Pohon Keramat Jilid 17

Jilid 17

MENGGELINCIR kesamping, orang itu dapat meloloskan diri, segera mengeluarkan bentakan.

"Hei. kau sudah gila?"

Tan Ciu menahan serangan yang sudah siap dilontarkan.

Ia membentak. "Siapa Kau?"

"Perhatikanlah jelas-jelas, siapa diriku." Berkata orang itu.

Tan Ciu menggunakan sepasang matanya,  meneliti orang berada didepannya, ada tiga orang yang mempunyai wajah seperti ini. kecuali si Telapak Dingin Han  Thian Chiu masih ada Tan Kiam Pek dan Tan Kiam  Lam sepasang saudara kembar itulah paman dan ayahnya.

Tan Kiam Lam mempunyai andeng-andeng hitam dikuping kiri. Tan Kiam Pek mempunyai tahi lalat hitam dikuping kanan. Itulah perbedaan diantara kedua orang itu.

Satu lagi, adalah Han Thian Chiu. dengan ilmu merias dan mengubah wajah yang sangat sempurna, iapun memiliki wajah yang sama dengan saudara kembar itu memegang peranan sebagai Tan Kiam Lam. Maka menggunakan tahi lalat hitam dikuping kiri.

Tan Ciu memperhatikan orang yang didepannya, Orang itu berandeng-andeng hitam ditelinga kanan, itulah Tan Kiam Pek!

"Paman?!..." Si pemuda masih ragu-ragu.

"Betul. Aku adalah Tan Kiam Pek." Berkata orang itu. Tan Ciu unjuk hormatnya.

"Maafkan siautit yang telah berani berlaku kurang ajar."

"Kau menduga kepada siketua Benteng penggantungan?" "Ada sesuatu yang harus siautit beritahu kepadamu.

ketua Benteng Penggantungan bukanlah ayah." "Aku sudah tahu." Berkata Tan Kiam Pek. "Bagaimana paman tahu?"

"Aku menjanjikan si pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap meneruskan pertandingan didepan Benteng Peaggantungan, dengan maksud melihat bagaimana reaksinya." Bertutur Tan Kiam Pek. "Rencanaku berhasil. orang itu menggunakan tangan kanan. Inilah bukti pertama." 

"Kemudian."

"Kuperhatikan lagi gerak gerik tipu silatnya, itupun berbeda, kupastikan seratus persen bahwa ketua Benteng Penggantungan bukanlah Tan Kiam Lam." "Paman telah berkunjung ke Benteng Penggantungan?" "Baru saja kupergi dari benteng itu."

"Bagaimana keadaan mereka."

"Benteng Penggantungan telah menjadi puing." "Aaaa ..."

"Benteng Penggantungan telah kedatangan musuh kuat. semua penghuni benteng itu telah mati."

"Semua telah mati? Bagaimana dengan keadaan Permaisuri dari Kutup Utara Pek Pek Hiap, pengemis lihai yang mengaku sebagai Tukang Ramal Amatir, si Bungkuk Kui Tho Cu sekaliafn?"

"Ketiga orang yang kau sebutkan tidak berada di Benteng Penggantungan."

”Tidak mungkin. Mereka pasti di Benteng Penggantungan."

"Diantara mayat-mayat yang menjadi korban tidak terdapat tubuh mereka."

"Siapakah orang yang menghancurkan Benteng Penggantungan?"

"Belum diketahui."

"Mungkinkah si Telapak Dingin Han Thian Chiu." Tan Ciu mengemukakan pendapat.

"Tidak mungkin. Manusia itu tidak mempunyai keberanian untuk balik kembali."

"Bagaimana keadaan Pek Co Yong?" "Ia menderita luka yang sangat berat." "Aaa.. . . Bagaimana si Cendikiawan Serba Bisa Thung Lip?"

"Telah binasa."

"Juga tidak luput dari kematian." "Sungguh kejam."

"Luar biasa kejam. Tokoh jahat ini berkepandaian tinggi, kita harus berhati-hati."

Tan Ciu menarik tangan baju Tan Kiam Pek,  dan berkata kepadanya.

"Mari kita berangkat."

"Kemana?" Bertanya Tan Kiam Pek.

"Ke Benteng Penggantungan. Kau katakan Pek Co Yong menderita luka parah, kita harus segera memberi pertolongan."

"Mengapa kau berada ditempat ini?" Bertanya Tan Kiam Pek.

"Maksudku hendak menolong Cang Ceng Ceng." Menjawab orang ditanya.

"Gadis berbaju putih yang berkepadaian silat yang sangat tinggi itu?"

"Betul."

"Nah, tugasmu disini belum berhasil, bagaimana ingin kembali ke Benteng Penggantungan? Legakan hatimu, kukira Pek Co Yong berada didalam keadaan aman. Ada baiknya, kau menolong Cang Ceng Ceng lebih dahulu."

"Betul. Aku harus menolong Cang Ceng Ceng lebih dahulu." Bergumam Tan Ciu. "Eh siapa yang menangkap kawan wanitamu itu?" Bertanya Tan Kiam Pek.

"Kim-ie kauw! Orang-orang Kim-ie kauw!" Menjawab si pemuda.

"Kim ie  kauw?" Tan Kiam pek mengerutkan jidat, "Mengapa aku tidak pernah mendengar nama perkumpulan ini ?"

Perkumpulan baju kuning baru saja menonjolkan gigi tentu saja Tan Kiam Pek tidak tahu.

Mereka melakukan perjalanan bersama, tujuannya menolong Cang Ceng-ceng.

Mendapat bantuan sang paman. Tan Ciu bernyali besar, pengalaman dan ilmu kepandaian Tan Kiam Pek boleh diandalkan, bantuan tersebut penting baginya.

Mereka menyelidiki Pegunungan Ngo liong-san.

"Nah, lihat, disana ada seorang berbaju kuning." Tan Kiam Pek menunjuk kesatu arah.

Seorang anggota Kim ie-kauw sedang mengadakan perondaan, inilah lembah Ngo-liong.

Tan Ciu tentu melihat adanya orang berbaju kuning itu. kini ia tidak salah jalan. Mereka telah tiba ditempat markas besar perkumpulan Kim ie-kauw.

"Biar kubekuk dahulu orang itu," ia berkata.

Tan Kiam Pek menggeleng-gelengkan kepala, ia tidak setuju.

"Nanti dulu," ia mencegah. "Aku harus menyembunyikan diri. Kau mengatakan terus terang kedatanganmu meminta orang. Harus menggunakan aturan, tata cara dan sopan santun yang mempunyai etikad baik dapat meredakan ketegangan. Bila musuh berkepala batu, aku siap mengobrak-abrik sarang mereka,"

Tan Ciu menyetujui usul sang paman. Ia diwajibkan untuk meminta orang secara sopan. Tan Kiam Pek akan membayangi dirinya dari tempat gelap, tidak menampilkan diri. Bila Tan Ciu berhasil. tenaga gelap itu tetap ditempat gelap. atau menampilkan diri keadaan telah aman dan damai, tidak membutuhkannya. Tapi bila gagal. ia menjadi seorang momok jahat. mengobrak-abrik sarang orang.

Tan Kiam Pek segera menyembunyikan dirinya. Tan Ciu menghampiri si penjaga lembah.

Orang berbaju kuning itu membalikkan badan tampak olehnya. seorang pemuda cakap dan tampan berjalan datang.

"Berhenti ditempat itu," Orang berbaju kuning itu memberi perintah,

Tan Ciu menghentikan langkah kakinya.

"Apa maksud tujaan saudara?" Bertanya orang tersebut. "Berkunjung kemarkas besar perkumpulan Kim ie

kauw."

"Sebutkan nama saudara!" "Tan Ciu."

"Apa?!" Orang itu tersentak kaget. "Tan Ciu?!"

"Betul. Katakan kepada ketua kalian, aku Tan Ciu berkunjung datang."

"Aku akan memberi tahu kedatanganmu, tunggulah sebentar." Berkata orang itu. Tan Ciu menganggukkan kepala, kedatangannya secara jantan, meminta orang tawanan. maka harus tahu aturan.

Orang itu telah membalikkan badan. ia meninggalkan Tan Ciu. maksudnya memberi tahu dan laporan tentang kedatangan si pemuda.

Tan Ciu menunggu laporan. Berdiri didepan mulut lembah Ngo-liong.

Tidak lama kemudian terdengar suara desiran angin yang bergeser keras. dua gadis berparas cantik berlari-lari datang, menjumpai kedatangan si pemuda.

Mata Tan Ciu membelalak, paras kedua gadis tersebut sangat Cantik sekali. Baju yang mereka kenakan sangat kontras, Satu berpakaian merah sedan yang satu berpakaian putih.

Gadis yang mengenakan pakaian merah itu membuka suara. "Kau yang bernama Tan Ciu?"

"Tidak salah." Si pemuda memberikan jawaban.

"Kami berdua ditugaskan menyambut kedatanganmu." Berkata yang berpakaian putih.

"Segera ajak diriku menemui kauwcu kalian." berkata Tan Ciu kepada sepasang gadis itu.

"Silahkan jalan didepan." Berkata gadis yang berpakaian merah.

Tan Ciu mengucapkan terima kasih. Ia berjalan didepan mereka. Sepasang gadis merah putih mengikuti dibelakang si pemuda.

Tiga orang itu melakukan perjalanan. menuju kearah lembah. Dibelakang si pemuda, sepasang gadis merah putih itu saling pandang. mereka menganggukkan kepala. Itulah satu tanda boleh bergerak.

Masing-masing menjepit Tan Ciu, dikiri dan kanan mengeraskan jari, menotok jalan darah pemuda itu.

Tan Ciu terkejut, desiran angin dari kedua gadis yang hendak membokong dirinya berkesiur dan berdesir, ia hendak menghindari serangan gelap itu. Melesat kesamping.

"Mengapa kalian..." Kata-katanya terputus sampai disini,

Gadis yang mengenakan pakaian pulih berhasil menotok jalan darah tidur pemuda itu.

Dunia dirasakan medjadi gelap. Tan Ciu tidak sadarkan diri.

Gadis berbaju merah berkata. "Ia pun masuk perangkap kita."

Gadis berbaiju putih bertanya. "Kemudian ?"

"Bawa pulang." Memberi perintah gadis yang berpakaian warna merah.

"Siapa yang menggendongnya?" Bertanya gadis berbaju putih.

"Kau gendong dirinya." "Cih, dia seorang lelaki." "Mengapa? Malu?"

"Kau sajalah yang membawa."

"Baiklah. Kau berhasil menotok jatuh dirinya, Tapi aku yang membawa pulang, pahala kita tidak ada perbedaan." Gadis yang berbaju merah itu menggendong Tan Ciu, dengan menutulkan kakinya ia pun berjalan pergi.

Sepasang gadis merah putih melenyapkan diri.

Tan Ciu dibawa oleh sepasang gadis merah putih  itu. Tan Kiam Pek tidak tahu. Orang-orang dari perkumpulan Kim ie-kauw juga tidak tahu.

Ternyata sepasang gadis merah  putih itu bukanlah anggota Kim-ie-kauw.

Mereka menggunakan sedikit tipu. berhasil mencegah pemuda itu menerjang maut.

Bercerita dilembah mulut Ngo-liong.

Dua bayangan kuning meluncur datang, mereka keluar dalam lembah. Kini sudah berada ditempat pos penjagaan pertama.

Seorang yang dikanan adalah penjaga lembah, dan orang yang disebelah kiri adalah seorang wanita berpakaian kuning, inilah Kim Sam Nio.

Mereka tiba ditempat itu dan mencari Tan Ciu. Tentu saja tidak berhasil.

Tan Ciu telah digendong pergi oleh sepasang gadis  merah putih.

"Mana itu orang yang kau sebutkan?" bertanya Kim San Nio. "Dia bicara secara sopan?"

"Betul."

"Hendak bertemu dengan kauwcu." "Demikian ia mengatakan kepada hamba."

"Bagaimana keadaan wajahnya. marah, tenang atau bersedih." "Tidak terlihat jelas." "Mengapa tidak berada disini?"

"Mungkin telah masuk kedalam lembah," Si penjaga

hendak mengemukakan alasan.

"Tidak mungkin." Debat Kim Sam Nio. "Kita baru keluar, mengapa tidak berpapasan."

"Lalu kemana pula ia menghilangkan diri?"

"Baik, baik menunggu ditempat ini."  Kim-Sam Nio memberi perintah. "Jangan pergi lagi. Disinilah pos penjagaanmu. Bila ia kembali segera beritahu."

"B a i k."

Tubuh Kim Sam Nio mumbul tinggi memeriksa daerah disekitar tempat itu. Kepergian Tan Ciu yang hendak dipancing masuk kedalam lembah itu mengherankan dirinya. Biar bagaimana, mereka harus menemukan pemuda itu.

0oodwoo0

Meninggalkan pencarian Kim Sam Nio yang hendak menemukan Tan Ciu, dan menyusul perjalanan sepasang gadis berpakaian merah dan puiih itu.

Mereka membawa Tan Ciu meninggalkan lembah Ngo- liong. Gamblang dan jelas. dua gadis itu bukan angauta perkumpulan Kim-ie kauw.

Mereka telah meninggalkan lembah Ngo-liong.

Belasan lie kemudian. merasa diri mereka sudah aman, sepasang gadis merah dan putih menghentikan langkahnya. Mengambil kesempatan itu mereka istirahat. Gadis berbaju putih menepuk jidat, gerakan itu sangat tiba tiba sekali.

"Hei, kau mengapa?" Bertanya gadis yang mengenakan pakaian merah.

"Bagaimana urusan Benteng Penggantungan?" "Maksudmu?" Bertanya gadis baju merah tidak mengerti. "Daripada dua orang melakukan sesuatu tugas. ada lebih

baik kita membagi jabatan."

"Aku belum mengerti."

"Kau pulang dan membawa dirinya. Biar aku yang bertugas di Banteng Penggantungan." Gadis baju putih memberi usul.

"Kau harus berhati-hati." "Tentu."

"Nah, pergilah."

"Tugas membawa dirinya jatuh kepadamu seorang." "Bawel."

"Tentunya kau lebih senang menggendongnya. Bila mau kalian pun boleh main cinta2an sangat mesra. bukan?"

"Cis. Tidak tahu malu."

"He. he Tan Ciu terkenal sebagai seorang pemuda berapi asmara."

"Lekaslah kau pergi!" Bentak gadis baju merah itu.

Yang mengenakan pakaian warna putih pergi tujuannya adalah Benteng Penggantungan.

Apa yang dilakukan didalam Benteng Penggantungan? Cerita ini akan diketahui setelah berakhirnya babak ini.

Dengan menggendong tubuh Tan Ciu, gadis baju merah melanjutkan perjalanan.

Kini, dia sudah berada diatas sebuah sumur tua. memeriksa keadaan sekelilingnya, mengetahui tidak ada orang. dengan menggendong tubuh Tan Ciu, gadis baju merah itu menerjun masuk kedalam sumur tersebut.

Itulah sumur rahasia.

Tempat bermukimnya kawan-kawan dari serasang gadis berpakaian merah putih tadi.

Bercerita keadaan Tan Ciu. Beberapa lama ia tidak sadarkan diri. dikala ia bangun dan siuman, dirinya telah berada disebuah tempat tidur.

Tan Ciu tidak tahu, dirinya bukan berada didalam markas besar Kim ie-kauw, dua gadis merah dan putih datang dari dalam lembah tentunya orang-orang perkumpulan baju kuning itu. ia lupa kepada dandanan mereka, dua gadis tidak berpakaian kuning, Walaupun keluar dari dalam lembah Ngo-liong. mereka bukanlah anggauta perkumpulan itu.

Teringat kejadian yang belum lama terjadi ditotok oleh gadis berbaju putih.

Tan Ciu bangun berdiri.

Didepan si pemuda berdiri seorang gadis, bukan gadis baju merah yang membawa Tan Ciu, gadis ini mengenakan pakaian warna hijau.

"Kau telah sadar?" Berkata gadis itu. "Siapa kau?" Tan Ciu membentak. "Segera kau tahu." Berkata gadis itu. Tan Ciu menggerak-gerakkan tangan kaki, tak ada tanda terbelenggu. Ia merasa heran.

"Eh, dimanakah aku berada?" Ia tidak mengerti. Bila sepasang gadis merah putih itu anggota Kim ie kauw tentunya, ia berada di dalam kamar tahanan.

Bila ditahan, meagapa tidak terbelenqgu? Mengapa diperlakukan dengan baik?

Gadis berpakaian hijau tidak galak. Gadis ini tertawa manis.

"Hei. inikah tempat perkumpulan Kim-ie-kauw?" Bertanya lagi Tan Ciu.

Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Eii, kemana kalian bawa diriku?" Bertanya lagi Tan Ciu. "Bersabarlah."

Maksud tujuan Tan Ciu datang kelembah Ngo-liong adalah menolong Cang Ceng-ceng, kita ia berada dibawah pengawasan orang. Bagaimana melanjutkan usahanya? Mana mungkin dapat menahan sabar?

Teringat keadaan Cang Ceng Ceng, hati si pemuda bergolak kembali. ia mempunyai kebebasan. tubuhnya melesat, ingin meninggalkan ruangan itu.

Bayangan hijau berkelebat pula, gadis itu pun mempunyai gerakan yang luar biasa. Ia telah menghadang didepan si pemuda.

"Hendak kemana?" Demikian ia membentak.

"Minggir." Tan Ciu memukul gadis yang berpakaian hijau itu.

Pukulan yang luar biasa. si gadis dipaksa menyingkirkan diri. Tan Ciu berhasil menerjang keluar dari ruangan itu.

Dikala gadis berpakaian hijau sadar. tubuh si pemuda telah jauh. Ia mengejar dari belakang.

Gerakan Tan Ciu gesit. kejar mengejar dimenangkan olehnya. Si gadis tidak berhasil menyandak pemuda itu.

Tiba-tiba, Terlihat bayangan hitam melesat menghadang kepergian Tan Ciu.

"Berhenti!" Demikian ia membentak,

Tan Ciu terhenti, ia berhadap-hadapan dengan seorang gadis yang mengenakan pakaian hitam.

"Kau...!?" Tan Ciu berteriak kaget. Duk...Duk.. , Duk...!

Si pemuda mundur kebelakang hingga tiga tapak,

Siapakah gadis berbaju hitam itu?  Mengapa sangat ditakuti?

Tan   Ciu    mundur    kebelakang,    semakin    jauh. "Kau. . . Kau. . . Kau Tan Sang?!"

"Betul!" Gadis berbaju hitam menganggukkan kepalanya. "Mengapa takut kepadaku?"

Gadis itu adalah kakak Tan Ciu, namanya Tan Sang. Telah mati digantung pada pohon itulah Pohon Penggantungan.

Bagaimana orang yang telah mati dapat hidup kembali? Inilah yang diseramkan Tan Ciu.

Beberapa saat,   Kakak   beradik   itu saling pandang.

Akhirnya Tan Sang maju mendekati sang adik.

"Tan   Ciu...." Ia  memanggil perlahan, penuh kasih sayang. itulah panggilan seorang kakak yang sangat mesra.

"Kau . . Kau masih hiiup?" "Aku masih hidup."

Tan Ciu menggoyang-goyangkan kepala. ia tidak percaya. Mungkinkah seorang yang telah mati bangkit kembali? Hidup kembali?

Tan Sang memberi keterangan.

"Tan Ciu aku belum mati! Aku adalah kakakmu,"

"Dan orang yang  digantung dipohon Penggantungan itu?"

"Aku belum mati. Percayalah kepadaku."

"Kau yang menyuruh orang membawa aku  ketempat ini?"

"Bukan."

"Siapa yang menyuruh?" "Pemilik Pohon Penggantungan”

"Pemilik Pohon Penggantungan? Siapakah orang itu?" "Segera kau bertemu dengannya."

"Dia menempati bangunan ini?" "Beserta semua murid-muridnya."

Bangunan tersebut berada didasar tanah,  dibawah sebuah sumur tua, maka agak gelap dan kurang penerangan.

"Ciecie, Pemilik Pohon Penggantungan telah menggantungmu. mengapa kau beserta dengannya?" Bertanya Tan Ciu tidak mengerti,

"Mengapa?"

"Dia adalah seorang musuh. Tidak baik mengabdikan diri kepada musuh." "Musuh? Kau salah. Dia adalah orang yang mempunyai hubungan paling dekat dengan kita."

"Siapa ?"

"Ada urusan yang sangat penting untuk dirundingkan denganmu."

"Urusan penting?" Berkata Tan Ciu panas.

"Kau juga mempunyai urusan penting." Tan Sang bertanya heran.

"Tentu aku harus menolong Cang Ceng-ceng dari tangan orang-orang Kim ie-kauw."

"Ha ha. . . .urusan itu mana dapat dikatakan sebagai urusan penting."

"Eh, mengapa tidak penting." Tan Ciu memjadi sampai marah.

"Dengarlah ceritaku..."

"Hah, aku harus menolong Cang Ceng-ceng.

"Kita beramai dapat membantu usahamu, Tapi, bukan sekarang." Berkata Tan Sang.

"Mana boleh? Urusan itu penting sekali. Bila tidak segera memberikan pertolongan betapa ia akan menderita disana?"

"Aku memberi perintah kepadamu. agar menangguhkan langkah itu."

"Tidak mungkin." Tan Ciu sangat kukuh. "Kau melawan?"

"Aku harus menolongnya dahulu." "Dengarlah pesannya."

"Tidak..." Tubuh Tan Ciu melesat pergi. "Berhenti!" Bentak Tan Sang. Lagi-lagi menghadang didepan sang adik.

"Kau?! . . ."

"Tunggulah sebentar,"

"Tidak mungkin. Minggir! Tan Ciu semakin marah, "Demikian pentingnya Cang Ceng Ceng itu!" "Tentu."

"Mana yang lebih penting, ibu sendiri atau orang lain?" "Ibu?"

"Betul. Tidak inginkah kau menemuj beliau?"

"Kau mengatakan. bahwa ibu berada disini?" "Ng "

"Aaaa. . . Maksudmu, Pencipta Drama Pohon Penggantungan wanita berkerudung itu?"

Tan Sang menganggukkan kepala. "Dia ibu kita?"

"Kau tidak percaya?"

Hati Tan Ciu bergejolak keras, telah lama diharapkan olehnya. akan adanya suatu keluarga yang  mesra hidup bersama sepasang orang tuanya. Sang ayah. Tan Kiam Lam. tidak diketahui berita. demikian juga dengan keadaan ibunya terakhir, ia mendapat selentingan khabar. bahwa Pencipta Drama Pohon Penggantungan itulah yang menjadi ibunya.

Ia segera berhadapan dengan Kenyataan. Begitulah hal itu dapat terjadi? Tan Ciu memandang kearah keliling, tidak terlihat sesuatu yang diharapkan.

"Dimana ibu kita?" Ia mengajukan pertanyaan.

"Mari ikut dibelakangku." Berkata Tan Sang. Mengaiak gadis yang mengenakan pakaian hijau Tan Sang menuju kebagian dalam.

Tan Ciu mengikuti dibelakang mereka.

Lorong demi lorong telah dilewatkan Tan Ciu belum berhasil diketemukan dengan sang ibu.

Mereka tiba didepan sebuah pintu, tujuh gadis menjaga pintu tersebut, wajah mereka sangat dalam, ketujuh gadis tersebut mengenakan pakaian yang berlainan, satu baju kuning yang disebelahnya berbaju merah, lagi berbaju biru, menyusul yang berpakaian coklat, terong, gading dan yang diujung berpakaian warna genteng.

Gadis yang berpakaian baju merah adalah orang yang membawa Tan Ciu ketempat itu. Tidak terlihat gadis yang mengenakan pakiaian warna putih.

Dari wajah-wajah mereka yang tidak bercahaya. Tan Ciu mendapat satu firasat jelek.

Atas perintah Tan Sang, ketujuh gadis dengan warna pakaian tujuh warna itu membuka pintu. Mereka memasuki ruangan tersebut.

Disebuah bangku didalam ruangan itu berduduk seorang wanita berkerudung.

Memasuki ruangan, semua gadis berpakaian aneka macam warna memberi hormat mereka.

"Suhu. . ." Ternyata mereka adalah murid dari wanita berkerudung itu. Tan Sang memanggil perlahan, "Ibu "

Wanita berkerudung itu menganggukkan kepala, kemudian berkata. "Kalian boleh menunggu diluar kecuali Tan Sang dan Tan Ciu."

Gadis yang mengenakan pakaian warna terong, warna genteng. warna gading warna coklat warna hijau warna merah warna biru dan warna kuning. semuanya meninggalkan ruangan itu.

Disana hanya tiga orang. mereka adalah wanita berkerudung. Tan Sang dan Tan Ciu.

Tan Sang membuka suara lagi. "Ibu. Tan Ciu telah diundang datang."

Wanita berkerudung itu menganggukkan kepalanya, "Aku tahu." ia berkata perlahan.

Tan Ciu maju dua langkah, dengan suara gemetar ia mengajukan pertanyaan.

"Ibu Kau inikah ibuku?"

Wanita berkerudung itu menganggukkan kepala. dia yang telah menciptakan Drama Pohon Penggantungan, dia adalah si Melati Putih Giok Hu Yong ibu Tan Ciu dan Tang Sang.

"Oh . . . ibu . . ."  Tan Ciu menubrukkan dirinya, menangis dalam pelukan sang ibu.

Pertemuan ibu dan anak yang sangat mengharukan. Akhirnya merekapun berkumpul kembali. Derita dan duka yang tidak terhingga, walaupun demikian. mereka boleh cukup puas. akhirnya keluarga itu bersatu lagi!

Sambil meng-elus2 kepala Tan Ciu. wanita berkerudung itu berkata. "Tan Ciu kasihan. . .Oh anakku yang menderita. . . ibumu menyesal. . .tidak dapat memelihara dirimu baik- baik."

Bagaikan seorarg anak kecil yang sangat lolokan tiba-tiba saja Tan Ciu menyingkap kerudung tutup muka sang ibu,

Melati Putih terkejut. tapi ia membiarkan gerakan arak itu.

Wajah dibalik tutup kerudung itu sangat agung, penuh kewibawaan, tiada cacad, satu wajah yang cukup bagus mudah dibayangkan, betapa cantik wajah ini semasa muda.

Tan Ciu belum pernah melihat wajah sang ibu, ia memperhatikannya sekian lama, ingin menanam kesan yang mendalam.

Melati putih Giok Hu Yong berkata. "Marahkah kepadaku?"

Tan Ciu menggeleng-gelengkan kepala.

Melati Putih berkata lagi. "Aku menyesal, tidak dapat memelihara kalian baik2. Aku mempunyai kesukaran keadaan dan kedudukanku sangai sulit dan terjepit."

"Kami dapat menyelami kesengsaraan ibu." Berkata Tan Ciu .

"Keluarga kita adalah keluarga sengsara." Berkata Giok Hu Yong sedih.

"Ibu kita telah berkumpul bukan?"

"Mana kau tahu berkumpulnya kita ini segera dipecahkan orang."

"Oh, jangan. Telah lama kami merindukanmu. mengapa tidak hidup bersatu? Mengapa harus berpisah kembali?" "Tahukah kau, mengapa aku tidak segera memperkenalkan diri?"

"Ng , .. Mengapa ibu  menggunakan tutup kerudung muka?" Tan Ciu menatap wajah ibunya, tidak luka, juga tidak bercacad, mengapa harus menutup dan dikerudungi?

"Kau tidak tahu. musuh kita mempunyai ilmu kepandaian silat yang sangat tinggi, bila ia tahu aku masih hidup, dengan mudah akan dikalahkan olehnya. Maka aku harus menyembunyikan waja asliku, melatih diri dengan tekun."

"Siapakah orang itu?" Bertanya Tan Ciu.

"Dia telah tahu keadaanku, mengadakan tantangan, maka aku mengundangmu."

"Mangapa begitu jahat, katakan kepada anakmu. siapa orang itu,biar aku yang menghadapinya."

Melati Putih Giok Hu Yong menggeleng-gelengkan kepala. ia berkata. "Tidak seorang pun yang dapat menandinginya."

"Katakanlah siapa orarg itu? Dimana ia berada?" Bertanya Tan Ciu tidak sabar.

"Segera kuberitahu kepadamu, masih banyak yang harus kau ketahui. Kini, kau percaya, bahwa akulah orang yang menciptakan drama Pohon Penggantungan."

"Ng . . ."

"Mengapa aku menggunakan siasat ini?"

Tan Ciu memandang wajah sang ibu, ia tidak mengerti dengan alasan apa ibu memainkan peran sebagai pencipta Drama Pohon penggantungan? Mengapa Tan Sang yang sudah mati dapat dihidupkan kembali? Melati Putih berkata.

"Tentunya kau belum tahu, bagaimana cerita Pohon Penggantunggan."

"Ng "

"Mengertikah, mengapa kakakmu Tan Sang tidak mati?" "Tidak tahu."

"Cerita harus dimulai dari pertama, Tentunya pernah  kau dengar cerita tentang kematianku, kematian dibawah tangan ayahmu bukan?"

"Pernah dengar."

"Berita itupun tidak benar. Orang yang   membunuh diriku bukanlah ayahmu "

“Si Telapak Dingin Han Thian Chiu?" Tan Ciu segera dapat menduga siapa adanya manusia jahat itu.

"Tidak salah. Itulah jelmaan Han Thian Chiu." Berkata Melati Putih, "Dia sakit hati kepadaku, sebelum aku menikah dengan ayahmu Han Thian Chiu adalah orang yang paling getol berkunjung kerumah. Kejadian itu telah berlangsung lama dimasa mudaku."

"Ternyata Han Thian Chiu. Biar aku yang melawannya." Berkata Tan Ciu gagah.

"Dengarlah perlahan-lahan." Berkata si Melati Putih Giok Hu Yong. "Orang yang memalsukan ayahmu adalah Han Thian Chiu, orang yang hendak membunuh akupun Han Thian Chiu. Tapi orang yang membunuh ayahmu bukan orang itu."

"Siapa?"

"Seorang wanita yang berkepandaian tinggi. ia mempunyai hubungan baik dengan Han Thian Chiu. Ilmu kepandaian Han Thian Chiu tinggi. tapi belum dapat mengetahui kedua orang tuamu. lain lagi keadaan dengan wanita ini, dia adalah seorang jago wanita tanpa tandingan sebelum aku kawin dengan ayahmu, dia cinta dengan ayahmu. cintanya gagal karena itu, ia menaruh  dendam, Dia adalah musuh utama kita."

"Wanita jelek suatu  hari kau akan jatuh kedalam tanganku." Berkata Tan Ciu gemes, adanya wanita menjengkelkan baginya. Membunuh sang ayah, mencerai- beraikan keluarganya.

"Wanita ini bersekongkol dengan Han  Thian Chiu menculik ayahmu. . ."

"Menculik...?"

"Ng... Demikianlah Kira-kira kejadian itu, dahulu aku tidak tahu. Han Thian Chiu menggunakan wajah ayahmu menggantikan kedudukannya, aku kena tipu, Hanya beberapa hari aku mengetahui akan'adanya sesuatu yang tidak beres ayahmu menggunakan tangan kiri seorang Kidal, Aku marah besar. segera kubunuh dirinya. Tapi gagal?"

Tan Ciu menganggukkan kepala.

"Maka tersiarlah khabar seorang wanita membunuh suami sendiri." Berkata si pemuda.

"Demikianlah aku mendapat nama jelek." Berkata Melati Putih, "Mereka pandai main sandiwara. Han Thian Chiu tidak mati, tapi ia berpura-pura mati. Sengaja membuat satu propaganda seorang istri yang jahat dan kejam telah membunuh suami sendiri. Karena itu ada alasan kuat untuk menghukum diriku, aku hendak dibunuh mati, digantung diatas Pohon Penggantungan." "Aa . . .Digantung diatas pohon Penggantungan?" Tan Ciu berteriak kaget. ”Ternyata sang ibu pernah menjadi korban maut itu! Karena hendak menuntut balas, ia menciptakan drama Pohon Penggantungan. ”

"Dikala aku hendak membunuh Han Thian Chiu. itu waktu Han Thian Chiu masih menggunakan  wajah ayahmu, datanglah wanita itu. Dia yang menggagalkan usaha. aku ditotok oleh seorang wanita yang berkepandaian tinggi. mereka adalah manusia-manusia sekongkolan, maksudnya membunuh keluarga kita. Disaat itu aku mendengar teriakan ayahmu..."

"Ayah? ..."

"Ng . . . Ayahmu memohon agar mereka tidak membunuh kita orang. Demikian aku digantung diatas pohon Penggantungan."

"Sampai ditolong orang?"

"Ng.. . Diatas pohon maut itu, aku menderita. sampai mendapat pertolongan."

"Siapakah yang membawa aku dan Tan Sang kepada Putri Angin Tornado Kim Hong Hong."

"Itulah ayahmu." "Kemudian ?"

"Entahlah. Aku tidak tahu. Mungkin ia masih hidup,

mungkin juga sudah dibunuh oleh mereka."

"Mulai saat itu Han Thian Chiu menggunakan wajah ayah, berkelana didalam rimba persilatan?"

"Ia menciptakan Benteng Penggantungan, disana memelihara banyak orang."

"Dan ibu . .." "Aku melatih diri agar dapat mengatasi mereka," "Kini telah berhasil ?"

"Belum. Ilmu kepandaian musuh kita itu sangat tangguh.

Masih belum waktunya bertanding dengan mereka." "Han Thian Chiu dengan wanita itu?"

"Aku tidak takut kepada Han Thian Chiu, tapi wanita itu. . ."

"Sangat tinggikah ilmu kepandaiannya?" "Luar biasa sekali."

"Siapakah nama wanita tersebut?"

"Giok Hong."

"Giok Hong... Giok Hong..." Tan Ciu meng-ingat2 nama itu.

"Menurut apa yang kutahu." Berkata lagi si Melati Putih Giok Hu Yong. "Ilmu kepandaian Giok Hong belum ada tandingan. Ilmu silatnya sangat tinggi dan luar biasa."

"Karena itu ibu menggunakan tutup kerudung muka menghindarinya?" Tan Ciu meminta ketegasan.

"Ng. . .Aku hendak menuntut balas, aku harus mengetahui masih hidupkah dia? Karena itu menggunakan drama Pohon Penggantungan, aku hendak menarik perhatiannya."

"Ia berhasil dipancing datang?"

"Ng . . .Ia muncul dibawah Pohon Penggantungan." "A a a a . . ."

"Itulah tahun ketiga, ia menampilkan diri. kami bertempur, tentu saja aku menggunakan tutup kerudung, ia tidak tahu siapa diriku, tapi aku tahu, itulah orang yang aku kehendaki, Ilmu silatnya lebih maju lagi aku bukan tandingannya, aku dikalahkan. Beruntung, ia tidak tahu, siapa diriku, karena itu aku bebas dari kematian?

"Dan gadis-gadis yang kau gantung diatas Pohon Penggantungan?"

"Seperti apa yang telah kau lihat, aku menerima mereka sebagai murid. Tidak seorang pun yang mati. Dengan cara2 tertentu, aku berhasil mengelabui semua orang."

Tan Ciu memuji kecerdasan otak sang ibu, mereka harus mencari wanita yang bernama Giok Hong itu. dialah yang menjadi biang keladi. Rumah tangga hampir hancur berantakan karenanya.

Musuh kedua adalah si Telapak Dingin Han Thian Chiu. Mereka harus membunuh kedua orang itu,

Giok Hu Yong berkata. "Aku memberi tahu kepada

mereka, untuk mengundang kau datang, tahukah kau maksud tujuan itu?"

"Tidak tahu."

"Musuh kita telah mengetahui keadaanku,ia mengirim surat tantangan. Aku dijanjikan untuk menemuinya dipuncak Pek-soat-hong. Setelah mengadakan duel keras, satu harus menerima kematian. Tentu saja. ilmu kepandaianku masih bukan tandingannya. tapi aku tidak menyembunyikan diri lagi. tak mungkin menolak tawaran itu, aku segera ke puncak Pek-soat-hong. hendak berduel dengannya. Besar kemungkinan aku mati ditempat itu. Itulah sebabnya mengapa mengundang dirimu, mungkin hari ini adalah hari pertemuan kita yang terakhir."

Giok Hu Yong menarik napas sedih. "Serahkan persoalan ini kepadaku." Berkata Tan ciu gagah. "Sebagai seorang putra aku wajib memikul tanggung jawab itu."

"Tidak. Kau bukan tandingannya." Berkata Giok Hu Yong,

"Ibu mengatakan, bahwa ibu bukan tandingannya, bukan?"

"Ng . . ."

"Mengapa tidak mau menyerahkan perkara ini kepadaku?"

"Aku tidak mengharapkan kematianmu."

"Kamipun tidak mengharapkan kematian ibu." Berkata Tan Ciu.

"Bila aku yang hadir. masih mungkin ada pengecualian. Siapa tahu. peruntungan bagus ada padaku. dapat mengalahkannya."

"Serahkanlah kepada anakmu, mungkin aku mengalahkannya."

"Tidak mungkin." si Melaii Putih menolak permintaan sang anak.

"Ibu. . ."

"Kau belum tahu betapa hebat ilmu kepandaian wanita itu."

"Aku tidak mempunyai pegangan kuat untuk mengalahkannya. bukan?"

"Biar bagaimana, orang yang ditantang adalah aku, bukan kau !"

"Aku adalah putramu, ini wajib." "Tidak mungkin."

"Mengapa tidak mungkin. Tanggung jawab kedua orang tua harus jatuh kepada putera dan putri mereka."

"Kukira. ada orang yang datang." Berkata Giok Hu Yong, ia memandang kearah pintu.

Dikala Tan Ciu sedang bersitegang dengan sang ibu mendengar ada langkah orang yang mendatangi ruangan mereka. Percakapan itu terhenti.

Pintu dibuka. . .

Berjalan masuk dua orang. mereka adalah Permaisuri dari Kutub Utara Pek Pek Hap. Tukang Ramal Amatir, Pengemis tua yang misterius.

Kedatangan dua orang atas undangan Melati Putih, maka tidak sulit menemukan bangunan dibawah sumur tua.

Permaisuri dari kutub utara Pek Pek Hap adalah kawan baik Giok Hu Yong, lebih dari pada itu, nama mereka pernah dicemarkan oleh si Telapak Dingin Han Thian Chiu. Mereka pernah digantung dipohon maut. Pohon Penggantungan.

Mereka sangat gembira pertemuan itu berada diluar dugaan. Sipengemis tua mulai membuka suara.

"Telah lama kuketahui bahwa Pencipta drama Pohon Penggantungan adalah dirimu. Karena kau menggunakan tutup kerudung muka, aku tahu kau mempunyai kesukaran2. dugaanku pasti tidak salah,"

Kemudian menghadapi Tan Ciu.

"Masih ingatkah kepada pertaruhan kita?" Demikian Tukang Ramal Amatir itu bertanya. "Kau tidak percaya. bahwa aku tidak dapat meramalkan segala sesuatu. termasuk siapa yang menjadi pencipta Drama Pohon Penggantungan. Telah kutulis jawaban orang pada sebuah kertas. masih adakah carikan kertas itu?"

Dari dalam saku bajunya, Tan Ciu mengeluarkan  carikan kertas yang diminta.

"Nah, buka dan lihatlah, apa yang kutulis diatas kertas itu." Berkata lagi pengemis tua.

Tan Ciu membuka lipatan kertas. disana tertulis "Pencipta Drama Pobon Penggantungan adalah ibumu. Melati Putih Giok Hu Yong" Wajah Tan Ciu berubah semakin pucat.

Menurut pertaruhan mereka. Siapa yang kalah bertaruh, siapa harus menyerahknn batok kepalanya.

Dengan wajah tersungging senyuman, si Tukang Ramal Amatir berkata, "Bagaimana? Batok kepalamu telah dikalahkan olehku bukan?"

Tan Ciu bungkam.

"Jangan takut." Pengemis tua itu memberi hiburan. "Aku tidak menginginkan batok kepalamu."

"Apa yang cianpwee kehendaki?" Bertanya Tan Ciu. Ia telah kalah bertaruh. sudah selayaknya menyerahkan barang yang diminta.

"Apapun tidak mau." Berkata si Tukang Ramal Amatir, "Aku hanya menghendaki keselamatanmu."

Tan Ciu menyengir.

Dengan sungguh-sungguh pengemis tua itu memandang Melati Putih. "Kau menyuruh seorang gadis yang berpakaian putih mengundarg kita orang apa maksud tujuanmu?" ia bertanya.

Melati Putih menceritakan kesulitannya. musuh sangat kuat, dan diapun tidak ada niatan untuk menolak janji pertemuan itu.

Diundangnya Permaisuri dari Kutub Utara dan Pengemis tua itu hendak memberikan pesan terakhir.

Permaisuri dari Kutub Utara Pek Pek Hap berkata, "Aku sedang heran, siapakah yang merusak Benteng Penggantungan? Mendengar ceritamu kukira dialah yang membunuh sekian banyak orang didalam Benteng Penggantungan."

"Benteng Penggantungan telah dirusak orang?" Bertanya Melati Putih Giok Hu Yong.

"Hancur berantakan. Sekian banyak orang telah dibunuh mati semua," berkata Pek Pek Hap.

"Tahukah orang yang melakukan kebuasan tersebut?" "Kukira besar kemungkinannya orang itu." Pek PeK Hap

menduga kepada mereka yang sama.

"Siapa?"

"Wanita yang kau sebut bernama Giok Hong itu."

"Apa yang telah terjadi didalam Benteng Penggantungan?" Berkata Melati Putih.

"Suatu malam, Kami mendapat kunjungan seorang jago silat tidak ada yang dapat menandinginya kecuali beberapa orang, semua telah binasa."

"Kita sedang menghadapi musuh bersama." "Ng, maksudmu, hendak menggabungkan diri?" Bertanya Permaisuri dari kutub Utara Pek Pek Hap.

Melati Putih Giok Hu Yong menggelengkan kepala. "Aku  hendak  menemuinya. Maksudku, tolong  pelihara

kedua anakku, juga murid2ku." Ia  menghendaki Permaisuri

dari kutub Utara PeK Pek Hap dan si pengemis tua Tukang Ramal Amatir meneruskan usahanya.

Dari dalam saku bajunya, Melati Pulih mengeluarkan sebuah kitab, diserahkan kepada Pek Pek Hap.

"Inilah kitab ilmu silat, didalam isi kitab terdapat semacam ilmu kepandaian, khusus mendidik beberapa anak dara, menggabungkan tenaga untuk menghadapi musuh kuat." Demikian Giok Hu Yong memberi keterangan, "Tolong didik murid2ku, beri mereka pelajaran yang terdapat didalam kitab, setelah berhasil mungkin merekalah yang dapat mengalahkan Giok Hong."

Pengemis Tukang Ramal Amatir berkata.

Giok Hu Yong memandang pengemis tua itu, ia berkata. "Besar kemungkinan musuh datang dengan jumlah besar. menggunakan kepergianku bila mereka mengadakan serangan. tentu tidak ada yang dapat mencegahkannya. Tugas menjaga sumur Penggantungan kuserahkan kepada kalian."

Nama tempat persembunyian Melati Putih disebut Sumur Penggantungan.

"Menjaga keamanan tempat?" Bertanya si Pengemis tua. "Tentunya kau mau menolong bukan?" Berkata Giok Hu

Yong.

"Menolong orang adalah kewajiban. Bagaimana boleh menolak? Aku akan menunggu kedatangan mereka, bila betul ada niatan untuk menghancurkan rumah tangga orang, aku akan mengadu jiwa. Pergilah dengan tenang."

Tan Ciu berkata, "Ibu, dimanakah letak puncak Pek-soat- hong itu?"

"Aku tidak boleh memberi keterangan tentang letak tempat perjanjian maut. Bila kau tahu. tentunya kau dapat mendahului aku." berkata si Melati Putih Giok Hu Yong.

Semua orang yang berada ditempat itu sangat paham. Pertemuan Giok Hu Yong adalah pertemuan maut, mungkin ia tidak dapat kembali lagi. Hati semua orang dirasakan menjadi berat.

"Ibu. seharusnya aku yang mewakili mengadakan pertemuan dengannya." Berkata Tan Ciu.

"Tidak mungkin, ilmu kepandaianmu bukan tandingan orang yang bernama Giok Hong itu."

"Bila ilmu kepandaianku dapat mengalahkannya?" "Tidak mungkin." Giok Hu Yong kukuh. "Aku pun

bukan tandingan dia, apalagi kau."

"Bila ilmu kepandaianku dapat mengalahkan ibu, bagaimana?"

Giok Hu Yong terbelalak.

"Tidak mungkin," ia tidak percaya.

"Bila aku mempunyai ilmu kepandaian tinggi. bila ilmu kepandaianku berada diatasmu, tentu ibu mengijinkan aku mewakilimu. mengadakan pertemuan duel itu, bukan?" Berkata Tan Ciu girang.

"Kau..." Giok Hu Yong masih ragu-ragu, Si Pengemis Sakti Tukang Ramal memberikan keputusan, katanya, "Bila kau memiliki ilmu kepandaian diatas, ibumu tentu saja boleh mewakili dirinya."

"Mana boleh dia " kata Giok Hu Yong.

"Berilah kesempatan.,." Berkata si pengemis tua, "Anakmu itu harus mendapat latihan, Apa lagi dia dapat mengalahkan dirimu." .

"Baiklah." Akhirnya Giok Hu Yong mengalah.

"Bila ia dapat mengalahkan diriku pertemuan itu boleh diwakili olehnya."

Tukang Ramal Amatir berkata. "Nah kalian boleh bertanding, siapa yang menang dia akan keluar sebagai juara dan berhak menepati janji orang itu dipuncak Pek soat-jong!"

Tan Ciu dan ibunya telah saling pandang, mereka berhadap-hadapan.

Melati Putih Giok Hu Yong meremehkan ilmu kepandaian sang putra, langkah tersebut dianggap berlebih- lebihan.

Tentu saja. Melati Putih tidak tahu, bahwa sang putra telah mendapat ilmu silat luar biasa didalam belasan hari, tenaga dalam Thio Ai Kie dan Thio Bie Kie  telah disalurkan kepadanya.

Berbeda dengan Giok Hu Yong, si pengemis tua mengetahui kepergian Tan Ciu mencari Guha Kematian, bila sipemuda dapat meninggalkan Guha Kematian dengan keadaan selamat, pasti mendapatkan sesuatu. Maka ia menganjurkan anak dan ibu itu mengadu silat.

Tan Ciu berusaha menenangkan hatinya yang memukul keras. Ilmu Kepandaian Pencipta Drama Pohon Penggantungan pernah menggemparkan rimba persilatan. bukan ilmu biasa, itulah sang ibu, mungkinkah ia dapat mengalahkannya?

Lain perasaan merangsang rongga dada si pemuda, bila ia kalah, maka gagallah mewakili sang ibu menepati janji duel dipuncak Pek soat-hong, Ancaman bahaya akan jatuh kepada sang ibu, hal ini tidak boleh terjadi.

Pengemis tua yang mengaku sebagai Tukang Ramal Amatir dapat menduga isi hati orang, segera ia berkata,

"Bocah Tan Ciu, jangan kau menjadi gugup. Kau harus mengeluarkan semua tenagamu. Bila kau kalah, aku tidak dapat membantumu lagi. Apa boleh buat kita harus membiarkan ibumu menerjang bahaya seorang diri."

Tan Ciu berkata, "Aku tahu."

Pengemis Tukang Ramal Amatir memberi komando. "Nah, boleh mulai."

Tan Ciu memandang sang ibu, "Ibu boleh mulai." Ia berkata.

"Baik." Giok Hu Yong mengayun tangan. Bagaikan kecepatan kilat, membuat suatu garisan serangan.

Ilmu kepandaian Pancipta Drama Pohon Penggsntungan Giok Hu Yong telah diresmikan sebagai ilmu kepandaian kelas satu. Kecepatan dan kegesitannya sangat luar biasa.

Disaat itu Tan Ciu mendapat serangan kuat dari  sang ibu.

Tiga macam perubahan telah membayangi serangan Giok Hu Yong.

Setelah menguras ilmu kepandaian Guha  Kematian, ilmu kepandaian si pemuda mengalami kemajuan pesat, ia dapat melihat lowongan2 bahaya dari serangan ibunya meluncur kedepan dan dari situ ia menikung, mererobos lewat. Demikian ia berhasil meloloskan diri dari serangain Giok Hu Yong, berikut tiga macam perubahannya juga.

Giok Hu Yong tertegun.

Tukang Ramal Amatir berteriak. "Bagus!"

Langkah yang Tan Ciu gunakan untuk meloloskan diri dari serangan ibunya sangat luar biasa menakjubkan.

Giok Hu Yong pernah menyaksikan ilmu kepandaian sang putera, kemajuan itupun berada diluar dugaannya.

"Anak Ciu. ilmu kepandaian apa yang kau gunakan tadi?" Ia bertanya.

"Yu-leng-poh!"

Tukang Ramal Amatir mengeluarkan pujian, "Ilmu yang luar biasa."

Giok Hu Yong dapat membuktikan bahwa sang putra telah mendapat kemajuan cepat, bukanlah berarti menyerah. Serangannya tapi bersipat penjajakan, belum penuh.

Ia berkata. "Anak Ciu, terima lagi seranganku." Kata2nya disertai dengan serangan tangan kanan, Tan

Ciu menggunakan tangan kiri menangkis serangan itu.

Giok Hu Yong mengirim serangan tangannya yang kedua.

Kecepatan mereka melebihi kilat, begitu bergebrak, saling serang dan saling tangkis. sret. .. . sret,. . . sret.. . .

sret.. . . Disaat yang sama, empat jurus telah dilewatkan, kedua bayangan ini berpisah. Memandang situasi itu, wajah semua orang berubah

Baju Giok Hu Yong telah mendapat tambahan empat lubang.

Wajah Pencipta Drama Pohon Penggantungan itu pun berubah menjadi pucat!

Mungkinkah hal ini dapat terjadi? Hanya puluhan hari berpisah. Tan Ciu dapat lompat naik beberapa kelas!

Tan Ciu menunjuk hormatnya, ia berkata, "Ibu maafkan kelancangan anakmu."

Giok Hu Yong menyedot napasnya panjang-panjang. "Ah. . ."

Tan Ciu berkata. "Ibu, kau telah kukalahkan. Beri kesempatan kepadaku untuk mewakili dirimu meneruskan janji duel itu."

"Tidak mungkin!" "Ibu "

"Aku tidak dapat membiarkan kau mengantarkan jiwa." "Ibu telah berjanji." Berkata Tan Ciu.

"Aku tidak mengharapkan kau mati dibawah tangannya." Berkata Giok Hu Yong.

"Akupun tidak   mengharapkan ibu mengantar jiwa kepadanya."

Pengemis tua berkata,

”Kalau kalian berdua tidak menghendaki pihak kedua menerjang maut, juga wajib menerima tantangan itu. Seorang yang lebih kuat harus menanggungnya, resiko kematiannya lebih kecil."

"Aku yang harus pergi," Berkata Tan Ciu. "Tapi. . ."

Pengemis tukang Ramal Amatir berkata. "Jangan kau menelan kembali janjimu"

Giok Hu Yong menarik napas dalam, "Baiklah " Akhirnya ia menyerah.

Pengemis tukang Ramal Amatir menganggukan kepala. "Kukira Tan Ciu lebih cocok untuk menandinginya."

"Ibu" Panggil Tan Ciu segera. "Dimana letak perjanjiannya?"

"Kita diwajibkan menunggunya dipuncak Pek-soat-hong.

Dan diberi gambar tentang letak puncak Pek-soat-hong." "Waktunya?"

"Esok lusa."

"Aku segera berangkat." Berkara Tan Ciu.

"Kau harus berhati-hati." Berpesan sang ibu. Air mata Giok Hu Yong berlinang-linang.

"Ibu, mengapa kau menangis?" Tan Ciu mengajukan pertanyaan.

"Ilmu kepandaiannya sangat luar biasa. Kau  masih bukan tandingannya. Setelah kau mati dia akan datang ketempat ini juga."

"Hah!" Tan Ciu tersentak kaget. "Dia menghendaki kematian ibu?"

"Ng . , . ." "Bila ibu mati?" "Urusan baru selesai."

Tan Ciu mengerutkan alisnya. Ia sedang mengasah otak

untuk mencari jalan keluar mengatasi bahaya.

Melati Putih Giok Ho Yong bertanya kepada anak itu, "Anak Ciu. Apa yang sedang kau pikirkan?"

Tan Ciu tidak menjawab pertanyaan itu. ia sedang memikirkan cara-cara untuk mengatasi kesulitan mereka, mengerutkan alisnya panjang2, tidak seorang pun yang tahu apa yang sedang dipikir oleh pemuda itu.

Tiba-tiba. . . .

Tan Ciu mengeluarkan bentakan keras, sangat mendadak sekali.

Terjadi suasana yang menyeramkan.

Semua orang hadir masih binggung, apa maksud yang menjadi tujuan anak pemuda itu, mengapa mengeluarkan suara yang seperti orang gila?

Terlebih-lebih si Melati Putih Giok Hu Yong, letaknya dengan sang anak sangat dekat sekali, jadi kesima.

Sepasang mata Tan Ciu memancarkan cahaya luar biasa. Tangan si pemuda terangkat. dan ia bergeram lagi menepuk ibu sendiri.

Giok Hu Yong jatuh menggeletak. Keadaan semakin kacau.

Terdengar suara jeritan Tan sang, "Tan Ciu, sudah gla kau? Mengapa membunuh ibu?"

Bentakan itu disertai dengan pukulan tangannya. Menyingkir dari pukulan Tan Sang, si pemuda berteriak. "Sabar!"

Tan Sang menarik pulang serangan. Memandang kearah Giok Hu Yong.

Tubuh Pencipta Drama Pohon Penggantungan telah menggeletak, tidak bernapas.

Pengemis tukang Ramal Amatir tidak dapat tertawa lagi.

Tan Sang membentak. "Dengan alasan apa kau membunuh ibu?"

Pengemis Tukang Ramal Amatir juga membuka suara, "Bocah Tan Ciu. mengapa kau. . .?"

"Ibu akan mengikuti dibelakangku." Berkata Tan Ciu.

"Juga tidak seharusnya, kau melakukan perbuatan ini bukan? Kau melarang orang membunuh ibumu, mengapa membunuhnya lebih dahulu?"

"Aku tidak membunuh." Berkata Tan Ciu. "Huh ..."

Itu waktu Tan Sang telah merangkul. Ibunya Tidak bergerak, juga tanpa denyutan nadi napas,

Pengemis Sakti Tukang Ramal Amatir tidak percaya.

Tan Ciu memberi keterangan. "Ibu telah kutekan dengan ilmu Ie-hun-tay-hoat, seolah-olah telah mati. Tapi tidak."

Pengemis Tukang Ramal Amatir tertawa.

"Luar biasa." Ia memberikan pujiannya. ”Segala macam ilmu pelajaran telah berhasil kau yakinkan."

Tan Ciu berkata.

"Masa berlaku ilmu ini hanya lima belas hari, setelah itu. dia akan sadar kembali." "Kau memberi tekanan tidur kepada ibu?" Bertanya Tan sang.

"Ng "

"Mengapa?"

"Menurut keterangan yang ibu berikan, musuh kita terlalu kuat. Dimisalkan aku mati ditangannya, ia pun tidak luput pula. Kecuali didalam keadaan seperti mati. Bila ini ia berkunjung datang dan menyaksikan keadaan ibu yang sudah tidak bernapas, tentunya mendapat kepuasan, menyudahi perkara."

-ooo0dw0ooo-