Pendekar Riang Jilid 28

 
Jilid 28

"BETUL," sahut Sui Loan-kim sambil menundukkan kepala. "lebih baik kau cepat-cepat berangkat, siapa tahu diapun sedang menantikan kedatanganmu.  ?"

Kwik Tay-lok menatapnya lekat-lekat, seakan-akan hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya niat tersebut diurungkan.

Diapun berlalu dari sana dengan begitu saja.

Kalau tidak pergi, dia bisa apa ? Jauh lebih baik kalau cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Mendadak Sui Loan-kim berseru:
"Tunggu sebentar !"

Pelan-pelan Kwik Tay-lok membalikan badannya. "Kau. "
Sui Loan-kim tidak membiarkan dia menyelesaikan perkataannya itu, dari dalam sakunya dia mengeluarkan sebuah kocek yang terbuat dari kain merah dan dia diangsurkan kepadanya.
 
"Kuberikan benda ini untukmu" katanya lembut, "harap kau sampaikan kepada nona Yan, katakan. katakan kalau benda ini merupakan hadiahku untuk perkawinan kalian."

"Benda apakah ini ?"

Dia menerimanya dan dilihat dan pertanyaan tersebutpun tidak dilanjutkan lebih jauh. la dapat merasakan mutiara dalam kocek yang bulat dan bersinar terang itu.
Sui Loan-kim telah membalikkan badannya memandang matahari keluar jendela, katanya kemudian dengan hambar:

"Sekarang, kau sudah boleh pergi dari sini."

Kwik Tay-lok memegang kocek itu kencang, apakah hatinya seperti juga mutiara dalam kocek itu, telah berada didalam genggamannya....

Ia tidak berpaling lagi.

Pemuda itupun tidak berkata sepatah katapun.

Ada sementara perkataan memang tidak seharusnya diutarakan secara terus terang. Sama-sama orang perantauan, sekalipun bersua mengapa harus saling berkenalan ?
Atau mungkin hanya orang yang sama-sama perantauan saja yang dapat memahami perasaan tersebut dan suasana seperti itu ?

Walaupun suasana seperti itu terasa mengenaskan dan memedihkan hati, namun berapa banyak keindahan yang sebenarnya tercakup didalamnya ?

Menelusuri tepi telaga, pelan-pelan Kwik Tay-lok berjalan ke depan, bagaikan gelandangan saja, dia berjalan kesana-kemari tanpa suatu tujuan tertentu.

Setelah mendengar kabar tentang Yan Jit, dia ingin bisa cepat-cepat terbang ke kota Kilam, seakan-akan asal tiba di kota tersebut, Yan Jit akan segera ditemukan.

Setelah tiba di kota Ki-lam, ia baru tahu kalau jalan pikirannya terlalu kekanak-kanakan.

Kota Ki-lam-hu tak kecil seperti dalam bayangannya, paling tidak ada beribu-ribu buah keluarga yang tinggal di sana dengan jumlah penduduk mencapai beberapa ribu laksa jiwa.

Untuk mencari Yan Jit ditempat sebesar ini dan orang sebanyak itu, hakekatnya keadaan tersebut ibaratnya mencari jarum di dasar samudra.

Terpaksa tiap hari dia hanya luntang-lantung kesana-kemari tanpa tujuan, dia hanya berharap suatu ketika nasibnya bisa mujur dan berjumpa dengan Yan Jit.

Tapi, dia sendiripun tahu, harapan tersebut meski terlalu tipis, tapi dari sekian harapan yang tipis, harapan inilah yang rasanya paling bisa diandalkan.

Sekarang, sampai beberapa banyak jumlah pepohonan di tepi telagapun hampir bisa disebutkan olehnya di luar kepala.
 
Di bawah pohon liu di depan sana, bersandar sebuah perahu kecil, nona cilik pendayung perahu itu sudah ia kenal cukup lama, dari kejauhan sana ia telah memberikan sekulum senyuman kepadanya, senyuman yang cerah bagaikan sinar sang surya.

Demi memperoleh sekulum senyuman yang manis ini, mau tak mau Kwik Tay-lok harus membeli beberapa buah biji teratainya.

Biji teratai rasanya getir, persis seperti perasaan Kwik Tay-lok saat itu.

Kalau orang lain dengan uang dua rence hanya bisa mendapat enam biji, maka Kwik Tay lok bisa memperoleh tujuh delapan biji.

Si nona cilik yang menggunakan topi lebar dan bertelanjang kaki itu seakan-akan menaruh maksud tertentu terhadap Kwik Tay-lok, asal pemuda itu datang ia pasti memberi dua biji lebih banyak, bahkan kadang kala memberikan pula sebatang ubi manis untuknya.

Bila kejadian ini berlangsung di masa lalu besar kemungkinan Kwik Tay-lok sudah naik ke atas perahunya, mendayung perahu itu ke tengah telaga dan menciumi pipinya yang mungil serta meraba kakinya yang putih dan halus itu....

Tapi sekarang, Kwik Tay-lok betul-betul tidak mempunyai gairah untuk berbuat demikian. Sudah cukup banyak kemurungan dan persoalan yang membebani benaknya.
Karena itu, setelah menerima biji teratai ia telah bersiap-siap untuk pergi, siapa tahu nona cilik kembali menggape ke arahnya sambil berbisik lirih:

"Kemarilah, aku hendak berbicara sesuatu denganmu."

Kwik Tay-lok benar-benar tak ingin mencari kesulitan lagi bagi diri sendiri, tapi dia pun tak tega untuk menampik maksud baik si nona cilik tersebut.



Diam-diam ia menghela napas panjang dan siap sedia menunjukkan tampang seorang engkoh besar, bila nona cilik itu bermaksud untuk mengajaknya mengadakan pertemuan, dia pasti akan baik-baik memberi pelajaran kepadanya dan memberitahukan kepadanya kalau lelaki yang ada di dunia ini tak ada yang baik. Untung saja bertemu dengannya, kalau tidak niscaya dia akan tertipu.

Berpikir sampai di situ, merasa dirinya bagaikan seorang Nabi yang suci.

Sayang Thian justru tidak memberi kesempatan semacam itu kepadanya, tidak membiarkan dia menjadi seorang Nabi yang suci.

Sambil menginjak perahu si nona, dia sengaja menarik wajahnya sambil menegur: "Ada perkataan apakah yang hendak kau sampaikan padaku?"
Mencorong sinar tajam dari balik mata si nona kecil itu, bisiknya dengan suara lirih:

"Apakah kau adalah seorang pembesar besar yang sedang menyamar untuk menyaksikan kehidupan anak kecil?"

Kwik Tay lok tertegun, beberapa saat kemudian ia tertawa geli karena tak tahan, sahutnya:
 
"Dari kepala sampai ke kaki, bagian manakah dari tubuhku yang mirip tampang seorang pembesar?"

"Jadi bukan?"

"Bukan saja tidak, bahkan bila bertemu dengan pembesar badanku lantas menjadi gemetar" ucap Kwik Tay-lok sambil tertawa.

Nona itu tampak lebih gembira dan bersemangat, sambil merendahkan suaranya kembali ia berkata:

"Kalau begitu, kau pastilah seorang perampok ulung."

"Juga bukan," sahut Kwik Tay-lok sambil tertawa getir. "untuk modal menjadi seorang perampok saja aku tak punya."

"Kau benar-benar bukan?" nona itu melotot semakin besar. "Mengapa aku mesti membohongimu?"
Nona cilik itu menghela napas panjang, jelas merasa kecewa sekali, sehingga untuk mengucapkan sepatah katapun menjadi enggan.

Ternyata ia tertarik kepada Kwik Tay-lok tak lain karena mengira Kwik Tay-lok adalah seorang perampok.

Dalam pandangan kaum dara, perampok adakalanya mendatangkan suatu daya tarik yang sangat besar.

Sekarang Kwik Tay-lok baru tahu, rupanya nona cilik ini bukan sungguh-sungguh ada minat dengannya.

Dengan demikian maka diapun tak usah kuatir menemui banyak kesulitan lagi, malah seharusnya mereka bergembira.

Tapi entah mengapa, dia malahan justru merasa agak kecewa, juga tidak terima, tidak tahan segera tanyanya:

"Dari hal manakah kau mengatakan aku mirip seorang perampok ?"

Sikap nona cilik itu menjadi dingin dan sangat hambar, sahutnya ogah-ogahan:

"Sebab selama dua hari belakangan ini, aku selalu menyaksikan ada seseorang menguntil di belakangmu"

"Oooh. macam apakah orang itu ?"

"Adakalanya orang itu menyaru sebagai penjual makanan, ada kalanya menyaru sebagai pengemis, tapi dia mau menyaru menjadi apapun jangan harap bisa mengelabui diriku."

"Mengapa ?"

Nona cilik itu segera menunjukkan sikapnya yang amat bangga sekali, sahutnya sambil tertawa:
 
"Sebab dalam sekilas pandangan saja aku dapat mengenali tampang wajahnya itu."

"Apakah wajahnya mempunyai suatu ciri atau keistimewaan yang berbeda dengan orang lain
?"

Nona cilik itu manggut-manggut.

"Ya, dia adalah seorang lelaki bermuka bopeng."

Hampir saja Kwik Tay-lok hendak melompat ke udara saking kagetnya, bahkan darah yang mengalir didalam tubuhnyapun turut mengalir dengan lebih cepat.

Nona cilik itu memandang ke arahnya, kemudian dengan sinar mata penuh pengharapan katanya:

"Apakah dia memang lagi menguntilmu? Apakah kau kenal dengan dirinya. ?"

Kwik Tay-lok segera mengedipkan matanya beberapa kali, kemudian sambil sengaja merendahkan suaranya ia berbisik:

"Aku boleh saja berkata jujur kepadamu, tapi kau tak boleh memberitahukannya kepada orang lain."

"Aku bersumpah tak akan berkata kepada orang lain." ucap nona cilik itu dengan cepat, "Kalau tidak, biar di kemudian hari akupun menjadi seorang perempuan berwajah bopeng."

"Baik, aku akan memberitahukan kepadamu," bisik Kwik Tay-lok. "lelaki bopeng itu adalah seorang opas kenamaan, dia memang benar-benar sedang menguntil diriku."

Nona cilik itu kembali bergairah, serunya dengan wajah berseri:

"Mengapa dia. dia menguntilmu ?"

"Sebab aku memang seorang perampok ulung." bisik Kwik Tay-lok lirih. "orang lain menyebutku sebagai perampok yang terbang di angkasa, baru saja kulakukan tujuh puluh delapan macam kasus perampokan di ibukota, itulah sebabnya aku kabur kemari untuk menghindarkan diri."

Saking gembiranya sekujur badan nona itu gemetar keras, sambil menggigit bibir serunya: "Apakah kau. kau juga seorang Jay-hoa-cat (Penjahat pemetik bunga ?"


Tak tahan Kwik Tay-lok segera tertawa geli, sambil mengedipkan matanya berulang kali, ia balik bertanya:

"Menurut dugaanmu, aku mirip tidak ?"

Paras muka nona cilik itu segera berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus, sambil menggigit bibir katanya:

"Sekalipun kau seorang Jay-hoa-cat, aku juga tidak takut, aku tidak takut diperkosa."
 
Sepasang kakinya seperti menjadi lemas sehingga untuk berdiripun tak sanggup, hampir saja dia akan tercebur ke dalam air telaga bila Kwik Tay-lok tidak cepat-cepat menyambar tubuhnya.

Kwik Tay-lok segera tertawa terbahak-bahak, sambil meraba pipinya yang putih dan halus itu katanya:

"Kau tak usah kuatir, sekalipun aku hendak mencarimu, hal inipun baru akan kulakukan dua tiga tahun lagi, bila kau sudah lebih menanjak dewasa, sekarang kau tak lebih hanya.... aku... aku seorang bocah cilik belaka, haaahh... haaah..... haaaahh. "

Diiringi gelak tertawa yang amat keras, ia lantas melangkah pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar.

Nona cilik itu memandang ke arahnya dengan wajah tertegun, sampai lama sekali ia ber diri termangu-mangu....

Entah disengaja atau tidak, tangannya pelan-pelan meraba dada sendiri yang masih datar bagaikan lapangan itu, tanpa terasa wajahnya berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus.

Dia hanya bisa berdiri melongo saja menyaksikan pemuda itu berlalu dari sana, makin lama semakin menjauh dan akhirnya lenyap di ujung tikungan jalan sana.

Diam-diam Kwik Tay-lok tertawa geli di dalam hati, ia tahu malam nanti nona cilik itu pasti tak dapat tidur nyenyak.

Ia sama sekali tidak bermaksud untuk mencelakainya, Ia tak lebih hanya ingin menambah bumbu atau kejadian aneka warna lainnya dalam kehidupan si nona cilik itu, agar setelah menikah dan mempunyai anak besok, dalam hatinya masih mempunyai kesan lama yang setiap kali bila teringat maka jantungnya kembali akan terasa berdebar.

Berapa banyaknya gadis di dunia ini yang dapat bertemu dengan mata kepala sendiri dengan seorang Jay-hoa-cat.

Angin berhembus lewat menggoyangkan pohon liu, mengakibatkan buih dan gelombang kecil di batas permukaan telaga.

Kwik Tay-lok masih berjalan ke depan dengan langkah yang amat lamban, sambil mengunyah biji teratai, ia membawakan sebuah lagu bersenandung.

Setelah melalui suatu jarak perjalanan yang cukup jauh, secara tiba-tiba ia baru berpaling.

Dengan cepat ia menemukan seorang pengemis yang membawa sebuah mangkuk gumpil, lagi pula wajahnya betul-betul bopeng.
Begitu ia berpaling, si bopeng itu segera menyembunyikan diri di belakang pohon. Taktik penguntilan yang dimiliki orang bermuka bopeng itu tidak terhitung sangat lihay,
andaikata sikap Kwik Tay-lok dalam dua hari belakangan ini acuh tak acuh dan pikirannya
memikirkan yang bukan-bukan, seharusnya hal mana sudah dirasakan olehnya.

Benarkah manusia bermuka bopeng ini adalah orang bopeng yang dimaksudkan oleh Sui Loan-kim itu ?
 
Seperti tidak disengaja saja Kwik Tay-lok membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ke arah manusia berwajah bopeng itu, pelan sekali langkahnya....

Ia berniat melompat ke depan dan menangkapnya jika sudah berada dekat dengan orang itu.

Siapa tahu manusia bopeng itu cukup waspada, dengan cepat dia membalikkan badan dan melarikan diri.

Tatkala Kwik Tay-lok mempercepat langkahnya, ternyata dia kabur semakin cepat lagi.

Di tengah hari bolong seperti ini, apalagi begitu banyak orang kurang leluasa baginya untuk mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya guna melakukan pengejaran tersebut.

Terpaksa Kwik Tay-lok harus memperbesar langkahnya mengejar dari belakang.

Sebenarnya dia yang menguntil Kwik Tay-lok, tapi sekarang justru sebaliknya Kwik Tay-lok yang menguntil di belakangnya.

Ketika si nona cilik di atas perahu melihat mereka saling kejar-mengejar dengan langkah cepat, dengan wajah terkejut dan keheranan ia memandangi mereka berdua tanpa berkedip.

Ia benar-benar tidak habis mengerti, kenapa bukan si opas yang menangkap penyamun sebaliknya penyamun yang mengejar sang opas?

Baginya, persoalan yang ada di dunia ini masih banyak persoalan yang tak dipahami olehnya, maka dia selalu merasa amat kesal.

Menanti usianya sudah meningkat dan lebih banyak persoalan yang dipahami olehnya, ia baru mengerti ternyata lebih enak dulu sewaktu belum tahu urusan daripada sekarang.
Permulaan musim panas merupakan saat yang paling ideal untuk berpesiar di tepi telaga. Tempat yang banyak pelancongnya biasanya pasti banyak pula pengemis. sebab biasanya
orang yang sedang berpesiar lebih bermurah hati, terutama bila disampingnya didampingi seorang gadis yang cantik jelita.

Oleh sebab itu di sekeliling tempat itu banyak terdapat pengemis, di timur ada pengemis, di barat ada pengemis, bahkan di sela-sela manusia yang berpesiarpun banyak pengemis.

Orang bermuka bopeng itu menerobos ke sana-kemari diantara kerumunan orang banyak, beberapa kali hampir saja Kwik Tay-lok ketinggalan sampai jauh sekali.

Untung saja Kwik Tay-lok mempunyai nasib yang cukup mujur, setiap kali bila keadaan sudah mencapai pada saat yang kritis, dia selalu secara kebetulan dapat menemukan wajah yang bopeng itu.



Orang dengan wajah yang istimewa biasanya memang lebih gampang dikuntil daripada tidak.

Sampai akhirnya, orang bermuka bopeng itu merasa ia makin terdesak hebat sehingga akhirnya mengambil keputusan untuk meninggalkan wilayah telaga sana menuju ke tempat yang makin sedikit orangnya.
 
Agaknya dia ingin memancing Kwik Tay lok menuju ke tempat sepi, kemudian baik-baik memberi pelajaran kepadanya.

Kwik Tay-lok sama sekali tidak gentar, bukan saja tak ambil perduli, malahan dia mengejar semakin getol lagi.

Dia memang berniat untuk mencari suatu tempat yang tiada orangnya untuk menangkap orang itu dan ditanyai sampai jelas apakah dia kenal dengan Yan Jit, serta apakah dia tahu tentang jejak Yan Jit.

Dari si tongkat, Kwik Tay-lok memang telah mempelajari beberapa kepandaian yang memaksa orang untuk berbicara jujur.

Sebenarnya dia mengira dengan cepat orang bermuka bopeng itu akan berhasil disusulnya.

Siapa tahu bukan saja orang berwajah bopeng itu dapat berlari cepat, kekuatan tubuhnya juga bagus sekali, seakan-akan dia tidak pernah merasa lelah, malah semakin lama larinya semakin cepat.

Kwik Tay-lok merasa mulai tak tahan lagi, apalagi kehidupannya selama beberapa hari belakangan ini amat memeras kekuatannya dia merasa bagaikan orang yang telah lanjut usianya.

Tak tahan dia lantas berteriak keras:

"Hei, jangan lari, aku sama sekali tidak bermaksud untuk mencari kesulitanmu, aku hanya ingin menanyakan beberapa persoalan saja"

Sebenarnya si bopeng itu tidak lari secara sungguhan, namun setelah mendengar perkataan itu, dia malahan lari semakin cepat lagi.

Pengemis memang biasa lari di jalan karena dikejar orang atau dikejar anjing, sehingga peristiwa semacam itu sesungguhnya bukan suatu kejadian yang aneh.

Tapi seorang yang memakai pakaian yang perlente ternyata berlarian di jalanan gara-gara mengejar seorang pengemis, adegan semacam ini terasa aneh sekali.

Dia tahu sudah ada orang yang mulai memperhatikan dirinya, malah diantaranya seperti terdapat dua orang opas.

Mereka memang sesungguhnya bertugas untuk memeriksa dan menjaga keamanan di situ, diantaranya tampak sedang melangkah maju siap menghalangi Kwik Tay-lok untuk ditanya.

Asal jalan pergi Kwik Tay-lok terhadang maka si bopeng itu pasti akan melenyapkan diri.

Padahal orang itu adalah satu-satunya titik terang yang dijumpainya, ia tak dapat melepaskannya dengan begitu saja.

Sepasang biji matanya segera diputar, tiba-tiba terlintas satu ingatan dalam benaknya, sambil menuding ke arah si bopeng yang berlarian di depan, teriaknya keras-keras:

"Pengemis itu adalah seorang pencuri, siapa yang dapat membantuku untuk membekuknya, kuberi hadiah dua puluh tahil perak."

Teriakannya yang terakhir itu sungguh manjur sekali, tidak menunggu ucapan selesai diutarakan, dua orang opas itu telah membalikkan badan dan mengejar si bopeng tersebut.
 
Malah banyak pula diantara para pelancong yang turut berteriak-teriak sambil melakukan pengejaran.

Tampak si bopeng itu amat gelisah, mendadak ia melompat ke udara melewati atas kepala lima enam orang dan melompat naik ke atas wuwungan rumah di depan sana.

Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya sempurna sekali, boleh dibilang merupakan jago kelas satu di dunia persilatan.

Peristiwa ini semakin menggemparkan suasana, teriakan-teriakan berkumandang dari sana sini.

"Tampaknya orang ini selain seorang pencuri, diapun seorang perampok ulung, jangan biarkan ia kabur. tangkap sampai dapat tangkap sampai dapat !"

Walaupun yang berteriak banyak, namun yang bisa menyusul ke atas atap rumah tak seorangpun.
Dua orang opas itupun hanya bisa berdiri di bawah rumah sambil mengawasi dengan gelisah. Bagaimanapun ilmu meringankan tubuh memang tak dapat dipelajari oleh setiap orang,
apalagi ilmu meringankan tubuh seperti apa yang dimiliki si bopeng, diantara sepuluh laksa orang
paling banter hanya ada satu dua orang saja yang memilikinya.

Untung saja Kwik Tay-lok adalah satu diantara dua orang yang menguasahi kepandaian itu.

Dia telah melompat naik ke atas atap rumah, sambil melanjutkan pengejarannya dengan suara lantang dia berseru:

"Aku adalah seorang petugas keamanan dari ibu kota yang khusus datang kemari untuk membekuk penjahat ini, harap enghiong hohan yang ada di tempat ini sudi membantu usahaku ini."

Diapun tahu bagaimanapun gagah seorang enghiong hohan yang berada di sana, mustahil sudi mencampuri urusan yang tidak diketahui ujung pangkalnya ini.

la berteriak demikian tak lebih hanya ingin membuat pikiran dan perasaan orang bermuka bopeng ini semakin kalut.

Sebab dia benar-benar tidak memiliki keyakinan untuk bisa menyusul si bopeng itu, betul ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya luar biasa, namun kesempatan untuk melatihnya tidak banyak, baik soal taktik maupun soal pengalaman, dia masih kalah setingkat dibandingkan dengan manusia bermuka bopeng itu.



Betul juga, oleh teriakan-teriakan yang lantang itu, manusia bermuka bopeng tersebut makin bingung dan cemas.

Bagaimanapun juga, berlarian di atas atap rumah orang di bawah sinar matahari yang cerah merupakan suatu kejadian yang amat menyolok, maka akhirnya kembali ia dipaksa melompat turun ke bawah.

Dibawah sana terbentang sebuah lorong yang tidak terhitung luas, dalam lorong itu paling banter hanya terdapat enam tujuh keluarga.
 
Ketika Kwik Tay-lok mengejar sampai di situ, kebetulan sekali ia menyaksikan ada sesosok bayangan manusia yang menyelinap masuk ke dalam pintu gerbang sebuah gedung rumah.

Pintu gerbang gedung itu dibuka lebar-lebar.

Tidak banyak rumah rakyat pada jaman itu dalam keadaan terbuka lebar sepanjang hari.

Tampaknya gedung itu memang mempunyai hubungan yang erat dengan manusia berwajah bopeng itu, atau si bopeng itu mungkin memang berdiam....

Kwik Tay-lok sama sekali tidak ambil perduli akan hal tersebut, dengan cepat dia turut menyerbu masuk ke dalam.

Di halaman rumah tiada orang, tapi ruang tamu di depan sana terdengar ada orang sedang berkata sambil tertawa:

"Tak heran kalau orang lain selalu berkata, diantara sepuluh orang manusia bopeng sembilan diantaranya berwatak aneh kau betul-betul seorang siluman yang aneh"

Kwik Tay-lok merasa girang sekali setelah mendengar perkataan itu, dengan cepat dia memburu ke depan sambil berpikir:

"Kali ini kau tak bakal bisa kabur lagi "

Siapa tahu dalam ruang tamu itu tidak terdapat seorang manusia bopengpun, yang ada hanya seorang lelaki dan seorang perempuan yang tampaknya merupakan seorang suami-isteri, yang perempuan putih dan gemuk, wajahnya cantik, sebaliknya yang lelaki bermuka kuning, pinggangnyapun tidak lurus.

Bila seorang lelaki jelek bisa mendapatkan seorang isteri yang cantik, ada kalanya hal itu bukan terhitung suatu kemujuran.

Ketika secara tiba-tiba menyaksikan ada seorang lelaki asing menyerbu masuk ke dalam ruangan mereka, suami isteri berdua itu kelihatannya amat terperanjat.

Tampaknya sang suami bernyali jauh lebih kecil daripada nyali istrinya, karena ketakutan hampir saja dia terjatuh ke atas tubuh istrinya, dengan tergagap dia berseru:

"Si......siapa kau? Mau. mau apa kau datang kemari ?"

"Aku datang untuk mencari orang" jawab Kwik Tay-lok. "Sii. siapa yang kau cari?"
"Aku mencari si bopeng, dimanakah si bopeng yang barusan kau sebutkan itu?"

Sepasang biji mata si istri yang jeli, semenjak tadi memang sudah mengerling terus ke arahnya, mendadak ia bangkit berdiri, kemudian sahutnya dengan cepat:

"Akulah si bopeng yang ia maksudkan tadi, apakah kau datang untuk mencari diriku?" Betul juga, di ujung hidungnya memang terdapat beberapa titik burik yang berwarna putih. Kwik Tay-lok menjadi tertegun.
 
Sang istri masih mengerling ke arahnya dengan ekor matanya yang jeli, kemudian dengan senyum tak senyum dia berkata lagi:

"Apakah kau datang mencari diriku karena mengagumi namaku? Sayang kau sudah datang terlambat, kini aku telah menikah dengan orang dan tidak menerima tamu lagi."

Bukan saja Kwik Tay-lok dibuat tertegun, bahkan sedikit dibuat menangis tak bisa tertawapun sungkan.

Padahal seharusnya hal ini sudah dapat diketahuinya sedari tadi, mana ada perempuan dari keluarga baik-baik yang memperhatikan lelaki lain dengan cara semacam ini?
Yang menjadi suami segera unjuk gigi, sambil melompat ke depan teriaknya keras-keras. "Sudah kau dengar belum? Sekarang ia sudah menjadi biniku, siapapun jangan harap bisa
mengusiknya lagi. Hmm, kenapa kau tidak segera enyah dari sini ?"

Ternyata Kwik Tay-lok harus tertawa getir, tapi tak tahan kembali dia bertanya: "Apakah tiada orang lain yang masuk ke mari tadi ?"
Sekali lagi sang isteri mengerling sekejap ke arahnya dan berkata sambil tertawa:

"Sekalipun di kota ini masih terdapat setan segagah seperti kau, juga tak ada yang bernyali besar seperti kau. Siapa yang berani mendatangi rumah orang lain untuk mencari bini orang ?"

Ternyata ia telah menuduh Kwik Tay-lok sebagai manusia yang berusaha untuk merampas isteri orang.

Yang menjadi suaminya bertambah naik darah, sambil menuding hidung Kwik Tay-lok teriaknya keras-keras:

"Kenapa belum juga keluar dari sini?"

"Apalagi yang sedang kau rencanakan ditempat ini? Hati-hati kalau kepalanku menghancurkan batok kepalamu."

Mendengar perkataan tersebut, Kwik Tay lok segera tertawa geli.

Tangannya kelihatan seperti cakar ayam, untuk membunuh lalatpun belum tentu bisa, ternyata dia ingin memukul orang.

Kwik Tay-lok segera menepuk bahunya dan berkata sambil tertawa.

"Jangan kuatir, tiada orang yang bakal merampas dirimu, tapi tubuhmu sendiri juga bukan didapat dari mencuri, lebih baik jagalah diri baik-baik, dalam melakukan pekerjaan apapun lebih baik jangan terlalu memeras tenaga."

Ia tidak membiarkan orang itu buka suara lagi, sambil membalikkan badan pemuda itu segera beranjak pergi.

Padahal dia sendiripun tahu kelak pekerjaan ini sedikit agak kurang cocok untuk di utarakan sebab dihari biasa dia tak mengutarakan perkataan semacam itu.
 
Tapi, bila dalam hati sendiripun sedang mangkel, kadangkala timbul pula ingatan untuk membuat orang lainpun turut menjadi sengsara.

Dengan jelas ia menyaksikan si bopeng itu masuk kesana, mengapa secara tiba-tiba bisa lenyap tak berbekas? Apakah begitu masuk ke rumah dia lantas menerobos masuk ke dalam tanah?

Tentu saja sepasang suami istri ini telah bersekongkol dengan si bopeng, mereka sengaja bermain sandiwara untuk mengoceh dirinya.

Sayang walaupun ia mengetahui hal itu dengan jelas, namun tak dapat membongkarnya dengan begitu saja, apalagi berada di rumah orang lain disiang hari bolong seperti ini, bagaimana juga dia yang rugi sendiri.

Bila mengharuskan memaksa orang lain untuk mengajaknya melakukan penggeledahan dalam rumah, rasanya ini tak mungkin bisa dia lakukan.

Apakah si bopeng itu pasti telah menggunakan kesempatan tersebut untuk melarikan diri, sekalipun dicari belum tentu bisa menemukannya.

Pikir punya pikir Kwik Tay-lok merasa makin lama hatinya makin risau dan pusing.

"Coba kalau berganti Ong Tiong, tak nanti si bopeng itu bisa kabur dari cengkeramannya pada hari ini"

Ia bertekad akan mencari tempat dulu untuk bersantap sampai kenyang guna menghibur hati sendiri, kemudian setelah malam menjelang tiba nanti baru akan melakukan penyelidikan disekitar tempat itu hingga persoalan menjadi tuntas.

Matahari sudah hampir tenggelam dibalik gunung, sekalipun minum arak mulai sekarang rasanya juga tak bisa dianggap terlampau awal.

Rumah makan terbesar di kota itu di sebut Hwee-peng-lo, bebek panggang dan ikan leihi masak saos buatan mereka merupakan hidangan yang paling termasyhur, apalagi untuk teman minum arak.

Kwik Tay-lok mencari sebuah meja dekat jendela dan memesan semeja sayur...

Sebelum berangkat tempo hari, lotoa dari kota timur telah memberi sejumlah ongkos jalan yang terhitung cukup besar jumlahnya. Memang orang gagah dari dunia persilatan selamanya setia kawan, royal terhadap teman.

Biasanya bila ada beberapa cawan arak sudah masuk ke perut, perasaan Kwik Tay-lok akan mulai cerah kembali.

Tapi dua hari belakangan ini, arak yang masuk ke dalam perutnya merasa getir, lagi pula gampang memabukkan.

Apalagi bila malam masih ada urusan, ia tak berani minum banyak, sebaliknya memperbanyak makan sayur.

Makin jelek perasaannya makin banyak yang dimakan, mungkin bila Yan Jit belum juga ditemukan, bisa jadi dia akan menjadi gemuk seperti seekor babi.
 
Setelah matahari turun gunung, tamu dalam rumah makan makin banyak. Pelbagai ragam manusia berduyun-duyun mendatangi rumah makan itu, diantaranya terdapat pula para perantara rumah pelacuran yang menjajakan dagangannya kepada para tamu.

Maka dari balik penyekat di samping ruangan utama rumah makan itupun berkumandang suara tetabuhan, suara nyanyian merdu, suara gurauan, suara cawan saling beradu diiringi teriakan girang, gelak tertawa nyaring, ramai sekali suasananya.

Namun bagi Kwik Tay-lok, dia seolah-olah duduk dalam dunia yang lain, walaupun perbuatan semacam itu sesungguhnya merupakan perbuatan yang paling menarik perhatiannya, tapi sekarang, kesemuanya itu terasa sama sekali tak ada artinya lagi.

Tanpa Yan Jit di sini, ibarat sayur tanpa garam, sama sekali hambar rasanya.

Ia menghela napas dan pelan-pelan memenuhi cawan arak sendiri, mendadak ia saksikan ada lima-enam orang nona cilik yang cantik-cantik sedang mengerumuni seorang lelaki berbaju perlente yang naik ke atas loteng sambil tertawa terbahak-bahak.

Jangankan pelayan rumah makan itu, bahkan Kwik Tay-lok sendiripun dapat menduga kalau lelaki perlente yang besar lagaknya ini pastilah seorang yang royal dan kaya raya.

Tak tahan ia memandangnya beberapa kejap lebih lama, tapi begitu memandang orang itu, hampir saja teko arak yang berada di tangannya terjatuh ke tanah.

Ternyata tamu perlente yang kaya raya itu adalah seorang berwajah bopeng, malahan dia tak lain adalah yang dijumpainya sebagai peminta-minta di tepi telaga tadi.

Sore tadi masih seorang peminta-minta, malamnya telah menjadi seorang cukong, perubahan ini benar-benar sangat menyolok sekali.

Tapi, bagaimanapun ia berubah sendiri, sekalipun ia berubah menjadi abu, dalam sekilas pandangan saja Kwik Tay-lok dapat mengenalinya kembali....

Ya, siapa yang suruh mukanya terdapat begitu banyak bopeng yang menyolok.

Kwik Tay lok hanya memandang dua kejap lalu segera melengos untuk memandang papan nama di luar jendela sana. Kali ini dia bertekad untuk menahan diri dan tidak melakukan segala sesuatu tindakan secara gegabah.

Sekarang, bila dia menghampirinya, mencengkeram si bopeng itu dan bertanya apa sebabnya dia menghadiahkan mutiara kepada Sui Loan-kim, kemudian bertanya apakah ia tahu akan jejak Yan Jit, orang lain pasti akan menyangka dia adalah seorang yang sinting.

Tentu saja si bopeng itu dapat menjawab tidak tahu, bahkan bisa jadi akan mencuci tangannya bersih-bersih.

Kini si bopeng sudah masuk ke ruang utama.

Nona-nona kecil yang datang bersamanyapun jelas bukan gadis dari keluarga baik, belum lama mereka duduk, dari balik ruang sana sudah bergema panggilan-panggilan yang mesrah dan mendirikan bulu roma.

Anehnya, justru di dunia ini seolah-olah terdapat banyak sekali lelaki yang suka akan panggilan-panggilan seperti itu.
 


Berbicara terus terang, sesungguhnya Kwik Tay-lok juga senang sekali dengan gaya kehidupan seperti itu, tapi entah mengapa, bulu kuduknya pada bangun berdiri setelah mendengar perkataan itu kini.

Seseorang apakah akan terjadi perubahan lantaran cinta, kunci salahnya bukan terletak pada dia itu laki-laki, atau perempuan, sebaliknya lantaran tulus atau tidakkah cinta mereka, dalam atau tidak cinta mereka berdua.

Suasana di atas loteng rumah makan itu ramai sekali.

Kembali Kwik Tay-lok memesan sepoci arak, menambah beberapa macam sayur dan menyiapkan diri untuk melangsungkan pertarungan jarak panjang, sekalipun si bopeng akan berada di situ sampai pagi, diapun akan menunggu sampai pagi pula.

Siapa tahu, dengan cepat si bopeng telah berjalan keluar dalam keadaan mabuk hebat, dibimbing oleh seorang gadis berusia tujuh delapan belas tahunan, ia bertanya kepada, sang pelayan dimana tempat untuk cuci tangan....

Ternyata ia terlalu banyak minum arak, sekarang lagi mencari sebuah jalan keluar.

Kwik Tay-lok masih tetap bersabar untuk menyaksikan dia turun lagi dari loteng, namun setelah di tunggu-tunggu setengah harian lamanya belum nampak juga ia naik lagi ke atas loteng.

"Jangan-jangan dia telah mengetahui kalau aku berada di sini, maka menggunakan alasan hendak membuang air kecil, ia telah meloloskan diri dari sini?"

Akhirnya Kwik Tay-lok tak kuasa menahan diri lagi, ia bersiap untuk melakukan pengejaran.

Tapi pada saat itulah, mendadak ekor matanya menangkap seseorang sedang berjalan di seberang jalan sana dengan kepala tertunduk, ternyata dia adalah si bopeng.

Betul juga, rupanya dia hendak memanfaatkan kesempatan baik itu untuk melarikan diri.

Kwik Tay-lok menjadi sangat gelisah, tanpa berpikir panjang lagi, ia melompat keluar lewat daun jendela.

Para tamu yang berada dalam ruangan rumah makan itu menjadi gempar, mereka mengira ada orang hendak bunuh diri dengan menceburkan diri dari atas loteng.

Si bopeng itu berpaling dan mengerling sekejap ke arahnya, kemudian tubuhnya menyelinap ke depan dan tiba-tiba menerobos masuk ke dalam sebuah warung penjual bahan makanan yang berada di depan sana.

Di depan pintu warung tadi tertumpuk berkarung-karung gandum, berkeranjang-keranjang beras serta bahan makanan lainnya, selain itu tampak juga seorang bocah nakal yang masih ingusan bermain "Cian-cu" di depan pintu warung.

Menanti Kwik Tay-lok menyusul kesana, bayangan tubuh dari si bopeng itu sudah lenyap tak berbekas.

Waktu itu para pelayan warung dan sang kasir sedang bermain catur dengan asyiknya.
 
Kalau dilihat dari sikap mereka yang begitu santai, mustahil orang-orang itu menyaksikan ada orang yang baru saja memasuki warung mereka.

Jangan kedua orang inipun telah bersekongkol dengan si bopeng dan sengaja bermain sandiwara untuk diperlihatkan kepada Kwik Tay-lok ?

Tapi kali ini Kwik Tay-lok lebih waspada lagi, ia sama sekali tidak masuk untuk bertanya kepada orang itu, sebaliknya bersembunyi di samping warung dan menggape ke arah bocah yang masih ingusan itu.

Sambil mengeluarkan beberapa biji mata uang, katanya sambil tertawa:

"Aku ingin bertanya kepadamu, asal kau bersedia menjawab dengan jujur, uang ini kuberikan semua kepadamu untuk membeli gula-gula."

Bocah cilik itu dengan tangan sebelah memegang mainan, tangan lain menyeka ingus, sepasang matanya memperhatikan uang ditangan pemuda itu tanpa berkedip.
Baik itu orang dewasa maupun anak kecil tidak ada berapa orang yang tidak menyukai uang. "Sudah kau dengar dengan jelas ?" ucap Kwik Tay-lok, "asal kau bersedia untuk bicara
dengan jujur, maka uang ini menjadi milikmu semua."

Dengan cepat bocah itu menganggukkan kepalanya berulang kali.

"Aku selalu berbicara dengan jujur" katanya, "Ayah memberitahukan kepadaku, bila anak kecil suka berbohong, nanti lidahnya akan menjadi busuk dan bau."

Kwik Tay-lok segera menepuk-nepuk kepalanya sambil tertawa, sahutnya dengan cepat: "Betul, anak yang berterus terang barulah anak baik. Apakah warung penjual bahan makanan ini adalah milikmu ?"

Bocah itu segera mengangguk:

"Betul, kami menyimpan beras yang sangat banyak, sekalipun dimakan selama seratus tahun pun tak akan habis."

"Bukankah di rumahmu juga terdapat seorang bopeng ?"

Bocah itu mengerdipkan matanya berulang kali seperti merasa amat keheranan, lalu serunya. "Dari mana kau bisa tahu ?"
Kwik Tay-lok segera tertawa, untuk membohongi seorang bocah yang jujur tampaknya memang bukan suatu pekerjaan yang sulit.

Tapi menyuruh seorang dewasa membohongi seorang anak, bagaimanapun juga merupakan suatu perbuatan yang memalukan.

Oleh karena itu dia merasa amat rikuh sendiri, maka setelah menyerahkan uang tadi ke tangan si bocah, dia baru berkata sambil tertawa:

"Aku belum pernah menyaksikan seorang yang berwajah bopeng, bersediakah kau untuk mengajakku pergi untuk menjumpainya ?"
 
Bocah itupun tertawa, katanya:

"Tentu saja dapat, belum lama berselang dia masuk ke mari, tak lama kemudian dia pasti akan keluar."



"Ia pasti akan keluar ?"

Bocah itu manggut-manggut, sambil memutar biji matanya tiba-tiba ia tertawa, katanya: "Sekarang dia sudah keluar."
Tangannya memegang uang itu kencang-kencang, sebaliknya melemparkan mainannya ke tanah, setelah itu ia maju ke depan dan menarik tangan seorang bopeng yang baru ke luar dari ruangan.

Dia tak lebih hanya seorang bocah berusia tujuh delapan tahun yang bermuka bopeng.

Sekali lagi Kwik Tay-lok tertegun, tampaknya ia dibuat menangis tak bisa tertawapun tak dapat.

Bocah itu tertawa amat girang, katanya:

"Dia bernama Siau-sam-cu, yang masih terhitung adikku, sejak kecil mukanya sudah bopeng, dalam keluarga kami hanya terdapat seorang manusia bermuka bopeng saja."

Kwik Tay-lok menjadi tertegun, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun dia membalikkan badan dan berlalu dari sana.

Terdengar bocah itu sedang berbisik sambil tertawa:

"Siau-sam-cu, bila setiap orang yang ingin menyaksikan wajahmu pada memberi uang kepadaku, dengan segera kita akan menjadi kaya, lain kali kaupun tak usah kuatir tidak memperoleh istri yang cantik lagi, asal kita sudah mempunyai banyak uang, sekalipun mukamu bopeng juga sama saja ada orang yang akan mengawini dirimu ?"

Kwik Tay-lok merasa yaa mendongkol yaa geli, sekalipun ingin tertawa namun tiada suara yang bisa keluar dari dalam mulutnya.

Dia tahu, bocah-bocah itu pasti telah menganggap sebagai telur busuk yang paling tolol. Sebab jalan pikirannya tidak selisih jauh bila dibandingkan dengan jalan pikiran bocah itu.
Ketika dia berpaling, tampaknya si pelayan dari rumah makan Hwee-peng-koan tersebut dengan senyum tak senyum sedang memperhatikan dirinya.

"Rekening Kek-koan tadi adalah tiga tahil enam hun, bisa itik panggang yang belum habis dimakan boleh dibungkus dan dibawa pulang," katanya cepat.

Sudah barang tentu, sikap seorang pelayan rumah makan terhadap tamu yang kabur lewat jendela tak mungkin akan baik.

Waktu itu, Kwik Tay-lok sama sekali sudah tak punya kemarahan lagi, sambil menyerahkan uang tersebut kepadanya, tiba-tiba ia bertanya lagi:
 
"Kenalkah kau dengan si manusia bermuka bopeng yang besar lagaknya itu. ?"

Setelah pelayan itu menerima uangnya dan menimang-nimang sebentar, sambil tertawa segera sahutnya:

"Walaupun hamba tidak kenal dengan si bopeng itu, tapi beberapa orang nona yang menemaninya hamba kenal, sekarang juga hamba bisa pesankan orang-orang itu untuk menghibur toaya"

"Aku hendak mencari si bopeng itu, apakah sebelum ini kau belum pernah melihatnya!"

Pelayan itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali, jelas dia merasa sangat keheranan.

"Jangan-jangan orang ini mengidap penyakit aneh." demikian pikirnya. "Nona cakep dia tidak mau, sebaliknya si bopeng yang dicari."

Waktu itu, Kwik Tay-lok sama sekali sudah tak bersemangat lagi untuk banyak berbicara dengannya, dia tahu sekalipun mencari keterangan dari nona-nona penghibur itupun belum tentu ia dapat memperoleh keterangan yang diinginkan.

Tampaknya si manusia bopeng itu benar-benar adalah seorang manusia aneh.

Sudah jelas dia sedang berusaha untuk menghindarkan diri dari Kwik Tay-lok, tapi justru dia selalu munculkan diri pula di hadapan Kwik Tay-lok, kalau dibilang ia bukan sengaja berbuat demikian, mungkinkah di dunia ini benar-benar terdapat kejadian yang begini kebetulan?

Bukti menunjukkan bahwa pemilik toko penjual bahan makan dengan suami isteri berdua tadi mempunyai hubungan yang erat dengan dirinya, dari sini dapat diketahui bahwa ia sudah cukup lama tinggal dalam kota ini.

Tapi herannya, mengapa orang lain tak pernah berjumpa dengan dirinya ?

Tanpa sebab tanpa musabab dia telah membayar sebutir mutiara kepada Sui Loan-kim demi Kwik Tay-lok, sudah barang tentu mustahil kalau dia sama sekali tidak mempunyai tujuan tertentu.

Tapi apakah tujuannya yang sesungguhnya? Kenapa dia harus melakukan perbuatan- perbuatan yang mencengang-kan?

Sekalipun kau menghancurkan kepala Kwik Tay-lok, belum tentu ia bisa menemukan sebab musababnya. .

Hampir saja ia putus asa dan bermaksud untuk melepaskan perhatiannya terhadap orang ini.

Siapa tahu, pada saat itulah si nona cilik yang memayang si bopeng turun dari loteng tadi telah membalikkan badannya dan berjalan menghampiri Kwik Tay-lok, lalu dengan genit melemparkan beberapa kerlingan mata ke arahnya.

Pelayan rumah makan memandang sekejap ke arahnya, kemudian memandang pula ke arah Kwik Tay-lok, setelah itu dia membuat muka setan dan segera kabur dari sana.

Orang yang melakukan pekerjaan semacam ini memang jarang yang tak tahu diri, mereka selalu pandai melihat gelagat serta menyesuaikan diri. Dalam pada itu, si nona cilik itu telah berjalan ke hadapan Kwik Tay lok, kemudian setelah tertawa manis katanya:
 
"Aku pikir, kau pastilah toa sauya dari keluarga Kwik bukan ?"

Kwik Tay-lok manggut-manggut, sambil memandang ke arahnya dengan mata melotot, dia berseru: "Apakah si bopeng itu yang memberitahukan namaku kepadamu ?"

Nona cilik itupun segera manggut-manggut, sahutnya sambil tersenyum:

"Aku bernama Bwe Lan, tinggal dalam rumah pelacuran Liu-cun-wan, di kemudian hari masih berharap Kwik sauya suka memperhatikan diriku."



"Asal kau bisa membantuku untuk menemukan si bopeng tersebut, setiap hari aku akan berkunjung ke kamarku."

"Sungguh?" seru Bwe Lan sambil mengerdipkan matanya.

"Hanya telur busuk anak kura-kura saja yang tidak memegang teguh perkataannya." Kembali Bwe Lan tertawa, tertawanya semakin manis.
"Aku datang mencari Kwik sauya, karena si toaya bopeng memang ada pesan yang menyuruhku untuk menyampaikan kepada sauya"

"Apa yang dia katakan?"

"Ia bilang kentongan ketiga malam nanti dia akan menantikan kedatanganmu di kui Liong-ong- bio di sebelah timur telaga Tay-beng ou, dia bilang pula..."

"Dia masih bilang apa lagi ?" tanya Kwik Tay-lok dengan cemas. Setelah ragu-ragu sejenak, akhirnya Bwe Lan berkata:
"Ia masih bilang, bila kau tak-punya keberanian untuk pergi kesanapun tak jadi soal" Tiba-tiba ia tersenyum, sahutnya:
"Sekarang Kwik sauya sudah dapat menemukan dirinya, tapi ingat apa yang Kwik sauya katakan harus dipegang teguh. kalau seorang lelaki menjadi telur busuk, oh, pasti tak sedap
rasanya."

Akhirnya perempuan yang berdandan sebagai siluman cilik itu telah pergi meninggalkan tempat itu.

Sebelum pergi dia tak lupa meninggalkan alamat rumah pelacuran Liu-cun-kwan kepada Kwik Tay-lok.

Sekarang Kwik Tay-lok baru sadar, lagi-lagi dia telah salah berbicara kenapa ia tak dapat
menahan diri beberapa waktu lagi, menunggu siluman itu menyampaikan pesan dulu dari si bopeng ?

Kenapa dia selalu mendatangkan pelbagai kesulitan bagi diri sendiri tanpa disadari sama sekali ?

Tapi si orang bermuka bopeng itu jauh lebih membingungkan lagi..
 
Sudah jelas dia sedang berusaha untuk menghindari Kwik Tay-lok, tapi sekarang ia justru mengajak Kwik Tay-lok untuk bertemu.

Apakah hal inipun merupakan suatu rencana busuk untuk menjebaknya?

Apakah dia telah mempersiapkan jebakan disekitar kuil Liong-ong-bio dan menunggu Kwik Tay-lok masuk jebakan?

Walaupun dia seperti banyak mengetahui persoalan tentang Kwik Tay-lok, namun sebelum itu Kwik Tay-lok hampir tak pernah bertemu dengan orang ini, sudah barang tentu diantara merekapun tak bisa dibilang ada dendam atau budi.

Ia telah membuang banyak pikiran, banyak tenaga dan menghamburkan begitu banyak uang sebenarnya apakah maksud serta tujuannya?

Sambil menghela napas panjang, Kwik Tay-lok bergumam:

"Diantara sepuluh orang manusia bermuka bopeng, sembilan diantaranya berwatak aneh, tampaknya ucapan ini sedikitpun tak salah"

Kuil raja naga.

Tampaknya, di setiap tempat yang ada airnya pasti terdapat sebuah kuil raja naga.

Liong ong bio memang seperti kuil dewa tanah, ibaratnya telinga bagi orang tuli, hanya suatu tempat tujuan belaka, di sana tiada tempat untuk pasang hio, juga tiada tosu atau hwesio.

Demikian pula dengan Liong-ong bio.

Kwik Tay-lok datang dengan menunggang kereta keledai, sebab dia tidak kenal jalan, lagi pula ingin mengirit tenaga sehingga bisa memiliki kekuatan yang tangguh untuk menghadapi si orang bermuka bopeng itu.

Si kakek kusir kereta adalah seorang kakek yang rambutnya telah beruban semua.

Sebenarnya Kwik Tay lok tidak ingin naik kereta, apa mau dikata setelah malam tiba kereta yang lain enggan mendatangi kuil Liong ong bio yang letaknya terpencil.

Jalannya menuju ke tempat itu memang bukan suatu jalanan yang baik untuk dilewati apalagi bila malam tiba, tiada lampu yang menerangi tempat itu, keadaan gelap gulita dan sangat mengerikan.

Kakek si kusir kereta itu mengantuk sepanjang jalan, tiba di sana mendadak ia menarik tali les keledainya dan berkata seraya berpaling.

"Bila berjalan lebih ke depan, kau akan tiba di kuil Liong-ong-bio, lebih baik berjalanlah sendiri kesana."

Tak tahan Kwik Tay-lok segera bertanya:

"Kenapa kau tidak mengantar aku sampai ke depan pintu ?" Tiba-tiba kakek bungkuk itu tertawa:
"Sebab aku masih ingin hidup barang dua tahun lagi."
 
Malam amat hening, senyumannya itu kelihatan agak menyeramkan bagi orang yang memandangnya.

Dengan kening berkerut Kwik Tay-lok segera menegur:

"Memangnya setelah kau mengantar aku sampai di sini, maka kau tak bisa hidup lebih lanjut?" Kakek bungkuk itu tertawa semakin misterius, katanya hambar:
"Setiap orang yang tiba di sini malam ini mungkin akan sulit untuk pulang dalam keadaan hidup, kuanjurkan kepadamu lebih baik jangan kesana..."

"Setiap orang boleh berkunjung ke kuil liong-ong-bio, kenapa aku tak boleh kesana?"

"Sebab malam ini jauh berbeda dengan malam-malam sebelumnya." jawab kakek bungkuk itu sambil tertawa seram.

"Bagaimana bedanya?"

Tiba-tiba kakek bungkuk itu tidak berbicara lagi, sepasang matanya dengan melotot besar sedang memandang ke belakang punggung Kwik Tay-lok, seakan-akan ia melihat ada setan yang muncul secara tiba-tiba.



Tanpa terasa Kwik Tay-lok merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri, tidak tahan diapun turut berpaling ke belakang.

Malam itu sangat hening dan tak tampak seorang manusiapun, pohon liu yang bergoyang terhembus angin, dalam kegelapan malam mirip sesosok iblis yang sedang mementangkan cakarnya.

Sekalipun demikian, bukan berarti bayangan itu benar benar-mirip dengan iblis yang mementangkan cakar, sehingga tidak banyak yang dibuat ketakutan.

Kwik Tay-lok segera tertawa geli, katanya:

"Kau boleh menghantar aku ke situ dengan hati tenang, asal kau mati, aku. "

Mendadak ia menghentikan ucapannya secara tiba-tiba.

Sebab ketika dia memalingkan kepalanya, ternyata si kakek bungkuk itu sudah lenyap tak berbekas.

Di kejauhan sanapun hanya kegelapan yang nampak, bukan saja tidak nampak bayangan manusia, sekalipun benar-benar ada setan juga sama saja tak terlihat.

Kenapa kakek bungkuk itu lenyap secara tiba-tiba? Apakah dia telah dilarikan oleh setan bengis yang bersembunyi di balik kegelapan?

Segulung angin berhembus lewat, tak tahan Kwik Tay-lok bergidik dan bersin berulang kali gumamnya kemudian:

"Baik, kau tak mau pergi, biar aku sendiri yang menjalankan kereta ini ke sana."
 
Bila seseorang berada dalam kegelapan seorang diri, sekalipun hanya mendengar perkataan sendiri, paling tidak nyalinya akan lebih besar sedikit.

Dia melompat naik ke atas tempat duduk kusir, mengambil cambuk dan melarikan keledai itu.
Siapa tahu seakan-akan ke empat buah kaki keledai itu sudah memantek di atas tanah saja, sampai matipun ia tak mau maju barang selangkahpun jua.

Apakah keledai itu sudah menduga firasat jelek, yang menunjukkan kalau di depan sana benar-benar terdapat iblis buas yang siap menerkam mangsanya.

Di tempat seperti ini, dalam suasana seperti ini, jangankan setan bengis bisa makan orang, orangpun bisa makan orang.

Padahal Kwik Tay-lok adalah orang asing yang tak punya sanak keluarga di sana, sekali pun dilahap orang sampai habispun tiada tempat untuk mengadukan peristiwa itu, malah jenasahpun entah dikubur dimana.

Bila orang lain yang harus menghadapi keadaan seperti ini, cara yang terbaik adalah membalikkan badan dan mengambil langkah seribu, kalau bukan mencari tempat untuk minum barang dua cawan arak tentulah mencari pembaringan dan tidur yang nyenyak.

Sayang sekali, justru Kwik Tay lok memiliki watak seperti keledai, bila kau menginginkan dia mundur maka dia justru maju ke depan.

Sekalipun di depan sana terdapat sarang naga gua harimau, diapun akan mencoba untuk menembusinya.

"Kalau toh kau enggan berjalan ke muka, aku juga punya kaki, memangnya aku tak bisa berjalan sendiri ?"

Dengan cepat dia melompat turun dari atas kereta dan maju ke muka dengan langkah lebar. "Benarkah kuil Liong-ong-bio terletak di depan sana ?"
Pertanyaan itu masih merupakan sebuah tanda tanya besar, ia tidak tahu juga tidak melihat bayangan rumah.

Di depan sana hanya tanah luas kosong tiada sesuatu yang terlihat, bila orang hendak melakukan pertemuan, sudah pasti mereka tak akan melakukannya ditempat seperti ini.

Kecuali dia memang memiliki rencana busuk yang takut diketahui orang lain.

Sambil membungkukkan dada dan tertawa dingin Kwik Tay-lok maju ke depan, tiba-tiba ia mendengar serentetan suara yang sedang mengeluh sedih.

Baru saja dia membalikkan kepalanya, tampak keledai itu sedang meringkik keras, seakan- akan bertemu dengan setan saja, entah sejak kapan dia telah membalikkan tubuhnya dan kabur menuju ke arah dimana ia datang tadi.

Kwik Tay lok segera tertawa dingin, gumamnya:

"Aku toh bukan keledai, kau bisa membuatnya takut, bukan berarti kau bisa membuat akupun menjadi takut."

Tapi, menunggu dia berpaling, toh hatinya dibuat terperanjat juga.
 
Dari balik kegelapan sana, entah sejak kapan telah bertambah dengan sebuah lentera di tambah bayangan sesosok manusia.

Ternyata lentera itu berwarna hijau, cahaya lampu yang berwarna hijau menyoroti tubuh dan kaki orang itu namun tidak berhasil menyoroti wajahnya.

Di atas kepalanya mengenakan sebuah topi lebar yang besar dan luas, topi itu dikenakan rendah-rendah sehingga hampir saja menutupi seluruh wajahnya.
Tapi sekarang, Kwik Tay-lok sudah melihat kalau orang itu bukan si orang berwajah bopeng. Sebab orang ini hanya punya sebuah kaki. kaki kirinya terpapas kutung sebatas lutut dan
diganti dengan sebuah kaki kayu.

Walaupun demikian, ketika datang tadi ternyata sama sekali tidak menimbulkan suara apa- apa.

Dia berdiri dikejauhan sana, tangan yang satu memegang lentera sedangkan tangan yang lain membawa sebuah tongkat berwarna hitam, entah terbuat dari kayu ataukah terbuat dari besi.

Walaupun dia hanya mempunyai sebuah kaki, tapi berdiri di situ dengan tenang dan tegap bagaikan sebuah bukit Thay-san.

Di tengah malam buta yang sepi dan tiada sesosok bayangan manusiapun, tiba-tiba muncul seorang manusia seperti itu, siapapun pasti akan merasa terkejut sekali setelah melihatnya.

Tapi bukan saja Kwik Tay-lok dapat menenangkan hatinya dengan cepat, malahan dia bisa manggut-manggut pula ke arah orang itu sambil tersenyum lebar.

Asal orang lain belum sempat mencelakai kepada siapapun, dia akan tetap bersikap bersahabat.

Ternyata si orang berkaki tunggal itupun manggut-manggut kepadanya. Kwik Tay lok segera memperkenalkan diri, katanya:
"Aku she Kwik bernama Kwik Tay-lok, Tay yang berarti besar, lok yang berarti jalan artinya si orang she Kwik yang berjalan besar."

"Aku toh tak ingin mengetahui siapa namamu" ucap si orang berkaki tunggal dingin. Kwik Tay-lok segera tertawa.
"Tapi kita dapat bersua muka ditempat seperti ini, berarti kita masih mempunyai jodoh" ucapnya.

"Darimana kau bisa tahu kalau aku bertemu denganmu hanya karena kebetulan saja?" "Memangnya bukan?"