Pohon Keramat Jilid 21

 
Jilid 21

"SEGERA kubuktikan!" Berkata Giok Hong yang menyertai kata-kata ini dengan satu samberan tangan. Kecepatannya tidak terkira, semua kejadian tadi berlangsung pada detik-detik yang bersambungan.

Tan Ciu mendahului gerakan lawan, tangan berjulur keluar, mengirim pukulan. Kecepatannya tidak kalah dari kilat berkelebat. Dan tokh masih kalah seketek dibelakang cengkraman Giok Hong. Tangan wanita tersebut sudah berada beberapa senti didekat bayangannya.

Tan Ciu dipaksa melejit kebelakang.

Hanya satu gebrakan. Tan Ciu dipaksa meninggalkan pos penjagaan! Ilmu kepandaian Ratu Bunga Giok Hong memang luar biasa, kini dia masih menyerang terus.

Tan Ciu mempertahankan diri, main mundur agar tidak jatuh ke dalam tangan wanita itu.

Baju Giok Hong bergibir-gibir, menutup semua jalan mundur orang, lima kali dia menggoyangkan tangan dan mulutnya membentak.

"Jangan lari!!" Tubuh Giok Hong berubah menjadi bayangan, dua dikanan dan dua dikiri, masih ada satu lagi, menyerang ditengah-tengah. Lima bayangan terpeta jelas seolah-olah ada lima Ratu Bunga yang menyerang pemuda kita.

Tan Ciu tidak menemukan jalan untuk meloloskan dirinya dari serangan-serangan itu. Ilmu Yu-leng poh yang ampuh tidak dapat digunakan lagi. Dia memasang tangan.

Beerrr.....

Tubuh si pemuda terlempar jauh, dia tidak sanggup mempertahankan pukulan sang ratu yang berkepandaian silat sangat tinggi.

Lie Bwee telah menyanggah tubuh itu, memandang sang guru, dia meminta pendapat. "Suhu, biar kubunuh pemuda ini!"

"Jangan," berkata Giok Hong "Jaga baik-baik?!"

Dilain pihak, pertempuran Giok Lo-sat dan Ong Leng Leng masih belum ada putusan. Ilmu kepandaian Giok Lo sat berada diatas lawannya, apa mau Ong Leng Leng mengadu jiwa, pertempuran yang seperti itu tidak dapat segera diselesaikan cepat.

Ratu Bunga Giok Hong membentak. "Hentikan pertempuran!"

Giok Lo sat mengundurkan diri.

Memandang Ong Leng Leng, Giok Hong membentak. "Masih belum mau menyerahkan diri?"

Ong Leng Leng tidak menyahut tawaran damai itu.

Giok Hong berkata. "Kuanjurkan, agar kau bunuh diri saja?!"

"Tidak mungkin!" inilah jawaban Ong Leng Leng. "Bagus, Kau cukup berani!" Tangan sang ratu melayang, menghantam murid itu.

Perbedaan ilmu silat kedua orang disana sangat menyolok mata, kemampuan Ong Leng Leng lari, tidak mungkin dapat mengelakkan pukulan itu.

Heekkkk....

Dada Jelita Merah Ong Leng Leng telah di palu, gadis itu muntah darah seger. Jatuh ditanah dengan mata dipejamkan.

Ratu Bunga Giok Hong memberi perintah. "Giok Lo sat, bunuh dia!"

Giok Lo sat menerima perintah dengan senang hati, maksudnya hendak menamatkan riwayat hidup Ong Leng Leng.

Han Thian Chiu maju kedepan, dia membentak. "Tunggu dulu!"

Giok Hong mendelikkan matanya.

"Apa yang kau mau?" dia membentak sang kekasih. "Giok Hong!" berkata Han Thian Chiu. "Berikanlah

gadis itu kepadaku." "Maksudmu?"

"Kawan lakinya telah kau ambil. Sudah selayaknya bila menyerahkan dia kepadaku?!" berkata Han Thian Chiu.

"Mana boleh?" "Mengapa tidak boleh?" "Aku tidak setuju!" "Jangan besar cemburu, aku masih kuat untuk melayanimu. Tidak akan mengganggu bea siswa timbal balik diantara kita berdua."

"Cis... Tidak tahu malu..."

"Ha..Ha.. Ha.. kita tidak perlu menggunakan istilah kata- kata malu, kita adalah generasi bebas bukan?"

"Aku tidak setuju, memelihara seekor anak macan." berkata Giok Hong.

"Ong Leng Leng bukan seekor anak macan, dia adalah umpan yang terbaik untuk mensukseskan usahamu."

"Mensukseskan usaha?" Giok Hong mengerutkan alis, "Aku tidak mengerti."

"Bayangkanlah, aku hendak mencicip ki jiaw baru Tan Ciu bukan? Tan Ciu adalah anak kepala batu, tidak mungkin dia mau melakukan kehendakmu. Dan Ong Leng Leng adalah kekasihnya, bila kita menggunakan keselamatan Ong Leng Leng memaksa dia melakukan perbuatan itu, kukira lebih menarik dari menggunakan obat perangsang."

Wajah Giok Hong bercahaya terang. "Setuju?" berkata Han Thian Chiu.

Ratu Bunga Giok Hong menganggukan kepalanya.

Membawa Tan Ciu dan Ong Leng Leng, rombongan sri Ratu Bunga kembali kegunung Pek Hoa-san.

Ong Leng Leng mengalami kegagalan, bukan saja tidak berhasil menolong Tan Ciu dari sarang kecabulan, kini dirinya turut terancam.

Tan Ciu dan Ong Leng Leng dibawa ke kamar sang ratu, mereka diikat pada kedua belah pilar yang besar. Kepala Tan Ciu disiram dengan air dingin, dengan berat, pemuda itu membuka kedua matanya, dikala mengetahui keadaan dirinya yang terikat, dia berteriak.

"Aaahhh !"

Giok Hong tertawa.

"Jangan terkejut." Dia berkata."Kau telah kembali ke dalam kamarku."

Tan Ciu mengeretek gigi, Dia benci kepada wanita ini, wanita yang dikatakan telah membunuh ayahnya, memusuhi ibunya, kini hendak mempermainkan dirinya.

Giok Hong berkata.

"Tan Ciu, kau telah berada didalam genggaman tanganku. Seharusnya tahu diri. Bersediakah menerima kesenangan yang akan kuberikan?"

"Kentut!" Tan Ciu membentak keras.

"Jangan tidak tahu diri. tidak sembarang orang yang dapat menerima tawaranku tahu?!"

"Manusia cabul. Orang yang sudah bejat moralnya." Tan Ciu memaki.

"Kau masih terlalu muda, belum pernah mencicipi kesenangan dunia seharusnya..." Muka Giok Hong maju dikedepankan.

"Phui.." Tiba-tiba Tan ciu meludah, tepat mengenai pipi licin wanita itu.

Giok Hong sudah cukup umur, dia pandai merawat diri. Karena itu, berkat obat-obatan dan  ramuan-ramuan mujijad, dia masih memiliki pipi cukup licin.

Darah Giok Hong menyerang otak, tangannya terayun, dan ... pang menampar pipi pemuda itu. Tan ciu meringis sakit.

Giok Hong menyesal telah menangani pemuda cakap itu. sudah menjadi ciri-ciri khas bagi umat manusia, semakin sulit barang itu didapat, semakin giat  pula tekadnya untuk mendapat benda itu. Semakin jauh orang yang dikehendaki semakin senang pula kepada orang tersebut.

Giok Hong juga memiliki ciri-ciri ini. Dia hendak mendapatkan kelaki-lakian Tan Ciu dan pemuda itu menolak tawarannya. Sebagai Ratu Bunga yang diagung- agungkan oleh murid-muridnya rasa keagungannya tentu terganggu. Dia kukuh, hendak mendapatkan kerja sama dengan si pemuda..

Giok Hong mengelus-elus pipi Tan Ciu yang kena tamparannya.

"Saudara Tan, Maafkan aku!" dia berkata perlahan, dengan suara yang sehalus mungkin.

"Aku tidak membutuhkan kasih sayangmu." Tan Ciu mengegos, Dia menolak cumbuannya.

"Jangan berkepala bagitu, tengoklah kearah kekasihmu." Giok Hong menunjuk tubuh Ong Leng Leng yang terikat.

Kepala Tan Ciu dirasakan berputar "Leng Leng..." Dia memanggil perlahan.

"Jangan pikirkan keadaanku." Berkata si gadis. "Berhati- hati kepada tipu muslihat musuh."

Giok Hong berkata, "Tan Ciu, tidak kau lupakan kekasih itu bukan? Dia tidak akan menderita, bila kau bersedia menjadi kekasih seorang Ratu Bunga."

"Tidak tahu malu !" "Sorga kesenangan   sudah berada didepan matamu jangan menolak manis."

"Aku menolak."

"Sudahkah kau pikirkan kejadian apa yang akan menimpa badan kekasihmu?"

"Apa yang hendak kalian lakukan atas  dirinya?" "Banyak  macam  siksaan  yang  telah  tersedia. Tapi, bila

kau  bersedia diajak ikut  senang, siksaan  atas dirinya boleh

kita hapuskan." "Manusia kejam!"

"Sebagai seorang kekasihnya, kau tidak tega bukan? Kau tidak akan membiarkan dia tersiksa bukan? Dan untuk menolong Ong Leng Leng dari aneka macam siksaan. tidak terlalu sulit bagimu. terimalah tawaranku!"

"Kau mengimpi." "Berpikirlah sekali lagi." "Tidak perlu."

"Baik," dan Giok Hong memandang kearah Giok Lo Sat, seraya memberi perintah kepada murid itu.

"Giok Lo Sat, perlihatkan keakhlianmu!"

Giok Lo Sat mengeluarkan sebilah pisau belati, menghampiri Ong Leng Leng.

Wajah Tan Ciu berubah.

Tanpa menghiraukan perubahan itu, Giok Lo Sat menggerak-gerakan  pisau  pisau  kecilnya   dan  sreet dia

merobek baju Ong Leng Leng. Ong Leng Leng membentak. "Bunuhlah aku!" Giok Lo Sat tertawa.

"Tidak begitu mudah nona manis." Dia semakin

mengancam.

Giok Hong berkata. "Kita akan menyiksa dia sampai mati."

Tan Ciu berteriak: "Jangan kalian menyiksa dirinya." "Tentu saja tidak." Berkata Ratu Bunga Giok Hong.

"Bila kau bersedia melulusi permintaanku."

"Jangan harap."

"Tidak begitu kuharapkan. Tapi jangan lupa. kita dapat memberi beberapa macam hadiah kepada kekasihmu itu." Berkata Giok Hong.

Dan Ratu Bunga itu memberi perintah. "Giok Lo Sat, boleh mulai."

"Baik."

"Sreett..." pisau bergores panjang dipundak si Jelita Merah, darah mengalir beranak sungai.

Tan Ciu menjerit marah.

Ong Leng Leng menggigit bibirnya, dan bibir itu pun berdarah, dia harus menahan rasa sakitnya. tidak mengeluarkan suara rintihan atau jeritan, agar Tan  Ciu tidak terganggu. agar Tan Ciu tidak memikirkan keselamatannya.

Mungkinkah Tan Ciu tak terganggu? Didepan mata sipemuda, orang menyiksa Ong Leng Leng, betul gadis itu tidak menunjukkan rasa sakitnya tapi dari darah yang mengalir dan membasahi tubuh Ong Leng Leng, dia cukup paham, betapa menderitanya gadis tersebut. Dada Tan Ciu dirasakan mau meledak.

Bagaimana seorang jelmaan iblis, Giok Lo Sat menarik baju korbannya, sreet,      Ong Leng Leng telah ditelanjangi.

Tidak berhenti sampai disitu. Giok Lo Sat menggerakkan tangan    kanannya    yang    memegang    pisau        ssreeett

perlahan-lahan, dia membuat satu goresan panjang. kali ini dibagian perut Ong Leng Leng.

"Ah." Ong Leng Leng tidak tahan siksaan. Dia berusaha menahan rasa sakit, tidak berhasil, air matanya mengalir keluar.

Ratu Bunga Giok Hong menyaksikan adegan adegan itu dengan sinis. sebentar-sebentar memperhatikan perubahan wajah Tan Ciu.

Menunggu beberapa saat. Giok Lo Sat menggerakkan tangan lagi, kini, yang diarah adalah paha putih Si Jelita Merah.

Akhirnya Tan Ciu berteriak. "Hentikan gerakan terkutuk itu."

Ratu Bunga Giok Hong menganggukkan kepala, dia memberi perintah,

"Giok Lo Sat. tangguhkan penyiksaan." Seraya dihadapi lagi pemuda kita dan berkata kepadanya.

"Tan Ciu, bersedia denganku?"

Ong Leng Leng berteriak. "Tan Ciu, jangan kabulkan permintaanya."

Tan Ciu menyedot napasnya dalam-dalam,

"Tidak dapat kubiarkan kau tersiksa." Demikian dia berkata. Tentu saja, mana mungkin Tan Ciu membiarkan orang menyiksa 0ng Leng Leng didepan matanya? Sayang dia tidak berdaya. Musuh berkepandaian tinggi. Untuk mengambil jalan kekerasan, tentu saja tidak mungkin. Tak ada lain pilihan, kecuali tunduk dibawah kekuasaan Sri Ratu Bunga Giok Hong.

Ong Leng Leng memberi peringatan.

"Kau akan tersiksa, setelah itu aku pun akan mati juga." Giok Hong telah menghampiri Tan Ciu.

"Bagaimana?" Dia minta putusan.

Tan Ciu bungkam.

Ong Leng Leng berteriak. "Jangan dengar segala obrolannya."

Tan Ciu berkata. "Bersedia membebaskan dia ?" Giok Hong tertawa,

"Tentu." Katanya puas. "Setelah kau tidur denganku.!!"

Ong Leng Leng berteriak lagi.

"Suatu penipuan, Tidak mungkin! Tan Ciu jangan kau masuk kedalam perangkapnya!"

Tan Ciu menyetujui pendapat Ong Leng Leng, setelah dia bersedia melakukan segala itu, belum tentu Ong Leng Leng mendapat kebebasan. janji seorang bajingan tidak boleh dipercaya.

Ong Leng Leng berteriak lagi, "Dia tidak akan melepaskan setiap orang yang pernah menentang dirinya."

Tan Ciu meminta putusan sang ratu. "Bagaimana? Aku harus menyaksikan kau melepaskan dirinya ." "Tentu saja. Segera aku memberi perintah pelepasan, setelah kau memberikan janjimu."

"Jangan percaya," berteriak Ong Leng Leng. "Dia akan menangkap diriku lagi."

Tan Ciu memandang Ratu Bunga Giok Hong, Giok Hong berkata. "Tidak mungkin!"

"Mungkin dapat terjadi kejadian yang seperti ini!" Berkata Tan Ciu. "Kami harus mendapat kebebasan, aku mengantarkannya pulang sehingga tiba disuatu tempat yang aman. setelah itu, aku akan kembali lagi kepadamu."

"Aku tidak setuju." Giok Hong mengajuan protes. "Bagaimana bila kau tidak balik kembali?!"

"Aku akan balik kembali!" "Aku tidak percaya."

"Aku juga tidak percaya kepadamu." Berkata Tan Ciu . "Baik. Perundingan kita mengalami kegagalan."

Dan lagi lagi Ratu bunga itupun memberi perintah. "Giok Lo Sat, lanjutkan penyiksaan."

Giok Lo Sat menerima perintah dengan hati gembira. Tan Ciu berteriak. "Tunggu dulu."

Giok Hong sangat gembira, memandang pemuda  itu, dan    dengan    penuh    harapan,    dia    bertanya. "Bersedia melulusi permintaanku ?"

"Baiklah." Berkata Tan Ciu lemah. Ong Leng Leng menjerit. "Tan Ciu ..." Tan Ciu memandang gadis itu. "Aku tidak dapat membiarkan kau lebih menderita lagi." Dia berkata.

Giok Hong memberi perintah. "Giok Lo Sat, bebaskan dirinya."

"Baik."

Giok Lo Sat membuka semua ikatan yang mengekang kebebasan Jelita Merah Ong Leng Leng.

Disaat ini terjadi perubahan, dengan mengeluarkan suara jeritan seram, tubuh Ong Leng Leng roboh dilantai. mulutnya menyembur darah, lidahnya mental keluar,

"Aaaa...." Giok Lo Sat berteriak. "Dia telah menggigit lidahnya! Dia bunuh diri."

Tan Ciu juga berteriak.

"Aaaaaaa....." Pemuda ini jatuh pingsan.

Kepala Ong Leng Leng telah tekle dan arwahnya telah melayang keawang-awang tinggi, meninggalkan dunia manusia yang sangat fana.

Suatu kejadian yang berada diluar dugaan Ratu Bunga Giok Hong, kematian Ong Leng Leng akan menggagalkan semua recananya.

Giok Lo Sat memandang guru itu. "Bagaimana?" Dia bingung.

Ratu Bunga Giok Hong mengeretek gigi, dia berkata.

"Apa yang harus dibingungkan? Dia sudah mati tidak perlu dipusingkan lagi. Setiap orang sudah pasti mati."

Menghampiri Tan Ciu dan menotok beberapa jalan darahnya. Tan Ciu siuman kembali,   matanya tak bercahaya mengenang kejadian-kejadian yang menimpa dirinya.

Giok Hong berkata.

"Tan Ciu, dia sudah mati! Kematiannya yang dicarinya."

Memandang mayat Ong Leng Leng, Tan Ciu menubruknya. dia menangis sedih.

"Leng Leng... Leng Leng..." dia memanggil-manggil. "Dia sudah mati!" berkata Giok Hong.

Badan Ong Leng Leng telah diam, tidak bergerak, mulutnya terkatup, tidak dapat memberikan jawaban. jiwanya sudah terbang jauh, pergi ke dunia lain yang lebih menyenangkan.

Tan Ciu kehilangan gadis yang betul-betul menyintai dirinya.

Kematian Ong Leng Leng sangat menyedihkan, pikiran Tan Ciu agak terganggu, Dia menangis didepan jenazah itu!

Ratu Bunga menyaksikan adegan tersebut dengan tenang.

Beberapa saat kemudian, Tiba-tiba Tan Ciu membalikkan badan, menerkam Giok Hong.

"Ratu Cabul!!" Dia membentak, "Kau yang mengakibatkan kematiannya, Hayo ganti dengan jiwa.."

Bagaikan seekor banteng gila, Tan Ciu menghujani ratu tersebut dengan aneka macam pukulan dan jotosan.

Ratu Bunga Giok Hong melepaskan dirinya dari kurungan pukulan-pukulan itu, kemudian dia menotok dengan cepat, membuat Tan Ciu jatuh ngeloso, mati kutu. Giok Lo sat tidak dapat membantu sesuatu kata kejadian tadi.

Giok Hong membentak. "Bawa keluar mayat itu!!"

Lie Bwee dan Giok Lo sat menggotong mayat Ong Leng Leng. Sungguh kasihan, demikian riwayat hidup seorang gadis yang sengsara.

Pukulan-pukulan bathin itu membuat Giok Hong kehilangan selera. Pikirannya sedang berkecamuk, menggunakan obat perangsang? Menunggu waktu? Atau membiarkan pemuda itu mati?

Seorang gadis baju merah lari masuk, dia berkata "Ketua perkumpulan Kim Ie Kauw berkunjung datang."

Giok Hong terkejut.

"Ketua Kim ie Kauw?" Dia bertanya "Apa maksud kunjungannya? Berapakah orang yang datang?"

"Hanya seorang, dia menyebut namanya sebagai kauwcu Kim ie kauw, Kim-ie Mo-Jin."

Nama Kim Ie Mo-Jin pernah menggetarkan rimba persilatan, sedikit banyak, Giok Hong pernah mendengar nama itu, tentu saja sangat terkejut.

"Apa lagi yang dikatakan olehnya?" Bertanya sang ratu. "Dia hendak bertemu dengan suhu!"

"Baik. silahkan dia menunggu diruang tamu." Berkata

Ratu Bunga Giok Hong.

Gadis baju merah pergi menjalankan perintah.

Giok Hong merapikan pakaiannya, setelah ganti bedak, dia menuju ke ruang tamu, Disana telah menunggu seorang tua berbaju emas, itulah kauwcu Kim ie kauw, Kim Ie Mo- Jin. Mereka saling memberi hormat.

"Boleh aku bertanya?" Kim Ie Mo-Jin membuka mulut "Tentunya aku sedang berhadapan dengan Sri Ratu Bunga yang ternama?"

"Tidak salah." Berkata Giok Hong. "Bagaimana sebutan tuan yang mulia!"

"Kim Ie Mo-Jin." "Ada urusan penting?"

"Ng, aku hendak mengajukan suatu pertanyaan." "Silahkan.."

"Ada orang yang  memberi laporan bahwa kauwcu hendak     menjadi      seoarang      penguasa      dunia?!" Dia menggunakan istilah sebutan kauwcu, atau pemilik bangunan setempat untuk meberi suatu peghormatan kepada wanita itu.

Ratu Bunga Giok Hong tertegun.

"Seorang penguasa dunia persilatan?" Dia mengulangi kata-katanya.

"Ng..." Kim Ie Mo-Jin menganggukan kepala. "Dimisalkan keterangan yang kau dapatkan itu betul, apa

yang   ambil   sebagian   langkah   kebijakan   kauwcu?" Han

Thian Chiu turut bicara.

Kim Ie Mo-Jin berpaling kearah Han Thian Chiu. "Bagaimana sebutan ini?" Dia bertanya.

"Telapak dingin Han Thian Chiu." Giok Hong memperkenalkan kekasihnya.

"Ouw.... sudah lama kudengar nama ini." Berkata  Kim Ie Mo-jin agak sombong. Ratu Bunga Giok Hong berkata. "Kauwcu percaya dengan keterangan tersebut?"

"Mengapa tidak?" berkata Kim Ie Mo-Jin. "Kauwcu tidak perlu menyangkal bukan?"

"Sangat penting sekali, Aku harus tahu. Siapa-siapa yang bakal menjadi sainganku? Tokoh-tokoh silat mana yang akan menjadi tandinganku?"

Ratu Bunga Giok Hong berkata.

"Didalam tahun ini, aku akan muncul kembali didalam rimba persilatan. Tentu saja dengan ilmu kepandaian yang kupunyai, siapakah yang berani menentang kehendakku? Semua golongan dan aliran akan bernaung dibawah panji Ratu Bunga Giok Hong. Aku adalah satu-satunya orang yang berkuasa didalam rimba persilatan."

im Ie Mo-Jin menunjukkan sikapnya yang tidak puas, dengan suara yang sangat dingin, dia berkata menantang.

"Lauwcu mempunyai itu kepercayaan." "Mengapa tidak?"

"Kedatanganku dihari ini adalah ingin membikin terang perkara itu."

"Maksud Kauwcu?"

"Aku pun termasuk seorang yang hendak duduk diatas tachta kerajaan pemimpin rimba persilatan."

"Ternyata kauwcu hendak menjadi seorang raja silat?" "Rimba persilatan harus berada dibawah pimpinannya

seorang bengcu, dengan arti kata lain, seorang yang mempunyai ilmu kepandaian silat sangat tinggi, dan akulah calon yang paling tepat!" berkata Kim Ie Mo-jin sangat angkuh. "Kauwcu melupakan adanya persaingan kekuatan. Aku berhak mencalonkan diri menjadi seorang bengcu." Berkata Giok Hong.

"Kuanjurkan, agar kauwcu mengundurkna diri dari persaingan ini." Berkata Kim Ie Mo-Jin.

"Bila tidak?" Sikap Giok Hong tidak menunjukan rasa gentar.

"Dari pada terjadi dua pimpinan, ada lebih baik kita menyerahkan hak calon ini kepada yang berkepandaian tinggi."

"Mau datang untuk menantang orang?"

"Mana berani menantang?" Berkata Kim Ie Mo-Jin berdiplomatik. "Sebelum kauwcu duduk diatas tahta kerajaan kepala rimba persilatan kauwcu tidak keberatan untuk menyingkirkan diriku bukan?"

"Diantara kita, hanya seorang yang boleh mencalonkan diri?" Berkata Giok Hong terang-terangan.

"Inilah maksud tujuanku!" Berkata Kim Ie Mo-Jin. "Dimisalkan kau menderita kekalahan?" Giok Hong

menancepkan pokok persoalan penting itu.

"Bila aku yang kalah, untuk selama-lamanya nama Kim Ie Mo-Jin akan lenyap dari permukaan bumi. Aku akan mengasingkan diri di suatu tempat yang tiada berpenduduk."

Giok Hong setuju.

"Bagus.." Demikian Ratu Bunga berkata.

Telapak Dingin Han Thian Chiu  turut bicara, dia memberi suara baru, katanya "Aku mempunyai usul lain."

"Bagaimana usul itu?" "Bila kauwcu kalah bertanding, kami harapkan tenaga kauwcu, bersediakah kauwcu menjadi salah satu anggauta Ratu Bunga?"

"Usul bagus!" Giok Hong memberikan pujiannya. Usul kekasihnya akan menguntungkan dirinya.

Kim Ie Mo-Jin tidak setuju, dia berkata getas.

"Maaf!! aku tidak dapat menerima saran ini. Sebagai seorang ketua perkumpulan, aku tidak ingin bernaung dibawa panji kebesaran golongan lain. Maksud kedatanganku untuk mengadu silat, bukan mencari kekuasaan atau menyerahkan kekuasaan."

"Kau mempunyai pegangan penuh untuk memenangkan ini?" Balik tanya Kim Ie Mo-Jin.

"Kemudian untuk kalah dan menang adalah sama tengah!" Berkata Giok Hong.

"Itulah.. Harapan untuk menang dan harapan untuk kalah sama saja." Berkata Kim Ie Mo-Jin.

"Bila kekuatan kita berimbang? Bagaimana menetapkan pemenang?" Bertanya Giok Hong.

"Tidak mungkin." Berkata Kim Ie Mo-Jin.

"Mengapa tidak mungkin?" berkata Giok Hong. "Demikian hal ini terjadi?"

Setelah berpikir sebentar, Kim Ie Mo-Jin berkata. "Ketetapan boleh kita tangguhkan, Satu bulan kemudian,

kita mengulang pertandingan. Demikian  untuk selanjutnya,

pada suatu hari, satu diantara kita akan menyerah kalah." "Berapa juruskah untuk satu babak pertandingan?"

"Kukira Kauwcu mempunyai hak untuk menetapkan jumlah jurus pertempuran satu babak." "Lima puluh jurus, setuju?"

"Baik.. Didalam lima puluh jurus, seorang diantara kita harus mendapat kemenangan. bila tidak, pertandingan dianggap seri."

Telah terjadi kesepakatan, Giok Hong mengajak tamu ketempat pekarangan melatih diri. Dia harus berhati-hati. Kim Ie Mo-Jin berani berkunjung datang, tentu mempunyai ilmu kepandaian yang luar biasa, lengah berarti kekalahan.

Kim Ie Mo-Jin mempunyai kedudukan dibagian Timur. Ratu Bunga Giok Hong menempatkan dirinya dibagian Barat.

Mereka saling pandang.

Kim Ie Mo-Jin membuka mulut. "Silahkan.." Giok Hong berkata "Tunggu dulu.."

"Ada apa lagi?" bertanya Kim Ie Mo-Jin.

"Sebelum pertandingan dimulai, aku hendak mengajukan suatu pertanyaan."

"Silahkan.."

"Darimana kauwcu tahu markas sementara Ratu Bunga digunung Pek Hoa San?"

"Dari seorang cacad yang duduk disebuah kursi beroda". "Terima kasih!"

"Masih ada pertanyaan lain?"

"Tidak ada.."

"Sudah siap untuk menerima serangan?"

Giok Hong membuat suatu ulapan tangan, berarti sudah siap menerima serangan-serangan lawannya. "Silahkan kauwcu mulai." dia berkata.

Kim Ie Mo-Jin dan Ratu Bunga Giok Hong mengadakan duel untuk menentukan calon pemimpin rimba persilatan.

Kim Ie Mo-Jin membuka serangan dengan tangan kanan disodorkan kedepan, sangat perlahan sekali.

Reaksi Giok Hong sangat cepat, dia menggeser posisi, dari atas kebawah, suatu gerakan yang tidak mudah dilakukan oleh manusia biasa.

Tangan Kim Ie Mo-Jin yang maju kedepan seperti hilang, begitu cepat gerakan itu, membawa tubuhnya berputar dan menangkis serangan lawan.

Bayangan Giok Hong Berkembang baik, semakin lama, semakin banyak, dan akhirnya tidak terpeta lagi, hanya melihat suatu gumpalan merah yang mengurung sinar kuning. Ternyata Kim Ie Mo-Jin juga liehay, tubuh Kim Ie Mo-Jin telah bergoyang, bagikan gasingan, menjelubungkan dirinya didalam sinar kuning didalam dan bayangan sinar merah didepan. Tidak lagi terlihat gerakan-gerakan dari kedua orang itu.

"Plaaakkk..."

Kedua gulungan baju itu terpisah. Yang  kuning diselatan, dan yang merah di utara. Wajah Kim Ie Mo-Jin dan Giok Hong sangat kaku sekali. Suatu tanda bahwa tidak seorang pun dari kedua orang ini yang dapat menarik keuntungan dari gebrakan-gebrakan tadi.

Mereka telah mengakhiri babak pertama.

Masing-masing telah mengirim sepuluh serangan berikut pertahanan, sepuluh jurus itu dilewatkan didalam satu kedipan mata. Suatu kecepatan yang tidak dapat dipadui oleh manusia biasa. Masing-masing memuji ilmu kepandaian lawan, inilah lawan yang terkuat, Semakin berhati-hati dan semakin waspada.

Kim Ie Mo-Jin menggeser kaki kearah Timur, dari sini dia melejitkan kaki, sangat tinggi, dibarengi oleh suara pekikannya, dia menyerang Giok Hong.

Giok Hong tidak bergerak dari posisi semula, dia mengikuti gerakan Kim Ie Mo-Jin dengan kerlingan mata. Diakal musuh itu bergerak, diapun berpendak silat dengan tenaga dalam.

Giliran bayangan kuning yang mengurung gulungan baju merah.

Pergumulan babak kedua lebih hebat dari yang pertama, dikala bayangan-bayangan itu terpeta, perhitungan jurus angaka set tepat pada jurus ke tiga puluh.

Masih ada dua puluh jurus untuk menentukan kemenangan itu.

Kim Ie Mo-Jin menyusut keringatnya. Giok Hong mempertahankan jalan pernapasannya. sudah terempas empis. Mereka tidak bicara.

Dan disaat yang hampir bersamaan, mereka mengeluarkan geraman menerjang musuhnya menjadi pergumulan yang lebih berbahaya..

Empat puluh jurus telah dilewatkan, tanpa hasil kemenangan.

Pada jurus ke empat puluh lima, masing-masing mengundurkan gerakan mereka. Hanya lima jurus lagi untuk mencapai kemenangan, mereka lebih sayang melontarkan jurus-jurus tersebut, agaknya tidak mudah untuk menentukan kemenangan hari itu. Kim Ie Mo-Jin mengibaskan tangan sekaligus melontarkan tiga jurus serangan!

Giok Hong lebih cepat, berpindah dua kali dia melontarkan lima jurus serangan, menghabiskan semua kesempatan.

Kim Ie Mo-Jin menambah lagi dengan dua kali bacokan tangan.

Mereka menyerang memaksa musuh berganti tempat, menyerang untuk menggantikan pertahanan. Inilah motto ilmu silat kelas tinggi.

Terdengar dua kali suara letupan. bayangan kedua orang terpisah, Mulut dan bibir kedua orang itu berceceran darah.

Masih belum ada putusan, siapa dari kedua orang itu yang mempunyai ilmu silat lebih unggul.

Batas pertandingan hanya lima puluh jurus, dan angka ini telah mereka tepati, belum ada kemenangan, pertandingan segera ditangguhkan, menunggu satu bulan kemudian setelah melatih diri lebih tekun, mereka harus bertanding kembali.

Score sementara satu banding satu.

Setelah menekan gejolak peredaran darahnya Kim Ie Mo-Jin berkata. "Nama Ratu Bunga memang bukan nama kosong, ilmu kepandaian yang maha hebat."

"Ilmu kepandaian kauwcu adalah orang pertama yang dapat menandingiku." Giok Hong juga memuji lawannya.

Kim Ie Mo-Jin memberi hormat, dia berkata, "Selamat berpisah, Satu bulan lagi, aku akan kembali, meneruskan pertandingan ini."

Ia hendak meninggalkan Gunung Pek Hoa San. Tiba-tiba Han Thian Chiu berteriak, "Tunggu dulu!"

Kim Ie Mo-Jin mendelikan matanya, dia menduga bahwa musuhnya hendak menahan dirinya, tentu sangat marah.

"Ada apa?" Dia bertanya.

Sebelum Han Thian Chiu memberikan jawaban, seorang gadis berbaju merah berlari datang, sikapnya amat tergesa- gesa.

Ratu Bunga Giok Hong membentak gadis itu.  "Siau Hoa, ada apa?"

Gadis yang bernama Siauw Hoa memberikan laporan. "Lie Bwee telah membawa Tan Ciu, maksudnya hendak

terjun dari  gunung Pek Hoa san, beberapa sucie dan sumoay sedang berusaha menahan mereka."

"Aaaaa... Lagi-lagi ada orang yang hendak melarikan Tan Ciu! Demikian banyakkah penolong-penolong pemuda itu?"

Giok Hong mengerutkan alisnya.

"Lie Bwee melarikan Tan Ciu?" Dia masih kurang percaya.

"Betul!!" Siauw Hoa memberi kepastian. "Giok Lo sat dan beberapa orang sedang mengadakan pengejaran."

Giok Hong memberi perintah.

"Beri tahu kepada semua orang, segera tangkap budak pengkhianat itu!"

"Baik." Siauw Hoa segera menerima perintah.

Giok Hong bergugam. "Budak yang sudah bosan hidup." Usaha Ong Leng Leng yang hendak menolong Tan Ciu telah mengalami kegagalan, Dengan kesudahan kematian bagi gadis tersebut.

Lie Bwee juga hendak mengikuti jejak Ong Leng Leng? sungguh sungguh seorang gadis yang bosan hidup.

Meminta diri kepada Kim Ie Mo-jin, Giok Hong turut mengadakan pengejaran.

Disana tinggal dua orang, mereka adalah Kim Ie Mo-Jin dan Han Thian Chiu,

Kim Ie Mo-Jin berkata, "Han tayhiap akan mengajukan pertanyaan?"

"Ada sesuatu yang hendak kita rundingkan, dapatkan kauwcu menunggu diruang tamu!"

Kim Ie Mo-Jin tidak keberatan, dia diajak masuk kedalam ruang tamu. Disini Han Thian Chiu berkata, "Berhubung terjadi sesuatu didalam perkumpulan kami, tentunya kauwcu dapat bersabar beberapa saat, tidak lama urusan menyangkut kesejahteraan kedua golongan.."

"Baik. Akan kutunggu kalian disini," Berkata Kim Ie Mo-jin.

Han Thian Chiu menyusul Giok Hong.

Seluruh anak buah  Ratu Bunga dikerahkan untuk mengejar Lie Bwee dan Tan Ciu.

Lie Bwee melarikan Tan Ciu? Apa alasan gadis itu menolong orang? Sungguh sulit dipahami.

Kenyataan adalah demikian, dilereng gunung Pek Hoa San dengan mengepit Tan Ciu, Lie Bwee sedang mengejar seorang gadis baju merah.

Lawan Lie Bwee sudah didesak. Seorang murid Ratu bunga sedang menahan kepergian Lie Bwee.

Dengan alasan apa Lie Bwee hendak menolong Tan Ciu? Dahulu gadis itu hendak menggunakan tenaga Ong Jie Hauw membunuh si pemuda. Bukankah suatu hal yang bertentangan?

Tentunya ada sesuatu yang direncanakan.

Lie Bwee masih mendesak terus, akhirnya dia berhasil menamatkan jiwa lawan itu. Membawa Tan Ciu, dia melayang turun gunung Pek Hoa San.

Tiba-tiba....

Terdengar suatu suara bentakan. "Jangan lari "

Wajah Lie Bwee berubah. kakinya gemetaran, itulah suara sang guru, Sri Ratu Bunga Giok Hong.

Lie Bwee menghentikan ayunan kakinya tidak guna lari lagi, dihadapan gurunya, dia hanya seekor semut yang tiada bertenaga, dan dalam sekejap mata, guru itu dapat membikin pengejaran dan menyandak dirinya. Dari pada mencari penyakit, Dia menghentikan kaki. 

Giok Hong menghampiri murid itu, dia  membentak. "Lie Bwee, berani berhianat?"

Lie Bwee mengeluarkan suara ratapan. "Suhu "

"Siapa yang menjadi suhumu? Aku tidak mempunyai murid yang sepertimu."

"Maksudmu "

"Lie Bwee, pernahkah aku melakukan sesuatu yang diluar batas?" "Tidak!"

"Pernah memukul atau melukai hatimu?" "Belum!"

"Kuperlakukan kau sebagai anak, mengapa kau membalas air susu dengan air tuba?"

"Suhu. aku hendak.." "Mungkin kau cinta padanya?"

"Bukan... Bukan..." Lie Bwe membantah dugaan ini.

"Kau tidak cinta padanya? Dengan alasan apa menolong? Serahkan pemuda itu kepadaku."

"Tidak.." Lie Bwee membawa Tan Ciu mundur kebelakang.

Giok Hong membentak. "Berani kau membangkang perintah ?"

"Suhu, aku tidak boleh menyerahkan Tan Ciu kepadamu! Kau akan membunuh dirinya!"

"Apa boleh buat. sesuatu telah terjadi dan..." "Dan kau tidak menyesal lagi?"

"Kuharap   saja suhu dapat memberi pengampunan, membiarkan aku pergi dengan membawa dirinya."

"Begitu mudah? Kau kira, aku tukang sedekah?" "Suhu..."

"Serahkan Tan Ciu."

"Tidak..." Ratu Bunga Giok Hong mendelikkan mata, dia berkata. "Serahkan pemuda itu. Aku tidak akan mengganggu dirimu."

Lie Bwee lebih kenal kepada sifat-sifat gurunya. tidak mungkin hal itu dapat terjadi. Hanya alasan untuk meminta Tan Ciu darinya.

"Jangan." dia menolak. Wajah Giok Hong berubah.

"Kau hendak mengikuti jejak Ong Leng Leng?" Dia memberi contoh ancaman.

Lie Bwee telah menempatkan dirinya dijalan berjurang, dia hendak menolong Tan Ciu, maksudnya diam-diam, setelah itu. tanpa terjadi sesuatu apa-apa, Dia dapat balik kembali kegunung Pek hoa-san.

Usahanya gagal, ada orang yang melihat perbuatannya, maka mendapat kejaran dari semua anggauta Sri Ratu Bunga.

Tidak dapat dia melarikan diri, juga tidak boleh menyerahkan Tan Ciu. Menyerahkan Tan Ciu berarti lenyapnya pegangan untuk dia meninggalkan gunung Pek hoa san.

Dia telah menempatkan kedudukan posisinya yang bertentangan dengan sang guru. Menyerahkan Tan Ciu berarti menyerahkan jiwa sendiri. dia akan mati. Tidak menyerahkan pemuda itupun akan mati. Kedua jalan yang terbentang dihadapannya hanya jalan-jalan yang menuju kearah jurang kematian.

Timbul niatan untuk mengadu jiwa.

Membuang rasa takutnya untuk menghadapi kematian, hati Lie Bwee agak tenang. Dia berkata. "Suhu. bila kau bersedia melepas muridmu, untuk budi ini, selama hidup pun tidak akan kulupakan?"

Giok Hong membentak!

"Lie Bwee, kau bersedia untuk mengorbankan diri sendiri!"

Satu bayangan meluncur datang, itulah Telapak Dingin Han Thian Chiu, turut bicara, "Giok Hong, bereskan saja kedua-duanya. Mengapa harus banyak cingcong?"

Han Thian Chiu telah menutup jalan lari Lie Bwee.

Ratu Bunga Giok Hong memberi ultimatum yang terakhir, ultimatum yang ditujukan kepada muridnya.

"Lie Bwee, sudah kau pikirkan masak-masak apa akibat dari langkah perbuatan dan penolakanmu?"

"Suhu, kau tidak dapat memberi jalan yang lebih baik?"

Tangan Giok Hong bergerak, mencengkram kepala muridnya. Lie Bwee menggeser kaki, berusaha menghindari serangan itu.

Giok Hong telah meneruskan serangannya yang kedua. Kecepatannya sangat luar biasa. Seolah-olah biang lala merah yang menyambar mangsa.

Ilmu kepandaian Lie Bwee adalah didikan ratu  itu, dimisalkan tidak membawa tubuh Tan Ciu, diapun bukan tandingannya, apa lagi harus menjaga keselamatan pemuda itu. Mana mungkin menghindari diri dari serangan- serangan gurunya?"

Heekk....

Tangan Lie Bwee kena pukulan, keple melingkar terlalu kuat sekali tenaga yang Giok Hong kerahkan. Lie Bwee jatuh tanpa sadarkan diri. Badan Tan Ciu terpental keatas.

Han Thian Chiu tidak membuang peluang ini, dia mengayunkan tangan hendak menamatkan jiwa sipemuda.

Melayang datang satu bayangan putih, sebelum pukulan Han Thian Chiu mengenai sasaran, bayangan putih itu sudah berhasil menyanggah tubuh Tan Ciu. Kemudan dibawa pergi.

Ratu Bungan Giok Hong melintangkan diri mencegah larinya orang itu.

Disana bertambah seorang gadis berbaju putih. inilah murid orang cacad berkerudung yang duduk di kursi roda.

"Hei.." Han Thian Chiu berteriak kaget.

Menyaksikan kegesitan lawannya, Giok Hong juga terkejut, memandang Han Thian Chiu, dia meminta keterangan.

"Siapa orang ini?"

Han Thian Chiu menjawab. "Dia she Cang, bernama Ceng Ceng."

"Ooo, ternyata kau." berkata Giok Hong. "Pernah juga kudengar namamu. Tidak disangka, hari ini kita mendapat kesempatan untuk bertanding."

Cang Ceng Ceng memandang Han Thian Chiu.

"Siapa kau?" Dia tidak kenal kepada orang yang pernah memalsukan wajah Tan Kiam Lam.

"Ha..Ha.Ha.." Han Thian Chiu tertawa. "lupa kepadaku. aku adalah Han Thian Chiu."

"Hmm... Inikah wajah aslimu?" Cang Ceng Ceng tidak takut. "Betul!!"

Giok Hong membentak, "Tinggalkan Tan Ciu." "Huuh.." Ceng Ceng menolak. Dia berdengus. "Hendak menolong?" Berkata Giok Hong lagi. "Tidak salah." Berkata Cang Ceng Ceng.

"Jangan harap!!" Berkata Giok Hong. disaat yang sama, dia telah meluncurkan diri menyerang gadis tersebut.

Cang Ceng Ceng mengegos, kemudian membalikkan badan, membawa Tan Ciu, dia melarikan diri.

Han Thian Chiu dan Giok Hong mengadakan pengejaran.

Berat badan Tan Ciu adalah suatu beban bagi Cang Ceng Ceng. Dia tidak dapat meninggalkan kedua pengejarnya. Ratu Bunga Giok Hong berhasil mengejar dibelakang gadis itu, dengan satu pukulan, hendak menggebuk punggung orang yang berani membawa lari anak ayamnya..

Tiba-tiba...

Satu kekuatan menyelusup datang, mewakili Cang Ceng Ceng, menolak pulang tenaga pukulan sri Ratu Bunga.

Akibat dari penolakan itu, Tubuh Giok Hong tidak dapat maju lagi.

Disana telah bertambah seorang, dia duduk diatas kursi beroda, inilah guru Cang Ceng Ceng. Diwaktu yang tepat menolong jiwa muridnya.

Sri Ratu Bunga Giok Hong dan Han Thian Chiu hendak mengejar Cang Ceng Ceng. Datang si manusia berkursi roda. dikala Giok Hong hendak mendatangi Cang Ceng Ceng, dia turut membantu dan menolong jiwa  muridnya itu. Giok Hong mengirim lain pukulan. "Minggir!!" Dia membentak keras.

Orang cacad berkerudung itu tidak menyingkirkan diri,

dia menerima pukulan tadi.

Blegur!....

Mereka terpisah kembali.

Menggunakan kesempatan ini, Cang Ceng Ceng membawa Tan Ciu, turun dari gunung Pek Hoa San.

Han Thian Chiu hendak mengejar, juga dihadang oleh manusia berkerudung itu.

Orang cacad dengan wajahnya yang tertutup oleh selembar kain kerudung memandang Sri Ratu Bunga. Dengan perlahan dan sikapnya yang tenang, dia berkata,

"Jangan terlalu banyak membunuh orang."

"Sebutkan namamu." Giok Hong membentak, "Dengan alasan apa turut campur perkara kami?"

"Ha..Ha... Inilah urusanku." Orang cacad berkerudung itu berkata.

"Mengapa urusanmu? Kau mempunyai hubungan keluarga dengan Tan Ciu?"

"Mengapa tidak?" Berkata orang berkerudung itu tenang duduk diatas kursi rodanya.

Han Thian Chiu turut bicara. "Juga mempunyai hubungan dengan Cang Ceng Ceng?"

"Aku adalah guru Cang Ceng Ceng." Orang itu memberi keterangan. "Guru Cang Ceng Ceng?" Han Thian Chiu terkejut. Guru sigadis yang berkepandaian sangat tinggi itu? Bagaimana dia dapat menandinginya?

Orang berkerudung diatas kursi roda menganggukan kepalanya.

"Tidak salah" dia berkata. "Han Thian Chiu kau pernah dikalahkan oleh muridku bukan?"

"Aaaa....." Han Thian Chiu terkejut bukan main, "Kau kenal kepadaku?"

Rasa kagetnya Han Thian Chiu tidak kepalang, tentu saja, hal ini sangat beralasan, tidak banyak orang yang mengenal wajahnya kecuali beberapa golongan tua dan mereka pun tidak tahu, bagaimana wajah asli Han Thian Chiu, dia mempunyai lain julukan, Pendekar Wajah Panca Roba, nama yang menandakan betapa lihay dia merobah wajah, aneka macam muka telah digunakan olehnya, Tidak sembarangan orang dapat mengetahui, yang mana wajah asli Han Thian Chiu.

Orang berkerudung ini segera menyebut nama itu, bagaimana Han Thian Chiu tidak terkejut.

"Han Thian Chiu," Berkata orang itu, "Mati pun tidak kulupakan wajahmu."

"Oouww..."

"Dua puluh tahun yang lalu, kau adalah kawan baikku.." "Oouww..."

"Sayang,   hatimu   terlalu busuk.   Aku rusak karena perbuatanmu."

"Oouww..." Han Thian Chiu mengeluarkan rentetan suara ditenggorokan, dia sedang mengenang siapakah kawan- kawan yang terdekat dengan dirinya? Siapakah jago-jago silat yang hidup pada masa dua puluh tahun yang telah lampau? Dia belum dapat menemukan jawaban itu.

"Han Thian  Chiu!" Berkata lagi orang berkerudung. "Tidak ingat kepadaku bukan?"

"Oouw..." Han Thian Chiu berdehem.

"Tidak mungkin kau tahu!" Berkata lagi orang itu.

Han Thian Chiu berkata "Tentunya kau adalah seorang tokoh silat ternama, mengapa menggunakan tutup  kerudung muka? Malukah kepada orang?"

Orang itu tertawa.

"Seharusnya kau malu!" Dia berkata.. "Aku menutup wajahku, karena wajah ini tidak patut dilihat orang. sudah rusak, tiada berbentuk muka lagi."

"Sudah rusak? Tidak berbentuk wajah?"

"Ngg.... Seharusnya kau dapat menduga sebagian asal usulku.."

Han Thian Chiu tidak dapat menduga, siapa orang ini. Maka dia bertanya. "Ha...Ha.. Kita kawan baik bukan? Mengapa harus mencari urusan yang bukan-bukan?"

"Kawan baik?"

Han Thian Chiu semakin bingung.

"Han Thian Chiu, kau sudah berhasil meyakinkan catatan-catatan ilmu silat yang didapat dari Cang Ceng Ceng?"

Cara-cara Han Thian Chiu yang menggunakan wajah Tan Kiam Lam memalsukan ketua Benteng Penggantungan, dari meng Ie Hun Tay Hoat kan Cang Ceng Ceng adalah suatu perbuatan yang memalukan. Dengan memaksakan diri dia berkata.

"Hanya ilmu biasa saja.."

"Betul.." Orang itu berkata "Hanya ilmu biasa, tapi kau sangat membutuhkannya."

Dan mengalihkan pandangannya, orang itu menatap Sri Ratu Bunga Giok Hong.

"Giok Hong.." Dia memanggil nama orang. "Kau mencapai kemajuan yang luar biasa. Kau telah melipat gandakan ilmu kepandaian dimasa mudamu."

Ratu Bunga Giok Hong berjangkit kaget, hampir dia terlompat. Dia sedang berhadapan dengan seorang tokoh silat yang sangat misterius. Dari si cacad tahu sebutan nama kecilnya?

Siapakah orang ini? Agaknya mempunyai hubungan yang cukup erat, maka dapat mengetahui kemajuan ilmu silatnya.

"Kau juga kenal kepadaku?" dia bertanya bingung. "Mengapa tidak?" berkata orang berkerudung itu. "kau

pernah menghadiahkan api gelora asmaramu bukan?"

"Huaahh?! "

"Ha..ha..." Orang itu tertawa,"Kau pernah berkata kepadaku! Aku cinta padamu. Lupakah kepada janji ini?"

"Kau memfitnah orang." Giok Hong berteriak.

"Bukan fitnahan." berkata orang itu. "Belasan orang telah kau tipu dengan kata-kata itu. Jangan menyangkal."

"Aku tidak kenal kepadamu." "Ha..ha... Buah dadamu yang sebelah kiri ada sebuah tahi lalat merah bukan? Berapa banyak orangkah yang tahu rahasia ini?"

Semakin lama, ocehan orang berkerudung itu semakin tajam, tidak mengelak hubungan baik orang.

Ratu Bunga Giok Hong berteriak. "Aaa...Kau?... kau masih hidup??"

Han Thian Chiu juga dapat menduga kepada asal usul orang ini. Ia memanggil kekasihnya.

"Giok Hong, mungkinkah dia??"

"Kukira memang dia?!" Giok Hong menganggukan kepala.

"Siapa?" Orang berkerudung itu tertawa terbahak-bahak.

Memandang orang misterius itu, dengan suara yang gemetar, penuh gejolak jiwa, Ratu Bunga Giok Hong berkata,

"kau...kau.. Tan Kiam Lam?"

"Ha..Ha... Kau takut kepada Tan Kiam Lam?" Orang ini tidak menyangkal, tidak juga membenarkan dugaan itu.

Han Thian Chiu dan Giok Hong tertegun, mereka saling pandang.

Orang itu berkata lagi. "Tan Kiam Lam telah mati ditangan kalian bukan?"

Tidak dapat disangkal, Tan Kiam Lam telah diterjunkan kedasar jurang, setelah dicincang oleh kedua orang ini, karena itulah Han  Thian Chiu dan Giok Hong saling pandang. Mereka tidak percaya, bahwa muncul seorang Tan Kiam Lam baru. Mengenangkan kembali, semua bekas kekasihnya Giok Hong bertanya.

"Lie Hong?"

"Aku bukan Lie Hong!" Berkata orang itu. "Ong Bun Sin?"

"Juga Bukan.." "Setan Cang Leng?"

"Aku tidak kena Setan Cang Leng." "Katakan siapakah kau?"

"Ha..Ha... Orang yang telah masuk ke dalam

perangkapmu tidak sedikit, Maka tidak dapat menduga asal usulku, bukan?"

Ratu Bunga Giok Hong menggeser kakinya, dia harus melenyapkan orang ini.

Manusia cacad dikursi rodanya tertawa.

"Giok Hong." Dia memanggil "Jangan kau bergerak maju lagi. Ingin menempur diriku? Ha..ha... dua puluh tahun yang lalu, hampir aku mati ditanganmu. Setelah itu aku meyakinkan ilmu peninggalan jaman purbakala, hari ini, kau tidak akan berhasil membunuhku. Mengingat hubungan lama kita, aku tidak mempunyai minat untuk bergulet denganmu."

"Tutup mulut!!!"

"Baik. aku masih banyak urusan, selamat tinggal." Orang itu sudah memegang roda kursi istimewanya. Dia hendak meluncur pergi.

Han Thian Chiu dan Giok Hong mengeluarkan teriakan berbareng. "Tunggu dulu!"

"Ada apa lagi?" bertanya orang itu.

"Kau harus memberi keterangan yang lebih jelas. sebelum itu, jangan harap dapat meninggalkan tempat ini." Berkata Ratu Bunga Giok Hong.

"Ha, ha.... Hendak menantang perang?" Orang itu mengejek sekali.

Giok Hong harus menahan orang ini, sangat berbahaya untuk dibirakan hidup diatas permukaan bumi. Badan dan tangannya bergerak memukul roda kursi.

Orang itu tidak dapat menggunakan sepasang kakinya, dua roda adalah urat nadi penting, tentu saja tidak membiarkan orang merusak alat bergeraknya itu, dia membacok tangan Giok Hong yang menjulur datang.

Itulah tipu gerakan si Ratu Bunga, Giok Hong mengubah pukulan menjadi cengkraman, dia meraih tutup kerudung muka orang misterius tersebut.

Hampir berhasil.

Sayang orang itu mempunyai gerakan yang luar biasa, entah bagaimana dia berhasil menggerakkan roda kursi maka kelakuan dirinya berubah, Cengkeraman tangan Giok Hong mengenai tempat kosong.

Gagal!

Mereka bergerak cepat setelah mengalami ketegangan- ketegangan yang memuncak, kedua tubuh mereka terpisah.

Wajahnya Han Thian Chiu berubah.

Giok Hong telah menyerang tiga kali dan serangan- serangan itu dikandaskan dengan mudah, tanpa membikin pembekasan sama sekali, orang berkerudung itu terlalu gesit untuk dilawan seorang.

Timbul niatan Han Thian Chiu untuk mengeroyok orangnya.

Disaat yang sama, orang berkerudung sudah memutar kursinya, sekali dia tidak mau mengambil posisi yang membelakangi kedua musuhnya.

Giok Hong membikin penyerangan untuk babak kedua, beruntun empat kali, dia menyerang musuh itu.

Orang berkerudung membalas dengan tiga kali pukulan telapak tangan.

Terjadi baku hantam yang cepat.

Kekuatan Giok Hong berada dibawah orang itu, sang ratu terdesak kebelakang.

Menggunakan suatu kesempatan bagus Han Thian Chiu turun kegelanggang, dia membacok punggung orang diatas kursi roda.

Desiran angin yang kuat memaksa orang tersebut memutar kursi menangkis pukulan Han Thian Chiu, setelah itu, cepat sekali, dia berputar lagi menyerang Giok Hong.

Dua lawan satu!

Keadaan orang berkerudung mulai terdesak. Dia mempunyai latihan tenaga dalam di atas kedua lawannya. selisih itu terlalu kecil sekali. Kini dikeroyok oleh mereka. tentu saja tidak mempunyai peluang waktu untuk mengadakan serangan, Dia main tangkis dan main mundur.

Bukan cara terbaik untuk meloloskan diri dari kepungan kedua musuhnya. orang berkerudung memperhatikan kekosongan lawan. Tiba-tiba memukul keras. setelah itu, dia mundur jauh.

Mulutnya berteriak.

"Tidak tahu malu. Dua lawan satu,"

"Buka kerudung tutup mukamu." Berkata Giok Hong, "Belum cukup waktu." Berkata si cacad diatas kursi roda. "Menyerahlah." Berkata Han Thian Chiu.

"Wah, kukira aku akan celaka dibawah tangan kalian." Orang itu masih dapat berhumor.

Giok Hong dan Han Thian Chiu telah menjepit dikiri  dan di kanannya, wajah mereka semakin beringas.

Orang berkerudung menggeser kursi rodanya, dia bermaksud melepaskan diri dan kepungan kedua orang.

Giok Hong dan Han Thian Chiu tidak berpeluk tangan, masing-masing mengirim satu pukulan.

Kejadian yang sudah berada didalam perhitungan orang berkerudung itu. Tangannya terpentang, menyanggah pukulan-pukulan musuh-musuhnya dan dengan dorongan kekuatan tadi, yang ditambah dengan tenaganya sendiri, dia meluncurkan kursinya kebawah gunung, begitu cepat, daya terjun itu sehingga menimbulkan asap debu.

"Selamat berpisah." Terdengar Angin suara manusia aneh itu.

Giok Hong membanting kaki, dia lari mengejar. "Jangan lari." Dia penasaran..

-oo0dw0oo-