Pendekar Riang Jilid 29

 
Jilid 29 

"BUKAN !"
 
"Memangnya kau khusus datang kemari untuk mencari aku?" "Benar."
"Ada urusan apa mencari aku ?" "Suruh kau pulang."
"Pulang ? Pulang ke mana?"

"Dari mana kau datang, kesana pula kau pergi !"

Kwik Tay-lok segera mengerdipkan matanya berulang kali, katanya: "Apakah kau tidak menginginkan aku pergi ke kuil Liong-ong-bio ?" "Benar !"
"Kenapa ?"

"Sebab tempat itu bukan tempat yang baik, barang siapa berani kesana pasti akan tertimpa bencana."

Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Terima kasih banyak atas petunjukmu, cuma saja kita tak pernah saling kenal, kenapa kau menaruh perhatian yang begitu serius kepadaku ?"

"Jadi kau bersikap keras hendak pergi ?" "Benar !"
"Baik, robohkan aku lebih dulu, kemudian melangkahlah dari atas badanku. "

Kwik Tay-lok menghela napas panjang setelah mendengar perkataan itu, serunya kemudian: "Oh.... rupanya kau memang sengaja mencari aku untuk diajak berkelahi. "
Orang berkaki tunggal itu tidak berbicara lagi, mendadak dia mengayunkan tangannya, lampu lentera yang berada di tangannya itu segera meluncur ke tengah udara dan persis menancap di atas sebatang pohon itu yang berada di tepi jalan.

Kwik Tay-lok segera berseru tertahan, katanya:

"Benar-benar suatu kepandaian yang sangat lihay, dengan mengandalkan kepandaian tersebut, belum tentu aku dapat mengalahkan dirimu"

"Bila kau ingin kembali sekarang, masih belum terlambat." Kembali Kwik Tay-lok tertawa, katanya:
"Justru karena aku belum tentu bisa merobohkan kau maka aku baru akan menghajarmu, bila aku sudah mempunyai keyakinan untuk menang, apa menariknya suatu pertarungan ?"

Pelan-pelan orang berkaki tunggal itu mengangguk, katanya:
 
"Baik, kau memang punya keberanian, aku tak pernah membunuh orang yang mempunyai keberanian, paling banter cuma sepasang kakinya saja yang akan ku penggal."

"Akupun paling banter hanya bisa mengutungi sebuah kakimu saja, karena kau hanya memiliki sebuah kaki belaka" jawab Kwik Tay-lok sambil tertawa.

Sebenarnya dia bukan seorang yang menyindir orang, sebetulnya dia tak ingin mengucapkan kata-kata yang mencemooh orang lain. Tapi sekarang ia telah menemukan si bopeng, si bungkuk dan si orang berkaki tunggal ini sebetulnya merupakan suatu komplotan yang telah mempersiapkan jebakan untuk memancingnya masuk perangkap.

Sekarang dia sudah hampir terjatuh, tapi perangkap apakah itu, hingga kini masih belum diketahui.

Dalam pertarungan ini, musuh berada dalam kegelapan sedang ia berada ditempat yang terang, musuh lebih banyak jumlahnya dari pada ia seorang, bagaimanapun juga, sebenarnya hal yang mana merupakan sesuatu yang sama sekali tak adil.

Kesempatan buat Kwik Tay-lok memang tidak banyak, sekalipun ia sengaja mengucapkan beberapa kata untuk mencemooh dan membangkitkan kemarahan lawan hal tersebut sebenarnya patut dimaafkan.

Paling tidak ia telah memaafkan dirinya sendiri.

Betul juga orang berkaki tunggal itu menjadi naik pitam, sambil membentak keras tongkat pendek di tangannya diayunkan ke tubuh Kwik Tay-lok dengan membawa desingan angin tajam.

Tongkat pendek itu paling banter tiga empat depa panjangnya, jaraknya dengan Kwik Tay-lok pun paling banter hanya dua-tiga kaki.

Tapi begitu tangannya diayunkan, tahu-tahu tongkat pendek itu telah tiba di hadapan Kwik Tay-lok.

Serangan toyanya itu benar-benar dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Waktu itu Kwik Tay-lok sama sekali tak bersenjata, pada hakekatnya tak mungkin baginya untuk menangkis atau menahan serangan tersebut, terpaksa ia berkelit ke samping.

Tapi orang berkaki tunggal itu telah melancarkan serangkaian serangan berantai yang bertubi- tubi, jurus yang satu lebih cepat dari yang lain, sekalipun Kwik Tay-lok tidak melihat asal dari ilmu toyanya itu, namun dia tahu ilmu toya yang dipergunakan oleh musuhnya ini pasti mempunyai asal usul yang besar.

Diantara sekian banyak jago lihay dalam dunia persilatan, hanya dua macam orang yang menggunakan toya pendek, pertama adalah pengemis sedangkan yang lain adalah hwesio.

Kalau pengemis kebanyakan tergabung dalam perkumpulan Kay-pang, toya pendek yang mereka pergunakan biasanya dinamakan toya Ta-kau-pang, konon nama ini mulanya berasal dari seorang pangcu she Cia, tapi bagaimanakah cerita yang sebenarnya, mungkin tiada seorang yang pernah melakukan penyelidikan secara serius.
 
Itulah sebabnya ilmu toya yang mereka pergunakan disebut ilmu Ta-kau-pang-hoat atau ilmu toya penggebuk anjing, selain hebat perubahannya juga rumit jurus serangannya, tidak banyak orang di dunia ini yang benar-benar bisa mempelajari ilmu toya seperti ini..

Jurus serangan yang digunakan orang berkaki tunggal itu bersifat keras dan ganas, diantara perubahan jurusnya tidak terdapat perubahan yang terlalu bagus.

Betul Kwik Tay-lok kurang berpengalaman dalam dunia persilatan, namun soal ilmu Ta kau pang hoat sedikit banyak pernah juga mendengar orang lain membicarakannya.

Sekarang, ia telah melihat bahwa ilmu toya yang dipergunakan orang berkaki tunggal itu bukan ilmu Ta-kau-pang-hoat, kalau toh bukan ilmu Ta-kau-pang-hoat, berarti pula dia bukan anggota Kay-pang.

Kwik Tay-lok memutar biji matanya berulang kali, tiba-tiba ujarnya sambil tertawa: "Aku sudah tahu siapakah dirimu, kau jangan harap bisa mengelabuhi diriku."
Mendadak permainan toya pendek orang berkaki tunggal itu makin melamban, sementara kulit badannya seakan-akan berubah menjadi kaku.

Kenapa dia nampak terkejut setelah mendengar ucapan itu?

Apakah dia sendiripun mempunyai suatu rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain? Atau kuatir bila diketahui jejaknya oleh orang lain. ?

Begitu gerakan tangan dari orang berkaki tunggal itu melambat, gerak serangan dari Kwik Tay- lok menjadi bertambah cepat.

Sepasang kepalannya dilancarkan menderu-deru bagaikan deruan angin kencang, dia menerobos ke dalam titik kelemahan orang itu membuat permainan toyanya sama sekali tak dapat dikembangkan lagi.

Pertarungan antara jago-jago lihay ibaratnya dua orang ahli catur yang sedang berhadapan, asal selangkah membuat kesalahan bisa jadi seluruh permainannya akan buyar.

Tiba-tiba saja Kwik Tay-lok melancarkan tiga buah serangan berantai yang ditujukan ke dada dan lambung orang berkaki tunggal itu, namun menanti orang berkaki tunggal itu menangkis jurus serangannya, tiba-tiba dia berganti gerakan dengan mengayunkan tangannya menghantam topi lebar yang dikenakan orang berkaki tunggal itu.

Bila dia ingin menghantam kepala orang berkaki tunggal itu, sudah barang tentu hal mana sukar untuk dilakukan.

Tapi topi anyaman bambu itu lebar dan besar, apalagi dikala pertarungan sedang berlangsung, siapapun tak akan berpikir untuk melindungi topi lebar yang dikenakannya itu.

Begitu topi lebar tersebut terjatuh, maka tampaklah selembar wajah orang berkaki tunggal itu, dia berwajah pucat dengan kepala yang gundul bersih, di atas keningnya terdapat dua belas buah bekas tusukan dupa yang menandakan dirinya sebagai seorang pendeta.

Dengan cepat Kwik Tay-lok berjumpalitan dan mundur sejauh tujuh depa lebih, kemudian serunya dengan suara lantang:

"Dugaanku ternyata tidak meleset, kau memang benar-benar seorang hwesio gundul !"
 
Paras muka orang berkaki tunggal itu berubah makin mengenaskan, tiba-tiba ia mendepakkan kakinya berulang kali, toya pendeknya segera melesat ke depan dan menghantam lampu lentera yang berada di atas ranting pohon liu itu.

Seketika itu juga suasana di sekeliling tempat itu berubah menjadi gelap gulita.

Bayangan tubuh orang berkaki tunggal itu berkelebat lewat, tahu-tahu bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan sana.

Kwik Tay lok yang menyaksikan kejadian itu menjadi agak keheranan, pikirnya:

"Heran, menjadi seorang pendeta toh bukan suatu perbuatan yang takut diketahui orang lain, sekalipun diketahui orang juga bukan suatu hal yang luar biasa, mengapa ia justru tampak kaget bercampur gugup, bahkan jauh lebih tegang daripada buronan yang berhasil dikenali kembali oleh opas ?"

Kwik Tay-lok benar-benar tidak habis mengerti.

Tapi sekarang kesulitan yang dihadapinya sudah cukup banyak, tentu saja ia sudah tidak mempunyai kesempatan dan hasrat untuk memikirkan persoalan orang lain lagi.

Sesudah tiada orang yang menghalangi jalan perginya, maka diapun melanjutkan perjalanannya ke depan.

Jalan, jalan terus ke depan, mendadak ia saksikan di depan sana terdapat suatu tempat yang memancarkan cahaya lentera.

Di bawah sorotan cahaya lentera, tampaklah sebuah kuil yang amat kecil sekali bentuknya. Ia sampai juga akhirnya di kuil Liong- ong-bio.
Walaupun sudah sampai di kuil Liong-ong bio, tapi siapakah yang memasang lampu dalam kuil
itu?

Kenapa secara tiba-tiba ia menyulut begitu banyak lampu dalam ruang kuil itu ?

Si kakek bungkuk, si hwesio berkaki tunggal ditambah si manusia muka bopeng, bukan saja cara kerja ketiga orang ini amat misterius, asal-usulnya juga sukar ditebak.

Kalau dilihat ilmu silat yang mereka miliki, sudah pasti orang itu merupakan jago kelas satu di dunia persilatan.

Tapi justru ia belum pernah mendengar tentang mereka, seakan-akan ke tiga orang itu sama sekali tak punya nama.
Dalam kuil itu di sulut tujuh buah lentera, namun tak nampak sesosok bayangan manusiapun. Kalau toh orang itu menyulut lampu, kalau toh meminta Kwik Tay-lok mencarinya kesana,
kenapa ia sendiri pergi meninggalkan tempat itu.....



Kwik Tay-lok celingukan kesana kemari seperti seorang pelancong saja, santai sekali gerak geriknya.
 
Padahal rasa tegang yang menyelimuti hatinya benar-benar tak terlukiskan dengan kata.

Manusia bermuka bopeng itu dapat berbuat demikian kepadanya, sudah barang tentu bukan lantaran cuma bermain-main saja.

Siapapun tak akan membuang banyak pikiran dan menghamburkan banyak uang hanya bermaksud untuk bergurau saja.

Sekarang Kwik Tay-lok tinggal menunggu dia menampakkan diri dan menyebutkan asal- usulnya dan mengutarakan maksud serta tujuannya.
Sudah pasti detik-detik itu merupakan saat yang paling berbahaya dan paling mengerikan. Siapa tahu kalau pada saat itulah merupakan detik-detik yang akan menentukan mati hidup
Kwik Tay-Lok?

Menanti memang merupakan suatu kejadian yang paling menyiksa, apalagi ia tidak tahu apa yang sedang dinantikan olehnya.

Baru saja Kwik Tay-lok menghela napas panjang, lentera di atas meja telah padam.

Padahal di sana tak ada angin, tapi anehnya kenapa lentera yang sedang bersinar terang bisa padam dengan sendirinya ?

Kwik-Tay-lok mengerutkan dahinya rapat-rapat dan berjalan menghampirinya untuk memeriksa dengan seksama, dengan cepat ia menemukan kalau sebab padamnya lentera itu tak lain karena minyak dalam lentera itu telah mengering..

Walaupun lentera itu padam sendiri, tapi di bawah meja seakan-akan ada semacam benda yang sedang bergerak tiada hentinya dan gemetar tiada hentinya, Kwik Tay-lok segera mundur tiga langkah ke belakang, kemudian, dengan suara dalam, bentaknya.

"Siapa di situ ?"

Tiada jawaban, namun benda yang ada di bawah meja itu gemetar semakin keras, sehingga tirai di belakang meja pun turut bergelombang keras.

Tiba-tiba Kwik Tay lok menerjang ke muka dan menyingkap kain tirai tersebut. Tapi dengan cepat ia menjadi tertegun.
Ditempat yang begini gelap, ditempat sepi dan terpencil seperti ini... ternyata di bawah meja sembahyang yang sudah kuno dari kuil Liong-ong-bio yang misterius, terdapat seorang nona yang berusia enam atau tujuh belas tahun yang cantik jelita.

Gara-gara untuk sampai di situ, entah berapa banyak manusia aneh dan kejadian aneh yang telah dijumpai Kwik Tay-lok, bahkan hampir saja dia pertaruhkan selembar jiwanya.

Andaikata di bawah meja itu tersembunyi suatu jebakan yang bagaimanapun bahaya dan mengerikannya, dia pasti tak akan merasa keheranan.

Tapi, mimpipun dia tak mengira kalau orang yang dijumpainya ternyata adalah seorang nona cilik.
 
Nona itu tampak begitu kecil dan ramping, begitu mengenaskan, pakaian yang dikenakan amat tipis dan minim.

Sekujur tubuhnya gemetar keras, entah karena kedinginan atau karena ketakutan.

Menyaksikan kemunculan Kwik Tay-lok dia gemetar makin keras lagi, sepasang tangannya melindungi dada sendiri dan menyusutkan tubuhnya menjadi satu, sepasang matanya yang jeli memancarkan sinar kaget, takut dan mohon kasihan, dengan susah payah dia mengucapkan beberapa patah kata:

"Kumohon kepadamu, ampunilah aku...?"

Kwik Tay-lok masih berdiri tertegun di sana, entah lewat berapa lama kemudian dia baru bisa berbicara lagi.

"Siapa kau? Kenapa datang ke tempat ini?"

Nona cilik itu pucat pias seperti mayat karena ketakutan, katanya dengan suara gemetar: "Kumohon kepadamu.... ampunilah aku..."
Jelas nona itu dibikin ketakutan setengah mati sehingga sukmapun serasa melayang meninggalkan raganya, kecuali dua kata tadi, dia sudah tak dapat mengucapkan kata-kata lain.

Kwik Tay-lok menghela napas panjang:

"Kau tak usah memohon kepadaku, aku bukan datang kemari bukan untuk mencelakai dirimu."

Nona cilik itu segera melotot ke arahnya, lewat lama kemudian pelan-pelan dia baru sadar kembali, ujarnya:

"Apakah kau... kau bukan orang itu?" "Siapa maksudmu ?"
"Orang yang membelenggu aku di sini ?"

"Tentu saja bukan." jawab Kwik Tay-lok sambil tertawa getir. "Masa siapa yang membelenggu dirimu ditempat inipun tidak kau ketahui ?"

"Aku. aku sama sekali tidak melihat wajahnya." sahut nona kecil itu sambil menggigit bibir.

"Lantas, bagaimana kau bisa sampai di sini?"

Sepasang mata nona kecil itu berubah menjadi merah, seakan-akan tiap saat kemungkinan besar akan menangis.

Buru-buru Kwik Tay-lok berkata lagi:

"Aku toh sudah bilang, tak nanti akan kuusik dirimu, maka sekarang kaupun tidak usah takut lagi, ada persoalan, dibicarakan pelan-pelan juga tak menjadi soal."

Kalau dia tidak berusaha untuk menghibur masih mendingan, begitu ucapan tersebut diutarakan, kontan saja nona cilik itu menutup wajahnya dan menangis tersedu- sedu.
 
Kwik Tay-lok menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Bila ingin membuat nona cilik yang berusia enam atau tujuh belas tahun menangis tersedu- sedu, setiap apapun bisa melakukannya dengan segera.



Tapi bila menyuruh dia jangan menangis, maka hal ini hanya bisa dilakukan oleh lelaki yang berpengalaman saja.

Dalam bidang ini, pengalaman dari Kwik Tay-lok tidak termasuk matang.

Oleh sebab itu dia hanya bisa mengawasinya dari samping dengan wajah termangu-mangu. Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya nona itu menghentikan juga isak tangisnya.
Kwik Tay lok segera menghembuskan napas lega, katanya dengan suara yang lembut: "Masa kau sendiripun tak tahu bagaimana ceritanya sehingga kau bisa sampai di sini?" Nona cilik itu mash menutupi wajahnya rapat-rapat, katanya kemudian dengan lirih:
"Aku telah tertidur nyenyak, ketika mendusin, secara tiba-tiba tahu-tahu aku telah berada di sini !"

"Setelah kau sadar kembali, apakah di tempat ini tiada orang lain ?" "Bukan saja tak ada orang, bahkan setitik cahaya lenterapun tak ada. "
"Jadi kau yang telah memasang semua lampu di sini ?"

"Tempat ini mana gelap, dinginnya setengah mati, aku benar-benar sangat takut, untung saja di atas meja kutemukan batu api. "

Di atas meja dekat lentera, memang benar-benar terdapat batu api.

"Oleh karena itu, kaupun menyulut semua lampu yang berada di sini?" tanya Kwik Tay-lok. Nona cilik itu manggut-manggut.
Akhirnya Kwik Tay-lok berhasil juga memahami akan satu hal, tapi tak tahan dia bertanya lagi:

"Tadi, di sini kan tak ada seorang manusia pun, kenapa kau tidak menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri?"

Sebenarnya aku memang ingin melarikan diri, tapi baru melangkah keluar dari pintu kulihat suasana di luar sana gelap dan dingin, aku.. aku. selangkah pun aku tak berani melangkah keluar
!"

Sampai kini, tubuhnya masih gemetar keras, namun ucapannya toh bisa juga didengar dengan jelas.

Seorang gadis pingitan yang belum pernah keluar rumah, tiba-tiba menemukan tubuhnya berada dalam sebuah kuil bobrok setelah sadar dari tidurnya, belum menjadi gila pun karena ketakutan sudah termasuk suatu kejadian yang aneh.
 
Kwik Tay-lok memperhatikan wajahnya dengan sorot mata yang penuh kasih sayang.

Walaupun tangannya masih menutupi wajahnya, namun matanya sedang diam-diam mengintip wajah Kwik Tay-lok lewat celah-celah jari tangannya.

Tampaknya Kwik Tay-lok tidak mirip dengan tampang seorang manusia yang jahat. bukan
cuma tidak mirip, dia memang bukan.

Sebenarnya dia ingin membimbing gadis itu bangun dari kolong meja, tapi baru saja tangannya dijulurkan, dengan cepat dia telah menariknya kembali.

Sekalipun wajahnya tampak lemah lembut namun kematangan tubuhnya ternyata cukup menggiurkan hati orang.

Pakaian yang dikenakan sebenarnya memang amat minim sekali hingga tampaknya mengenaskan.

Apalagi tangannya digunakan untuk menutupi wajah sendiri, sudah barang tentu dia tak dapat menutupi bagian tubuh lainnya lagi.

Cahaya lampu masih bersinar dengan amat jelas.

Bukan saja Kwik Tay-lok tak berani mengulurkan tangannya, memandang sekejap ke arahnyapun tak berani.

Pada saat itulah, lentera yang lain tiba-tiba menjadi padam.

Lentera yang ketiga padam lebih cepat lagi, agaknya minyak yang ada dalam lentera tersebut sudah habis semua.

Dalam waktu singkat, tujuh buah lentera sudah padam semua.

Nona cilik itu menjerit kaget, kemudian menubruk ke dalam pelukan Kwik Tay-lok.

Dalam kegelapan, tiba-tiba si nona cantik yang berbaju minim itu menubruk ke dalam pelukan Kwik Tay-lok, kejadian ini segera membuat deburan jantungnya dua kali lipat lebih cepat.

Dengan cepat dia memperingatkan kepada diri sendiri:

"Kau adalah manusia, bukan binatang, jangan sekali kau memancing dalam air keruh, jangan sekali-kali kau lakukan perbuatan itu. "

"Bukan cuma tak boleh dilakukan, untuk dipikirkan saja tak boleh, kalau tidak bukan saja kau akan malu terhadap diri sendiri, juga malu terhadap Yan Jit!"

Dalam hatinya dia berusaha keras untuk memperingatkan diri sendiri, sambil selalu pula mengendalikan diri, tapi banyak bagian tubuh seorang manusia yang tak mungkin bisa dikendalikan semua dengan sebaik-baiknya.

Salah satu diantaranya adalah hidung.

Bau harum gadis perawan yang aneh dan khas serta bau harum rambut yang terhembus lewat, mengikuti dengusan napasnya menerobos masuk ke dalam hatinya.
 
Ini ditambah pula dengan tubuh yang lembut, halus dan hangat yang berada dalam pelukannya apa lagi di ruangan yang gelap gulita seperti itu, betul-betul mendatangkan suatu perasaan yang aneh sekali.

Jangan manfaatkan kesempatan di kamar gelap, ucapan ini kedengarannya memang amat sederhana, namun dalam kenyataannya hanya orang yang pernah mengalami keadaan seperti itu saja yang mengetahui bahwa keadaan tersebut sebetulnya tidak mudah.

Kwik Tay-lok bukan seorang nabi, bukan seorang dewa, kalau dibilang dia sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan ini boleh dibilang bohong.



Tapi ada suatu ada kekuatan yang jauh lebih besar lagi yang membuat dia mampu untuk mengendalikan diri.

Kekuatan tersebut bukan ajaran agama adat atau kesopanan, juga bukan lain-lainnya, melainkan rasa cintanya yang tebal dan mendalam terhadap Yan-Jit..

Dia sama sekali tidak mendorong tubuh nona cilik itu. Dia tidak tega berbuat demikian.
Nona cilik itu melingkar didalam pelukannya, seperti seekor burung dara yang baru saja mendapat kekagetan yang hebat, kemudian menemukan suatu tempat yang aman.

Dengan halus Kwik Tay-lok merangkul bahunya, lalu berkata dengan suara lembut: "Kau tak usah takut, mari ku antar kau pulang ke rumah."
"Sungguh ?"

"Tentu saja sungguh, bahkan sekarang juga aku mau mengantar kau pulang."

"Tapi... ditengah malam buta begini kau datang kemari sudah pasti ada urusan penting yang hendak dikerjakan, mana boleh kau kesampingkan persoalanmu dan malahan hendak mengantarku pulang!"

Diam-diam Kwik Tay-lok menghela napas panjang.

Bukan suatu yang gampang baginya untuk mencapai tempat tersebut, bila ia disuruh berlalu dengan begitu saja, sebetulnya dia merasa sangat tidak rela.

Siapa tahu kalau si orang bermuka bopeng itu akan datang, setiap waktu, siapa tahu kalau setiap saat dia bakal memperoleh kabar berita dari Yan Jit.

Tapi sekarang, tampaknya dia sudah tidak mempunyai pilihan lain lagi. Ditepuknya bahu nona cilik itu, kemudian ujarnya:
"Sekarang fajar sudah hampir menyingsing bila orang tuamu mengetahui kalau kau lenyap, hati mereka sudah pasti akan sangat cemas. Bila orang lain tahu kalau semalaman kau tidak pulang, entah berapa banyak kata iseng yang bakal mereka lontarkan, sekarang usiamu masih kecil, mungkin belum kau ketahui sampai dimanakah mengerikannya kata-kata iseng tersebut, tapi aku tahu dengan jelas."
 
Kata-kata iseng macam begitu selain dapat merusak nama baik seseorang, bahkan akan menghancurkan pula seluruh kehidupannya.

Berpikir sampai di sini, Kwik Tay-lok semakin bulatkan tekadnya, dengan cepat dia berseru: "Oleh sebab itu, sekarang juga aku harus menghantarkanmu pulang ke rumah. "
Mendadak nona cilik itu memeluknya erat-erat, sampai lewat lama kemudian, dia baru berbisik lembut:

"Kau sungguh baik sekali, belum pernah kujumpai orang sebaik dirimu itu !"

"Rumahku berada didalam gang kecil di depan sana, belok ke kanan rumah ketiga, di depan pintu yang tumbuh pohon liunya itu."

Gang itu amat tenang dan sepi...

Sinar terang baru saja muncul di ufuk sebelah timur dan menyinari embun yang berada di atas ubin hijau.

Kwik Tay-lok berbisik lembut:

"Mereka pasti belum tahu kalau kau telah lenyap, dapatkah kau menyusup masuk ke dalam tanpa sepengetahuan mereka ?"

Nona cilik itu manggut-manggut.

"Aku bisa masuk lewat pintu belakang, kamarku beradu di sebelah sana. " katanya.

"Lebih baik kau tidur di kamar lain saja, lebih baik lagi jika mencari seorang pembantu setengah umur untuk menemani kau tidur."

Setelah berpikir sebentar, dia menambahkan:

"Dua malam berikutnya bisa saja aku menengokmu dari sekitar tempat ini, siapa tahu akupun bisa membantumu untuk menyelidiki siapa gerangan orang yang telah melarikan dirimu itu."

Sinar mata hari fajar yang memancar dari ufuk timur, sudah menyinari butiran keringat-keringat di atas wajahnya, butiran keringat itu berkilat seperti butiran mutiara.

Di atas wajahnyapun seakan-akan tampak cahaya berkilauan.
Nona cilik itu mendongakkan kepalanya memperhatikan wajahnya, tiba-tiba ia berkata: "Kenapa kau tidak bertanya siapa namaku? Apakah kau sudah tak akan datang lagi untuk
menengok diriku?"

Kwik Tay-lok tertawa paksa, sahutnya dengan lembut:

"Aku hanya seorang gelandangan, lagi pula seorang yang sangat berbahaya, bila kau sampai melakukan hubungan denganku, sudah pasti banyak orang yang akan membicarakan kita berdua."

"Aku tidak takut" seru nona cilik itu cepat.
 
"Tapi aku takut."

"Apa yang ditakuti?" seru si nona sambil mengedipkan matanya berulang kali. Kwik Tay-lok tidak menjawab, kembali dia menepuk bahunya sembari berkata:
"Selanjutnya kau bakal tahu apa yang sesungguhnya kutakuti, sekarang cepat-cepatlah kembali ke kamarmu dan tidur baik-baik, paling baik lagi bila kau dapat melupakan kejadian yang kau alami pada hari ini."

Nona cilik itu menundukkan kepalanya rendah-rendah, lewat lama kemudian dia baru berkata lembut:

"Setelah keluar dari gang ini, paling baik kalau kau berbelok ke kanan saja." "Mengapa !"
Nona cilik itu tidak menjawab pertanyaannya, mendadak ia mendongakkan kepalanya dan berkata sambil tersenyum.

"Kau benar-benar seorang yang baik, orang baik selamanya tak pernah kesepian."

Fajar telah menyingsing. Fajar dipermulaan musim panas terasa amat segar, tapi ketika angin berhembus lewat, maka terasa hawa dingin yang mencekam.



Tapi perasaan Kwik Tay-lok terasa hangat dan nyaman. Sebab dia tahu bahwa dirinya sama sekali tidak merugikan orang lain, tidak merugikan sahabat-sahabat yang baik kepadanya, juga tidak merugikan diri sendiri.

Siapapun itu orangnya, bila ia dapat berbuat demikian pula, maka hal tersebut boleh dibilang tidak gampang.

Dia mendongakkan kepalanya sambil melemaskan pinggang, kemudian menghembuskan napas panjang.

"Hari ini benar-benar hari yang panjang"

Setiap kejadian yang dialaminya hari ini, hampir boleh dibilang semuanya merupakan peristiwa yang sama sekali di luar dugaan.

Si manusia bermuka bopeng yang misterius, si kakek bungkuk yang tiba-tiba lenyap dibalik kegelapan, si hwesio berkaki tunggal yang berilmu tinggi dan mempunyai asal usul yang misterius, serta si nona kecil yang menyenangkan tapi mengenaskan itu.

Kehadiran serta kemunculan orang-orang itu, boleh dibilang semuanya jauh di luar dugaannya.

Diapun telah mengalami banyak mara bahaya, menerima banyak kemangkelan dan rasa mendongkol, namun tak setitik beritapun tentang Yan Jit yang berhasil diperolehnya.

Namun dia sudah mendapatkan suatu hasil yang lumayan.

Sekalipun dia tidak mengharapkan balas jasa dari orang lain terhadap perbuatannya yang telah dilakukannya, namun hatinya terasa begitu hangat dan gembira.
 
Orang baik selamanya tak akan kesepian, orang yang berbuat kebajikan akan selalu memperoleh rejeki.

"Setelah keluar dari gang ini, lebih baik kau belok ke kanan."

Kwik Tay-lok tidak mengerti kenapa dia diminta untuk berbuat demikian, tapi dia toh belok juga ke sebelah kanan.

Dengan cepat dia menemukan sebuah kejadian yang aneh sekali. Fajar telah menyingsing.
Kabut pagi baru saja menguap dan menyelimuti sebuah jalanan yang berbatu. Jalan itu amat sempit.

Kwik Tay-Iok berjalan maju menuju ke lorong itu dan belok ke kanan, dengan cepat ia menemukan sebuah gedung yang terasa amat dikenal olehnya.

Artinya dia pernah berkunjung ke gedung itu.

Tapi dalam kota tersebut hampir boleh dibilang tidak seorang manusiapun yang dikenal, apalagi gedung rumah kediaman yang pernah dikenal olehnya..

Tapi, dengan cepat ia menjadi teringat kembali, rupanya gedung itu tak lain adalah gedung yang diterobosinya ketika sedang mengejar si manusia muka bopeng pagi tadi.

Sekarang, didalam gedung itu sudah tidak nampak cahaya lentera lagi.

Sang suami yang kurus berwajah kuning itu apakah sedang melakukan pekerjaan yang membuatnya menjadi kurus dan berwajah kekuning-kuningan itu?

Sebenarnya Kwik Tay-lok memang berniat untuk melakukan penggeledahan dalam gedung itu bila malam telah tiba dan mencoba untuk memeriksa apakah si bopeng akan muncul di situ.

Tapi sekarang niat tersebut harus diurungkan.

Dia maju lagi ke depan, kemudian berbelok kesana.

Jalanan dalam lorong itu beralaskan batu hijau yang diatur sangat rapi, kelihatannya jauh lebih bersih dan rapi daripada gang-gang yang lainnya. Sekarang fajar telah menyingsing, ternyata dalam gang tersebut masih ada beberapa buah lampu yang dipasang.

Ketika ia membaca tulisan yang berada diantara dua buah lentera, sepasang matanya segera bersinar terang.

"Liu-hiang-wan."

Ternyata tempat tinggal nona Bwe Lan letaknya juga berada didalam lorong tersebut.

Cuma sayang saat ini bukan saat yang paling tepat untuk mencari kesenangan, mungkin saja lengan nona Bwe Lan yang halus masih menjadi alas kepala orang lain.

Sekalipun Kwik Tay-lok adalah seorang lelaki yang suka bermain perempuan, tentu saja dia enggan merusak suasana kegembiraan orang lain dalam keadaan seperti ini.
 
Tapi dalam hati kecilnya seakan-akan telah timbul suatu perasaan yang istimewa, seakan- akan seorang penyair yang tiba-tiba tertarik oleh sepatah kata dalam syairnya.

Dia berjalan lebih cepat lagi, lalu berbelok pula ke sebelah kanan.

Tempat itu berada di tepi jalan raya, setelah menelusuri jalanan itu sejauh beberapa puluh langkah, dia telah tiba di toko penjual bahan makanan tersebut, juga menyaksikan papan nama Hwee-peng-to yang berada di seberang jalannya.

Di tepi jalan terdapat beberapa buah bangku yang terbuat dari batu, Kwik Tay-lok duduk diatasnya dan termenung.

Seandainya tempat tinggal dari nona kecil itu disebut sebagai deretan pertama. Kemudian tempat tinggal sepasang suami istri itu dianggap deretan yang kedua. Deretan rumah dari sarang pelacuran Liu-hiang-wan disebut deretan ke tiga.
Selanjutnya warung penjual bahan makanan itu sudah pasti merupakan deretan ke empat.

Ke empat deret rumah itu sudah pasti semuanya mempunyai hubungan yang erat dengan si manusia bermuka bopeng itu.

Seandainya si manusia yang bermuka bopeng itu tidak menyuruhnya ke kuil Liong-ong bio, mana mungkin bisa berjumpa dengan nona cilik itu?

Peristiwa ini sebetulnya hanya satu kebetulan? Ataukah memang sengaja diatur demikian?

Kenapa nona cilik itu meminta kepadanya lebih baik belok ke kanan setelah keluar dari gang tersebut?



Mungkin karena dia mengetahui suatu rahasia yang tidak leluasa untuk diutarakan maka dia baru memberi petunjuk kepadanya?

Benarkah ia sengaja bersembunyi di bawah meja, sengaja berbuat sesuatu agar jejak di ketahui oleh Kwik Tay-lok?

Apakah semua ini peristiwa ini merupakan suatu rencana yang sengaja diatur oleh si bopeng...
Dia berbuat kesemuanya itu Sebetulnya karena apa dan apa pula tujuannya?

Kwik Tay-lok segera bangkit berdiri dan sekali lagi berjalan menelusuri semua jalanan yang baru saja dilewatinya.

Ternyata ke empat baris rumah itu tak lebih membentuk suatu posisi segi empat.

Di jalanan kota manapun juga, rumah yang berada pada deretan depan pasti akan saling menempel dan bertolak belakang dengan deretan rumah yang ada di belakangnya.

Tapi kenyataannya sekarang, deretan rumah pertama dengan rumah deretan ketiga sama sekali tidak saling bersinggungan, malahan diantara kedua deret bangunan itu terdapat suatu jarak yang cukup lebar.
 
Demikian pula keadaannya dengan deretan rumah kedua dengan ke empat, diantaranya terdapat suatu jarak yang amat lebar.

Atau dengan perkataan lain, ditengah-tengah lingkaran rumah yang dikelilingi ke empat deret rumah itu pasti terdapat sebuah tanah kosong yang cukup luas.

Mendadak Kwik Tay-lok merasakan jantungnya berdebar amat keras.

"Ke empat deret rumah itu sengaja dibangun macam ini, apakah dibalik kesemuanya itu tidak terdapat sesuatu alasan yang tertentu ?"

Untuk memperoleh jawaban, hanya ada satu macam cara yang bisa dilakukan.

Kwik Tay-lok segera melejit ke udara dan melayang naik ke atas atap rumah toko penjual bahan makanan itu..

Bagian depan gedung penjual bahan makanan itu merupakan toko, di belakangnya terdapat sebuah halaman.

Di kedua belah sisi halaman merupakan deretan kamar, agaknya tempat tidur pemilik toko itu, sedang dibagian belakang adalah gudang tempat menimbun barang.

Ke belakang lagi sana, sebenarnya tidak seharusnya ada rumah lainnya, sebab menurut keadaan pada umumnya, tempat itu merupakan bagian dari bangunan rumah pendeta lain.

Kini Kwik Tay-lok sudah berada di atas rumah bangunan terakhir dari toko penjual bahan makanan itu, benar juga, dia segera menemukan ditengah+tengah antara ke empat deret bangunan rumah yang berbentuk segi empat itu, betul-betul masih terdapat gedung lain.

Ke empat deret bangunan rumah yang berada di empat penjurunya seakan-akan merupakan dinding pekarangan yang di empat penjuru serta mengelilingi gedung tadi, itulah sebabnya gedung itu tidak mempunyai jalan lewat juga tidak memiliki pintu gerbang.

Dikolong langit, mana ada orang yang membangun rumahnya dalam keadaan seperti ini ? Bila gedung ditengah tersebut dilewati maka kita akan sampai ditempat tinggal sepasang suami istri itu, yakni bangunan rumah yang berada pada deretan kedua.

Bilamana tidak diperhatikan dengan seksama, siapapun akan mengira kalau rumah tersebut berhubungan langsung dengan rumah lain, sekalipun ada orang yang berjalan malam lewat di sana, merekapun tak akan menemukan keanehan dari rumah ini.

Tapi sekarang, Kwik Tay -lok telah menemukannya. Jangan-jangan pemilik rumah itu adalah si burik?
Untuk membangun rumahnya ditempat semacam ini, tentu saja banyak tenaga yang di butuhkan dan banyak uang yang dihamburkan, tapi apakah tujuannya ?

Jangan-jangan dia seperti juga si hwesio berkaki tunggal, mempunyai rahasia yang tak boleh diketahui orang lain? Ataukah karena dia lagi menghindarkan diri dari pengejaran musuh- musuhnya yang tangguh, maka terpaksa ia membangun sebuah rumah yang tersembunyi sekali letaknya. ."
 
Gedung itu memang terletak paling tersembunyi, belum pernah ia jumpai bangunan yang tersembunyi seperti ini, akan tetapi... mengapa pula mereka biarkan Kwik Tay-lok menemukan rahasia ini tanpa sengaja?

Kalau ia tidak membocorkan sendiri jejaknya, sudah pasti Kwik Tay-lok tak akan menemukan tempat ini.

Berpikir pulang pergi, Kwik Tay-lok merasa makin dipikir persoalan ini bukan saja semakin aneh dan penuh kemisteriusan, lagi pula ruwet sekali...

Hanya ada satu cara saja untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Yakni melompat turun ke bawah.
Diantara gudang bahan makanan dan gudang tersebut dipisahkan oleh sebuah dinding pekarangan yang tinggi, dibalik pekarangan terdapat sebuah kebun bunga yang sempit dan memanjang.

Sekarang bunga-bunga mekar, akan tetapi di fajar itu menyiarkan bau harum yang semerbak.

Setelah melewati kebun sempit yang memanjang, sampailah dia di sebuah serambi yang panjang, cahaya sang surya di fajar itu menyoroti lantai rumah yang bersih tanpa debu.

Suasana di sekeliling tempat itu amat sepi, tak kedengaran sedikit suarapun. Bahkan angin pun tak dapat berhembus sampai ke situ.
Semua kemurungan, budi dendam, kegembiraan, kesedihan, kemarahan dalam alam dunia seakan-akan sama sekali terpisah dari tempat itu.

Hanya manusia yang berperasaan tenang bagaikan air saja yang dapat berdiam di sini, baru pantas untuk mendiami tempat ini.

Manusia burik itu bukan manusia semacam itu, jangan-jangan Kwik Tay-lok salah melihat?
Salah berpikir?

Hampir saja dia tak tahan untuk mundur kembali dari sana.



Tapi pada saat itulah, dia menyaksikan seseorang berjalan keluar dari ujung serambi itu.

Dia adalah seorang gadis yang cantik jelita, mengenakan baju berwarna putih, tidak memakai bedak, kakinya hanya berkaos putih tanpa sepatu, seakan-akan kuatir kalau langkah kakinya akan mengganggu keheningan ditempat itu.

Dia membawa sebuah bokor porselen dan berjalan menelusuri serambi panjang itu tanpa menimbulkan sedikit suarapun.

Seandainya ia tidak-berpaling secara tiba-tiba dan mengerling sekejap ke arah Kwik Tay lok, hampir saja Kwik Tay-lok tidak mengenalinya kembali.

Ternyata gadis yang halus, berdandan sederhana dan lemah lembut ini tak lain adalah nona Bwee Lan yang dijumpainya dengan dandanan seperti siluman beberapa waktu berselang.
 
Dia hanya berpaling dan memandang sekejap ke arahnya, walaupun dengan jelas menjumpai kehadiran Kwik Tay-lok di sana, tapi seakan-akan pula tidak melihatnya, kembali kepalanya tertunduk, pula dengan tenangnya melanjutkan perjalanan ke depan.

Hampir saja Kwik Tay-lok berteriak hendak memanggilnya.

Tapi untung saja hal ini segera diurungkan, sebab ia tak berani berteriak-teriak di tempat ini, kuatir kalau sampai mengganggu ketenangan di sana.

Dia hanya berdiri tertegun di situ sambil mengawasi tak berkedip.

Bwee Lan telah mendorong sebuah pintu dan berjalan masuk, ia tidak berbicara ataupun menimbulkan suara apa-apa.

Gedung itu masih tetap sepi, tidak kedengaran suara, tiada pula sesuatu gerakan apa-apa.

Tempat ini sudah jelas merupakan tempat terlarang yang tidak memperkenankan orang lain untuk memasukinya, dengan jelas Kwik Tay-lok berdiri tegak di sana, tapi justru tak ada orang yang memperdulikannya, seakan-akan di tempat ia sedang berdiri itu tiada kehadiran dirinya, atau seakan-akan dirinya bukan dianggap sebagai manusia.

Sesungguhnya siapakah yang berdiam dalam gedung itu ? Apa pula maksud dan tujuan mereka terhadap dirinya?

Kwik Tay-lok termangu-mangu untuk beberapa saat lamanya, mendadak ia maju ke depan lalu menelusuri serambi tersebut dengan langkah lebar.

Perduli manusia kek, setan kek yang menghuni dalam gedung itu, pokoknya dia harus memeriksanya sendiri.

Tapi baru selangkah dia maju, cepat-cepat kakinya ditarik kembali. Ia telah melihat lumpur di atas kakinya.

Permukaan lantai pada serambi ruangan itu bersih dan berkilat seperti cermin, bila harus diinjak dengan kaki berlumpur seperti itu bukan saja ia merasa tak tega, bahkan merasa agak rikuh.

Cepat-cepat sepatunya yang penuh lumpur itu dilepas, kaos kakinya masih bersih, meski agak bau, ia tidak memperdulikan persoalan-persoalan semacam itu. Maka diapun melanjutkan perjalanan ke depan, mendorong pintu ruangan tersebut.

Ternyata ruangan itu kosong melompong apapun tak ada di sana, tiada pembaringan, tiada meja kursi, tiada perabotan yang lain, juga tak ada debu barang sedikitpun.

Di atas tanah tampak rumput kering yang amat tebal, di atas rumput kering itu diberi sebuah seprai berwarna putih, seorang sedang berbaring di sana.

Ruang itu penuh dengan bau obat, rupanya orang itu sudah mendapat penyakit yang parah..

Kwik Tay-lok sama sekali tidak melihat paras mukanya, sebab nampak seorang gadis berbaju putih yang berambut panjang sedang berlutut di sisinya dan pelan-pelan menyeduh obat ditangan Bwee Lan dan menyuapi orang itu.

Kwik Tay-lok juga tak berhasil melihat wajah gadis itu, sebab dia berada dalam posisi membelakanginya.
 
Hanya Bwee Lan yang sedang berdiri menghadap ke arahnya, bahkan walaupun dengan jelas ia menyaksikan pemuda itu mendorong pintu dan berjalan masuk, tapi mimik wajahnya justru tidak menampilkan perubahan apa-apa, seolah-olah dia tidak menganggap dirinya sebagai manusia hidup.

Kwik Tay-lok merasakan jantungnya berdebar keras, kalau boleh dia ingin menyerbu ke dalam, menarik rambutnya dan bertanya kepadanya apakah matanya berada di atas kepala?

Tapi suasana dalam gedung itu benar-benar teramat hening, sedemikian heningnya seperti berada di kuil yang suci saja membuat orang tak berani sembarangan bertingkah di sana.

Hampir saja Kwik Tay-lok tidak tahan untuk mengundurkan diri kembali dari sana.

Orang yang hendak dicarinya tidak berada di sana apalagi suasana semacam itu paling mendatangkan perasaan tak enak baginya.

Siapa tahu, pada saat itulah si nona berbaju putih yang berambut panjang itu telah berseru dengan suara dalam:

"Cepat masuk, tutup pintu rapat-rapat, jangan biarkan angin berhembus ke dalam."

Kalau didengar dari nada ucapan tersebut seakan-akan ia sudah tahu akan kehadiran Kwik Tay-lok sebagai keluarganya sendiri, dia pun seakan-akan telah menganggap Kwik Tay-lok sebagai keluarganya sendiri.

Hampir saja Kwik Tay-lok merasakan jantungnya berhenti berdetak.. Bagaimana tidak? Sudah jelas suara itu adalah suara dari Yan Jit.
Tak ada orang yang bisa membayangkan betapa besarnya keinginan pemuda itu untuk memandang wajahnya.

Mungkinkah gadis berbaju putih berambut panjang yang berada di hadapannya sekarang adalah Yan Jit?

Pintu telah ditutup rapat-rapat.

Tapi Kwik Tay-lok masih berdiri mematung di sana, matanya terbelalak lebar-lebar, ia sedang mengawasi gadis berbaju putih itu tanpa berkedip.



Apa yang bisa dilihat olehnya hanya bayangan punggungnya.

Bayangan punggungnya langsing dan kurus, rambutnya hitam pekat dan terurai di sepanjang bahunya.

Kwik Tay-lok menggenggam tangannya kencang-kencang, mulutnya terasa mengering, jantungnya melompat-lompat seperti akan melompat keluar dari rongga dadanya.

Dia ingin sekali menerjang ke depan, menarik bahunya agar dia memalingkan kepalanya. Namun ia tak dapat berbuat apa-apa, dia hanya bisa berdiri mematung di situ.
 
Sebab dia tak berani, tak berani mengganggu ketenangan tempat itu, tak berani menodai kesucian tempat tersebut, lebih-lebih lagi tak berani mengusik dia.

Akhirnya si sakit itu telah menghabiskan obat dalam mangkuk dan berbaring kembali.

Sekarang Kwik Tay-lok sudah dapat menyaksikan rambutnya yang telah memutih itu, namun belum sempat menyaksikan raut wajahnya.

Dia masih berlutut di sisinya, pelan-pelan meletakkan mangkuk ke tanah, menarikkan selimut dan menutupi badannya, jelas terlihat betapa kasih sayang dan hormatnya gadis tersebut terhadap si sakit.

Seandainya Kwik Tay-lok tidak melihat kalau rambutnya telah memutih semua, sudah pasti dia akan merasa cemburu sekali.

Siapakah kakek itu ? Mengapa gadis itu begitu sayang dan penuh perhatian kepadanya? Terdengar kakek itu terbatuk-batuk, setelah itu tiba-tiba bertanya:
"Apakah dia telah datang ?"

Gadis berbaju putih itu manggut-manggut. "Suruh dia kemari" kata kakek itu lagi.
Walaupun suaranya parau dan lemah akan tetapi membawa kewibawaan yang besar sekali, membuat orang terasa tak berani membantahnya. Pelan-pelan akhirnya gadis berbaju putih itu berpaling juga.

Akhirnya Kwik Tay-lok dapat melihat raut wajahnya.

Pada detik itu juga, dia merasa semua benda yang berada didalam jagad ini seakan-akan telah terhenti dan musnah.

Pada detik itu juga, dia merasa di alam semesta yang lebar ini seolah-olah hanya terdapat mereka berdua, dua pasang mata.

"Yan Jit.... Yan Jit. "

Kwik Tay-lok berpekik dalam hatinya, sementara air matanya jatuh bercucuran dengan amat derasnya.

Teriakan itu tanpa suara, tapi gadis itu seakan-akan dapat mendengarnya dan hanya dia pula yang dapat mendengarnya.

Butiran air mata telah membasahi pula sepasang mata dara itu. Setelah melalui suatu penderitaan yang berat, akhirnya ia berhasil menemukan kembali gadis itu.

Dalam keadaan demikian, bagaimana mungkin air matanya tidak bercucuran ? Darimana kau bisa tahu air mata kesedihan? Ataukah air mata kegembiraan ?

Tapi akhirnya dia menahan lelehan air matanya.

Kecuali gadis itu, dia tak ingin orang lain turut menyaksikan air matanya bercucuran.
 
Tapi ia tak tahan untuk tidak melihat wajahnya lagi.

Wajah gadis itu sudah bukan wajah yang tiga bagian membawa kelincahan, serta tiga bagian membawa kebinalan lagi.

Raut wajahnya sekarang hanya tinggal pancaran rasa cinta yang sejati.

Wajahnya sekarang sudah bukan wajah yang meski kotor namun gagah, segar dan penuh dengan kegembiraan lagi.

Wajahnya sekarang adalah wajah yang pucat, lesu dan begitu cantiknya hingga membuat hati orang hancur luluh.

Jelas dia sendiripun telah mengalami banyak percobaan, banyak siksaan dan penderitaan. Satu-satunya yang tidak berubah adalah sepasang matanya.
Sepasang matanya masih nampak begitu jeli, begitu keras dan teguh.

Tapi, apa sebabnya ia menundukkan kepala ? Apakah air matanya sudah tak tahan untuk meleleh keluar?

Kakek itu kembali berbatuk-batuk pelan.

Akhirnya ia menyeka air matanya secara diam-diam, mengangkat kepalanya dan menggape ke arah Kwik Tay-lok.

"Kau kemarilah !" dia berbisik.

Sepasang mata Kwik Tay-lok masih menatap wajahnya tak berkedip, seakan-akan kena di hipnotis saja, selangkah demi selangkah dia berjalan maju ke depan.

Untuk kesekian kalinya gadis itu menundukkan kepalanya, pipinya seakan-akan berubah menjadi merah padam, masih seperti orang yang sedang mabuk oleh arak.

Dulu, paras mukanya seringkali berubah pula menjadi merah padam, tapi Kwik Tay-lok belum pernah menaruh perhatian ke sana.

Ada kalanya paras muka lelaki pun dapat berubah menjadi merah padam...

Sekarang Kwik Tay-lok baru sadar, ia membenci kepada diri sendiri, dia ingin menampar pipi sendiri sebanyak delapan- sembilan puluh kali.

Dia benar-benar tidak habis mengerti, mengapa dirinya begitu tolol, mengapa dia tak dapat melihat kalau dirinya adalah seorang perempuan.

Tiba-tiba kakek itu menghela napas dan berkata lagi.

"Suruh dia lebih mendekat agar aku dapat melihat wajahnya dengan lebih jelas!" Kwik Tay-lok tidak mendengar apa-apa.
Sekarang, kecuali memandang ke arah gadis itu dia sudah tidak mendengar apa-apa lagi. Yan Jit menggigit bibirnya kencang-kencang, kemudian berseru:
 
"Sudah kau dengar belum perkataan dari ayahku?"



Kwik Tay-lok menjadi tertegun, kemudian serunya:

"Dia. dia orang tua adalah ayahmu?"

Yan Jit mengangguk.

Kwik Tay-lok segera maju lebih mendekat, dia boleh saja tidak menghormati orang lain, boleh saja tidak menuruti perkataan orang lain, tapi ayah Yan Jit tentu saja merupakan suatu pengecualian.

Kakek itu dapat melihatnya, diapun dapat melihat kakek itu. Lagi-lagi ia menjadi tertegun.
Di dunia ini terdapat banyak macam manusia, karena itu terdapat pula banyak ragam raut wajah.

Ada yang berwajah lonjong, ada yang berwajah bundar, ada yang berwajah tampan, ada yang berwajah jelek, ada yang berwajah cerah dan segar, ada pula yang berwajah cemberut seakan- akan setiap orang di dunia ini hutang tiga laksa tahil perak kepadanya dan tidak bayar. Kwik Tay- lok sudah pernah melihat banyak orang, juga lihat banyak ragam raut wajah manusia.

Tapi belum pernah dia menyaksikan raut wajah semacam ini.

Atau lebih tegasnya lagi, wajah orang ini sudah tak dapat dibilang wajah manusia lagi, tapi lebih mirip sebagai sesosok tengkorak hidup. Di atas wajahnya yang persegi lonjong, kini tinggal kulit pembungkus tulang belaka, seolah-olah sama sekali tak berdarah daging lagi.

Tapi dikedua belah sisi sebuah codet golok yang memanjang, justru tumbuh daging yang merekah.

Yang paling menakutkan justru adalah bekas bacokan goloknya itu.

Dua buah bacokan golok tersebut membentuk tanda salib di atas wajahnya, yang di sebelah kiri mulai dari ujung mata melewati hidung sampai ke bibirnya. Sedangkan yang di sebelah kanan dari jidat kanan memapas tulang hidung dan mencapai ke telinga.

Oleh karena itu, dari lembaran wajah tersebut sukar sekali untuk menemukan bekas hidungnya lagi, yang tersisa hanya sebuah matanya saja. Sebuah mata yang setengah terpejam.

Bekas bacokan golok itu sudah merapat, entah bekas yang ditinggalkan berapa tahun berselang, namun daging yang merekah dikedua belah sisi bekas bacokan itu justru berwarna merah merekah.

Codet yang berbentuk salib, menghiasi wajah yang kurus kering berwarna putih pucat hal ini membuat tanda itu semakin menyala, seperti lagi terbakar saja, bagaikan tanda dari setan iblis di neraka.

Pada hakekatnya kakek itu seperti lagi hidup didalam neraka. Kwik Tay-lok merasakan napasnya seakan-akan hendak berhenti.
 
Dia tak tega, dia tak berani memandang wajah itu lagi, tapi diapun tak dapat menghindarkan
diri.

Bahkan wajahnya tidak menunjukkan perasaan muak atau takut barang sedikitpun jua karena kakek ini adalah ayah kandung Yan Jit.

Kakek itupun sedang memandang ke arahnya dengan mempergunakan matanya yang setengah terpejam itu, lewat lama kemudian dia baru menegur dengan suara lemah:

"Kaukah yang bernama Kwik Tay-lok ?" "Benar."
"Kau adalah sobat karib putriku?" "Benar"
"Apakah kau merasa wajahku ini tak sedap dipandang, lagi pula sangat menakutkan?"

Kwik Tay-lok termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, akhirnya diapun mengangguk. "Benar !"
Kakek itupun termenung beberapa saat lamanya, kemudian dari tenggorokannya, berkumandang suara mirip suara orang tertawa:

"Tak heran kalau putriku mengatakan kalau kau ini adalah seorang yang jujur, tampaknya kau memang jujur."

Kwik Tay-lok mengerling sekejap ke arah Yan Jit, sedangkan Yan Jit masih menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Sebaliknya di atas wajah Bwee Lan justru terlintas sekulum senyuman. Kwik Tay-lok turut menundukkan kepalanya rendah-rendah, lalu berkata: "Ada kalanya akupun tidak terlalu jujur!"
Ucapan ini kembali merupakan suatu pengakuan yang jujur. Tiba-tiba dia merasa bahwa berbicara sejujurnya di hadapan kakek ini merupakan suatu cara yang paling baik.

Benar juga, kakek itu segera manggut-manggut.

"Betul orang yang tidak jujur jangan harap bisa di sini. orang yang terlampau jujurpun jangan
harap bisa menemukan tempat ini."

Tiba-tiba dia menghela napas panjang, kemudian melanjutkan:

"Kau bisa sampai di sini, boleh dibilang suatu perjuangan yang tidak mudah.... benar. benar
tidak mudah!"

Ucapan tersebut terasa amat menusuk pendengaran Kwik Tay-lok, secara tiba-tiba saja dia merasakan hatinya menjadi kecut.

Mengapa Yan Jit harus memberikan banyak siksaan dan percobaan kepadanya ?
 
Mengapa dia menghendaki agar dia mencarinya dengan bersusah payah ?

Walaupun kakek itu separuh memejamkan matanya, namun agaknya dia dapat meraba suara hatinya, tiba-tiba dia berkata:

"Suruh mereka pun masuk kemari !" "Baik!" jawab Bwee Lan.
Dengan langkah yang tenang dia berjalan ke depan, lalu membuka sebuah pintu yang lain.

Di luar pintu telah berdiri tiga orang manusia, dengan langkahnya yang tenang mereka masuk ke dalam.

Orang pertama adalah si Burik. Kali ini dia sudah berganti dengan satu stel jubah berwarna putih, begitu masuk ke dalam ruangan dengan tangan terjulur ke bawah ia berdiri di sudut ruangan, sikapnya nampak amat hormat dan takut, seperti seorang budak berjumpa dengan majikannya.

Orang yang mengikuti di belakangnya tentu saja si bungkuk itu. Orang ketiga barulah si hwesio berkaki tunggal itu.

Ketiga orang itu mengenakan jubah putih yang sama, sikap mereka terhadap kakek itupun amat menaruh hormat.

Mereka bertiga sama-sama menundukkan kepalanya, tak sekejap matapun mereka memandang ke arah Kwik Tay-lok.

"Aku rasa kalian pasti sudah kenal bukan," kata kakek itu kemudian.