Pendekar Riang Jilid 27

 
Jilid 27

BELUM lagi ucapannya selesai diucapkan, wajahnya semakin memerah, larinya semakin cepat, seakan-akan takut kalau sampai dikejar orang.

"Kecil amat nyali nona cilik ini," kata Kwik Tay-lok kemudian sambil tertawa.

"Melihat tampangmu yang buas dan seram, gadis yang bernyali besarpun akan ketakutan juga dibuatnya," sela Yan Jit dingin.

"Aku toh tak lebih hanya bertanya beberapa patah kata kepadanya, apa salahnya kalau bertanya melulu?"

"Apa pula urusannya nama orang, tinggal dimana dengan urusanmu? Kenapa kau mesti banyak bertanya?"

"Aku toh bukan bertanya untuk diriku sendiri," jawab Kwik Tay-lok tertawa. "Lantas kau bertanya untuk siapa?"
Kwik Tay-lok menunjuk ke arah Lim Tay-peng dengan ujung bibirnya, lalu berkata sambil tertawa:

"Apakah kau belum melihat bagaimanakah tampang dari kongcu kita yang romantis itu?"

Lim Tay-peng seakan-akan tidak mendengar apa yang dia katakan, sepasang matanya masih menatap ke arah mana bayangan tubuh nona cilik itu melenyapkan diri, ia tampak seperti agak terpesona dibuatnya.

Musim semi belum pergi jauh, angin yang berhembus di pagi hari itu masih membawa udara yang segar.

Kwik Tay-lok membuka pintu dan menarik napas panjang-panjang, angin sejukpun segera berhembus lewat menerpa tubuhnya.

Setiap hari pasti dialah yang bangun paling awal, sebab dia merasa bertiduran di atas ranjang dalam udara segar seperti itu hanyalah suatu pekerjaan yang menghambur-hamburkan waktu.

Tapi hari ini, ketika ia membuka pintu dan melangkah keluar halaman, tiba-tiba dijumpainya Lim Tay-peng sudah berdiri di tengah halaman.

Ia sedang berdiri termangu-mangu di tengah halaman.

Kwik Tay-lok segera mendehem pelan, tapi ia tidak mendengar, Kwik Tay-lok mengetuk tiang pagar, diapun tidak mendengar.
 
Sepasang matanya hanya menatap bunga mawar di sudut halaman saja, entah apa yang sedang dipikirkan ?

Pelan-pelan Kwik Tay-lok berjalan menghampirinya, kemudian secara tiba-tiba berseru keras: "Selamat pagi !"
Akhirnya Lim Tay-peng mendengar juga, tapi iapun tampak seperti amat terperanjat, ketika berpaling dan melihat orang itu adalah Kwik Tay-lok, ia baru tertawa paksa.

"Selamat pagi !" sahutnya.

Kwik Tay-lok menatap wajahnya lekat-lekat, kemudian berkata:

"Kalau kulihat matamu yang merah, tampaknya semalam tidak nyenyak tidurmu?" "Ehhmmm. "
"Tampaknya kau seperti mempunyai rahasia hati, sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan
?"

"Aku sedang berpikir. agaknya musim semi telah berlalu."

"Yaa betul, musim semi telah berlalu, agaknya baru kemarin berlalunya" sahut Kwik Tay-lok sambil manggut-manggut.

"Baru kemarin berlalunya ?" Kwik Tay-lok segera tersenyum.
"Masa kau tidak tahu ?" serunya, "ketika si nona cilik lari pergi kemarin, musim semi telah lari pula mengikutinya"

Kontan saja paras muka Lim Tay-peng berubah menjadi merah padam. Sengaja Kwik Tay-lok menghela napas panjang, gumamnya:
"Heran, kemana perginya musim semi ? Siapa yang tahu. ? Bila ada orang yang tahu ke
mana perginya musim semi, apa salahnya kalau dicari kembali ?"

"Dapatkah kau kurangi beberapa patah katamu yang tak beraturan itu?" pinta Lim Tay-peng dengan paras muka merah padam.

Kembali Kwik Tay-lok tertawa.

"Masa aku telah salah berbicara? Apakah kau tak ingin menahan musim semi itu beberapa waktu lamanya?"

"Aku. "

Mendadak ia membungkam, sebab pada saat itulah tiba-tiba berkumandang suara nyanyian dari kejauhan sana:

"Nona cilik bangun di pagi hari. Membawa keranjang bunga, menuju ke pekan. Melewati jalan besar, menelusuri lorong kecil. Bunga, bunga, teriaknya. Meski bunga indah, meski bunga harum.
 
Bagaimana bila tak ada yang beli, Menenteng keranjang, berkantung kosong. Pulang bertemu ayah dan bunda."

Nyanyian itu manis, indah dan agak bernada pedih, bukan cuma Lim Tay-peng yang dibikin terperana, Kwik Tay-lok pun ikut terpesona dibuatnya.

Lewat lama kemudian ia baru menghela napas panjang, gumamnya:

"Tampaknya musim semi belum pergi jauh, buktinya sekarang ia telah balik kembali." Tiba-tiba di dorongnya Lim Tay-peng ke teras, kemudian ujarnya sambil tertawa: "Kenapa belum beranjak keluar? Buat apa berdiri termangu-mangu saja di situ?"


"Keluar mau apa?" tanya Lim Tay-peng dengan wajah memerah karena amat jengah. Kwik Tay-lok segera mengerdipkan matanya berulang kali:
"Kemarin, orang toh sudah menghadiahkan begitu banyak bunga untukmu, paling tidak hari ini kau harus merasakan terima kasih itu."

Lim Tay-peng masih ragu-ragu, tapi akhirnya di bawah dorongan Kwik Tay-lok, ia keluar juga dari pintu. Kabut telah buyar, sang surya memancarkan cahayanya menerangi seluruh jagad.

Seorang nona cilik yang membawa keranjang bunga sedang pelan-pelan berjalan mendekat, cahaya matahari telah memancarkan sinarnya menerangi seluruh angkasa.

Ketika ia mendongakkan kepalanya dan tiba-tiba melihat wajah Lim Tay-peng, sinar matahari seakan-akan memancar semua di atas wajahnya. Mungkin juga masih ada separuhnya menyinari wajah Lim Tay-peng.

Kwik Tay lok memandang sekejap ke arahnya lalu memandang pula ke arah nona cilik itu, diam-diam ia mengundurkan diri dari situ, menutup pintu dan membiarkan mereka tetap berada di luar pintu.

Hembusan angin musim semi yang lembut, seakan-akan kerlingan mata sang kekasih.

Kwik Tay-lok tersenyum, ia merasa girang sekali, sambil bergendong tangan pelan-pelan ia berjalan mundar mandir ditengah halaman.

Sebenarnya ia tidak bermaksud mencari Yan Jit, tapi mendongakkan kepalanya, tiba-tiba dijumpainya ia telah berada di depan kamarnya Yan Jit.

Cahaya musim semi begitu indah, mengapa tidak membiarkan teman yang lainpun ikut merasakannya?

Akhirnya Kwik Tay-lok mengulurkan tangan dan pelan-pelan mengetuk pintu. Tiada jawaban dari dalam ruangan.
Ia mengetuk lebih keras lagi, namun belum juga ada suara sahutnya. Masa tidur Yan Jit bagaikan mayat saja?
 
Kwik Tay-lok segera berteriak keras-keras:

"Hei, matahari sudah berada ditengah kepala kita, masa kau belum juga bangun?" Suasana dibalik pintu masih tetap hening, tak ada suara barang sedikitpun juga.
Tiba-tiba dari belakang tubuhnya kedengaran suara orang berbicara, itulah suara Ong Tiong. "Dia tidak ada di halaman belakang, juga tidak berada di dapur" demikian ucapnya.
Paras muka Kwik Tay-lok agak berubah, tak tahan lagi ia segera mendorong pintu keras-keras. Pintu itu memang tidak dikunci, begitu didorong pintupun terbuka lebar....
Tapi bersama dengan terbukanya pintu, cahaya musim semi di halaman tadipun seakan-akan turut terdorong keluar.

Dalam kamar itu tak ada orang.

Pembaringan masih teratur rapi, seperti bersih dan licin, jelas semalam tidak diguna-kan, kecuali itu di sana nampak barang apapun jua.

Bukan saja Yan Jit tak ada dalam kamar segala sesuatu benda miliknya juga ikut lenyap tak berbekas.

Kwik Tay-lok berdiri tertegun di sana, kaki dan tangannya segera berubah menjadi dingin seperti es.

Ong Tiong mengerutkan pula dahinya, lalu bergumam:

"Tampaknya dia sudah pergi sejak kemarin malam!" "Ehem. "
"Kali ini, mengapa dia pergi dengan membawa serta segenap benda miliknya? Kenapa ia pergi tanpa pamit atau meninggalkan pesan barang sepatah katapun juga ?"

Tiba-tiba Kwik Tay-lok membalikkan badannya dan mencengkeram bahu Ong Tiong kencang- kencang, serunya:

"Semalam, kau tidak mengatakan apa-apa kepadanya bukan ?" "Menurut pendapatmu apa yang kuberitahukan kepadanya ?" "Maksudku semua perkataan yang kuucapkan kepadamu itu!" "Kau anggap aku adalah manusia macam apa ?"
"Kau benar-benar tidak mengucapkan apa-apa" Ong Tiong menghela napas panjang, lanjutnya:
"Sekarang, kitapun tak usah cekcok lagi, kalau tidak, cukup dengan perkataan itupun aku bisa mengajakmu cekcok hebat."
 
Kwik Tay-lok tertegun beberapa saat lamanya, kemudian dia menghela napas panjang dan pelan-pelan melepaskan cengkeramannya.

Sambil tertawa paksa Ong Tiong berkata lagi:

"Padahal kau tak usah cemas, dulu ia pernah kabur selama banyak waktu, tapi kemudian bukankah dia telah balik kembali?"

Kwik Tay-lok segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya sambil tertawa getir: "Bukankah barusan kau juga berkata, kali ini berbeda?"
"Tapi dia sama sekali tak punya alasan untuk pergi tanpa pamit."

Kwik Tay-lok menundukkan kepalanya rendah-rendah, katanya kemudian:

"Mungkin.... mungkin dia seperti aku juga merasa gelagat semakin tidak beres maka. maka
dia merasa lebih baik angkat kaki dari sini "

"Padahal kalian seharusnya tidak melakukan suatu kesalahan apa-apa," ucap Ong Tiong agak sangsi.

"Masih belum?" kata Kwik Tay- Iok sambil tertawa getir. "Padahal dia.... dia "
"Dia kenapa ?"

Ong Tiong memandangnya dengan ragu, lewat beberapa saat kemudian tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya berulang kali..



"Aahhh, tidak apa-apa. "

Tidak menanti ucapan tersebut diselesaikan, ia telah membalikkan badan dan berlalu dari sana.

"Kau hendak ke mana?" tegur Kwik Tay-lok. "Mencari barang secawan arak."
Sesungguhnya Ong Tiong juga merupakan seseorang yang tak dapat menyimpan rahasia dalam hatinya, dia hanya merasa, ada sementara persoalan yang lebih baik jangan dibicarakan saja.

Karena ia merasa, ada sementara persoalan lebih baik tidak diketahui oleh Kwik Tay-lok, sebab bila ia mengetahui terlalu banyak, hal mana justru akan mendatangkan kemurungan baginya.

Sayang dia tak tahu kalau hal itu sama saja mendatangkan kemurungan baginya. Sekarang musim semi baru benar-benar telah pergi jauh.
Ke mana perginya musim semi? Tak pernah ada orang yang tahu.
 
Nona cilik bangun di pagi hari. . .

Membawa keranjang bunga, menuju ke pekan. Melewati jalan besar, menelurusi lorong kecil...
Nyanyian yang merdu itu hampir dapat di dengar setiap hari bila fajar baru menyingsing.

Asal mendengar suara nyanyian tersebut, Lim Tay-peng segera merasa musim seminya telah tiba.

Tapi, musim semi bagi Kwik Tay-lok tak pernah kembali lagi.

Yan Jit seakan-akan pergi bersama berlalunya angin sepoi, pergi untuk tak kembali lagi, tiada kabar beritanya, tidak nampak pula bayangan tubuhnya.

"Dia telah kemana? Mengapa sepatah katapun tidak ditinggalkan ?" Kwik Tay-lok bertekat hendak menemukan alasannya.
Maka diapun berangkat meninggalkan tempat itu. Sebelum pergi, dia hanya meninggalkan sepatah kata:
"Sebelum menemukan dirinya, aku tak akan pulang kembali !"

Gelak tertawa dalam perkampungan Hok-kui-san-ceng semakin berkurang, walaupun udara makin hari semakin panas, namun dalam perasaan Ong Tiong, tempat itu hari bertambah hari semakin dingin.

Tiada kabar berita dari Kwik Tay-lok, tiada kabar berita dari Yan Jit, juga tiada kabar berita dari musim semi. Yang ada hanya suara nyanyian merdu yang tiap fajar dapat terdengar dengan indahnya.

Selain itu, satu-satunya yang membuat hati orang menjadi girang dan lega adalah makin sembuhnya luka yang diderita Ang Nio cu.

Suatu hari, dia dan Lim Tay-peng menemani Ong Tiong berdiri di bawah wuwungan rumah.

Langit sebenarnya bersih dan cerah, tapi secara tiba-tiba awan hitam menyelimuti seluruh angkasa.

Menyusul kemudian, petir menyambar-nyambar dan geledek menggelegar membelah angkasa, hujan turun dengan derasnya.

Air hujan turun membasahi seluruh jagad, bunga di sudut halaman sana berguguran tertimpa air, entah mengalir sampai ke sana.

Memandang air hujan yang membasahi atap rumah, tiba-tiba Ong Tiong menghela napas panjang, gumamnya:

"Musim semi benar-benar telah pergi. aaaai, entah sampai kapan ia akan kembali lagi ?"

Ang Nio-cu segera menghibur dengan suara lembut:
 
"Walaupun sekarang ia telah pergi, tapi dengan cepatnya dia pasti akan kembali lagi."

"Benar," sambung Lim Tay-peng, "bagaimanapun jauhnya musim semi itu berlalu, suatu ketika dia pasti akan kembali lagi."

"Pasti ?"

"Ya, pasti." Lim Tay-peng mengangguk.

Ong Tiong menatap wajahnya pelan-pelan memandang-nya lama sekali, kemudian ia menggelengkan kepalanya dam menghela napas panjang, untuk beberapa saat lamanya menjadi hening. Tiada orang yang berbicara lagi, tiada orang yang memecahkan keheningan di sana.

Yang terdengar hanya suara hujan yang membasahi jagad. Petir menyambar-nyambar, geledek membelah bumi, hujan turun dengan amat derasnya. Seluruh tubuh Kwik Tay-lok telah basah kuyup tertimpa air hujan, akhirnya ia mendusin.

Ketika ia mendusin, baru diketahui kalau tubuhnya sedang berbaring di sudut dinding rumah di atas tanah berlumpur, sedang mengenai apa sebabnya ia bisa tertidur di sini, berapa lama ia telah berada di situ, pemuda itu sama sekali tidak tahu.

Dia masih ingat, semalam dia mengikuti saudara-saudara dari kota timur bermain judi di rumah perjudian milik lotoa di kota barat, berjudi sampai ludes seluruh uang milik bandar.

Kemudian lotoa dari kota timur pun menyelenggarakan pesta kemenangan dirumah pelacuran milik Siau Tang-kwe, dua tiga puluh orang saudara secara bergilir menghormatinya dengan secawan arak.

Bahkan di hadapan orang banyak, lotoa dari kota timur telah menepuk dada sambil menyatakan asal dia dapat menghajar remuk perkumpulan di kota barat itu, untuk selanjutnya daerah sebelah barat kota itu akan menjadi miliknya, kemudian kedua orang itupun agaknya menyembah di depan meja sembahyang dan mengangkat saudara.

Kejadian selanjutnya sudah tidak diingat lagi olehnya dengan jelas, agaknya Siau mi-tho adik perempuan Siau tang-kwe membimbingnya pulang, baru saja akan melepaskan sepatunya dan melepaskan pakaiannya, tiba-tiba ia menolak, kemudian dia hendak pergi, pergi mencari Yan Jit.



Siau mi-tho ingin menariknya, malahan perempuan itu kena ditampar olehnya.

Kemudian diapun menemukan dirinya berbaring di sana, diantara kejadian terakhir sampai apa yang dialaminya sekarang, sama sekali sudah tidak teringat lagi.

Atau tegasnya saja, selama setengah bulan lebih ini, dia sendiripun tidak jelas penghidupan macam apakah yang dialaminya.

Sebenarnya dia keluar rumah hendak mencari Yan Jit, tapi dunia begini luas, dia harus pergi kemana untuk menemukannya ?

Maka diapun tinggal di situ setibanya di kota ini, setiap hari kerjanya hanya mabuk-mabukan, berjudi, main perempuan....

Suatu hari setelah mabuk hebat, ia telah bentrok dengan lotoa dari kota timur, tapi akibat dari pertarungan itu, ternyata mereka malah menjadi bersahabat.
 
Waktu itu lotoa dari kota timur sedang ditekan terus oleh perkumpulan di kota barat sehingga tak dapat bernapas, Kwik Tay-lok segera menepuk dada sambil memberi jaminan bahwa ia sanggup membalaskan dendam.

Maka diapun bergaul dengan saudara dari kota timur, setiap hari kerjanya hanya minum arak, berjudi, berkelahi, mencari perempuan, tiap hari berteriak sambil tertawa tergelak, kehidupannya tiap hari dilewatkan dengan riang gembira.

Tapi mengapa setiap kali setelah mabuk, ia selalu pergi seorang diri, bila sadar kembali keesokan harinya, kalau bukan terkapar di tengah jalan, tentu berbaring dalam pecomberan.

Bila seseorang ingin menyiksa orang lain, mungkin hal ini agak susah, tapi bila ingin menyiksa diri, hal mana gampangnya bukan kepalang.

Apakah ia memang sengaja sedang menyiksa diri ?

Hujan yang turun hari ini deras sekali, ketika air hujan menimpa di atas tubuhnya, terasa bagaikan ditimpuk oleh batu.

Kwik Tay-lok meronta dan berusaha keras untuk bangun berdiri, kepalanya terasa sakit sekali bagaikan mau merekah, lidahnya kaku bagaikan sudah tumbuh cendawannya.

Penghidupan semacam ini benarkah suatu penghidupan yang berarti. ?

Ia enggan untuk memikirkannya. Persoalan apapun enggan dia pikirkan, paling baik lagi bila segera ada arak dan minum lagi, paling baik lagi bila setiap hari tak pernah ada saat yang sadar.

Sambil menengadah dia membuka mulutnya menghirup air hujan, walaupun air hujan banyak dan rapat, berapa banyakkah yang dapat masuk ke dalam mulutnya ?

Bukankah banyak kejadian di dunia inipun sama halnya dengan kejadian tersebut ?

Sesuatu yang dengan jelas dapat diperoleh, justru kenyataannya tak bisa didapat. Kau ingin marah, menderita, menumbukkan kepala sendiri ke atas dinding, tapi apalah artinya penyiksaan terhadap diri sendiri ?

Kwik Tay-lok berusaha membusungkan dadanya, dalam dadanya, ulu hatinya seakan-akan terdapat jarum yang sedang menembusinya.

Persoalan yang jelas tak ingin dipikirkan mengapa justru selalu muncul didalam benaknya?

Petir menyambar membelah angkasa, kemudian terdengarlah suara gemuruh yang menggelegar.

Sambil menggigit bibir dia berjalan dengan langkah lebar, belum lagi dua langkah, tiba-tiba ia menyaksikan sebuah pintu kecil di hadapannya sana dibuka orang.

Seorang dayang cilik berbaju hijau berdiri di depan pintu sambil membawa sebuah payung, ia sedang memandang ke arahnya sambil tertawa, ketika tertawa, tampak sepasang lesung pipinya yang dalam.

Bila ada seorang nona cilik yang begitu manis tertawa kepadamu, bagaimana pun juga, setiap lelaki pasti akan manfaatkan kesempatan ini untuk mendekatinya.
 
Tapi sekarang Kwik Tay-lok sudah tidak mempunyai gairah untuk berbuat demikian, gairahnya sekarang boleh dibilang sudah hancur musnah tak karuan tujuannya lagi.

Siapa tahu nona cilik itu segera maju menyongsong kedatangannya, kemudian sambil tertawa manis katanya:

"Aku bernama Sim-Sim!"

Belum lagi orang lain berbicara, kata pertama yang diucapkan ternyata adalah memperkenalkan nama sendiri, kejadian seperti ini jarang sekali dijumpai.

Kwik Tay-lok memandangnya beberapa kejap, kemudian pelan-pelan mengangguk. "Sim-sim, bagus. bagus sekali namamu," katanya.
Tidak sampai habis ucapan tersebut diutarakan, dia hendak melanjutkan kembali perjalanannya.

Siapa tahu Sim-sim lama sekali tidak bermaksud untuk melepaskan dirinya dengan begitu saja, kembali ujarnya sambil tertawa:

"Aku kenal dengan dirimu!"

Sekarang Kwik Tay-lok baru merasa agak keheranan, sambil membalikkan badannya dia menegur:

"Kau kenal dengan aku?"

"Bukankah kau adalah toa-sauya dari keluarga Kwik?" ucap Sim-sim sambil mengedipkan matanya.

Kwik Tay-lok bertambah heran lagi, tak tahan dia lantas bertanya: "Dulu kau pernah berjumpa denganku di mana?"
"Belum pernah"

"Lantas darimana kau bisa kenal diriku?" Sim-sim segera tertawa.
"Asal kau tanyakan persoalan ini kepada siocia kami, maka segala sesuatunya akan menjadi terang"



"Siapa pula nona kalian?"

"Setelah bertemu dengannya nanti, kau akan segera tahu" "Sekarang dia berada dimana?"
Sim-sim segera tertawa.

"Ikuti saja aku, segala persoalan kau akan mengetahui dengan sendirinya. "
 
Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan berjalan masuk lewat pintu kecil itu, kemudian sambil berpaling kembali dan menggape ke arah Kwik Tay-lok, katanya:

"Marilah !"

Kwik Tay-lok tidak berkata apa-apa lagi, dengan langkah lebar dia segera berjalan masuk ke dalam, kini rasa ingin tahunya telah terpancing keluar, sekalipun kau suruh dia tidak masukpun, belum tentu permintaanmu itu akan dikabulkan.

Dibalik pintu terdapat sebuah halaman kecil, bunga aneka warna yang ditimpa air hujan tampak amat mengenaskan sekali.

Di bawah atap rumah tergantung tiga buah sangkar burung, si burung nuri sedang berkicau dengan merdunya, seakan-akan sedang menegur majikannya yang tidak terlalu memperhatikan dirinya, sebaliknya membawa orang lain masuk ke dalam rumah.

Sim-sim berjalan melewati serambi rumah, kemudian dengan jari tangannya yang kecil dia menyentil sangkar itu pelan, serunya dengan mata mendelik:

"Setan cilik, ribut amat kau, hari ini siocia ada tamu, bila kalian ribut lagi, jangan salahkan kalau dia tak akan menggubris kalian lagi."

Kemudian sambil berpaling ke arah Kwik Tay-lok, ujarnya lebih lanjut sambil tertawa: "Coba kau lihat, belum lagi kau masuk, mereka telah cemburu lebih dulu. "
Terpaksa Kwik Tay-lok ikut tertawa.

Sekarang, selain rasa ingin tahunya yang berkobar, ia mempunyai pula suatu perasaan aneh yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, seakan-akan suatu perasaan manis yang mempesonakan hati.

Tapi apa gerangan yang telah terjadi?

Ia masih berada dalam keadaan tanda tanya besar, sedikit bayanganpun tak dapat meraba: "Jangan-jangan aku ketimpa rejeki ?"
Cuma, walaupun dayangnya cakep, bukan berarti nonanya pasti cantik jelita. Bila nonanya jelek bagai kuntilanak, lantas bagaimana ?

Di atas pintu terdapat sebuah tirai bambu yang tipis, tentu saja tirai tersebut baru diganti setelah musim panas tiba.

Tak seorang manusiapun yang berada dibalik pintu, Sim-sim menyingkap tirai itu dan berkata sambil tersenyum:

"Silahkan duduk didalam, aku akan segera mengundang kedatangan siocia kami."

Dibalik tirai bambu sana adalah sebuah ruang tamu yang mungil tapi indah, di atas lantai tampak permadani indah dari Persia.

Melihat keindahan permadani tersebut, tanpa terasa Kwik Tay-lok membersihkan lumpur pada alas sepatunya lebih dulu sebelum melangkah masuk ke dalam.
 
"Tuan rumah semacam ini, mengapa mengundang kedatangan seorang tamu macam diriku ?" Tentu saja hal ini disebabkan ada maksud-maksud tertentu.
Tapi apakah maksud-maksud tertentunya itu?

Kwik Tay-lok memperhatikan diri sendiri dari atas sampai ke bawah, lima tahil perakpun tak laku rasanya....

Sambil tertawa getir akhirnya dia mencari sebuah kursi yang paling nyaman dan paling bersih untuk duduk.

Di atas meja terdapat poci teh, air tehnya baru saja dibuat. Di atas beberapa buah piring kecil terdapat makanan kecil teman milik teh.

Kwik Tay-lok memenuhi secawan air teh dan sambil minum sambil makan hidangan kecil yang tersedia, seakan-akan dia adalah tamu lama dari tempat itu, sama sekali tak perlu sungkan- sungkan.

Kemudian, iapun mendengar suara "Ting tang, ting tang" yang nyaring, Sim-sim telah muncul kembali sambil membimbing nonanya.

Kwik Tay-lok hanya mendongakkan kepalanya memandang sekejap, sepasang matanya segera terbelalak lebar.

Kwik sianseng bukan seorang bocah muda yang belum pernah bertemu perempuan, tapi gadis secantik itu betul-betul amat jarang di jumpai dalam dunia saat ini.

Yaa, kalau bukan perempuan secantik itu, mana pantas berdiam ditempat semegah ini?

Dalam mulut Kwik Tay-lok masih menggigit sepotong kueh, ia lupa menelannya dan lupa menariknya keluar, sehingga tampang wajahnya itu kelihatan lucu sekali.

Entah sedari kapan, nona itupun telah duduk, tepat duduk di hadapan mukanya, selembar wajahnya yang cantik kelihatan bersemu merah, entah bedak entah malu, sepasang biji matanya yang jeli sedang memandang ke arahnya dengan sorot mata yang lembut.

Kwik Tay-lok mulai merasa duduknya menjadi tak tenang, dia ingin buka suara untuk berbicara, siapa tahu karena kurang berhati-hati, makanan yang ada di mulutnya menyumbat tenggorokan....

Sim-sim segera tertawa cekikikan karena geli, begitu tertawanya dimulai, ia tertawa terpingkal- pingkal tiada hentinya sampai harus memegangi perutnya yang sakit.

Si nona itu segera melotot ke arahnya, seolah-olah menegurnya mengapa harus tertawa, namun dia sendiripun tak tahan turut tertawa terpingkal-pingkal.

Kwik Tay-lok memandang mereka berdua dengan termangu, tapi secara tiba-tiba dia ikut tertawa pula.

Suara tertawanya jauh lebih keras daripada siapapun juga, asal kau mendengar suara tertawa itu, maka akan kau rasakan sesungguhnya kalau dialah Kwik Tay-lok yang sebetulnya.
 
Bagaimana seriusnya suasana, bagaimanapun rikuhnya keadaan, asal Kwik Tay-lok sudah tertawa, maka suasananya segera akan mengendor kembali... Si nona yang tersipu kemalu- maluan itu akhirnya buka suara juga, suaranya amat lembut dan halus, selembut wajahnya:

"Walaupun tempat ini tak bagus, tapi setelah Kwik toaya sampai di sini, rasanya kau pun tak perlu sungkan-sungkan lagi. " katanya.

"Menurut pendapatmu, apakah aku mirip orang yang sungkan-sungkan?" tukas Kwik Tay lok sambil tertawa.

"Tidak mirip!" nona itu tersenyum. Sim-sim juga tertawa, tambahnya:
"Air teh itu baru saja nona pesan dari bukit Bu-oh-san di propinsi Im-lam, silahkan Kwik toaya meneguk beberapa cawan, agar pengaruh arak tubuhnya toaya pun bisa berkurang"

"Air tehnya sih lumayan, tapi kaulah yang keliru" "Dimana letak kesalahanku ?" tanya Sim-sim tertegun.
"Bagaimanapun baiknya mutu air teh, tak ada yang bisa dipakai untuk menghilangkan pengaruh arak."

"Lantas apa yang bisa dipakai untuk menghilangkan pengaruh arak?" "Arak !"
"Kalau minum arak lagi, bukankah kau akan bertambah mabuk ?" seru Sim-sim sambil tertawa.

"Lagi-lagi kau keliru, hanya arak yang dapat dipakai untuk menghilangkan pengaruh arak, itulah yang dinamakan Huan-bun-ciu (arak pengembali pengaruh sukma)."

"Sungguh ?" seru Sim-sim sambil mengerdipkan matanya berulang kali.

"Cara ini telah kupelajari selama puluhan tahun lamanya, aku rasa tak bakal salah lagi." Si nona turut tertawa katanya:
"Kalau memang begitu, mengapa tidak kau siapkan arak untuk Kwik Toaya..?"

Arak telah dihidangkan, araknya arak wangi. Tentu saja sayur yang dihidangkanpun merupakan sayur yang lezat dan mewah.

Kwik Tay-lok mulai minum dengan lahapnya, ia benar-benar menganggap nona itu seperti teman lamanya saja.

Ternyata si nona pun bisa meneguk dua cawan arak, sepasang pipinya telah memerah karena pengaruh arak, tapi hal mana justru menambah kecantikan wajahnya.

Kwik Tay-lok memperhatikannya, dengan sorot mata yang tajam, bahkan sampai arakpun lupa untuk diteguk.

Si nona cepat-cepat menundukkan kepalanya kemudian berbisik dengan lirih:
 
"Kwik toaya, silahkan meneguk tiga cawan lagi, aku akan menemanimu meneguk secawan lagi."

Tiga cawan arak dalam waktu singkat telah masuk ke perut, tiba-tiba Kwik Tay-lok berkata: "Ada beberapa persoalan ingin kuberitahukan kepadamu."
"Katakan."

"Pertama, aku tidak bernama Kwik Toaya, teman-temanku menyebut diriku sebagai Siau-Kwik tapi lambat laun aku makin menua, maka sekarang aku telah menjadi lo-kwik (kwik tua)!"

"Ada sementara orang yang selamanya seperti tak pernah menjadi tua," ucap si nona sambil tersenyum.

"Ada pula sementara orang yang selamanya tak bisa menjadi toaya." Setelah meneguk dua cawan arak, ia baru melanjutkan:
"Aku tak lebih hanya seorang yang miskin, tak punya apa-apa, lagi pula dekil dan bau, sebaliknya kau adalah nona yang anggun, lagi pula tidak kenal dengan diriku, mengapa kau mengundang diriku untuk minum arak bersama?"

Si nona mengerlingkan matanya yang jeli, lalu menjawab:
"Kita sama-sama orang perantauan, bila berjodoh, mengapa harus berkenalan lebih dulu?" "Nona kami she Sui bernama Loan-kim, sekarang kalian telah saling mengenal bukan,"
timbrung Sim-sim dari samping.

"Sui Loan-kim, suatu nama yang amat bagus, pantas untuk menghabiskan tiga cawan arak" Kwik Tay-lok bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak.

"Terima kasih" sahut Sui Loan-kim sambil menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Kwik Tay-lok meneguk habis isi cawannya, lalu menatapnya lekat-lekat, lewat lama kemudian ia baru berkata lagi:

"Ususku berbentuk lurus, apa yang hendak kuucapkan tak pernah kusimpan didalam hati, aku harap kau suka memakluminya."

"Aku telah melihatnya, kau memang seorang lelaki sejati yang polos, dan jujur."

"Kalau begitu aku ingin bertanya kepadamu, apakah ada orang yang telah menganiaya dirimu, sehingga kau berharap aku bisa melampiaskan rasa mangkelmu ?"

"Nona kami tak pernah keluar rumah, mana mungkin ada orang yang menganiaya dirinya ?" Sela Sim-sim.

"Apakah kau telah menjumpai suatu masalah yang pelik sehingga meminta bantuanku untuk pergi menyelesaikannya ?"

"Juga tidak."
 
"Kini aku telah datang, akupun telah minum arak kalian, persoalan apapun asal kalian mengutarakannya, aku pasti akan berusaha keras untuk melaksanakan dengan sebaik-baiknya"

"Asal kau mempunyai maksud sebaik itu, akupun sudah merasa puas sekali. " kata Sui Loan-
kim lembut.

"Kau benar-benar tiada persoalan hendak memohon bantuanku?" seru Kwik Tay-lok kemudian dengan mata melotot.



"Benar-benar tak ada!"

"Lantas apa sebabnya kau bersikap begitu baik terhadap seorang telur busuk rudin yang kotor mana bau lagi ini?"

Sui Loan-kim mendongakkan kepalanya memandang pemuda itu, sorot matanya amat lembut dan halus. .

Berapa orangkah yang tak akan terkesima oleh tatapan matanya yang begitu lembut dan mempesona hati ?

Sim-sim memandang ke arah Kwik Tay-lok, lalu memandang nonanya, tiba-tiba ujarnya sambil tertawa:

"Ada sepatah kata entah Kwik toaya pernah mendengarnya atau tidak. ?"

"Katakanlah!"

"Kaisar orang gagah, gadis cantikpun menyukai lelaki sejati!"
Paras muka Sui Loan-kim semakin merah, karena jengah, serunya dengan merdu: "Setan cilik, berani mengaco belo lagi, jangan salahkan kalau kurobek bibirmu itu," "Akupun seorang manusia yang berusus lurus, apa yang berada dalam hatiku tak pernah
kurahasiakan terus." ucap Sim-sim tertawa.

Dengan wajah memerah Sui Loan-kim bangkit berdiri, seakan-akan siap mencubitnya.

Sambil tertawa cekikikan Sim-sim lari ke luar dari ruangan, ketika sampai di luar sana, ia tak lupa untuk menutupkan pintu untuk mereka.

Sui Loan-kim berdiri di situ dengan kepala tertunduk, tak tahan lagi ia melirik beberapa kejap ke arah Kwik Tay-lok.

Kwik Tay-lok masih menatapnya lekat-lekat. Paras muka gadis itu semakin memerah, merah seperti matahari senja yang hampir tenggelam dibalik bukit.

Mabuk, dalam keadaan seperti ini dan suasana seperti ini, orang yang tidak mabukpun akan menjadi mabuk.

Tiba-tiba Kwik Tay-lok menggenggam tangan Sui Loan kim erat-erat.

Tangannya dingin seperti es, tapi wajahnya panas menyengat bagaikan bara api.
 
Kwik Tay-lok baru akan menariknya, belum lagi ditarik ia sudah menjatuhkan diri ke dalam pelukannya.

Musim panas ada di luar jendela, tapi suasana hangat menyelimuti dalam ruangan.

Suasana nyaman begitu tebal menyelimuti ruangan, sehingga sukar rasanya untuk dicairkan.

Walaupun ada sementara orang tidak saling mengenal, tapi asal berjumpa ibaratnya besi sembrani yang bertemu besi, dengan cepat mereka akan menempel satu sama lainnya.

Sui Loan-kim menempel lekat-lekat di atas tubuh Kwik Tay-lok, kulit tubuhnya halus, lembut, putih dan hangat.

Pinggangnya begitu ramping sehingga sekali rangkul dapat mencapai seluruhnya.

Sambil merangkul pinggangnya Kwik Tay-lok menghela napas panjang, tiba-tiba gumamnya: "Aku tidak mengerti, aku benar-benar tidak mengerti"
"Ada sementara persoalan memang sukar dijelaskan, sukar dipahami orang lain" sahut Sui Loan-kim lembut.

"Dahulu kau tak pernah bersua denganku, juga tak tahu manusia macam apakah diriku ini, mengapa kau bersikap demikian kepadaku"

"Walaupun aku belum pernah bersua denganmu, tapi sudah lama kuketahui manusia macam apakah dirimu itu."

"Oooh. ?"
Sui Loan-kim menempelkan tubuhnya makin rapat di atas badannya, kemudian melanjutkan: "Beberapa hari terakhir ini, setiap orang dalam kota ini telah tahu kalau dari tempat jauh sana
telah datang seorang hohan yang tidak takut langit tidak takut bumi."

"Hohan ?" Kwik Tay-lok tertawa getir, "kau tahu, apa artinya sebenarnya dari Hohan?" "Aku siap mendengarkan penjelasanmu."
"Kadangkala Hohan artinya seorang gelandangan yang tak punya pekerjaan dan tiap hari kerjanya hanya berkelahi dan bersenang-senang."

Sui Loan-kim segera tersenyum.

"Aku tak ambil perduli" serunya, "bagiku, pokoknya hohan tetap Hohan. ."

Kwik Tay-lok segera tertawa lebar, dibelainya pinggang yang ramping itu dengan lemah lembut, kemudian bisiknya sambil tertawa:

"Kau benar-benar seorang perempuan yang aneh"

"Itulah sebabnya aku menyukai lelaki aneh semacam kau !"

Belum habis perkataan itu diutarakan, pipinya sudah menjadi merah padam lebih dulu.
 
Kwik Tay-lok menatapnya lekat-lekat, kemudian berkata:

"Dulu, aku tak pernah menyangka bakal bertemu dengan seorang perempuan seperti kau, lebih-lebih tak kusangka kalau bisa berada bersama samamu !"

Paras muka Sui Loan-kim berubah semakin merah, bisiknya lembut: "Asal kau bersedia, akupun bersedia menemanimu sepanjang masa. "
Kembali Kwik Tay-lok menatapnya lama sekali, mendadak ia menghela napas panjang, sambil membalikkan tubuhnya ia membelalakkan matanya lebar-lebar dan menatap atap rumah dengan termangu.

"Kau sedang menghela napas ?" tegur Sui Loan-kim. "Tidak."
"Kau sedang memikirkan rahasia hatimu?" "Juga tidak."
Sui Loan-kim turut membalikkan tubuhnya dan menindih di atas dadanya, kemudian sambil membelai wajahnya dengan lembut, ia berkata halus:

"Aku hanya ingin bertanya kepadamu, bersediakah kau berada bersamaku sepanjang masa ?"



Kwik Tay-lok termenung, termenung sampai lama sekali, lalu sepatah demi sepatah sahutnya: "Tidak bersedia !"
Tangan Sui Loan-kim yang lembut tiba-tiba menjadi kaku, serunya perlahan: "Kau tidak bersedia ?"
"Bukannya tidak bersedia, tapi tak dapat." "Tak dapat ? Mengapa tak dapat ?"
Pelan-pelan Kwik Tay-lok menggelengkan kepalanya.

"Apa maksudmu menggelengkan kepala ? Tidak suka kepadaku?" seru Sui Loan kim lagi.

Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang, katanya: "Bila ada lelaki yang tidak menyukai perempuan cantik semacam kau, sudah pasti orang itu berpenyakit, tapi. "

"Tapi apa?"

Kwik Tay-lok tertawa getir.

"Tapi sayang aku memang berpenyakit !" sahutnya.

Sui Loan-kim menatapnya, dibalik sorot matanya yang jeli penuh pancaran sinar kaget dan tercengang.
 
"Aku adalah seorang lelaki, sudah lama tak pernah mendekati perempuan, sedang kau adalah seorang perempuan yang sangat cantik, lagi pula sangat baik kepadaku, tempat ini hangat dan syahdu, mana ada arak, ada hidangan lezat, ada perempuan cantik yang menemani, dalam keadaan seperti ini siapa bilang hatiku tidak tertarik ? Oleh sebab itu. "

"Oleh sebab itu kau menghendaki aku ?" kata Sui Loan-kim sambil menggigit bibir. Kwik Tay-lok menghela napas panjang:
"Tapi diantara kita tak pernah terlintas perasaan cinta yang sesungguhnya." ia berkata aku....
aku. "

"Kenapa kau ? Apakah dalam hatimu hanya memikirkan orang lain?" tanya Sui Loan-kim. Kwik Tay-lok manggut-manggut.
"Kau benar-benar mempunyai perasaan cinta kepadanya ?" gadis itu kembali bertanya. Kwik Tay-lok manggut-manggut, mendadak ia menggelengkan kepalanya pula.
"Hei, sebenarnya kau sungguh-sungguh mempunyai perasaan kepadanya atau tidak?" seru sang nona.

Kembali Kwik Tay-lok menghela napas panjang.

"Aku sendiripun tak tahu perasaan macam apakah itu, aku benar-benar tidak tahu." katanya. "Setiap kali aku tak berjumpa dengannya, tiap saat tiap detik aku selalu membayangkan dirinya. Meski kau cantik, lemah lembut dan penuh gairah hidup, walaupun aku juga sangat menyukaimu, tapi hatiku, rasanya tak mungkin bisa diisi oleh siapapun selain dia seorang "

"Oleh sebab itu kau masih akan pergi mencarinya ?" sambung Sui Loan-kim cepat. "Ya, harus mencari sampai ketemu."
"Oleh karena itu kau hendak pergi ?"

Kwik Tay-lok memejamkan matanya dan manggut-manggut.

Sui Loan-kim menatapnya lekat-lekat, tiada perasaan menggerutu, tiada perasaan benci atau penasaran, malah sebaliknya ia seperti merasa terharu oleh ketulusan cinta pemuda itu.

Lewat lama kemudian ia baru menghela napas panjang, katanya dengan sedih.

"Bila di dunia ini terdapat seorang pria yang dapat bersikap baik kepadaku macam kau, aku....
sekalipun aku harus mati juga rela rasanya. "

"Cepat lambat kau pasti akan menemukan orang semacam itu" hibur Kwik Tay-lok dengan lembut.

Tapi Sui Loan-kim segera menggelengkan kepalanya berulang kali. "Aaai. tak akan kutemukan selamanya!"
"Mengapa?"
 
Sui Loam-kim termenung pula beberapa saat lamanya, mendadak ia berkata lagi:

"Kau seorang yang amat baik, belum pernah kujumpai orang sebaik kau, oleh sebab itu akupun bersedia untuk berbicara terus terang dengan dirimu."

Kwik Tay-lok tidak memberi komentar apa-apa, dia hanya mendengarkan saja. "Tahukah kau perempuan macam apakah diriku?" ujur Sui Loan-kim lagi.
"Kau she Sui bernama Sui Loan-kim, seorang nona yang anggun dan kaya raya, lagi pula cantik jelita bak bidadari dari kahyangan dan lemah lembut amat mempesona hati."

"Kau keliru besar, aku bukan seorang nona anggun yang kaya raya, aku tak lebih hanya seorang.... hanya seorang. "

Ia menggigit bibirnya kencang-kencang, lalu menghela napas panjang, lanjutnya: "Aku tak lebih hanya seorang pelacur."
"Seorang pelacur?" hampir saja Kwik Tay-lok melompat bangun dari atas pembaringan, teriaknya keras-keras, "tidak mungkin, kau tidak mungkin seorang pelacur!"

Sui Loan-kim tertawa pedih, katanya:

"Aku memang seorang perempuan penghibur. Bukan saja begitu, lagi pula aku adalah seorang pelacur kenamaan yang paling mahal harganya di kota ini, kalau bukan pangeran muda atau anak hartawan, jangan harap bisa menjadi tamuku."
Kwik Tay-lok menjadi tertegun, tertegun sampai lama sekali, kemudian gumamnya: "Tapi aku bukan seorang pangeran, bukan pula anak hartawan yang kaya raya, lagi pula
sepeser uangpun tidak punya."

Tiba-tiba Sui Loan-kim melompat bangun, membuka rak dari toaletnya dan mengambil ke luar sebutir mutiara kemudian ia berkata:

"Walaupun kau tidak memiliki uang sepeserpun namun sudah ada orang yang membayarkan ongkos tersebut bagimu."



"Siapa ?" Kwik Tay-lok terkejut. "Mungkin dia adalah seorang temanmu."
"Apakah dia adalah lotoa dari kota timur?"

"Ia masih belum pantas untuk berkunjung ke rumahku." kata Sui Loan kim hambar. "Lantas siapa orang itu ?"
"Seorang yang belum pernah kujumpai sebelumnya." "Macam apakah orang itu ?"
 
"Seorang yang berwajah bopeng !"

"Berwajah bopeng ?" seru Kwik Tay-lok dengan wajah tertegun, "diantara teman-temanku tak seorangpun yang berwajah bopeng."

"Tapi mutiara ini benar-benar diberikan kepadaku untuk membayar ongkos-ongkosmu." Saking terkejutnya Kwik Tay-lok sampai tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
"Ia suruh aku baik-baik melayani dirimu, apa saja yang kau minta harus kuberikan kepadamu." kata Sui Loan-kim lagi.

"Oleh sebab itu, kau. "

Tidak membiarkan dia berkata lebih jauh kembali Sui Loan kim menukas:

"Tapi diapun telah menduga, kemungkinan besar kau enggan untuk tinggal di sini." "Oooohh. "
"Menanti kau enggan untuk tinggal di sini dia baru menyuruh aku memberitahukan satu hal kepadamu !"

"Soal apa ?"

"Suatu persoalan yang aneh sekali."

Setelah berhenti sebentar, pelan-pelan dia melanjutkan:

"Beberapa bulan berselang, mendadak di tempat ini kedatangan seorang tamu yang aneh sekali, seperti kau, ia memakai baju yang kotor dan penuh berlubang, sebenarnya aku ingin mengusirnya pergi?"

"Kemudian ?"

"Tapi begitu masuk kemari, dia lantas meletakkan seratus tahil emas di atas meja." "Maka kaupun mengijinkan dia untuk tinggal di sini ?"
Pancaran sinar mata murung dan sedih memancar keluar dari balik sorot mata Sui Loan-kim, katanya hambar:

"Aku memang seorang perempuan yang melakukan pekerjaan seperti ini, bagiku hanya emas yang kukenal, orangnya tidak."

"Aku mengerti," kata Kwik Tay-lok sambil menghela napas, "tapi. tapi kau tidak mirip
perempuan semacam itu."

Mendadak Sui Loan-kim mengalihkan sorot matanya ke arah lain, seakan-akan tak ingin menyaksikan mimik wajah dari Kwik Tay-lok lagi. Lewat lama kemudian pelan-pelan dia baru melanjutkan:

"Sebenarnya di dunia ini memang banyak terdapat anak orang kaya yang gemar menyaru seperti tampang tersebut, tujuannya hanya ingin mencari kesenangan belaka, kejadian semacam itu bukan suatu yang aneh lagi. "
 
"Lantas bagaimana anehnya ?"

"Anehnya walaupun sudah mengeluarkan uang sebesar seratus tahil emas, ternyata ia sama sekali tidak menyentuhku, ia tak lebih hanya mandi di sini kemudian mengganti dengan sebuah pakaianku dan pergi."

"Mengganti bajunya dengan bajumu. "

Sui Loan-kim manggut-manggut.

"Sebenarnya dia itu laki atau perempuan?" seru Kwik Tay-lok lebih lanjut.

"Ketika datang, sebenarnya dia adalah seorang laki-laki, tapi setelah mengenakan bajuku, pada hakekatnya dia jauh lebih cantik daripada diriku sendiri"

Setelah tertawa getir, dia melanjutkan:

"Terus terang saja, walaupun aku pernah menyaksikan bermacam-macam manusia aneh, bahkan ada diantaranya yang suka menyuruh aku mencambuknya dengan pecut, atau menginjak tubuhnya dengan kaki, namun manusia semacam itu benar-benar belum pernah kujumpai, malah sampai akhirnya aku tak dapat membedakan sebenarnya dia itu seorang laki-laki ataukah seorang perempuan."

Sekali lagi Kwik Tay-lok tertegun, namun sinar matanya tiba-tiba menjadi terang.
Agaknya secara lamat-lamat dia telah menduga siapa gerangan orang yang dimaksudkan. "Semua persoalan itu baru kubicarakan sampai sekarang, sebab si bopeng itu berulang kali
memberi pesan kepadaku agar tidak menceritakan kejadian ini bila kau bersedia menetap di sini. "

"Tahukah kau siapakah nama dari manusia aneh tersebut?" tanya Kwik Tay-lok kemudian. Agaknya dia merasa tegang sekali sehingga tangannya sampai turut gemetar keras.
"Dia sama sekali tidak menyebutkan namanya, dia hanya memberitahu kepadaku bahwa dia she Yan, Yan dari tulisan Yan cu (burung walet)"

Mendadak Kwik Tay-lok melompat bangun kemudian mencengkeram bahunya kencang- kencang, serunya keras-keras.

"Tahukan kau sekarang dia berada dimana?" "Tidak!"
Kwik Tay-lok mundur dua langkah ke belakang, agaknya untuk berdiripun sudah tak mampu, akhirnya dia jatuh terduduk ke atas pembaringan.

"Tapi belakangan ini, dia telah datang kemari sekali lagi." kata Sui Loan-kim.

Bagaikan terkena anak panah, sekali lagi Kwik Tay-lok bangkit berdiri, teriaknya keras-keras: "Belakangan ini ? Kapan maksudmu ?"
 
"Belasan hari berselang."

Setelah berhenti sejenak dia melanjutkan lebih jauh:

"Ketika datang kemari kali ini, tampangnya kelihatan seperti diliputi banyak persoalan, dia minum arak banyak sekali ditempat ini tapi keesokan harinya dia telah pergi lagi setelah mengenakan sebuah pakaian milikku."

Sikap Kwik Tay-lok semakin tegang, serunya lagi:

"Tahukah kau dia telah pergi ke mana ?" "Tidak !"
Tampaknya Kwik Tay-lok segera akan roboh kembali ke atas lantai... untung saja Sui Loan-kim menyambung kembali kata-katanya dengan cepat.

"Tapi ketika sedang mabuk, dia telah mengucapkan banyak sekali persoalan, katanya setelah kembali ke rumah kali ini, dia tak bisa keluar rumah lagi untuk selamanya, akupun selamanya tak akan bertemu lagi dengannya."

"Apakah kau... kau tidak bertanya kepadanya, dia tinggal dimana?" Sui Loan-kim tertawa, sahutnya:
"Sebenarnya akupun hanya bertanya sekenanya saja, sama sekali tak kusangka ternyata dia telah memberitahukannya kepadaku."

Dari balik sorot mata Kwik Tay-lok segera terpancar keluar pengharapan yang amat tebal, cepat-cepat serunya:

"Tapi dia telah memberitahukan kepadamu bukan ?" Sui Loan-kim manggut-manggut.
"Dia bilang dia berdiam di kota Ki-lam-hu, malah katanya pemandangan alam dari telaga Tay- beng-ou amat indah, bahkan telaga See-ou pun kalah indahnya, dia suruh aku berpesiar kesana bila ada kesempatan."

Tiba-tiba Kwik Tay-lok roboh kembali, seakan-akan orang yang telah beberapa hari beberapa malam melakukan perjalanan jauh dengan susah payah tapi akhirnya tujuan tersebut dapat dicapai.

Sekalipun dia roboh kembali, namun hatinya merasa girang dan amat berbahagia.

Sui Loan-kim memandang ke arahnya, dengan sorot mata kasihan dan sayang, katanya pelan: "Diakah yang kau cari ?"
Kwik Tay-lok segera manggut.

"Tahukah dia kalau kau sangat mencintai dirinya ?" kembali perempuan itu bertanya.

Kwik Tay-lok manggut-manggut, tapi kemudian kembali menggelengkan kepalanya berulang kali, hati perempuan siapa yang tahu ?
 
Sekali lagi Sui Loan-kim menghela napas panjang, katanya dengan sedih: "Kenapa dia pergi meninggalkan dirimu? Coba kalau aku, sekalipun diusir dengan menggunakan cambukpun belum tentu aku akan pergi."

"Dia bukan kau. diapun seorang yang sangat aneh," gumam Kwik Tay-lok, "selama ini, aku
sendiripun belum dapat memahami perasaannya. "

"Dia bukan aku, maka dia baru pergi.", ucap Sui Loan-kim dengan nada yang sedih, "hanya perempuan semacam aku inilah baru akan mengerti bahwa di dunia ini tidak terdapat benda lain yang jauh lebih berharga dari pada cinta yang tulus dan murni."

Setelah menghela napas, kembali dia melanjutkan:

"Bila seorang perempuan tidak mengerti bagaimana caranya menyayangi cinta yang murni, maka dia pasti akan menyesal sepanjang masa."

Sekali lagi Kwik Tay-lok termenung beberapa saat lamanya, mendadak dia bertanya: "Menurut penglihatanmu sebenarnya dia itu seorang perempuan atau bukan ?" "Masa sampai saat inipun kau masih belum tahu."
Sambil membaringkan diri di atas pembaringan, Kwik Tay-lok menghembuskan napas panjang gumamnya:

"Untung saja sekarang aku baru tahu akan suatu hal." "Soal apa ?"
Sambil tersenyum pelan-pelan Kwik Tay-lok menjawab:

"Aku ternyata tidak berpenyakit, aku sama sekali tidak berpenyakit, aku tidak lebih hanya seorang buta belaka."

***

Senja telah menjelang tiba.

Sang surya di sore hari itu masih memancarkan sinarnya menembusi jendela, menyoroti pakaian yang baru saja dikenakan Kwik Tay-lok, dia seakan-akan seperti berubah menjadi seorang yang lain, berubah menjadi lebih keren, lebih gagah dan lebih sadar.

Memandang wajahnya yang tampan, sambil menggigit bibir Sui Loan kim berkata: "Sekarang juga kau akan berangkatnya?"
Kwik Tay lok segera tertawa.

"Terus terang saja, pada hakekatnya aku ingin punya sayap dan segera terbang kesana"

Sui Loan kim menundukkan kepalanya, kembali sorot matanya memancarkan rasa sedih dan murung.
 
Kwik Tay-lok menatap wajahnya, lambat laun senyumnya menjadi makin hambar, sorot matanya pun memancarkan perasaan kasihan, iba, tak tahan dia menepuk bahunya sambil berkata dengan lembut:

"Kau seorang anak perempuan yang sangat baik, suatu hari kelak. "

"Suatu hari kelak akupun pasti akan menemukan seorang lelaki macam dirimu bukan?" tukas Sui Loan-kim sambil tertawa pedih.

"Tepat sekali jawabanmu." jawab Kwik Tay-lok sambil tertawa paksa. Sui Loan-kim juga tertawa paksa, katanya:
"Bila telah bersua dengan nona Yan nanti, jangan lupa sampaikan salamku kepadanya" "Aku pasti akan mengingatnya selalu."
"Beritahu kepadanya, bila kemudian hari ada kesempatan, aku pasti akan pergi ke telaga Tay- beng-ou untuk menengok kalian."

"Siapa tahu kami akan datang menengok dirimu lebih dulu." seru Kwik Tay-lok sambil tertawa. Sekalipun dia sedang tertawa, tapi entah mengapa hatinya terasa amat pedih.
Ia benar-benar merasa tak tega untuk tinggal di sana lebih jauh, dia tak tega menyaksikan sepasang matanya itu, mendadak dia berpaling dan memandang sorot mata-hari sore di luar jendela, gumamnya:

"Sekarang langit belum menjadi gelap, aku masih sempat untuk melanjutkan perjalanan."