Pohon Keramat Jilid 08

Jilid 08

TUBUH Sin Hong Hiap melesat dan menubruk orang berbaju hitam itu. julukan Sin Hong Hiap adalah Pendekar Dewa Angin mudah dibayangkan, tentunya mempunyai kecepatan yang luar biasa, gerakan tadi disendat cepat, bagaikan main sulap, ia telah berada ditempat orang baju hitam tadi bicara.

Tetapi bayangan hitam inipun mempunyai kecepatan yang tidak berada dibawah Sin Hong Hiap, tubuhnya melejit, menyingkirkan diri sejauh tiga tombak. Ia berhasil mempertahankan jarak yang terpisah dari Sin Hong Hiap.

Kecepatan yang menakjubkan.

Wajah Sin Hong Hiap berubah, mengingat hal ini, tentu lawan yang dihadapannya berkepandaian tinggi.

"Terimalah seranganku." Berkata Sin Hong Hiap dan menyerang bayangan hitam itu.

Sang bayangan melejit lagi, tetap menjauh dari Sin Hong Hiap, tidak mau menyambuti serangan yang dilontarkan lawan tersebut.

Sin Hong Hiap mengejar.

Orang ini selalu menyingkirkan diri. Dua orang ini saling kejar dan lenyap diluar rimba Penggantung.

Tan Ciu menolehkan kepala, memandang Pengemis tukang ramal amatir itu, dilihat si pengemis menunjukkan wajah tertawa getir, Menelungkup diatas tubuh Chiu It Cong yang sudah mati.

Jelita Merah Ong Leng Leng menangis sesenggukkan. Kini ia mengangkatkan kepala memandang Tan Ciu.

Sipemuda juga memandangnya, tubuhnya menggigil dingin. Ia menghampiri dan berkata "Nona Ong, maafkan kelancanganku yang telah membunuhnya." Ong Leng Leng. menggeleng-gelengkan kepala, ia masih sesenggukan. Tan Ciu berkata dengan nada suara rendah, "Tidak seharusnya aku membunuhnya."

"Hal ini tidak perlu diungkit-ungkit lagi." Berkata Ong Leng Leng.

"Bila aku tahu bahwa kau masih menyintainya, tentu tidak terjadi hal ini."

"Sudahlah ..." "Maafkan diriku,"

"Aku tidak menyalahkan mu. Akulah yang menyuruhmu

membunuhnya... Betul aku cinta kepadanya, tetapi hal ini tidak mungkin dapat dipertahankan olehnya!"

Jelita Merah Oag Leng Leng menangis lagi, kini ia membayangkan nasibnya yang sengsara.

Dia masih menderita luka, pukulan Chio It  Cong menyebabkan mengeluarkan bunyak darah.

Tan Ciu mengeluarkan obat Seng hiat-hoat-hun-tan, diserahkan kepada Jelita Merah dan berkata.

"Makanlah obat penambah darah ini."

Ong Leng Leng menggeleng-gelengkan kepalanya, ia menolak pemberian itu.

"Terima kasih." Suaranya sangat lemah. "Kau masih membenci aku ?"

"Tidak. Bukan sedikit budi yang kuterima darimu. Kini Chio It Cong telah mati. aku harus kembali kepada guruku. Mungkin tak dapat menjumpai lagi,"

Dengan susah payah, Jelita Merah meninggalkan rimba Penggantungan. Tan Ciu memandang punggung gadis sengsara itu, beberapa saat kemudian, ia lari menyusul.

"Nona Ong..." Ia memanggilnya.

Jelita Merah menghentikan langkah yang berat.

"Nona Ong!" berkata Tan Ciu. Kau harus istirahat dahulu."

"Janganlah menghalang-halangi kepergianku." Berkata Ong Leng Leng.

"Nona ong .."

Tiba-tiba Jelita Merah menubruk pemuda itu, ia menangis sedih didalam rangkulannya.

Tan Ciu membiarkan orang menangis bersandar pada dadanya.

Pengemis tukang ramal amatir itu menghela napas perlahan.

Satu bayangan abu-abu melesat cepat, sudah berada disampingnya sisi Tan Ciu. Dia adalah Sin Hong Hiap yang ternyata telah balik kembali.

Tan Ciu kaget, cepat-cepat mendorong pergi tubuh Ong Leng Leng. Ia harus siap menghadapi musuh kuat itu.

Sin Hong Hiap mengayun tangan memukul sipemuda. "Bocah serahkanlah jiwamu." Bentaknya keras.

Tan Ciu sudah dapat menduga, sebelum serangan Sin

Hong Hiap tiba, ia telah lompat terbang, menjauhi serangan. Maka gagallah serangan Sin Hong Hiap, mengenai tempat kosong.

Jelita Merah Ong Leng Leng nyelasupi masuk, ia berteriak. "Apa-apaan nih?"

Sin Hong Hiap membentak: "Kau juga ingin mati?" "Akulah yang menyuruhnya membunuh muridmu! Bila

tidak, akupun binasa dibawah tangannya." "Kau bersedia mengganti dengan jiwa juga!" "Bila kau tidak puas. Bunuhlah aku."

"Baik." Sin Hong Hiap tidak pandang bulu. Siapa pun akan dibunuh olehnya! Termasuk gadis sengsara ini! Tangannya di ayun.

Tan Ciu berteriak.

"Nona Ong, kau mundur." Tangannya direntangkan, menyambut serangan Sin Hong Hiap.

Gerakan ini boleh dikata sangat cepat, tapi gerakan Sin Hong Hiap lebih cepat lagi, terdengar suara yang mengenai sasaran, tubuh Ong Leng Leng terdorong mundur, ia jatuh kena serangan Sin Hong Hiap.

Bila tidak ada Tan Ciu vang mewikili menerima pukulan ini, pasti Jelita Merah Ong leng Leng binasa.

Jatuhnya Ong Leng Leng membikin Tan Ciu naik keatas cepat, ia menggeram.

"Sin Hong Hiap, akan kuhancurkan kepalamu." Tangannya terayun memukul lawan kuat itu. Sungguh luar biasa, serangan sangat daihsyat sekali.

Sin Hong Hiap tak berani menerima tajamnya serangan ini ia menyingkir lebih dahulu. Baru setelah itu, menyerang tubuh lawan. Terdengar satu suara getaran yang keras, dua orang itu segera terpisah.

Sin Hong Hiap mengeluarkan suara dingin, "Bagus! Kau telah menerima pukulan yang pertama." Tiba-tiba terdengar satu suara cemoohan orang sangat menghina!

"Bagus! Sin Hong Hiap, kau hanya berani menghina anak saja."

Sin Hong Hiap. membalikkan badan, bayangan hitam itu muncul lagi. Tadi ia tidak berhasil mengejar, maka balik berurusan dengan Tan Ciu. Kini bayangan hitam itu masih berani datang, sungguh menjengkelkan hati.

Si bayangan hitam mengeluarkan suara seram.

"Sin Hong Hiap, kau tahu malu tidak? Bertempur orang pun harus memiliki tandingan yang setimpal."

Sim Hong Hiap membanting kaki. "Siapalah kau?" Ia menggeram.

"Ehm, kau tak kenal kepadaku?" Bayang hitam itu menggunakan tutup kerudung hitam dengan bajunya yang hitam lebih-lebih menyeramkan.

Sim Hong Hiap mengerutkan kedua alisnya.

"Ketua Benteng Penggantungan?" Ia menduga-duga dan mengemukakan kecurigaannya.

"Kali ini dugaanmu tepat!" Wajah Sin Hong Hiap berubah.

Orang berbaju dan berkerudung hitam inikah yang pernah menggetarkan rimba persilatan, ketua Benteng Penggantungan yang seram?

Tan Ciu yang mengikuti percakapan itupun terkejut.

Orang hitam inikah yang menjadi

'Ketua Benteng Penggantungan?' Orang yang mungkin bernama Tan Kiam Lam? Ayah kandungnya sendiri? Pemuda ini segera maju berteriak. "Kau betul ketua Benteng Penggantungan?"

"Betul!" Berkata laki-laki berkerudung dam berbaju- hitam itu.

"Namamu Tan Kiam Lam?" Bertanya Tan Ciu. "Betul."

Gejolak hati Tan Ciu hampir tidak terkedalikan. "Kau tau, kini sedang berhadapan dengan siapa?" "Tan Ciu."

"Betul. Aku adalah Tan Ciu." Suara sipemuda menjadi

gemetar.

Ketua Benteng Penggantungan Tan Kiam Lam sudah berhadapan dengan Sin Hong Hiap lagi, ia berkata.

"Sin Hong Hiap, orang-orang yang sudah digolongkan kedalam jago tua kelas satu tidak seharusnya menghina anak-anak yang masih bukan tandingan kita.  Lebih  baik kita sajalah yang menentukan kekuatan, memilih dan menentukan waktu, menentukan kemenangan."

"Baik. Bagaimana bila kita mengadu kekuatan sekarang?" Berkata Sin Hong Hiap menantang-

"Kini kau mempunyai banyak waktu  terluang untuk melayani diriku." Berkata ketua Benteng Penggantungan.

"Mengapa tidak?"

"Apa tujuan utamamu ketempat ini?" "Pohon Penggantungan."

"Kau sudah berhasil melihat itu Manusia pohon Penggantungan?" Sin Hong Hiap tertegun, ia tidak dapat memberikan jawaban. Sesungguhnya, ia belum berhasil menemukan itu Manusia Pohon Penggantungan.

Ketua Benteng Penggantungan mengeluarkan suara dingin.

"Tiga hari kemudian, aku orang she Tan menantikan kedatanganmu didepan Benteng penggantungan. Bila aku kalah, segala sesuatu segera kuserahkan kepadamu. Termasuk pemuda she Tan itu juga."

"Baik." Pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap setuju. "Nah, kunantikan kedatanganmu disana." Berkata ketua

Benteng Penggantungan.

Sin Hong Hiap menganggukkan kepala, tubuhnya bergerak dan menantikan Manusia Pohon Penggantungan diarah pohon maut tersebut.

Ketua Benteng Penggantungan berhasil mencegah Sin Hong Hiap Tan Ciu, setelah melihat Sin Hong Hiap pergi, ia pun membalikkan badan, siap memisahkan diri.

Tan Ciu telah bergerak, ia memegat kepergian orang yang diduga keras sebagai ayah itu.

"Tunggu dulu." Ia berteriak keras.

Ketua Benteng Penggantungan menghentikan gerakannya.

"Ada apa?" ia bertanya.

"Hampir saja aku pergi ke Benteng Penggantungan mencarimu." Berkata Tan Ciu.

"Disini pun sama saja."

"Betul. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu." "Aku tidak ada waktu." Tubuhnya melesat cepat, melarikan diri.

Dua orang saling kejar sebentar, kini ketua Benteng Penggantungan menghentikan langkahnya. Ia menghadapi Tan Ciu dan berkata.

"Apa yang kau mau?"

Wajah Tan Ciu telah diliputi oleh selaput hawa pembunuhan, ia menggeram.

"Aku ingin membunuhmu." "mengapa?"

"Kau jahat dan kejam."

"Ha, ha..... Belum lama aku telah menolongmu, tahu?

Kau ingin membalas air susu dengan air tuba." "Hm.. . Kau tahu bagaimana hubungan kita." "Katakanlah sendiri."

"Aku ingin mendapat jawabanmu."

"Ha, ha "

"Bukalah kedokmu itu." "Kau kira "

"Aku harus membunuhmu."

Kata Tan Ciu disusul dengan serangannya ia memberikan satu sapuan pukulan. Hal ini hebat, ia ingin menyingkap tutup kerudung muka itu dahulu.

Ketua Benteng Penggantungan melesat, maka gagallah serangan yang Tan Ciu lontarkan kepadanya. Hal ini sudah dapat Tan Ciu duga. tanpa istrirahat lagi, Tan Ciu mengejar dan memberi pukulan tangan yang kedua.

Serangan Tan Ciu dibarengi oleh gerakkan tubuh yang memegat kepergian lawan. Ketua Benteng pengantungan tidak berdaya, terpaksa ia memapaki serangan itu. dengan kedua telapak tangannya.

Terdengar suara beradunya dua tenaga pukulan, debu berdebur keras, mengulak naik, masing-masing terpukul mundur dari posisi kedudukan semula. Sehingga berjarak empat belas tombak, dua orang itu baru dapat membuat posisi baru.

Tutup Kerudung orang itu telah terbuka.

Tan Ciu tertegun, ia melengak heran. Wajah itu tidak asing lagi baginya, itulah wajah Kiam Pek.

"Kau ?!" Tan Ciu mengeluarkan suara kaget.

Orang ini bukan  ketua Benteng Penggantungan dia adalah Tan Kiam Pek, pantas berusaha menolong dirinya dari gempuran si Pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap.

Lain pikiran menyelusup kedalam benak  pikiran  Tan Ciu, diketahui bahwa ayah dan pamannya itu dilahirkan pada waktu yang sama, istilah yang harus digunakan untuk menyebut mereka ialah saudara kembar. Tentu mempunyai wajah yang sama. mungkinkah Tan Kiam Lam asli.

Menurut keterangan Tan Kiam Pek, perbedaan yang  khas ialah andeng-andeng hitam melekat pada daun kuping kiri Tan Kiam Lam.

Tan Ciu memperhatikan daun kuping kiri orang itu!

"A a a ...!" sipemuda berteriak. "Dia tidak ada tanda- tanda hitam pada daun kupingnya. Dia Tan Kiam Pek." Tan Ciu sedang berhadapan dengan Tan Kiam Pek?

Pamannya sendiri itu?

Atau berhadapan dengan Tan Kiam Lam! Ayah kandungnya yang belum pernah bertemu muka?

Mari kita mencari jawaban ini pada lembaran berikutnya.

Tan Ciu berhadapan dengan seorang yang mempunyai Wajah seperti Tan Kiam Pek wajah ini sangat membingungkan sipemuda.

Dengan siapakah ia berhadapan muka?

Ketua Benteng Penggantungan Tan Kiam Lam? Atau sang paman, Tan Kiam Pek yang pernah dijumpainya.

Dari ciri-ciri yang dilihat, orang ini adalah Tan Kiam Pek.

Orang itu berkata dingin. "Eh, Bagaimana? Kau telah kehilangan pikiran."

Dengan suara gemetar, Tan Ciu mengajukan pertanyaan. "Kau ketua Benteng Penggantungan yang asli?" "Menuntut pendapatmu apa tidak mungkin?"

"Aku meminta jawabanmu yang pasti."

"Aku bukan ketua Benteng Penggantungan." Orang itu berkata. "Aku hanya menggunakan nama ini untuk menakut-nakuti Sin Hong Hiap. Aku Tan Kiam Pek." ia mendekati Tan Ciu.

Sipemuda mundur, ia masih menaruh curiga.

Tan Kiam Pek mengerutkan keningnya. "Kau tidak percaya?" Ia bertanya.

"Kau membingungkan orang." Berkata Tan Ciu. "Aku sengaja tidak membuka kedok, alasan pertama ialah menghindari Sin Hong Hiap, alasan kedua ialah mencoba sampai dimana kemajuan ilmu silatmu. Ternyata kau telah mendapat kemajuan yang sangat pesat."

"Kau sungguh pamanku, Tam Kiam Pek?" "Ah. hal ini tak perlu kau ragukan lagi." "Tetapi "

"Kau kecewa ?"

Tan Ciu memang agak kecewa. Bila orang ini bukan Tan Kiam Lam, tetapi si ketua Benteng Penggantungan Tan Kiam Lam, maka segala rahasia ayahnya itu dapat dibuka segera. Tidak perlu ubek-ubekan mencarinya lagi.

Terdengar Tan Kiam Pek berkata. "Kau juga mendapat kabar bahwa Tan Kiam Lam akan tiba dipohon Penggantungan?"

Tan Ciu menganggukkan kepala.

Terdengar lagi suara Tan Kiam Pek. "Bagaimana kau mengikat tali permusuhan dengan Sin Hong Hiap."

Tan Ciu bercerita bagaimana ia menemui Chio It Cong, dengan kesudahan matinya pemuda baju yang berkepala batu itu.

Tan Kiam Pek mengemukakan pendapatnya  dan berkata.

"Chio It Cong memang takut mati. Hanya adatnya Sin Hong Hiap itu agak luar biasa ia membela golongannya. tanpa melihat suasana tanpa menimbang untung ruginya. Kukira ia tak mau menyelesaikan urusannya begitu saja."

"Aku tidak takut," Tan Ciu membawakan sikapnya yang berdarah panas, Maka, mereka segera kambali lagi. Disana Jelita Merah Ong Leng Leng masih menggeletak pingsan, ia terkena pukulan Chio It Cong terlebih dahulu, dan terakhir dipukul jatuh oleh Sin Hong Hiap.

Tan Kiam Pek memandang gadis baju merah itu dan berkata kepada Tan Ciu.

"Kau menolong dirinya. Aku ingin menyusul Sin Hong Hiap."

Tan Ciu menerima Usul ini.

"Baik." Dan ia menghampiri Ong Leng Leng,

Tubuh Tan Kiam Pek melesat dan sebentar saja sudah lenyap tidak tampak.

Tan Ciu menghampiri Ong Leng Leng dan menjejal obat Seng niat-hoan hun-tan kemulut orang, kemudian menotok beberapa jalan darahnya, mempercepat peredaran darah.

Tidak lama kemudian, Ong Leng Leng sadarkan diri lagi. Gadis baju merah itu bangkit berdiri, ia mengucapkan terima kasih.

"Tan siauwhiap, aku berterima kasih kepadamu." "Akupun pernah menerima budimu," Berkata Tan Ciu. "Aku harus segera pergi." Berkata Ong Leng Leng.

"Budimu tak nanti kulupakan. Agaknya sulit membalas budi ini."

"Jangan kau berkata seperti itu."

"Selamat tinggal." Ong Leng Leng melambaikan tangan dan pergi meninggalkan sipemuda.

Tan Ciu bengong memandang punggung belakang orang, seolah-olah dia telah kehilangan sesuatu. Beberapa lama Tan Ciu melamun, sampai pada satu waktu ia dikejutkan datangnya seseorang yang datang dengan tidak disertai suara sama sekali.

Cepat ia membalikan kepala, menotok kearah datangnya bayangan itu, tiba-tiba ia berteriak.

"A a a a a ...!!"

Seorang gadis berbaju hitam telah berdiri disana, diam, kaku dan tidak bergerak.

Tan Ciu mengucek-ucek kedua matanya tatkala dibuka lagi, betul-betul ia melihat bayangan gadis berbaju hitam  itu.

Lama sekali mereka saling pandang.

Terdengar suara Tan Ciu yang bergumam. "Mengimpikan aku ...Mengimpikan aku?"

Akhirnya Tan Ciu berteriak keras. "Cicie ...!!"

Gadis baju hitam itu adalah Tan Sang, kakak perempuan Tan Ciu yang dahulu telah digantung diatas Pohon Penggantungan!

Mungkin orang yang sudah dapat hidup kembali. Mungkinkah ada bantu gelandangan yang mati penasaran?

Mungkin ada arwah seseorang yang dapat menampilkan dirinya lagi?

Apa yang Tan Ciu lihat, memang tidak salah. Gadis baju hitam itu adalah kakaknya yang bernama Tang Sang.

"Cicie...." Sekali lagi Tan Ciu memanggil Tan Sang dengan suara gemetar.

Gadis itu tidak memberikan jawaban.

"Kau... Kau adalah cicieku?" Tan Ciu bertanya. Kini, baru gadis tersebut memanggutkan kepalanya. "Cicie ... "

"Tan Ciu ..."

"Aaaa....!" Tan Ciu menubruk gadis berbaju hitam itu, dan menangis didalam rangkulannya.

Seolah-olah sedang mengimpi, Tan Ciu tak tahu, apa yang harus diperbuat olehnya.

Tan Ciu berteriak dan menubruk gadis tersebut ia mengeluarkan air mata gembira. Membiarkan dirinya berada dalam rangkulannya.

Tatkala Tan Ciu melampiaskan rasa rindunya kepada sang kakak dan menyenderkan diri didalam pelukan orang, gadis itu menggerakkan jarinya cepat, tiba-tiba menotok jalan darah sipemuda.

Didalam tidak ada penjagaan sama sekali, Tan Ciu tertotok jatuh, ia mendapat totokan tidur. Sebelum ingatan hilang sama sekali, mulutnya berteriak keras.

"Cicie, kau...!!"

Tetapi suara itu tidak keburu dikeluarkan, si pemuda sudah menggeliat didalam rangkulan gadis itu.

Disaat ini satu bayangan bergerak datang tanpa suara sama sekali.

Gadis berbaju hitam telah menggendong tubuh Tan Ciu yang ditotok olehnya, maka si pemuda tak tahu, apa yang bakal terjadi,

Orang yang datang, adalah seorang gadis yang berkerudung.

Gadis yang menggendong Tan Ciu setelah melihat kedatangan wanita berkerudung itu dan memanggilnya perlahan. "Ibu "

Wanita berkerudung itu mengeluarkan elahan napas panjang...

"Bawalah." Ia memberi perintah.

"Tidak memberi tahu kepadanya?" Sigadis mengajukan pertanyaannya!

"Tidak."

"Hal ini akan membuatnya sangat rindu."

"Apa boleh buat. Belum waktunya." Berkata wanita berkerudung itu.

"Anakmu kira, lebih baik memberi tahu atas penjelasan yang tepat."

"Hal ini akan lebih mengganggu dirinya." "Ibu "

"Jangan banyak bicara. Bawalah!" "Baik."

Mereka membawa Tan Ciu dan melenyapkan diri.

Berapa lama kemudian Tan Ciu sudah mulai siuman.

Tan Ciu mendapatkan dirinya terbaring  ditabnah. Terlihat ia duduk dan menggeleng-gelengkan kepala,  betulkah hal itu telah terjadi? Hal ini membingungkan dirinya. Maka ia tidak percaya.

Si pemuda membayangkan dan menggenang kejadian- kejadian yang belum lama terjadi. Hal ini sungguh-sungguh telah dialami oleh dirinya.

Bagaikan mimpi, bagaikan hidup didalam cerita seriba satu malam, ia merasakan keanehan dan keajaiban yang sangat luar biasa. Tan Sang setelah mati diatas Pohon Penggantungan.

Bagaimana ia dapat hidup lagi?

Samar-samar masih teringat bagaimana kakak itu menotok dirinya, kemudian jatuh tidurlah jago muda kita dan tidak sadarkan diri.

Betulkah Tan Sang yang melakukan hal itu?

Sungguh. Dia memang Tan Sang. Tidak salah lagi. Hal ini dapat dipastikan akan kebenarannya.

Tan Ciu bangun berdiri. Ia membuka matanya. Dihadapannya terpeta satu gambaran gadis cantik,

wajahnya bulat telur, pakaiannya putih bersih. Semakin lama semakin jelas, gambar itu terpeta hidup.

Seorang gadis berbaju putih tertawa dan  memandang Tan Ciu yang masih bingung itu.

Samar-samar, Tan Ciu seperti kenal dengan wajah ini.

Maka gadis baju putih itu membuka suara. "Kau telah bangun?"

Tan Ciu tertegun. Memandang kearah kelilingnya, ia sudah berada ditempat lain.

"Bagaimana aku dapat berada ditempat ini?" Ia mengajukan pertanyaan.

"Aku yang membawa kesini." Berkata gadis berbaju  putih itu.

"Kau?"

"Betul. Kulihat kau terbaring tidur dengan tenang sekali. Kukira Kau menderita luka. Maka kugendong dan bawa ketempat ini. Disini kuperiksa, dan baru kuketahui bahwa kau telah mendapat totokan tidur." "Aaaaaaaa "

Gadis baju putih itu tertawa. "Mengapa?" "Tidak." Jawab Tan Ciu singkat.

"Kau yang bernama Tan Ciu?" Bertanya gadis itu. "Bagaimana kau tahu?"

"Pada satu tahun  yang lalu, kita pernah bertemu, bukan?"

"Aaaaa "

Tan Ciu teringat. Pada satu tahun yang lalu, dikala ia hampir menderita penyakit gila, diusir oleh gurunya, gadis baju putih inilah yang menolongnya dan mempertemukan dengan si Putri Angin Tornado, Tidak disangka, disini, ia berjumpa lagi.

Gadis itu tertawa.

"Sudah teringat,?" Ia berjalan mendekati,

"Aaaaa...." Tan Ciu berteriak girang, "Betul. Aku teringat! Eeh, bilakah hari "

"Lihatlah, hari telah siang bolong!"

"Apa? Sudah menjadi siang?" Tan Ciu berteriak.

"Betul!" Gadis itu menganggukkan kepala. "Sudah siang."

Tan Ciu mematung ditempatnya.

Tiba-tiba bagaikan diserang penyakit gila, pemuda itu melesat terbang, gerakannya cepat sekali.

Gadis itu terkejut, ia berteriak. "Tan siauwhiap!"

Tan Ciu tidak menghiraukan panggilan itu ia lari  dan lari, menuju kearah Pohon Penggantungan. Sebentar kemudian, Tan Ciu telah berada dibawah Pohon Penggantungan. Jelas.,.. Lagi-lagi ada seorang yang menjadi korban keganasan pohon gundul itu. Disana, diatas Pohon Penggantungan, bergelantung tubuh seorang kakek yang mati digantung orang, tahun ini terjadi pengecualian, yang mati di atas Pohon Penggantungan bukan seorang gadis lagi, tetapi seorang laki-laki tua.

Tahun ini tidak terkecuali. Diatas pohon Penggantungan tergantung korban tahanan.

Hanya ada sedikit perbedaan dengan tahun-tahun yang telah lalu, bila pada tahun-tahun dahulu, yang menjadi korban ialah para gadis cantik berkepandaian silat, hari ini, yang menjadi Korban Pohon Penggantungan adalah seorang lelaki tua, umurnya diduga diantara lima puluhan,

Kecuali korban itu, disekitar Pohon Penggantungan sangat sunyi dan sepi. Tidak ada orang sama sekali.

Tan Ciu merasa heran, kemanakah si pengemis tua tukang ramal amatir? Kemana perginya si Dewa Angin Sin Hong Hiap, ketua Benteng Penggantungan, Tan Kiam Pek dan tokoh-tokoh lainnya yang menjaga pohon maut ini?

Kemanakah perginya orang-orang itu? Sandiwara hebat telah dilewatkan olehnya. Yang jelas, ada sesuatu tenaga kekuatan yang tak menginginkan dirinya menyaksikan kejadian-kejadian diatas Pohon Penggantungan.

Dari manakah datangnya kekuatan ini? Dengan  satu tipu, kekuatan itu telah menidurkan dirinya. Maka dikala ia kembali, drama Pohon Penggantungan telah dilewatkan.

Semua orang telah meninggalkan tempat itu.

Hanya mayat diatas Pohon Penggantungan yang masih bergoyang-goyang. Tan Ciu mengeretek gigi, ia benci kepada gadis yang menyamar menjadi Tan Sang itu. kalau bukan gadis tersebut yang menotok jalan darah tidurnya, ia dapat menyaksikan kejadian-kejadian disana.

Siapakah gadis berbaju hitam itu? Mungkinkah  ada orang yang mempunyai wajah mirip seperti Tan Sang.

Dia pasti Tan Sang.

Tidak mungkin, Tan Sang telah mati diatas pohon penggantungan. Mana mungkin dapat hidup kembali?

Kejadian yang sudah lewat tidak mungkin ditarik kembali. Yang penting ia harus segera mencari tahu, apa yang telah terjadi disekitar Pohon Penggantungan, manakala tidak ingat diri tadi!

Disini ada menunggu dan hadir pengemis tua aneh dan Tan Kiam Pek misterius, bila berhasil menemukan satu dari dua orang itu tentu ia dapat tahu, apa yang telah terjadi.

Tan Ciu harus segera mencari jejak dua orang tersebut.

Kepala si pemuda berdongak lagi, memandang mayat yang bergoyang diatas Pohon Penggantungan.

Heran. Dengan adanya jago-jago seperti Sin Hong Hiap, Ketua Benteng Penggantungan dan lain-lainnya, bagaimana si Pencipta Pohon Penggantungan dapat melakukan sesuatu dengan bebas, menggantung orang diatas Pohon besinya.

Terdengar suara langkah kaki yang datang dari arah belakang sipemuda.

Tan Ciu menoleh cepat.

Gadis baju putih ini yang menyusul datang. Siapakah gadis ini?

Mengapa mengikuti dirinya? Terlihat sigadis tertawa, sikapnya memang ramah tamah, dia adalah seorang gadis baik hati, terbukti dari perbuatannya pada satu tahun yang lalu, dia pernah menolong Tan Ciu, dikala pemuda itu hampir menjadi gila, karena tekanan batin yang tidak terhingga. 

"Tan siauwhiap, kau menunggu seseorang disini?" Gadis tersebut mengajukan pertanyaan,

Tan Ciu menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak." Ia memberikan jawaban. "Agaknya ada sesuatu yang kau pikirkan."

"Nona...." Berkata Tan Ciu. “Bolehkah aku mengajukan pertanyaan?"

"Silahkan!"

"Berapa lama kau berada ditempat ini?" "Dikala hari menjelang pagi."

"Adakah sesuatu yang kau lihat?"

"Hanya sekelumit dari rentetan cerita yang ingin kau ketahui."

"Aaa " Tan Ciu menjadi girang,

Mengapa Tan Ciu bergirang? ...

Siapakah gadis baju putih itu?

Mari kita mencari jawaban ini pada cerita yang berikutnya.

o.OdwO.o

DIBAWAH Pohon Penggantungan ada 2 orang, mereka adalah Tan Ciu dan seorang gadis berbaju putih. Diatas Pohon Penggantungan ada seorang kakek yang mati digantung, dia adalah korban keganasan Pohon Penggantungan.

Terdengar Tan Ciu berseru girang, "Katakanlah, lekaslah katakan kepadaku,"

"Apa yang harus dikatakan kepadamu ?"  Bertanya sigadis berbaju putih itu.

"Katakanlah apa yang kau saksikan ditempat ini pada hari menjelang hampir pagi."

"Tentang pihak yang mana?"

"Aaaa.,." Dugaan Tan Ciu tidak salah, gadis ini telah menyaksikan apa yang tidak diketahui olehnya.

"Kau telah melihat sipencipta Pohon Pengantungan?" Gadis itu menganggukan kepalanya pelahan.

Hati Tan Ciu berdebar keras.

"Bagaimanakah bentuknya tokoh maut itu?" ia bertanya cepat.

"Dia adalah seorang wanita berkerudung."

"Wanita berkerudung?" Tan Ciu mengerutkan alisnya. "Pencipta maut Pohon Penggantungan adalah seorang wanita?".

"Betul"

"Hanya seorang?"

"Tiga, Mereka terdiri dari tiga orang!" "Bagaimanakah bentuk dua orang kawannya itu?" "Mereka ialah gadis berpakaian warna hitam." "Aaaa ... Gadis berpakaian hitam?!!"

"Betul.   Seorang diantaranya adalah kakakmu yang bernama Tan Sang itu."

"aaaa ... kakakku ?" "Betul."

"Ehh, bagaimana kau tahu?"

"Mereka memanggilnya dengan sebutan seperti itu."

Tan Ciu menjublek ditempatnya. Lama sekali ia mematung diam. Kejadian dan perkembangan yang seperti ini berada diluar dugaan sama sekali.

Gadis baju hitam yang menotok jalan darah tidurnya itu adalah Tan Sang? Haruskah ia percaya kepada keterangan orang?

Tan Ciu berkata. "Kau tidak berniat menggoda orang, bukan?"

Gadis itu menggoyang-goyangkan kepala.

"Aku tidak ada niatan untuk menggodamu." katanya, "Tan Sang memanggil-manggil namamu dengan sedih."

"Kemudian?"

"Dengan cara yang sangat luar biasa. Mereka menggantungkan orang diatas Pohon Penggantungan."

"Tan Sang juga ikut komplotan Pohon Penggantungan?!"

"Betul. Kecuali komplotan Pohon Penggantungan. Yang datang terdapat juga orang yang mereka sebut sebagai si Dewa Angin Sin Hong Hiap dan ketua Benteng Penggantungan."

"Ketua Benteng Penggantungan tidak berhasil menemukan ketua Benteng Penggantungan?" "Tidak."

"Ketua pohon Penggantungan itu lihai sekali"

"Betul. Dia dan dua gadis baju hitam mengenakan kerudung muka, maka tidak terlihat jelas bagaimana wajah ketiga orang itu. Yang jelas satu diantara dua gadis baju hitam yang menjadi pengiring ketua pohon Penggantungan ialah kakakmu yang bernama Tan Sang itu."

"Bagaimana tiga orang ini dapat menghindari Sin Hong Hiap dan menggantungkan orang diatas Pohon Penggantungan?"

"Pertama-tama seorang gadis baju hitam dengan kerudung muka tampil dibawah Pohon Penggantungan, Sin Hong Hiap segera menduga kepada pencipta Pohon Penggantungan maka ia mengejar. Gadis itu lari, maka Sin Hong Hiap terpancing pergi. Kemudian muncul kakakmu, dengan cara yang sama, ia juga berhasil memancing pergi ketua Benteng Penggantungan, baru muncul pemimpin mereka, dengan malah, Ketua Pohon Penggantungan menggantungkan orang diatas pohon gundul."

"Sin Hong Hiap dan ketua Benteng Penggantungan tidak balik kembali?"

"Balik..Tetapi segala sesuatu telah kelar. wanita berkerudung dan dua orangnya telah tiada disitu. Yang ada hanyalah korban mereka diatas pohon."

"Sungguh pintar."

"Betul. Mereka mempunyai rencana yang masak.

Perhitungannya tepat." "Sayang sekali "

"Kejadian ini ada hubungan dengan dirimu." Gadis itu mengajukan pertanyaan. "Betul!" Berkata Tan Ciu. "Orang mengatakan bahwa ketua Pohon Penggantungan itu adalah jelmaan ibuku."

"Tentang kakakmu Tan Sang!"

"Aku telah melihat bagaimana ia digantung orang diatas Pohon Penggantungan, tetapi mayatnya hilang lagi, entah kemana. Aku harus membikin terang kejadian ini."

"Oooo... Maukah kau bekerja sama denganku?." Gadis itu mengajukan usul.

"Bekerja sama? Bagaimanakah cara bekerja sama itu?" Tan Ciu belum mengerti akan maksud tujuan orang.

"Aku akan membantu kau membikin terang rahasia Pohon Penggantungan." Berkata si gadis, "Dan kau membantu aku mencari seseorang."

"Siapakah orang yang kau cari?" "Sibungkuk Kui Tho Cu."

"Siapakah si Bungkuk Kui Tho Cu ini? Dimanakah ia

berada."

Gadis itu tertawa.

"Lucu." katanya. "Bila aku tahu dimana ia berada, mungkinkah aku meminta bantuanmu untuk mencarinya."

"Ng.... Yang kumaksudkan ialah dimana dari lenyapnya orang yang dapat kau cari itu?"

"Hanya seorang dapat mengetahui, dimana si Bangkok Kui Tho Cu berada." Berkata gadis itu. "Bila kau dapat bertemu dengan orang itu mana mungkin berhasil menemukan Kui Tho Cu."

"Siapakah orang ini?" Bertanya Tan Ciu. "Tan Kiam Lam." "Hah?" Tau Ciu tersentak. Lagi lagi Tan Kiam Lam!

"Mengapa?" Gadis itu tidak mengerti. Juga tak tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan putra dari orang yang baru saja disebut olehnya.

"Akupun sedang mencari Tan Kiam Lam," berkata Tan Ciu!

"Ng. Bila bertemu dengannya kau boleh sekalian bertanya, dimanakah si Bungkuk Kui Tho Cu berada, dan beritahulah kepadaku," berkata gadis itu. "Dimanakah Tan Kiam Lam itu?"

"Ketua Benteng Penggantungan itulah yang bernama Tan Kiam Lam." Berkata Tan Ciu.

"Hei... sungguh?"

Sigadis pernah melihat ketua Benteng Penggantungan yang mengenakan tutup kerudung muka, hanya ia tidak tahu bahwa orang itulah yang bernama Tan Kiam Lam.

"Mengapa harus berbohong kepadamu" Berkata Tan Ciu. "Hanya aku belum mengetahui pasti akan dugaan ini."

"Sayang." Berkata si gadis. "Bila kutahu kejadian ini. tentu kutahan orang tadi dan menanyakan kepadanya, dimana Kui Tho Cu berada."

Gadis itu tertawa manis, senyumnya memang murah sekali.

Kebetulan Tan Ciu sedang memandang orang, hatinya berdebar keras, suatu tantangan bagi seorang pemuda yang masih berdarah panas.

"Hei." Berkata gadis itu. "Mengapa kau tidak ingin mengetahui namaku?"

"Katakanlah, siapa namamu?" "Aku bernama Cang Ceng Ceng."

"Ohw, nona Cang. Sungguh beruntung dapat berkenalan denganmu."

"Panggil saja aku dengan sebutan Ceng-Ceng."

Tan Ciu menganggukkan kepala. Gadis ini terlalu menarik hati, baik dan mempunyai perangai yang halus.

"Mari kita meninggalkan tempat ini." Berkata Cang Ceng Ceng.

"Baik."

Mereka meninggalkan rimba penggantungan.

Drama Pohon Penggantungan telah terjadi. Hal ini tidak dapat ditolak lagi.

Tan Ciu menyesal karena tidak dapat mengikuti kejadian-kejadian itu. Kini ia bekerja sama dengan seorang gadis yang cantik menarik, bagaimanakah hasil dari kerja sama ini?

Bagaimana pula perjalanan mereka ke Benteng Penggantungan?

Betulkah bahwa Ketua Benteng Penggantungan bernama Tan Kiam Lam?

Betulkah bahwa orang yang bernama Tan Kiam Lam itu sebagai ayahnya?

Bagaimana ia harus menghadapinya? Bagaimana sikap sang ayah kepada dirinya?

Pertanyaan-pertanyaan ini memusingkan kepala si jago muda. Benteng penggantungan terletak didalam lembah Siang- kiat. Suatu lembah yang sangat sepi dan sunyi, lembah yang mempunyai kedudukan bagus, sangat strategis.

Ini waktu, dijalan yang menuju kearah lembah Siang-kiat terlihat sepasang muda mudi, mereka adalah Tan Ciu dan gadis yang bernama Cang Ceng Ceng itu.

Pada mulut lembah yang pertama, mereka tidak menemukan gangguan.

Dikala memasuki mulut lembah yang ke-dua, keadaan berubah. Jalan menjadi sangat gelap dan sempit, hal ini tidak menguntungkan mereka. Bila orang yang  berjalan ditempat ini mendapat serangan mendadak, tentu sulit untuk mempertahankan keselamatan jiwanya.

Cang Ceng Ceng mengerutkan kening. Ia menghentikan langkah kaki.

Tan Ciu menjadi bimbang. Setelah melewati jalan sempit ini, mereka segera tiba di Benteng Penggantungan. Tempat yang sangat berbahaya sekali. Apa akibatnya bila ia gagal masuk kedalam benteng itu.

"Nona Cang, aku ingin mengemukakan sesuatu kepadamu." Berkata Tan Ciu.

"Katakanlah." Berkata sigadis itu. "Lebih baik kita berpisah." "Maksudmu?"

"Kau tunggu disini. Dan biarkan aku masuk ke dalam, Hal ini untuk menjaga agar jangan sampai kita berdua mengalami sesuatu apa pada saat yang sama."

"Mengapa tidak membiarkan aku yang masuk kedalam benteng." "Hal ini sangat berbahaya sekali."

"Kau ingin masuk kesana. Bukankah sangat berbahaya juga."

"Diantara kita berdua, harus satu yang masuk kedalam Benteng Penggantungan menemui Tan Kiam Lam."

"Aku tidak setuju. Mengapa tidak masuk bersama-sama saja?"

"Aku tidak mengharapkan ada sesuatu yang mengganggumu." Berkata Tan Ciu.

"Aku berani menerjang rimba persilatan, tentu tak takut mati." Berkata Cang Ceng Ceng. "Dimisalkan terjadi sesuatu apa, aku tidak akan menuntut ganti  rugi kepadamu."

"Baiklah," Tan Ciu mengalah.

Mereka telah mendapat persepakatan untuk masuk kedalam jalan sempit yang gelap itu, maka dua-duanya melangkahkan kaki mereka.

Tiba-tiba ...

Tiga bayangan bergerak cepat, disana telah bertambah tiga orang, dua wanita dan seorang pria, semua mengenakan pakaian warna hitam.

Yang berjalan dipaling depan adalah wanita berbaju hitam, dia adalah kepala dari tiga orang tadi, memandang Tan Ciu dan Cang Ceng Ceng, ia membentak.

"Apa maksud kalian berdua menuju ke Benteng Penggantungan?"

"Menemui seseorang." Berkata Tan Ciu. "Siapa orang yang ingin kalian temui?" "Ketua Benteng Penggantungan ." "Dengan maksud tujuan ?"

"Dia tahu."

"Bagaimana sebutan namamu ?" "Tan Ciu."

"Kau yang bernama Tan Ciu?"

"Betul. Beritahu kepada ketua kalian, bahwa aku Tan Ciu ingin bertemu dengannya."

"Ketua kami   tidak   bersedia menemuimu." Berkata wanita baju hitam itu.

Wajah Tan Ciu berubah. "Bagaimana ia tahu kedatanganku?"

"Ketua kami tentu tahu. Beliau pernah memberi pesan bahwa ia tidak bersedia menemui seorang pemuda yang bernama Tan Ciu."

"Bila aku menerjang masuk dan menemuinya dengan paksa?"

"Tidak mungkin." Tiga orang baju hitam berkata. "Tidak mungkin kau berhasil."

"Baik. Buktikanlah, berhasil atau tidak, aku masuk kedalam Benteng Penggantungan dengan paksa." Berkata Tan Ciu yang sudah siap bergebrak, mengadu kekuatan.

Tiga orang baju hitam mengeluarkan pedang. Tan Ciu sudah siap menerjang.

Tetapi Cang Ceng Ceng menarik tangan sang kawan, dengan, halus ia berkata. "Jangan terlalu cepat marah." Tan Ciu mengibaskan pegangan tangan itu ia pun telah mengeluarkan senjata, sudah menjadi pantangan besar di dalam rimba persilatan bila mengeluarkan senjata tanpa peperangan.

Ditunjuknya wanita baju hitam yang menjadi kepala dari tiga orang tadi, dan membentak.

"Apa jabatanmu didalam Benteng Penggantungan?" "Hiangcu penjaga mulut lembah."

"Bila aku berhasil mengalahkanmu, tentunya dapat bertemu dengan ketua kalian, bukan?" Tan Ciu mengajukan pertanyaan.

"Mungkin kau dapat menemui beliau." Berkata wanita baju hitam itu.

"Nah, terimalah seranganku." Tan Ciu segera mulai dengan serangannya.

Berhasilkah Tan Ciu menerjang masuk?

Bagaimana kesudahan dari perjalanan ke Benteng Penggantungan ini?

Mari kita mencari jawaban pada cerita cerita berikutnya. oo OwO oo

MENGETAHUI bahwa Tan Ciu menyerang, tiga orang baju hitam melintangi pedang mereka, dengan kekuatan tenaga tiga orang, mereka menerima serangan sipemuda.

Tragggg.....

Mereka segera terpisah lagi.

"Tan siauwhiap, serahkanlah mereka kepadaku." Ia meminta.

Tan Ciu menggoyangkan kepala. "Tidak!" Ia tidak setuju "sebelum mendapat izinku jangan kau ikut campur."

Terpaksa Cang Ceng Ceng mundur lagi.

Dua wanita dan seorang laki-laki berbaju hitam itu mengurung Tan Ciu ditengah.

"Kalian tidak mengijinkan kita masuk ke dalam lembah?" Tan Ciu masih menghindari pertempuran.

"Tidak." Jawaban ini sangat pasti.

"Baik, bersiap-siaplah untuk menerima seranganku." "Silahkan..." Tiga orang baju hitam telah

menggabungkan diri menjadi satu.

Tan Ciu membentak keras, pedangnya terayun menyapu tiga lawannya. Inilah serangan maut, hebat luar biasa, si pemuda telah mengerahkan semua kekuatannya, ia harus cepat-cepat menemui ketua Benteng Penggantungan, Maka tidak mengenal rasa kasihan lagi. Wanita baju hitam menutup serangan itu dengan pedangnya. Dua kawan lainnya menyerang dari kanan dan kiri, demikian agar Tan Ciu tidak dapat memusatkan satu tujuan. Sebentar saja mereka telah saling gebrak tiga jurus.

Tan Ciu lebih gesit, lebih cepat dan lebih galak, ia berada diatas angin. Cang Ceng Ceng menunjukkan rasa girangnya, wajahnya menjadi terang. Tiga orang baju hitam menjadi terkejut, sungguh berada diluar dugaan mereka. Seorang pemuda yang baru berumur belasan tahun mempunyai kekuatan seperti ini.

Trangggg.....

Terjadi lagi benturan pedang, lelatu berterbangan keempat penjuru. Tanpa menghentikan gerakan senjata. Tan Ciu menyerang lagi. beruntun sampai dua kali. Hal ini tidak mungkin diikuti oleh lawan-lawannya, kecepatan sipemuda adalah kecepatan kilat yang lewat, hanya terdengar suara jeritan yang  mengerikan, kepala wanita baju hitam itu telah melayang terbang, darah bertaburan ditanah.

Dua orang berbaju hitam lainnya mengundurkan diri, wajah mereka menjadi pucat.

"Tidak mau memberi tahu kedatanganku!" Tan Ciu mengancam.

Dua orang itu gemetaran, tetapi mereka masih ingin mengadu jiwa, disaat yang hampir sama, dua orang itu mengayun pedang mereka tanpa memperdulikan keselamatan diri sendiri.

Tan Ciu menyabetkan pedang. dan menariknya kembali. Terdengar lagi dua kali jeritan ngeri dua orang itupun menjadi korban keganasan pedang si pemuda, Tan Ciu berhasil menyingkirkan tiga pelintang jalan itu, Cang Ceng Ceng maju dan pemberi pujian,

"Ilmu pedangmu cukup lumayan."

Hati Tan Ciu tergetar. Cukup lumayan? Didalam  hati ini, bukankah mengatakan bahwa ilmu pedang gadis itu masih berada diatas dirinya? Ia memandang gadis tersebut, Mungkinkah gadis yang lemah ini mempunyai ilmu silat yang hebat?

Mereka meneruskan perjalanan dan masuk ke dalam lembah.

Tiba-tiba.......

Terdengar suara dingin dari celah-celah batu gunung. "Ilmu pedang yang cukup hebat!" Tan Ciu dan Cang Ceng Ceng menghentikan langkah mereka memeriksa keadaan disekitarnya tidak terlibat orang yang bicara tadi.

"Mereka bersembunyi dibalik batu." Berkata Cang Ceng Ceng.

"Ng ..."

Terdengar lagi suara orang Benteng Penggantungan itu. "Lebih baik kalian keluar dan segera meninggalkan lembah ini."

Tan Ciu berdengus. "Bila tidak bagaimana?" "Inilah bagianmu!" Berkata orang itu.

Dari atas mereka, segera turun menggelinding batu-batu. Cang Ceng Ceng berteriak.

"Serangan datang dari atas!"

Mendahului gerakan sipemuda, ia melompat ke arah batu yang cekung kedalam, tempat itu memang aman.

Tan Ciu jaga mengikuti gerakan gadis itu. Kemudian ia berkata.

"Kau tunggu disini."

"Kau hendak kemana?" Bertanya sigadis. "Membereskan mereka dahulu."

"Aku turut."

"Hendak mencari mati?." Tan Ciu tidak setuju.

"Bila kau mati, akupun tidak akan hidup sendiri." Berkata Cang Ceng Ceng lemah.

"Sudahlah." "Sungguh Lebih baik kita menerjang mereka bersama."

Tan Ciu mengeretek gigi. Pemuda ini berkata. "Bila sampai terjadi sesuatu, janganlah menyalahkan diriku."

"Baiklah."

Dua orang bersama-sama menerjang lembah. Dengan menghindari pelurukan batu-batu yang bergelinding jatuh dari atas tebing, mereka masuk semakin dalam.

Tiba-tiba, dua angin pukulan menyerang dua orang itu.

Cepat sekali, hebat kekuatan pukulan itu.

Bila Tan Ciu dan Cang Ceng Ceng kalah gesit, pasti mereka menderita luka.

Tan Ciu menyerang dengan tangan kiri, pedang ditangan kanan pun bergerak cepat. Menyusul datangnya arah bayangan jahat itu.

Terdengar satu suara jeritan, seorang baju hitam menggeletak menjadi korban pedang,

Seorang baju hitam lagi gagal menyerang Cang Ceng Ceng, jaraknya dekat dengan si pemuda, maka ia memukul Tan Ciu. Berbareng terjadi hujan senjata rahasia, datangnya dari empat penjuru, mengurung pemuda itu.

Suatu hal yang berada diluar dugaan sipemuda, ia sedang memusatkan semua perhatiannya kepada musuh yang datang, tidak tahu masih ada senjata-senjata rahasia itu. Jiwanya sangat berbahaya.

Disaat ini terdengar suara angin lunak yang memberi pertolongan, angin ini memukul pergi senjata rahasia yang mengancam Tan Ciu.

Berbareng terdengar suara jeritan, orang baju hitam itu telah mati dibawah tangan Tan Ciu. Senjata-senjata rahasia yang mengancam keselamatan sipemuda juga berjatuhan, ternyata Cang Ceng Ceng yang menolong jiwa sipemuda. Tan Ciu tertegun. Cang Ceng Ceng membentaknya.

"Mengapa berhenti?"

sipemuda tersadar, berdua meneruskan perjalanan. Kini, bukan saja harus berusaha menyingkir dari hujan batu, mereka pun harus siap menghadapi serangan-serangan bokongan.

Datangnya senjata rahasia itu adalah dari celah celah tebing, orang-orang Benteng Penggantungan bersembunyi didalam perut gunung itu. Suatu saat, Tan Ciu lompat naik.

Sebongkah batu besar jatuh menutup kepalanya. Kali ini betul-betul membuat ia tidak berdaya, kecuali batu besar tadi yang mengancam kepala, tidak sedikit batu-batu yang menutup seluruh jalan mundurnya. Tan Ciu bingung..

Disaat ini, leher bajunya terasa dijinjing orang, dikala ia membuka mata, semua itu telah lewat. Hanya gemuruh suara batu  yang memekakkan telinga, debu mengepul disekitar tempat itu.

Dikala suasana sudah menjadi jernih. Tan Ciu menengok kebelakang, disana terlihat Cang Ceng Ceng tersenyum memandangnya,

"Kau?!" ia berseru heran. "Kau yang menolong diriku dari bahaya itu?"

Cang Ceng Ceng hanya menganggukkan kepalanya.

Sungguh diluar dugaan, gadis ini ternyata mempunyai ilmu kepandaian yang berada di atas dirinya. Tan Ciu tidak berani memandang rendah lagi. ia terkesima dan menatap wajah yang berupa telur manis itu. "Hei...Mengapa kau menjadi seperti orang kehilangan ingatan." Inilah suara gadis itu.

Wajah Tan Ciu menjadi merah. "Ilmu kepandaianmu "

"Hanya tinggi sedikit diatasmu." Berkata gadis tersebut.

"Terima kasih, Syukur kau berhasil menghindari diri dari hujan batu tadi!" Berkata Tan Ciu! "Bahkan lebih dari itu, kau juga menolong jiwaku dari ancaman bahaya, entah bagaimana harus membalas budimu ini!"

"Siapa yang mengharapkan pembalasan budi?" Gadis itu sangat ramah sekali. "Aku sudah puas bila kau berlaku baik, tidak membenci diriku!"

"Siapa yang membenci?" Tan Ciu heran. "Syukurlah."

Disaat ini. terdengar suara dingin berkata. "Bagus, kalian yang sudah berada diambang pintu kematian masih ada itu kesenangan untuk main cumbu-cumbuan."

Seorang bermata tunggal telah melayang datang, dibelakangnya turut empat orang baju hitam. Mereka menghadang didepan Tan Ciu dan Cang Ceng Ceng.

Dari sinar mata lawan yang sangat bercahaya, Tan Ciu tahu, bahwa ia sedang menghadapi seorang tokoh silat yang berkepandaian tinggi. Maka siap sedia dengan tangkasnya, ia harus berhati hati untuk menghadapi lima orang ini.

Orang berbaju hitam dengan mata tunggal itu berkata dingin.

"Hmm kepandaian kalian memang  hebat," "Terima kasih kepada pujianmu." Berkata Tan Ciu. "Didalam sejarah Benteng Penggantungan kalian berdualah yang baru berhasil menerjang penjagaan- penjagaan ini."

"Hanya lembah yang seperti ini tidak ada kegunaan!" "Hm "

"Tolong beri tahu kepada ketua kalian, bahwa aku Tan Ciu telah berkunjung datang"

"Jangan terburu-buru." "Mengapa?"

"Disini ada aku, kau harus mengalahkan aku dulu."

Berkata kakek picak itu.

"Hm .. Apa kedudukanmu didalam Benteng penggantungan?"

"Kau tidak perlu tahu."

"Namamu?" Tan Ciu menatap orang berkata  satu. "Tentu mempunyai nama, bukan?"

"Tok Gan Liong"

"Bagus." Tan Ciu mengeluarkan pedang. Ia siap menghadapi sikakek picak, Tok Gan liong.

Tok Gan Liong bersenjatakan tongkat besi, ujungnya berbentuk kaitan, khusus melawan senjata yang berupa pedang.

Maka ....

Terdengar bentakan Tok Gan Liong, bagaikan guntur yang memecah angkasa. membelah datang.

Tan Ciu telah memapaki dengan satu lemparan pedang. Trangg..... Dua bayangan terpisah kembali, masing-masing mundur kebelakang lima tapak. Dilihat sepintas lalu, kekuatan mereka seimbang. namun kejadian yang sesungguhnya tidaklah demikian, Tok Gan Liong seharusnya sudah mengaku kalah, dengan senjata tongkat yang lebih berat, terjadinya akhir seperti itu menandakan kekuatannya yang berada di bawah Tan Ciu.

-oo0dw0oo-