Pendekar Riang Jilid 26

 
Jilid 26

TAMPAKNYA pengetahuanmu benar-benar amat cetek, sedikit keterangan tentang soal ini tidak dimiliki"

"Aku juga tahu kalau penyakitnya tidak kecil, tapi mengapa aku harus pernah mendengar tentang dirinya?"

"Sebab sejak berumur sembilan tahun, dia sudah merupakan orang yang ternama di dalam dunia persilatan"

"Umur sembilan kau maksudkan berumur sembilan?" Yan Jit mengangguk.
"Dia berasal dari suatu keluarga persilatan kenamaan, lagi pula semenjak kecil sudah termasyhur sebagai seorang bocah perempuan ajaib. Konon ketika umurnya belum mencapai dua tahun, dia sudah mulai belajar ilmu pedang, umur lima tahun telah berhasil mempelajari ilmu pedang Hui-hong-hu-liu-kiam (ilmu pedang angin puyuh menggoyangkan pohon Liu) yang terdiri dari empat puluh sembilan jurus dan merupakan ilmu pedang yang paling sulit untuk dipelajari itu."

"Dia bilang sejak berumur sembilan tahun telah membunuh orang, kedengarannya apa yang dia ucapkan itu bukan cuma bualan belaka ?"

"Yaa, memang bukan hanya bualan belaka, bukan saja ia benar-benar telah membunuh orang sejak berumur sembilan tahun, bahkan orang yang dibunuhpun merupakan seorang jago pedang yang amat ternama dalam dunia persilatan pada waktu itu."

"Sejak saat itu, apakah setiap bulan dia tentu membunuh orang ?" "Yaa, benar, diapun tidak membual."
Kwik Tay-lok tak tahan untuk tertawa tergelak.

"Aaah, masa di dunia ini terdapat begitu banyak orang yang menghantarkan diri untuk menerima kematian di tangannya?"
 
"Bukan orang lain yang datang menghantarkan diri, adalah dia sendiri yang pergi mencari mereka."

"Pergi kemana untuk mencarinya ?"

"Kemanapun dia pergi, asal dia dengar di suatu tempat terdapat seorang yang telah melakukan perbuatan yang pantas dibunuh, maka dia segera berangkat kesana untuk membuat perhitungan dengan orang tersebut."

"Apakah setiap kali turun tangan, dia selalu berhasil merobohkan musuhnya. ?" tanya Kwik
Tay-lok lagi.

"Sampai dimanakah kelihaian ilmu silat yang dimilikinya, aku rasa kau telah membuktikannya sendiri barusan, apalagi dia dibantu oleh dua orang lelaki suku asing dan dua orang perempuan suku asing yang semuanya merupakan jago-jago kelas satu dalam dunia persilatan, malah ke empat orang dayang pembawa lenterapun konon berilmu silat amat tinggi, bayangkan saja andaikata dia telah mendatangi rumah seseorang, apakah masih ada orang yang dapat meloloskan diri dari cengkeraman mautnya ?"

"Apakah tak ada orang yang mengurusinya. "

"Ayahnya telah meninggal dunia cukup lama, sedangkan ibunya merupakan seorang harimau betina yang paling sukar dilayani dalam dunia persilatan dewasa ini, rasa sayangnya terhadap putri tunggalnya ini boleh dibilang melebihi apapun jua, apa saja yang dia inginkan segera dipenuhi dengan segera, sekalipun orang lain berani mengusiknya, belum tentu berani mengusik ibunya."

Setelah menghela napas panjang, kembali dia melanjutkan:

"Apalagi orang yang dibunuhnya memang merupakan orang-orang yang pantas di bunuh, maka orang-orang dunia persilatan dari angkatan tua bukan saja tak seorangpun yang menegurnya malahan mereka memuji dirinya setinggi langit"

"Maka dari itu, penyakit yang diidapnya juga makin lama semakin besar?" sambung Kwik Tay-
lok.

"Itulah sebabnya pada usia yang ke tiga empat belas tahunan, ia sudah merupakan manusia yang paling besar lagaknya dalam dunia persilatan, juga merupakan gadis yang berilmu paling tinggi. orang yang dibunuhnya makin lama semakin banyak, ilmu silat yang dimilikinya juga
secara otomatis makin lama semakin tinggi"

"Justru karena begitu, maka sampai-sampai manusia macam Lamkiong Cho pun tahu, bila ia sudah mulai datang mencari gara-gara maka jalan terbaik adalah menyembunyikan diri dan jangan sampai menjumpai dirinya. ?"

"Tepat sekali jawabanmu itu."

"Tentunya Lamkiong Cho juga tahu kalau dia mempunyai hubungan yang akrab dengan siau- Lim, maka dia baru kabur ke tempat kita ini untuk menyembunyikan diri?"

"Kembali jawabanmu tepat sekali."

"Tapi jika Lamkiong Cho bukan seseorang yang seharusnya pantas dibunuh, diapun tak akan datang untuk mencarinya ?"
 
"Benar, dahulu ia tak pernah salah mencari orang."

Kwik Tay-lok menghela napas panjang, katanya sambil tertawa getir: "Oleh sebab itu yang salah, bukanlah dia melainkan aku."
"Kau juga tidak salah," jawab Yan Jit. Dengan lembut dia melanjutkan:


"Ada budi harus dibalas, ucapan seorang lelaki harus dipegang teguh, itulah prinsip dari seorang pria sejati, oleh sebab itu apa yang kau lakukan itu tepat sekali, tak seorangpun yang akan menyalahkan dirimu."

"Tapi ada seorang yang akan menyalahkan diriku." "Siapa ?"
"Aku sendiri."

Fajar sudah hampir menyingsing.

Sambil mengenakan jubah panjang itu, Kwik Tay-lok masih duduk seorang diri di sana, memandang fajar di ufuk timur pelan-pelan terbit, mendengarkan kokokan ayam di kejauhan sana.

Kemudian diapun mendengar suara pintu kamar yang dibuka orang.

Ia tidak berpaling, wajahnya pun tidak menunjukkan perubahan apa-apa.

Suara langkah kaki manusia yang enteng, pelan berkumandang datang, ketika tiba di belakang tubuhnya, ia berhenti.

Ia masih belum juga berpaling, hanya tanyanya dengan hambar: "Nyenyakkah tidurmu. "
Orang berbaju hitam itu berdiri tepat di belakang tubuhnya, mengawasi tengkuknya dan menyahut:

"Selama sepuluh tahun belakangan ini, belum pernah aku tidur senyenyak dan setenang malam ini."

"Kenapa ?"

"Sebab belum pernah kujumpai seorang manusia seperti kau, menjagakan pintu kamarku semalam suntuk."

Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Apakah kau tak dapat tidur bila tiada orang yang menjagakan pintu kamarmu ?" "Sekalipun ada orang yang menjaga pintu kamarku, juga belum tentu aku bisa tidur."
 
"Mengapa ?"

"Sebab aku tak pernah mempercayai siapapun."

"Tapi kau tampaknya seperti amat mempercayai diriku." Tiba-tiba orang berbaju hitam tertawa.
"Agaknya kaupun seperti amat mempercayai diriku ?" katanya. "Dari mana kau bisa berpendapat demikian?"
"Sebab kecuali kau, belum pernah ada orang yang membiarkan aku berdiri di belakang tubuhnya." ujar orang berbaju hitam itu pelan.

"Oya ?"

"Aku bukanlah seorang Kuncu, aku seringkali membunuh orang dari belakang punggungnya." Pelan-pelan Kwik Tay-lok mengangguk.
"Yaa, membunuh orang dari belakang memang merupakan sebuah cara yang paling sederhana dan gampang"

"Apalagi jika orang itu sedang mengangguk" "Kenapa harus sewaktu mengangguk ?"
"Di belakang tengkuk setiap orang pasti terdapat suatu bagian yang paling ideal untuk umpan golok, asal kau berhasil menemukan tempat itu dan membacoknya, niscaya batok kepala korbanmu akan terkena, teori ini pasti akan dipahami oleh para algojo yang berpengalaman"

Sekali lagi Kwik Tay-lok manggut-manggut.

"Ehmm, teori ini memang bagus, teori ini memang sangat bagus"

Kembali orang berbaju hitam itu termenung beberapa saat lamanya, kemudian pelan-pelan ia baru bertanya lagi:

"Apakah selama ini tidak tidur ?"

"Bila aku sudah tertidur, apakah kau dapat tidur?" Kembali orang berbaju hitam itu tertawa.
Suara tertawanya tajam, lengking lagi pula pendek, seakan-akan mata pisau yang sedang diasah.

Mendadak ia berjalan ke hadapan Kwik Tay-lok.

"Mengapa kau membiarkan aku berdiri di belakangmu ?" anak muda itu segera menegur. "Sebab aku tak ingin menerima pancinganmu."
"Pancingan ?"
 
"Bila aku berdiri di belakangmu dan menyaksikan kau menganggukkan kepalamu, tanganku akan terasa menjadi gatal sekali."

"Apakah kau akan membunuh orang setiap kali tanganmu terasa menjadi gatal ?" "Hanya satu kali tidak."
"Kapan ?" "Barusan."
Selesai mengucapkan perkataan itu, mendadak tanpa berpaling lagi ia pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar.

Kwik Tay-lok memandang bayangan tubuhnya, hingga dia berjalan ke luar dari pintu gerbang, kemudian secara tiba-tiba berseru:

"Tunggu sebentar !"

"Perkataan apa lagi yang hendak kau bicarakan ? Apa yang seharusnya diucapkan toh telah habis kau utarakan semua."

"Aku hanya ingin mengajukan satu pertanyaan lagi kepadamu." "Tanyalah !"
Pelan-pelan Kwik Tay-lok bangkit berdiri lalu sepatah demi sepatah dia menegur:



"Benarkah kau adanya Lamkiong Cho?"

Orang berbaju hitam itu tidak menjawab juga tidak berpaling, tapi Kwik Tay-lok dapat melihat kulit di atas bahunya seakan-akan menjadi kaku secara tiba-tiba.

Anginpun serasa ikut berhenti secara tiba-tiba, mendadak suasana dalam halaman itu berubah menjadi hening, sepi, tak kedengaran sedikit suarapun.

Lewat lama sekali, Kwik Tay-Iok baru berkata:

"Bila kau tidak bersedia untuk berbicara manggutkan saja kepalamu, tapi kau tak usah kuatir, aku tidak mempunyai pengalaman untuk memenggal batok kepala orang, juga tak akan membunuh orang dari belakang tubuh orang lain."

Belum juga ada suara, tak kedengaran ada jawaban.

Kembali lewat lama sekali, orang berbaju hitam itu, baru berkata : "Sepuluh tahun belakangan ini, kau adalah orang ke tujuh yang mengajukan pertanyaan semacam itu kepadaku."

"Apakah enam orang sebelumnya telah tewas semua ?" "Benar."
"Apakah mereka mati karena mengajukan pertanyaan itu ?"
 
"Setiap orang, yang berani mengajukan pertanyaan seperti ini, dia harus membayar pertanyaan itu dengan suatu pengorbanan yang amat besar, oleh karena itu, pertimbangkanlah baik-baik sebelum kau ajukan pertanyaan tersebut. !"

Kwik Tay-lok menghela napas panjang.

"Aai. sebenarnya aku memang ingin mempertimbang-kannya lebih dahulu, sayang sekali,
aku telah mengajukan pertanyaan itu sekarang."

Mendadak orang berbaju hitam itu membalikkan tubuhnya, lalu dengan sorot mata setajam sembilu mengawasinya tak berkedip, bentaknya dengan suara keras:

"Andaikata aku adalah Lamkiong Cho mau apa kau ?"

"Semalam aku telah mengabulkan permintaanmu, asal kau telah melangkah masuk ke dalam pintu gerbang rumah ini, maka kau adalah tamuku, aku tak akan mencelakaimu, aku pun tak akan mengusirmu." kata Kwik Tay lok.

"Dan sekarang ?"

"Sekarang, perkataanku itupun masih tetap berlaku, aku hanya ingin menahanmu beberapa saat lagi."

"Menunggu sampai kapan ?"

"Tinggal di sini sampai kau menyadari bahwa apa yang telah kau lakukan dimasa lalu adalah perbuatan yang tidak benar, tinggal di sini sampai kau merasa malu, menyesal dan bertobat, nah saat itulah kau baru boleh pergi meninggalkan tempat ini."

Kelopak mata orang berbaju hitam itu seakan-akan sedang berkerut kencang, tiba-tiba dia membentak lagi:

"Bila aku tak bersedia untuk mengabulkan permintaanmu itu, pula akibatnya ?" "Ooooh. itu mah sederhana sekali" jawab Kwik Tay-lok sambil tertawa lebar.
Pelan-pelan dia berjalan mendekatinya, kemudian sambil tersenyum dia berkata:

"Bukan di belakang tengkukku terdapat suatu bagian yang paling gampang untuk di penggal ?" "Setiap orang tentu memilikinya.."
"Bila kau dapat menemukan bagian tersebut di atas tengkukku, silahkan kau penggal dahulu batok kepalaku sebelum pergi meninggalkan tempat ini.."

Orang yang berbaju hitam itu segera tertawa dingin, jengeknya: "Bagiku mah tak usah dicari lagi"
"Oooh, jadi sendiri kau telah berhasil menemukannya?"

"Tapi aku tidak turun tangan karena aku hendak membalas budi kebaikanmu semalam, tapi sekarang . ."
 
Mendadak tubuhnya melesat mundur ke belakang dan meluncur keluar dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.

Kwik Tay-lok ikut melesat pula ke depan.

Berada ditengah udara, orang berbaju hitam itu telah meloloskan pedangnya, sebilah pedang panjang tujuh depa yang memancarkan cahaya gemerlapan.

Mendadak....

"Criiiing !" di atas pedang yang gemerlapan itu telah bertambah dengan sebuah sarung pedang.

Sarung pedang itu diambil keluar dari bawah jubah panjang dari Kwik Tay-lok.

Orang berbaju hitam itu segera melompat mundur ke belakang, tapi dia turut mengejar ke depan, begitu orang berbaju hitam itu meloloskan pedangnya maka diapun mengeluarkan sarung pedang dari bawah jubahnya, kemudian ditusukkan ke depan persis menyongsong datangnya tusukan dari musuhnya.

Panjang pedang tujuh depa, sarung pedang itu hanya tiga depa tujuh inci persis.

Tapi, begitu pedang si orang berbaju hitam itu kena disarungkan kembali, kontan saja ia tak sanggup mengembangkan permainan pedangnya lebih jauh....

Tubuhnya masih mundur terus ke belakang, sebab ia sudah tiada cara lain untuk menghadapi situasi semacam itu selain mundur....

Sepasang tangan Kwik Tay-lok mencekal sarung itu erat-erat dan mendorongnya ke muka kuat-kuat, bila ia tidak melepaskan pedangnya, maka hanya mundur terus mengikuti gerakan dorongan tersebut.

Sebaliknya jika dia melepaskan pedangnya, berarti gagang pedang sendiri akan menghajar di atas dadanya.

Tubuhnya mundur terus ke belakang, dia berusaha untuk berganti arah sedikit ke samping kemudian mendorong ke depan, sayang hal itu tak mungkin lagi, maka pada saat ini ia telah terjepit, gerak-geriknya sudah tidak bebas lagi.



Bila Kwik Tay-lok mendesaknya maju se depa, terpaksa dia harus mundur sedepa pula. "Blaaaamm. !" tubuhnya telah terdorong sehingga menumbuk di atas dinding pekarangan.
Kwik Tay-lok masih menggenggam sarung pedang itu dengan sepasang tangannya, kemudian menekan tubuh musuhnya itu keras-keras di atas dinding.

Dalam keadaan begini, ia sudah tak mungkin mundur lagi, pedangnya juga tak mungkin dilepaskan lagi, asal dia lepas tangan, gagang pedang itu akan segera menghantam dadanya keras-keras.

Situasi ketika itu begitu luar biasanya sehingga bila tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, belum tentu orang akan mempercayainya....
 
Kwik Tay-lok segera tertawa, tegurnya:

"Keadaan seperti ini tentunya tak pernah kau sangka bukan ?"

"Kepandaian silat macam apaan ini ?" seru orang berbaju hitam itu sambil menggigit bibirnya menahan diri.

"Tindakan semacam ini sama sekali tak bisa dianggap sebagai suatu kepandaian" jawab Kwik Tay-lok tertawa, "sebab kecuali dipakai untuk menghadapi dirimu, cara semacam ini sama sekali tak ada manfaatnya apa-apa."
Dia seperti kuatir kau orang berbaju hitam itu tidak mengerti, maka sambungnya lebih jauh. "Sebab di dunia ini, kecuali kau seorang, tiada orang lain yang akan mencabut pedangnya
dengan cara seperti ini."

"Jadi kau secara khusus menciptakan cara tersebut untuk digunakan menghadapi diriku?" seru orang berbaju hitam itu dengan suara yang dingin seperti es.

"Benar sekali."

"Padahal kau memang berniat untuk menahan diriku di tempat ini ?"

"Sesungguhnya tinggal di sinipun tak ada yang jelek, paling tidak setiap hari kau dapat tidur dengan hati yang tenteram" sambung Kwik Tay-lok sambil tertawa.

"Hmmm. !"

"Asal kau bersedia untuk tinggal di sini, aku segera akan lepas tangan dan memberikan kebebasan untukmu."

"Hmmm. !"

"Hmmm itu apa artinya ?"

Orang berbaju hitam itu tertawa dingin.

"Sekarang, sekalipun aku tak dapat membunuhmu, tapi kaupun tak bisa berbuat apa-apa terhadap diriku, asal kau mengendorkan tanganmu, aku masih mampu untuk menggerakkan pedangku guna membunuh kau."

"Ehmmm.... memang keadaan semacam itu bisa saja terjadi setiap saat.." Kwik Tay-lok manggut-manggut.

"Oleh sebab itu jangan harap kau bisa mengancamku dengan cara seperti ini, sekalipun aku bersedia mengabulkan permintaanmu itu, hal mana juga akan kulakukan setelah kau lepas tangan nanti."

Kwik Tay-lok memandangnya beberapa saat, mendadak ia berkata sambil tertawa: "Baik, boleh saja aku mempercayai dirimu untuk kali ini saja, asalkan saja kau. "
Belum habis perkataan itu diucapkan, dan belum lagi dia lepas tangan, mendadak ia saksikan ada semacam benda yang menerobos keluar dari dada orang berbaju hitam itu.
 
Itulah sebilah ujung pedang yang tajam.

Di ujung pedang itu masih ada darah yang menetes keluar.

Ketika orang berbaju hitam itu memandang ujung pedang yang menembusi dadanya, sorot mata yang terpancar keluar persis seperti sorot mata yang diperlihatkan Kui kongcu menjelang kematiannya.

Kwik Tay-lok menjadi tertegun menyaksikan kejadian itu.

Terdengar orang berbaju hitam itu memperdengarkan suara "Grook" yang aneh sekali dari tenggorokannya, dia seakan-akan hendak mengucapkan sesuatu, namun sudah tak sanggup diutarakan lagi.

Tiba-tiba Kwik Tay-lok membentak keras, dia melejit ke tengah udara dan melompat keluar dari dinding pekarangan tersebut.

Betul juga, pedang itu ditusuk masuk dari balik dinding pekarangan sebelah luar, pedang tersebut menembusi dinding dan menembusi dada orang berbaju hitam itu, hingga kini gagang pedang itu masih berada di luar dinding.

Tapi hanya ada gagang pedangnya belaka, tak nampak sesosok bayangan manusiapun.

Angin berhembus lewat, rumput di atas tanah perbukitan itu bergoyang kesana kemari, namun tak nampak sesosok bayangan manusiapun.

Di atas gagang pedang itu terdapat secarik kain putih, kain itu sedang berkibar pula terhembus angin.

Kwik Tay-lok ingin mencabut keluar pedang tersebut, tapi segera menemukan tulisan yang tertera di atas kain putih itu.

Ketika diambil kain tadi, maka terbacalah tulisan itu berbunyi demikian: "Mati untuk yang mencatut nama !
tertanda : Lamkiong Cho."

Noda darah di ujung pedang itu telah mengering, orang berbaju hitam itu seakan-akan sedang menundukkan kepalanya memperhatikan ujung pedang yang menembusi dadanya, seperti juga sedang termenung.

Keadaannya itu seperti keadaan Kui kongcu setelah menemui ajalnya tertembus pedang.

Yan Jit, Ong Tiong, Lim Tay-peng masih berdiri di serambi jauh di belakang sana, berdiri sambil mengawasi jenasahnya.



Ia datang secara tiba-tiba, kini mati secara tiba-tiba pula.

Tapi yang lebih aneh lagi adalah ternyata ia bukan Lamkiong Cho.

Kwik Tay-lok berdiri disampingnya, memperhatikan ujung pedang yang menembusi dadanya, seakan-akan sedang termenung pula.
 
Pelan-pelan Yan Jit menghampirinya, lalu menegur:

"Hei, apa yang sedang kau pikirkan ?"

Kwik Tay-lok menghela napas panjang, katanya:

"Aku sedang berpikir, kalau toh dia bukan Lamkiong Cho, mengapa harus menerima semua hangus dari Lamkiong Cho ?"

"Hangus apa maksudmu ?"

"Bila ia bukan Lamkiong Cho yang sebenarnya, Giok Ling-long tak akan membunuh dan ia tak usah menyembunyikan diri ditempat ini, sekarang, tentu saja diapun tak usah mati di sini ?"

"Apakah kau sedang merasa sedih atas kematiannya ?" "Ya, sedikit."
"Tapi aku justru merasa sedih untuk Lamkiong Cho." "Mengapa ?"
"Dengan mencatut nama Lamkiong Cho, entah berapa banyak orang yang telah dibunuhnya dalam dunia persilatan, entah berapa banyak kejahatan pula yang telah dia kerjakan?, mungkin Lamkiong Cho sendiri sama sekali tidak tahu menahu akan hal ini, kau seharusnya berkata bahwa Lamkiong Cho lah yang telah menerima akibatnya dari ulah orang ini, bukan dia yang mendapat hangus dari Lamkiong Cho."

Kwik Tay-lok termenung dan berpikir sebentar, akhirnya dia manggut-manggut, sahutnya setelah menghela napas panjang:

"Tapi, bagaimanapun juga dia toh masih terhitung juga tamu kita, aku tak ingin melihat tamuku mati di dalam halaman rumah kita."

"Oleh sebab itu kau masih bersedih hati bagi kematiannya ?" "Yaa, sedikit."
"Bila kau lepas tangan tadi, entah pada saat ini masih akan bersedih hati untuknya atau tidak
?"

"Bila aku lepas tangan tadi, apakah dia berkesempatan itu untuk membunuhku ?" "Kau anggap dia tak dapat berbuat demikian"
Kwik Tay-lok menghela napas panjang, katanya:

"Bagaimanapun kau berbicara, aku tetap merasa bahwa manusia tetap manusia, sedikit banyak manusia itu masih mempunyai rasa perikemanusiaan, walaupun kau tak melihatnya, atau dapat merabanya, tapi mau tak mau harus kau akui akan kehadirannya, kalau tidak, apalah artinya hidup sebagai manusia ?"

Yan Jit menatapnya lekat-lekat, mendadak diapun turut menghela napas panjang, katanya dengan lembut:
 
"Padahal akupun berharap sekali agar pandanganmu itu jauh lebih tepat daripada pandanganku..."

Kwik Tay-lok mendongakkan kepalanya memandang awan yang melayang jauh diangkasa sana, lama sekali dia termenung, lalu berkata lagi secara tiba-tiba:

"Sekarang, akupun berharap bisa mengetahui akan satu hal." "Kau berharap apa ?"
"Aku hanya berharap, suatu ketika aku dapat bertemu dengan Lamkiong Cho yang sesungguhnya, melihat bagaimanakah bentuk wajah orang itu..."

Dengan mata mencorongkan sinar tajam, pelan-pelan dia melanjutkan:

"Aku rasa, ia pasti jauh lebih misterius, jauh lebih menakutkan daripada orang-orang yang pernah kujumpai sebelumnya."

Tapi apakah di dunia ini benar-benar terdapat seorang manusia yang bernama Lamkiong Cho
?

Siapapun tidak tahu, siapapun tak pernah melihatnya.

Sampai sekarang ada atau tidaknya Lamkiong Cho si manusia misterius itu dalam dunia masih tetap merupakan suatu tanda tanya besar, suatu teka-teki besar yang hingga kini belum terpecahkan....

Yaa, siapa yang tahu dia itu ada atau tidak?

Tiada seorang manusiapun yang tahu akan kabar berita Lamkiong Cho, seperti juga tak ada orang yang tahu ke mana perginya musim semi.

Tapi, musim semi akan datang kembali, sebaliknya Lamkiong Cho sama sekali tiada beritanya. Sekarang, musim sudah hampir berlalu.
Walaupun aneka bunga dalam halaman telah mekar dengan indahnya, namun bagaimanapun indahnya bunga, tak akan bisa menahan musim semi itu untuk berlangsung lebih lama.

Lambat laun udara mulai menjadi panas.

Sekalipun luka yang diderita Ong Tiong telah sembuh, namun orangnya berubah makin malas, sepanjang hari dia hanya berbaring saja, hampir sama sekali tak bergerak.

Kecuali ketika mereka mengubur jenasah orang berbaju hitam tempo hari....

Waktu itu, walaupun sudah mendekati Ceng-beng, namun tiada hujan yang turun sepanjang hari.

Udara cerah dan sangat baik, pulang dari kuburan, seperti biasanya Ong Tiong berjalan dipaling belakang..

Ang Nio-cu tidak datang.
 
Walaupun luka yang dideritanya telah hampir sembuh, namun sepanjang hari dia mengurung diri dalam kamarnya. sekarang bukan Ong Tiong yang menghindarinya, justru agaknya dialah
yang berusaha menghindari Ong Tiong.

Hati perempuan memang selamanya sukar diraba ke arah mana tujuannya....

Ini masih tak aneh, yang aneh adalah belakangan ini Kwik Tay-lok juga seakan-akan selalu menghindari Yan Jit.

Yan Jit dan Lim Tay-peng berjalan di muka, sedang dia dan Ong Tiong mengikuti di belakang dengan kemalas-malasan.

Di tengah jalan, Ong Tiong mencari sebuah tempat yang rindang dan duduk, kemudian menggeliat dan menguap berulang kali.

Maka diapun turut duduk, menggeliat dan menguap berulang kali.
Ong Tiong segera tertawa, sambil memandang wajahnya, ia berkata sambil tersenyum: "Belakangan ini tampaknya kaupun berubah menjadi lebih malas daripada diriku?" "Siapa yang membuat peraturan kalau hanya kau seorang yang boleh menjadi malas ?
Dapatkah aku lebih malas sedikit dari pada dirimu ?" "Tidak dapat."
"Kenapa tidak dapat?"

"Sebab belakangan ini kau seharusnya lebih bersemangat daripada siapapun juga." "Mengapa?"
"Masih ingatkah kau dengan ucapan Yan Jit yang disampaikan kepadamu tempo hari?" "Tidak ingat, tidak ingat lagi, mengapa aku harus mengingat selalu perkataannya ?"
Seakan-akan baru saja menelan tiga butir obat peledak, kata-katanya membara seperti bahan peledak yang setiap saat bakal meledak.
Ong Tiong sama sekali tidak menggubris akan hal itu, sambil tersenyum kembali dia berkata: "Dia bilang, diantara kita berempat, sebenarnya ia mengira kepandaian silatmu paling rendah." "Kalian semua mempunyai guru yang baik sedang aku tidak, tentu saja kepandaianku lebih
rendah."

"Tapi, semenjak kau bertarung melawan orang berbaju hitam itu, dia baru menemukan kalaupun ilmu silat yang kami miliki jauh lebih hebat daripada kepandaianmu, namun bila sungguh- sungguh sampai terjadi pertarungan, mungkin semuanya bukan tandinganmu."

"Apa yang dia katakan, mungkin dia sendiripun tak akan mempercayainya. " ucap Kwik Tay
lok dingin.

"Tapi aku percaya seratus persen, sebab pandanganku pun sama persis seperti pandangannya itu."
 
"Oya. . ."

"Sekalipun ilmu silatmu tak bisa menandingi kami, namun bila sedang bertarung melawan orang, kau bisa menghadapinya menurut situasi yang ada di depan, menaklukkan musuh terlebih dahulu dan menguasahi posisi strategis, jika di umpamakan dengan kata-kata kuno, maka kau adalah seorang manusia yang pintar dan berbakat bagus untuk melatih ilmu silat, oleh sebab itu. "

"Oleh sebab itu kita harus bertarung untuk mencobanya bukan ?"

Katanya semakin meledak-ledak, seperti ada tiga ton bahan peledak yang tertanam dalam perutnya.

Namun Ong Tiong masih juga tidak ambil perduli, katanya lebih jauh sambil tersenyum:

"Oleh sebab itu kau harus menggantikan semangatmu dan melatih kepandaian silat yang kau miliki semakin giat, bila dapat menemukan guru yang baik, mungkin saja di kemudian hari akan menjadi seorang tokoh silat disegani dalam dunia persilatan"

Tiba-tiba Kwik Tay-lok menghela napas panjang katanya:

"Sekarang aku tak ingin mencari guru yang paling baik, aku hanya ingin mencari seorang lebih yang baik"

"Mengapa?"

Kwik Tay-lok menggigit kuku jari tangannya keras-keras, lalu jawabnya lirih: "Sebab. sebab aku punya penyakit"
"Kau punya penyakit? Penyakit apa?" Tanya Ong Tiong dengan wajah agak berubah: "Semacam penyakit yang aneh sekali"
"Tampaknya kau tak pernah membicarakan soal-soal ini denganku?" "Sebab.... sebab aku. aku tak dapat mengatakannya"
Wajah pemuda ini memang tampak sangat menderita sekali, sama sekali tidak mirip orang yang sedang bergurau.

Ternyata Ong Tiong juga tidak bertanya lebih lanjut.

Sebab dia tahu, semakin cepat dia mengajukan pertanyaan, semakin enggan Kwik Tay-lok membicarakannya.

Begitu ia tidak bertanya, ternyata Kwik Tay-lok malah mendesak terus, kembali dia bertanya: "Apakah kau tidak merasakan bahwa belakangan ini aku telah berubah sama sekali?"
Ong Tiong berkerut kening lalu termenung beberapa saat lamanya, setelah itu dia baru mengangguk.

"Ehmm, agaknya memang sedikit berubah."
 
"Aaai. hal itu disebabkan aku berpenyakit" kata Kwik Tay-lok sambil menghela napas
panjang.

Dengan nada menyelidik Ong Tiong bertanya lagi:

"Tahukah kau dimana terletak penyakit yang kau derita itu"



"Disini !" kata Kwik Tay-lok sambil menuding ke hati sendiri.

"Oooh. kalau begitu kau terkena penyakit hati ?" seru Ong Tiong sambil berkerut kening.

Mimik wajah Kwik Tay lok semakin menunjukkan penderitaan yang lebih menghebat.

"Penyakit hatipun terdiri dari beraneka macam, menurut apa yang kuketahui, yang paling hebat adalah penyakit rindu. apakah kau terkena penyakit rindu ?"

Kwik Tay-lok tidak menjawab, dia hanya menghela napas berulang kali. Sambil tertawa kembali Ong Tiong berkata:

"Penyakit rindu bukan suatu penyakit yang memalukan, mengapa kau enggan untuk mengutarakannya ? Siapa tahu aku masih bisa membantumu untuk menjadi mak comblang?"

Sekuat tenaga Kwik Tay-lok menggigit bibirnya kencang-kencang, lewat sekian lama kemudian tiba-tiba ia cengkeram bahu Ong Tiong dan berseru keras:

"Benarkah kau adalah teman baikku?" "Tentu saja benar"
"Sebagai sahabat karib, apakah harus saling menutup rahasia. ?"

"Aku mempunyai suatu rahasia, sudah lama rahasia ini ku simpan didalam hati, tapi bila tidak ku utarakan lagi, bisa jadi aku akan menjadi gila, tapi. tapi bila ku utarakan keluar, aku pun takut
kau mentertawakan diriku"

"Kau.... kau. jangan-jangan kau kena penyakit sypilis?" bisik Ong Tiang ragu-ragu.

"Tidak !"

Ong Tiong segera menghembuskan napas lega, ujarnya:

"Asal tidak kena penyakit Sypilis saja, tak menjadi soal, katakan saja berterus terang, aku tak akan mentertawakan dirimu"

Kembali Kwik Tay-lok ragu-ragu setengah harian lamanya, setelah itu dengan wajah yang murung dia berkata:

"Penyakit rindu pun tidak terdiri dari semacam saja, justru yang ku alami adalah suatu macam penyakit yang paling memalukan"

"Kenapa memalukan sekali ? Perempuan suka lelaki, lelaki suka perempuan, hal ini sudah lumrah dan semua orang juga mengalaminya, sekalipun gagal didalam bercinta juga bukan suatu kejadian yang terlalu memalukan. "
 
"Tapi. tapi penyakit rindu yang ku alami ini bukan terhadap kaum perempuan"

Ong Tiong tertegun, sampai lama kemudian dia baru bertanya lagi dengan nada menyelidik: "Apakah kau jatuh hati kepada seorang lelaki ?"
Kwik Tay-lok manggut-manggut, wajahnya meringis seperti setiap saat akan menangis:

Agaknya Ong Tiong juga merasa takut sekali, sengaja dia merendahkan suaranya sambil berbisik:

"Bukan aku bukan ?"

Kwik Tay-lok memandang wajahnya lekat-lekat, dia tak tahu ingin menangis ataukah ingin tertawa, terpaksa sambil menarik wajahnya ia menjawab cepat:

"Penyakitku belum sampai separah ini."

Agaknya Ong Tiong segera menghembuskan napas lega, katanya kemudian sambil tertawa: "Asal bukan aku, itu mah tak menjadi soal."
Mendadak dia merendahkan lagi suaranya sambil bertanya:

"Apakah Siau-lim ?"

"Sudah bertemu setan tampaknya kau ini"

Ong Tiong kembali berkerut kening dan berpikir beberapa saat lamanya, tapi tak lama kemudian katanya sambil tertawa:

"Aaaah... mengerti aku sekarang, bukankah kau mencintai Yan Jit. ?"

Kali ini Kwik Tay-lok tidak berbicara lagi, ia membungkam dalam seribu bahasa. Dengan senyuman dikulum kembali Ong Tiong berkata:
"Padahal sudah lama aku mengetahui akan hal ini, kau selalu suka berkumpul dengannya." Sambil bermuram durja Kwik Tay-lok berkata lagi:
"Dulu aku masih belum merasakan sesuatu yang tak beres, aku masih mengira hal mana mungkin disebabkan kami adalah sahabat karib tapi kemudian.... kemudian. "

"Kemudian bagaimana?" tanya Ong Tiong sambil mengerdipkan matanya berulang kali. "Kemudian. kemudian aku merasakan sesuatu yang tak beres."
"Dimana ketidak beresannya ?"

"Aku tak dapat menerangkan dimanakah letak ketidak beresan tersebut, pokoknya asal aku berada bersamanya, perasaanku akan menjadi lain daripada yang lain."

"Bagaimana lain daripada yang lain itu?"
 
Tampaknya ia betul-betul hendak mengorek semua persoalan sampai sejelas-jelasnya sama sekali, tak mau mengendor dengan begitu saja.

"Lain daripada yang lain, yaa lain dari pada yang lain, pokoknya. pokoknya tidak sama
seperti keadaan biasa."

Sekalipun sudah dikatakan namun kenyataannya sama juga seperti tidak berkata apa-apa.

Tampaknya Ong Tiong seperti mau meledak rasa gelinya, tapi untung saja ia masih dapat menahan diri, ujarnya kemudian dengan wajah serius:

"Padahal kejadian seperti inipun bukan termasuk suatu kejadian yang memalukan."

"Tidak memalukan ?" teriak Kwik Tay-lok, "kalau lelaki semacam aku ternyata menyukai lelaki juga, apa namanya ? itu namanya Homoseks, mengerti ? Apakah Homoseks tidak memalukan. "



"Toh di dunia ini bukan kau seorang yang mengidap penyakit seperti ini? Bahkan sang Kaisar pun, ada kalanya merasakan juga tubuh lelaki, apa salahnya kalau rakyatpun mengikuti jejaknya? Aku lihat, lebih baik lanjutkan saja hubunganmu dengannya. "

Kwik Tay-lok segera mencak-mencak seperti orang yang kebakaran jenggot, dengan mata melotot teriaknya amat gusar:

"Ternyata kau bukan sahabatku, aku telah salah menilai dirimu." Sambil membalikkan badannya ia siap berlalu dari situ.
Tapi Ong Tiong segera menariknya kembali seraya berkata:

"Eeeh. jangan marah dulu, jangan marah dulu, aku tak lebih hanya ingin mencoba dirimu
saja, sesungguhnya akupun sudah melihatnya bahwa Yan Jit manusia tersebut sedikit kurang beres"

"Bagaimana kurang beresnya?" tanya Kwik Tay-lok tertegun.

Ong Tiong harus bersusah payah menahan diri agar jangan sampai meledak rasa gelinya, sambil menarik muka dia berkata:

"Apakah kau tidak melihat orang ini rada sedikit berhawa sesat." "Hawa sesat ? Hawa sesat apa?"
"Walaupun kita sudah sekian lama menjadi sahabat karib, namun dia selalu waspada seperti terhadap maling saja, bila mendadak tidur, ia selalu menutup semua pintu, semua jendela yang ada rapat-rapat, bukan begitu?"

"Betul !"

"Setiap kali dia keluar rumah, kepergiannya selalu dilakukan secara diam-diam, seakan-akan kuatir bila kita akan menguntilnya, begitu.  ?"

"Betul."
 
"Dia selalu tak pernah mandi, tapi tubuhnya tak pernah berbau busuk, walaupun pakaian yang dikenakan dekil dan penuh berlubang, namun kamarnya jauh lebih bersih daripada kamar siapapun. coba kau bilang, berdasarkan beberapa masalah ini bukankah dia tampak amat sesat
rasanya. ?"

Paras muka Kwik Tay-Iok segera berubah menjadi pucat pias, dengan agak ragu-ragu katanya:

"Maksudmu, apakah dia. "

"Aku tidak berkata apa-apa, juga tidak mengatakan kalau dia adalah anggota Mo-kau"

Mendadak dia berbatuk-batuk keras, sebab kalau tidak dibatukkan lagi, bisa jadi suara tertawanya akan meledak-ledak.

Paras muka Kwik Tay-lok berubah semakin pucat pias lagi, bibirnya menjadi gemetar keras, terdengar ia bergumam tiada hentinya:

"Orang Mo-kau. orang Mo-kau ?"

Ong Tiong harus berbatuk sekian lama sebelum akhirnya berhasil meredakan rasa geli dalam hatinya, kembali dia berkata.

"Aku hanya pernah mendengar orang bercerita, katanya dalam Mo-kau terdapat beberapa pasang suami istri yang sangat aneh."

"Bagaimana anehnya ?"

"Beberapa pasang suami istri itu, sang suami adalah laki-laki, sang istripun laki-laki."

Bagaikan terkena bidikan panah yang telak mengenai ulu hatinya, Kwik Tay-Iok segera melompat bangun dari atas tanahnya, kemudian sambil memegang bahu Ong Tiong kencang- kencang, pintanya dengan wajah hampir menangis: "Kau.... kau harus... membantuku.... kau....
kau harus membantuku." "Bagaimana membantunya ?"
"Kau harus membantuku untuk bercekcok hebat dengan diriku." "Bercekcok ? Bagaimana cekcoknya"
"Terserah bagaimanapun cekcoknya, pokoknya aku minta kita bercekcok hebat, semakin hebat semakin baik."

"Kenapa harus bercekcok ?"

"Sebab setelah bercekcok aku bisa kabur lari sini untuk mengambil langkah seribu !"

Paras muka Ong Tiang agak berubah, tampaknya dia merasa gurauannya sudah terlampau berlebihan, maka setelah lewat sesaat lamanya dia baru berkata sambil tertawa paksa:

"Sesungguhnya kau tak perlu pergi, sebab sebenarnya dia. "

Dia seperti hendak mengungkapkan rahasia tersebut, tapi Kwik Tay-lok segera menukas kata- katanya:
 
"Padahal akupun bukan benar-benar akan minggat, aku hanya akan meninggalkan tempat ini untuk sementara waktu saja"

"Kemudian?"

"Kemudian akan menunggunya di bawah bukit sana, asal dia sudah pergi maka secara diam- diam aku akan menguntilnya, akan kulihat dia pergi kemana dan berjumpa dengan siapa saja"

Setelah menghela napas panjang, ia melanjutkan:

"Bagaimanapun juga, aku harus menyelidiki dirinya sampai jelas, aku ingin tahu sebenarnya ia mempunyai rahasia apa?"

Ong Tiong termenung sebentar, kemudian katanya:

"Mengapa kau tidak menunggu saja di rumah?"

"Sebab bila aku akan menguntilnya dengan begitu saja, niscaya jejakku akan diketahui olehnya"

"Apakah kau hendak merubah wajahmu setibanya di bawah bukit sana ?" "Kau mengerti ilmu menyaru muka ?"
"Tidak, tapi aku mempunyai cara sendiri."

Sambil miringkan kepalanya Ong Tiong mempertimbang-kan hal tersebut beberapa saat lamanya, kemudian pelan-pelan ia berkata:



"Kalau toh kau telah bertekad untuk berbuat demikian, baiklah kau lakukan saja, cuma. "

"Cuma bagaimana ?"

"Bila kita hendak bercekcok, maka cekcok itu harus dilangsungkan seperti yang sesungguhnya, kalau tidak, tentu dia tak akan percaya."

"Betul."

"Oleh karena itu kita harus menunggu kesempatan, kita tak boleh bercekcok tanpa sebab musabab yang kuat."

"Tapi, kita harus menunggu sampai kapan?"

Ong Tiong segera tertawa, katanya: "Walaupun aku tidak terlalu suka bercekcok dengan orang, namun bukan suatu pekerjaan yang sulit untuk mencari kesempatan guna bercekcok."

"Kenapa ?"

"Sebab kau memang seringkali mengucapkan kata-kata yang tak bisa diterima oleh manusia biasa."

Kwik Tay-lok turut tertawa, katanya:
 
"Bila Yan Jit berada di sini, sekarang juga aku dapat bercekcok dengan dirimu." "Kini, aku hanya menguatirkan satu persoalan."
"Apa yang kau kuatirkan ?"

"Aku hanya kuatir bila ia membantumu untuk bercekcok denganku, kemudian sehabis bercekcok pergi bersamamu."

Kwik Tay-lok mengerdipkan matanya berulang kali, katanya kemudian: "Kau tak usah menguatirkan tentang persoalan ini."
"Oya ?"

"Kalau toh aku dapat bercekcok dengan dirimu, apakah tidak bisa bercekcok pula dengan dirinya?"

"Tentu saja dapat" jawab Ong Tiong sambil tertawa, "ada kalanya, perkataanmu bisa menggemaskan orang sekota, siapapun yang bercekcok denganmu, aku pasti tak akan merasa keheranan"

Belum habis berkata dari Kwik Tay-lok itu, mendadak terdengar jeritan kaget berkumandang dari balik hutan di sebelah depan sana.

Seorang gadis sedang berteriak-teriak dengan suara yang lantang: "Tolong.... tolong. "
Bila seorang lelaki mendengar seorang gadis meneriakkan kata "tolong", kebanyakan mereka segera akan memburu ke tempat kejadian dan memberikan pertolongannya.

Sekalipun ia tidak berniat sungguh-sungguh untuk memberi pertolongan, paling tidak juga akan mendekatinya mengetahui apa gerangan yang telah terjadi.

Dalam kehidupan seorang pria, sedikit banyak ia tentu akan mengkhayalkan untuk menjadi seorang pahlawan yang menolong gadis cantik, hanya sayangnya kesempatan itu jarang terjadi.

Kini, kesempatan itu sudah tiba, sudah barang tentu Kwik Tay-lok takkan melepaskannya dengan begitu saja. Tidak menanti Ong Tiong melakukan suatu gerakan, Kwik Tay-lok telah melompat bangun dan menyerbu ke arah mana berasalnya suara teriakan tersebut....

Sayang dia seakan-akan datang terlambat selangkah. Baru saja dia melompat bangun, tampaklah sesosok bayangan manusia telah menerjang masuk ke dalam hutan.

Gadis yang meneriakkan minta tolong, kebanyakan tak akan berparas jelek, tapi gadis secantik orang yang berteriak minta tolong sekarang, tidak banyak jumlahnya.

Gadis itu tidak begitu tua, paling banter usianya baru tujuh delapan belas tahunan, rambutnya dikepang dua dan kelihatan lincah serta polos....

Di tangannya membawa sebuah keranjang bunga, wajah yang berbentuk kwaci telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat, ia sedang berlarian mengitari sebuah pohon.
 
Seorang lelaki berkumis yang bertubuh kekar, dengan membawa senyuman menyeringai mengejarnya dari belakang.

Ia tidak mengejar terlalu cepat, sebab ia tahu gadis itu sudah merupakan hidangan lezat di depan mata, jangan harap dara tersebut dapat meloloskan diri lagi dari cengkeramannya.

Tentu saja mimpipun ia tak menyangka kalau dari tengah jalan bisa muncul seorang Thia Kau- kim.

Untung saja Thia Kau-kim yang munculkan diri tak lebih hanya seorang pemuda yang masih ingusan paling banter umurnya sebaya dengan nona tersebut.

Maka sebelum Lim Tay-peng buka suara, ia telah membentak lebih dahulu dengan suara menggelegar:

"Kau si anakan kelinci, siapa yang suruh kau datang kemari? Bila sampai menggagalkan urusan baik locu, hati-hati kupenggal batok kepala anjingmu itu."

"Urusan baik apa ?" tegur Lim Tay-peng dengan wajah dingin.

"Apa yang hendak locu lakukan, memangnya kau si bangsat cilik tak dapat melihatnya sendiri
?"

Sementara itu si nona telah menyembunyikan diri di belakang Lim Tay-peng, dengan napas tersengkal-sengkal dan suara gemetar katanya:

"Dia bukan orang baik, dia. dia hendak menganiaya aku."

"Tak usah kuatir," ucap Lim Tay-peng hambar, "sekarang, tak ada orang yang berani menganiaya dirimu lagi."

"Hmmm. anak monyet, tampaknya kau hendak mencampuri urusanku?" bentak lelaki itu
dengan gusar.

"Agaknya memang begitu !"

Dengan gusar lelaki itu membentak keras, bagaikan harimau lapar yang siap menerkam domba, dengan garangnya ia terjang diri Lim Tay-peng.



Sayang sekali musuh yang dihadapinya Lim Tay-peng telah berhasil menghajarnya sampai menggelinding ke tanah, kemudian ditendangnya tubuh lelaki itu seperti lagi menyepak anjing saja.

Kejut dan gusar lelaki itu dibuatnya, kontan saja dia mencaci maki kalang kabut, tampaknya ia sedang bersiap-siap untuk merangkak bangun dan menerkam lagi dengan garang.

Siapa tahu seseorang telah mencengkeram bajunya dari belakang, kemudian mengangkat tubuhnya ke udara.

Bukan saja orang itu mempunyai tenaga yang besar, perawakan tubuhnya juga tidak lebih pendek daripada dirinya sekalipun hanya dicengkeram dengan tangan sebelah, ternyata ia tak sanggup untuk memberikan perlawanan lagi...
 
Kedatangan Kwik Tay-lok tepat pada waktunya, sambil mencengkeram orang itu menuju ke depan Lim Tay-peng, katanya sambil tersenyum:

"Menurut pendapatmu, bagaimana kita harus memberi pelajaran kepada bangsat ini?" ia membentak.

"Lebih baik kita menanyakan pendapat dari nona ini saja," kata Lim Tay-peng cepat-cepat. Waktu itu, belum hilang rasa kaget si nona, tubuhnya malah masih gemetar keras.
Kwik Tay-lok segera menghampiri nona itu, kemudian setelah mengerdipkan matanya ia berkata:

"Orang ini berani menganiaya dirimu, bagaimana kalau kita jagal dia, kemudian diberikan kepada anjing ?"

Nona cilik itu menjerit kaget, hampir saja ia jatuh pingsan, tubuhnya segera roboh ke dalam pelukan Lim Tay-peng.

Kwik Tay lok tertawa terbahak-bahak:

"Haaahh.... haaahhh haaahhh jangan takut nona manis, aku hanya bergurau saja, manusia
busuk macam dia jangan toh manusia, anjing liarpun enggan mengendus badannya yang busuk itu."

Kemudian sambil mengulapkan tangannya:

"Enyah kau dari sini, lebih cepat lebih baik, lebih jauh lebih baik, jangan sampai kena kami bekuk lagi !"

Sekalipun tak usah diperingatkan, lelaki itu sudah melarikan diri terbirit-birit, diam-diam ia menyumpahi orang tua sendiri, kenapa dilahirkan dengan dua kaki saja.

Sepeninggal lelaki tadi, si nona kecil itu baru menghembuskan napas lega, dengan wajah merah karena jengah ia bangkit berdiri, lalu sambil menjura katanya:

"Terima kasih atas bantuan siangkong, kalau tidak.... kalau tidak. "

Matanya kembali menjadi merah, kata-kata selanjutnya tak sanggup dilanjutkan lagi, seakan- akan kalau bisa dia ingin memeluk sepasang kaki Lim Tay-peng dan menyatakan betapa meluapnya rasa terima kasih yang berkobar didalam dadanya.

Paras muka Lim Tay peng juga berubah menjadi merah padam. Melihat itu, Kwik Tay lok segera berseru sambil tertawa:
"Yang menolong kau toh bukan cuma kongcu ini seorang, aku juga turut ambil bagian, mengapa kau tidak berterima kasih kepadaku?"

Paras muka nona cilik itu berubah semakin merah padam ia semakin tak tahu apa yang harus dilakukan.

Untung saja Yan Jit datang tepat pada waktunya, sambil melotot ke arah Kwik Tay-lok tegurnya:
 
"Orang sudah menderita, kau hendak menganiaya dirinya lagi. "

Ia segera menarik bangun nona cilik itu, kemudian katanya lagi:

"Orang inipun tadi punya penyakit, kau tak usah menggubris dirinya. "

"Te. terima kasih." nona cilik itu menundukkan kepalanya semakin rendah.

"Kau seorang anak dara, mengapa mendatangi tempat yang tak ada orangnya seperti tempat ini ?"
Nona cilik itu menundukkan kepalanya semakin rendah, sahutnya agak tergagap: "Aku adalah seorang penjual bunga, ia bilang di suatu tempat ada orang yang hendak
memborong semua bunga yang kumiliki, maka. maka akupun mengikutinya datang ke mari."

"Yan Jit menghela napas panjang, katanya kemudian:

"Lelaki di dunia ini lebih banyak yang jahat daripada yang baik, lain kali kau mesti bersikap lebih berhati-hati lagi."

Mendadak Lim Tay-peng bertanya:

"Berapa sih harganya sekeranjang bunga?" "Tiga.... tiga. "
"Baik, kuberi kau tiga tahil perak, kuborong semua sekeranjang bungamu itu."

Nona menjual bunga itu mendongakkan kepalanya menatap wajahnya, dibalik sinar matanya yang lembut terpencar rasa terima kasih yang meluap.

Dengan wajah merah padam karena jengah, buru-buru Lim Tay-peng melengos ke arah lain, seakan-akan ia tak berani bertatapan mata dengan dara tersebut.

Kwik Tay-lok memandang sekejap ke arah Lim Tay-peng, lalu memandang pula ke arah si dara penjual bunga itu, tiba-tiba ia bertanya:

"Nona cilik, siapa namamu ?"

Dara penjual bunga itu seperti merasa takut sekali, begitu ia membuka suara, nona itu mundur dua langkah dengan ketakutan.

"Apakah kau tinggal di bawah bukit sana? Apakah barusan pindah ke mari? Dulu mengapa aku tak pernah melihat dirimu ?" tanya Kwik Tay-lok lebih lanjut.

Dengan wajah merah padam jengah, dara penjual bunga itu menundukkan kepalanya rendah- rendah, sambil menggigit bibir, ia membungkam diri dalam seribu bahasa.

"Hei, kenapa hanya membungkam saja ? Apakah kau mendadak menjadi bisu ?" Kwik Tay-lok tertawa terkekeh.

Dara penjual bunga itu seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat itu kemudian diurungkan, tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya dan berlalu dari sana.
 
Tampak sepasang kepangnya bergoyang-goyang di belakang punggungnya, setelah berlari agak jauh, tiba-tiba ia berpaling dan mengerling sekejap ke arah Lim Tay-peng, kemudian mengambil keluar semua bunga dari keranjangnya dan diletakkan di atas tanah.

"Bunga ini semuanya untukmu" dia berkata.