Pohon Keramat Jilid 14

Jilid 14

"CO YONG. . ." Biar bagaimana. Pek Pek Hap harus menarik kembali putri tersebut kedalam rangkulan dirinya.

Pek Co Yong membentak, tangannya dikibaskan, memukul kearah sang ibu.

Permaisuri dari Kutub Utara Pek Pek Hap menyingkir dari serangan itu, gesit sekali, ia telah berada  dibelakang Pek Co Yong, tangannya bergerak menotok jalan darah gadisnya.

Pek Co Yong tidak berhasil mengelakkan lagi dari totokan ibu lihay itu. Ia jatuh kedalam pelukkannya.

"Co Yong. . ." Pek Pek Hap memanggil perlahan. Air mata seorang ibu telah membasahinya.

"Ibu.. ." Pek Co Yong menangis sesunggukan. "Jangan kau berbuat tolol." kata sang ibu,

"Bu, aku sudah bosan hidup didunia yang seperti ini." "Lihatlah dikemudian hari."

"Mengapa Tuhan tidak adil? Mengapa menjatuhkan

malapetaka ini kepada kita?"

"Kita wajib hidup. Setiap manusia yang hidup didunia wajib mempertahankan dirinya dari segala macam penderitaan. Seperti sekarang ibumu alami. berapa banyak godaan hidup yang menekan. berapa banyak penderitaan telah kualami. Haruskah aku menyerah? Haruskah kubiarkan tak berakhir? Tidak. Semua telah terjadi. Segala derita kupikul sehingga hari ini."

"Ibu. . ."

"Kita wajib mempertahankan diri dari segala godaan hidup. Hanya seorang putri yang kupunyai... tegakah kau meninggalkan ibumu seorang diri?... Co Yong, kau adalah putriku. Bila ibumu dapat mempertahankan hidup merana, mungkinkah kau tidak sanggup menerimanya?"

"Ibu."

"Kuatkan imanmu, hidup adalah penderitaan, kita wajib mengatasinya. Kita akan bergandengan tangan, kita bahu membahu menyingkirkan kesulitan-kesulitan itu.

Pek Co Yong dapat diberi mengerti, ia menganggukkan kepalanya.

Wajah si Permaisuri dari Kutub Utara Pek Pek Hap bercahaya terang, terlihat senyuman walau penuh air mata. senyuman itu sangat cerah sekali.

"Kau adalah anak gadisku yang baik." Ia berkata puas. Dengan bergandengan tangan mereka balik kedalam

Benteng Penggantungan.

Permaisuri dari Kutub Utara Pek Pek Hap berhasil menahan kepergian gadisnya.

Didalam Benteng Penggantungan berkumpul banyak orang, mereka adalah sipengemis Tukang Ramal Amatir, si Bungkuk Kui Tho Cu, wakil ketua Benteng Penggantungan Co Yong Yen, wanita berbaju hitam Kang Leng dan Tan Ciu.

Mereka sedang merundingkan cara-cara yang terbaik untuk menyembuhkan penyakit Cang Ceng Ceng.

Memandang Co Yong Yen, Tan Ciu mengajukan pertanyaan.

"Nona Co, sebagai wakil ketua benteng mungkin kau tahu, bagaimanakah untuk memunahkan ilmu Ie-hun Tay- hoat?" "Kukira sangat sulit."

Pengemis Tukang Ramal Amatir berkata. "Nona Co, setelah kau berjanji untuk melepaskan diri dari Benteng Penggantungan, tidak perlu kau takut kepada si Telapak Dingin Han Thian Chiu. Kukira kau dapat memberi petunjuk yang baik."

Sibungkuk Kui Tho Cu turut berkata. "Betul. Kita dapat membangun suatu Benteng Penggantungan baru. Tanpa takut kepada ancamannya manusia durjana itu."

Co Yong Yen dapat diberi mengerti, ia  memberikan keterangannya.

"Kecuali ketua Benteng Penggantungan. hanya seorang lagi yang dapat menghilangkan ilmu Ie-hun Tay-hoat."

"Si apakah orang itu?" "Penghuni Guha kematian." "A a a a a . . .!"

Pengemis Tukang Ramal Amatir dan si bungkuk menunjukkan wajahnya yang tegang, sebagai dua tokoh terkemuka, tokoh-tokoh golongan tua, hanya dua orang ini yang mengetahui, siapa yang dimaksud dengan Penghuni Guha Kematian itu.

Diceritakan orang banyak bahwa Penghuni Guha Kematian sangat kejam dan telengas, tidak ada orang yang tahu pasti, lelaki atau wanita, tidak ada orang yang dapat menceritakan dengan lebih terperinci, bagaimana sifat Penghuni Guha Kematian itu.

Tan Ciu tidak tahu menahu tentang Penghuni Guha Kematian, dan ia bertanya. "Bagaimana sifat-sifatnya Penghuni Guha Kematian itu?"

Co Yong Yen menggelengkan kepala. Memandang si Tukang Ramal Amatir, Tan Ciu menyampaikan pertanyaan yang sama.

"Tentunya cianpwe tahu "

Penghuni Guha Kematian adalah seorangg tokoh maut, seorang tokoh silat yang menyeramkan. belasan tahun yang lalu, tersiar berita tentang adanya Guha Kematian ini. Beberapa tokoh silat ingin mengecek kebenarannya beramai-ramai mereka memasuki Guha kematian . ."

"Satu persatu mati didalam guha itu?" Tan Ciu menduga kepada kekejamannya.

"Mereka tidak mati, hanya "

"Tidak ada seorang pun yang mati ?" "Betul."

"Apa pula keseraman dari guha tersebut?"

"Tidak seorang pun dari tokoh-tokoh silat yang masuk kedalam Guha Kematian yang mati, tapi tidak seorang pun dari mereka yang hidup normal, mereka telah menjadi linglung dan sinting, otak mereka telah dimiringkan."

"Ohhh "

"Hidup seperti itu adalah lebih menderita daripada kematian."

”Apakah dibuktikan kebenaran ini?" Kui Tho Co turut berkata.

"Tidak perlu disangsikan lagi. Aku pernah melihat beberapa dari orang-orang berotak miring itu."

Tan Ciu mengerutkan alisnya. Dipandangnya keadaan Cang Ceng Ceng yang telah dibaringkan ditempat tidur, ia segera mengambil putusan, dengan mengertek gigi ia berkata,

"Sungguhkah bahwa si Penghuni Guha Kematian itu dapat menyembuhkan orang yang telah di Ie-hun Tay- hoat?"

Co Yong Yen memberikan kepastiannya. "Pasti!" "Bagaimanakah kau tahu pasti ?"

"Pocu kami pernah menyebut hal ini." Yang dimaksud dengan sebutan pocu adalah ketua Benteng Penggantungan mereka.

Tan Ciu segera mengambil putusan, katanya, "Baik.

Segera kutemukan Penghuni Guha Kematian itu." Si pengemis tua tersentak kaget.

"Hei, kau ingin pergi kesana?" Ia menatap si pemuda itu. "Hanya jalan yang satu ini yang dapat kuharapkan." "Inipun jalan kematian."

"Kematian bagiku. Kehidupan baginya."

"Tidak dapat kami biarkan kau mencari kematian seperti itu."

"Hanya menjadi seorang sinting, orang yang sakit ingatan, belum tentu mati, bukan?"

"Apa akibatnya, setelah kau menjadj seorang yang tiada ingatan?"

"Setiap   jalan yang dapat   menyembuhkannya harus ditempuh."

"Bila Penghuni Guha Kematian itu tidak mau menolong Cang Ceng Ceng?" "Kukira ia mau."

"Berpikirlah masak-masak dahulu." "Telah kupikir dengan masak."

Dan Tan Ciu meminta diri kepada semua orang. Tekadnya yang ingin pergi keguha kematian tidak dapat diubah lagi.

Kui Tho Cu masih ingin mencegah, hanya tidak ada alasan yang dapat diutarakan. Ia diam.

Pengemis Tukang Ramal amatir berkata. "Silahkan. Kau boleh berusaha."

"Dimanakah letak tempat Guha kematian itu?" "Didaerah pegunungan Ceng-in."

"Terima kasih."

Digendongnya tubuh Cang Ceng Ceng dan meninggalkan ruangan itu. Tiba dipintu ia membalikkan kepala memandang Co Yong Yen dan berkata kepadanya.

"Lupa memberitahu kepadamu. Cendekiawan Serba Bisa Thung Lip menantikan dikamar tahanan bawah."

Co Yong Yen menganggukkan kepala. "Segera kutemui dirinya."

Tan Ciu siap pergi.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu, kini memandang si Tukang Ramal Amatir dan berkata kepadanya.

"Cianpwe, ada sesuatu yang ingin menyusahkanmu." "Tentang apa?"

Dari dalam saku bajunya, Tan Ciu mengeluarkan sejilid kitab. Diserahkannya kitab tersebut dan berkata. "Didalam kitab ini tercatat ilmu silat maha tinggi, tidak sejurus pun yang tidak luar biasa, Ambillah."

"Darimana kau dapat?" Bertanya si pengemis itu.

"Atas petunjuk guruku dengan adanya sebuah gambar peta, disuatu guha dipegunungan yang sepi, aku telah mendapatkannya sayang latihan tenagaku tidak sempurna. tidak berani melatih terlalu banyak. Hanya sebagian dari catatan-catatan ilmu silat yang dapat kupelajari."

Tukang Ramal Amatir tertegun, bertanya. "Mengapa kau serahkan kepadaku?"

"Kepergianku ini belum tentu dapat kembali lagi. Sungguh sayang bila sejilid kitab pusaka turut terpendam. Terimalah."

"Biar kusimpan untuk sementara. Bila kau masih membutuhkan kau boleh meminta kembali." berkata pengemis tua itu.

Tan Ciu mengayun langkahnya, sepasang mata si pemuda berumbuk dengan lain pasang mata. Itulah sepasang mata Pek Co Yong yang telah menghadang dirinya.

"Nona Pek " Ia meminta jalan.

Pek Co Yong berkata dengan kejut, "Tekad kepergianmu tidak bisa diubah lagi?"

Tan Ciu menganggukkan kepala.

"Baiklah." Co Yong menghela napas lemah. "Biar kuantar dirimu sampai didepan."

Tan Ciu tidak menolak etikad baik ini, teringat hubungan mereka yang sudah lama. mengingat belum tentu mereka dapat berjumpa kembali dan mengingat hari depan mereka yang sudah menjadi sangat suram. Pek Co Yong mengiringi kepergian Tan Ciu, mereka keluar dari Benteng Penggantungan.

Waktu menjelang magrib. bayangan mereka terpeta panjang, dengan menggendong tubuh Cang Ceng  Ceng, Tan Ciu tidak bicara.

Pek Co Yong membayangi pemuda itu dengan langkah berat, tidak lama lagi, mereka segera berpisah, mungkin perpisahan untuk seumur hidup mereka.

Mereka berjalan sama-sama, tapi tidak sebuah kata pun yang diucapkannya.

Setengah lie lagi. Tan Ciu menghentikan  langkahnya. Pek Co Yong menatap wajah sipemuda, ia ingin menanam satu kenangan yang paling mendalam.

"Nona Pek." berkata si pemuda perlahan, "Terima kasih kepada kesediaanmu yang mau mengantarkanku sampai sejauh ini."

"Baik-baiklah diperjalanan," Air mata Pek Co Yong menjadi basah.

"Selamat berpisah."

"Tidak kusangka. Begitu cinta kau kepadanya. Sehingga bersedia mengorbankan diri sendiri untuk menyembuhkan penyakitnya."

"Apa yang telah kuberikan kepadamu. lebih dari pada itu." Berkata si pemuda.

"Aku tidak percaya." Berkata si gadis.

"Aku   nyaris   binasa   karena  ingin   menolongmu      Itu

waktu kau terluka, dengan menerjang segala macam bahaya, aku memasuki perkumpulan Iblis Merah.. aku berhasil  mengambil  obat.  Seharusnya  kau  tahu     dalam mataku, posisi kedudukanmu masih berada diatas  nona ini."

"Sungguh?"

Tidak dapat disangkal sama sekali. Pek Co Yong mengucurkan air mata dengan deras. Tan Ciu turut bersedih. ia berkata.

"Sayang, nasib mempermainkan kita."

"Nasibku memang buruk." Pek Co Yong menyusut air mata, "Pergilah. Selamat tinggal."

Tanpa menoleh lagi, Tan Ciu membawa Cang Ceng Ceng meninggalkan Benteng Penggantungan, meninggalkan lembah Siang-kiat.

Keluar dari mulut lembah. Tan Ciu mempercepat langkahnya. Ia menuju kearah pegunungan Ceng-in. Tiba - tiba terdengar ada suara bentakan!

"Dapatkah saudara itu menghentikan langkahnya?"

Tiga orang berbaju kuning telah melintang ditengah jalan, mereka menghadang perjalanan si pemuda.

"Apa maksud kalian?" Bertanya Tan ciu kepada ketiga orang itu.

"Tempat inikah yang diberi nama lembah Siang-kiat?" Berkata orang berbaju kuning yang ditengah, orang itu lebih tua dan kedua kawannya.

"Betul." Tan Ciu membenarkan pertanyaan. "Dilembah inikah letak Benteng Penggantungan?" "B e n a r ." "Terima kasih." Sambil mengajak kedua  kawannya, orang tua berbaju Kuning itu berkata. "Mari kita melanjutkan perjalanan."

Cepat bagaikan  kilat, ketiga bayangan itu langsung masuk kedalam lembah Siang-kiat, tujuannya adalah Benteng Penggantungan.

Tan Ciu masih tertegun ditempat. Siapakah ketiga orang berbaju Kuning itu? Dilihat dari gerak-gerik, tidak seorang pun yang berkepandaian rendah, apa maksud tujuannya ke Benteng Penggantungan?

Siapakah ketiga orang itu?

Mari kita mengikutinya. Ketiga orang berbaju kuning menuju ke-arah Benteng Penggantungan.

Yang berjalan ditengah adalah seorang tua. dia adalah kepala regu dari ketiga orang tadi. Satu dikanan dan satu dikiri, mereka mengawasi si kepala regu Yang kanan berhidung bengkung, inilah manusia  yang  paling berbahaya. Yang disebelah kiri berwajah cakap, wajah cakap belum berarti mempunyai hati yang bersih.

Siapakah yang tahu, rencana apa yang sedang dijelemitkan olehnya.

Tiba-tiba si wajah cakap menghentikan langkanya. "Tunggu dulu!" Ia berteriak.

Orang tua itu mengerutkan keningnya diketahui bahwa si wajah cakap menjadi penasehat mereka. Tidak sedikit rencana-rencana buruk keluar dari hatinya.

"Ada sesuatu yang aneh?" Ia mengajukan pertanyaan. "Tidakkah kalian melihat keanehan?" Berkata si wajah

cakap itu. "Dimanakah letak keanehan?" Bertanya sihidung bengkung.

"Pemuda tadi."

"Mengapa?" Sang kepala regu bertanya. "Darimana ia keluar ?"

"Aia " Si hidung bengkung terteriak. "Ia meninggalkan

lembah Siang kiat!" "Betul."

"Bolehkah memisalkan, ia keluar dari Benteng Penggantungan."

"Aiaa "

'Tentu kalian perhatikan wajahnya." "A a a a "

"Itulah wajah yang digambarkan olehnya." "Betul!"

"Pemuda inilah yang kita cari?"

"Pasti."

"Hampir kita lepaskan kesempatan ini."

"Hampir saja ia terlolos dari tangan kita. Mari kita tanyakan dirinya," berkata si orang tua berbaju kuning.

Ketiga-tiganya balik kembali mengejar Tan Ciu.

Tan Ciu yang sedang menggendeng Cang Ceng Ceng, tidak hujan tidak angin telah dibentak-bentak oleh tiga orang berbaju kuing. Kemudian ditinggalkan begitu saja. Ia meneruskan perjalanan dengan rasa dongkol. Berderu-deru aogin datang, tiga bayangan yang  telah pergi itu melesat kembali, mereka berteriak keras.

"Saudara didepan, diharap menahan langkah kakimu!"

Tan Ciu berbalik. menantang mereka dan memperhatikannya. Seorang yang agak tua berjalan ditengah, dikanan adalah si hidung bengkung. dikirinya adalah sihati busuk.

Apalagi yang ingin ditanyakan kepada dirinya?

Ketiga orang berbaju kuning itu memperhatikan wajah dan potongan badan si pemuda lebih seksama dan lebih lama.

Tan Ciu menentang pandangan mereka!

"Masih ada pertanyaan lain?" Ia membuka suara lebih dahulu,

Orang tua berbaju  kuning yang diapit oleh kedua kawannya bergumam. "Betul! Sangat cocok dengan gambaran yang diberikan olehnya."

Tan Ciu masih belum mengerti bahwa dirinya sudah berada dibawah pengawasan orang. Ia bertanya.

"Apa yang kalian cocokkan."

Orang itu tertawa, sangat misterius sekali.

"Kau baru meninggalkan Benteng Penggantungan!" Ia bertanya.

Tan ciu menganggukkan kepala, "Betul."

"Orang yang bernama Tan Ciu?" Bertanya lagi orang tua itu.

Betapa buteknya pun pikiran si pemuda, mana pula mendapat pertanyaan seperti ini, ia pun sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Ia tidak segera menjawab pertanyaan itu. Tentunya ada sesuatu yang dikandung oleh ketiga orang berbaju kuning tersebut.

= o o OdwO o o =

Tiga orang berbaju kuning tidak kenal Tan Ciu, tapi mereka dapat menyebut nama si pemuda agak aneh! Tan Ciu tidak segera memberikan jawaban.

"Siapa kalian bertiga?" Ia harus tahu, siapa dan bagaimana nama sebutan ketiga orang itu.

"Kau belum lagi menjawab pertanyaanku." Berkata siorang tua.

"Mengapa haruss menjawab segala pertanyaan kalian?" Wajah orang tua berbaju kuning ditekuk.

"Kau Tan Ciu?" Ia mengulangi pertanyaan, "Apakah maksud pertanyaan ini?"

"Kau mengakui pertanyaan kami?" "Aku tidak mengaku."

"Kau bukan Tan Ciu?"

"Ada urusan apa mencarinya?"

"Ada....." Orang tua itu menyeringai sinis dengan penuh kemisteriusan, ia berkata. "Ada sesuatu rahasia yang harus disampaikan kepadanya."

"Rahasia apa?" "Kau Tan Ciu." "Betul." Wajah ketiga orang berbaju kuning menunjukkan rasa girang mereka.

"Putra Tan Kiam Lam?" Bertanya lagi si orang tua baju kuning.

"Tidak salah."

"Murid si Putri Angin Tornado." "Sangat tepat."

"Hampir kami kehilangan jejakmu." Berkata orang tua itu kejam.

"Apa maksud kalian sebenarnya." Bertanya Tan Ciu. "Kami mendapat tugas untuk menemukanmu." "Tugas? Apa tugas kalian ?"

"Ikutlah kepada kami." "Kemana ?"

"Jangan tanya disaat ini. Nanti setelah tiba ditempat tujuan kau akan segera mengerti sendiri."

Tan Ciu sangat tidak puas.

"Aku tidak ada waktu." Ia berkata ketus.

"Biar bagaimana, waktu ini harus kau ada kau." Berkata ketiga orang berbaju kuning itu, mereka memaksa.

"Ingin menggunakan kekerasan?" "Ha ha ha . . ."

"Ketahuilah bahwa nona ini sedang menderita sakit dan

harus segera disembuhkan, semuanya harus diselesaikan setelah ia sembuh." "Berapa lama kau harus suruh kami menunggu sampai dia sembuh?"

"Waktu ini belum dapat kutetapkan." "Mengapa ?"

"Aku harus membawanya ke Guha Kematian."

"Apa? Ke Guha Kematian ?! ..  . Kau ingin masuk kedalam guha maut itu ?"

"Betul."

"Wah, permintaanmu tidak dapat kami kabulkan. Kau harus ikut segera. Manusia manakah yang masuk kedalam Guha kematian dapat muncul kembali didalam keadaan normal."

Wajah Tan Ciu berubah. "Bila aku menolak ?"

"Jumlah kami ada tiga orang. Kami dapat memaksa kau segera turut serta."

"Baik, akan kulayani permintaan kalian." "Dari golongan manakah kalian bertiga ?"

Dari baju seragam kuning itu, Tan Ciu menduga kepada salah satu golongan dari dalam rimba persilatan.

"Belum waktunya kau tahu." Jawab orang tua yang menjadi pemimpin mereka.

"Kalian mau maju satu persatu, atau main keroyokan yang kalian mau ?"

Si wajah bajingan cakap mencalonkan dirinya.

"Tan Tongcu, serahkan kepadaku.” Ia meminta tugas. Orang tua yang dipanggil Tan Tongcu tidak segera mengabulkan permintaan itu. Ia memandang kearah sihidung bengkung.

"Biar aku yang membantu keramaian." Ia berkata. Tan Tongcu itu menganggukkan kepala. Ia setuju.

Dua orang berbaju kuning menjepit Tan Ciu. si hidung bengkung dan disebelah kiri adalah si bajingan wajah cakap.

Tan Ciu masih diliputi oleh rasa bingung, siapakah orang-orang berbaju kuning ini? belum pernah ada permusuhan dengan golongan yang menggunakan seragam kuning, mengapa mereka mengancamnya?

Terdengar sihidung bengkung berkata.

"Kami tidak suka menarik keuntungan dengan adanya bebanmu itu. Letakkanlah gadis yang terluka itu ditanah, agar kita dapat bertempur dengan lebih leluasa lagi."

Si hidung bengkung memang pandai bicara, maksud sangat jelas, bila mereka tidak sanggup melawan pemuda ini, Tan Tongcu, orang tua yang  menjadi kepala regu mereka itu dapat mencomot Cang Ceng Ceng dan melarikannya ketempat jauh, dengan demikian, mereka masih dapat memancing datang si pemuda.

Bila dikatakan tak mau menarik keuntungan. kata-kata itu adalah kata-kata obrolan kosong. Dengan majunya mereka berdua, sudah terang gamblang dan jelas, mereka menarik keuntungan dari jumlah orang yang terlebih banyak.

”Hehem. . ." Tan Ciu mengeluarkan suara dari hidung. "Apa yang kau denguskan?" Bentak si bajingan wajah

cakap. "Biar aku yang berunding dengannya." Berkata sihidung bengkung. Ia mengirim satu kerlingan mata, kerlingan tanda isyarat.

Si wajah bajingan cukup mengerti. Ia mengundurkan diri.

Tan Tongcu segera berteriak. "Biarkan aku yang menghadapinya."

Ia khawatir pembantu-pembantunya tidak kuat menghadapi Tan Ciu, maka ia sendiri turun,

Si hidung bengkung juga mengundurkan diri.

Orang tua berbaju kuning dan Tan Ciu telah berhadap- hadapan.

Tan Ciu melepaskan Cang Ceng Ceng, dengan tenang, ia siap menghadapi serangan lawannya.

Tan Tongcu ini menggeram. "keluarkan senjatamu." Pada tangannya telah bertambah sebatang pedang,

gerakannya gesit sekali. Tidak terlihat bagaimana ia mengeluarkan pedang itu.

Tan Ciu juga menarik pedang dari tempatnya. Tiba-tiba......

Orang tua berbaju kuning yang dipanggil Tan Tongcu itu telah melejit, ia mengirim satu tusukan pedang.

Hebat. Dari jurus pertama serangan lawan. Tan Ciu dapat membedakan betapa tingginya ilmu kepandaian orang tua ini. Ia menutup serangan tersebut.

Tangkisan pedang si pemuda mengandung tiga perubaban, bagaimana pun perubahan lawan pasti dapat ditangkis olehnya. Dan betul saja Tan Ciu dapat menyingkirkan serangan itu. Traaaanngg.....

Dua orang terpisah. Begitu cepat mereka terdesak mundur, begitu cepat pula, masing2 merangsek. Setiap orang mengirim tiga tusukan pedang. setiap tusukan mengandung dua unsur, menyerang dan bertahan.

Wajah si orang tua baju kuning berubah. Hati Tan Ciu menjadi gentar. Kepandaian lawan tidaklah berada dibawah dirinya.

Mengingat masih ada lawan yang menunggu giliran, Tan Ciu harus cepat-cepat menyelesaikan pertempuran itu. Timbul niatnya untuk mengadu jiwa.

Tan Tongcu telah menyerang lagi. Tan Ciu melayaninya setiap serangan dengan serangan pula, itulah cara mati untuk bersama.

Semakin lama, pertempuran itu bertambah seru.

Sebentar kemudian puluhan jurus telah dilewatkan.

Si hidung bengkung dan si bajingan cakap gatal tangan. "Lihat," berkata si hidung bengkung. "Bilakah

Pertempuran selesai?"

"Mereka sama kuat, sama hebat." Si bajingan cakap menganggukkan kepala.

"Meringkus si gadis yang terluka." "Tapi Tongcu bisa celaka."

"Bila kau bersedia "

"Apakah maksudmu, suruh aku terjun kedalam gelanggang pertempuran?"

"Betul." Si wajah bajingan mengeluarkan pedang, benar saja ia sudah mengirim dua tusukan, arahnya punggung belakang Tan Ciu.

Digempur seorang berbaju kuning, Tan Ciu berat untuk menyingkirkan serangan-serangannya, kini ditambah seorang musuh lagi, bagaimana ia tidak cepat kalah? Keringat membasahi sekujur badannya.

Tan Tongcu menyerang dari bagian depan. si wajah bajingan menusuk punggung pemuda itu.

Tan Ciu melupakan keselamatan jiwanya, Pedang dibolak balikkan menyerang tiga kali.

Terdengar suara ceramah dua orang. Telah pada pecah dan rusak kulit ditubuh Tan Ciu oleh si bajingan tampan, karena masing-masing telah menerima satu tusukan. Goyahlah posisi kedudukan mereka.

Tan Ciu bersedia memasang posisi baru, disaat ini datang pukulan, tanpa dapat ditolak, ia terjatuh.

Itulah pukulan Tan Tongcu yang tepat mengenai lawannya. Ditambah dua kali totokan lagi, Tan Ciu berhasil dibuat mati kutu.

Si wajah bajingan tampan menyeringai. "Kepandaiannya hebat."

"Lekas periksa tubuhnya." Tan Tongcu memberi perintah.

Si hidung bengkung sudah merogoh seluruh  kantong baju Tan Ciu, agaknya sedang mencari sesuatu.

Apa yang diinginkan oleh ketiga orang berbaju kuning  ini ?

Didalam kantong baju Tan Ciu hanya terdapat satu botol obat Seng-hiat-hoan-hun-tan. Tidak ada benda lain. Si hidung bengkung tidak berhasil menemukan barang yang dicari. Dikeluarkan botol obat Seng-hiat-hoan hun-tan dan dimasukkan kembali.

"Tidak ada." Ia memberi laporan.

Tujuan mereka bukan pada obat Seng-hiat hoan-hun-tan.

Apakah yang diingini olehnya?

Tan Tongcu memandang si wajah bajingan cakap dan berkata. "Coba kau periksa sekali lagi."

Si wajah bajingan cakap mengulangi pemeriksaan, sekujur badan Tan Ciu telah digerayangi, lebih jelas dan lebih lama, ia pun gagal menemukan barang yang dikehendaki.

"Tidak ada." Ia putus harapan.

"Tidak mungkin!" Tan Tocgcu berteriak. "pasti berada dibadannya."

"Sangat mengherankan." "Mengapa tidak ada padanya ?"

"Mungkiakah telah diserahkan kepada seseorang?" "Oh. diserahkan kepada lain orang?"

"Pasti!"

"Celaka, tidak ada pada dirinya." "Tan Tongcu, kompes dirinya."

Tan Tongcu itu menganggukkan kepala. jarinya bergerak

cepat menghidupkan jalan-jalan darahnya Tan Ciu yang telah dibekukannya.

Tan Ciu siuman kembali. Luka yang diderita tidak ringan, dan dibawah ancaman orang berbaju kuning itu, ia belum dapat bergerak. "Katakan." Bentak Tan Tongcu. "Dimana kitab Thian- mo Po-liok ?"

Segala kepangpetan hati sipemuda terbuka, ternyata maksud tujuan orang-orang berbaju kuning ini pada kitab pusaka yang telah diserahkan kepada si Tukang Ramal Amatir.

"Ooo.... Kalian menginginkan kitab tersebut." Ia tertawa enteng.

"Betul. Dimana kau letakkan kitab tersebut."

"Eh. bagaimana kau tahu, bahwa aku memiliki kitab Thian mo Po-liok?"

Adanya kitab Thian-mo Po-liok pada Tan Ciu hanya diketahui oleh beberapa gelintir orang. Bagaimana dapat tersebar luas?

Tan Ciu harus menjetahui rahasia itu.

Tan Tongcu memberikan jawaban ketus. "Kau tidak perlu tahu."

Tan Ciu mengasah otak. Rahasia kitab didapat dari gurunya. tidak ada orang ketiga, entah mengapa, mendadak sontak, guru tersebut telah lenyap. Bila menghubungkan kejadian hari ini. tentunya ada hubungan yang sangat erat.

Mungkinkah si Putri Angin Tornado Kim Hong Hong telah celaka dibawah tangan orang-orang ini?

"Hei!" bentak Tan Tongcu, "mengapa kau tidak bicara?" "Apa yang harus kukatakan?"

"Dimana kau sembunyikan kitab Thian-mo-po-liok?" "Kalian ingin tahu?"

"Tentu." "Aku akan memberikan jawaban  ini. setelah kalian menjawab beberapa pertanyaanku, Tidak pantas, bila kesempatan hak bertanya di monopoli oleh kalian. Sudah waktunya aku mendapat giliran mengajukan pertanyaan."

"Sebutkan pertanyaan-pertanyaanmu itu." "Dimana kini guruku berada?" "Gurumu?"

"Ya! Putri Angin Tornado Kim Hong Hong." "O o o o o . . ."

"Tentunya kalian dapat tahu rahasia kitab Thian-mo Pa-

liok darinya, bukan?" "Betul."

"Dimana ia berada?" "Ia telah tiada." "Mati!?"

"Betul."

"Oh. . .Siapa yang membunuhnya?.” "Ayahnya sendiri."

"Ayah guruku?" Tan Ciu memancarkan sinar mata penasaran. "Mana mungkin! Tidak bisa! Mana mungkin seorang ayah membunuh putri sendiri?"

"Mengapa tidak mungkin? Kenapa cinta kepada Sim In, si Putri Angin Tornado Kim Hong Hong melarikan pusaka ayahnya, itulah Singa Emas Kim Say Cu. dimana terdapat gambar pusaka, ia telah berkhianat. dan hukuman itu ialah mati." "Siapakah orang yang tidak mempunyuai hati manusia, he? membunuh putri kandung sendiri?"

"Ketua kami."

"Siapa ketua kalian? Perkumpulan apakah  yang dibangun olehnya?"

"Jangan kau tanyakan tentang hal ini. Kini giliranmu memberikan jawaban. Dimana kitab Thian-mo Po-liok disembunyikan?"

"Ceritakan dahulu tentang keadaan ketua kalian itu?" Wajah Tan Tongcu berubah merah dan biru bergantian.

Ia membentak.

"Kau ingin mati dibawah tanganku?!" berkata Tan Tongcu. Ia menotok keras jalan darah pegal linu si pemuda. Dengan tiba-tiba bagaikan ada ribuan semut menyerang tubuh Tan Ciu, mendapat satu tekanan berat, suatu penderitaan yang luar biasa.

Ia mengertak gigi dan masih tidak tahan, akhirnya mengeluarkan gerengan. Tan Tongcu tertawa puas.

"Tidak mau mengatakan juga?" Ia mengancam. "Kau mengimpi."

Tan Tongcu menambah siksaannya. Butiran2 keringat yang besar-besar berjatuhan dari jidat Tan Ciu, Namun demikian. si pemuda tetap berkukuh. Tidak mau ia membuka rahasia.

"Katakan." bentak lagi Tan Tongcu.

"Ti....dak." Tan Ciu sudah benar-benar tidak sanggup menerima siksaan-siksaan itu, akhirnya ia jatuh pingsan.

Hal ini berada diluar dugaan orang-orang berbaju kuning. "Dasar kepala batu." Mengoceh Tan Tongcu.

"Kita bangunkan lagi. Dan siksa dengan siksaan yang lebih berat."

"Seorang kepala batu tidak dapat dilawan dengan kekerasan."

"Gorok saja lebernya beres."

"Tapi bagaimana dengan kitab Thian mo Po-liok?" "Betul, Hanya dia seorang yang tahu."

"Mengapa kaucu menginginkan kitab itu?" Kaucu sama artinya dengan ketua sesuatu aliran.

"Siapakah yang tidak suka kepada kitab pusaka ?" "Kita serahkan kepada kaucu?"

Tan Tongcu menganggukkan kepala. "Bagaimana dengan gadis itu?" Ia menunjuk kearah Cang Ceng Ceng,

"Ia tidak ada gunanya bagi kita, tinggalkan saja." "Mari kita berangkat."

Tiga orang berbaju kuning siap berangkat pergi, mereka batal memasuki lembah Siang-kat. Pada punggung si hidung bengkung tergendong Tan Ciu.

Hanya belasan tombak . . .

Tiba-tiba terdengar satu bentakan yang menggelegar keras!

"Berhenti !"

Seorang berselubungkan kain hitam dimukanya telah menghadang didepan ketiga orang berbaju kuning. "Turunkan pemuda itu!" Demikian orang berbaju hitam itu membentak.

Siapa dan bagaimana sebutan tuan yang mulia?" Berkata Tan Tongcu kepada yang menghadang jalan.

"Kukatakan, segera turunkan pemuda itu!" Bentak lagi si kerudung hitam.

"Bila kami tidak mau turut." Si wajah bajingan cakap menantang.

"Oh, ingin membangkang? Inilah bagianmu," Berkata orang berselubung kain hitam itu, ia menggerakkan tangan.

Terdengar jeritan si wajah bajingan, tubuhnya pecah dan darah merah bersemburan. Tubuh wajah bajingan itu telah jatuh, tubuh Tan Ciu juga turut jatuh.

Tan Tongcu dan si hidung bengkung terkejut sekali melihat itu.

"Masih berani menantang?" Membentak lagi orang itu dengan sikap galak.

Tan Tongcu tidak dapat menahan kemarahannya, ia membentak keras, tubuhnya menubruk maju,  mengirim satu pukulan.

Ilmu tenaga dalam Tan Tongcu luar biasa, serangan tadi pun memberi tahu lebih dahlu sangat jahat sekali.

Walau pun berkepandaian tinggi, tidak berani si baju hitam menerima serangan itu, tubuhnya melesat mundur, tapi secepat kilat. tubuhnya kembali mengarah Tan Tongcu.

Tan Tongcu berganti arah, memapaki pukulan tersebut. Buummm . . .!!

Terdengar suara yang sangat gemuruh, tubuh Tan Tongcu terdesak mundur, sangat jauh. "Bagaimana ?" Orang berbaju hitam itu mengejek.

"Ilmu kepandaianmu membuat orang takluk." Berkata Tan Tongcu.

"Terima kasih. Bila kau tahu diri. silahkan pergi." "Tapi aku belum mengetahui nama tuan yang mulia." "Pemilik Pohon Penggantungan."

"Aaaaaaaa "

Tan Tongcu dan si hidung bengkung terkejut, nama Pemilik Pohon Penggantungan terlalu seram, ternyata mempunyai ilmu kepandaian luar biasa!

"Kau......kau yang menjadi pemilik Pohon Penggantungan?" Ia bertanya gugup.

"Tidak percaya."

"Hari ini kami menyerah kalah." Dan tanpa menengok kearah tubuh Tan Ciu yang belum sadarkan diri. kedua orang berbaju kuning itu minggat pergi. Meninggalkan mayat si Wajah bajingan yang sudah tiada bentuk.

Orang berbaju  hitam itu menyeret tubuh Tan Ciu. berpikir sebentar. dan meletakkannya lagi, ia  mengubah rencana!

Percayakah pembaca bahwa orang ini sebagai Pemilik Pohon Penggantungan?

Dia seorang laki-laki, dan Tan Ciu harus kenal kepada wajahnya, itulah si Ketua Benteng Penggantungan Tan Kiam Lam.

Bukan, bukan Tan Kiam Lam. Dia adalah si Telapak Dingin Han Thian Chiu

Hei, Mengapa Han Thian Chiu menolong Tan Ciu ? Jangan terburu napsu pembaca, Han Thian Chiu mempunyai rencananya sendiri. terlihat ia mengeluarkan gumaman,

"Seharusnya aku tidak membunuhmu, tapi keadaan telah berkembang seperti ini. Mau tidak mau aku harus mengorbankan dirimu.

Sengaja ia menolong Tan Ciu dari tangan orang-orang berbaju kuning, sengaja dikatakan kepada mereka bahwa dirinya sebagai Pemilik  Pohon Panggantungan. Maka orang-orang berbaju kuning yang berkekuatan besar itu akan menuntut balas kepada Pemilik pohon Penggantungan. Inilah maksud tujuan Han Thian Chiu.

Kini ia ingin membunuh Tan Ciu. Ia  tidak puas membunuh orang yang sedang meram seperti mayat, ia membuka totokan pemuda itu.

Tan Ciu membuka kedua matanya. Masih terlalu suram, samar-samar seperti ada seseorang berdiri dihadapannya.

Han Thian Chiu tertawa kejam. "Masih  kenal kepadaku?"

Tan Ciu dapat melihat  jelas  si wajah  orang ini. "Kau " Hampir ia tidak percaya kepada kenyataan.

"Betul. Aku." Berkata Han Thian Chiu dengan jelas. "Kau yang menolong diriku?"

"Betul!"

"Dimana aku berada?"

"Sedang berada didalam perjalanan yang sedang menuju kearah dunia alam baka."

"Bagus. Tapi sebelum aku mati, aku ingin mengetahui lebih dulu tentang keadaan ayahku." Berkata Tan Ciu. "Ayahmu telah mati." Berkata Han Thian Chiu. "Dibawah tanganmu?"

"Boleh dikata demikian."

"Tidak takut mendapat tuntutan. Aku harus membikin perhitungan denganmu. Hutang darah harus  dibayar dengan darah juga!"

"Haaa, haaa .... Kau juga segera akan menyusul ayahmu dilain dunia."

Tan Ciu mendongakkan kepala yang tertunduk, dengan gagah berkata. "Betul. Aku akan binasa, tapi masih banyak orang yang akan mencari dirimu."

"Haa...haaa Siapakah yang berani mencari diriku?"

"Jangan terlalu cepat puas pada diri sendiri. Ketahuilah bahwa tidak sedikit orang2 yang berkepandaian tinggi seperti Cang Ceng Ceng "

"Haa...ha, haaa....Cang Ceng Ceng telah memberikan ilmu catatannya kepadaku, dengan ilmu kepandaianku, ditambah dengan ilmu lain. siapakah yang dapat mengalahkanku?" Han Thian Chiu sangat puas.

Han Thian Chiu memandang Tan Ciu, ia mengajukan pertanyaan, "Masih ada soal lain yang belum jelas?"

Tan Ciu berdengus.

"Bertekuk lututlah minta pengampunan." Kata Han Thian Chiu.

"Kau mengimpi," Jawab Tan Ciu ketus.

"Bagus, Pergilah kau menyusul ayahmu dialam baka." Berkata Han Thian Chiu, ia mengangkat tinggi tangan itu, siap membunuh si pemuda. Tiba-tiba . . .

Terdengar satu bentakan yang keras. "Tahan!”

Seorang berkerudung hitam tampak muncul dihadapan mereka, orang inilah yang mengadakan pencegahan!

"Siapa?" Memandang orang itu,   Han Thian Chiu bertanya.

"Nama siapa yang telah kau gunakan?" Balik tanya orang tersebut.

"Kau Pemilik Pohon Penggantungan?" "Betul!"

Tan Ciu tersentak kaget, memandang orang yang baru datang, mungkinkah orang itu yang menjadi ibunya.

Han Thian Chiu tertawa dingin. "Ingin menolong anakmu ?"

Pemilik Pohon Penggantungan berkata dengan nada dingin.

"Jangan kau ingin mengorek rahasia orang, Dia anak siapa, kau tidak perlu tahu."

Han Thian Chiu menggerakkan tangan, memukul kearah ubun-ubun Tan Ciu.

Orang berkerudung yang baru datang meraihkan tangan dan melempar benda-benda halus kearah Han Thian Chiu.

Terlihat lima bintik hitam melayang kearah lima jalan darah penting Han Thian Chiu.

Bila Han Thian Chiu meneruskan maksud yang ingin membunuh Tan Ciu. setelah Tan Ciu mati. dia sendiri pun tidak akan berhasil menghindari serangan senjata rahasia musuh. Maka ia membatalkan niatnya, ia lompat tinggi. Lima lembar daun menancap dipohon, daun itulah yang menolong Tan Ciu dari kematian.

Dikala Han Thian Chiu melompat tinggi, setelah menyerang dengan senjata rahasia, tubuh Pemilik Pohon Penggantungan lompat maju, ia menerjang Han Thian Chiu.

Han Thian Chiu masih ada niatan untuk membunuh Tan Ciu. tapi dirinya diserang, jiwa sendiri lebih penting, ia mengerahkan telapak tangan menyambuti datangnya serangan.

Karena keterlambatan tersebut. Han Thian Chiu diserang sehingga berulang kali. Pemilik  Pohon Penggantungan memang luar biasa, tanpa istirahat, ia menyerang sehingga 12 kali.

Han Thian Chiu berusaha menyingkirkan diri dari hujan serangan tadi. Ia lihay, walau pun terdesak, setiap langkah penangkisan mengandung ancaman.

Tan Ciu terluka. Matanya masih dapat digunakan. orang berkerudung hitam yang datang belakangan agak kecil, itulah bentuk potongan seorang wanita, itulah orang yang pernah menolong dirinya.

Wanita berkerudung hitam ini disebut sebagai Pemilik Pohon Penggantungan mungkinkah sang ibu, si Melati Putih?

Tan Ciu dikejutkan oleh suara bentakkan Han Thian Chiu.

"Terimalah hadiahku." Tiga batang jarum halus mengancam Tan Ciu. Wanita berkerudung terkejut, ia harus menolong pemuda itu, tubuhnya melayang, menyampok jatuh ketiga jarum halus yang Han Thian Chiu lepas untuk membunuh Tan Ciu.

Han Thian Chiu tertawa berkakakan. tubuhnya telah berada ditempat jauh, kesempatan tadi telah digunakan baik-baik.

"Pemilik pohon Penggantungan, selamat tinggal." Dan tubuhnya melayang semakin jauh. Hanya satu titik kecil. kemudian lenyap.

Tan Ciu kemudian berteriak. "Jangan biarkan dia lari. Ia adalah Telapak Dingin Han Thian Chiu!"

Pemilik Pohon Penggantungan tidak menggubris teriakan si pemuda.

"Mengapa tidak kau bunuh dirinya." Bertanya lagi Tan Ciu. "Ia bukanlah Tan Kiam Lam."

"Aku tahu." Pemilik Pohon Penggantungan berkata singkat.

"A a a a a a, kau . . .!"

Wanita berkerudung telah mengetahui penyamaran Han Thian Chiu. Maka tidak terkejut lagi. Tan Ciu belum tahu jelas, siapa wanita berkerudung ini. Diketahui Melati Putih sakit hati kepada Hun Thian Chiu. bila betul orang yang berada didepannya sebagai orang yang menjadi ibunya. tentu mengejar Han  Thian Chiu. Kini tidak. Siapakah Pemilik Pohon Penggantungan?

Pemilik Pohon Penggantungan membalik badan, ia siap pergi.

Dengan suara gemetar Tan Ciu berteriak.  "Tunggu dulu!" Wanita berkerudung itu menghentikan langkah kakinya, berbalik memandang Tan Ciu.

"Ada apa?" Ia bertanya. "Kau "

"Aku adalah Pemilik Pohon Penggantungan."

"Pemilik Pohon Penggantungan adalah Melati Putih.

Kau Melati Putih." "Bukan."

"Kau bukan ibuku?"

"ibumu? Bukan!" Suara itu tidak mengandung perasaan, sangat dingin.

Tan Ciu semakin bingung. Orang ini bukan ibunya, mengapa berusaha menolong dirinya sampai lebih dari satu kali?

"Tidak mungkin!" Tan Ciu berteriak. "Apa yang tidak mungkin?"

"Hal ini tidak mungkin terjadi.. .kau tidak berterus terang."

Wanita berkerudung itu gemetar, dibalik kerudung hitamnya telah basah dengan air mata.

"Kau harus percaya dengan kenyataan." Ia berusaha menahan getaran jiwanya.

"Ada banyak orang yang mengatakan bahwa  Pemilik Pohon Penggantungan adalah ibuku." Berkata Tan Ciu.

"Siapa yang mengatakan? Si Ketua Benteng Penggantungan tadi ?" "Betul, Dan lain orang pun mengucapkan kata-kata yang sama."

"Siapa orang itu?" "Tan Kiam Pek,"

Wanita berkerudung itu tersentak bangun.

"Tidak mungkin" Ia berteriak. "Aku tidak kenal kepadanya."

"Betul-betul kau bukan ibuku?" Tan Ciu meminta ketegasan.

”Aku . . . Bukan."

"Baik." Berkata Tan Ciu. "Aku harus percaya. Tapi suatu hari, bila terbukti akan kepalsuan dari keteranganmu ini, aku Tan Ciu tidak dapat memaafkanmu."

"Aku tidak membutuhkan maafmu." "Terima kasih atas pertolonganmu,"

"Tidak ada pertanyaan lain? Aku harus segera pergi."

"Tunggu dulu!" Tan Ciu dengan sendirinya tidak mau membiarkan wanita berkerudung hitam itu pergi  begitu saja.

"Apalagi yang ingin kau tanyakan?" Berkata Pemilik Pohon Penggantungan.

"Kau telah menolong diriku. Itu budi. Tapi kau juga membunuh kakakku, itu dendam. Budi dan dendam tak dapat dicampur baurkan."

"Ha, ha kakakmu? Tan Sang yang kau maksudkan ?"

"Betul." Tentu saja. Tan Ciu tidak tahu bahwa Tan Sang itu belum mati.

"Maksudmu?" Bertanya pemilik Pohon Penggantungan. "Aku harus menuntut dendam buat kakakku." Berkata

Tan Ciu.

"Berapa tinggikah ilmu kepandaianmu, sehingga berani menantangku?" Cemooh Pemilik Pohon Penggantungan itu.

"Hari ini aku lemah. Tapi pada suatu hari, aku pasti berhasil meyakinkan ilmu yang lebih tinggi."

"Bagus. Aku tunggu kedatanganmu." Dan tubuh wanita berkerudung hitam itu melesat meninggalkan Tan Ciu.

Tan Ciu menemukan Cang Ceng Ceng yang masih belum sadarkan diri. Ia menggendongnya dan melanjutkan perjalanan. tujuannya adalah Guha Kematian. Gunung Ceng in . . .

Telah satu hari Tan Ciu berada digunung Ceng-in. Hanya ini yang diketahui. Lebih jelas, ia sudah tidak tahu lagi.

Tan Ciu mempunyai tekad yang membaja, segala sesuatu tidak dapat mengganggu usahanya tersebut. Ia meneruskan usahanya untuk menemukan Guha Kematian.

Dari pagi, siang, sore dan akhirnya hari menjadi gelap.

Tan Ciu belum berhasil menemukan Guha Kematian.

Ia melakukan perjalanan dengan kaki yang amat berat dirasa.

Tiba-tiba ....

Butiran-butiran air hujan mulai berjatuhan hari pun segera bergemuruh. Tan Ciu berlari-lari di jalan pegunungan. Dihari gelap, terlihat jelas adanya api penerangan. Tan Ciu membawa Cang Ceng Ceng ketempat itu,

Itulah rumah kayu yang kecil, api penerangan keluar dari jendela.

"Ada orangkah didalam?" Tan Ciu mengetuk pintu. "Siapa?" Terdengar suara seorang wanita.

"Aku orang yang sesat dijalanan." Tan Ciu memberikan jawaban.

Terdengar   suara papan   gemeresak,   dan setelah itu keadaan menjadi sunyi.

Setelah menunggu beberapa saat, masih belum terlihat pintu dibuka. Tan Ciu tidak sabar dan berkoar lagi.

"Nona. . ."

Tidak ada jawaban.

"Hei, Kemanakah tuan rumah?" Tan Ciu ingin mendorong pintu.

Juga tidak ada jawaban.

Mengingat keadaan yang sudah mendesak dan mengingat keadaan Cang Ceng Ceng yang tidak boleh terlalu lama ketimpa hujan, Tan Ciu mendorong pintu itu.

Pintu rumah tidak terkunci, dengan mudah dapat dibuka olehnya.

Tan Ciu telah mendorong pintu rumah kayu disuatu tempat sepi. digunung Ceng-in dengan menggendong tubuh Cang Ceng Ceng. ia masuk kedalam rumah tersebut.

"A a a a a !" Tan Ciu mengeluarkan jeritan tertahan. Apakah yang telah dilihat olehnya?

Sebuah peti mati menjogrok ditengah-tengah ruangan tidak terlihat ada bayangan orang. Kemanakah  suara wanita tadi?

Inilah yang sedang dipikirkan oleh Tan Ciu. Kemanakah wanita tadi?

Ia memandang ruangan tersebut, tidak ada orang. Rumah kayu itu terlampau kecil. tidak ada ruangan lainnya, kecuali ruangan yang dijogrokan peti mati tadi.

"Dimanakah pemilik rumah?" Tan Ciu berteriak. Tidak ada jawaban.

Tentunya ada sesuatu yang tersembunyi dibalik peti mati merah itu, Tan Ciu meletakkan tubuh Cang Ceng Ceng, menghampiri peti mati berwarna merah dan membuka kayu penutup.

dengan mudah. tutup peti mati dapat dibuka, ternyata tidak dipantek mati.

Tan Ciu memanjangkan leher, melongok isi peti mati.

Tan Ciu mundur kebelakang. Tubuhnya bergerak merinding. Bulu tengkuknya tegak bangun. Tentunya ada sesuatu didalam peti, mungkinkah jenazah orang mati?

Benar. Didalam peti mati terbaring sesosok tubuh yang tidak bernapas. Masih utuh belum lapuk, tentunya mati belum lama.

Siapakah yang mati ditempat itu? Seorang wanita?

Bukan. Disana terbaring mayat seorang laki-laki masih sangat muda, umurnya berkisar diantara belasan tahun. Tan Ciu mengusap keringat dingin yang telah membasahi sekujur dirinya.

Tiba-tiba......

Terdengar suara seorang wanita. "Lekas tutup kembali." Arah datangnya suara adalah dari belakang Tan Ciu

Itulah suara wanita yang pertama tadi didengar.

Tan Ciu menjatuhkan tutup peti mati, maka terkatup kembalilah tempat penyimpan jenazah tersebut.

Begitu Tan Ciu membalikkan kepala, lagi-lagi ia dikejutkan oleh pemandangan yang dilihat.

"A a a a a a !!"

Seorang wanita dengan rambut terurai panjang telah menatapnya dengan sinar mata tajam, wanita berambut panjang inilah yang menyuruh ia menutup peti mati.

"Siapa kau?" Tan Ciu membentak.

"Jangan takut." Berkata wanita berambut panjang itu. "Aku adalah seorang manusia."

"Aku tidak mengatakan kau setan." Berkata Tan Ciu. "Tapi gerakanmu tadi telah membuktikan perasaan

takutmu,"

Tan Ciu memberanikan diri, "Ha..ha.. Siapakah pemilik rumah ini?"

"Aku." Wanita berambut panjang itu memberi jawaban singkat.

"kau? Kau yang menjawab pertanyaanku pertama itu?" "Betul." "Tatkala aku masuk kedalam rumah, mengapa tidak berhasil menemukanmu?"

"Aku bersembunyi dibawah tanah." "Dibawah tanah ?"

-0oooOdwOooo0-