Pendekar Riang Jilid 30

 
Jilid 30

K E T I G A orang itu bersama-sama mengangguk. Sebaliknya Kwik Tay-lok tidak tahan segera bertanya:
"Walaupun mereka kenal aku, tapi aku tidak kenal dengan mereka, siapakah orang-orang itu
?"

"Orang muda jaman sekarang memang sudah tidak banyak yang kenal dengan mereka, tapi kau mungkin saja pernah mendengar tentang nama mereka."

"Oh...!"

"Kau pernah bertarung melawan Lan Kun apakah belum dapat kau tebak sumber dari ilmu silatnya ?"

"Lan Kun ?"

"Lan Kun adalah nama premannya, sejak ia masuk ke dalam kuil Siaulimsi dan menjadi pendeta, orang lain hanya tahu kalau dia bernama Thi-siong..."
 
Ternyata hwesio berkaki tunggal ini adalah seorang anggauta Siaulimpay, tapi memang cuma ilmu toya Hong- lui-ciang-mo-ciang (ilmu toya angin geledek penakluk iblis) dari Siaulimpay yang bisa memiliki daya kekuatan yang begitu mengejutkan.

Dengan paras muka agak berubah Kwik Tay-lok segera berseru:

"Jangan-jangan dia adalah Kim-lo-han Thi-song taysu yang tempo hari pernah menyapu rata partai Seng-sut-hay dengan mengandalkan ilmu toya saktinya ?"

"Betul, memang dia." sahut si kakek.

Kwik Tay-lok tak sanggup berkata apa-apa lagi.

Kim-lo-han ini merupakan salah seorang manusia yang paling dikagumi olehnya sewaktu masih muda dulu, sejak dia berusia tujuh atau delapan tahun, nama ini sudah pernah di dengar olehnya, tapi kemudian ia dengar pendeta itu sudah kembali ke alam baka, sungguh tak disangka ternyata dia berdiam di sini.

"Thian-gwa-yu-siu-toucu (Naga sakti dari luar angkasa, si bungkuk sakti), bukankah pernah kau dengar nama ini disebut orang?" kata si kakek kemudian.

Untuk kesekian kalinya Kwik Tay-lok tertegun.

Ternyata si bungkuk ini adalah jago yang paling termasyhur dalam dunia persilatan karena ilmu meringankan tubuhnya yang amat lihay, tak heran kalau dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas dari pandangan mata.

"Si bungkuk sakti dari luar angkasa dan Jian-pian-ban-hua-ci-tong-seng (Beribu perubahan berjuta pergantian, akal banyak bagaikan binatang) merupakan dua orang manusia yang mengangkat nama bersama." ucap kakek itu lagi.

Dengan wajah terkejut Kwik Tay-lok memandang ke arah si burik, lalu serunya tertahan: "Apakah dia adalah si akal banyak bagaikan binatang Wan-toa-sianseng ?"
"Oh... rupanya kau juga tahu tentang dia."

Kwik Tay-lok berdiri tertegun di sana, sampai lama sekali ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Pada dua puluh tahun berselang, ketiga orang ini semuanya merupakan jago-jago dunia persilatan kelas satu yang termasyhur dan disegani oleh setiap umat persilatan.

Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, ketiga orang ini sudah mati semua.

Tak nyana ternyata mereka bertiga bersembunyi di sini, bahkan tampaknya sudah menjadi pelayannya si kakek yang penyakitan itu.

Berpikir sampai di sini, tiba-tiba saja Kwik Tay-lok merasakan hatinya amat terperanjat.

Kalau manusia-manusia tersohor macam Kim-lo-han, Sin Toucu bersedia menjadi pelayan si kakek ini, bahkan bersikap begitu hormat, segan dan tunduk terhadapnya, lalu manusia macam apakah si kakek yang penyakitan itu sendiri ?

Kwik Tay-lok benar-benar merasa tidak habis mengerti.
 
Sekalipun hongtiang dari kuil Siauwlimsi yang lalu hidup kembali, belum tentu Kim lo han akan bersikap begitu hormat kepadanya, sekalipun seorang pendekar besar kenamaan di masa lalu hidup kembali, si bungkuk sakti dan si akal banyak seperti binatang belum tentu bersedia menjadi pelayannya.

Tapi, siapakah kakek itu? Kekuatan apakah yang dimilikinya sehingga dapat membuat ke tiga orang ini begitu menaruh hormat kepadanya.

"Hari ini mereka telah banyak memberi penderitaan dan percobaan kepadamu, apakah dalam hatimu masih merasa tidak puas terhadap mereka ?" tanya kakek itu kemudian.

Kwik Tay lok ingin menggeleng, tapi tak menggeleng, sambil tertawa getir katanya: "Ya, ada sedikit !"
"Apakah kau merasa sangat keheranan mengapa mereka sampai berbuat demikian?" "Yaa, ada sedikit.... aaah, tidak, bukan cuma sedikit saja...!"
"Dengan bersusah payah dan menempuh perjuangan yang sangat besar, ada urusan apa kau datang kemari?"

Kwik Tay-lok agak tergagap, tapi kemudian setelah mengerling sekejap ke arah Yan Jit, sahutnya:

"Datang mencarinya !"



"Mengapa kau datang mencarinya?"

Perkataan yang diucapkan olehnya seakan-akan selalu berupa pertanyaan, bahkan pertanyaan tersebut amat mendesak orang, membuat orang lain sama sekali tak mampu untuk menghindarkan diri.

Kwik Tay-lok menundukkan kepalanya rendah-rendah, dia seperti merasa agak kuatir tapi tak tenang.

Tapi saat itulah tiba-tiba Yan Jit mengangkat kepalanya dan menatap ke arahnya dengan menggunakan sepasang matanya yang jeli dan bening bagaikan air itu.

Kwik Tay-lok segera merasakan timbulnya keberanian dan keteguhan dalam hati, dia segera mengangkat kepalanya dan menjawab dengan suara lantang:

"Karena aku suka kepadanya, aku ingin selalu berada didampinginya!"

Sesungguhnya persoalan ini adalah suatu persoalan yang terus terang, dan sekarang dia mengutarakannya keluar dengan menggunakan sikap yang berterus terang pula, hal ini memperhatikan akan kejujuran serta ketulusan hatinya.

Suara dari kakek itu berubah menjadi makin serius, sepatah demi sepatah dia bertanya: "Apakah kau ingin mempersunting dirinya menjadi istrimu?"
"Benar!" jawab Kwik Tay-lok tanpa berpikir panjang lagi.
 
"Tak akan menyesal untuk selamanya?" "Ya, tak akan menyesal untuk selamanya."
Mata si kakek yang setengah terpejam itu tiba-tiba melotot besar, dari balik mata tunggalnya ini mencorong keluar sinar tajam yang menggidikkan hati.

Belum pernah Kwik Tay lok menjumpai manusia semacam ini, belum pernah bertemu dengan manusia dengan mata yang begitu menakutkan, tapi dia tidak bermaksud untuk menghindarinya.

Sebab dia tahu yang paling penting pada saat ini adalah dia berbicara dengan jujur dan sama sekali tidak mengandung maksud-maksud tertentu yang kuatir diketahui orang lain. "

Kakek itu menatapnya lekat-lekat, lalu membentak keras:

"Tapi, tahukah kau siapakah diriku ini?"

Kwik Tay-lok segera menggelengkan kepalanya berulang kali, pertanyaan ini memang sudah lama berada dalam benaknya, namun dia tak berani untuk mengutarakannya keluar.

"Coba kau lihat bekas bacokan pedang berbentuk salib di atas wajahku ini, masa kau masih belum tahu siapakah diriku ini?" kata si kakek.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Kwik Tay-lok, dia merasa terkejut sekali, hampir saja seluruh badannya melompat ke udara saking kagetnya.

Bekas bacokan pedang berbentuk salib, ilmu pedang sepuluh huruf yang menggila...

Satu-satunya manusia yang dapat meloloskan diri dari serangan Sip-ci-kiam yang menggila itu hanya Lamkiong Cho.

Jangan-jangan kakek yang sedang sakit parah ini tak lain adalah Lamkiong Cho yang asli ?

Kwik Tay-lok hanya merasakan kepalanya pusing tujuh keliling dan tidak tahu bagaimana mesti menjawab.

Mimpipun dia tak menyangka kalau Lamkiong Cho, seorang manusia buas yang termasyhur dalam dunia persilatan karena kebusukan namanya, ternyata tak lain adalah ayah kandung Yan Jit.

Tak heran kalau Yan Jit dapat memastikan kalau orang berbaju hitam itu pasti bukan Lamkiong Cho.

Rupanya Yan Jit lah yang turun tangan menusuk ulu hati orang berbaju hitam itu lewat dinding belakang.

Dia berbuat demikian jelas, karena dia merasa benci terhadap orang-orang yang telah mencatut nama ayahnya, oleh karena itu dia tak segan untuk turun tangan membunuhnya, dia turun tangan karena ingin melindungi nama baik ayahnya.

Tak heran pula dia enggan menyebutkan asal usul sendiri, dan sikapnya seakan-akan mempunyai banyak rahasia yang tak bisa diutarakan kepada orang lain.
 
Selama diapun enggan memberi tahukan kepada Kwik Tay-lok kalau dia adalah seorang anak gadis, sebab dia merasa malu terhadap asal usulnya sendiri, dia kuatir setelah Kwik Tay-lok mengetahui asal usulnya akan berubah sikapnya.

Oleh karena itu dia selalu menunggu sampai menjelang saat kematiannya baru bersedia untuk mengutarakan hal itu kepadanya, maka dia minggat dan selalu menghindar.

Persoalan itu seakan-akan merupakan suatu peristiwa yang sukar untuk dijelaskan, tapi sekarang, akhirnya toh ada jawabannya juga, Tapi Kwik Tay-lok hampir saja tak dapat mempercayainya.

Suasana dalam ruangan itu sangat hening.

Sorot mata setiap orang telah dialihkan ke wajah Kwik Tay-lok, hanya Yan Jit seorang yang masih menundukkan kepalanya, dia seperti tak berani lagi memandang ke arah Kwik Tay-lok.

Dia kuatir dengan jawaban dari Kwik Tay-lok, dia takut jawaban dari pemuda itu akan melukai hatinya.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya pelan-pelan kakek itu berkata lagi: "Sekarang, tentunya sudah tahu bukan, siapakah aku?"
"Benar."



"Sekarang, bila kau masih ingin merubah keputusanmu, masih ada kesempatan yang cukup bagimu untuk mengutarakannya keluar."

"Sekarang sudah tak sempat lagi" "Mengapa ?"
"Karena di dunia ini sudah tiada persoalan apapun yang dapat merubah perasaan cintaku kepadanya, bahkan aku sendiripun tak dapat."

Jawaban tersebut diutarakan dengan begitu tegas, begitu tulus dan jujur.

Ketika ia membalikkan badan memandang ke arah Yan Jit, kebetulan Yan Jit juga sedang mengangkat kepalanya memandang ke arah wajahnya.

Sorot matanya berkaca-kaca, tapi itulah airmata kegirangan, air mata terharu dan terima kasih. Bahkan sepasang mata Bwee Lan pun ikut berkaca-kaca menyaksikan adegan tersebut.
Kakek itu masih memandang wajah Kwik Tay-lok dengan sorot matanya yang tajam itu, kemudian menanyakan sekali lagi:

"Kau masih bersedia untuk mempersunting dirinya untuk menjadi istrimu?" "Kau bersedia menjadi suaminya anak gadis Lamkiong Cho?"
"Bersedia !"
 
Tiba-tiba sorot mata kakek itu bagaikan bekunya salju yang mulai mencair di musim semi, pelan-pelan dia bergumam seorang diri:

"Bagus, bagus sekali, ternyata kau memang seorang anak baik, Yan-ji benar-benar tidak salah memilih kau."
Kemudian pelan-pelan dia memejamkan kembali matanya, lalu sepatah demi sepatah katanya: "Sekarang aku dapat menyerahkan dirinya kepadamu dengan perasaan hati yang lega,
sekarang dia sudah menjadi istrimu."

Kwik Tay-lok segera berpaling kembali ke arah Yan Jit, dan Yan Jit pun memandang ke arahnya, ketika sepasang mata mereka saling bertemu, semua pancaran rasa cinta segera dilampiaskan keluar semuanya.

Pipi Yan Jit berubah menjadi merah, dia bahagia, dia senang dan dia merasa gembira tak terlukiskan.

Demikian pula dengan Kwik Tay lok, dia merasa amat bahagia, dia tahu perjuangan dan pengorbanannya selama ini tidak sia-sia belaka, sebab dia berhasil menemukan gadis pujaannya bahkan berhasil mempersunting dianya menjadi istrinya.

Kamar pengantin.

Di dunia ini banyak terdapat kaum pemuda yang belum menikah mengkhayalkan malam pengantinnya, bagaimana suasana dalam kamar pengantin dan apa pula yang akan terjadi.

Ada pula banyak kakek-kakek yang membayangkan kembali kenangan masa lalunya mengenang kembali dan kehangatan dan kemesraan yang dialaminya di dalam malam pengantin, malam yang penuh kebahagiaan itu.

Khayalan dan kenangan memang selamanya indah menawan.

Dalam kenyataan, suasana dalam kamar pengantin pada malam pertama setelah perkawinan tidaklah sehangat dan semesra apa yang seringkali dikhayalkan orang, suasanapun belum tentu selalu cerah dan indah seperti apa yang sering kali dilamunkan oleh kaum perjaka.

Ada sementara orang yang sok pintar, seringkali suka mengibaratkan malam pengantin bagaikan sebuah kuburan, bahkan suara yang dari kamar pengantin ada kalanya dianggap bagaikan jeritan binatang yang hendak disembelih.

Tentu saja kamar pengantin bukan kuburan, bukan pula tempat penjagalan binatang. Lalu, kamarnya macam apakah kamar pengantin itu?
Biasanya kamar pengantin adalah sebuah kamar yang tidak terlalu hangat, di sana sini penuh dengan warna merah dan hijau, dimana-mana penuh berbau minyak, ditambah lagi bau arak yang ditinggalkan para tamu, bila dalam satu dua jam orang tidak mual bila berada dalam kamar terus, sudah pasti dia memiliki perut dan hidung yang sangat istimewa sekali...

Tentu saja didalam kamar pengantin terdapat seorang lelaki dan seorang perempuan, kedua orang ini biasanya tidak begitu kenal, oleh karena itu tidak banyak pula yang mereka bicarakan.

Oleh karena itu, meski suasana di luar sana hiruk pikuk dan ramai sekali, biasanya suasana didalam kamar pengantin amat sepi dan hening.
 
Walaupun para tamu biasanya makan dan minum dengan sepuas-puasnya, kuatir kalau modalnya tidak kembali tapi pengantin lelaki dan pengantin perempuan biasanya justru merasa amat lapar.

Sebenarnya malam pengantin adalah malam buat mereka berdua, tapi hari itu justru seakan- akan dilewatkan orang lain dengan penuh kebahagiaan.

Kain merah yang menutupi wajah Yan Jit sudah dilepas, dia sedang menundukkan kepalanya duduk di tepi pembaringan sambil mengawasi sepatunya yang berwarna merah pula.

Kwik Tay-lok jauh-jauh duduk dikursi dekat sebuah meja, agaknya dia sedang termangu- mangu.

Yan Jit tak berani memandang ke arahnya, dan diapun tak berani memandang ke arah Yan Jit.



Seandainya minum sedikit arak, mungkin suasana akan lebih santai, sayangnya justru pada hari ini tak ada arak yang dihidangkan. Seakan-akan asal pengantin lelaki minta arak untuk minum, segera akan muncul "orang yang berbaik hati" untuk menghalanginya dan merebut kembali cawan araknya.

Sebenarnya mereka adalah sahabat yang sangat akrab, dihari-hari biasa mereka selalu berbicara tiada hentinya.
Tapi setelah menjadi sahabat karib, mereka seakan-akan sudah bukan sahabat lagi. Ternyata kedua orang itu merasakan hubungan mereka berdua berubah menjadi begitu jauh,
begitu asing, dan rikuh.

Oleh karena itu masing-masing pihak merasa agak jengah untuk mulai dengan suatu pembicaraan.

Kwik Tay-lok sendiripun semula mengira dirinya masih bisa menghadapi suasana tersebut dengan baik, tapi setelah masuk ke dalam kamar pengantin, tiba-tiba saja dia menemukan dirinya seakan-akan berubah menjadi seorang manusia bodoh.

Suasana semacam ini benar-benar terasa sangat tidak terbiasa olehnya....

Sebenarnya dia ingin berjalan ke depan sana, duduk disamping Yan Jit, tapi entah mengapa, sepasang kakinya justru terasa menjadi lemas, bahkan untuk berdiripun tak sanggup.

Entah berapa lama Kwik Tay-lok hanya merasa tengkuknya sudah mulai menjadi kaku...

Tiba tiba Yan Jit berbisik lirih:

"Aku mau tidur!"

Ternyata begitu menyatakan akan tidur, dia lantas pergi tidur bahkan satu katapun tak sempat dilepas lagi, ia segera menjatuhkan diri ke atas pembaringan, menarik selimut dan menutupi tubuhnya rapat-rapat.

Dia tidur dengan muka menghadap ke dinding, badannya melengkung bagaikan seekor udang.
 
Kwik Tay-lok menggigit bibirnya kencang-kencang, setelah mengawasi istrinya beberapa saat, tiba-tiba sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya, ia berkata:

"Hari ini, mengapa kau tidak suruh aku keluar dari kamarmu?" Yan Jit tidak menggubris, dia seperti sudah tidur nyenyak.
Sambil tertawa kembali Kwik Tay-lok berkata:

"Bukankah kau mempunyai kebiasaan tak bisa tidur bila ada orang lain berada dalam kamarmu?"

Sebenarnya Yan Jit masih tak ingin menggubrisnya, tapi sekarang justru dia tak tahan, maka serunya:

"Kurangilah perkataanmu, aku ingin tidur"

Kwik Tay-lok kembali mengerdipkan matanya beberapa kali, kemudian sambil tertawa dia berkata lagi:

"Masa kau masih bisa tidur walaupun aku berada di sini ?"

"Kau. kau bukan orang lain." bisik Yan Jit kemudian sambil menggigit bibirnya kencang-
kencang.

"Kalau bukan orang lain, lantas siapa ?"

Tiba-tiba Yan Jit tertawa cekikikan, "Kau adalah si setan berkepala besar !" Tiba-tiba Kwik Tay-lok menghela napas panjang, kembali katanya:
"Heran, heran, kenapa kau bisa kawin dengan seorang setan kepala besar seperti aku ?"

"Aku masih ingat, dahulu agaknya kau pernah bilang, sekalipun semua lelaki yang ada di dunia ini sudah pada mampuspun, kau tak akan kawin denganku."

Tiba-tiba Yan Jit membalikkan badannya menyambar bantal, kemudian menimpuk ke arahnya keras-keras.

Wajahnya telah berubah menjadi merah padam seperti buah masak yang baru saja di petik. Bantal itu melayang balik kembali, tapi kali ini balik disertai dengan tubuh Kwik Tay lok.
Dengan wajah memerah Yan Jit segera berseru:

"Kau... kau. mau apa kau ?"

"Aku ingin menggigitmu !"

Kain kelambu yang berwarna merah, entah sedari kapan telah diturunkan ke bawah.

Bila ada orang bersikeras mengatakan kalau suasana dalam kamar pengantin bagaikan sebuah tempat penjagalan, maka tempat penjagalan tersebut sudah pasti tempat untuk menjagal nyamuk.
 
Suara pembicaraan mereka berduapun sangat lirih seperti suara nyamuk. Kwik Tay-lok seperti sedang berbisik lirih:
"Heran, heran, sungguh mengherankan." "Apanya yang mengherankan ?" "Mengapa tubuhmu sedikitpun tidak bau?"
"Plak. !" terdengar suara orang seperti memukul nyamuk, makin memukul semakin pelan,
makin memukul semakin pelan....

Fajar sudah menyingsing.

Suasana di dalam pembaringan dibalik kelambu baru saja menjadi tenang, lewat setengah harian, kemudian terdengar suara Kwik Tay-lok sedang bertanya dengan pelan:

"Tahukah kau, apa yang sedang kupikirkan sekarang ?" "Ehmm. "


Suaranya lebih lirih dari suara burung walet, siapapun tak tahu jelas apa yang sedang ia katakan.

"Sekarang aku teringat sudah banyak persoalan yang aneh, tapi yang paling kuinginkan adalah daging yang di masak sampai merah dan empuk"

Yan Jit segera tertawa cekikikan.

"Dapatkah kau mengatakan kalau kau sedang merindukan aku?" katanya. "Tidak dapat."
"Tidak dapat?"

"Ya, karena aku takut kau akan menelanku bulat-bulat." Setelah menghela napas panjang, gumamnya:
"Isteri macam kau berhasil kudapatkan dengan tidak mudah, bila sampai tertelan bukankah sukar untuk mencari gantinya ?"

"Kalau sudah tak ada, bukankah kau bisa pergi mencari seorang lagi ?" "Mencari siapa ?"
"Misalnya.... Swan Bwee-tong. "

"Tidak bisa." jawab Kwik Tay-lok pelan.

"Dia terlalu kecut, lagi pula yang dia sukai adalah kau."
 
Setelah tertawa, lanjutnya:

"Sekarang aku baru tahu, hari itu kau tidak mau dengan dia, kenapa dia tidak menjadi marah. Waktu itu kau pasti memberitahukan kepadanya bahwa kaupun seperti dia, seorang perempuan."

"Bila aku seorang lelaki, aku pasti sudah mengawini dirinya.."

"Mengapa kau selalu tak mau memberitahukan kepadaku kalau kau adalah seorang perempuan ?"

"Siapa suruh kau seorang yang buta ? Orang lain saja dapat melihatnya, tapi justru hanya kau seorang yang tak pernah mengerti."

"Apakah rahasia ini yang hendak kau beritahukan kepadaku ?" "Ehmm. "
"Mengapa kau harus menunggu sampai aku hampir mau mati baru bersedia untuk memberitahukan kepadaku?"

"Karena... karena aku takut kau tidak maui aku. "

Perkataannya itu belum habis diutarakan, mulutnya seakan-akan disumbat oleh sesuatu secara tiba-tiba.

Lewat lama kemudian, Yan Jit baru berkata lagi dengan napas agak tersengal-sengal. "Kita kan sedang berbincang-bincang secara baik, kau tak boleh sembarangan berkutik"
"Baik, tidak berkutik ya tidak berkutik. Tapi mengapa kau takut aku tak maui dirimu? Apakah kau tidak tahu, sekalipun menggunakan semua perempuan yang ada di dunia ini untuk ditukar dengan kau seorang, akupun tak akan menukarnya."

"Sungguh ?"

"Tentu saja sungguh."

"Andaikata ditukar dengan perempuan yang bernama Sui Loan-kim ?" Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang:
"Aaai. dia memang seorang anak perempuan yang sangat baik, dan lagi patut di kasihani,
cuma sayang hatiku sudah diisi oleh kau seorang, tak mungkin lagi bagiku untuk menerima kehadiran orang lain didalam hatiku"

Yan Jit merintih lirih. Tiba-tiba suasana dibalik kelambu kembali menjadi hening, seakan-akan mulut kedua orang itu kembali tersumbat oleh sesuatu.

Setelah lewat cukup lama, Kwik Tay-lok menghela napas panjang, katanya lagi:

"Aku tahu, kau sengaja berbuat demikian karena ingin mencoba diriku, kau ingin tahu apakah aku setia kepadamu atau tidak."

Yan Jit menggigit bibirnya kencang-kencang, kemudian berkata:
 
"Bila kau bersedia untuk tinggal di sana maka selama hidup jangan harap kau dapat berjumpa lagi dengan aku."

"Tapi, setelah aku sampai di sini, mengapa kau masih tidak membiarkan aku datang menjumpaimu ?"

"Karena masih ada orang lain yang ingin mencoba pula dirimu, ingin mengetahui apakah kau cukup pintar, cukup bernyali, ingin mengetahui apakah hatimu cukup baik, pantaskah untuk menjadi menantunya ayahku."

"Oleh karena itu, kalian ingin melihat apakah aku cukup pintar untuk menemukan rahasia rumah ini, apakah aku cukup bernyali untuk mendatangi kuil Liong ong-bio tersebut"

"Sewaktu berada dalam kuil Liong-ong-bio, bila kau berani mempunyai pikiran jahat terhadap adik misanku itu, atau enggan menghantar dia pulang kemari, sekalipun kau berhasil menemukan tempat ini, juga takkan berjumpa denganku."

Kwik Tay-lok menghela napas panjang, katanya:

"Untung saja aku selain pintar, juga bernyali dan orang baik-baik. "

Yan Jit tertawa, selanya:

"Kalau tidak begitu, mana mungkin kau bisa memperistri seorang nona sebaik aku?" Kembali Kwik Tay-lok menghela napas panjang.
"Hingga sekarang aku baru menemukan bahwa kita sesungguhnya adalah sepasang sejoli yang paling cocok."

"Sekarang kau baru mengetahuinya ?"



"Benar" jawab Kwik Tay-lok sambil tertawa, "sebab sekarang aku baru menemukan kulit muka kita berdua tampaknya memang cukup tebal."

Sekarang didalam kamar itu baru benar-benar terdapat kamar pengantin, bahkan jauh lebih indah, lebih mesra dan hangat dari apa yang di bayangkan semula.

Mereka memang berhak untuk memperoleh kebahagiaan tersebut.

Sebab perasaan Cinta mereka sudah memperoleh pelbagai percobaan yang berat, mereka bisa mendapatkan kebahagiaan seperti hari ini, boleh dibilang hal mana diperolehnya secara tidak mudah.

Berlian pun harus diasah lebih dulu sebelum menjadi berkilat.

Cinta dan persahabatan yang tidak pernah mengalami percobaan, ibaratnya bunga yang terbuat dari kertas, selain tidak segar dan tidak menyiarkan bau harum, selamanya juga tak akan memberikan buah.

Buah sudah mulai matang di atas pohon, meski musim semi sudah lewat, namun musim panen sudah hampir tiba.
 
Yan Jit duduk di bawah pohon, melepaskan topi dari kepalanya dan dipakai sebagai kipas, kemudian gumamnya:

"Panas benar udara hari ini, Ong lotoa sudah pasti semakin malas untuk bergerak."

Kwik Tay-lok mengalihkan sorot matanya ke tempat kejauhan, kemudian berguman pula: "Entah bagaimana dengan Siau-lim ? Apa saja yang dilakukan?"
"Kau tak usah kuatir, mereka pasti tak akan kesepian, terutama dengan Siau-lim." "Mengapa ?"
Yan Jit segera tertawa.

"Apakah kau lupa dengan si nona kecil penjual bunga itu ?" serunya cepat.

Kwik Tay-lok turut tertawa, ia segera mendengar suara nyanyian merdu berkumandang diangkasa.

"Nona kecil bangun pagi.

Membawa keranjang bunga menuju ke pekan. Melewati jalan raya, menembusi lorong sempit. Bunga, bunga, dia berseru.....
Tentu saja nyanyian itu bukan berasal dari si nona kecil penjual bunga, yang membawa nyanyian itu sekarang adalah Yan Jit.

Sambil menggoyangkan topinya untuk menyejukkan badan, dia mengalunkan suaranya yang merdu, membuat para pejalan kaki sama-sama berpaling dan memandang ke arahnya dengan mata melotot besar.

Sambil tertawa Kwik Tay-lok segera berseru:

"Hei, jangan lupa pakaian apa yang sekarang kau kenakan?"

Sekarang, dia menggunakan pakaian lelaki tapi suara nyanyiannya justru merdu merayu bagaikan burung nuri yang sedang berkicau.

"Tak menjadi soal" jawab Yan Jit sambil tertawa, "sekalipun aku tidak menyanyi, orang lain juga dapat melihat kalau aku adalah seorang perempuan, sebab bila seorang perempuan ingin merayu seorang lelaki, hal ini bukanlah suatu pekerjaan yang terlalu gampang".

"Bagaimana dengan kau dulu?" "Dulu berbeda"
"Bagaimana bedanya?"

"Dulu aku lebih dekil. dekil sekali, semua orang selalu beranggapan bahwa perempuan
selalu lebih bersih daripada lelaki"
 
"Padahal?"

Yan Jit segera melotot sekejap ke arahnya lalu sahutnya:

"Padahal perempuan yang kenyataannya lebih bersih daripada orang lelaki..." Jalan ini adalah jalanan menuju ke perkampungan Hok-kui-san-ceng.
Mereka sama sekali tidak melupakan teman-teman mereka, mereka pun ingin membagikan kebahagiaan mereka kepada teman-temannya.

"Seandainya Ong lotoa dan Siau-lim tahu kalau kita. kita sudah menikah menjadi suami istri,
sudah pasti dia akan merasa gembira sekali, Entah Siau-lim akan merasa cemburu atau tidak?" Seusai mengucapkan perkataan itu, dia mulai lari sedang Yan Jit mengejar dari belakangnya.
Mereka tidak menunggang kereta, juga tidak naik kuda, sepanjang perjalanan mereka, hanya tertawa, lari, saling mengejar dan bergurau bagaikan dua orang anak kecil saja.

Kegembiraan memang membuat orang dapat membuat orang menjadi lebih awet muda dan segar selalu.

Bila sudah lelah berlari, mereka duduk dia bawah pohon yang rindang dan membeli sebiji kueh untuk menangsal perut yang lapar.

Sekalipun kueh keras itu tawar, dan tak enak, namun dalam mulut mereka akan terasa manis dan nikmat.

Ternyata Kwik Tay-lok sudah beberapa hari tidak minum arak, kecuali sehari menjelang keberangkatan mereka, Lamkiong Co telah menyediakan perjamuan perpisahan untuk puteri menantunya, bukan saja dia sendiri minum setengah cawan, bahkan mengharuskan semua orang minum sampai puas, maka mereka semuapun mabuk hebat.

Sambil tertawa Yan Jit berkata:



"Walaupun sekarang ayahku sudah tak dapat minum arak lagi, akan tetapi dia paling suka melihat orang lain minum arak."
"Dahulu takaran minum araknya pasti lumayan sekali." kata Kwik Tay-lok sambil tertawa. "Bukan cuma lumayan lagi, sepuluh orang Kwik Tay-lok belum tentu bisa melawan dia
seorang."

"Haaaah."

"Apa artinya hah ?"

"Hah, artinya bukan saja aku tidak puas lagi pula akupun tidak percaya dengan perkataanmu itu."

"Sayang saat ini dia sudah tua, lagi pula luka lamanya kambuh kembali, sudah banyak tahun dia hanya berbaring belaka tanpa bergerak, kalau tidak dia pasti akan melolohmu sampai kau bergulingan di atas tanah sambil muntah-muntah."
 
Menyinggung kembali soal penyakit yang diderita ayahnya, tanpa terasa rasa sedih dan murung menyelimuti kembali wajahnya.

Kwik Tay-lok juga menghela napas panjang, katanya:

"Dia memang seorang manusia yang luar biasa, aku tidak menyangka kalau dia dapat mengijinkan kepada kita untuk pergi."

"Mengapa ?"

"Sebab. sebab dia benar-benar merasa terlampau kesepian, bila berganti orang lain, dia
pasti akan menyuruh kita berdua untuk menemaninya."

"Tapi dia berbeda, dia selalu tak ingin menyaksikan orang lain menderita karena dia, bagaimanapun juga, dia lebih suka merasakan sendiri penderitaan dan siksaan tersebut daripada membiarkan orang lainpun ikut merasakan."

Sepasang matanya memancarkan kembali cahaya berkilauan, jelas dia merasa bangga karena mempunyai seorang ayah seperti ini.

Kwik Tay-lok menghela napas, katanya lagi:

"Berbicara terus terang, aku sendiripun sama sekali tidak mengira kalau dia adalah seorang manusia seperti ini ?"

"Dulu kau mengira dia adalah seorang manusia macam apa ?" Kwik Tay-lok agak sangsi, tapi ujarnya kemudian agak tergagap:
"Kau tahu, berita yang tersiar dalam dunia persilatan selalu melukiskan dia sebagai seorang manusia yang menakutkan."

"Dan sekarang ?"

Untuk kesekian kalinya Kwik Tay lok menghela napas panjang.

"Aaai. ! Sekarang aku baru tahu, berita-berita yang tersiar dalam dunia persilatan itulah baru
benar-benar menakutkan. Ternyata dia sanggup untuk menahan derita selama banyak tahun, hanya cukup berbicara dari hal ini saja, orang lain sudah tak mungkin bisa menandinginya lagi "

"Mungkin hal ini dikarenakan dia sudah tak sanggup untuk tidak bersabar dan menerima segala sesuatunya belaka," kata Yan Jit sedih.

"Untung saja dia masih mempunyai teman, aku dapat menyaksikan kesetiaan serta persahabatan dari si Bungkuk sakti sekalian, mereka selalu berusaha untuk membuat gembira hatinya."

Yan Jit termenung untuk beberapa saat lamanya, tiba-tiba dia berkata: "Kau tahu, dulu mereka ingin berbuat bagaimana untuk menghadapinya ?" Kwik Tay-lok menggeleng.
"Dahulu merekapun selalu berusaha untuk membunuhnya" kata Yan Jit, "tapi kemudian, setelah melangsungkan beberapa kali pertarungan sengit antara hidup dan mati, mereka baru
 
menjumpai bahwa dia tidak seperti apa yang tersiar dalam dunia persilatan, akhirnya mereka dibuat terharu oleh perangainya yang gagah, itulah sebabnya dari musuh mereka menjadi bersahabat."

Kemudian ia tertawa, tertawanya agak pedih, juga agak bangga, lanjutnya:

"Demi dia, bahkan Kim Lo-han bersedia untuk menghianati Siau-lim-pay, bersedia menjadi seorang murid murtad yang tak mungkin bisa diampuni oleh perguruannya."

"Bahkan manusia justru memiliki perasaan hati yang agung, maka mereka berbeda dengan hewan."

"Perasaan semacam ini biasanya hanya akan muncul bila ada seseorang berada dalam kesulitan atau ancaman jiwa, hanya perasaan yang muncul dalam keadaan semacam inilah merupakan ungkapan perasaan yang sangat.  "

Apa yang mereka ucapan memang benar.

Seseorang hanya bisa memperhatikan keagungan jiwanya bila berada dalam kesulitan atau ancaman jiwa.

Lamkiong Cho memang berhasil mendapat uluran tangan persahabatan dari Sin Toucu sekalian, tapi beberapa besarkah pengorbanan yang dibayar untuk itu ? Mungkin orang lain tak pernah akan membayangkan.

Seandainya didalam keadaan yang kritis, ia rela berkorban demi menyelamatkan jiwa orang lain, dari mana orang lain bisa tahu kalau wataknya sangat agung? Darimana pula mereka dapat bersedia untuk mengorbankan segala-galanya?

Dibalik kesemuanya ini tentu saja masih terdapat cerita lain yang penuh dengan suka duka serta keadaan-keadaan yang menyedihkan.



Dan cerita inipun tak perlu disinggung kembali. Senja sudah menjelang tiba.
Walaupun matahari telah tenggelam di langit barat, namun jalanan yang beralas batu masih terasa panas dan menyengat badan.

Di bawah pohon yang rindang di depan sana, berdiri seorang perempuan kurus yang berpakaian kumal menggandeng seorang anak di tangan kiri dan menggendong anak yang lain dipunggungnya.

Dia berdiri di situ dengan kepala tertunduk dan tangan sebelah dijulurkan ke muka, dia sedang meminta-minta kepada setiap orang yang melewati tempat itu.

Kwik Tay-lok segera berjalan mendekat dan memberikan beberapa potong hancuran uang perak ke tangannya.

Selama dia punya uang, tak pernah ia menyia-nyiakan setiap pengemis yang dijumpainya, sekalipun uangnya masih sisa berapa keping uang perak saja, pemuda itu selalu memberikan kepada orang lain tanpa mempertimbangkan lagi.
 
Yan Jit sedang memandang ke arahnya, dibalik sorot matanya yang lembut terpancar perasaan kagum dan memuji.

Jelas dia merasa bangga karena memiliki seorang suami yang besar sekali jiwa sosialnya.

Perempuan pengemis itu segera berkemak-kemik mengucapkan kata-kata terima-kasih, baru saja ia akan masukkan uangnya ke saku, tanpa sengaja dia mengangkat kepalanya dan memandang sekejap ke arah Kwik Tay-lok.

Tiba-tiba paras mukanya yang pucat pias itu mengalami perubahan yang sangat hebat, berubah menjadi menakutkan sekali.

Sepasang matanya yang cerah dan sama sekali tak bersinar itu telah melotot keluar bagaikan mata ikan, seakan-akan ada sebilah pisau yang secara tiba-tiba dihujamkan ke ulu hatinya.

Sebenarnya Kwik Tay lok sedang tersenyum, tapi lambat laun senyumannya itu membeku, wajahnya juga menunjukkan perasaan terkejut bercampur terkesiap, serunya tertahan.

"Aaah, kau?"

Perempuan pengemis itu segera menutupi wajahnya dengan sepasang tangannya, lalu jeritnya keras-keras:

"Kau pergi dari sini, aku tidak kenal denganmu."

Dari perasaan kaget, wajah Kwik Tay-lok berubah menjadi iba dan penuh rasa kasihan, setelah menghela napas panjang katanya:

"Mengapa kau dapat berubah menjadi begini rupa ?"

"Itu urusanku, dengan kau sama sekali tak ada sangkut pautnya."

Walaupun perempuan itu berusaha untuk mengendalikan perasaan sendiri, toh sekujur tubuhnya gemetar juga bagaikan cahaya lilin yang terhembus angin kencang.

Pelan-pelan Kwik Tay-lok mengalihkan sorot matanya ke wajah dua orang bocah yang ingusan dan perkembangan badannya tidak baik itu, kemudian bertanya lagi dengan sedih:

"Mereka adalah hasil hubunganmu dengannya? Dimana orangnya sekarang?"

Sekujur badan perempuan itu gemetar keras, akhirnya dia tak kuasa menahan diri dan menangis tersedu-sedu, sambil menutupi wajahnya sambil terisak ia menjawab:

"Dia telah membohongi aku, membohongi harta bendaku, kemudian kabur lagi dengan perempuan lain, yang dia tinggalkan kepadaku hanyalah dua orang bocah ini, mengapa nasibku begini buruk. mengapa?"

Tiada orang yang memberi jawaban kepadanya, sebab hanya dia sendiri yang mengetahui jawabannya.

Penderitaan dan tragedi yang menimpa dirinya sekarang, bukankah merupakan akibat dari perbuatan yang dia lakukan sendiri?

Kwik Tay-lok menghela napas panjang, dia sendiripun tak tahu apa yang mesti diutarakan.
 
Pelan-pelan Yan Jit berjalan lagi ke depan, menghampirinya dan menggenggam tangannya, dia ingin memberi dukungan kepadanya, bahwa dalam menghadapi persoalan macam apapun, ia selalu berada di pihaknya dan dia tetap mempercayainya.

Yaa, apa yang bisa diberikan oleh seorang perempuan kepada suaminya hanyalah dukungan moril, rasa percaya serta simpatiknya, sebab hanya hal-hal semacam itulah akan memberikan dukungan moril yang besar bagi si suami untuk menentukan langkah-langkah berikutnya.

Kwik Tay-lok ragu sejenak, kemudian bertanya:

"Kau sudah tahu siapakah dia ?" Yan Jit manggut-manggut.
Terhadap lelaki yang dicintainya, kaum wanita seakan-akan memiliki indera ke enam yang amat tajam.

Ia sudah mengetahui bahwa antara perempuan pengemis itu dengan suaminya pasti mempunyai suatu hubungan yang luar biasa, apalagi setelah mendengar pembicaraan mereka, keraguannya seketika hilang lenyap tak berbekas.

Sudah dapat dipastikan sekarang, perempuan ini tak lain adalah perempuan yang dahulu telah menipu Kwik Tay-lok dan meninggalkan dirinya dengan begitu saja itu.

Kwik Tay-lok menghela napas panjang, kembali ia berkata:



"Aku benar-benar tidak menyangka akan berjumpa dengan kau di sini, lebih tak kuduga kalau dia akan berubah menjadi begini rupa."

"Kalau toh dia adalah temanmu sudah seharusnya kau membantunya dengan sepenuh tenaga" kata Yan Jit lembut.

Mendadak perempuan itu berhenti menangis, mengangkat kepalanya dan melotot ke arahnya. "Siapakah kau ?" tegurnya.
Sorot mata Yan Jit masih tetap lembut dan tenang, sahutnya:

"Aku adalah istrinya."

Pelbagai perubahan segera berkecamuk di atas wajahnya, mendadak perempuan itu melotot ke arah Kwik Tay-lok dan berseru dengan nada tercengang:

"Kau sudah menikah ?" "Benar"
Perempuan itu memandang ke arahnya, kemudian memandang pula ke arah Yan Jit, tiba-tiba saja sorot matanya memancarkan semacam rasa cemburu dan dengki yang amat tebal.

Mendadak ia mencengkeram baju Kwik Tay-lok, kemudian teriaknya keras-keras: "Bukankah kau berjanji akan mengawini aku? Mengapa kau kawin dengan orang lain?"
 
Kwik Tay-lok sama sekali tidak bergerak, wajahnya pucat pias seperti kertas, dalam keadaan ini dia benar-benar tak tahu bagaimana harus menghadapinya.

Yan Jit mengenggam tangannya kencang-kencang, lalu sambil mengawasi perempuan itu dia berkata:

"Engkaulah yang meninggalkan dia lebih dulu, bukan dia tidak maui dirimu, apa yang telah terjadi dimasa lalu, tentunya kau masih mengingatnya dengan jelas bukan?"

Sorot mata perempuan itu memancarkan cahaya penuh kebencian, sama menyeringai seram katanya lagi:

"Apa yang kuingat? Aku hanya ingat dia pernah memberi tahukan kepadaku, selama hidup dia hanya mencintaiku seorang, kecuali aku, dia tak akan mengawini perempuan lain"

Kemudian sambil memperlihatkan wajah ingin menangis, dia berteriak semakin keras:

"Tapi dia telah membohongi aku, membohongi aku perempuan yang bernasib malang coba, kalian berikan pertimbangan kepadaku.".

Banyak orang telah berkerumun, sebagian besar diantara mereka melotot ke arah Kwik Tay- lok dengan pandangan menghina dan penuh rasa muak dan benci.

Paras muka Kwik Tay-lok yang memucat kini berubah lagi menjadi merah padam butiran keringat sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran dengan derasnya.
Tapi paras muka Yan Jit masih tetap tenang seperti sedia kala, pelan-pelan dia berkata: "Dia sama sekali tidak membohongi dirimu, dia pun tak pernah membohongi dirimu, cuma
sayang kau sudah bukan orang yang dahulu lagi, aku rasa kau pasti memahami perkataanku ini."

Perempuan itu semakin menggila, sambil mencak-mencak seperti orang gila dia berteriak keras:

"Aku tidak memahami apa-apa, aku tak ingin hidup. sekalipun harus mati, aku akan mati
bersama dengan lelaki yang berhati keji ini. "

Seraya berkata dia lantas membenturkan kepalanya ke atas perut Kwik Tay-lok, kemudian sambil menjatuhkan diri ke tanah, dia berguling-guling ke atas tanah.

Menghadapi perempuan yang pandai membulak-balikkan keadaan, cara apapun memang tak bisa dipergunakan lagi.

Dalam keadaan begini, pada hakekatnya Kwik Tay-lok tidak tahu bagaimana harus bertindak, dia hanya ingin kalau bisa menerobos ke dalam tanah dan menyembunyikan diri.

Yan Jit tenang, setelah termenung sebentar, tiba-tiba dia merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan seuntai kalung, kemudian sambil disodorkan ke hadapan perempuan itu, katanya:

"Kau kenal, benda apakah ini?"

Perempuan itu melototkan matanya besar-besar, setelah tertegun beberapa saat lamanya dia baru berteriak keras:

"Tentu saja aku kenal, benda ini sebenarnya adalah milikku."
 
"Oleh karena itu sekarang kukembalikan kepadamu, aku hanya berharap kau mengerti untuk menyimpan rantai emas tersebut, dia rela dimaki, diejek dan dicemooh teman, bahkan ia rela menderita dan menyiksa diri, apa sebabnya ia sampai begitu, tentunya kau bisa membayangkan sendiri bukan...?"

Ketika melihat rantai emas itu, sorot mata si perempuan yang semula kebencian, kini berubah menjadi malu dan menyesal.

"Bagaimana juga, dia adalah manusia."

Sebagai seorang manusia, sedikit banyak dia tentu mempunyai sifat kemanusiaan.

"Dengan seuntai rantai emas tersebut, kau bisa memakainya sebagai modal untuk berdagang kecil-kecilan, baik-baiklah merawat anak anakmu," kata Yan Jit, "di kemudian hari kau masih-bisa bertemu dengan lelaki baik, asal kau tidak lagi menipu orang lain, orang lainpun tak akan menipu dirimu lagi."

Sekujur badan perempuan itu mulai gemetar keras, membalikkan badannya memandang anak-anaknya.



Anak-anak itu berdiri dengan wajah kaget bercampur ketakutan, bibirnya sudah ingin menangis, tapi saking takutnya untuk menangis pun mereka tak berani.

Dengan suara lembut kembali Yan Jit berkata:

"Jangan kau lupakan, dirimu sudah menjadi seorang ibu, sudah sepantasnya kalau memikirkan tentang kebutuhan anak-anakmu, di kemudian hari merekapun akan tumbuh menjadi dewasa, kau seharusnya memberi kesempatan kepada mereka agar merasa bahwa mereka masih memiliki seorang ibu yang gagah dan patut dibanggakan."

Sekujur badan perempuan itu gemetar semakin keras, mendadak ia mendekap di atas tanah sambil menangis tersedu-sedu.

"Thian. oh, Thian, mengapa kau membiarkan aku bertemu lagi dengannya, mengapa?"

Pertanyaan inipun tiada orang yang bisa membantunya untuk memberi jawaban, sebab hanya dia sendirilah yang mengetahui jawabannya.

Benih macam apakah yang kau tanam, maka buah apa pula yang bakal kau petik.

Bila kau menanam batu, maka selama hidup jangan berharap bisa tumbuh sekuntum bunga yang indah.

Senja telah menjelang tiba.

Matahari sore memancarkan sinar yang lembut dan hangat.

Pelan-pelan Kwik Tay-lok berjalan menelusuri jalan raya, jelas perasaan maupun pikirannya sama-sama tercekam dalam suasana yang amat berat.

Yan Jit tidak berbicara, diapun tidak mengusik dirinya.
 
Ia tahu, bila seseorang membutuhkan suatu ketika untuk berada dalam ketenangan inilah saat yang harus dipahami oleh seorang perempuan sebagai istri yang tahu diri.
Entah beberapa lama sudah lewat, Kwik Tay-lok baru berkata dengan suara yang dalam: "Kapan sih kau menebus kembali rantai emas tersebut? Mengapa kau tidak mengatakannya
kepadaku?"

"Sebab aku sama sekali tidak menebusnya keluar" jawab Yan Jit sambil tertawa. "Tidak kau tebus?"
"Yaa rantai emas yang kuberikan kepadanya tadi, sesungguhnya bukan rantai milikmu itu." "Bukan?" Kwik Tay-lok semakin tertegun.
Kembali Yan Jit tersenyum.
"Yaa, rantai emas itu adalah pemberian dari enci Bwee Lan, sebagai hadiah perkawinan kita." "Kalau memang begitu, mengapa kau keluarkan rantai emas itu, mengapa kau harus berbuat
demikian?"

"Karena akupun seorang perempuan, bagaimanapun juga aku jauh lebih memahami watak perempuan daripada dirimu"

"Kalau begitu, setelah ia saksikan rantai emas tersebut, maka ia baru akan teringat akan kebaikan dulu kepadanya, maka ia baru bersedia melepaskan aku?"

"Rantai emas itu sepintas lalu memang mirip satu sama lainnya, bahkan kau sendiripun tak dapat membedakan, apalagi dia," sahut Yan Jit sambil tertawa lagi.

Ia tertawa riang.

Sebab rantai emas itu hanya merupakan suatu perlambang belaka, melambangkan kejadian yang sudah lampau.

Sekarang, kalau toh mereka tak bisa membedakan lagi keaslian rantai emas tersebut, jelas semua perasaan cinta maupun benci yang pernah berlangsung dulu, kini turut dilupakan pula.

Bagaimanapun besarnya jiwa seorang perempuan, dia pasti enggan membiarkan suaminya memikirkan kenangan masa lalunya.

"Tapi ketika ia melihat diriku tadi, sudah seharusnya dia membayangkan bahwa dahulu. "

"Ia berbuat demikian kepadamu bukan lantaran kejadian dulu, melainkan karena dengki dan cemburu" tukas Yan Jit.

"Dengki dan cemburu?"

"Bukan cemburu kepadamu, melainkan kepadaku, melihat kehidupannya yang sengsara kemudian melihat pula keadaan kita berdua sekarang, ia semakin menyesal terhadap apa yang telah dilakukan dimasa lalu"

Setelah menghela napas panjang lanjutnya:
 
"Bila seorang sedang merasa menyesal, seringkali dia menaruh perasaan benci yang tak dipahaminya kepada orang lain, seakan-akan ia merasa kalau bisa setiap orang di dunia ini sama- sama merasakan penderitaan seperti apa yang dialaminya"

"Oleh karena itu diapun ingin merusak hubungan kita?" kata Kwik Tay-lok sambil menghela napas.

"Tapi setelah ia melihat rantai emas tersebut, mengapa pula secara tiba-tiba berubah pikiran ?" "Karena rantai emas itu berbeda dengan dirimu."
Setelah tersenyum manis, ia melanjutkan:

"Bukan saja rantai emas jauh lebih menarik daripada dirimu, lagi pula ia tahu kalau dirinya sudah pasti akan dapat memperolehnya kembali."

"Apakah hal ini dikarenakan rantai emas tersebut sudah berada di tangannya kembali?" "Tepat sekali perkataanmu itu"
Di dunia ini memang hanya perempuan baru bisa memahami perasaan seorang perempuan.

Perempuan selalu hanya percaya dengan benda yang telah berada di tangannya, sekalipun dia tahu dengan jelas masih ada seratus untai rantai emas lagi yang bisa diambil, diapun tak akan menukar apa yang telah diperolehnya itu dengan benda yang lain.

Selain itu, juga tiada berapa orang perempuan yang bersedia menghadiahkan rantai emas miliknya untuk kekasih dari bekas pujaan hatinya.

Hanya perempuan paling cerdik saja yang akan berbuat demikian.

Dia hanya mempergunakan seuntai rantai emas untuk mendapatkan rasa percaya dan terima kasih suaminya, serta kebahagiaan hidup bagi dirinya sendiri.