Pendekar Riang Jilid 23

 
Jilid 23

"ORANG itupun mustahil adalah Bwe Ji-ka, perutnya telah kau tonjok keras-keras, tidak balas menjotos perutmu sudah terhitung amat sungkan sekali."

Kwik Tay-lok tertawa getir.

"Itulah sebabnya, meskipun aku kena didesak sampai mampus oleh para penagih hutang tersebut, tak nanti dia akan melelehkan setitik air matapun untuk diriku."

"Melelehkan air mata selain lebih leluasa juga lebih gampang untuk dilakukan daripada melunasi hutang orang."

"Itulah sebabnya, orang ketiga sudah pasti bukan dirinya." kata Kwik Tay-lok kemudian. "Bukan saja tak mungkin adalah dirinya juga tak mungkin orang lain."
"Kenapa ?"

"Sebab orang lain meski tahu kalau kau berada disini, belum tentu mereka tahu kalau kau sedang didesak hutang yang menumpuk."

"Andaikata ada orang, mendengar kalau kita telah melangsungkan pertarungan melawan Cui- mia-hu dan Cap-sah-toa-to di tempat ini, tahu kalau orang kita ada yang terluka, mungkin tidak mereka akan memburu ke sini ?"

"Mau apa datang kemari ?"
 
"Mungkin datang kemari untuk menonton keramaian, mungkin datang untuk membantu kita, membalas budi kepada kita."

"Membalas budi ?"

"Misalnya saja si semut merah, si semut putih, mungkin saja mereka akan datang kemari untuk membalas budi kepada kita karena tidak membinasakan diri mereka."

Akhirnya Ong Tiong mengangguk juga. "Ehmm, memang masuk diakal !" katanya.
"Kalau toh memang masuk diakal, bukankah sekarang menjadi tiada persoalan lagi?" "Persoalan yang sesungguhnya justru berada di sini."
Wajahnya keren, serius dan kelihatan berat sekali. Tak tahan Kwik Tay-lok segera bertanya:
"Persoalan yang sesungguhnya? Persoalan apakah itu?"

"Kalau toh ada kemungkinan orang datang kemari untuk melihat keramaian, membalas budi itu berarti ada kemungkinan juga orang datang kemari untuk membuat kesulitan atau mencari balas kepada kita."

"Mencari balas ?"

"Kau menganggap kita telah melepaskan budi kepada kawanan semut tersebut karena kita tidak membunuhnya, siapa tahu kalau mereka justru telah menganggap kita sebagai musuh besar? Kau hanya membayangkan ketika kita melepaskan dirinya pergi, kenapa tidak kau bayangkan waktu kita menghajar mereka sampai kocar-kacir tak karuan ?"

Kwik Tay-lok menjadi tertegun.

"Apalagi Cui-mia-hu dan tiga belas golok besar bukannya tidak mempunyai teman-teman yang cukup setia kawan" ujar Ong Tiong lebih jauh, "bila mereka tahu kalau rekan-rekannya telah dipecundangi di sini, kemungkinan besar dia akan menyusul kemari dan membalas dendam terhadap diri kita"

Kwik Tay lok segera menghela napas panjang. "Ucapan itu memang masuk diakal" katanya.
"Walaupun kau belum pernah berkecimpungan di dalam dunia persilatan, namun berbeda dengan kita, entah siapa saja orangnya yang sedang berkecimpungan dalam dunia persilatan, maka sengaja atau tidak sudah pasti kita pernah membuat salah, terhadap orang-orang itu mengetahui jejak kita, besar kemungkinannya merekapun akan berbondong-bondong datang kemari untuk membuat perhitungan dengan kita."

Sekali lagi Kwik Tay-lok menghela napas, katanya sambil tertawa getir:

"Aaaai. tampaknya, otakku belum bisa dianggap sebagai otak yang terlalu cerdik."
 
"Tapi orang-orang semacam itu masih belum bisa dianggap sebagai suatu masalah yang besar."

"Masih belum bisa dianggap?" Kwik Tay-lok menjadi amat terperanjat.

"Masalah yang paling besar adalah dengan banyaknya orang yang mengetahui akan gerak gerik kita, berarti pula tanpa disadari kita sudah menjadi ternama."

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya:

"Bila seseorang telah menjadi termasyhur, besar atau kecil sudah pasti ada kesulitan yang berbondong-bondong berdatangan kemari."

"Kesulitan apa ?"

"Pelbagai kesulitan, kesulitan yang mungkin tak pernah kau sangka sama sekali." "Coba katakanlah beberapa macam di antaranya ?"
"Misalnya saja ada orang mendengar kalau ilmu silatmu sangat tinggi, maka dia datang untuk mengajakmu beradu kepandaian, sekalipun kau enggan turun tangan, mereka pasti akan mempergunakan pelbagai macam daya untuk memaksamu sampai kau bersedia untuk turun tangan."

"Soal itu mah aku cukup mengerti." kata Kwik Tay-lok. "Kau mengerti !"
Kwik Tay-lok menghela napas.



"Keadaan tersebut persis seperti keadaanku sewaktu memaksa Kim Toa-say untuk turun tangan, cuma aku tidak menyangka kalau pembalasannya bisa datang dengan sedemikian cepatnya."

"Kecuali orang-orang yang datang mencarimu untuk menantang kau beradu kepandaian, pasti pula ada yang datang mencarimu untuk meminta bantuan, mencarimu untuk membantu mereka menyelesaikan persoalan, atau bahkan ada pula yang datang untuk meminta ongkos jalan, orang- orang semacam itu akan berdatangan kemari setiap saat dan pada hakekatnya kau tak akan tahu kapan mereka mau datang."

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya:

"Bila seseorang telah ternama didalam dunia persilatan, jangan harap ia bisa melewati kehidupan sehari-harinya dengan tenang."

Kwik Tay-lok turut menghela napas panjang, gumamnya:
"Ternyata menjadi orang ternama pun bukan suatu peristiwa yang menggembirakan." "Mungkin. hanya semacam manusia yang merasa ternama itu merupakan suatu keadaan
yang menggembirakan" "Manusia macam apa ?"
 
"Orang yang belum menjadi tenar !"

Tiba-tiba dia menghela napas lagi, kemudian menyambung lebih jauh:

"Padahal orang yang benar-benar akan menjumpai kesulitan mungkin bukan kau dan aku." "Kau maksudkan Yan Jit dan Lim Tay-peng ?"
"Benar."

"Kenapa kesulitan mereka jauh lebih banyak dari pada kita ?"

"Sebab mereka mempunyai rahasia yang tidak bisa diketahui orang lain."
Tiba-tiba Kwik Tay-lok melompat bangun dari atas ranjang dan berseru dengan lantang. "Benar, Yan Jit memang mempunyai rahasia yang sangat besar, dia selalu tidak bersedia
untuk memberitahukan kepadaku"

"Apakah sampai sekarangpun kau belum dapat menebaknya?" "Apakah kau telah berhasil menebaknya?"
Tiba-tiba Ong Tiong tertawa, katanya:

"Tampak bukan cuma otakmu saja kurang cerdas matapun juga "

Mendadak ia membungkam, rupanya ada orang datang.

Kwik Tay-lok segera mendengar ada suara orang berjalan masuk ke dalam halaman luar, tampaknya bukan hanya seorang saja.

Pelan-pelan dia merosot turun dari atas ranjang, kemudian pelan-pelan berkata:

"Apa yang kau katakan memang benar, ternyata ada orang yang telah datang berkunjung." Ong Tiong cuma tertawa getir.
Karena dia sendiripun sama sekali tidak mengira kalau ada orang yang begitu cepat telah datang ke situ.

Siapakah yang telah datang ?

Mungkinkah mereka akan datang sambil membawa kesulitan. Yang datang semuanya berjumlah lima orang.
Empat orang yang berada di belakang, semuanya berperawakan tinggi kekar dengan pakaian yang amat perlente, tampaknya sangat keren dan gagah sekali.

Tapi bila dibandingkan dengan orang yang berada di depannya, maka ke empat orang itu pada hakekatnya telah berubah seperti empat ekor anak ayam.
 
Padahal orang yang berjalan di depan itu tidak jauh lebih tinggi dari pada mereka, tapi ia justru memiliki suatu kewibawaan yang sangat besar, kendatipun ia sedang berdiri diantara selaksa orang, dalam sekilas pandangan kau masih tetap akan mengenalinya.

Orang itu berperawakan tinggi besar dan berwajah gagah, begitu sampai di situ, pintupun tidak diketuk langsung masuk ke dalam halaman dengan langkah lebar, seakan-akan seorang panglima perang yang baru menang dalam medan laga dan kembali ke rumahnya sendiri.

Sudah barang tentu Ong Tiong tahu kalau tempat itu bukan rumahnya, Kwik Tay-lok juga tahu.

Sebenarnya ia sudah bersiap-siap untuk menerjang keluar... andaikata, ada kesulitan muncul diambang pintu, dia selalu menerjang keluar paling duluan.

Tapi kali ini, begitu melihat kemunculan orang tersebut, cepat-cepat ia menarik dirinya kembali dan mundur ke belakang.

"Kau kenal dengan orang itu?" Ong Tiong segera menegur dengan sepasang alis dan berkernyit.

Kwik Tay-lok mengangguk.

"Orang inikah yang bernama Kim Toa-say?" kembali Ong Tiong bertanya dengan lirih. "Kau juga kenal dengannya ?"
"Tidak, aku tidak kenal."

"Kau tidak kenal, dari mana kau bisa tahu kalau dia adalah Kim Toa-say. ?"

"Kalau orang ini bukan Kim Toa-say, lantas siapa pula yang bernama Kim Toa-say?" Kwik Tay-lok tertawa getir.
"Benar, dia memang mempunyai tampang dan gaya sebagai seorang jendral besar."

Kim Toa-say berdiri di tengah halaman, sambil bergendong tangan ia memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, tiba-tiba katanya.

"Halaman ini perlu disapu sampai bersih!"

"Baik!" orang-orang yang mengikuti di belakangnya segera membungkukkan badan sambil mengiakan.



"Bunga Gwat-ci dan Bo-tan yang tumbuh di situ perlu disirami air, rumput liar perlu di babat sampai bersih."

"Beberapa buah kursi di bawah pohon sana harus diganti dengan tempat duduk baru, sekalian akar pepohonan di sekitarnya"

"Baik !"

Ong Tiong yang menyaksikan kejadian itu dari dalam jendela, tiba-tiba bertanya:
 
"Aku menjadi bingung sendiri, sebetulnya rumah ini rumah siapa sih ?"

"Rumahmu !"

Ong Tiong menghela napas panjang.

"Aaaai. ! Sebenarnya aku juga aku tahu kalau rumah ini rumahku, tapi sekarang aku
sendiripun dibikin kebingungan sendiri"

Kwik Tay-lok menjadi tak tahan dan tertawa geli, tapi sesaat kemudian dengan kening berkerut katanya:

"Heran, kenapa Yan Jit belum juga menampakkan diri ?"

"Mungkin dia seperti juga dirimu, begitu melihat Kim Toa-say, perasaannya menjadi keder" "Kim Toa-say toh tidak kenal dengannya, mengapa dia mesti merasa keder. ?"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Ong Tiong, tiba-tiba ia bertanya pelan: "Pernahkah kau memikirkan tentang satu persoalan ?"
"Persoalan apa ?"

"Cara Yan Jit melepaskan senjata rahasia boleh dibilang nomor wahid dan tentunya kepandaiannya untuk menerima senjata rahasia pun lumayan juga"

"Yaa, sudah pasti lumayan sekali."

"Lantas, kenapa ia tidak pergi mencari Kim Toa-say dan turun tangan sendiri? Kenapa kau yang diminta untuk pergi menghadapinya ?"

Kwik Tay-lok menjadi tertegun.

"Soal ini. soal ini belum pernah kupikirkan."

"Kenapa tidak kau pikirkan !" Kwik Tay-Iok tertawa getir.
"Karena.... karena asal dia suruh aku melakukan suatu perbuatan, maka aku merasa bahwa
hal itu amat cengli dan semestinya kulakukan untuknya."

Ong Tiong memandang wajahnya dan menggeleng, seakan-akan seorang kakak sedang memperhatikan adiknya.

Seorang adik yang kena dibohongi orang setelah diberi gula-gula. Kwik Tay-lok berpikir sebentar, kemudian berkata lagi:
"Jadi maksudmu, ia tak berani mencari Kim Toa-say sendiri karena ia takut Kim Toa say berhasil mengenali dirinya ?"

"Menurut pendapatmu ?"
 
Belum sempat Kwik Tay-lok mengucapkan sesuatu, tiba-tiba terdengar Kim Toa-say membentak dengan suara dalam:

"Siapa yang sedang kasak-kusuk di dalam rumah ? Hayo cepat keluar !"

Sekali lagi Ong Tiong memandang sekejap ke arah Kwik Tay-lok, akhirnya pelan-pelan dia mendorong pintu dan keluar dari ruangan. Kalau toh Kwik Tay-lok enggan bergerak, terpaksa dia yang harus bergerak.

Kim Toa-say mendelik ke arahnya bulat-bulat, kemudian menegur: "Apa yang sedang kau kasak-kusukkan dibalik ruangan ?"
"Aku tak perlu bersembunyi, kaupun tak usah mencampuri urusanku, mau berkasak-kusuk atau tidak, itu urusanku pribadi !"

"Siapakah kau ?" bentak Kim Toa-say.

"Aku adalah tuan rumah tempat ini, aku senang duduk dimana, aku bisa duduk dimana, suka membicarakan soal apa, akupun akan membicarakan soal apa."

Setelah tertawa, lanjutnya dengan hambar:

"Bila seseorang sedang berada dirumah sendiri, sekalipun dia senang melepaskan celana untuk berkentutpun, orang lain tak akan mencampurinya. "

Sebenarnya ia tidak terbiasa mengucapkan kata-kata kasar seperti itu, sekarang dia seakan- akan sengaja hendak merobohkan kewibawaan dari Kim Toa-say.

Siapa tahu Kim Toa say malahan tertawa, diawasinya pemuda itu dari atas sampai ke bawah beberapa, lalu katanya sambil tertawa:

"Orang ini memang mirip orang she Ong!"

"Aku bukan mirip orang she Ong, aku memang sesungguhnya she Ong !" "Tampaknya kaulah putera dari Ong-lotoa?"
"Ong lotoa ?"

"Ong lotoa adalah Ong Cian-sik, yaitu bapakmu !"

Ong Tiong malah menjadi tertegun dibuatnya sehabis mendengar perkataan itu. Ong Cian-siak memang ayahnya, tentu saja dia mengetahui akan nama ayahnya. Tapi orang lain yang mengetahui nama Ong Cian-sik tersebut justru amat jarang.
Sebagian besar orang hanya tahu kalau nama dari Ong lo-sianseng adalah Ong Ik-cay.

Orang yang mengetahui nama Ong Cian-sik tersebut, sudah barang tentu adalah sahabat- sahabat karib Ong Cian-sik di masa lalu.

Sikap Ong Tiong pun segera berubah, berubah menjadi lebih sungkan, dengan nada menyelidik ia lantas bertanya:
 
"Kau kenal dengan ayahku ?"

Kim Toa-say tidak segera menjawab pertanyaan itu, dengan langkah lebar ia masuk ke dalam ruangan.



Pintu kamar Kwik Tay-lok berada dalam keadaan terbuka lebar.

Dengan langkah tegap Kim Toa-say maju ke depan dan masuk ke dalam kamar, kemudian langsung duduk di hadapan Kwik Tay-lok.

Terpaksa Kwik Tay-lok tertawa getir dan menyapa:

"Baik-baikkah kau ?"

"Ehmm, masih agak baikan, untung saja belum sampai dibikin mampus karena mendongkol." Kwik Tay-lok mendehem berulang kali, kemudian tanyanya:
"Kau sedang mencariku ?"

"Mengapa aku harus datang mencarimu?" Kwik Tay-lok menjadi tertegun.
"Kalau begitu, ada urusan apa Toa-say datang kemari ?" "Apakah aku tak boleh datang ?"
"Boleh, tentu saja boleh," sahut Kwik Tay-lok cepat-cepat sambil tertawa.

"Terus terang kuberitahukan kepadamu, sewaktu aku datang kemari, mungkin kau masih belum dilahirkan." seru Kim Toa-say ketus.

Dalam perut orang ini, seakan-akan penuh berisi mesiu yang setiap saat bisa meledak, Kwik Tay-lok tidak jeri kepadanya, cuma dia merasa agak rikuh dan keder saja.

Bagaimanapun juga, tindakan yang dilakukan oleh orang itu cukup mengagumkan, pelajaran yang diberikan pun tidak keliru.

Setelah tidak memiliki cara lain yang lebih baik untuk menghadapinya, terpaksa Kwik Tay-lok harus angkat kaki.

Siapa tahu sepasang mata Kim Toa-say justru setajam sembilu, baru saja kakinya bergerak, Kim Toa-say telah membentak keras:

"Berhenti !"

Terpaksa Kwik Tay-lok mush tertawa paksa, katanya:

"Kalau toh kedatangan bukan untuk mencariku, buat apa aku mesti tetap berada di sini?" "Aku hendak menanyai dirimu"
 
Kwik Tay-lok menghela napas panjang. "Aaai. baiklah kau boleh bertanya!"
"Malam ini kalian makan apa?"

Ternyata pertanyaan semacam itulah yang diajukan olehnya. Tak tahan Kwik Tay-lok tertawa geli, sahutnya.
"Barusan aku mengendus bau Ang-sio-bak, mungkin kita akan makan daging babi masak rebung !"

"Baik hidangkan segera, aku sudah lapar!" Sekali lagi Kwik Tay-lok merasa tertegun.
Sekarang dia sendiripun turut menjadi bingung dan tidak habis mengerti sesungguhnya siapakah tuan rumah tempat itu.

Terdengar Kim Toa-say membentak lagi: "Hei, aku suruh kau menghidangkan nasi, mengapa masih berdiri termangu-mangu disitu?" Kwik Tay-lok segera berpaling ke arah Ong Tiong.

Ong Tiong berlagak tidak melihat apa-apa, seakan-akan apapun tidak terdengar olehnya. Terpaksa Kwik Tay-lok harus menghela napas panjang seraya bergumam:
"Ya, memang waktunya untuk bersantap aku sendiri pun merasa laparnya setengah mati".

Hidangan telah dikeluarkan, memang tak salah, sayur utamanya hari itu adalah daging babi masak bung.

Kim Toa-say juga tidak sungkan-sungkan begitu hidangan disajikan, ia lantas menempati kursi utama.

Ong Tiong dan Kwik Tay-lok terpaksa harus mendampinginya di kedua belah samping. Baru saja Kim Toa-say mengangkat sumpitnya, tiba-tiba ia bertanya lagi:
"Mana lagi orang-orang lainnya ? Kenapa tidak turut datang untuk bersantap ?" "Ada dua orang lagi sakit, mereka hanya bisa minum bubur."
"Bukankah masih ada yang tidak sakit ?"

Tampaknya dia mengetahui semua persoalan di situ dengan teramat jelasnya. Kwik Tay-lok menjadi sangsi sejenak, kemudian katanya sambil tertawa getir: "Agaknya berada di dapur."
Yan Jit memang berada di dalam dapur.

Ia tak mau keluar, karena terlalu dekil, maka enggan bertemu orang.
 
Sekalipun ia berkata demikian, terpaksa Kwik Tay-lok hanya bisa mendengarkan saja, sebab bila ia bertanya lebih lanjut, Yan Jit segera akan mendelik.

Bila Yan Jit sudah mendelik, Kwik Tay-lok segera merasakan badannya menjadi lemas tak bertenaga.

Terdengar Kim Toa-say berseru kembali:

"Dia kan bukan seorang koki, kenapa harus bersembunyi didalam dapur. ?"

Kwik Tay-lok menghela napas panjang. "Baik, aku akan pergi memanggilnya"
Siapa tahu, baru saja ia bangkit berdiri, Yan Jit dengan kepala tertunduk telah menghampirinya, rupanya ia sudah menyadap pembicaraan tersebut dari belakang pintu.

Kim Toa say memperhatikannya dari atas sampai ke bawah lalu serunya dengan lantang: "Duduk !"
Ternyata Yan Jit benar-benar duduk dengan kepala tertunduk. hari ini telah berubah menjadi
alim sekali.



"Baik, hayo makan !" seru Kim Toa-say lagi.

Dengan lahapnya dia bersantap lebih dahulu, dalam waktu singkat semua hidangan di meja telah disapu sampai habis.

Kwik Tay-lok sekalian hampir tiada kesempatan sama sekali untuk menggerakkan sumpitnya...

Setelah semua hidangannya ludas, Kim Toa-say baru meletakkan sumpit dan mengawasi orang-orang yang berada di sana dengan sorot mata tajam.

Mula-mula dia mengawasi Ong Tiong, kemudian memandang Kwik Tay-lok, setelah itu dari wajah Kwik Tay-lok dialihkan ke wajah Yan Jit. Tiba-tiba ia berseru:

"Ketika kalian mencari gara-gara kepadaku, ide ini timbul dari benak siapa?" "Aku !" jawab Yan Jit dengan kepala tertunduk. .
"Hmm, aku sudah tahu kalau kau."

Yan Jit menundukkan kepalanya semakin rendah.
Kim Toa-say segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Kwik Tay-lok, kemudian ujarnya: "Kau mampu menyambut lima bidikan peluru saktiku sekaligus, kepandaian macam begitu
amat jarang bisa dijumpai dalam dunia persilatan."

"Yaa, masih lumayan." tak tahan Kwik Tay-lok tertawa terbahak-bahak. "Siapa yang mengajarkan kepandaian tersebut kepadamu ?"
 
"Aku !"

"Hmm, aku sudah tahu kalau kau !"

"Darimana kau bisa tahu?" tak tahan Ong Tiong bertanya.

"Bukan saja aku tahu kalau kau yang mengajarkan kepadanya, juga tahu siapa yang telah mengajarkan kepadamu."

"Oooh...?"

Tiba-tiba Kim Toa-say menarik wajahnya, kemudian berseru:

"Ketika ayahmu mewariskan kepandaian tersebut kepadamu, apa yang dia katakan kepadamu
?"

"Apapun tidak ia katakan." "Apapun tidak ia katakan ?"
"Yaa, karena kepandaian tersebut bukan dia orang tua yang mewariskan kepadaku." "Kau bohong !" hardik Kim Toa-say.
Ong Tiong turut menarik muka, sahutnya dengan dingin:

"Kau boleh mendengarkan aku membicarakan berbagai persoalan, tapi tak akan pernah mendengar aku berbohong."

Kim Toa-say menatapnya lekat-lekat, lewat lama kemudian ia baru bertanya: "Kalau bukan ayahmu yang mengajarkan kepadamu ? Lantas siapa ?"
"Aku sendiripun tidak tahu siapa." "Masa kau tidak tahu ?"
"Tidak tahu yaa tidak tahu !"

Kim Toa-say mulai menatapnya lekat-lekat lewat lama kemudian ia baru bangkit berdiri sembari berkata:

"Ikuti aku keluar dari sini !"

Dengan langkah lebar dia berjalan menuju keluar halaman, pelan-pelan Ong Tiong mengikuti di belakangnya hari ini, dia kelihatan seperti berubah rada aneh.

Kwik Tay-lok menghela napas panjang, diam-diam bisiknya:

"Sekarang aku baru tahu, karena soal apakah Toa-say tersebut datang kemari" "Oooh ?"
 
"Aku telah mematahkan serangan peluru berantainya, dia pasti merasa sangat tidak puas, maka dia ingin mencari orang yang mengajarkan ilmu itu kepadaku untuk mengajaknya beradu kepandaian !"

Sementara di bibirnya ia berkata demikian orang juga turut bangkit berdiri. "Mau apa kau ?" Yan Jit segera menegur.
"Paha Ong lotoa masih belum sembuh, aku tak dapat menyaksikan dirinya. "

"Lebih baik kau duduk saja dengan tenang" tukas Yan Jit dengan suara dingin. "Kenapa ?"
"Apakah kau tak bisa melihat bahwa Ong Tiong yang sedang dicari, bukan kau ?" "Tapi kaki Ong Tiong. "
"Yang digunakan untuk menyambut serangan peluru itu toh bukan kakinya. !"

Cahaya dimalam hari itu cukup terang.

Ketika Kim Toa-say menyaksikan Ong Tiong berjalan dekat, tiba-tiba dengan kening berkerut tegurnya:

"Kakimu. ?"

"Aku jarang menggunakan kakiku untuk menerima senjata rahasia, aku masih mempunyai tangan," ujar Ong Tiong dingin.

"Bagus !"

Tiba-tiba dia menggerakkan tangannya, dengan cepat sebuah busur emas telah siap di atas tangan.

Dengan suatu gerakan cepat Kim Toa-say menarik busurnya dan menyerang.

Dalam waktu singkat, seluruh angkasa telah dipenuhi oleh cahaya emas yang berkilauan. Siapapun tidak melihat jelas bagaimana caranya melancarkan serangan tersebut.
Kwik Tay-lok diam-diam menarik napas dingin, katanya:

"Serangannya kali ini mengapa jauh lebih cepat daripada serangannya tempo hari ?". "Mungkin dia tak ingin membelikan peti mati untukmu." sahut Yan Jit dengan hambar.


"Kalau toh ia enggan menggunakan serangan mematikan untuk menghadapi diriku, kenapa menggunakan serangan yang mematikan untuk menghadapi Ong Tiong? Apakah dia mempunyai dendam dengan Ong Tiong?"

Pertanyaan ini tak mampu dijawab, meski oleh Yan Jit pun.
 
Walaupun ia telah melihat kalau kedatangan Kim Toa-say kali ini pasti mempunyai suatu tujuan, namun ia tak bisa menebak tujuan apakah itu. ?

Sementara Kwik Tay-lok sedang merasa kuatir buat keselamatan Ong Tiong, mendadak cahaya emas yang memenuhi seluruh angkasa itu lenyap tak berbekas.

Ong Tiong masih tetap berdiri tenang di tempat semula, tapi di tangannya memegang dua buah jaring yang sudah penuh berisikan peluru emas.

Siapapun tidak melihat jelas cara apa yang dipergunakan olehnya, bahkan pada hakekatnya tidak terlihat jelas bagaimana caranya dia turun tangan.

Sekali lagi Kwik Tay lok menghela napas panjang, gumamnya:
"Ternyata caranya melancarkan serangan tersebut jauh lebih hebat daripada diriku." "Kepandaian semacam itu tak mungkin bisa dilatih hanya di dalam satu hari saja, apa yang
kau andalkan sehingga ingin mempelajari seluruh kepandaian tersebut di dalam satu hari saja? Memangnya kau anggap bakatmu benar-benar hebat ?"

"Bagaimanapun juga, teori serta rahasia dari kepandaian tersebut telah berhasil kupahami." "Itulah dikarenakan suhu yang memberi pelajaran tersebut cukup hebat. !"
"Tentu saja suhunya hebat." kata Kwik Tay-lok sambil tertawa, "tapi muridnya pun terhitung cukup hebat, kalau tidak, bukan sedari dulu-dulu sudah masuk liang kubur ?"

Yan Jit menatapnya lekat-lekat, mendadak diapun turut menghela napas panjang. "Aai.... bila suatu ketika kau dapat merubah penyakit membualmu itu, maka aku. "
"Kau mau apa. ? Apakah hendak memberitahukan rahasiamu itu kepadaku ?"

Tiba-tiba Yan Jit tidak berbicara lagi.

Mereka sudah bercakap-cakap belasan patah kata banyaknya, namun Kim Toa-say masih berdiri tegak di tengah halaman.

Ong Tiong juga berdiri tidak berkutik.

Kedua orang itu saling berhadapan mata, aku memandang dirimu dan kaupun memandang aku.

Kembali beberapa waktu sudah lewat, tiba-tiba Kim Toa-say membanting busur emas itu ke atas tanah, kemudian berlalu dari situ dengan langkah lebar dan duduk kembali ke atas kursi.

Yan Jit dan Kwik Tay-lok juga duduk di situ, duduk sambil memandang ke wajahnya. Lewat lama kemudian, tiba-tiba Kim Toa-say baru berteriak keras:
"Mana araknya? Apakah kalian tak pernah minum arak ?" Kwik Tay-lok segera tertawa.
 
"Kadangkala minum, cuma jarang sekali, setiap hari paling banter hanya minum empat lima kali. Yang diminumpun tidak terlalu banyak, setiap kali paling banter hanya minum tujuh delapan kati saja."

Guci arak sudah tersedia di atas meja.

Pagi ini, tentu saja ada orang yang datang mengirim arak, mereka tidak minum karena mereka masih belum terhitung benar-benar seorang setan arak.

Sebelum mengetahui jelas maksud kedatangan Kim Toa-say, siapapun enggan minum sampai mabuk.

Tapi Kim Toa-say minum lebih dulu.

Caranya minum arak juga bergaya seorang jendral, sekali teguk semangkuk penuh arak sudah diteguk sampai habis.

Setelah dia mulai minum, Kwik Tay-lok tentu saja tak mau ketinggalan....

Kalau dilihat dari gayanya sewaktu minum arak, tampaknya cepat atau lambat suatu ketika diapun akan dipanggil orang sebagai seorang jendral. "

Kim Toa-say mengawasinya sampai pemuda itu menghabiskan tujuh delapan mangkuk arak. Tiba-tiba katanya sambil tertawa.
"Kelihatannya sekaligus kau dapat meneguk habis arak sebanyak tujuh delapan kati."

"Memangnya kau anggap aku sedang membual?" seru Kwik Tay-lok sambil mengerling ke arahnya.

"Kau memang tidak mirip seseorang yang jujur."

"Aku mungkin tak mirip orang jujur, tapi sesungguhnya aku adalah seseorang yang jujur." "Bagaimana dengan teman-temanmu?"
"Mereka jauh lebih jujur ketimbang aku."

"Kau tak pernah mendengar mereka berbohong ?" "Selamanya tak pernah"
Kim Toa-say mendelik sekejap ke arahnya, tiba-tiba berpaling ke arah Ong Tiong sambil menegur:

"Benarkah kepandaian tersebut bukan ajaran bapakmu ?" "Bukan !"
"Siapa yang mengajarkan?"

"Sudah kukatakan aku sendiripun tidak tahu." "Masa tidak tahu ?"
 
"Dia belum memberitahukan soal ini kepadaku."

"Tapi paling tidak kau toh pernah berjumpa muka dengan dirinya ?"



"Juga tidak, karena sewaktu memberi pelajaran kepadaku, dia selalu memilih waktu malam dan lagi wajahnya selalu mengenakan kain cadar hitam. "

Berkilat sepasang mata Kin Toa-say, katanya:
"Maksudmu, ada seorang manusia berkerudung yang misterius mencarimu setiap malam." "Bukan datang mencariku, tapi setiap malam dia selalu menantikan kedatanganku di dalam
hutan di pinggir kuburan sana."

"Sekalipun selagi hujan deras angin badai ia juga menunggu ?"

"Kecuali beberapa hari menjelang tahun baru, sekalipun malam itu dinginnya membekukan badan, dia tetap menantikan kedatanganku di situ."

"Dia tidak kenal dirimu, kaupun tidak tahu siapakah dia, tapi setiap hari dia selalu menantikan dirimu, tujuannya tak lebih hanya ingin mewariskan kepandaian silatnya kepadamu, bahkan dia sama sekali tidak mengharapkan balas jasa, bukan begitu ?"

"Benar !"

Kim Toa say segera tertawa dingin.
"Percayakah kau bahwa di kolong langit terdapat kejadian yang begini menguntungkannya ?" "Seandainya orang lain menceritakannya kepadaku, mungkin aku tak akan percaya, tapi di
dunia ini justru terdapat kejadian semacam itu, sekalipun aku tak mau percayapun tak bisa."

Sekali lagi Kim Toa-say mendelik ke wajahnya lekat-lekat, lama kemudian ia baru berkata: "Pernahkah kau menguntil di belakangnya? Untuk melihat ia berdiam di mana ?"
"Aku pernah mencobanya, namun tidak berhasil."

"Kalau toh setiap hari dia pasti datang, sudah pasti tempat tinggalnya tak akan terlalu jauh dari sana."

"Apakah di sekitar tempat itu tiada rumah penduduk yang lain ?" "Tidak ada, di atas bukit hanya ada kami sekeluarga."
"Kenapa, kalian bisa tinggal ditempat itu?" "Karena ayahku suka akan ketenangan."
"Kalau toh di sekitar tempat itu tiada rumah penduduk lain, apakah orang berkerudung itu merangkak keluar dari dalam peti mati?"

"Mungkin saja dia berdiam di bawah bukit!"
 
"Pernahkah kau pergi mencarinya ?" "Tentu saja pernah."
"Tapi kau tidak berhasil menemukan seseorang yang memiliki kepandaian silat selihai itu ?"

"Jago lihay yang sesungguhnya memang tak pernah memamerkan kepandaian silatnya di atas wajah!"

"Orang yang berdiam di bawah bukitpun tidak banyak jumlahnya, seandainya benar-benar terdapat seorang jago lihay seperti dia, paling tidak kau pasti akan mengetahui jejaknya, bukan begitu?"

"Ehmm!"

"Kau bilang setiap malam dia pasti datang untuk memberi pelajaran ilmu silat kepadamu, berarti kalau siang hari tentu tidur, bila ada seseorang yang selalu tidur siang hari, apakah orang dalam kota kecil itu tak akan menaruh perhatian? Bukankah begitu?"

"Ehmm !"

"Kalau memang demikian, mengapa kau tidak berhasil menemukannya ?" "Mungkin saja ia memang tidak berdiam didalam kota itu"
"Kalau memang tidak berdiam di atas bukit, juga di dalam kota, dia masih bisa berdiam dimana
?"

"Seorang jago lihay yang sesungguhnya berada ditempat manapun ia dapat tidur"

"Sekalipun dia dapat tidur di dalam gua, tapi bagaimana dengan makannya? Bagaimana pun lihaynya seorang jago, toh dia butuh untuk makan ?"

"Dia toh bisa saja masuk ke kota untuk bersantap ?"

"Bila seseorang yang tiap hari selalu makan di luar, tapi tak ada orang yang tahu dimanakah dia berdiam, apakah hal ini tidak menarik perhatian orang ?"

Ong Tiong segera melotot besar ke arahnya, setengah harian kemudian dia baru berkata dengan dingin:

"Tahukah kau sejak masuk ke dalam pintu gerbang sampai sekarang, seluruhnya kau sudah mengajukan berapa banyak pertanyaan ?"

"Apakah kau menganggap pertanyaan yang kuajukan terlampau banyak ?"

"Aku cuma merasa heran, mengapa kau harus menanyakan persoalan-persoalan yang sesungguhnya sama sekali tiada hubungannya dengan dirimu !"

Tiba-tiba Kim Toa-say tertawa, ia berubah menjadi lebih misterius, setelah sekaligus meneguk tiga mangkuk arak, pelan-pelan dia baru berkata:

"Ingin tahukah kau siapa gerangan manusia berkerudung itu ?" "Tentu saja ingin sekali."
 
"Kalau memang ingin, kenapa kau tidak menanyakannya?"

"Karena sekalipun aku menanyakannya, belum tentu bisa menjawab pertanyaanku ini." Pelan-pelan Kim Toa-say mengangguk, katanya:
"Benar, di dunia ini memang jarang ada orang yang mengetahui siapa gerangan dirinya itu." "Kecuali dia sendiri, tak mungkin orang lain bisa mengetahuinya, bahkan seorangpun tak ada."


"Masih ada seorang." "Siapa ?"
"Aku !"

Ketika mendengar jawaban tersebut, termasuk Yan Jit pun turut menjadi tertegun. Setelah tertegun beberapa saat lamanya, Ong Tiong bertanya:
"Tahukah kau kalau kejadian ini telah berlangsung lama sekali ?" "Aku tahu !"
"Tapi kau tetap mengetahui siapakah orang itu ?" "Benar."
"Kalau toh kau tak pernah bertemu dengannya, bahkan tidak mengetahui dengan pasti kapankah peristiwa itu terjadinya, darimana kau bisa tahu siapakah orang itu?"

"Yaa, aku memang tahu dengan jelas." Ong Tiong segera tertawa dingin.
"Percayakah kau kalau di dunia ini bisa terjadi kejadian semacam itu. ?"

"Aku tak ingin percayapun tak bisa."

"Atas dasar apa kau berani mengucapkannya dengan begitu saja ?"

Kim Toa-say tidak menjawab pertanyaan itu, dia meneguk dulu tiga mangkuk arak, kemudian pelan-pelan baru bertanya:

"Tahukah kau sekaligus aku bisa membidikkan berapa banyak peluru emas. ?"

"Dua puluh satu biji !"

"Tahukah kau, diantara kedua puluh satu biji peluru yang kulepaskan itu, peluru nomor berapa yang cepat dan peluru nomor berapa yang lambat, peluru nomor berapa merupakan gerak perputaran dan peluru nomor berapa saling berbenturan ?"
 
"Aku tidak tahu."

"Kalau hanya soal ini saja tidak kau ketahui, darimana kau bisa menahan serangan peluru berantaiku?"

Sekali lagi Ong Tiong menjadi tertegun.

"Aku menjadi tenar dengan peluru emas, hingga kini sudah hampir tiga puluh tahun lamanya" kata Kim Toa-say lebih jauh, "tidak banyak jago persilatan di dunia ini yang sanggup menghindarkan diri atau menangkis seranganku tersebut, tapi secara mudah kau berhasil mengatasinya"

Setelah menghela napas, katanya lebih jauh:

"Bukan saja kau mampu untuk menerimanya, bahkan orang yang kau ajarkan pun mampu untuk menyambut serangan tersebut, pada hakekatnya kalian telah menganggap serangan peluruku itu bagaikan permainan anak kecil saja, andaikata kau yang menghadapi keadaan seperti ini, tidakkah kau merasa keheranan?"

Kembali Ong Tiong tertegun beberapa saat lamanya, sesudah termenung sejenak, ia menyahut:

"Mungkin cara yang dipergunakan kurang betul, maka ancamanmu menjadi punah tak berguna"

Tiba-tiba Kim Toa-say menggebrak meja sambil berseru:

"Tepat sekali, bukan saja caramu itu merupakan semacam cara yang paling tepat, juga terhitung sebuah cara yang paling jitu, cara semacam ini bukan hanya bisa mengatasi serangan peluru berantaiku saja, bahkan boleh dibilang merupakan tandingan dari semua serangan senjata rahasia yang ada dalam kolong langit dewasa ini."

Ong Tiong hanya mendengarkan saja, karena dia sendiripun tidak tahu sampai dimanakah kelihaian dari ilmu kepandaiannya itu.

Kim Toa-say menatapnya lekat-lekat, kemudian ia bertanya lagi:

"Tahukah kau, berapa orang yang mampu menggunakan kepandaian semacam itu dalam dunia persilatan selama ini ?"

Ong Tiong segera menggeleng.

"Hanya ada seorang !" seru Kim Toa-say lebih jauh. Setelah menghela napas panjang, pelan-pelan lanjutnya:
"Sudah belasan tahun lamanya aku mencari orang ini." "Mengapa kau kau mencari dirinya?"
"Karena selama hidup bertarung dengan orang, baru kali itu saja aku dikalahkan secara mengenaskan di tangannya !"

"Kau ingin membalas dendam ?"
 
"Soal ini bukan terhitung suatu pembalasan dendam." "Lantas karena apa ?"
"Ilmu sambitan peluru biasa dipatahkan orang, itu berarti terdapat kekurangan dalam permainanku itu, tapi aku sudah memikirkannya selama belasan tahun, akan tetapi tak pernah berhasil untuk menemukan titik kelemahanku itu."

"Kalau dilihat dari kemampuannya untuk mematahkan serangan peluru emas berantaimu, aku rasa dia pasti mengetahui dimanakah terletak titik kelemahanmu itu."

"Benar."

"Kau menganggap orang berkerudung itu sudah pasti dia ?"

"Seratus persen sudah pasti dia, tak mungkin ada orang yang kedua lagi, sedang kepandaianmu dalam menyambut serangan peluru berantaiku tadi, hampir boleh dibilang persis sama sekali dengan kepandaian itu."

Sinar berharap dan perasaan gelisah segera memancar keluar dari balik mata Ong Tiong. Tapi Kwik Tay-lok jauh lebih gelisah lagi, dengan cepat dia berseru:
"Kau telah berbicara pulang pergi, sesungguhnya siapakah orang itu...?"

Kim Toa-say menatap wajah Ong Tiong lekat-lekat, kemudian sepatah demi sepatah dia berkata:



"Orang itu adalah Ong Cian-sik, yaitu ayahmu sendiri !"

Sekalipun sewaktu Cui-mia-hu mengulurkan tangannya dari dalam kuburan untuk menangkap dirinya, paras muka Ong Tiong tak sampai menunjukkan perasaan kaget dan tercengangnya seperti itu.

Tapi Kwik Tay-lok justru jauh lebih tercengang daripada dirinya, kembali dia berseru: "Kau maksudkan orang berkerudung itu adalah ayahnya ?"
"Tak bakal salah lagi."

"Kau bilang ayahnya bukan mengajar ilmu silat kepadanya di rumah, sebaliknya dengan mengerudungkan wajahnya menunggu kedatangannya didalam hutan dekat kuburan ?"

"Benar."

Kwik Tay-lok ingin tertawa, namun tak ada suara yang keluar, akhirnya sambil menghela napas dia berkata:

"Percayakah kau kalau di dunia ini terdapat kejadian aneh seperti itu. ?"

"Peristiwa semacam ini tak bisa terhitung sebagai sesuatu kejadian yang aneh, belum bisa dianggap aneh ?"
 
"Semua persoalan yang masih bisa dijelaskan dengan kata-kata tak bisa dianggap sebagai suatu kejadian yang aneh."

"Bagaimana alasannya ?"

"Sebenarnya akupun tidak habis mengerti." kata Kim Toa-say hambar, "tapi setelah kusaksikan tempat tinggalnya ini, aku menjadi teringat akan hal ini, apalagi menyaksikan teman-temanmu itu, membuat aku makin terpikirkan lebih jauh"

"Kalau begitu, coba kau terangkan alasanmu yang pertama."

"Ketika Ong Cian-sik masih muda dulu, ia masih mempunyai sebuah nama lain yaitu Ong Hui- lui, artinya sekalipun sambaran petir yang datang dari langitpun ia masih sanggup untuk menaklukkannya."

Setelah meneguk habis secawan arak, dia berkata lebih jauh:

"Sekalipun nama tersebut agak terlalu sesumbar, tapi pada usia dua puluh tiga tahun dia telah dianggap sebagai jago lihay nomor wahid dari dunia persilatan yang sanggup menghadapi ancaman senjata rahasia macam apa pun juga, kendatipun julukan itu terlampau takabur, akan tetapi orang lain tak berani berkata apa-apa."

Semua orang mendengarkan cerita itu dengan seksama, bahkan Kwik Tay-lok sendiripun tidak turut menimbrung.

Kembali Kim Toa-say melanjutkan:

"Menanti usianya sudah agak menanjak, tenaganya makin matang, diapun merubah namanya menjadi Ong Cian-sik, pada waktu itu dia sudah jarang sekali melakukan perjalanan di dalam dunia persilatan, lewat dua tahun kemudian, tiba-tiba ia lenyap dari keramaian dunia persilatan."

Sampai di situ, Kwik Tay lok baru tak tahan untuk menimbrung:

"Mungkin hal ini disebabkan karena ia sudah jemu dengan kehidupan dunia persilatan yang penuh dengan bunuh membunuh itu, maka ia mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari keramaian dunia. Kejadian semacam ini banyak terjadi di dunia sedari dulu, rasanya hal mana bukan suatu kejadian yang aneh."

Kim Toa-say menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Hal mana bukan merupakan alasannya yang terutama" katanya. "Ooooh. "
"Yang terutama adalah dia telah mengikat tali permusuhan dengan seorang musuh besar yang lihay sekali, dia tahu kalau kepandaiannya masih bukan tandingan orang, maka dia ambil keputusan untuk mengundurkan diri dari keramaian dunia dan hidup terpencil."

"Siapakah musuh besarnya itu ?" tiba-tiba Ong Tiong bertanya.

"Justru karena dia enggan untuk memberitahukan siapa nama musuh besarnya itu kepadamu, maka dia baru tidak bersedia untuk mengajarkan ilmu silat kepadamu secara terang-terangan."

"Kenapa ?"
 
"Sebab bila kau tahu akan masa lalunya, cepat atau lambat pasti akan mengetahui soal permusuhannya itu, jika kau tahu siapakah musuh besarnya itu, sebagai pemuda yang berdarah panas, tak bisa disangkal lagi kau pasti akan pergi mencarinya untuk membuat perhitungan."

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya.

"Tapi berbicara sesungguhnya, musuh besarnya memang menakutkan sekali, bukan saja kau tak akan sanggup untuk menghadapinya, mungkin tiada seorang manusiapun dalam dunia persilatan dewasa ini yang sanggup menyambut lima puluh jurus serangannya."

Paras muka Ong Tiong sama sekali tidak berperasaan, katanya:

"Aku hanya ingin tahu siapakah sebenarnya orang itu ?" "Tahu pada saat inipun percuma."
"Kenapa ?"

"Karena kendatipun dia sudah tiada tandingannya di dunia ini, akan tetapi masih belum mampu untuk menghadapi beberapa hal."

"Soal apa saja ?" "Tua, sakit dan mati !"
"Ia sudah mati ?" paras muka Ong Tiong agak berubah. Kim Toa-say segera menghela napas panjang.
"Aaai. dari dulu sampai sekarang, ada jago gagah darimanakah di dunia ini yang bisa
menghindarkan diri dari hal tersebut."



"Tapi ia sebelumnya. "

"Setelah orangnya mati, namanya juga turut terkubur sepanjang masa di dalam tanah" tukas Kim Toa-say dengan cepat, "buat apa kau mesti menanyakan lagi akan persoalan ini!" ia tidak membiarkan Ong Tiong buka suara dengan cepatnya menyambung lebih jauh,

"Semenjak sampai di tempat ini, orang yang bernama Ong Hui-liu pun praktis seperti orang mati, maka sekalipun berada di depan putranya sendiri, dia tak akan membicarakan soal ilmu silat"

"Ini merupakan alasan yang pertama" kata Kwik Tay-lok.

"Kalau dilihat dari sahabatmu dari jenis yang begini, bisa diduga kalau dikala masih kecilnya dulu Ong Tiong sudah pasti adalah seorang anak yang sangat nakal"

Walaupun Kwik Tay-lok tidak berbicara apa-apa, namun mimik wajahnya telah mewakili Ong Tiong untuk mengakui akan kebenaran dari ucapan tersebut.

"Bocah yang nakal biasanya selalu menimbulkan bencana atau kesulitan buat orang tuanya," kata Kim Toa-say lebih lanjut, "Ong Cian-sik kuatir putranya bakal menderita kerugian, diapun tak tega untuk tidak mengajarkan kepandaian silat pelindung badan kepadanya."
 
Ia tertawa sejenak, kemudian melanjutkan:

"Tapi bila menginginkan seorang anak yang nakal untuk baik-baik berlatih ilmu silat di rumah, hakekatnya perbuatan ini jauh lebih sulit daripada menjinakkan seekor kuda liar, maka dari itu Ong Cian-sik lantas memperagakan cara seperti itu, selain dapat merahasiakan indentitasnya di hadapan orang, diapun dapat merangsang gairah Ong Tiong untuk belajar silat. biasanya anak-
anak semakin terangsang gairahnya apabila menghadap hal-hal yang di anggapnya aneh dan misterius."

"Jangankan anak-anak, sekalipun orang dewasa juga sama saja," sambung Kwik Tay-lok sambil tertawa.

"Di tengah kegelapan malam yang buta, dalam hutan di tepi kuburan, berhadapan dengan seorang jago lihay dunia persilatan yang berkerudung. "

Peristiwa yang begini rahasia dan misteriusnya ini, mungkin seorang kakekpun akan turut terangsang gairah belajar silat serta rasa ingin tahunya.

"Sekarang, tentunya kau sudah mengerti bukan akan persoalan ini?" kata Kim Toa-say kemudian.

"Masih ada satu hal yang tidak kupahami," kata Kwik Tay-lok. "Oooh. ?"
"Darimana kau bisa tahu akan maksud hati dari empek Ong ?" "Sebab akupun seorang manusia yang pernah menjadi ayah." Setelah menghela napas panjang, lanjutnya:
"Kasih sayang dan penderitaan seorang ayah terhadap putranya, hanya orang yang menjadi ayah saja yang dapat merasakannya."

Tiba-tiba Ong Tiong bangkit berdiri, kemudian menerjang keluar dari tempat itu.

Apakah dia ingin mencari suatu tempat yang tak ada orangnya dan menangis tersedu-sedu ?

Yan Jit memang sudah menundukkan kepalanya sedari tadi, sekarang Kwik Tay-lok ikut menundukkan pula kepalanya.

"Orang yang menjadi anak, kenapa tak dapat memahami perasaan kasih sayang serta pengharapan dari ayahnya setelah keadaan terlambat dan dikala menyesalpun percuma ?"

Kim Toa-say memperhatikan mereka lekat-lekat, mendadak sambil mengangkat cawan arak dia berseru:

"Apakah kalian tak pernah minum arak?"

Di dunia ini memang terdapat banyak sekali kejadian aneh dan misterius yang tampaknya sukar untuk dijelaskan selamanya.

Padahal bagaimanapun misterius dan peliknya suatu persoalan, sudah pasti ada jawabannya, seperti pula di bawah tanah pasti ada sumber air dan emas, di duniapun pasti ada keadilan dan kebenaran, diantara hubungan manusiapun pasti terdapat persahabatan dan kehangatan.
 
Sekalipun kau tak bisa melihatnya, tak bisa mendengarnya dan tak bisa menemukannya, tak akan kau sangkal kehadiran mereka di dunia ini ! Asal kau mau untuk mempercayainya, suatu ketika kau pasti akan berhasil untuk menjumpainya.

"Adakah manusia di dunia ini yang tak pernah mabuk?" Jawab yang paling tepat dari pertanyaan ini adalah:
"Ada!"

Orang yang tak pernah minum arak adalah orang yang tak pernah mabuk. .

Asal kau minum, kau akan mabuk, bila kau minum terus tiada hentinya, tak bisa disangkal lagi kau pasti akan mabuk, itulah sebabnya Kwik Tay-lok juga menjadi mabuk.

Kepala Kim Toa-say kelihatan seperti bergoyang-goyang terus tiada hentinya.

Mendadak ia merasakan kalau Kim Toa-say sedikitpun tidak mirip seorang Toa-say, mendadak ia merasa dirinya barulah seorang jendral yang sesungguhnya, lagi pula jendral besar diantara jendral-jendral lainnya....

Kim Toa-say juga lagi memandang ke arahnya, tiba-tiba ia menegur sambil tertawa: "Kenapa sih kepalamu bergoyang terus tiada hentinya ?"
Kwik Tay-lok segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahhh... haahh. heran amat kau ini, sudah jelas kepalamu sendiri yang sedang bergoyang
tiada hentinya, masih menuduh kepala orang yang sedang bergoyang" "Siapakah orang yang kau maksudkan ?"
"Yang dimaksudkan orang adalah aku."

"Kalau sudah jelas dirimu, mengapa pula kau katakan orang ?"

Kwik Tay-lok berpikir sebentar, kemudian menghela napas panjang, katanya: "Tahukah kau apakah yang menjadi penyakitmu terbesar ?"
Kim Toa-say turut berpikir sebentar, kemudian balik bertanya: "Apakah aku minum arak terlalu banyak?"
"Bukan minum arak terlalu banyak, adalah pertanyaanmu yang terlalu banyak, sehingga membuat orang hampir saja tak tahan."

Mendengar itu, Kim Toa-say segera tertawa terbahak-bahak.