Pendekar Riang Jilid 22

 
Jilid 22

"BILA USIA seseorang semakin menanjak tua, seringkali jalan pikirannya menjadi bertambah sempit, tahun ini Kim toa-siok telah berusia lima puluh tahunan lebih, maka dari itu "
 
"Maka dari itu kenapa?"

"Sekarang dia sudah menemukan bahwa mempermainkan berkantung-kantung peluru emasnya didalam rumah, ternyata jauh lebih menyenangkan daripada mempergunakannya untuk menimpuk orang"

"Tadi kau menyebutnya sebagai paman Kim ?" tiba-tiba Yan Jit menyela dari samping. Bwe Ji-lam mengangguk.
"Kalau begitu Kim toa-say adalah pamanmu?" seru Yan Jit lebih jauh.

"Bukan paman sungguhan, cuma sedari kecil kami memang sudah terbiasa memanggilnya, sebagai toa-siok."

"Kalau begitu sejak kecil kau telah mengenali dirinya ?" Bwe Ji-lam segera tertawa.
"Selagi masih berada dalam perut ibuku pun, aku sudah seringkali bermain kemari."

Yan Jit memandang ke arah Kwik Tay-lok, seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi kemudian diurungkan.

"Hei, sebetulnya apa tujuan kalian? Betul tidak dugaanku tadi?" kembali Bwe Ji-lam menegur. "Tidak betul !"
"Aaai. kalau begitu, usul baikku pun tak perlu kukatakan lagi !"

Kwik Tay-lok berusaha untuk menahan diri, tapi akhirnya toh tidak tahan juga, tanpa terasa dia berseru:

"Usul apa ?"

"Kalau toh kedatangan kalian bukan lantaran soal itu, sekalipun telah kukatakan juga percuma saja."

"Seandainya kedatangan kami memang lantaran soal itu ?"

"Kalau memang begitu, mungkin saja aku bisa mencarikan akal bagus untuk kalian, atau paling tidak memberi bantuan kepada kalian."

"Kalau memang begitu, akupun dapat memberitahukan kepadamu, dugaanmu memang tepat sekali, pada hakekatnya kau memang tak lebih adalah seorang Cu-kat Liang hidup."

Bwe Ji-lam segera tertawa cekikikan.

"Aku tahu, memang kau lebih jujur dari pada dirinya."

"Tapi mana akal bagusmu ? Bagaimanapun juga harus kau katakan kepada kami."

Sambil bergendong tangan, pelan-pelan Bwe Ji-lam berjalan hilir mudik di tempat itu, lagaknya saja seakan-akan menganggap dirinya memang benar-benar seorang Cu-kat Liang.
 
"Aku memang sudah tahu kalau kau tak pernah jujur selamanya." tegur Yan Jit pula dingin. Bwe Ji-lam tertawa.
"Terserah apapun yang hendak kau katakan, semuanya tak berguna, kalau aku tak mau berbicara, tetap tak akan berbicara."

"Lantas apa yang kau inginkan sebelum berbicara ?" "Harus ada syaratnya."
"Apa syaratnya ?"

Bwe Ji-lam mengerdipkan matanya, lalu menjawab:

"Bila barangnya sudah didapatkan, maka kau musti membagi separuh bagian untukku, paling tidak ucapan semacam ini sepantasnya kalau kalian katakan."

"Aaah. rupanya kau ingin hitam makan hitam" seru Kwik Tay-lok sambil tertawa tergelak.

"Padahal hatiku tidak terlalu hitam, aku pun tidak ingin kebagian setengahnya, asal ada tiga banding tujuh pun aku sudah merasa cukup"

"Bila akalmu tidak manjur ?"

"Manjur atau tidak, bisa kita buktikan dengan segera !"

"Waaah. tampaknya kau harus berganti pekerjaan saja, aku lebih cocok sebagai seorang
penjual jamu" seru Kwik Tay-lok sambil tertawa.

Yang penting jamu yang kujual sekarang mau kalian beli atau tidak ?" "Tidak ingin membelipun terpaksa harus membeli"
"Aku tidak ingin menjualpun terpaksa harus menjual kepada kalian" sambung Bwe Ji-lam sambil tertawa.

Dinding pekarangan sangat tinggi.

Bwe Ji-lam membawa Yan Jit dan Kwik Tay-lok masuk ke dalam lorong gelap di belakang gedung.

Tentu saja lorong ini jauh lebih sempit, di ujung sana pun terdapat sebuah pintu gerbang hitam yang sempit.

"Di sinikah letaknya pintu belakang keluarga Kim ?" tanya Yan Jit kemudian. Bwe Ji-lam mengangguk.
"Yaa, di balik dinding pekarangan sana merupakan kebun belakang keluarga Kim, bila musim semi telah tiba seringkali Kim-toa-siok akan pindah dari ruang depan menuju ke kebun belakang."



Kwik Tay lok hanya mendengarkannya dengan seksama.
 
"Sekarang aku akan melompat masuk lewat dinding pekarangan itu, tapi kau harus mengejar diriku dengan kencang." kata Bwe Ji-lam kemudian.

"Kemudian ?"

"Kemudian aku akan mencari Kim toa-siok dan memberitahukan kepadanya kau menggoda dan mempermain-kan aku, suruh dia untuk membalaskan sakit hatiku ?"

"Kemudian ?"

"Kim toa-siok selalu menyayangi aku, bila ia melihat kau datang mengejar, sudah pasti peluru emasnya akan dibidikkan kepadamu."

"Kemudian ?"

"Tak ada kemudian lagi, asal kau mampu menerima berondongan peluru emasnya, maka dengan cepat kau akan menjadi seorang kaya baru".

"Kalau tak mampu untuk menerimanya?" Bwe Ji-lam segera tertawa.
"Kemungkinan besar kau akan berubah menjadi seorang mati !" "Orang mati ?"
Bwe Ji-lam manggut-manggut.

"Bila dia tahu kalau kau mau sedang menganiaya aku, sudah barang tentu serangannya terhadap dirimu pun tidak akan sungkan-sungkan."

"Bagaimana dengan kau ?"

"Aku ? Tentu saja aku hanya bisa menyaksikan dari samping."

"Bila aku kaya, kau datang minta bagian, bila aku mati, tentunya kau juga akan membelikan sebuah peti mati untukku bukan ?"

"Itu mah tak perlu aku yang mesti membelikan, baik buruk Kim toa-siok pasti akan membelikan sebuah peti mati berkayu tipis untuk temanmu beristirahat."
"Oleh sebab itu, entah bagaimanapun juga kau tak akan merasakan ruginya sama sekali." "Tentu saja tidak ada." Jawab Bwe Ji-lam sambil tertawa, "kalau tidak, kenapa aku harus
mencarikan akal bagimu ?"

Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang, gumamnya:

"Memang suatu akal yang sangat bagus, tak kusangka kau bisa mendapatkan akal sebagus
ini."

"Pada dasarnya orang perempuan memang enggan melakukan suatu transaksi yang merugikan."

"Perempuan, aaai perempuan."
 
"Sebetulnya kau bersedia untuk melakukannya atau tidak ?" "Tidak mau melakukan pun terpaksa dilakukan."
"Tapi ingat, kalau kau mati, jangan salah kan diriku."

"Bila aku bisa mati benar-benar, untuk berterima kasih kepadamu saja tak sempat, masa akan marah kepadamu ?"

"Berterima kasih kepadaku ?"

"Orang mati tak usah menyaksikan tampang-tampang tengik dari para penagih hutang juga tak usah mendengarkan celoteh kaum perempuan, bukankah hal ini, jauh lebih enakan daripada hidup terus ?"

"Sungguh?"

"Tidak, cuma bohong-bohongan ?"

Belum Kwik Tay-lok merasakan hidupnya tersiksa. Dia selalu hidup dengan riang gembira.
Entah berada dalam keadaan seperti apapun, dia dapat menemukan arti atau makna dari perbuatan yang dilakukannya, entah apapun yang sedang dilakukan, ia selalu melakukannya dengan bersungguh-sungguh, oleh sebab itu dia selalu merasa amat gembira.

Seandainya dia benar-benar sampai teringat untuk mati, maka kendatipun orang yang ada di dunia ini belum mati semua, sisanya sudah pasti tinggal beberapa orang saja.

Bila dinding pekarangan rumah orang biasa, satu kaki empat depa pun sudah dianggap terlalu tinggi, maka tembok pekarangan rumah ini paling tidak mencapai dua kaki delapan depa.

Bwe Ji-lam mendongakkan kepalanya memperhatikan sebentar keadaan di sekeliling tempat itu, lalu katanya:

"Sanggupkah kau untuk merangkak naik ke atas dinding pekarangan itu?" "Yaa mungkin saja"
"Mungkin bagaimana ?"

"Mungkin saja aku sampai di atas, mungkin juga tidak, karena walaupun aku punya keberanian namun tidak memiliki keyakinan"

"Didalam ilmu meringankan tubuh, tak pernah tercantum kata berani dan yakin" "Tapi kata-kata itu ada di dalam kamusku!"
Ucapnya memang bukan mengibul.

Walau apapun yang sedang dilakukan Kwik Tay-lok, maka modalnya yang terutama adalah "keberanian".

Bwe Ji-lam memperhatikannya, kemudian menghela napas panjang.
 
"Aku hanya berharap, kepalamu jangan sampai tertumbuk bocor" Sekalipun kepalaku sampai bocor, aku tetap akan naik ke atas"
"Baik", kata Bwe Ji-lam kemudian sambil tertawa, "aku akan naik duluan, setelah memberi tanda nanti, kau harus menyusul dari belakang, mengerti?"

"Kau yakin bisa naik ke atas ?" "Tidak !"
Tapi setelah tertawa, sambungnya:



"Sekalipun aku tidak yakin, juga tidak memiliki keberanian, tapi aku punya akal." "Apa akalmu ?"
Tiba-tiba ia melompat naik ke atas bahu Kwik Tay-lok, kemudian dari atas bahu pemuda itu, dia melompat naik lagi ke atas dinding pekarangan rumah.

Sekali lagi Kwik Tay-lok menghela napas gumamnya:

"Cara yang dipergunakan kaum perempuan, mengapa selalu merugikan kaum lelaki? Heran, sungguh amat mengherankan."

"Itulah dikarenakan kebanyakan orang lelaki terlalu bodoh" kata Yan Jit hambar. "Memangnya kau sendiri bukan lelaki?"
Yan Jit tertawa.

"Aku adalah seorang lelaki, tapi aku tidak bodoh."

Sementara itu, Bwe Ji-lam sudah menggape ke arahnya dari atas dinding pekarangan. Kwik Tay-lok siap melompat ke atas, tiba-tiba ia berhenti dan berpaling ke arah Yan Jit. "Apa lagi yang kau nantikan ?" Yan Jit segera menegur.
"Kepergianku kali ini, mungkin juga bisa berakibat kematian bagiku, maka. "

"Maka kenapa ?"

"Maka, sekarang kau harus memberitahukan rahasia tersebut kepadaku. !"

"Tidak bisa." "Kenapa tidak bisa ?"
"Sebab kau dasarnya memang bodoh" "Dalam hal mana aku bodoh ?"
 
"Karena kali ini kau tidak bakal mati" "Kau yakin ?"
"Aaai. kalau dibilang kau bodoh, ternyata kau memang benar-benar bodoh" kata Yan Jit
sambil menghela napas panjang.

Setelah menatap wajah Kwik Tay-lok, tiba-tiba sorot matanya berubah menjadi sangat lembut katanya pelan.

"Seandainya aku tidak miskin, masa aku tega membiarkan kau pergi seorang diri ?" "Kau sungguh amat bodoh !"
Bwe Ji-lam memandang wajah Kwik Tay lok dan menggelengkan kepalanya berulang kali: "Kau betul-betul bodohnya setengah mati!" ia melanjutkan.
"Atas dasar apakah kau menuduhku bodoh?" seru Kwik Tay-lok dengan mata melotot. "Semua hal bodoh, kenapa kau tak bisa berubah menjadi sedikit lebih pandai ?" "Bolehkah aku tidak pintar ? Bolehkah aku bodoh sedikit ?"
"Tentu saja boleh !"
Ditepuknya bahu Kwik Tay-lok pelan, kemudian katanya lebih lanjut sambil tersenyum: "Sebab ada banyak orang perempuan yang suka lelaki yang agak bodoh, maka teruskan saja
kebodohanmu itu."

"Apakah kau adalah salah satu diantara sekian banyak gadis-gadis itu. ?"

"Aku tidak dan lagi aku tak berani." jawab Bwe Ji-lam sambil tertawa mengikik.

Seraya berkata dia melirik sekejap Yan Jit yang berada di bawah dinding situ, lalu sambil tertawa cekikikan berkelebat ke muka seperti se ekor burung walet.

Tentu saja dia tak bisa terbang, tapi gerakan tubuhnya memang lebih indah dan menawan daripada seekor burung walet.

Kwik Tay-Iok berdiri di ujung tembok sambil termangu, agaknya ia sudah dibikin terpesona oleh keindahan orang.

Sambil menggigit bibirnya dan mendepakkan kaki ke tanah, Yan Jit kembali berseru: "Telur busuk, kenapa kau tidak segera melakukan pengejaran ?"
Kwik Tay-lok memperhatikannya, seakan-akan telah menemukan sesuatu, tapi seakan-akan pula tidak berhasil menyaksikan sesuatu, dia seperti mau berbicara tapi seperti juga tidak akan berbicara apa.

"Kau tak usah kuatir, aku pasti dapat menyusulnya, aku tak bakal salah mengejar orang." Yan Jit berdiri di dinding pekarangan, agaknya diapun dibikin agak terperana.
 
Mungkin bukan terperana, melainkan dibikin mabuk kepayang.

Sepasang matanya yang jeli tampak bertambah sipit dan mengecil, mukanya berubah menjadi merah membara karena jengah, bukankah ini semua pertanda dari seseorang yang lagi dibuat mabuk kepayang...

Tapi mengapa dia mabuk kepayang ? Sampai akhirnya, dia baru bertanya:
"Kau akan menunggu aku atau tidak ?"

"Telur busuk, tentu saja aku akan menunggumu." katanya. "Berapa lama ?"
"Berapa lama pun akan kutunggu."

Waktu itulah Kwik Tay-lok baru tertawa, apa yang membuatnya menjadi mabuk kepayang.

Tiada orang yang bisa menjawab, mungkin selain orang yang bersangkutan tak nanti orang lain bisa memberikan jawaban yang tepat.

* * *

Kim Toa-say.

Bila seseorang menamakan dirinya sebagai Toa-say, maka entah dia benar-benar seorang jendral atau bukan, paling tidak tampang maupun dandanannya pasti mirip Toa-say.

Kim Toa-say memang memiliki gaya dan dandanan yang luar biasa sekali....

Dia sangat tinggi, jauh lebih tinggi dari pada kebanyakan orang yang ada di dunia ini. Bukan cuma tinggi, badannya pun besar, kekar dan sangat berotot.
Orang yang berperawakan tinggi besar, selalu mendatangkan suatu kewibawaan yang besar dan menggetarkan perasaan orang.



Kendatipun usianya telah mencapai lima puluh tahunan, namun berdiri di sana, tampak punggungnya tegak lurus seperti pena, sinar matanya tajam bagaikan sembilu, walaupun jenggotnya tidak terlampau panjang, namun amat lebat dan hitam.

Pakaian yang dikenakan sudah barang tentu sebuah pakaian yang amat serasi dengan potongan badannya, bahan dari bahan yang mahal, sekalipun kau tidak tahu Kim Toa-say paling tidak juga tahu kalau dia bukan seorang prajurit tanpa nama.

Dalam sekilas pandangan saja, Kwik Tay-lok sudah tahu kalau dia adalah Kim Toa-say.

Sewaktu Bwe Ji-lam kabur ke situ, ia sedang berdiri di bawah pohon Tho di depan rumah serta menikmati bunga-bunga tho yang baru mekar, sementara mulutnya membawakan sebait syair.

Tampaknya sang Jendral ini adalah seorang yang cukup tahu akan arti seni.
 
Begitu bertemu dengannya, dalam kelopak mata Bwe Ji-lam seakan akan sudah mengembeng air mata, hampir saja ia menubruk ke dalam rangkulannya sambil entah apa saja yang dikatakan.

Kwik Tay lok tidak mendengar apa yang dikatakan, tapi menyaksikan hawa amarah yang menghiasi wajah Kim Toa-say, lalu terdengar orang itu membentak keras:

"Diakah orangnya ?"

Bwe Ji-lam mengangguk tiada hentinya, sementara air matanya jatuh bercucuran membasahi wajahnya.

Kwik Tay-lok yang menyaksikan semua kejadian tersebut menjadi geli bercampur kagum, pikirnya:

"Aaai. tidak kusangka semua perempuan yang ada di dunia ini berbakat semua untuk
bermain sandiwara."

Sementara itu wajah Kim Toa-say telah diliputi hawa amarah yang makin meluap, sambil melotot ke arah Kwik Tay-lok, bentaknya:

"Kau ingin kabur ?"

"Aku sama sekali tidak kabur, bukankah aku masih berdiri di sini dengan baik-baik ?" "Bagus, bagus. kau amat bagus !"
Agaknya ia tak mampu berkata-kata lagi saking gusarnya.

"Kali ini ucapanmu sangat tepat, sebetulnya aku memang baik-baik sekali," jawab Kwik Tay-
lok.

Kim Toa-say meraung keras. "Betul-betul menggemaskan hati lohu!" "Kalau gemas, lebih baik mampus saja !"
Sepasang mata Kim Toa-say berubah menjadi merah mengerikan, seakan-akan tiap saat ia bisa jatuh pingsan karena mendongkolnya.

Untung saja Bwe Ji-lam telah datang tepat pada waktunya untuk memayang dirinya.

Entah sedari kapan, dia sudah mengeluarkan sebuah gendewa raksasa berwarna kuning emas serta kantung kulit menjangan yang kelihatannya berat sekali.

Begitu menerima busur raksasa itu, seluruh tubuh Kim Toa-say seakan-akan segera berubah, berubah menjadi segar bersemangat, berubah menjadi keren dan seperti lebih muda kembali.

Sebenarnya Kwik Tay-lok ingin membuatnya menjadi kheki, tapi sekarang ia tak berani gegabah lagi.

Bila seorang jago kenamaan telah membawa senjata andalannya, maka andaikata kau berani gegabah, sudah pasti jiwanya akan melayangnya....

Tiba-tiba terdengar Kim Toa-say membentak keras: "Kena !"
 
Bersamaan dengan menggemanya suara bentakan itu seluruh angkasa penuh dengan cahaya keemas-emasan yang tinggi di angkasa, bagaikan hujan badai saja berbareng ke tubuh Kwik Tay- lok.

Ternyata bidikan sakti dari Kim Toa-say memang bukan suatu ancaman yang bisa di anggap sebagai barang mainan.

Untung saja Kwik Tay-lok telah mempunyai persiapan yang cukup matang....

Sekalipun bidikan dari peluru-peluru sakti Kim Toa say dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, namun diapun sanggup untuk menyambutnya dengan tak kalah cepatnya.

Seandainya dari langit ada emas yang jatuh, maka setiap orang pasti akan menyambutnya dengan cepat, apalagi dia pada dasarnya memang mempunyai kepandaian sesungguhnya.

Bwe Ji-lam yang menonton dari samping tiba-tiba berteriak keras: "Babi yang tamak dan rakus itu perlu di jagal lebih dahulu !"
Entah Kwik Tay-lok tidak mendengar, atau tidak mengerti teriakan tersebut, ia tidak menggubris.

Kedua belah sakunya sudah penuh dengan peluru, begitu peluru tadi disambut dengan jaring kemudian dimasukkan ke dalam saku.

Secara beruntun Kim Toa say telah membidikkan dua puluh satu biji peluru, setiap kali sudah melepaskan bidikan, ia selalu berhenti untuk menghembuskan napas, inilah kesempatan yang baik bagi anak muda itu untuk masukkan peluru emas tersebut dari jaring ke dalam saku.

Bagaimanapun besarnya kantung, tak akan seperti napsu serakah orang yang tak pernah habis, akhirnya toh kantung itu penuh juga.

Ketika Kwik Tay-lok pergi dari sana, sakunya sudah penuh dengan peluru emas.

Menanti kantung itu sudah penuh, ia baru manfaatkan kesempatan dikala Kim Toa-say sedang mengatur napas untuk kabur.

Tentu saja dia ingin meninggalkan tempat itu dengan kecepatan paling tinggi, tapi entah mengapa ternyata gerakan tubuhnya tidak bisa secepat tadi lagi.

Untung saja perawakan tubuh Kim Toa-say terlampau besar, usianya juga sudah lanjut, sekalipun melakukan pengejaran, belum tentu bisa menyusulnya.



Sewaktu melompat turun tadi, Kwik Tay-lok masih ingat di sudut dinding pekarangan itu terdengar sebuah sumur.

Ternyata daya ingatannya cukup baik, dan rupanya belum dibikin silau oleh gemerlapnya cahaya emas, maka dengan cepat ia berhasil menemukan sumur tersebut.

Tentu saja Yan Jit masih menunggu kedatangannya di luar sana.

"Tak ada selanjutnya, asal kau dapat menyambut serangan peluru beruntunnya, maka dengan cepat kau akan berubah menjadi seorang kaya baru."
 
Setelah menjadi orang kaya, berarti tak usah melihat tampang dari para penagih hutang lagi.

Kwik Tay-lok meraba isi kantungnya yang penuh berisi peluru emas, tak tahan lagi dia tersenyum sendiri, diawasinya ujung dinding pekarangan, kemudian setelah mundur dua langkah untuk mengambil ancang-ancang, dia lantas merentangkan lengannya dan melompat sekuat tenaga ke atas dengan jurus Yancu-cuan ini (burung walet menembusi awan).

Tadi, dia melompat naik ke atas dinding pekarangan tersebut dengan gerakan tersebut, sekarang tentu saja dia mempunyai keyakinan.

Siapa tahu, keadaan yang dihadapinya sekarang jauh berbeda.

Tenaga lompatan yang dipergunakannya sekali ini jauh lebih besar dari pada tadi, namun sewaktu hampir mencapai puncak dinding, ketika berada enam tujuh depa dari tempat semula, mendadak kepalanya hampir saja menumbuk di atas dinding tersebut, hampir saja kepalanya berlubang.

Walaupun tak sampai berlubang, namun akibatnya ia jatuh terlentang ke atas tanah. "Apa yang telah terjadi ?"
Masa ilmu meringankan tubuhnya secara tiba-tiba menjadi mundur sejauh ini ?

Sambil memegangi kepalanya Kwik Tay-lok merasa kejadian ini sedikit agak aneh, ia benar- benar tidak habis mengerti.

Kalau tidak habis mengerti, berarti dia harus mencoba lagi.

Tapi hasil tetap sama saja, bukan cuma kepalanya saja yang hampir berlubang, badannya turut jatuh terlentang ke atas tanah.

Mendadak ia merasa bahwa sewaktu melompat naik tadi, pada pinggangnya seakan-akan terdapat sepasang tangan yang menariknya ke bawah.

Tentu saja di atas pinggangnya itu tiada tangan, yang ada hanyalah peluru emas.

Akhirnya Kwik Tay-lok menjadi paham sendiri, apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi.

Seandainya tiap butir peluru emas, itu ibaratnya mencapai empat tahil, itu berarti empat puluh biji peluru emas mempunyai berat mencapai sepuluh kati lebih.

Siapa saja itu orangnya, bila didalam sakunya tahu-tahu diberi beban seberat dua tiga puluh kati, sudah barang tentu ilmu meringankan tubuhnya akan jauh mengalami kemunduran.

Tadi, andaikata ia menerima dua kati lebih kurang dari jumlah yang diterimanya sekarang, mungkin sekarang ia sudah melompati dinding pekarangan itu dan bertemu dengan Yan Jit.

Tapi itu pun tidak menjadi soal, toh pasti ada akal untuk mengatasinya....

Di sudut dinding sana, rerumputan tumbuh amat lebat dan tinggi.

"Seandainya kusembunyikan peluru emas itu ke balik semak, sudah pasti tak akan ada orang yang menduganya"

Siapa yang akan mengira kalau ada orang bakal membuang emas ke balik semak ?
 
Kwik Tay-lok kembali tertawa, dia segera melepaskan kedua buah kantung itu dan menyembunyikannya ke balik semak belukar.

Setelah itu dia baru melompat naik ke atas dinding. Ia sangat mengagumi kemampuan sendiri.
Ia merasa semua perbuatannya amat bagus, amat berakal dan amat berkekuatan.

Andaikata berganti dengan orang lain, sudah pasti dia akan putar otak di bawah dinding situ, malah siapa tahu sudah kena dikejar oleh Kim Toa-say.

Kalau orang yang begitu berotak dan berpikiran semacam dia tak bisa kaya di kemudian hari, kejadian seperti ini baru aneh namanya.

Betul juga, Yan Jit mash menunggunya di luar.

Dalam waktu singkat Kwik Tay-lok telah mengisahkan semua pengalamannya itu kepada nya, kemudian tak tahan lagi dia berkata sambil tertawa:

"Bukankah, kaupun amat mengagumiku?"

"Sekarang masih terlampau awal untuk mengagumi dirimu." "Masih terlampau awal ?"
"Sekarang, peluru emas itukan masih berada dirumah orang lain."

"Aaah, soal itu mah gampang sekali..." seru Kwik Tay-lok sambil tertawa, "bukankah di atas pelana Swan Bwe thong juga terdapat segulung tali panjang.

Yan Jit mengangguk, tadi iapun sempat melihatnya.

"Sekarang, aku akan masuk lagi dan mengikat kedua kantung itu dengan tali, kemudian kau, menariknya dari luar dinding. coba bayangkan gampang bukan"

"Yaa, memang gampang !"

Kwik Tay-lok segera tertawa, lanjutnya:

"Asal kita punya otak, maka bagaimanapun sulitnya suatu pekerjaan, niscaya akan berubah menjadi gampang dengan sendirinya."

Tak tahan Yan Jit tertawa, katanya pula:

"Karena itu, kau selalu mengagumi dirimu sendiri ?"

"Yaa, apa boleh buat, kalau aku tidak mengagumi diriku sendiri, siapa pula yang akan mengagumi diriku ?"



Kuda Bwe Ji-lam di parkir di bawah pohon sana di atas pelananya memang tergantung sesuatu tali.
 
Agak lama Kwik Tay-lok menunggu di luar dinding, setelah merasa bahwa dibalik dalam sudah tiada bersuara lagi, ia baru melompat masuk ke dalam.

Ternyata kedua buah kantong itu masih berada ditempat semula. Kwik Tay-lok merasa puas terhadap ketepatan dugaannya.
Ia menyaksikan Yan Jit menarik kedua buah kantung itu dari luar dinding pekarangan, kemudian menariknya keluar.

Kemudian iapun mendengar suara Yan Jit berbisik dari luar. "Aku telah menerimanya, hayo keluarlah dari sana"
"Sekarang Kwik Tay-lok baru bisa menghembuskan napas lega, akhirnya sukses juga usahanya ter sayang kembali bagaimana sikap para penagih hutang yang gelagapan sewaktu melihat tumpukan emas sebanyak itu, hampir saja ia tertawa tergelak-gelak.

Maka dia lantas melompat ke atas dan dengan enteng dia telah berada di luar pekarangan.

Waktu itu, Yan Jit telah berada di bawah pohon di luar lorong sana, berdiri disamping kuda sambil menantikan kedatangannya.

Sewaktu ia sampai di situ, Swan Bwe-tong juga sedang munculkan diri lewat pintu depan. "Bagaimana dengan Kim Toa-say ?" tak tahan Kwik Tay-lok segera bertanya cepat.
Sambil menutupi bibirnya menahan rasa geli, sahut Bwe Ji-lam:

"Hampir saja dia mati karena mendongkol, sekarang telah kembali ke kamarnya untuk berbaring".

"Sekarang kau sudah ngeloyor keluar, tidak kuatir jika ia sampai menaruh curiga?"

"Tidak menjadi soal, selesai membagi harta, untuk kembali lagi ke sanapun masih sempat." Setelah tersenyum, lanjutnya:
"Untung saja uangnya tak pernah dihamburkan sampai habis, sekalipun kita mendapat sedikit bagiannya, aku rasa juga tak menjadi soal."

Tiba-tiba saja Yan Jit berkata:

"Bukankah kita telah berjanji, bagian yang kita peroleh akan dibagi menjadi tiga dan tujuh ?" "Benar !" Bwe Ji-lam mengangguk.
"Baik, kau boleh mendapat tujuh bagian, kami hanya akan mengambil tiga bagian saja." Bwe Ji-lam tertegun.
Kwik Tay-lok juga hampir saja melompat bangun, teriaknya tertahan: "Apa? Kau akan membagikan tujuh bagian kepadanya ?"
 
"Seandainya dia menginginkan semuanyapun akan kuberikan !"

"Kau. apakah kau sudah kena ditenung ? Atau kepalamu mungkin rada pusing?"

"Yang lagi pusing adalah kau, bukan aku"

Tiba-tiba ia melemparkan kedua buah kantung itu ke arah Kwik Tay-lok....

Karena tidak menaruh perhatian, Kwik Tay-lok tidak berhasil untuk menerimanya, kantung berisi peluru itu segera terjatuh ke tanah.

Yang berserakan bukan peluru dari emas, melainkan peluru dari besi semua....

Memandang peluru-peluru besi yang berwarna hitam dan bergelindingan di atas tanah itu, Kwik Tay-lok berdiri tertegun, hampir saja biji matanya melompat keluar.

"Coba katakan sekarang, siapa yang sebetulnya lagi pusing, kau atau aku ?" seru Yan Jit lagi sambil tertawa hambar.

"Tapi aku. jelas melihat kalau yang dibidikkan ke arahku adalah peluru emas"

Yan Jit menghela napas panjang.

"Aai.... tampaknya orang ini selain pusing, matanya juga sudah kabur. "

Kwik Tay-lok tertegun beberapa saat lamanya, mendadak ia menuang isi kantung itu keluar, mendadak dijumpainyai ada sebutir peluru berwarna emas yang menggelinding keluar.

Hanya ada sebutir yang benar-benar merupakan peluru emas.

Bwe Ji-lam memungutnya dan diperhatikan sekejap, tiba-tiba ia berkata: "Coba kalian lihat, di atas peluru ini berukirkan beberapa huruf."
"Apa yang tertulis di situ ?"

Ketika Bwe Ji-lam membaca tulisan di atas peluru tersebut, mimik wajahnya kelihatan agak aneh, sampai lama kemudian ia baru menghela napas seraya tertawa getir, katanya:

"Lebih baik kau melihat sendiri saja."

Di atas peluru emas itu tertera sebaris tulisan yang berbunyi .

"Jika seseorang terlalu tamak, emas yang sudah ditanganpun akan berubah menjadi besi rongsok!"

"Babi yang tamak dan rakus harus dijual lebih dahulu"

Teringat akan ucapan dari Bwe Ji-lam tersebut, kemudian membaca pula serangkaian tulisan di atas peluru emas tersebut, mimik wajah Kwik Tay-lok ibaratnya orang yang baru saja makan empedu yang pahit.

Yan Jit memperhatikan wajahnya, kemudian memperhatikan pula Bwe Ji-lam, setelah itu katanya sambil tertawa getir.
 
"Sudah pasti Kim Toa-say telah mengetahui maksud kedatangan kita" "Ehmm !"
"Dan lagi diapun tahu kalau kau sedang membantu untuk membohonginya!" "Ehmm!"
"Tapi dia masih sengaja berlagak pilon, karena..."

"Karena pada dasarnya dia memang seorang yang supel dan berjiwa besar. " sambung Bwe
Ji-lam, "sekalipun dia tahu kalau kami menipunya, ia tak ambil perduli, cuma sayang. "



Ia memandang sekejap ke arah Kwik Tay-lok dan tidak berbicara lagi. Kwik Tay-lok justru yang menyambung ucapannya itu:
"Cuma sayang aku terlampau tamak, seakan-akan kalau kita hendak membawa kabur segenap peluru emas yang dimilikinya saja."

"Tapi hal inipun tak bisa menyalahkan dirimu."

"Kalau tidak menyalahkan aku harus menyalahkan siapa?"

"Setiap orang tentu mempunyai titik kelemahan, entah siapapun itu orangnya, suatu ketika toh akan menjadi tamak juga."

"Apalagi kau tamak bukan demi kepentingan dirimu sendiri." lanjut Yan Jit, "kau berbuat demikian demi teman, mana mungkin kau seorang bisa mempunyai hutang sebesar itu"

Tiba-tiba Kwik Tay-lok tertawa, lalu berkata: "Padahal kalian tak perlu menghibur hatiku, sesungguhnya aku sama sekali tidak merasa sedih."

"Oooooh "

"Walaupun emas-emas itu berubah menjadi besi rongsokan, tapi kedatanganku kali ini bukannya sama sekali tak ada hasilnya."

"Betul, paling tidak kau masih memperoleh sebutir peluru emas." sahut Bwe Ji-lam sambil tertawa paksa.

"Yang kumaksudkan sebagai hasil bukanlah peluru emas tersebut." "Lantas apa ?"
"Sebuah pelajaran yang sangat baik."

Ditatapnya tulisan di atas emas itu, kemudian pelan-pelan melanjutkan:

"Bagiku, pelajaran yang berhasil kuraih ini paling tidak jauh lebih berharga daripada seluruh emas yang berada di dunia ini."

Bwe Ji lam memandang ke arahnya, sampai lama kemudian ia baru tersenyum, katanya.
 
"Sekarang aku baru mengerti, kenapa ada orang yang begitu menyukai dirimu, ternyata kau memang seorang yang benar-benar menarik hati."

"Sekarang kau baru tahu ?" "Ehmm. "
"Aku sudah tahu lama sekali." kata Kwik Tay-lok tertawa. Tiba-tiba Yan Jit menimbrung...
"Cuma sayang ada satu hal lain tidak kau ketahui." "Soal apa ?"
"Didalam pandangan penagih-penagih hutang tersebut, yang paling menarik atas dirimu adalah dikala kau punya uang, bila kau tak punya uang untuk membayar hutang, tahukah kau apa yang hendak mereka lakukan terhadap dirimu ?"

Senyuman Kwik Tay-lok segera lenyap tak membekas, sambil bermasam muka dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak tahu !" katanya.

Ia tahu, bagaimanapun baiknya suatu pelajaran, tak mungkin bisa dipakai untuk membayar hutang.

Bwe Ji-lam mengerdipkan matanya, kemudian bertanya:

"Banyakkah hutang kalian kepada orang lain ?" "Ehmmm "
"Hutang berapa ?"

"Aaai sebetulnya tidak terlalu banyak." ujar Yan Jit sambil menghela napas. "cuma selaksa tahil perak."

Bwe Ji-lam seperti menarik napas dingin, untuk beberapa saat lamanya ia berdiri tertegun di situ, tiba-tiba katanya:

"Aaah, Kim tao-siok pasti sedang menunggu aku, maaf, aku tak bisa berdiam terlalu lama lagi di sini, selamat tinggal."

Belum selesai dia berkata, tubuhnya sudah melompat naik ke atas kudanya....

Memperhatikan gadis itu melarikan kudanya meninggalkan tempat itu, tak tahan Kwik Tay-lok menghela napas panjang, gumamnya:

"Mengapa orang lain pada melarikan diri terbirit-birit setelah mendengar kita punya hutang yang banyak ?"

Yan Jit termenung dan berpikir sejenak, kemudian sahutnya:

"Karena diapun ingin memberi suatu pelajaran yang sangat baik kepadamu. !"
 
"Pelajaran apa ?"

"Jika seseorang ingin hidup dengan bebas merdeka dan riang gembira, lebih baik kalau jangan sampai berhutang kepada orang lain."

Pelan-pelan Kwik Tay-lok mengangguk.

"Yaa, bila seseorang menginginkan dirinya disukai teman, lebih baik memang jangan berhutang".

Hal mana memang merupakan sebuah pelajaran yang sangat baik, yang berharga untuk diingat oleh setiap orang.

Tapi bagaimana kalau kau berhutang demi teman ? Tiba-tiba Yan Jit berkata:
"Aku lihat, lebih baik kau menyingkir dulu dan bermainlah selama beberapa hari di tempat lain
!"

"Kau suruh aku kabur?" seru Kwik Tay-lok dengan mata melotot.

"Kau toh sudah berjanji kepada orang lain untuk membayar semua hutangmu dalam dua hari ini? Mana boleh kau pulang dengan tangan hampa ?"

"Kau kira aku bisa melakukan perbuatan yang begitu memalukan ?" "Tapi kau telah menunggak hutang."
"Menunggak hutang adalah satu persoalan, kabur adalah persoalan lain, jika hanya menunggak hutang, suatu ketika masih bisa dibayar, tapi kabur setelah menunggak hutang, maka dia tidak terhitung seseorang manusia lagi."



Yan Jit memandang ke arahnya, kemudian tersenyum, katanya: "Kau memang seorang manusia !"
"Lagi pula seorang yang menarik, cuma sayang rada miskin." sambung Kwik Tay-lok sambil tertawa pula.

Keadaan dari perkampungan Hok-kui-san-ceng masih seperti sedia kala, walau bagaimana pun kau memandang, sedikitpun tidak mirip sebagai suatu perkampungan yang kaya dan terhormat.

Tapi pagi ini, keadaannya rada sedikit berbeda.

Di luar pintu gerbang perkampungan Hok-kui-san-ceng yang selamanya sepi dan lenggang tiba-tiba muncul beberapa ekor kuda.

Selain itu tampak pula beberapa orang berbaju keren dan necis berdiri di bawah pohon yang rindang di luar perkampungan itu.
 
Ketika Yan Jit menyaksikan kehadiran mereka dari kejauhan, tanpa terasa ia menghela napas panjang, katanya sambil tertawa:

"Tampaknya para penagih hutangmu telah pada menanti di luar sana !" "Ehmmm !"
"Kau bermaksud hendak menghadapi mereka dengan cara apa ?" "Aku hanya mempunyai satu cara !"
"Apa caramu itu?"

"Berbicara dengan sejujurnya !"

Sinar matahari yang baru terbit menyinari raut wajahnya, muka itu tampak cerah dan jujur, seakan-akan sedang berkilat.

Menyusul kemudian, ia berkata lebih lanjut: "Aku bersiap sedia untuk memberitahukan kepada mereka dengan sejujurnya, walaupun sekarang aku tak punya uang untuk membayar namun di kemudian hari pasti akan berusaha untuk mengembalikan kepada mereka. mungkin cara ini
kurang baik, tapi aku sudah tidak berhasil menemukan cara yang lain lagi." Yan Jit memandang ke arahnya lalu tersenyum.
"Tentu saja kau tak akan menemukan cara yang lain, sebab sesungguhnya cara tersebut merupakan cara yang terbaik, di dunia ini tiada cara lain yang lebih baik daripada cara itu."

Penagih hutangnya berjumlah enam orang.
Ke enam orang penagih hutang itu berdiri semua di luar halaman, menanti dengan tenang. Begitu melangkah keluar, Kwik Tay-lok segera berseru dengan lantang, "Saudara sekalian,
maaf seribu kali maaf, sekarang meski aku belum punya uang untuk mengembalikan kepada kalian, tapi. "

Perkataan itu belum sempat diselesaikan, tatkala seseorang menukas pembicaraannya itu. Seorang tauke she Chee segera berebut berkata:
"Apakah Kwik toaya mengira kami untuk menagih hutang ?" "Memangnya bukan ?" seru Kwik Tay-lok tertegun.
Cho tauke segera tertawa lebar.

"Kami kuatir kalau barang kebutuhan kalian masih belum cukup, maka sengaja menghantarnya kemari untuk toaya pakai."

"Tapi.... tapi. aku sudah banyak berhutang kepada kalian" seru Kwik Tay-lok tergagap.

Seorang tauke she thio cepat-cepat menimbrung: "Hutang-hutang tersebut sudah dilunasi orang."
 
"Yaa, hutang Toaya toh hanya suatu jumlah yang kecil saja" sambung Tauke Chee sambil tertawa paksa, "sekalipun Kwik toaya seorang kekurangan uang, masa kami akan mendesakmu terus menerus ?"

Kwik Tay-lok menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya, kemudian tak tahan ia lantas bertanya:

"Sebetulnya siapa yang telah melunasi hutang-hutangku itu ?"

"Terus terang saja, kami sendiripun tak tahu siapa yang telah melunasi hutang hutang tersebut" sahut Thio tauke sambil tertawa.

Kwik Tay-lok makin tercengang.

"Masa kalian sendiripun tidak tahu ?" dia berseru:

"Sewaktu aku bangun tidur pagi tadi, di atas meja di luar kamarku telah kebayar beberapa tumpuk uang perak..."

"Beberapa tumpuk ? Masa uang perak juga dihitung dengan tumpukan?" tak tahan Kwik Tay- lok kembali berseru.

"Sebab segel di atas uang perak itu berbeda, ada yang berasal dari kota Ki-lam, ada pula yang berasal dari ibu kota, setumpuk demi setumpuk dipisahkan satu sama lainnya, tapi di bawah tumpukan uang perak itu kedapatan secarik kertas yang menerangkan kalau uang tersebut dipakai untuk membayar hutang-hutang Kwik toaya." kata Chee tauke menerangkan.

"Sudah tentu teman Kwik toaya mengetahui kalau belakangan ini Kwik toaya sedang kesulitan, maka sengaja mengirim uang kemari tapi kuatir Kwik toaya enggan menerimanya, oleh sebab itu sengaja dikirim ke toko kami..." Thio tauke menambahkan.

Sambil tertawa paksa Chee tauke kembali berkata:

"Teman-teman Kwik toaya pasti adalah sahabat-sahabat persilatan yang setia kawan, walaupun kami berdagang kecil-kecilan, juga bukan orang yang terlalu kemaruk dengan harta."

Sambil tertawa paksa pula Thio tauke meneruskan: "Oleh sebab itu, pagi-pagi sekali kami datang kemari."



Tentu saja mereka datang pagi sekali.

Setelah bertemu dengan jago-jago persilatan yang di tengah malam buta bisa masuk ke rumah mereka dengan leluasa, mana mereka berani bertindak seenaknya sendiri

Apalagi masih ada uang dalam jumlah besar yang bisa didapatkan, Kwik Tay-lok tertegun beberapa saat lamanya, pada hakekatnya ia sudah dibikin pusing tujuh keliling dan tak tahu apa gerangan yang telah terjadi.
"Berapa tumpuk uang yang telah kalian terima ?" tiba-tiba Yan Jit bertanya. "Semuanya tiga tumpuk, bukan saja cukup untuk melunasi hutang, malahan masih ada
sisanya." jawab Chee tauke.
 
"Oleh sebab itu semua keperluan Kwik toaya selama dua bulan mendatang, entah apa pun yang dilakukan. silahkan memesannya kepada toko kami. " Thio tauke menambahkan.

"Dan sekarang, kami tak berani mengganggu terlalu lama lagi, maaf kami ingin mohon diri lebih dahulu"
Maka seorang demi seorang mereka menjura, kemudian mengundurkan diri dari situ. Setibanya di pintu luar, masih kedengaran suara helaan napas mereka diiringi suara bisik-
bisik:
"Sungguh tak kusangka, Kwik toaya ternyata mempunyai teman baik sebanyak itu." "Yaa, tentu saja hal ini, disebabkan Kwik toaya selalu berjiwa gagah dan cukup bijaksana
dalam menghadapi orang lain"

"Yang penting didalam berteman adalah bersetia kawan kalau bisa mempunyai teman seperti Kwik toaya, aku pasti akan merasa puas sekali."

Menunggu semua orang telah pergi, Kwik Tay-lok baru menghembuskan napas panjang sambil bergumam:

"Benarkah aku sangat bersetia kawan?"

"Agaknya memang begitu," sahut Yan Jit sambil tersenyum, "kalau tidak, masa ada orang yang bersedia membayar semua hutangmu?"

"Ternyata tidak semua orang kabur terbirit-birit setelah mengetahui kalau kita punya hutang banyak."

"Ya, rupanya memang tidak begitu."

"Aaai. tapi, sebetulnya darimanakah munculnya sahabat-sahabat yang amat setia kawan itu
?" kata Kwik Tay-lok sambil menghela napas panjang.. "Kau tak berhasil untuk menemukannya?"
"Sampai pecah kepalaku juga tak akan kutemukan." "Kalau begitu, tak usah kau pikirkan lagi."
"Kenapa ?"

"Sebab perkataan orang-orang itu sangat cengli dan masuk diakal, untuk mencari teman maka hakekatnya sama dengan suatu kesetiaan kawan dibayar dengan kesetiaan kawan, hari ini dia telah datang melunasi hutangmu, tentu saja dibandingkan dahulu kaupun pernah melakukan suatu perbuatan yang setia kawan kepada dirinya."

Kwik Tay-lok segera tertawa getir.

"Tapi aku masih saja tak berhasil menemukan siapa orangnya ?"

"Banyak orang mempunyai kemungkinan tersebut, misalkan saja si semut merah, Lim hujin, Bwe Ji ka, masih ada lagi pencoleng-pencoleng yang pernah menipumu, andaikata mereka tahu
 
kalau kau sedang didesak oleh hutang sehingga siap sedia terjun ke sungai, besar kemungkinan secara diam-diam mereka akan melunasi hutang-hutangmu itu."

Setelah terhenti sebentar, tiba-tiba sambungnya lebih jauh:

"Bahkan Kim Toa-say maupun Swan Bwee thong juga ada kemungkinannya. "

"Kenapa ?"

Yan Jit tersenyum.

"Sebab bukan saja kau adalah seorang sahabat yang sangat baik, dan lagi kau memang benar-benar seorang yang sangat menarik hati."

Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Yaaa. mungkin saja memang benar-benar mereka" gumamnya seorang diri, "sungguh tidak
kusangka kalau mereka masih bisa teringat akan diriku. "

Dibalik senyuman tersebut, terselip luapan perasaan gembira dan terharunya yang amat sangat...

Yang membuatnya berterima kasih dan terharu bukannya mereka telah melunasi hutang- hutangnya yang menumpuk setinggi bukit. ia terharu dan berterima kasih atas persahabatan
mereka yang begitu hangat dan meluap.

Di dalam dunia ini hanya ada persahabatan yang selalu utuh dan langgeng sepanjang masa, selama persahabatan tetap ada, maka berarti pula selamanya ada cahaya yang menyinari seluruh jagad.

Coba lihatlah, saat itu sinar sang surya memancar ke empat penjuru dan menyinari seluruh permukaan tanah, dimana-mana tampak cahaya keemasan yang bergemerlapan, seakan-akan Thian secara khusus menyebarkan emas-emas murninya dari langit untuk orang-orang, di dunia ini yang mengerti soal arti dari suatu persahabatan.

Sesungguhnya dunia ini memang merupakan suatu dunia yang gemerlapan dengan emas, hanya persoalannya sekarang adalah mengertikah kau untuk membedakan mana yang emas asli dan mana yang bukan serta benda apakah yang sesungguhnya merupakan suatu benda yang seharusnya dihargai dan disayangi.

Yaa, bila tak mampu melakukan hal tersebut, maka apa pula arti dari kehidupan tersebut?
Hidup tanpa suatu persahabatan, ibaratnya hidup di tengah kuburan !

Ada semacam orang yang tampaknya memang sudah ditakdirkan untuk hidup lebih riang, lebih gembira dari pada orang lain, sekalipun sedang menghadapi masalah yang bagaimanapun besarnya, diapun bisa setiap saat mengesampingkan masalah itu ke samping.



Kwik Tay-lok adalah manusia semacam itu. Siapa yang telah melunasi hutan-hutangnya ?
Di dalam pandangannya, persoalan-persoalan semacam itu pada hakekatnya sudah bukan merupakan suatu persoalan lagi.
 
Maka begitu berbaring di atas ranjang, ia lantas tertidur nyenyak, tertidur sampai sore, sampai Ong Tiong masuk ke dalam kamarnya, ia baru mendusin.

Gerak gerik Ong Tiong masih tidak begitu leluasa, maka setibanya di dalam kamar, dia lantas mencari tempat yang paling enak untuk duduk.

Sekalipun dulu sewaktu gerak-geriknya masih leluasa, entah ke manapun dia pergi, ia pun selalu mencari tempat yang paling enak dan nyaman untuk duduk.

Entah dalam kamar siapapun, rasanya jarang ada tempat yang lebih nyaman daripada diatas ranjang.

Maka Ong Tiong segera menitahkan Kwik Tay-lok untuk menarik kakinya, kemudian ia naik keranjang dan bersandar pada tepiannya.

Kwik Tay-lok segera melemparkan sebuah bantal untuk mengganjal punggung rekannya, setelah itu sambil mengucak matanya ia baru bertanya:

"Sekarang sudah jam berapa?"

"Aaah, masih pagi, jaraknya dengan saat untuk bersantap malam masih ada setengah jam lebih."

Kwik Tay-lok kembali menghela napas, gumamnya:

"Seharusnya kau mesti membiarkan aku untuk tidur barang setengah jam lagi." Ong Tiong pun menghela napas panjang.
"Aku hanya merasa heran, kenapa kau bisa tidur senyenyak itu ?"

"Kenapa aku tak dapat tidur ?" sahut Kwik Tay-lok seperti keheranan, sepasang matanya terbelalak lebar.

"Andaikata kau bersedia menggunakan otakmu untuk berpikir, mungkin kau tak akan dapat tertidur lagi."

"Apa yang perlu dipikirkan ?" "Tidak ada ?"
"Agaknya tidak ada" sahut Kwik Tay-lok sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. "Sudah tahukah kau, siapa yang telah melunasi hutang-hutangmu itu. ?"
"Perduli siapa yang telah melunasi hutangku, yang penting hutang itu telah beres, kalau toh mereka enggan memperlihatkan asal usulnya, kenapa pula aku harus memikirkannya terus menerus ?"

"Dapatkah kau sedikit mempergunakan otakmu untuk berpikir ?" "Dapat, tentu saja dapat !" Kwik Tay-lok tertawa.
Benar juga dia lantas berpikir sejenak.
 
"Kemungkinan terbesar bagiku adalah Lim hujin !"

Pengalaman mereka ketika berjumpa dengan Lim hujin tempo hari, pada akhirnya telah diceritakan pula kepada Ong Tiong.

Maka Ong Tiongpun bertanya:

"Yang kau maksudkan sebagai Lim hujin apakah Lim hujin yang pernah kau bicarakan tempo hari itu ?"

Kwik Tay-Iok mengangguk.

"Setelah diketahui olehnya bahwa Lim Tay-peng berada di sini, tentu saja dia akan mengutus orangnya untuk setiap saat mencari berita tentang kita, setelah mengetahui kalau kita punya hutang yang menumpuk, tentu saja dia akan mengirim orang untuk melunasinya.

Setelah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh:

"Akan tetapi ia enggan membiarkan Lim Tay-peng mengetahui kalau dia berhasil menemuinya sampai ke situ, oleh sebab itu diapun berusaha untuk mengelabui kita."

"Ehmm, suatu uraian yang masuk diakal." Kwik Tay-lok tertawa.
"Tentu saja uraianku sangat masuk di akal!"

"Sekalipun aku terhitung malas untuk mempergunakan otakku, bukan berarti otakku jauh lebih bodoh dari pada orang lain."

"Kecuali Lim hujin, siapakah orang kedua yang kemungkinan besar telah melunasi hutang- hutangmu itu ?"

"Delapan puluh persen adalah Swan Bwe- thong !" "Mengapa bisa dia?"
"Ketika kusaksikan ia segera minta diri dan berlalu dengan tergesa-gesa setelah mendengar kalau kami punya hutang yang menumpuk, timbul perasaan heran di dalam hatiku, sebab dia bukanlah seorang manusia macam begitu"

"Oleh sebab itu, kau menganggap dia pasti telah kembali ke gedung keluarga Kim dan meminjam uang kepada Kim Toa-say, kemudian menyusul pula kemari serta melunasi hutang- hutangmu ?"

"Benar, karena dia sebenarnya suka dengan Yan Jit, tapi kuatir kalau Yan Jit menampik pemberiannya itu oleh sebab itulah sengaja dia membuat demikian."

"Tapi, darimana dia bisa tahu kau telah berhutang kepada toko yang mana ?"

"Itu mah gampang sekali untuk diketahui, tentunya kau sendiri juga tahu bukan, Swan Bwe- thong adalah seorang anak gadis yang amat cerdik sekali."

Pelan-pelan Ong Tiong mengangguk lagi.
 
"Emm. inipun masuk diakal."

"Coba kau lihat" seru Kwik Tay-lok sambil tertawa," persoalan tersebut bukankah amat sederhana sekali ? Dengan mudah dan tanpa bersusah payah, setiap saat aku berhasil menemukan dua orang diantaranya."

"Tapi, jangan kau lupa masih ada orang yang ketiga." "Orang itu sudah pasti adalah. "
Berbicara sampai di sini, tiba-tiba dia berhenti dan tak sanggup untuk melanjutkan kembali kata-katanya.

Sebetulnya banyak orang-orang sudah yang dipikirkan dan terasa ada kemungkinannya, akan tetapi setelah dipikirkan lebih seksama, terasa olehnya bahwa orang-orang itu kecil sekali kemungkinannya.

Terdengar Ong Tiong berkata:

"Para pencoleng yang pernah menipumu itu meski tidak menganggap kau sebagai telur busuk yang bodoh, sekalipun dalam hati mereka merasa amat berterima kasih kepadamu, mustahil mereka memiliki begitu banyak uang untuk melunasi hutang-hutangmu itu."

"Orang-orang itu sedemikian miskinnya sampai celanapun tak punya, kalau bukan begitu, masa aku akan berbelas kasihan kepada mereka ?"