Pohon Keramat Jilid 04

Jilid 04

"DAN bagaimana dengan urusan Tan Kiam Lam?" "Kau tidak dapat menarik kembali perintah ini!" "Kentut."

"Sungguh kau ingin menemui Tan Kiam Lam."

Jelita Merah mendelikkan matanya.

"Dia...." Si kakek aneh Su Hay Khek sengaja menahan sebentar. "Mungkin, dia adalah ayah dari saudara kecil tadi."

"Hah?"

"Maksudku, bakal terjadi suatu kemungkinan bahwa diantara Tan Ciu dan Tan Kiam Lam mempunyai hubungan keluarga yang terdekat."

"Biar bagaimana, aku harus menemuinya." Jelita Merah tetap mempertahankan kedudukannya.

"Aku tahu." Berkata Su Hay Khek.

"Bagaimana keadaan Tan Kiam Lam?" Bertanya lagi Jelita Merah.

"Menurut apa yang dapat kutangkap, ia masih hidup didalam dunia."

"Dimana tempat persembunyiannya?"

"Belum diketahui pasti. Bila kukatakan bahwa ketua perkumpulan Ang mo kauw. Ang mo Kauwcu itulah Tan Kiam Lam, tentu kau terkejut hutan?"

"Hah?" Betul betul Jelita Merah terkejut. "Masakan ketua perkumpulan Ang mo-kauw Hu yang dikatakan sebagai Tan Kiam Lam? Sungguh tidak masuk diakal." "Hanya kebenaran dari dugaanku ini belum pasti. Kemungkinannya hanya lima puluh saja. Dikatakan orang bahwa ilmu kepandaian Ang mo kauw-cu tiada tandingan, kecuali Tan Kiam Lam mungkinkah ada orang kedua. Diketahui bahwa Ang mo Kauw cu menggunakan tutup kerudung muka, bila kita dupat membuka kain penutupnya, tentu tiada rahasia tentang Tan Kiam Lam lagi!"

"Aku ingin yang pasti. Tugas ini harus kau selesaikan dengan baik."

"Aku..... Aku seharusnya "

"Jangan banyak bantah. Tan Ciu telah pergi kelembah Iblis Merah, pergilah kau membantunya."

"Baiklah." Si kakek aneh Su Hay Khek mengalah. Ia terbang menyusul Tan Ciu dilembah Iblis Merah, dimana Ang mo Kauw cu mengeram dengan tutup kerudung, entah wajah siapa yang berada dibalik kain penutup itu?

ooo0dw0ooo

TIDAK bercerita bagaimana Jelita Merah menggendong tubuh Co Yong yan yang telah kehilangan banyak darah, masuk kedalam kelenteng itu.

Tapi menyusul perjalanan Tan Ciu yang menuju kesarang perkumpulan Ang-mo-kauw di lembah Iblis merah!

Ang mo kauw adalah nama perkumpulan yang sedang ditakuti orang, kekuasaan besar, orangnya banyak, tidak jarang diantara mereka yang mau menang sendiri, menindas golongan diluar Ang mo kauw.

Nama seram Ang mo kauw tidak kalah dengan Pohon Penggantungan. Tan Ciu telah berada diluar lembah Iblis Merah.

Melongok ke dasar lembah gelap, hanya bayangan hitam kehitam-hitaman yang terlihat, Tan Ciu tidak segera masuk lembah, ia membikin pemeriksaan disekitar lembah itu.

Tiba-tiba...

Terdengar satu bentakan yang datangnya dari arah belakang.

"Berhenti."

Tan Ciu membalikan badan cepat, disana telah berdiri seorang Sasterawan setengah umur yang mempunyai sikap kaku. tak ubah sebagai mayat hidup. Itulah sastrawan yang selalu mengikuti dibelakang dirinya membayangi kepergiannya.

Mungkin sastrawan ini mempunyai hubungan dengan lembah Iblis Merah? Atau hubungan langsung dengan perkumpulan Ang-mo-kauw ?

Sastrawan itu mengajukan pertanyaan. "Bocah, apa maksudmn datang kemari?"

"Apa pula maksudmu berada ditempat ini?" Tan Ciu balik mengadakan penanyaan kepada sastrawan setengah umur itu.

"Kau heran dapat berjumpa ditempat ini?" "Betul!"

"Aku bayanganmu, bukan?"

"Mengapa kau membayangi aku selalu?"

"Hei, aku ingin bertanya, apa maksudmu berkunjung ke lembah Iblis Merah?"

"Menemui Ang-mo Kauw cu" "Dengan maksud "

"Inilah urusanku?" "Bila kau gagal?" "Gagal?"

"Yang kuartikan kau tidak dapat keluar dari dalam Lembah Iblis Merah, bukankah tidak ada orang yang melanjutkan usahamu?"

Tan Ciu harus percaya keterangan yang sastrawan itu berikan, bila sampai terjadi orang orang Ang mo kauw menangkap dirinya. bukankah Co Yong turut binasa juga?

Lalu apa yang harus dikerjakan?

Meninggalkan lembah Iblis Merah yang berbahaya? Tidak!! Ia wajib menolong dan menyelamatkan jiwa Co

Yong. Walau harus menanggung bermacam macam siksaan.

"Aku akan menerjang."

"Kukira kau segera mati dibawah tangan Ang mo-kauw cu."

"Setiap orang pasti mati. Hanya cepat lambatnya yang belum diketahui bukan?"

Tapi belum waktunya kau mati," "Mengapa?"

"Setidak tidaknya kau harus mengetahui asal usulmu

dahulu, setelah bertemu dengan pencipta Pohon Penggantnngan."

"Kau terlalu meremehkan kepandaianku. Mungkinkah tidak dapat keluar dari dalam lembah Iblis Merah didalam keadaan hidup?" "Aku tahu, kau ingin menolong Co Yong. Kau rela mati karena membelanya."

"Eh. mengapa kau tahu?" Tan Ciu terkejut. Dimanakah sastrawan ini pada kala itu?

"Kematiannya tidak ada hubungan denganmu." Berkata si sastrawan. "Mungkin lebih baik dan lebih menguntungkan dirimu."

"Kuanjurkan agar kau tidak menyusahkan diri untuk membela Co Yong."

"Mengapa? Tidak pantaskah aku mengorbankan diri karena ia telah menolong jiwaku?"

"Menolong seseorang dengan mengorbankan jiwamu sendiri?"

"Betul."

Sastrawan berwajah kaku itu mengkerutkan kedua alisnya, apa yang Tan Ciu ucapkan tadi sungguh berada diluar dugaan.

Akhirnya ia menghela napas, "Baiklah" Ia berkata.

"Boieh aku mengetahui, bagaimana sebutanmu?" Tan Ciu mengajukan pertanyaan.

"Kukira belum waktunya" "Mengapa ?"

"Apa guna memberi tahu hubungan kita, karena tidak lama lagi. kau akan mati didalam lembah Iblis Merah?"

"Kau percaya, pasti aku mati didasar lembah" "Bila kau berkepala batu, kukira pasti." "Aku berterima kasih kepadamu yang telah memberi peringatan. Hanya tekatku tidak dapat diubah lagi."

"Apa boleh buat." Berkata sastrawan kaku itu sambil mengoyangkan kepala. Tubuhnya dibalikkan, dan berjalan pergi, meninggalkan Tan Ciu seorang diri.

Tan Ciu mengenang kembali apa yang di kemukakan oleh sastrawan tersebut, bahaya Ang mo kauw tidak boleh diremehkan.

Mengundurkan diri?

Tan Ciu pantang mundur. Sesuatu yang telah digariskan olehnya, tidak pernah mengalami pembatalan. Mati pun akan diterjang juga lembah Iblis merah.

Pemuda ini masuk, kedalam lembah Iblis Merah.

Ang mo kauw berarti perpukumpulan Iblis Merah, anggauta perkumpulan ini mengenakan seragam pakaian merah, pohon pohon yang tumbuh didalam lembah mereka adalah semacam pohon yang berdaun merah, segala sesuatu serba merah.. Darah-darah yang mengambang dari korban- korban mereka tidak sedikit, didalam keadaan yang serba merah itu, lahirlah perkumpulan Iblis Merah.

Memasuki pohon pohon berdaun merah Itu, Tan Ciu mencari markas Ang mo kauw.

Tidak seorang pun yung di jumpai, tidak sebuah rumah pun yang ditemui. Heran, dimanakah letak pesanggrahan Ang mo kauw?

Tan Ciu telah memeriksa seluruh  lembah tidak berhasil ia menjumpai tempat yang ingin dikunjungi.

Kini ia mulai merambat naik keatas  tebing tiba-tiba terlihat sebuah guha, dua bayangan berdiri didepan mulut guha itu, seolah-olah menjaga pintu. Nah, itulah pintu masuk kedalam markas Ang-mo-kauw. Tan Ciu mendekati guha tersebut. Disana berdiri dua orang, yang dikanan adalah seorang kakek berbaju merah, yang dikiri seorang wanita yang mengenakan pakaian warna merah pula.

Kakek berbaju merah menatap Tan Ciu, kemudian mengajukan pertanyaan.

"Apa maksud kunjunganmu ketempat ini?"

"Aku ingin bertemu dengan kauwcu kalian!" Tan Ciu memberi jawaban singkat.

"Sebutkan namamu!" "Tan Ciu!"

"Aaaaaaaaaaa..." Kakek dan wanita ber-baju merah itu mengeluarkan suara tertahan, agaknya mereka terkejut.

"Kau yang bernama Tan Ciu?" Siwanita mengajukan pertanyaan.

"Betul."

"Memang hebat, Keberanianmu sungguh luar biasa." "Terima kasih kepada pujianmu?"

"Kauwcu kami sedang siap memilih orang untuk mengundangmu. Tidak disangka kau telah datang lebih dahulu."

"Tolong beritahu tentang kedatanganku!" Kakek baju merah menyela maju, ia berkata.

"Tan Ciu kudengar ilmu kepandaianmu liehay. Aku Ie Tong Hauw tidak puas, dengan ini aku meminta sedikit pengajaran."

Ia memasang posisi bertempur. Wanita baju merah turut berkata.

"Aku Tao Hui Hui juga tidak ketinggalan Mari kita bermain main beberapa jurus."

Ie Tong Houw dan Tan Hui Hui memandang. Tan Ciu ketawa.

"Aku harus menerjang kalian? Baru dapat bertempur dengan kauwcu kalian?" Ia mengajukan pertanyaan.

"Betul!" Hampir berbareng Ie Tong Houw dau Tan Hui Hui berkata.

"Tidak dapat ditangguhkan?"

"Mereka menggembar gemborkan bagaimana tinggi ilmu kepandaianmu, disini kami mendapat kesempatan bagaimana dapat ditangguhkan sehingga lain kali?"

"Tidak lama, setelah selesai urusanku. Sebelum meninggalkan lembah Iblis merah pasti kalian mendapat kepuasan."

Seolah olah Tan Ciu berkata, tidak pula terburu buru, setelah membereskan Ang mo kauw-cu mereka akan menjadi gentar sendiri.

Ie Tong Houw mengeluarkan suara dingin.

"Kau kira masih dapat meninggalkan lembah iblis Merah?"

"Kau kira aku pasti terkurung ditempat ini?"

"Aku tahu bahwa Ilmu kepandaianmu tinggi, hanya kau belum menyaksikan bagaimana hebat ilmu kepandaian kauwcu kami... hmm ... hmm ..."

"Didalam waktu setengah hari, kau dapat  mengetahui hal itu." "Baiklah, Aku memuji keberanian dan segera memberi tahu kedatanganmu kepadanya. tunggulah sebentar."

Ie Tong Houw membiarkan Tan Hui menunggu di mulut guha, ia masuk kedalam untuk memberi tahu kepada sang kauwcu tentang kedatangan pemuda itu.

Dari dalam guha lari keluar dua orang dengan pedang dipunggung. warna pakaian merekapun merah. Melihat cara jalannya Li Tong Houw yang berlainan, mereka mengajukan pertanyaan.

"Ie toako, apa yang telah terjadi?" "Dia telah datang!"

"Siapa?"

"Tan Ciu." "Aaaaaaaa "

"Dipintu. hanya Tan Hui Hui seorang. Tolonglah kalian membantu menjaga pintu masuk itu."

Dua orang itu lari kedepan.

Ie Tong Houw masuk semakin dalam. Guha itu hanya berapa pintu istimewa, tidak jauh, keadaan melebar seperti biasa, itulah dasar lembah Iblis Merah yang tersembunyi.

Suatu bangunan indah yang berwarna merah, menjulang tinggi, empat orang berbaju merah menjaga pintu masuk bangunan itu.

Ie Tong Hauw menganggukan kepala dan langsung masuk kedatam.

Ditempat ruang tamu sedang berkumpul empat orang, tiga laki dan si Ular Golis yang gagal mengundang Tan Ciu. Melihat kedatangan Ie Tong Hauw, mereka menghentikan perundingan.

Ie Tong Hauw memberi hormat kepada laki laki yang agak tua.

"Cauw tongcu..." Ia memanggil pelahan.

"Ada apa?" Bertanya orang ini, namanya Cauw Lam, pemimpin para tongcu dari perkumpulan Ang mo kauw!

"Tan   Ciu sudah berada  didepan." Ie  Tong Hauw memberi laporan.

"Hah?" Semua orang terkejut. Cauw Lam menatap wajah Ie Tong Hauw tajam tajam!

"Ulang sekali lagi!" ia memberi perintah,

"Tan Ciu sudah berada dimulut guha," Ie Tong Hauw berkata!

"Ada mengajak kawan?" "Tidak."

"Apa maksud kedatangannya?"

"Dikatakan ingin berjumpa dengan kauwcu."

"Ha ha ha...." Tiba-tiba Cauw Lam tertawa, "segera undang ia masuk."

Ie Tong Houw menjalankan perintah ini, Cauw Lam memandang tiga kawannya.

"Bagaimana pendapat kalian?" Ia meminta pendapat. "Bunuh saja beres." Berkata laki-laki tua itu.

"Tidak baik!" Berkata si Ular Golis "Kauw cu membutuhkannya." "Kukira menyerahkannya kepada kauw cu." Berkata laki- laki berbaju yang termuda.

"Bereskan saja. Ia agak kurang ajar."

"Itulah, bila kauwcu tahu..." Perundingan mereka terputus Tan Ciu sudah terlihat masuk!

Melihat keempat orang disana, si pemuda agak terkejut. "Selamat datang." Berkata Cauw Lam maju memapaki,

dia adalah kepala dari para tongcu.

"Maksudku ialah ..."

"Ingin bertemu, dengan kauwcu kami?" Tan Ciu mengawasi laki laki ini tajam.

"Kau bukan kauwcu Ang-mo kauw?" Ia bertanya.

"Bukan. Aku adalah kepala para tongcu. Namaku Cauw Lam."

"Oooo, ... Cauw tongcu."

"Apa maksudmu menemui kauwcu kami." "Hal ini dapat kuselesaikan dengannya!"

"Berurusan dengankupun boleh." Berkata Cauw Lam.

"Tidak!" Tan Ciu menolak," Kau orang apa? Hanya kepala Tongcu biasa."

Wajah Cauw Lam berubah, ia sangat tersinggung sekali.

Kata kata sipemuda sangat menusuk hati.

SI Ular Golis tampil kedepan, ia berkata "Tan Ciu, Kita pun harus membikin perhitungan lama."

Luka yang si Ular Golis derita karena si pemuda ini, ia masih menaruh rasa sakit hati. Tan Ciu menggoyangkan kepala, "Kedatanganku bukan menempur kalian!" Ia berkata.

"Lalu mau apa?"

"Sudah kukatakan, aku ingin mencari kauw cu kalian." "Apa kedudukanmu, ingin berjumpa  dengan kauwcu

kami?"

"Kauwcu kalian tidak dapat menemui orang? Hidungnya sudah gerompong."

"Kurang ajar.!"

"Ha ha ha " Tan Ciu tertawa..

0OooodwoooO0

EMPAT tongcu perkumpulan Iblis Merah menghadapi Tan Ciu. Mereka sangat marah sekali.

"Kau sudah bosan hidup?" Membentak Ular Golis. "Ha, ha " Tau Ciu mengejek.

Ular Golis mencabut pedang, menusuk ke arah pemuda sombong itu.

Tan Ciu menyingkir dari ujung pedang, dengan sinar mata menghina ia berkata.

"Hei, orang-orang Ang mo-kauw tidak kenal aturan." "Kepada pemuda yang tidak tahu aturan, kami tak

menggunakan aturan melayaninya!"

"Aku sangat berterima kasih atas perlayanan yang tidak tahu aturan ini." "Aku memang tak kenal aturan, lalu mau apa?" Ular Golis menantang. Pedangnya disabet-sabetkan, menyerang sehingga beberapa kali.

Tan Ciu lompat kian kemari, agak repot. Tiba-tiba terdengar satu suara yang membentak keras. "Berhenti!!"

Dengungan suara ini menggema seluruh isi ruangan, wajah semua orang yang berada tempat itu berubah, Termasuk si Ular Golis, ia segera menghentikan serangan pedangnya. Seorang lelaki berjubah merah telah berada dipusat ruangan, wajahnya ditutup dengan kain merah juga. segala serba merah.

Empat tongcu Ang mo kauw menjatuhkan diri memberi hormat.

"Kauw cu...." Mereka memanggil perlahan, Inilah Ang- mo Kauw-cu ketua perkumpulan Iblis Merah. Ang mo Kauw-cu menggeram.

"Kalian terlalu melunjak." "kami menerima salah."

"kalian telah menyapu mukaku sampai bersih. Apa yang tokoh tokoh rimba persilatan katakan kepadaku, bila kalian menghadapi orang tamu seperti ini? Tentu mereka mencela kebijaksanaanku yang tidak keras, pasti mereka mengatakan Ang mo Kauw-cu tidak mempunyai aturan tata tertib."

"Teristimewa kau." Ang mo Kauw cu menuding kearah si Ular Golis. "Kau menurunkan derajat dan martabat Ang- mo kauw."

Wajah Ular Golis semakin pucat, tubuhnya gemetaran. "Mana orang?" Terdengar Ang-mo Kauw cu berteriak

keras. Dua orang berbaju merah masuk. Mereka siap menunggu perintah,

"Tangkap!!" Berkata Ang-mo Kauw cu sambil menuding ke arah si Ular Golis. Si Ular Golis gemetaran badannya:

"Kauw-cu, ampunilah kesalahan kali ini. hamba memohon."

Ang-mo Kauwcu tidak menggubris permintaan Ular Golis. Ia memandang jauh kearah lain.

Dua orang berbaju merah sudah menyeret Ular Golis, mereka menggusurnya untuk dijebloskan kedalam tahanan.

"Beri hukuman mati kepadanya." Berkata Ang mo kauw- cu memberi perintah lagi.

Tiba tiba Tan Ciu maju memberi hormat kepada ketua Ang-mo-kauw dan berkata,

"Kauw-cu dapatkah mendengar sedikit permohonanku?" "katakan." Berkata Ang-mo Kauw-cu.

"Tan Ciu pernah menanam dendam permusuhan dengan Ular Golis karena ia berlaku sedikit kurang ajar. Hal ini agak lumrah. Dapatkah mengganti keputusan tadi?"

Permintaan grasi untuk si Ular Golis yang Tan Ciu ajukan, berada diluar dugaan semua orang. Tidak disangka, bahwa pemuda ini mempunyai jiwa besar, tidak menarik panjang perkara itu.

Ang-mo Kauw cu berpikir sebentar, kemudian ia berkata. "Baik."

Dipandangnya Cauw Lam sekalian dan membentak mereka.

"Masih tidak segera mengucapkan terima kasih?" Ciuw Lam dan dua orang berbaju merah mengucapkan terima kasih.

Ular Golis memandang Tan Ciu dengan wajah penuh rasa terima kasih. Dua orang berbaju merah yang siap menggusur Ular Golis memandang ketua mereka, meminta putusan.

"Kalian boleh pergi." Berkata Ang mo Kauw cu.

Kemudian memandang Ular Golis berkata. "Mengingat kebaikan Tan siauwhiap. aku menarik kembali putusan tadi, lekas kau menghaturkan terima kasih kepada Tan siauw hiap."

Ular Golis menghaturkan terima kasihnya, Ang mo Kauw cu menghadapi Tan Ciu. "Atas kelancangan dan kekurangan ajaran orang orangku dengan ini aku menyatakan penyesalan. Harap kau jangan menaruh didalam hati," ia berkata.

"Kauwcu mempunyai langkah langkah yang bijaksana, mana berani aku menaruh didalam hati?"

"Aku sedang berembuk untuk mengundangmu, tidak disangka kau telah datang lebih dahulu."

"Bolehlah aku bertanya, bagaimana nama sebutan Kauw cu ?" Bertanya Tan Ciu kepada kauwcu Ang-mo kauw yang menggunakan tutup kerudung muka itu.

"Aku? .. Pentingkah?!" Kauwcu Ang mo kauw sulit memberi sahutan.

"Penting sekali"

"Bolehkah aku mengetahui kepentinganmu."

"Kauw-cu pernah mengutus orang  membunuhku, dengan alasan bahwa aku adalah murid Puteri Angin Tornado, tentu ada sesuatu yang pernah terjadi diantara kauwcu dan guruku itu."

"kau menduga bahwa aku adalah musuh gurumu?" "Mungkinkah bukan?"

"Kukira kau akan mengetahui duduk  perkara dikemudiaa hari!"

"Mengapa tidak sekarang saja? Mengapa tak mau membuka tutup kerudung muka itu?"

"Belum waktunya kau melihat wajahku!" Tan Ciu tidak berdaya!

"Maksudku datang kemari ialah merundingkan sesuatu," sipemuda berkata.

"Aku tahu!!"

"Kau sudah tahu?" Tan Ciu menatap wajah yang tertutup oleh selaput kain merah itu.

"Maksud kunjunganmu untuk meminta obat Seng-hiat Hoan hun tan, bukan?"

Tan Ciu terbelalak.

"Untuk menolong kawan wanitamu yang kehilangan banyak darah, bukan?" Meneruskan sang ketua perkumpulan Ang-mo-kauw.

Tan Ciu semakin bingung. Bagaimana orang berkerudung merah ini tahu maksud kedatangannya? Bukankah orang terlalu hebat?

Segera ia menduga mata-mata ketua Ang-mo kauw yang tersebar luas, tentu mata mata itu yang memberi tahu kejadian tersebut, Siapakah mata mata Ang mo kauw itu? Tan Ciu hampir pecah kepala, memikirkan soal tadi.

Ketua Ang mo kauw tersenyum puas.

"Tentunya kau sedang bertanya tanya, mengapa aku tahu hal ini, bukan?"

"Betul. Bersediakah kau memberi obat itu?" "Tentu saja boleh.."

"Dengan syarat-syarat tertentu?" "Sudah berada didalam dugaanmu." "Katakanlah apa syarat itu?"

"Aku mengharapkan tenagamu didalam Ang mo-Kauw." "Menjadi anggauta Ang-mo kauw?"

"Betul!!"

"Aku menolak." Tan Ciu menggoyangkan kepala "Sudah kuduga, pasti kau keberatan." "Betul..Aku kebetatan."

"Maka, kecuali memberi hadiah obat Seng-hiat hoan-tan, aku akan menyertai dengan hadiah-hadiah lainnya?"

"Hadiah hadiah lainnya? Hadiah apakah yang  kau maksudkan?'"

"Kesatu, aku akan memberi tahu, siapa orang yang menciptakan Pohon Penggantungan?"

Hati Tau Ciu tergerak, inilah yang sedang diharap- harapkan.

"Dan hadiah lainnya?" "Aku akan menceritakan tentang Tan Kiam Lam, Orang yang mempunyai hubungan dekat denganmu."

"Nah, inipun wajib diketahui."

Dua syarat embel-embel itu saagat menarik. Bila ditambah dengan obat Seng-hoat-hun tan. pemberian pemberian ini memang hebat.

Bersediakah Tan Ciu menerima syarat tersebut?

Bila ia menjadi anggauta Ang mo kauw. tentu berada dibawah perintah ketua perkumpulan itu, bagaimana jika dipaksa melakukan kejahatan kejahatan.

Tan Ciu segera memancing! "Bila aku tidak mau?"

"Perjanjian boleh dibatalkan. Aku akan menyuruh orang- orangku mengantar kau ke luar dari lembah Iblis Merah."

Sengaja Aug-mo Kauw cu mengucapkan kata kata seperti itu. diketahui si pemuda sangat membutuhkan obat Seng-hiat hoan hun tan, di ketahui si pemuda ingin mencari asal usul Tan Kiam Lam, diketahui si pemuda mau membongkar rahasia Pohon Penggantungan.  Mungkin tidak masuk kedalam kotak yang telah tersedia.

Bila siketua Ang-mo-kauw mau, jiwa sipemudapun akan diserahkan kepadanya, demi menolong Co Yong yang sudah berada dipintu akhirat itu!

Tan Ciu berkata dingin! "Kau kejam sekali."

"Kau mengharapkan sesuatu dariku, akupun mengharapkan tenagamu"

"Apa yang dapat dikatakan kejam?" Tan Ciu tidak berdaya! Melulusi tawaran ketua  ini berarti mengikat diri sendiri, menolak berarti membunuh jiwa Co Yong!

Baik buruknya sesuatn perkumpulan berada ditangan orang, bila ia dapat mengubah Ang-mo kauw keluar dari golongan sesat. mengganti anggaran anggaran dasar dan rumah tangga perkumpulan itu, apakah salahnya menjadi seorang anggauta Ang mo kanw?.

Tan Ciu menggeretek gigi, ia telah  mengambil keputusan.

"Baik. Aku mengabulkan permintaanmu.Dengan syarat kau menambah lain hadiah."

"Apa permintaanmu?"

"Aku meminta kebebasan satu tahun. Setelah itu, aku baru bersedia disumpah menjadi anggauta Ang-mo-kauw."

"Aku keberatan."

Tan Ciu terpaksa mencari jalan lain.

Ketua Ang mo kauw tidak mendesak ia menantikan jawaban orang dengan sabar.

"Baiklah. Aku ingin mengetahui wajah aslimu!" "Permintaan ini boleh kukabulkan."

"Nah. katakanlah, siapa kau?" "Kau tidak akan menyesal?"

"Bila aku menyesal. Aku masih mempunyai kesempatan bunuh diri. bukan?"

"Kini, bersumpahlah."

"Aku Tan Ciu tidak percaya kepada Tuhan. Aku tidak membutuhkan sumpah." "Hm ..." Ketua Ang mo kauw mengeluarkan suara dari hidung. "Bila kau berani melanggar janji. Aku segera membunuhmu, tahu?"

"Katakaniah segera, siapa yang telah menyiptakan Pohon Penggantungan?" Tan Ciu mulai mengajukan pertanyaan,

"Pohon Penggantungan "

Suara ketua Ang mo kauw terputus, diluar terdengar suara penjaga pintu membentak. "Siapa?"

Ketua Aug-mo kauw menoleh kearah pintu. Ternyata penjaga pintu tak berhasil membendung kedatangan orang itu. Disana telah melesat satu bayangan, itulah kakek aneh Su Hay Khek.

Kepandaian Su Hay Khek memang tinggi, dengan tidak rewel berhasil nyelusup masuk.

Terlihat ia tertawa.

Cauw Lam. Ular Golis dan dua tongcu lainnya maju menghadang orang tua itu.

Gerak-gerik ketua Ang-mo kauw terlihat tidak bebas. Kini Su Hay Khek membuka suara.

"Ang mo kauwcu. tentunya kau marah kepadaku, yang berhasil nyelusup masuk tanpa ijin dan panggilanmu."

"Apa maksud kunjunganmu ketempat ini?" Ketua Ang mo kauw membentak.

"Ang mo Kauwcu," panggil Su Hay Khek. "Kau tidak boleh menghina anak kecil. Jangan kira  karena telah menutupi wajahmu dengan selaput kain merah, lantas berlaku sewenang-wenang, kau kira aku tidak tahu bahwa kau orang keluarga Tan." "Siapa yang menjadi orang keluarga Tan?" ketua Ang- mo kauw mendebat.

"Kau!" Berkata sikakek aneh Su Hay Khek. "Namamu ialah Tan Kiam Lam?"

"Kau ngelepus. Aku bukan Tan Kiam Lam.. " "Tidak mungkin. Kau Tan Kiam Lam."

Tan Ciu dibuat berteriak.

Sipemuda memandang Su Hay Khek meminta keterangan.

"Betul" Berkata kakek itu "Kukira, dialah yang menjadi menjadi ayahmu."

"Aaaaa..."

Tan Ciu termundur beberapa langkah, tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan

"Kau ayahku?" Ia  bertanya. Ketua Ang-mo-kauw membentak. "Salah. Kau bukan anakku"

Ia menyangkal keras.

"Tidak salah" Su Hay Khek ngotot. "Dia adalah suami Melati Putih"

Kemudian memandang orang berjubah dan berkerudung kain merah itu, Su Hay Khek mengeram.

"Kau benci Melati Putih, maka kau hampir mati dibawah tangannya."

Melati Putih adalah nama julukan istri Tan Kiam Lam. "Kentut.. Aku bukan Tan Kiam Lam." "Dimana Tan Kiam Lam?" "Tan Kiam Lam sudah mati."

"Bohong.Tan Kiam Lam belum mati. Orang yang

sedang kuhadapi inilah Tan Kiam Lam." "Tutup mulut."

Tan Ciu maju menyelesaikan pertengkaran mulut diantara kedua Ang-mo kauw dan Su Hay Khek!

"Biar aku yang menyelesaikan!" Ia berkata. Dihadapinya ketua Ang mo kauw seraya membentak. "Lekas katakan, kau bukan ayahku Tan Kiam Lam?" "Bukan!"

Perhatian ditujukan kearah Su Hay Khek, dan bertanya kakek ini.

"Kau tahu pasti bahwa dia yang menjadi ayahku ?" "Kemungkinannya sangat besar sekali."

"Kau pernah melihat wajah ayahku bukan?"

"Pernah"

"Baik, setelah ia membuka tutup kerudung mukanya, kau dapat menyaksikan dugaan ini. Benarkah ia ayahku ?"

"Kau betul."

Tan Ciu menghadapi ketua Ang mo kauw, "Cobakan buka tutup kerudung muka itu."

Ketua Ang-mo-kauw mengeluarkan suara tertawa dingin.

"Dengan alasan apa?"

"Aku ingin mengetahui betulkah engkau adalah ayahku?" "Setelah kubuka kain penutup ini kau harus menjadi anggauta Ang mo kauw."

"Baik!"

"Kau harus turut perintah" "Tentu."

"Bila tidak, aku segera membunuhmu." "Tentu."

Su Hay Khek mulai kehilangan pegangan, Bila seperti apa yang diduga pada sebelumnya, bila orang berkerudung merah ini bukan Tan Kiam Lam. Tidak mungkin mengucapkan kata-kata seperti itu.

0ooOdwOoo0

PERCAKAPAN diantara Tan Ciu dan ketua Ang mo kauw telah selesai. Maka Ang mo kauw mengalihkan pandangan dan memandang Su Hay Khek.

"Kau sangat usil. Bagianmu ialah Kematian."

"Ha, ha...!" Su Hay Khek tertawa, "Umurku telah lebih dari tujuh puluh tahun. Matipun tidak menjadi soal."

"Nah, gunakanlah waktu kalian baik baik," Berkata ketua Ang mo Kauw cu.

Pelahan-lahan ia membuka tutup kerudung mukanya.

Su Hay Khek sudah merasakan kegagalan, firasat buruk menyerang dirinya.

Tan Ciu menantikan dengan hati berdebar-debar, ia mempentang mata lebar lebar. Dan kini, kain merah yang menutupi wajah. Ang mo Kauw cu telah terbuka, terlihat wajah seorang lelaki setengah umur yang agak cakap,

Tan Ciu memandang wajah itu, ia tak kenal kepada ayahnya, tidak tahu bagaimana muka ini. Maka menoleh kearah Su Hay Khek.

Mata Su Hay Khek membelalak. "Kau?!!" Seruan ini keluar dari mulutnya Hati Tan Ciu memukul keras.

"Siapa?" Ia bertanya.

"Sim In." Jawaban Su Hay Khek singkat,

Ternyata ketua Ang-mo kauw bukan orang yang bernama Tan Kiam Lam. Ia bernama Sim In dan Su Hay Khek sangat kenal sekali.

Wajah Sim In tidak berkesan didalam benak pikiran Tan Ciu. Tetapi Sim In itu tidak terlalu asing, itulah nama yang sering disebut oleh gurunya.

Ketua perkumpulan Ang mo Kauw, Sim In mendapat kemenangan. Ia menghadapi Su Hay Khek dengan wajah penuh ancaman.

Su Hay Khek mundur beberapa langkah, ia berusaha menjauhi orang itu.

"Su Hay Khek aku akan membunuhmu terlebih dahulu." Berkata Sim In geram. Su Hay Khek mundur kebelakang. Jubah merah si ketua Ang-mo-kauw berkelebat, dengan satu gerakan yang paling cepat memukul Su Hay Khek. Si kakek aneh mempunyai kepandaian yang telah digolongkan kedalam kelas satu, tubuh nya melayang, menghindari dari serangan Sim In itu. Sim In tidak berhenti, ia mengincar lagi, Tan Ciu turut bergerak, ia menyela diantara dua orang itu,

"Berhenti," Terdengar suara bentakannya yang keras.

Gerakan Ang-mo Kauw cu terhalang. Ia memandang wajah pemuda itu dengan tajam.

"Apa yang kau mau?" Bentaknya mengguntur. Tan Ciu tertawa panjang.

"Sim In," ia memanggil nama orang. "Sudah lama kucari cari nama ini. Kini aku mengerti. mengapa kau menutup wajahmu dengan selaput kain merah, mengapa kau menyuruh orang-orangmu mengganggu aku. kau tentunya sudah tahu, bahwa aku adalah anak murid Putri Angin Tornado."

"Mengapa kau merusak wajahnya?" Guru  Tan Ciu adalah seorang wanita berkepandaian ilmu silat tinggi,dengan julukan nama Putri Angin Tornado, suatu angin yang terhebat dan dahsyat, ia pernah menggegerkan rimba persilatan, suatu saat jatuh cinta kepada seorang pemuda tampan yang bernama Sim In, dan entah mengapa, pemuda itu merusak wajahnya, mengutungi kakinya.

Kini Tan Ciu mengajukan tuntutan.

"Karena aku benci." Sim In memberi jawaban. "Hanya ini alasannya?"

"Aku benci kepadanya karena Tan Kiam Lam ayahmu itu."

"Katakanlah lebih jelas."

"Putri angin Tornado adalah kekasihku, dengan alasan apa ia menyintai Tan Kiam Lam? Tidak pantaskan aku mengambil tindakan kepadanya?" "Disini telah terjadi salah paham. Kau melakukan sesuatu karena terburu nafsu."

"Jangan kau menutup-nutupi kejelekan gurumu. Siapakah yang tidak tahu bahwa putri Angin Tornado menyintai Tan Kiam Lam?"

"Kau adalah seorang buta yang melek. Dengan sungguh- sungguh hati dia menyintai dirimu, tetapi apa balasmu. Merusak wajahnya, mengutungi kakinya dan merebut Kim- say-cu,"

"Aku tidak menyangkal telah melakukan perbuatan- perbuatan itu!"

"Semua disebabkan karena salah paham" "Tidak! Tidak pernah terjadi salah paham."

”Hubungannya dengan Tan Kiam Lam sebagai sahabat biasa.”

”Tidak perlu kau menggugat hal ini." Berkata ketua Ang- mo-kauw tersebut.

"Baik. Kini kembalikanlah Kim-say-cu kepadaku." Berkata Tan Ciu menyodorkan tangan. Meminta barang yang menjadi hak gurunya.

"Kemudian... Serahkan jiwamu." "Kau tidak mempunyai itu kekuatan."

"Nah, rasakanlah kekuatanku." Berkata Tan Ciu yang

betul-betul mulai menyerang orang. Gerakan dan pukulan- pukulan si pemuda sungguh hebat.

Sim In melesat jauh, dengan satu gerakan yang paling cepat, ia telah berada didekat Su Hay Khek, telapak tangannya direntangkan, memukul kakek aneh. Su Hay Khek menutup serangan yang dilontarkan kepada dirinya.

Tan Ciu menyusul datang, apa mau dua orang itu telah berkutet menjadi satu. Tidak ada kesempatan untuknya memasuki areaa pertempuran, Ia berdiri disamping.

Maka Su Hay Khek menempur Ang-mo kauw yang ternyata adalah kekasih guru Tan Ciu  yang  bernama Sim In. Dua jago ini mempunyai kekuatan yang seimbang, kecepatan yang sama, beberapa gebrak kemudian, sulitnya membedakan mana tubuh Sim In, dan mana tubuh Su Hay Khek.

Sim In melesat jauh, dengan satu gerakkan yang paling cepat, ia telah berada didekat Su Hay Khek, telapak tangannya direntangkan memukul kakek aneh itu..

Su Hay Khek menutup serangan yang dilontarkan kearah dirinya. Tan Ciu menggeser kaki. mendekati dua orang itu, apa mau Ciauw Lam telah turut maju, maka ia harus melayani kepala tongcu Ang-mo kauw ini.

Bila Tan Ciu dipaksa menempur Ciauw Lam dengan dipaksa tidak mengadakan kompromi terlebih dahulu.

Disana, keadaan Su Hay Khek tidak banyak perbedaan, ia harus melayani ketua Ang-mo kauw  Sim In  telah memberi tiga kali pukulan.

Su Hay Khek membalas dengan empat tangkisan.

Dilain pihak. Tan Ciu dan Ciuw Lam mengalami keadaan yang serupa, ilmu kepandaian mereka hampir dikatakan tidak ada selisih sama sekali. Untuk sementara waktu, sulit menentukan kemenangan.

Hanya tenaga dalam Tan Ciu jauh  lebih keras  dari lawannya, beruntun sehingga beberapa kali, sipemuda melontarkan serangan tajam, hal mana tidak menguntungkan sang lawan

Beberapa kali menerima hantaman Tan Ciu, Ciauw Lam merasa kewalahan, ia tidak berani menghadapi dengan menerima pukulan-pukulan kuat tersebut.

Suatu ketika Tan Ciu menghantam hebat.

Ciauw Lam lompat mundur, tubuhnya hampir membentur pintu.

Tan Ciu girang, ia maju lebih cepat lagi.

Inilah yang Ciauw Lam harapkan. Dari suatu arah yang mempunyai posisi bagus, ia menyerang lawannya,

Dua pukulan beradu, Tan Ciu dipukul mundur, tubuhnya melayang keluar dari pintu ruang Ang-mo kauw.

Ciauw Lam girang, ia turut melesat, siap menamatkan jiwa sipemuda.

Disaat inilah. Melayang suatu bayangan tepat menghadang kedatangan Ciauw Lam,

Ciauw Lam batal mengejar, ia balik masuk kedalam ruangan lagi.

Tan Ciu memandang orang yang berada didepan pintu, disana berdiri seorang sastrawan setengah umur, sifat- sifatnya kaku, dingin dan tidak banyak bicara.

"Aaa ... Kau datang lagi ?" mulut Tan Ciu berteriak seperti ini.

Sastrawan itu selalu membayangi dibelakang dirinya.

Kedatangan sastrawan ini menghentikan pertempuran diantara Tan Ciu dan Ciauw Lam. Dilain pihak, Su Hay Khek dan Sim In belum selesai mengadu kekuatan, pertempuran diantara dua jago ini sangat seru, mereka tidak tahu kedatangan sastrawan kaku itu. Ciauw Lam dan Tan Ciu memandang kearah sastrawan setengah umur itu, mata mereka tidak berkedip.

Si sastrawan memandang Sim In dan Su Hay Khek, pertempuran ini sangat memikat hatinya, matanyapun tidak berkesiap.

Tentang asal usul sastrawan itu agak aneh, Tan Ciu belum dapat menduga sama sekali, ia memperhatikan apa yang hendak dilakukan olehnya?

Terlihat sastrawan itu mendekati gelanggang pertempuran, tiba tiba ia membentak keras,

"Berhenti!"

Suaranya dingin sekali, tetapi cukup keras.

Su Hay Khek dan Ang-mo kawcu Sim In menghentikan pertempuran mereka. Satu melesat ke kanan dan lainnya berdiri disisi kiri.

Sastrawan itu memandang dua orang.

Sim In dan Su Hay Khek memandangnya pula. "Aaaa... " Tiba tiba Su Hay Khek berteriak.

"Ekh.. Kau!!" Suara Sim In  juga menonjolkan rasa terkejutnya.

Tiga orang itu saling pandang dengan tegang, kaget, bingung, semua terjadi diluar dugaannya.

Tan Ciu menyaksikan kejadian itu, Ia turut bingung juga.

Apa yang terjadi diantara mereka?

Terlihat tubuh Su Hay Khek dan Sim In menjadi gemetaran, kemudian mata mereka memancarkan sinar marah, mereka marah, seolah-olah sedang menghadapi musuh besar yang kuat, melawan tidak dapat.

Siapakah sastrawan kaku itu? Tan Ciu masih menduga duga.

Akhirnya ketua Aug mo kauw Sim In memecah kesunyian, ia berkata.

"Tidak kusangka, aku mendapat kunjunganmu"

"Aku mengganggu pertempuran kalian?" Berkata sastrawan setengah umur itu.

"Kukira kau sudah mati?" Berkata Sim In! Su Hay Khek tidak tinggal diam, iapun turut membuka mulut. "Kukira, aku sedang menemukan hantu."

"bukan." Sastrawan setengan umur itu menggoyangkan kepalanya.

"Kau memang hantu." Berkata Su Hay Khek.

"Bukan." Bantah sastrawan tersebut. "Aku masih hidup." Tiba tiba ketua Ang mo-kauw Sim In membentak.

"Tan Kiam Lam, aku akan mencincang dirimu ..." Tan Ciu tersentak tinggi.

Tan Kiam Lam? Bukankah nama orang yang dikatakan orang sebagai ayahnya ini?

Sastrawan kaku inikah yang jadi ayahnya? Mengapa Sim In memanggilnya seperti tadi.

Tan Kiam Lam... Tan Kiam Lam ... Entah manusia yang mempunyai keanehan seperti apakah orangnya ?

Terlihat pemuda kita maju tiga langkah langsung menghadapi sastrawan tersebut kemudian ia menggeram. "Kau Tan Kiam Lam?"

Sastrawan setengah umur itu membawakan sikapnya yang selalu kaku seperti patung,

"Betul." Su Hay Khek memberikan jawaban, "Dialah ayahmu."

Tan Ciu mengkerutkan alisnya, inikah wajah sang ayah?

Orang yang selalu membayangi dirinya?

"Kau bernsma Tan Kiam Lam?" sipemuda masih meragukan kenyataan.

Orang yang ditanya tidak memberikan jawaban. sastrawan itu masih memandang dan menatap ketua Ang mo kauw yang bernama Sim In itu.

Sim In menggeram lagi, tubuh melesat tinggi, kemudian menerkam sastrawan setengah umur tersebut, gerakannya seperti seekor alap-alap yang sedang menerkam anak ayam.

Tentu saja. orang yang dihadapi bukan seekor anak ayam. Terlihat tubuh sastrawan itu menyingkir kesamping, maka terkaman Sim In mengenai tempat kosong.

Sim In tanpa menghentikan gerakannya, menyerang lagi. Sastrawan itu membentak.

"Sim In..."

Tubuhnya melesat dan menghindari serangan ketua Ang mo kauw.

Sim In marah sekali. Dua kali serangannya digagalkan dengan mudah.

"Bila bukan aku yang mati, tentu kau binasa ditempat ini." Ia menggeram.

"Mengapa?" Sastrawan itu sangat tenang. "Jangan pura-pura!" Sim In sangat marah!

"Kau kira aku Tan Kiam Lam?" Sastrawan itu mengajukan perranyaan. Aneh!

Mungkinkah dia bukan Tan Kiam Lam?

Tidak mungkin. Sim In dan Su Hay Khek mana boleh salah mata bersama?

Terdengar suara geraman Sim In yang sudah meluap luap.

"Wajahmu tidak dapat kulupakan."

Sastrawan itu tidak marah, ia mengalihkan pandangannya kearah Su Hay Khek.

"Su Hay Khek," katanya kaku "Coba kau katakan, namaku Tan Kiam Lam?"

Sa Hay Khek mundur setengah langkah, agak takut sekali!

"Kukira tidak salah." Suara Su Hay Khek tidak sekeras tadi.

Sastrawan setengah umur itu menggoyang-goyangkan kepalanya.

"Aku bukan Tan Kiam Lam." Ia memberi keterangan.

Suaranya mantap dan pasti. Tidak sepeiti main-main atau berolok-olok.

Su Hay Khek tidak percaya. Sim In juga tidak percaya.

"Kau malu bertemu dengan anakmu, maka tidak mau mengaku." Berkata ketua perkumpulan Iblis Merah ini. "Aku memang bukan Tan Kiam Lam." Sastrawan itu memberikan dan menandaskan keterangannya.

Sim In tertawa dingin, ia memandang Su Huy Khek dan mengajukan pertanyaan!

"Kau percaya keterangannya?"

Su Hay Khek menggelengkan kepala! "Tidak percaya," katanya.

"Akupun tidak percaya." Berkata Sim In.

Sastrawan itu lebih tepat dikatakan sebagai patung hidup, tidak ada perubahan sama sekali. Bagaimana orang tidak mempercayakan keterangannya, iapun tidak marah. Dengan suara datar ia membuka mulut.

"Kalian tentunya belum pernah tahu bahwa Tan Kiam Lam mempunyai saudara kembar."

"Aaaaaa..." Su Hay Khek membelalakkan mata. "Kau Tan Kiam Pek."

"Betul." Sastrawan kaku itu menganggukkan kepala.

Sim In dan Tan Ciu sangat kecewa, Berkotetan setengah hari, orang yang sedang dihadapi bukan bernama Tan Kiam Lam, tetapi saudara kembar tokoh misterius itu yang bernama Tan Kiam Pek.

Dua saudara kembar?

Betulkah keterangannya? Apa tidak mungkin ia menggunakan siasat nama sama?

Diantara dua saudara kembar yang menipunyai wajah sama, mempunyai banyak persamaan persamaan itu, tentu tidak mudah untuk menetapkan, siapa yang bernama Tan Kiam Lam, dan siapa yang bernama Tan Kiam Pek. Mereka masih ragu-ragu.

Terlihat sastrawan setengah umur yang mengaku bernama Tan Kiam Pek itu bertanya kepada ketua Ang mo kauw Sim In.

"Sim kauwcu, tahukah maksud kedatanganku ketempat ini?"

"Katakanlah" Berkata Sim In.

"Aku sedang mencari Tan Kiam Lam." "Kau juga mencari Tan Kiam Lam?" "Betul!"

"Mengapa mencari ditempat lembah Iblis Merah?"

"Karena hanya kau yang tahu tempat persembunyiannya."

"Kentut." Sim In membentak keras.

"Hal ini adalah suatu  kenyataan yang tidak dapat dibantah" Berkata Tan Kiam Pek.

"Bila aku tahu dimana Tan Kiam Lam menyembunyikan diri, akulah orang yang pertama-tama membikin perhitungan dengannya."

"Hm...." Tan Kiam Pek mengeluarkan suara hidung. "Kau tidak tahu bahwa di peralat yang bernama Tan Kiam Lam."

"Siapa Siapa yang kau artikan dengar dia itu?"

"Orang yang masih dibelakang layar perhimpunan Ang- mo Kauw."

Sim In masih belum dapat menangkap arti kata kata Tan Kiam Pek. Su Hay Khek berteriak.

"Hei, Sim In  masih berada dibawa perintah orang?

Masih ada orang yang main di belakang layarnya?" "Betul." Berkata Tan Kiam Pek.

"Siapakah orang itu?" Bertanya Hay Khek.

Tan Kiam Pek tidak menjawab. Ia memandang kearah ketua Ang mo kauw.

Sim In mengajukan kecurigaannya.

"Kau katakan bahwa... bahwa ketua Benteng Penggantungan itu bernama Tan Kiam Lam?"

"Hal ini bukan tidak mungkin." Berkata Tan Kiam Pek.

Perkembangan baru yang berada diluar dugaan semua orang.

Tan Ciu, Su Hay Khek dan Sim In  saling pandang Haruskah mereka percaya kepada keterangan orang yang mengaku bernama Tan Kiam Pek itu.

Mungkinkah ketua Benteng Penggantungan bernama Tan Kiam Lam?

Siapa itu Tan Kiam Lam?

Bagaimana tindak tanduk tokoh silat misterius tersebut? Mari kita mengikuti cerita berikutnya.

0ooOdwOoo0

SUASANA sangat sunyi dan sepi sekali. Semua orang diam. Akhirnya Sim In yang mulai memecahkan kesunyian itu berteriak. "Tidak mungkin."

Tan Ciu dan Su Hay Khek memandang ketua perkumpulan Iblis Merah itu, alasan apa yang akan dikemukakan olehnya?

Sastrawan setengah umur yang mempunyai sifat sifat kaku seperti patung, yang mengaku bernama Tan Kiam Pek itn berkata dingin.

"Mengapa tidak mungkin? Kau pernah melihat ketua Benteng Penggantungan itu?"

"Belum." Terus terang Sim In memberi keterangan.

"Kau bersekongkol dengan Benteng Penggantungan. Segala sesuatu mendengar perintahnya, mungkinkah tidak tahu, siapakah yang menjadi ketua benteng ini?"

Pertanyaan itu sangat menyinggung perasaan hati Sim In. Sebagai seorang ketua perkumpulan Iblis Merah yang ditakuti orang, siapakah yang  tidak menaruh hormat kepadanya.

Tan Kiam Pek bukan saja tidak menaruh hormat. Bahkan Tebih dari pada itu. ia  menceritakan dirinya, mengatakan bersekongkol dengan Benteng Penggantungan, mengatakan ia berada di bawah perintah ketua benteng misterius itu.

Sungguh keterlaluan, tidak seharusnva ia membuka rahasia orang ditempat umum.

Terdengar lagi suara Tan Kiam Pek berkata,

"Sim In, dengan ilmu kepandaian yang kau miliki. tidak seharusnya tunduk dibawah perintahnya.

"Jangan kau turut campur urusanku." Bentak Ketua iblis merah itu dengan marah. Tan Kiam Pek tersenyum menghina. "Aku tidak sudi mencampurkan diri ke dalam urusanmu" Ia berkata. "Aku hanya menyayangkan ilmu kepandaianmu yang telah disalah gunakan olehnya."

Sim In mengeretek gigi. langkahnya menuju kearah pintu, agaknya ia ingin meninggalkan tempat itu.

Tan Kiam Pek turut bergerak, maka sastrawan yang serba kaku ini telah menghadang jalan orang ia membentak dengan suara dingin,

"Apakah yang ingin kau lakukan?" Sim In mendelikan mata. "Minggir!" Ia membentak keras

"Aku ingin tahu, kemana kau pergi!" Berkata Tan Kiam Pek yang aneh itu.

"Kau tidak perlu tahu."

"Kau ingin menjumpai ketua Benteng Penggantungan?" "Betul, Aku  harus  segera menemuinya. Harus kuketahui

pasti,   betulkah   dia   yang   menjadi   jelmaan   si  manusia

bajingan Tan Kiam Lam!" "Bila dugaan ini betul?"

"Bila apa yang kau katakan itu betul betul terjadi, aku harus membunuhnya."

Tan Kiam Pek mengeluarkan suara dari hidung. "Dengan ilmu kepandaian yang kau miliki ini, ingin

membunuh Tan Kiam   Lam?"   Ia sangat memandang

rendah.

Apa yang dikemukakan oleh Tan Kiam Pek memang cukup beralasan, dengan ilmu kepandaian Sim In. memang tidak mungkin untuk berhadapan dengan ketua Benteng Penggantungan yang misterius itu.

Sin In juga  maklum, hanya di mulut ia  tidak mau menyerah kalah.

"Dimisalkan aku mati dibawah tangannya, ada hubungan apa denganmu?" ia menatap sastrawan yang bernama Tan Kiam Pek itu

"Aku tidak mengharapkan kau mati dibawah tangan saudaraku." Berkata Tan Kiam Pek tenang.

Ketua Ang mo kauw Sim In membentak. "Bukan urusanmu!"

Suara ini disertai dengan pukulan tangannya. Tan Kiam Pek mengibaskan lengan baju, ia menyingkirkan serangan Sim In tadi kearah samping. Sim In telah mengerahkan delapan bagian tenaganya, seharusnya tidak mungkin dapat disingkirkan dengan mudah. Hanya kenyataan harus dipercaya, bahwa ilmu kepandaian Tan Kiam Pek  itu berada di atas darinya. Maka orang dapat menghindari dengan mudah.

WHutt....

Sekali lagi Sun In mengirim pukulan.

Tan Kiam Pek menyambut serangan ini dengan telapak tangan. Terdengarlah suara yang menggelegar, dua bayangan mereka terpisah segera, tubuh Sim In terhuyung mundur enam langkah. Sedangkan Tan Kiam Pek hanya menggeser sedikit posisi kedudukan-nya yang semula saja, Perbedaan tenaga yang menyolok mata.

Ternyata Tan Kiam Pek mempunyai kepandaian silat dan tenaga dalam yang cukup hebat, sampai si ketua Iblis Merah tak sanggup menyingkirkan dirinya, Sim In mematung ditempat... Tan Kiam Pek mengeluarkan suara geraman,

"Sim kauwcu, bila betul-betul kau sudah bosan hidup dan ingin mati dibawah tangan Tan Kiam Pek. Selesaikanlah dulu urusan ditempat ini!"

"Urusan apa?" Bertanya ketua Ang-mo-kauw itu tidak mengerti.

Tan Kiam Pek menengok ke arah Tan Ciu dan berkata kepada pemuda itu.

"Batalkah kau membutuhkan keterangannya?"

Sampai saat ini baru Tan Ciu mempunyai kesempatan untuk bicara, segera ia maju mendekati Sim In,

"Sim kauwcu!" ia memanggil "Aku mengharapkan kau dapat memberikan obat Seng hiat-hoan tan itu,"

"Aku tidak bersedia menyerahkan kepadamu."

"Baik." Berkata Tan Ciu "Beri tahulah. siapa ketua Benteng Penggantungan"

"Aku tidak tahu!"

Tan Ciu tidak berdaya, maka ia memandang kearah pamannya, Tan Kiam Pek yang dingin dan kaku itu. Tan Kiam Pek dapat menduga isi hati orang, maka ia menghadapi Sim In dan berkata.

"Sim kauwcu, bila kau dapat membatalkan niatmu.

Tentu tidak akan menderita kerugian"

"Apa yang dibatalkan?" Bertanya Sim In marah! "Memisahkan diri dari Bentang Perggantungan!"

"Bila aku dapat membuktikan bahwa ketua benteng Penggantungan adalah Tan Kiam Lam, tanpa diminta aku akan meninggalkan dan memisahkan diri dari kekuasaan Benteng Penggantungan."

Tan Ciu hilang sabar, Ia membentak.

"Sim In kau tidak mau menyerahkan obat Seng hiat hoan-hun-tan?"

"Kecuali kau masuk menjadi anggota Ang mo kauw." "Kau adalah musuh guruku. Tak mungkin..."

"Maka diantara kita, tidak mungkin ada perdamaian."

-ooo0dw0ooo-