Pohon Keramat Jilid 07

Jilid 07

TAN CIU memasang mata, dihadapan-nya berdiri seorang pengemis tua dengan pakaian yang banyak tambalan, pengemis inilah yang mengganggu ketenangan jalannya.

Pengemis tua itu mempunyai wajah yang buruk, melihat si pemuda sebentar, segera ia membentak ...

"Bocah kurang ajar, kau ingin menerjang mampus diriku??"

Tan Ciu tertawa.

"Aku belum menerjang kau, bukan?" Ia agak geli.

"Hm... Dengan ilmu kecepatanmu yang seperti tadi, bila

sampai terjadi benturan, bagaimana aku dapat mempertahankan jiwaku," berkata pengemis tua itu tidak mau mengalah!

Tan Ciu tidak mendebatnya. Ia tersenyum senyum saja.

Pengemis tua itu lebih marah. Ia membentak

"Agaknya kau ingin menyongsong orang mati. Hee?

Mengapa terburu buru seperti ini?" Wajah Tan Ciu berubah. "Apa maksud tujuanmu dengan kata kata  tadi?" Ia menatap pengemis tua itu tajam-tajam. Ia curiga.

"Kau ingin mengantarkan diri untuk mati?"

Seolah olah, pengemis tua ini ingin menarik, pembicaraan kedalam acara pokok. "Matipun harus perlahan lahan, tahu?"

"Berilah penjelasan yang tenang!!" "Tentang apa?"

"Tentang kata katamu yang tersembunyi." "Ha...ha..ha.. ha" Pengemis tua itu tertawa.

"Kau pintar, kau dapat menangkap arti kata kataku.!" Tubuhnya melesat, meninggalkan Tan Ciu.

Tan Ciu tidak tinggal diam. ia menyusul pengemis tua yang misterius itu. Dengan beberapa kali loncatan, ia berhasil menyusulnya. kemudian mencegat orang.

Si pengemis tua dipaksa menghentikan langkahnya. Ia kena pegat.

"Eh, mengapa kau menggangguku lagi?" Ia mengajukan pertanyaan.

Tan Ciu membentak.

"Berilah keterangan yang jelas tentang maksud tujuanmu."

"Aku bermaksud tujuan apa ?"

"Bila kau masih berlagak pilon, dengan sekali hajar, aku akan meremukkan batok kepalamu " Tan Ciu mengancam.

"Hanya ingin mengetahui keterangan yang lebih jelas, kau bersedia membunuh orang?" Bertanya sipengemis tua. "Betul, Kedatanganmu sangat mencurigakan" "Apa yang kau curigai?"

"Karena kau seperti sudah tahu maksud tujuanku"

"Mengapa? Hal ini sudah lumrah, bukan?!"

"Kukira, kau adalah salah seorang dari golongannya?" Pengemis tua itu tertawa berkakakan.

"Kau mengoceh seenak udel saja." Ia berkata. "Biar mati kelaparan, tidak nanti aku mengemis kepadanya."

"Siapa yang kau artikan dengan orang ketiga itu?" Bertanya Tan Ciu.

"Seharusnya kau mengerti." Berkata si pengemis tua. "Tan Kiam Lam yang kau maksudkan?"

"Ketua  Benteng Penggantungan." Pengemis  tua ini meralat keterangan Tan Ciu.

Wajah sipemuda berubah lagi.

"Ketua Benteng Penggantungan adalah Tan Kiam Lam." Ia berkata.

"Bukan." Pengemis tua ini menolak keterangan.

"Ketua Benteng Penggantungan bukan Tan Kiam Lam?" Si pengemis tua menganggukkan kepala.

"Kukira bukan." Ia berkata. "Tetapi belum tentu tidak mungkin sama sekali."

"Keterangan yang mempunyai dua jawaban seperti inilah yang paling-sulit diterima, bukan dan mempunyai kemungkinan." Siapakah sesungguhnya ketua Benteng Penggantungan itu?

Bagaimanakah Tan Ciu membongkar rahasia Tan Kiam Lam yang penuh rahasia teka teki?

Mari kita menyaksikan bagian bagian berikutnya dari cerita ini.

oo-OdwO-oo

TAN-CIU menatap pengemis tua itu tajam tajam. Apa maksud dan bagaimana asal-usulnya pengemis yang sangat mencurigakan ini.

"Bagaimana kau tahu, bahwa aku ingin mengunjungi dan menemui ketua Benteng Penggantungan?" Ia mengajukan pertanyaan, pengemis tua itu tertawa.

"Terus terang kukatakan kepadamu, pekerjaanku sehari hari, kecuali meminta-minta sedekah, lain pekerjaan ialah meramalkan sesuatu kepada orang. Aku adalah tukang ramal amatir."

"Ngelepus!"

"Percaya atau tidaknya, terserah kepadamu," berkata pengemis yang mengaku sebagai tukang ramal amatir itu. Sikapnya sangat tenang sekali.

Tan Ciu mengeluarkan suara dari hidung. "Dihadapanku, adalah lebih baik jangan terlalu banyak

menjual mahal!"

Kau tidak percaya bahwa aku dapat melihat segala sesuatu yang sudah atau akan terjadi?" Bertanya si  pengemis tukang ramal.

"Tidak percaya..." "Berani mengadakan pertaruhan?" "Apa yang dipertaruhkan?"

"Bila aku dapat meramalkan segala sesuatu tentangmu

dengan cocok, kau harus mencopot batok kepalamu, untuk diserahkan kepadaku."

"Bila ramalanmu tidak cocok?"

"Akupun akan menyerahkan batok kepalaku kepadamu." "Baik."

Pengemis itu tertawa.

"Kau akan menyesal, tahu ?"

"Tidak. Aku tidak akan menyesal." Tan Ciu menantang. "Aku masih menyayangkan batok kepalamu itu." "Jangan banyak cing-cong. Katakanlah."

"Apa yang ingin kau ketahui, kejadian yang sudah lewat atau kejadian yang akan terjadi?" Pengemis yaug mengaku tukang ramal amatir ini mempunyai pegangan yang kuat. Maka ia berani berkata seperti tadi.

Tan Ciu berpikir sebentar, kemudian berkata.

"Aku mengajukan suatu pertanyaan kepadamu, bila jawabanmu ini cocok, maka segera akan kuserahkan batok kepalaku."

"Baik." Berkata si pengemis. "Katakanlah, Seratus persen kau akan kalah."

Tan Ciu tertawa.

"Belum tentu." Ia menantang.

"Sebutkanlah pertanyaanmu." Berkata sipengemis tersebut. "Siapa yang menjadi ayahku? Bimanakah ibu berada? Siapa yang menjadi algojo Pohon Penggantungan?" Sekaligus. Tan Ciu mengajukan tiga pertanyaan yang beruntun. Pengemis tukang ramal amatir itu tertawa

"Bocah." ia berkata, "Berapa banyaknya batok kepalamu!"

"Tentu saja satu." Berkata Tan Ciu masuk kedalam perangkap orang.

"Mengapa mengajukan tiga pertanyaan?" Pengemis tua itu bertanya tertawa.

Tan Ciu tertegun.

"Baiklah." Akhirnya pemuda ini mengalah. "Aku mengajukan satu dari tiga pertanyaan tadi, yang ingin kuketahui ialah siapa algojo Pohon Penggantungan?"

"Algojo Pohon Penggantungan..."

Si pengemis tidak meneruskan kata katanya agaknya tidak dapat memberi keterangan.

Taa Ciu tertawa dingin.

"Bagaimana?" Ia sangat puas. "Tidak dapat memberi jawaban, bukan?"

"Bukan tidak dapat memberi jawaban." Berkata sipengemis. "Tetapi tidak dapat mengatakan kepadamu."

"Kentut! ianya satu alasan kosong." Tan Ciu tidak puas. "Jangan kau memaki orang."

"Bila kau tidak menjawab pertanyaanku ini, maka kau harus mengakui akan kekalahanmu dan serahkanlah batok kepalamu." Berkata Tau Ciu. Pengemis tua itu menunjukkan wajahnya yang serba susah. Tan Ciu membentak lagi. "Kau tidak mau menyerah kalah?"

"Aku.... Aku..... Sungguh aku tidak bisa mengatakannya." Berkata sipengemis.

"Mengapa?"

"Karena hal ini menyangkut rahasia yang belum waktunya dibuka."

"Jangan menggunakan alasan." "Sungguh."

"Lebih baik kau menyerahkan batok kepalamu itu." Pengemis tua menggoyangkan kepala.

"Masih ada lain alasan?" Bertanya Tan Ciu, Tubuhnya bergerak, siap menangkap orang. gesit sekali gerakan pemuda ini.

"Tunggu!!" Berteriak si pengemis. "Nah, katakanlah." Berkata Tan Ciu.

"kuatur seperti ini saja." Berkata sipengemis.

"Bertempur, tidak mungkin memenangkan dirimu. Laripun tidak mungkin dapat menghindari diri darimu.  Dari pada menyerahkan batok kepalaku secara penasaran, lebih baik kuberikan jawaban pada secarik kertas, suata saat, bila sudah waktunya rahasia itu diketahui olehmu, maka baru kau boleh buka."

"Kau ingin mengulur waktu copotnya batok kepalamu itu?" Tan Ciu mengejek.

"Bukan. Hal itu menyangkut takdir. Sesuatu yang telah ditetapkan tidak dapat diubah." "H m m m m "

"Suatu hari, bila kau harus menyerahkan batok kepala itu, jangan kau menyesal," Berkata pengemis itu.

"Kukira kata kata ini harus ditujukan kepadamu."

Pengemis tua yang misterius itu mengeluarkan secarik kertas, mencatat sesuatu dan melipat lagi kertas tersebut, di tempelnya surat pusaka ini dan diserahkan kepada Tan Ciu.

"Simpanlah baik baik jawaban pertanyaanmu tadi," Katanya. "Suatu ketika, setelah tiba waktunya untuk mengetahui, aku akan memberi tahu kepadamu."

Tan Ciu menerima surat jawaban itu. Dia masukkan kedalam saku baju. Maka  iapun bersedia meneruskan perjalanan.

Si pengemis mencegah dengan satu teriakan. "Tunggu dulu!!"

Tan Ciu menghentikan gerakannya lagi.

"Apa lagi?" Ia bertanya. "Pokok persoalan.."

"Kau menyaksikan ilmu kepandaianku tidak dapat menandingi ketua Benteng Penggantungan?"

"Susah dipastikan" Tan Ciu tertawa.

"Aku heran.." ia berkata. "Bagaimana kau tahu aku akan mengunjungi Benteng Penggantungan?"

"Lupakah kau, bahwa kini sedang berhadapan dengan seorang tukang ramal amatir?"

"Obrolan kosong, aku tidak akan diajak perang lidah dengan seorang yang sudah menjadi pokrol bambu." Pengemis itu tertawa. Ia berkata.

"Bukan obrolan kosong, juga bukan perang lidah. Aku ingin berembuk denganmu."

"Tentang apa?"

"Bersediakah kau menyaksikan suatu keramaian?" "Keramaian apa?"

"Kau tahu, tanggal berapakah hari ini?" "Tanggal berapa? Aku lupa."

"Hari ini tanggal empat belas,bulan delapan." Berkata sipengemis tua yang mengaku dirinya sebagai seorang tukang ramal amatir itu.

Hati Tan Ciu tergetar.

"Esok adalah hari Pek-gwe Cap go." Ia berkata.

"Betul." Membenarkan pengemis itu. "Apa yang akan terjadi pada hari itu?"

"Hari Pohon Penggantungan yang menyeramkan." "Betul."

Tan Ciu mengeluarkan suara dari hidung. "Aku tak dapat melepaskan kesempatan ini," "Ingin pergi?" Bertanya sipengemis.

"Tentu, Siapa yang menjadi korban Pohon Penggantungan, esok hari segera kuketahui,"

Si pengemis menggoyang goyangkan kepala berkata, "Tidak mungkin!!!" "Kau mengatakan bahwa aku tak mungkin berhasil mengetahui, siapa yang menjadi algojo Pohon Penggantungan?"

"Seratus persen kau akan mengalami kegagalan." "Aku tidak percaya."

"Mau bertaruh lagi?"

"Kukira kau seorang pendekar Casino, Tukang judi yang suka taruhan"

"Kuberi tahu kepadamu, bahwa orang yang akan mengunjungi Pohon Penggantungan tak sedikit, mereka adalah tokoh tokoh istimewa semua, termasuk siketua Benteng Penggantungan dan "

"Betul?!!"

"Tak akan salah lagi"

"Diantara algojo Pohon Penggantungan dan ketua Benteng Penggantungan tidak ada hubungan sama sekali.?"

"Tentu saja tidak"

"Kecuali ketua Benteng Penggantungan, tokoh mana lagi yang akan berkunjung datang?."

"Seorang tokoh silat kelas satu yang istimewa, si Pendekar Dewa Angin sin Hong Hiap juga akan turut serta."

"Siapakah Pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap ini?" "Namanya sudah  terkenal pada enam puluh tahun  yang

lalu   dia   adalah   seorang  jago   tertua   yang  masih hidup

didalam dunia.

"Ilmu silatnya dapat menandingi Tan Kiam Lam?" "Sukar ditentukan, yang pasti ialah tidak berada dibawah Tan Kiam Lam."

Tan Ciu berkata suram.

"Aku tak percaya, masakan tak ada orang yang dapat menandingi ilmu Tan Kiam Lam??"

Sipengemis tua diam bungkam.

"Siapa lagi yang akan datang?" Tan Ciu bertanya. Kini ia mulai percaya bahwa pengemis tukang ramal amatir ini mempunyai info info tajam.

Si pengemis tua berkata.

"Bayangkan, bila esok malam, Tan Kiam lam, Sin Hoag Hiap dan ketua Benteng Penggantungan berkumpul di Pohon Penggantungan, bagaimanakah algojo Pohon Pengantungan menghadapi mereka? Suatu keramaian yang luar biasa, bukan?"

“Mereka itu pasti tiba?" "Pasti."

"Kau berani mengadakan jaminan?"

"Apa yang harus kujamin. Mereka pun segera tiba. mengapa kau tidak mau turut serta."

"Baik. Aku turut serta didalam barisan kuat ini." Berkata Tan Ciu gagah.

"Mari kita berangkat ke-Pohon Penggantungan." Mengajak pengemis itu.

Tan Ciu tidak menolak ajakan ini, maka kedua orang itu melesat, menuju kearah Pohon Penggantungan.

Tanggal lima belas bulan delapun. Hari seram, yang membayangi Pohon Penggantungan ini pun tiba.

Didalam rimba Penggantungan yang gelap, tetapi diliputi oleh kabut keseraman. Tabir ini sudah waktunya dibuka.

Bila tahun yang  lain, penggantungan seorang  gadis cantik berkepandaian silat tidak dapat dicegah, bagaimana keadaannya tahun ini?

Ilmu kepandaian Thong Lip cs tentu tidak dapat dibandingkan dengan ilmu kepandaian Tan Kiam Lam, Sin Hong Hiap dan ketua Benteng  Penggantungan, mungkinkah tidak dapat dicegah terjadinya drama seram itu.

Malam segera mengarungi jagat, menutupi pemandangan dirimba penggantungan yang gelap.

Setelah kentongan yang pertama dibunyikan,  disusul oleh bunyi kentongan kedua,

Sebelum kentongan malam dibunyikan tiga  kali, disekitar Pohon Penggantungan belum terlihat tanda tanda ada yang bergerak. Pohon pohon duduk di tempatnya dengan kokoh, hanya daun-daun yang bertiup  bunyi, karena godaan angin lewat.

Tiba-tiba .... Satu bayangan lewat masuk kedalam rimba penggantungan, langsung menuju kearah pohon maut itu, ia berdiri disana. Pada punggungnya terlihat menggembol pedang, dia adalah seorang pemuda. Yang mengenakan pakaian warna kuning.

Pemuda berpakaian kuning menatap Pohon Penggantungan beberapa lama, tidak ada tanda tanda bahwa diatas Pohon ini telah terjadi drama baru.. Ia mengeluarkan suara dingin, tubuhnya dibalikkan dan pergi lagi,

Sepeninggalnya pemuda berbaju kuning tadi, dari atas pohon yang agak tinggi, melayang dua orang, mereka adalah sipengemis dan jago muda kita, Tan Ciu.

Tan Ciu memandang pengenis tua dan bertanya. "Siapakah pemuda berbaju kuning tadi?"

Sipengemis tukang ramal menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku belum   berhasil   mengetahui   asal   usalnya." Ia berkata.

"Hm..." Tan Ciu mengeluarkan suara dari hidung. "Berkata saja terus terang, bahwa kau tidak tahu!"

Pengemis itu tertawa, ia menyudahi Perdebatan itu. Tiba tiba si pengemis menarik tangan baju Tan Ciu. "Ada orang!" Ia memberi bisikan.

Tubuhnya melesat dan bersembunyi di semak semak

pohon. Gerakan ini diikuti oleh Tan Ciu. Mereka menyembunyikan diri.

Dua bayangan melesat masuk dan tiba dibawah Pohon Penggantungan. mereka mengenakan pakaian berwarna hitam, yang berjalan duluan adalah laki laki dan yang belakangan adalah seorang wanita.

Laki laki dan wanita berbaju bitam itu memperhatikan Pohon Penggantungan sebentar, kemudian pergi lagi.

Diatas pohon, si pengemis tukang ramal membisiki perlahan,

"Orang orang dari Benteng Penggantungan," "Ng.." Tan Ciu mengiyakannya. Dua orang dari Benteng Penggantungan itu meninggalkan Pohon Penggantungan.

Terlihat tubuh Tan Ciu melesat turun dan mengikuti dibelakang mereka! Tanpa suara dan tanpa tanda tanda!

Dua orang dari Benteng Penggantungan tidak mengetahui bahwa diri mereka telah berada dibawah pengawasan orang, mereka meninggalkan rimba Penggantungan! berjalan mengikuti jalan raya dan kini tiba disebuah bukit.

Mereka mendaki bukit itu, diatas bukit ada sebuah rumah yang dibangun dari bahan-bahan kayu, mereka masuk kedalam rumah itu!

Didalam rumah kayu telah berkumpul tiga orang baju hitam, orang yang menjadi pemimpin dari tiga orang ini adalah wanita berbaju hitam, ia duduk ditengah. Inilah wanita berbaju hitam yang Co Yong panggil sebagai bibi Kang.

Dua orang itu berbaju hitam yang baru masuk memberi hormat kepada bibi Kang itu.

"Memberi tahu kepada Hiangcu, kami telah kembali." Berkata mereka.

Ternyata Bibi Kang itu adalah hiangcu dari Benteng Penggantungau, suatu kedudukan yang cukup tinggi.

Terlihat ia memandang dua orang tersebut dan bertanya. "Ada gerakan?"

"Tidak." Jawab dua orang yang ditugaskan membikin penyelidikan tentang pohon Penggantungan.

Bibi Kang ini mengkerutkan kedua alisnya, kemudian memandang orang yang berada disebelah kiri, seorang laki- laki yang menggendong pedang dan bertanya. "Bila ketua Benteng akan tiba?"

"Sebelum jam tiga," Berkata orang yang ditanya. "Pasti datang?"

"Ya!!" Orang itu menganggukkan kepala. Tiba-tiba bibi Kang ini memanjangkan telinganya, ia merasa ada sesuatu yang tak biasa, dengan satu gerakan tangan, ia memberi perintah agar semua orang yang berada didalam rumah bambu itu menghentikan percakapan.

Suasana menjadi sunyi dan sepi. Bibi Kang memandang luar jendela dan membentak. "Siapa ?"

Tidak ada jawaban.

Bibi Kang melesat keluar diturut oleh kawan-kawannya. Disana telah berdiri seorang pemuda berbaju kuning,

pemuda inilah  yang telah memeriksa Pohon Penggantungan.

"Kau siapa?" Bentak bibi Kang kepadanya-

Pemuda berbaju kuning mengeluarkan suara dengusan dari hidung..

"Apa yang kalian kerjakan ditempat ini?"

"Mengapa kau mengintip intip rahasia kami?" Balik bertanya bibi Kang dengan suara keras,

"Siapa yang kesudian mengintip intip rahasiamu?" Berkata pemuda baju kuning itu ketus.

Semua orang berbaju hitam tertegun. Pemuda berbaju kuning itu bertanya lagi "Kalian dari Benteng Penggantungan?."

"Betul." mereka membenarkan pertanyaan itu. "Mengapa tidak terlihat ketua kalian?" Bertanya pemuda baju kuning lagi.

Wanita berbaju hitam, bibi Kang itu berkata dingin. "Bagaimana kau tahu bahwa ketua kami tidak datang?" "Syukurlah bila ia datang." Berkata sipemuda baju

kuning. "Aku akan menunggu kedatangannya."

Siapakah pemuda berbaju kuning ini? Dengan maksud tujuan apa menantikan kedatangan ketua Benteng Penggantungan?

Mari kita teruskan cerita dibagian bawah.

oooOdwOooo

PEMUDA berbaju kuning menempatkan dirinya diantara rombongan berbaju hitam itu, si bibi Kang menjadi naik darah, ia membentak.

"Apa maksudmu menantikan ketua kami?"

"Apa jabatanmu didalam Benteng  Penggantungan?" Balik tanya pemuda itu.

Wanita berbaju hitam she Kang ini adalah salah satu dari hiangcu Benteng Penggantungan. Kecuali ketua, urutan selanjutnya adalah hiangcu emas, perak dan tembaga, dia adalah hiangcu tembaga itu. Suatu jabatan yang cukup tinggi.

Mendengar pertanyaan sipemuda berbaju kuning, ia merasa tersinggung.

"Dengan orang yang sepertimu, kukira belum mempunyai kesempatan bertema muka dengan ketua Benteng kami." Ia berkata. "Kukira ketua benteng kalian harus mengirim undangan kepadaku." Berkata pemuda itu. "Bila ia  datang, beri tahukan kehadiranku!"

Tubuhnva melesat dan meninggalkan bangunan bambu, tempat yang menjadi markas pos orang-orang Benteng Penggantungan itu, Wanita cantik berbaju hitam ini ada niatan untuk bergebrak tangan, apa mau perintahi ketua benteng tidak mengijinkan ia melakukan sesuatu yang berada diluar rencana, ia gagal mencegahnya.

Orang orang berbaju hitam mengajukan pertanyaan kepadanya.

"Hiangcu siapakah pemuda tadi?"

"Tidak tahu. Kalian boleh pergi. Biar aku Seorang yang menantikan kedatangan ketua,"

Empat orang berbaju hitam itu menerima perintah dan meninggalkannya, Disana hanya tinggal wanita cantik berbaju hitam itu, orang yang Co Yong sebut sebagai bibi Kang.

Ia berjalan mundur. Melihat langit, maka kira kira sudah hampir mendekati pukul tiga, ia bergerak menuju kearah rimba Penggantungan.

Tiba tiba.....

Terdengar satu suara yang membentaknya. "Berhenti!" Seorang pemuda menghadang jalannya.

Wajah wanita ini berubah.

Pemuda yang membentak dan menghadang jalan adalah si jago muda yang galak. Tan Ciu.

Bila wanita berbaju hitam itu dapat kenal dengan sipemuda, sebaliknya Tan Ciu tidak kenal kepadanya, dikala wanita itu muncul pertama kali, Tan Ciu berada didalam keadaan tidak sadarkan diri, ia masih berada didalam pangkuan Co Yong yang menolongnya.

Melihat Tan Ciu, wanita baju hitam itu teringat kepada Co Yong, Gara gara pemuda inilah yang menyusahkan sigadis itu. Wajahnya diliputi hawa kemarahan. Ia membentak. "Kau lagi?"

Tan Ciu terkejut.

"Kau kenal denganku?" Ia bertanya. "Betul!" Berkata wanita itu.

"Kau orang dari Benteng Penggantungan?" "Tidak perlu ditanya lagi."

"Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan kepadamu." "Katakanlah."

"Ketua Benteng kalian bernama Tan Kiam Lam?"

Wanita baju bitam itu tertegun. Hal ini sungguh berada diluar dugaannya. Ia tersenyum tawar. Kemudian berkata.

"Maafkan. Pertanyaan ini tidak dapat kujawab." "Betul ia akan segera datang?" Bertanya Tan Ciu. "Waktu akan memberi jawaban kepadamu."

Tan Ciu tidak memaksa.

"Bagaimana dengan lain pertanyaan?" Wanita itu memandang si pemuda.

"Aku ingin mengajukan nama seorang lain," Berkata Tan Ciu.

"Siapakah namanya?" "Co Yong."

"Mengapa kau menanyakan dirinya?"

"Satu tahun yang lalu, ia telah dibawa oleh orang orang Benteng Penggantungan. Dapatkah aku mendapat berita tentang dirinya? Matikah? Atau masih hidup."

"Ia sudah mati." berkata wanita baju hitam itu.

"Huh?" Tan Ciu termundur tiga langkah. Wajahnya berubah. Satu hawa pembunuhan meliputi paras mukanya.

Wanita baju hitam itu mengulangi keterangan. "Co Yong telah mati."

"Bagaimanakah kematiannya?" bertanya Tan Ciu. "Menerima hukuman ketua benteng kami." "Aaaaaaaa "

"Mengapa terkejut? Ia telah melanggar peraturan benteng, sudah selayaknya menerima hukuman itu."

Tan Ciu mengertak gigi.

"Aku akan membunuhnya." Ia berkata, "dendam nona Co harus kubalas."

Ditinggalkannya wanita berbaju hitam itu, masuk kedalam rimba Penggantungan lagi. Dengan maksud tujuan menemukan ketua Benteng Penggantungan segera. Tan Ciu Pergi.

Wanita baju hitam itu memandang bayangan belakang sipemada sambil menghela napas.

Tiba tiba terdengar suara tertawa dingin, datangnya dari arah belakang wanita baju hitam itu. Cepat ia  menoleh kebelakaug, disana tampak satu bayangan hitam, ia segera mengenal bayangan siketua benteng.

"Pocu...." Ia memanggil perlahan.

Pocu berarti ketua benteng. Ia dan kawannya sudah biasa menggunakan istilah ini.

Bayangan itu adalah ketua Benteng Penggantungan yang misterius, ternyata ia telah menampilkan diri ditempat ini.

"Ada gerakan?" Ia berkata.

"Tidak." Wanita baju hitam itu memberi jawaban. "Ng Pemuda yang baru berlalu tadi."

"Tan Ciu."

"Ng...." ketua Benteng Penggantungan menyatakan kesediaannya. Dengan satu nada perintah, ia  berkata. "jangan sentuh dan ganggu dia."

"Hamba tahu."

"Kini kau boleh kembali." "Pocu "

"Disini sudah tidak memerlukan tenaga kalian. dua hiangcu lainnyapun telah kusuruh kembali."

"Baik."

Setelah memberi hormat. wanita berbaju hitam itupun berjalan pergi.

Disusul dengan gerakan siketua Benteng Penggantungan, hanya satu kali meluncurkan kaki, belasan tombak telah dilewati, sungguh hebat ilmu meringankan badan orang ini.

Ditempat Pohon Penggantungan ... Tan Ciu telah kembali, ia tidak tahu bahwa  Ketua Benteng Penggantungan telah menampilkan  diri, Sangkanya orang pasti ke Pos Maut ini. Maka ia kembali, naik ketempat pohon persembunyian dan menyatukan dirinya dengan sipengemis tua.

"Ada tanda-tanda lain?" Bertanya pengemis itu kepada sipemuda!

Tas Ciu menggelengkan kepala!

"Bagaimana dengan keadaan disini?" ia balik bertanya. "Masih sepi." bercerita sipengemis.

Tan Ciu memandang Pohon Penggantungan, pohon itu berada dibawahnya, pohon palsu itu tetap berdiri ditempatnya, pohon maut yang, telah meminta banyak korban.

Terdengar satu geseran angin, dibarengi oleh munculnya seorang pemuda berbaju kuning, langsung pemuda ini menuju kearah Pohon Penggantungan. Ia  telah berdiri ditempat yang sejarak tiga tombak dari pohon tersebut.

Apa maksud tujuan pemuda berbaju kuning, itu!

Ingin menantikan kedatangan  algojo Pohon Penggantungan?

Pengemis tukang ramal amatir memandang Tan Ciu, wajahnya agak muram.

Tan Ciu sedang memusatkan perhatiannya kearah pemuda berbaju kuning itu. ia sangat mencurigakan. Dilihat dari gerak-geriknya tentunya pemuda itu mempunyai ilmu kepandaian silat yang sangat tinggi.

Apa yang akan terjadi didepan Pohon Penggantungan? Algojo Pohon Penggantungan, ketua Benteng Penggantungan, pemuda berbaju kuning, Tan Ciu, sipengemis tukang ramal amatir, sipendekar Dewa  angin Sin Hong Hiap yang sewaktu waktu dapat memunculkan dirinya ditempat ini-menjadikan suatu rangkaian Pohon Penggantungan.

Apa akibat dari pertemuan dari pada para jago silat kelas satu itu?

Menjelang tepat kentongan ketiga dibunyikan.

Seperti biasa kabut putih tersebut ditempat rimba gelap itu. Semakin lama, semakin tebal. Pemandangan mulai suram dan guram,

Terdengar suara kentongan yang dibunyikan tiga kali. Hari menjelang pagi yang gelap sekali.

Tan Ciu dan pengemis tukang ramal amatir menyembunyikan diri mereka diatas sebuah pohon tinggi.

Pemuda berbaju kuning berdiri di tempat yang berjarak beberapa tombak dari Pohon Penggantungan.

Mereka menantikan kehadirannya si   algojo Pohon Penggantungan.

Hampir satu jam kemudian ...

Terdengar satu suara bergerak, sesuatu yang menginjak daun daun rontok di dalam rimba Penggantungan.

Dan disaat ini terdengar kentongan dipukul empat kali. Satu jam lagi, para petani sudah akan bangun untuk menggarap tanah mereka,

Srek... srek.... srek....

Suara ini semakin jelas. Tan Ciu, pengemis tua dan pemuda berbaju kuning mengalihkan pandangan mereka kearah datangnya suara.

Tidak terlihat ada bayangan manusia. Kabut  terlalu tebal. halimun pagi mengarungi seluruh rimba penggantungan.

Muagkinkah algojo Pohon Penggantungan yang datang?

Kini terlihat satu bayangan, itulah bayangan merah yang datang.

Tan Ciu mengkerutkan keningnya. Potonngan tubuh itu sudah tidak asing baginya, inilah potongan tubuh dari seorang gadis jelita.

Pemuda berbaju kuning menantikan kedatangan bayangan merah itu.

Kini bayangan merah betul betul tiba, ia berdiri dibawah Pohon Penggantungan.

Tiba tiba. pemuda berbaju kuning membentak. "Siapa?"

Bayangan merah itu bergerak, menoleh kearah datangnya suara, halimun pagi terlalu tebal. ia tidak menyangka bahwa ada orang yang menantikan disitu.

Tubuh si pemuda berbaju kuning bergerak, menubruk bayangan merah itu.

Orang ini tidak diam ditempat. ia melesat menyingkirkan diri dari tubrukan orang, Kemudian meletakkan kaki didekat pohon dimana Tan Ciu dan pengemis tua berada.

Tan Ciu segera mengenali orang ini. hampir ia menjerit.

Orang yang berada dibawahnya adalah si Jelita Merah.

Beruntung pengemis tua itu gesit, cepat cepat ia memberi instruksi, agar Tan Ciu tidak membuka suara. Tan Ciu menahan gejolak hatinya, ia memandang kebawah, menyaksikan bagaimara Jelita Merah menghadapi sipemuda berbaju kuning.

Pemuda berbaju kuning telah berhadapan muka langsung dengan Jelita Merah. Mereka saling pandang dengan penuh curiga.

"Aaaa...." Tiba tiba Jelita Merah mengeluarkan teriakan tertahan.

Pemuda berbaju kuning itupun tidak kalah terkejutnya. "Kau?"

Hal ini berada diluar dugaannya, Wajah Jelita Merah terjadi perubahan! girang... gemetar ... dan aneka macam lagi, akhirnya ia berteriak.

"Kau?! Chiu It Cong?"

Tan Ciu turut tergetar, nama Chiu it Cong ini tidak asing baginya, itulah nama kekasih pertama Jelita Merah yang dikatakan telah menghianatinya. Chiu It  Cong pernah mendapatkan tubuh Jelita Merah, kemudian meninggalkannya.

Chiu It Cong juga mengenali bekas kekasihnya itu. "Kau?" Ia mengeluarkan suara dingin- "Tidak disangka,

kini kita bersua lagi!"

Dengan suara gemetar. Jelita merah memanggil, "Chiu koko "

Ia menubruk dan merangkul tubuh kekasihnya itu, Lupalah bagaimana besar derita yang ditinggalkan oleh Chiu It Cong kepadanya. Jelita Merah pernah membenci laki laki ini, setelah bertemu, lupalah kepada kebenciannya, Ia masih mengenangkan cinta lama,   cinta itu tetap menyala-nyala.

Tepat waktunya Jelita Merah menubruk Chiu It Cong, terlihat pemuda berbaju kuning itu mengayunkan tangan,

Plaakkk...

Ia menempiling pipi gadis berbaju merah itu.

Jelita Merah termundur, ia memegangi pipinya  yang dirasakan sangat panas, tamparan Chiu It Cong tidak mengenai kasihan.

Hal ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Pemuda berbaju kuning Chiu It Cong membentak.

"Ong Leng Leng, apa yang telah terjadi dimasa yang lampau itu, tidak mungkin kembali lagi!"

Ternyata nama kecil si Jelita Merah adalah Ong Leng Leng!

Ia membelalakan mata

"Hah?" Hampir Jelita Merah tidak mempercayai pendengaran telinganya.

"Ong Leng Leng, kau jangan mengimpi" Berkata lagi Chiu It Cong.

"Kau " Jelita Merah menangis sedih

"Dahulu aku hanya ingin mempermainkan, saja.." "Kau kejam,."

"Betul! suatu hari, aku pernah cinta kepadamu. Tetapi waktu itu telah berlalu."

"Kau pemuda bajingan.." "Kubunuh kau!" Chiu It Cong menggeram. Jelita Merah Ong Leng Leng sangat sedih sekali. Kemarahan telah berlimpah limpah, membuat dadanya menjadi sesak. Ia menggeram.

"Chiu It Cong, kau telah mempermainkan cintaku. kau telah mendapatkan diriku, kemudian meninggalkanku, kini ingin membunuhku? Bagus! .... Bagus "

"Hee..heee....." Pemuda baju kuning Chiu It  Cong mengeluarkan suara jengekkan

"Kau ingin mengadakan perlawanan?"

"Aku ingin membunuhmu!" Berkata Jelita Merah Ong Leng Leng.

"Ha... Ha "Pemuda baju kuning Chiu It Cong tertawa.

Jelita Merah sungguh-sungguh marah besar, mungkinkah ada seorang laki laki yang seperti Chiu It Cong ini? Menghianati orang dan membunuh orang?

Dicemoohkan seperti itu, ia mengayunkan tangan memukul orang!

Chiu It Coag telah siap sedia, ia menyambuti serangan itu dengan serangan pula. Dua tangan mereka saling beradu, masing masing mundur beberapa langkah dari kedudukan yang semula. ternyata dua orang ini sama kuat.

Ong Leng Leng maju lagi, ia sangat penasaran. Chiu it Cong tidak diam, iapun ingin membunuh gadis gadis yang dapat membusukkan namanya.

Bagaimana akhir kesudahan dari pertempuran ini? Mari kita memeriksa lembaran lembaran berikutnya

o.OdwO.o JELITA merah Oag Leng Leng dan pemuda baju kuning Chiu It Cong meogadu silat, menentukan kemenangan diatas kekerasan tangan.

Sepuluh jurus telah dilewatkan. Belum ada putusan dari pertandingan.

Dua puluh jurus!

Kini memasuki babak yang ketiga puluh, Ilmu kepandaian Jelita Merah telah mendapat kemajuan banyak. Tetapi lawannya bukan pemuda biasa. Chiu-It Cong dapat mempertahankan posisi tidak kalah.

Bluuummmmmm.....

Terdengar satu benturan keras lawan keras. Dua bayangan itu terpisah, yang merah kekanan dan yang kuning kekiri!

Jelita Merah Ong Leng Leng jatuh dengan menyemburkan darah segar.

Chiu It Cong telah lompat maju lagi, ia menggeram, "Ong Leng Leng, apa lagi yang kau mau katakan?" Jelita Merah tiba tiba tertawa berkakakan.

Hal ini mengherankan sipemuda baju kuning ia segera membentaknya.

"Apa yang kau tertawakan?" Jelita Merah menggeram?

"Hari ini adalah hari yang menentukan hubungan kita, bila bukan kau yang mati, pasti aku yang menjadi korban."

Dengan membawa luka yang berat, Jelita Merah Ong Leng Leng menerkam, ia meneruskan pertempuran itu. Chiu It Cong masih kuat, dengan mudah ia  dapat memukul mati gadis baju merah ini. Tangannya diayun, mengancam kepala orang, Tan Ciu segera melesat turun, ia menghalangi lagi datangnya serangan pemuda berbaju kuning Chiu It Cong itu.

Blaarrr....

Chiu It Cong berhasil dipukul mundur, Jelita Merah mengenal  sipemuda,  ia berteriak  girang.  "Tan  Siauw hiap "

Chiu It Cong memancarkan sinar kebencian yang tidak terhingga.

Tan Ciu menghadapi pemuda berbaju kuning itu. Terdengar suara geram Chiu It Cong.

"Siapa kau? Mengapa usil sekali?"

"Aku tidak   dapat menonton kekejaman tanganmu ditempat ini." Berkata Tan Ciu gagah.

"Eh. ada orang yang menjadi backingnya?"

Tan Ciu tidak memberikan jawaban. Ia menoleh dan memandang Jelita Merah.

"Kau masih menyintainya?" la mengajukan pertanyaan kepadanya.

Jelita Merah Ong Leng Leng bungkam.

"Laki laki yang sepertinya tidak patut diberi kesempatan hidup." Berkata Tan Ciu.

Jelita Merah menggeretek gigi.

"Baiklah." Ia berkata "Tolong wakili aku membunuhnya."

"Tidak akan menyesal?" Tan Ciu meminta ketegasan. "Tidak." Berkata Ong Leng Leng singkat.

"Baik." Tubuh Tan Ciu melesat, memberikan serangan kepada lawan.

Chiu It Cong tertawa berkata.

"Ternyata kalian sudah bersekongkol lama!"

Ia lompat dan menghindari serangan Tan Ciu yang pertama! Kemudian membalas dengan satu pukulan tangan!

Tan Ciu sangat benci kepada pemuda yang seperti Chiu  It Cong, ia  memasang kuda kuda kuat dan menerima serangan itu.

Tenaga mereka beradu di tengah. Tubuh Chiu It Cong berhasil didorong mundur sampai dua langkah. Tan Ciu lompat maju lagi, ia menggertak, "Hayo, meminta maaf kepada Nona Oog"

"Kentut." Pemuda baju kuning Chiu It Cong memaki. "Kau memaksa aku membunuhmu?" Berkata lagi Tan

Ciu.

"Kau tidak berani." Berkata Chiu It Cong menantang. "Mengapa tidak berani?" Berkata Tan Ciu yang segera

mengirim satu serangan maut. "Nah, terimalah ini"

Chiu It Cong telah tahu betapa hebat kekuatan lawannya itu, maka ia tak mau menempurnya lagi, dengan mengandalkan ilmu ringankan tubuhnya yang sudah mencapai tahap paling sempurna, ia menyingkir pergi!

Bila ada waktu  atau kekosongan, baru ia membalas memberi serangan totokan.

Mereka saling pukul dan mencari kelengahan lawannya. Didalam sekejap mata lima jurus telah lewat. Jelita Merah Ong Leng Leng betul-betul kecewa akan sikap yang Chiu It Cong perliatkan kepadanya, kini dilihat bekas kekasih itu berada dibawah ancaman bawahan Tan Ciu, ia tidak menyayangkan lagi jiwa  pemuda berbaju kuning itu.

Terlihat Tan Ciu membentak, tangan kirinya termiring mengirim satu pukulan. Inilah hebat, pukulan tadi mengandung tiga macam perubahan, ke mana saja lawan pergi, ia dapat menyusul cepat.

Chiu It cong masih bukan tandingan jago muda kita, apa boleh buat, ia harus menutup serangan Tan Ciu itu dengan satu pukulan.

Tan Ciu mengubah taktik perang, tiba-tiba jarinya dikeraskan, mengganti pukulan menjadi totokan. Jalan darah Tong teng yang diancam.

Maksud tujuan Chiu It Cong mendesak lawannya gagal, dengan cara itu ia dipaksa melakukan satu gempuran keras lagi.

Tan Ciu memperhitungkan sampai disini, maka totokan diganti lagi, serangan pukulan memapaki serangan Chio It Cong.

Akhirnya merekapun mengadu tangan. "Aduh.." Chiu It Cong terpukul mundur,

Tan Ciu tidak memberi kesempatan lawan itu bernapas, ia menyusul dan mengirim satu pnkulan lain tepat mengenai dada pemuda baju kuning itu!

Chiu It Cong memuntahkan darah segar, tubuhnya jatuh di tanah ia pingsan.

Tan Ciu siap menamatkan jiwa pemuda tukang mempermainkan cinta ini, tangannya diangkat lagi... Tiba tiba terdengar satu suara yang datang dari belakang. "Jangan!"

Tan Ciu membatalkan niatan itu. Ia menoleh dan dilihat

olehnya pengemis tua itu telah lompat turun dari atas pohon persembunyiannya.

Tan Ciu memandang pengemis tukang ramal amatir itu dengan sinar mata tidak mengerti.

Pengemis itu segera menotok beberapa jalan darah Chiu It Cong baru ia menghampiri Tan Ciu. Maka Chiu It Cong sadarkan diri. Tan Ciu menegur orang.

"Apa artinya ini?"

Si pengemis menunjuk kearah Chiu It Cong dan berkata. "Dia tidak boleh dibunuh!"

"Mengapa?"

"Dia adalah anak murid Pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap."

"Hah? Anak murid Sin Hong Hiap? Masakan Orang jahat seperti Chiu it Cong ini mau diterima menjadi murid oleh seorang pendekar kenamaan!" Tan Ciu menaruh curiga, Pengemis itu mengulang keterangannya!

"Dia sungguh-sungguh akhli waris Sin Hong Hiap. Jago tua yang telah berumur lebih dari setengah abad itu."

Tan Ciu belum pernah takut kepada orang termasuk si jago tua Sin Hong Hiap, wajahnya semakin beringas. Hawa pembunuhan belum lepas dari paras yang cakap itu.

Terdengar sipengemis tua berkata lagi. "Memukul anjingpun harus memilih tempat, melibat suasana dan gelagat. Lihatlah dulu majikan yang mempunyai dan memelihara binatang itu. Orang yang seperti Sio Hong Hiap, kita tidak boleh mengutak utiknya."

Tan Ciu berkata dingin. "Semua orang boleh menjadi takut dengan Sin Hong Hiap. Tetapi aku tidak."

Tubuh sipemuda melesat kearah Chiu  It Cong dan membentak pemuda berbaju kuning itu.

"Kau anak murid Sin Hong Hiap?"

"Betul." Chiu It Cong membenarkan pertanyaan ini, "Memandang   wajah    Sin   Hong   Hiap,   aku memberi

kesempatan   yang   terakhir,   agar   kau   dapat   sadar  diri

kesalahan. Meminta maaflah kepada nona Ong.!'" "Tidak mau!" Berteriak Chiu It Cong.

"Kau jangan membawakan sikap kepala batu."

"Bila kau berani membunuh diriku, bahaya segera tiba diatas kepalamu, jiwamupun tidak mungkin dapat dipertahankan."

Tan Ciu tertawa berkakakan.

"Akan kubunuh kau dahulu," Ia berkata.

"Akan kulihat, betulkah tidak dapat mempertahankan jiwaku?"

Tan Ciu mengayun tangan dan memukul kearah Chiu It Cong yang sudah tidak berdaya sama sekali itu.

Tiba-tiba sipengemis tukang ramal amatir melesat, ia menerima pukulan Tan Ciu tadi. Maka jiwa pemuda baju kuning itu ditolong lagi.

"Jangan!" Ia berteriak keras.

Tan Ciu membentak pengemis usil ini. "Apa yang kau mau?"

"Kau tidak dapat melepaskannya?" Bertanya sipengemis. "Betul."

"Sudah memperhitungkan segala akibat dari perbuatanmu ini?"

"Segala akibatnya akan kupikul sendiri." Berkata  Tan Ciu

Pengemis tua itu mengundurkan dirinya. Chiu It Cong tahu, tidak mungkin meminta pengampunan, menggunakan kelengahan Tan Ciu, tiba riba ia  meletik cepat, menyerang si pemuda. Maksud tujuannya ialah, dengan satu kali pukul, membokong Tan Ciu.

Tan Ciu tidak lengah, ia menyingkir kekiri dan memberi satu pukulan maut.

Terdengar satu suara jeritan yang mengerikan, kepala Chiu It Cong telah hancur pecah dikala tubun itu jatuh, napasnya telah terhenti sama sekali.

Ia mati.

Tan Ciu menjadi tertegun, Wajah sipengemis tua itu berubah.

"Bocah," Ia berkata "Sin Hong Hiap tidak nanti mau menyudahi perkara ini begitu saja."

"Segala tanggung jawab akan kupikul seorang diri." Berkata Tan Ciu.

"Kau belum kenal watak si Pendekar Dewa Angin Sin Hong Hjap itu ..."

Kata kata ini terputus oleh jeritan si Jelita Merah Ong Leng Leng. "Chiu koko "

Membiarkan hawa kemarahan dan kejengkelannya lewat. Ong Leng Leng tidak meninggalkan kenangan lama begitu saja, biar bagaimana Chiu It Cong adalah pemuda yang pernah dikasihi olehnya. Kini pemuda itu telah mati, bagaimana ia tidak bersedih? Ia menubruk mayat itu dan menangis menggerung gerung.

Tan Ciu menjadi bingung, Ia segera sadar bahwa langkahnya tadi yang tergesa gesa itu adalah satu langkah set yang salah. Tidak seharusnya ia membunuh pemuda yang dikasihi oleh gadis itu.

Hampir Tan Ciu mengucurkan air mata. Kelopak itu telah basah dan berkaca kaca.

Didepan Pohon Penggantungan terjadi drama pembunuhan yang seperti ini.

Tiba tiba melayang datang seorang mengenakan pakaian abu abu dan kecepatan orang ini sangat luar biasa. didalam sekejap mata, ia telah berada disana. Ia adalah seorang tua yang sudah berambut dan beruban putih.

Pengemis tukang ramal amatir mendongakkan kepala, ia sangat terkejut.

"Aaaaaaa " mulutnya terbuka lebar.

Orang tua berpakaian abu abu membentak. "Siapa yang membunuhnya ?"

Ia menunjuk kearah mayat Chiu It  Cong. Suaranya seram dan penuh hawa pembunuhan.

Tan Ciu memandang orang tua itu, dari kata kata yang dicetuskan olehnya, dengan mudah ia dapat menduga, siapa orang yang baru datang ini? Dia adalah pendekar Dewa Aagin Sin Hong Hiap. Tan Ciu menghadapi orang tua itu.

"Kau siapa?" ia balas mengajukan pertanyaan.

Orang tua berbaju abu abu mengalihkan Pandangan matanya, kini diarahkan kepada jago muda kita.

"Aku sedang bertanya, siapa yang membunuhnya?" Ia membentak sipemuda.

"Aku!!" Tan Ciu menunjuk hidung. "Kau?" Orang tua itu agak kurang percaya

"Betul. Tentunya kau inilah yang bernama Sin Hong Hiap?"

"Cocok!! dengan alasan apa kau membunuh muridku?" "Ia telah mempermainkan seorang wanita bahkan tidak

mau mengakui kesalahannya, Maka wajib menerima kematian."

"Hm..." Orang tua berbaju abu abu itu mengeluarkan suara dari hidung. "Ia wajib menerima kematiannya. Dan kau apa tidak wajib menerima kematian?"

Si pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap mendekati Tan Ciu. Hal ini mengejutkan sipengemis tukang ramal amatir, ia maju menyelak diantara dua orang tersebut.

"Sabar " Ia mencoba mendamaikan perkara.

Sin Hong Hiat menatap orang yang menyelak masuk.

Segera ia menjadi terkejut.

"Hei, pengemis bau," Ternyata ia kenal wajah pengemis ini. "Mengapa kau berada ditempat ini? Eh, kau ingin campur urusan?"

"Mana kuberani turut campur urusan ini." Berkata sipengemis. "Hanya didalam hal ini " "Cukup. Berdirilah disamping sana." Berkata Pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap

"Maukah kau mendengar sedikit keteranganku?" Pengemis itu masih berusaha.

"Katakanlah" Sin Hong Hiap menganggukkan kepala. "Muridmu telah mempermainkan kesucian seorang

gadis,   kesalahan   ini   tidak   mau   diakui   olehnya. Suatu

kesalahan besar yang tentu berada diluar tahumu." "Gadis mana yang telah dipermainkan olehnya? "

Pengemis tukang ramal amatir menunjuk kearah Jelita

Merah Ong Leng Leng.

"Itulah orangnya." Ia berkata. Kesalahan dipihak murid sendiri. Sin Hong Hiap tidak mau melibatkan diri dengan gadis itu. Kini ia memperlihatkan watak yang sok menang itu.

"Dimisalkan muridku melakukan sesuatu yang salah." Ia pentang suara, "sebagai gurunya, aku wajib memberitahu. Akulah yang berhak menghukumnya. Dengan alasan apa kalian turun tangan kepada dia? Sudah tidak ada aturan? Dengan dalih apa kalian membunuh dirinya? Sudah tidak ada tata hukum? Tidak memandang mata padaku? Ingin menantang Sin Hong Hiap? Merasa diri sendiri sudah pantas? Merasa sudah berkepandaian tinggi? Ingin menjadi jago? Ingin merajai rimba persilatan ”

Tan Ciu tidak sabar ia memotong pembicaraan orang. "Ini   yang   dinamakan    guru    kencing    berdiri, murid

kencing berdiri, murid yang bejat moral tentu mempunyai guru yang tidak tahu aturan. Sin Hong Hiap, orang lain boleh takut kepadamu, aku Tan Ciu tidak takut kepadamu."

Sin Hong Hiap, mengertak gigi. "Bagus!" Ia berteriak."Didalam tiga gebrakan aku segera menghancurkan batok kepalamu."

Tanpa menunggu jawaban orang, tubuhnya melesat dan menerkam kearah Tan Ciu.

Tiba tiba bergeraklah satu suara yang sangat keren sekali. "Sin Hong Hiap, kau berhenti."

Sin Hong Hiap adalah jago kenamaan yang menganggap dirinya terpandai dikolong dunia, kini dapat didatangi orang tanpa kesadarannya, tubuh yang melesat tadi dengan tidak terhenti sama sekali, berputaran dan kembali ketempat asalnya.

Batallah setangan yang ditujukan kearah Tan Ciu. Terdengar lagi suara yang keren tadi.

"Sin Hong Hiap berani kau mengganggu selembar rambutnya.Orang yang pertama mati adalah kau sendiri."

Seorang berbaju hitam terpeta didalam rimba Penggantungan, dialah yang memberi ancaman kepada si Pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap.

Siapakah bayangan orang berbaju hitam ini? Mungkin algojo Pohon Penggantungan?

Mungkinkah ketua Benteng Penggantungan? Mungkin Tan Kiam Lam?

Mari kita meneruskan cerita yang masih harus dibaca ini.

o-OdwO-o

DIBAWAH Pohon Penggantungan Beberapa orang sedang bersitegang, manakala pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap ingin membunuh Tan Ciu, muncul seorang berbaju hitam, dengan suara yang galak, keren dau temberang menantang dan mengancam Sin Hong Hiap.

Semua orang menduga duga siapakah orang ini?

Bayangan orang berbaju hitam itu tidak segera maju. Ia berdiri jauh jauh dari semua orang berada.

Tidak perduli siapa, orang ini berani menantang Sin Hong Hiap, tentu mempunyai ilmu kepandaian yang sangat luar biasa.

Setelah kembali ditempatnya yang semula. Sin Hong Hiap tertawa berkakakan.

Bayangan hitam itu membuka suara lagi. "Sin Hong Hiap, kau tidak percaya?"

Sin Hong Hiap menutup suara tertawanya dan membentak . "Dari lagu dan nada suaramu, tentunya seorang tokoh berkepandaian tinggi, sebutkanlah namamu."

"Kukira tidak perlu." "Takut?!"

Orang berbaju hitam itu mengeluarkan dengusan,

"Bila aku takut kepadamu, tentu tidak berani mengeluarkan tantangan, bukan?"

"Akan kubuktikan tokoh dari manakah yang berani menggangguku."

-ooo0dw0ooo-