Pendekar Riang Jilid 25

 
Jilid 25

"BESAR kecil dan penyakit apapun yang ku idap biasanya akan sembuh kembali bila sudah minum arak."

"Ooooh. "

"Sekarang, apakah kau juga minum arak barang dua cawan?" "Tidak!"
"Kenapa? Bukankah barusan kau tela. telah membunuh orang ?"

"Siapa bilang aku telah membunuh orang?"

Kwik Tay-lok menjadi tertegun. "Kau tidak membunuh ?" "Tidak!"
"Tapi barusan kau telah membunuh." "Dia bukan orang !"
"Dia bukan orang? Lantas manusia macam apakah baru bisa dianggap sebagai orang?" Kwik Tay-lok semakin tercengang.
"Orang yang ada di dunia ini jarang sekali." Kembali Kwik Tay-lok tertawa. "Bagaimana dengan aku ? Apakah akupun bisa dianggap sebagai orang ?" "Kau menyuruh aku membunuhmu ?"
Berkilat sepasang mata Kwik Tay-lok.

"Bila kau tidak membunuhku, bagaimana mungkin bisa mendapatkan harta kekayaan dari Cui- mia-hu ?"

"Di tempat ini tiada harta karunnya, di sini tak ada apa-apanya !"
 
"Kau tahu ?"

"Lantas mengapa kau datang kemari ?"

"Aku hanya ingin menumpang semalam saja?"

"Apakah kau bertujuan untuk membunuh manusia yang kau anggap bukan manusia itu?" "Bukan karena soal ini!"
"Kalau begitu kau membunuhnya demi kami?" "Juga bukan!"
"Lantas karena apa?"

Tiba-tiba ini orang berbaju hitam itu menukas dengan ketus:

"Aku ingin tidur, bila aku sedang tidur, aku paling tak suka diganggu orang." Betul juga, pelan-pelan dia memejamkan matanya dan tidak berbicara lagi.
Kwik Tay-lok memandang wajahnya, lalu memandang pedang di atas bahunya, tiba-tiba saja ia merasa bahwa dirinya amat beruntung.

Keesokan harinya, orang berbaju hitam itu benar-benar sudah lenyap tak berbekas.

Dia tidak meninggalkan apa-apa, juga tidak membawa apa-apa, yang tertinggal hanya sebuah lubang di atas tonggak kayu.

Kwik Tay-lok memperhatikan lubang di atas tonggak kayu tersebut, kemudian katanya sambil tertawa:

"Tahukah kau apa yang sedang kupikirkan?" Yan Jit menggeleng.
"Aku merasa diriku benar-benar mujur" seru pemuda itu. "Mujur? Kenapa?"
"Sebab orang berbaju hitam yang kujumpai tempo hari bukan orang ini." Yan Jit termenung sebentar, kemudian katanya:
"Tapi kali ini kau toh telah berjumpa dengannya."

"Kali ini akupun tidak lagi sial, dia bukan tidak menaruh niat jahat kepada kita, malah kedatangannya seperti sengaja hendak membantu kita"

"Apakah dia adalah temanmu ?" "Bukan !"
 
"Anakmu ?"

Kwik Tay-lok segera tertawa lebar.

"Bila aku mempunyai seorang anak semacam ini, sekalipun belum edan, paling tidak juga sudah hampir."

"Kau anggap dia benar-benar datang kemari karena tanpa sengaja, kemudian setelah membantu kita maka tanpa menimbulkan suara atau mengucapkan sepatah katapun lantas pergi meninggalkan tempat ini, bukan saja tidak menghendaki ucapan rasa terima kasih kita, bahkan arak yang kita suguhkanpun tidak di minumnya barang setegukanpun."

Sambil menggeleng dan tertawa dingin tiada hentinya, ia melanjutkan lebih jauh:

"Kau anggap di dalam dunia ini benar-benar terdapat orang yang begitu baiknya sehingga bersedia membantu kita tanpa mengharapkan balas jasa apa pun dari kita ?"

"Maksudmu, dia datang kemari dan berbuat segala sesuatunya itu karena ia masih mempunyai tujuan lain?"

"Benar !"

"Tapi apakah tujuannya itu ? Apakah kau bisa menerangkannya kepada diriku ?" "Aku juga tak tahu"
"Oleh karena kau tidak tahu, maka kau baru beranggapan bahwa dia pasti akan membawa banyak kesulitan untuk kita ?"

"Benar !"

"Menurut pendapatmu, kapankah kesulitan-kesulitan tersebut baru akan berdatangan ?"



Yan Jit segera mengalihkan sinar matanya, memandang ke tempat kejauhan sana, lalu sahutnya:

"Justru karena kau tidak tahu kesulitan tersebut akan datang dalam bentuk apa dan kapan baru akan terjadi, maka hal itu justru merupakan kesulitan dan kerepotan yang sesungguhnya, kalau tidak, bukankah kita tak perlu berkuatir secemas ini ?"

Tiada sesuatu persoalan yang "pasti" dalam dunia ini.

Pada suatu persoalan yang sama, bila kau memandang dari sudut pandangan yang berbeda, kadangkala akan timbul kesimpulan yang berbeda pula.

Bila anda seorang pesiar yang tersesat di tengah gunung suatu malam, kemudian ia datang mengetuk pintu dan memohon untuk menumpang semalam saja, asal kau mempunyai rasa belas kasihan, "sudah pasti" kau akan menerimanya.

Tapi seandainya yang datang adalah seorang manusia baju hitam yang berkerudung, apakah kau akan menerimanya, hal ini masih merupakan tanda tanya besar.
 
Sekalipun kau akan menerimanya, sudah "pasti" kau akan menaruh perasaan was-was kepadanya, sedikit banyak juga akan berjaga terhadap segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Tapi, bila orang berbaju hitam itu baru saja menyumbangkan tenaganya bagi kepentinganmu semalam, maka akan berbedalah keadaannya pada waktu itu?

Dengan berbedanya keadaan, otomatis cara kerjanyapun akan mengalami banyak perubahan. Hanya tujuannya saja yang tak berbeda.
Ada sementara orang, walaupun apa saja dia lakukan, bagaimana cara melakukannya, dia pasti mempunyai suatu tujuan tertentu.

Bagaimana pula dengan Kwik Tay-lok sekalian?

Mereka adalah orang yang dengan mudah melupakan dendam sakit hati orang lain, tapi sukar untuk melupakan budi kebaikan yang diterimanya dari orang lain.

Asal kau telah melakukan kebaikan bagi mereka, maka walau berbeda dalam keadaan bagaimanapun juga, mereka pasti akan berusaha keras untuk membalas jasa baikmu itu.

Asal persoalan telah mereka janjikan, maka walau berada dalam keadaan bagaimanapun juga, mereka pasti akan berusaha untuk melaksanakan secara baik.
Sekalipun kepala pecah, badan bakal hancur, mereka tetap akan melakukannya. Mereka pasti tak akan mencari alasan lain untuk mengesampingkan kewajiban tersebut,
apalagi menebalkan muka untuk mengingkarinya.

Walaupun persoalan macam apapun yang dihadapinya, mereka sudah pasti tak akan menghindarkan diri.

Tengah malam telah tiba, kembali ada yang datang mengetuk pintu. Suara ketukan itu amat cepat dan gencar.
Orang pertama yang mendengar suara ketukan pintu itu mungkin Yan Jit, mungkin Ong Tiong, tapi orang yang pertama-tama menyahut sambil membukakan pintu sudah pasti Kwik Tay-lok.

Ternyata yang datang masih saja si manusia baju hitam yang misterius itu.
Dia masih berdiri juga di situ bagaikan sesosok sukma gentayangan, pelan-pelan katanya: "Aku tersesat di jalanan dan tak ada tempat berdiam, apakah aku boleh menumpang semalam
saja ?"

Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Boleh, tentu saja boleh, jangankan baru semalam, sekalipun ingin berdiam selama setahun juga tak menjadi soal"

"Benar-benar tak menjadi soal?"

"Sama sekali tak menjadi soal, entah kau benar-benar tersesat atau tidak, setiap kali kau ingin datang, setiap saat pula kami akan menyambut kedatangan dengan hati gembira"
 
"Walaupun kau bersikap demikian, tapi yang lain. "

"Yang lain pun begitu juga" tukas Kwik Tay-lok cepat, "setelah kau datang kemari, berarti kau adalah tamu kami semua"

"Tamu macam apa?"

"Bagi kami, hanya ada semacam tamu."

"Tapi tuan rumah beraneka ragam banyaknya." "Oya ?"
"Ada semacam tuan rumah yang suka mengusir tamunya setiap saat." Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Jangan kuatir, ditempat ini pasti tak akan kau jumpai tuan rumah semacam itu, asal kau sudah memasuki pintu gerbang bangunan rumah ini, kecuali kau bersedia untuk keluar sendiri, kalau tidak jangan harap ada orang lain yang akan menyuruhmu pergi dari sini."

Tiba-tiba orang berbaju hitam itu menghela napas panjang.

"Aaai. tampaknya aku benar-benar tidak salah mengetuk pintu," gumamnya.

Pelan-pelan dia berjalan masuk ke dalam melewati halaman dan naik ke atas serambi.

Gayanya sewaktu berjalan sama sekali tidak berubah, wajahnya juga tidak berubah, tapi paling tidak ada satu hal yang telah berubah. lebih banyak perkataan yang ia utarakan.

Dalam waktu singkat, ia sudah dua tiga kali lipat berbicara lebih banyak daripada tuan rumah sendiri.

Walaupun malam sudah semakin kelam, namun masih ada cahaya lampu memancar keluar dari balik dua, tiga buah ruangan kamar.

Agaknya Lim Tay-peng sedang membaca buku. Bagaimana dengan Yan Jit ?
Apa yang sedang ia lakukan dalam kamarnya, tak pernah diketahui orang lain, sebab dia selalu suka menutup pintu dan jendelanya rapat-rapat.



Orang berbaju hitam itu memandang sekejap cahaya lampu yang memancar keluar dari balik jendela, tiba-tiba dia berkata:

"Apakah sahabatmu tinggal di depan sana?"

Kwik Tay-lok manggut-manggut, sahutnya sambil tertawa:

"Aku tinggal di kamar yang paling belakang, letaknya paling dekat dengan tempat untuk bersantap."
 
Kamar yang paling belakang itu bukan cuma lampunya belum dipadamkan, pintu kamarpun berada dalam keadaan terbuka lebar.

Orang berbaju hitam itu berjalan masuk ke dalam, lalu berdiri di depan pintu, sampai lama sekali ia baru berkata:

"Ada semacam persoalan, walaupun tidak diucapkan kepadamu, tentunya kau sudah tahu bukan."

"Persoalan yang mana ?"

"Tiada orang yang benar-benar dapat tidur dalam posisi berdiri." Kwik Tay-lok segera tertawa.
"Jangankan berdiri, untuk tidur sambil dudukpun sukarnya bukan kepalang." Sahutnya.

Menengok dari celah-celah pintu, dapat diketahui dalam ruangan itu terdapat sebuah pembaringan yang amat besar.

Memandang pembaringan tersebut, tiba-tiba orang berbaju hitam itu menghela napas panjang lagi, gumamnya:

"Tapi ada sementara persoalan yang mungkin belum kau ketahui." "Oya ?"
"Sudah pasti kau tak akan tahu, sudah lama sekali aku belum pernah tidur pembaringan sebesar ini, dan belum pernah aku tidur nyenyak barang satu malam saja."

Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Tentang soal ini aku memang benar-benar tidak tahu, tapi aku tahu akan suatu persoalan yang lain," katanya.

"Oya ?"

"Aku tahu, malam ini kau pasti dapat tidur di atas pembaringan tersebut, lagi pula bisa tidur dengan aman tenteram semalam suntuk."

"Sungguh ?" mendadak orang berbaju hitam itu berpaling. "Tentu saja sungguh."
"Kau memperbolehkan aku untuk tidur terus sampai fajar menyingsing besok pagi ?" Kwik Tay-lok tersenyum.
"Sekalipun hendak tidur sampai tengah hari juga tak menjadi soal, kujamin pasti tak akan ada orang yang akan datang mengganggu tidurmu itu "

Orang berbaju hitam itu memandang ke arahnya, mencorong sinar tajam dari balik matanya, mendadak ia menjura dalam-dalam, lalu tanpa banyak berbicara lagi dia berjalan maju dengan langkah lebar, bahkan segera menutup pintu kamar.
 
Kemudian lampu lentera yang menerangi dalam ruangan itu pun dipadamkan pula.

Lama sekali setelah cahaya lentera itu dipadamkan, pelan-pelan Kwik Tay-lok baru membalikkan badannya dan duduk di atas undak-undakan batu di luar pintu ruangan sana.

Dalam perkampungan Hok-kui-san-ceng ini bukannya sudah tak ada kamar kosong yang lain atau pembaringan kosong lainnya lagi.

Tapi ia justru akan duduk di sana, seakan-akan telah bersiap sedia untuk menjagakan ketenangan orang berbaju hitam itu semalaman suntuk.

Malam sudah kelam, udara terasa dingin, undak-undakan batu itu turut menjadi dingin. Tapi dia tak ambil perduli, sebab hatinya penuh dengan kehangatan.
Suara langkah kaki manusia yang lembut berkumandang dari balik serambi sana, seseorang pelan-pelan berjalan mendekat.

Ia tidak berpaling, sebab dia sudah tahu siapakah orang itu. Yang datang sudah pasti adalah Yan Jit.

Ia mengenakan sebuah jubah panjang yang mencapai tanah, diapun turut duduk di atas undak-undakan batu itu.

Bintang bertaburan di angkasa cahaya yang redup seakan-akan bersinar terang, seakan-akan juga membawa dua titik mutiara yang mempertemukan Gou-long dan Ci-li.

Di angkasa terdapat bintang yang lebih terang daripada mereka, namun tiada yang lebih indah daripada mereka.

Sebab mereka tiada yang tanpa perasaan seperti bintang yang lain.

Sebab mereka dewa, bukan malaikat, mereka seperti manusia, pernah merasakan dan cinta kasih.

Walaupun kesusahan yang mereka alami amat banyak, walaupun jaraknya amat jauh namun cinta kasih mereka tetap terjalin sepanjang masa.

Tiba-tiba Yan Jit menghela panjang, lalu berkata:

"Sekarang, tentunya kau sudah tahu bukan?" "Tahu apa?"
"Kesulitan. kemarin malam kau masih tak habis mengerti, sekarang kesulitan itu telah datang
kembali."

Kwik Tay-lok segera tertawa lebar.

"Memberikan pembaringan sendiri untuk ditiduri tamu semalaman suntuk bukanlah suatu hal yang termasuk kesulitan."

"Apakah persoalan ini termasuk suatu kesulitan atau tidak, tergantung pula pada macam apakah tamumu itu."
 
"Dia adalah seorang manusia macam apa?"

"Seorang yang mempunyai kesulitan, lagi pula tak sedikit kesulitan yang dimilikinya."



"Oya ?"

"Justru karena dia sudah tahu kalau dirinya mempunyai banyak kesulitan, maka ia baru menyembunyikan diri di tempat ini."

"Oya ?"

"Justru karena pada malam ini dia hendak menyembunyikan diri di sini, maka kemarin malam ia baru membantu kita untuk melakukan semua perbuatan tersebut, seakan-akan orang yang hendak menyewa kamar, kemarin ia datang untuk memberi uang mukanya lebih dulu. Kau tak usah berlagak bodoh, padahal teori semacam ini sudah kau ketahui pula."

"Apa yang kuketahui ?"

"Kau tahu malam ini pasti ada orang yang hendak datang mencarinya, maka kau baru berjaga- jaga di sini, kau bersiap sedia untuk membantunya menahan serangan tersebut."
Kwik Tay-lok termenung beberapa saat lamanya, setelah itu dia baru berkata pelan: "Semalam, ketika ada orang datang kemari untuk mencari kesulitan buat kita, siapa yang telah
menghadapinya ?"

"Dia !"

"Maka seandainya pada malam ini benar-benar ada orang yang akan datang mencari gara- gara dengannya, kenapa bukan kita juga yang mewakilinya untuk menahan kesulitan tersebut ?"

"Itu mah tergantung pada kesulitan macam apakah yang bakal kita hadapi..."

"Perduli kesulitan macam apapun toh semuanya sama saja, setelah kita menerima uang muka, sudah sewajarnya bila rumah itu kita sewakan kepadanya."

Yan Jit termenung lagi beberapa saat lamanya, kemudian dia baru berkata:

"Menurut pendapatmu, bagaimanakah ilmu silatnya, apabila dibandingkan dengan kepandaian silatmu ?"

"Agaknya seperti jauh lebih hebat dari pada diriku."

"Sekarang, diantara sekian banyak orang yang berada di sini, hanya kita berdua saja yang bisa turun tangan, kesulitan yang tak sanggup dia hadapi mana mungkin bisa kita hadapi ?!"

"Paling tidak kita toh dapat mencobanya."
Arti daripada "mencoba" baginya berarti ia sudah bersiap-siap untuk beradu jiwa. "Seandainya dia adalah seorang penyamun, atau seorang pembunuh kejam yang berhati
buas, apakah kau juga, akan membantunya untuk menghadapi kesulitan tersebut"
 
"Soal itu, mah merupakan dua persoalan yang berbeda." "Dua persoalan yang berbeda bagaimana maksudmu ?"
"Mengapa orang lain datang mencarinya adalah satu persoalan, sedangkan apa sebabnya aku membantunya, untuk menghadapi kesulitan tersebut adalah persoalan yang lain pula."

"Apa sih tujuanmu yang sebenarnya ?"

"Oleh karena pada malam ini dia adalah tamuku, karena aku telah meluluskan permintaannya, maka aku akan membiarkan ia tidur dengan nyenyak semalam suntuk."

"Urusan lain kau tak akan mengurusinya?"

"Bagai manapun juga, pokoknya urusan ini saja yang akan ku urusi pada malam ini."

Yan Jit segera mendelik ke arahnya, kemudian sambil menggigit bibirnya kencang-kencang dia berseru:

"Kau. kau sebenarnya kau ini manusia macam apa?"

"Aku adalah manusia macam begini, seharusnya sudah kau ketahui hal ini semenjak dulu"

Sekali lagi Yan Jin melotot besar ke arahnya, mendadak sambil mendepak-depakkan kakinya ke tanah dia beranjak dan pergi meninggalkan tempat tersebut.

Tapi baru dua langkah ia telah berhenti melepaskan jubah panjang yang dikenakan itu dan menyelimutkan ke atas tubuhnya.

Sambil tertawa Kwik Tay-lok segera berkata:

"Bila kau takut aku kedinginan, lebih baik lagi jika kau carikan sebotol arak untukku" Yan Jit menggigit bibirnya menahan diri kemudian berseru dengan gemas:
"Aku takut kau kedinginan? Aku hanya kuatir jika kau tidak mampus karena kedinginan." Jubah itu mana lebar juga besar, entah milik siapa.
Dalam kamar Yan Jit yang selalu tertutup rapat itu, seakan-akan selalu dapat bermunculan barang-barang yang beraneka ragam.

Dulu, setiap beberapa waktu dia pasti akan melenyapkan dirinya selama beberapa hari tapi penyakit tersebut belakangan ini tampaknya sudah banyak berubah, namun Kwik Tay-lok selalu merasakan adanya kemisteriusan di jarak dari Yan Jit, dia merasa orang itu selalu menjaga suatu jarak tertentu dengan setiap orang.

Padahal untuk sahabat karib seperti mereka ini, jarak semacam itu seharusnya tak boleh dibiarkan ada.

Jubah itu sudah kuno, lagi pula sangat kotor, dimana-mana penuh dengan tambalan cuma anehnya sedikitpun tidak bau.

Hal inipun merupakan salah satu hal yang selalu diherankan oleh Kwik Tay-lok.
 
Yan Jit seperti tak pernah mandi, walau hanya sekalipun, tapi anehnya, ia sama sekali tidak bau.

Dan lagi walaupun badannya kotor lagi dekil, namun kamarnya selalu diatur dengan rapi dan bersih.

Kwik Tay-lok segera mengambil keputusan, besok dia pasti akan mengajukan pertanyaan kepadanya:

"Sebenarnya kau ini adalah manusia seperti apa ?"

Sekarang, cahaya lentera didalam kamar Yan Jit telah padam, tapi Kwik Tay-lok tahu, sudah pasti dia tak akan benar-benar pergi tidur.



Kwik Tay-lok merapatkan jubahnya dengan tubuhnya, dalam hatinya segera timbul suatu perasaan yang amat hangat, sebab diapun tahu, bagaimanapun ketusnya setiap perkataan dari Yan Jit, tapi asal urusan itu menyangkut dirinya, Yan Jit pasti menaruh perhatian khusus kepadanya, dia pasti merasa amat menguatirkan keselamatannya.

Malam semakin hening, angin berhembus lewat menggoyangkan bubungan di sisi halaman sana.

Kwik Tay-lok ingin sekali pergi mencari sedikit arak untuk diminum, tapi pada saat itulah mendadak ia mendengar serentetan suara irama musik yang sangat aneh berkumandang datang.

Suara irama musik itu mengalun tiba seperti mengambang, pada mulanya suara itu seakan- akan berasal dari sebelah timur, mendadak beralih pula ke sebelah barat.

Menyusul kemudian dari empat arah delapan penjuru seakan-akan bermunculan suara irama musik yang sangat aneh itu.

"Aaaah, sudah datang, orang yang hendak mencari gara-gara telah datang. "

Kwik Tay-lok merasa seluruh badannya menjadi panas, bahkan denyutan jantung turut berubah menjadi dua tiga kali lipat lebih cepat daripada keadaan biasa.

Manusia macam apakah yang bakal datang? Tentu saja ia tak dapat menduganya.
Tapi ia tahu dengan pasti bahwa orang itu pasti seorang yang lihay sekali, kalau tidak mengapa orang berbaju hitam itu bisa demikian ketakutannya sehingga menyembunyikan diri.

Semakin lihay orang yang akan menampakkan diri itu, semakin merangsang pula masalahnya.
Kwik Tay-lok membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar, jubah yang dikenakanpun tanpa terasa turut terlepas.

Tiba-tiba....

"Blaaammm. " Pintu gerbang diterjang orang sampai ambrol. Dua orang suku asing
bercambang lebar, berambut keriting, bermata hijau dan berhidung betet tiba-tiba menampakkan diri di depan pintu, badannya yang setengah telanjang penuh bertato, kakinya telanjang dan di atas telinga sebelah kirinya tergantung sebuah anting-anting emas yang amat besar.
 
Ditangan mereka membawa sebuah permadani berwarna merah yang segera disusun dari arah pintu depan sampai ke dalam halaman, kemudian sambil berjumpalitan di udara mereka mengundurkan diri dari situ.

Selama ini mereka tidak memandang ke arah Kwik Tay-lok, mengerlingpun tidak, seakan-akan dalam halaman tersebut sama sekali tiada orang lain. Walaupun Kwik Tay-lok sudah dibikin amat gembira sehingga keringatpun turut bercucuran, namun ia tetap berusaha untuk menahan diri.

Sebab dia tahu, pertunjukan menarik pasti masih berada di belakang.

Walaupun kemunculan dari dua orang suku asing itu amat tiba-tiba dan serba misterius, namun kedua orang itu tak lebih cuma budak-budak belian belaka, sang pemegang peranan sudah pasti belum lagi menampilkan diri.

Betul juga, dari luar pintu segera muncul dua orang manusia lain yang berjalan masuk.

Dua orang itupun merupakan perempuan asing yang berdandan aneh sekali, rambutnya yang berwarna hitam dibuat tujuh delapan puluh buah kuncir kecil, timur segumpal, barat segumpal, mengikuti bergemanya irama musik, bergoyang kesana kemari tiada hentinya.

Kedua orang gadis itu membawa keranjang besar yang penuh dengan bunga, waktu itu mereka sedang menggerakkan lengannya dan menebarkan berkuntum-kuntum bunga aneka warna itu di atas permadani berwarna merah itu.

Kedua orang gadis asing itu berwajah amat cantik, di bawah gaunnya yang pendek kelihatan sepasang kakinya yang putih bersih.

Di atas kakinya itu mengenakan sesusun gelang emas, mengikuti gerak tarian yang mereka bawakan, berbunyi "ting tang ting tang" tiada hentinya....

Sepasang mata Kwik Tay-lok terbelalak semakin besar lagi.

Sayang mereka tak pernah mengerling barang sekejappun ke arah pemuda itu, selesai menaburkan bunga, merekapun melejit ke udara, berjumpalitan beberapa kali dan mengundurkan diri.

"Tampak peristiwa ini selain makin lama merangsang, lagi pula makin lama makin menarik hati."

Persoalan apapun juga, bila diantaranya hadir gadis cantik yang turut ambil bagian, selamanya memang merangsang dan menawan hati.

Apalagi kalau gadis cantik yang turut mengambil bagian makin lama semakin banyak saja jumlahnya.

Empat orang gadis bergaun panjang, bersanggul tinggi dan berdandan seperti gadis keraton, muncul di situ membawa empat buah lentera yang antik dan indah.

Ke empat orang gadis itu rata-rata berwajah cantik jelita bagaikan bidadari dari kahyangan, baru saja mereka menghentikan langkahnya, dua orang lelaki suku asing yang berkaki panjang dan bertato di tubuhnya telah melangkah masuk ke dalam halaman dengan menggotong sebuah tandu beralas tidur.

Di atas tandu beralas tidur itu berbaring seorang perempuan anggun berbaju merah, di tangannya membawa sebuah pipa tembakau yang terbuat dari perak, waktu itu ia sedang
 
menyedot asap tembakau dalam-dalam, kemudian menyemburkan asapnya yang tebal ke udara, wajahnya segera tertutup dibalik asap yang tebal itu.

Di tangannya mengempit sebuah toya berkepala naga yang panjang sekali, disamping tandu tampak seorang gadis cebol yang sedang memijit-kakinya.

Diam-diam Kwik Tay-lok menghela napas panjang.



Walaupun ia tak sempat melihat jelas muka perempuan anggun berbaju merah itu, namun kalau dilihat dari toya berkepala naga serta si gadis cebol yang sedang memijit kakinya, siapapun akan menduga kalau usianya pasti telah lanjut.

Inilah satunya hal yang amat tidak berkenan di hatinya.

Kini persoalan telah berkembang menjadi begini, semuanya terjadi dalam keadaan yang menarik hati, seandainya si pemegang peranan utama juga seorang gadis yang cantik jelita, bukankah hal ini akan menjadi sempurna ?

Untung saja Kwik Tay-lok selalu pandai menghibur diri, pikirnya:

"Bagaimanapun juga, nenek tua ini pastilah seorang pemegang peranan utama yang luar biasa, cukup dilihat dari gayanya, mungkin tidak banyak orang yang dapat memandanginya"

Oleh karena itu, masalah tersebut masih tetap menarik hatinya. .

Sedangkan mengenai siapakah nenek tua ini? Kenapa dapat mengikat tali permusuhan dengan orang berbaju hitam itu?

Sesungguhnya berapa dalamkah dendam kesumat itu ? Apakah Kwik Tay-lok dapat menahannya ?

Agaknya beberapa hal itu tak pernah ia memikirkan.

Setelah semua persoalan merupakan tanggung jawabnya, sekalipun tak sanggup ditahan juga harus ditahan, lantas apa gunanya mesti dipikirkan lagi ?

Oleh sebab itu ia tetap menahan sabar, menunggu terus, bila orang lain tidak membuka suara, diapun tidak akan membuka suara.

Lewat lama kemudian, mendadak perempuan anggun berbaju merah itu menyemburkan segulung asap tebal dari mulutnya, gulungan asap itu persis menyembur di atas wajah Kwik Tay- lok.

Benar-benar asap yang amat tebal.

Walaupun Kwik Tay-lok minum arak, ia tidak menghisap tembakau, kontan saja ia dibuat sesak napas sampai hampir saja air matanya jatuh bercucuran, hampir saja dia hendak mencaci maki.

Tapi, bila seseorang dapat menyemburkan asap tembakaunya selurus ini dan sejauh ini, lebih baik jika kau bersikap lebih sungkan lagi kepadanya.

Belum lagi asap tebal itu membuyar, terdengar seseorang telah berkata.
 
"Siapakah kau? Kenapa ditengah malam buta begini duduk seorang diri di sini?"

Suara itu nyaring lagi lembut, kedengarannya bukan suara seorang nenek, tapi juga tidak terhitung merdu, nadanya buas, galak seperti seorang opas yang sedang memeriksa seorang pencuri.

Kwik Tay-lok menghela napas panjang, lalu tertawa getir.

"Agaknya rumah ini adalah rumahku, bukan rumahmu, kalau aku suka duduk dirumah sendiri, apa salahnya dengan dirimu ?"

Belum habis ia berkata, kembali ada semburan asap tebal yang menyambar wajahnya.

Semburan kali ini lebih tebal, membuat Kwik Tay-lok menjadi terbatuk-batuk, lagi pula wajahnya terasa bagaikan ditusuk-tusuk dengan jarum tajam....

Kedengaran orang itu berkata lagi:

"Aku bertanya sepatah kata kepadamu, kau harus menjawab dengan sepatah kata juga, lebih baik jangan mencoba untuk bermain setan, mengerti ?"

Kwik Tay-lok meraba wajahnya dan tertawa getir. "Tampaknya, sekalipun aku tidak mengerti juga tak bisa."
"Lamkiong Cho ada dimana ? Cepat suruh dia menggelinding keluar !" bentak nyonya anggun berbaju merah itu lagi dengan suara keras.

Ternyata orang berbaju hitam itu betul-betul adalah Lamkiong Cho. Sekali lagi Kwik Tay-lok menghela napas panjang.
"Maaf seribu kali maaf, aku tak dapat menyuruh dia menggelinding keluar." "Kenapa ?"
"Pertama, sebab dia bukan bola, tak mungkin bisa menggelinding, kedua karena ia sudah tertidur, siapapun tak akan bisa membangunkan dirinya, sebab bila ingin berbuat demikian maka terlebih dahulu dia harus melakukan suatu hal."

"Melakukan apa!"

"Robohkan aku lebih dahulu."

"Huuuh, itu mah gampang!" seru nyonya anggun berbaju merah itu sambil tertawa dingin.

Belum habis perkataan itu diucapkan, mendadak sesosok bayangan manusia telah melayang keluar dari balik kabut tebal, cahaya tajam berkilauan dan tahu-tahu sudah mengancam tenggorokan Kwi Tay lok.

Gerakan yang dilakukan orang itu cepat sekali, untung saja reaksi yang dilakukan Kwik Tay-lok juga tidak terhitung lambat.
 
Tapi, baru saja dia menghindarkan diri dari serangan yang pertama, serangan kedua telah meluncur datang kemari, bahkan serangan yang satu jauh lebih cepat dan lebih ganas daripada serangan selanjutnya.

Menanti Kwik Tay-lok sudah menghindarkan diri dari serangan yang ke empat, dia baru melihat jelas kalau orang yang melancarkan serangan itu ternyata si gadis cebol yang memijit kaki nyonya itu tadi.

Jangan dilihat badannya cuma tiga depa dan pedang yang dipakai cuma satu depa enam tujuh inci, namun ilmu pedang yang dipergunakannya sangat ganas dan lihaynya bukan kepalang, kepandaian silatnya boleh dibilang merupakan jago kelas satu dalam dunia persilatan.

Sayang sekali badannya benar-benar terlampau kecil dan pedangnya juga terlampau pendek.



Mendadak Kwik Tay-lok menyambar jubah panjangnya itu kemudian melemparkannya ke depan.

Jubah itu mana panjang juga besar, seperti selapis awan hitam yang menyambar tiba-tiba saja, bila orang sekecil itu dapat meloloskan diri dari ancaman semacam ini, sesungguhnya hal mana bukan terhitung sesuatu yang gampang.

Gadis itu menjerit keras, lalu serunya dengan gemas:

"Orang dewasa menganiaya anak kecil, tak tahu malu, tak tahu malu !" Selesai berkata, dia telah mengundurkan diri kembali ke tempat semula....
Kwik Tay-lok segera tertawa getir, ujarnya:

"Lebih baik tak punya malu daripada tak punya nyawa."

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh. kau berani mencampuri urusanku, tampaknya sudah bosan
hidup?" seru nyonya anggun berbaju merah itu sambil tertawa dingin. .

Di tengah suara tertawa dinginnya yang tak sedap didengar, dua orang lelaki suku asing bercambang dan berambut keriting itu sudah munculkan diri di depan mata, mereka berdua kelihatan bagaikan dua buah pagoda besi yang tampaknya mengerikan sekali.

Kembali Kwik Tay-lok menghela napas panjang, gumamnya:

"Yang kecil betul-betul terlampau kecil, yang besar benar-benar kelewat besar, bagai mana baiknya kini ?"

Tidak menunggu kedua orang itu turun tangan, tiba-tiba tubuhnya menerjang maju ke depan, lalu seperti seekor ikan leihi, tahu-tahu melejit ke samping dan menyusup ke depan tandu tersebut.

"Lebih baik kau saja yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil." katanya sambil tertawa, "coba kalau kau tidak kelewat tua, persis sekali bila dijodohkan kepadaku."

"Apakah kau bilang aku terlampau tua?" ucap nyonya anggun berbaju merah itu sambil tertawa dingin.
 
Waktu itu, asap tebal yang menyelimuti depan wajahnya telah semakin membuyar, akhirnya Kwik Tay-lok dapat melihat paras mukanya.

Tak tahan ia lantas menjerit kaget, bagaikan bertemu dengan setan saja, selangkah demi selangkah dia mundur ke belakang.

Mimpipun ia tak menyangka akan berjumpa dengan raut wajah seperti ini.

Selembar wajah yang cantik, mana muda lagi, meski ditutupi oleh selapis bedak yang tebal dan berusaha untuk berdandan sebagai orang dewasa, namun tak dapat menutupi sifat kekanak- kanakan yang terpancar di atas wajahnya, seperti seorang nenek yang tak akan dapat menutupi keriput di atas wajahnya walaupun sudah menggunakan bedak yang bagaimana tebalnya.

Ternyata "si nenek" yang lagaknya sok, mana menghisap tembakau, suruh orang memijit kakinya lagi itu tak lain adalah seorang nona cilik yang baru berusia enam-tujuh belas tahunan.

Kwik Tay-lok betul-betul merasa terkejut sekali.

Sementara itu, nona berbaju merah itu sudah melompat bangun dari atas tandunya, lalu dengan sepasang matanya yang melotot besar mendelik ke arahnya.

Selangkah demi selangkah anak muda itu turut mundur ke belakang.

Nona berbaju merah itupun selangkah demi selangkah mendesak maju ke depan, di tangannya masih memegang tongkat berkepala naga itu.

Nona cilik itu sebenarnya masih muda, cantik lagi, mengapa ia justru suka berdandan sebagai seorang nenek ?

Sepintas lalu dapat dilihat kalau usianya paling banter baru enam-tujuh belas tahunan.

Mengapa ia bisa memiliki tenaga dalam sedemikian sempurna, bahkan seorang dayang ciliknya pun memiliki ilmu pedang yang begitu tingginya ? Tentu saja dua orang lelaki suku asing itupun tak mungkin adalah seorang manusia yang gampang dihadapi.

Apa yang diandalkan nona cilik ini untuk mengendalikan orang-orang tersebut ?

Mengapa ia dapat mengikat tali permusuhan dengan Lamkiong Cho yang sudah termasyhur namanya sejak dua puluh tahun berselang?

Dengan nama besar, serta ilmu pedang yang dimiliki Lamkiong Cho, mengapa ia bisa begitu ketakutan menghadapi si nona cilik itu?

Kwik Tay-lok benar-benar tidak habis mengerti, tapi sekarang diapun tak punya waktu untuk memikirkan persoalan itu.

Meskipun sepasang mata nona berbaju merah itu indah, ketika mendelik ternyata jauh lebih mirip daripada seekor harimau yang siap menerkam mangsanya.

"Aku tahu tidak?" tegurnya dingin. "Tidak tahu, sama sekali tidak tahu." "Apakah kau ingin mengawini aku?"
 
"Tii. tidak ingin"

Jawaban tersebut memang jujur, siapa yang tahan untuk mengawini seorang gadis semacam ini walaupun dia bagaimana cantiknya.

"Kau masih menginginkan selembar nyawamu tidak?" kembali gadis berbaju merah itu mendesak.

"Masih menginginkan."

"Kalau masih menginginkan nyawamu, cepat suruhlah Lamkiong Cho menggelinding ke luar." "Ada urusan apa kau menyuruhnya menggelinding keluar?"
"Aku menginginkan selembar jiwanya!"

"Apakah kau bertekad akan membunuhnya pada malam ini juga?" "Benar"
"Kenapa?"



"Sebab sudah kukatakan kepadanya, bila sebelum fajar menyingsing nanti aku tak dapat membunuhnya, maka akan kuampuni selembar jiwanya."

"Jika ucapanmu harus dipegang teguh, apakah perkataan orang lain tak bisa dimasukkan hitungan pula?"

"Apa yang telah kau diucapkan?"

"Aku telah berjanji kepadanya, malam ini dia dapat tidur dengan nyenyak sampai besok pagi oleh sebab itu. "

"Oleh sebab itu kenapa?"

"Oleh sebab itu bila ingin membunuhnya maka kau harus membunuh diriku lebih dahulu!" "Kau adalah temannya?"
"Bukan"

"Tahukah kau berapa perbuatan jahat yang dia lakukan?" "Aku tidak tahu"
"Tapi kau bersikeras hendak beradu jiwa deminya?" "Benar."
Nona berbaju merah itu segera tertawa dingin.

"Hmmm. kau anggap aku tak berani membunuh orang?"
 
Kwik Tay-lok ikut tertawa paksa, sahutnya:

"Kau memang tampaknya belum pernah membunuh orang."

"Hmm, sejak berusia sembilan tahun aku telah mulai membunuh orang." kata nona berbaju merah itu dingin, "setiap bulan paling tidak membunuh seorang, coba hitunglah sendiri sudah berapa banyak orang yang telah ku bunuh?"

"Agaknya seperti sudah ada tujuh delapan puluh orang lebih." ucap Kwik Tay-lok sambil menghembuskan napas dingin.

"Oleh sebab itu, sekalipun bertambah dengan kau seorangpun, bagiku tak menjadi soal."

Kwik Tay-lok menghela napas panjang, sebelum ia sempat menjawab, mendadak terdengar seseorang telah menimbrung dengan suara yang dingin:

"Bila kau hendak membunuhnya, lebih baik bunuhlah aku terlebih dahulu. "

Suara itu bukan suaranya Yan Jit, melainkan Lim Tay-peng.

Malam amat hening, entah sedari kapan Lim Tay-peng telah munculkan diri dari kamarnya, paras pemuda itu kelihatan masih pucat pias seperti mayat.

"Siapa kau ?" bentak nona berbaju merah itu dengan sepasang mata melotot besar.

"Kau tak usah mengurusi siapakah aku, kalau toh sudah tujuh delapan puluh orang yang telah kau bunuh, bertambah aku seorang toh tak menjadi soal. "

Gadis berbaju merah itu segera tertawa dingin.

"Tidak kusangka kalau di sini terdapat banyak sekali orang yang tidak takut mati." serunya. "Yaa, memang tidak sedikit"
"Kalau memang begitu, baiklah kupenuhi keinginanmu itu!"

Sambil membalikkan badannya, tongkat berkepala naga yang berada di tangannya itu menusuk ke dalam Lim Tay-peng dengan jurus Hu-hoa-hud-liu (memisah bunga menyambar pohon liu).

Yang dipergunakan untuk menyerang ternyata adalah gerakan jurus ilmu pedang.

Bukan saja merupakan ilmu pedang, lagi pula merupakan semacam ilmu pedang yang paling enteng.

Tongkat yang begitu panjang dan begitu berat, dalam permainan sepasang tangannya yang kecil dan putih itu ternyata berubah seakan-akan sedikitpun tidak berat.

Kwik Tay-lok segera membentak keras:

"Penyakitmu belum sembuh, biar aku saja yang menghadapinya!"

Tapi sayang sekalipun dia ingin turun tangan menggantikan Lim Tay-peng, namun keadaan sudah terlambat.
 
Gadis berbaju merah sudah melancarkan tujuh buah serangan berantai ke arah Lim Tay-peng, semua serangan dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, mana gerakannya enteng, arahnya juga tak menentu.

Seluruh tubuh Lim Tay-peng segera terkurung dibalik ilmu lapisan pedang lawan yang amat dahsyat itu.

Tampaknya kondisi badannya belum pulih kembali seperti sedia kala, maka ia tak punya kekuatan untuk melancarkan serangan balasan. Namun, ilmu pedang si nona berbaju merah yang demikian ketat dan dahsyatnya itu justru tak sanggup untuk menempel di tubuhnya, bahkan menjawil ujung bajunya pun tak dapat.

Mendadak terdengar suara pekikan nyaring berkumandang memecahkan keheningan, tongkat panjang sembilan depa sudah menancap di atas tanah, sementara gadis berbaju merah itu bagaikan baling-baling cepatnya berputar di ujung tongkat itu dan menggulung ke tubuh Lim Tay- peng dengan hebatnya.

Dengan tindakannya ini, ternyata ia telah mempergunakan tongkat tersebut sebagai pangkal dari kekuatannya, sedangkan tubuhnya di gunakan sebagai senjata, jurus-jurus serangannya dilancarkan dengan penuh perubahan yang aneh dan sakti, semuanya jauh di luar dugaan.

Lim Tay-peng bergerak ke sana ke mari dengan lincahnya, secara beruntun ia sudah mundur sejauh sembilan langkah lebih.

Mendadak gadis berbaju merah itu berpekik nyaring, tubuhnya melejit ke tengah udara tongkatnya masih menancap di tanah, tapi di tangannya telah bertambah dengan sebilah pedang pendek yang memancarkan sinar tajam.

Pedang itu sebenarnya memang disembunyikan di dalam tongkat tersebut, begitu berada di tangan, tubuh dan pedangnya segera melebur menjadi satu, kemudian orang berikut pedangnya secepat kilat menyambar ke tubuh Lim Tay-peng.



Serangannya kali ini dilakukan amat ganas, lihay dan berbahaya sekali...

Keringat dingin telah jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuh Kwik Tay lok, bila dia yang menghadapi ancaman semacam itu, maka harapannya itu untuk meloloskan diri tidaklah besar.

Tapi Lim Tay-peng seakan-akan sudah hapal sekali macam perubahan dari jurus serangannya
itu.

Walaupun pedang nona itu menyambar-nyambar dengan lihaynya, namun setiap kali tiba di hadapan Lim Tay-peng, tiba-tiba tubuh anak muda itu sudah berputar ke samping untuk menghindar.

Suatu ketika, mendadak Lim Tay-peng melejit ke depan lalu mencabut tongkat yang menancap di atas tanah itu.

Si nona berbaju merah itu segera berpekik nyaring, badannya melejit ke udara, kemudian setelah berjumpalitan di udara, dia membalikkan pedangnya sambil melepaskan tusukan.

Lim Tay-peng sama sekali tidak berpaling, toyanya diputar sedemikian rupa menyongsong datangnya ancaman itu.
 
"Cringgg. !" letupan bunga api berhamburan, ternyata pedang pendek itu sudah terbenam
sama sekali didalam tongkat tersebut.

Nona berbaju merah segera melejit kembali ke udara, badannya berjumpalitan berulang kali, kemudian baru melayang turun ke atas tanah dan tepat di depan tandunya itu.

Dengan pandangan tertegun dan melongo dia awasi wajah Lim Tay-peng tanpa berkedip. Kwik Tay-lok juga memandang kesemuanya itu dengan pandangan tertegun.
********************************* Halaman 53 hilang
*********************************

Dia seakan-akan berubah menjadi amat emosi, bahkan kaki dan tangannya turut gemetar keras.

Lim Tay-peng ragu-ragu sebentar, akhirnya pelan-pelan dia membalikkan badannya sambil bertanya:

"Kau ingin bagaimana?"

"Aku.... aku. aku hanya ingin mengajukan satu pertanyaan saja."

"Kalau begitu, tanya saja !"

Nona berbaju merah itu mengepal sepasang tangannya kencang-kencang, lalu berkata: "Kau adalah. !"
"Benar!" tukas Lim Tay-peng tiba-tiba.

Nona berbaju merah itu segera mendepak-depakkan kakinya ke atas tanah, kemudian serunya:

"Baik, kalau begitu aku ingin bertanya lagi, kenapa kau kabur pada waktu itu?" "Aku senang."
Nona berbaju merah itu mengepal tinjunya semakin kencang, bibirnya turut memucat saking emosinya, dengan gemetar dia berseru:

"Bagian mana dari tubuhku yang tidak mencocoki hatimu ? Kenapa kau harus membuatku malu ?"

"Aku yang tak pantas mendapatkan kau, yang mendapat malu juga aku, bukan kau." tukas Lim Tay-peng ketus.

"Kini, kau telah kutemukan kembali, apa yang hendak kau lakukan sekarang ?" "Aku tak akan berbuat apa-apa."
"Kau tidak bersedia untuk pulang ke rumah ?"
 
"Kecuali kau membunuhku, dan menggotong mayatku pulang, kalau tidak, jangan harap"

Sepasang mata nona berbaju merah itu menjadi merah padam, bibirnya berdarah karena digigit terlalu keras, serunya dengan gemas:

"Baik, kau tak usah kuatir, aku tak akan menyuruh orang untuk memaksamu pulang, tapi suatu hari, aku akan menyuruhmu berlutut di depanku sambil memohon kepadaku, ingat saja pokoknya ada suatu hari seperti itu. "

Ucapannya terakhir menjadi sesenggukan, ia seperti sudah lupa kalau kedatangan untuk mencari Lamkiong Cho, mendadak setelah mendepak-depakkan kakinya di tanah, ia melejit ke udara dan melayang keluar dari halaman tersebut.

Semua pengikutnya juga turut pergi dari sana, sekejap mata kemudian bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan mata.

Yang tertinggal hanya permadani berwarna merah penuh bertaburkan bunga indah.

Malam semakin kelam, cahaya lentera semakin redup, dalam kegelapan sulit untuk menyaksikan bagaimanakah perubahan mimik wajah Lim Tay-peng.

Ada sementara persoalan memang tak leluasa untuk ditanyakan, lebih-lebih tak perlu untuk ditanyakan.

Lewat lama kemudian, Lim Tay-peng baru berpaling dan tertawa paksa kepada Kwik Tay lok, kemudian bisiknya:

"Terima kasih."

"Seharusnya akulah yang berterima kasih kepadamu, mengapa malah kau yang berterima kasih kepadaku?"

"Sebab kau tidak bertanya kepadaku siapakah dia, juga tidak bertanya kepadaku mengapa bisa kenal dengannya."

Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Bila kau bersedia untuk mengatakannya, sekalipun tidak kutanyakan kau juga akan berkata sendiri, sebaliknya bila kau tak bersedia untuk mengatakannya, mengapa pula aku mesti banyak bertanya?"



Lim Tay-peng menghela napas panjang.

"Ada sementara persoalan memang paling baik kalau tidak dibicarakan lagi. " bisiknya.

Pelan-pelan dia membalikkan badannya dan berjalan kembali ke dalam kamarnya.

Memandang bayangan punggungnya yang kurus kering itu, timbul perasaan menyesal dalam hati kecil Kwik Tay-lok.

Ia tidak bertanya, karena ia telah menduga siapakah gadis berbaju merah itu, apa yang dia ketahui, sesungguhnya jauh lebih banyak daripada apa yang diduga Lim Tay-peng.
 
Ada sementara persoalan, sesungguhnya dialah yang mengelabuhi Lim Tay-peng, bukan Lim Tay-peng yang mengelabuhinya.

Misalnya saja dengan peristiwa yang dialaminya bersama Yan Jit tempo hari, dimana mereka telah berjumpa dengan ibunya Lim Tay-peng, sampai sekarang Lim Tay-peng masih belum tahu apa-apa.

Walaupun mereka berbuat demikian dengan maksud baik, namun dalam hati kecil Kwik Tay- lok selalu merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal dan amat tak enak rasanya.

Selama ini, belum pernah dia merahasiakan sesuatu apapun di hadapan temannya, walau disebabkan oleh alasan apapun juga.

Angin berhembus lewat, menghamburkan hancuran bunga yang berserakan di atas tanah. Kemudian dia mendengar suara dari Yan Jit:
"Sekarang, tentu kau sudah tahu bukan, siapa gerangan gadis berbaju merah itu?" tanyanya. Kwik Tay-lok mengangguk.
Tentu saja ia dapat menduga kalau nona itu adalah calon istrinya Lim Tay-peng. Justru karena Lim Tay-peng enggan mendapatkan seorang istri macam begini, maka ia baru kabur dari rumahnya.

Yan Jit menghela napas panjang, ujarnya:

"Sampai sekarang, aku baru mengerti jelas, apa sebabnya dia kabur dari rumahnya" Kwik Tay-lok tertawa getir.
"Aku saja tak tahan menghadapi gadis semacam itu, apalagi Siau-lim ?" katanya.

"Ooooh.... rupanya kaupun tak tahan juga menghadapi gadis macam begitu..?" "Tentu saja !"
"Cantikkah wajahnya ?"

"Sekalipun cantik, apa gunanya ? Syarat utama bagi seorang lelaki untuk mencintai seorang gadis bukan atas dasar selembar wajahnya belaka."

"Lalu syarat-syarat apa pula yang menjadi dasar bagi seorang lelaki untuk memilih perempuan
?" tanya Yan Jit sambil mengerdipkan matanya berulang kali.

"Harus dinilai dulu apakah dia halus berbudi, lemah lembut dan pintar, lalu dinilai juga apakah dia pandai melayani suaminya. Kalau tidak, sekalipun wajahnya cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, apa pula gunanya ?"

Yan Jit mengerling sekejap ke arahnya, lalu berkata:

"Bagaimana dengan kau ? Kalau kau menyukai seorang gadis macam apa ?" Kwik Tay-lok segera tertawa.
 
"Gadis yang kucintai sama sekali berbeda dengan pilihan lelaki lain " katanya. "Oya ?"
"Bila ada seorang gadis benar-benar bisa memahami diriku, menaruh perhatian kepadaku, sekalipun tampangnya sedikit rada jelek, atau sedikit rada galak, aku masih tetap akan mencintainya dengan sepenuh hati"

Yan Jit tertawa manis, dengan kepala tertunduk dia berjalan lewat sisinya dan menuju ke depan pot bunga di sudut pekarangan sana.

Udara yang dingin, seakan-akan berubah menjadi lebih hangat.

Bunga mawar di ujung dinding sana sedang mekar dengan indahnya, dengan lembut ia membelai bunga tersebut, sampai lama kemudian ia baru berpaling kembali.

Tiba-tiba dia menyaksikan Kwik Tay-lok masih mengawasinya dengan sorot mata tak berkedip. Keningnya segera berkerut, lalu serunya:
"Aku toh bukan perempuan, apanya yang bagus dilihat ? Kenapa kau menatapku terus menerus ?"

"Aku. aku merasa caramu berjalan pada hari ini sedikit agak berbeda dengan keadaan
dihari-hari biasa" "Bagaimana bedanya ?"
"Caramu melangkah hari ini seperti istimewa bagusnya, bahkan jauh lebih indah dari pada lenggangnya seorang anak gadis"

Paras muka Yan Jit seperti berubah agak memerah, tapi sengaja dia menarik muka, lalu berkata dengan dingin:

"Belakangan ini aku lihat kau seperti banyak mengalami perubahan." "Oya ?"
"Aku lihat kau seperti mengidap suatu penyakit yang sangat aneh sekali, sebab kau selalu melakukan tingkah laku yang membingungkan pikiran orang saja, ucapan juga selalu membingungkan pikiran orang, agaknya aku harus mencarikan seorang tabib untuk memeriksakan keadaanmu itu."

Kwik Tay-lok menjadi tertegun, sorot matanya segera memancarkan kemurungan dan perasaan takut, seperti ia merasa dirinya telah kejangkitan suatu penyakit menular.

Sambil tertawa, kembali Yan Jit berkata:

"Tapi kau tak usah kuatir, sebab sedikit atau banyak, setiap manusia pasti pernah kejangkitan penyakit semacam itu."

"Oya ?"

"Tahukah kau, penyakit siapa yang paling besar?"
 
"Tidak."

"Nona Giok itulah orang yang paling besar kejangkitan penyakit aneh." "Nona Giok yang mana?"
"Nona Giok adalah gadis yang barusan datang kemari itu, dia she Giok bernama Giok Ling- long"

"Giok Ling long?"

"Dulu, apakah kau belum pernah mendengar namanya?" "Belum."
Yan Jit menghela napas panjang dan segera menggelengkan kepalanya berulang kali.