Pendekar Riang Jilid 31

 
Jilid 31

KWIK TAY-LOK mengawasi istrinya lekat-lekat, tanpa terasa ia menggenggam tangan istrinya erat-erat dan berkata dengan suara lembut:

"Terima-kasih banyak atas bantuanmu."

"Berterima kasih kepadaku?" Yan Jit mengerdipkan matanya dan tertawa. "Atau mungkin kau berterima kasih kepada rantai emasku itu ?"

Kwik Tay-lok menggelengkan kepalanya berulang kali. "Tentunya kau tahu aku berterima-kasih kepada siapa" Yan Jit memang mengetahui akan hal itu..
Tentu saja yang membuatnya berterima kasih, bukan rantai emasnya saja, melainkan pengertian serta penyesuaiannya terhadap keadaan.
 
Apa yang diberikan itu, sesungguhnya jauh lebih berharga daripada rantai emas ditambah dengan benda berharga lainnya sekali pun.

Seorang isteri yang bisa memberikan pengertian dan penyesuaian terhadap suaminya, hal itu akan merupakan kebahagiaan serta kekayaan yang paling besar bagi seorang lelaki.

Dan hanya seorang lelaki yang paling bahagia hidupnya baru bisa mendapatkan keadaan seperti ini.

Tapi benarkah dalam dunia yang begini luas ini benar-benar terdapat seorang yang bernasib begitu mujur?

Benarkah di dunia ini terdapat lelaki yang benar-benar menemui kebahagiaan hidupnya? Mungkin saja ada, tapi paling tidak belum pernah kujumpai seseorang semacam ini.
Tentu saja aku pernah melihat orang yang hidup bahagia, tapi kebahagiaan mereka berhasil diraih dengan kecerdasan, keuletan, keberanian serta tekad yang besar.

Kebahagiaan ibaratnya sebiji kue, harus dicampur dengan rata, harus di panggang, harus dibumbui sebelum akhirnya menjadi hidangan yang amat lezat.

Tak mungkin bukan, kueh itu secara tiba-tiba jatuh dari atas langit dengan begitu saja.

Orang yang berbahagia ibaratnya seorang pengantin perempuan, entah kemanapun kau pergi, orang pasti akan memandangnya beberapa kejap.

Entah bagaimanapun sederhana dan biasanya seseorang, bila menjadi seorang pengantin perempuan, secara tiba-tiba saja dia seperti berubah menjadi istimewa sekali.

Ong Tiong, Lim Tay-peng dan Ang Niocu berdiri berjajar sambil mengawasi Yan Jit, dari kepala memandang sampai ke kaki, kemudian dari kaki memandang lagi sampai ke atas kepala.

Paras muka Yan Jit telah berubah menjadi merah padam bagaikan kepiting rebus, tak tahan lagi dia menundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Kalian toh bukannya tidak kenal dengan aku, mau apa mengawasi diriku terus-menerus?" tegurnya kemudian.

"Sebab kau tampak tiga ratus enam puluh kali lipat lebih cantik daripada dulu." jawab Ang Nio- cu sambil tersenyum.

Paras muka Yan Jit berubah semakin merah.

"Tapi aku masih tetap aku, sedikitpun tiada perubahan apa-apa." katanya cepat. "Kau berubah" kata Ong Tiong pula.
"Dimana letak perubahan itu ?"

"Dulu kau adalah sahabat kami," kata Lim Tay-peng cepat. "tapi sekarang kau telah menjadi ensoku, dulu kau adalah Yan Jit, sekarang kau telah berubah menjadi nyonya Kwik. Bukankah perubahan ini cukup banyak?"

Yan Jit menggigit bibirnya kencang-kencang, kemudian katanya:
 
"Aku masih tetap Yan Jit seperti dulu, aku masih tetap merupakan sahabat kalian." Ang Nio-cu segera tertawa cekikikan.
"Tetapi Yan Jit yang sekarang ini paling tidak jauh lebih bersih daripada dulu." seru Ang Nio-cu sambil tertawa cekikikan.

"Jawaban yang amat tepat," tak tahan Kwik Tay-lok ikut menimbrung. "sekarang, tiap hari dia mesti mandi."
Baru saja dia menyelesaikan kata-katanya, Ang Nio-cu sudah tertawa terpingkal-pingkal. Dengan gemas Yan Jit melotot sekejap ke arahnya, lalu dengan wajah memerah serunya: "Hei, bisakah kau kurangi beberapa patah katamu ? Toh tak ada orang yang menganggap
dirimu sebagai seorang yang bisu!"

Sambil tertawa terpingkal Ang Niocu segera menimbrung kembali:

"Kalau bisa mengurangi kata-katanya, dia bukan Kwik Tay-lok namanya..."

Kwik Tay-lok mendehem beberapa kali, kemudian sambil membusungkan dada katanya: "Padahal sekarangpun aku turut berubah, mengapa kalian tidak memperhatikan aku ?" Dengan kening berkerut Ong Tiong berseru:
"Bagian manamu sih yang berubah? Mengapa aku tak dapat melihatnya ?" "Masa aku tidak berubah menjadi lebih bagus dan menarik ?"
Ong Tiong memperhatikannya dari atas hingga ke bawah, kemudian menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku tidak dapat menemukannya perubahan itu."

"Paling tidak aku toh jauh lebih bersih dari pada dulu" seru Kwik Tay-lok cepat.

Ang Nio-cu kembali tak dapat menahan rasa gelinya, dia tertawa terpingkal-pingkal.



"Apakah sekarang, kaupun tiap hari mandi?" "Tentu saja, aku. "
Kali ini belum habis ucapan tersebut diutarakan, Ang Nio-cu sudah terbungkuk-bungkuk karena terpingkal kegelian.

Buru-buru Yan Jit menukas, serunya dengan suara lantang: "Agaknya ditempat ini seperti kekurangan seseorang.  !"
"Siapa ?" Lim Tay-peng cepat berseru.
 
Sambil mengerdipkan matanya dan tertawa, Yan Jit menjawab:

"Tentu saja si nona kecil yang pagi-pagi bangun, membawa bunga menuju ke pekan." "Tentu saja orang itu tak akan ketinggalan" kata Ang Nio-cu sambil tertawa.
"Tapi mana orangnya ?"

"Lagi ke pekan, tapi kali ini tidak membawa keranjang berisi bunga, melainkan keranjang berisi sayur. karena Lim toa-sau kita secara tiba-tiba ingin makan tahu masak sawi hijau yang segar."

Tak tahan Yan Jit tertawa cekikikan, kemudian sambil menghela napas katanya:

"Sungguh tak kusangka begitu muda usianya, namun ia sudah begitu pandai bermesrahan dan menyayangi kekasihnya."
Kemudian setelah mengerlingkan sekejap ke arah Lim Tay-peng, katanya lebih lanjut: "Keadaan itu bagaikan orang yang memang ditakdirkan bernasib mujur saja, benar bukan ?" Paras muka Lim Tay-peng turut berubah menjadi merah padam, tiba-tiba teriaknya keras-
keras:

"Bisakah kalian mengurangi, kata-kata semacam itu ? Aku kan tak akan menganggap kalian sebagai orang bisu"

"Tidak bisa" sahut Kwik Tay lok, "kalau mereka bisa mengurangi beberapa patah kata saja, maka bukan perempuan namanya"

"Tepat sekali jawaban itu" sahut Ong Tiong....

Senja telah menyelimuti seluruh angkasa.

Diantara hembusan angin yang sepoi-sepoi, lamat-lamat terdengar suara nyanyian merdu berkumandang datang dari kejauhan sana.

"Nona kecil, bangun pagi.

Membawa keranjang bunga pergi ke pekan"

Yan Jit dan Ang Nio-cu segera saling berpandangan sekejap, kemudian tak tahan katanya sambil tertawa:

"Si nona kecil telah kembali dari pekan"

"Yaa, sudah pasti dalam keranjang bunganya berisi penuh dengan tahu dan sawi hijau", sambung Ang Nio-cu sambil tertawa.

"Bukan cuma tahu dan sawi hijau saja, masih ada pula arak" terdengar suara merdu lain menyambung sambil tertawa.

Si nona kecil itu benar-benar telah kembali, ditangan kirinya membawa keranjang bambu, ditangan kanannya membawa sebuah guci arak, ia berdiri tegak di depan pintu rumah.
 
Sekarang, dia seperti tidak merasa malu lagi seperti dulu, cuma paras mukanya masih dihiasi warna semu merah.

"Arak ! Arak !" Ong Tiong segera berseru.

"Tentu saja arak kegirangan" jawab si nona cilik sambil tersenyum, "ketika berada di bawah bukit tadi, kusaksikan mereka berdua amat mesrah, maka aku pun tahu harus membeli arak kegirangan sebagai persiapan."

"Arak kegirangan siapa ?" tanya Yan Jit sambil mengerdipkan matanya, "arak kegirangan kami
? Ataukah kalian ?"

Nona cilik itu segera mendesis lirih, kemudian dengan wajah merah padam dia lari masuk ke ruang belakang.

Yan Jit dan Ang Nio-cu yang menyaksikan kejadian itu segera tertawa terpingkal-pingkal kegelian.

Tiba-tiba Lim Tay-peng menghela napas panjang, gumamnya:
"Aku benar-benar tidak habis mengerti, mengapa kalian selalu suka menggoda orang jujur ?" "Karena orang jujur makin lama semakin sedikit, kalau tidak menggoda sekarang, di kemudian
hari pasti tak ada kesempatan lagi."

Inilah kesimpulannya.

Kalau perkawinan tanpa arak, ibaratnya dalam sayur tidak diberi garam. Tentu saja perkataan ini hanya diucapkan oleh orang pintar, cuma sayang dia lupa melanjutkan kata-kata berikutnya.

Bila dalam perut sudah ada arak, kepala bisa menjadi pusing.

Keesokan harinya, ketika bangun tidur, Kwik Tay-lok merasakan kepalanya pusing tujuh keliling.

Tentu saja dia sudah bukan orang pertama yang bangun lebih dulu... belum lama berselang dia baru menemukan kalau tidurpun ada kalanya tidak bisa dianggap sebagai hal yang membuang-buang waktu.

Ketika ia bangun tidur, Lim Tay-peng dan si nona kecil itu sudah berada dalam halaman entah apa saja yang dibicarakan.

Tapi yang pasti, entah perkataan apapun yang mereka katakan, kedua orang itu tentu akan merasa tertarik dan gembira.

Walaupun musim semi sudah lewat, bunga-bunga di musim panas pun sudah mulai mekar kembali.



Mereka berdiri di depan kerumunan bunga, sang surya yang baru terbit memancarkan sinarnya menerangi wajah mereka yang bahagia dan gembira.

Keadaan merekapun bagaikan matahari yang baru terbit, penuh dengan pancaran sinar kehidupan serta harapan.
 
Memandang ke arah mereka berdua, Kwik Tay-lok merasakan kepalanya yang sedang pening seolah-olah telah membaik.

Pelan-pelan Yan Jit berjalan ke sisinya bersandar di tubuhnya, tangan yang satu mempermainkan rambut sendiri, sementara tangan yang lain merangkul lengannya, pancaran sinar gembira dan kebahagiaan terpancar keluar dari balik matanya.

Seluruh jagad serasa menjadi tenang dan penuh kedamaian, kehidupan seperti ini benar- benar pantas untuk diresapi.

Lewat lama kemudian, Yan Jit baru berkata pelan:

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Aku sedang memikirkan dua orang yang lain." "Siapa ? Ong Tiong dan "
Kwik Tay-lok manggut-manggut dan menghela napas.

"Aku sedang berpikir, entah sampai kapankah mereka baru dapat bermesrahan seperti itu", katanya.

Yan Jit memperhatikan suaminya lekat-lekat, lama kemudian ia baru berkata dengan lembut: "Tahukah kau mengapa aku menyukai dirimu ?"
Kwik Tay-lok tidak berbicara, dia sedang menunggu dan mendengarkan dengan seksama. la suka mendengarkan perkataannya.
Dengan lembut Yan Jit berkata:

"Karena dikala kau sendiri sedang berbahagia, kau masih memikirkan pula kebahagiaan temanmu, karena kapan saja dan dimana saja, kau tak pernah bisa melupakan temanmu."

"Kau keliru," ucap Kwik Tay-lok sambil mengerdipkan matanya. "Ada kalanya akupun bisa melupakan mereka,"

"Kapan ?"

"Kemarin malam. " bisik pemuda itu.

Belum habis ucapan tersebut diutarakan, paras muka Yan Jit telah berubah menjadi merah padam, ia segera menyambar tangannya dan menggigit dengan gemas.

Tiba-tiba terdengar Lim Tay-pang berseru sambil tertawa:

"Sungguh tak kusangka Kwik toa-so kita pandai pula menggigit orang. ?"

Entah sejak kapan mereka berdua telah membalikkan badannya dan sedang memandang ke arah mereka berdua sambil tersenyum.

Kwik Tay-lok turut tertawa, katanya:
 
"Kalau soal ini kau takkan memahami, lelaki yang belum pernah digigit perempuan, pada hakekatnya tak bisa dianggap sebagai seorang lelaki sungguhan."

"Waah. teori dari negara mana itu ?"

"Negaraku sendiri, tapi siapa tahu kalau dengan cepat kaupun akan tiba pula di situ?"

Selembar wajah si nona kecil itu segera berubah menjadi merah padam, katanya sambil menundukkan kepala:

"Aku akan pergi menyiapkan sarapan "

"Yaa, kalau menyiapkan sarapan, harap yang banyakan sedikit, dengan begitu mulut kami baru bisa tersumbat." seru Kwik Tay-lok sambil tertawa terbahak-bahak.

Sekarang adalah waktunya untuk sarapan.

Di bawah langit nan biru, tampak asap putih membubung tinggi ke angkasa...

Sambil mendongakkan kepalanya Kwik Tay-lok bergumam:

"Heran, mengapa tempat ini secara tiba-tiba menjadi ramai sekali? Apakah ada banyak penduduk yang pindah ke sekitar tempat ini"

"Tidak ada." jawab Lim Tay peng.

Kwik Tay-lok memandang lagi ke arah asap putih yang membumbung tinggi di atas puncak bukit itu, kemudian katanya lagi:

"Jika tak ada penduduk, dari mana datangnya asap putih ?"

Lim Tay-peng berpaling dan memandang sekejap, kemudian wajahnya diliputi pula oleh perasaan kaget bercampur keheranan.

"Jika ada penduduk di situ, sudah pasti kemarin malam sudah pindah kesana. "

"Kemarin belum ada ?"

Lim Tay-peng mengamati tempat berasalnya asap putih itu, kemudian sahutnya:

"Kemarin sore aku masih berjalan-jalan disekitar tempat itu, sebuah rumahpun tidak ada.." Yan Jit termenung pula beberapa saat lamanya, kemudian katanya:
"Sekalipun kemarin malam ada orang pindah kesana, toh tidak mungkin secara tiba-tiba ada begitu banyak orang yang pindah kesana."

"Yaa, apa lagi di sekitar tempat ini memang tiada tempat untuk ditinggali orang." "Tapi aku rasa di alam terbukapun orang bisa memasang api."
"Tapi mengapa secara tiba-tiba ada begitu banyak orang yang datang ke situ untuk membuat api ? Apakah mereka sudah iseng dan tak ada pekerjaan lagi ?"

Terdengar seseorang berkata dengan perlahan:
 
"Kalau kalian hanya menduga saja dari sini, sampai tahun depanpun tak akan ada hasil yang bisa diperoleh, mengapa kalian tidak pergi sendiri kesana dan melihat apa yang sebenarnya telah terjadi ?"

Ong Tiong berjalan keluar dari balik pintu dengan langkah lebar, wajahnya masih tidak menunjukkan perubahan apa-apa.



Kwik Tay-lok yang pertama-tama menyongsong kedatangannya, dengan cepat ia bertanya: "Kau sudah keluar dan memeriksa sendiri"
"Ehmm."

"Darimana datangnya asap itu ?" "Dari api."
"Siapa yang melepaskan api?" "Manusia !"
"Manusia macam apa ?"

"Manusia yang mempunyai sepasang kaki"

Kwik Tay-Iok segera menghela napas panjang, katanya sambil tertawa getir:

"Tampaknya bila aku bertanya terus dengan cara begini, sampai tahun depanpun tak akan menghasilkan apa-apa, lebih baik aku pergi melakukan pemeriksaan sendiri."

"Haa, kau memang seharusnya pergi melihat-lihat sendiri.."

Bagian belakang dari perkampungan Hok-kui-san-ceng adalah sebuah tanah perbukitan, pada hakekatnya tiada jalan tembus, tapi di atas bukit dibagian depan, hanya dalam waktu semalam suntuk saja telah didirikan delapan buah tenda besar.

Bentuk tenda-tenda itu istimewa sekali, ada beberapa bagian mirip dengan tenda orang Mongolia sewaktu mengembala ternak, tapi mirip pula tenda-tenda dari pasukan tentara.

Di depan tiap tenda terdapat seonggokan api unggun.

Di atas api tampak seekor kambing gemuk yang sedang di panggang, sebagai alat sunduknya adalah sebatang besi yang dapat diputar pelan-pelan.

Seorang lelaki bertelanjang dada sedang memoleskan bumbu yang telah tersedia di atas badan kambing itu, gerak-geriknya amat lembut tapi seksama, seolah-olah seorang ibu sedang memandikan bayinya.

Bau harum yang tersiar dari daging panggang itu pada hakekatnya jauh lebih harum daripada harumnya bunga.

Di atas meja sarapan juga tersedia daging kambing.
 
Baru saja mereka berkeliling ditempat luaran, sekarang seharusnya merasa amat lapar.

Tapi kecuali Kwik Tay-lok, orang lain seakan-akan tidak mempunyai napsu lagi untuk bersantap.

Dalam hati mereka semua mengetahui dengan jelas, tentu saja tenda-tenda itu bukan tak mungkin didirikan tanpa alasan.

Kalau dilihat dari kemampuan orang-orang itu untuk mendirikan delapan buah tenda sebesar itu dalam semalam saja, dapat ditarik kesimpulan kalau di dunia ini tiada persoalan yang tak mungkin bisa mereka kerjakan.

Akhirnya Yan Jit menghela napas panjang, katanya:

"Aaai. tampaknya lagi-lagi ada kesulitan yang datang !"

"Yaa, bahkan kesulitan yang datang kali ini cukup besar" sambung Ang Nio-cu dengan wajah murung.

"Entah siapa yang membawa datangnya kesulitan kali ini?" "Yang pasti bukan aku" Kwik Tay-lok segera menjawab. "Sebab aku tak berani mendatangkan kesulitan sebesar ini" Setelah berhenti sebentar, katanya lebih jauh sambil tertawa:
"Aku selalu hanya mencari kesulitan-kesulitan yang kecil saja, kesulitan besar tak pernah ada" "Darimana kau bisa tahu kalau kesulitan yang datang kali ini besar atau kecil?" seru Yan Jit.
"Bila bukan disebabkan suatu persoalan yang sangat besar, siapa yang kesudian mendirikan delapan buah tenda besar di depan pintu rumah orang. "

"Tapi hingga saat ini, kita belum melihat datangnya kesulitan apa-apa !" "Kau tak dapat melihatnya ?"
"Orang lain toh hanya mendirikan beberapa buah tenda saja di tanah kosong depan rumah kita, yang di panggang pun daging kambing mereka sendiri, selama tidak mengusik kita, apakah hal ini dinamakan suatu kesulitan buat kita?"

"Jadi kau anggap tak akan ada kesulitan apa-apa ?" "Ehmmm!" Yan Jit mengangguk.
"Tadi, siapa yang mengatakan kalau ada kesulitan yang datang ?" "Aku ?"
"Mengapa pula secara tiba-tiba kau merubah jalan pemikiranmu itu ?" Yan Jit segera tersenyum.
"Sebab tempat ini amat menyesakkan napas, aku ingin mengajak kau untuk bergurau saja."
 
"Jika aku mengatakan tak akan ada kesulitan ?" "Akupun mengatakan ada."
Kwik Tay-lok menghela napas panjang, setelah tertawa getir katanya:

"Agaknya sekalipun aku tak ingin berbeda pendapat denganmu pun tak mungkin bisa." "Tepat sekali jawabanmu itu" Yan Jit tertawa.
Bila seorang perempuan ingin mengganggu suaminya, maka dalam setiap detik dia akan menemukan delapan ribu kali kesempatan yang baik.

Tapi mengganggupun ada kalanya bukan suatu perbuatan yang salah, paling tidak bisa mengendorkan ketegangan syaraf orang lain.

Oleh karena itu, ucapan mereka tadi segera menimbulkan gelak tertawa orang lain.



"Benar" kata Ang Nio-cu kemudian sambil tertawa, "bagaimanapun juga, paling tidak orang toh belum datang mencari kita, sekarang buat apa kita mesti menyusahkan diri sendiri?"

Sayang sekali, sekarang mereka tak usah pergi mencari lagi, karena kesulitan sudah memasuki pintu gerbang rumah mereka.

Tampak seseorang pelan-pelan berjalan masuk ke dalam rumah.

Orang itu berperawakan tinggi, lagi kurus, pakaian yang dikenakan adalah sebuah jubah panjang yang berwarna istimewa sekali, yakni berwarna hijau pucat.

Paras mukanya sesuram pakaian yang di kenakan olehnya, sorot matanya redup seperti tak bersinar, lebih mirip dengan sepasang lubang hitam yang tak nampak dasarnya, bahkan mana biji matanya dan mata bola matanya sukar dibedakan, ternyata dia adalah seorang buta.

Namun langkah kakinya enteng sekali, seakan-akan di atas kakinya tumbuh sepasang mata, tak mungkin dia akan terpeleset atau terbentur batu, dia pun tak akan terjatuh ke dalam selokan.

Sambil bergendong tangan pelan-pelan dia berjalan masuk ke dalam, walaupun wajahnya suram dan menyeramkan, namun sikapnya amat ringan dan santai.

Kwik Tay-lok yang pertama-tama tak kuasa menahan diri, segera tegurnya dengan lantang: "Apakah kalian datang mencari orang? Siapa yang dicari ?"
Orang berbaju hijau itu seakan-akan tidak mendengar sama sekali suara teguran tersebut. Dengan kening berkerut Kwik Tay-lok segera berkata lagi:
"Waaah. jangan-jangan selain buta, orang inipun seorang yang tuli ?"

Di ujung dinding pekarangan sana adalah kebun bunga, aneka bunga sedang mekar dengan indahnya.
 
Orang berbaju hijau itu berjalan memasuki kebun bunga itu, kemudian berjalan kembali lagi, setelah itu dia menarik napas dalam-dalam.

Walaupun dia tak dapat menikmati keindahan bunga dengan menggunakan sepasang matanya, namun dia masih dapat mempergunakan hidungnya untuk mengendus bau harumnya bunga.

Mungkin dia dapat meresapi keindahan di sana, sebaliknya orang yang punya mata justru tak dapat meresapinya.

Dengan menelusuri jalan kecil di kebun bunga itu, dia berjalan bolak balik dua kali, tak sepatah katapun yang diucapkan, kemudian pelan-pelan berjalan keluar lagi dari situ.

Sambil menghembuskan napas lega Kwik Tay-lok lantas berkata:

"Tampaknya orang itu sama sekali tidak bermaksud untuk mencari gara-gara dengan kita, dia tak lebih hanya datang kemari untuk mengendus bau harumnya bunga."

"Darimana dia bisa tahu kalau di sini ada bunga ?" tanya Yan Jit kemudian dengan cepat. "Tentu saja hidungnya jauh lebih tajam dari pada hidung kita."
"Tapi, dia datang dari mana?" Kwik Tay-lok segera tertawa.
"Aku toh tidak kenal dia, darimana aku bisa tahu ?" sahutnya. "Aku tahu!" tiba-tiba Ong Tiong menyela.
"Kau tahu?"

Kembali Ong Tiong manggut-manggut. "Menurut pendapatmu dia datang dari mana ?" "Dari dalam tenda"
"Darimana kau bisa tahu ?"
Paras muka Ong Tiong sepertinya berubah menjadi berat dan serius, pelan-pelan sahutnya: "Karena orang lain kini tak mungkin bisa sampai ditempat ini lagi, sedangkan kita pun tak
mungkin bisa pergi ke tempat lain" "Mengapa?"
"Sebab semua jalan tembus yang berada di sini telah ditutup mati oleh ke delapan buah tenda tersebut"

Paras muka Kwik Tay-lok agak berubah, serunya kemudian:

"Maksudmu tujuan mereka mendirikan ke delapan buah tenda tersebut di luar adalah tidak membiarkan orang lain mendatangi tempat ini, dan tidak membiarkan orang-orang yang berada di sini keluar?"
 
Ong Tiong tidak berbicara lagi, sepasang matanya mengawasi kebun bunga di luar dengan mata tak berkedip, paras mukanya berubah makin berat dan serius.

Tak tahan Kwik Tay-lok juga ikut berpaling dan memandang sekejap ke arah kebun, mendadak paras mukanya turut berubah hebat.

Bunga yang sebenarnya sedang mekar dengan indahnya itu, dalam waktu singkat telah berubah menjadi layu semua.

Putik bunga yang berwarna merah kini berubah menjadi hitam pekat, ketika angin berhembus lewat, putik itu satu demi satu berguguran ke atas tanah.

"Hei, apa yang terjadi?" Kwik Tay-lok menjerit tertahan. "Apakah orang tadi telah melepaskan racun ?"

"Hmm !" Ong Tiong hanya mendengus.

"Masa orang ini adalah seekor ular beracun, asal tempat yang telah dilalui olehnya, maka bunga dan rumput akan menjadi layu ?"

"Mungkin dibandingkan dengan ular beracunpun dia lebih beracun lagi. "

"Betul !" kata Yan Jit. "Sebenarnya aku mengira si ular merah yang tanpa lubangpun bisa menerobos masuk sudah merupakan tokoh paling lihay didalam mempergunakan racun, tapi kalau dibandingkan dengan orang ini, agaknya dia masih selisih banyak sekali."



"Selisih berapa banyak ?" tanya Kwik Tay-lok.

Pertanyaan itu bukan ditujukan kepada Yan Jit, melainkan kepada Ang Nio-cu. Dengan cepat Ang Nio cu menghela napas panjang, ujarnya:
"Bila si ular merah ingin melepaskan racun dia masih membutuhkan bantuan benda lain, racun itu mesti dicampurkan ke dalam air, arak atau makanan, mungkin juga di atas senjata tajam atau senjata rahasia, sebaliknya orang ini bisa melepaskan racun tanpa berwujud, seakan-akan melalui pernapasanpun dia sanggup untuk meracuni orang sampai mati. "

Kwik Tay-lok tidak bertanya lagi.

Kalau Ang Nio-cu pun mengatakan kalau cara orang ini melepaskan racun jauh lebih hebat dari si ular merah, hal ini berarti persoalan tersebut tak bisa diragukan lagi.

Persoalannya sekarang adalah siapakah orang ini ? Mengapa dia datang ke situ untuk meracuni bunga mereka?

Pertanyaan pertama belum sempat terjawab, pertanyaan kedua telah muncul kembali. Dari luar pintu kembali nampak ada seseorang berjalan masuk ke dalam halaman.
Orang itu pendek dan gemuk, dia mengenakan pakaian berwarna merah menyala, mukanya yang bulat bercahaya merah, seperti juga warna merah pakaian yang dipakainya.
 
Diapun sedang bergendong tangan sambil berjalan mondar mandir kesana kemari, kalau dilihat gerak-geriknya, ia nampak amat santai.

Kali ini tak ada orang yang bertanya lagi apa maksud kedatangannya, tapi semua orang membelalakkan matanya lebar-lebar dan mengawasinya tanpa berkedip.

Bagaimanapun juga semua bunga yang berada didalam halaman telah mati diracuni, mereka ingin tahu, permainan apa lagi yang hendak dilakukan oleh orang ini.

Orang berbaju merah itupun seakan-akan tak pernah melihat ke arah mereka, dia berjalan mengitari halaman itu satu lingkaran, kemudian berlalu pula dari sana, bukan saja tak mengucapkan sepatah katapun, melakukan permainan apapun tidak pula dilakukan.

Tapi di atas tanah telah bertambah dengan bekas telapak kaki sebanyak satu lingkaran, setiap bekas telapak kaki itu tertera dalam-dalam di atas tanah, seakan-akan diukir dengan pisau.

Sambil menghela napas Kwik Tay-lok berpaling dan memandang sekejap ke arah Yan Jit, kemudian tanyanya:

"Aku lebih suka diinjak-injak oleh gajah daripada diinjak satu kali oleh orang ini, bagaimana dengan kau ?"

"Kalau aku kedua-duanya tak mau." Tak tahan Kwik Tay-lok segera tertawa.
"Tampaknya kau memang jauh lebih cerdik daripada aku." serunya.

Dia tertawa tidak terlalu lama, karena pada saat itulah dari luar pintu kembali muncul seseorang.

Yang datang kali ini adalah seorang manusia berbaju putih, seluruh badannya mengenakan pakaian berwarna putih salju, paras mukanya juga dingin bagaikan salju.
Kalau orang lain selalu berjalan masuk dengan langkah yang pelan, berbeda dengan orang ini. Tubuhnya enteng bagaikan hembusan angin, ketika segulung angin berhembus lewat, tahu-
tahu orangnya sudah muncul didalam halaman.

Pada saat itulah, mendadak dari luar pintu berkelebat lewat serentetan cahaya pedang berwarna hijau, begitu membubung ke angkasa dan menyambar ranting pohon, tahu-tahu cahaya tadi lenyap kembali tak berbekas.

Seketika itu juga, semua dedaunan yang berada di atas pohon jatuh berguguran bagaikan bunga salju.

Orang berbaju putih itu mendongakkan kepalanya memandang sekejap ke angkasa, kemudian ujung bajunya digetarkan dan menggape ke arah atas.

Daun yang berguguran memenuhi angkasa itu seketika lenyap tak berbekas.

Berbareng itu juga, orangnya juga turut lenyap tak berbekas, seakan-akan terbawa oleh hembusan angin saja.

Pada saat itulah dari luar pintu kembali terdengar seseorang berseru dengan suara dalam:
 
"Ong Tiong, Ong-cengcu apakah berada di sini?"

Di bawah pohon Pek-yang lebih kurang dua kaki di depan sana, berdiri seorang kakek berambut putih yang memakai baju coklat, di tangannya menggenggam sebuah kartu undangan besar dan sedang mengawasi mereka dengan sorot mata tajam.

Mereka berenam berdiri berjajar di depan pintu, seakan-akan secara khusus berjalan keluar agar terlihat lawan.

Sorot mata kakek berbaju coklat itu perlahan-lahan bergerak memandangi wajah mereka satu persatu, kemudian baru ujarnya dengan suara dalam:

"Siapakah yang bernama Ong cengcu?" "Aku !" sahut Ong Tiong.
"Di sini ada selembar surat undangan yang khusus mengundang Ong-cengcu..." "Ada orang mengundangku untuk bersantap ?"
"Benar !"

"Kapan ?" "Malam ini !" "Dimana ?"


"Di sini !"

"Ooo, itu mah tak usah repot-repot."

"Benar, memang tak usah repot-repot, asal Ong cengcu keluar pintu maka akan tiba di tempat tujuan."

"Siapakah tuan rumahnya?"

"Malam nanti tuan rumah pasti akan menantikan kedatanganmu, sampai waktunya Ong cengcu akan mengetahuinya sendiri."

"Kalau memang begitu, buat apa secara khusus mengirimkan kartu undangan ini ?"

"Tata krama tak boleh dilupakan, undangan toh masih penting artinya, maka silahkan Ong cengcu untuk menerimanya."

Dia lantas mengangkat tangannya, kartu undangan yang berada di tangannyapun pelan-pelan melayang ke hadapan Ong Tiong, kartu itu melayang dengan mantap dan pelan, seolah-olah di bawahnya ada tangan tak berwujud yang menyunggingnya.

Kembali Ong Tiong tertawa, katanya hambar:

"Oooh. rupanya secara khusus kau datang mengirimkan kartu undangan ini dengan tujuan
untuk memamerkan ilmu khikang yang sangat hebat ini ?"
 
"Ong cengcu jangan mentertawakan" kata si kakek berbaju coklat itu dengan suara dingin. Ong Tiong juga menarik wajahnya sambil berseru:
"Barusan masih ada beberapa orang lagi, juga telah mendemontrasikan ilmu silat yang bagus sekali, apakah kau kenal dengan mereka?"

"Kenal"

"Siapakah mereka ?"

"Mengapa Ong cengcu mesti bertanya kepada siapa ?"

"Bukan bertanya kepadamu, lantas harus bertanya kepada siapa ?"

Tiba-tiba kakek berbaju coklat itupun tertawa, sorot matanya seperti sengaja tak sengaja melirik sekejap ke arah Lim Tay-peng.

Kwik Tay-lok sendiripun tanpa terasa memandang sekejap ke arah Lim Tay-peng, sekarang dia baru menjumpai kalau, paras muka Lim Tay-peng pucat pias seperti mayat, keadaannya tak jauh berbeda seperti keadaan Ong Tiong ketika menyaksikan layang-layang tempo hari.

"Mungkin orang-orang itu sengaja datang untuk mencari Lim Tay-peng. ?"

Kakek berbaju coklat itu telah pergi.

Ketika dia pergi, Ong Tiong tidak menghalangi, juga tidak bertanya lagi.

Setiap orang dapat melihat sekarang, kedatangan orang-orang tak dikenal pada hari ini jelas ada hubungannya dengan Lim Tay-peng.

Tapi tiada orang yang bertanya kepadanya, bahkan semua orang berusaha untuk menghindarkan diri untuk menyulitkan dirinya...

Bahkan Kwik Tay-lok sengaja bertanya kepada Ong Tong:

"Kau bilang kepandaian yang didemonstrasikan olehnya tadi adalah ilmu Khikang, ilmu macam apakah itu ?"

"Khikang yaa Khikang, Khikang hanya ada semacam ?" "Hanya ada semacam."
"Mengapa hanya ada semacam ?"

"Karena Li- ji-ang sudah merupakan arak paling baik, lagi kalau setiap macam barang hanya ada semacam saja."

"Kalau toh kau sudah memahami teori ini, mengapa masih bertanya lagi kepadaku ?" Kwik Tay-lok memutar biji matanya, kemudian menjawab:
"Menurut pendapatku, yang paling menakutkan masih terhitung serangan pedang tadi, pada hakekatnya kemampuannya mirip dengan cerita dongeng yang mengatakan bahwa dengan pedang terbang bisa memotong kepala orang yang berada di suatu tempat sejauh seribu li."
 
"Aaah, masih selisih jauh sekali !"

"Kau pernah melihat ilmu pedang terbang?" "Belum pernah."
"Lantas darimana kau bisa tahu kalau selisihnya banyak sekali ?" "Pokoknya aku tahu."
Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang, ujarnya sambil tertawa getir. "Mengapa secara tiba-tiba kau berubah menjadi orang yang tak pakai aturan ?" "Kapan kau pernah menyaksikan aku memakai aturan ?"
"Jarang sekali"

Tentu saja apa yang mereka bicarakan hanya kata-kata kosong yang sama sekali tak ada gunanya, sebab tujuan dari pembicaraan tersebut tak lain hanyalah ingin membuat pikiran Lim Tay-peng lebih santai dan ringan.

Namun wajah Lim Tay-peng masih tetap pucat pias seperti mayat, bahkan sepasang tangannya digenggam menjadi satu dengan wajah tegang, seorang diri ia berjalan berputar-putar didalam halaman, mendadak ia berhenti lalu teriaknya keras-keras:

"Aku mengetahui siapa mereka."

Tiada orang yang memberi komentar, tapi setiap orang mendengarkan dengan seksama.

Lim Tay-peng memandang sekejap ke arah bekas telapak kaki di atas tanah, kemudian berkata:

"Orang ini bernama Jiang Liong, dia adalah seorang manusia paling hebat ilmu gwakangnya diantara delapan naga dari luar angkasa"

"Delapan naga dari luar angkasa!" Ong Tiong mengerutkan kening. "Apakah tiga orang yang menampakkan diri tadi adalah orang-orang dari Thian-gwa-pat-liong (delapan naga dari angkasa)
?"



"Betul."

"Apakah kau maksudkan Thian-liong-pat-ciang (delapan panglima naga langit) di bawah pimpinan Lok-sang-liong-ong (raja naga dari daratan) ?"

"Thian-gwa-pat-liong hanya ada sejenis." "Dari mana kau bisa tahu ?"
Ong Tiong memandang sekejap ke arah Kwik Tay-lok, kedua orang itu segera tertawa tergelak.
 
"Inilah yang dinamakan satu pukulan dibalas dengan satu pukulan, bahkan cepat benar datangnya pembalasan ini." seru Kwik Tay-lok.

Sebaliknya dari balik mata Lim Tay-peng memancarkan sinar kepedihan, ia menggenggam tangannya kencang-kencang, kemudian berjalan bolak-balik lagi beberapa saat, mendadak ia berhenti lalu berteriak dengan suara yang amat keras:

"Merekapun tahu siapakah aku !"

"Kalau soal itu mah tak usah mereka memberitahukan lagi kepadaku, aku juga tahu." seru Kwik Tay-lok sambil tak tahan tertawa lagi.

Lim Tay-peng menatapnya lekat-lekat, sorot matanya seperti nampak aneh sekali, serunya cepat:

"Kau benar-benar tahu ?" "Tentu saja"
"Siapakah aku ?"

Sebenarnya pertanyaan ini merupakan sebuah pertanyaan yang sederhana sekali, tetapi Kwik Tay-lok justru dibikin tertegun sampai tak mampu menjawab.

Tiba-tiba Lim Tay-peng menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan penderitaan yang lebih hebat, pelan-pelan katanya:

"Tiada orang yang mengetahui siapakah aku, bahkan aku sendiripun tak ingin tahu." "Mengapa ?" tak tahan Kwik Tay-lok bertanya:
Lim Tay-peng memandang tangan sendiri yang menggenggam kencang itu, kemudian jawabnya:

"Karena aku adalah putra kandung dari Lok-sang-liong-ong si raja naga di atas daratan tersebut."

Begitu ucapan tersebut diutarakan, bahkan Ong Tiong pun ikut memperlihatkan rasa kaget dan tercengang yang luar biasa.

Kwik Tay-lok ikut tertegun, rasa kagetnya bagaikan ketika ia mendengar Yan Jit adalah puteri dari Lamkiong Cho.

Ang Nio-cu tertawa paksa, lalu katanya:

"Ayahmu menjagoi seluruh kolong langit, pengaruhnya meluas sampai dimana-mana, siapakah orang persilatan yang tidak menaruh hormat kepadanya. ?"

"Aku !" tukas Lim Tay-peng secara tiba-tiba dengan suara keras bagaikan geledek. "Kau?" Ang Nio-cu tertegun.
Lim Tay-peng menggigit bibirnya kencang-kencang, katanya lebih lanjut: "Aku hanya berharap tidak mempunyai seorang ayah semacam dia !"
 
"Sekalipun kau merasa tidak puas dengan ikatan perkawinan yang dilakukan olehnya, tidak seharusnya. "

"Bukan dia yang meminangkan bagiku." tukas Lim Tay-peng dengan secara tiba-tiba. "Bukan ?" Kwik Tay-lok tertegun...
Sepasang mata Lim Tay-peng berkaca-kaca, dengan kepala tertunduk ujarnya pelan.

"Ketika aku berusia lima tahun, ia telah meninggalkan kami, sejak itu aku tak pernah bersua lagi dengannya."

"Jadi kau. kau selalu mengikuti ibumu?"

Lim Tay-peng mengangguk, air matanya telah jatuh berlinang membasahi pipinya. Kwik Tay-lok tak bisa bertanya lagi, diapun tak perlu untuk bertanya lagi.
Ia memandang sekejap ke arah Yan Jit, kedua orang itu merasa segala sesuatunya menjadi jelas, lelaki seperti Lok-sang-liong-ong memang bukan suatu kejadian yang aneh bila ia sampai meninggalkan seorang perempuan.

Tapi jika perempuan yang ditinggalkan adalah ibunya sendiri, sedikit banyak yang menjadi anaknya akan timbul pula suatu perasaan yang tak sedap.

Setiap orang merasa simpatik terhadap Lim Tay-peng, namun perasaan tersebut tak berani diungkapkan keluar, rasa simpatik dan kasihan ada kalanya hanya akan melukai perasaan saja.
Sekarang, satu-satunya orang yang dapat menghibur Lim Tay-peng hanyalah si nona kecil itu. Semua orang ingin memberi tanda kepadanya, agar tetap tinggal di sana menemani Lim Tay-
peng, tapi secara tiba-tiba mereka menjumpai paras muka nona kecil itupun tidak jauh berbeda dengan keadaan dari Lim Tay-peng.

Paras mukanya juga pucat pias menakutkan, kepalanya tertunduk rendah-rendah, bibirnya digigit kencang, bahkan bibirnya kelihatan pecah-pecah karena digigit terlampau keras.

Mungkinkah si nona kecil yang polos dan berhati baik inipun mempunyai suatu rahasia yang tak boleh diketahui orang ?

Tiba-tiba Lim Tay-peng bergumam seorang diri:

"Kali ini, dia datang kemari tentu ingin memaksa aku pulang. karena kuatir aku kabur, maka
semua jalan lewat ditutup rapat"

"Apa yang hendak kau lakukan?" tidak tahan Kwik Tay-lok bertanya.


Lim Tay-peng menggenggam sepasang kepalannya kencang-kencang, kemudian menjawab: "Aku bertekad tak akan pulang bersamanya, sejak dia meninggalkan kami dulu, aku sudah tak
mempunyai ayah lagi."
 
Ia menyeka air matanya dan mendongakkan kepala, wajahnya memperlihatkan kebulatan tekadnya, setelah memandang sekejap ke arah Ong Tiong sekalian, sepatah demi sepatah dia berkata:

"Entah bagaimanapun juga, persoalan ini tiada hubungannya dengan kalian, oleh karena itu, malam nanti kalianpun tak usah pergi menjumpainya, aku. "

"Kau juga tak usah pergi." tiba-tiba nona cilik itu berseru.

Lim Tay-peng tertegun, ia tertegun sampai lama sekali, kemudian baru tak tahan bertanya: "Mengapa akupun tak usah pergi ?"
"Karena yang mereka cari juga bukan kau." "Kalau bukan aku lantas siapa ?"
"Aku !"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, semua orang merasa semakin terperanjat lagi.

Lok-sang liong-ong yang menjagoi seantero jagad, mengapa secara khusus datang kesana untuk mencari seorang nona cilik penjual bunga ? Siapa yang akan mempercayai perkataannya ini
?

Tapi, melihat paras muka nona cilik itu, mau tak mau semua orang harus mempercayainya juga.

Dia seakan-akan sudah berubah menjadi orang lain, tidak malu-malu kucing lagi, sorot matanya tertuju ke depan mengawasi Lim Tay-peng tanpa berkedip.

"Tahukah kau, siapakah aku?"

Sebenarnya pertanyaan inipun mudah untuk dijawab, tapi Lim Tay-peng justru dibuat tertegun oleh pertanyaan itu...

Si nona cilik memandang sekejap ke arahnya, sekulum senyuman sedih segera tersungging di ujung bibirnya, pelan-pelan dia melanjutkan:

"Tiada orang yang tahu siapakah aku, bahkan aku sendiripun tak ingin tahu "

Perkataan inipun serupa dengan yang baru saja dikatakan Lim Tay-peng, tapi sekarang dia telah mengulanginya kembali, seharusnya semua orang merasa geli.

Tapi setelah menyaksikan paras mukanya sekarang, siapapun merasa tak sanggup untuk tertawa geli.

Seandainya tiada Yan Jit di situ, hampir saja Kwik Tay-lok akan maju untuk menggenggam tangannya dan bertanya mengapa ia begitu sedih, merasa begitu susah.

Dia masih muda, kehidupannya begitu panjang, persoalan apakah yang tak dapat diselesaikan olehnya?

Lim Tay-peng telah maju ke depan dan menggenggam tangannya erat-erat, lalu dengan lembut berkata:
 
"Perduli siapakah dirimu yang sebenarnya, hal itu bukan masalah bagiku, sebab aku hanya tahu kau adalah kau."
Nona cilik itu membiarkan tangannya yang dingin digenggam olehnya, setelah itu katanya: "Aku tahu apa yang kau ucapkan adalah kata-kata sejujurnya, cuma saja. kau sepantasnya
bertanya dulu dengan jelas, siapakah aku ini yang sebenarnya." Lim Tay-peng tertawa paksa.
"Baiklah," ia berkata. "aku ingin bertanya kepadamu, sebenarnya siapakah kau !" Nona cilik itu segera memejamkan matanya rapat-rapat, kemudian menjawab pelan: "Aku adalah calon istrimu, bakal menantu ibumu, tapi ayahmu adalah musuh besarku"
Tiba-tiba Lim Tay-peng merasakan sekujur badannya dingin, kaku, tangannya yang menggenggam tangan nona itupun pelan-pelan dilepaskan, terjulai lemas.

Perasaannya ikut tenggelam, seakan-akan tenggelam ke kolam dingin yang menusuk badan, ia merasa perasaannya amat kalut.

Giok Ling-long !

Ternyata gadis itu adalah Giok Ling-long.

Tak ada orang yang percaya kalau hal ini merupakan suatu kenyataan, tak ada orang yang sudi mempercayainya.

Nona cilik, yang lemah lembut dan berbudi luhur ini ternyata adalah si iblis perempuan yang binal, angkuh, buas dan kejam.

Sorot mata semua orang bersama-sama ditujukan ke atas wajahnya.

Ia menundukkan kepalanya rendah-rendah, rambutnya kusut, hatinya serasa hancur lebur tak karuan.

Tiba-tiba muncul perasaan iba dalam hati Kwik Tay-lok, sambil menghela napas dan tertawa getir, katanya:

"Kau adalah menantu pilihan ibunya, tapi merupakan musuh besar dari ayahnya, mana mungkin di dunia ini terdapat hubungan yang begitu kacau balau tak karuan ? Kau kau sudah
pasti sedang bergurau."

Tentu saja diapun tahu kalau hal ini bukan gurauan belaka, tapi dia lebih rela untuk mempercayai kalau hal ini bukan sesuatu yang benar-benar telah terjadi.
Tertawa Giok Ling-long semakin mengenaskan, katanya lagi dengan wajah sedih: "Aku memahami maksud baikmu, sayang banyak persoalan di dunia ini justru demikian
keadaannya."

"Aku masih tetap tidak percaya."
 
Giok Ling long menundukkan kepalanya rendah-rendah, kemudian katanya:

"Dendam kesumat antara Lok sang liong ong dengan keluarga Giok kami telah berlangsung banyak tahun, dua puluh tahun berselang dia pernah bersumpah, akan menyaksikan orang terakhir dari keluarga Giok punah dari muka bumi."

"Aaah, kalau begitu ayahmu telah..."

Kwik Tay-lok tak berani melanjutkan pertanyaannya, karena seandainya ayah Giok Ling long benar-benar telah tewas ditangan Lok sang liong ong, maka dendam kesumat karena pembunuhan terhadap ayahnya ini tidak mungkin bisa diselesaikan oleh orang lain.

Giok Ling long segera menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya dengan cepat: "Ayahku tidak mati di tangannya."
Sorot matanya kembali memancarkan sinar kebencian dan rasa dendam, sambungnya lebih jauh dengan suara dingin:

"Sebab sekalipun dia mempunyai kepandaian yang luar biasa, mustahil ia dapat membunuh seseorang yang telah mati."

Kwik Tay-lok menghembuskan napas lega, tapi tak tahan serunya lagi dengan kening berkerut: "Ibumu. "
"Ibuku bukan she Giok, dia she Wi."

"She Wi ? Apakah kakak beradik dengan Lim-hujin ?" Giok Ling-long segera mengangguk.
"Justru karena hubungan ini, maka dia baru melepaskan ibuku, tapi dia sama sekali tak tahu kalau pada waktu itu dalam rahim ibuku sudah terdapat aku, aku masih tetap she Giok !"

Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang.

"Aaai. di kemudian hari tentunya dia sudah tahu kalau ada manusia semacam kau, bukan ?"

"Untuk menyembunyikan diri darinya, kalau dia berada di utara, maka aku tak akan pergi ke utara, jika dia di selatan, akupun tak akan pergi ke selatan, nama besarnya jauh lebih termasyhur daripada aku, maka bila aku berusaha menghindarkan diri dari kejarannya, hal ini lebih mudah kulakukan."

Sambil tertawa getir Kwik Tay-lok bergumam:

"Aku sudah lama berkata, bila seseorang terlalu tenar, hal itupun bukan merupakan sesuatu perbuatan yang terlalu baik."

"Tapi juga tidak terlalu jelek."

"Sebenarnya keliru bila ibumu membiarkan kau turut menjadi tenar di dalam dunia persilatan, andaikata kau benar-benar hanya seorang nona kecil yang biasa dan tiada sesuatu yang aneh, mungkin selama hidup dia tak akan berhasil menemukan dirimu."
 
"Kalau aku harus hidup dalam keadaan seperti ini, maka apa bedanya dengan kematian?" sahutnya keras-keras menahan emosi.

"Banyak sekali manusia di dunia ini yang hidup dalam keadaan dan suasana seperti ini, toh mereka dapat hidup dengan senang dan baik."

"Tapi keluarga Giok kami tak pernah terdapat manusia semacam ini, nama besar keluarga Giok juga tak boleh punah dengan begitu saja di tanganku. "

"Dimanakah ibumu sekarang ?"
"Tahun berselang telah meninggal dunia" sahut Giok Ling-long dengan wajah murung. Setelah berhenti sejenak, katanya lebih lanjut sambil menggigit bibirnya kencang-kencang. "Sesaat sebelum meninggal, dia masih kuatir kalau Lok-sang-liong-ong tak akan melepaskan
aku, maka sengaja dia datang mencari adik perempuannya." "Jadi dia yang pergi mencari Lim hujin?"
Giok Ling-long mengangguk.

"Dia berharap Lim-hujin dapat menghapuskan permusuhan diantara kami dua keluarga, sayang sekali Lim-hujin sendiripun tidak mampu berbuat apa-apa, maka. "

"Maka dia baru menjodohkan kau kepada putra tunggalnya, agar dengan ikatan perkawinan ini maka permusuhan antara dua keluarga dapat diakhiri."

"Aku tahu begitulah maksudnya."

Kwik Tay-lok segera melirik sekejap ke arah Lim Tay-peng dengan ekor matanya, kemudian setelah menghela napas panjang katanya:

"Sayang sekali putranya justru tak dapat memahami maksud baik dari ibunya. "

"Ya, generasi yang muda memang mustahil bisa memahami maksud baik angkatan tuanya, begitu pula dengan diriku, sebenarnya akupun enggan untuk menjadi menantunya keluarga Lim mereka."

Dia tak berani memandang langsung ke arah Lim Tay-peng, tapi ujung matanya, toh tanpa terasa mengerling juga ke arah pemuda itu.

Sekujur badan Lim Tay-peng segera merasa dingin dan kaku bagaikan diceburkan ke dalam salju, tiba-tiba serunya:

"Kalau memang begitu, mengapa kau datang kemari untuk mencari aku? Mengapa?" Suara tertawa Giok Ling long semakin sedih dan rawan, dan hanya dengan hati yang pilu: "Masa kau tidak mengerti ?"
"Tentu saja aku tidak mengerti"

Giok Ling long menggigit bibirnya kencang-kencang untuk menahan agar air matanya jangan meleleh keluar, kemudian tanyanya lagi:
 
"Kau benar-benar tidak mengerti?" "Tidak mengerti !"
Sekujur badan Giok Ling long gemetar keras jeritnya kemudian:

"Baik, kuberitahukan kepadamu, aku berbuat demikian karena aku pernah berkata kepadamu, suatu hari kau pasti akan memohon kepadaku agar mau kawin denganmu."

Lim Tay-peng segera merasakan dadanya seperti dihantam orang keras-keras, untuk berdiri tegakpun tak sanggup.

Giok Ling long sendiripun hampir roboh ke tanah.

Entah berapa saat kemudian, Lim Tay-peng baru berseru lagi sambil menggertak gigi: "Aku mengerti sekarang... aku sudah mengerti."

Ia tidak mengatakan apa-apa lagi, mendadak membalikkan badan dan masuk ke dalam kamar sendiri.

"Blaaam !" pintu ditutup keras-keras.

Giok Ling long tidak memanggilnya, juga tidak memandang ke arahnya, tapi air matanya telah jatuh bercucuran....