Pohon Keramat Jilid 22

 
Jilid 22

TENTU saja kata-kata ini tidak masuk keadalam orang yang bersangkutan. Kursi roda itu meluncur dengan pesatnya. Hanya tinggal titik hitam yang mengecil.

Han Thian Chiu mengintil dibelakang Giok Hong Mereka lama mengejar, jarak  itu  terlalu  jauh, tentu saja

tidak   berhasil   menyandak.   Giok   Hong    menghentikan

pengejarannya. Dia membanting-banting kaki.

Han Thian Chiu menghampiri kekasihnya itu, dengan merapatkan mulutnya dia berkata. "Giok Hong tidak guna marah pada diri sendiri."

"Kita dikalahkan oleh manusia itu." Berkata Giok Hong panas.

"Menang kalah suatu pertempuran adalah barang yang jamak." Menghibur kekasih sang ratu. "Lain kali kita mempunyai kesempatan untuk memenpurnya."

Giok Hong berkata. "Bagaimana hematmu kepada manusia cacad tadi?"

"Dia mempunyai kepandaian yang cukup tinggi. lawan berat bagi usaha kita."

"Siapakah orang ini?"

"Mana kutahu? tentu salah satu dari sekian banyak kekasihmu."

"Cih.." Giok Hong mendelikkan mata. "Aku bersungguh- sungguh."

"Dia dapat menyebut tanda rahasia yang berada dibagian tertutupmu, siapa lagi bukan laki-laki yang pernah dijajal olehmu?"

"Aku tahu, dan dia juga kenal kepadamu bukan?" "Aku tidak dapat menduganya," "Mungkinkah Tan Kiam Lam?"

"Hanya Tan Kiam Lam yang pernah kau terjunkan

kedalam jurang?" Han Thian Chiu menjebikan bibirnya.

"Hanya Tan Kiam Lam orang yang pernah dijeleki oleh Giok Hong terlalu banyak. Tidak mungkin mencari jalan keluar dari ceruk itu. Bukan Tan Kiam Lam seorang yang dilumpuhkan olehnya. Sulit untuk memberi keputusan. Yang dapat meyakinkan ilmu silat setinggi tadi." Berkata Han Thian Chiu.

"Mengapa melupakan si Pendekar Pedang Kidal Oh Cin?"

"Aaa.... Hanya dua orang ini yang mempunyai kemungkinan besar."

"Betul. Potongan badan kedua orangpun sama. Tan Kiam Lam atau Oh cin. Salah satu dari  dua bekas kekasihmu yang bekepandaian nomor satu."

Giok Hong dapat menyetujui dugaan itu.

Hanya dua kemungkinan. Tan Kiam Lam dan Oh Cin.

Mereka kembali keatas gunung, ditengah jalan menemukan Lie Bwee yang masih belum sadarkan diri, pukulan Giok Hong terlalu kuat, sehingga murid itu tidak berdaya untuk melarikan diri.

"Bagaimana hukumanmu untuk murid durjana ini?" Bertanya Giok Hong.

"Bunuh saja. Beres!" Berkata Ong Jie Hauw. "Aku mempunyai usul baik."

"Usul apa?" "Ia harus mendapat siksaan didepan murid-muridmu yang lain, sebagai contoh teladan bagi mereka yang ada niatan untuk berkhianat. Berkhianat kepadamu berarti mencari siksaan. Beri saja kepada anjing-anjing galakmu itu."

"Bagus. Ia mendapat hukuman mati dibawah gerogotan anjing-anjing galak." berkata Giok Hong gembira.

Mereka kembali keatas gunung, disana ada menunggu ketua Kim Ie Kauw.

Meninggalkan cerita Han Thian Chiu dan Giok Hong yang membawa Lie Bwe naik keatas gunung Pek Hoa San.

Mengikuti perjalanan orang berkerudung yang menggulingkan roda-roda kursinya dengan cepat, dia berhasil meloloskan diri dari kepungan musuh-musuhnya. Hanya dia orang yang dapat menjelma menjadi orang ini. Tan Kiam Lam atau Oh Cin. Satu diantara dua ilmu kepandaiannya cukup hebat. Dia dapat menghasilkan seorang murid seperti Cang Ceng Ceng sehingga gadis tersebut memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Orang ini telah berada dibawah kaki gunung Pek Hoa san.

Dari dalam semak-semak terdengar suara panggilan, "Suhu..."

Dengan menggendong Tan Ciu, Cang Ceng Ceng menampilkan diri.

Orang berkerudung itu menghentikan roda kursinya, segera terhenti didepan muridnya itu.

"Bagaimana keadaan lukanya?" dia bertanya

"Masih tidak mau sadarkan diri." Jawab Cang Ceng Ceng. Memeriksa keadaan Tan Ciu, orang berkerudung itu bergugam.

"Dia telah menderita luka dalam, setelah itu, mendapat tekanan batin, darahnya bergolak masuk kedalam otak, sangat berbahaya."

"Ah..." Cang Ceng Ceng terkejut. "Tidak dapatkah ditolong lagi??"

"Harus makan waktu  perawatan yang agak lama." berkata guru itu.

"Ah..."

"Ceng Ceng." panggil orang berkerudung itu. "Kukira kau telah jatuh cinta kepadanya." Cang Ceng Ceng menundukkan kepala.

"Suhu, ilmu kepandaianmu berada diatas Ratu Bunga tadi?" Cang Ceng Ceng bertanya.

"Tentu saja."

"Berhasil membunuh dirinya?" "Tidak"

"Mengapa?"

"Aku tidak dapat mengalahkan tenaga gabungan mereka.

Han Thian Chiu memang bukan manusia biasa."

"Dia telah berhasil meyakinkan ilmu kepandaian kita?" "Sebagian kecil dapat dipahami olehnya."

Tiba-tiba....

Orang berkerudung itu memanjangkan kupingnya, dia berkata, "Ada orang datang " "Siapa yang datang?"

Dua orang telah menghampiri tempat itu. seorang yang dikanan adalah serorang gadis berbaju putih, dan di kiri seorang anak muda.

Mereka adalah Tan Sang dan Ong Jie Hauw.

Dikala orang berkerudung menyusul jejak Tan Ciu dipuncak Pek Soat Hong, Ong Jie Hauw pernah mendapat tegurannya. Disini mereka berjumpa lagi, pertemuan untuk kedua kalinya, mereka saling pandang sebentar, dan Ong Jie Hauw berteriak.

"Kau?!..."

Orang berkerudung menganggukkan kepala.

Tan Sang dan Ong Jie Hauw dapat melihat Tan Ciu masih berbaring ditanah. Inilah orang yang hendak mereka temukan.

"Eh, apa yang telah terjadi?" Mereka bertanya.

Orang berkerudung memberi keterangan. "Tan Ciu menderita luka ditangan Ratu Bunga Giok Hong."

Tan Sang dan Ong Jie Hauw saling pandang. Mereka tidak tahu, bagaimana posisi pendirian orang berkerudung ini, musuh atau bukan?

Orang berkerudung memandang Tan Sang beberapa lama, kemudian mengajukan pertanyaan.

"Namamu Tan Sang bukan?"

Tan Sang menganggukkan kepala.

"Bagaimana sebutan Cianpwee yang mulia?" dia bertanya. Orang berkerudung itu menyerahkan Tan Ciu, kemudian mengeluarkan beberapa butir obat.

"Beri makan obat ini kepadanya." Dia berkata, "Tan Ciu menderita luka yang agak berat.”

Tan Sang mengucapkan terima kasihnya!

Ong Jie Hauw mengajukan pertanyaan. "Dapatkah memberi petunjuk, dimana letak pesanggrahan Ratu Bunga itu?"

"Kau hendak menyatroninya?" Balik tanya orang berkerudung.

"Ng, aku harus menemukan wanita itu, harus kupukul hingga luka. Meminta ganti rugi atas keadaan Tan Ciu."

"Kau?..." Orang berkerudung menduga kepada seorang yang sering mengepul, tukang jual omongan, dia tidak percaya bahwa Ong Jie Hauw dapat mengalahkan Sri Ratu Bunga Giok Hong yang ternama.

"Mengapa?" Ong Jie Hauw heran.

"Kau bukan tandingannya." Berkata orang berkerudung itu. "Kita harus merundingkan cara untuk menghadapi mereka."

"Aku tidak membutuhkan bantuan." Berkata Ong Jie Hauw. "Tenagaku seorang sudah cukup untuk mengubrak abrik sarang mereka."

"Kukira kau akan dipukul remuk oleh wanita itu." Berkata guru Cang Ceng Ceng. "Kau bukan tandingannya."

Ong Jie Hauw mendelikkan mata.

"Kau tahu, bahwa aku bukan tandingannya." Dia tidak puas. "Kau telah menyaksikan aku kalah ditangannya?" "Kau mempunyai pegangan kuat untuk mengalahkan Ratu Bunga Giok Hong yang ternama?"

"Tentu."

Tan Sang menambah dengan  keterangannya. "Cianpwee, dia memiliki ilmu kekebalan yang tiada tara.

Kukira dapat mengalahkan musuh."

Orang berkerudung memberi tahu dimana letak sarang Sri Ratu Bunga.

Ong Jie Hauw naik keatas Pek Hoa san.

"Akan ku obrak-abrik sarang mereka." Dia sesumbar keras.

Orang berkerudung memandang Cang Ceng Ceng dan memberi perintah, "Ceng-Ceng, ikuti dirinya dan bilamana perlu, beri bantuanmu."

Tan Sang tertawa. Dia memberi keterangan.

"Atas perhatian Cianpwee, kami mengucapkan banyak terima kasih. Kukira tidak perlu mengikutinya. Tidak seorang pun yang dapat melukainya. Ia  tidak mungkin menghadapi bahaya."

"Mengapa?"

"Ia memiliki ilmu kebal yang tidak mempan senjata." Berkata Tan Sang.

Orang berkerudung, Cang Ceng Ceng dan Tan Sang berusaha menolong Tan Ciu, Ong Jie Hauw mendaki gunung Pek Hoa-san. Seorang diri menantang komplotan itu.

Meninggalkan cerita mereka dan mengikuti cerita yang terjadi di ruang tamu Sri Ratu Bunga. Disana berkumpul tiga orang, Kim Ie Mo-Jin, Han Thian Chiu, Giok Hong.

Han Thian Chiu dan Giok Hong sedang membujuk ketua Kim ie kauw untuk menggabungkan  kekuatan mereka.

Kim Ie Mo-Jin menolak dan berkata.

"Sudah kukatakan, aku tiada maksud untuk mengikat diri, aku tidak bersedia dikekang oleh siapapun juga."

"Kita tidak akan mengekang kebebasan kauwcu." berkata Han Thian Chiu. "Maksud tujuan utama dari penggabungan kedua tenaga ini adalah menundukkan semua partay-partay dan golongan-golongan."

"Kita tidak sepaham."

Giok Hong ikut membujuk, "Kauwcu. berpikirlah, kecuali kita berdua, masih ada seorang lagi yang berkepandaian tinggi, kekuatannya tidak boleh diremehkan."

"Siapakah orang itu?"

"Orang cacad diatas kursi roda yang menutup wajahnya dengan kain kerudung itu, Orang yang memberi petunjuk kepadamu datang ketempat ini."

"Ouw..."

"Sudah jelas, maksudnya hendak mengadu domba. Salah satu dari kita dapat mengalami cedera, kemudian dengan mudah dia dapat memungut hasil pertarungan itu."

Han Thian Chiu menimpali suara sang kekasih. "Betul. kita harus bersatu menghadapinya. menghadapi semua orang." "Aku meminta waktu tiga hari." Akhirnya Kim Ie  Mo- Jin menolak dengan halus.

"Kami mengharapkan jawaban kauwcu." Berkata Giok Hong.

"Tiga hari adalah waktu yang tidak lama." Berkata Kim Ie Mo-Jin.

"Kami harapkan kauwcu dapat menerima tawaran  kami." berkata Han Thian Chiu.

"Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh." lanjut Giok Hong. Kata-kata Ratu Bunga itu mengandung dua macam arti.

Seolah-olah tidak memngerti akan maksud itu, Kim Ie Mo-Jin meminta diri.

Giok Hong dan Han Thian Chiu mengantar tamu itu. Setelah  mengantar  Kim  Ie  Mo-Jin  keluar  dari markas,

Giok Hong dan  Han Thian Chiu  menuju kearah  lapangan

dimana telah berbaris murid-muridnya, mereka mengitari tiang bendera, pada tiang bendera itu terikat seorang gadis, itulah Lie Bwee.

Giok Lo Sat menyongsong kehadiran sang guru. "Persiapan telah selesai." Dia memberi laporan.

Giok Hong menganggukan kepala. Dia menghampiri Lie Bwee, gadis ini berani mengkhianati pintu  perguruan. Untuk menjaga agar tidak sampai terulang kejadian yang sama, dia harus memberi hukuman yang setimpal.

Lie Bwee mengucurkan air mata. "Suhu..." Dia memanggil lemah.

Giok Hong mengayunkan tangan, "Taarr..." menempiling pipi murid itu. "Jangan lagi panggil aku suhu." Dia bergeram.

Lie Bwee memandang kelilingnya, dia tidak melihat bayangan Tan Ciu.

"Dimanakah Tan Ciu?" dia mengajukan pertanyaan. "Tan Ciu sudah mati." berkata Giok Hong ketus. "Aaa "

"Kau juga segera menyusul arwah pemuda itu." Giok Hong menambahi.

Wajah Lie Bwee sangat kaku, dia sudah putus harapan. "Suhu, aku menyesal sekali." Dia berkata perlahan.

"Hendak meminta pengampunan?" Giok Hong mengejek.

"Tidak!! Aku siap mati." Lie Bwee kenal baik akan sifat gurunya itu.

"Kau harus mati. Dan kematianmu tidak seperti kematian biasa. Kau harus menderita beberapa lama digerogoti anjing-anjing penjaga kita."

"Aaaa "

"Kau takut?"

Siapa tidak takut menghadapi kematian? Ada yang mati secara gemilang, ada yang mati sudah berada didalam perhitungannya. Mati berkorban! Orang ini dapat menekan rasa takutnya. Ada juga yang mati diluar perhitungan. Orang ini sulit menekan rasa takutnya.

Lie Bwee hendak menolong Tan Ciu. Dan dia harus menanggung resiko besar, inilah akibat kegagalan, dia harus mati.

Ratu bunga Giok Hong memberi perintah. "Keluarkan Anjing Penjaga."

Giok Lo Sat menjalankan perintah. Terdengar suara gongongan anjing.

Tiba-tiba seorang gadis berbaju merah lari mendatangi.

Tubuhnya penuh luka.

"Suhu !" dia memanggil Ratu Bunga itu.

"Ada apa?!" membentak Giok Hong tidak puas.  "Seorang pemuda mengamuk kalang kabut.. beberapa

kawan telah mati dibawah tangannya." "Apa yang dikatakan oleh pemuda itu?"

"Dia menantang suhu, memaki-maki nama dan gelar suhu."

Ratu Bunga Giok Hong marah besar.

"Tidak ada yang dapat menahan kemajuannya?" Dia uring-uringan.

"Dia berkepandaian liehay, tidak mempan senjata." "Siapa orang itu?"

"Tidak tahu."

"Tidak ada yang kenal kepadanya?" Giok Hong mendelikkan mata.

"Dia menyebut dirinya sendiri bernama Ong Jie Hauw." "Baik. Aku harus turun tangan sendiri."

Dikala itu, Giok Lo Sat telah melepas lima ekor anjing

galak, dengan suara mereka yang mengerikan, menubruk kearah Lie Bwee.

Giok Hong dan Han Thian Chiu meninggalkan tempat itu. Mereka tidak tahu bagaimana anjing-anjing itu menggerogoti daging sang murid yang berani berkhianat kepada dirinya.

Betulkan anjing-anjing tersebut berhasil menggerogoti daging Lie Bwee yang terikat ditiang panjang?

Tidak!!!

Dikala keadaan sangat kritis sekali, tiba-tiba meluncur lima bintik hitam, yang mengincar lima ekor anjing galak itu.

Terdengar suara berkuing-kuingnya anjing, lima ekor binatang itu mati ditanah.

Satu bayangan loncat turun, orang inilah yang membunuh lima ekor anjing disana.

Giok Lo Sat dan empat gadis berbaju merah membentak. "Siapa?"

Orang yang datang adalah seorang tua. Dia Tan Kiam Pek. Tanpa banyak cingcong, dia menghujani pukulan- pukulan yang sangat cepat dan sangat keras.

Empat gadis berbaju merah dibunuh olehnya. Hanya Giok Lo sat yang luput dari kematian. Gadis ini melarikan diri.

Tan Kiam Pek tidak mengejar, dia membuka ikatan Lie Bwee dan tinggalkan tempat itu.

Dikala Ong Jie Hauw menyerang dibagian depan, Tan Kiam Pek menyeludup masuk pusat markas besar Sang Ratu Bunga, suatu kejadian yang sangat kebetulan, dengan mudah orang tua ini menyelamatkan jiwa Lie Bwee dari kematian sigadis dari tajamnya taring-taring anjing galak.

Mengikuti cerita perjalanan Ratu Bunga Giok  Hong yang keluar sarang, dia disertai Han Thian Chiu. Pendekar dungu muda Ong Jie Hauw sedang menyerang tiga gadis berbaju merah. Ditanah telah menggeletak jatuh beberapa korban.

Terdengar suara jeritan. seorang gadis berbaju merah lagi yang mati dibawah tangan Ong Jie Hauw.

Giok Hong mengeluarkan suara bentakan. "Hentikan pertempuran ini."

Para dayang berbaju merah menghentikan kurungan mereka, perintah sang Ratu harus ditaati dengan patuh.

Ong Jie Hauw menghadapi dengan hati besar. Dia belum pernah dikalahkan orang, Ilmu kekebalannya terhadap hantaman atau pukulan menjadikannya dia  sebagai manusia besi. Itulah senjata terampuh untuk menangkat derajat kedudukannya.

Ratu Bunga memandang anak muda itu, tiada sesuatu yang sangat luar biasa, seperti pemuda-pemuda lainnya, gesit dan bergelora, tentu saja disertai juga dengan semangat yang menyala-nyala.

"Bocah kurang ajar!!" Giok Hong membentak dengan suara keras. "Berani kau membunuh orang dibawah kekuasaan Istana Ratu Bunga?"

Ong Jie Hauw memperhatikan wanita itu, belum terlalu tua, Dia juga membalas dengan suara keras.

"Sebutkan namamu!"

"Aku Sri Ratu Bunga ditempat ini." Berkata Giok Hong sombong.

"Aha... ini dia yang sedang kucari." Ong Jie Hauw berteriak girang. "Mengapa kau melukai kawanku? Aku harus menuntut balas." "Siapa yang menjadi kawanmu?" "Tan Ciu."

"Dan maksud kedatanganmu?"

"Menuntut balas." "Huh!! begitu mudah?"

"Bukti telah bicara. Berapa anak buahmu telah binasa.

Sangat mudah bukan?"

"Bocah sebutkan namamu!" Giok Hong membentak. "Ong Jie Hauw."

"Ong Jie Hauw?" Giok Hong belum pernah mendengar

nama dari seorang jago silat yang bernama Ong Jie Hauw. Sedangkan pemuda ini berkepandaian tinggi, lumayanlah..

"Ong Jie Hauw." Berpanggil sang Ratu Bunga. "Begitu kejamkah kau membunuh anak buahku?"

"Mengapa?" Ong Jie Hauw memandang lawannya.

"Kau harus memganti dengan jiwa juga." Berkata Ratu Bunga Giok Hong.

"Bagus. Siapa yang harus mengganti jiwa?" Berkata Ong Jie Hauw. "Dan kedatanganku kesini hendak mencari seseorang."

"Siapa lagi yang hendak kau temui?" "Seorang gadis berbaju merah." "Namanya?"

"Aha.. " Ong Jie Hauw memijit jidatnya. Dia belum tahu gelaran dan nama Lie Bwee. Si gadis belum memberitahukan namanya, tentu saja pemuda ini tidak dapat menyebut. "siapakah yang hendak kau temukan?" Bertanya lagi Ratu Bunga Giok Hong.

"Seorang gadis yang berbaju merah." Berkata Ong Jie Hauw.

"Semua anak   buahku mengenakan pakaian warna merah. Yang manakah yang hendak kau temukan itu?"

"Kau tidak mau memeri tahu?" Ong Jie Hauw naik darah.

"Apa lagi?"

"Kuobrak abrik tempat ini, mungkinkah dia tidak mau keluar dari tempat persembunyiannya?"

"Kau sudah bosan hidup."

"Aha... kau yang sudah bosan hidup."

Tubuh Giok Hong bergerak cepat sekali, sudah berada didepan Ong Jie Hauw.

"Nah, enyahlah dari tempat ini." Dia mengayunkan tangannya memukul si pemuda.

Kecepatan Giok Hong tiada terlukiskan. Ong Jie Hauw tidak bersiap siaga, dimisalkan dia sudah siap untuk menjaga diripun belum tentu dapat menghindari diri dari pemukulan ini. apa lagi didalam keadaan lengah.

Terdengar suara benturan yang keras. Dukk... Tubuh pemuda       ini       terdorong       jatuh       kebelakang. Gesit laksana harimau, tubuh Ong Jie Hauw mencelat bangun kembali, menerkam dan menerjang lawannya.

Setiap serangan pertama dari seseorang yang bertempur dengan jago kuat, tentu tidak mengandung kekuatan penuh. Demikian juga pukulan Giok Hong yang telah dikerahkan tadi. Boleh dikatakan sangat perlahan sekali. Dan itu pun sudah dapat mengenai sasaran dengan terlalu mudah. Suatu kejadian yang janggal untuk terjadi didalam pertempuran. Sang Ratu bingung tidak mengerti.

Kini anak muda itu sudah mencelat bangun, dengan satu kekuatan yang lebih dahsyat Giok Hong mendorong kedua tangannya.

"Blegguuurrr "

Ong Jie Hauw belum dapat mempertahankan keseimbangan badannya, langsung melurus panjang, tubuh itu dilayangkan, membentur batu dan.. Hek... Dia jatuh menggeletak. Kepalanya berkunang-kunang.

Dua kali Giok Hong menjatuhkan lawannya, pekerjaan itu dapat dilaksanakan dengan muda. Dia tertawa besar.

"Ha.. Ha..Ha.. Hanya seperti inikah ilmu kepandaianmu?"

Pukulan Giok Hong yang kedua kalinya memang berat sekali. Ong Jie Hauw seperti hampir menemukan dunia kiamat. Tanah yang dipijak seperti berputar keatas. Cukup lama dia meringkuk diatas tanah.

Giok Hong menduga bahwa dia sudah membunuh mati lawan itu, setidak-tidaknya melukainya sampai parah. Setelah tertawa ngakak, dia mendekati korban pukulan itu.

Secara mendadak sekali, tubuh Ong Jie Hauw melentik bangun. suatu kejadian yang mengejutkan lawannya.

"Aaa...Pukulan tanganmu cukup berat. Lebih hebat dari pukulan laki-laki." Ong Jie Hauw hendak menuntut pembalasan.

Pukulan berat? Huh!! Pukulan Giok Hong dapat membunuh mati seekor kerbau jantan, paling sedikit bertenaga kuda. sampai beberapa kerjadi sangat tidak masuk akal. Bila pukulan itu belum dapat menaklukan lawannya, Kejadian luar biasa.

Ratu Bunga Giok Hong termangu-mangu ditempatnya, hampir dia menjadi patung ditempatnya.

Ong Jie Hauw menggoyang pundak, gilirannya yang mengirim pukulan. Hutt... menjotos muka sang lawan.

Ong Jie Hauw memiliki ilmu kekebalan yang tidak mempan senjata, tapi ilmu kepandaian silatnya hanya kepandaian biasa. Gerakannya pun tidak mengandung perubahan. Dengan mudah Giok Hong dapat menyengkelit pukulan  itu,  disertai  dengan  lain   serangan   balasan. "Bek " Kali ini dada sipemuda yang dihajar olehnya.

Terdengar suara daging yang dipukul, Ong Jie Hauw dipentalkan kebelakang. Dia jatuh terlentang.

Han Thian Chiu mengayun tangan, Buttt memukul

tubuh pemuda itu yang jatuh tidak jauh darinya.

"Beekkk..." Bagaikan daging bola, tubuh Ong Jie Hauw ditendang pergi lagi. Berguling-gulingan ditanah.

Han Thian Chiu dan Giok Hong saling pandang. mereka tertawa. Senyum mereka memberi tahu tentang kepuasan dan kesombongan hatinya. Hanya sekejap mata, senyum inipun lenyap sama sekali. Terganti dengan rasa seram, dengan wajah yang menunjukkan ketakutan tidak kepalang, mereka dapat mengikuti gerakan Ong Jie Hauw yang bangun sendiri.

Dengan mengibrik-ibrikkan bajunya yang penuh debu, Ong Jie Hauw siap menerima tantangan baru.

Bulu tengkuk Giok Hong dan Han Thian Chiu bergemerinding bangun. Mungkinkah bukan seorang manusia biasa? Manusia robotkah yang menjadi tandingan mereka? Mengapa tidak mempan pukulan?

Disaat mana.....

Ong Jie Hauw yang dipukul terus menerus secara saling susul, menyebabkan pemuda itu menciumi tanah sampai lebih dari satu kali. Kemarahannya pun meledak.

"Aha " Diapun sudah melompat bangun kembali.

"Ilmu macam apakah yang kalian miliki? Walau tidak dapat memukul mati diriku, tapi kepala berat juga. Heh "

Ratu Bunga Giok Hong lebih heran atas  ilmu kepandaian lawan yang seperti karet, dia pun membentak.

"Kau menggunakan ilmu apa?"

"Ilmu?" Ong Jie Hauw tidak mengerti, "Aku ingin memukul     kalian,      haruskah       belajar       ilmu?"  Ong Jie Hauw mendekati kedua musuhnya.

Apa yang dilakukan Giok Hong dan Han Thian Chiu? mereka seperti sedang berhadapan dengan manusia sintetis, seorang manusia karet. Jatuh dan dapat bangun kembali. Tidak mempan senjata, juga tidak mempan pukulan.

Kedua orang itu mundur beberapa langkah kebelakang.

Ong Jie Hauw maju dua langkah lebar,  mengirim pukulan yang disertai gertakannya. "Nah.. giliran kalian yang menerima serangan pembalasan."

Giok Hong tidak berani menerima serangan itu, dia menyingkir ke samping. Dengan mudah berhasil menghindarkan diri dari serangan pukulan si bocah dungu. Hal ini terlalu mudah dilakukan olehnya, mengingat kecepatan Ong Jie Hauw yang terlalu lambat dan ayal- ayalan. Han Thian Chiu menggeser posisi, berputar kaki membalikkan badan, kini sudah berada dibelakang Ong Jie Hauw. Tangannya di kebaskan, Seett....., mengincar jalan darah Beng bun-hiat, tentu saja serangan ini mengenai sasarannya. Tepat sekali serangan tadi.

Bless.....

Senjata apakah yang dapat memakan kulit Ong Jie Hauw? Tidak sebongkah benda pun yang dapat melukai pemuda itu. Apalagi hanya tusukan jari Han Thian Chiu, Betul eks ketua Benteng Penggantungan memiliki tenaga dalam yang luar biasa, dibawah kekebalan Ong Jie Hauw diapun tidak berdaya.

Menggunakan kesempatan berjarak dekat itu, Ong Jie Hauw mengayun tangan, Bekk Mata pinggang Han Thian

Chiu kena pukulannya. Tubuh terhuyung jauh kebelakang.

Giok Hong lebih pandai dari sang kekasih mengincar cepat, dia memukul dada Ong Jie Hauw, menggulingkan jago muda ini.

Betul tidak dapat melukainya, waktu itu cukup memberi kelonggaran waktu kepada mereka untuk menarik napas. Lagi-lagi Ong Jie Hauw dibuat mencium tanah.

Giok Hong mendekati Han Thian Chiu,

"Kau mengapa?" dia bertanya dengan penuh kasih sayang. Han Thian Chiu adalah salah satu kekasihnya yang terpandai.

"Aku menderita luka dalam." Han Thian Chiu berkata berat.

Itu waktu, Ong Jie Hauw sudah merayap bangun lagi, tentu akan menyerang mereka.

"Bagaimana?" Giok Hong bertanya cepat. "Lekas bawa aku meninggalkan tempat ini." Berkata Han Thian Chiu.

Mengingat tidak mungkin melukai pemuda aneh itu, menimbang tidak guna meneruskan pertandingan tersebut, dan keadaan Han Thian Chiu yang sudah terluka tidak memungkinkan sang bekas ketua Benteng Penggantungan memberi bantuan. Giok Hong mengangkat tubuh kekasih itu, melarikan diri.

Ong Jie Hauw bergerak terlalu lambat dikala dia hendak memukul kedua lawannya.

Giok Hong dan Han Thian Chiu sudah mengambil langkah seribu.

Ratu Bunga Giok Hong dan Han Thian Chiu  tidak sanggup melayani Ong Jie Hauw, mereka melarikan diri.

Tidak lama, didepan mereka telah melintang satu bayangan.

Giok Hong dan Han Thian  Chiu menghentikan lari mereka, mata mereka terbelalak, dengan rasa takut yang tidak terhingga, sepsang manusia itu mengalami getaran yang hebat.

"Kau?!" Han Thian Chiu berusaha melepaskan dirinya dari pegangan sang kekasih.

"Tan Kiam Lam." Giok Hong berteriak, "Kau masih hidup?!"

Tan Kiam Lam kah yang datang?

Bukan! Dia adalah saudara orang-orang yang sudah tersiksa, Dia adalah Tan Kiam Pek.

Menyaksikan rasa takutnya kedua orang itu, Tan Kiam Pek sangat puas sekali. Dia mengeluarkan suara dari hidung. "Sepasang manusia terkutuk, saudaraku telah terluka dibawah kedua tanganmu. Aku Tan Kiam Pek. Sudah waktunya aku mengadakan tuntutan."

Giok Hong dan Han Thian Chiu harus memburu waktu, dibelakang mereka masih ada seorang jurik. Ong Jie Hauw. Mereka harus cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Tangan Giok Hong terayun, menghujani Tan Kiam Pek dengan serangan dahsyatnya.

Belasan jurus kemudian, Tan Kiam Pek dipaksa mengakui akan keunggulan lawannya. Dia main mundur, berusaha mengelakan setiap serangan sang Ratu Bunga.

Giok Hong mendesak dan merangsek hebat. Keadaan Tan Kiam Pek sangat kritis sekali.

Dari jauh, sudah terdengar teriakan Ong Jie Hauw. "Hei.. kalian jangan lari!"

Giok Hong meninggalkan lawannya, mengangkat Han

Thian Chiu dan meneruskan lari mereka.

Tan Kiam Pek tidak berani mengejar, ilmu kepandaiannya sudah ditekuni selama belasan tahun terakhir masih bukan tandingan Giok Hong, apa mau dikata?

Ilmu meringankan tubuh Ong Jie Hauw sangat belet, dikala dia tiba di tempat itu, bayangan Giok Hong dan Han Thian Chiu sudah lenyap.

"Dimana kedua orang tadi?" Ong Jie Hauw bertanya kepada Tan Kiam Pek.

"Saudara Ong," berkata Tan Kiam Pek. "Kau mengatakan mempunyai seorang kekasih ditempat ini? Belum lama aku menolong seorang gadis berbaju merah, kukira dialah orang yang hendak kau temukan." Ternyata, setelah Tan Kiam Pek menolong Lie Bwee, ditengah jalan dia mengetahui jejak Giok Hong dan Han Thian Chiu, Cepat-cepat menyembunyikan gadis tersebut, dan menghadang lari kedua orang itu.

Dia kalah pandai, maka tidak berdaya membekuk musuh. Kini dia mengajak Ong Jie Hauw untuk bertemu Lie Bwee.

"Aaaaaaaa "

Ong Jie Hauw mengenali kepada gadis yang telah diperkosa olehnya. Lie Bwee masih pingsan dan masih belum sadarkan diri.

"Bagaimana dia dapat menjadi seperti ini?" bertanya Ong Jie Hauw dengan cemas.

"Telah kuusahakan untuk menolongnya, tapi tidak berdaya." Berakata Tan Kiam Pek.

"Mari kita bawa kepada orang berkerudung itu, Kulihat dia pandai mengobati." berkata Ong Jie Hauw.

"Orang berkerudung?" Tan Kiam Pek belum pernah melihat guru Cang Ceng Ceng.

"Ng.. dia sedang menolong Tan Ciu." Berkata Ong Jie Hauw.

"Tan Ciu? Tan Ciu sudah ditolong juga?" "Ng "

Mereka membawa Lie Bwe ketempat Tan Sang menungu, disana ada Cang Ceng Ceng, Tan Ciu dan manusia cacad diatas kursi roda.

Orang berkerudung itu masih menolong Tan Ciu. Tan Sang menghampiri dan menyongsong datang. "Eh, Bagaimana kalian menjadi satu?" Dia memandang Ong Jie Hauw dan Tan Kiam Pek.

Secara singkat Tan Kiam Pek menceritakan jalannya kejadian.

Itu waktu, Ong Jie Hauw masih menggendong tubuh Lie Bwee.

"Diakah orang telah kau sebut itu?" Tan Sang menunjuk kearah tubuh gadis yang digendong Ong Jie Hauw.

Pemuda yang ditanya menganggukan kepalanya.

Tan Sang membuka mulut, menggerak-gerakan bibir tidak sepatah katapun yang terdengar jelas entah apa yang hendak dikemukakan olehnya. Dia berkemak kemik.

Ong Jie Hauw kurang memperhatikan perubahan wajah Tan Sang, Dia menyerahkan tubuh Lie Bwee dan berkata.

"Dia terluka! tolong kau periksa."

Disaat itu, Tan Kiam Pek sedang mengucapkan terima kasih kepada orang berkerudung diatas kursi roda.

"Bukan aku yang menolong." Orang itu memberi keterangan. "Orang yang menolong kemanakanmu adalah gadis she Lie ini. Kebetulan aku datang maka membawa ketempat ini."

Betapa tinggipun ilmu kepandaian Lie Bwee tidak mungkin dapat menolong Tan Ciu dari Istana Ratu Bunga. Bila tidak ada guru Cang Ceng Ceng, keadaan itu masih belum diketahui.

Tan Kiam Pek memperhatikan orang berkerudung itu. "Bolehkah aku beratnya." Dia berkata, "Bagaimanaah

nama dan julukan tuan yang mulia?" Orang cacad yang duduk diatas kursi roda menggoyangkan kepalanya.

"Namaku memalukan orang." Dia berkata dengan suara perlahan.

Tan Kiam Pek tidak mendesak.

Keadaan Tan Ciu telah banyak lebih baik, dia memandang kearah tempat itu, dengan bingung dia bertanya:

"Eh.. dimanakah aku?"

"Kau berada diluar daerah lingkungan Istana Ratu Bunga." berkata Cang Ceng Ceng.

Tan Ciu memandang gadis itu, Dia masih dapat mengenalinya.

"Kau? Nona Ceng?" dia bertanya.

"Betul" Cang Ceng Ceng menganggukan kepala. "Guruku telah berhasil menolongmu."

"Ooo.." terbayang kembali kejadian-kejadian yang baru saja dialami diatas Istana Ratu Bunga. Terbayang dan terpeta bayangan Jelita Merah, Ong Leng Leng yang menggeletak ditiang Siksaan, gadis itu telah menggigit lidah dan membunuh diri.

"Aaaa.." Ketenangan Tan Ciu terganggu, ia menjerit dan berteriak.

"Hee.. Kau mengapa?" Cang Ceng Ceng memegang kedua pundak si pemuda.

"Dia sudah mati." Berteriak Tan Ciu sedih.

"Dia? Dia siapa?" Cang Ceng Ceng tidak mengerti. "Jelita Merah Ong Leng Leng. Ong Leng Leng mati bunuh diri karena dia hendak menolong diriku... Aaa !"

Melepaskan pegangan Cang Ceng Ceng, Tan Ciu mencelat bangun. dia melarikan diri. Arahnya adalah gunung Pek Hoa san.

Cang Ceng Ceng melentikkan sepasang kakinya, cepat sekali gadis ini menyusul gerakan Tan Ciu, menghadang jalannya pemuda itu. dia membentak.

"Hei, kau mau kemana?"

"Minggir!!" Tan Ciu memukul bayangan yang menghadang kepergiannya.

Cang Ceng Ceng mengegoskan diri, maka luputlah serangan yang ditujukan kearah dirinya.

"Tan Ciu !" Dia bergeram keras, "Kemana kau?"

"Aku harus menolong Ong Leng Leng." Berkata si pemuda.

"Dia sudah mati bukan?" Cang Ceng Ceng memberi peringatan.

"Aaaa..." Tan Ciu bergugam. "Betul.. betul... betul.. Dia sudah mati... Dia bunuh diri "

"Sebentar lagi, kita bersama-sama mencari jenazahnya." Berkata Cang Ceng Ceng memberi hiburan.

Itu waktu, Ong Jie Hauw mendekati kawannya.

"Tan Ciu." dia memanggil, "Aku telah mengalahkan mereka! kedua-duanya lari."

Tan Ciu mematung ditempat.

"Tan Ciu." panggil lagi Cang Ceng Ceng, "Tenangkanlah pikiranmu." "Tan Ciu" Ong Jie Hauw juga memanggil "Aku berhasil menemukannya."

Tan ciu berhasil dibujuk kembali.

Dikala mereka tiba dihadapan orang tua berkerudung, Tan Kiam Pek dan Tan Sang, Mata Tan Ciu bertumbuk dengan Lie Bwee. Sinar mata itu menjadi liar mendadak. dengan beringat sipemuda menggeram.

"Bunuh!".

Dia maju mendekati gadis Lie Bwee. Cang Ceng Ceng berteriak lagi.

"Tan Ciu, Siapa yang kau hendak bunuh?"

"Nah! ini dia bilang keladinya." Tan Ciu menuding kearah Lie Bwee. Dia mengayun tangan hendak memukul gadis itu.

Ong Jie Hauw tersentak kaget, dia menghadang didepan Tan Ciu. Menerima pukulan pemuda ini.

Disaat yang sama, Tan Sang dan Cang Ceng Ceng maju berbareng. Dengan kekuatan tiga pasang tangan itu, Tan Ciu berhasil di tekan.

Kebencian Tan Ciu kepada Lie Bwee tidak dapat dilukiskan, tentu saja dia tidak tahu kalau orang yang terakhir hendak menolong dirinya adalah gadis itu.

Cang Ceng Ceng menarik si pemuda.

"Tan Ciu." dia membentak. "kau sudah gila."

"Aku hendak membunuh mati dia." Bergeram lagi Tan Ciu. Dan menunjuk jari kearah Lie Bwee. "Dengan alasan apa kau mau membunuh orang?" bertanya lagi Cang Ceng Ceng yang belum mengerti akan duduk perkara.

"Semua gara-gara disebabkan oleh munculnya orang ini." Tan Ciu berontak diri. Dia hendak memukul Lie Bwee. Bila bukan Lie Bwee yang menemukan jejak mereka, tentu Ong Leng Leng tidak akan mati.

"Tan Ciu." Berkata Cang Ceng Ceng. "Dialah yang menolong jiwamu. Tahu?!"

Tan Ciu berjingkrakan. "Dia yang menolong aku?" Dia

masih kurang percaya, "Sshh.. tidak mungkin..."

"Jika Lie Bwee yang menolong dirimu, tidak mungkin kau dapat meninggalkan Istana Ratu Bunga." Cang Ceng Ceng masih berusaha menyadarkan kerumitan otak si pemuda.

"Tidak mungkin!!!" Tan Ciu masih belum dapat menerima kesan tadi.

"Betul." Orang tua berkerudung cacad itu memperkuat keterangan muridnya. "Lie Bwee telah menolong dirimu."

"Aaa.." Tan Ciu mulai ragu-ragu.

Untuk melenyapkan keretakan itu orang berkerudung mengisahkan jalannya cerita.

"Dengan alasan apa dia menolong jwaku?" Tan Ciu Bergugam.

"Sebentar lagi, setelah siuman, kau boleh langsung mengajukan pertanyaan ini kepadanya." Berkata orang berkerudung. "Hanya dia yang dapat memberi keterangan, Mengapa dia mau menolong dirimu." Sedari tadi, Tan Kiam Pek mengikuti pembicaraan itu, Kini dia maju bertanya. "Bolehkah tuan menyebut namamu?"

"Sudah kukatakan" berkata orang berkerudung. "Namaku sudah busuk, tiada guna menyebutnya lagi."

"Logat suara tuan sangat berkesan sekali." Berkata Tan Kiam Pek. "Tentu seorang yang aku kenal baik. Suara ini tidak asing bagiku."

"Begitu?" Orang cacat itu menganggukan kepalanya. "Tidak keberatankah menyebut nama tuan yang mulia?"

Tan Kiam Pek ingin mendapat kepastian.

"Sangat menyesal," Berkata guru Cang Ceng Ceng itu. "Belum dapat kupenuhi permintaanmu itu."

Tan Kiam Pek meneliti secara menyeluruh wajah dibalik tutup kerudung, tiada dapat dilihat, Bentuk tubuhnya yang sudah cacat, Tidak dapat dijadikan pedoman penilaian. Hanya suara itu yang sangat dikenal sekali.

Dia masih membandingkan suara-suara yang memiliki hubungan dekat dengannya.

Orang berkerudung sudah selesai menyembuhkan Lie Bwee, dia memandang Cang Ceng Ceng dan berkata.

"Ceng Ceng, aku hendak berangkat lebih dahulu, Bagaimana dengan dirimu? Ingin turut serta?"

Cang Ceng Ceng berkata. "Aku akan menyusul kemudian."

"Baik."    Orang   itu     menggerakan     kursinya. Siuuttt.. Kursi beroda itu meluncur jauh meninggalkan semua orang.

Tan Kiam Pek mendekati Cang Ceng Ceng. "Nona Cang." Dia memanggil perlahan. "Dapatkah kau menjawab beberapa pertanyaanku?"

"Boleh saja." Berkata Cang Ceng Ceng ramah. "Bagaimanakah nama dan gelar julukan gurumu itu?"

Bertanya Tan Kiam Pek.

Cang Ceng Ceng menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu." dia Berkata.

"Dia tidak memberi tahu kepadamu?" bertanya lagi Tan Kiam Pek.

"Betul." Berkata Cang Ceng Ceng. "Belum pernah suhu menyebut nama dirinya sendiri.

"Pintu perguruan kalian?" "Juga tidak!"

"Pernah kau melihat wajah aslinya?" "Ng..."

"Bagaimana bentuk raut wajah itu? Panjang? bulat? atau

ada ciri yang menarik lagi?"

"Wajahnya telah dirusak orang, aku tidak dapat membedakannya."

"Aaaaa "

"Suhu belum pernah bercerita tentang rusaknya wajah itu, juga belum pernah bercerita tentang keadaan rumah tangga, asal usul atau pintu perguruan."

"Kau tidak tahu siapa yang menjadi gurumu itu?" bertanya Tan Kiam Pek mesem-mesem, kini dia dapat menerka, siapa orang berkerudung yang duduk diatas kursi roda tadi. "Tapi, aku tahu." Berkata Tan Kiam Pek. "Siapa?" Bertanya Cang Ceng Ceng. "Siapa?" Tan Ciu turut bertanya.

Tan Kiam Pek memandang si pemuda.

"Nona Cang." dia berganti arah ketempat si gadis. "Pada kuping kiri gurumu ada terdapat tahi lalat bukan?"

Cang Ceng-Ceng berpikir untuk beberapa saat, kemudian berkata. "Kukira ada. tapi kurang jelas, Kuping itupun rusak."

Tan Kiam Pek menganggukkan kepala. Berbalik memandang sang kemenakan.

"Tan Ciu." Dia memanggil. "Tahukah orang ini?" "Siapa?" bertanya Tan Ciu dengan napsu.

"Kau berhasil menemukan ayahmu." dia berkata. "Ayah?" Tan Ciu bingung, tidak mengerti.

"Orang berkerudung tadilah ayahmu. Dia Tan Kiam

Lam yang asli." Berkata Tan Kiam Pek mantap. "Aaaa " Tan ciu berteriak.

"Guruku bernama Tan Kiam Lam?" Cang Ceng Ceng tidak mengerti.

"Betul?" Berkata Tan Kiam Pek tegas. "Dia adalah saudaraku yang lenyap itu.”

"Aaa..." Tan Ciu telah melepaskan kesempatan untuk bicara dengan ayahnya.

"Itulah suara Tan Kiam Lam." Berkata Tan Kiam Pek. "tidak salah lagi." "Pasti?" Tan Ciu menatap tajam-tajam wajah sang paman.

"Pasti." berkata Tan Kiam Pek tegas.

Suatu kejadian yang mungkin dapat terjadi. Lebih dari satu kali orang berkerudung itu menolong dirinya. Tan Tan Ciu girang luar biasa. Ternyata ayahnya masih hidup didunia. Betulkah sang ayah itu masih ada? Dengan alasan apa dia tidak mau mengakuinya? Keragu-raguan segera ditemukannya.

"Siok-siok, mengapa dia tidak memanggilku?

Mungkinkah tidak membutuhkan kita lagi?"

"Kukira mempunyai alasan-alasan tertentu." Berkata Tan Kiam Pek. "Mungkin belum waktunya untuk dia berterus terang.

Manakala Tan Ciu dan Tan Kiam  Pek memperbincangkan persoalan Tan Kiam Lam, Tan Sang sedang mengurut-urut Lie Bwee. Mereka didampingi oleh Ong Jie Hauw.

Lie Bwee memandang kearah keliling dirinya. "Bagaimana keadaanmu?" Ong Jie Hauw memberi

hiburan.

"Kau..? Aaaa....!" Lie Bwee menunjukkan rasa girangnya.

"Betul.. aku Ong Jie Hauw." si pemuda itu tertawa melowek!.

"Ong Jie Hauw.." Panggil Lie Bwee. "Dimanakah kita berada? dineraka?"

Lie Bwe belum tahu, bahwa dirinya telah mendapat pertolongan dari luar maka jiwanya nyaris dibunuh mati. "Aha.. Kita masih hidup didalam dunia. " berkata Ong Jie Hauw.

"Aku bukan mengimpi?" Lie Bwee mengucek-ucek mata. Itu waktu Tan Ciu datang menghampiri mereka.

"Kau?!" Mata Lie Bwee terpentang lebih besar.

"Betul. aku Tan Ciu." Pemuda itu menganggukkan kepala.

"Kau juga masih hidup." bertanya Lie Bwee lagi. "Betul! kita semua masih hidup."

Kekuatan hidup Lie Bwee bangkit kembali. Dia putus

harapan karena Giok Hong ingin memberi hadiah hukuman mati. Dan kematian itu sudah jauh dari dirinya. Tubuh si gadis meletik bangun, menubruk Ong Jie Hauw dan menangis didalam pelukan si pemuda.

Tan Ciu mengalihkan pandangannya kearah tempat lain. Disini dia bentrok dengan tubuh Tan Sang. Wajah  kakak itu sangat muram, air mata sudah berada diambang pintu kelopak mata.

Dia menaruh cinta kepada Ong Jie Hauw. Hal itu terjadi sebelum Lie Bwee muncul dihadapan mata mereka. Kini itu pun tinggal kenangan, sudah waktunya untuk diberi akhiran tamat.

Lie Bwee memeluki tubuh Ong Jie Hauw.

"Akhirnya aku harus kembali kepadamu." dia berkata dengan perlahan.

Ong Jie Hauw kurang pandai membawa peranan akan asmara, memandang rambut kepala gadis itu, dia berkata.

"Bukankah kau tidak suka kepadaku?" Lie Bwee tersentak bangun, pertanyaaan seperti itu tidak patut dikeluarkan. Dia menghentikan suara tangisnya. Memandang pemuda itu dan berkata.

"Aku memang benci kepadamu." Ong Jie Hauw semakin bingung.

"Benci?" Mulutnya bergugam. "Kau benci kepadaku?" "Ng "

"Mengapa?" "Kau tolol!!"

"Aku memang tolol. Tapi sebagai seorang istri yang baik,

Mana boleh kau pergi meninggalkan aku?"

"Karena itulah, aku baik kepadamu." bekata Lie Bwee. "Mengapa?" Ong Jie Hauw masih belum mengerti.

"Mengapa kau mau balik kembali?"

"Kau tidak suka aku kembali kepadamu?" Lie Bwee memberi kerlingan mata menarik.

"Aha... mana mungkin tidak suka? Aku senang sekali." Berkata si Pendekar Dungu.

"Karena itulah aku kembali kepadamu." Berkata Lie Bwee penuh arti.

"Karena aku senang, maka kau kembali lagi?" bertanya si dungu yang tolol.

Lie Bwee mendekati telinga si pemuda, dengna perlahan dia berkata, "Karena aku sudah mengandung."

"Apa?" Ong Jie Hauw berteriak keras, "kau sudah mengandung? Apakah artinya mengandung ini?"

Selembar wajah si gadis menjadi merah. Tan Ciu menoleh balik. Adakah itu kebetulan? Satu kesalahan Ong Jie Hauw digunung Pek Soat hong yang memperkosa Lie Bwee menelorkan bibit-bibit benih baru?

Ong Jie Hauw belum menerima jawaban dari arti kata- kata mengandung itu, dia mengulang pertanyaan.

"Hei, apa artinya mengandung itu?"

"Mengandung berarti seorang wanita yang mendapat bakalan anak, tidak lama lagi dia akan melahirkan seorang bayi, dia akan mempunyai anak kecil." Tan Ciu memberi keterangan singkat.

"Mempunyai anak?" Ong Jie Hauw berkerut kening. "Anak siapa?"

"Tentu saja anakmu." Berkata Tan Ciu.

"Aku? " Ong Jie Hauw menunjuk hidung sendiri. "Aha... aku akan mempunyai seorang anak?? Aa "

"Aku harus mengucapkan selamat kepadamu." Berkata Tan Ciu.

Ong Jie Hauw menari-nari dan berlompat-lompatan.

Rasa girangnya tidak kepalang.

Hanya seorang yang bersedih inilah gadis Tan Sang. Tentu saja Tan Sang sangat sedih, dia tidak dapat meneruskan hubungan baiknya dengan Ong Jie Hauw. Adanya Lie Bwee berarti memisahkan perkembangan kasih cinta. Gadis ini bermuram durja.

Lie Bwee menghaturkan terima  kasih kepada semua orang. Kemudian mendekati suaminya.

"Ong Jie Hauw" dia berkata perlahan. "Mari kita kembali." "Betul" Berkata si pemuda. "Kita harus pulang kerumah kita."

Dipandangnya Tan Ciu dan berkata. "Saudara Tan, Kami hendak minta diri."

Tan Ciu menganggukkan kepalanya. Ong Jie Hauw meneriaki Tan Sang.

"Nona Tan, aku minta diri." dia berkata dari jauh. "Selamat jalan!" Tan Sang menetes air matanya.

"Selamat jalan." mengajak Lie Bwee, Ong Jie Hauw pulang ke gunung Pek Soat Hong.

Bayangan Ong Jie Hauw dan Lie Bwee lenyap dari pandangan mata semua orang.

Tan Sang tidak dapat membendung deras air matanya mengalir bagaikan anak sungai yang lepas dari induknya.

Tan Ciu dapat memberikan keadaan sang kakak yang tidak seperti biasa!

"Ciecie," dia memanggil, "Kau mengapa?"

"Uh.." Cepat cepat Tan Sang menyusut air mata itu. inilah air mata kekasih. "Tidak mengapa!" dia  berkata cepat.

"Mengapa kau menangis?" Bertanya lagi Tan Ciu. "Tidak." Tan Sang masih mau menyangkal. Tapi air

matanya tidak dapat mengelabui orang, mengalir lagi.

"Jangan bohong." berkata sang adik. "Apa yang menyebabkan kau sedih?"

"Aku tidak bersedih." Berkata Tan Sang cepat-cepat. Tan Ciu berpikir sebentar, kemudian dia dapat menduga akan adanya kesedihan yang merundung saudara tua itu.

"Ciecie.." dia memanggil. "Kau jatuh cinta kepada Ong Jie Hauw?"

Tan Sang menundukkan kepala.

"Ahh, bagaimana hal ini dapat terjadi?" Tan ciu bergugam seorang diri.

"Mengapa tidak bisa terjadi?" Tan Kiam Pek turut bicara. "Hubungan kakakmu dengan Ong Jie Hauw begitu intim, tentu saja bukan hubungan biasa."

"Mengapa kau diam saja?" bertanya Tan Ciu.

"Apa yang dapat kulakukan?" Tan sang meminta petunjuk adiknya.

"Nyatakanlah cintamu itu." Berkata Tan Ciu. "Mungkinkah Ong Jie Hauw tidak dapat memberi suatu

tempat kepadamu."

"Dan gadis yang bernama Lie Bwee tadi?"

"Mengapa harus memikirkan dirinya? Yang penting adalah kesediaan Ong Jie Hauw."

"Aku tidak ingin melukai hati seseorang." Berkata Tan Sang.

"Sudahlah." Berkata Tan Sang lagi. Dia tidak mau meneruskan pembicaraan tentang dirinya.

"Mari kita pulang ke sumur Penggantungan.”

Sumur Penggantungan adalah markas gerakan Melati Putih Giok Hu Yong, Tan Sang sudah lama menetap didalam sumur ibu itu.

"Betul." Dia sangat setuju. "Kita harus segera kembali." "Aku turut kalian." Berkata Cang Ceng Ceng.

"Kalian boleh pulang lebih dahulu." Berkata Tan Ciu. "Aku mau menemukan Ong Leng Leng sebentar."

"Bukankah sudah mati?" Cang Ceng Ceng bingung. "Jenazahnya yang kumaksudkan." Berkata Tan Ciu

memberi keterangan. "Aku mau menemukan jenazah itu dan mengebumikannya secara layak."

Biar bagaimana hubungan Tan Ciu dan Jelita Merah bukan hubungan biasa.

"Aku menyertaimu." Berkata Cang Ceng Ceng.

Tan ciu tidak keberatan. Memandang Tan Kiam Pek dan Tan Sang. dia bertanya kepada mereka.

"Bagaimana dengan kalian?"

"Istana Ratu Bunga sudah ditinggalkan para penghuninya." Tan Kiam Pek memberi keterangan. "Tenaga kalian berdua pun sudah cukup. Aku hendak berjalan lebih dulu."

"Aku juga mau pulang." Berkata Tan Sang.

Rombongan itu terpecah dua, Tan Ciu dan Cang Ceng Ceng naik keatas gunung, mereka hendak mengubur jenazah Ong Leng Leng. Sedangkan Tan Sang dan Tan Kiam Pek pulang kearah Sumur Penggantungan.

0odwo0

Mengisahkan perjalanan Tan Ciu dan Cang Ceng Ceng yang menuju kearah Istana Ratu Bunga. Singkatnya cerita, mereka telah berada di dalam bangunan itu. Adanya penyerangan Ong Jie Hauw telah mengucar-ngacirkan semua anak buah Giok Hong.

Sebagian besar anak buah Giok Hong adalah sisa anak buah dari Souw Hun Nio dan Souw Hun Nio adalah salah satu murid Liu Ang Ciauw, Setelah Liu Ang Ciauw gugur berantakan, kedua muridnya yaitu Souw Hua Nio dan Put Lee Put lee memisahkan diri. Kekuasaan mereka tidak kalah dari gurunya, Tentu saja mempunyai banyak anak buah yang berkepandaian tinggi.

Tentang cerita Suw Hun Nio dan Put lee put lee dapat saudara saksikan di dalam cerita yang memaparkan keganasan Liu Ang ciauw. Ternyata setelah dia mengalami kegagalan didalam asmaranya dengan Lu-Cu Kok. Liu Ang Ciauw menggerakan seusatu kelompok kekuatan diberi nama Barisan Pendukung Liu Ang Ciauw.

Mula-mula kekuatan ini terdiri dari kekuatan Bu-jin-to dan lembah Maha Bisa. Belakangan setelah mendapat penyerangan Lu Cu Kok, dibawah sergapan-sergapan para jago kesatuan. Aksi Kerajaan. Barisan Pendukung Liu Ang Ciauw berceceran.

Mengalami suatu pengalaman dunia Kang-ouw yang pahit, Liu Ang Ciauw mengumpulkan semua wanita-wanita berkepandaian tinggi. Dan wanita-wanita ini lebih banyak berada di pihak Put lee, dari pada ditangan Souw Hun Nio, maka anak buah Ratu Bunga Giok Hong agak lemah.

Balik mengisahkan cerita POHON PENGGANTUNGAN.

Didalam Istana Ratu Bunga, Tan Ciu behasil menemukan   jenazah   Jelita   Merah   Ong   Leng   Leng.  Si pemuda mengucurkan air mata. Bila bukan membela dirinya, gadis ini belum tentu mati. Terkenang akan kebaikan Jelita Merah, terkenang akan kejadian didalam guha, dan semua itu tinggal bayangan kosong belaka.

Tan Ciu semakin bersedih.

"Tan Ciu." Cang Ceng Ceng memanggil perlahan.

Tan Ciu menoleh. Tidak Bicara. Tanpa kata-kata pujian, jenazah Jelita Merah Ong Leng Leng dikebumikan.

-ooo0dw0ooo-