay Tauw Kui meminta kepastian orangnya.

"Sungguh!!" Orang itu berkata pasti.

Tay Tauw Kui mengalihkan sinar matanya kearah Tan Ciu. "Bagaimana potongan dan bentuk tubuh gadis itu?"

Tan Ciu menggambarkan dedak, perawakan Siauw Tin. "Kau tunggu sebentar." Berkata Tay Tauw Kui.

"Akan kuperiksa dahulu kejadian ini?"

Dia memberi pesan beberapa patah kata, maka laki-laki tinggi itu meninggalkan keluar.

Tidak lama kemudian, orang tersebut sudah balik kembali. Dia memberi laporan. "Tidak ada seorang gadis yang mencari Tay To cu?"

Tan Ciu mengerutkan alisnya.

"Bagaimana dia belum sampai?" Anak muda ini bergugam. "Kau tidak percaya?" Balik tanya Tay Tauw Kui. Tan Ciu ragu-ragu.

Tay Tauw Kui berkata. "Disekitar pulau sering terjadi

gelombang pasang, besar kemungkinannya kawan gadismu itu terdampar kelain tempat."

"Terdampar kelain tempat?" Tan ciu harus percaya kepada keterangannya.

"Hal ini bukan tidak mungkin terjadi." Tay Tauw-kui memperkuat keterangannya.,

Tan Ciu menarik napas.

"Dan untuk permintaanmu yang pertama, memang obat Thong thian-hoan, kami tidak dapat memberikan kepadamu." Berkata Tay Tauw Kui.

Tan Ciu harus berdaya upaya.

Tapi Kut Lauw Kui dapat memberikannya.

Dia berkata, "Kut Lauw Kui adalah kakek berbaju merah kurus kering itu. Disaat ini masih berada didaerah Tionggoan." dan Tan Ciu hendak menggunakan kakek itu sebagai alasan.

Tay Tauw Kui terkejut, kepalanya yang agak besar itu digoyangkan.

"Kau sudah bertemu dengan saudaraku yang  ketiga?" Dia bertanya.

"Mungkinkah belum kembali?" Balik bertanya Tan Ciu. "Dia sedang berada di perjalanan didaerah Tionggoan."

Tay Tauw Kui memberi keterangan.

"Aku tahu..." Berkata Tan Ciu. "Mungkinkah belum kembali?" "Belum.."

"Dia memberi luka ditangan seorang yang bernama Ong Jie Hauw."

"Terluka?"

"Ng... Tentunya sudah kembali. Dia wajib mendapat pengobatan segera."

"Tetapi dia belum kembali."

"Wah.. bagaimana? Kukira dia dapat memberi obat Thong Thian Hoan." Berkata Tan Ciu.

Tay Tauw Kui berkata.

"Untuk orang yang berhak mendapat obat Thong Thian- hoan harus memenuhi salah satu dari ketiga syarat ini. Syarat pertama adalah pamili atau orang terdekat kami. Syarat kedua adalah orang yang pernah menolong kami. Dan syarat yang ketiga adalah orang yang dapat mengalahkan kami."

"Kau tidak bersedia memberi atau menjual obat itu?" Berkata Tan Ciu.

"Obat dari daerah Tong-hay bukan khusus untuk di perjual-belikan, tentu saja tidak dijual. Kecuali kau dapat memenuhi salah satu dari ketiga syarat yang sudah kusebut tadi."

"Aku bersedia memenuhi syarat yang ketiga." Berkata Tan Ciu.

"Kau hendak menentang aku? Suatu hal yang hampir belum pernah terjadi."

Tiga jago dari Tong hay terkenal belum menemukan tandingan. Dan hari itu seorang anak muda yang belum mendapat nama hendak menantangnya. Tentu saja suatu hal yang membingungkan Tay Tauw Kui.

Tan Ciu menganggukkan kepala.

"Kawanku menderita bahaya. Aku harus segera menolongnya." Berkata si pemuda. "Karena itu dengan memberanikan diri, aku hendak menantang tuan."

"Baik!" Tay Tauw Kui sangat setuju. "Katakanlah.

Dengan tangan kosong atau dengan senjata tajam?"

"Kukira cukup dengan beberapa jurus tipu silat tangan kosong saja." Berkata Tan Ciu.

Tay Tauw Kui bangkit dari tempat duduknya,

"Mari kita bertanding diruangan silat." dia mengajak sang tamu muda.

"Tunggu dulu..." Berteriak Tan Ciu. "Ada apa lagi?"

"Dimisalkan aku menghendaki dua butir Thong thian

Hoan, apa aku diwajibkan bertanding sampai dua kali? Atau bertanding dengan dua orang?"

"Oh... dimisalkan kau memiliki ilmu kepandaian silat yang berada diatas diriku, Aku bersedia menghadiahkan dua butir obat Thong Thian Hoan."

"Baik.." Tan Ciu sangat gembira.

Mereka meuju kearah tempat pertandingan.

Setelah memasang kuda-kudanya, Tan Ciu bertanya. "Berapa juruskah untuk menentukan pertandingan ini?"

"Sepuluh jurus...setuju??" "Baik.." Tay Tauw Kui adalah kepala dari tiga jago Tong Hay, tentu memiliki ilmu kepandaian yang tidak  boleh dipandang ringan. Betul Tan Ciu sudah berhasil meyakinkan ilmu Thian mo Sinkang yang tercatat didalam Kitab Thian-Mo-Po-Lok, dapat tidaknya mengalahkan jago Tong Hay itu terlalu penting, kekalahannya berarti kematian bagi Thio Ai Kie dan Thio Bie Kie.

Tan Ciu sangat berhati-hati.

Tay Tauw Kui sudah bergerak, gesit laksana kilat, dia berputar kebelakang lawannya dari situ, baru dia mengirim satu pukulan tangan.

Tan Ciu mengikuti gerakan orang. Maka kedudukan posisi dari kedua orang itu tetap seperti sediakala, mereka berhadap-hadapan. Serangan Tay Tauw Kui dibalas dengan serangan lagi.

Hasil dari benturan tenaga adalah terpisahnya kedua orang yang bertanding. Tan Ciu bergoyang dua tapak, tapi Tay Tauw Kui geser empat langkah. Perbedaan yang sudah jelas, kekuatan Tay Tauw Kui masih berada dibawah si pemuda.

"Hebat." Tay Tauw Kui memberikan pujiannya. Dengan gesit, dia sudah menyerang lagi dua kali.

"Ilmu meringankan tubuh yang  luar biasa." Tan Ciu balas memuji sang lawan.

Untuk tenaga pukulan Tan Ciu menang kepalan, tapi untuk meringankan badan, tidak mungkin Tan Ciu dapat mengejar Tay Tauw Kui.

Sepuluh jurus itu telah selesai dimainkan, Tay Tauw Kui lompat mundur keluar lapangan,

"Aku menyerah." dia berkata lesu. Dari dalam sakunya, Tay Tauw Kui mengeluarkan botol kecil, membuka tutup botol itu dan mengeluarkan dua butir obat. Diserahkan kepada si pemuda.

"Inilah obat Thong Thian-hoan." katanya. "Ambillah.. aku menghadiahkan dua butir."

Tan Ciu menerima pemberian obat itu. Terlalu mudah sekali, Dia tertegun lama. Seolah-olah ada sesuatu yang kurang beres didalam permainan ini. Begitu mudah mendapatkan obat Thong Thian Hoan yang diharapkan. Dia tidak begitu yakin kepada kenyataan.

Memperhatikan dua butir obat yang berwarna hitam.

Tan Ciu mengendus-endusnya.

"Inilah yang bernama obat Thong Thian hoan?" dia bertanya.

"Kau kira obat palsu?" Tay Tauw Kui menunjukkan sikapnya yang tidak puas.

"Aku " Tan Ciu kurang pandai bicara.

Tay Tauw Kui tertawa, dia mengeluarkan botol obat yang belum disimpan tadi, diambilnya satu butir lagi dan diletakkan kedalam mulut. Kluk.. dia menelan obat itu.

"Nah..." dia berkata, "Percayalah!! ini obat asli! tidak mengandung racun.."

Tan Ciu malu kepada diri sendiri. Bila orang itu berani memakannya, Tentu bukan obat palsu. Lebih-lebih bukan obat yang mengandung racun.

"Maafkan aku yang terlalu banyak curiga." Tan Ciu memberi hormat. "Atas pemberian ini, sebelum dan sesudahnya, aku mengucapkan banyak terima kasih." "sama-sama...." Berkata Tay Tauw Kui "Kedua kawanmu yang sedang tersiksa itu membutuhkan pertolongan segera, lekaslah kembali kepadanya."

"Aku meminta diri." Berkata Tan Ciu memberi hormat. "Silahkan..."

Tan Ciu meninggalkan rumah batu Tay Tauw Kui dengan hasil dua butir obat Thong thian-hoan.

Tay Tauw Kui tidak mengantar tamunya. Dia tertawa dingin. Dan kembali masuk ke dalam ruangan tempatnya. Disana sudah menunggu seorang pelajar tua, inilah salah seorang dari tiga orang jago Tong-hay lainnya, Bu Ceng Kui, demikian nama dari pelajar tua itu. 

"Bagus.." Berkata Bu Ceng Kui tertawa. "Kau dapat memegang peranan dengan bagus."

Tay Tauw Kui berdengus.

"Begitu mudah untuk meminta obat Thong Thian Hoan kita?" Dia membawakan sikap yang lain dengan sikap yang diperlihatkan kepada Tan Ciu tadi.

"Bocah yang bernama Tan Ciu ini memang luar biasa." Berkata Bu Ceng Kui.

"Kita sulit untuk menghadapinya." Berkata Tay Tauw Kui. "Dimanakah gadis itu?"

"Didalam kamar." berkata Bu Ceng Kui.

"Eh.. Kau tidak memakan obat penawar racun? Kau sudah memakan Ngo-tok liat-cong-hoan terlalu lama."

Tay tauw Kui memilih obat penawar racun, dimakannya segera. Dan obat yang dikatakan sebagai obat Thong Thian Hoan itu adalah racun Ngo tok liat-cong-hoan yang maha bisa. Maka dia harus memakan obat penawarnya. "Kita berhasil mengusir mereka tanpa pertempuran." Berkata Tay Tauw Kui.

"Ngg.... Kau pandai memegang peranan." Puji Bu Ceng Kui.

"Dia tidak curiga?"

"Kukira tidak.." Berkata Tay Tauw Kui. "Bagaimana keadaan gadis itu. dia setuju?"

"Belum." berkata Bu Ceng Kui. "Tapi aku percaya, dia pasti melulusi permintaan kita,."

"Tentu saja."

Mereka tertawa besar, Suara-suara Bu Ceng Kui dan Tay Tauw-kui memenuhi seluruh ruangan itu. Mereka mengira bahwa Tan Ciu dapat dikelabui dengan mudah,. Memang terlalu gampang untuk mengibuli anak muda yang tidak berpengalaman.

Menceritakan perjalanan Tan Ciu dia sudah balik kembali keperahu mereka. Disana sudah menunggu si tukang perahu beserta Pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap.

"Bagaimana?" Sin Hong Hiap mengajukan pertanyaan. "Success..." Berteriak Tan Ciu gembira. Mengeluarkan

racun Ngo-tok hiat cong-hoan dan berkata. "Nah.. inilah obat Thong Thian Hoan."

Dia belum tahu bahwa Bu Ceng Kui dan Tay Tauw Kui sudah bersekongkol untuk meracuni orang-orang yang bersangkutan. Memberi nama obat Thong Thian Hoan kepada racun Ngo-Tok hiat-cong-hoan.

Pengalaman-pengalaman Sin Hong Hiap sudah menjadikan si jago muda sebagai seorang yang mempunyai ketajaman istimewa. Dia menerima obat itu segera. "Bagaimana dengan keadaan Siauw Tin?" dia bertanya.

"Mereka mengatakan bahwa dia belum datang." Jawab Tan Ciu mengulang keterangan Tay Tauw Kui.

"Siauw Tin belum sampai di pulau ini?" "Betul.."

"Ach.. kukira tidak mungkin, dia sudah berangkat beberapa hari dimuka."

"Sungguh, Siauw Tin belum sampai."

"Bagaimana kau tahu, jika Siauw Tin belum sampai diatas pulau?"

"Tay Tauw Kui yang mengatakan."

"Begitu percaya kau kepada keterangan orang."

"Kukira boleh dipercaya." Berkata Tan Ciu. "Dia begitu baik kepada kita, memberi obat Thong Thian-hoan, tidak ada alasan untuknya menipu orang."

"Kau tahu pasti bahwa obat ini yang bernama Thong Thian-hoan?"

"Tay Tauw Kui telah menelan satu butir obat juga." "Obat yang sama?"

"Obat yang sama!!"

"Ngg...." Sin Hong Hiap tidak dapat mengemukakan alasan lain.

"Mari kita berangkat pulang." Tan Ciu memberi saran.

Sin Hong Hiap sudah bersedia menuruti  kehendak kawan itu, tiba-tiba bayangan menyelusup masuk kedalam benak pikirannya. Dia menghentikan gerak langkah kakinya. "Tunggu dulu!!" dia berkata.

"Ada apa?" Tan Ciu menoleh ke arah si Pendekar Dewa Angin.

"Kukira ada sesuatu yang tidak beres." berkata Sin Hong Hiap. "Seolah-olah aku mendapat firasat buruk."

"Firasat tentang apa?" Bertanya Tan Ciu. Dia masih belum mengerti.

"Kukira terlalu mudah kau menerima obat Thong Thian Hoan."

"Tentu saja mudah. karena aku sudah mengalahkan Tay Tauw-kui."

"Bukan itu yang kumaksudkan. Apa akibatnya bila dia menyerahkan obat palsu kepadamu?"

"Obat palsu?" Tan Ciu semakin bingung. "Mana mungkin."

"Dimisalkan racun jahat yang dapat mematikan orang.

Bukankah jiwa dua saudara Thio akan tersiksa?"

"Tidak mungkin... Tay Tauw kui berani menelan obat yang mengandung racun, bukan? Kesimpulanku ialah, obat yang diberikan olehnya adalah obat tulen."

"Belum tentu..." "Alasanmu?"

"Dimisalkan dia sudah menyediakan penawar racun,

setelah itu dihadapanmu dia berdemonstrasi, menelan benda yang diserahkan kepadamu. Dapatkah racun itu bekerja?"

"Dia sudah memakan obat penawar racun?"  "Dimisalkan sampai terjadi permainan ini. Siapakah

yang dirugikan?" Tan Ciu sadar akan kesalahannya. Dia meminta obat Thong Thian-hoan untuk menolong Thio Ai Kie dan Thio Bie Kie, bukan untuk menyelakakan mereka. Bila sampai terjadi permainan sulap Tay Tauw Kui, secara tidak langsung dialah yang membunuh bekas penolong itu. Dia harus berhati-hati.

"Kau mengatakan bahwa kedua obat ini berupa benda yang mengandung racun?" Tan Ciu mengajukan pertanyaan.

"Belum dapat dipastikan." Berkata Sin Hong Hiap mengangkat pundak.

"Kita harus mengadakan percobaan itu?" bertanya Sin Hong Hiap menyengir.

Tan Ciu garuk-garuk kepala. Bagaimana dapat mengadakan percoaan itu? Bagaimana dia harus mencoba asli tidaknya dari kedua butir obat yang didapat dari Tay Tauw Kui?

Dimisalkan obat itu berjumlah lebih daripada dua, tentu saja mudah diselesaikan.

Sin Hong Hiap berkata. "Setelah terbukti, bahwa obat ini bukan obat yang asli, Tentunya mereka telah menahan Siauw Tin."

"Betul!! besar kemungkinannya Siauw Tin masih berada di pulau ini."

"Betul. Kita harus mencari keterangan yang lebih jelas."

Sin Hong Hiap lompat turun dari perahu, dia menggapaikan tangan.

"Mari.." katanya "Kau ikut aku." Tan Ciu meniru gerakan si Pendekar Dewa Angin. Mereka balik kembali. Mengunjuk penjaga pulau, Sin Hong Hiap berkata.

"Bekuk orang ini. Kita meminta keterangannya." "Baik!!" Tan Ciu mendekati penjaga pulau itu.

Lelaki yang sedang meronda terkejut. "Eh.. kau belum pergi?" dia heran.

"Belum!!" Berkata Tan Ciu tertawa. "Boleh aku mengetahui namamu?"

"Aku Ciok Boh." berkata laki-laki itu.

"Saudara Ciok Boh, bagaimana hubunganmu dengan ketiga jago Tong-hay?" Bertanya Tan Ciu.

"Aku adalah muridnya." Berkata Ciok Boh.

"Bagus. Tentunya paham sekali tentang keadaan tempat ini bukan?"

"Tentu saja."

"Pernah mendengar nama obat Thong Thian-hoan?" "Itulah obat kesayangan guru-guru kami," berkata Ciok

Boh. "Khasiatnya adalah khusus untuk  menyembuhkan bagi mereka yang sesat melatih diri."

Tan ciu mengeluarkan dua butir obat pemberian Tay Tauw Kui, diserahkannya kepada Ciok Boh dan berkata "Kenal kepada obat ini?"

"Itulah obat Thong Thian Hoan yang suhu berikan kepadamu." berkata Ciok Boh.

"Namanya?"

"Thong Thian Hoan." "Yakin, bahwa obat ini yang bernama Thong Thian- hoan?!"

Wajah Ciok Boh berubah.

"Tidak salah lagi." Suaranya agak gemetar.

"Bagus!!" Tan Ciu tertawa dingin. "Hendak kuhadiahkan kepadamu. Makanlah."

"Ah.." Ciok Boh gugup. "Aku segar bugar, bagaimana disuruh makan Thong Thian Hoan?"

"Tidak ada salahnya bukan?" "Tapi... tapi "

"Coba kau makan obat ini.."

"Guruku sudah memakan satu butir bukan?"

"Aku memberi perintah agar kau memakan obat ini."

Ciok Boh melempar obat itu, Tan Ciu kaget, Tangan si pemuda terjulur, hendak menyanggah obat yang dibuang oleh Ciok Boh.

Dan kesempatan inilah yang ditunggu oleh murid Tay Tauw Kui. Begitu tepat pula dia memukul kepala si pemuda.

Tan Ciu sadar akan adanya bahaya itu. Cepat dia mengegos.

"Kau ?!" Suara ini terputus. Tangan Ciok Boh mengenai

pundaknya. Tan Ciu terdorong kebelakang.

Ciok Boh menyusul datang. Dia hendak menamatkan jiwa lawannya. Dia tidak percaya, mana mungkin pemuda ini berkepandaian tinggi? Dia mencemoohkan sang guru yang dianggap bernyali kecil! terbukti dengan satu pukulan gelap, dia mengerjai Tan Ciu. Tan Ciu berani menantang tiga jago Tong Hay, tentu disertai perbekalan yang komplit. serangan Ciok Boh yang mengenai pundaknya disebabkan kurangnya perhatian si pemuda. Ia terlalu memusatkan panca indranya kepada obat yang belum dapat dipastikan keasliannya.

Tan ciu hampir terpelanting kebelakang. begitu  cepat pula daya kekuatan reflek bekerja, memasang posisi kuda- kuda yang kuat, dan Ciok Boh yang kurang pengalaman menyusul datang, itulah yang Tan Ciu inginkan dengan kedua tangan yang didorong kedepan dia memukul lawannya.

Bang!....

Ciok Boh tidak sanggup mempertahankan dirnya, tubuh itu terbang jauh.

Pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap menyanggah datangnya Ciok Boh, menekan jalan darah kematian orang itu.

"Jangan bergerak," Dia mengancam, "Berani goyang dikit, berarti mencari mati sendiri."

Ciok Boh mati kutu. Terasa sekali tekanan Sin Hong Hiap yang mengancam jalan darah kematiannya.

Tan Ciu menyusul datang. Pada tangan pemuda itu masih membawa dua butir obat "Thong Thian Hoan." Kini dia berani berkata pasti, bahwa dua benda yang berbentuk seperti obat itu bukanlah barang yang dikehendaki.

Sin Hong Hiap menelikung tangan Ciok Boh, Ditekukkan kebawah tanah.

Ciok Boh dapat memperhatikan wajah tua Sin Hong Hiap yang bengis itu.

-ooo0dw0ooo-