Pohon Keramat Jilid 15

Jilid 15

"BETUL. Yang kuartikan tinggal di bawah tanah, bukanlah berarti mati. Kamar tidurku yang  kuartikan berada dibawah tanah."

"Mengapa harus tinggal dibawah tanah?"

"Aku tidak ingin melihat peti mati itu. Maka menempatkan diriku dibawah tanah. Tadi, bila kau tidak membuka tutup peti mati aku pun tidak bersedia memunculkan diri."

"Mengapa?'*

"Drama ini sangat sedih sekali."

"Drama?" Tan Ciu tidak mengerti, "Ada hubungankah dengan pemuda yang berada didalam peti mati itu?"

Wanita berambut panjang menganggukkan kepalanya. Maka rambut yang sudah terurai itu terbuka, terlihat wajahnya, umurnya berkisar diantara empat puluhan.

"Siapakah laki-laki itu?" Bertanya Tan Ciu. "Kekasihku."

"Kekasih?" Tan Ciu lebih-lebih tidak mengerti, seorang

wanita yang sudah hampir empat puluh tahun mempunyai seorang kekasih yang boleh dikatakan masih kanak-kanak. Hujan diluar rumah semakin deras. bagaikan  dituang dari atas langit bergemuruh deras.

"Aku harus bermalam disini." Berkata Tan Ciu. "Dia menderita luka, tidak boleh terlalu lama disiram hujan."

Tan Ciu menunjuk kearah Cang Ceng Ceng yang terbaring disudut rumah kayu itu.

Wanita berambut panjang mengangukkan kepala. ia tidak keberatan.

"Seorang diri cianpwe tinggal dirumah ini?" bertanya lagi Tan Ciu.

Wanita berambut panjang itu mengandung kabut misterius. si pemuda mulai tertarik.

"Hanya seorang." Wanita tersebut membenarkan dugaan Tan Ciu. "kecuali itu, dia tetap mengawani diriku," Ia menunjuk kearah peti mati merah.

"Dia? "

"Betul. Dia bukan manusia lagi. Tapi aku tidak dapat dipisahkan dengannya." Berkata wanita rambut panjang itu dengan nada suara sedih.

"Kau sangat cinta padanya?" Tan Ciu mengajukan pertanyaan.

"Sangat cinta sekali." Jawab orang yang ditanya.

"Dia telah   mati.   Maka.   kau   harus mengebumikan jenazahnya."

"Tidak mungkin." Wanita berambut panjang menggelengkan kepala.

"Mengapa?" "Setelah kutanam jenazahnya aku akan hilangan orang yang satu-satunya paling dekat denganku. Aku tidak mempunyai lain pamili lagi." Suaranya semakin sedih. Dan akhirnya ia pun menangis. mengucurkan air mata.

Tan Ciu dapat memahami, betapa cintanya wanita setengah umur ini kepada sang kekasih. Timbul rasa simpati kepadanya.

"Jenazah itu akan membusuk." Ia memberi peringatan akan adanya pembusukan.

"Tidak. Tubuhnya akan tetap seperti itu."

"Tidak mungkin. Setiap orang yang sudah tidak bernapas akan membusuk. hanya tulang belulang yang dapat ditinggalkan sebagai kenang-kenangan."

Wanita berambut panjang itu tertawa. "Tapi telah tiga puluh tahun ia berbaring disitu. Tanpa ada pembusukan."

"Aaaa . . .!" Tan Ciu terbelalak. "Tiga puluh tahun?" "Betul. Lebih dari tiga puluh tahun ia terbaring disitu." Haruskah   Tan   Ciu    percaya   kepada   keterangan  itu?

Dilihat   sikap  orang   yang   bersungguh-sungguh. tentunya

bukan isapan jempol.

Wanita berambut panjang berkata lagi.

"Sungguh! Lebih dari tiga puluh tahun ia terbaring ditempat itu, seperti apa yang tadi kau lihat. Tidak ada perubahan sama sekali."

”Belum pernah kudengar ada orang mati yang tidak membusuk." Berkata Tan Ciu.

"Seharusnya. setiap ada orang mati membusuk. Tapi aku telah meletakkan sebutir mutiara Jit goat-cu dengan mulut mengulum mutiara tersebut, dagingnya tak akan membusuk. Seperti apa yang kau lihat, ia tetap hidup."

Tan Ciu mengerti, mengapa jenazah didalam peti mati tidak membusuk. Ternyata disertai dengan mutiara Jit-goat- cu.

”Cianpwe menunggu dirumah ini sehingga lebih dari tiga puluh tahun?" Tan Ciu menatap wanita berambut panjang tersebut.

"Betul."

Tan Ciu ragu-ragu.

"Berapakah umur cianpwe?" Ia bertanya. "Dapatkah kau menduga?" Balik tanya wanita itu.

"Tentunya belum empat puluh tahun." Tan Ciu mengeluarkan dugaan.

"Salah. Umurku telah genap 55 tahun."

Tan Ciu agak kurang percaya, wanita ini tidak muda, tapi juga belum tua. Rambutnya masih hitam mengkilat, bagaimana berumur lima puluh lima tahun?

"Tidak percaya?" Wanita itu tertawa. "Kulihat, cianpwe masih muda."

"Ha, ha, . . Aku sudah tua. Umurku sudah tua, lebih tua lagi adalah hatiku yang tidak mempunyai kesegaran hidup. Sudah waktunya aku menyusul dia dialam baka."

"Manakala ia tahu akan kesunyian hati cianpwe. tentunya mati dengan puas, mati dengan mati tertutup rapat."

"Salah." Berkata wanita itu. "Ia sangat benci kepadaku." "Benci?" "Tentu. Karena ia mati dibawah tanganku. Bagaimana tidak membenci? Dialam baka, tentunya mengutuk-ngutuk diriku."

"Aaaa cianpwe yang membunuhnya?"

"Hal itu sudah terjadi lama sekali."

Tan Ciu dibuat bingung lagi. Bila wanita membunuh seseorang, tentunya tidak cinta. Dan ini tidak mungkin, wanita dihadapannya sangat cinta kepada sang kekasih, mana mungkin mengadakan pembunuhan?

"Cianpwee, sangat cinta kepada laki-laki ini?" Bertanya lagi Tan Ciu.

"Bila tidak cinta padanya, tentu tidak mau menunggu ditempat ini sehingga tiga puluh tahun bukan?"

"Cianpwe cinta padanya mengapa membunuhnya?" "Sulit diterima bukan?"

"Memang agak tidak mudah dimengerti."

"Ingin mengetahui cerita yang menyangkut diri kami?" Tan Ciu tertawa.

"Hujan telah mengantarkan aku ketempat ini baiknya sudah wajib untuk mendengar cerita cianpwe." Demikian ia meringankan ketegangan diantara mereka.

"Aku akan bercerita tentang segala kejadian itu. . . .

Dengan harapan, setelah selesai kau mengetahui duduk perkara, kau dapat melakukan sesuatu untukku."

"Apakah tugas yang cianpwe hendak berikan?" Bertanya Tan Ciu.

"Tidak sulit untuk kau kerjakan." Tan Ciu tidak menolak tawaran tersebut. Ia sangat tertarik kepada pengalaman mudanya wanita rambut panjang itu, tentunya luar biasa.

Tan Ciu memasang kuping panjang-panjang.

Dan wanita itu mulai bercerita, "Aku Thio Ai Kie "

Entah mengapa, ia menghentikan katanya, memandang kearah luar, matanya menunjukkan sinar tajam.

"Mengapa?" Bertanya Tan Ciu tak mengerti.

"Ada orang datang." Berkata wanita yang bernama Thio Ai Kie itu.

Tan Ciu memandang keluar. tidak terlihat ada sesuatu yang mencurigakan, Ia memasang kuping juga tidak ada urusan lain. kecuali suara hujan yang masih belum berhenti.

"Ada orang?" Tan Ciu kau kurang percaya,

"Benar." Berkata Thio Ai Kie. "Ia sedang menuju kearah kita."

"Aah. tidak kudengar adanya suara langkah kaki itu." "Kini jaraknya semakin dekat. hanya seratus meter lagi."

Bila apa yang dikatakan oleh wanita itu benar hal itu sungguh sulit dibayangkan.

Mungkinkah dapat mendengar suara derap langkah seseorang yang masih berada dijarak seratus meter? Sedangkan keadaan itu masih turun hujan? Suara berisiknya angin ribut turut mengganggu. Betapa hebat ilmu pendengaran wanita yang bernama Thio Ai Kie ini.

Thio Ai Kie berkata.

"Aku hendak bercerita tanpa gangguan. Tapi orang ini akan segera tiba." "Ia masih datang?"

"Arahnya tidak berubah. Kukira ia akan datang untuk menghindari serangan hujan."

"Tentunya kemari?"

"Betul. . . Eh. . . Heran. rumahku belum pernah mendapat kunjungan orang. Hari ini,  setelah kedatanganmu, muncul lagi orang ini. ia  datang lebih dekat."

Kuping Tan Ciu sudah dapat menangkap suara derap langkah kaki orang yang baru datang, ia harus memuji ketajamannya kuping Thio Ai Kie. dapat mendengar suara yang dua kali lipat dari pendengaran dirinya.

Tiba tiba ....

Terdengar suara pintu diketuk orang "Siapa ?" Bertanya Thio Ai Kie.

"Seorang pengembara yang ditimpa hujan. dapatkah

memberi kelonggaran untuk meneduh." "Silahkan."

Pintu itu didorong, dan seorang tua berjalan masuk. Melihat wajah itu, tiba-tiba Tan Ciu berteriak. "Kau!?" Orang itu pun melihat adanya Tan Ciu. ia juga terkejut.

"Kau?" Terlihat sekian perobahan pada wajahnya yang menjadi terang.

Kedua orang itu saling pandang, Thio Ai Kie menyaksikan hal tersebut memandang kedua tamunya, ia bertanya. "Kalian saling kenal ?"

"Lebih dari kenal." katanya. "Kedatanganku ketempat ini dengan maksud tujuan mencari dia." Siapakah yang mencari Tan Ciu?

Orang yang mengejar Tan Ciu sehingga sampai digunung Ceng-in adalah si Pendekar Angin Sin Hong Hiap.

Bagaimana Sin Hong Hiap dapat mengejar datang? Bagaimana ia tahu bahwa Tan Ciu sedang menuju gunung Ceng-in ?

Ini adalah suatu pertanyaan.

Memandang Tan Ciu beberapa saat. lalu Hong Hiap berkata kepadanya. "Ho ho.... bila tidak diganggu oleh hujan, perjalanan akan kuteruskan, gagallah aku menemukanmu."

"Kedatanganmu khusus mencari aku?" Bertanya Tan Ciu heran.

"Betul, sebelum kau masuk kedalam Gua Kematian, aku harus menemukanmu."

Disebutnya nama Gua Kematian. membuat Thio Ai khie membelalakkan mata.

Tan Ciu berkerut.

"Bagaimana kau tahu, aku sedang melakukan perjalanan ke Gua Kematian?" Ia menatap wajah pendekar tua itu.

"Mengapa tidak tahu? Setiap perbuatan tidak mungkin dirahasiakan, bukan?"

"Maksudmu?"

"Menuntut balas. Aku harus membunuhmu."  Berkata Sin Hong Hiap tegas.

"Jauh-jauh kau mengejar  datang untuk membunuh seseorang?" "Betul. Dendam kematian muridku harus mendapat wajah yang paling sempurna. Bila kubiarkan kau masuk kedalam Gua Kematian, setelah kau menjadi seorang linglung sinting, tiada guna dan tiada arti sama sekali. Kau harus tahu, membunuh seseorang harus menanggung akibat. Kau membunah muridku, maka aku harus membunuhmu."

Wanita berambut panjang, Thio Ai Kie turut bicara. "Kalian ada menaruh dendam ?"

"Betul” Berkata si Pendekar Dewa Angin Sin Hong

Hiap. ”Pemuda ini bernama Tan Ciu ia telah membunuh muridku."

Thio Ai Kie memandang Tan Ciu.

"Kau telah membunuh   murid   orang?" Ia meminta kepastian.

"Benar." Tan Ciu tidak menyangkal.

"Mengapa membunuh orang?" Tegur lagi Thio Ai Kie.

Tan Ciu bercerita soal kematian Chiu-it Cong, segala sesuatunya diceritakannya dengan jelas.

"Betulkah cerita itu?" Thio Ai Kie memandang Pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap.

Jago tua itu menganggukkan kepala.

"Kematian yang dicari sendiri." Berkata Thio Ai Kie. "He " Sin Hong Hiap terbelalak.

"Julukanmu pendekar Dewa Angin, kata-kata Pendekar itu tidak mudah didapat. Mengapa mempunyai murid yang seperti itu? Kematiannya akan membebaskan dirimu dari kekotoran dunia, mengapa harus menuntut balas." Sin Hong Hiap mendebat. "Chio It Cong dilahirkan sebagai muridku segala sesuatu harus diserahkan kepadaku. Orang luar tidak berhak ikut campur."

"Dimisalkan aku yang menemukan kejadianku, aku pun akan membunuh Chio It Cong."

Wajah Sin Hong Hiap berubah.

"Ternyata kalian telah bersekongkol?" Ia sangat marah. Thio Ai Kie berkata dingin.

"Pada tiga jam yang lalu, aku belum kenal dengan orang yang bernama Tan Ciu ini."

"Mengapa membela dirinya?" Tegur Sin Hong Hiap. "Kebenaran ada dipihaknya."

"Kebenaran berada dipihak yang berkuasa." Sin Hong Hiap berdengus.

"Gunakanlah sedikit aturan."

"Aku tidak kenal, apa itu artinya aturan." Pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap agaknya telah naik pitam.

Wanita rambut panjang Thio Ai Kie tidak mau kalah. dengan geram ia membentak. "Sin Hong Hiap. lekas kau keluar dari rumahku." Ia mengusir,

Sin Hong Hiap tertawa dingin. "Ingin main keras?" Ia tidak takut.

"Sebelum aku malah memaksa kau keluar dari sini. Ada

baiknya kau tahu diri. Keluarlah!" berkata Thio Ai Kie.

"Ha ha. . . Aku segera meninggalkan rumah ini setelah berhasil membunuh Tan Ciu."

"Tidak mungkin." "Bagus! Akan kubuktikan kepadamu, siapa yang berkuasa. dialah yang menang."

Sin Hong Hiap menutup kata-katanya dengan satu pukulan. Arah tujuannya bukan wanita rambut panjang itu, tapi batok kepala Tan Ciu, ia benci kepada pemuda itu, Tan Ciu adalah orang yang telah menghilangkan jiwa muridnya juga menjatuhkan nama Sin Hong Hiap yang ternama.

Langkah Sin Hong Hiap telah berpikir masak-masak, bila ia bergebrak dengan wanita rambut panjang itu, mengingat ilmu kepandaian orang yang seperti berada diatas Tan Ciu, tentu memakan waktu lama, entah bagaimaua akhir pertempuran mereka.

Thio Ai Kie tidak tinggal diam. Tubuhnya melesat menggulung pukulan Sin Hong Hiap

Sin Hong Hiap telah menduga akan adanya gangguan itu. maka ia bergerak cepat, memukul Tan Ciu dengan kecepatan kilat. Di samping tak lupa ia mengadakan penjagaan diri, Menangkis dan menyingkirkannya.

Sin Hong Hiap bergerak lebih dahulu, Thio Ai Kie menyusul belakangan, tapi kecepatan wanita rambut panjang itu sungguh luar biasa. bukan saja berhasil menangkis serangan Sin Hong Hiap yang mengancam Tan Ciu, lain serangan yang mengancam pendekar tua itu tidak gagal.

Buumm, Bummm......

Telapak tangan Thio Ai Kie telah mampir dipunggung dibelakang Pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap.

Darah merah muncrat dari mulut sipendekar Angin. Inilah akibat dari kecongkakkan Sin Hong Hiap mendapat nama puluhan tahun, belum pernah dikalahkan orang, apalagi berhadapan dengan wanita berambut panjang yang dianggap sipil, ia hanya menggunakan setengah bagian, dengan sisa tenaga lainnya tetap menyerang Tan Ciu.

Karena itulah, ia menderita kerugian.

Tan Ciu terbelalak. Dengan jatuhnya Sin Hong Hiap terbuktilah betapa hebat ilmu kepandaian wanita yang bernama Thio Ai Kie ini.

Wajah Sin Hong Hiap terlihat sangat seram, bibirnya meleleh darah, matanya disipitkan. hanya sebelah. Rasa benci penasaran. sakit hati dan dendam bercampur menjadi satu.

"Baik." Akhirnya ia berkata lemah. "Aku Sin Hong Hiap menerima kekalahanku. Lain kali, aku akan balik kembali mengadakan pembalasan."

Tubuhnya melesat ingin keluar dari pintu. Thio Ai Kie lebih cepat, ia sudah menghadang kepergian si jago tua. serta merta mengeluarkan bentakan.

"Tunggu dulu!"

"Apa lagi yang kau mau ?" Sin Hong Hiap mempentang kedua matanya.

"Aku harus menahan kepergianmu." kata Thio Ai Kie. "Bagus! Belum tentu aku dapat mati dibawah

tanganmu." Sin Hong Hiap telah menderita luka yang tidak ringan, suaranya pun agak lemah.

"Aku tidak berniat membunuhmu." Berkata Thio Ai Kie. "Maksudmu."

"Melarang kau meninggalkan rumah ini."

"Bagus. Aku harus menerjang keluar." Berkata Sin Hong Hiap yang disertai gerakan tubuhnya. Thio Ai Kie tidak berpeluk tangan, tangannya bergerak- gerak, menutup jalan si Pendekar Dewa Angin.

Beberapa kali Sin Hong Hiap menerjang, beberapa kali pula ia tertahan.

Kecepatan Thio Ai Kie luar biasa. kini menggunakan jari 'Cret!' menotok jalan darah Sin Hong Hiap. Si jago tua itu jatuh tubuhnya.

Tan Ciu sangat berterima kasih kepada wanita berrambut panjang itu, bila tidak ada Thio Ai Kje yang membantu dirinya, pasti ia terluka dibawah tangan Sin Hong Hiap. Mungkin pula ia sudah mati saat ini.

"Atas bantuan cianpwe, aku Tan Ciu mengucapkan terima kasih," Demikian berkata si pemuda.

"Aku benci kepada manusia-manusia congkak sebangsa Sin Hong Hiap." berkata Thio Ai Kie.

"Bagaimana cianpwee hendak menempatkan dirinya?" Bertanya Tan Ciu dengan jari tangan menunjuk kearah Sin Hong Hiap yang jatuh tengkurap.

"Biarkan saja ia tidur ditempat itu. Setelah selesai kita bercerita, akan kuusahakan, bagaimana harus menyelesaikan dirinya."

Tan Ciu tidak mengusut terlalu panjang, Thio Ai Kie berkata gemas.

"Bila bukan karena kedatangannya ceritaku sudah selesai. Ia banyak mengganggu waktu  kita. Eh. masih bersediakah kau mendengarkan ceritaku?"

Tan Ciu menganggukkan kepala.

"Oh. kudengar kau hendak masuk kedalam Goa Kematian?" "Betul!"

"Apa maksudmu masuk kedalam gua itu?” Bertanya Thio Ai Kie.

"Aku harus menolong dirinya." berkata Tan Ciu sambil menunjuk kearah Cang Ceng Ceng.

Thio Ai Kie memandang gadis itu sebentar, kemudian bertanya. "Lukanya berat?"

"Sangat berat."

"Mengapa harus masuk kedalam Gua Kematian?" "Lukanya bukan luka biasa. Ia mendapat tekanan ilmu

Ie-hun Tay-hoat."

"Ie-hun Tay-hoat?" Bertanya Thio Ai Kie tersekut. "Betul. Dikatakan orang. hanya Penghuni Gua Kematian

yang dapat menghilangkan tekanan ilmu Ie-hun Tay-hoat." Thio Ai Kie menganggukkan kepalanya.

"Tidak dapat disangkal." Ia berkata. "Tapi. pernahkah

dengar tentang peraturan Gua Kematian?"

"Merusak alam pikiran orang yang memasukinya. Itukah peraturannya ?"

"Betul. Dan setiap orang yang telah masuk kedalam Gua Kematian, ia akan menjadi sinting linglung."

"Aku tahu." Berkata Tan Ciu. "Aku rela mengorbankan diriku."

"Demi keberuntungannya bukan?" Thio Ai Kie menunjuk kearah Cang Ceng Ceng,

Tan Ciu membenarkan pertanyaan itu. Thio Ai Kie berkata kepada Tan Ciu. "Cerita yang akan kukisahkan ada hubungannya dengan Penghuni Guha Kematian itu,"

"Ooo..." Tan Ciu semakin tertarik.

"Namaku Thio Ai Kie,..." Wanita itu mulai bercerita. "Dia Kho Liok." Tangannya menunjuk kearah peti mati merah ditengah-tengah ruangan.

Tan Ciu mengerti, tentunya pemuda yang didalam peti mati itulah yang dimaksudkan bernama Kho Liok.

"Kecuali kami berdua, tokoh ketiga adalah kakakku yang bertama Thio Bie Kie." Meneruskan cerita Thio Ai Kie. "Kami bertiga terlibat didalam kisah percintaan."

Tan Ciu sudah menduga akan hal itu, ia memasang kuping lebih tajam.

Thio Ai Kie meneruskan ceritanya.

"Kakakku sangat sayang kepadaku. kami dibesarkan bersama, tanpa ada kasih sayang orang tua, mereka telah tiada. Kami hidup bersama beberapa saat dan berguru kepada seorang nenek ahli silat yang bernama Kui Boh Cu. Dikala aku genap berumur dua puluh tahun, tidak sedikit pemuda-pemuda yang melamarnya, tapi semua lamaran itu ditolak ia tidak mau meninggalkan diriku. aku dianggap anak kecil, selalu membimbing diriku. Dikatakan olehnya, sebelum aku mendapatkan jodohku, ia tidak akan menikah dengan orang. Ia lebih suka diam dirumah, sedangkan aku sering berkelana, dengan ilmu kepandaian yang kumiliki, aku berhasil mendapatkan gelar Pendekar Wanita Berbaju Hitam "

Thio Ai Kie menghentikan ceritanya, ia bermuram durja, tentunya sedang mengenang akan kejadian masa silamnya. Tak lama Thio Ai Kie merenung, lalu meneruskan pula ceritanya.

"Karena kebinalan aku itulah. aku berkenalan dengan seorang pemuda yang bernama Kho Lok." sambung cerita wanita itu, "Kami saling jatuh cinta. Orang-orang yang mengiri pada cinta kami memberi tahu kepadaku. dikatakan bahwa pemuda bernama Kho Liok inilah ahli wanita. tukang mempermainkan wanita. penggoda wanita. Tapi tidak kuterima kisikan-kisikan itu. Di sampingku. Kho Liok sangat baik dan patuh. tidak mungkin seorang hidung belang. kami sangat puas merantau kebeberapa tempat, dibawah buaian asmara kami melupakan semua kedukaan dunia."

"Dan kalian menikah?" Tan Ciu mengemukakan dugaan.

"Belum." Berkata Thio Ai Kie. "Desas-desus semakin santer segera kutanyakan kepada dirinya. dari mana asal desas desus itu. Ia menyangkal, dikatakan bahwa mereka tak tahu menahu, kecuali aku, ia belum pernah jatuh cinta kepada orang. Itu waktu aku meninggalkan kakakku, maka ia tak tahu juga tak dapat meminta pendapatnya. Kata-kata Kho Liok yang berkesan ialah, ia  mengatakan telah melakukan suatu kesalahan besar. Kutanyakan, kesalahan apakah yang telah diperbuat? Ia tidak mau memberi keterangan yang lebih jelas. Betul-betul aku sangat cinta kepadanya. Maka urusan itu tidak kutarik panjang."

Tan Ciu mendengarkan cerita tersebut dengan penuh perhatian.

"Pada suaru hari." Thio Ai Kie melanjutkan cerita, "Kami bercakap-cakap tentang keluarga masing-masing. kukatakan bahwa aku masih mempunyai seorang kakak yang bernama Thio Bie Kie, wajahnya berubah. Dengan acuh tak acuh ia mendengarkan cerita itu tanpa suara. Dan dengan alasan sakit kepala ia berpisah. Itulah perpisahan untuk jangka waktu yang lama, tanpa pamit  lagi ia meninggalkan diriku."

"Mungkinkah ada sesuatu yang menyangkut Thio  Bie Kie cianpwe?" Tan Ciu mengemukakan pendapat.

Thio Ai Kie menganggukkan kepala.

"Musuh Thio Bie Kie?" bertanya lagi Tan Ciu. "Bukan."

"Mengapa ia lari tanpa pamit?" "Dia adalah kekasih Thio Bie Kie." "A a a a "

"Ia mengatakan, pernah melakukan suatu kesalahan, itulah yang dimaksudkan. Sebelum kami berkenalan. Thio Bie Kie telah berhubungan dengannya, itu waktu aku sedang berkelana, maka tidak tahu hal tersebut. Bila aku tahu adanya hubungan diantara mereka, tentu aku dapat menghindari kisah percintaan."

"Kalian kakak dan adik sangat mengasihi, seharusnya mudah diselesaikan, bukan?" Berkata Tan Ciu.

"Akupun memikirkan begitu, segera pulang dan kutemui, Thio Bie Kie, kuceritakan semua kejadian, kuceritakan tentang semua yang menyangkut Kho Liok. Thio Bie Kie tidak mendengar habis semua kisahku tatkala mendengar nama Kho Liok disebut, ia jatuh pingsan         Aku bingung.

Cepat-cepat kusadarkan Thio Bie Kie. setelah ia sadar dari pingsannya, dengan marah mencaci maki diriku, belum pernah aku melihat ia marah besar seperti itu. Aku takut sekali. Ternyata kisah percintaannya dengan Kho Liok tidak sengaja, mereka telah melewati batas-batas persahabatan.  tanpa  disengaja  cinta  kakakku  kepada Kho Liok hanya sepihak, sedangkan Kho Liok tidak cinta padanya. Kisah mereka dimulai setelah  Kho  Liok terluka, ia lari mendapatkan Thio Bie Kie. luka itu luar biasa, dikelabui musuh sehingga menerima bisa racun yang jahat. Thio Bie Kie berusaha menyembuhkan dirinya, didalam keadaan setengah sadar, mereka telah mengadakan hubungan yang melampaui batas, Setelah Pho Liok sembuh. dikatakan ia harus menuntut balas. dan ia pergi... Pergi untuk tidak kembali lagi. Thio Bie Kie merana, tapi aku tidak diberi tahu tentang penderitaan itu. Aku meninggalkan kakakku. kucari Kho Liok dibeberapa tempat. akhirnya aku berhasil menemukannya. Kutegur mengapa dia berani mempermainkan kami kakak beradik? Dikatakannya ia tidak bermaksud mempermainkan kami, orang yang dicintai adalah aku,  sedangkan hubungan dengan Thio Bie Kie dilakukan tanpa sadar, itu waktu bisa racun belum semua keluar, ditambah dengan cinta Thio Bie Kie kepada dirinya, maka terjadilah tragedi tersebut... Aku cinta kepada Kho Liok tapi aku lebih cinta kepada kakakku. Kuanjurkan kepadanya agar kembali kesamping Thio Bie Kie, ia menolak. Kami bertengkar dengan hasil kesudahan matinya dia dibawah tajamnya pedangku."

"Aaaa .." Tan Ciu mengerti akan duduknya perkara dari hasil percintaan segitiga.

"Bukan maksudku untuk membunuh Kho Liok." Meneruskan cerita Thio Ai Kie. Suaranya menjadi sember. air matanya telah membasahi wajah setengah tua itu. "Dengan sedih aku menggendong jenazahnya, kubawa pulang dan kutemukan Thio Bie Kie kuceritakan segala kejadian yang telah terbentang dihadapannya, kesalahan tersebut tidak dapat diperbarui lagi."

"Thio Bie Kie cianpwee tidak dapat memaaffkan?" Bertanya Tan Ciu. "Dengan jatuh bangun dari pingsannya, ia menangis sesambatan, mengapa aku berlaku ceroboh, membunuh orang yang kami cintai? Dikatakan aku kejam, tidak mau ia mempunyai seorang adik kejam, sifat-sifatnya berubah hampir menjadi gila, kulihat perubahan pada wajahnya, aku tinggalkan begitu saja. Mulai hari itu aku tinggalkan oleh dua orang yang kukasihi, Kho Liok mati. Thio Bie Kie lari, Untuk menebus dosaku, aku menetap disini, kukawani jenazah Kho Liok sehingga hari ini."

"Tidak ada kabar beritakah dengan Thio Bie Kie cianpwe?" Bertanya Tan Ciu.

"Dia adalah Penghuni Guha Kematian yang akan kau kunjungi itu."

"Aaaaaa "

"Sifatnya telah berubah, aku diancam dilarang memasuki guhanya. setiap orang yang masuk kedalam guha tersebut akan mengalami tekanan jiwa. otaknya  dimiringkan, mereka menjadi sinting dan linglung. ”

Thio Ai Kie selesai mengisahkan cerita tentang percintaan dan sebab musabab dari keluarga mereka.

Selesai mengisahkan cerita lama, Thio Ai Kie berkata, "Dapatkah kau membantu diriku."

"Akan boanpwe usahakan." Berkata Tan Ciu.

"Kukira tidak sulit untuk kau lakukan." Berkata Thio Ai Kie. "Permintaanku tidak banyak. Apalagi mengingat kau sedang menuju kearah Guha Kematian. lebih mudah lagi. Tolong kau sampaikan rasa penyesalanku kepada Thio Bie Kie. Mau tidaknya ia menerima rasa penyesalanku, terserah kemudian hari." Tan Ciu memberikan janjinya, ia menerima tugas tersebut.

"Dan aku mempunyai lain permintaan." Berkata lagi Thio Ai Kie.

"Katakanlah." Tan Ciu memandang wanita berambut panjang itu.

"Tolong kau kebumikan jenazahnya." Thio Bie Kie menunjuk kearah peti mati merah yang berisi mayat Kho Liok.

Tan Ciu terbelalak.

"Bukankah ingin kau kawani terus menerus?" Ia tahu betul akan hal itu, maka tidak segera melulusi permintaan orang.

"Kini, pikiranku telah berubah." Berkata Thio Ai Kie. "Kukira  sulit."  Berkata  Tan  Ciu. "Setelah kukebumikan

dirinya.    Mungkin    kau     bongkar    kembali,    Kau  akan

mengawani dirinya."

Thio Ai Kie menggeleng-gelengkan kepala.

Katanya tegas, "Aku tidak mengebumikan  dirirya, karena aku tidak tega. Tapi kau orang lain, kukira akan dapat menolong diriku."

"Baiklah.” Tan Ciu tidak keberatan.

Pada hari berikutnya, didepan rumah kayu itu telah bertambah satu makam baru itulah makam Kho Liok.

Tan Ciu menyaksikan Thio Ai Lie bersembahyang. Beberapa saat kemudian, Thio Ai Kie bangkit, memandang Tan Ciu seraya wanita itu berkata.

"Aku mengucapkan terima kasih kepadamu." "Dengan senang hati. Aku melakukan pekerjaan ini." Tan Ciu merendah.

Sebelum jenazah Kho Liok dikebumikan, Thio Ai Kie pernah meminta mutiara Jit goat-cu, yang pada sebelumnya berada dalam mulut jenazah Kho Liok. Kini, dari dalam saku bajunya, ia mengeluarkan lagi mutiara tersebut diserahkan kepada Tan Ciu dan berkata kepada si pemuda,

"Ambillah mutiara ini."

Tan Ciu mundur, dengan menggeleng-gelengkan kepada menolak. "Tidak dapat kuterima hadiah pemberianmu."

"Kukira, kau akan membutuhkannya. Mutiara Cit goat- cu dapat menghilangkan semua bisa racun. dapat tahan panasnya api dan dapat mengusir dinginnya es, sangat mujijat untuk pengobatan-pengobatan. Aku tidak membutuhkannya. Terimalah."

Setelah dipaksa. Tan Ciu menerima pemberian yang sangat berharga itu.

"Terima kasih." Ia berkesan baik kepada Thio Ai Kie, "Kau ingin menjumpai kakakku?" Bertanya Thio Ai Kie. Tan Ciu menganggukkan kepala.

"Sudah berpikir masak-masak, akan akibat yang akan kau derita?" tanya lagi Thio Ai Kie.

Lagi-lagi Tan Ciu menganggukkan kepala. "Hanya jalan ini yang dapat kutempuh untuk menolong Cang Ceng Ceng dari kesengsaraan."

"Tapi. kau akan menggantikan dirinya. kau akan lebih sengsara."

”Sudah boanpwe pikirkan masak masak." "Kudoakan saja kau berhasil." Berkata Thio Ai Kie. "Terima kasih." Berkata Tan Ciu.

"Kau tahu dimana letak Guha Kematian?" Bertanya lagi Thio Ai Kie.

"Boanpwe membutuhkan keterangan yang lebih jelas. Tentunya cianpwe tidak keberatan untuk memberi tahu, bukan?"

Thio Ai Kie memberi tahu letak tempat Guha Kematian.

Membawa Cang Ceng Ceng. Tan Ciu mengambil berpisah dengan wanita itu mereka harus melanjutkan perjalanan. kearah Guha Kematian.

Dengan adanya petunjuk Thio Ai Kie, secara mudah Tan Ciu berhasil menemukan Guha Kematian.

Disuatu lereng lembah, pada bawah tebing curam yang sangat tinggi, terdapat sebuah guha dengan tulisan 'GUHA KEMATIAN'.

Tak gentar dengan menggendong tubuh Cang Ceng Ceng. Tan Ciu memasuki guha tersebut.

Guha tersebut tidak terjaga, sangat gelap, jauh didepannya, baru terlihat titik terang. Hal itupun menandakan betapa panjang dari isi Goba Kematian.

Berjalan setengah bagian, tiba-tiba terdengar ada suara yang membentak.

"Berhenti." Datangnya suara dari lorong gelap lain, ternyata Guha Kematian mempunyai cabang.

Tan Ciu menghentikan langkahnya.

Terdengar lagi suara itu berkata. "Dengan maksud apa kau berada ditempat ini?"

Itulah suara seorang wanita. Tan Ciu memberikan jawaban, "Boanpwe harus menyembuhkan seseorang."

"Kau tahu bahwa kau telah memasuki Guha Kematian." "Boanpwe tahu." jawab Tan Ciu tenang.

"Dengan tentang peraturan Guha Kematian?" "Cukup paham."

Suara wanita itu terhenti sebentar, kemudian berkata.

"Kuanjurkan kepadamu ada lebih baik untuk kembali.

Segeralah keluar dari guha ini."

Tan Ciu tidak takut kepada gertakkan itu. "Dengan siapakah boanpwe berhadapan?"

"Seharusnya kau tahu." Berkata suara itu. "Penghuni Guha Kematian ?"

"Heemm . . ."

"Boanpwe ada urusan, maka boanpwe tidak akan keluar guha sebelum urusan itu berhasil."

"Berpikirlah lagi, apa akibatnya, bila seseorang berani masuk kedalam Guha Kematian?"

"Sudah boanpwe pikirkan. dapatkah bertemu muka?" "Aku tidak bersedia menemui orang."

"Bounpwe mohon dengan sangat." "Permohonan itu kutolak."

"Kawan wanitaku sangat membutuhkan pertolongan."

"Itu urusanmu. Bukan urusanku." Berkata penghuni Guha Kematian ketus.

"Dia segera mati." "Sudah kukatakan, bukan urusanku." "Tapi. . ."

"Tanpa tapi. Lekas kau keluar."

"Aku telah berada ditempat ini. Mengapa harus keluar lagi?"

"Ingin mencari kematian ?" "Ha. ha "

"Apa yang kau tertawakan ?"

"Kukira kau bukan Penghuni guha Kematian." ”Mengapa kau mempunyai pikiran seperti itu ?" "Tidak cocok dengan apa yang digambarkan orang,"

"Apa yang orang gambarkan tentang diriku?" Suara wanita didalam lorong guha gelap itu tergetar agaknya ingin tahu, apa yang dunia luar ceritakan tentang keadan guha Kematiannya.

"Kau Thio Bie Kie?" Bertanya Tan Ciu.

"Eh....." Disebutnya nama Thio Bie Kie sangat mengejutkan.

"Mengapa tidak menjawab?” Tegur lagi si pemuda. "Bagaimana kau tahu, ada orang bernama Thio Bie Kie?"

Suara   itu   semakin   bergetar.   didalam   dunia  persilatan,

siapakah yang mengetahui bahwa Penghuni Guha Kematian bernama Thio Bie Kie?

Dan Tan Ciu dapat menyebut nama itu. Suatu hal yang mengejutkan orang yang bersangkutan.

"Ingin tahu?" Berkata lagi Tan Ciu berada diatas angin. "Katakan. dari mana kau tahu nama itu?" Bentak suara yang belum terlihat.

"Akan kuberi tahu kepadamu. setelah kita bertema  muka, secara tuan rumah dan seorang tamu. Bukan seperti keadaan ini, didalam keadaan gelap gulita."

"Aku tidak bersedia menerima tamu," itulah suara wanita didalam Guha Kematian. "Kau kira setelah menyebut nama Thio Bie Kie, aku dapat menerima kedatanganmu, kau mengimpi."

Tan Ciu mengasah otak. Bagaimana ia dapat menemui orang ini? Kecuali menggunakan tipu saja.

"Aku menemukan seseorang . . ," Ia ingin menggunakan kelemahan Tho Bie Kie.

"Siapa yang telah kau temukan?" Bertanya suara wanita didalam kegelapan itu,

"Seorang yang bernama Kho Liok," Berkata Tan Ciu sambil menunggu reaksi orang.

Suara penghuni Guha Kematian tidak terkejut, terdengar ia membentak,

"Kemudian!".

"Kho Liok menceritakan tentang keadaan dirimu." Berbohong Tan Ciu, Ia  menduga sedang berhadapan dengan Thio Bie Kie.

"Tidak mungkin. Suara wanita itu berteriak, "Kho Liok sudah tidak ada!"

"Kau salah." Berkata Tan Ciu. "Sungguh2 aku telah melihat Kho Liok." Wajah jenazah Kho Liok yang Tan Ciu  maksudkan.  Tapi ia tidak menyebut dengan jelas sengaja memancing keluar lawan.

"Kau menemuinya didalam impian." Berkata penghuni guha Kematian itu.

"Sungguh." Berkata Tan Ciu dengar suara pasti. "Dimana?"

"Didalam sebuah rumah kayu." Lagi-lagi Tan Ciu main lidah, entah rumah kayu yang mana yang dimaksudkan olehnya, mungkin rumah kayu Thio Ai Kie. mungkin juga rumah kayu didalam liang kubur Kho Liok.

Suara wanita itu berteriak. "Tidak mungkin . . . Ooooo . .

.!!"

Dengan kepintaran otaknya, ia maklum bahwa dirinya

sedang ditipu mentah-mentah dengan tenang ia berkata.

"Aku mengerti . . . Kau sedang menggunakan akal untuk memancing diriku keluar menemuimu. bukan? Putuskanlah harapanmu ini. Semua itu tidak dapat mengelabui diriku."

"Tidak percaya? Aku adalah murid Kho Liok.” Semakin lama Tan Ciu semakin mengelindur jauh.

"Ha. ha .. siapa namamu ?" "Tan Ciu."

"Apa ?! . . . Tan Ciu ?! . ."

Dari lagu suara orang yang tersentak dan terputus hati Tan Ciu hampir mencelat. Agaknya orang itu pernah mendengar dirinya, maka sangat terkejut.

Dikala orang tersebut mendengar nama Thio Bie Kie disebut, ia terkejut! Mendengar nama Tan Ciu disebut, ia lebih terkejut lagi.

= oooOdwOooo =

Wanita yang berada didalam Guha Kematian terkejut karena Tan Ciu menyebut namanya. itulah tidak masuk diakal, karena jarang sekali orang yang mengetahui dirinya telah menjadi penghuni Guha Kematian.

Tan Ciu menyebut nama dirinya dan wanita didalam guha gelap itupun lebih terkejut, ini agak tidak mudah dimengerti. Apakah yang dikejutkan olehnya ?

"Hei " Tan Ciu berteriak. "Kenalkah kepadaku?"

"Uh... Uh... mengapa harus kenal kepadamu?" Suara itu memberikan jawaban yang samar-samar.

"Mengapa kau terkejut ?"

"Aku terkejut? Heh.... Nama Tan Ciu ini pernah kudengar."

"Siapa orang itu? Siapa yang memberi tahu namaku ?" "Orang yang pernah masuk kedalam Guha Kematian.

Kau putra Tan Kiam Lam bukan? Tidak perduli  putra siapa. ada lebih baik bila kau bersedia meninggalkan guha."

"Bila tidak? Kau akan membunuh?" "Aku belum pernah membunuh orang."

"Hanya memiringkan otak orang," Berkata Tan Ciu.

"Itupun lebih kejam dari pada pembunuhan." "Hee, he. he . , . Kau pintar."

"Aku bersedia menanggung segala resiko, setelah kau menyembuhkan penyakit kawan wanitaku ini." "Tidak mungkin."

"Tolonglah." Tan Ciu mulai memohon.

"Dengarlah kata-kata peringatanku, segera kau meninggalkan Guha Kematian."

"Tidak . , . Ti . . .dak . ." Tan Ciu menjadi kalap, ia menerjang masuk.

Terdengar berkesiurnya angin, satu serangan menyerang pemuda itu.

Tan Ciu mengadakan tangkisan. datang lagi lain serangan, bertubi-tubi. didalam keadaan gelap gulita. Tan Ciu berdaya. tiba-tiba dirasakan kepalanya berat ada jari yang menotok dirinya, matanya terkatup tububhnya roboh, ia jatuh pingsan.

Keadaan masih tetap gelap . . . . .

Satu bayangan menenteng Tan Ciu dengan lain tangan membawa tubuh Cang Ceng Ceng. Bayangan inilah yang berdebat sekian lama diperut guha tadi.

Kemanakah Tan Ciu dibawa? Bayangan itu sangat langsing, dengan menenteng dua tubuh. ia dapat bergerak dengan leluasa, keadaan didalam guha sangat apal sekali. Dengan menekan satu tombol. lalu guha terbuka, berbeda dengan keadaan guha yang semula, guha ini sangat terang,

Wajah wanita yang Tan Ciu kira sebagai Panghuni Guha Kematian ini telah terpetang jelas. Ia belum tua, sangat muda, terlalu muda. Tan Ciu telah jatuh pingsan. maka tidak dapat menyebut nama si gadis. bila Tan Ciu melihat pasti ia terkejut, inilah si Ular Golis dari eks perkumpulan Ang mo kauw.

Ang-mo kauw berarti perkumpulan Iblis Merah. Perkumpulan yang dibangun dan akhirnya jatuh dibawah tangan Sim In. Dia bukan Thio Bie Kie? Bukan. Dia adalah murid Thio Bie Kie. Si Ular Golis yang pernah Tan Ciu temukan di perkumpulan Ang mo kauw.

Kini mudah dimengerti, tatkala ia mendengar nama Tan Ciu, ia sangat terkejut. Itulah pemuda yang pernah menolong dirinya. Tidak dapat ia membiarkan pemuda tersebut rusak dibawah tangan gurunya.

Ular Golis adalah murid Penghuni Guha Kematian Thio Bie Kie,

Membawa Tan Ciu dan Cang Ceng Ceng, si Ular Golis memasuki sebuah ruangan yan terang benderang, didalam ruangan itu berduduk seorang wanita berbaju hitam. itulah penghuni Guna Kematian Thio Bie Kie, orang  menjadi guru si Ular Golis.

"Ada orang masuk kedalam Guha Kematian?" Bertanya Thio Bie Kie.

"Betul."

"Eh. mengapa kau membawa kemari ?"

"Dia ada urusan dan ingin bertemu dengan suhu." ”Mengapa tidak merusak pikiran otaknya?" Thio Bi Kie

mengadakan teguran.

"Suhu . .. Dia.. . dia mengetahui namamu." "Oooo..."

"Dikatakan lagi, dia adalah murid Kho Liok cianpwe," "Aaaa !" Thio Bie Kie berteriak. Badannya gemetaran.

"Tidak mungkin. Tidak mungkin .. !" Dan akhirnya ia berhasil menguasai keterangan hati. "Tidak  mungkin!! Telah tiga puluh tahun ia mati " "Dari mana ia tahu nama itu?"

"Tentunya telah bertemu dengan Thio Ai Khie."  Thio Bie Kie mengeluarkan dugaan.

"Dia menggendong seorang gadis yang tidak sadarkan diri, dikatakan membutuhkan pertolonganmu."

"Membawa seorang gadis yang terluka? Beratkah luka gadis itu."

"Sangat berat sekali."

"Yang gadis boleh kita terima. Dan setiap laki-laki adalah manusia kurang ajar, pemuda inipun tidak terkecuali, geser saja otaknya. Beres."

"Suhu . . ." "Mengapa?"

"Boleh aku mengajukan permohonan untuknya?" Ular Golis ingin membalas budi yang Tan Ciu lepas kepadanya. Manakala Thio Bie Kie mengabulkan permintaan itu, ia luput dari kematian.

"Aku heran, mengapa kau tidak melakukan tugasmu dengan baik, ternyata ada sedikit cerita dibalik batu." Berkata Thio Bie Kie.

"Suhu pada satu tahun yang lalu, dialah yang menyelamatkan jiwaku dari kematian." Ular Gelis memberi penjelasan.

"Mungkinkah aku tidak pernah menyelamatkan jiwamu dari kematian?" Bertanya Penghuni Guha Kematian itu.

"Suhu . ."

"Hm. . . Aku dapat menduga, siapa adanya pemuda ini.

Dia adalah orang yang bernama Tan Ciu itu, bukan ?" "Betul."

"Cintakah kau kepadanya."

Ular Golis menundukan kepala. Sangat rendah kebawah.

Penghuni Guha Kematian Thio Bie Kie berkata dengan suara dingin. "Apa dia juga cinta kepalamu?"

"Dia tidak tahu, apa yang terkandung didalam hatiku." Berkata Ular Golis lemah.

"Lupakah kepada ceritaku? Aku menjadi korban dari korban perasaanku. Laki-laki tidak boleh dipercaya. Dan dia akan merusak hidupmu."

"Suhu . ."

"Kau sungguh mengecewakanku."

"Suhu, maafkan muridmu yang tidak dapat melakukan tugas ini. Suhu bersedia memberi pengampunan ?"

Thio Bie Kie memandang Tan Ciu karena hubungannya dengan Kho Liok, ia membenci setiap lelaki, termasuk juga Tan Ciu.

Matanya beralih kearah Cang Ceng Ceng, dan ia berkata, "Siapa gadis itu ?"

Ular Golis memberikan jawaban. "Dikatakan kawan wanitanya ?"

"Hm... Laki-laki yang seperti ini tidak patut dibiarkan hidup segar, pandai mengambil hati Wanita, tukang memikat hati wanita."

Dengan sinar mata penuh kebencian. ia menggangkat tangannya.

Ular Golis sangat paham akan sifat-sifat yang dimiliki sang guru, ia berteriak. "M i n g g i r !"

Ular Golis menubruk baju, bertiarap diatas tubuh Tan Ciu dan sesambatan, "Suhu, bunuhlah aku dahulu."

Thio Bie Kie menatap wajah sang muridnya, wajahnya yang galak telah berubah menjadi lemah. ia menurunkan tangannya,

"Oh... Cintamu salah tempat."

Ular Golis menatap wajah guru itu.

"Suhu bersedia mengampuni jiwanya?" Ia  meminta kepastian.

"Bukalah totokannya." Thio Bie Kie memberi perintah.

Ular Golis melihat perobahan wajah guru itu. segera ia tahu bahwa jiwa Tan Ciu dapat ditolong. dengan beberapa totokan, ia menghidupkan jalan darah si pemuda yang disumbat.

Tan Ciu menggeliat bangun, terkenang akan kejadian yang belum lama dialami, sangkanya sudah mati, segera ia bergumam.

"Mungkinkah aku belum mati ?" Terdergar suatu suara menyahuti.

"Bila tidak ada muridku yang mengajukan permohonan, tentunya kau telah mati."

Tan Ciu memandang kearah datangnya suara itu. sinar penerangan terang mempetakan gambar seorang wanita.

"Kau . .?" Ia tidak kenal kepada Penghuni Guha Kematian.

"Aku adalah Penghuni Guha Kematian Thio Bie Kie." "A a a a . .." Per-lahan2 Tan Ciu memperhatikan isi guha  itu, matanya tertumbuk dengan sepasang mata si Ular Golis, lagi2 ia berteriak,

"Aaa...!" ia berteriak.

"Masih kenal denganku?" Ular Golis tertawa getir. "Ular Golis?"

Hal ini berada diluar dugaan Tan Ciu, bagaimana Ular Golis dapat berada didalam Guha Kematian.

"Betul." Gadis itu menganggukkan kepalanya,

Tan Ciu sedang ber-pikir2 didalam perkumpulan Ang- mo-kauw Ular Golis telah menyerahkan obat Seng-hiat- hoan-hun-tan mungkin ada hubungan dengan Thio Bie Kie?

"Bagaimana kau berada ditempat ini?" ia ingin mengetahui duduk kejadian.

"Aku yang menolong dirinya," Berkata Penghuni Goha Kematian Thio Bie kie.

Ular Golis adalah anggota Ang mo-kauw, setelah Sim-in mati dengan sendirinya perkumpulan itu  membubarkan diri. Hari ini si gadis telah menjadi anak buah  Guha Kematian.

Terdengar lagi Thio Bie Kie berkata. "Berani kau masuk kedalam Guha Kematian. Nyalimu sungguh besar, he?"

"Ingin merusak otak pikiranku?" Bertanya Tan Ciu. "Inilah peraturan kami." Berkata Penghuni Guha

Kematian Thio Bie Kie.

Tan Ciu tidak gentar. dengan tenang berkata,

"Aku berani masuk kemari. Hal ini sudah kuperhitungkan. Kawan wanitaku ini terkena oleh pengaruh ilmu Ie-hun Tay-hoat, tolonglah kau memberi kebebasan."

"Akan kuusahakan." Berkata Thio Bie Kie.

"Terima kasih. Kini aku menyerahkan diri." Berkata Tan Ciu.

"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu" Berkata lagi Penghuni Guha Kematian. "Tentunya, kau telah berhasil bertemu dengan Thio Ai Kie ?"

"Ia tinggal tidak jauh dari sini." Jawab Tan Ciu. "Apa yang diceritakan kepadamu?"

"Kulihat kau telah salah paham. Kehidupannya jauh lebih menderita darimu. Ia sangat sengsara, penderitaan batin itu sukar dilenyapkan, Maksudku . .."

"Cukup." Bentak Thio Bie Kie. "Aku tidak mau mendengar cerita ini."

Walaupun demikian. Karena Thio Ai Kie itu adalah satu2nya adik kandung. satu-satunya orang yang paling dicintai. perasaannya tidak lepas dari getaran kalbu. terlihat jelas dari gerak geriknya yang berlainan.

"Bila kau tidak bersedia mendengar cerita aku tidak akan memaksa kau memasang kuping." Berkata Tan Ciu.

"Kalian, kaum laki-laki adalah kaum penipu." Berkata Thio Bie Kie penuh derita.

"Tidak ada seorang yang pernah kutipu," Berkata Tan Ciu.

"Bagaimana hubunganmu dengan muridku?" Bertanya Penghuni Guha Kematian itu.

Tan Ciu memandang si Ular Golis. "Dia cinta padamu." Berkata Thio Bie Kie.

"Oh . . ." Diluar dugaan Tan  Ciu. Ia sangat terkejut. "Bila bukan dia yang memohon pengampunan tidak

mungkin Kau dapat mempertahankan kesegaran otakmu."

Tan Ciu tertegun. Tidak disangka bahwa gadis itu jatuh cinta pada dirinya.

Penghuni Guha Kematian Thio Bie Kie berkata dengan sungguh-sungguh. "Jalan yang terbentang dihadapanmu hanya ada dua jurusan."

Tan Ciu memandang wanita itu. "Katakanlah."

"Jalan pertama, aku dapat memberi ampun kepadamu, dangan syarat harus menikah dengan muridku."

"A a a a a . . .!" Tan Ciu berteriak kaget. Tidak pernah disangka. dirinya akan dijodohkan dengan Ular Golis.

Hal ini sulit untuk diterima. Memandang wanita tua itu. dengan menggoyangkan kepala ia berkata.

"Permintaan Cianpwe menyulitkan orang."

Thio Bie   kie memancarkan sinar   mata penasaran. "Kau menolak."

"Boanpwe menolak."

Disamping mereka, si Ular Golis Sauw-tin menundukkan kepala. jawaban itu sudah berada didalam perhitungan dirinya.

Thio Bie Kie membentak. "Mengapa? Martabat muridku tidak dapat mengimbangimu?"

"Jodoh seseorang tidak dapat ditentukan dari seimbang atau tidak seimbang martabat-martabat mereka." Tan Ciu menemukan alasan. "Mengapa kau menolak mengawini muridku?" Bertanya lagi Thio Bie Kie.

"Bila aku berniat mengawini dirinya. aku dapat bicara langsung dengannya. Tanpa adanya paksaan orang ketiga."

"Maksudmu aku tidak boleh memaksa." "Kira-kira demikian."

"Bagus! Berani kau menentang diriku?" Thio Bie Kie tidak puas.

"Cinta bukanlah sesuatu yang boleh diperintah oleh seseorang," Tan Ciu tidak gentar kepada Penghuni Guha Kematian.

Thio Bie Kie memperhatikan wajah si pemuda terlalu berani, sangat menantang. berambekan besar, bertabiat keras, sangat luar biasa! Kesan kepada Tan Ciu menjadi baik.

Teringat kepada cintanya yang mengalami kegagalan, mungkinkah jodohnya dengan Kho Liok dapat diperintah oleh seseorang. Kenangan lama membuat Thio Bie Kie melamun.

Tan Ciu sangat puas dan ia berkata. "Bagaimana dengan jalan kedua?"

Thio Bie Kie mengangkat pundak, ia berkata singkat.

Sangat singkat, hanya satu patah kata. "K e m a t i a n !"

Tan Ciu melototkan matanya. Ia masih muda tentu tidak ingin memilih jalan kematian.

Thio Bie Kie berkata.

"Hanya dua jalan yang akan kusebutkanlah yang terbentang dihadapan dirimu." Tan Ciu bungkam, menerima jalan yang telah ditentukan orang. ia  tidak mau. Menentang petunjuk itu, berarti mempercepat riwayat hidupnya.

Ular Golis Siauw Tin membuka mulut. "Suhu ..." "Jangan kau turut bicara!" Thio Bie Kie membentak

murid itu.

Ular Golis bungkam.

Thio Bie Kie memperhatikan Tan Ciu dan membentak pemuda itu.

"Lekas kau pilih dua jalan itu!" "Tidak ada jalan ketiga?" "Tanpa jalan lain."

"Apa boleh buat aku harus memilih jalan yang kau sebut belakangan." Berkata Tan Ciu.

Suatu hal yang berada diluar dugaan Thio Bie Kie. Ia menyediakan dua jalan kepada pemuda itu. satu adalah jalan kematian, dan satu lainnya tersedia gadis cantik, jalan kebahagiaan. Dengan alasan apa, Tan Ciu menolak kesenangan memilih kematian ?

Mungkinkah si pemuda tidak takut mati? Tidak mungkin. Semua orang akan berusaha menghindari diri  dari kematian, menjauhi kematian. termasuk juga pemuda yang berada didepannya.

Penghuni Guha Kematian Thio Bie Kie mengeluarkan suara gerengan, kini mengangkat tangannya, bertindak maju mendekati pemuda itu.

Ular Golis menjadi kaget, ia berteriak. "Suhu . .!"

"Tutup mulut." Bentak wanita itu. "Pergi kau menyingkir jauh-jauh." Ular Golis sudah membuka mulut. maksud ingin memohon lagi. dibentak seperti itu. hatinya menjadi ciut, ketahui jelas. segala langkah sang guru sangatlah keras, tidak boleh diganggu.

Thio Bie Kie telah maju satu tapak. Tiba-tiba Tan Ciu berteriak.

Wajah Thio Bie Kie menjadi terang. Dengan puas ia berkata.

"Bersedia menerima tawaranku?" "Tidak." Berkata Tan Ciu.

"Apa lagi yang ingin kau kemukakan?" Bertanya wanita itu. Ia mengerutkan alis.

"Sebelum aku mati, ada beberapa patah kata yang ingin kukatakan. pesan ini kutujukan kepada muridmu."

O00de-^-wi00O