Pohon Keramat Jilid 02

Jilid 02 

"KITA harus mencegah orang menggantungkan gadis cantik keatas pohon gundul itu."

"Kita boleh mengadu jiwa dengan algojo jahat dari  Pohon Penggantungan".

"Bagaimana ilmu kepandaian algojo itu?" "Mungkinkah kakek jembel tadi?"

"Nanti kita dapat melihat."

"Dikatakan ia ingin mencari Tan Ciu, mungkinkah bayangan yang pertama diam di depan kita itu".

"Mungkin bukan."

"Kukira dia. Potongan, badannya agak mirip." "Tidak. Itulah potongan badan seorang wanita."

"Sudah" Thung Lip menutup perdebatan. "Yang penting, kita tidak tidak boleh membiarkan orang itu menggantung gadis silat diatas pohon kering itu. Siapa yang ingin melakukan kejahatan ini, kita beramai harus menempurnya".

"Betul"

Semua orang menunggu lagi.

Dikala hampir menjelang subuh, hari bertambah gelap, kabut putih itu belum lenyap, Dan orang yang  hadap berhadapan pun sukar terlibat jelas.

Tiba-tiba angin berhembus masuk kedalam hutan lebat itu menyerang semua orang. Mereka menggigil dingin. Angin ini agak aneh sekali, kedatangannya mendadak dan mencurigakan.

Di-atas Pohon Penggantungan masih belum terlihat korban, Mereka saling pandang dan disaat inilah kepala semua orang menjadi pusing, pandanan matanya semakin gelap, semakin gelap.

"Celaka." si Juta Bisa yang biasa main racun kena diakali orang juga. Ia  tahu bahwa angin aneh tadilah yang membawa malapetaka bagi mereka.

Mereka diserang obat bius dan tertidur.

Tujuh jago silat itu berpengalaman luas tapi masih kena ditipu orang juga. termasuk si Juta Bisa yang pandai memilih racun.

Sebelum ingatan mereka lenyap semua samar samar mereka dapat mendengar tapak langkah kaki orang yang mendatangi, samar-samar seperti ada orang yang menggantungkan sesuatu diatas Pohon Penggantungan.

Mulut mereka dipentang, maksudnya berteriak tetapi gagal, tidak ada suara yang keluar.

Mereka ingin bergerak, sayang seluruh tubuhnya ngeloso tidak bertenaga.

Yang dapat disaksikan ialah bayangan orang itu melakukan sesuatu diatas Pohon Penggantungan. Itulah si Algojo Pohon Pengantungan

Laki laki? Atau wanita? Mereka tidak tahu.

Tua? Atau muda?

Merekapun tidak dapat melihat.

Kelopak mata mereka terkatup dan tertidurlah untuk sementara! Waktu menjelang hampir pukul enam pagi. Mereka tersadar dari kekangan obat tidur, hanya tubuhnya saja yang masih lemah! Mereka masih tergeletak ditanah.

Kabut pagi telah buyar, hari telah berganti, Disana menggeletak tubuh-tubuh dari enam orang yang masih ada dalam keadaan payah.

Enam orang? bagaimana mungkin hal ini dapat terjadi?

Mengapa bukan tujuh orang?

Thung Lip, Lie Kee Ceng, Pek Gie Kie, Thiat Kiam Khek, si Juta Bisa, Buddha alim dan Pengemis Sakti Bermata Satu, jumlah ini tujuh orang bukan? Mengapa tubuh-tubuh yang menggeletak disekitar Pohon Penggantungan hanya enam orang?

Tentu saja, kerena diantara mereka telah berkurang seorang.

Siapa diantara tujuh orang itu yang lenyap tanpa bekas.? Mari kita melihat bagian berikutnya dari cerita ini.

oo0dw0oo

ENAM orang itu bangun duduk. Mereka mengucek ucek mata. jiwa mereka baru lolos dari lubang jarum. Mereka ragu-ragu dan kurang percaya, bahwa mereka masih hidup.

Keenam orang itu saling pandang dengan perasaan seram, curiga dan takut.

Si Juta Bisa mengeluarkan hembusan napas dalam yang panjang.

Lima orang lainnya memandang kearah kawan tukang main bisa ini. "Bagaimana?" Pengemis Sakti Bermata Satu mengajukan pertanyaan.

"Eh, mengapa kurang seorang ?" "Siapa ?"

Mereka memeriksa dirinya dan betul saja disana telah susut seorang, siapakah yang tidak ada itu?

"Thung tayhiap!!!" Lie Kee Ceng berseru keras.

Mengapa kepala pemimpin mereka yang tak ada?

Kemanakah perginya si Cendekiawan Serba Bisa itu?

Letak Thung Lip berada didekat si Juta Bisa, Pedang Penembus Langit, mengapa kini tidak terlihat?

Terdengar lagi suara Si Buddha Alim, "Hei lihat!"

Mata semua orang tertarik kearah yang di tunjuk. Itulah Pohon Penggantungan. Entah kapan, disana menggelantung seseorang, itulah gadis berbaju putih yang mati dan menjadi korbannya tahun ini.

"Aaaaa...." Lagi-lagi. Pohon Penggantungan meminta korban! Keenam orang itu diserang rasa takut yang tak terhingga, diatas pohon masih berdayung-dayung jenazah gadis itu.

Sukma para jago hampir keluar dari tempatnya. Dalam waktu yang singkat, diatas pohon Penggantungan telah dijerat seorang, tanpa diketahui oleh mereka. Dan yang aneh, si Cendekiawan Serba Bisa Thung Lip lenyap tanpa bekas bekasnya.

Untuk menghilangkan rasa takut, mereka segera meninggalkan tempat itu dengan perasaan seram dan ngeri. Berjalan tidak jauh, didepan mereka muncul seseorang, datangnya sangat mendadak, lagi lagi enam orang itu di kejutkan.

Pengemis Sakti Bermata Satu yang berjalan dipaling depan mengeluarkan suara keras.

"Kau!!"

Orang yang menghadang kepergian mereka adalah si pemuda angkuh Tan Ciu.

Terlihat pemuda ini tersenyum aneh, dengan suara dingin berkata.

"Betul"

Ke enam orang itu mundur ke belakang, Tan Ciu maju dua langkah.

"Eh, kalian mengapa?" Ia mengajukan pertanyaan. Pengemis Sakti Bermata Satu memandang Pek Gie Kie.

Dengan satu kerlingan mata meminta pendapat kawan itu.

"Tentunya dia!" Berkata si Pedang Penembus Langit. "Aku? apa?" Tan Ciu tidak mengerti. Maka ia

mengajukan pertanyaan.

Semua orang telah dirundung ketakutan terus menerus, hawa kumpulan ini menjadi suatu kemarahan yang tidak dapat ditampung. Terlihat si Juta Bisa maju membentak "Demi Thung tayhiap, mari kita menuntut balas!"

"Betul."

"Minta pertanggung jawabannya." "Bunuh saja." Pergolakkan itu semakin meningkat. Orang yang pertama kali bergerak ialah si Pengemis Sakti Bermata Satu, tangannya dikedepankan memukul pemuda itu.

Juta Bisa, Lie Kee Ceng, Thiat Kiam Khek dan Pedang Penembus Langit tak tinggal diam, serentak, merekapun memukul pemuda itu.

Tan Ciu mendapat serangan lima orang tokoh kuat. Kecuali si Buddha Alim, tak seorang pun yang menaruh simpati pada pemuda angkuh ini, mereka menduga pasti, bahwa Tan Ciu mempunyai hubungan yang erat dengan Pohon penggantungan.

Mendapat serangan itu, Tan Ciu menggeram. Tubuhnya melesat tinggi, menghindari serangan-serangan tadi, kemudian ia berteriak.

"Tahan."

Lima jago silat itu tidak mendengar peringatannya, lagi- lagi mereka menyerang.

Tan Ciu mempunyai ilmu kepandaian tinggi, ilmu meringankan tubuhnya pun hebat, lagi-lagi ia mempertontonkan kepandaiannya melayang dari kurungan semua orang dan berteriak.

"Hei, apa artinya permainan kalian?"

"Mengapa kau membius kami?" Pengemis Sakti Bermata Satu mengajukan pertanyaan.

"Jangan bicara, dialah algojo Pohon Penggantungan." Berkata si Juta Bisa.

"Kemana kau sembunyikan pemimpin kita?" Pedang Penembus Langit turut buka bersuara.

Tan Ciu termundur bingung. "Eh, si Cendekiawan Serba Bisa telah mati?" ia mengajukan pertanyaan.

Pedang Penembus Langit membentak. "Jangan berpura pura bodoh!"

"lekas katakan." bentak Thiau Kiam Khek "Bagaimana hubunganmu dengan Pohon pengantungan?"

"Bunuh saja," Berkata si Juta Bisa. dan enam tokoh silat itu menyerang Tan Ciu lagi.

Tan Ciu dipaksa memberikan perlawanan, pedangnya dikeluarkan dari tempatnya. Sret,, Sret... mendesak si Penembus Langit dan Thiat Kiam khek.

Pengemis sakti Bermata Satu dan Juta Bisa mengisi kekosongan kawan itu, Mereka mengancam punggung si pemuda!

Tan Ciu berhasil menghindari diri, tubuhnya diputar dan menyerang lawan? Kali ini yang dijadikan sasaran ialah Lie Kee San!

Lie kee San adalah orang yang mempunyai ilmu kepandaian terendah, tentu tidak berhasil menangkis, tubuhnya jatuh terluka!

"Kalian tidak bersedia mendengar keteranganku?" Tau Ciu mengajukan pertanyaan.

"Tidak perlu "

Dan si pemuda sudah dikurung lagi.

Bila Tan Ciu mau, didalam sekejap mata, ia dapat membunuh lima tokoh silat itu, hanya pantangan membunuh belum berani dilanggar, terpaksa ia harus menggunakan siasat, melukai atau mendesak mereka. Karena inilah tidak mudah untuk mencapai kemenangan segera.

Thiat Kiam Khek cs ingin membunuh pemuda itu, hanya ilmu kepandaian mereka tidak dapat menandingi, keadaan pertempuran berjalan terus.

Suatu ketika, Tan Ciu menengok kearah Pohon Penggantungan, matanya terbelalak, ia berteriak.

"Aaaaaaa "

Suara ini mengejutkan semua orang, Berbareng Tan Ciu melesat keluar dari kurungan dan menuju kearah Pohon Penggantungan!

Disaat yang sama. Juta Bisa mengirim pukulan maut, Buddha Alim yang melihat kawan kawannya terdesak turut memberi pukulan!

Terdengar suara . Bukk Bukk, dua kali. tubuh Tan Ciu

yang melayang lepas itu kena pukulan dua orang. Dari mulutnya keluar darah segar.

Tan Ciu tiba di Pohon Penggantungan, matanya tidak lepas memandang gadis berbaju putih yang tergantung dipohon tua itu, ia tidak memperdulikan lukanya. Keadaan pemuda itu berubah sama sekali.

Enam jago silat tidak mengerti, mengapa pemuda itu seperti kehilangan ingatan? Bukankah belum lama ia menyerang dengan gagah sekali.

"Apa yang terjadi?" Buddha Alim mengajukan pertanyaan kepada kawan kawannya!

"Heran, ia tidak berusaha menghindari pukulan kita!" Berkata Juta Bisa,

"Kukira ada sesuatu yang menarik perhatiannya!" "Gadis berbaju putih itu !!!!" "Mungkinkah kakak perempuannya ?"

"Inilah kesempatan baik untuk melenyapkan dirinya!"

"Betul...Bunuh saja lebih dulu!!"

Enam orang mendekati Tan Ciu. Si pemuda masih berdiri didepan Pohon Penggantungan tanpa berkesiap.

Mengingat ilmu kepandaian pemuda angkuh yang sangat tinggi, mereka tidak berani terlalu cepat bergerak, sehingga dekat sekali, enam pasang tangan siap merenggut jiwa pemuda yang hampir hilang ingatan tersebut. Keadaan sungguh genting... , Tiba tiba terdengar suatu suara yang mengguntur.

Ditengah-tengah Tan Ciu dan rombongan lawan bertambah seorang, itulah si kakek aneh yang belum lama mencari carinya. Juta Bisa cs dipaksa menghentikan gerakan.

"Hei, apa yang kalian mau lakukan kepadanya?" Bentak kakek aneh itu kepada semua orang.

"Membunuh." "Alasannya?"

"Dia adalah algojo Pohon Penggantungan."

"Kalian telah membuktikan sendiri bahwa ia membunuh orang diatas tiang Pohon Penggantungan?"

"Hanya dia yang muncul ditempat ini".

"Babi busuk! Akupun pernah muncul disini. Mengapa tidak mendakwa diriku sebagai algojo  Pohon Penggantungan?" Semua orang dibungkamkan, Kakek aneh itu membentak lagi.

"Hanya kalian yang boleh datang? Orang lain tidak? Hanya kalian yang bukan algojo? Orang lain dituduh algojo".

"Mungkin dia bukan algojo Pohon Penggantungan".

Bertanya Thiat Kiam Khek.

Kakek aneh itu mengangkat pundak.

Tiba-tiba terdengar suara Tan Ciu yang berteriak keras. "Oh, Cie cie."

Tubuhnya lompat dan menubruk gadis berbaju  putih yang mati tergantung diatas pohon gundul misterius itu!

Menyambung cerita lama, tatkala diatas Pohon Penggantungan menggantung mayat seorang gadis berbaju putih.

Tan Ciu yang sedang dikeroyok oleh enam jago sitat melibat tubuh itu, gerakannya menjadi lamban, otaknya terganggu ingatan , jiwanya hampir tidak ada. Maka ia kena pukulan-pukulan mereka.

Disaat tegang inilah, datang kakek aneh yang menolong jiwa si pemuda dari kematian.

Tan Ciu menubruk mayat gadis berbaju putih itu dan berteriak.

"Cie cie!"

Diturunkannya mayat kakak perempuannya, matanya menyalak merah. "Siapa yang membunuh kakakku?"

"Pohon Penggantungan." Berkata si kakek aneh. Tan Ciu menggerakkan pedangnya dan di hantam Pohon Penggantungan yang gundul dan tandus sudah mau kering itu.

Traaaanng, terdengar beradunya dua benda yang terbuat dari logam, pedang Tan Ciu yang ingin memapas pohon tepat mengenai sasaran, tetapi pohon itu tidak tumbang atau patah, bila tangan Tan Ciu kurang kuat memegang Pedang, senjata itu pasti terbang.

Tan Ciu, Kakek aneh itu dan enam orang lainnya terbelalak.

"Pohon besi?" Inilah suara Tan Ciu yang kaget.

Betul. Apa yang ditakutkan oleh banyak orang sebagai Pohon Penggantungan itu adalah pohon yang terbuat dari pada besi, pantas saja tidak tumbuh daun, pantas saja tidak mati sampai bertahun tahun.

Hasil dari papasan pedang Tan Ciu hanya berupa lapisan besi yang berbentuk kulit pohon.

Rahasia Pohon Penggantungan telah terbuka, ternyata ada seseorang yang sengaja memasang besi maut ini!

Siapakah orang itu?

Semua orang memikir dan mencari jawaban teisebut, Tan Ciu menggeretek gigi. "Aku tahu."

"Apa yang kau ketahui?"

"Siapa yang membunuh kakakku." "Siapa?"

"Co Yong Yen!!".

Kakek aneh itu mengkerutkau keningnya!

"Siapa itu Co Yong Yen?" Ia mengajukan pertanyaan. "Istri si Cendekiawan Serba Bisa Thung Lip." "Thung Lip belum pernah beristri!"

"Mungkin!" Pengemis Bermata Satu turut bicara. "Tapi

tatkala saudara Tan ini meninggalkan Han san Siauw ciok tiga hari yang lalu, ia pernah berjumpa dengan seorang yang bernama Co Yong Yan, ialah istri Thung Lip. Thung Lip tilak menyangkal tentang kebenarannya."

"Ooooooooooo .... Hal ini mempunyai  hubungan dengan Pohon Penggantungan?"

"Aku tidak peduli!!!" Berteriak Tan Ciu.

"Dialah tentunya yang membunuh kakakku, aku harus menuntut balas ini".

"Tan Siauwhiap, semua terjadi karena salah paham. Dengan ini aku mewakili semua kawan meminta maaf. Selamat jumpa kembali".

"Silahkan Tan Ciu tidak menarik panjang".

Si Pengemis Sakti Bermata Satu mengajak, kawannya meninggalkan tempat. Meninggalkan hutan hitam yang penuh misterius itu.

Tidak jauh dengan Pohon Penggantungan terlihat si kakek aneh dan Tan Ciu, kecuali mereka, masih  ada sesosok mayatnya kakak Tan Ciu yang bernama Tan Sang itu.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa cekikikannya seorang wanita di luar rimba, tentunya memapaki munculnya Juta Bisa sekalian,

"Sungguh kebetulan bila mereka berkumpul menjadi satu." Inilah suara wanita. "Kau... Siapa?" Inilah suara Pengemis Sakti Bermata Satu.

"akan segera menemukan jawaban dialam baka". Terdengar jeritan sampai berulang kali.

Semua kejadian terjadi di luar rimba.

Di dekat Pohon Penggantungan. Tan Ciu dan  kakek aneh itu dapat mendengar, wajah si kakek berubah menjadi pucat.

Tan Ciu tak dapat menahan sabar, tubuhnya bergerak, diangkat mayat kakaknya dan siap melihat apa yang terjadi dengan orang-orang tadi?

Tubuhnya kakek itu bergerak lebih cepat, ia menghadang kepergian si pemuda.

"Jangan," ia mencegah. "Mengapa?"

"Kau mau apa?"

"Siapa wanita diluar rimba?" "Kau tidak perlu kesana." "Mengapa?"

"Karena aku tahu dan dapat menjawab pertanyaanmu." "Siapa dia?"

"Si Jelita Merah."

"Mengapa tidak boleh menjumpai si Jelita Merah?" "Kau bukan tandingannya. Jangan mengganggu!" Wajah Tan Ciu berubah cepat.

"Minggir!!" ia membentak. "Jangan!!" Kakek itu berusaha mencegah si pemuda keluar rimba.

Dengan mempelototkan mata, Tan Ciu membentak. "Minggir.."

Terpaksa kakek itu menyingkirkan diri dan membiarkan Tan Ciu menggendong mayat Tan Sang meningggalkan Pohon Penggantungan, Ia membuntuti dibelakang si pemuda tanpa banyak komentar. Setelah kepergian dua orang tadi, dari belakang Pohon Penggantungan keluar tiga orang, mereka memandang bayangan belakang Tan Ciu.

Orang yang berada ditengah bertanya kepada mereka, "Dia??"

"Betul" Orang yang dikanan memberi jawaban. "Diselesaikan kapan?" Bertanya orang yang dikiri.

"Setelah keluar dari rimba ini, kita boleh turun tangan." Berkata orang yang ditengah. agaknya orang inilah yang menjadi pemimpin dari ketiga orang tadi. Mereka membuntuti.

"Kita lari kedepan dan menyusul Tan Ciu dan kakek aneh itu".

Suara jeritan jeritan sudah tidak, terdengar, ditanah menggeletak enam sosek mayat, tidak jauh dari mayat mayat itu berdiri seorang wanita yang mengenakan pakaian warna merah. Wajah wanita itu cukup  cantik, sayang penuh kekejaman, ia memandang keenam mayat itu dan bergumam. "Masih tinggal seorang Thung Lip." Disaat ini Tan Ciu keluar rimba, dilihat enam mayat yang menggeletak ditanah. itulah mayat mayat Thiat  Kiam Khek, Lie Kee Ceng, Juta Bisa, Buddha Alim, dan si Pengemis Sakti Bermata Satu. Kata-kata gumamnya wanita baju merah  itu masih terdengar jelas. Wanita inikah yang bernama si Jelita Merah?

Wanita itu melihat kearah Tan Ciu, lirikan  matanya melempar kerlingan yang menggiurkan,

Si Pemuda terkesima.

Wanita baju merah maju mendekati Tan Ciu.

"Saudara kecil, siapa namamu ?" ia mengajukan pertanyaan.

"Kau tidak perlu tahu." Jawab Tan Ciu ketus. "Apa permusuhanmu dengan mereka, mengapa membunuh semuanya?"

Wanita berbaju merah itu adalah si Jelita Merah yang ditakuti oleh kakek aneh, mendapat pertanyaan Tan Ciu seperti tadi, ia tertawa cekikikan!

"Hanya membunuh mati beberapa orang saja kau bartanggur tengger seperti ini."

Ia sudah biasa membunuh orang maka dapat mengucapkan kata kata ini dengan tertawa ha ha-ha hi hi hi hi

Tan Ciu masih menggendong kakaknya, ia mendelikan mata.

"Eh, siapakah yang kau gendong itu?" Bertanya si Jelita Merah melemparkan lirikan mata lagi. "Kekasihmu?"

"Kentut" Tan Ciu membentak.

"Saudara kecil, hati.hati menjaga mulutmu agar tidak kena tamparan."

"Tutup mulut. Apa dendammu kepada mereka, mengapa main bunuh saja?" "Bila tidak mempunyai dendam, tidak boleh membunuh?"

"Memang."

Wajah Tan Ciu berubah, ia meletakan tabuh kakaknya. begitu bergerak tangannya telah menarik keluar pedang dari punggung dan langsung menusuk wanita berbaju merah itu.

Jelita Merah memutar badan gerakannya gesit sekali, melesat jauh dan mcnghindari tusukan pedang si pemuda.

Disaat ini, kakek aneh baru keluar dari dalam rimba.

Tepat berhadapan dengan wanita berbaju merah itu.

"Kau?" Si Jelita Merah memutarkan biji hitam matanya, pada wajahnya masih tersungging senyuman. "Su Hay Khek, kau belum mati?"

Kakek aneh ternyata itu bernama Su Hay Khek.

"Terima kasih" ia berkata. ”Masih terlalu pagi untuk mati..."

"Hm.."

"Sudah lama kita tidak bersua. Semakin lama kau semakin cantik saja."

"Tua bangka mata keranjang, berani kau main main kepadaku?"

"Ha Umurku telah lebih dari enam puluh tahun. Mana

kuat main lagi?"

Badan Jelita Merah bergerak, cepat sekali, tangannya diangkat dan ... plak menampar pipi si kakek aneh itu!

Kakek aneh Su Hay Khek tidak menyingkir dari tamparan tadi, tidak mungkin ia dapat menghindarkan diri dari tamparan si Jelita Merah. Dan memang ia tidak ada niatan untuk menghindarkan diri dari tamparan tadi. Jelita Merah tertawa bahak bahak.

"Berhati-hatilah memainkan lidah," ia berkata.

Kakek aneh itu mengusap usap pipinya yang kena ditampar orang, ia tidak marah.

"Nona kecil, tamparanmu ini keras sekali." ia masih bisa berkelakar

"Tua bangka kurang ajar, bila kau masih tidak berhati- hati, kau akan menerima yang lebih keras lagi".

"Terima kasih".

"Hei, bagaimana dengan perintahku? Sudah berhasil kau temui".

"Siapakah nama orang itu?"

"Kau belagak bodoh? Ingin mendapat tampar lagi?" "Tan Kiam Lam yang kau maksudkan?"

"Betul!!"

Wajah Tan Ciu berubah, lagi lagi ia mendengar nama Tan Kiam Lam disebut, orang yang punya hubungan dekat dengan dirinya,

Kakek aneh Su Hay Khek berkata. "Dikabarkan ia telah tiada." "Mati?"

"Betul".

"Dimanakah jenazahnya di kuburkan?" "Mana aku tahu!"

"Mati di tangan siapa ?" "Istrinya," "Dan dimana kini istrinya itu berada ?" "Aku tidak tahu juga."

Jelita Merah mempelototkan matanya. "Semua kau

jawab dengan serba tidak tahu!" Ia ngedumel.

Su Hay Khek tertawa cengar cengir. "Hei, di manakah si Cendekiawan Serba Bisa itu berada?" Bertanya lagi Jelita Merah.

"Thung Lip belom lama lenyap". "Belum lama?"

"Betul. Mungkin dibawa oleh pencipta pohon besi."

"Pohon Besi?"

"Pohon penggantungan, Itu yang kumaksudkan". "Siapa orang yang membikin Pohon Penggantungan?" "Tidak tahu."

"Lagi lagi tidak tahu?" "Memang aku tidak tahu."

"Kuberi waktu sepuluh hari untuk menyelidiki hal ini. Dan kau harus memberi keterangan yang memuaskan tentang Pohon Penggantungan".

Su Hay Khek mengangkat pundak.

"Sepuluh hari? kukira waktu ini terlalu singkat". Ia pandai berkelakar.

"Bila satu bulan, bagaimana?"

"Apa boleh buat".

"Nah, pergilah.. Segera cari keterangan tentang Pohon Penggantungan." "Baik."

Sebelum berangkat, si kakek aneh Su Hay khek mendekati Tan Ciu, dengan suara yang disalurkan dengan tekanan gelombang tinggi ia membisiki si pemuda

"Bocah, kukira kau adalah anaknya Tan Kiam Lam." Tubuhnya melesat dan lenyap cepat.

Tan Ciu ingin mendapat keterangan yang lebih jelas. Ia terlambat. Gerakan Su Hay Khek terlalu cepat sekali.

Betulkah keterangan kakek aneh itu yang mengatakan bahwa ayahnya bernama Tan Kiam Lim?

Betulkah keterangan yang diberikan kepada si Jelita Merah, bahwa Tan Kiam Lam mati dibawah tangan istrinya sendiri?.

Mengapa?

Ooo, sungguh kejam sekali. Hal ini tidak seharusnya terjadi. Diharap saja Tan Kiam Lam bukan ayahnya. Diharap saja ia tidak mempunyai ibu yang sekejam itu, membunuh suami sendiri.

Tetapi siapakah yang menjadi ayahnya? Tan Ciu teringat kepada kakak perempuannya, gadis baju putih itu masih menggeletak tidak jauh dari tempat ia berada. Hanya Tan Sang yang dapat memberi keterangan ini, sayang Tan Sang telah binasa.

Si pemuda melamun terlalu banyak. Tidak disadari bahwa Jelita Merah telah meninggalkan dirinya. Meninggalkan mayat-mayat Juta Bisa sekalian.

Lima bayangan mulai bergerak. Tidak ada suara, arahnya ialah dimana Tan Ciu berada. Tidak jelas wajah lima bayangan yang baru datang, mereka mengenakan pakaian yang serba merah, diantaranya ialah seorang tua yang menjadi kepala pemimpin rombongan itu.

Mereka mengurung Tan Ciu di tengah.

Si pemuda tersentak, ia mendongakkan kepala dan diketahui bahwa dirinya telah berada dibawah kurungan orang.

Orang tua berbaju merah membuka suaranya yang dingin.

"Namamu Tan Ciu?"

"Betul" Si pemuda membusungkan dada, "Murid si Puteri Angin Tornado?" si Angin Tornado adalah nama angin yang terhebat, rumah besarpun dapat diungsikan olehnya. Sungguh seram...

Tiga hari yang lalu, si Cerdekiawan Serba Bisa Thung Lip pernah mengatakan bahwa ilmu silat Tan Ciu mempunyai banyak persamaan dengan si Puteri Angin Tornado? Kini lagi lagi ada orang yang mengajukan pertanyaan bahwa si pemuda adalah murid wanita itu.

Betulkah bahwa Tan Ciu mendapat pelajaran ilmu silat dari Puteri Angin Tornado. Mari kita teruskan cerita, Terdengar Tan Ciu membuka suara. "Kalian dari mana?"

Rombongan orang berbaju merah itu tidak menjawab. Si orang tua yang menjadi pemimpin mereka memberi jawaban. "Hal ini kau tidak perlu tanya. Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, gurumu Puteri Angin Ternado?"

"Umpama betul, apa yang kau lakukan? Bila bukan, apa pula yang kau perbuat?" Orang tua berbaju merah itu tertawa lepas.

"Berilah jawaban yang pasti," katanya dengan suara tidak enak didengar. "Kau anak murid si Puteri Angin Tornado?"

Gerakan orang-orang berbaju merah ini aneh sekali. Tan Ciu segera menduga komplotan Pohon Penggantungan. Wajahnya berubah.

"Betul. Aku adalah anak murid Puteri Angin Tornado." Ia memberi jawaban pasti.

"Bagus."

"Apa yang bagus?"

"Kau harus turut kami" Berkata orang tua berbaju merah itu.

"Kemana?" "Jangan bertanya?"

"Aku tidak bersedia turut dengan kalian,"

"Ingin dipaksa?."

"Bagaimana asal usul kalian berlima?" Tan Ciu mengajukan pertanyaan.

"Kau turut atau tidak?"

"Kukira kalian tak dapat memaksa orang?" "Dengan kekerasan?"

"Boleh coba" Tan ciu menantang.

"Baik."

Orang tua berbaju merah itu memberi isyarat kepada keempat kawannya, serentak, mereka mengurung Tan Ciu lebih rapat. Dugaan Tan Ciu kepada orang orang berbaju merah itu telah dikesankan sebagai komplotan Pohon Penggantungan, ia sengaja menarik perhatian orang, maksudnya menempur mereka.

Lima orang berbaju merah telah berada di dalam keadaan siap tempur, orang tua yang menjadi pemimpin mereka berkata.

"Kesempatan terakhir untukmu, maukah turut?" "Tidak."

Orang tua berbaju merah menurunkan tangannya,

serentak lima orang itu menghujani Tan Ciu dengan pukulan-pukulan,

Memang hebat, bila tokoh silat biasa yang menghadapi cara mereka bertempur ini, tentu kewalahan dan pasti menjadi korban pukulan.

Tan Ciu menarik keluar pedang yang disabetkan kepada setiap tangan yang datang, tentu saja mereka tak berani membentur senjata tajam itu dan mundur teratur. Merekapun mengeluarkan pedang, dengan cara bergiliran mereka mengurung pemuda itu.

Didalam beberapa jurus pertama, Tan Ciu dapat menghadapi semua orang itu dengan tenang. Semakin lama, tenaganya semakin berkurang, itu disebabkan oleh luka pukulan-pukulan rombongan Juta Bisa, karena belum sempat mengatur pembuluh pembuluh darah yang rusak, tenaganya tentu terganggu.

Lima orang berbaju merah menyerang semakin gencar, bergilir mereka maju dan mundur, dengan tapak-tapak kaki yang teratur mereka mendesak Tan Ciu setelah mengeluarkan pedang, maka semakin kuatlah desakan mereka. Tan Ciu kewalahan. Bila saja ia tidak mempunyai kepandaian istimewa, setelah mendapat pukulan orang, dipaksa menempur lima orang, tentu telah jatuh lama.

Orang tua berbaju merah  yang menjadi pemimpin rombongan itu tertawa dingin, ia tahu sudah waktunya mencari kemenangan, pedang dipindah ketangan kiri, membiarkan keempat kawannya menyerang dari depan,ia mengitari mereka dan berada dibelakang lawan mudanya,

Empat orang baju merah menyerang Tan Ciu dengan empat pedang mereka.

Tan Ciu menggunakan pedang menangkis senjata-senjata itu.

Pemimpin orang berbaju merah telah berada dibelatang Tan Ciu, ia mengirim satu pukulan tangan.

Diserang dari depan dan belakang, dalam keadaan yang sudah payah, Tan Ciu tidak berdaya.

Bek...... Melewati empat orang berbaju merah  yang berada didepannya, tubuhnya Tan Ciu terpental terbang jauh, ia telah menerima satu pukulan orang tua baju merah itu. dari mulutnya memuntahkan darah  merah, menggeletak ditanah.

Tentu, saja, setelah menderita luka, tidak semestinya menempur orang pula, den lebih jauh pantang menerima pukulan dari belakang, Tan Ciu jatuh, tidak dapat bangun lagi.

Empat orang berbaju merah, dengan pedang ditangan menyusul tubuh Tan Ciu yang melayang diatas kepala mereka. Begitu tubuh si pemuda itu jatuh ditanah, empat pedang itu pun menusuk.

Terdeangar suara jeritan panjang.....

Darah berhamburan. Tan Ciu mati? Tidak. Luka? Juga tidak.

Jeritan tadi adalah suara jeritannya empat orang berbaju

merah yang menusukkan pedang meraka. Ternyata sesuatu bayangan bergerak lebih cepat, sebelum keempat pedang mengenai Tan Ciu, bayangan ini menggunakan kepandaiannya membunuh keempat orang berbaju merah.

Tan Ciu membelalakkan mata. Orang tua berbaju merah turut terkejut. mungkinkah ada orang yang berkepandaian silat setinggi ini? Dapat membunuh keempat kawannya dalam sekejap mata! Siapakah orang itu?  Disana telah bertambah seorang, dia adalah si Jelita Merah yang telah pergi dan balik kembali.

Orang tua berbaju merah tidak kenal, ia membentak, "Siapa?"

"Kau tak perlu tahu. Pergilah..." Jelita Merah membentak.

Tan Ciu tidak mempunyai kesan baik kepada si Wanita ini, didalam keadaan marah dan hati panas. ia mendorong kedua tangannya dengan tenaga penuh.

Jelita Merah membelakangi si pemuda, ia sedang berhadap hadapan dengan orang tua itu. Memperdebatkan hasil dari pembunuhan yang yang dilakukan olehnya. Hanya satu kali gebrak ia mengirim jiwa keempat kawan orang tua itu pergi keakhirat. Dia datang dengan maksud membantu Tan Ciu, menolong jiwa pemuda dari kematian. Tentu saja ia tidak menduga sama sekali, bahwa dirinya diserang seperti itu, karena jaraknya yang terlalu dekat, tidak mungkin ia menyingkirkan diri dari serangan itu, tepat sekali, punggungnya menerima pukulan Tan Ciu. Tubuh Jelita Merah terpental jauh. Kini Tan Ciu berhadapan dengan orang tua berbaju merah.

Terdengar geramannya si kakek, pedang yang ditangan kiri telah pindah ketangan kanan, dan menusuk kearah si pemuda.

Tan Ciu memapaki dengan pedangnya. TRAAA..NN..GG!!!!

Tan Ciu sudah tidak bertenaga, hasil dari bentrokan dua pedang itu, tubuhnya terdorong kebelakang.

Orang tua berbaju merah mengirim pukulan tangan kosong, ternyata tangan kanan dan kiri dapat dikasih kerja sama.

Tan Ciu sudah lemas. Bergoyangan sukar. kini tak dapat menyingkir dari serangan ini,

"Beekkk ..."

Sekali   lagi   si   pemuda memuntahkan darah segar, tubuhnya jatuh ngeloso ditanah.

Orang tua baju merah menggerakkan pedang ditangan kanan, maksudnya menusuk tembus perut sang korban.

Jelita Merah telah bangkit, ia menepuk pundak orang tua itu.

Aaaaaa!!

Si kakek menyingkir kesamping, tusukkan pedang yang hampir menembus perut Tan Ciu menjadi gagal.

Si Jelita Merah mengirim pukulannya yang kedua.

Kali ini, si kakek tidak sanggup bertahan, dengan satu suara jeritan panjang, ia menghembuskan napasnya yang penghabisan. Tan Ciu luka parah, tetapi belum mati. Kini ia merayap bangun.

Jelita Merah telah menghabiskan jiwa semua orang, ia membalikkan badan dan memandang pemuda itu. Matanya terlihat kilat sakit hati, pukulan Tan Ciu hampir merengut jiwanya. Mungkinkah ia membiarkan si pemuda berlaku kurang ajar?

"Kau kejam?!" Kata-kata ini penuh dendam. Tan Ciu tidak gentar.

"Siapa yang menyuruhmu membunuh mereka?"

Tuntutan si pemuda masuk diakal. "Salahkah membantu dirimu?" "Aku tidak butuh bantuan!"

"Aku dapat membantu, tetapi dapat juga membunuh, tahu?"

"Aku percaya, apalagi didalam keadaan seperti ini!" Jelita Merah tertawa.

"Biarpun kau tidak terluka, biarpun kau berkepandaian tinggi. Aku masih sanggup membunuhmu !"

"Belum tentu" Tan Ciu menantang.

Dari dalam saku bajunya, Jelita Merah mengeluarkan sebutir obat. Dilemparkan kearah. Tan Ciu dan berkata.

"Makanlah. Agar kau sembuh. Aku menanti,"

Tan Ciu menyambuti obat itu. Memeriksa sebentar dan dilempar balik lagi.

"Siapakah yang dapat menjamin bahwa benda ini tidak mengandung racun?" Ia tidak percaya itikad baik wanita itu. Jelita merah mengkerutkan kedua alisnya. "Kau tidak tahu budi!" ia berkata.

"Siapa yang sudi menerima budimu !"

"Sudah bosan hidup, he?" "Kau kira aku takut?"

Karena tidak sanggup menerima dan menelan hinaan hinaan si pemuda. Jelita Merah mengayun tangan..

Tan Ciu ingin menyingkir dari serangan itu, tetapi tidak berdaya, kondisi badannya berada didalam keadaan yang tidak mengijinkan.

Pukulan Jelita Merah membuat Tan Ciu. memuntahkan darah dalamnya. Beruntun beberapa kali, ia dipukul orang, tubuh si pemuda ngusruk di tanah.

Tan Ciu memang kepala batu, ia bandel. Hanya mendongakkan kepala, ia masih berani menantang.

"Jelita Merah lebih baik kau membunuh diriku." "Tentu"

"Kuanjurkan agar membunuh segera. Jangan tunggu waktu sampai esok hati."

"Mengapa?"

"Bila sampai aku tidak mati, dendam ini akan mengendap seumur hidupmu."

"Baik." Jelita merah menganggukkan kepala. "Aku mengabulkan permintaanmu"

Tan Ciu memeramkan mata. Ia siap menerima kematian.

Jelita Merah mengangkat tangannya tinggi, perlahan lahan ia menurunkan tangan itu tepat berada diubun-ubun Tan Ciu. Sampai disini, ia menghentikan gerakannya. Ia memandang wajah si pemuda yang tampan menarik  itu, dan mengeluarkan keluhan panjang. Tangannya ditarik kembali. Batal mengadakan pembunuhan.

Terlalu lama Tan Ciu menutup mata, dikala membuka mata kembali dan melihat kejadian ini, ia menjadi heran dan tidak mengerti. Lama sekali mereka saling pandang,..

"Mengapa kau batal turun tangan?" Si pemuda mulai memecah kesunyian.

”Aku..." Sinar mata Jelita Merah menyingkir dari bentrokan. "Aku tidak membunuhmu di hari ini. Aku memberi kesempatan agar kau mempunyai waktu untuk memperdalam ilmumu dan menuntut balas kepadaku!"

Ia membalikkan tubuhnya, melesat dan meninggalkan Tan Ciu.

Kondisi badan Tan Ciu berada dalam keadaan yang terburuk, ia dapat bertahan karena adanya lawan kuat. Kini segala sesuatunya telah bebas, Ia tidak sanggup menguasai segala galanya lagi. Kepalanyapun dirasakan berat dan roboh menggeletak ditanah.

Mendadak, ....

Ia seperti melihat sesuatu bayangan merah melayang datang sangat samar-samar guram sekali.

Tau Ciu menyangsikan kebenaran ini. Mungkinkah didalam khayalan?

Tidak! Inilah hal yang benar. Apa yang disaksikan olehnya betul-betul terjadi dihadapan pemuda itu. Hanya daya ingatannya terlalu suram. Maka tidak jelas! Lagi lagi datang bayangan lain melayang datang, kali ini berwarna kelabu. Langsung mendekati tubuh Tan Ciu yang terbaring ditanah.

Bayangan kelabu itu mengangkat tangannya, bila tangan ini turun, tentu jiwa si pemuda pasti akan naik ke sorga.

Tiba-tiba terdengar satu suara dingin membentak. "Jangan!"

Tangan sibayangan kelabu turun perlahan, batal menghantam tubuh sang mangsa.

"Dia...." Agaknya ingin membantah. "Kami masih membutuhkannya." "Bila sampai terjadi "

"Dengarlah perintahku."

"Bila ia berhasil menemui ayahnya." "Ayahnya?"

"Tan Kiam Lam itulah ayahnya."

"Tak mungkin... Tak mungkin mereka bersua" Si bayangan kelabu dapat diberi mengerti,

"Pasti?" Ia masih ragu ragu.

"Pasti sekali!! Karena ayahnya sudah binasa. Mungkinkah mereka bersua? Kecuali dialam neraka, inipun tak perlu kita khawatirkan"

"Dimisalkan ayahnya tidak binasa?"

"Mudah diselesaikan. Kita dapat menggunakan tangannya untuk membunuh Tan Kiam Lam"

"Baik. Pendapat kauwcu memang beralasan." "Kau " Percakapan berikutnya tidak dapat masuk ke telinga Tan Ciu. Ia telah jatuh pingsan, tidak sadarkan diri lagi.

ooodwooo

BEBERAPA lama kemudian, Tan Ciu sadar dari pingsan. Tenaganya dirasakan segar, bau harum masih terkulum didalam mulut, tentunya ada seseorang yang memberinya obat mujarab.

Ia tersentak bangun, lompat berdiri. Matanya memandang lepas, terlihat jelas ada seseorang yang berdiri didepannya. Orang ini berdiri kaku, tidak bergerak.

Tan Ciu mengucurkan keringat dingin.

Sekian lama.... Tan Ciu dapat membedakan siapa yang berdiri dihadapannya, itulah seorang sastrawan setengah umur. Wajahnya dingin dan kaku, tentunya orang yang tidak mudah dihadapi.

Orang yang dihadapan Tan Ciu adalah orang setengah umur yang berpakaian sastrawan, ia berdiri  tidak bergeming.

Tan Ciu tidak kenal orang ini, ia memandang dengan sinar mata penuh pertanyaan.

Sastrawan setengah umur itu tengah menyaksikan bahwa si pemuda betul-betul telah sembuh, maka ia pun membuka suaranya yang dingin.

"Bagaimana dengan luka lukamu?"

Tan Ciu sadar, tentunya sastrawan ini yang menolong dirinya. Ia memberi hormat berkata.

"Atas bantuan cianpwee, disini Tan Ciu menghaturkan terima kasih." Orang itu hanya membalas hormat sipemuda, ia hanya menganggukan kapala tanda kepuasan hatinya.

Tan Ciu memandang ketanah, matanya terbelalak. "Mengapa?"

Melihat gerak gerik si pemuda yang meragukan, sastrawan setengah nmar itu mengajukan pertanyaan.

"Dimana jenazah kakak perempuanku?" Tan Ciu kehilangan mayat saudara perempuannya.

Jenazah Tan Sang lenyap tanpa bekas.

Sastrawan setengah umur itu mengerutkan alisnya. "Jenazah kakak perempuanmu?" ia bertanya

"Ng.... " Tan Ciu masih berusaha mencari jenazah itu. Namun gagal. Tidak ada tanda-tanda kemana perginya jenasah Tan Sang.

"Kau telah tolong mengebumikannya?" Tan Ciu mengajukan pertanyaan.

"Tidak." Sastrawan setengah umur itu memberi kepastian.

"Aneh. Kau telah memindahkan kelain tempat?" "Jangan sembarang menuduh."

"Bagaimana ia lenyap?"

"Kukatakan bahwa aku tidak melihat jenazah ciciemu" "kecuali kau, ada beberapa orang disini?"

"Kau memang bocah yang tidak tahu mati, selama kau jatuh tak sadarkan diri kukira lebih dari 10 orang yang berkunjung ketempat ini."

"Siapakah mereka?.." "Anak buah perkumpulan Iblis Merah atau Ang mo- Kauw".

"Mengapa kau tahu?"

"Sedari kau berada dikota Kai Hong, aku telah mengikuti perjalananmu!",

"Mengikutiku? Apa maksudmu mengikuti orang?" "Sebab pertama disebabkan ingin tahu".

"Sebab kedua?"

"Aku ingin mengajukan pertanyaan, kepadmu!" "Silahkan kau ajukan pertanyaan. Apakah yang ingin

kau ketahui."

"cici mu telah menjadi korban Pohon Penggantungan?" "Betul."

"Mengapa?"

"Mana kutahu alasan ini? Bila kuajukan pertanyaan kepadamu. 'Mengapa para gadis Cantik berkepandaian silat digantung diatas Pohon Penggantungan? Apa yang kau bisa jawab?"

"Kau pandai." "Terima kasih!" "Namamu Tan Ciu?" "Betul."

"Anak Tan Kiam Lam?"

Hati Tan Ciu tergetar. Lebih dari satu kali, ia mendengar orang mengatakan dirinya sebagai putra Tan Kiam Lam. Siapa itu Tan Kiam Lam, ia tidak tahu... Mengapa mereka itu menduga seperti itu? Berdengung lagi percakapan dua orang yang mau membunuh dirinya tadi, dikatakan Tan Kiam Lam telah tiada, dan tidak mungkin ia dapat bertemu dengannya. Bila betul Tan Kiam Lam itu Ayahnya, oh ...

Sastrawan setengah muda itu menyadarkan Tan Ciu dari lamunan.

"Kau belum menjawab pertanyaanku!"; Tan Ciu tersentak bangun.

"Aku tidak dapat memberi kepastian," ia menjawab. "Siapa yang dapat memberi kepastian?"

"cicie-ku Tan Sang."

"Mungkinkah Tan Sang tidak memberi tahu kepadamu siapa yang menjadi orang tua kalian."

"tidak!"

"Aku tidak percaya."

"Terserah, sedari kecil aku turut guruku  mempelajari ilmu silat, Setiap sepuluh atau dua puluh hari, aku diperolehkan bertemu dengan cicie-ku. Pada sepuluh hari yang baru lalu, dikala aku kembali kerumah, ia meninggalkan sepotong surat dan mengatakan ingin menemui Thung Lip!"

"Kalian tidak berjumpa lagi, sehingga sampai ia digantung diatas Pohon Penggantungan."

"Betul"

Wajah sastrawan itu dingin dan kaku, tidak terlihat perubahan paras mukanya. Hanya pada sinar matanya yang berkilat-kilat itu, membuktikan bahwa ia ragu ragu.

Giliran Tan Ciu yang mengajukan pertanyaan. "Kau kenal dengan Tan Kiam Lam ?"

"Tan Kiam Lam mati dibawah tangan istrinya sendiri!" Sastrawan setengah tua itu tidak memberi jawaban,

sebaliknya mengajukan pertanyaan lain. "Inilah cerita orang." Berkata Tan Ciu. "Tentang kebenarannya?"

"Aku tidak tahu." si pemuda menggoyangkan kepala.

"Dengan alasan apa seorang istri membunuh suami sendiri?"

"juga tidak tahu." Tan Ciu tidak masuk perangkap pertanyaan.

Tan Ciu mempunyai otak yang cerdas, dari pembicaraan orang, ia paham bahwa tidak mungkin orang ini tidak kenal dengan Tan Kiam Lam. Pertanyaan pertanyaan tadi hanya alasan untuk menyingkirkan diri dari hubungannya dengan Tan Kiam Lam.

Siapakah orang ini?

Mengapa ia tak mau menyebut namanya? "Kau kenal dengan Tan Kiam Lam?"

Sekali lagi, Tan Ciu mengulang pertanyaannya yang belum dijawab.

Sastrawan itu memandang alam di tempat jauh,

"Kau tidak berani memberi jawaban?" Tan Ciu mendesak.

"Dimisalkan kenal."

"Mengapa menggunakan perumpamaan?" "Karena aku baras mengetahui asal usulmu lebih dahulu.

Setelah itu baru boleh membuka rahasia pribadiku." "Mengetahui asal usulku?."

"Betul. Aku belum dapat bukti yang menyatakan bahwa kau adalah putra Tan Kiam Lam".

"Setelah terbukti aku betul menjadi anak Tan Kiam Lam, bagaimana?"

"Ku harap saja bukan!"

"Mengapa? Mengapa aku tidak diperbolehkan menjadi anak Tan Kiam Lam?"

"Bila betul ayahmu bernama Tan Kiam Lam, Tragedi sedih segera menimpa dirimu".

"Tragedi sedih?"

Tan Ciu membuka mulut, mengeluarkan kata-kata tadi."Mengapa ada tragedi sedih yang menimpa ayah Tan Kiam Lam? Apa yang menyebabkan tragedi sedih itu?"

"Bagaimanakah kepribadian Tan Kiam Lam itu?" Si pemuda mengajukan pertanyaan.

"Jangan kau tanya soal ini kepadaku." Berkata si sastrawan.

"Kecuali kau dapat membuktikan bahwa kau adalah anaknya."

"Cicie Tan Sang tahu. Sayang ia sudah tiada."

"Maka tidak mungkin kau tahu asal usul dirimu, bukan?."

"Aku akan berusaha mencari tahu?" "Siapa yang menjadi sumber berita?" "Aku akan mengajukan pertanyaan kepada semua orang,"

"Jangan harap mereka dapat memberi tahu kepadamu!" Wajah Tan Ciu berubah.

"Tidak ada orang yang mau memberi tahu tentang Tan Kiam Lam?" Ia bertanya.

"Betul." Jawab sastrawan setengah umur.

"Aku ingin kau yang memberi keterangan" Mata  Tan Ciu menjadi liar,

"Oooo.... Kukira kau tidak dapat memaksa aku mengatakannya."

"Kau tidak mau memberi keterangan?" Tan Ciu maju selangkah, agaknya menggunakan kekerasan tangan.

Sastrawan itu marah, darahnya naik cepat. Ia menduga pasti bahwa pemuda yang berada didepannya adalah anak Tan Kiam Lam, Dan tentang hubungan Tan Kiam Lam dengan dirinya....

"Sudah kukatakan.." katanya "Tidak seorangpun yang mau memberi tahu tentang Tan Kiam Lam. Termasuk diriku."

"Aku dipaksa menggunakan kekerasan untuk memaksa kau bicara." Tan Ciu semakin beringas.

"Eh, kau mau bergebrak?" "Bila perlu."

"Tidak mungkin."

Tan Cui tidak dapat menahan sabar lagi. ia memungut pedangnya, dengan satu bentakan keras menyerang sastrawan setengah umur itu. Disaat yang sama sisastrawan telah mementulkan dirinya, sangat tinggi, gesit dan cekatan sekali.

Tan Ciu mengejar naik.

Gerakan sastrawan itu memang hebat, tanpa menginjakkan kaki ketanah lagi ia melayangkan dirinya dan pergi jauh.

Tan Ciu terpaku ditempat.

Dari jauh sayup sayup terdengar suara sastrawan itu. "Jangan  pusingkan  urusan  Tan   Kiam   Lam,  berusaha

carilah  siapa yang telah  membunuh  cici-mu  dan  tuntutlah

balas untuknya."

Tan Ciu hampir mau menangis. Rahasia ayah bundanya, dendam gurunya dan kematian kakak perempuannya telah jatuh disatu pundak, Suatu pikulan yang paling berat. Tidak satupun dari ketiga soal tadi yang mudah diselesaikan.

Ia naik darah, Pedangnya dibontang bantingkan, membabat apa yang berada disekitarnya, pohon, daun, batu dan apa saja yang dapat dibuat tempat melampias kemarahan.

Beberapa waktu, Tan Ciu berada dalam keadaan setengah gila.

Akhirnya ia lelah dan menghentikan gerakan-gerakan itu.

Ia berjalan pergi, tanpa tujuan. Ia meninggalkan rimba Pohon Penggantungan.

Matahari sore memperpanjang bayangan Tan Ciu, ditambah terlihat jalan bayangan yang kurus tinggi itu.

Suatu peringatan menghidupkan jiwa si pemuda. ia tidak boleh menjadi putus asa. Ia harus hidup seperti sedia kala! Wajah mengatasi kesulitan-kesulitan dan menyelesaikan tugas yang jatuh diatas kedua pundaknya.

Yang penting, balas dendam kepada orang yang telah membunuh cicienya, ia harus segera mencari algojo Pohon Penggantungan.

Siapa yang mempunyai hubungan dengan Pohon Penggantungan?

Segera teringat wanita berbaju putih Co Yong Yen. Dia mengaku sebagai isteri Thung Lip, dan antara tujuh orang tokoh silat yang masuk kedalam rimba Pohon Penggantungan, hanya kehilangan Thung Lip seorang. Hubungan ini sudah tentu dapat terjadi.

Segera mencari Co Yong Yen. Putusan ini segera diperbulatkan.

Dunia bukannya sedaun kelor, kemana ia harus menemukan Co Yong Yen. Orang yang belum diketahui alamatnya, dan mungkin tidak ada alamat sama sekali.

Biar bagaimana ia harus berusaha. Sampai ke ujung langitpun akan dikejar juga.

Karena adanya putusan yang  seperti ini penderitaan batin si pemuda agak mereda, ia bebas menjadi seorang manusia gila!

Didalam perjalanan, ia teringat kepada lima orang berbaju merah, itulah orang orang Ang mo Kauw atau perkumpulan Iblis Merah.

Dengan alasan apa orang orang Ang mo Kauw ingin membunuh diriya?

Karena gurunya bernama Putri Angin Tornado! Mengapa? Tentunya ada sesuatu ganjelan diantara sang guru dan pemimpin Ang Mo Kauw. untuk mengetahui lebih jelas tentang hal ini, ia baru mencari perkumpulan Ang mo Kauw. Mencari markas besar perkumpulan ada lebih mudah dari pada mencari seseorang. Tan Ciu menangguh dan pikirannya yang ingin mencari Co Yong Yen segera ia ingin menyelesaikannya lebih dahulu.

Langkah kaki Tan Ciu tidak pernah berhenti. Beberapa bayangan berkelebat, mereka menghadang jalan yang akan dilewati oleh si pemuda.

Terpaksa Tan Ciu menghentikan langkah kakinya.

Dua gadis berpakaian pelayan berdiri disana, warna baju mereka merah semua. Mereka memandang Tan Ciu dengan senyum kulum.

Tan Ciu mengadakan teguran.

"Mengapa kalian menghadang jalan orang?"

Salah seorang dari gadis pelayan berbaju  merah itu bertanya.

"Kau bernama Tan Ciu?" "Betul!"

"Kami mendapat tugas untuk menyambutmu."

"Mendapat tugas? Siapakah yang memberi tugas kepada kalian? Dengan alasan apa ingin menyambut kedatanganku?"

Tan Ciu berhadapan dengan dua orang gadis berbaju merah.

Terlihat dua gadis pelayan itu tertawa.

"Tongcu kami ingin bertemu denganmu" Berkata mereka. "Siapakah tongcu kalian?" tanya Tan Ciu,

Tongcu berarti kepala bagian suatu perkumpulan, agak mirip dengan kepala regu.

"Kau boleh langsung bertanya kepadanya," "Dimana dia?"

"kami dapat memberikan petunjuk."

"Bila aku tidak mau turut?" Tan Ciu memandang dua gadis pelayan tersebut.

"Takut?"

"Hm.. Belum pernah aku takut kepada orang!" "Mengapa takut kepada tongcu kami?" "Kalian dari golongan apa?"

"Ang Mo Kauw!"

Hati Tan Ciu tergetar. Ia berniat pergi ke markas Ang- Mo-Kauw menyelesaikan pertikaian dengan perkumpulan itu dengan gurunya, Hanya belum mendapat jalan, kini mereka telah datang lebih dahulu.

"Bila kau tidak menerima undangan, terpaksa kami menggunakan kekerasan." Berkata dua gadis pelayan itu!

Tan Ciu mengeluarkan suara dingin. "Segera ajak aku kesana!"

Dua gadis pelayan berbaju merah  itu mengajak si pemuda ke suatu tempat.

Disuatu puncak gunung terlihat sebuah joli dengan kain penutup yang diturunkan, tidak terlihat siapa yang duduk di dalamnya. Dua gadis pelayan berbaju merah mengajak Tan Ciu kedepan joli itu. "kami mengundang Tan siauwhiap datang." Berkata dua gadis pelayan berbaju merah kepada orang didalam joli.

Orang yang berada didalam joli itukah yang menjadi tongcu perkumpulan Ang-mo kauw?

Tan Ciu masih menduga-duga. Pria? Atau warita.

Terdengar suara yang nyaring merdu keluar dari  isi tandu.

"Kalian menyingkir."

Dua gadis pelayan menerima perintah, mereka meninggalkan Tan Ciu dan berdiri dibelakang joli.

Tan Ciu mengeluarkan suara dengusan dari hidung. Ia tidak merasa gentar. ia tidak pernah takut kepada siapapun juga.

Terdengar suara dari dalam joli.

"Kau tahu, mengapa aku mengadakan undangan?"

-ooo0dw0ooo-