Pohon Keramat Jilid 11

Jilid 11

CANG Ceng Ceng berkata. "Kalian berdua sungguh tidak mengenal aturan, aku sudah mengadu tipu dengan kalian, tetapi maksudku baik. Siapa yang dapat memenangkan pertandingan. orang itu harus tahu, mengapa kalian tidak dapat menyebut sama gerakan tipuku. oleh karena itu seharusnya menyerah kalah."

Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap saling pandang. "Perlihatkanlah lain tipu gerakannya!" berkata Tan Kiam

Lam.

Cang Ceng Ceng memperlihatkan gerakan lainnya. Seperti juga dengan gerakan yang pertama. Tan kiam

Lam dan Siu Hong Hiap tidak dapat menyebut nama tipu yang Cang Ceng Ceng perlihatkan itu.

Kejadian berikutnya ialah Cang Ceng Ceng memperlihatkan gerakan-gerakan lainnya, sangat aneh dan sangat luar biasa tipu itu belum pernah terlihat didalam rimba persilatan. maka dua jago yang  memandang dan menyaksikan tidak dapat menyebut sama sekali.

Cang Ceng Ceng berkata,

"Kalian berdua sudah seharusnya menyerah kalah."

Tan Kiam Lam mengguman, "Dengan demikian, kami berdua "

"Siapapun tidak dapat memenangkan pihak lainnya." Berkata Cang Ceng Ceng memberi keputusan. "Kalian berdua sama kuat."

Tan Kiam Lam memandang Sin Hong Hiap katanya. "Bagaimana pendapat Sin Tayhiap?"

"Aku dapat menyetujui putusan ini." Berkata Sin Hong Hiap dengan nada tawar. Ia sangat kecewa sekali.

Tan Kiam Lam berkata.

"Sin TayHiap, bila masih mempunyai kesempatan. boleh kita bertanding lagi." Kata-kata si ketua Berteng Penggantungan itu diajukan kepada si pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap.

Sin Hong Hiap menganggukkan kepalanya.

"Baik." jawabnya singkat, tapi cukup mengesankan, Akhirnya pertempuran dari Sin Hong Hiap dan Tan

Kiam Lam tidak mendapatkan ketetapan, tidak seorang pun dari mereka yang memenangkan pertandingan. Mereka sama kuat sama ulet.

Cang Ceng Ceng berhasil memisahkan pertandingan itu.

Sin Hong Hiap dan Tan Kiam Lam telah menghilangkan rasa idndam mereka. Kini Sin Hong Hiap menghadapi Cang Ceng Ceng dan berkata.

"Nona, bolehkah aku mengajukan satu permintaan?" "Silahkan." Berkata Cang Ceng Ceng.

"Kau kawan Tan Ciu ?" "Betul."

"Bolehkah aku menyampaikan sedikit kata-kata kepadanya ?"

"Entah urusan apa ?"

"Satu hari aku akan mencarinya." "Mengapa mencari Tan Ciu ?"

"Aku akan menuntut balas atas kematian muridku."

Cang Ceng Ceng belum mengetahui apa yang telah terjadi diantara Sin Hong Hiap dan Tan Ciu. Maka ia agak bingung juga mengbadapi kata Sin Hong Hiap tadi.

Sin Hong Hiap tidak banyak memberi keterangan tentang terjadinya persengketaan dengan Tan Ciu, setelah berkata, ia membalikkan badan, tubuhnya melesat cepat bagaikan angin lewat, bayangan itu telah pergi jauh. Sin Hong Hiap meninggalkan Benteng Penggantungan.

Tan Kiam Lam masih berdiri ditempatnya. Agaknya ia sedang memikirkan suatu soal yang sangat rumit. Soal yang sangat penting baginya. Ia harus baik-baik menghadapi persoalan itu.

Bercerita kakek bungkuk dan Tan Ciu.

Setelah pertandingan selesai, kakek bungkuk itu berkata. "Mari kita kembali."

Tan Ciu mengkerutkan keningnya, ia ingin sekali menemui Cang Ceng Ceng, katanya. "Kembali kemana?"

”Darimana kita datang, kesitulah kita harus kembali." Berkata kakek bungkuk itu.

"Kembali kekamar tahanan?" "Tentu."

"Aku tidak mau kesana lagi." "Mengapa?"

"Aku ingin menemui nona Cang."

"Legakanlah hatimu. ia ingin mencarimu, sudah pasti kau dapat bertemu dengannya.'

"Berilah kesempatan kepadaku untuk bicara dengannya," berkata Tan Ciu yang ingin menemui Cang Ceng Ceng.

Yah! Tentu saja, orang tiua bungkuk itu tidak mengijinkan Tan Ciu bicara dengan Cang Ceng Ceng, karena Tan Kiam Lam masih berada disana. tentu saja ketua Benteng Penggantungan itu mengetahui rahasia dirinya, maka orang tua bungkuk itu tak memberi ijin. "Kembalilah dahulu."

"Mengapa terburu-buru."

"Pasti Tan Kiam Lam mengajaknya kedalam." "Mengajak Cang Ceng Ceng kedalam Benteng

Penggantungan?"

"Betul, sebelum Tan Kiam Lam masuk kedalam benteng Penggantungan, kita orang sudah berada dalam kamar tahanan."

"Aku takut kepadanya. Jangan kau mencelakakan  diriku."

Tanpa banyak memberi kesempatan kepada Tan Ciu, orang tua bungkuk itu menyeret si pemuda dan kembali kedalam tahanan Benteng Penggantungan.

Terpaksa Tan Ciu mengikuti orang tua bungkuk tersebut. Tiba-tiba . . .

Orang tua bungkuk yang menggandeng Tan Ciu melakukan perjalanan masuk kedalam Benteng Penggantungan itu menghentikan langkahnya, matanya yang tajam menyapu kearah rimba seolah-olah ada sesuata yang aneh.

Tan Ciu tertegun, mengikuti arah pandangan mata orang. ia menengok kearah rimba tidak terlihat sesuatu.

Orang tua bungkuk mengejar, seraya ia membentak. "Siapa?"

Satu bayangan melesat cepat, dan lenyap tidak terlihat.

Orang tua bungkuk mengangkat kedua pundaknya, kepala berangguk-angguk. Tan Ciu mengadakan pertanyaan. "Siapa orang itu ?" "Kau tidak melihat ?"

"Tidak." Berkata Tan Ciu.

"Seorang yang mempunyai wajah yang mirip sekali dengan Tan Kiam Lam." Berkata orang tua bungkuk.

"Oh. dia Tan Kiam Pek." Berkata Tan Ciu, "Betul."

Sungguh-sungguh Tan Ciu tak mengerti, dengan alasan apa Tan Kiam Pek juga berada ditempat Benteng Penggantungan? Dan tentang pertempuran hebat yang telah terjadi diantara Sin Hong Hiap dan Tan Kiam Lam disaksikan juga olehnya.

Mengapa? Mengapa Tan Kiam Pek ingin menimbulkan huru-hara ini?

Dengan alasan apa Tan Kiam Pek memancing pertempuran Sin Hong Hiap dan Tan Kiam Lam?

Kakek bungkuk berkata.

"Kau mengatakan bahwa Tan Kiam Pek yang memancing Sin Hong Hiap ke Benteng Penggantungan?" bertanya kakek bungkuk.

"Betul." Berkata Tan Ciu. "Oh mengertilah sudah."

"Mengerti tentang apa?"

"Tan Kiam Pek mempunyai maksud-maksud tujuan tertentu."

"Aku masih belum mengerti." berkata Tan Ciu memandang orang tua bungkuk itu. Berkata lagi sikakek bungkuk. "Tan Kiam Pek berada ditempat ini menyaksikan pertempuran yang sudah terjadi diantara Tan Kiam Lam Sin Hong Hiap."

"Tentu " berkata Tan Ciu.

"Maksud Tan Kiam Pek sangat jelas, menyaksikan dan mengintip pertempuran dari kedua tokoh tadi, maksudnya ialah ingin mengetahui perobahan-perobahan tipu silat dari mereka. Dan bila ia dapat menyaksikan ilmu-ilmu yang tiada tara itu, bukankah menjadi seorang tokoh silat tanpa tandingan?"

"Betul, tadi, bila aku mempunyai maksud tujuan yang sama, aku pun dapat mencuri beberapa tipu silat mereka." berkata Tan Ciu.

Orang tua bungkuk itu tertawa, Katanya. "Mari kita kembali kedalam penjara."

Tan Ciu diseret masuk lagi.

Bercerita Tan Kiam Lam didepan pintu Bentengg penggantungan.

Jago ini masih belum mengerti jelas mengapa Sin Hong Hiap menantang dirinya, mengapa dikatakan ia  yang menjanjikan pertempuran itu!

Gadis berbaju putih Cang Ceng Ceng tertawa, ia menggigil.

"Hai mengapa kau?"

Tan Kiam Lam terkejut, tersipu-sipu ia berkata. "Maafkan."

Cang Ceng Ceng berkata. "Bawa diriku untuk bertemu dengan Tan Ciu." Ketua Benteng Penggantungan menganggukkan kepalanya, dan berpaling kebelakang, disana terdapat orang-orangnya, satu diantaranya ialah wakil Benteng Panggantungan, dan berkatalah kepada orang itu,

"Hu-pocu."

"Siap."

"Bawa nona ini masuk kedalam Benteng Penggantungan." Perintah Tan Kiam Lam.

"Baik," Berkata si wakil ketua Benteng Penggantungan Co Yong Yen.

Cang Ceng Ceng memandang Tan Kiam Lam dan mengajukan pertanyaan.

"Bagaimana dengan dirimu,?"

"Aku harus mengurus sesuatu, setelah itu segera masuk juga."

"Baiklah." berkata Cang Ceng Ceng.

Maka wakil ketua benteng Penggantungan Co Yong Yen mengajak Cang Ceng Ceng masuk kedalam benteng itu.

Memandang lenyapnya bayangan Co Yong Yen dan Cang Ceng Ceng, Tan Kiam Lam menyapukan pandangannya kepada Pek Hong dan Cie Yan. panggilnya pada mereka.

"Pek-hiancu, Cie-hiancu!"

Pemuda berbaju putih Pek Hong dan orang tua dingin Cie Yan segera membawakan sikap yang siap siaga.

"Pocu ada perintah!" Berkata mereka berdua segera.

Tan Kiam Lam menganggukkan kepala dan berkata.  "aku mengutus kalian untuk menyelidiki sesuatu hal." "Urusan apakah itu?"

"Siapa yang berani menggunakan namaku mengundang si Pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap ke Benteng Penggantungan."

"Baik."

"Ingat," Berkata Tan Kiam Lam gagah. Dua orang ini berhenti lagi. "Kuberi waktu sepuluh hari, dan perkara ini harus jelas, mengerti?"

"Mengerti."

"Manakala kalian berdua tidak dapat menunaikan tugas dengan baik, kalian akan mendapat hukuman." Berkata Tan Kiam Lam kepada kedua orang itu.

Pek Hong dan Cie Yan segera menjalankan perintah. Mereka memberi hormat kepada Tan Kiam Lam dan meninggalkan Benteng Penggantungan.

Kini Tan Kiam Lam seorang diri, ia berdiri didepan Benteng Penggantungan, matanya berputar kedatangan Cang Ceng Ceng yang sangat mendadak itu mengejutkan dirinya. Apa lagi mengingat ilmu kepandaian gadis itu yang sangat tinggi sekali, bagaimana ia harus menghadapinya.

Tan kiam Lam segera mendapat suatu akal. Ia mendengus.

"Hem .... aku harus..." Dengan membawa senyuman iblisnya. Tan kiam Lam masuk kedalam Benteng Penggantungan.

Disini telah menunggu Cang Ceng Ceng dengan tidak sabaran. Sebentar kemudian ia melihat kedatangan Tan Kiam Lam, segera ia memapakinya dan bertanya.

"Dimana Tan Ciu berada?" Tan Kiam Lam menggapaikan tangannya berkata. "Mari kau ikut kepadaku."

Cang Ceng Ceng mengikuti Tan Kiam Lam. Dan ketua

Benteng Penggantungan mengajaknya kedalam ruangan rahasia dibawah tanah.

Tan Kiam Lam mempunyai maksud menjual dodolnya, ia tidak mengajak Ceng Ceng ketempat  kamar tahanan, tetapi menuju ke suatu ruangan.

Cang Ceng Ceng mengerutkan kedua alisnya, memandang kepada ketua Benteng Pengantungan tersebut dan bertanya kepadanya.

"Dimana Tan Ciu?"

Tan Kiam Lam menunjuk ke suatu bangku dan berkata. "Silahkan nona duduk."

Cang Ceng Ceng semakin heran, tetapi ia  mengikuti petuniuk Tan Kiam Lam, duduk dibangku yang  telah ditetapkan.

Tan Kiam Lam mengambil tempat dihadapan gadis berbaju putih itu ia pun duduk.

Cang Ceng Ceng membuka suara. "Tan Kiam Lam. maksudku untuk menemuimu bukan saja ingin bertemu dengan Tan Ciu, ada suatu hal lain ingin kuajukan kepadamu."

Tan Kiam Lam menatap gadis berbaju putih itu tajam- tajam dan ia berkata. "Tentang hal apa?"

"Kau adalah kawan baik Kui-tho cu bukan?" Bertanya Cang Ceng Ceng.

"Bukan, aku tidak kenal dengan Kui-tho cu." Tan Kiam Lam menyangkal. "Sungguh tidak kenal?" Gadis berbaju putih Cang Ceng Ceng meminta ketegasan.

"Aku memang tidak kenal dengan orang yang kau katakan itu." Berkata Tan Kiam Lam,

Cang Ceng Ceng menggunakan otaknya berpikir,  seharusnya hanya Tan Kiam Lam yang mengetahui dimana Kui tho cu itu berada, dan ia harus menemui Kui tho-cu.

Tan Kiam Lam tertawa, ketua Benteng Penggantungan ini berkata.

"Kini giliranku yang ingin mengajuan pertanyaan ini kepadamu."

Cang Ceng Ceng mendongakkan kepala. katanya. "Katakanlah."

"Ilmu kepandaianmu hebat sekali, siapakah yang menjadi gurumu ?"

"Guruku melarang menyebut namanya." Berkata Cang Ceng Ceng.

"oh... bolehkah mengetahui nama nona ?" "Aku Cang Ceng Ceng." berkata gadis itu. "Ouw... Nona Cing aku ada urusan lain." "Katakanlah lekas."

"Kau kawan Tan Ciu." "Betul."

"Kawan baik." "Hemmmmm." "Kekasihmu." Kekasih?... Cang Ceng Ceng agak tertegun mendapat pertanyaan seperti ini. memang ia belum terpikir sampai kesitu.

"Aku tidak tahu," akhirnya Cang Ceng Ceng memberikan jawaban seperti ini.

"Tentunya kau sangat cinta kepadanya bukan?" "Hemmm ...." Cang Ceng Ceng menganggukkan kepala

lemah.

Tan Kiam Lam dapat menduga tepat, dari sinar mata gadis itu ia mengetahui bahwa Cang Ceng Ceng cinta kepada Tan Ciu, hal ini penting bagi dirinya.

"Ehm. Tan Ciu membalas cintamu?" Bertanya lagi Tan Kiam Lam.

"Aku ... aku tidak tahu." berkata Cang Ceng Ceng gugup, "Tapi, kukira ia tidak benci kepadaku." Sambung gadis baju putih.

"Maksudmu, besar kemungkinannya. Tan Ciu juga cinta kepadamu ?" Tan Kiam Lam mengajukan pertanyaan ini dengan mata tidak berkesiap.

Cang Ceng Ceng menganggukkan kepalanya lagi.

= oo-OdwO-oo =

Bercerita Tan Kiam Lam dan Cang Ceng Ceng dalam kamar ruangan dibawah tanah.

Tan Kiam Lam telah mendapat kepastian babwa Cang Ceng Ceng sangat mencintai Tan Ciu, rencananya semakin masak lagi.

"Nona, sungguh-sungguh cinta kepada Tan Ciu?" Bertanya Tan Kiam Lam. "Hei..... mengajukan pertanyaan ini sampai berulang kali?" Cang Ceng Ceng agak naik darah.

Dengan sabar Tan Kiam Lam berkata. "Kukira kau telah terperdaya olehnya."

Cang Ceng Ceng tertegun, dengan tidak mengerti ia bertanya. "Apa arti kata-katamu ini?"

"Ah .... seharusnya tidak boleh kukatakan kepadamu." Berkata Tan Kiam Lam.

Cang Ceng Ceng bangkit dari tempat duduknya, ia berkata dengan suara keras.

"Katakan sekali lagi."

Tan Kiam Lam berkata dengan pelahan. "Sebaiknya kau lupakan kata-kataku tadi."

"Tidak mungkin, katakanlah."

"Aku....." Tan Kiam Lam sengaja tidak meneruskan kata-katanya, dengan demikian ia lebih menambah minat gadis itu untuk mengetahui apa yang dikatakan olehnya.

Dengan wajah beringas Cang Ceng Ceng maju setapak, katanya segera.

"Katakan. bila tidak, dengan sekali pukulan aku dapat menghancurkan kepalamu."

"Baiklah." seolah-olah Tan Kiam Lam dipaksa.

Cang Ceng Ceng menantikan jawaban ketua Benteng Penggantungan itu.

"Aku akan berkata, tapi kau jangan bersedih, Tan Ciu adalah seorang pemuda yang suka mempermainkan wanita." berkata Tan Kiam Lam.

"Apa?" "Tan Ciu adalah seorang pemuda yang sering mempermainkan wanita."

"B e t u l ?"

"Betul, Aku tidak berbohong kepadamu."

Dengan suara yang penuh derita Cang Ceng Ceng berkata. "Gadis mana yang telah dipermainkan olehnya?"

Dengan menghela napas Tan Kiam Lam berkata.

"Wakil ketua Benteng Penggantungan kami, itulah wanita yang mengantarkanmu tadi, ia mempunyai seorang murid yang bernama Co Yong, bersua dengan Tan Ciu, setelah mereka berkenalan, gadis inilah yang dipermainkan oleh Tan Ciu, ditinggalkannya begitu saja. . ."

Wajah Cang Ceng Ceng berubah menjadi pucat, ia berteriak. "Aku tidak percaya .... aku tidak percaya "

"Tidak percaya, karena permainan Tan Ciu tadi Co Yong menjadi gila."

"Tidak. .. tidak mungkin.... Tan Ciu bukanlah pemuda seperti apa yang kau katakan." Cang Ceng Ceng berteriak suaranya sangat aneh. Penuh dengan ketegangan dan ketakutan, tidak enak didengar.

Disini letak kejahatan dari Tan Kiam Lam. Sudah jeias dan gamblang sekali bahwa rentetan kejadian itu adalah susulan berencana yang telah dikeluarkan. Lebih dari pada itu, Tan Kiam Lam masih mempunyai rencana jahat babak ketiga.

Terdengar Tan Kiam Lam berkata. "Kau tidak percaya?" "Aku tidak percaya." kata Cang Ceng Ceng,

"Ingin melihat bukti?" Cang Ceng Ceng memandang ketua Benteng Penggantungan itu, ingin sekali mengeluh. betul tidaknya dari kata-kata atau keterangannya.

"Mari kau ikut aku untuk melihatnya." Berkata Tan Kiam Lam.

"Melihat siapa?" "Co Yong" "Baik,"

"Ikutlah dibelakangku."

Tan Kiam Lam mengajak Cang Ceng Ceng turun Keruangan dibawah tanah, disinilah letak kamar tahanan Benteng Penggantungan.

Cang Ceng Ceng mengikuti dibelakangnya. Pikirannya sedih, Tan Ciu adalah seorang pemuda yang gagah dan cakap, itulah idaman setiap wanita, termasuk juga Cang Ceng Ceng. Bila betul apa yang Tan Kiam Lam katakan tadi, Tan Ciu seorang pemuda tukang mempermainkan wanita, hal itu akan mengecewakan. Maka Cang Ceng Ceng sangat bersedih.

Tan Kiam Lam menikung kelain lorong, Cang Ceng Ceng tetap mengikuti.

Kini mereka sudah berada didasar bangunan rahasia, lapat-lapat terdengar suara tangisan.

Tan Kiam Lam menghentikan langkahnya, Ia menoleh kearah Cang Ceng-ceng. "itulah tangisannya."

Mereka berjalan maju lagi, disuatu kamar tahanan terbuat dari pada batu terlihat seorang gadis berwajah pucat rambutnya kusut, pakaian tidak karuan macam, itulah murid Co Yong Yen yang bernama Co Yong, Cang Ceng Ceng harus percaya kepada kenyataan. Seperti apa yang Tan Kiam Lam katakan. Tan Ciu adalah seorang pemuda hidung belang, tukang mempermainkan wanita. Gadis yang bernama Co Yong ini adalah salah satu korban-korbannya.

Ia maju mendekati kamar tahanan itu, dan mengajukan pertanyaan. "Hei. Siapa kau?"

Co Yong masih menangis ia  mendoogakkan kepala, memandang Cang Ceng Ceng, tiba-tiba menubruk.

"Tan Ciu . . ." Berkata Co Yong. "Akhirnya kau juga tiba

. . . akhirna kau tiba, sudah lama Kuharapkan kedatanganmu ini," hampir saja Co Yong menubruk jeruji besi kamar tahanan itu, tapi akhirnya ia berhasil mencengkeram Cang Ceng Ceng.

Seperti apa yang Tan Kiam Lam katakan Co Yong sudah menjadi gila, ia tidak sadar siapa orang dihadapannya, ia tidak dapat membedakan pria atau wanita,  kedatangan Cang Ceng Ceng dianggap Tan Ciu.

Dan Co Yong tertawa besar, itulah tingkah laku seorang yang sudah berpikiran tidak waras lagi.

Hati Cang Ceng Ceng dirasakan tenggelam. Ia telah menghadapi kenyataan. Dibiarkan saja tangan Co Yong mencengkeram dirinya.

Tiba-tiba, Co Yong menarik tangan Cang Ceng Ceng, dengan histeries ia berteriak, "Bukan ... bukan... kau bukan dia... kau.. .ada iblis. . . iblis . . . ihh. . . blis. . pergi .. . pergi

. . . kau iblis kepala. . ."

Didorongnya rtbuh Cang Ceng Ceng, dan Co Yong menangis lagi.

Tubuh Cang Ceng Ceng menggigil keras. Co Yong menangis, sebentar kemudian tertawa. tidak lama ia menangis lagi. Tertawa dan menangis silih berganti, Co Yong memandang Cang Ceng Ceng.

Menyaksikan kejadian itu. Cang Ceng Ceng sangat bersedih. Ia mendekati Co Yong dan bertanya.

"Kau bernama Co Yong?"

"Hei, hei!.. . Betul! Aku Co Yong ... Heh. bukan. . . aku bukan Co Yong! ... Namaku Co Yong ? . . .bukan, aku. .

.bukan ha. . ha ... ha, ha ...ha.. ."

Dia tertawa, tertawa histeris, Cang Ceng Ceng mengucurkan air mata.

Tan Kiam Lam tersenyum iblis, ia sangat puas dengan sandiwaranya itu ,

Dilain bagian dari kamar tahanan dibawah tanah Benteng Penggantungan itu. sepasang mata lain mengintip, menyaksikan kejadian seperti ini.

Terlihat Tan Kiam Lam maju mendekati Cang Ceng Ceng dengan menepuk pundak gadis berbaju putih itu ia berkata.

"Kini seharusnya kau harus percaya. Tan Ciu bukanlah pemuda idaman. percayalah Tan Ciu telah menganggu banyak gadis. Co Yong hanya satu diantaranya, bila bukan Tan Ciu yang menganiaya dirinya, tidak mungkin ia menjadi gila seperti ini."

Cang Ceng Ceng mematung ditempat. Ia kecewa kepada Tan Ciu. Ia kasihan kepada Co Yong dan ia putus harapan kepada masa depan dirinya sendiri.

Menarik gadis berbaju putih itu. Tan Kian Lam berkata. "Mari..." Cang Ceng Ceng menghindari seretan orang dan tidak mau pergi. "Tidak, aku tidak mau pergi." Cang Ceng Ceng berkata.

"M e n g a p a?"

"Aku harus mengobatinya ia sangat menderita!"

Menyaksikan kejadian yang dialami oleh Co Yong, Cang Ceng Ceng sangat bersedih, dan ia mempunyai maksud untuk mengobati gadis sengsara itu. Maka ia ingin menolongnya. Dengan ilmu kepandaian yang dimiliki oleh Cang Ceng Ceng, kejadian itu bukanlah mustahil, dengan mudah ia dapat menyembuhkan penyakit Co Yong.

Tetapi, mungkin Tan Kiam Lam melulusi usul Cang Ceng Ceng itu?

Tidak. Tentu tidak. Co Yong gila karena hasil perbuatannya Tan Kiam Lam sengaja mempermainkan gadis itu sehingga pikiran Co Yorg terganggu.

Bila Cang Ceng Ceng berhasil mengobati penyakit Co Yong, tentu saja segala rahasianya terbongkar, dan apa yang dapat dilakukan lagi?

Bila Tan Kiam Lam mau, dengan mudah ia dapat membunuh Cang Cang Ceng. Gadis berbaju putih itu masih kurang pengalaman tak tahu babwa dirinya sudah berada dimulut harimau. dimulut srigala berjubah manusia.

Tapi Tan Kiam Lam tidak membunuh Cang Ceng Ceng. Ia ingin menggunakan Cang Ceng Ceng. Itulah satu dari sekian banyak rencananya.

Dengan wajah berubah Tan Kiam Lam berkata. "Kau ingin menolongnya ?"

"Betul?" Berkata Cang Ceng Ceng singkat. "Mengapa kau ingin menolong seorang gadis yang menjadi seterumu ?"

"Karena Tan Ciu telah merusak kehidupannya, maka  aku harus menyembuhkan penyakit Co Yong, agar ia dapat menuntut balas."

Tan Kiam Lam berkata. "Baiklah, sebentar aku akan memberi perintah kepada orang-orangku untuk membawanya. Memang Co Yong sangat kasihan ..."

Sangat jelas, maksud Tan Kiam Lam agar Cang Ceng Ceng menyembuhkan penyakit Co Yong diruang atas. Bukan dikamar tahanan ini.

Cang Ceng Ceng masih belum bergerak dari tempatnya.

Menggandeng gadis berbaju putih itu Tan Kiam Lam berkata. "Nona Cang, mari kita naik keatas dahulu."

Dan dengan setengah digandeng oleh Tan Kiam Lam, Cang Ceng Ceng meninggalkan kamar tahanan batu dibawah tanah Benteng P^ggantungan itu.

Dan sepasang mata yang menyaksikan drama kejadian tadi, menunggu sampai Tan Kiam Lam dan Cang Ceng ceng pergi jauh, dengan satu perasaan yang penuh dendam mengeluarkan tertawa dingin.

Siapakah orang yang mengintip ini? Untuk sementara, kita tinggalkan orang ini dan mengikuti perjalanan Cang Ceng-ceng dengan Tan Kiam Lam.

Sang ketua Benteng Penggantungan telah mengajak Cang Ceng Ceng naik keatas, mereka menuju kekamar rahasia.

Didalam kamar rahasia, dengan tersenyum puas Tan Kiam Lam berkata.

"Sudah percaya?" Dengan menunjukkan wajahnya yang penuh ketidak puasan, Cang Ceng ceng berkata.

"P e r c a y a."

Kini sudah waktunya Tan Kiam Lam merealiseir rencananya yang terakhir. Tentu saja, tidak ada  orang ketiga yang dapat mengganggu usaha itu.

Dengan wajah merah Cang Ceng Ceng berkata.  "Dimana kini Tan Ciu berada."

"Mengapa kau menanyakan dirinya." "Aku mau membunuh!"

"Ingin membunuh Tan Ciu?"

"Benar. Laki-laki yang semacam ini harus dibunuh!" "Bagus." Tan Kiam Lam memberi pujian.

Tiba-tiba Tan Kiam Lam mengangkat tangan sangat tinggi sekali, hal itu mengejutkan Cang Ceng ceng. Dari mata Tan Kian Lam bercahaya satu sinar yang sangat aneh sekali.

Cang Ceng-ceng tidak mengerti, ia memandang dengan penuh perasaan teka-teki.

Setapak demi setapak, Tan Kiam Lan mendekati Cang Ceng ceng, Cang Ceng ceng mematung, sepasang matanya tertarik kepada cahaya yang sangat aneh itu.

Inilah ilmu Ie-sin Tay-hoat. Kini Tan Kiam Lam sedang mengerahkan ilmu Ie sin Tay-hoat mengosongkan isi pikiran Cang Ceng Ceng.

Sebagaimana layaknya seorang yang kena hypnotis, sepasang mata Cang Ceng ceng telah menjadi redup, semakin lama semakin redup dan akhirnya. terketup. Pikirannya bimbang, daya keperibadiannya lenyap sama sekali, runtuh berantakan .... ilmu Ie sin Tay-hoat tidak gagal. Cang Ceng-ceng telah masuk perangkap Tan Kiam Lam. Ia tidak tahu bahwa ilmu itu sudah mengosongkan semua pikirannya, maka tidak mengalihkan sepasang sinar mata, dan karena itulah ia terpedaya.

Hal ini disebabkan karena Cang Ceng-ceng tidak tahu betapa lihaynya ilmu Ie sin Tay-hoat, dan karena itulah ia tidak ada persiapan sama sekali. Seharusnya, dengan ilmu kepandaian yang dimiliki oleh gadis berbaju putih  ini, ilmu Ie sin Tay-hoat tidak mungkin membawa hasil. Tapi hal itu diharuskan kesiap siagaan, ia harus mengerahkan kekuatan tenaga dalam melawannya.

Cang Ceng ceng tidak menduga bahwa Tan Kiam Lam memiliki ilmu Ie sin Tay-hoat yang  jahat. kini ia  telah terpedaya.

Tan Kiam Lam mengerahkan terus ilmu jahat itu. segasang matanya semakin lama semakin tajam, perlahan demi perlahan, pemikiran Cang Ceng Ceng telah tiada sama sekali.

Cang Ceng Ceng merasakan dirinya seperti berada disuatu tempat yang penuh kabut samar-samar segala sesuatu tidak terlihat lagi.

Kini mulut Tan Kiam Lam terbuka, dan suaranya terdengar.

"Kau... kau harus mendengar perintahku." Cang Ceng-ceng menganggukkan kepalanya.

Tan Kiam Lam mengajukan pertanyaan. "Siapa namamu?"

"Cang Ceng-ceng." berkata gadis yang kena di Ie sin Tay- hoat itu. "Beirapa umurmu?" "Delapan belas tahun." "Siapa gurumu?" "Aku.. tidak tahu." "Pria atau wanita?" "Pria."

Tan Kiam Lam mengeluarkan suara tertawanya yang seperti iblis dan ia melangsungkan tanya jawab itu.

"Apa yang sedang kau lihat?"

Cang Ceng ceng membuka kedua matanya lagi,  tapi mata ini telah kehilangan cahayanya sama sekali, redup, kaku dan tipis. Terlihat seorang berdiri dihadapannya, itulah Tan Kiam Lam. Cang Ceng Ceng melihat Tan Kiam Lam sedang berdiri. Seolah-olah ketua Benteng Penggantungan itu menderita sesuatu jatuh dari tebing tinggi, dan sedang berteriak-teriak meminta pertolongan orang.

Cang Ceng ceng terkejut, ia membentang matanya lebih besar lagi, dan samar-samar terlihat tubuh Tan Kiam Lam penuh dengan darah.... ketua Benteng Penggantungan itu berteriak.. . menjerit.. . melengking sungguh

menyeramkan sekali.

Itu hanya khayalan Cang Ceng Ceng.

Cang Ceng ceng masih melihat Tan Kiam Lam jatuh kedalam api yang membara.  .  .teriakannya  semakin seram api itu berkobar semakin hebat.

Dan tiba-tiba Cang Ceng-ceng mengeluarkan satu jeritan juga, tubuhnya melesat menubruk Tan Kiam Lam. Segala sesuatu samar-samar lagi. Didalam keadaan yang tidak ingat kepada dia aslinya, Cang Ceng ceng ingin memberikan pertolongan kepada seseorang yang dilihatnya seperti jatuh dari tebing tinggi itu, orang itu masuk kedalam api neraka, dan ia wajib menolongnya.

Tan Kiam Lam berhasil, kini ia dapat menguasai pikiran Cang Ceng ceng.

Seorang gadis berada didalam rangkulannya seorang lelaki setengah umur. Itulah Cang Ceng Ceng yang telah dihypnotis oleh Tan Kiam Lam.

Tan Kiam Lam meletakkan tubuh gadis itu pada sebuah kursi ia mengeluarkan tertawa iblis.

Cang Ceng ceng melompat lagi, menubruk ketua Benteng Penggantungan itu. Inilah reaksi dari ilmu Ie-sin Tay-hoat.

Tan Kiam Lam mengangukkan kepala, kini betul-betul ia memastikan bahwa ilmunya telah sukses. Ia merangkul tubuh gadis itu.

"Kau bersedia menjalankan segala perintahku?" Berkata Tan Kiam Lam.

Cang Ceng ceng menganggukan kepala. "Bersedia."

"Siapakah yang memperlakukanmu dengan baik sekali?"

"Kau."

"Siapakah yang paling kau benci?" "Tan Ciu."

"Kau benci kepada Tan Ciu ?" "Betul, Aku benci sekali kepadanya." "kau ingin membunuhnya ?" "Pasti, membunuhnya."

Tan Kiam Lam berkata lagi, "Kau akan taat kepada

segala perintahku ?" "Tentu saja taat."

"Dengar, dengarkanlah perintahku yang pertama, ingat baik-baik semua kepandaianmu dan catatlah beri catatan itu kepadaku, mengerti?"

"Mengerti ?" "Mulailah."

Cang Ceng-ceng menganggukan kepala. Ia melepaskan dirinya dari rangkulan ketua Benteng Penggantungan itu. Mengambil alat-alat tulis, dan mencatat segala ilmu kepandaiannya. Itulah perintah yang diberikan kepadanya Perintah yang harus ditaati.

Inilah salah satu maksud tujuan Tan Kiam Lam, seperti apa yang diketahui, gadis berbaju putih Cang Ceng ceng mempunyai ilmu kepandaian yang sangat tinggi, dan ia harus mendapatkan ilmu itu. Cara mendapatkan ilmu Cang Ceng Ceng itu yang termudah ialah menghipnotis gadis berbaju putih itu, kemudian dengan membari satu perintah, dengan mudah ia akan mendapatkan catatan-catatan ilmu dari Cang Ceng Ceng.

Dengan menyatuhkan ilmu kepandaian yang didapatkan dari Cang Ceng Ceng, siapakah yang dapat menandingi dirinya lagi?

Kejadian ini sangatlah berbahaya sekali. Dia adalah seorang jahat, seorang yang terjahat sekali, dan dengan ilmu kepandaiannya yang sangat tinggi, beium ada orang yang dapat menandinginya. Ilmu kepandaiannya itu akan ditambah tinggi lagi, setelah mendapatkan ilmu kepandaian Cang Ceng Ceng.

Dan kejadian telah berlangsung.....

Cang Ceng Ceng mencatat ilmu kepandaiannya. ....

Seorang gadis berbaju putih. yang telah kena ilmu Ie-sin Tay-hoat, Tan Kiam Lam sedang mencatat ilmu  kepandaian yang dimilikinya, ilmu kepandaian itu akan diserahkan kepada orang yang berada didepannya.

Tan Kiam Lam mengambil bangku dan duduk. ia menyaksikan kejadian itu, senyuman iblisnya terlihat seram sekali.

Berceritera didalam kamar tahanan. orang tua bungkuk telah mengajak Tan Ciu kembali kedalam sel mereka.

Tan Ciu memandang orang tua itu, ia bertanya. "Cianpwe. mengapa kau rela dikeram didalam tempat

yang seperti in ?"

"Kau ingin tahu alasannya?" "Ingin sekali."

Orang tua bungkuk itu mendonggakkan kepalanya keatas, ia sedang mengenangkan masa mudanya.

Tan Ciu menantikan cerita dengan sabar. Kini orang tua bungkuk itu berkata,

"Aku berada didalam kamar tahanan dibawah tanah ini

hanya karena sesumbarku."

"Sesumbar?" berkata Tan Ciu bingung.

Orang tua bungkuk itu menganggukkan kepala, "Betul. Itulah karena kecongkakanku sendiri. Mungkin kau tidak percaya, tapi inilah kenyataan. Pada tiga puluh tahun berselang, tidak ada orang yang dapat menandingiku, bukan saja menandingi, belum pernah ada orang  yang dapat menerima tiga jurus pukulanku."

Tan Ciu bergumam. "Hanya tiga jurus?"

Orang tua bungkuk itu menganggukkan kepalanya.

"Betul. Aku malang melintang didalam rimba persilatan tanpa tandingan. Belum pernah ada jago silat yang dapat menghadapi tiga pukulanku, paling banter mereka hanya dapat menerima satu atau dua jurus saja, dan pada jurus yang ketiga pasti mereka kujatuhkan. Termasuk juga jago kelas satu."

Kata-kata ini terlalu sombong sekali, hampir Tan Ciu tidak percaya, ia memandang orang tua bungkuk iru dengan sinar mata yang penuh ragu-ragu.

"Bagaimana kau dapat dikalahkah oleh Tan Kiam Lam dan dikurung didalam kamar tahanannya?" Bertanya Tan Ciu.

"Bukan dikalahkan olehnya." Berkata orang tua bungkuk itu. "Tapi dikalahkan oleh kata-kataku yang sangat sombong.

"Dikalahkan oleh kata-katamu sendiri?"

"Betul. Aku dikalahkan oleh kata-kataku sendiri, aku pernah sesumbar siapa yang dapat menerima tiga jurus ilmu pukulanku aku akan taat kepadanya."

Tan Ciu memandang orang tua itu, keterangannya agak tidak mudah diterima.

Orang tua bungkuk tertawa, katanya. "Kau tidak percaya?"

Tan Ciu menyengir. Haruskah ia percaya? Tapi tidak mungkin ia tidak percaya. Sesaat kemudian, ia menggeleng- geleng kepala.

"Aku kurang percaya."

"Kau tidak percaya bahwa ilmu kepandaianku berada diatas Tan Kiam Lam?"

"Kau mempunyai ilmu kepandaian dikalahkan oleh Tan Kiam Lam? Mengapa kau berada didalam tahanan ini?"

"Sudah kujawab tadi kepadamu aku kalah karena kata- kataku sendiri."

"Ceritakanlah."

"Sudah kukatakan, siapa saja yang dapat menerima tiga pukulanku, aku akan tunduk kepadanya dan tidak akan berjalan didalam rimba persilatan lagi."

"Tapi kau tidak mengatakan bahwa dirimu bersedia dikurung seperti binatang didalam tempat gelap ini."

"Betul. Dan Tan Kiam Lam itu sangat cerdik sekali. sebelum bertempur ia meminta syarat lain, dikatakan olehnya bahwa bila ia dapat menerima tiga pukulanku, aku diwajibkan melakukan dua hal. Dan aku melulusi permintaan itu."

"Dua ucapan apakah yang diajukan kepadamu?" "Permintaan pertama ialah membuat Benteng

Penggantungan ini."

"Hei. . ?!" Tan Ciu terkejut dan berteriak.

"Kau yang membuat Benteng Penggantungan?" "Mengapa bukan? Akulah yang membuat Benteng Penggantungan. Maka segala rahasia segala jalan, segala bangunan yang berada didalam Benteng Penggantungan ini, tidak satu pun yang luput dari penilaianku.'itulah semua rencana-rencanaku. Akulah yang mengarsitekinya akulah yang menjadi insinyurnya."

"Ow. . . . pantas kau dapat keluar masuk dengan bebas." Tan Ciu mulai percaya.

"Dan permintaan yang kedua ialah, aku diwajibkan mengurung diri sendiri didalam kamar tahanan ini. tidak boleh meninggalkan lembah Siang-kiat."

"Tidak ada pengecualian."

"Kecuali bila aku dapat menerima cintanya seorang wanita, itu waktu aku bebas dari janjiku. Aku bebas meninggalkan Benteng Penggantungan."

"Aduh hal ini mana mungkin dapat terjadi?"

Tan Ciu harus percaya keterangan orang tua  bungkuk itu. hal itu menang mungkin terjadi ia dapat keluar masuk dengan bebasnya, bila tak ada sesuatu yang aneh. hal ini tak mungkin terjadi. Dan kata akhir, bila orang tua bungkuk ini meninggalkan Benteng Penggantungan, lebih dahulu, ia harus menerima  cinta seorang gadis. inilah yang tidak mungkin sama sekali, boleh dibayangkan, seorang tahanan di bawah tanah yang sangat rahasia, orang yang  tidak pernah mendapat kunjungan orang lain mana mungkin mendapat cinta, apa lagi cinta seorang wanita?

Penilaian Tan Ciu kepada orang tua bungkuk itu harus dirubah. Inilah seorang jantan yang dapat menepati janji.

Sunyi beberapa saat, dan akhirnya Tan Ciu yang membuka suara lebih dahulu. "Ada suatu yang ingin kutanyakan padamu." "Katakanlah."

"Telah kau saksikan ilmu kepandaian nona Cang

didepan Benteng Penggantungan tadi." "Betul."

"Bagaimana penilaianmu tentang ilmu kepandaian Cang Ceng ceng?"

"Maksudmu, kau membandingkan ilmu kepandaianku dan ilmu kepandaian nona Cang itu?"

"B e t u l."

"Ilmunya hebat. Kukira kami mempunyai kepandaian setingkat, mungkin aku berada sedikit dibawah dirinya."

Tan Ciu telah menyaksikan ilmu kepandaian Cang Ceng ceng dan itulah ilmu kepandaian yang sangat menakjupkan, maka bisalah dikatakan, kakek bungkuk ini tidak dapat memadainya, hal itu memang mungkin sekali.

Percakapan mereka berhenti sampai disitu.

Diketahui Tan Kiam Lam sedang mengajak Cang Ceng ceng masuk kedalam Benteng Penggantungan.

Maksud dari gadis berbaju putih itu ialah menemui Tan Ciu, dan seharusnya Cang Ceng-ceng mengajak masuk ke dalam kamar tahanan dibawah tanah ini.

Tan Ciu melongok kearah pintu masuk, disana tidak terlihat ada orang yang  datangi walau waktu sudah berselang lama sekali, mengapa masih belum terlihat.

Si pemuda mengerutkan alisnya seraya berkata. "Mengapa belum terlihat mereka datang?"

Orang tua bungkuk memberikan penyahutan. "Betul. Seharusnya mereka sudah tiba..."

"Mungkinkah . . .mungkinkah ....ada sesuatu hal diluar dugaan?" Berkata Tan Ciu.

Mereka menantikan kedatangan Cang Ceng ceng, tapi gadis berbaju putih itu sedang mengalami  suatu penderitaan. Hal ini tidak diketahuinya.

Tan Ciu dan orang tua bungkuk itu saling pandang . "Kukira kawan wanitamu itu telah dibius oleh Tan Kiam

Lam." Berkata siorang tua bungkuk.

Sekujur bulu badan Tan Ciu bergidik bangun. Ia menggigil dingin. Hal ini bukanlah tak mungkin, mengingat pengalaman dan kejahatan Tan Kiam Lam. Dengan suara gemetar ia berkata.

"Mengalami pemindahan sukma." "Hmmm "

"Dengan  ilmu  kepandaian  yang dimiliki oleh Cang Ceng

ceng.  mungkinkah  .  ..  mungkinkah dapat dikalahkan? "

Berkata Tan Ciu ragu.

Ia pernah menyaksikan ilmu kepandaian Cang Ceng ceng dan ilmu kepandaian itu tidak perlu diragukan lagi.

Orang tua bungkuk berkata.

"Bila dalam keadaan tidak ada kesiap siagaan hal ini besar kemungkinan terjadi."

Tan Ciu tertegun. Bila betul apa yang diduga oleh orang tua bungkuk ini, dimisalkan Cang Ceng ceng mengalami pemindahan sukma, akibat dan hal itu sangat besar sekali.

"Aku harus segera menolongnya." Berkata Tan Ciu berteriak keras. "Sekarang?" Berkata orang tua bungkuk itu memandang si pemuda.

"Betul." Berkata Tan Ciu singkat.

Orang tua bungkuk menganggukkan kepalanya. seraya ia berkata.

"Baiklah, Biar kubuka totokan jalan darahmu dengan gerakannya yang gesit, dengan jari2nya yang lincah orang tua itu menotok jalan jarah Tan Ciu.

Jalan-jalan darah tersebut telah tertotok oleh Tan Kiam Lam, hal itu akan mengakibatkan gangguan gerakan dan kebebasan si pemuda. Maka ia membebaskannya.

Tan Ciu bernapas sebentar, menyalurkan peredaran darahnya keseluruh tubuh dan terasa sangat baik sekali, tidak terdapat gangguan.

Mereka berdua meninggalkan kamar tahanan dibawah tanah.

Ditengah perjalanan. orang tua bungkuk itu menoleh dan memandang Tan Ciu, seraya ia berkata,

"Segala sesuatu langkah harus dipikirkan masak-masak, jangan terlalu gegabah. Harus memandang diriku."

"Baik," berkata Tan Ciu singkat.

Dan mereka melanjutkan perjalanannya. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba terdengar suara lengkingan tertawa yang sangat panjang.

Tan Ciu terkejut, dan memandang orang tua bungkuk ia berkata.

"Sungguh menyeramkan."

Orang tua bungkuk menghentikan langkahnya, ia bertanya. "Kau kenal dengan suara itu?"

"Tidak. Siapakah yang berteriak seperti ini?" "Gadis she Co itu, Co Yong."

"Ha ha, ha, " terdengar lagi suara bising Co Yong.

Tan Ciu melompongkan mulutnya.

"Ia telah gila." orang tua bungkuk itu menambah keterangan yang lebih jelas.

"Hei? Apa?" Tan Ciu berteriak.

Itulah sesuatu yang terberat bagi si pemuda,

Diketahui Co Yong masih hidup, tetapi ia tidak tahu bahwa Co Yong telah menjadi gila.

"Nona Co telah menjadi gila?" Tan Ciu bergumam, Orang tua bungkuk itu menganggukan kepala, "Mengapa?" Tan Ciu bertanya lagi.

"Inilah salah satu rencana jahat Tan Kiam Lam. Ia membuat Co Yong gila, seumur hidup ia menjadi gila. Dan setelah itu ia akan mati karenanya."

Tan Ciu berteriak.

"Aku harus menemuinya, aku harus menolongnya "

Orang tua bungkuk itu berpikir  sebentar, kemudian berkata. "Baik, aku akan mengajakmu bertemu dengan Co Yong dahulu."

Dan arah mereka berganti, kini menuju kearah datangnya suara lengkingan Co Yong tadi.

Sebagai arsitektur dari bangunan Benteng Penggantungan, orang tua bungkuk itu dapat memahami segala seluk beluk keadaan, dengan mudah ia  dapat mengajak Tan Ciu ketempat Kamar tahanan Co Yong.

Membuka satu pintu rahasia. Tan Ciu dan orang tua bungkuk itu telah masuk kesuatu ruangan yang sangat gelap. Dengan menudingkan jari tangan kearah suatu tempat, orang tua bungkuk itu berkata.

"Itulah Co Yong,"

Tan Ciu memeriksa dengan seksama, matanya dikedip- kedipkan, dan kini ia telah menjadi biasa dengan keadaan ditempat gelap itu terlihat seorang gadis dengan rambut tidak terurus, terurai panjang berada dibalik terali besi.

Itulah Co Yong!

Tapi Co Yong yang kini Tan Ciu saksikan bukanlah Co Yong yang dahulu itu, bila dahulu Co Yong sangat cantik. gerakannya lincah dan berilmu kepandaian sangat tinggi, kini tanda -tanda itu sudah tak terduga lagi. Gadis dihadapannya adalah seorang yang betul-betul menjadi gila, kumal kotor, dengan rambutnya yang kusut tidak teratur. pakaiannya yang sobek-sobek dan dekil itu, mungkinkah Co Yong yang dahulu dikenal olehnya?

Tan Ciu maju mendekati. Kini ia dapat melihat jelas sekali, gadis gila itu adalah gadis yang pernah dikenal olehnya, itulah betul-betul Co Yong.

"Nona Co itu betul gila." Tan Ciu bergumam. "Ng "

"Mengapa?"

"Orang yang telah dibuat gila oleh Tan Kiam Lam akan mengalami keadaan yang lain temasuk gadis ini. Ia gila untuk seumur hidupnya. Dan perlahan-lahan ia mati, mati karena tidak tahan menderita penyakit gila itu." Tan Ciu menjerit, keras.

"Tidak.... Tidak boleh terjadi hal seperti ini. Aku harus segera menolongnya."

Didalam tahanan kamar istimewa. Co Yong yang telah menjadi lelah karena berteriak-teriak menjerit-jerit tertawa ha. ha, ha, ha, menangis menggerung-gerung, dan akhirnya ia tidur berbaring dipojok yang gelap itu.

Tan Ciu mendekati sehingga memegang jeruji besi kamar tahanan dan ia menggigil.

"Nona Co "

Co Yoag tidak mendengar suara panggilan ia masih meringkuk berbaring.

Tan Ciu berteriak lebih keras. "Nona Co "

Teriakan ini bergema diseluruh ruangan, Co Yong tersentak kaget dengan pandangan sinar mata sangat sayu, ia memandang kearah orang yang memanggil itu.

Tan Ciu dan Co Yong saling pandang.

"Siapa kau?" kata-kata ini keluar dari mulut Co Yong. "Nona Co, aku Tan Ciu "

"Tan  Ciu....  Hi hi.....ha.....ha. . ha  . .  .ha.  . . ha ha

Siapa Tan Ciu, aku tidak kenal." Berkata Co Yong dengan wajah pucat sekali.

Bagaikan disayat dengan pisau, hati Tan Ciu terasa sangat pedih.

"Nona Co, tidak kenalkah kepadaku."

"Ha ha ha ha ha. . . . . kenal?... . oh ya, aku kenal kepadamu.....kau adalah pemuda jahat itu, kau adalah pencuri isi hariku, tapi kau jahat, aku harus membunuhmu!"

Co Yong menubruk kearah pintu. Tan Ciu menyingkir kebelakang.

Orang tua bungkuk turut menyaksikan segala kejadian tersebut. Ia menarik napas dalam-dalam.

Co Yong berkata lagi.

"Hayo . ..kemari kau . . . aku cinta kepadamu . . .mari sini. . ."

Gila! Betul-betul Co Yong sudah jadi gila!

Siapakah yang mengakibatkan kegilaan Co yong ini? Tan Kiam Lam. Dan siapa yang memaksakan kejadian tersebut?

Tan Ciu tak seharusnya ia memaksa Co Yong membuka rahasia Benteng Pengantungan, sehingga mengakibatkan gadis tersebut tersiksa sehingga seperti apa yang dilihat olehnya.

Tan Ciu mematung ditempat! Hatinya dirasakan hancur luluh, ia menyesal atas perbuatannya yang telah dilakukan pada Co Yong, biar bagaimana secara tidak langsung, ia harus memikul tanggung jawab itu.

Tan Ciu berpaling kearah orang tua bungkuk itu dan berkata.

"Cianpwe, tolonglah lekas agar ia dapat sembuh kembali."

Orang tua bungkuk berkata. "Apa yang kau  akan lakukan setelah menolongna?"

"Aku akan segera cari Tan Kiam Lam." "Menuntut balas?" "Aku harus membunuhnya."

"Dengan ilmu kepandaianmu, tidak ada bedanya dengan telur diujung tanduk. Kau bukanlah tandingan Tan Kiam Lam."

"Seharusnya, . . ."

"Aku bersedia menolong gadis itu. dan setelah berhasil, kau harus mengajaknya meningsalkan tempat ini."

"Mengajak Co Yong meninggalkan Benteng Penagantungan?"

"Betul dan harus berjanji, kau harus baik-baik memeliharanya."

"Aku berjanji akan baik-baik memperlakukan dirinya." "Baik."

Dengan mudah orang tua bungkuk itu dapat masuk kedalam sel tahanan. dibukanya segala sesuatu dengan alat yang telah tersedia, ia harus mengobati gadis sengsara itu.

Menyaksikan ada orang yang datang, tubuh Co Yong melesat, ia berteriak, "Kau iblis. .. aku akan membunuhmu

....."

Tentu saja gerakan Co Yong tidak membawa hasil, dengan cepat dan gesit orang tua bungkuk itu telah menotok Jalan darah si gadis, robohlah tubuh gadis tersebut.

Dari luar kamar tahanan Tan Ciu menyaksikan kejadian tersebut.

Orang tua menggerakkan jari-jarinya dengan mengerahkan tenaga dalam menotok beberapa  bagian tubuh gadis tersebut. Dengan kepandaian orang tua bungkuk itu, tentu saja tidak sulit baginya untuk menyembuhkan penyakit Co Yong. Sepasang matanya yang lain turut menyaksikan kejadian tersebut.

Tan Ciu tidak sadar ia sedang memusatkan seluruh perhatian kepada gerakan-gerakan jarinja, ia harus dapat menyembuhkat Co Yong secepat mungkin.

Tiba-tiba ...

Orang yang mengintip mereka mengeluarkan suara. "Saudara Tan."

Tan Ciu tidak mendengar suara panggilan itu. Seluruh perhatiannya masih ditujukan kedalam sel kamar tahanan Co Yong.

"Saudara Tan..,." Memanggil lagi suara tersebut dengan lebih keras.

Kali ini suara itu menggema diseluruh ruangan. Tan Ciu membalikkan badannya, ia dapat melihat sepasang mata yang mengintai kearah mereka lalu segera ia membentak.

"Siapa?"

"Aku! Aku Thung Lip." jawab orang itu. "Hei.... kau siapa?. .. Thung Lip . ..?" "Betul. Aku Thung Lip."

Hal itu sungguh berada diluar dugaan Tan Ciu tidak disangka sicendekiawan Serba Bisa Thung Lip berada didalam kamar tahanan Benteng Penggantungan.

Tan Ciu mendekati sel kamar tahanan Thong Lip. Diperhatikannya sebentar, dan segera dikenalinyalah orang tua yang pernah mengepalai satu rombongan untuk memecahkan rahasia pohon Penggantungan, tetapi tidak berhasil itu. Keadaan Thung Lip didalam kamar tahanan Benteng Penggantungan tentu saja tidak dapat disamakan dengan dahulu kala, lebih kurus, pucat dan rambutnya pun tidak teratur rapi bersih, siapakah yang percaya orang ini seorang jago tua yang pernah mengepalai rimba persilatan?

Terdengar Thung Lip membuka suara. "Bagaimana kau berada ditempat ini?"

"Dan mengapa kau ditangkap oleh mereka?" Bertanya Tan Ciu kepada Thung Lip.

"Aku ditangkap oleh mereka."

"Oleh siapa? Co Yong Yen? atau Tan Kiam Lam?" "Co Yong Yen."

"Bagaimanakah permusahanmu dengan Co Yong Yen?"

"Sangat panjang untuk diceritakan. Saudara Tan, kau pernah berkata bahwa kakakmu yang bernama Tan Siang itu mencari aku?"

"Betul."

"Mungkin! Hal ini mungkin dapat terjadi, Kuduga ia telah datang berkunjung kerumahku. Tapi ia tidak berhasil menemuiku."

-ooo0dw0ooo-